Anda di halaman 1dari 42

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan
derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.

Pembangunan

kesehatan

diselenggarakan

dengan

berdasarkan

pada

perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta


pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan,
antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia) dan keluarga miskin.
Sebagai generasi penerus bangsa, anak perlu mendapatkan perhatian dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini dilakukan guna menciptakan
generasi anak yang sehat baik secara fisik maupun mental sejak dini. Keadaan
sakit pada anak akan mempengaruhi keadaan fisiologis dan psikologis dari
anak tersebut. Adapun penyakit yang paling sering terjadi pada anak adalah
penyakit infeksi, terutama di negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia. Diantara penyakit infeksi yang perlu mendapat perhatian
adalah penyakit meningitis, karena penyakit ini sangat mempengaruhi
pertumbuhan anak. Selain itu penyakit meningitis merupakan salah satu
penyebab kematian anak di banyak negara di dunia.
Meningitis bakteri pada anak-anak masih sering dijumpai, meskipun sudah
ada

kemoterapeutik,

yang

secara

in-vitro

mampu

membunuh

mikroorganisme-mikroorganisme penyebab infeksi tersebut. Ini akibat infeksi


dengan Haemophilus influenzae maupun pneumococcus, karena anak-anak
biasanya tidak kebal terhadap bakteri. Selain angka kematian yang cukup
tinggi, banyak menderita meningitis yang menjadi cacat akibat keterlambatan
dalam diagnosis dan pengobatan. Meningitis bakteri selalu menjadi ancaman
besar bagi kesehatan dunia. Data WHO (2009) memperkirakan jumlah kasus
meningitis dan kasus kecacatan neurologis lainnya sekitar 500.000 dengan
Case Fatality Rate (CFR) 10% di seluruh dunia. WHO (2005) melaporkan
pada tahun 1996, Afrika mengalami wabah meningitis yang tercatat sebagai

epidemik terbesar dalam sejarah dengan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000
kematian (CFR=10%) yang terdaftar. Di Negara Amerika Serikat (2009)
terdapat sekitar 3000 kasus penyakit meningokokkus dan sekitar 7.700 kasus
di Eropa bagian Barat setiap tahunnya. Insidens Rate di Amerika berkisar 0,51,5 kasus per 100.000 penduduk pertahun. Diantaranya dipengaruhi oleh
faktor-faktor resiko seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), infeksi
HIV, kepadatan penduduk, dan status sosial ekonomi yang rendah.
Beban terbesar penyakit meningokokus terjadi di daerah sub-Sahara
Afrika yang dikenal sebagai sabuk meningitis, yang membentang dari
Senegal bagian barat ke Ethiopia bagian Timur. Selama musim kemarau
antara bulan Desember hingga Juni, akibat angin debu dan ISPA, kekebalan
lokal faring menjadi berkurang sehingga meningkatkan resiko untuk terkena
meningitis. Pada saat yang sama, N. meningitidis lebih sering berjangkit di
pemukiman yang padat. Ini juga dipengaruhi oleh kekebalan kelompok yang
telah divaksinasi berjumlah sangat sedikit. Tahun 2009, Afrika melaporkan
78.416 kasus meningitis dan 4.053 kematian (CFR=5,2%). Pada negaranegara berkembang seperti Gambia (2009), diperkirakan 2% dari semua anak
meninggal disebabkan meningitis sebelum mereka mencapai usia 5 tahun.

1.2. Tujuan
1. Menjelaskan definisi dari penyakit meningitis
2. Menjelaskan patofisiologi dari penyakit meningitis
3. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit meningitis

1.3. Rumusan Masalah


1. Mengapa penyakit TBC dapat menyebabkan penyakit meningitis?
2. Mengapa meningitis dapat menimbulkan ruam pada kulit?
3. Mengapa pada penyakit meningitis, dilakukan pemeriksaan pungsi
lumbal?
4. Mengapa meningitis dapat menyebabkan kematian?
5. Mengapa meningitis lebih banyak terjadi pada keluarga dengan latar
belakang ekonomi menenngah ke bawah?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Anatomi Dan Fisiologi Lapisan Pelindung Otak


Jaringan otak dan medulla spinalis dilindungi oleh tulang tengkorak dan
tulang belakang, serta 3 lapisan jaringan penyambung atau meningen, yaitu
piamater. Lapisan pelindung otak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan 3
lapisan jaringan ikat yang disebut meninges. Lapisan meningeal terdiri dari
piamater, lapisan arachnoid, dan duramater (Marry, 2005).
1. Pia mater adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis serta melekat erat
pada otak. Pia mater merupakan lapisan vaskular, tempat pembuluhpembuluh darah menuju struktur dalam SSP dan mengandung banyak
pembuluh darah untuk mensuplai jaringan saraf. Pia mater langsung
berhubungan dengan otak dan jaringan spinal dan mengikuti kontur
struktur eksternal otak dan jaringan spinal. pia mater meluas kebagian
bawah medulla spinalis. Berakhir kira-kira setinggi bagian bawah L1.
2. Lapisan arakhnoid (tengah) terletak di bagian eksternal pia mater dan
mengandung sedikit pembuluh darah. Arakhnoid merupakan suatu
menbran fibrosa yang tipis,halus, dan avaskular.
a. Daerah antara arakhnoid dan piameter disebut ruang sub arakhnoid
dimana terdapat arteri, vena cerebri dan trabekula arakhnoid, dan
cairan serebrospinal yang membasahi SSP. Ruang sub arakhnoid ini
mempunyai pelebaran-pelebaran yang disebut sisterna. Salah satu
pelebaran yang terbesar adalah sisterna lumbalis di daerah lumbal
kolumna vertebralis. Bagian bawah lumbal (biasanya antara L3-L4 atau
L4-L5)

merupakan

tempat

yang

biasanya

digunakan

untuk

mendapatkan cairan serebrospinal untuk pemeriksaan lumbal fungsi.


b. Berkas kecil jaringan arakhnoid. Vili arakhnoid menonjol ke dalam
sinus vena (dural) dura meter.

