Anda di halaman 1dari 28

FRAKTUR

SUPRAKONDILLER
HUMERUS
MAULIDA (1407101030116)
PEMBIMBING : dr. Zulkarnaini, Sp. OT

LATAR BELAKANG
Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur yang terjadi pada 1/3
distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri.

Sering terjadi pada anak-anak, sekitar 65% dari seuruh kasus patah
tulang lengan atas. Mayoritas pada usia 3-10 tahun, puncaknya usia 5
dan 7 tahun. Lebih sering terjadi pada laki-laki : perempuan = 3 : 2

Sebanyak 97,7 % adalah fraktur tipe ekstensi, 2,2% adalah fraktur


tipe fraktur. Fraktur suprakondiler lebih mungkin terjadi dengan siku
sekitar 90%

STATUS PASIEN
Nama

: M. Rifal

Umur

: 9 tahun

Alamat

: Dusun Sepakat
Samudra Aceh Utara

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku

: Aceh

No. CM

: 1.01.27.67

Tanggal Masuk RS

: 17 September 2014

ANAMNESIS

Patah pada
Keluhan tangan siku
utama sebelah kiri

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke poli bedah ortopedi dengan
patah pada tangan siku sebelah kiri. Hal ini
dialami pasien sejak 3 bulan yang lalu
tepatnya pada tanggal 8 Juni 2014 saat
pasien sedang bermain sepeda dan duduk
diboncengan lalu tiba-tiba pasien terjatuh
dan sikunya membentur beton jalan.

Selanjutnya pasien dibawa ke tukang urut


dan
1,5
bulan
kemudian
terjadi
penonjolan tulang pada siku sebelah kiri
sehingga si ibu pasien membawa pasien
rontgen pada tanggal 17-7-2014 di RSU
Cut Meutia dan didapatkan adanya
patahan tulang lengan kiri pasien. Pada
tanggal 9-9-2014 pasien
dirujuk ke
RSUDZA untuk mendapatkan penanganan.

RPD
RPK
RPO

Sebelumnya pasien belum


pernah mengalami seperti ini
Disangkal
Tidak ada riwayat
penggunaan obat

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran

: compos mentis

Nadi

: 104x/I

Pernafasan

: 21 x/I

Suhu

: 36,7oC

Rambut : hitam
lurus
Wajah: simetris
Mata : konj.
Pucat -/ T/H/M : dalam
batas normal

Warna: sawo
matang
Sianosis: Ikterik : Udem : -

Inspeksi :
simetris
Palpasi : pem.
KGB (-)

Kulit

kepala

Leher

Thoraks
I: asimetris
P: SF kanan normal, SF ki
normal
P: sonor=sonor
A: vesikuler (+/+), rh (-/-)

Jantung
Abdomen
Ekstremitas
(Pre ORIF)
Pergerakan

BJ 1>BJ 2, reguler, bising (-)

I: distensi (-)
P: soepel, H/L/R tidak teraba
P: tympani (+)
A: peristaltic (+) kesan normal

S.L a.r humerus sinistra


L: Luka (-)
Edema (+)
Deformitas (+)
F: nyeri tekan (+)

Gerakan aktif dan pasif sendi siku tangan kiri


terhambat
(gerakan
ekstensi),
sakit
bila
digerakkan, gangguan persarafan tidak ada, tampak
gerakan terbatas, keterbatasan pergerakan sendisendi

HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium

Tanggal
11/09/ 2014

Hb
Ht
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung jenis
CT/BT
Ureum
Creatinin
KGDS

: 12,3 gr/dl
: 34 %
: 4,6 x 103 /ul
: 8,5 x 103 /ul
: 306 x 103 /ul
: 0/1/78/18/4
: 2/7
: 17 mg/dl
: 0,36 mg/dl
: 96 mg/dl

FOTO RONTGEN ELBOW JOIN SINISTRA PRE


REKONSTRUKSI ORIF
Tgl 17/07/2014

DIAGNOSIS
Malunio Fraktur Suprakondilar Humerus
Sinistra

FOTO RONTGEN ELBOW JOIN SINISTRA


AP/Lat Post Rekonstruksi dan ORIF

Tinjauan Pustaka
Organ
jantung

Sistem
sirkulasi
Pembuluh
darah

Definisi
Fraktur
Menurut Mansjore Arif et al fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa.

Fraktur Suprakondiler humerus


Fraktur suprakondiler humeri adalah fraktur yang terjadi
pada bagian sepertiga distal tulang humerus setinggi
kondilus humeri tepat proksimal troklea dan capitulum
humeri, yang melewati fossa olekrani. Garis frakturnya
berjalan melalui apeks coronoid di bagian anterior dan
fossa olecranon pada bagian posterior.

