Anda di halaman 1dari 13

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan sifat
dari tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang baik perlu diperhatikan sifat pohon
indu, dan jika mendapatkan sifat unggul seperti pohon induk dapat diperoleh
dengan cara perbanyakan vegetatif seperti dengan stek (Hayati dkk, 2012).
Pada perbanyakan secara vegetatif dengan stek, pemberian ZPT
dimaksudkan untuk merangsang dan memacu terjadinya pembentukan akar stek.
Sehingga perakaran stek akan lebih baik dan lebih banyak (Aguzaen, 2009).
Pemakaian supernatan ari kultur rhizobakteri yang mengandung IAA
mampu memberikan efek fisiologis pada suatu tanaman. Menurut hormon yang
tumbuh dihasilkan oleh mikroorganisme rhizofer mampu meningkatkan
perkecambahan biji, pembentukan rambut akar serta meningkatkan transfer ion
sehingga pengangkutan air oleh akar meningkat (Pamungkas dkk, 2009).
Pertumbuhan akar pada stek batang dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh
BA, IAA, GA3 kandungan karbiidrat dan panjang bahan, panjang bahan stek
waktu penanaman bahan stek, radiasi sinar matahari, pemberian pupuk, suhu
dalam sungkup, radiasi sinar matahari, kelembapan (Hidayat, 2010).
Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan
hara (nutrien) yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat, dan
dapat merubah proses fisiologi tanaman (Palestine, 2008).
Melati putih (Jasminum sambac (L) W. Ait.) merupakan tanaman hias
bunga yang semakin dibutuhkan untuk bahan baku industri minyak wangi,

kosmetik, pewangi, penyedap teh, cat, tinta, pestisida, industri tekstil, farmasi,
dekorasi, upacara adat dan keagamaan (Wulandari dkk, 2013).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengamati pertumbuhan
akat dan tunas setek tanaman Melati (Jasminum sambac (L.) W. Ait.) dengan atau
tanpa daun pada konsentrasi zat pengatur tumbuh yang berbeda.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai sumber
informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Melati (Jasminum sambac (L.) W. Ait.)
Kedudukan tanaman melati dalam sistematika tumbuhan menurut
Setyaningrum

dan

Wahyurini

(2004)

adalah

Kingdom:

Plantae;

Divisi: Spermatophyta; Sub divisi: Angiospermae; Kelas: Dicotyledonae;


Ordo:

Oleales;

Famili:

Oleaceae;

Genus:

Jasminum;

Species: Jasminum sambac (L.) W. Ait.


Sistem perakaran tanaman melati adalah akar tunggang dan akar-akar
cabang yang menyebar ke semua arah dengan kedalaman 40-80 cm. Dari akar
yang terletak dekat permukaan tanah kadang-kadang tumbuh tunas atau cikal
bakal tanaman baru (Simbolon, 2007).
Memiliki warna akar putih dan mengandung kurtikula. Bertekstur lunak
jika masih muda. Bertekstur keras dan berwarna cokelat jika sudah mulai tua.
Cabang akar menyebar keseluruh arah (Sudarso, 2011).
Akar tanaman melati sangat baik untuk mencegah erosi karena
perakarannya yang kuat. Kedalaman akarnya mencapai 2 meter. Akarnya akan
berwarna coklat jika sudah tua (Zakariah, 2011).

Batangnya tegak dan ia sanggup hidup bertahun-tahun lamanya. Secara


umum, kelopak bunga Melati memiliki bentuk seperti terompet kecil. Spesies
bunga ini cukup banyak, namun hanya Sembilan. yang populer dibudidayakan di
dunia. Delapan di antaranya potensial dijadikan bunga pengias taman karena
tampilannya yang elok (Siagian, 2000).

Tanaman melati yang kita kenal, tumbuh lebih dari setahun (perennialb),
bersifat perdu dan merambat. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 3
meter atau lebih, batangnya berkayu, berbentuk bulat sampai segi empat, berbukubuku

dan

bercabang

banyak

seolah-olah

merumpun

(Setyaningrum dan Wahyurini, 2004).


Melati merupakan tanaman tahunan yang tumbuh merambat setinggi 0,3-3
meter. Pada saat muda tanaman tumbuh tegak batang berwarna hijau, berbentuk
segi empat, diameter batang 0,5-3 cm, memiliki cabang dan ranting yang
menyebar kesegala arah dengan pertumbuhan memanjang (Sumadi, 2010).
Daun bunga melati lonjong, panjang 10-15 cm, lebar 3-6 cm, ujung
meruncing/ pangkal runcing, tepinya rata, pertulangan daun menirip tegas,
permukaan

