Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

Pembinaan Siswa Kesenian Dan Kerajinan


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik
Penulisan Karya Ilmiyah Populer
Dosen Pengampu :

Drs. MASWAN, MM

Di Susun Oleh :
Nim :

UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA (UNISNU)


TAHUNAN JEPARA

2013

Pembinaan Siswa Kesenian Dan Kerajinan


Pendekatan dan metode pembelajaran kerajinan tangan untuk siswa SLTP
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan, bahwa pendekatan
kreatif-ekspresif dapat dijadikan andalan dalam pembelajaran Kerajinan tangan di
SLTP. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan, sebagai berikut:
Pertama,

pendekatan

kreativitas

akan

sangat berdaya guna dalam

kehidupan manusia secara universal. Mengingat kreativitas bukanlah kemampuan


bawaan, maka kreativitas dapat diajarkan secara bertahap sesuai dengan tingkat
kebutuhan siswa. Bilamana materi dasar kreativitas dapat diserap dan dipercayai
bermanfaat bagi kehidupan siswa, besar kemungkinan akan memiliki kesiapan
juga dalam menerime materi kreativitas lanjutan.
Kedua, kajian ilmu sosial membuktikan, bahwa proses kreativitas yang
tinggi memungkinkan individu atau kelompok sosial dapat memanfaatkan dan
mengembangkan
disosialisasikan.

sumber

daya

yang

ada

Kenyataan ini nampak

di

lingkungan

dengan

cara

dengan munculnya suatu kelompok

perajin pada suatu masyarakat yang kemudian menyebar pada kelompok sosial
lainnya.
Ketiga,

sebenarnva bidano kreativitas seluas kehidupan manusia itu

sendiri. Artinya kemampuan kreativitas tidak hanya diterapkan dalam bidang


kerajinan tangan, melainkan juga bidang kehidupan lain. Landasan kreativitas
adalah

kemampuan

kehidupan.

Semakin

memilih,
kuat

menentukan
daya

dan menerapkan gagasan dalam

kreativitas

menggali

dan

mengeksploitasi

kreativitas, maka akan menginspirasikan dalam bidang kreativitas di luar bidang


kerajinan tangan.
Keempat, mengingat karakteristik siswa SLTP yang masa puber dan juga
mulai kritis dan berani dalam mengemukakan pendapat, maka potensi untuk
menerapkan metode ekspresi bebas menjadi relevan dengan pendekatan dan juga
kondisi siswa itu sendiri. Metode ekspresi bebas menjadi modal dasar dalam
menerapkan prinsip kreativitas dalam pembelajaran kerajinan tangan di SLTP.

Modal ini hendaknya dimanfaatkan oleh guru dengan sebaik-baiknya agar tercapai
tujuan pembelajaran kerajinan tangan yang bernafaskan kreatif.
MEDIA DAN

SUMBER BELAJAR DALAM PROSES KEGIATAN

PEMBELAJARAN SENI
Fungsi media dan pembelajaran
1.

Kesimpulan semua ini, bahwa pengajaran dan pembelajaran adalah


serupa, tapi tidak sama. Ketidaksamaannya terletak pada keragaman cara
pendekatan dalam analisis hipotesis kondisi saat melakukan perencanaan
dan fakta kejadian hasil observasi pelaksanaan tindakannya. Pada saat
merencana, tekanan utama-utamanya pada pernyataan stimulus belajarnya
(faktor eksternal), sedang pada saat penetapan respon-respon penerimaan
belajar (faktor internal) yang telah direncanakan harus memperhitungkan
ragam realitasnya. Akhir penentuan keberhasilan suatu pembelajaran akan
ditentukan oleh kemampuan profesional seorang guru dalam mengatasi
permasalahan realitas pembe-lajarannya berupa ketepatan dan kecepatan
dalam pengambilan keputusan sebagai tindakan strategi terhadap berbagai
stimulus dan respon yang terjadi dalam proses pembelajarannya.

2.

Media pembelajaran
Komponen jenis materi atau bahan ajar sering juga disebut media
pembelajaran, dan merupakan salah satu bahan pada setiap jenis sumberbelajar. Melalui pendekatan pemahaman proses komunikasi pembelajaran,
Anda bisa menyimpulkan apa yang dimaksud dengan media pembelajaran,
yaitu segala sesuatu yang padanya terkandung sajian sumber materi pesan
ajar untuk disampaikan/disalurkan apakah melalui dirinya sendiri atau
dengan bantuan alat lain. Dalam fungsinya diupayakan bisa mampu
memfasilitasi penyampaian arahan pesannya sehingga terjadi suatu respon
penafsiran

pesannya

secara

berarti

melalui

perhatian,

penafsiran,

pengertian, dan keyakinan terhadap kebermaknaan materi pesannya.


