Anda di halaman 1dari 20

1.

PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS
XXXX
2. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU
NIFAS DI BPS XXXX
3. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN POSTPARTUM DI RB XXXX
TAHUN 2010
4. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI
RUMAH BERSALIN XXXX MEDAN
5. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA
BAYI BARU LAHIR DI KLINIK XXXXX
6. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TENTANG PERAWATAN PAYUDARA DI
KLINIK XXXXX
7. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI
KLINIK XXXXXX
8. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST PARTUM TENTANG INFEKSI PADA MASA
NIFAS DI KLINIK XXXXXXXX
9. Gambaran Pengetahuan Ibu Post-partum 0-14 hari tentang Perawatan Tali Pusat

1. EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MISOPROSTOL DAN OKSITOSIN PADA PENANGANAN


PERDARAHAN POST PARTUM
2. FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA-EKLAMSIA
PADA IBU HAMIL DI RS
3. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA
PUTRI SMP
4. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM DI
RSU
5. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA
PADA IBU BERSALIN
6. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA
BAYI 0-6 BULAN DI BPS
7. FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA PADA
IBU BERSALIN
8. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYEBAB TERJADINYA
PERDARAHAN POST PARTUM DI RS
9. HUBUNGAN ANEMIA DAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK)PADA IBU HAMIL
DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS
10. HUBUNGAN ANEMIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM
PADA IBU BERSALIN
11. HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RS
12. HUBUNGAN ANTARA USIA IBU, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU DENGAN KEJADIAN
ABORTUS INCOMPLETUS
13. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN PERSALINAN
PRETERM PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT UMUM
14. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN RIWAYAT KURETASE DENGAN KEJADIAN RETENSIO
PLASENTA PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT UMUM
15. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN ABORTUS
PADA IBU HAMIL
16. HUBUNGAN ANTARA PRE EKLAMPSIA-EKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN INTRA UTERIN
FETAL DEATH
17. HUBUNGAN ANTARA SISA PLASENTA DAN RIWAYAT PERDARAHAN POST PARTUM
DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU NIFAS DI RS

18. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KEJADIAN INFEKSI
SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS
19. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI
BARU LAHIR
20. HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSI-EKLAMSI PADA IBU HAMIL DI
RS
21. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN
YANG MENGALAMI PERDARAHAN POST PARTUM
22. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA
IBU BERSALIN YANG MENGALAMI PERDARAHAN POST PARTUM DI RS
23. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI
PADA IBU BERSALIN
24. HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN DAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET Fe DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
25. HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN DAN PEKERJAAN IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI
RUMAH SAKIT UMUM
26. HUBUNGAN KEBERADAAN ANGGOTA KELUARGA YANG MEROKOK DAN STATUS GIZI
BALITA DENGAN KEJADIAN ISPA
27. HUBUNGAN RIWAYAT KEHAMILAN EKTOPIK TERHADAP KEJADIAN KEHAMILAN EKTOPIK
PADA IBU BERSALIN
28. HUBUNGAN RIWAYAT SEKSIO SESAREA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN RETENSIO
PLASENTA
29. HUBUNGAN PARITAS DAN ANEMIA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR
RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
30. HUBUNGAN PARTUS LAMA DAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA
NEONATORUM PADA BAYI BARU LAHIR DI RS
31. HUBUNGAN PARTUS PRESIPITATUS DAN PARITAS DENGAN ATONIA UTERI PADA IBU
BERSALIN
32. HUBUNGAN PEMBERIAN MAGNESIUM SULFAT DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA
IBU BERSALIN YANG MENGALAMI PRE EKLAMSIA-EKLAMPSIA
33. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DENGAN
PERILAKU PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI)
34. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG KELUARGA SADAR GIZI
(KADARZI) DENGAN STATUS GIZI BALITA
35. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PERILAKU KELUARGA SADAR GIZI
(KADARZI)
36. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG ANEMIA DENGAN KONSUMSI TABLET
FE PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
37. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG MENARCHE DENGAN SIKAP REMAJA DALAM
MENGHADAPI MENARCHE DI SD
38. HUBUNGAN PENGETAHUAN, TINGKAT PENDIDIKAN DAN KUNJUNGAN NIFAS DENGAN
KONSUMSI VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
39. HUBUNGAN PERDARAHAN ANTEPARTUM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI
BARU LAHIR
40. HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA DENGAN PRESTASI BELAJAR DI SMK
41. HUBUNGAN PERSALINAN SUNGSANG DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM
42. HUBUNGAN POLA ASUH DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BALITA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
43. HUBUNGAN PRE EKLAMPSIA BERAT DENGAN KEJADIAN SECSIO CESAREA PADA IBU
BERSALIN
44. HUBUNGAN PRE EKLAMPSIA DAN SISA PLASENTA DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN
POST PARTUM
45. HUBUNGAN SEKSIO SESAREA DAN KELAHIRAN PREMATUR DENGAN KEJADIAN
ASFIKSIA NEONATORUM DI RS
46. HUBUNGAN STATUS GIZI DAN RIWAYAT DISMENORE PADA KELUARGA DENGAN
KEJADIAN DISMENORE
47. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA

48. HUBUNGAN UMUR DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM
PADA IBU BERSALIN
49. HUBUNGAN USIA DAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS
50. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KANKER SERVIKS PADA WANITA DI RSU
51. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN INTRA UTERINE
FETAL DEATH DI RS
52. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS PADA IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN SEROTINUS
DI RS
53. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN PLASENTA PREVIA
54. HUBUNGAN USIA DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM
DI RS
55. HUBUNGAN USIA DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN PARTUS PREMATUR DI
RUMAH SAKIT
56. HUBUNGAN USIA IBU BERSALIN DAN PREEKLAMPSI DALAM KEHAMILAN DENGAN
KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI KLINIK
57. HUBUNGAN USIA IBU DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN ABORTUS
INCOMPLETUS DI RSB
58. HUBUNGAN USIA KEHAMILAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU
HAMIL DI PUSKESMAS
59. HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN PERSALINAN
SEKSIO SESAREA DI KLINIK
60. PERBEDAAN POSISI MIRING DAN SETENGAH DUDUK PADA IBU BERSALIN TERHADAP
PERCEPATAN PERSALINAN KALA II DI BPS
61. PERBEDAAN TEKNIK KOMPRES HANGAT DAN TEKNIK MASASE UNTUK MENGURANGI
NYERI PERSALINAN KALA I DI BPS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya percepatan penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, tentunya akan
berhasil apabila melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik unsur pemerintahan maupun
unsur masyarakat dan dunia usaha. Kemudian untuk mengintegrasikan kegiatan seluruh
kepentingan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian
ibu, maka Posyandu menjadi salah satu lembaga yang paling tepat, karena keberadaannya
sudah cukup lama dan terbukti berhasil mengatasi berbagai permasalahan yang berhubungan
dengan kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, pemberantasan penyakit menular dan lainlain, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap rendahnya angka kematian ibu dan
angka kematian bayi (Depkes RI, 2006).
Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khusus di bidang kesehatan, bentuk
pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan
tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan
mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Keikut sertaan
masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya dan
adaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya
yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan
penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
menolong dirinya dalam bidang kesehatan. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar
dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimal (Puryaning, 2010).
Program posyandu dan peran serta kader dapat berjalan secara optimal dengan upaya-upaya
diantaranya pemahaman yang berasal dari pengetahuan yang baik, pelatihan/bimbingan dari
puskesmas setempat dan pemberian penghargaan untuk meningkatkan motivasi. Seorang
kader yang memiliki motivasi yang tinggi dan kemampuan yang bagus dalam menjalankan
tugasnya akan menghasilkan kinerja yang baik. Menurut Widiastuti (2007), motivasi kader
dalam pelaksanaan posyandu merupakan suatu faktor dominan yang sangat berpengaruh
terhadap tingkat pemanfaatan penimbangan balita.
Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah
tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini
perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis
pelayanan (Puryaning, 2010).
Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003), mengklasifikasikan menjadi faktor yang
mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu: faktor predisposing merupakan faktor internal yang
ada pada diri individu, kelompok, dan masyarakat, yang mempermudah individu berperilaku
seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan budaya. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku salah satunya adalah pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau over behavior
(Notoatmodjo, 2003).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu,


