Anda di halaman 1dari 5

14.

49 Pada diagram fase dibawah ini kesetimbangan cair uap digambarkan sebagai T
terhadap xa pada tekanan konstan, tentukan fase-fase dan hitunglah derajat kebebasan
dari daerah yang ditandai.
Jawab:

Daerah 1,3,V,L,P:
P= 1, F=2
Daerah L1+L2:
P = 2, F = 1
Comment:
Diagram fasa diatas menggambarkan diagram fasa dari campuran cair-cair dari 2
senyawa yang larut sebagian saat dilakukan distilasi. Pada diagram tersebut diketahui bahwa
daerah L1 dan L2 merupakan daerah 2 fase. Hal ini menunjukan bahwa dalam daerah
tersebut kedua campuran tidak larut seutuhnya dan membentuk 2 fase yang berbeda. Dari
grafik juga dilihat terdapat Tao dan Tbo, yang merupakan titik didih dari larutan murninya.
Dari grafik diketahui bahwa komponen A memiliki titik didih lebih tinggi dari komponen B,
sehingga komponen B akan menguap terlebih dahulu saat dilakukan distilasi. Pada daerah V
serta L, larutan memiliki 1 fase, yang berarti kedua larutan bercampur secara sempurna.
Karena kedua larutan bercampur secara sempurna, nilai P=1, dan berarti derajat
kebebasannya akan naik menjadi 2. Hal ini karena pada saat larutan bercampur sempurna,
akan ada 2 parameter yang mempengaruhinya, yaitu suhu dan konsentrasi. Pada tekanan
tetap, kenaikan konsentrasi komponen akan menurunkan kelarutan, mengakibatkan larutan
memasuki zona 2 fase (L1+L2). Dan saat konsentrasi komponen B menjadi besar, larutan A
akan kembali larut dalam komponen B. Kenaikan suhu hingga titik tertentu akan menaikan
kelarutan. Akan tetapi sampai titik tertentu, kelarutan justru akan turun karena komponen
tersebut menguap membentuk suatu fase baru. Pada bagian V, campuran berada dalam fasa
uap (vapor) dan pada bagian L dalam fasa cair (liquid). Derajat kebebasan dapat ditentukan
dengan F=C-P+2. F=1-2+2 saat bercampur sempurna dan F=1-1+2 saat larutan tidak
bercampur sempurna.

Kesetimbangan Fasa
Bab 17

Larutan Ideal Encer


17.5

Dik : WBen = 60 gr PBo = 50.71 mm


WNap = 80 gr PNo = 32.06 mm
Dit:

BMben = 78.79 gr/mol


BMNap = 128.17052 gr/mol

YBen ?

Jawab

Comment:
Pada soal ini, dilakukan pencampuran terhadap 2 komponen yang dapat menguap,
yaitu benzena dan naftalen. Pada larutan encer yang ideal, sifat larutannya harus memenuhi
hukum Raoult. Secara umum, hukum ini menyatakan bahwa tiap komponen dalam larutan
yang ideal nilai fugasitasnya adalah sama dengan fraksi mol dikalikan dengan fugasitas
larutan murninya. Fugasitas dapat disebut sebagai parameter kemudahan campuran. Apabila
larutan ideal, maka tidak terjadi perubahan volume dalam pencampuran, sehingga nilai
tekanan uap dari larutan murni akan tetap dan tekanan uap parsial dari komponen dalam
campuran nilainya akan sama dengan hasil kali fraksi mol dengan tekanan uap murni
komponen. Hal ini karena tekanan uap nilainya akan sebanding dengan konsentrasi dari
larutan murninya dalam campuran.
Dalam pembahasan soal ini, ditanyakan komposisi uap dari tiap komponen, yang
nilainya menyatakan komposisi uap dari campuran larutan. Agar dapat diketahui
komposisinya, maka tekanan uap dari komponen tersebut (tekanan parsialnya) harus
dibandingkan dengan tekanan uap total. Atau dengan kata lain, pada larutan ideal tekanan uap
larutan murni dikalikan dengan fraksi mol dibandingkan dengan jumlah tekanan parsial tiap
komponen. Oleh sebab itu, pembahasan pada bab ini sudah tepat.

