Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH HUKUM ISLAM

PRINSIP-PRINSIP HUKUM EKONOMI SYARIAH

OLEH :

DINA GISTHIANDARI (114704031)


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU SOSIAL & HUKUM
S 1 ILMU HUKUM
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada saya. Sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul PRINSIP-PRINSIP HUKUM EKONOMI
SYARIAH.
Makalah ini berisikan tentang informasi HUKUM EKONOMI SYARIAH atau yang
lebih khususnya membahas penerapan hukum ekonomi syariah, karakteristik sertas perspektif
hukum ekonomi syariah dalam islam. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi
kepada kita semua tentang hukum ekonomi syariah.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Surabaya 27 Desember 2012

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR - iii


DAFTAR ISI - v
BAB I PENDAHULUAN - 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................3
1.3 Tujuan ....................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN 2.1 PRINSIP-PRINSIP DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS EKONOMI YANG
SESUAI DENGAN ISLAM
2.2 DASAR LANDASAN HUKUM ADANYA PRAKTIK EKONOMI DALAM
ISLAM
2.3 PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA DILIHAT DARI
BERBAGAI ASPEK
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA -

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Perkembangan ekonomi Islam saat ini secara terus menerus mengalami kemajuan
yang sangat pesat, baik di panggung internasional maupun di Indonesia. Perkembangan
tersebut meliputi kajian akademis di Perguruan Tinggi maupun secara praktik operasioanl
seperti yang terjadi di lembaga- lembaga perekonomian Islam seperti Perbankan Syariah,
Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah, Reksadana Syariah, Obligasi Syariah, Leasing
Syariah, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, Baitul Mal wat Tamwil, Koperasi Syariah,
Pegadaian Syariah, Dana Pensiun Syariah, lembaga keuangan publik Islam seperti
Lembaga Pengelola Zakat dan Lembaga Pengelola Wakaf serta berbagai bentuk bisnis
syariah lainnya.
Perkembangan tersebut diharapkan semakin melebar meliputi aspek dan cakupan
yang sangat luas, seperti kebijakan ekonomi negara, ekonomi pemerintah daerah,
ekonomi makro (kebijakan fiskal, public finance, strategi mengatasi kemiskinan serta
pengangguran, inflasi, kebijakan moneter), dan permasalahan ekonomi lainnya, seperti
upah dan perburuhan dan sebagainya. Dalam perkembangan di bidang lembaga
perekonomian agar mampu bersaing dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat bisnis
modern, diperlukan inovasi-inovasi produk dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip
syariah dalam operasionalnya.
Perkembangan tersebut juga berimplikasi kepada banyaknya masyarakat Indonesia
yang beraktivitas dalam ekonomi Islam, maka sangat dimungkinkan terjadinya sengketa
hukum di bidang ekonomi Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan aplikasi hukum Islam
dalam praktik ekonomi Islam di Indonesia. Praktik ekonomi Islam di bidang lembaga
perekonomian mengalami akselerasi yang signifikan, baik di dunia maupun di Indonesia.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah untuk makalah ini adalah :
1) Apa saja prinsip dalam melakukan aktivitas hukum ekonomi islam?
2) Apakah dasar landasan hukum yang melandasi munculnya praktik ekonomi
dalam islam?
3) Bagaimana perkembangan hukum ekonomi islam di indonesia jika dilihat dari
berbagai macam aspek?
1.2. TUJUAN
1) Agar lebih mengerti & memahami tentang prinsip yang dilakkukan dalam
menjalankan setiap aktivitas ekonomi yang sesuai dalam islam
2) Mampu memahami tentang berbagai macam dasr landsan hukum yang
mengatur tentang praktik dalam ekonomi islam
3) Mengetahui perkembangan dari hukum ekonomi islam dalam pandangan
berbagai aspek

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PRINSIP-PRINSIP DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS EKONOMI YANG