3.

Sumber belajar
Sumber

belajar

merupakan

komponen

sistem pembelajaran.

Setiap

komponen mempunyai fungsi dan tugas dalam suatu proses komunikasi

pembelajaran, baik secara mandiri maupun dipadukan dengan komponen


lainnya. Komponen sistem ini bisa berupa orang pesan, materi/bahan,
teknik

cara,

fasilitas/hardware,

dan

setting

lingkungan,

baik

yang

direncanakan (by design) ataupun yang dimanfaatkan (by utilition). Semua


ini

biasanya

dimanfaatkan

secarabersama-sama

secara

sinergis

menyeluruh dan saling keter-gantungan dalam tindakan pembelajarannya


4. Tingkah

laku

belajar

melalui

media

didasarkan

pada

pendekatan

kecocokan dan ketepatan antara faktor keragaman simbol-simbol karakter


yang

dimiliki media

sehingga

mampu

merangsang

kegiatan-kegiatan

kelakuan belajar pada kemampuan hasil belajarnya. Faktor lainnya, yang


menentukan keberhasilannya adalah berhubungan dengan kepastian cara
dan teknik
dalam

dalam tindakan memanfaatkannya artinya, memungkinkan

merealisasikan

pesan-ajarannya.

Faktor

lainnya

adalah

tidak

mendasarkan pada kehebatan teknologi fisik peralatannya, tapi pada faktor


kemampuan

teknologi

keunggulan

dan

fungsinya

pada

proses

memfasilitasi kelakuan belajarnya dan kegiatan mengajarnya.


Untuk memenuhi faktor-faktor pertimbangan keragaman dalam penilaiannya
dan penentuan media pembelajaran ini dilakukan melalui langkah-langkah yang
mendasar, yaitu:
Menetapkan keunggulan kelompok karakter jenis media, sesuai tuntutan setiap
kemampwan belajar. Memilih karakter-karakter media dan sumber-belajar sesuai
dengan karakter tingkat kemampuan siswa. Menentukan fasilitas konten (isimateri) dan symbol simbol rangsangan yang bisa difasilitasi media dan sumberbelajar. Menyesuaikan dalam pemanfaatan antara situasi serta kondisi lingkungan
belajarnya dengan sistem penyajian media dan sumber-belajar yang dimanfaatkan.
Menetapkan lingkungan pengembangan media dan sumber-belajarnya dalam
hubungan

dengan

variasi variasi strategi pemanfaatan metode dan teknik

penyajiannya.
Fungsi Seni Sebagai Media Dan Sumber Pembelajaran Seni
1.

Pendekatan
pendekatan

pembelajaran
lingkungan,

seni

(kesenian)

yang

didasarkan

pada

tempat di mana proses belajar-mengajarnya

dilaksanakan,

diartikan

sebagai

suatu

pengembangan

kegiatan

pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi fasilitas serta


materi dan cara penyajiannya yang didasarkan pada tuntutan konteks
sosial-budaya

lingkungannya.

Dasar-dasar

pengembangan

media

pembelajaran diarahkan pada proses pengembangan perencanaan kegiatan


belajar-mengajarnya, dengan memperhatikan kejadian interaksinya untuk
saling mengerti dan saling memahami kondisi dan situasi masing-masing
pihak antara penyaji dan peserta-ajarnya. Kondisi dan situasi ini sangat
berhubungan dengan:
2.

kemampuan menciptakan proses kejadian dan terjadinya kegiatan belajarmengajar dari kedua belah pihak pada realitas kondisi sumber belajar dan
media belajar dari lingkungan pembelajarannya;

3.

pemilihan materi pesannya secara logis dalam urutan langkah-langkah


kejadian belajar-mengajarnya, baik pada struktur kode atau pada elemen
ide-ide materi pesannya, sesuai dengan tuntutan yang dibutuhkan siswa
sebagai pengetahuan barunya dari sumber media lingkungan masyarakat
sekitarnya; dan

4. penentuan dan pemilihan strategi penyajian yang tepat dalam cara atau
metode penyajiannya, serta dalam menciptakan dan memilih fasilitas
saluran

media

penyajiannya

dari kondisi dan

kemampuan

realitas

lingkungannya.
Media pembelajaran seni sebagai sumber materi bias dibagi dalam dua jenis
kelompok media, yaitu:
1.

