Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada dewasa.Diperkirakan


pada orang dewasa setiap tahunnya mengalami diare akut atau gastroenteritis akut
sebanyak 99.000.000 kasus. Di Amerika Serikat, diperkirakan 8.000.000 pasien berobat
ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di rumah sakit tiap tahun (1,5%
merupakan pasien dewasa) yang disebabkan karena diare atau gastroenteritis. Masih di
USA, keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang
praktek dokter, sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare
akut karena infeksi terdapat peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang
berobat ke rumah sakit (Hendarwanto, 1996).Frekuensi kejadian diare pada negaranegara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara
maju. (Sudoyo,2009)
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2001, diare
menduduki peringkat pertama penyebab kematian anak dengan persentase sebesar 35%
atau sekitar 4 miliar kasus diare akut/tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun
(Soewondo ES, 2002). Di Indonesia sendiri dapat ditemukan sekitar 60 juta penderita
diare setiap tahunnya dimana 70-80% dari penderitanya adalah anak dibawah lima
tahun dengan masih tingginya angka kesakitan yang dilaporkan, yaitu 23,35 per 1000
penduduk pada tahun 1998 meningkat menjadi 26,13 per 1000 penduduk pada tahun
1999. (Profil Kesehatan Indonesia, 2002)
Pada tahun 2008 dilaporkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare di 15
provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 8.443 orang, jumlah kematian sebanyak 209
orang atau Case Fatality Rate (CFR) sebanyak 2,48%. Hal tersebut utamanya
disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi yang buruk dan perilaku
hidup tidak bersih. (Profil Kesehatan Indonesia, 2008)
Berdasarkan data sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Narmada sepanjang
tahun 2012, kasus diare menduduki peringkat kedelapandengan jumlah pasien sebanyak
1203 kasus, diikuti kecelakaan rudapaksa sebanyak 628 kasus. Sedangkan data jumlah
pasien rawat inap di Puskesmas Narmada sepanjang tahun 2011, kasus diare menduduki
peringkat pertama jumlah pasien rawat inap sebanyak 181 kasus, diikuti tifoid 171

kasus, lalu kasus demam tanpa sebab yang jelas yaitu 96 kasus. Berikut ini, tabel yang
menunjukkan jumlah kasus rawat inap selama 1 tahun di Puskesmas Narmada.

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Sepuluh Penyakit Terbanyak 2011


Diare
Tifoid
Demam karena sebab
Gastritis
Disentri
ISK
Pneumonia
Hipertensi
Asma
TB paru

Jumlah
181
171
96
67
61
41
40
37
36
20

Sumber: Data rekapan P2M puskesmas Narmada

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Sepuluh Penyakit Terbanyak 2012


ISPA
Gastritis
Penyakit otot dan jaringan sendi
Hipertensi
Penyakit Kulit Infeksi
Asma
Demam sebab lain
Penyakit Kulit Alergi
Diare
Kecelakaan rudapaksa

Jumlah
7589
3170
3027
2521
1794
1673
1494
1227
1203
628

Sumber: Data rekapan UGD puskesmas Narmada

Berdasarkan data di atas, jumlah penderita diare tahun 2012 meningkat


dibandingkan th. 2011, meskipun jumlah absolut th 2011 rendah. Tolong dicari
penyebabnya. Apa yang terjadi di tahun 2011 dan 2012 sehingga kasus diare jauh
berbeda? Apakah ini data semua umur?
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab kematian
secara total, penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan sekitar 33% atau sepertiga
dari total kematian seluruh kelompok umur. Hal ini dapat disebabkan oleh
ketidakmampuan dan ketidaktahuan masyarakat dalam memelihara kesehatan
lingkungan.Masalah kesehatan lingkungan misalnya pembuangan kotoran (tinja),
pembuangan sampah, pembuangan air limbah, penyediaan air bersih berpengaruh
2

terhadap kesehatan terutama tingginya penyakit infeksi saluran pencernaan khususnya


penyakit diare. Faktor lingkungan yang berupa penyediaan air bersih dan jamban
keluarga

yang

tidak

memenuhi

syarat

kesehatan

secara

perilaku

manusia

akanmempermudah terjadinya penularan penyakit. Berbagai studi telah menunjukkan


bahwa suatu komunitas yang memiliki penyediaan air bersih, melakukan pola hidup
bersih, dan memiliki sarana sanitasi maka derajat kesehatannya akan meningkat pula.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini diantaranya
tingkat pengetahuan, sikap, perilaku, kualitas air yang dikonsumsi serta fasilitas sanitasi
yang memenuhi syarat khususnya buang air besar, berbagai upaya telah dilakukan untuk
menurunkan angka kejadian diare dengan usaha pencegahan dan pemberantasan seperti
kaporitasi, penyuluhan serta PHBS melalui sumber daya masyarakat namun upaya itu
belum dapat menghasilkan yang optimal. (Depkes RI, 2000)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diare


Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari
200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air
besar encer lebih dari tiga kali perhari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa
disertai lendir dan darah.
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari.Sedangkan menurut
World Gastroenterology Organisation global guideline 2005, diare akut didefinisikan
sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal,
berlangsung kurang dari 14 hari.Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari
15 hari.
Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi. Sedangkan diare non infeksi bila
tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus tersebut
Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik,
hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak dapat ditemukan penyebab
organik (Sudoyo,2009). Jadikan satu paragraf aja....