halus,

berwarna

hijau. Daun

dan akar dapat

dikeringkan

(Sudarso, 2011).
Daun bertangkai pendek, helaian daun membentuk bulat telur, tepi daun
rata, panjang 2,5-10 cm, lebarnya 1,5-6 cm (Setyaningrum dan Wahyurini, 2004).
Daun melati berbentuk bulat telur (oval, elips), berwarna hijau mengkilap,
bertangkai pendek dan tepi daun rata (Simbolon, 2007).
Bunga melati berbentuk terompet dengan warna bervariasi yakni putih,
kuning cerah, dan merah muda tergantung pada jenis atau spesiesnya. Melati yang
bunganya berwarna putih antara lain melati raja (J. rex), melati hutan
(J. multiflorum), melati putih (J. sambac), dan melati australia (J. simplicifolium)
(Juliana, 2008).
Bunga tumbuh diujung tunas termasuk bunga tunggal, umumnya
bunganya berwarna putih, berbentuk tunggal atau berkelompok. Setiap tangkai

bunga memiliki dan terdiri dari 3-15 kuntum bunga. Bunga mengeluarkan aroma
wangi tetapi beberapa jenis melati ada yang memiliki aroma tidak harum
(Sumadi, 2010).
Bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak
wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan
campuran atau pengharum teh (Warintek, 2000).
Syarat Tumbuh
Iklim
Suhu udara siang hari 28-36oC dan suhu udara malam hari 2430oC.Kelembaban udara (RH) yang cocok untuk budidaya tanaman ini 50-80 %.
Selain itu pengembangan budi daya melati paling cocok di daerah yang cukup
mendapat sinar matahari (Warintek, 2000).
Melati dapat tumbuh didataran tinggi maupun rendah hingga
ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut. Perbanyakan tanaman melati dapat
dilakukan dengan stek cabang atau cangkok (Simbolon, 2007).
Melati bukan tanaman yang rewel. Jenis tanaman ini bisa hidup
didataran rendah maupun didataran tinggi. Melati juga tidak menuntut jenis tanah
tertentu yang ingin diolah. Struktur tanah yang gembur akan sngat mendukung
pertumbuhan akar, sehingga tanamannya pun akan tumbuh baik (Hasim, 1995).
Tanah
Tanaman melati dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran
rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 10-1.600 m dpl. Meskipun
demikian, tiap jenis melati mempunyai daya adaptasi tersendiri terhadap

lingkungan tumbuh. Melati putih (J,sambac) ideal ditanam di dataran rendah


hingga ketinggian 600 m dpl (Warintek, 2000).
Tanah yang akan ditanami melati hutan terlebih dahulu dicangkul dan
diberi pupuk bunga tanah (humus). Dapat dipelihara ditempat yang disinari
matahari (Antouny, 1995).
Tanaman melati umumnya tumbuh subur pada jenis tanah podsolik merah
kuning (PMK), latosol, dan andosol. Tanaman melati membutuhkan tanah yang
bertekstur pasir sampai liat, aerasi dan drainase baik, subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik dan memiliki pH 5-7 (Simbolon, 2007).
Inisiasi Akar
Perbanyakan dengan cara stek umumnya digunakan untuk tanaman yang
sulit diperbanyak dengan biji atau untuk dapat menghasilkan tanaman yang
sempurna yaitu tanaman yang mempunyai akar, batang, daun dalam relatif singkat
(Wudianto, 2004).
Kelembapan

merupakan

salah

satu

faktor

ynag

penting

yang

mempengaruhi stek sebelum berakar. Stek umumnya miskin kandungan air


sehingga pada kelembapan rendah stek akan kering dan mati sebelum membentuk
akar (Suyanto, 2004).
Suhu udara harian antara 21oC 27oC, malam sekitar 15 oC cukup baik
untuk stek. Suhu udara dalam media perlu dijaga kestabilannya agar tidak lebih
tinggi dari suhu luar (Ashari, 1995).
Inisiasi invitro pertama adalah saat tunas berusia 3 minggu dan
pemanjangan tunas 3-4 minggu. Setelah itu akan ada proses aklimalisasi yaitu,
pembiasaan tanaman dari media polybeg ke media tanah (Gultom dkk, 2014).

Media Tanam
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyetekan pada
berbagai jenis melati adalah media tanam stek. Media yang baik mempunyai
porositas cukup, aerasi baik, drainase baik, kapasitas meningkat air tinggi dan
bebas patogen (Handayani, 2005).
Media tanam yang digunakan terdiri dari tanah gambut, pupuk kandang,
dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Sebelum penanaman, semua bahan
dicampur dan di jemur selama kurang lebih 1 minggu (Wulandari dkk, 2013).
Tanaman melati umumnya tumbuh subur pada jenis tanah podsolik merah
kuning (PMK), latosol dan andosol. Tanaman melati membutuhkan tanah yang
bertekstur pasir sampai liat, aerasi dan drainase baik, subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik dan memiliki derajat keasaman yang baik bagi
pertumbuhan tanaman ini adalah pH 5-7 (Warintek, 2000).
Media tanam merupakan tempat hidup tanaman, secara umum media
tanam harus membantu penyangga perakaran tanaman agar bisa berdiri tegak dan
tidak mudah roboh ditimpa angin atau gangguan lainnya. Namun, media tanam
juga harus mempunyai fungsi lain yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman
(Syamsial, 2013).
Komposisi dari media tanam adalah faktor yang menentukan karakter
pertumbuhan tanaman yang dikehendaki sebagai contoh media tanam yang terdiri
atas butiran halus tanah seperti sil dan tanah liat mempunyai sifat menyerap air
yang besar, namun tidak menyediakan penghawaan yang cukup bagi pertumbuhan
bahan

akar

tanaman

(Waluyo, 2008).

