Anda di halaman 1dari 18

KPK Pastikan Kasus Hadi Poernomo Tak Mandek

Minggu, 21 September 2014 10:53 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan jika


pengusutan dugaan kasus dugaan korupsi permohonan keberatan pajak yang diajukan Bank Central Asia
(BCA) yang telah menyeret mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Hadi Poernomo tidak mandek alias
jalan di tempat. Lembaga pimpinan Abraham Samad ini memastikan bahwa kasus tersebut akan terus
dikembangkan.
"Masih dikembangkan. Ngga (mandek), apalagi sampai KPK menghentikan penyidikan," kata Juru Bicara
KPK, Johan Budi, Minggu (21/9/2014).
Hal itu ditegaskan Johan sekaligus mengonfirmasi anggapan jika kasus tersebut terbengkalai lantaran
sudah hampir beberapa waktu lembaga superbody ini tak mengagendakan pemeriksaan saksi. Terlebih,
hingga saat ini belum satu pun petinggi BCA yang diperiksa KPK. Padahal, sebelumnya ketua KPK,
Abraham Samad memastikan jika pihaknya segera memeriksa petinggi BCA untuk mengurai dan
menelisik lebih lanjut kasus tersebut.
"Saya belum tahu, menurut penyidik belum ada jadwal (pemeriksaan petinggi BCA)," imbuh Johan.
Menurut informasi yang dihimpun, KPK saat ini masih menelusuri apa keuntungan yang didapat Hadi
dalam penyalahgunaan wewenang. Santer kabar, Hadi mendapat jatah saham lewat salah satu perusahaan
kongsian dia dengan salah satu petinggi BCA.
'Pelicin' itu diduga diberikan lantaran Hadi saat masih menjabat Dirjen Pajak telah menerima keberatan
wajib pajak yang diajukan BCA.
Johan menjawab diplomatis saat disinggung soal penelusuran aset tersebut. Johan mengaku belum
menerima informasi mengenai hal itu.
"Belum ada info," imbuhnya.
Diketahui, mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Purnomo yang saat itu menjabat
sebagai Direktur Jenderal Pajak resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Diduga perbuatan Hadi
merugikan negara sekitar Rp 375 miliar.
Dalam kasus itu, Direktorat Pajak Penghasilan (PPh) pernah mengusut dugaan pengemplangan pajak
yang diduga dilakukan BCA. Sumihar Petrus Tambunan selaku Direktur Pajak Penghasilan pada 2003
lalu yang langsung mempelajari dokumen-dokumen yang disertakan BCAsebagai bukti pengajuan
keberatan pajak.
Direktorat PPh setahun kemudian merampungkan kajiannya. Berdasarkan kajian tersebut, Direktorat PPh
membuat risalah atas surat keberatan pajak BCA pada 13 Maret 2004. Isi risalah itu secara garis besar
menyebutkan sebaiknya Dirjen Pajak menolak permohonan keberatan pajak BCA. BCA diwajibkan
melunasi tagihan pembayaran pajak tahun 1999 sebesar Rp 5,77 triliun. Untuk pelunasannya, BCAdiberi
tenggat hingga 18 Juni 2004.
Dokumen risalah tadi selanjutnya diserahkan ke meja Dirjen Pajak yang kala itu dijabat Hadi Poernomo.
Sehari sebelum tenggat BCAmembayar tagihan pajaknya (17 Juli 2004), Hadi menandatangani nota dinas
Dirjen Pajak yang ditujukan kepada bawahannya, Direktur PPh.
Isi nota dinas ini bertolak belakang dari risalah yang dibuat Direktur PPh. Hadi justru mengintruksikan
kepada Direktur PPh agar mengubah kesimpulan risalah yang awalnya menolak menjadi menyetujui
keberatan.
Pada kasus itu, Direktorat PPH di Direktorat Jenderal Pajak menangani kasus dugaan pengemplangan
pajak. Direktorat PPH pun sempat menolak keberatan pajak yang diajukan Bank Central Asia.
Belakangan, keputusan itu dianulir Hadi Poernomo lewat nota dinas yang dikeluarkannya. Negara
kehilangan pajak penghasilan dari koreksi penghasilan BCA sebesar Rp 375 miliar karena pembatalan
tersebut.
http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/21/kpk-pastikan-kasus-hadi-purnomo-tak-mandek

