Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TAUHID

Sejarah Munculnya Aliran Mutazilah dan Asyariyah


(Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tauhid yang diampu oleh
Ibu Yuni Marufah, M.Si)

Disusun Oleh Kelompok VII:


1; Mustini (09640024)
2; Muhammad Zainudin Maskur (12630011)
3; Aulia Rahman (12630012)
4; Layung Sari (12630013)
5; Umi Atika (12630012)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Ketika berbicara aliran Mutazilah dan Asyariyah, maka sebenarnya kita


berbicara pada ranah ketuhanan, sehingga bahasan mengenai aliran-aliran ini
seringkali ditemukan pada materi terkait aliran-aliran teologis. Teologis itu sendiri
memiliki arti ilmu yang membahas tentang ketuhanan. Meskipun pada masa
sekarang, khususnya umat islam di Indonesia lebih dekat dengan persoalanpersoalan fiqhiyah yang dianut oleh beberapa madzhab1, namun bahasan yang
berhubungan dengan ilmu Tauhid atau aqidah juga penting untuk dibahas.
Munculnya persoalan teologis dalam islam berawal dari masalah politik, yakni
menyangkut peristiwa pembunuhan khalifah ketiga, Ustman bin Affan. Peristiwa
ini memicu penolakan Muawiyah terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib,
khalifah keempat pengganti Ustman. Ketegangan antara Ali dan Muawiyah
semakin menguat hingga terjadi perang Shiffin yang berakhir dengan keputusan
tahkim (arbitrase). Dalam tahkim tersebut, pihak Ali diwakilkan oleh Abu Musa
Al-Asyari, sedangkan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash.2
Sikap dan keputusan Ali menerima tahkim ini, menimbulkan tanggapan beragam
dari pengikutnya. Sebagian dari mereka menentang dan keluar dari kelompok Ali.
Kelompok ini disebut Khawarij, dan kelompok yang tetap setia dengan Ali
disebut Syiah. Disamping kedua kelompok ekstrim tersebut, muncul kelompokkelompok yang moderat dalam menanggapi peristiwa tahkim, antara lain
Murjiah. Bagi kelompok Murjiah, jalan paling aman adalah menangguhkan dan
menyerahkan semua persoalan yang berhubungan dengan dosa manusia kepada
Allah SWT.
Dari tiga kelompok yang muncul berhubungan dengan peristiwa tahkim
tersebut, mendorong lahirnya aliran-aliran yang beragam pada masa klasik,
diantaranya Mutazilllah dan Asyariyah.

BAB II
1 Yusran Asmuni, Pengantar Ilmu Tauhid, CV Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta,1988, hal. 44-47.
2 Mustofa, H.M. Kholili, dan Karwadi, Tauhid, Pokja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005, hal.
91-96

