Anda di halaman 1dari 5

Nama : Muhlisin

Nim

: 114564053

Filsafat Tradisional dan Filsafat Modern


Dalam dunia pendidikan membutuhkan pandangan-pandangan tentang
hakikat sebuah pendidikan. Berikut adalah beberapa filsafat tentang pendidikan
yang merupakan hal yang harus di penuhi dalam intutusi pendidikan tersebut.
Filsafat Tradisional
Filsafat tradisional sendiri dibagi menjadi Idealisme, realism, dan neoskolastisme. Berikut adalah penjabaran dari masing-masing pengertian aliran
filsafat yang mengacu pada pandangan tokoh-tokoh filsafat seperti halnya Plato,
Aries Toteles, dan Thomas Aquinas
Yang pertama adalah Idealisme. Idealism adalah realita gagasan /idea,
pemikiran, dan pikiran adalah roh bukan materi, bukan fisik. Realitas terakhir
adalah dunia cita. Dunia cita merupakan dunia mutlak, tidak berubah, asli dan dan
abadi. Idealism sendiri diformulasikan pada abad keempat sebelum masehi oleh
Plato. Ia mendefinisikan kekebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi.
Karena dunia ini sxelalu berubah, maka kebenaran tidak dapat ditemukan pada
dunia yang tidak sempurna dan sementaraini. Plato percaya bahwa terdapat
kebenaran universal dimana semua orang dapat menyepakatinya. Idealisme
percaya bahwa dunia yang dapat diindera oleh tubuh kita dan dunia pikiran(Idea
Inata) adalah dunia yang nyata. Mengetahui realitas bukanlah pengalaman
melihat, mendengar atau menyentuh, tetapi memegang gagasan atas sesuatu dan
menyimpannya dalam pikiran. Kebenaran berada dalam wilayah gagasan/idea.
Beberapa idealis mengemukakan bahwa ada suatu pikiran Absolut atau pribadi
Absolut yang secara terus-menerus memikirkan gagasan ini. Dalam hubungannya
dengan dunia pendidikan, para pembelajar dipandang sebagai pribadi mikroskopik
yang berada dalam dalam proses yang menjadi seperti Pribadi Absolut. Mereka
harus berjuang pada kesempurnaan, karena pribadi yang ideal adalah sempurna.
Disekolah penganut idealism, guru menempato posisi yang sangat krusial, sebab

gurulah yang melayani pesreta didik, guru merupakan sosok panutan hidup dari
apa yang kelak bisa dicapai secara intelektual maupun sosial. Dalam konteks ini
guru harus memandang peserta didik sebagai tujuan bukan sebagai alat. Guru
harus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia merupakan contoh yang baik untuk
diterima oleh peserta didiknya.

Yang kedua adalah Realisme. Realisme adalah sebuah reaksi menentang


idealisme. Aristoteles adalah pendefinisi terbaik dari realisme. Menurutnya suatu
bentuk dapat hadir tanpa zat/materi tertentu, tetapi tidak aka nada zat/materi tanpa
bentuk. Realitas utama menurut para realis bukan terdapat pada wilayah pikiran.
Alam semesta ini dibuat dengan materi yang bergerak, sehingga dunia fisik
dimana orang berdiam inilah yang menjadikan realita. Epistemology dari realisme
adalah pendekatan umum pada dunia yang mendasarkan metodenya pada persepsi
yang menghubungkan dengan panca indera. Kebenaran dianggap sebagai fakta
yang dapat diamati. Panca indera adalah alat untuk memperoleh pengetahuan.
Dalam pendidikan realisme memandang parasiswa sebagai organism fungsional
yang dapat mengetahui keteraturan melalui pengalaman sensoris. Mereka dadalah
subjek dari hukum alam, maka itu mereka tidak bebas dalam pilihan-pilihan
mereka. Guru berperan dalam memberikan informasi yang akurat mengenai
realitas dengan cara yang paling cepat dan efisien. Dalam hal ini sekolah berperan
sebagai transmitter (penghubung) pengetahuan yang telah ditetapkan oleh mereka
yang memiliki konsep hukum alam dan pengalaman keilmuan serta fungsinya
dalam alam semesta. Sekolah ini berfokus melestarikan dan melindungi warisan
pengetahuan ini
Yang ketiga adalah Neokolastisisme. Neokolastisisme adalah sebuah
gerakan intelektual yang berkembang di Eropa Barat antara tahun. Para pelajar
skolastik tidak tertarik untuk mencari kebenaran baru, mereka lebih tertarik
kepada pembuktian kebenaran yang telah ada melalui proses-proses rasional. Jadi
sklolastikisme dapat dilihat sebagai usaha untuk merasionalisasi teolog dengan

tujuan mendukung iman oleh pemikiran(reason). Thomas Aquinas adalah tokoh


utama dalam masa ini. Pendekatan dasarnya adalah seharusnya seseorang
memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin melaluai penggunaan pemikiran
/akal budi(reason) manusia dan mempercayakannya pada iman wilayah-wilayah
yang melampaui pemahaman manusia. Dalam dunia pendidikan Neoskolastikisme
percaya bahwa siswa adalah makhluk rasional yang memiliki potensi alamiah
untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan, sedangkan guru dipandang
sebagai pengajar mental dengan kemampuan untuk mengembangkan pemikiran,
daya ingat dan kekuatan kehendak dalam diri siswa.
Filsafat Modern
Filsafat modern berkembang pada abad 19 dan 20 yang ditandai dengan
kemajuan-kemajuaan