diantaranya:
1. Faktor-faktor Presdisposisi (Presdisposing Factors) : umur ibu, pengetahuan, pendidikan,
pekerjaan ibu, jumlah anak dalam keluarga, pendapatan dan sikap.
2. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Posyandu yang dilakukan oleh kader posyandu yang terampil akan mendapat respon positif
dari ibu-ibu balita sehingga kader tersebut ramah dan baik. Kader Posyandu yang ramah,
terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan ibu-ibu balita rajin
datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu (Yon Ferizal dan Mubasysyir
Hasanbasri, 2007).
Menurut Apriliyanto (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kader posyandu
memanfaatkan meja penyuluhan yaitu :
1. Umur
Semakin tua umur seorang kader posyandu maka kesiapan kader posyandu dalam
memanfaatkan posyandu (Notoatmodjo, 2003).
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan kader kesehatan yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi
sehingga pengetahuan tentang pemanfaatan meja penyuluhan menjadi terhambat atau terbatas
(Suhardjo, 2009).
1. Pekerjaan
Faktor bekerja saja nampak berpengaruh pada peran kader kesehatan sebagai timbulnya suatu
masalah pada pemanfaatan meja penyuluhan serta tidak ada waktu kader mencari informasi
karena kesibukan mereka dalam bekerja (Depkes RI, 2000).
1. Pendapatan
Bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah dalam pemanfaatan meja penyuluhan tidak
akan berjalan lancar, sebaliknya apabila tingkat pendapatan meningkat dalam pemanfaatan
meja penyuluhan akan lancar (Notoatmodjo, 2003).
1. Pengetahuan
Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku didalam
kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pengetahuan tentang posyandu pada
kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program posyandu
khususnya pemanfaatan meja penyuluhan. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk
aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan posyandu. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai
sebagai faktor yang penting dalam masalah pemanfaatan meja penyuluhan karena kurang
percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta kurang mampu dalam
menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari (Sediaoetama, 2009).

Semakin tinggi pengetahuan dalam penyuluhan maka akan semakin baik pemanfaatan meja
penyuluhan. Orang dengan pengetahuan penyuluhan yang rendah akan berperilaku tidak ada
rasa percaya diri yang berdampak menjadi tidak aktif dalam memanfaatkan meja penyuluhan
(Sediaoetama, 2009).
1. f.

Sikap (Attitude)

Pada penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang
peranan penting (Notoatmojo, 2003).
Pendapat dari bidan tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih yaitu kader posyandu yang
berpendidikan SD sebanyak 80% dari jumlah keseluruhan kader, 60% kader berusia 40 tahun
ke atas, 80% kader bekerja sebagai IRT, dan pengetahuan tentang posyandu belum merata di
semua kader (Bidan Desa Sirnagalih, 2012).
Salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan adalah Pos Pelayanan
Terpadu (Posyandu) yang dibentuk oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Posyandu
merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan yang dikelola oleh masyarakat dengan
dukungan teknis petugas puskesmas. Kegiatan posyandu meliputi 5 program pelayanan
kesehatan dasar, yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Imunisasi, Keluarga Berencana (KB),
perbaikan gizi dan penanggulangan diare (Depkes RI, 2006).
Pelaksanaan penimbangan di posyandu berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2007, dilaporkan dari 15 juta balita yang berusia 0 -59 bulan di Indonesia, cakupan
penimbangan balita 4 6 kali dalam 6 bulan hanya 46%. Sementara masih terdapat 25,5%
balita tidak pernah ditimbang.
Dalam Riskesdas juga dilaporkan posyandu masih merupakan sarana paling tinggi sebagai
sarana kegiatan penimbangan balita (Litbangkes, 2008). Cakupan pelaksanaan penimbangan
balita yang dilihat dari pelaksanaan penimbangan di posyandu pada tahun 2011, dimana hasil
penimbangan balita masih rendah dari 23.009.874 balita hanya sebesar 67.87% balita yaitu
15.616.801 yang ditimbang di posyandu (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Pusdatin, data & informasi, Jakarta, 2011). Menurut tingkat perkembangannya di Indonesia
pada tahun 2003 tercatat 245.154 unit posyandu dengan total lapor 242.221 unit posyandu.
Menurut data dari Survei GAVI-HSS Ditjen Bina Gizi KIA, seluruh desa di Provinsi Jawa
Barat telah memiliki Posyandu, bahkan ada desa/kelurahan yang memiliki 84 posyandu.
Rata-rata jumlah kader per posyandu adalah 5 orang, dengan persentase rata-rata kader aktif
per Posyandu adalah 89%. Sementara rata-rata jumlah kader per posyandu yang sudah dilatih
program KIA adalah sebanyak 2 orang. Namun demikian berdasarkan data dalam Sistem
Informasi Posyandu, bahwa ternyata dari seluruh Posyandu di Provinsi Jawa Barat yang
mencapai 47.265 Posyandu, 26,22 % Posyandu masih tergolong Posyandu Pratama dan
46,77 % Posyandu Madya sehingga tingkat cakupan programnya rata-rata kurang dari 50 %.
Kemudian terdapat 22,6 % Posyandu Purnama yang dapat didorong menjadi Posyandu
Mandiri dan baru 4,35 % Posyandu Mandiri (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2010).
Di Kota Tasikmalaya terdapat 729 buah posyandu dengan total yang lapor ada 729 posyandu.
Target jumlah kader yang ada 3.467 sedangkan yang aktif ada 3.035 orang. Dinas Kesehatan
Kota Tasikmalaya mencatat jumlah balita gizi buruk pada 2011 sebanyak 4.261 jiwa.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tercatat saat ini tercatat ada 84.378