sebaliknya

tanah

yang bergulir

lepas

(berpasir)

Zat Pengatur Tumbuh


Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan
hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat
merubah proses fisiologi tanaman. Zat pengatur tumbuh dalam tanaman terdiri
dari 5 kelompok yaitu auksin, giberelin, sitokinin, etylen, dan inhibitor dengan ciri
khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologi (Puspitasari, 2008).
Pembiakan organ vigetatif tanaman dibuat untuk membentuk tanaman
baru yang sempurna bagian akar, batang, dan daun biasanya tanaman baru
tersebut mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Sifat-sifat yang ingin
dipertahankan adalah tinggi, mutu baik dan tahan terhadap penyakit. Sehubungan
dengan hal ini banyak usaha yang dilakukan untuk merangsang, mendorong dn
mempercepat pembentukan akar serta meningkatkan jumlah akar dan mutu akar.
Diantaranya dilakukan dengan pemberian zat pengatur tumbuh seperti Indole
Acetic Acid (IAA), Indole Butysic Acid (IBA), - Naphtalene Acetic Acid
(NAA), Indole Aceto Nitrile (IAN), Phenoxy Acetic Acid (POA), dan sebagainya
(Suprapto, 2004).
Zat pengatur tumbuh yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan
tuna dan BAP (Benzyl Aminopurine) dibuat 3 taraf yaitu 1, 3, dan 5 mg/kg media.
Untuk merangsan perakaran digunakan perangsang Rooton dengan konsentrasi
0, 100, 200, dan 300 ppm. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan akar dan
tunas digunakan zat pengatur tumbuh IBA (Indole Butiryc Acid) dengan
konsentrasi 0, 100, 200, dan 300 ppm (Handayani, 2005).
Pertumbuhan akar pada stek batang dipengaruhi oleh pemberian zat
pengatur tumbuh IBA, IAA, GA3 kandungan karbohidrat dan panjang bahan stek,

jumlah ruas dan daun bahan stek, posisi cabang bahan stek, waktu pemanenan
bahan stek, kondisi stress air, pemberian pupuk, suhu dalam sungkup, radiasi sinar
matahari, kelembapan. Diduga bahan stek pada bagian batang bibit (pangkal,
tengah, dan ujung) akan mempengaruhi pertumbuhan akar stek berkaitan dengan
transportasi fotosintesis pada batang (Hidayat, 2010).

10

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas
Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Pada hari Selasa,
30 september 2014 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bunga Melati
(Jasminum sambac (L.) W. Ait.) sebagai objek pengamatan percobaan, top soil
dan pasir sebagai media tanam, IAA sebagai zat pengatur tumbuh, polybeg ukuran
10x15 cm sebagai wadah media pertanaman, plastik transparan ukuran 1 kg
digunakan sebagai sungkup, tali plastik digunakan untuk mengikat plastik
transparan pada polybeg, label digunakan untuk penanda polybeg.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gunting/pisau
digunakan sebagai pemotong batang bunga melati, gelas beker sebagai wadah
cairan ZPT ddan kontrol, cangkul sebagai pengaduk atau mencampurkan tanah
dengan pasir.
Prosedur Kerja
- Dicampurkan media tanam top soil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 dan
disiram dengan air.
- Diisi media kedalam polybeg masing-masing pasangan sebanyak 6 buah.
- Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
sepanjang 30 cm. Setiap pasangan menyiapkan 3 potong dengan daun
tanaman tetap melekat pada cabang, dan 3 potong yang daunnya dibuang
semua.

11

- Direndam cabang bagian bawah masing-masing 1 potongan dengan daun dan


tanpa daun tanaman selama 15 menit dengan:
a. Air destilata
b. Larutan 0,1 mg IAA/liter
c. Larutan 1 mg/liter
- Ditanam bahan stek didalam polybeg dan diberi label.
- Disiram sedikit air, sungkup dengan plastik transparan dan tempatkan pada
tempat teduh setelah seminggu, dan sungkup plastik dibuka.
- Disiram tanaman setiap hari bila perlu amati perumbahan tanaman setiap
minggunya.
- Setelah 6 minggu diamati pertumbuhan akar.

12

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

13

DAFTAR PUSTAKA