2.2 Epidemiologi Penyakit Diare


Di Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare sekitar 200400 per 1000 penduduk per tahun. Angka Case Fatality Rate (CFR) menurun dari tahun
ke tahun, pada tahun 1975 CFR sebesar 40-50%, tahun 1980-an CFR sebesar 24%.
Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT), tahun 1986 CFR sebesar
15%, tahun 1990 CFR sebesar 12%, dan diharapkan pada tahun 1999 akan menurun
menjadi 9%. Angka kesakitan dan kematian akibat diare mengalami penurunan dari
tahun ke tahun. (Widoyono, 2008)

Tabel 2.1 Angka Kesakitan dan Kematian Akibat Diare (Semua Umur) Tahun 19901999 (Data dari mana?)
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999

Angka kesakitan per 1000


penduduk
29,79
25,64
25,41
28,77
26,64
24,26
23,57
26,20
25,30
26,13

CFR (%)
0,024
0,027
0,017
0,015
0,019
0,021
0,019
0,012
0,009
0,006

Tabel 2.1 menggambarkan penurunan angka kesakitan diare dari 29,79 per 1000
penduduk pada tahun 1990 mencapai angka terendah 23,57 per 1000 penduduk pada
tahun 1996, tetapi meningkat lagi menjadi 26,13 per 1000 penduduk pada tahun 1999.
Demikian pula dengan angka kematian, terjadi penurunan dari 0,024% pada tahun 1990
menjadi 0,006% pada tahun 1999. Angka ini relatif lebih rendah dibandingkan angka
hasil SKRT karena sistem pencatatan dan pelaporan yang masih lemah. (Widoyono,
2008)
Masih seringnya terjadi wabah atau kejadian luar biasa (KLB) diare
menyebabkan pemberantasannya menjadi suatu hal yang sangat penting. Di Indonesia,
KLB diare masih terus terjadi hampir di setiap musim sepanjang tahun. Data KLB diare
dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 2.2 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare di Indonesia Tahun 1996-2000
Tahun
1996
1997
1998
1999
2000

Penderita
6139
17890
11818
5159
5680

Meninggal
161
184
275
76
109

CFR (%)
2,62
1,08
2,33
1,47
1,92

KLB diare menyerang hampir semua propinsi di Indonesia.Angka kematian


yang jauh lebih tinggi daripada kejadian kasus diare biasa membuat perhatian para ahli

kesehatan masyarakat tercurah pada penanggulangan KLB diare secara tepat.


(Widoyono, 2008)
Berdasarkan data yang didapatkan dari Puskesmas Narmada, pada tahun 2011
diare merupakan penyakit dengan urutan kedelapan dari sepuluh penyakit terbanyak.
Tabel 2.3 Sepuluh Penyakit Terbanyak di Puskesmas Narmada Tahun 2012
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nama Penyakit
ISPA
Gastritis
Penyakit otot dan jaringan sendi
Hipertensi
Penyakit Kulit Infeksi
Asma
Demam sebab lain
Penyakit Kulit Alergi
Diare
Kecelakaan rudapaksa

Jumlah
7589
3170
3027
2521
1794
1673
1494
1227
1203
628

Ini data rawat inap atau rawat jalan? Semua umur?


Berdasarkan data rekapan P2M puskesmas Narmada tahun 2011, angka kejadian
diare pada usia > 5 tahun selama 3 tahun terakhir (2010 s/d 2012) adalah sebanyak
3872 kasus. Dari data ini diketahui bahwa sebenarnya kasus diare ini cenderung
menurun. Pada bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2010, kasusdiarepada usia
> 5 tahun mencapai 1515 kasus. Angka kejadian tersebut di tahun 2011menurun
menjadi 1306 kasus.Sedangkan pada tahun 2012, kasus diare turun menjadi 1051
kasus.Selama tiga tahun ini pula tidak terdapat angka kematian akibat diare.

Jumlah Penderita Diare >5 tahun 2010 s/d 2012


1600

Jumlah Pasien

1400
1200
1000
800
600
400
200
0
Jumlah Penderita Diare >5 tahun
2010 s/d 2012

2010

2011

2012

1515

1306

1051

Sesuaikan dengan tabel dan grafik sebelumnya. Tabel sebelumnya menunjukkan


jumlah kasus 2011 sebanyak 181. Beri keterangan pada tabel2 dan grafik tersebut.
Gambaran jumlah kasus diare khusus pada kelompok > 5 tahun selama tiga
tahun terakhir ini mencapai 4267 kasus.Adapun rincian jumlah penderita diare tiap
bulan masing-masing tahun di Puskesmas Narmada digambarkan pada grafik berikut.

250
211
200
164

160
150

136

133

143

116
100

97

100

85

98
72

50
0
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sept

Okt

Nov

Des

99

103

100

Okt

Nov

Des

Jumlah pasien diare >5 tahun pada tahun 2010

250

236

200
134

150
97

100

90

85

94

101

Jun

Jul

79

88

50
0
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Agt

Sept

Jumlah pasien diare >5 tahun pada tahun 2011

140
120

119
110

107

101

100
80

84

78

70

66

Feb

Mar

74

72

Jun

Jul

90
80

60
40
20
0
Jan

Apr

Mei

Agt

Sept

Okt

Nov

Des

Jumlah pasien diare >5 tahun pada tahun 2012

Tulis keterangan dan sumber pustaka disetiap tabel dan grafik. Contoh. Tabel 1. Jumlah
penderita diare tahun 2010 dll..
2.3 Klasifikasi
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Lama waktu diare: akut atao kronik,
2. Mekanisme patofisiologi: osmotik atau sekretorik dll, 3. Berat ringan diare: kecil atau
besar, 4. Penyebab infeksi atau tidak: infeksi atau non-infeksi dan 5. Penyebab organik
atau tidak: organik atau fungsional. (Sudoyo,2009). Klasifikasi diare berdasarkan
derajat dehidrasi ada ga?

2.4Etiologi
Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri, parasit,
virus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain. (Sudoyo,2009)
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, virusmaupun
parasit. Penyebab lain timbulnya diare akut adalah toksin dan obat,nutrisi enteral yang
diikuti puasa yang lama, kemoterapi,impaksi fekal (overflowdiarrhea) atau berbagai
kondisi lain. Dari penelitian pada tahun1993-1994terhadap 123 pasien dewasa yang
menderita diare akut, penyebab terbanyak hasilinfeksi bakteri E.coli (38.29%),
V.cholerae Ogawa (18.29%), Aeromonas. Sp(14.29%) (Mansjoer,2001).