balita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.057 balita yang rutin dilakukan penimbangan dan
dikontrol di posyandu setempat. Sementara sisanya sebanyak 35.321 balita kondisi
kesehatannya tidak terkontrol karena tidak melakukan penimbangan. Jumlah balita di
Indihiang 2.619 jiwa. Jumlah balita yang memiliki KMS yaitu 2.512 jiwa. Jumlah bayi yang
ditimbang di posyandu sebanyak 2.196 jiwa.
Di Puskesmas Indihiang terdapat 47 Posyandu dengan total lapor ada 47 Posyandu. Target
jumlah kader yang ada 231 sedangkan yang aktif 215 orang. Jumlah kader di Kelurahan
Sirnagalih sebanyak 39 orang (Dinas Kesehatan kota Tasikmalaya, 2011). Hasil studi
pendahuluan yang dilakukan di Wilayah Kerja UPTD (Unit Pelaksana Tingkat Daerah)
Puskesmas Indihiang Januari-Mei tahun 2012 yang dilakukan dengan pendataan pada
pelaksanaan kegiatan posyandu Kelurahan Sirnagalih didapatkan cakupan kunjungan balita
yang sesuai dengan standar sebesar 60% dari 584 balita hanya 350 balita yang datang ke
posyandu. Data ini menunjukkan penimbangan balita dan pemantauan tumbuh kembang
balita di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya belum maksimal.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu
balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun
2012.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :Adakah hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap
kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota
Tasikmalaya Tahun 2012?
C. Tujuan Masalah
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu
balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun
2012.
1. Tujuan Khusus
1. Mendapatkan gambaran pengetahuan kader tentang posyandu di Kelurahan
Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
2. Mendapatkan gambaran tentang kunjungan ibu balita ke posyandu di
Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
3. Menganalisa hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap
kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan
Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
1. D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis

Mengembangkan kajian tentang hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu


terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kader
yang dapat menunjang akan meningkatnya cakupan kunjungan balita.
1. Manfaat Praktis
1. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian serta sebagai media pembelajaran
untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan.
1. Bagi Kader Posyandu
Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan bagi kader agar dapat meningkatkan
pelayanan posyandu. dengan tujuan untuk meningkatkan kunjungan balita ke posyandu
khususnya.
1. Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Instansi kesehatan khususnya puskesmas dalam
meningkatkan kualitas pelayanan dengan berperan serta bersama kader untuk memberikan
pengarahan kepada masyarakat untuk memahami peran dan fungsi posyandu khususnya.
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan referensi, dokumentasi dan sebagai bahan pustaka.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran pustaka, penulis menemukan penelitian dengan judul Gambaran
pendidikan dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko di wilayah kerja
Puskesmas Berangas tahun 2011 oleh Asheni Fahriyah Tahun 2011. Jenis penelitian ini
adalah penelitian deskriptif dengan mengambil sampel secara cluster sampling dan
variabelnya pendidikan kader dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko .
Sedangkan penelitian ini mengambil judul, yaitu : Hubungan antara pengetahuan kader
tentang posyandu terhadap kunjungan balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan
Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya adalah jenis penelitiannya yaitu korelatif dengan menggunakan total
sampling dan variabel penelitiannya yaitu pengetahuan kader tentang posyandu dan
kunjungan ibu balita ke posyandu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. A.

Pengetahuan
1. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang
sekedar menjawab pertanyaan what. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa
sesuatu itu. Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010), pengetahuan yaitu apabila
seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu bidang tertentu dengan
benar, baik secara lisan maupun tulisan maka dapat disimpulkan bahwa ia mengetahui bidang
tersebut. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh
seseorang.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi
untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan
memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola.
Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan
menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan.
Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (http://id.wikipedia.org/ diakses tanggal 8 juni
2012).
1. Kategori Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% 100% dari seluruh petanyaan.
b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% 75% dari seluruh
pertanyaan.
c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% 55% dari seluruh
pertanyaan.
1. Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk
ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalahmengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifk
dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
1. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untukmenjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
1. Aplikasi (application)
Aplikasi diarttikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi real (sebenarnya).
1. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
1. Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
1. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasiatau penilaian
terhadap sutu materi atau objek.
1. B.

Kader
1. Pengertian

Menurut Ismawati (2010), kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan
untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan.
1. Syarat-syarat Kader Posyandu
Adapun syarat-syarat seorang kader harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Dapat membaca dan menulis.


Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
Mempunyai waktu yang cukup.
Bertempat di wilayah posyandu.
Berpenampilan ramah dan simpatik.
Mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu.
Tugas Kader Posyandu
1. Melakukan kegiatan bulanan posyandu.

Tugas kader posyandu pada hari H- atau saat persiapan hari buka Posyandu, meliputi:
1) Menyiapkan alat dan bahan, yaitu alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, LILA, alat
pengukur, obat-obatan yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), bahan/materi
penyuluhan.
2) Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu-ibu untuk datang
ke posyandu.
3) Menghubungi Pokja Posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor
desa dan meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sektor bisa hadir pada hari buka
posyandu.
4) Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader
posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

1. Kegiatan setelah pelayanan bulanan posyandu


Tugas-tugas kader setelah hari buka Posyandu, meliputi:
1) Memindahkan catatan-catatan dalam Kartu Menuju Sehat ke dalam buku register atau
buku bantu kader.
2) Menilai hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari posyandu pada bulan
berikutnya.
3) Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) merupakan tindak lanjut dan
mengajak ibu-ibu datang ke Posyandu pada kegiatan berikutnya.
1. Pelatihan Kader Posyandu
Seorang calon kader wajib mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu,
seperti :
1. Konsep posyandu balita
2. Gizi seimbang, penentuan status gizi balita, cara menentukan status gizi balita, serta
penentuan Bawah Garis Merah (BGM), serta pengukuran status gizi dengan
menggunakan KMS.
3. Pemanfaatan dan pemberian ASI ekslusif.
4. Makanan pendamping ASI yang sehat.
5. Penyakit yang sering di derita oleh balita, pertolongan pertama pada kecelakaan dan
pengobatan balita di rumah.
6. Stimulasi tumbuh kembang anak.
7. Pengukuran antropometri (Ismawati, 2010).
1. C.

Posyandu
1. Pengertian

Pengertian posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat (UKBM) dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat untuk memberdayakan dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu
dan anak balita (Karwati, dkk, 2011).
1. Kegiatan Pelayanan Posyandu
Kegiatan posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau pilihan.
1. Kegiatan utama, sekurang-kurangnya mencakup 5 kegiatan, yaitu:
1)

Kesehatan ibu dan anak

2)

Keluarga berencana

3)

Imunisasi

4)

Gizi

5)

Pencegahan dan penanggulangan diare.