dalam

pengetahuan

ilmiah

yang

berdampak

pada

masyarakat melakukan penolakan terhadap realitas absolute yang bersifat statis


sebagaimana yang dihasilkan oleh filsafat tradisional. Filsafat modern meletakkan
kerangka pemikiran dari sudut pandang manusia, tampak bagi banyak orang
bahwa kebenaran dan juga pengetahuan manusia tentang kebenaran bersifat relatif
dan bahwa tiadak ada suatu kepastian-kepastian yang bersifat universal. Filsafat
modern menjauhkan dari persoalan realitas puncak dan pemfokusan terhadap
penekanan-penekanan relative pada kebenaran dan nilai dari perspektif kelompok
sosial (pragmatisme) dan dari sudut individualism(eksistensialisme)
Pragmatisme adalah bentuk penolakan dari metafisika terhadap filsafat
tradisional yang memberikan perhatian pada lingkup dunia absolute dan puncak
dari realitas diluar jangkauan pengalaman empiris manusia. Pragmatis
memandang akal-pikir dan materi bukan dua hal yang terpisah dan substansi yang
independen. Orang-orang hanya mengetahui tentang materi sebagaimana mereka
mengalaminya dan berefleksi atas dasar pengalaman ini dengan pikiran mereka.
Dengan demikian realitas tidak pernah terpisahkan dari manusia yang mengetahui.
Pragmatsme memandang bahwa realitas bukan lah sesuatu yang abstrak, realitas
lebih sebagai suatu pengalaman transaksional yang terus-menerus berubah.

Kalangan pragmatism menekankan bahwa realitas kosmologis mengalami


perubahan selama berabad-abad. Dalam pandangan pragmatism, realitas tidaklah
terbakakukan melainkan berada dalam suatu keadaan yang berubah secara terus
sebagaimana pengetahuan manusia yang kian meluas. Pengetahuan menurut
pragmatism berakar pada pengalaman. Dalam pandangan pragmatism peserta
didik merupakan subjek yang memiliki pengalaman. Peserta didik merupakan
individu yang mengalami dan dengan kecerdasannya peserta didik memecahkan
situasi-situasi problematic. Peserta didik belajar sebagaimana mereka bertindak
terhadap lingkungannya dan pada gilirannya dirangsang bertindak oleh
lingkungannya setelah peserta didik mengalami berbagai konsekuensi dari
tindakannya.
Eksistensialisme bentuk dari pemberontakan seorang individu terhadap
masyarakat yang telah merampas individualismenya. Eksistensialisme bukanlah
sebuah

filsafat

sistematis

sebagai

akibatnya

eksistensialisme

tidak

mengkomunikasikan kepada dunia pendidikan serangkaina aturan untuk dikuasai


dan tidak pula serangkaina progam untuk dilembagakan. Secara umum
eksistensialisme tidak membingkai pemikiran nya dalam peristilahan metafisika,
epistemology dan aksiologi.eksistensi individu adalah titik bidik

pandangan

eksistensialisme tentang realitas. Eksistensialisme berpandangan bahwa eksistensi


mendahului esensi. Manusia lebih dahulu ada kemudian mereka berfikir.
Tindakan kehidupan sehari-hari adalah sebuah proses perumusan esensinya.
Setelah

manusia

mengalami

hidup,

ia

membuat

pilihan-pilihan

dan

mengrmbangkan kesenangannya. Melalui tindakan itu ia merumuskan siapa


dirinya sebagai seorang individu.
Menurut kalangan eksistensialisme, pendidikan tidak boleh mengekang
individualitas

dan

kreativitasnya.

Guru

bukanlah

sosok

yang

selalu

memperhatikan alih pengetahuan kognitif. Guru adalah orang yang berkemauan


membantu para peserta didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin.
Guru bersedia memperhatikan individualitas masing masing peserta didik. Guru
menyadari tidak ada diantara dua bpesrta didikyang sama dank arena tidak ada

diantara keduanya membutuhkan pendidikan yang benar-benar sama. Guru


berperan sebagai fasilitator yang mau menghargai aspek-aspek emosiaonal dan
irasional individu-individu dan mau berupaya serius mengarahkan peserta didik
kepemahaman lebih baik tentang diri sendiri. Begitu juga dengan kurikulum yang
harus terbuka bagi perubahan karena konsepnya kebenaran selalu berkembang dan
berubah.

DAFTAR PUSTAKA
Pramono, Made, Alim, dan Suyanto, Agus. 2005. FISAFAT ILMU. Surabaya:
Unesa University Press
Sadulloh, Uyoh, 2007, PENGANTAR FISAFAT PENDIDIKAN. 2007,
Bandung: Alfabeta
http : www.perbedaanfilsafattradisionaldanfisafatmodern. com