SESUAI DENGAN ISLAM
Dalam Hukum Ekonomi Islam, sebagai aturan yang ditetapkan syara, terdapat prinsipprinsip yang harus dipenuhi apabila sebuah interaksi antar sesama manusia yang berkaitan
dengan harta dan kepemilikan akan dilakukan. Prinsip-prinsip ini mesti dijadikan sebagai
ugeran (aturan) dalam melakukan aktivitas ekonomi.
Berdasar pada beberapa pendapat para fuqaha ketika mendeskripsikan fiqih almuamalah (baca: Hukum Ekonomi Islam), maka setidaknya ditemukan empat prinsip, yaitu:
a) Pada asalnya aktivitas ekonomi itu boleh dilakukan sampai ada dalil yang
mengharamkannya
Prinsip pertama mengandung arti bahwa Prinsip Hukum Ekonomi Islam
sebenarnya mengacu pada ketentuan-ketentuan umum yang termuat di dalam AlQuran dan Al-Hadits. Al-Quran secara substansi berbicara tentang masalah ini
terdapat di dalam surat Al-Baqarah ayat 29, Dialah Allah yang menjadikan segala
yang ada di bumi untuk kamu. Sedangkan Al-Hadits yang berkaitan dengan
prinsip ini adalah hadits yang diterima Salman Al-Farisi yang diriwayatkan
Turmudzi dan Ibn Majah, Rasulullah Saw bersabda, Apa yang dihalalkan Allah
adalah halal dan apa yang diharamkan Allah adalah haram dan apa yang
didiamkan adalah dimaafkan. Maka terimalah dari Allah pemaafan-Nya. Sungguh
Allah itu tidak melupakan sesuatu pun. (HR. Al-Bazar dan Al-Thabrani)
b) Aktivitas ekonomi itu hendaknya dilakukan dengan suka sama suka (an taradlin)
Prinsip Hukum Ekonomi Islam yang kedua memiliki arti seperti muamalah yaitu,
hendaknya dilakukan dengan cara suka sama suka dan tidak ada unsur paksaan
dari pihak manapun. Bila ada dalam sebuah aktivitas ekonomi ditemukan unsur
4

paksaan (ikrah), maka aktivitas ekonomi itu menjadi batal berdasarkan syara.
Prinsip muamalah ini didasarkan pada nash yang tertuang dalam Al-Quran surat
An-Nisa ayat 29, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.
c) Kegiatan ekonomi yang dilakukan hendaknya mendatangkan maslahat dan
menolak madharat (jalb al-mashalih wa daru al-mafasid)
Sedangkan prinsip yang ketiga adalah mendatangkan maslahat dan menolak
madharat bagi kehidupan manusia. Prinsip ini mengandung arti, aktivitas ekonomi
yang dilakukan itu hendaknya memperhatikan aspek kemaslahatan dan
kemadharatan. Dengan kata lain, aktivitas ekonomi yang dilakukan itu hendaknya
merealisasi

tujuan-tujuan

syariat

Islam

(maqashid

al-syariah),

yakni

mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Prinsip ketiga itu secara umum


didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 107, Dan tidaklah
Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Rahmat dalam ayat ini bisa diartikan dengan menarik manfaat dan menolak
madharat (jalb al-manfaah wa daf al-madharah). Makna ini secara substansial
seiring dengan yang ditunjukkan Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185, yang
menyatakan, Allah tidak menghendaki adanya kesempitan dan kesulitan
(musyaqah) dan surat An-Nisa ayat 28, Allah menghendaki supaya meringankan
bagimu, karena manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.
d) Dalam aktivitas ekonomi itu terlepas dari unsur gharar, kedzaliman, dan unsur
lainyangdiharapkanberdasarkansyara.
Sedangkan prinsip terakhir, aktivitas ekonomi harus terhindar dari unsur gharar,
dzhulm, riba dan unsur lain yang diharamkan berdasarkan syara.