3. Dura meter lapisan terluar, adalah suatu jaringan liat, tidak elastis, mirip
kulit sapi, tebal dan terdiri dari dua lapisan yang terus bersambungan, tapi
terputus pada beberapa sisi spesifik. Lapisan tersebut terdiri dari :
a. dura endosteal dan bagian dalam yang disebut Lapisan endosteal
membentuk bagian dalam periosteum tengkorak dan berlanjut sebagai
periosteum yang membatasi kanalis vertebralis medulla spinalis.
b. dura meningeal. Pada dura meter tertnam sampai ke dalam fisura otak
dan terlipat kembali ke arahnya untuk membentuk bagian-bagian
berikut:
1) Falks serebrum terletak dalam fisura longitudinal antar hemisfer
serebral. Bagian ini melekat pada krista galli tulang etmoid
2) Falks serebelum membentuk bagian pertengahan antar hemisfer
sereberal.4.
3) Tentorium serebelum memisahkan serebrum dari serebelum
4) Sela diafragma memanjang di atas sela tursika, tulang yang
membungkus kelenjar hipofisis
c. Pada beberapa regia, kedua lapisan ini dipisahkan oleh pembuluh
darah besar, sinus vena yang mengalirkan darah keluar dari otak.
d. Ruang subdural memisahkan dura mater dari arakhnoid pada regia
kranial dan medulla spinalis
e. Ruang epidural adalah ruang potensial antara endosteal dan lapisan
meningeal pada dura mater di regia medulla spinalis
Gambar 1. Lapisan meningens (selaput pembungkus otak)

4. Cairan Serebrospinal, mengelilingi ruang subarakhnoid di sekitar otak dan


medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi ventrikel dalam otak. Dalam setiap
ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang dinamakan pleksus koroideus.
Pleksus koroideus inilah yang menyekresi CSS yang jernih dan tak berwarna,
yang merupakan bantal cairan pelindung di sekitar SSP. CSS terdiri atas air,
elektrolit, gas oksigen dan karbon dioksida yang terlarut, glukosa, beberapa
leukosit (terutama limfosit), dan sedikit protein (Price, 1995).
Cairan ini berbeda dari cairan ekstraseluler lainnya karena cairan ini
mengandung kadar natrium dan klorida yang lebih tinggi, sedangkan kadar
glukosa dan kalium yang lebih rendah. Ini menunjukan pembentukannya lebih
bersifat sekresi bukan hanya filtrasi.
Setelah mencapai ruang subarakhnoid, maka CSS akan bersirkulasi di sekitar
otak dan medulla spinalis, lalu keluar menuju sistem vaskular (SSP tidak
mengandung sistem getah bening)
Sebagian besar CSS direabsorpsi ke dalam darah melalui struktur khusus yang
disebut villi arakhnoidalis atau granulasio arakhnoidalis, yang menonjol dari
ruang subarkhnoid ke sinus sagitalis superior otak. CSS diproduksi dan
direabsorpsi terus-menerus dalam SSP.
Fungsi CSS adalah :
-

Sebagai alas atau bantalan untuk jaringan lunak otak dan medulla spinalis.

Sebagai penyangga dari otak. Secara anatomis otak berada dalam rongga
kranium dan mengapung di dalam cairan serebrospinal.

Transportasi nutrisi, pesan kimia, dan produk sisa.

a. komposisi. Cairan serebrospinal menyerupai plasma darah dan cairan


interstitial, tetapi tidak mengandung protein.
b. produksi. Cairan serebrospinal dihasilkan oleh
-

pleksus koroid, yaitu jaring-jaring kapilar berbentuk bunga kol yang


menonjol dari pia meter ke dalam dua ventrikel otak

sekresi oleh sel-sel ependimal, yang mengitari pembuluh darah serebral


dan melapisi kanal sentral medulla spinalis.

c. sirkulasi cairan serebrospinal adalah sebagai berikut

- cairan bergerak dari ventrikel lateral melalui foramen interventrikular


(Munro) menuju ventrikel ketiga otak, tempat cairan semakin banyak
karena ditambahkan oleh pleksus koroid ventrikel ketiga.
- dari ventrikel ketiga, cairan mengalir melalui akuaduktus serebral
(syivius/0 menuju ventrikel ke empat, tempat cairan ditambahkan
kembali dari pleksus koroid.
- cairan mengalir melalui tiga lubang pada langit-langit ventrikel ke empat
kemudian bersirkulasi melalui ruang subaraknoid disekitar otak dan
medulla spinalis.
- cairan kemudian direabsorpsi di vili araknoid (granulasi) ke dalam sinus
vena pada dura meter dan kembali ke aliran darah tempat asal produksi
cairan tersebut
- reabsorpsi cairan serebrospinal berlangsung secepat produksinya dan
hanya menyisakan sekitar 125ml pada sirkulasi. Reabsorpsi normal
berada di bawah tekanan ringan (10 mmHG sampai 20 mmHg). Tetapi
jika ada hambatan saat seabsorpsi berlangsung maka cairan akan
bertambah dan tekanan intrakranial akan semakin besar.
d. fungsi cairaran serebrospinal sebagai bantalan untuk jaringan lunak otak dan
medulla spinalis, juga berperan sebagai media pertukaran nutrien dan zat
buangan antara darah dan otak serta medulla spinalis.
e. secara klinis, cairan serebrospinalis dapat diambil untuk pemeriksaan
melalui prosedur pungsi lumbal (spinal tap), yaitu jarum berongga diinsersi
ke dalam ruang sub-araknoid di antara lengkung saraf vertebra lumbal
ketiga dan keempat (Arif Muttaqin, 2011).

2.2. Definisi
Meningitis adalah suatu reaksi peradangan yang mengenai satu atau semua
membran/selaput (meningen) yang membungkus jaringan otak dan sumsum
tulang belakang (medulla spinalis), menimbulkan perubahan pada cairan otak
(eksudasi) berupa pus atau serosa (Mutaqqin, 2011). Yang biasanya disebabkan
oleh bakteri, virus, dan organisme jamur. Kebanyakan kasus terjadi antara usia

1 bulan sampai 5 tahun. Bayi dibawah usia 12 bulan paling rentan terhadap
meningitis bakteri (Marry, 2005).