17.15 Dua cairan A dan B mempunyai BM yang sama dan membenuk larutan yang
ideal. Larutan dengan komposisi XA mempunyai tekanan uap 70 mm Hg pada 800C.
Larutan diatas didestilasi tanpa refluks sampai dari larutan tersebut terkumpul sebagai
kondensat. Komposisi kondensat adalah XA = 0.75 dan komposisi residu XA = 0.3. Jika
tekanan uap residu pada 800C adalah 600 mm, hitung XA, PoA dan PoB
Diketahui :
A dan B mempunyai BM yang sama
Komposisi XA = uap 70 mm Hg pada 800C
dari larutan tersebut terkumpul sebagai kondensat
Komposisi XA = 0.75
Komposisi XA = 0.30
Puap residu pada 800C adalah 600 mm

Ditanyakan :
a. XA,
b. PoA
c. PoB
Jawab :
a. Mencari xA
XA + XB = xAresidu + xAkondensat
= [0.3+0.75 (600)] x
= 0.642
Maka xB = 1 0.642 = 0.358
b. PA = PoA x XA
700 mmHG = PoA x 0.642
PoA = [700/0.642] = x
817 mmHg

c. Karena kondisi larutan yang terkumpul =


PT = [ PoA x XA ] + [ PoB x XB ]

760 mmHg = (817 x 0.642) + ( PoB x 0.358 )


760 mmHg = 524.514 + 0.358 PoB
75.486 = 0.358 PoB
PoB = 498 mmHg
Comment:
a. Pada soal diketahui bahwa larutan didestilasi dan terkumpul sebagai kondensat. Pada
larutan kondensat tersebut, diketahui bahwa fraksi mol A adalah 0,75. Ini berarti dalam
jumlah tertentu kondensat, nya adalah A. Hal yang sama juga berlaku pada residu.
Dari

larutan

yang

tersisa/residu,

0,3nya

adalah

A.

Dengan

demikian,

jumlah/komposisi A adalah (0,3)(0,25) + (0,75)(0,75) = 0,6375.


b. Karena campuran merupakan larutan ideal, maka nilai dari tekanan parsial suatu
komponen campuran sama dengan fraksinya dikalikan dengan tekanan uap murninya.

c. Tekanan uap tidak bergantung pada volume dari larutan, akan tetapi bergantung pada
komposisi campuran serta tekanan mula-mula komponennya. Oleh sebab itu,

adalah

tetap 109,80 mmHg dan karena larutan adalah larutan ideal, tekanan uap B dapat
dihitung dengan

Sehingga, tekanan uap komponen B dapat dihitung dengan

17.22 Diketahui: Sebuah reaksi A B


BM A dan B = 156 gr mol -1
G pada 300K untuk A = -480.6 Kj mol -1
G pada 300K untuk B = -450.34 Kj mol -1
Kelarutan jenuuh A = 50 gr kg -1
Kelarutan jenuuh B = 90 gr kg -1
Reaksi ini berlangsung dalam keadaan standart

Ditanyakan:
Kp..............?

Penyelesaian:
Kp = P/ xtotal
ntotal= A + B
= 50 gr kg -1 + 90 gr kg -1
= 1.40 gr kg -1
G

= (P. V = ntotal R T)

Produk reaktan

= (P. 22.4 dm3 = 1.40 gr kg -1 x 8.3144 J mol-1 K-1 x 300K)

-450.34 Kj mol -1 (-480.6 Kj mol -1) = (P. 22.4 dm3 = 1.40 gr kg -1 x 8.3144 J mol-1 K-1 x 300K)

30.26 Kj mol -1

= (P. 22.4x10-12 kg = 1.40 gr kg -1 x 8.3144 J mol-1 K-1 x 300K)

30.26 x 10-3 J mol -1

= 1.55895x10-14 J mol-1 P
= 1.96 x10-16

xA = nA / ntotal

xB = nB / ntotal

= 50 gr kg -1 / 1.40 gr kg -1

= 90 gr kg -1 / 1.40 gr kg -1

= 35.8

= 64.3
Xtotal = xA + xB
= 35.8 + 64.3

= 100.1
Maka nilai Kp = P/ xtotal
= 1.96 x10-16 / 100.1
= 1.96 x10-16

Comment:
Kp disini merupakan konstanta Henry untuk menyatakan hubungan tekanan parsial
dengan konsentrasi/komposisi senyawa. Oleh sebab itu, untuk dapat menghitung nilai k,
harus diketahui dahulu nilai tekanannya. Nilai tekanan dapat diperoleh dari energi bebas
gibbs, karena energi bebas nilainya sama dengan energi dalam, tekanan kali volume, dan
entropi. Pada sistem ini, dianggap hanya tekanan dan volume yang berpengaruh.

Dari sini dapat diketahui bahwa P bernilai

Karena nilai Kp bergantung pada fraksi mol, dan fraksi mol yang digunakan adalah fraksi
mol total yakni 1, maka nilainya adalah sama dengan nilai P yakni 103,93 Pa atau 1,08x10^-3
atm atau 0,780 mmHg.