1. Kegiatan pengembangan atau pilihan, dapat menambah kegiatan baru disamping 5
kegiatan utama yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dengan baik. Kegiatan baru
tersebut misalnya :

1)

Bina keluarga balita (BKB).

2) Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial kejadian luar biasa (KLB). Misalnya
infeksi saluran nafas akut, demam berdarah, gizi buruk, polio, campak dan tetanus
neonatorum.
3) Program diservikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui
tanaman obat keluarga.
4)

Berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.


1. Sasaran Posyandu

Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar yang ada di
posyandu terutama :
1.
2.
3.
4.
5.

Bayi dan anak balita


Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
Pasangan usia subur
Pengasuh anak
Strata Posyandu

Ada 4 strata dalam posyandu, diantaranya:


1. Posyandu Pratama (merah)
Syarat-syaratnya, yaitu :
1)

Keadaan : posyandu belum mantap

2)

Penimbangan <8 kali

3)

Rata-rata jumlah kadernya 5 orang

4)

Cakupan kumulatif KIA <50%

5)

Cakupan kumulatif KB <50%

6)

Cakupan kumulatif Imunisasi <50%


1. Posyandu Madya (kuning)

1)

Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan rendah

2)

Penimbangan >8 kali

3)

Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)

Cakupan kumulatif KIA <50%

5)

Cakupan kumulatif KB <50%

6)

Cakupan kumulatif Imunisasi <50%


1. Posyandu Purnama (hijau)

1)

Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan.

2)

Penimbangan >8 kali

3)

Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)

Cakupan kumulatif KIA >50%

5)

Cakupan kumulatif KB >50%

6)

Cakupan kumulatif Imunisasi >50%

7)

Cakupan dana sehat <50%

8)

Program pengembangan posyandu sudah ada.


1. Posyandu Mandiri (biru)

1) Keadaan : Kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan dan dana
sehat.
2)

Penimbangan >8 kali

3)

Rata-rata jumlah kadernya >5 orang

4)

Cakupan kumulatif KIA >50%

5)

Cakupan kumulatif KB >50%

6)

Cakupan kumulatif Imunisasi >50%

7)

Cakupan dana sehat >50%

8)

Program pengembangan posyandu sudah aktif (Ismawati, 2010).


1. Manfaat Posyandu
1. Bagi masyarakat

1) Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi


balita dan ibu.
2)

Pertumbuhan balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk.

3)

Bayi dan balita mendapatkan kapsul vitamin A.

4) Ibu hamit terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah serta imunisasi
tetanus toksoid.
5)

Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah.

6)

Memperoleh penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.

7) Apabila terdapat kelainan pada balita, ibu hamil, ibu nifas menyusui dapat segera
diketahui dan dirujuk ke puskesmas.
8)

Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang ibu dan balita.


1. Bagi kader

1)

Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih lengkap.

2) Ikut berperan serta nyata dalam perkembangan tumbuh kembang balita dan kesehatan
ibu.
3) Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang terpercaya dalam bidang
kesehatan.
4) Menjadi panutan karena telah mengabdi demi pertumbuhan balita dan kesehatan ibu
(Karwati, dkk, 2011).
1. Pelaksanaan Posyandu
Dilaksanakan sekurang-kurangnya satu hai dalam satu bulan. Apabila diperlukan hari buka
posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Ada 5 meja posyandu, yaitu:
1. Meja 1
1)

Bumil/bayi/balita datang ke posyandu.

2)

Kader melakukan pendaftaran pada ibu dan balita yang datang pada buku register.
1. Meja 2

1)

Menimbang bayi/ /ibu yang datang ke posyandu.

2)

Melaksanakan pengukuran dengan pita Lila (bagi WUS).

3)

Hasil penimbangan/pengukuran dituliskan pada secarik kertas tadi

1. Meja 3
1)

Mencatat hasil penimbangan pada KMS.

2)

Ajari ibu balita untuk mengetahui cara membaca KMS.

3)

Menilai berat badan (naik/tetap/turun).

4)

Memasukkan data ke SIP (register bayi/balita/bumil).


1. Meja 4

Memberikan penyuluhan/ konseling secara perorangan/ per kasus.


