Anda di halaman 1dari 2

1.

Posisi Tubuh
Posisi lumbar yang berisiko menyebabkan terjadinya nyeri punggung bawah ialah
fleksi ke depan, rotasi, dan mengangkat beban yang berat dengan tangan yang
terbentang. Beban aksial pada jangka pendek ditahan oleh serat kolagen annular di
diskus. Beban aksial yang lebih lama akan memberi tekanan pada fibrosis annular
dan meningkatkan tekanan pada lempeng ujung. Jika annulus dan lempeng ujung
utuh, maka beban dapat ditahan. Akan tetapi , daya kompresi dari otot dan beban
muatan dapat meingkatkan tekanan intradiskus yang melebihi kekuatan annulus,
sehingga menyebabkan robeknya annulus dan gangguan diskus (Hillus et all,
2010).

A. Etiologi
Etiologi low back pain menurut Adelia Rizma (2007) dapat berupa : 1. Proses
degeneratif, seperi spondilosis, HNP, stenosis spinalis, dan osteoartritis. Perubahan
pada vertebrata lumbosakral dapat terjadi pada arkus dan prosesus artikularis serta
ligamen yang menguhubungkan antar ruas tulang belakang. Perubahan degeneratif
juga dapat menyerang anulus fibrosus dari diskus intervertebralis.

B. Patogenesis
Ada beberapa mekanisme yang telah diajukan mengenai proses perkembangan nyeri
punggung dan kelumpuhan yang bisa digunakan untuk menentukan apakah proses
patologis yang terlihat pada gambaran radiologis berhubungan dengan gejala yang
dialami pasien. Nyeri pada bagian manapun memerlukan perlepasan dari agen-agen
inflamasi yang menstimulasi reseptor nyeri dan menyebabkan sensasi nyeri pada
jaringan, tulang belakang merupakan struktur yang unik karena memiliki banyak
jaringan di sekitarnya yang dapat memicu nyeri. Inflamasi pada sendi tulang
belakang, intervertebral diskus, ligamen dan otot, meninges dan akar saraf dapat
menyebabkan nyeri pada punggung bawah. Jaringan-jaringan ini memberikan respon
terhadap nyeri dengan melepaskan beberapa agen kimia seperti bradikinin,
prostalglandin dan leukotrin. Agen-agen kimia ini mengaktifkan ujung saraf dan
menyebabkan impuls yang menjalar ke korda spinalis. Saraf-saraf nosiseptif yang
teraktivasi akan melepaskan neuropeptida, dimana yang paling banyak adalah
substansi P. Neuropeptida ini bekerja pada pembuluh darah, menyebabkan

ekstravasasi, dan menstimulasi sel mast untuk melepas histamin dan melebarkan
pembuluh darah. Sel mast juga melepaskan leukotrin dan agen-agen inflamasi lainnya
yang menarik leukosit dan monosit. Proses tersebut menghasilkan gejala- gejala
inflamasi seperti pembengkakan jaringan, kongesti vaskular, dan stimulasi ujungujung saraf bebas. Impuls nyeri tersebut dihasilkan oleh jaringan tulang belakang
yang mengalami inflamasi. Korda spinalis dan otak memiliki mekanisme khusus
dalam memodifikasi nyeri yang berasal dari daerah jaringan spinal. Di korda spinalis,
impuls nyeri terkonversi pada neuron yang juga menjadi reseptor sensoris. Hal ini
menyebabkan perubahan derajat sensasi nyeri yang ditransmisikan ke otak melalui
proses yang disebut gate control system. Impuls nyeri selanjutnya akan masuk ke
proses yang kompleks dan berlangsung pada berbagai tingakatan sistem saraf pusat.
Otak akan mengeluarkan substansi kimiawi yang merespon nyeri yang disebut
endorfin. Endorfin merupakan analgesik alami yang dapat menghambat respon
terhadap nyeri melalui serotonorgic pathway (Haldeman,2002).

C. Gejala
Herniasi diskus disertai nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun: servikal
(leher), torakal (jarang), atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi,
kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada sturktur sekitarnya.
Selain itu, gejala dari hernia nucleus pulposus adalah kejang otot, kelemahan pada
otot atau bagian atrophy, nyeri yang menyebar ke daerah pantat, betis dan kaki, nyeri
diperparah jika batuk; tertawa, terjadi nyeri pada tulang belakang, kekakuan pada kaki
dan betis dan juga pada saat duduk dalam jangka waktu yang lama. Nyeri akan
berkurang bila istirahat berbaring. Penderita seringkali mengeluh kesemutan
(paresthesia) atau baal atau bahkan kekuatan otot menurun sesuai dengan distribusi
persarafan yang terlibat.

Anda mungkin juga menyukai