Media lingkungan nyata, yang merupakan sumber belajar dari lingkungan


seni, seperti: seni-budaya masyarakat, tarian daerah, musik, seniman,
pelukis, kritikus, penari, koreografer, pakar-kesenian, suasana lingkungan
seni,

dan

sebagainya

yang

sifatnya dari lingkungan nyata.

Dalam

pembelajaran seni, jenis kelompok media ini banyak dimanfaatkan sebagai


sumber media pembelajaran kesenian.
2. Media pengganti yaitu media yang mengantikan materi lingkungan nyata
karena sesuatu hambatan/masalah efisiensi dan yang sifat materinya

abstrak dalam proses pembelajarannya, seperti: pada kognisi materi


pemahaman,

pengertian,

ilustrasi

gambaran

konsep,

bagan

struktur

kesenian daerah, dan sebagainya. Bentuk medianya bisa transparansi,


rekaman video, bagan-bagan, susunan notasi musik, bagan unsur seni-tari,
kaset audio rekaman lagu-lagu daerah, dan sebagainya.
Berbicara tentang pembelajaran seni (kesenian), semua faktor pengembangan
di atas ditujukan pada kegiatan dan kejadian proses belajar mengajarnya, baik
pada pembelajaran tari, musik, ataupun seni-rupa dan kerajinan. Pembelajaran
yang dimaksud adalah pada tingkat-jenjang pengajaran SLTP dan SMU atau PLS
pada tingkat yang sederajat.

Fungsi

proses

belajar-mengajar

seni

rupa

dan

kerajinan

dalam

pembelajaran kelas-formal adalah tertuju pada pengembangan pengalaman


ekspresi emosional dalam bersikap, berpikir, berperhatian dan berminat
(internal), melalui latihan kemampuan mewujudkan ekspresi esetika dalam
perwujudan rupa dwimatra atau trimatra (eksternal).
Dengan demikian kalau kita satukan tentang kesimpulan pengertiaan saluran
media pembelajaran seni-rupa dan kerajinan, adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan sebagai penyalur kondisi-kondisi stimulan latihan dalam belajar konsep
berpikir,

bersikap,

dan

berkemampuan

dalam

mengekspresikan

perasaan

emosional suatu objek estetika dalam suatu perwujudan bentuk dan rupa.
Kalau kita hubungkan dengan teori belajar yang menyatakan bahwa,
belajar tentang pengetahuan dan keterampilan baru, materi-belajarnya harus
dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga ada kesatuan
kebermaknaan dan keberartian dalam kehidupannya kelak, sehingga objek yang
dimanfaatkan dalam belajar akan lebih menjamin keberhasilan bila memanfaatkan
media objek sumber-materi yang ada di sekitar lingkungan yang mereka miliki.
Media sumber belajar dalam proses kegiatan pembelajaran
Seni merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat relatif. Definisi
mengenai tari dan musik yang banyak ditulis dalam buku-buku kesenian selalu
dikaitkan dengan kata-kata indah dan ritmis seringkali mengaburkan atau
membatasi nilai seni itu sendiri. Penilaian seni sebenarnya sangat tergantung pada

sudut

pandang

masing-masing

individu

atau

kelompok

masyarakat

yang

menilainya. Oleh karena itu, seni merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan
dalam kata-kata. Seni, baik tari maupun musik, sebaiknya dipandang dari tujuan
dan ide penciptanya.
Fungsi seni, baik tari maupun musik, sebagai media pembelajaran di
sekolah sangat besar. Melalui pembelajaran seni, siswa dapat meningkatkan
pengetahuan dan wawasan (kognitif) sehingga berdampak pada peningkatan
apresiasi mereka terhadap kebudayaan tradisional. Dengan kata lain, seni sebagai
media pembelajaran dapat berfungsi untuk konservasi atau pelestarian budaya
bangsa.
Seni juga dapat berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas dan musikalitas
siswa

yang

berlanjut

dengan

pengembangan

kreativitas

mereka

dalam

menciptakan kreasi-kreasi sendiri, baik tari maupun musik. Selain itu, seni juga
dapat berfungsi sebagal media pembelajaran dalam bidang studi-bidang studi lain
agar siswa dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih baik mengenai bahan
ajar yang disampaikan guru.

