Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah kumpulan gejala yang diakibatkan oleh
terhisapnya mekonium / cairan amnion mekonial ke dalam saluran pernafasan bayi.
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah salah satu
penyebab
yang
paling seringmenyebabkan kegagalan pernapasan pada bayi baru lahir aterm
maupunpost-term. Kandungan mekonium antara lain adalah sekresi gastrointestinal,
hepar,dan pancreas janin, debris seluler, cairan amnion, serta lanugo. lahir saat di
dalam uterus atau saat bernafas pertama kali.
B.

Etiologi
Asfiksiafetal
Prolonged labour
Peningkatan aktivitas usus janin.
Cairan amnion yang mengandung mekoneum terinhalasi oleh bayi. Mekonium dapat keluar
(intrauterin) bila terjadi stres/kegawatan intrauterin.

C. Faktor Risiko
1. Usia kehamilan melebihi 40 minggu ( Postterm )
2. Berat badan lahir rendah. Bedakan dengan prematuritas, dimana SAM jarang terjadi bila bayi
lahir sebelum 34 minggu. Dengan demikian, prematuritas bukan faktor risiko untuk
terjadinya SAM
3. Kesulitan dalam melahirkan
4. Pre-eklampsia, eklampsia, hipertensi pada ibu, DM pada ibu, ibu yang perokok
berat/penderita penyakit paru kronik/penyakit kardiovaskular
D. Insidensi
Cairan amnionmekonial terdapat sekitar 10-15% dari semua jumlah kelahiran cukup
bulan (aterm), tetapi SAM terjadi pada 4-10% bayi ini. Dan sepertiga diantaranya
membutuhkan bantuan ventilator. Adanya mekonium pada cairan amnion jarang
dijumpai pada kelahiran preterm. Resiko SAM dan kegagalan pernapasan
yang terkait, meningkat ketika mekoniumnya kental dan apabila diikuti dengan
asfiksia perinatal. Beberapa bayi yang dilahirkan dengan cairan amnion
yang mekonialmemperlihatkan distres pernapasan walaupun tidak ada mekonium
yang terlihat dibawah korda vokalis setelah kelahiran. Pada beberapa bayi,
aspirasi mungki terjadi intrauterine sebelum dilahirkan.
E. Patofisiologi
SAM seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita sebut fetal distress. Pada
keadaan ini, janin yang mengalami distres akan menderita hipoksia (kurangnya oksigen di

dalam jaringan). Hipoksia jaringan menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas usus


disertai dengan melemasnya spinkter anal. Maka lepaslah mekonium ke dalam cairan
amnion.
Asfiksia dan berbagai bentuk stres intrauterin dapat meningkatkan peristaltik usus janin
disertai relaksasi sfinkter ani eksterna sehingga terjadi pengeluaran mekoneum ke cairan
amnion. Saat bayi dengan asfiksia menarik napas (gasping)baik in utero atau selama
persalinan, terjadi aspirasi cairan amnion yang bercampur mekoneum ke dalam saluran
napas. Mekoneum yang tebal menyebabkan obstruksi jalan napas, sehingga terjadi gawat
napas.
Sindroma ini biasanya terjadi pada infant full-term. Mekonium ditemukan pada cairan
amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus, mengindikasikan beberapa tingkatan aspiksia
dalam kandungan. Aspiksia mengakibatkan peningkatan peristaltik intestinal karena
kurangnya oksigenasi aliran darah membuat relaksasi otot spincter anal sehingga mekonium
keluar. Mekonium tersebut terhisap saat janin dalam kandungan.
Aspirasi mekonium menyebabkan obstruksi jalan nafas komplit atau partial dan
vasospasme pulmonary. Partikel garam dalam mekonium bekerja seperti detergen,
mengakibatkan luka bakar kimia pada jaringan paru. Jika kondisi berkelanjutan akan terjadi
pneumothoraks, hipertensi pulmonal persisten dan pneumonia karena bakteri.
Dengan intervensi yang adekuat, gangguan ini akan membaik dalam beberapa hari,
tetapi angka kematian mencapai 28% dari seluruh kejadian. Prognosis tergantung dari jumlah
mekonium yang teraspirasi, derajat infiltrasi paru dan tindakan suctioning yang cukup.
Suctioning termasuk aspirasi dari nasofaring selama kelahiran dan juga suctioning langsung
pada trachea melalui selang endotracheal setelah kelahiran jika mekonium ditemukan.
F.

G.
1.
2.
3.

Manifestasi klinis / Gejala dan Tanda


Cairan ketuban berwarna hijau tua dapat jernih maupun kental, mekonium pada cairan
ketuban, noda kehijauan pada kulit bayi, kulit bayi tampak kebiruan (sianosis), pernafasan
cepat (takipnea) , sesak nafas (apnea), frekuensi denyut jantung janin rendah sebelum
kelahiran , skor APGAR yang rendah , bayi tampak lemas , auskultasi: suara nafas abnormal
Kadang-kadang terdengar ronki pada kedua paru. Mungkin terlihat emfisema atau atelectasis
Komplikasi
Displasia bronkopulmoner
Pneumotoraks
Aspirasi pnemonia
Bayi yang menderita SAM berat mempunyai kemungkin lebih besar untuk menderita
mengi (wheezing) dan infeksi paru dalam tahun pertama kehidupannya. Tapi sejalan dengan
perkembangan usia, ia bisa meregenerasi jaringan paru baru. Dengan demikian, prognosis
jangka panjang tetap baik.
Bayi yang menderita SAM sangat berat mungkin akan menderita penyakit paru
kronik, bahkan mungkin juga menderita abnormalitas perkembangan dan juga ketulian. Pada
kasus yang jarang terjadi, SAM dapat menimbulkan kematian

H. Pemeriksaan penunjang
Rontgen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter antero posterior,
hiperinflation, flatened diaphragm akibat obstruksi dan terdapatnya pneumothorax (
gambaran infiltrat kasar dan iregular pada paru )
Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik dengan
penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2
I.

Penatalaksanaan medis
Tergantung pada berat ringannya keadaan bayi, mungkin saja bayi akan dikirim ke
unit perawatan intensif neonatal (neonatal intensive care unit [NICU]). Tata laksana yang
dilakukan biasanya meliputi :
1.
Umum
Jaga agar bayi tetap merasa hangat dan nyaman, dan berikan oksigen.
2.
Farmakoterapi
Obat yang diberikan, antara lain antibiotika. Antibiotika diberikan untuk mencegah
terjadinya komplikasi berupa infeksi ventilasi mekanik.
3.
Fisioterapi
Yang dilakukan adalah fisioterapi dada. Dilakukan penepukan pada dada dengan
maksud untuk melepaskan lendir yang kental.
4.
Pada SAM berat dapat juga dilakukan:
Pemberian terapi surfaktan.
Pemakaian ventilator khusus untuk memasukkan udara beroksigen tinggi ke dalam paru
bayi.
Penambahan nitrit oksida (nitric oxide) ke dalam oksigen yang terdapat di dalam ventilator.
Penambahan ini berguna untuk melebarkan pembuluh darah sehingga lebih banyak darah dan
oksigen
yang
sampai
ke
paru
bayi.
Bila salah satu atau kombinasi dari ke tiga terapi tersebut tidak berhasil, patut
dipertimbangkan untuk menggunakan extra corporeal membrane oxygenation (ECMO). Pada
terapi ini, jantung dan paru buatan akan mengambil alih sementara aliran darah dalam tubuh
bayi. Sayangnya, alat ini memang cukup langka.

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1.
PENGKAJIAN FISIK
a. Riwayat antenatal ibu
b. Status infant saat lahir
- Stress intra uterin
- Full-term, preterm, atau kecil masa kehamilan
- Apgar skor dibawah 5
- Terdapat mekonium pada cairan amnion
- Suctioning, rescucitasi atau pemberian therapi oksigen

Disstress pernafasan dengan gasping, takipnea (lebih dari 60 x pernafasan per menit),
grunting, retraksi, dan nasal flaring
- Peningkatan suara nafas dengan crakles, tergantung dari jumlah mekonium dalam paru
- Cyanosis
- Barrel chest dengan peningkatan dengan peningkatan diameter antero posterior (AP)
c. Pengkajian Behavioral
- Disminished activity
2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN
a. Resiko tingi insufisiensi pernafasan berhubungan dengan aspirasi meconium
b. Koping keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan kecemasan, rasa bersalah dan
kemungkinan perawatan jangka panjang
c. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan kalori.
d. Kecemasan orangtua berhubungan dengan kemungkinan kematian pada infant, respon
terhadap perawatan yang lama, dan pemberian bantuan ventilator
e. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan IWL dari peningkatan pernafasan
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pneumonia sebagai akibat mekonium pada paru
g. Resiko tinggi injury berhubungan dengan komplikasi pneumothoraks, atelectasis
h. Kegagalan pertukaran gas berhubungan dengan pneumonitis chemical dan kegagalan fungsi
paru akibat aspirasi meconium
i.
Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan aspirasi meconium
j.
Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan jangka panjang setelah
kepulangan.
3.
Intervensi keperawatan
a. Resiko tingi insufisiensi pernafasan berhubungan dengan aspirasi meconium
Tujuan : Mencegah dan mengeluarkan mekonium yang teraspirasi pada saat lahir atau
setelahnya
Intervensi
o Observasi kebutuhan akan suctioning nasofaring saat kepala bayi lahir.
R : Mekonium dalam cairan amnion merupakan indikasi dilakukan suction sebelum bayi
baru lahir bernafas
o Lakukan suction pada trakhea infant dengan selang endotrakheal setelah kelahiran.
R : Prosedur ini dilakukan sebelum menstimulasi infant jika ditemukan mekonium untuk
mencegah aspirasi lebih lanjut
o Lanjutkan suction pada mulut bayi untuk mengeluarkan partikel mekonium yang lebih besar.
R : Infant yang teraspirasi mekonium memerlukan resusitasi, khususnya infant yang
mengalami disstress pernafasan
o Berikan istirahat dan ketenangan pada infant.
R : Menangis atau agitasi dapat meningkatkan tekanan intra thorakal, menyebabkan
pneumothorax
Tujuan
Identifikasi dan minimalkan kegagalan pernafasan setelah kelahiran

o
o

Intervensi :
Kaji status respirasi yang mengindikasikan aspirasi mekonium dan memerlukan tindakan
segera seperti :
frekuensi, kedalaman dan takipnea ( frekuensi nafas lebih dari 60 x/menit). Peningkatan
frekuensi nafas menentukan peningkatan kebutuhan oksigen
Grunting. Suara grunting terjadi karena penutupan glottis untuk menghentikan ekshalasi
udara dengan desakan udara ke pita suara
Nasal flaring.
Retraksi dengan penggunaan otot bantu nafas. Retraksi mengindikasikan distensi paru yang
tidak adekuat selama inspirasi
Cyanosis. Cyanosis terjadi karena penurunan kadar oksigen dalam tubuh.
Analisa gas darah menunjukkan peningkatan PCO2 dan penurunan PO2. Nilai tersebut
mengindikasikan adanya acidosis
Hasil serial ronqen dada.
R : Dapat mengindikasikan atelektasis, hiperinflasi atau pneumothoraks
Berikan therapi oksigen dan ventilasi mekanik dengan tekanan positif. Ventilasi mekanik
kadang diperlukan kadang tidak.
R : Tekanan positif diberikan setelah therapy bronkoskopi atau laringotrakheal untuk
mencegah masuknya mekonium ke jalan nafas yang lebih kecil.
Set ventilator mekanik untuk memberikan tekanan yang lebih tinggi dengan frekuensi nafas
pendek (60 70 x /menit.
R : Setting ini diperlukan untuk memberikan ventilasi alveoli bagian distal pada infant
dengan aspirasi mekonium berat
Pertahankan hiperoksigenasi dan nilai pH/AGD pada 7,45 7,55 dengan PCO2 22 30
mmHg. Hiperoksigenasi mencegah sirkulasi fetal persisten. R : Keadaan alkalosis respiratorik
membentu menurunkan vasokontriksi paru pada infant dengan aspirasi mekonium.
Berikan fisiotherapi dengan perkusi dan vibrasi setiap 1 2 jam. Gunakan percussor atau
vibrator jika infant dapat mentoleransi treatment.
R : Prosedur ini membantu mengeluarkan sekresi tapi prosedur ini dilakukan tergantung pada
kondisi infant
Cegah komplikasi infeksi (pneumonitis) dengan pemberian antibiotik IV sesuai pesanan
(seperti ampicillin).
R : Antibiotik menghancurkan bakteri dengan memecah dinding sel bakteri sehingga sel
bakteri mati.
Berikan aminoglycosides sesuai pesanan seperti kanamisin. Monitor kadar serum bayi.
R : Aminoglycosides menghancurkan bakteri dengan menghambat sintesis protein sehingga
sel bakteri mati. Berikan secara pelahan untuk mencegah toksisitas ginjal. Memonitor level
serum memaksimalkan efeltifitas therapi obat.
Jika dipesankan, berikan steroid untuk menurunkan respon inflamasi mekonium.
R : Walaupun obat hidrokortison merupakan pilihan tetapi penggunaannya masih
diperdebatkan.

o Siapkan infant untuk pembedahan dan pemasangan Extracorporeal Membrane Oksigenation


(ECMO) Pump jika infant mengalami kerusakan fungsi paru yang berat. CCMD
mempertahankan pertukaran dan perfusi gas. Pembedahan dilakukan untuk menanam dua
tube kecil di leher dan menghubungkannnya dengan mesin ECMO yang memompakan darah
melalui paru artificial.
R : Prosedur ini memepertahankan infant tetap hidup sampai paru dapat didukung dengan
ventilasi mekanik. Jika ECMO digunakan
o Kaji intake dan output cairan infant.
R : Mempertahankan keseimbangan cairan penting untuk mencegah overload cairan.
o Monitor PO2 atau nilai oksimetri.
R : Nilai tersebut untuk mengevalusi oksigenasi jaringan
o Kaji status neurologik infant.
R : Tanda neurologik menunjukkan perubahan status oksigenasi
o Suction saluran endotrakheal sesuai pesanan.
R : Suctioning mempertahankan patensi jalan nafas dan membantu treatment.
b. Koping keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan kecemasan, rasa bersalah dan
kemungkinan perawatan jangka panjang
Tujuan : Meminimalkan kecemasan, rasa bersalah dan memberikan dukungan selama krisis
situasi.
Intervensi dan Rasional
o Kaji ekpressi verbal dan non verbal, perasaan dan penggunaan koping mekanisme.
R : Data tersebut diperlukan untuk membantu perawat untuk membangun koping yang
konstruktif pada keluarga
o Anjurkan orangtua mengungkapkan perasaannya tentang keadaan sakit anaknya, perawatan
yang lama, dan prosedur yang dilakukan pada anaknya.
R : Verbalisasi membantu mempertahankan rasa percaya, menurunkan tingkat kecemasan
orangtua dan meningkatkan keterlibatan orangtua
o Berikan informasi yang konsisten dan akurat tetang kondisi dan perkembangan bayinya,
perawatan di masa yang akan datang, dan potensial problem pernafasan.
R : Informasi akan menurunkan kecemasan terhadap keadaan bayinya.
o Anjurkan keluarga berkunjung, ikut memberikan perawatan bila mungkin. R : Kunjungan,
komunikasi dan partisipasi pada perawatan infant membantu proses bounding
o Informasikan kepada orangtua tentang kebutuhan setelah pulang dan intruksikan prosedur yang
penting saat di rumah.
R : Beberapa infant membutuhkan bantuan ventilator setelah pulang ke rumah.
o Rujuk orangtua pada perawat komunitas dan informasikan tentang fasilitas kesehatan yang bisa
dihubungi.
R : Rujukan memberikan support kepada keluarga untuk terus mengontrol keadaan bayinya.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Asuhan keperawatan yang paripurna harus dilaksanakan dengan kompeten dan
professional agar dapat mencapai tingkat homeostatis maksimal bagi klien anak.Manajemen
keperawatan harus benar-benar ditegakkan untuk membantu klien anak mencapai tingkat
optimalisasi dalam menghadapi perubahan fisik dan psikologis akibat Penyakit Mekonium
Aspirasi Sindrom ( MAS ).

B.

Saran

Untuk menjadikan makalah ini menjadi makalah yang sempurna maka harus
disertai saran-saran yang bersifat mendorong dan membangun, saran - saran itu
antara lain :
1. Kita hendaknya lebih memahami Penyakit Mekonium Aspirasi Sindrom ( MAS )
dalam meningkatkan pelayanan pada penderita/ anak khususnya dalam pemberian
asuhan keperawatan.
2. Kita hendaknya mampu dan mau mempelajari makalah Asuhan Keperawatan
Anak Dengan Penyakit Mekonium Aspirasi Sindrom ( MAS ),untuk menambah
pengetahuan dibidang ilmu keperawatan khususnya, dan dibidang pelayanan
pemberian asuhan keperawatan pada umumnya.
Demikian saran dari kami semoga apa yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi
kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya

DAFTAR PUSTAKA
Melson, Kathryn A. & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Palnning,
Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse, 1994
Wong, Donna L., Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby
Year Book Inc, Missouri 1996.
Doengoes, M. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta

Diposkan oleh Kapevi Hatake di 8:09 PM