Kronologi Eks Ketua BPK Hadi Poernomo Jadi Tersangka Korupsi


By Oscar Ferri
on Apr 21, 2014 at 19:07 WIB
Liputan6.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur
Jenderal Pajak Hadi Purnomo sebagai tersangka. Hadi yang kini mantan Ketua Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) itu ditetapkan tersangka pada kasus dugaan korupsi dalam permohonan keberatan wajib
pajak yang diajukan Bank Central Asia (BCA).
Ketua KPK Abraham Samad menjelaskan, Hadi dijadikan tersangka terkait posisinya sebagai Dirjen
Pajak.
Abraham menjelaskan kronologis kasus permohonan pajak BCA yang menimpa mantan Dirjen Pajak itu.
Pada 12 Juli 2003, PT BCA TBK mengajukan surat keterangan pajak transaksi non-performance loan Rp
5,7 T kepada Direktorat Pajak Pengasilan (PPh).
"Setelah surat itu diterima PPh, dilakukan kajian lebih dalam untuk bisa ambil 1 kesimpulan dan hasil
pendalaman," kata Abraham dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Senin (21/4/2014).
Kurang lebih 1 tahun kemudian, tepatnya pada 13 Maret 2004, Direktur PPh memberikan surat pengantar
risalah keberatan ke Direktorat Jenderal Pajak yang berisi hasil telaah pengajuan keberatan pajak BCA
itu.
Adapun hasil telaah itu berupa kesimpulan bahwa permohonan wajib pajak BCA ditolak. Sehari sebelum
jatuh tempo kepada BCA pada 15 Juli 2004, Hadi selaku Dirjen Pajak memerintahkan kepada Direktur
PPh dalam nota dinas untuk mengubah kesimpulan, yakni agar menerima seluruh keberatan wajib pajak
BCA.
"Di situlah peran Dirjen Pajak. Surat ketetapan pajak nihil, yang memutuskan menerima seluruh
keberatan wajib pajak (BCA). Sehingga tidak ada waktu bagi Direktorat PPh untuk berikan tanggapan
yang berbeda," kata dia.
Selaku Dirjen Pajak, tutur Abraham, Hadi mengabaikan adanya fakta materi keberatan wajib pajak yang
sama antara BCA dan bank-bank lain.
Abraham menjelaskan, ada bank lain yang punya permasalahan sama namun ditolak oleh Dirjen Pajak.
Akan tetapi dalam permasalahan BCA, keberatannya diterima. "Di sinilah duduk persoalannya. Oleh
karena itu KPK temukan fakta dan bukti yang akurat," ujar Abraham.
Berdasarkan itu, ucap dia, KPK melakukan forum ekspose atau gelar perkara dengan satuan petugas
penyelidik. "Dan seluruh pimpinan KPK sepakat menetapkan Hadi selaku Dirjen Pajak 2002-2004 dan
kawan-kawannya menjadi tersangka," ujar Abraham.
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menambahkan, Hadi sebagai Dirjen Pajak menyalahgunakan
wewenangnya dalam menerima keberatan wajib pajak BCA. Padahal berdasarkan Surat Edaran Dirjen
Pajak dinyatakan setiap keputusan penerimaan atau penolakan keberatan wajib pajak harus diambil
dengan teliti dan cermat.
"Dirjen Pajak menerima seluruh keberatan, tapi nggak memberi tenggang waktu. Padahal seluruh
keputusan harus diambil dengan teliti dan cermat, itu dari Surat Edaran Dirjen Pajak sendiri," kata dia.
KPK menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai tersangka
terkait kasus dugaan korupsi dalam permohonan keberatan wajib pajak yang diajukan Bank Central Asia
(BCA). Penetapan tersangka Hadi itu dalam kapasitasnya sebagai Direktur Jenderal Pajak 2002-2004.
Oleh KPK, Hadi disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun
2001 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHPidana.
http://news.liputan6.com/read/2039939/kronologi-eks-ketua-bpk-hadi-poernomo-jadi-tersangkakorupsi

KPK sebut ada petunjuk baru pada kasus pajak BCA


Merdeka.com - Proses pengusutan kasus dugaan korupsipengurusan keberatan pajak Bank Central Asia
(BCA) Tbk tahun 1999 pada 2003-2004 menjerat mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi
Poernomo memasuki babak baru. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku menemukan petunjuk
baru dari hasil pengumpulan keterangan saksi-saksi.
"Karena kan dalam keterangan tersebut, ada hal baru. Dan itu yang sedang digali," kata Juru Bicara
KPK, Johan Budi SP, kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/10).
Namun, ketika diminta merinci apa maksud petunjuk baru itu, Johan enggan membeberkannya. Dia hanya
mengatakan buat mengonfirmasi soal itu, pekan depan penyidik mulai menggenjot kembali proses
penyidikan perkara.
"Pekan depan kami akan memanggil kembali saksi-saksi tersebut. Tapi bukan berarti itu mandek," ujar
Johan. Menurut sangkaan KPK, Hadi Poernomo menyalahgunakan wewenangnya saat masih menjabat
sebagai Direktur Jenderal Pajak pada 2003 sampai 2004. Saat itu, Bank Central Asia mengajukan surat
keberatan transaksi non-performance loan (NPL) atau kredit macet sebesar Rp 5,7 triliun kepada Direktur
PPH Ditjen Pajak pada 17 Juli 2003.
Alasan saat itu adalah BCA keberatan dengan nilai pajak harus dibayar karena nilai kredit macet hitungan
mereka adalah kurang dari jumlah ditagihkan. Sesuai aturan, Direktur PPH memproses, mengkaji dan
mendalami keberatan pajak diajukan BCA itu. Dari pendalaman selama sekitar setahun atau pada 13
Maret 2004, Direktur PPH mengeluarkan hasil risalah beserta kesimpulan, menyatakan keberatan pajak
pihak Bank BCA itu ditolak, dan mengharuskan BCA membayar pajak 1999 sampai tenggat waktu 18
Juli 2003.
Anehnya, sehari sebelum batas jatuh tempo pembayaran pajak Bank BCA, Hadi memerintahkan Direktur
PPH melalui nota dinas supaya segera mengubah kesimpulan keberatan Bank BCA menjadi 'diterima'
seluruhnya. Hadi juga menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) atas keberatan NPL Bank BCA
pada 12 Juli 2004, sehingga tidak memberikan ruang kepada Direktur PPH memberikan tanggapan.
Padahal kesimpulan Hadi dalam keputusannya sangat bertolak belakang dengan hasil penilaian Direktur
PPH. KPK memperkirakan kerugian negara akibat kasus ini mencapai Rp 375 miliar. KPK menjerat Hadi
dengan Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto
Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kpk-sebut-ada-petunjuk-baru-pada-kasus-pajak-bca.html