Gharar artinya tipuan, yang diduga dapat meniadakan kerelaan dan juga
merupakan bagian dari memakan harta manusia dengan cara yang bathil.
Jual-beli gharar adalah jual-beli yang mengandung unsur ketidaktahuan
(jahalah) yang dapat membawa pada perselisihan, serta menyebabkan
kemadharatan dan meniadakan kemaslahatan manusia.

Zhulm (kedzaliman) adalah aktivitas ekonomi yang bila dilakukan


merugikan pihak lain, seperti menumpuk harta (ihtikar) yang dapat
5

mengganggu mekanisme pasar, jual-beli yang mengandung unsur


spekulasi seperti jual-beli munabadzah (jual-beli dengan saling melempar).

Adapun riba adalah satu tambahan atas pokok harta dalam urusan pinjammeminjam. Terdapat beberapa sebab, mengapa riba diharamkan.
1.

Karena Allah dalam Al-Quran dan Rasulullah Saw dalam Al-Hadits


jelas-jelas menyatakan, riba diharamkan

2. Karena esensi riba adalah perilaku orang untuk mengambil harta milik
orang lain dengan tidak seimbang
3. Bisa menyebabkan orang malas untuk berusaha, karena selalu
mengharapkan keuntungan dengan tanpa usaha yang riil
4.

Karena dengan adanya riba bisa menyebabkan hilangnya berbuat baik


terhadap sesama manusia

Dari uraian tersebut dapat dipahami, aktivitas ekonomi baru dianggap shahih
apabila memenuhi prinsip-prinsip Hukum Ekonomi Islam tersebut. Bila kativitas
ekonomi itu tidak memenuhi salah satu atau beberapa prinsip Hukum Ekonomi
Islam, maka akan tergolong pada aktivitas ekonomi yang ghayr al-shahih, baik
bathil atau fasad. Pemenuhan prinsip-prinsip itu dalam rangka menciptakan
aktivitas ekonomi yang dapat menegakkan kebenaran, keadilan, kemurahan, dan
kerelaan. Sehubungan dengan hal ini, maka dapat disimpulkan, prinsip Hukum
Ekonomi Islam ini pada hakikatnya adalah menegakkan kebenaran (shidq),
keadilan (adalah), kemurahan (samahah), dan kerelaan (taradhi), Wallaahu
alam.
2.2. DASAR LANDASAN HUKUM ADANYA PRAKTIK EKONOMI DALAM ISLAM
UU No 3 tahun 2006 tentang perubahan atas UU No 7/1989 tentang Peradilan Agama,
telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Februari 2006. Kelahiran
Undang-Undang ini membawa pengaruh besar terhadap perundang-undangan yang mengatur
harta benda, bisnis dan perdagangan secara luas. Pada UU No. 3 tahun 2006 pasal 49 point i
disebutkan, bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang orang yang beragama Islam di
bidang ekonomi syariah.