Diare oleh sebab non-infeksi

Diare oleh sebab infeksi


1. Bakteri

1.Defek Anatomi
8

Shigela, Salmonella, E.colli, Vibrio


Short Bowel Syndrome
cholera, Staphylococcus aureus,
Penyakit Hirchsprung
Campilobacter aeromonas
2. Malabsorbsi
Defisiensi disakaridase
2. Virus
Cholestasis
Rotavirus, Norwalk, Norwalk like
3.Alergi
agent, Adenovirus
Alergi susu sapi
3. Parasit
Protozoa : Entamoeba histolytica, 4.Keracunan makanan
Logam berat
Giardia lamblia, Balantidium coli,
Mushroom
Cacing : Ascaris, Trichiuris trichiura
Jamur : Candida
Jelaskan juga etiologi diare secara IKM contohnya dari segi lingkungan dan
perilaku..
2.5 Patofisiologi
Menurut Mansjoer (2001), diare akibat infeksi ditularkan secara fekal oral.Hal
ini disebabkan makanan atau minuman yang masuk terkontaminasi tinjaditambah
ekskresi

yang

buruk,

makanan

yang

tidak

matang

bahkan

disajikantanpa

dimasak.Penularannya adalah melalui transmisi orang ke orang melaluiaerosolisasi,


tangan yang terkontaminasi (Clostridium difficile), atau melaluiaktifitas seksual.
Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain penetrasi
yangmerusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhisekresi
cairan di usus serta daya lekat kuman. Kuman tersebut membentuk koloniyang dapat
menginduksi diare. Patogenesis diare yang disebabkan karena infeksibakteri terbagi
dua, yaitu :
1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)
Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada usus halus namun tidakmerusak
mukosa. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah V. cholera,Enterotoksigenik
E.coli, C.perfingers, S.aureus, dan vibrio-nonaglutinabel.Secara klinis, diare berupa
cairan dan meninggalkan dubur seara deras danbanyak.Keadaan seperti ini disebut
diare sekretorik isotonik voluminal.
2. Bakteri enteroinvasif
Diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis danulserasi dan
bersifat sekretorik eksudatif.Cairan diare dapat bercampur lenderdan darah. Bakteri
yang termasuk golongan ini adalah enteroinvasive E.coli,S.paratyphi B,S.
9

typhimurium, S.enteriditis, S. choleraesuis, Shigela, Yersiniadan C.perfingers Tipe C


(Sudoyo,2009).

2.6 Penularan
Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus dan
bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan mekanisme berikut
ini:
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila
seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar dari
sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada
saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak
tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air
dari tempat penyimpanan.
2. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri
dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian
binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke
orang yang yang memakannya.
3. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah:
a. Pada usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI ekslusif lagi. (ASI ekslusif adalah
pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan). Hal ini akan meningkatkan
risiko kesakitan dan kematian karena diare, karena ASI banyak mengandung zatzat kekebalan terhadap infeksi.
b. Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian botol akan
meningkatkan risiko pencemaran kuman, dan susu akan terkontaminasi oleh
kuman dari botol. Kuman akan cepat berkembang bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan menyebabkan
permukaan makanan mengalami kontak dengan peralatan makanan yang
merupakan media yang sangat baik bagi perkembangan mikroba.
d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau sesudah buang air besar
(BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung(Widoyono, 2008).
Subbab etiologi, patofisiologi dan penularan jadikan satu saja...
10

2.7 Diagnosis
Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan

anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

pemeriksaan penunjang.

Anamnesis
Keluhan diare biasanya berlangsung kurang dari 15 hari. Pasien dengan diare
akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea, muntah, nyeri abdomen, demam
dan tinja yang sering, bisa air, malabsortif, atau berdarah tergantung bakteri patogen
yang spesifik. Pasien yang memakan toksin atau pasien yang mengalami infeksi
toksigenik secara khas mengalami nausea dan muntah sebagai gejala prominen
bersamaan dengan diare air tetapi jarang mengalami demam. Muntah yang mulai
beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan
karena toksin yang dihasilkan.

Pemeriksaan Fisik
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam
menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume dinilai
dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperatur
tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang
penting. Adanya kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen
dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan etiologi.

Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau diare
berlangsung lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin,
hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit serum, ureum, dan kreatinin,
pemeriksaan tinja dan pemeriksaan Enzym-linked immunosorbent assay (ELISA)
mendeteksi giardiasis dan test serologic amebiasis dan foto x-ray abdomen.
(Sudoyo,2009)

2.8Penatalaksanaan Diare
11

Rehidrasi
Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi yang
adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut.Ini dilakukan dengan rehidrasi
oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali yang tidak dapat minum atau
yang terkena diare hebat yang memerlukan hidrasi intavena yang membahayakan
jiwa.Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g
Natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter air.Cairan seperti
itu tersedia secara komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan dengan
mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral
pengganti dapat dibuat dengan menambahkan sendok teh garam, sendok teh baking
soda, dan 2 4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk
diberikan untuk mengganti kalium.Pasien harus minum cairan tersebut sebanyak
mungkin sejak mereka merasa haus pertama kalinya.Jika terapi intra vena diperlukan,
cairan normotonik seperti cairan saline normal atau laktat Ringer harus diberikan
dengan suplementasi kalium sebagaimana panduan kimia darah.Status hidrasi harus
dimonitor dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin,
dan penyesuaian infus jika diperlukan.Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral
sesegera mungkin.(Khalid, 2004)
Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar
dari badan. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai cara :
BJ plasma, dengan memakai rumus :
Kebutuhan cairan = BJ Plasma 1,025 X Berat badan (Kg) X 4 ml
0,001
Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :
- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB
- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB
- Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB
Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian/skor (tabel 1)
Tabel 1. Skor Daldiyono
- rasa haus/muntah (1)
- Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg (1)
- Tekanan darah sistolik < 60 mmHg (2)
12