KPK Bongkar Kasus Suap BCA, Hadi Purnomo Akan Dikenai Pasal Pencucian Uang
KPK menemukan dua alat bukti dokumen dan aliran suap yang dilakukan oleh Bank Central Asia untuk
Hadi Purnomo. Selain Hadi Purnomo tentunya yang terlibat dalam penyuapan oleh BCA dari pejabar
BCA kepada pejabat di Dirjen Pajak yakni Direktur PPH akan ditangkap. Dalam pemeriksaan beberapa
hari ke depan, KPK akan memeriksa Hadi Purnomo. Kasus pajak BCA ini merupakan perkembangan atas
kasus Bank Century dan Hambalang. KPK menelusuri kasus ini sebagai bagian dari laporan masyarakat.
Laporan masyarakat ini tentunya berbentuk high profile case alias kasus menonjol dan kelas kakap.
Abraham Samad mulai mengungkap dan merangsek kejahatan perbankan yang melibatkan Bank Central
Asia. Dugaan penghindaran dan kong-kalikong sudah lama disinyalir di dunia perbankan. Baru kali ini
KPK dan penegak hukum mampu menemukan bukti otentik penyalahgunaan wewenang oleh mantan
pejabat Dirjen Pajak Hadi Purnomo waktu itu menerima uang suap miliaran rupiah. BCA memberikan
sejumlah uang untuk Hadi Purnomo dan para mantan pejabat di Dirjen Pajak. Untuk itu direktur PPH
(pajak penghasilan) atas nota Hadi Purnomo untuk menyetujui keberatan Bank Central Asia.
Koruptor baru muncul dari Gedung BPK bernama Hadi Purnomo. Kredibilitas Hadi Purnomo selama
kepemimpinannya selalu membuat laporan yang abu-abu dan tak dapat dipertanggungjawabkan harus
dievaluasi. Kasus yang menjerat Hadi Purnomo terkait dengan penyalahgunaan wewenang yang
melibatkan BCA yang mengajukan keberatan terkait non performance loan (NPL) sebesar Rp 5,7 triliun.
BCA dibebaskan oleh Hadi Purnomo sebagai Dirjen Pajak. Dengan keputusan tersebut BCA diuntungkan
ratusan miliar dan Negara dirugikan sebesar Rp 375 miliar.
Sebagai tersangka Hadi Purnomo akan dikenai pasal TPPU alias tindak pidana pencucian uang. Melihat
kemampuan Hadi Purnomo dalam bidang keuangan, diyakini KPK akan mengalami kesulitan dalam
pembuktian terkait harta haram dan kekayaan yang dimiliki.
BCA melakukan suap untuk agar Hadi Purnomo membuat keputusan yang menguntungkan BCA. Kasus
ini akan sangat mudah untuk dilihat karena catatan perbankan di BCA dengan mudah dapat ditelusuri.
Dana uang Rp 375 miliar yang seharusnya dibayarkan oleh BCA diduga dialirkan oleh BCA. Pejabat
Bank Central Asia yang melakukan penyuapan akan ditangkap dan kejahatan mafia perbankan.
http://hukum.kompasiana.com/2014/04/21/kpk-bongkar-kasus-suap-bca-hadi-purnomo-akan-dikenaipasal-pencucian-uang-650728.html

Nota Dinas Ini yang Menjerat Hadi Poernomo


TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi pada 21 April 2014. Ketua KPK Abraham Samad mengatakan Hadi, yang
kini Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, diduga berperan dalam mengubah keputusan penolakan
keberatan PT Bank Central Asia Tbk. Akibatnya, BCA tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak
kepada negara. "Dalam nota dinas Dirjen Pajak kepada Direktur Pajak Penghasilan, ditulis supaya
kesimpulan 'menolak' diubah. Di situlah peran Dirjen Pajak," kata Abraham di gedung KPK, Jakarta,
Senin, 21 April 2014. (Baca: Hadi Poernomo Terancam Hukuman 20 Tahun Bui). Dalam dokumen yang
didapat Tempo, isi nota dinas bernomor ND-192/PJ/204 tertanggal 17 Juni 2004 itu menolak argumentasi
pemeriksa dan Direktorat PPh dengan tiga alasan. Pertama, BCA masih memiliki aset meski sudah tidak
dalam kendali wajib pajak, tetapi perusahaan akan merugi jika aset dikeluarkan dari perusahaan.
Alasan kedua, penolakan itu melanggar Pasal 10 Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur
Bank Indonesia Nomor 117/KMK.017/1999 dan Nomor 31/15/KEP/GBI tanggal 26 Maret 1999. Ketiga,
substansi aset (Non-Performance Loan-NPL) dikuasai Badan Penyehatan Perbankan Nasional sehingga
menjadi losses bagi perusahaan meskipun diharuskan cessie dengan nilai nihil. Alasan keempat,
penyisihan cadangan piutang tak dapat ditagih lagi tahun lalu tidak dibukukan sebagai pendapatan lagi,
maka koreksi semula agar didrop. Dengan begitu, Hadi Poernomo, melalui Surat Keputusan Nomor KEP870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004 menyatakan mengabulkan seluruh permohonan keberatan wajib
pajak alias mengabulkan keinginan BCA.

http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572254/Nota-Dinas-Ini-yang-Menjerat-Hadi-Poernomo

Predication Kasus Hadi Purnomo


What:
1. Ditangkapnya Hadi Purnomo oleh KPK
2. Penyalahgunaan wewenang oleh Hadi Purnomo
Who :
1. Hadi Purnomo
2. Direktur PPh Dirjen Pajak
3. Pihak BCA
4. KPK
Why :
1. Karena adanya indikasi bahwa Hadi Purnomo menerima komisi dari pihak BCA
dikarenakan menerima keberatan pajak dari BCA
2. Sebelumnya direktur pph menolak keberatan pajak BCA
When :
1. Kejadian penyalahgunaan wewenang tahun 2002-2004
2. Penangkapan kasus oleh KPK Tahun 2012
Where :
1. Direjen Pajak
How :
1. Hadi diduga meminta Direktur Pph untuk mengubah kesimpulannya sehingga keberatan
pembayaran pajak yang dikerjakan PT.BCA diterima seluruhnya.