1. Meja 5
1)

Pelayanan oleh tenaga kesehatan/ BKKBN.

2) Pemberian Makanan Tambahan Penyuluhan (PMT Penyuluhan), Oralit, Vitamin A,


Tablet Fe, Rujukan, dan lain-lain (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2011).
1. D.

Balita
1. Pengertian

Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia
manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan
lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini
disebut juga sebagai usia prasekolah (www.wikipedia.com).
Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi lahir dua minggu. Meskipun
masa bayi sering dianggap sebagai masa bayi baru lahir, tetapi label masa bayi akan
digunakan untuk membedakannya dengan periode pasca natal yang ditandai dengan keadaan
sangat tidak berdaya (Hurlock, 2008).
1. Karakteristik Balita
Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 3 tahun (batita)
dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif,
artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa
batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang
relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang
mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh
karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering Pada usia
pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih makanan yang
disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah
playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak
akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan tidak terhadap
setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari
aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan.
Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status

gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12 Juni
2012).
1. Tumbuh Kembang Balita
Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa
melalui tiga pola yang sama, yakni:
1. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal).
Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki, anak akan berusaha
menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
2. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak akan
lebih dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia
mampu meraih benda dengan jemarinya.
3. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengeksplorasi keterampilanketerampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan lain-lain. Pertumbuhan
pada bayi dan balita merupakan gejala kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung
perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak. Dengan
kata lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh anak, disertai penambahan
ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini ditandai oleh:
1)

Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.

2)

Bertambahnya ukuran lingkar kepala.

3)

Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.

4)
Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot. Bertambahnya organ-organ tubuh
lainnya, seperti rambut, kuku, dan sebagainya (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12
Juni 2012).
1. Kunjungan Ibu balita ke posyandu
Kunjungan Ibu Balita di Posyandu adalah keteraturan kegiatan atau proses yang terjadi
beberapa kali atau lebih. Peran serta ibu dalam menimbangkan balitanya ke Posyandu dilihat
berdasarkan frekuensi kehadiran balita dalam kegiatan posyandu, dimana dikatakan teratur
jika frekuensi penimbangan minimal 8 (delapan) kali dalam waktu satu tahun dan dikatakan
tidak teratur jika frekuensi penimbangan kurang dari 8 (delapan) kali dalam satu tahun
(Depkes RI, 2004).
Kunjungan balita ke Posyandu adalah datangnya balita ke posyandu untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan misalnya penimbangan, imunisasi, penyuluhan gizi, dan sebagainya.
Kunjungan balita ke posyandu yang paling baik adalah teratur setiap bulan atau 12 kali per
tahun. Untuk itu kunjungan balita diberi batasan 8 kali pertahun. Posyandu yang frekuensi
penimbangan atau kunjungan balitanya kurang dari 8 kali pertahun dianggap masih rawan.
Sedangkan bila frekuensi penimbangan sudah 8 kali atau lebih dalam kurun waktu satu tahun
dianggap sudah cukup baik, tetapi frekuensi penimbangan tergantung dari jenis posyandunya
(Dinkes Prov. Jabar, 2007).