- Frekwensi Nadi> 120 x/menit (1)


- kesadaran apatis (1)
- Kesadaran somnolen, sopor atau koma (2)
- Frekwensi nafas > 30 x/menit (1)
- Facies cholerica (2)
-Voxcholerica (2)
- Turgor kulit menurun (1)
- Washers womans hand (1)
- Ekstremitas dingin (1)
-Sianosis (2)
- Umur 50-60 tahun (-1)
- Umur> 60 tahun (-2)

Kebutuhan cairan = Skor X 10% X KgBB X 1 liter


15
Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral
(sebanyak mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau sama 3 disertai syok
diberikan cairan per intravena. (Sudoyo,2009)

Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi,
karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik.
Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi
seperti demam, feses berdarah,, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan
kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada
pelancong, dan pasien immunocompromised. Obat pilihan yaitu kuinolon (missal
siprofloksasin 500 mg 2 x/hari selama 5-7 hari).Obat ini baik terhadap bakteri pathogen
invasif termasuk Campylobacter, Shigella, Salmonella, Yersinia, dan Aeromonas
species.Sebagai alternatif yaitu kotrimoksazol.Metronidazol 250 mg 3 x/hari selama 7
hari diberikan bagi yang dicurigai giardiasis. (Sudoyo,2009)

Obat Antidiare
13

Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala:


a. Yang paling efektif yaitu derivat opioid misal loperamide, difenoksilat-atropin dan
tinktur opium.
b. Obat yang mengeraskan tinja: atapulgite 4 x 2 tab/hari, smectite 3 x 1 saset diberikan
tiap diare/BAB encer sampai diare berhenti.
c. Obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: Hidrasec 3 x 1 tab/hari (Sudoyo,2009)

Diet
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien
dianjurkan justru minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas, makanan
mudah dicerna seperti pisang, nasi, kripik dan sup. Susu sapi harus dihindarkan karena
adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.
Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas
dan sekresi usus.(Sudoyo,2009)

2.9 Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Terjadinya Diare


Sumber air minum
Air sangat penting bagi kehidupan manusia.Di dalam tubuh manusia sebagian
besar terdiri dari air.Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air,
untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air
sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 3060 liter per hari.Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk minum.Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air harus
mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi
manusia (Notoatmodjo, 2003).
Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah
pentingnya berkaitan dengan kejadian diare.Sebagian kuman infeksius penyebab diare
ditularkan melalui jalur fekal oral.Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke
dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jarijari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar
(Depkes RI, 2000). Abdullah (1987) menyimpulkan bahwa penduduk disuatu daerah
14

yang tidak menggunakan air bersih, akan memiliki kecenderungan menderita penyakit
diare. Hal ini sejalan dengan penelitian Munir (1983) yang menyatakan bahwa
penyediaan air bersih dapat menurunkan risiko diare.Hasil penelitian menunjukkan
bahwa keluarga yang memanfaatkan air bersih dari sumber yang memenuhi syarat
kesehatan angka kejadian diarenya lebih sedikit bila dibandingkan dengan keluarga
yang memanfaatkan air dari sumber yang tidak memenuhi syarat kesehatan (Kusnindar,
1994).
Menurut Depkes RI (2000), hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan
air bersih adalah:
1. Mengambil air dari sumber air yang bersih.
2. Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta
menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.
3. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang, anak-anak, dan
sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum dengan sumber pengotoran
seperti septiktank, tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10
meter.
4. Mengunakan air yang direbus.
5. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.

Jenis tempat pembuangan tinja


Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan.
Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran
penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Menurut
Notoatmodjo (2003), syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan
adalah :
1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,
2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,
3. Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,
4. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau
perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,
5. Tidak menimbulkan bau,
6. Pembuatannya murah, dan
15

7. Mudah digunakan dan dipelihara.

Pembuangan sampah
Sampah adalah semua zat atau benda yang sudah tidak terpakai baik yang
berasal dari rumah tangga atau hasil proses industri. Jenis-jenis sampah antara lain,
yakni sampah anorganik, adalah sampah yang umumnya tidak dapat membusuk,
misalnya: logam/besi, pecahan gelas, plastik. Sampah organik, adalah sampah yang
pada umumnya dapat membusuk, misalnya : sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan.
Cara pengolahan sampah antara lain sebagai berikut: (Notoatmodjo, 2003).
1. Pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Pengumpulan sampah diperlukan tempat sampah yang terbuat dari bahan yang
mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, harus tertutup rapat, ditempatkan di luar
rumah. Pengangkutan dilakukan oleh dinas pengelola sampah ke tempat pembuangan
akhir (TPA)
2. Pemusnahan dan pengelolaan sampah
Dilakukan dengan berbagai cara yakni, ditanam (Landfill), dibakar (Inceneration),
dijadikan pupuk (Composting)

Perumahan
Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan higiene
dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah yang sehat ditinjau dari ventilasi,
cahaya, luas bangunan rumah, Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut :
(Notoatmodjo, 2003).
1. Ventilasi
Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut
tetap segar dan untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama
bakteri patogen.. Luas ventilasi kurang lebih 15-20 % dari luas lantai rumah
2. Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, kurangnya cahaya yang masuk
ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga

16

merupakan media atau tempat baik untuk hidup dan berkembangnya bibit
penyakit.Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux.
3. Luas bangunan rumah
Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2 untuk
tiap orang. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni maka
menyebabkan kurangnya konsumsi O2, sehingga jika salah satu penghuni menderita
penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada anggota keluarga lain.
4. Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat
Rumah yang sehat harus memiliki fasilitas seperti penyediaan air bersih yang cukup,
pembuangan tinja, pembuangan sampah, pembuangan air limbah, fasilitas dapur,
ruang berkumpul keluarga, gudang, kandang ternak

Air limbah
Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri
dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Sesuai dengan
zat yang terkandung di dalam air limbah, maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu
akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain
limbah sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera, diare, typus,
media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, tempat berkembangbiaknya
nyamuk, menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak sedap,
sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah dan lingkungan hidup lainnya,
mengurangi produktivitas manusia, karena bekerja tidak nyaman (Notoatmodjo, 2003).
Usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat buruk tersebut diperlukan
kondisi, persyaratan dan upaya sehingga air limbah tersebut tidak mengkontaminasi
sumber air minum, tidak mencemari permukaan tanah, tidak mencemari air mandi, air
sungai, tidak dihinggapi serangga, tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya
bibit penyakit dan vektor, tidak terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak
mengganggu (Notoatmodjo, 2003).