How Much :
Rp. 375 M

ANALISA SANGKAAN KASUS KORUPSI HADI PURNOMO


Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak hanya memiliki sumber daya
yang berlimpah tapi juga memiliki sederet permasalahan di berbagai bidang. Salah satu
permasalahan yang hingga kini belum bisa bisa tuntaskan adalah masalah korupsi. Meskipun
Indonesia telah memiliki komisi indpenden yang menangani kasus korupsi yang disebut Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), namun permasalahan korupsi juga semakin merajalela. Korupsi
sendiri diartikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan) untuk
keuntungan pribadi atau orang lain. Seiring berjalannya waktu satu persatu kasus korupsi di
Indonesia mulai terungkap. Pelakunya juga berasal dari berbagai golongan, seperti kepala
daerah, anggota dewan, dan pejabat-pejabat di pemerintahan maupun perusahaan/organisasi
lainnya. Mirisnya para pelaku korupsi ini umumnya adalah mereka yang berpendidikan dan
yang semestinya bisa dijadikan panutan masyarakat.
Dari tahun ke tahun komisi pemberantasan korupsi (KPK) telah melakukan penyelidikan
dan penangkapan terhadap beberapa pejabat negara maupun perusahaan dalam berbagai kasus
korupsi mulai dari kasus suap, penggelapan dana hingga kasus pencucian uang. Pada bulan april
2014 badan pemberantasan korupsi menemukan adanya indikasi korupsi yang dilakukan oleh
pejabat negara dengan dugaan penggelapan dana pajak dari salah satu bank swasta yang bonafit
di Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) Hadi Poernomo sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pembayaran pajak PT
Bank Centra Asia (BCA). Ketua KPK Abraham Samad mengungkapkan, bahwa Hadi diduga
melakukan perbuatan melawan hukum dan atau penyalahgunaan wewenang dalam kapasitas dia
sebagai Direktur Jenderal Pajak pada tahun 2002-2004.
Slogan yang terdapat pada iklan media elektronik yang dahulu sering diutarakan
mengatakan, hari gini belum bayar pajak, apa kata dunia??. Iklan tersebut mengajak kepada
seluruh warga negara di republik ini untuk bersama-sama membayar pajak. Hal ini karena
pajak merupakan sumber dari pembangunan serta sebagai sarana dalam menumbuhkan
kesejahteraan rakyatnya. Akan tetapi, yang terjadi adalah pejabat yang diberikan kewenangan
dalam mengurus pajak bukanlah turut menghimpun pajak sebagai sumber kekayaan negara,
melainkan justru pajak dibajak untuk memperkaya diri sendiri demi kepentingan pribadi.

Hadi Purnomo Ditetapkan Sebagai Tersangka


Kasus persoalan pajak pasca terungkapnya kasus yang menghebohkan negeri sejagat
ketika pegawai pajak di lingkungan Direktorat Pajak, Kementerian Keuangan yakni Gayus
Tambunan terseret sebagai terdakwa dan telah masuk kedalam sel tahanan KPK, pada bulan
April 2014 publik dikejutkan ketika mantan Direktorat Jendral (Dirjen) Pajak turut terseret
juga. Hadi Purnomo yang dikenal sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK bertepatan berakhirnya masa kerja sebagai Ketua
BPK. Sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Hadi Purnomo, mantan ketua
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sebagai tersangka dugaan penyelewengan jabatan saat
memproses keberatan pajak PT BCA, muncul pertanyaan, mengapa kasus yang terjadi 11 tahun
silam itu baru diungkap pada tahun 2014 ini. Kasus pajak BCA ini merupakan perkembangan
atas kasus Bank Century dan Hambalang. KPK menelusuri kasus ini sebagai bagian dari laporan
masyarakat. Laporan masyarakat ini tentunya berbentuk high profile case alias kasus menonjol
dan kelas kakap.
Status tersangka diterima Hadi nyaris tidak berjarak dengan akhir jabatannya sebagai
orang nomor satu BPK. Status sebagai tersangka bertetapan pula dengan hari ulang tahunnya
yang ke-67. Sebagaimana diwartakan, Hadi disangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
dalam kasus keberatan pajak yang terindikasi merugikan negara Rp 375 miliar dengan
meloloskan keberatan pajak Bank Central Asia. Selain itu, Surat Perintah Penyidikan (sprindik)
KPK mengindikasikan bahwa pelakunya tidak tunggal. Sebagai sebuah skandal yang telah
berlangsung lama, penetapan Hadi sebagai tersangka dapat dikatakan sangat menarik. Paling
tidak, KPK mampu membuktikan bahwa perjalanan waktu tidak begitu saja dapat menutup kasus
korupsi. Apalagi bila sebuah kasus sempat menjadi perhatian publik dan berada dalam kategori
skandal. Bahkan, yang tidak kalah pentingnya, betapapun penting dan tingginya posisi sebuah
jabatan, tidak semuanya mampu mengalahkan proses penegakan hukum terutamanya penegakan
hukum kasus korupsi.