Amandemen ini membawa implikasi baru dalam sejarah hukum ekonomi Islam di
Indonesia. Selama ini, wewenang untuk menangani perselisihan atau sengketa dalam bidang
ekonomi syariah diselesaikan di Pengadilan Negeri yang notabene belum bisa dianggap
sebagai hukum syariah. Dalam realitasnya, sebelum amandemen UU No 7/1989 ini,
penegakkan hukum kontrak bisnis di lembaga-lembaga perekonomian Islam tersebut,
mengacu pada ketentuan KUH Perdata.
Ketika wewenang mengadili sengketa hukum ekonomi syariah menjadi wewenang
absolut hakim pengadilan agama, maka formalisasi hukum ekonomi Islam dalam bentuk
KHES (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah) yang komprehensip menjadi urgen. Seperti
yang dibuat pemerintahan Turki Usmani dengan nama Al-Majallah Al-Ahkam alAdliyah yang terdiri dari 1851 pasal, dimaksudkan agar hukum ekonomi syariah memiliki
kepastian hukum dan para hakim memiliki rujukan standar dalam menyelesaikan kasus-kasus
sengketa di dalam bisnis syariah. Hal ini juga menjadi signifikan manakala masalah asuransi
syariah, reasuransi, pegadaian syariah, reksadana syariah, obligasi syariah, pasar modal
syariah, dan berbagai institusi lainnya belum memiliki payung hukum yang kuat.
Kalaupun ada aturan-aturan hukum tersebut, masih tersebar ke berbagai tempat.
Seperti Fatwa Dewan Syariah Nasional, regulasi BI, kitab-kitab fiqih dan fatwa-fatwa ulama
klasik dan kontemporer. Sehingga belum menjadi satu dalam bentuk kodifikasi. Realitas
inilah yang dijawab Mahkamah Agung dengan menghadirkan KHES. Problem regulasi ini
sangat disadari oleh Mahkamah Agung. Melalui SK Mahkamah Agung Nomor 097/SK/
X/2006 telah ditunjuk sebuah tim (Kelompok Kerja) yang bertugas menyusun Kompilasi
Hukum Ekonomi Syariah (KHES).
Kehadiran KHES berdasarkan PERMA No 2 Tahun 2008 tanggal 10 September,
layak diapresiasi dan direspon konstruktif dengan melakukan studi kritis terhadap materi
yang ada di dalam KHES yang berisi 4 buku, 43 bab, 796 pasal. Buku I tentang Subyek
Hukum dan Amwal (3 bab, 19 Pasal), Buku II tentang Akad (29 bab, 655 Pasal). Buku III
tentang Zakat dan Hibah (4 bab, 60 Pasal), dan Buku IV tentang Akuntansi Syariah (7 bab,
62 Pasal). Di antara beberapa hal yang perlu dikritisi adalah pertama, posisi KHES dalam
konteks bangunan hukum nasional. Kedua, paradigma dan prinsip yang menjadi pijakan
dalam perumusan KHES. Ketiga, pendekatan dan metode istinbat yang dilakukan tim KHES
dalam melahirkan hukum ekonomi syariah. Keempat, hubungan KHES dengan undangundang terkait. Kelima, kedudukan dan kewenangan Dewan Syariah Nasional (DSN) pasca
7

lahirnya KHES. Keenam, apakah aturan-aturan hukum di dalam KHES memberikan ruang
yang cukup luas bagi perkembangan ekonomi syariah atau malah sebaliknya akan membatasi
ruang gerak ekonomi syariah.
Pertumbuhan lembaga perekonomian Islam di Indonesia tersebut, juga dibarengi
dengan dikeluarkannya regulasi atau hukum yang mengatur operasionalnya. Berturut turut
sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia sebagai lembaga perekonomian Islam pertama,
pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan perundang-undangan seperti, UU No. 7
Tahun 1992 tentang perbankan, yang telah direvisi dalam UU No. 10 tahun 1998. Dalam UU
tersebut diatur dengan rinci landasan hukum dan jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan
dan diimplementasikan oleh perbankan syariah. Selain itu juga memberikan arahan bagi
perbankan konvensional untuk membuka cabang syariah (dual banking system) atau bahkan
melakukan konversi.
Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana telah
diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia, yang mengatur tentang
kewajiban dan tanggung jawab BI sebagai otoritas moneter dalam mengatur kebijakan bank
syariah dan bank konvensional.
Kemudian perkembangan tersebut disusul pada 7 Mei 2008 telah disahkan UU Nomor
19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan perkembangan yang
sangat signifikan atas hukum perbankan syariah ditandai dengan disahkannya UU nomor 21
tahun 2008 tentang perbankan syariah. Dalam UU tersebut perbankan syariah
dimungkinkan menerbitkan produk atau melakukan kegiatan usaha yang lebih luas, termasuk
kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan.
2.3. PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA DILIHAT DARI BERBAGAI
ASPEK
Hukum ekonomi Islam secara umum belum dipraktikkan dan belum banyak yang
menjadikan adat-istiadat umat Islam. Hukum ekonomi Islam secara kelembagaan hanya
dipraktikkan lewat lembaga perekonomian yang secara hukum memang harus ada yang
mengaturnya karena menyangkut hak-hak dan kepentingan banyak pihak dan dalam skala
yang lebih besar. Sehingga perbedaan tersebut juga berimplikasi terhadap perbedaan proses
positifisasinya.
8