2.10 Pencegahan
Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat
dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik.Ini termasuk sering mencuci tangan
17

setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan.Kotoran manusia
harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran
manusia. (Khalid,2004)
Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan
perhatian khusus.Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air
yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.Jika ada kecurigaan
tentangkeamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air,
harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi.Ketika berenang di danau
atau sungai, harus diperingatkan untuk tidak menelan air. (Khalid,2004)
Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih
(air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi.Limbah manusia atau hewan
yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan
sayuran.Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya produk susu yang
dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan
dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel
terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak. (Khalid,2004)

18

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

I.

Identitas Pasien
Nama

: Ny. A

Kelamin

: Perempuan

Usia

: 45 tahun

Alamat

: Karang Anyar, Gerimax Indah, Kecamatan Narmada

Pekerjaan

: Pegawai Kantor Desa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SKP

Tanggal pemeriksaan

: 31 Januari 2013

II. Anamnesis
Keluhan Utama:
Mencret
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluhkan mencret sejak 1 hari sebelum ke puskesmas (30/1).
Mencret 3 kali dalam 1 hari, mulai sejak rabu malam dengan konsistensi cair,
ampas (-), warna kekuningan, lendir (+), darah(-). Pasien sempat meminum
diapet, akan tetapi keluhan tidak membaik. Keluhan demam atau menggigil
disangkal pasien.Perut terasa mules, mual (+), muntah (-).Pasien mengeluhkan
badan terasa lemas.Nafsu makan pasien menurun sejak menderita mencret.BAK
sejak kemarin sebanyak 1x, dengan kualitas dan kuantitas seperti biasa.Beberapa
hari sebelumnya pasien sempat makan durian, alpukat, dan buah naga yang
dibawa oleh keponakannya.
Pasien juga mengeluhkan batuk kering sejak 1 minggu disertai suara
parau.Tenggorokan terasa gatal, nyeri tenggorokan disangkal pasien.
Riwayat Sosial dan Lingkungan:
o Pasien tinggal dengan keponakan beserta suaminya dan anak keponakannya;
anaknya sendiri (2 orang) dan ibunya.
19

o Rumah tinggal pasien terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu sekaligus
sebagai ruang keluarga, 1 dapur, 1 WC.Luas rumah pasien 9x11meter,
rumah pasien memiliki pekarangan yang cukup luas, jarak rumah pasien
dengan rumah tetangga tidak terlalu dekat. Sinar matahari dapat masuk
dengan baik ke dalam rumah pasien, namun tidak sampai ke kamar pasien.
Terdapat cukup jendela dan ventilasi pada ruang keluarga sehingga sinar
matahari yang masuk cukup. Pada kedua kamar pasien gelat dan sering
ditutupi oleh korden dan tidak terdapat ventilasi. Lantai rumah terbuat dari
semen, dinding rumah berupa tembok, atap rumah terbuat dari kayu yang
telah berlubang pada beberapa bagiannya.
o Sumber air minum berasal dari air sumur, air minum selalu direbus. Sumur
tersebut merupakan sumur galian yang dalam hingga permukaan airnya
sekitar 5 meter. Letak sumurberdekatan dengan rumah pasien,sumur pertama
di luar rumah berjarak 2 meter, sumur kedua berjarak 10 meter. Letak
sumur dan kamar mandi berdekatan. Kamar mandi menggunakan bak sebagai
penampung air, jamban, dan ember di dalamnya. Lantai kamar mandi terbuat
dari semen, begitu juga dinding bak terbuat dari semen dilapisi keramik pada
bagian dalamnya. Tembok kamar mandi terbuat dari semen plester. Kamar
mandi ini digunakan oleh tetangga sekitar, yakni sekitar 3 rumah di
sekelilingnya menggunakan kamar mandi yang sama.
o Untuk mencuci piring dan alat dapur biasanya digunakan air sumur tersebut.
o Pendapatan keluarga berasal dari pasien dan keponakannya masing-masing
bekerja sebagai pegawai kantor desa sekaligus kader pendamping di polindes
dan posyandu serta sebagai pedagang buah di pasar. Penghasilan per hari
berkisar antaraRp.100.000 Rp. 200.000perharinya.
IKHTISAR

= Pasien Ibu A, 45 th

KELUARGA
= Laki-laki
= Perempuan
= Hubungan pernikahan
= Hubungan Keturunan
= tinggal serumah
20

Riwayat penyakit dahulu:


Menurut pengakuan pasien, pernah mengalami mencret sebelumnya. Sekitar 1,5
bulan yang lalu, pasien mengalami muntaber (disentri) selama 2 hari. Pasien
mengalami muntah, BAB sering bolak balik kamar mandi dengan frekuensi
sekitar 10 kali terutama saat malam hari.BAB pasien saat itu bercampur lendir
dan darah.Saat itu pasien hanya meminum pil berwarna hijau dan putih yang
diberikan dari perawat puskesmas dan keluhan membaik.Menurut pasien saat itu
pasien sering memakan buah rambutan, manggis, durian, alpukat, dan
nangka.Pasien menyangkal mengonsumsi air yang tidak direbus.Terkadang
pasien juga mengaku pernah BAB di kali beberapa kali.
Riwayat penyakit keluarga dan lingkungan:
Anggota keluarga yang tinggal serumah tidak ada yang memiliki keluhan seperti
pasien.
Riwayat pengobatan:
Pasien sebelumnya tidak pernah memeriksakan diri ke tempat pelayanan
kesehatan lainnya dan untuk keluhannya, pasien hanya mengonsumsi diapet,
akan tetapi keluhan tidak membaik.
Riwayat alergi
- Makanan