Sangkaan Hingga Menjadi Dakwaan Kasus Hadi Purnomo


Terungkapnya kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak di republik
ini semakin membuka pandangan akan pajak negara yang merupakan sumber pemasukan
terbesar negara justru kian selalu dibajak. Padahal, pajak yang seyogyanya merupakan sumber
dana untuk pembangunan, pendidikan dan maupun kesehatan rakyat, malah terus digrogoti
untuk memperkaya para oknum pajak. Kasus yang menyeret mantan Dirjen Pajak, Hadi
Purnomo, menjadi pintu masuk bagi KPK untuk segera membongkar jaringan mafia korupsi
di lingkungan perpajakan. Tidak hanya menjerat para pejabat pajak saja, melainkan juga para
pegawai-pegawai pajak yang seakan menjadi estafet dalam membajak pajak
Menurut sangkaan KPK, Hadi Poernomo menyalahgunakan wewenangnya ketika masih
menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak pada 2003 sampai 2004. Saat itu, Bank Central Asia
(BCA) mengajukan surat keberatan transaksi non-performance loan (NPL) atau kredit macet
sebesar Rp 5,7 triliun kepada Direktur PPH Ditjen Pajak pada 17 Juli 2003 dan BCA dibebaskan
oleh Hadi Purnomo sebagai Dirjen Pajak. Keputusan Hadi menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Nihil, menjadikan BCA tidak harus membayar pajak dan modus ini merupakan bagian dari
kejahatan perbankan yang harus diungkap dan diselesaikan KPK karena merugikan keuangan
negara. Adapun potensi kerugian negara dari pajak perbankan setiap tahunnya diperkirakan
mencapai Rp 10-12 trilyun. Hadi selaku Dirjen Pajak ketika itu justru memerintahkan Direktur
PPh untuk mengubah kesimpulan. Melalui nota dinas tertanggal 18 Juli 2004. Hadi diduga
meminta Direktur PPh untuk mengubah kesimpulannya sehingga keberatan pembayaran pajak
yang diajukan PT Bank BCA diterima seluruhnya. Dia meminta Direktur PPh, selaku pejabat
penelahaan, mengubah kesimpulan yang semula dinyatakan menolak diubah menjadi menerima
seluruh keberatan. Disinilah peran Dirjen Pajak Hadi Purnomo. Permasalahan inilah yang juga
menjadi duduk permasalahannya dimana KPK menemukan fakta dan bukti yang akurat dan
berdasarkan hal tersebut.
Mantan dirjen Pajak ini diduga mengabaikan adanya fakta materi keberatan yang
diajukan bank lain yang memiliki permasalahan sama dengan BCA. Pengajuan keberatan pajak
yang diajukan bank lain tersebut ditolak. Namun, pengajuan yang diajukan BCA diterima,
padahal kedua bank itu memiliki permasalahan yang sama. Nilai kerugian negara ini adalah
besaran pajak yang tidak jadi dibayarkan BCA kepada negara. Yang seharusnya negara

menerima Rp 375 miliar tidak jadi diterima dan itu menguntungkan pihak lainnya, tidak
selamanya harus menguntungkan si pembuat kebijakan. Berdasarkan hasil ekspose (gelar
perkara) yang dilakukan Satgas Lidik dan seluruh pimpinan KPK, menetapkan Hadi Poernomo
selaku Direktur Jenderal Pajak Republik Indonesia periode 2002-2004 dan kawan-kawan sebagai
tersangka sebagaimana ketentuan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal
2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Tindank Pidana Korupsi No 20 Tahun 2001 juncto
Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Penyertaan sangkaan menggunakan Pasal 55 KUHP juga
mempertegas dugaan Hadi tidak sendirian melakukan perbuatan tersebut dan terancam hukuman
pidana maksimal penjara 20 tahun dan denda Rp 1 miliar.
Sangkaan yang diberikan KPK oleh Hadi Purnomo terkait kasus penggelapan pajak oleh
Hadi Purnomo pada Bank Central Asia (BCA) dengan ditemukannya bukti-bukti yang
ditemukan oleh pihak KPK dan Satgas Lidik menjadikan sangkaan tersebut menjadi sebuah
dakwaan kepada Hadi Purnomo sebagai dasar penangkapannya dalam kasus Korupsi
Penggelapan Pajak dan merugikan Negara sehingga menetapkannya sebagai Terdakwa dan
dijerat hukuman berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Tipikor No 20 Tahun 2001
oleh pihak KPK.
Sebelumnya bukti-bukti terkait masalah ini Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi
Keuangan (PPATK) telah menyerahkan Laporan Hasil Analisis (LHA) terkait dugaan transaksi
mencurigakan Hadi Poernomo ke KPK. Pihak Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan
dapat merekam transaksi mencurigakan meski rentang waktu terjadinya tindak pidana korupsi
sejak lama. Selain itu bukti yang ditemukan oleh pihak KPK adalah adanya melalui nota dinas
yang ditandatangani Hadi dan KPKmenilai hal tersebut sebagai penyalahgunaan wewenang sebagai
Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan.
Bukti nota dinas menjadi acuan bagi pihak KPK dalam penyelidikan kasus penggelapan pajak
tersebut dengan ditandatangani oleh Hadi Purnomo sebagai Dirjen Pajak pada tahun 2002-2004. Nota
dinas yang sebagai bukti tersebut adalah:

1. Nota dinas bernomor ND-192/PJ/204 tertanggal 17 Juni 2004 itu menolak argumentasi
pemeriksa dan Direktorat PPh dengan tiga alasan. Pertama, BCA masih memiliki aset

meski sudah tidak dalam kendali wajib pajak, tetapi perusahaan akan merugi jika aset
dikeluarkan dari perusahaan.
2. Alasan kedua, penolakan itu melanggar Pasal 10 Keputusan Bersama Menteri Keuangan
dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 117/KMK.017/1999 dan Nomor 31/15/KEP/GBI
tanggal 26 Maret 1999.
3. Substansi aset (Non-Performance Loan-NPL) dikuasai Badan Penyehatan Perbankan
Nasional sehingga menjadi losses bagi perusahaan meskipun diharuskan cessie dengan
nilai nihil.
4. Penyisihan cadangan piutang tak dapat ditagih lagi tahun lalu tidak dibukukan sebagai
pendapatan lagi, maka koreksi semula agar didrop. Dengan begitu, Hadi Poernomo,
melalui Surat Keputusan Nomor KEP-870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004 menyatakan
mengabulkan seluruh permohonan keberatan wajib pajak alias mengabulkan keinginan
BCA.
Red Flags Kasus Penggelapan Pajak oleh Hadi Purnomo

Red flags disebut juga sebagai indikasi adanya kecurangan yang terjadi dalam sebuah
perusahaan yang dilakukan oleh seseorang. Red Flags juga merupakan transaksi, aktivitas dan
perilaku yang tidak wajar. Salah satu contoh Red Flags ialah salah satu yang timbul sebagai
akibat dari kecurangan dalam pelaporan keuangan (fraudulent financial reporting), yaitu salah
menyajikan atau menghilangkan dengan sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan
keuangan untuk mengelabui para pemakai laporan keuangan sehingga laporan keuangan
disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, seperti dengan melakukan satu
atau lebih hal-hal berikut ini, baik yang dilakukan dengan perencanaan matang (grand strategy),
konspi-rasi, atau yang bersifat temporer yang direncanakan untuk dikoreksi pada saat yang
dianggap lebih baik
Dalam kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Hadi Purnomo Red Flags juga
ditemukan dari perilaku yang tidak wajar dari seorang pemimin direktorat pajak untuk
memperkaya dirinya dengan merugikan negara dalam jumlah yang sangat besar. Selain itu
kecurigaan yang ditemukan dalam kasus ini adalah hasil-hasil pemeriksaan auditor intern
ataupun auditor ekstern yang diabaikan oleh manajemen direktorat pajak dengan menggunakan
jabatannya dengan menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya. Hadi Purnomo dengan

jabatan yang ia miliki menghilangkan pembayaran pajak yang seharusnya dibayarkan oleh pihak
BCA. Kasus penggelapan Pajak yang dilakukan Hadi Purnomo juga menyajikan laporan
keuangan dalam hal pembayaran pajak secara salah atau menghilangkan peristiwa, transaksi atau
informasi yang signifikan dari laporan keuangan yang seharusnya dibayar oleh pihak bank
Central Asia (BCA).
Kekayaan yang Melonjak
Red Flags juga dapat terlihat dari kecurigaan pihak penyelidik dan auditor ketika
adanya kekayaan seseorang pejabat negara/pejabat perusahaan yang melonjak tinggi
dibandingkan dengan penghasilannya yang diterima seseorang tersebut setiap bulannya. Hal
yang menjadi menarik terhadap kasus Hadi Purnomo tentu saja terkait dengan jumlah
kekayaan yang terbilang fantastis. Hadi Purnomo, diketahui memiliki kekayaan dengan total
Rp38,8 miliar pada 2010. Harta kekayaan itu mencakup tanah bangunan, harta bergerak, dan
giro. Padahal, total kekayaan Hadi Purrnomo pada 14 Juni 2006, Rp 26.061.814.000 dan US$
50 ribu, Jumlah kekayaannya meningkat hampir seratus persen dibanding pada laporan tahun
2001, yang berjumlah Rp 13.855.379.000 dan US$ 50 ribu. Dalam masa lima tahun Hadi
Poernomo memperoleh tambahan harta hibah sembilan tanah dan bangunan. Selain itu juga,
Hadi mendapatkan harta hibah barang seni berjumlah Rp.1 milyar yang diperoleh pada tahun
1979. Hadi Poernomo juga mendapatkan harta hibah berupa logam mulia sebesar Rp 100 juta
pada tahun 1972.
Sebelumnya KPK telah menelusuri asal usul harta hibah Ketua BPK saat itu. Bahkan,
Wakil Ketua Bidang Pencegahan KPK, M Jasin, di Gedung KPK, pada Februari 2010, pernah
mempertanyakan tentang harta Hadi yang sebagian besar berupa hibah. Wakil Ketua Bidang
Penindakan KPK, Bibit Samad Rianto pada saat yang sama juga mengatakan perlu penelitian
cermat mengenai sumber harta hibah tersebut. Pernyatan mengenai harta hibah juga
disampaikan sendiri oleh Hadi Poernomo pada saat mengumumkan jumlah harta kekayaannya
di gedung KPK pada tahun 2010, Hadi Poernomo, menyatakan bahwa Rp 36 Miliar hartanya
dari hibah. Dalam keterangannya pada waktu itu, Hadi mengatakan mendapatkan harta hibah
dari orang tua dan kerabatnya dan diperoleh dari tahun 1980. Pada saat itu Hadi juga
menjelaskan harta hibahnya sudah tiga kali melalui proses verifikasi tiga kali yakni oleh
KPKPN dan KPK sebanyak dua kali.