PEMBAHASAN

1; Aliran Mutazilah
a; Sejarah Munculnya Aliran Mutazilah

Sebenarnya istilah Mutazilah sudah dikenal sejak pertengahan abad


pertama hijriyah yaitu gelar kepada orang-orang yang memisahkan diri atau
bersikap netral terhadap peristiwa-peristiwa politik yang timbul setelah
wafatnya Ustman r.a. peristiwa-peristiwa politik ini antara lain:
1; Perang Jamal, pertentangan antara Aisyah, Thalhah, dan Zubair di satu
pihak, dan Ali di pihak lainnya.
2; Perang Shiffin, pertentangan antara Ali dengan Muawiyah.
Menurut An Naubati dalam kitab Firaq Al-Syiah menjelaskan bahwa,
ada sekelompok umat Islam yang memisahkan diri dari Ali, meskipun
mereka menyetujui pengangkatannya sebagai khalifah, dan pada waktu itu
kelompok ini disebut golongan Mutazilah.3
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa istilah Mutazilah sudah dikenal pada
periode seperempat abad terakhir abad pertama hijriyah dengan latar belakang
kemelut politik. Hal ini menumbulkan pertanyaan apakah Mutazilah yang
dipelopori oleh Wasil bin Atha yang muncul pada abad kedua hijriyah ada
hubungan atau merupakan kelanjutan dari Mutazilah yang muncul pada abad
pertama hijriyah atau kedua kasus ini tidak ada hubungannya meskipun memiliki
nama dan sebutan yang sama.
Jika kita perhatikan kondisi masyarakat pada saat lahirnya kedua
Mutazilah itu, maka kelihatannya kedua Mutazilah yang muncul pada abad
pertama dan kedua tidak ada hubungannya. Mutazilah abad pertama
muncul sebagai akibat dari kemelut politik yang terjadi, sedangkan
Mutazilah abad kedua lahir karena dorongan akidah. Sehingga Mutazilah
pada abad kedua ini digolongkan ke dalam aliran-aliran teologi islam.
Menurut Asy-Syahrastani dalam bukunya Milal wan Nihal diceritakan
bahwa pada suatu hari seorang laki-laki datang menemui Hasan Bashri (21
110 H/642 728 H) seraya berkata:
Pada zaman kita ini telah muncul suatu golongan yang mengkafirkan
orang-orang berbuat dosa besar. Menurut mereka dosa besar itu perusak
3 HAR Gibb dan J.H. Kramers, Shorter Encyclopedia of Islam, E.J. Brill, Leiden, 1953, hal. 422.

iman atau sama dengan kekafiran, mereka itu adalah dari golongan
Khawarij. Di samping itu timbul pula suatu golongan yang menangguhkan
hukum atas orang yang berbuat dosa besar itu dan menurut mereka berbuat
dosa besar itu tidak merusak iman. Bagaimanakah Anda (Hasan Bashri)
menetapkan itikad bagi kami dalam hal ini?
Ketika Hasan Bashri merenungkan masalah tersebut, Wasil bin Atha
berdiri dan mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan: Saya
berpendapat bahwa orang yyang berbuat dosa besar bukanlah mukmin dan
bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi di antara keduanya, yakni berada
di antara mukmin dan kafir. Setelah memberi jawaban itu Wasil bin Atha
bangkit berdiri dan berjalan ke sudut masjid, disana ia menjelaskan
kebenaran pendapatnya kepada kawan-kawannya.
Melihat tingkah laku yang demikian, maka Hasan Bashri berkata:
Itazala anna Wasil (Wasil telah memisahkan diri dari kita). Kelompok yang
memisahkan diri pada peristiwa inilah yang disebut kaum Mutazilah.4
Golongan Mutazilah dikenal sebagai kelompok rasionalis, sebab
mereka memberikan peran dan fungsi yang sangat besar kepada akal dalam
kehidupan manusia.

4 Ahmad Amin, Fajrul Islam, Sulaiman Mari, Singapura, 1965, hal.48

b; Pokok-pokok Ajaran Mutazilah

Berikut ini doktrin-doktrin Mutazilah yang terangkum dalam Al-Ushul


al Khamzah (lima prinsip dasar), yaitu:
1; Tauhid (Keesaan Tuhan). Tuhan itu adalah Dzat yang tunggal tanpa sifat.
Selain itu mereka menetapkan pula bahwa Al-Quran adalah mahluk.
2; Al-Adl (Keadilan Tuhan). Perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu
sendiri. Hal ini berarti bahwa orang yang berbuat baik akan diberikan
kebaikan oleh Tuhan, dan sebaiknya jika manusia berbuat jahat maka
akan diberikan siksaan.
3; Al-Wadu wal Waid (Janji dan Ancaman). Prinsip ini merupakan sebagai
pembuktian keadilan Tuhan agar manusia dapat merasakan balasan
Tuhan atas segala perbuatannya. Menurut mereka, Tuhan telah berjanji
akan memberi pahala orang yang berbuat baik dan akan menyiksa orang
yang berbuat buruk. Oleh karena itu mereka mengingkari adanya syafaat.
4; Al-Manzilah bainal Manzilataini (tempat di antara dua tempat). Dalam
pandangan Mutazilah berarti suatu tempat antara surga dan neraka.
Tempat ini diperuntukkan bagi umat islam yang melakukan dosa besar ,
tetapi tidak sampai musyrik.
5; Amar Maruf Nahi Munkar (Menyuruh kebaikan dan melarang
kemungkaran). Setiap muslim wajib melaksanakan amar maruf nahi
munkar sesuai dengan versi Mutazilah, sehingga orang-orang yang tidak
sesuai dengan prinsip mereka dianggap sesat dan harus diluruskan.
2;

Aliran Asyariyah
a; Sejarah Munculnya Aliran Asyariyah
Asyariyah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam periode klasik
yang namanya dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Hasan Ali bin Ismail
Al-Asyari.
Sejak kecil hingga umur 40 tahun, Hasan Ali bin Ismail Al-Asyari
diasuh dan sekaligus berguru pada ayah tirinya, salah seorang tokoh Mutazilah
yaitu Abu Ali Al Jubbai. Oleh karena itu, pada mulanya Al-Asyari adalah
pengikut Mutazilah dan sangat memahami aliran tersebut. Akan tetapi pada
usia 40 tahun ia menyatakan keluar dari Mutazilah karena memiliki beberapa
keraguan terhadap doktrin-doktrin Mutazilah.
Beliau termasuk ulama besar, ahli bahasa, ahli fiqih, tafsir hadist, dan
ilmu Tauhid yang lebih didalaminya. Setelah merenung lebih dari 15 hari, ia
naik ke mimbar dan berpidato: Saudara-saudara, setelah saya meneliti dalildalil yang dikemukakan oleh masing-masing pendapat, ternyata dalil-dalil itu
menurut hemat saya sama kuatnya. Saya memohon hidayah dari Allah SWT,
sekarang saya meninggalkan keyakinan lama saya dan menganut keyakinan
baru.
Sejak itu, Al-Asyari gigih menyebarkan paham barunya sehingga
terbetuk madzhab dalam teologi Islam yang dikenal dengan nama Ahlussunnah
wal Jamaah. Pengikut Al-Asyari sendiri sering disebut Asyariyah.
b; Pokok-pokok Ajaran Asyariyah

Adapun pokok-pokok ajaran Asyariyah yang terpenting antara lain:


1; Sifat Tuhan. Tuhan memiliki sifat sebagaimana disebutkan dalam AlQuran, seperti Allah mengetahui dengan ilmu, hidup dengan hayah, dan
sebagainya. Sifat-sifat tersebut adalah azali.
2; Perbuatan Manusia. Menurut Asyariyah, perbuatan manusia diciptakan
Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan suatu
perbuatan, manusia membutuhkan dua daya, yaitu daya Tuhan dan daya
manusia.
3; Pelakuk Dosa Besar. Menurut Asyariyah seorang muslim yang melakukan
dosa besar dan meninggal dunia sebelum bertaubat, maka di akhirat ada
beberapa kemungkinan, antara lain: Ia mendapat ampunan dari Allah maka
ia dimasukkan ke surga; Ia mendapat syafaat dari nabi Muhammad SAW;
Allah memberikan hukuman terlebih dahulu atas dosa besar yang
dilakukannya kemudian ia dimasukkan ke dalam surga.

4; Keadilan Tuhan. Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk

memasukkan orang ke surga atau neraka karena semua itu merupakan


mutlak kehendak Tuhan karena Tuhanlah yang berkuasa dan segala-galanya
adalah milik Allah.

BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan uraian-uraian di atas mengenai sejarah munculnya aliran
Mutazilah dan Asyariyah, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa munculnya
kedua aliran tersebut bukan karena kemelut politik, tetapi lebih ditekankan pada
masalah-masalah kepercayaan atau akidah.

DAFTAR PUSTAKA
Musthofa, H.M. Kholili, dan Karwadi, Tauhid (Yogyakarta: Pokja UIN, 2005)
Syahminan Zaini, Kuliah Aqidah Islam (Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas).
Yusran Asmuni, Pengantar Tauhid (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988).