: tidak ada

- Obat

: tidak ada

III. Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum
Keadaan umum :baik
Kesadaran/ GCS : compos mentis/ E4V5M6
2. Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 104 x/menit, regular, isi tegangan cukup
Respirasi :20x/ menit
Suhu : 36,20C

21

Pemeriksaan fisik umum


1. Kepala-leher
Kepala : simetris, deformitas (-)
Mata : anemis -/-, ikterus -/-, mata cowong -/Wajah : sianosis (-), flushing (-)
Telinga : deformitas (-)
Hidung : deformitas (-)
Mulut : sianosis bibir (-), stomatitis (-), mukosa bibir basah
Leher : pembesaran KGB (-), Tekanan vena jugularis : meninggi (-)
2. Toraks-kardiovaskuler
Inspeksi : kelainan bentuk (-), Tarikan sela iga (retraksi subcostal) (-), simetris
Auskultasi : Jantung: S1 S2 tunggal, teratur, Murmur (-), gallop (-)
Paru : vesikuler +/+, ronki-/-, Wheezing : -/3. Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : peristaltik (+) meningkat
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, turgor normal, nyeri tekan (+) pada epigastrium, hepar dan lien
tidak teraba.
4. Uro-genital
Tidak dievaluasi
5. Anal-perianal
Tidak dievaluasi
6. Ekstermitas atas-aksilla
Edema (-)/(-), akral hangat (+)/(+), pembesaran KGB aksila (-)/(-)
7. Ekstremitas bawah
Edema (-)/(-), akral hangat (+)/(+)

IV. Pemeriksaan Penunjang


(-)
V. Diagnosis:
Diare akut tanpa dehidrasi
22

VI. Rencana Tindak Lanjut


1. Pendekatan terapeutik untuk masalah yang dihadapi pasien
Injeksi Ranitidin 1A/8 jam
Injeksi Scopamin 1A/8 jam
Amoxicillin tab 500 mg 3x1
Dekstrometorphan syrup 3x Cth 1
Oralit
2. Tujuan terapi
Meringankan gejala dan mengeradikasi bakteri
Edukasi : Menjaga kebersihan makanan, mengurangi kebiasaan makan dan
minum di luar rumah yang kebersihannya diragukan dan membiasakan
mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku.
Kebiasaan BAB di kali dikurangi karena akan mengotori kali dan
mempermudah terjadinya diare.
Edukasi kepada keluarga atau orang yang kontak dengan pasien diberikan
penjelasan mengenai rute tranmisi, gejala-gejala, dan cuci tangan yang
efektif, terutama sekali setelah BAB dan BAK, dan sebelum menyiapkan
makanan atau makan.

Pintu depan rumah pasien, lantai terbuat


dari semen, PLN sudah masuk

23

Jalan di samping kanan rumah pasien


menuju kamar mandi dan sumur. Jalan
terbuat dari paping blok.

Halaman depan rumah pasien, dibatasi


semen dan dibawahnya tanah.

Berugak depan rumah pasien dijadikan


tempat berkumpul tetangga dan pasien.

Ruang tamu sekaligus ruang keluarga;


lantai dari semen, atap kayu.

Kamar tidur pasien; tidak dilalui oleh


sinar dan tidak ada ventilasi kamar

Dapur sekaligus ruang makan.Pasien.


Menggunakan kompor gas

Meja tempat perabotan makan; lantai


semen, berbatasan dengan kamar tidur

24

Sumur dan kamar mandi tempat pasien


mandi; juga digunakan tetangganya

Halaman samping kiri; pekarangan


dengan tanah yang cukup lapang

Dalam kamar mandi terdapat jamban


dan ember penampung air

Bagian dalam kamar mandi; bak dari


semen dan keramik. Lantai dari
semen

Sisi dalam sumur dilihat dari


permukaan;Kedalaman sumur sekitar 5
meter

25

Digunakan sebagai sumber air mandi,


mencuci baju dan perabotan

Penyaluran air (irigasi) dari sumur dan


kamar mandi, dibuat agar tidak banjir
saat hujan

Pintu jalan keluar dari rumah pasien


tembus bagian samping kanan menuju
sumur dan kamar mandi.

Lingkungan di sekitar sumur dan kamar mandi.Tempat


meletakkan kayu bakar dan menjemur.

26

Kerangka Konsep Masalah Pasien

PERILAKU

BIOLOGIS

Pasien sering makan


buah yang beralkohol
dan lemak tinggi
seperti alpukat,
durian, rambutan,
dan manggis

Pasien umur 45 tahun masuk


dalam kriteria mendekati
lansia dimana kinerja system
imun perlahan menurun

Pasien terkadang lupa


mencuci tangan
sebelum makan
Perabotan yang dicuci
dari air sumur yang
kurang bersih, apalagi
letak sumur dekat
kamar mandi
Makanan di dalam
rumah tidak ditutup
sehingga mudah
dihinggapi lalat

DIARE

PELAYANAN
KESEHATAN
Kurangnya penyuluhan
mengenai alur penularan diare
serta pentingnya PHBS

Walaupun sudah
memiliki jamban,
pasien masih sering
BAB di kali

27

LINGKUNGAN
Pasien tinggal di
daerah yang banyak
air dan dekat got
dimana tetangga dan
anak-anak disana
terkadang BAB dan
BAK di kali atau got
tersebut
Musim Penghujan :
Lalat tumbuh dan
menghinggapi
makanan
Air kali keruh,
kotor, bercampur
sampah