Tidak hanya dari KPK, pada tahum 2010, Hadi Poernomo juga menjadi sorotan tajam
dari Indonesia Corruption Watch (ICW) tentang harta hibahnya yang tidak masuk akal.
Direktur Pukat UGM Zaenal Arifin Muchtar pada saat itu ikut mendesak KPK menelusuri
jumlah harta hibah yang tidak masuk akal itu,yang diduga bisa saja hasil korupsi masa lalu.
Pada saat itu KPK tidak berhasil membuktikan jejak harta Hadi Poernomo tersebut sehingga
ia bisa selamat. Walaupun sudah jelas-jelas harta hibah itu tidak masuk akal dan sangat
janggal sekali, tetap saja KPK tidak bisa menjerat Hadi Poernomo, karena tidak ada buktibukti yang kuat dan meyakinkan dari mana harta itu diperoleh.
Tapi kenyataannya KPK tidak berhenti menelusuri jejak Kekayaan Hadi Purnomo
yang menurut pengakuannya itu adalah hibah. Tanpa gembar gembor KPK terus menelusuri
jejak dan rekam Hadi Purnomo kebelakang saat menjadi Dirjen Pajak dalam rentang waktu
tahun 2001- 2004. Sepuluh tahun berlalu pada akhirnya KPK berhasil menemukan jejak Hadi
Purnomo saat menjabat Dirjen Pajak. Hadi Poernomo pada saat itu mengabulkan permintaan
keberatan Bank BCA pajak atas transaksi non performance loan (kredit bermasalah) sekitar 17
Juli 2003. Padahal ketika itu, Direktorat PPh (Pajak Penghasilan) telah melakukan pengkajian
terhadap keberatan Bank BCA itu selama satu tahun, maka 13 Maret 2004, Direktorat PPh
menerbitkan surat yang berisi hasil telaah mereka atas keberatan pembayaran pajak yang
diajukan PT Bank BCA. Surat tersebut berisi kesimpulan PPh bahwa pengajuan keberatan
pajak BCA harus ditolak.
dengan jumlah harta kekayaan yang dimiliki.
Bantuan Hukum Pembelaan Tersangka Hadi Purnomo
Kementerian Keuangan tidak memberikan bantuan hukum bagi mantan dirjen pajak yang
juga mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Purnomo, terkait kasus keberatan wajib
pajak atas Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) Bank BCA tahun pajak 1999-2003. Pihak
Kemenkeu dapat memberikan bantuan hukum dengan melihat kasusnya, kalau seseorang sudah
ditetapkan sebagai tersangka maka tidak bisa diberikan bantuan hukum oleh Kemenkeu.
Peraturan menyebutkan apabila penetapan tersangka sudah terjadi oleh penegak hukum, maka
Kementerian Keuangan sulit memberikan bantuan hukum kepada pelaku yang dipastikan telah
melakukan pelanggaran berdasarkan alat bukti. Dalam hal ini pihak Kemenkeu menghargai
penegak hukum yang sudah menetapkan menjadi tersangka, karena berarti sudah punya data

yang memang bisa ditindaklanjuti. Kementerian Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) selalu berkoordinasi untuk menyelesaikan masalah dugaan pelanggaran hukum yang
terkait dengan kasus pajak, terutama sejak 2010. Pihak Kememkeu selalu bekerja sama dengan
KPK dari dulu, dan telah menerima pengaduan. Tapi, kalau sudah memasuki level penyelidikan
maupun penyidikan itu sudah menjadi penanganan oleh KPK.
Berdasarkan data yang telah ditemukan oleh pihak KPK dan berdasarkan dari pemaparan
yang diatas dapat disimpulkan bahwa Hadi Purnomo selaku mantan Dirjen Keuangan dan
sebagai mantan Ketua BPK sulit untuk memberikan pembelaan di persidangannya. Hal ini dapat
dikaitkan dengan adanya data yang sangat kuat yang dimiliki oleh KPK dalam kasus
penggelapan pajak dengan menerima suap dari Bank Central Indonesia (BCA) untuk tidak
membayar pajak yang seharusnya dibayarkan ke negara. Selain itu dengan harta kekayaan yang
sangat melonjak drastis dapat menjadi bukti yang kuat untuk menjatuhkan tindakan pidana yang
ia lakukan sebab pendapatan yang tidak sebanding

Dugaan Pencucian Uang oleh Hadi Purnomo


Pencucian

uang

(Money

Laundering)

adalah

suatu

upaya

perbuatan

untuk

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau harta kekayaan hasil tindak
pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau harta kekayaan tersebut tampak
seolah-olah

berasal

dari

kegiatan

yang

sah/legal.

Pelaku

tindak

pidana

berusaha

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari
tindak pidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil kejahatannya sulit ditelusuri oleh
aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik
untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah.
Di Indonesia, kasus pencucian uang (money laundry) diatur secara yuridis dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Dalam kasus Hadi Purnomo penggelapan pajak
dan menerima suap dari BCA selain diterapkannya pasal 2 dan pasal 3 UU Tipikor No 20 tahun
2001, Hadi Purnomo juga dapat dijatuhi hukuman atau sanksi dengan terjerat hukuman dalam
proses pencucian uang (money laundry) yaitu yang terdapat pada Pasal 3, Pasal 4 dan juga Pasal