2.3. Pafofisiologi (Terlampir)

2.4. Etiologi
Penyebab meningitis dapat disebabkan oleh :
1. Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah:
a. Streptococcus pneumoniae (50%)
Sering terjadi pada orang dewasa berusia di atas 20 tahun dan timbul
karena sebelumnya pasien menderita penyakit sinusitis, otitis media
(permasalahan THT).Berhubungan dengan alkoholisme, penyakit
diabetes, hypogammaglobulinemia, dan juga trauma kepala.
b. Neisseria meningitidis (25%)
Kejadian pada anak-anak dan pada dewasa muda berusia 2-20thn
sekitar 60%, paling sering merupakan penyebaran dari infeksi
nasofaring dan juga berhubungan dengan pasien yang menderita
diabetes, sirosis, dan Infeksi Saluran Kemih.
c. Streptococcus group B (15%)
Sering pada neonatus dan frekuensi kejadian meningkat pada individu
berusia lebih dari 50 tahun serta pasien yang memiliki penyakit infeksi
streptokokal.
d. Listeria monocytogenes (10%)
Sering pada neonatus berusia kurang dari 1 bulan dan kejadiannya
sering terjadi akibat pasien meminum susu yang terkontaminasi
Listeria.
e. Haemophilus influenza type B (<10%)
Terjadi pada anak-anak yang tidak menjalani vaksinasi HiB.
f. Staphylococcus aureus
Sering merupakan akibat dari prosedur bedah saraf (neuro-surgery
procedure). Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing
dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil,
monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan

lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam


cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis
menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan
peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan
mengalami infark (Fransisca, 2008).
2. Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Sekitar 90%
kasus disebabkan oleh enterovirus (coxakievirus, echovirus, poliovirus), dapat
juga disebabkan oleh mumps dan herpervirus.Hampir 30% kasus meningitis
viral terjadi pada individu yang tidak mendapatkan vaksinasi secara
sempurna/lengkap. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang
disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster.
Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada
meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak.
Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme
atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis
sel yang terlibat.
3. Meningitis Jamur
Infeksi meningitis jamur disebabkan oleh antara lain Candida albicans,
Histoplasma, dan Cryptococcus neoformans (Muttaqin, 2011).

2.5. Manifestasi Klinis


1. Gejala peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala , penurunan
kesadaran, dan muntah. Papiledema (pembengkakan pada area disekitar
saraf optikus)
2. Demam akibat infeksi
3. Fotofobia (respon terhadap nyeri cahaya) akibat iritasi saraf kranial
4. Ketidakmampuan menekukan dagu ke dada tanpa nyeri (kaku kuduk)
terjadi akibat iritasi saraf spinal

10

5. Ensefalitis memperlihatkan tanda dramatis delirium dan penurunan


kesadaran yang progresif (stupor-semi koma). Kejang dan gerakan
abnormal dapat terjadi.
6. Lemah dan penurunan kekuaran otot.
7. Nyeri punggung
8. Frekuensi nadi dan pernapasan meningkat, tetapi TD normal
9. Petekia dan lesi purapura yang didahului ruam. Pada peyakit yang berat
ditemukan ekimosis yang besar pada wajah dan ekstremitas.
10. Gejala iritasi meningeal seperti kaku pada leher (kaku kuduk), akibat
adanya spasme otot-otot leher. Fleksi paksaan menyebabkan nyeri hebat.
11. Tanda Brundzinski positif, jika leher klien difleksikan, terjadi fleksi lutut
dan pinggul. Jika dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah
satu sisi, gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan
12. tanda Kernig positif, ketika klien dibaringkan dengan paha dalam keadaan
fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan dengan sempurna
13. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat
eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan
karakteristik vital (melebarnya tekanan puls dan bradikardi), pernafasan
tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
14. Ubun-ubun (bagian lembut di bagian atas kepala bayi) dapat menonjol pada
bayi berusia hingga 6 bulan (Corwin, 2009).

2.6. Klasifikasi
1. Meningitis Aseptik
Mengacu pada meningitis virus atau iritasi meningeal, misalnya
ensefalberitis (Brunner, 2004). Virus yang menyebabkan coxsackie, virus
echo atau gondong, herpes simpleks, dan herpes zooster. Meningitis virus
dapat sembuh sendiri dan berlangsung antara 7-10 hari (Muscary, 2004).
Pada pemeriksaan kultur cairan otak (eksudat) biasanya tidak ditemukan
organisme dan sering menghasilkan eksudasi berupa serosa (jernih).

11

2. Meningitis Septik
Mengacu pada meningitis yang disebabkan oleh bakteri misalnya basilus
influenza. Meningitis bakterial merupakan bentuk yang paling signifikan.
Bakteria yang paling umum menyerang adalah Neisseria meningitis
(meningitis

menikokal),

streprococcus

pneumoniae,

haemophilus

influenzae. Cara penularannya adalah kontak langsung, termasuk droplet


dan rabas dari hidung dan tenggorok karier atau individu terinfeksi.
Meningitis yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan
meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak
yang disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat dan sering
menghasilkan eksudasi berupa pus (purulent).
Meningitis bakterial mulai sebagai suatu infeksi orofaring dan diikuti
dengan septikemia, yang meluas ke meningen otak dan region bagian atas
medula spinalis (Brunner&Suddarth, 2004).

3. Meningitis tuberkulosis
Meningitis yang disebabkan oleh basilus tuberkel (Mutaqqin, 2011).
2.7. Stadium
1. Stadium prodormal

: demam ringan/normal, anoreksia, apatis, muntah,


nyeri kepala

2. Stadium transisi

: kaku, refleks tendon tinggi, ubun-ubun menonjol,


mata strabismus dan nistagimus, kesadaran
menurun hingga stupor, refleks tendon menjadi
lebih tinggi

3. Stadium terminal

: kelumpuhan, koma, pupil melebar dan tidak


bereaksi sama sekali, nadi dan pernapasan cheyne
stokes, hiperpireksi.

12

2.8. Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan darah lengkap
a. Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, LED, kadar
glukosa, kadar ureum, dan elektrolit.
b. Pada meningitis
Disamping

itu,

serosa didapatkan peningkatan leukosit


pada

meningitis

tuberkulosa

didapatkan

saja.
juga

peningkatan LED.
c. Pada meningitis purulenta didapatlan peningkatan leukosit
d. Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi
adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi
e. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar cairan otak normalnya
2/3 dari nilai serum glukosa. Pada pasien meningitis kadar glukosa
cairan otaknya menurun. Normalnya protein mendekati 4.5 gr/l, dan
kurang dari 5 sel darah putih. Pada meningitis jumlah sel darah putih
meningkat diatas 1000/ml dan proteinnya meningkat.
2. Kultur darah, mengindikasikan adanya organisme
3. Lumbal pungsi, pengeluaran cairan serebrospinal dengan cara memasukan
jarum ke ruang subarakhnoid. Untuk menghitung peningkatan sel dan
mengindikasikan adanya organisme. Lumbal pungsi juga digunakan untuk
memeriksa jumlah sel,protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa
darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Lumbal pungsi tidak
dapat dilakukan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial.

Gambar 2. Pemeriksaan Lumbal Pungsi

13

a. Tujuan
1) pemeriksaan cairan serebrospinal untuk memeriksa jumlah
sel, protein, dan konssentrasi glukosa
2) mengukur & mengurangi tekanan cairan serebrospinal
3) menentukan ada tidaknya darah pada cairan serebrospinal
4) mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal
5) memberikan antibiotik intrathekal ke dalam kanalis spinal
terutama kasus infeksi.
b. Indikasi
1) Kejang
2) Paresis atau paralisis termasuk paresis Nervus VI
3) Pasien koma
4) Ubun ubun besar menonjol
5) Kaku kuduk dengan kesadaran menurun
6) Tuberkolosis milier

c. Kontraindikasi
1) Syok/renjatan
2) Infeksi lokal di sekitar daerah tempat pungsi lumbal
3) Peningkatan

tekanan

intrakranial

(oleh

tumor,

occupying lesion,hedrosefalus)
4) Gangguan pembekuan darah yang belum diobati

d. Komplikasi
1) Sakit kepala
2) Infeksi
3) Iritasi zat kimia terhadap selaput otak
4) Jarum pungsi patah
5) Herniasi

14

space

6) Tertusuknya saraf oleh jarum pungsi

e. Alat dan Bahan


1) Sarung tangan steril
2) Duk lubang
3) Kassa steril, kapas dan plester
4) Jarum pungsi lumbal no. 20 dan 22 beserta stylet
5) Antiseptic: povidon iodine dan alcohol 70%
6) Tabung reskasi untuk menampung cairan serebrospinal

f. Anestesi local
1) Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi local
2) Obat anestesi lokal (lidokain 1% 2 x ml), tanpa epinefrin
3) Tempat sampah.

g. Persiapan Pasien
Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan
lutut ditarik ke abdomen. Catatan: bila pasiennya obesitas, bisa
mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan
dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.

h. Prosedur Pelaksanaan
1)

Lakukan cuci tangan steril

2)

Persiapkan dan kumpulkan alat-alat

3)

Jamin privacy pasien

4) Bantu pasien dalam posisi yang tepat, yaitu pasien dalam


posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi
maksimal (dahi ditarik kearah lutut), eksterimitas bawah
fleksi maksimum (lutut di atarik kearah dahi), dan sumbu
kraniospinal (kolumna vertebralis) sejajar dengan tempat
tidur.

15

5) Tentukan daerah pungsi lumbal diantara vertebra L4 dan L5


yaitu dengan menemukan garis potong sumbu kraniospinal
(kolumna vertebralis) dan garis antara kedua spina
iskhiadika anterior superior (SIAS) kiri dan kanan. Pungsi
dapat pula dilakukan antara L4 dan L5 atau antara L2 dan
L3 namun tidak boleh pada bayi
6) Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah
pungsi radius 10 cm dengan larutan povidon iodine diikuti
dengan larutan alcohol 70 % dan tutup dengan duk steril di
mana

daerah

pungsi

lumbal

dibiarkan

terbuka

Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari


tangan yang telah memakai sarung tangan steril selama 1530 detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama 1
menit.
7) Anestesi lokal disuntikan ke tempat tempat penusukan dan
tusukkan jarum spinal pada tempat yang telah di tentukan.
Masukkan jarum perlahan lahan menyusur tulang vertebra
sebelah proksimal dengan mulut jarum terbuka ke atas
sampai menembus durameter. Jarak antara kulit dan ruang
subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan
keadaan gizi. Umumnya 1,5 2,5 cm pada bayi dan
meningkat menjadi 5 cm pada umur 3-5 tahun. Pada remaja
jaraknya 6-8 cm.
8) Lepaskan stylet perlahan lahan dan cairan keluar. Untuk
mendapatkan aliran cairan yang lebih baik, jarum diputar
hingga mulut jarum mengarah ke cranial. Ambil cairan
untuk pemeriksaan.
9)

Cabut jarum dan tutup lubang tusukkan dengan plester

10) Rapihkan alat-alat dan membuang sampah sesuai prosedur


rumah sakit
11) Cuci tangan

16

i. Temuan
Pada meningitis serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan
jernih, seldarah putih meningkat, glukosa dan protein normal,
kultur (-).
Pada meningitis purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan
keruh, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa
menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri.
4. Pemeriksaan Radiologi
a. CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau
penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada
penyakit yang sudah sangat parah.
b.

MRI digunakan untuk mengevaluasi derajat pembengkakan dan tempat


nekrosis

c.

Counter Immuno Electrophoresis (CIE) digunakan secara luas untuk


mendeteksi antigen bakteri pada cairan tubuh, umunya cairan
serebrospinal dan urine

d. pada meningitis serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT-Scan
e. pada meningitis purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid,
sinuspranasal, gigi geligi) dan foto dada.

5. Pemeriksaan Rangsangan Meningeal


a.

Pemeriksaan Kaku Kuduk


Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa
fleksi dan rotasi kepala.Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan
kekakuan dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa

17

nyeri dan spasme otot.Dagu tidak dapat disentuhkan ke dada dan juga
didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi kepala.
b.

Pemeriksaan Tanda Kernig


Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada
sendi panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut
sejauh mengkin tanpa rasa nyeri.Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi
sendi lutut tidak mencapai sudut 135 (kaki tidak dapat di ekstensikan
sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri.

Gambar 3. Pelaksanaan Pungsi Lumbal


c.

Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)


Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya
dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian
dilakukan

fleksi

kepala

dengan

cepat

kearah

dada

sejauh

mungkin.Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi


fleksi involunter pada leher.

18

Gambar 4. Brudzinski Leher

d. Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral


Tungkai)
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi
panggul (seperti pada pemeriksaan Kernig).Tanda Brudzinski II
positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi
panggul dan lutut kontralateral

2.9. Penatalaksanaan
1. Farmakologis
a. Obat anti inflamasi :
1) Meningitis tuberkulosa :
a) Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500 gr
selama 1 tahun.
b) Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1 tahun.

19

c) Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 2


kali
sehari, selama 3 bulan.
2) Meningitis bacterial, umur < 2 bulan :
a) Sefalosporin generasi ke 3
b) ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari.
c) Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.
3) Meningitis bacterial, umur > 2 bulan :
a) Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.
b) Sefalosforin generasi ke 3.

b. Pengobatan simtomatis :
1) Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis
kemudian klien dilanjutkan dengan.
2) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3) Turunkan panas :
a) Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.
b) Kompres air PAM atau es.
c. Pengobatan suportif :
1) Cairan intravena.
2) Zat asam, usahakan agar konsitrasi O berkisar antara 30 50%.

2. Perawatan
a. Pada waktu kejang
1) Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
2) Hisap lender
3) Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
4) Hindarkan penderita dari kemungkinan cedera (misalnya jatuh).
b. Bila penderita tidak sadar lama.
1) Beri makanan melalui sonda.

20

2) Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi


penderita sesering mungkin.
3) Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotika.
c. Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.
Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.
d. Pemantauan ketat.
1) Tekanan darah
2) Respirasi
3) Nadi
4) Produksi air kemih
5) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC

2.10. Komplikasi
1. Ventrikulitis atau abses intraserebral, dapat menyebabkan obstruksi pada
CSS dan mengalir ke foramen antara ventrikel dan cairan serebral
sehingga menyebabkan hidrosefalus. Eksudasi purulen yang menyebabkan
penurunan CSS didalam granulasi arakhnoid juga dapat mengakibatkan
hidrosefalus.
2. Trombosis septik dari vena sinus dapat terjadi, mengakibatkan penurunan
peningkatan TIK yang dihubungkan dengan hidrosefalus
3. Kelumpuhan saraf kranial merupakan komplikasi umum pada meningitis
bakterial
4. Stroke dapat mengakibatkan gangguan atau kerusakan hemisfer pada
batang otak
5. Subdural empiema akibat infeksi
6. Tuli akibat kerusakan saraf kranial VIII
7. Pada anak-anak akibat meningitis khususnya dengan infeksi H.influenza
menyebabkan retardasi mental akibat kerusakan serebral
8. Hidrosefalus obstrukti, bila infeksi meluas ke ventrikel, pus yang banyak
(kental), adanya penekanan pada bagian yang sempit menyebabkan
obstruksi CSS dan terjadilah hidrosefalus (Mutaqqin, 2011).

21

2.11. Pencegahan
Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau
bakteri penyebab meningitis. Ajarilah anak-anak dan orang-orang sekitar
untuk selalu cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar
mandi. Usahakan pula untuk tidak berbagi makanan, minuman atau alat
makan, untuk membantu mencegah penyebaran virus. Selain itu lengkapi
juga imunisasi si kecil, termasuk vaksin-vaksin seperti HiB, MMR, dan IPD.
( Japardi, Iskandar., 2002 ). Pada orang dewasa, vaksin mengingokokus yang
telah diijinkan di Amerika Serikat dapat diggunakan sebagai pencegahan.
Vaksin ini mencakup polisakarida grup A,C, W135 dan Y.

2.12. Prognosis
Marry (2005) mengatakan bahwa Penderita meningitis dapat sembuh, baik
sembuh dengan cacat motorik atau mental atau meninggal tergantung :
1. umur penderita.
2. Jenis kuman penyebab
3. Berat ringan infeksi
4. Lama sakit sebelum mendapat pengobatan
5. Kepekaan kuman terhadap antibiotic yang diberikan
6. Adanya dan penanganan penyakit.
7. Meskipun telah diberikan pengobatan, sebanyak 30% bayi meninggal
8. respon klien terhadap penyakit

Jika terjadi abses, angka kematian mendekati 75%. 20-50% bayi yang
bertahan hidup, mengalami kerusakan otak dan saraf (misalnya hidrosefalus,
tuli dan keterbelakangan mental).
Prognosis meningitis baik dan komplikasi jarang teradi jika penyakit
diketahui sejak dini dan organisme penginfeksi merespon antibiotic.
Mortalitas pada pasien tidak tertangani adalah 70% - 100%.Prognosis kebih

22

buruk pada bayi, lansia, dan orang yang mengalami masalah imun.
(Lippincot Williams & Wilkins, 2008)
Adapun prognosis berdasarkan penyebab :
1. Bacterial Meningitis : Prognosisnya buruk karena selalu berakibat fatal,
dapat menyebabkan kerusakan otak, kehilangan pendengaran, penurunan
kemampuan belajar, dan bahkan menyebabkan kematian. Risiko
kematian/ mortality pada bacterial meningitis ini dapat ditekan dengan
penatalaksaan yang tepat dan pemberian antibacterial (seperti vaksin
meningococcal A conjugate), tetapi risiko mortality nya juga ditentukan
oleh usia dari pasien, yaitu :
a. Pasien yang baru lahir : risiko mortality 20%- 30%.
b. Pasien anak yang lebih besar : risiko mortality nya lebih rendah, yaitu
Sekitar 2%
c. Pasien dewasa/ adult : risiko mortality 19%- 37%. Pada adult :
66% kasus merupakan tanpa disabilitas.
Terdapat 14% kasus yang berkomplikasi deafness.
Terdapat cognitive impairment pada 10% kasus.
2. Viral meningitis : Prognosisnya baik karena tipe ini tidak berbahaya dan
akan pulih tanpa obat dan perawatan yang spesifik.
3. Jamur meningitis : jarang terjadi, biasanya pada yang mengalami
penurunan immune, dan progosisnya buruk

2.13. Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian
Nama

Umur

Jenis kelamin

TTL

Pekerjaan

23

Keluhan utama

: Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien


atau orang tua membawa anaknya untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah demam (hipertermi),
kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.

Riwayat kesehatan sekarang

P (Provoking Incident) : Aktivitas yang dapat memperberat keluhan


utama dan aktivitas yang dapat mengurangi
keluhan utama
Q

: seberapa parah keluhan dan seberapa sering


terjadinya keluhan

: Lokasi tempat keluhan utama itu berada

: Apakah keluhan utamanya mengganggu KDM? Bila


iya, KDM apa?

: Berapa lama keluhan itu berlangsung? Sejak kapan


keluhan utama itu dirasakan?

Riwayat kesehatan dahulu : adanya ISPA, otitis media, mastoiditis,


Anemia sel sabit, TB paru, tindakan bedah
Saraf, trauma kepala, riwayat pemakaian
Obat (kortikosteroid, antibiotik)

Riwayat kesehatan keluarga : -

Pemeriksaan fisik
Inspeksi

: pasien tampak lemas dan berkeringat

Palpasi

:-

Perkusi

:-

Auskultasi

: bunyi napas ronkhi

HR

: 70x/menit

RR

: 35x/menit

TD

: 160/90 mmHg

24

GCS

:<8

Suhu

: 390C

Pengkajian fungsi serebral :


Pengkajian saraf kranial

: pada saraf III, IV dan VI terjadi perubahan


dari fungsi dan reaksi pupil. Klien
fotofobia.

Pengkajian sistem motorik : kekuatan otot menurun, kontrol


keseimbangan dan koordinasi pada tahap
meningitis tahap lanjut mengalami
perubahan.

b. Analisa Data

No. Data
1.

Masalah

Etiologi

DS : klien mengeluh
sakit kepala

keperawatan

Bakteri masuk ke

Penurunan

dalam meningen

perfusi serebral

DO : TD meningkat, HR
menurun,

Inflamasi

RR

meningkat,

Kemotaksis (SDP

peningkatan TIK >

melawan infeksi)

10

mmHg,

peningkatan

suhu Menghasilkan eksudat

tubuh, AL
abnormal, terdapat

Menghambat aliran

tanda-tanda iritasi

CSS

meningen : kaku

kuduk, tanda

Meningkatnya cairan

Brudzinski dan

di otak

Kernig positif,

25

Perubahan status

Peningkatan TIK

Mental, fotofobia,

Suplai darah ke otak

Sakit kepala,

CT Scan dan MRI


abnormal

Penurunan perfusi
serebral

1.

DS : orang tua kllien

Bakteri masuk ke

Hipertermia yang

mengatakan

dalam meningen

berhubungan

adanya demam
tinggi

dengan

Menginfeksi

infeksi

meningen
DO : peningkatan suhu

tubuh, AL

Memicu resspon

abnormal, terdapat

inflamasi

tanda-tanda iritsi

meningen : kaku

Pelepasan pirogen

kuduk, tanda

endogen

Brudzinski dan

Kernig positif

Dikeluarkan IL-1, IL6, Interferon,


Prostaglandin

set poin di
hipotalamus

26

proses


Demam (38-40C)

3.

DS : klien mengatakan

Bakteri masuk ke

Nyeri

Sakit kepala

dalam meningen

berhubungan

DO : ekspresi wajah

Inflamasi

meringis,

dengan
meningen
peningkatan

perubahan tanda

Kemotaksis (SDP

tekanan

vital, berkeringat

melawan infeksi)

intrakranial

Menghasilkan eksudat

Menghambat aliran
CSS

Meningkatnya cairan
di otak

Peningkatan TIK

Sakit kepala

27

iritasi
dan

Nyeri

4.

DS : orang tua klien

Bakteri masuk

mengatakan klien

menginfeksi

sulit minum

meningen

DO : mata cekung,

Inflamasi

turgor kulit

berkurang,

Mediator kimia

peningkatan
tubuh,

suhu

Permeabilitas

mukosa

lendir mulut kering,

kapiler di vaskuler

urine berkurang.

otak

Edema otak

Menekan medula
oblongata

Merangsang
triggerzone

Mual dan muntah

intake cairan

28

Risiko
kekurangan
volume

cairan

berhubungan
dengan

demam

dan intake cairan


yang kurang

Resiko kekurangan
volume cairan

5.

Bakteri masuk
menginfeksi
meningen

Inflamasi

Mediator kimia

Permeabilitas
kapiler di vaskuler
otak

Edema otak

Menekan medula
oblongata

Merangsang
triggerzone

29

Risiko

tinggi

pemenuhan
nutrisi

kurang

dari kebutuhan


Mual dan muntah

Anoreksia

intake nutrisi

Resiko pemenuhan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

DS :
-

Bakteri masuk ke

Risiko

tinggi

meninges

koping

individu

DO:
-

tidak
Ketidakmampuan

Infeksi terus

berhubungan

untuk

berkembang

dengan prognosis

memenuhi

penyakit

kebutuhan dasar
-

efektif

Merusak sawar darah

Ketidakmampuan
untuk

otak

memenuhi

harapan peran
-

Klien

Meningitis

mengalami

gangguan tidur
-

Klien

tidak

Koping individu tidak

bisa

efektif

berkonsentrasi

c. Diagnosa Keperawatan
1) Penurunan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial
2) Hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi
3) Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial ditandai
dengan sakit kepala.

30

4) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam dan


intake cairan yang kurang
5) Risiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan asupan nutrisi tidak adekuat, mual, dan muntah
6) Risiko tinggi koping individu tidak efektif berhubungan dengan
prognosis penyakit

d. Intervensi

Diagnosa

: Penurunan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan


Peningkatan tekanan intrakranial

No.
1.

Tujuan dan kriteria


hasi
Tujuan :
Perfusi

jaringan

serebral adekuat

Intervensi

Rasional

Kolaborasi:

Berikan terapi sesuai


petunjuk
seperti:

Kriteria Hasil :
-

Kesadaran

Terapi

yang

diberikan

dapat

menurunkan

dokter

permeabilitas

Steroid,

Aminofel,

kapiler;

Antibiotika.

menurunkan

Compos

Adanya

mestis

serebri; menurunka

TTV normal

metabolik

Konsentrasi

konsumsi

baik

kejang.

Perfusi

Monitor AGD bila

edema

sel

/
dan

kemungkinan

jaringandan

diperlukan

asidosis

disertai

oksigenasi

pemberian oksigen

dengan

pelepasan

oksigen

pada

baik

31

Syok

tingkat

dapat

sel

dapat

menyebabkan

dihindari

terjadinya iskhemik
serebral.

Mandiri :

Monitor

tanda-

Peningkatan

tanda

TIK

peningkatan

menyebabkan

intrakranial

aliran darah ke

selama

otak

proses

menurun

perjalanan

akibatnya

penyakit ( HR

kessadaran

lambat,

menurun

TD

dan

meningkat,

aliran darah ke

kesadaran

otak

menurun,refleks

kemudian akan

pupil menurun.

merangsang

menurun

saraf

simpatis

untuk
meningkatkan
tekanan darah.
Pada
peningkatan
tekanan
intrakranial dan
adanya

edema

pada otak akan

32

medulla
oblongata
sebagai pusaat
pernafasan
yang

akan

meningkatkan
RR

dan

menurunkan
HR

Monitor

tanda-

Peningkatan

tanda

tekanan

peningkatan

intrakranial

tekanan

beresiko tinggi

intrakanial

terjadinya syok

selama

sehingga harus

perjalanan

segera

penyakit.

dilaporkan

ke

dokter.

Hindari

posisi

Ketika

bagian

tungkai ditekuk

tubuh

atau

difleksikan dan

gerakan-

timbul

gerakan klien

nyeri

mengindikasika
n adanya iritasi
meningeal.

Tinggikan

Dengan

sedikit

kepala

memfleksikan

klien

dengan

kepala

dapat

hati-hati, cegah

meningkatkan

gerakan

perfusi,

tiba-

sedangkan

33

tiba.

gerakan

yang

tiba-tiba dapat
meningkatkan
tekanan
gravitasi
sehingga
menyebabkan
peningkatan
tekanan
intrakranial.

Pendkes :

Anjurkan pasien
untuk

tirah

Karena

posisi

tirah

baring

menurunkan

baring

tekanan
gravitasi
sehingga
memudahkan
aliran ke otak.

Ajarkan pemberi
asuhan

Dengan
mengetahui

tentang

tanda-tanda

penyebab,

yang

peningkatan

mengindikasikan

tekanan

peningkatan TIK

intrakranial
dapat
minimalkan.

Beritahu

klien

Dengan
mengetahui hal

34

mengenai

apa

yang

yang

memperberat

mempereberat

faktor

terjadinya

memperberat

peningkatan TIK

peningkatan

(ansietas)

tekanan

yang

intrakranial,
klien

dapat

menghindari
hal tersebut.

Ajarkan

klien

Teknik
relaksasi dapat

teknik relaksasi

menurunkan
rasa nyeri

Informasikan
kepada

klien

Infeksi
tidak

yang
diobati

untuk mengobati

dengan

penyakit infeksi

dapat

seperti

menimbulkan

ISPA,

otitis medai,dll

tuntas

komplikasi
yang

lebih

parah.

Wilkinson,Judith M.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC


NOC.Jakarta: EGC

35

2.14. Legal Etik


1. Autonomy

: hak untuk menentkan diri sendiri, kemerdekaan dan

kebebasan. Hak untu pasien menentukan keputusan kesehatan untuk


dirinya.

Otonomy

bukan

kebebasan

absolut

tergantung

kondisi.

Keterbatasan muncul saat hak, kesehatan atau kesejahteraan orang lain


terganggu.
2. Beneficence

: tujuan utama tim kesehatan untuk memberikan

sesuatu yang baik buat pasien. Perawatan yang baik memerlukan


pendekatan yang holistik pada pasien meliputi menghargai pada
keyakinan, perasaan, keinginan juga pada keluarga dan orang yang berarti.
3. Nonmaleficence

: terpenuhi prinsip ini saat petugas kesehatan tidak

melakukan sesuatu yang membahaya bagi pasien (do no harm) disadari


atau tidak disadari. Perawat juga harus melidungi bahaya pada mereka
yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri: anak kecil, tidak sadar,
gangguan mental,dll
4. Veracity

: kejujuran , perawat mengatakan apa adanya tanpa ada

maksud untuk mencurangi pasien. Keterbatasan nilai ini pada saat


dikatakan yang sebenarnya dapat menimbulkan ketidakenakan yang lebih
besar. Keterbatasan lain berikatan dengan informasi test diagnostik.
5. Confidentiality

: tidak membuka informasi rahasia atau pribadi

yang diamanahkan seseorang. Nilai ini berdasar pada nilai autonomi


personal. Merupakan ekspresi dari penghormatan terhadap seseorang.
Esensial untuk memelihara hubungan kepercayaan pasien-perawat.
6. Justice : berhubungan dengan keadilan, kesetaraan, dan penatalaksanaan
yang tepat.
7. Fidelity

: kewajiban untuk taat terhadap komitmen yang dibuat baik

pada diri sendiri maupun orang lain. Kesetiaan dan praktik menepati janji
merupakan dukungan utama untuk konsep accountability. Komitmen
untuk memberikan pelayanan yang baik. Menjaga kerahasiaan juga
berikatan dengan fidelity.
Ref : materi Fundamental On Nursing 1 by Kusman Ibrahim

36

SOAL KUIS
1. sebutkan 3 bagian dari meningen (selaput pembungkus otak)dari dalam ke luar
Jawab : piameter-arakhnoid-durameter
2. Sebutkan 3 etiologi dari meningitis

Jawab : bakteri

Virus

jamur

3. Sebutkan 5 manifestasi yang biasa terjadi pada pasien meningitis


1.