STRATEGI PEMBELAJARAN SENI RUPA


Konsep dasar strategi pembelajaran dan macam-macam pembelajaran
Pembelajaran merupakan upaya yang sistematis dan disengaja untuk menciptakan
kondisi-kondisi

agar

terjadi

kegiatan

belajar-membelajarkan

(pembelajaran).

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai garis besar haluan bertindak untuk
mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Ada empat unsur yang termuat di
dalamnya, yaitu:
(1) penetapan spesifikasi dan kualifikasi profil kepribadian lulusan,
(2) permilihan sistem pendekatan utama,
(3) pemilihan dan penetapan prosedur, metode dan teknik belajar-mengajar yang
efisien, efektif dan produktif,
(4) penetapan batas minimal ukuran (kriteria) keberhasilan dan ukuran standar,
sebagai bahan umpan balik penyempumaan sistem instruksional.

Setiap kegiatan pembelajaran selalu memiliki tujuan yang ingin dicapai


dan tujuan itu memiliki tahapan dari yang paling khusus/konkret sebagai sasaran
terdekat seperti tujuan pembelajaran khusus, sampai kepada yang paling umum
dan bersifat universal. Untuk merumuskan tujuan pembelajaran khusus, ada
rambu-rambu yang perlu dipahami dan diikuti, antara lain: menggunakan kata
kerja operasional, mengacu kepada perilaku yang dapat diamati dan diukur.
Terdapat bermacam jenis pembelajaran berdasarkan tipe kegiatan dan model
pembelajaran.

Menurut Sujana ada 4 tipe kegiatan belajar yakni belajar

pengetahuan, belajar keterampilan, belajar sikap, dan belajar pemecahan masalah.


Ada 3 model pembelajaran yang diuraikan di modul ini yakni model nonderektif,
model pengembangan ekspresi/kreatif, dan model pembelajaran terpadu yang
dipandang menarik dan relevan untuk digunakan guru.
Desain pembelajaran seni rupa untuk SLTP
Sebagai bagian dari mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian,
pendidikan seni rupa di SLTP bertujuan untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan siswa agar berkreasi dan menghargai kerajinan tangan dan kesenian.
Ada dua dimensi fungsi utama yang menjadi program kegiatannya yaitu, pertama:
membekali

seluruh

siswa

dengan

pengenalan,

apresiasi

dan

kesempatan

menyalurkan ekspresi-kreatif, dan kedua: untuk mengembangkan bakat khusus


kesenirupaan bagi anak berbakat senirupa.
Pengaturan materi dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi sekolah serta
tema yang berpusat pada minat umum remaja, seperti kegiatan individual,
aktivitas di tempat-tempat umum, aktivitas berkaitan dengan kebutuhan manusia,
dan aktivitas kelompok.
Ruang
ekspresi,

lingkup

menggambar

materi
ilustrasi,

meliputi

menggambar

menggambar

bentuk,

menggambar

huruf/reklame,

menggambar

perspektif, membuat patung, merancang dan mempersiapkan pameran. Materi


mencetak dan pengetahuan tentang perkembangan senirupa perlu dilaksanakan
dengan pengaturan guru.
Karakteristik siswa, perlu dipertimbangkan terutama menyangkut aspek:
emosi (yang tidak stabil), kreativitas (ditunjang oleh bertambahnya pengetahuan

dan kesadaran diri serta lingkungan), mental (haus untuk belajar. bereksperimen,
dan berpetualang. Bimbingan guru diperlukan bagi siswa yang kurang percaya
diri, akibat sikap kritis berlebihan atas kekurangmampuannya.
Pendekatan yang dianjurkan adalah pendekatan proses,
inspiratif,

pendekatan

demokratis,

pendekatan

iklim

pendekatan

sosio-emosional,

dan

pendekatan tingkah laku. Model pembelajaran yang dapat dipilih adalah model
nondirektif, model sinektik, dan model terpadu. Metode dapat dipilih dari
sejumlah metode umum dan khusus.
Desain

instruksional

perlu

dipelajari

untuk

menentukan

efektivitas

pembelajaran. Model desain instruksional yang dapat dipilih antara lain model
PPSI dan model desain instruksional dari Jerold Kemp. Kedua model tadi samasama memuat komponen tujuan, kegiatan belajar-mengajar, dan alat evaluasi serta
adanya umpan balik.
Di

antara

sifat-sifat/karakteristik

siswa

yang

utama

yang

perlu

diperhitungkan dalam pembelajaran adalah emosi yang sudah stabil, senang


kepada kegiatan ilmiah, idealis, memiliki daya kreatif. Pusat minat berkisar pada
dirinya dan orang dewasa, proses dan teknik, pekerjaan dan kehidupan.
Cara memilih pendekatan, metode dan model-model belajar hampir sama
dengan yang sudah dibahas pada kegiatan belajar 2. Pengembangan desain
instruksional dapat diperluas dengan model-model lain selain dari model PPSI dan
model

Kemp,

yaitu

model Banathy

dan

model dari Dick

&

Carey.