Etiologi

Riwayat rauma
tunggal seperti
penekukan ,
penekan akibat
jatuh dari ketiggian

Tekanan yang
berulang - ulang

Kelemahan
abnormal pada
tulang

Epidemiologi

Anak-anak sekitar
177,3 per 100.000
setiap tahunnya.

Terjadi pada anakanak, yaitu sekitar


65% dari seluruh
kasus patah tulang
lengan atas

anak laki-laki :
anak perempuan =
3:2.

Tipe Ekstensi
(sering terjadi
pada 99% kasus)

Menurut Gartland
Tipe I Non displaced
Tipe II Displaced dengan cortex posterior
intact, sedikit terangulasi
Tipe II Displaced komplit, posteromedial

Tipe
Ekstensi
(sering
terjadi
pada 99%
kasus)

Menurut Wilkins
Tipe 1 : Undisplaced
Tipe 2A : Cortex
posterior intact dan
terdapat angulasi aja
Tipe 2B : Cortex
posterior intact,
terdapat angulasi dan
rotasi
Tipe 3A : Displace
komplit, tidak ada
kontak cortical kortical
posteromedial
Tipe 3B : Displace
komplit, tidak ada
kontak cortical
posteromedial

Tipe Fleksi (Jarang


Terjadi)

Berdasarkan derajat displacement :


Tipe I
: undisplaced atau minimal
displaced
Tipe II
: extended but have a posterior
hinge
Tipe III
: completely displaced.

Manifestasi
Klinis

Ciri-ciri adanya fraktur biasanya


ditandai dengan gejala :

Bengkak (swelling) pada sendi siku


Deformitas pada sendi siku
Sakit (pain)
Denyut nadi arteri Radialis yang
berkurang (pulsellessness)
Pucat (pallor)
Rasa semutan (paresthesia, baal)
Kelumpuhan (paralisis)

ANAMNESIS
Biasanya pasien datang
dengan
suatu
trauma
(traumatik, fraktur), baik
yang hebat maupun trauma
ringan dan diikuti dengan
ketidakmampuan
untuk
menggunakan
anggota
gerak. Anamnesis harus
dilakukan dengan cermat,
karena
fraktur
tidak
selamanya
terjadi
di
daerah
trauma
dan
mungkin fraktur terjadi
pada daerah lain. Pasien
biasanya datang karena
adanya
nyeri,
pembengkakan, gangguan
fungsi
anggota
gerak,
krepitasi
atau
datang
dengan gejala-gejala lain.

Pada pasien anak


yang masih sangat
kecil sering terdapat
kesulitan
untuk
mendapatkan
anamnesa, terutama
jika tidak ada saksi
yang melihat saat
terjadinya trauma.
Jika
orang
tua
pasien ada, biasanya
anamnesa mengenai
saat jatuh, jatuh
setelah
berjalan
atau jatuh setelah
belajar melangkah
bisa didapatkan

PEMERIKSAAN FISIK
Tipe
ekstensi

Tipe fleksi

Gangguan sirkulasi
perifer dan lesi pada
saraf tepi

Cabang N.
Medianus N.
N. Medianus (28 Interosseus
60%) tidak
anterior
dapat oposisi ibu ketidakmampuan
jari dengan jari jari I dan II untuk
lain.
melakukan fleksi
(pointing sign).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Foto Rontgen

Pemeriksaan dengan proyeksi


AP/LAT jelas dapatdilihat tipe
ekstensi / fleksi.
Tanda fraktur pada anak
biasanya adanya terlihat
pembengkakan (Fat Pad Sign)

Penatalaksanaan
Reposisi tertutup dan immobilisasi

Reposisi Terbuka

Indikasi Operatif
Adanya kelumpuhan saraf
setelah reduksi
Fraktur yang tidak membaik
dengan reposisi tertutup
Fraktur dengan gangguan
vaskular

Komplikasi
1. Pembentukan lepuh kulit
2. Iskemik Volkmann

3. Mal union cubiti varus (Gunstock deformity)

Prognosis
Pasien yang mengalami cedera fraktur suprakondiler
humerus, sikunya mungkin tidak akan pernah menjadi
normal sehingga pasien harus diedukasi tentang keadaan
ini. Tujuan dari terapi fraktur suprakondiler humerus
adalah untuk memberikan siku nyaman yang fungsinya
mendekati keadaan senormal mungkin

TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai