Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN


OKSIGENASI
DI RUANG SINDORO RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

KONSEP DASAR
1. Definisi Oksigenasi
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem
(kimia atau fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak
berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai
hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi, dan air. Akan tetapi
penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan
memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
(Wahit Iqbal Mubarak, 2007)
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam
proses metabolisme untukmempertahankan kelangsungan hidup seluruh
sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup
O2 ruangan setiap kali bernapas.
(Wartonah Tarwanto, 2006)
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam
proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh
sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup
O2 ruangan setiap kali bernafas. Oksigenasi adalah tindakan, proses, atau
hasil pengambilan oksigen.
2. Tanda dan Gejala Gangguan Kebutuhan Oksigenasi
Tanda dan gejala pada gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi
diantaranya adalah :
a. Bersihan jalan napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
1) Tanda-tandanya :
a) Bunyi napas yang abnormal
b)

Batuk produktif atau non produktif

c)

Cianosis

d)

Dispnea

e)

Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan

2) Kemungkinan faktor penyebab :


a)

Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan


obstruksi

b)

Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)

c)

Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan


dada

d) Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan


e) Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
f)

Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental


dan sulit untuk di expektoran

g)

Immobilisasi

h)

Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan


sekresi

b. Pola nafas tidak efektif


Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplai O2
kejaringan tidak adekuat
1)

Tanda-tandanya :
a) Dispnea
b) Peningkatan kecepatan pernapasan
c) Napas dangkal atau lambat
d) Retraksi dada
e) Pembesaran jari (clubbing finger)
f)

Pernapasan melalui mulut

g) Penambahan diameter antero-posterior


h) Cianosis, flail chest, ortopnea
i)

Vomitus

j)

Ekspansi paru tidak simetris

2) Kemungkinan faktor penyebab :


a) Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi,
obesitas, nyeri
b) Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala,
keracunan obat anasthesi
c) Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang
menyebabkan kolaps paru
d)

Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi

e)

Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang


menyebabkan spasme bronchial atau oedema

f)

Penimbunan CO2 akibat penyakit paru

c. Gangguan pertukaran gas


Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis
respiratori dan alkalosis respiratori.
1) Penurunan kardiak output
Tanda-tandanya :
a) Kardiak aritmia
b) Tekanan darah bervariasi
c) Takikhardia atau bradikhardia
d)

Cianosis atau pucat

e)

Kelemahan, vatigue

f)

Distensi vena jugularis

g)

Output urine berkurang

h)

Oedema

i)

Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan


batuk)

Kemungkinan penyebab :
a) Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit
jantung
b) Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi
alergi dan reaksi kegagalan jantung

c) Kardiak arrest akibat gangguan elektrolit


d) Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam
darah
3. Tindakan dan Prosedur yang Dapat Dilakukan
a. Indikasi
Efektif diberikan pada klien yang mengalami :
1) Gagal nafas

Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan


parsial normal O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh
gangguan pertukaran O2 dan CO2 sehingga sistem pernapasan
tidak mampu memenuhi metabolisme tubuh.
2) Gangguan jantung (gagal jantung)

Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam


jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap
nutrien dan oksigen.
3) Kelumpuhan alat pernafasan

Suatu keadaan dimana terjadi kelumpuhan pada alat


pernapasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen karena kehilangan
kemampuan ventilasi secara adekuat sehingga terjadi kegagalan
pertukaran gas O2 dan CO2.
4) Perubahan pola napas.

Hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), dyspnea


(kesulitan bernapas, misal pada pasien asma),sianosis (perubahan
warna menjadi kebiru-biruan pada permukaan kulit karena
kekurangan oksigen), apnea (tidak bernapas/ berhenti bernapas),
bradipnea (pernapasan lebih lambat dari normal dengan frekuensi
kurang dari 16x/menit), takipnea (pernapasan lebih cepat dari
normal

dengan

frekuensi

(Tarwoto&Wartonah, 2010:35)
5) Keadaan gawat (misalnya : koma)

lebih

dari

24x/menit

Pada keadaan gawat, misal pada pasien koma tidak dapat


mempertahankan sendiri jalan napas yang adekuat sehingga
mengalami penurunan oksigenasi.
6) Trauma paru

Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi benturan atau


cedera akan mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi dan
ekspirasi.
7) Metabolisme yang meningkat : luka bakar

Pada luka bakar, konsumsi oksigen oleh jaringan akan


meningkat

dua

kali

lipat

sebagai

akibat

dari

keadaan

hipermetabolisme.
8) Post operasi

Setelah operasi, tubuh akan kehilangan banyak darah dan


pengaruh dari obat bius akan mempengaruhi aliran darah ke
seluruh tubuh, sehingga sel tidak mendapat asupan oksigen yang
cukup.
9) Keracunan karbon monoksida

Keberadaan CO di dalam tubuh akan sangat berbahaya jika


dihirup karena akan menggantikan posisi O2 yang berikatan dengan
hemoglobin dalam darah.
(Aryani, 2009:53)
b. Kontra Indikasi
Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan
syarat pemberian jenis dan jumlah aliran yang tepat. Namun demikan,
perhatikan pada khusus berikut ini
1) Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun)
yang mulai bernafas spontan maka pemasangan masker partial
rebreathing dan non rebreathing dapat menimbulkan tanda dan
gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis masker
rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen dengan
konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%
2) Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntahmuntah

3) Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal

kanul.
(Aryani, 2009:53)
c. Prinsip Komunikasi
Prinsip kommunkasi yang digunakan dalam melaksanakan
tindakan adalah komunikasi terapetik
d. Prinsip Keamanan dan Keselamatan Selama Tindakan
Perhatikan jumlah air steril dalam humidifier, jangan berlebih atau
kurang dari batas. Hal ini penting untuk mencegah kekeringan
membran mukosa dan membantu untuk mengencerkan sekret di
saluran pernafasan klien
1) Pada beberapa kasus seperti bayi premature, klien dengan penyakit
akut, klien dengan keadaan yang tidak stabil atau klien post
operasi, perawat harus mengobservasi lebih sering terhadap respon
klien selama pemberian terapi oksigen
2) Pada beberapa klien, pemasangan masker akan memberikan
tidaknyaman karena merasa terperangkat. Rasa tersebut dapat di
minimalisir jika perawat dapat meyakinkan klien akan pentingnya
pemakaian masker tersebut.
3) Pada klien dengan masalah febris dan diaforesis, maka perawat
perlu melakukan perawatan kulit dan mulut secara extra karena
pemasangan masker tersebut dapat menyebabkan efek kekeringan
di sekitar area tersebut.
4) Jika terdapat luka lecet pada bagian telinga klien karena
pemasangan ikatan tali nasal kanul dan masker. Maka perawat
dapat memakaikan kassa berukuran 4x4cm di area tempat
penekanan tersebut.
5) Akan lebih baik jika perawat menyediakan alat suction di samping
klien dengan terapi oksigen
6) Pada klien dengan usia anak-anak, biarkan anak bermain-main
terlebih dahulu dengan contoh masker.
7) Jika terapi oksigen tidak dipakai lagi, posisikan flow meter dalam
posisi OFF
8) Pasanglah tanda : dilarang merokok : ada pemakaian oksigen di
pintu kamar klien, di bagian kaki atau kepala tempat tidur, dan di
dekat tabung oksigen. Instrusikan kepada klien dan pengunjung
akan bahaya merokok di area pemasangan oksigen yang dapat
menyebabkan kebakaran.
(Aryani, 2009:53)

4. SOP Pemberian Oksigenasi dengan Nasal Kanul


a. Pengertian
Memberikan oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi
pasien.
b. Tujuan
Tujuan memberikan oksigen dengan nasal canul adalah untuk
1) Mengatasi kondisi hipoxia
2) Membantu pernafasan menjadi normal
3) Meningkatkan kenyamanan pasien, efisiensi bernafas, dan toleransi
aktivitas
c. Alat-alat
1) Tabung Oksigen
2) Flow meter oksigen
3) Slang dan Nasal kanul
d. Persiapan
1) Mengecek order dokter dalam pemberian oksigen (flow rate)
2) Menyiapkan alat-alat yang digunakan
3) Memasang flow meter oksigen ke tabung oksigen atau pada
dinding oksigen sentral. Memasang nasal kanul ke flow meter
4) Memasang disposable humidifier diantara flow meter dan slang
kanul jika humidifikasi dianjurkan.
5) Mencuci tangan
e. Prosedur
1) Menjelaskan tujuan dan tindakan penggunaan oksigen untuk pasien
2) Bersihkan lubang hidung pasien
3) Memasang lubang ujung nasal kanul pada lubang hidung pasien
4) Mengencangkan slang kanul pada daun telinga dan mengatur ikatan
slang dibawah dagu pasien
5) Mengatur aliran oksigen. Harus dibatasi sampai 6L/menit / kurang.
Rasional: ketika udara atmosfer bercampur dengan konsentrasi
oksigen seharusnya diinspirasi atau dihisap oleh pasien, Fio2
bervariasi tergantung pada aliran dan pernafasan pasien yang
sebenarnya. Nafas dalam lebih banyak menurunkan daripada
meningkatkan Fio2 sebab lebih banyak udara ruangan yang
dihirup.
6) Memonitor TTV dan mengecek kondisi pasien secara teratur.
7) Melakukan perawatan lubang hidung setiap 4 jam.
8) Memonitor tekanan slang sekitar telinga dan mengatasi kanul untuk
kenyamanan pasien jika diindikasikan
f. Evaluasi

1) Tanda dan gejala hipoxia teratasi


2) Kenyamanan efisiensi bernafas dan toleransi aktivitas meningkat
3) Tidak ada komplikasi dalam pemberian oksigen
g. Dokumentasi
1) Jenis alat yang dipergunakan dalam pemberian oksigen
2) TTV
3) Daya tahan pasien terhadap alat yang digunakan
4) Pembelajaran pada pasien dan keluarga dan tingkat pemahamannya
5. Referensi
Potter & Perry (2001). Fundamentals of nursing (5th ed). St.Louis: Mosby
Smeltzer,S.C., Bare, B, G., Hinkle, J.L., Cheever,K H (2008).
Brunner&Suddarths textbook pf medical-surgical nursing (7th ed)
Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkin s
Smith. S.F., Duell, D.J.& Martin, B. C (2004). Clinical nursing skills :
Basic to advanced skills (6th ed.) News Jersey : Pearson Prentice Hall
Taylor, C., Lillies, C., & LeMone. P. (1997). Fundamentals of nursing:
The art and science care. Philadelphia Lippincott.
http://nikenadipuspita.blogspot.com/2011/12/pemberian-oksigen-denganberbagai-cara.html