Sehingga positifisasi tersebut berangkat dari gejala institusionalisasi hukum ekonomi


Islam yang secara adat belum banyak dipraktikkan oleh seluruh umat Islam. Kalau melihat
langsung pada praktiknya, justru masih banyak praktik ekonomi umat Islam yang masih
menyimpang dari hukum Islam dan semakin mengkristal menjadi semacam kebiasaan.
Bahkan lembaga-lembaga perekonomian Islam yang menjadi barisan terdepan dalam
penegakan hukum ekonomi Islampun juga belum sepenuhnya mengaplikasikannya.
Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa hasil survei, ternyata bank-bank syari'ah pada
umumnya, lebih banyak menerapkan murabahah sebagai metode pembiayaan mereka yang
utama, meliputi kurang lebih tujuh puluh lima persen (75%) dari total pembiayaan mereka.
Sementara itu, hasil penelitian di BMI Semarang pada tahun 1999, sekitar tujuh puluh
delapan persen (78%) dari total pembiayaannya adalah pembiayaan murabahah. Padahal,
sebenarnya bank syari'ah memiliki produk unggulan, yang berbasis profit and loss sharing
(PLS), yaitu mudharabah dan musyarakah.
Aplikasi hukum Islam dalam praktik ekonomi Islam di Indonesia belakangan ini, kurang
banyak menggali aspek-aspek sosiologis umat Islam dan legal opinion di kalangan pakar,
ulama, pesantren, dan akademisi. Yang dilibatkan hanya sebagain kecil saja, meskipun dalam
konteks ini tidak bermaksud negatif. Lain halnya ketika penyusunan KHI sebelumnya yang
banyak melibatkan para ulama (kiai), pesantren, akademisi fakultas syariah beberapa IAIN
ternama di Indonesia, dan praktisi.Aplikasi hukum Islam dalam praktik ekonomi Islam di
Indonesia lainnya adalah penyusunan fatwa DSN MUI.
Para praktisi ekonomi Islam, masyarakat dan pemerintah (regulator) membutuhkan
fatwa-fatwa dari MUI berkaitan dengan praktik dan produk lembaga perekonomian Islam.
Perkembangan lembaga tersebut yang demikian cepat harus diimbangi dengan fatwa-fatwa
hukum Islam yang valid dan akurat, agar seluruh produknya memiliki landasan yang kuat
secara syariah. Untuk itulah Dewan Syariah Nasional (DSN) dilahirkan pada tahun 1999
sebagai bagian dari Majlis Ulama Indonesia.
Ada kaidah-kaidah yang secara spesifik mendasari banyak fatwa DSN-MUI, yaitu :
a. Tafriq al-halal nin al-haram
Kaidah ini relevan dikembangkan di bidang ekonomi syariah, mengingat bahwa
kegiatan ekonomi syariah belum bisa terlepas sepenuhnya dari sistem ekonomi konvensional
9

yang ribawi. Paling tidak, lembaga ekonomi syariah akan berhubungan dengan ekonomi
konvensional yang ribawi dari aspek permodalan, pengembangan produk, maupun
keuntungan yang diperoleh. Kaidah tafriq al-halal min al-haram (pemisahan unsur halal dari
yang haram) dapat dilakukan sepanjang yang diharamkan tidak lebih besar atau dominan dari
yang halal. Bila unsur haram dan halal telah dapat diidentifikasi maka unsur haram harus
dikeluarkan.
b. Iadah al-nadhar
Pembaruan