Jawab : Gejala peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala ,


penurunan kesadaran, dan muntah. Papiledema (pembengkakan pada area
disekitar saraf optikus)

2. Demam akibat infeksi


3. Fotofobia (respon terhadap nyeri cahaya) akibat iritasi saraf kranial
4. Ketidakmampuan menekukan dagu ke dada tanpa nyeri (kaku kuduk)
terjadi akibat iritasi saraf spinal
5. Ensefalitis memperlihatkan tanda dramatis delirium dan penurunan
kesadaran yang progresif (stupor-semi koma). Kejang dan gerakan
abnormal dapat terjadi.
6. Lemah dan penurunan kekuaran otot.
7. Nyeri punggung
8. Frekuensi nadi dan pernapasan meningkat, tetapi TD normal
9. Petekia dan lesi purapura yang didahului ruam. Pada peyakit yang berat
ditemukan ekimosis yang besar pada wajah dan ekstremitas.
10. Gejala iritasi meningeal seperti kaku pada leher (kaku kuduk), akibat
adanya spasme otot-otot leher. Fleksi paksaan menyebabkan nyeri hebat.
11. Tanda Brundzinski positif, jika leher klien difleksikan, terjadi fleksi lutut
dan pinggul. Jika dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah
satu sisi, gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan
12. tanda Kernig positif, ketika klien dibaringkan dengan paha dalam keadaan
fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan dengan sempurna

37

13. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat
eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan
karakteristik vital (melebarnya tekanan puls dan bradikardi), pernafasan
tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
14. Ubun-ubun (bagian lembut di bagian atas kepala bayi) dapat menonjol pada
bayi berusia hingga 6 bulan.
4. sebutkan klasifikasi dari meningitis dan apa yang enjadi ciri khasnya?
1) Meningitis Aseptik
Mengacu pada meningitis virus atau iritasi meningeal, misalnya
ensefalberitis
2) Meningitis Septik
Mengacu pada meningitis yang disebabkan oleh bakteri misalnya
basilus influenza.
3) Meningitis tuberkulosis
Meningitis yang disebabkan oleh basilus tuberkel.
5. Sebutkan fungsi dari pemeriksaan lumbal pungsi ?
1) menghitung peningkatan sel dan mengindikasikan adanya organisme
2) memeriksa jumlah sel,protein, dan konsentrasi glukosa
6. Mengapa TBC bisa menyebabkan meningitis ?
penyakit TBC yang tidak diobati secara tuntas akan menyebabkan kuman
resisten terhadap pengobatan yang diberikan sebelumnya mengakibatkan
bakteri dari paru masuk ke menginen melalui aliran darah .
7. Apa penyebab terjadinya peningkatan TIK :
akibat menumpuknya eksudat penumpukan massa
8. sebutkan 3 diagnosa keperawatan dari meningitis?

38

1) Penurunan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan


peningkatan tekanan intrakranial
2) Hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi dan edema
serebral
3) Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial ditandai
dengan sakit kepala.
4) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam dan
intake cairan yang kurang
5) Risiko peningkatan TIK berhubungan dengan peningkatan volume
intrakranial, penekanan jaringan orak, dan edema serebral
6) Risiko tinggi trauma yang berhubungan dengan kejang berulang, fiksasi
kurang optimal
7) Risiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan asupan nutrisi tidak adekuat, mual, dan muntah
8) Gangguan ADL berhubungan dengan kelamahan fisik umum
9) Risiko tinggi koping individu tidak efektif berhubungan dengan
prognosis penyakit
10) Ansietas yang berhubungan dengan parahnya kondisi
9. sebutkan 3 intervensi dari diagnosa utama pada kasus meningitis ?
1) Berikan terapi sesuai petunjuk

dokter seperti: Steroid, Aminofel,

Antibiotika.
2) Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen
Mandiri :
1) Monitor tanda-tanda peningkatan intrakranial selama proses perjalanan
penyakit ( HR lambat, TD meningkat, kesadaran menurun,refleks pupil
menurun

39

2) Monitor tanda-tanda peningkatan tekanan intrakanial selama perjalanan


penyakit.

3) Hindari posisi tungkai ditekuk atau gerakan-gerakan klien


4) Tinggikan sedikit kepala klien dengan hati-hati, cegah gerakan tiba-tiba.
Pendkes :
1) TIK
2) Beritahu klien mengenai apa yang mempereberat terjadinya peningkatan
TIK (Anjurkan pasien untuk tirah baring
3) Ajarkan pemberi asuhan tentang tanda-tanda yang mengindikasikan
peningkatan ansietas)
4) Ajarkan klien teknik relaksasi
5) Informasikan kepada klien untuk mengobati penyakit infeksi seperti ISPA,
otitis medai,dll
10. sebutkan pencegahan penyakit meningitis ?
1) cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi.
Usahakan pula untuk
2) tidak berbagi makanan, minuman atau alat makan, untuk membantu
mencegah penyebaran virus.
3) imunisasi si kecil, termasuk vaksin-vaksin seperti HiB, MMR, dan IPD. (
Japardi, Iskandar., 2002 ) .Pada orang dewasa, vaksin mengingokokus
yang telah diijinkan di Amerika Serikat dapat diggunakan sebagai
pencegahan. Vaksin ini mencakup polisakarida grup A,C, W135 dan Y.

40

BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
Jaringan otak dan medulla spinalis dilindungi oleh tulang tengkorak dan
tulang belakang, serta 3 lapisan jaringan penyambung atau meningen, yaitu
piamater. Lapisan pelindung otak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan
3 lapisan jaringan ikat yang disebut meninges. Lapisan meningeal terdiri
dari piamater, lapisan arachnoid, dan duramater. Penyakit meningitis
merupakan penyakit peradangan pada selaput otak yang dapat disebabkan
oleh virus, bakteri, dan jamur. Tanda dan gejala dari penyakit adalah
demam, kejang, terjadi peningkatan tekanan intra kranial (pasien mengeluh
nyeri kepala), kaku kuduk. Angka kesembuhan pada pasien meningitis
bergantung pada umur penderita, jenis kuman penyebab, berat ringan
infeksi, lama sakit sebelum mendapat pengobatan, kepekaan kuman
terhadap antibiotic yang diberikan, adanya dan penanganan penyakit, respon
klien terhadap pengobatan. Jika terjadi abses, angka kematian mendekati
75%. Prognosis meningitis baik dan komplikasi jarang teradi jika penyakit
diketahui sejak dini dan organisme penginfeksi merespon antibiotic.
Prognosis kebih buruk pada bayi, lansia, dan orang yang mengalami
masalah imun.

41

Daftar pustaka

(Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan


Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.)

(Muscari, Mary E.2005. Keperawatan Pediatrik, edisi 3. Jakarta : EGC)

Batticaca, Fransisca B. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien


dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta : S alembaMedika

Corwin, Elizabeth. J. 2009. Buku saku patofisiologi.Jakarta. EGC

Brunner&Suddarth.2004.keperawatan medikal bedah.Jakarta:EGC)

materi Fundamental On Nursing 1 by Kusman Ibrahim

Wilkinson,Judith M.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan NANDA


NIC NOC.Jakarta: EGC

42