BAB IV
PEMBAHASAN

Aspek Klinis
Pada kasus ini, pasien adalah perempuan berumur 45tahun dengan keluhan
utamanya adalah mencret. Mencret dengan frekuensi 3x/hari, dengan konsistensi cair
dengan lendir dan tidak ada darah yang berlangsung sejak 1 hari sebelum ke puskesmas.
Berdasarkan keadaan tersebut, pasien di diagnosis awal dengan diare akut. Diare
didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali
sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah.
Dikatakan diare akut karena munculnya mendadak dan berlangsung dalam waktu
kurang dari 15hari.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak didapatkan adanya
tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini, keadaan umum pasien sedang, mata cekung tidak
ada, mukosa mulut terlihat basah, tekanan darah 110/80 mmHg, denyut nadi 104
x/menit, kuat angkat, isi cukup, pernapasan dalam batas normal, suhu tubuh normal
yaitu 36,2C, pemeriksaan turgor kulit kembali normal. Dari pemeriksaan abdomen juga
didapatkan peristaltik usus meningkat.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis diare akut
tanpa dehidrasi. Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan feses lengkap (FL) pada
kasus ini tidak perlu dilakukan karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
mengarahkan bahwa diare ini bersifat akut dan berdasarkan literatur menunjukkan diare
akut infektif. Hal ini didukung oleh adanya keluhan yang khas yaitu nausea, muntah,
nyeri abdomen, demam dan tinja yang cair disertai adanya lendir.
ORT (Oral Rehydration Therapy) merupakan hal yang paling penting untuk
mencegah dan mengobati kekurangan cairan dan elektrolit. Di Indonesia telah dibuat
ORS yang diberi nama Oralit, yang berisi NaCl 0,7 g, KCl 0,3 g, trinatrium sitrat
dihidrat 2,9 g serta glukosa anhidrat yang berbentuk serbuk dalam sachet, dimana setiap
sachet untuk 200 ml air. Glukosa menstimulasi secara aktif transport Na dan air melalui
dinding usus sehingga resorbsi air dalam usus halus meningkat 25 kali. Penggunaan
ORS dengan formula WHO yang dilaksanankan dengan benar, dapat mengatasi
dehidrasi akibat semua jenis diare pada semua kelompok umur.
28

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah


sembuh. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus
yang normal termasuk kemampun menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien.
Pada kasus ini, agaknya (ganti katanya atau dihilangkan) faktor perilaku dan
lingkungan yang paling berperan dalam penularan diare. Dari anamnesa diketahui
bahwa pasien dan amak-anaknya terkadang BAB di kali. Selain itu, ibu pasien tidak
mengajarkan pada anaknya serta tidak membiasakan dirinya mencuci tangan dengan
sabun sebelum makan dan setelah buang air. Selain itu kebiasaan pasien sendiri adalah
makan tidak teratur dan kebiasaan masyarakat sering makan pedas-pedas serta ketan
yang bisa menyebabkan diare.
Musim terjadinya penyakit diare ini umumnya terjadi di saat musim penghujan,
dimana lalat mulai banyak tumbuh dan menghinggapi kotoran bergantian dengan
menghinggapi makanan membawa kontaminan dari orang yang sebelumnya terinfeksi
bakteri atau virus. Hal ini memudahkan penularan penyakit dari satu orang ke orang
lainnya. Selain itu, diketahui juga muncul saat musim buah, akibat pasien yang terlalu
makan buah-buahan yang menyebabkan panas dalam serta buah-buahan yang
dikonsumsi kurang bersih dicuci, atau kalaupun dicuci, salah metode pencuciannya.
Untuk itu, selain menatalaksanai pasien dengan terapi sesuai tatalaksana diare
tanpa dehidrasi, keluarga pasien juga diberi informasi mengenai cara penularan diare
melalui perilaku mereka yang salah selama ini serta cara mencegahnya muncul lagi
dikemudian hari.
Dari pengamatan yang dilakukan selama tiga tahun terakhir, tampak angka
kejadian diare secara keseluruhan berkurang. Hal ini mungkin disebabkan karena
kesadaran orang mengenai cara penularan serta cara mencegah penularan diare semakin
baik. Namun, angka kejadian diare ini menunjukkan peningkatan di bulan tertentu dalan
suatu tahun. Bulan-bulan ini adalah saat musim penghujan tiba, dimana lalat sebagai
vektor kuman mulai banyak tumbuh dan mengkontaminasi makanan dan minuman di
sekeliling kita, oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk waspada dengan jalan
menjaga perilaku hidup bersih dan sehat untuk meminimalisir resiko tertular diare.

Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat

29

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-faktor


utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup sehat
yang diperkenalkan oleh H. L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor genetik
(keturunan), perilaku (gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan (sosial
ekonomi, fisik, politik) dan faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya),
namun yang paling berperan dalam terjadinya diare adalah faktor prilaku, lingkungan
serta pelayanan kesehatan. Diare menjadi masalah di mayarakat disebabkan oleh karena
faktor-faktor berikut :
1. Faktor Lingkungan
Sosio-ekonomi menengah
Pasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang menengah.
Walaupun dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari namun terkadang higienisitas
makanan yang dimakan kurang diperhatikan sehingga dapat menimbulkan
diare.untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasien terkadang tidak memikirkan
kualitas makanan yang dipilih. Tidak memperhatikan higienitas makan lebih ke
faktor perilaku. Apa yang melatarbelakanginya? Budaya? Pengetahuan?
Lalat
Lalat adalah salah satu vektor yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit, hal
ini berkaitan dengan tempat pasien beraktivitas sehari-hari, yang dapat
menyebarkan penyakit. Penularan penyakit ini terjadi secara mekanis, dimana
kulit tubuh dan kaki-kaki lalat yang kotor merupakan tempat menempelnya
mikrorganisme penyakit yang kemudian hinggap pada makanan sehingga
makanan tersebut menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengendalian lalat dengan cermat. Pengelolaan sampah?
2. Perilaku
Kebiasaan tidak mencuci tangan menggunakan sabun
Keefektifan mencuci tangan pada saat sebelum makan, sesudah makan, sebelum
mempersiapkan makanan, sesudah BAK dan BAB pada pasien masih kurang,
pasien tetap melakukan rutinitas cuci tangan, namun pasien tidak menggunakan
sabun. Hal ini dapat memudahkan penyebaran penyakit. Budaya cuci tangan yang
benar adalah kegiatan terpenting. Kegiatan ini sangat penting baik bagi pasien,
penyaji makanan, atau warung serta orang-orang yang merawat dan mengasuh
30