Sehingga dapat disimpulakan bahwa ibu balita dapat dikatakan berperan serta baik dalam
kegiatan posyandu yaitu jika dalam frekuensi minimal 8 kali pertahun atau lebih, dan
sebaliknya ibu balita dikatakan berperan serta buruk atau kurang baik yaitu jikan
kunjunngannya ke posyandu kurang dari 8 kali pertahun.
Faktor faktor yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu (Sri poedji, 2002).
1. Umur balita
Umur balita merupakan permulaan kehidupan untuk seseorang dan pada masa ini
perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan
intelegensi berjalan sangat cepat. Menurut Sri Poerdji menyatakan bahwa umur hingga 35
bulan merupakan umur yang paling berpengaruh terhadap kunjungan karena pada umur ini
merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan
anak selanjutnya. Khususnya balita diatas usia 36 bulan, karena ibu balita merasa bahwa
anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap dan perkembangan sosial anak semakin
bertambah.
1. Jumlah anak
Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi kehadiran ibu yang mempunyai anak balita
untuk hadir atau berpartisipasi dalam posyandu. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan
oleh Hurlock (2005) bahwa semakin besar keluarga maka semakin besar pula permasalahan
yang akan muncul dirumah terutama untuk mengurus kesehatan anak mereka.
Dalam kaitanya dengan kehadirannya di posyandu seorang ibu akan sulit mengatur waktu
untuk hadir di posyandu karena waktunya akan habis umtuk memberi perhatian dan kasih
sayang dalam mengurus anaknya di rumah.
1. Status pekerjaan ibu
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu- ibu akan
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga dan waktu untuk mengasuh anak akan
berkurang, sehingga ibu balita yang harus bekerja di luar rumah waktunya untuk
berpartisipasi dalam posyandu mungkin sangat kurang bahkan tidak ada sama sekali untuk
ikut berpartisipasi di posyandu.
Sedangkan pada ibu rumah tangga memungkinkan mempunyai waktu lebih banyak untuk
beristirahat dan meluangkan waktu untuk membawa anaknya ke posyandu.
Peran ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja sangat berpengaruh terhadap perawatan
keluarga. Hal ini dapat dilihat dari waktu yang diberikan ibu untuk mengasuh dan membawa
anaknya berkunjung ke posyandu masih kurang karena waktunya akan habis untuk
menyelesaikan semua pekerjaan.
Aspek lain yang berhubungan dengan alokasi waktu adalah jenis pekerjaan, tempat ibu
bekerja serta jumlah waktu yang dipergunakan untuk keluarga di rumah ( Husnaini, 1989).
1. Jarak tempat tinggal

Jarak antara tempat tinggal dengan posyandu sangat mempengaruhi ibu untuk hadir /
berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Hal tersebut sesuai dengan dinyatakan oleh lawrence
Green dalam Notoatmodjo (2003) bahwa faktor lingkungan fisik/ letak geografis berpengaruh
terhadap perilaku seseorang/ masyarakat terhadap kesehatan. Ibu balita tidak datang ke
posyandu disebabkan karena ibu tersebut jauh dengan posyandu sehingga ibu balita trrsebut
tidak datang untuk mengikuti kegiatan dalam posyandu.
Demikian juga yang dikemukakan oleh WHO dalam Notoatmodjo (2003) yang menyatakan
bahwa sikap akan terwujud didalam satu tindakan tergantung dari situasi pada saat itu. Ibu
balita mau datang ke posyandu tetapi karena jaraknya jauh/situasi kurang mendukung maka
balita tidak berkunjung ke posyandu.
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS

A.

Kerangka Konsep

Menurut teori Green dalam Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi


kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu, diantaranya:
1. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing factors)
1. Pengetahuan kader
Kunjungan ibu balita ke
posyandu
Variabel Independen

Variabel Dependen

b. Umur kader
c. Pendidikan kader
d. Pekerjaan kader
e. Pendapatan kader
f. Sikap kader
1. Faktor-Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Pengetahuan
Pendidikan

Pekerjaan
Paritas
Pendapatan
Gambar 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
= variabel yang diteliti
= hubungan variabel yang diteliti
B.

= variabel yang tidak diteliti


= hubungan variabel yang tidak diteliti

Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional

No
1

Variabel
Pengetahuan
kader

Definisi Operasional Alat Ukur


Pemahaman kader
Kuesioner
tentang segala sesuatu
yang berkaitan dengan
posyandu yang dapat
dinilai dari hasil
jawaban yang didapat
pada saat penelitian.

Kunjungan ibu Ibu balita yang


Lembar
balita ke
membawa anak balita cecklist
posyandu
(12 59 bulan) yang
memperoleh
pelayanan pemantauan
pertumbuhan dan
perkembangan ke
posyandu pada saat
dilakukan penelitian
(Juknis SPM, 2008).

C.

Kategori
Skala
1. Baik 76% Ordinal
100%
2. Cukup 56%
75%
3. Kurang 40%
55%
(Arikunto,2006)
1. Baik
Ordinal
>75%
2. Cukup 6075%
3. Kurang
<60%
(Arikunto,2010)

Hipotesis

Ha : Ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke
posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.

Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita
ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.