Desain pembelajaran seni rupa untuk orang dewasa di satuan-satuan pendidikan


luar sekolah
Studi psikologi menyimpulkan adanya perbedaan antara belajar pada anakanak

dengan belajar pada orang dewasa. Paedagogi mengkaji bagaimana

mendidik membelajarkan anak/siswa; andragogi adalah seni dan ilmu tentang


bagaimana

orang

dewasa

belajar.

Dalam

penggunaannya,

prinsip-prinsip

paedagogi dapat saja diberlakukan untuk orang dewasa dalam pendidikan luar
sekolah dan begitu juga sebaliknya, andragogi untuk para siswa dalam pendidikan
sekolah.

Tujuan belajar orang dewasa pada umumnya berkaitan dengan faktorfaktor: efisiensi pekerjaan, ekonomi, partisipasi dan tanggung jawab sebagai
warga negara, hubungan sosial, minat khusus, dan kesadaran diri. Tujuan belajar
seni rupa antara lain: pertama, sebagai hobi untuk mengimbangi kehidupan rutin
melalui kegiatan yang sesuai dengan minat/bakat; kedua meningkatkan kemahiran
seni rupa, yaitu bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan/kegiatan di bidang
kesenirupaan.
Prinsip belajar orang dewasa antara lain: kemandirian, belajar berdasar
pengalaman, kesiapan belajar berdasar kebutuhan, belajar berdasar kompetensi
fungsional. Berdasarkan asumsi: orang dewasa dapat belajar, belajar berlangsung
secara internal, ada prinsip belajar dan ada prinsip mengajar secara optimal yang
dapat dipelajari.
Pendekatan
emosional,

yang

pendekatan

dapat

digunakan

aktualisasi

diri,

adalah

pendekatan

pendekatan

iklim sosio

pemecahan

masalah,

pendekatan demokratis, pendekatan proses kelompok, dan pendekatan inspiratif.


Metode ceramah, debat, diskusi, simulasi, dan lain-lain terutama untuk belajar
pengetahuan dan apresiasi; metode eksperimen, metode meniru, kerja kelompok
(tipe group work dan collective painting), dan metode global, sesuai untuk
kegiatan belajar keterampilan. Pemilihan materi dan media dapat dirundingkan
antara warga belajar dengan fasilitator.
Ada dua kegiatan penting dalam menyusun desain pembelajaran, yaitu:
memilih model desain dan menganalisis kebutuhan belajar.

Model desain

pembelajaraan terkenal dalam andragogi adalah desain proses (Knowles dkk.).


Kebutuhan belajar yang berkaitan erat dengan minat dan motivasi perlu
dirumuskan secara spesifik. Kebutuhan belajar seni rupa meliputi kebutuhan
dalam aspek pengetahuan, apresiasi, keterampilan dan pemecahan masalah.
Dalam pelaksanaannya, cara-cara belajar menurut prinsip andragogi dapat
digunakan untuk anak-anak/siswa di sekolah. Sebaliknya: paedagogi untuk belajar
orang dewasa dalam pendidikan luar sekolah. Hal itu tergantung dari sasaran
belajar yang ingin dicapai.

KONSEP DAN STRATEGI PEMBELAJARAN KERAJINAN TANGAN


Hakikat strategi kerajinan tangan
Strategi dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan dan usaha sadar yang
dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuannya. Setiap individu atau kelompok
pada dasarnya memiliki strategi namun masing-masing memiliki perbedaanperbedaan. Perbedaan tersebut didasarkan pada dua alasan, yakni karena latar
belakang lingkungan; dan karena sistem pengetahuan yang dimilikinya.
Suatu

strategi

berdaya

guna

bilamana

memiliki

kejelasan

dalam

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya. Namun demikian tidak ada strategi