5 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Isi dari pasal tersebut adalah:
Pertama
Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer,
mengalihkan, membelanjakan, menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke
luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat berharga atau
perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan
hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan. (Pasal 3 UU RI No. 8
Tahun 2010).
Kedua
Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada setiap Orang yang menerima
atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan,
penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal
tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian uang. Namun, dikecualikan
bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini. (Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun 2010).
Ketiga
Dalam Pasal 4 UU RI No. 8/2010, dikenakan pula bagi mereka yang menikmati hasil
tindak pidana pencucian uang yang dikenakan kepada setiap Orang yang
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan
hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau
patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1). Hal ini pun dianggap sama dengan melakukan pencucian uang.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh pihak KPK terkait dengan harta kekayaan yang
melonjak dengan kasus suap dan penggelapan pajak oleh Hadi Purnomo maka kemungkinan
KPK bakal menemukan indikasi tindak pidana pencucian uang dalam proses pengembangan
kasus dugaan korupsi perpajakan yang menjerat Hadi. Berkaca pada kasus mantan pegawai pajak
Gayus H Tambunan, menurut Firdaus, ada kecenderungan pegawai pajak memiliki harta yang
fantastis. KPK juga dapat mengusut kemungkinan indikasi suap atau gratifikasi yang diterima
Hadi selama menjabat Dirjen Pajak. Sebab mustahil jika Hadi diduga melakukan
penyalahgunaan wewenang terkait permohonan keberatan pajak BCA tanpa memperoleh
keuntungan apa pun dari bank tersebut. Karena jika kita lihat penyelewenangan biasanya ada
modus suap gratifikasi, harus dilihat siapa pemberi, korporasi, lalu melalui apa.
Sebagai tersangka Hadi Purnomo akan dikenai pasal TPPU alias tindak pidana pencucian
uang. Melihat kemampuan Hadi Purnomo dalam bidang keuangan, diyakini KPK akan

mengalami kesulitan dalam pembuktian terkait harta haram dan kekayaan yang dimiliki. Oleh
karena itu pihak KPK sebagai penyelidik dan penyidik dalam kasus Hadi Purnomo ini harus
mendapatkan bukti-bukti yang cukup kuat untuk menjerat Hadi dalam Tindak Pencucian
Uang, sebab sebelumnya Hadi telah terbukti dalam kasus suap penggelapan pajak Bank BCA
dengan menyetujui keberatan pembayaran pajak oleh pihak Bank Central Asia (BCA).

Axioma 2 Fraud Hadi Purnomo


Dalam upaya menyelidiki adanya fraud, pemeriksa membuat dugaan mengenai apakah
seseorang bersalah dugaan atau bagian dari teori, sampai pengadilan memberikan
keputusannya. Aksioma adalah asumsi dasar yang begitu gamblangnya sehingga tidak
memerlukan pembuktian mengenai kebenarannya. Kasus yang menjerat Hadi Purnomo dalam
suap penggelapan pajak mendapat perhatian khusus bagi pengamat keuangan dan dari rekanrekan kerjanya bahkan anak buahnya. Dalam kasus ini sebagai tersangka yang telah ditetapkan
oleh pihak KPK, Hadi Purnomo selaku warga Negara yang dapat berlindung dengan hukum ia
dapat melakukan pembelaan diri atas kasus yang menjeratnya.
Kasus sengketa pajak tidak dapat ditarik menjadi perkara tindak pidana korupsi. Kalau
ada aparat penegak hukum yang menarik kasus sengketa pajak menjadi perkara tindak pidana
korupsi, maka dia telah melakukan penyalahgunaan kewenangan. Kasus yang menjerat Hadi
Purnomo sebagai tersangka dalam kasus pajak BCA dianggap pihak KPK perlu menelaah lebih
dalam kasus ini. Pasalnya, penetapan Hadi sebagai tersangka dugaan korupsi permohonan
keberatan wajib pajak yang diajukan Bank Central Asia (BCA) dinilai kurang mendasar.
Berdasarkan Undang-undang ketentuan umum dan tata cara perpajakan (UU KUP), sulit
ditemukan dasar hukum yang dapat diberlakukan terhadap mantan Direktorat Jenderal Pajak itu.
Dalam kasus Hadi tidak terdapat petunjuk dan bukti lain telah melakukan pemerasan sesuai Pasal
12e UU Tipikor. Hukum pajak anksinya adalah administrasi, tidak bisa dibawa ke tindak pidana
korupsi. Karena itu perlu ada pemisahan yang tegas kapan sengketa pajak itu dikatakan sebagai
kasus korupsi dan kapan itu administrasi.

Menanggapi kasus Hadi Poernomo dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang,


praktisi perpajakan ini melihat indikasi korupsinya kurang jelas. Kerugian negara seperti yang
dinyatakan KPK tak terbukti secara detail. Selain itu, pernyataan KPK yang mengangap BCA
sebagai pihak yang diuntungkan dari keputusan penerimaan keberatan pajak yang dibuat Hadi
Poernomo. Selaras dengan sifat UU Perpajakan sebagai hukum administrasi yang memiliki
konsekuensi pidana, Ditjen Pajak seyogyanya mengedepankan pembinaan dengan pendekatan
administratif sebagai primum remedium dalam rangka menghimpun penerimaan negara dan
mendorong dan memberi kesempatan wajib pajak melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan
(SPT) dan melakukan pengungkapan ketidakbenaran

DAFTAR PUSTAKA
http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572254/Nota-Dinas-Ini-yang-Menjerat-Hadi-Poernomo
http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572266/Lonjakan-Kekayaan-Hadi-Poernomo
http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/21/kpk-pastikan-kasus-hadi-purnomo-tak-mandek
http://news.liputan6.com/read/2039939/kronologi-eks-ketua-bpk-hadi-poernomo-jadi-tersangkakorupsi
http://hukum.kompasiana.com/2014/04/21/kpk-bongkar-kasus-suap-bca-hadi-purnomo-akan-dikenaipasal-pencucian-uang-650728.html

http://news.detik.com/read/2014/04/22/132637/2561882/10/kasus-pajak-bca-mantan-anak-buahsampaikan-pembelaan-untuk-hadi-poernomo
http://www.gresnews.com/berita/hukum/12049-hadi-purnomo-bisa-bebas-sengketa-pajak-tidakdapat-ditarik-kasus-korupsi/