anak. Setiap tangan kontak dengan feses, urin atau dubur harus dicuci dengan
sabun dan kalau perlu disikat, hal ini diperlukan untuk memutuskan rute transmisi
penyakit
Pengolah makanan dan minuman yang tidak higienis
Pengolaham makanan dan minuman yang tidak higienis berperan dalam penularan
diare misalnya makanan yang tercemar dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air
minum yang tidak dimasak. Sumber air minum?
Lingkungan
Jarak sumur dan kamar mandi bukan masalah, tetapi jarak sumur dan septic tank.
Cari berapa jarak minimalnya.

3. Pelayanan Kesehatan
Kurangnya data surveillance diare yang menunjukkan orang yang terserang/
kelompok populasi yang terkena diare serta informasi tempat dan waktu kejadian
diare di masyarakat sehingga para pengambil keputusan di bidang kesehatan dapat
menetapkan cara penanganan yang tepat dan dapat menelaah efikasi cara yang
telah dan akan diterapkan.

Kuman penyebab penyakit diare, keluar dari tubuh penderita bersama tinja atau
muntahan dan menular dengan perantaraan makanan dan minuman yang telah
terkontaminasi oleh bibit penyakitnya. Pengotoran (kontaminasi) ini dapat terjadi
karena:
1. Makanan/ minuman dimasak kurang matang atau sengaja dimakan mentah misalnya
sayur
2.Makanan/alat-alat makan dihinggapi lalat yang memindahkan bibit penyakitnya
(vektor)
3. Tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
4. Makanan/ alat makan disediakan oleh orang yang mengandung bibit penyakitnya
terutama carrier.

31

Pada pasien ini tempat memasak cukup lumayan higienis. Namun penyimpanan
alat-alat makan kurang baik, karena ada beberapa alat makan yang disimpan di bawah
lantai.Penyimpanan makanan kurang baik, karena sisa makanan tidak ditutup dengan
penutup makanan sehingga dihinggapi lalat.
Pada kasus ini, pasien mengkonsumsi air sumur yang dimasak terlebih
dahulu.Akan tetapi, letak air sumur bersebelahan dari jamban umum.
Pasien mengaku selalu mencuci tangan sesudah buang air besar namun jarang
menggunakan sabun.Begitu pula pada saat sebelum makan, pasien mencuci tangan
namun jarang menggunakan sabun.
Pada kasus ini, keluarga pasienmemakai jamban jongkok umum.Lantai dan
dinding jamban terlihat cukup bersih dan bagian ditutup dengan triplek.Walaupun
begitu, pada saat BAB pasien dan keluarga sering BAB di kali karena dianggap lebih
nyaman dan mudah. Kali terletak beberapa meter dari rumah.
Rumah pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat dimana rumah tinggal
pasien terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga, 1
dapur.Luas rumah pasien 9x11meter, jarak rumah pasien dengan rumah tetangga
cukup jauh, dengan pekarangan yang cukup luas. Sinar matahari yang masuk cukup
namun tidak mencapai masing-masing kamar.Pada kamar juga tidak terdapat ventilasi,
walaupun terdapat jendela tetapi jarang dibuka.Selain itu, terdapat beberapa jendela dan
ventilasi pada ruang keluarga dan kamar tidur sehingga sinar matahari yang masuk
cukup. Lantai rumah terbuat dari semen yang sudah hilang pada beberapa bagian,
dinding rumah berupa tembok dan atap rumah terbuat dari genteng.Luas lantai
bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai
bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Rumah pasien yang
berukuran 9x11 m2 dihuni oleh 7 orang anggota keluarga.

Berdasarkan faktor penyebab yang sudah dijabarkan, apa yang paling bisa diintervensi?
Solusi untuk pasien ini dan keluarganya? Saran untuk pelayanan kesehatan?

32

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Diare merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah di Puskesmas
Narmada terlihat pada tahun 2012, diare menduduki peringkat kesembilan dari
sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Narmada, dengan jumlah total penderita
sebanyak 1051 orang.
2. Munculnya diare pada pasien ini disebabkan oleh perilaku hidup bersih dan sehat
yang kurang serta kondisi sanitasi dan perilaku hidup yang masih perlu dibina.

Saran
1. Koordinasi antara bagian konseling dengan bagian pelayanan kesehatan agarlebih
ditingkatkan terutama dalam melakukan sosialisasi berupa penyuluhanyang berkaitan
dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk
mencegah diare.
2. Mendorong keluarga untuk mengoptimalkan fasilitas jamban keluarga.
3. Mendorong keluarga untuk mengupayakan tersedianya air bersih di dalam
keluarganya.

33

DAFTAR PUSTAKA

Depkes, R. I., 2000. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare.Jakarta : Ditjen


PPM dan PL.
Depkes, R.I., 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta : Ditjen PPM dan
PL.
Hendarwanto.1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ketiga. Jakarta: Pusat
Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Khalid, Zein dkk. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Fakultas Kedokteran Divisi
Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas Sumatera
Utara
Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Notoatmodjo, S., 2003.Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Soewondo ES.2002. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini Dalam
Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi.Surabaya : Airlangga University
Press.
Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta :
Interna Publishing.
Tim Penyusun, 2012,Profil Kesehatan Puskesmas Narmada Tahun 2012. Dinas
Kesehatan Kabupaten Lombok Barat
Tim Penyusun, 2012,Laporan Tahunan Puskesmas Narmada Tahun 2012. Dinas
Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.
Widoyono.2008.

Penyakit

Tropis

Epidemiologi,

Pemberantasannya.Jakarta : Erlangga.

34

Penularan,

Pencegahan

&