hukum

ekonomi

syariah

juga

dapat

dikembangkan

dengan

mengedepankan teori iadah al-nadhar (telaah ulang) dengan cara menguji kembali alasan
hukum. Telaah ulang ini dilakukan, karena hukumnya telah berubah atau karena beberapa
pendapat para ulama terdahulu dipandang tidak aplikatif dan tidak memadai dengan kondisi
kontemporer. Pendapat itu dianggap sudah tidak cocok lagi untuk dipedomani, karena sulit
diimplementasikan. Salah satu cara yang bisa dipakai untuk melakukan telaah ulang adalah
dengan menguji kembali pendapat yang mutamad dengan mempertimbangkan pendapat
hukum yang selama ini dipandang lemah (marjuh bahkan mahjur), karena adanya
illahhukum yang baru dan atau pendapat tersebut lebih membawa kemaslahatan.
Selanjutnya pendapat tersebut dijadikan pedoman (mutamad) dalam menetapkan hukum.
Sejalan dengan perkembangan pesat sistem ekonomi syariah di Indonesia wacana
akan upaya kodifikasi hukum ekonomi syariah memang sudah sejak lama bergulir di
kalangan para pengambil kebijakan lembaga peradilan hukum. Secara sederhana kodifikasi
merupakan suatu upaya penghimpunan peraturan perundang-undangan yang kemudian
disusun ke dalam sebuah kitab perundang-undangan. Sehingga pengertian dari kodifikasi
hukum ekonomi syariah itu sendiri berarti adalah suatu upaya penghimpunan peraturan
perundang-undang yang mengatur aspek-aspek hukum ekonomi syariah ke dalam sebuah
kitab pedoman hukum ekonomi syariah yang selanjutnya kita sebut sebagai KUHES.
Kehadiran ekonomi syariah di Indonesia tidak hanya semata-mata meperkaya
khazanah intelektual para ilmuwan, tetapi juga turut serta menjadi solusi terbaik bagi
perkembangan dan pembangunan suatu negara, karena ia menjadi alternatif sistem
perekonomian tidak saja di Indonesia tetapi juga dunia dan kelanjutan peradaban umat
manusia. Hanya saja ekonomi Islam itu harus terus dikaji secara mendalam sesuai dengan

10

perkembangan zaman, tanpa harus melanggar norma-norma atau etika yang diajarkan AlQur-an dan As-Sunnah.

BAB III
KESIMPULAN
1) Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) sebagai mufti bidang
ekonomi syariah, di mana dalam proses penetapan fatwanya telah banyak melakukan
terobosan-terobosan memecah kebekuan dengan melakukan pembaruan hukum
ekonomi syariah.
2) Berdirinya sejumlah lembaga baru di pemerintahan misalnya Direktorat Perbankan
Syariah di Bank Indonesia, Direktorat Pembiayaan Syariah di Departemen Keuangan,
dan berbagai biro di Bapepam.
3) Disahkan berbagai peraturan perundangan, misalnya Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008
Tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Berbagai Peraturan Bank Indonesia,
Peraturan Bapepam dan peraturan-peraturan lainnya.Sejumlah Lembaga Keuangan
Syariah, baik bank ataupun non bank.
4) Dalam hukum Islam dikenal teori urf atau adat, sebagai salah satu metode istinbat
hukum. Dalam teori ini hukum dirumuskan dengan mempertimbangkan adat istiadat
masyarakat. Sehingga diperlukan fleksibelitas dalam hukum ekonomi Islam yang
dikenal dengan kaidah,Al-Asl fi al-Muamalah al-Ibahah Illa ay-Yadulla Dalilan
ala Tahrimih ( Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya)
5) Yurisprudensi terhadap materi putusan hukum ekonomi syariah dapat juga diambil
dari penerapan hukum-hukum adat di dalam materi putusan hukum pengadilan negeri
yang tentunya telah banyak diinspirasikan oleh perubahan aktivitas ekonomi
masyarakat adat Indonesia seluruhnya tanpa melupakan kaidah ilmu ushul fiqih dan
qawaid fiqih yang menjiwainya.

11

PENUTUP

Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan
judul makalah ini.
Saya banyak berharap para pembaca yang budiman untuk memberikan kritik dan
saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini berguna
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

12

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com
http://pa-purworejo.go.id
kompas.com

13

14