yang menetap (tidak berubah). Penerapan strategi senantiasa disesuaikan dengan
perubahan lingkungan masyarakat itu sendiri.
Belajar adalah suatu usaha atau tindakan yang direncanakan yang
ditujukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Potensi itu
berupa kognitif; afektif dan psikhomotorik. Pembelajaran yang menggunakan
strategi tertentu memungkinkan akan lebih mencapai tujuan dibandingkan dengan
yang tidak. Karena itu pembelajaran pada dasarnya usaha menerapkan strategi
yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan, yakni pengembangan potensi
peserta ajar secara optimal.
Kerajinan tangan adalah hasil ciptaan manusia dalam bentuk benda yang
memiliki daya tarik tersendiri yang dikerjakan melalui keterampilan tangan. Jenis
benda ini bermacam ragam, namun umumnya para ahli mengkategorikan dalam
dua bagian, yakni benda kerajinan untuk hiasan dan benda kerajinan praktis.
Benda kerajinan telah diproduksi oleh Bangsa Indonesia sejak puluhan ribu tahun
yang lalu. Saat ini masyarakat berusaha mengembangkannya untuk dijadikan
komoditi ekspor, karena dilihat dari bahan ataupun tekniknya memiliki daya tarik
tersendiri.
Desain pembelajaran kerajinan tangan untuk siswa SLTP
Pembelajaran Mata Pelajaran Kerajinan tangan di SLTP harus disesuaikan dengan
perkembangan dan karakter siswa pada umumnya. Usia 12-15 tahun secara
kejiwaan merupakan periode pancaroba, di mana gejolak kejiwaan tengah
berlangsung dengan cepat serta kebiasaan umum mereka membentuk geng.

Seorang guru perlu memahami keadaan yang demikian untuk kemudian dijadikan
dasar menerapkan strategi pembelajaran secara efektif dan efisien.
Sejalan dengan tujuan dan fungsi pembelajaran kerajinan tangan yang
berusaha mengembangkan keterampilan berkarya dan menumbuhkembangkan
cita rasa keindahan, maka pemilihan pendekatan untuk mencapai hal itu menjadi
penting. Pendekatan permisif yang menekankan pada ajakan secara halus yang
disertai dengan metode kerja kelompok dipandang dapat berdaya guna untuk
pembelajaran kerajinan tangan.
Demikian halnya dengan cara memilih bahan dan sumber belajarnya.
Bahan dan sumber belajar itu amat disarankan dengan memanfaatkan lingkungan
yang ada di sekitar. Hal ini didasarkan, bahwa pembuatan benda kerajinan yang
kreatif dan unik harus bertumpu pada anggapan bahan yang tidak berharga
menjadi berharga.
Model

mengajar

ekspresif-kreatif

sebagai

bagian

dari

sinektik

berkesesuaian dengan pandangan dan orientasi pembelajaran kerajinan tangan.


Dalam model ini siswa diajak untuk belajar mengungkapkan perasaan dan gejolak
emosinya itu dalam bentuk karya yang ekspresif. Anak juga dirangsang untuk
menciptakan benda kerajinan yang memiliki keanehan dan kebaruan sebagai
substansi dari kerativitas.
Dengan begitu pembelajaran kerajinan tangan yang kreatif hanya bisa
dilakukan oleh guru yang kreatif juga. Dengan begitu seorang guru dapat
memahami dan mendeteksi pada tingkatan kreativitas mana siswa itu berada
sebagai titik tolak penilaian pembelajaran.

EVALUASI PENDIDIKAN SENI

Evaluasi pendidikan seni musik


Evaluasi

pendidikan

seni

musik

adalah

penilaian

yang

dilakukan

berdasarkan pada penaksiran pada kebutuhan dan kemampuan masing-masing


siswa.

Evaluasi ini sangat penting dilakukan selama proses pembelajaran

berlangsung. Tujuan dilakukannya evaluasi adalah untuk memberi informasi pada


guru mengenai: apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, serta efektif atau tidak
efektifnya metode-metode dan materi-materi yang digunakan guru tersebut.
Informasi ini selanjutnya digunakan guru untuk pengembangan tujuan-tujuan
pembelajaran selanjutnya.
Dalam setiap program pembelajaran musik, guru diharapkan dapat memiliki
tujuan-tujuan pembelajaran, memberikan kesempatan-kesempatan kepada siswa
untuk beraktivitas musik secara aktif serta mengevaluasi peningkatan-peningkatan
pengetahuan dan kemampuan untuk mencapai tujuan keseluruhan yang tercantum
dalam kurikulum di masing-masing tingkat pendidikan.