Anda di halaman 1dari 613

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

SEMINAR NASIONAL
Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro 2013

STE 2013

"Pemanfaatan Ict Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran


dan Pemerataan Akses Pendidikan
dalam Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi"
Surabaya, 4 Desember 2013

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknik
Universitas Negeri Surabaya

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

SAMBUTAN KETUA PANITIA STE 2013


Yang terhormat:
Rektor Universitas Negeri Surabaya
Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya
Para pembicara Stadium Generale
Para panitia pengarah
Para tamu undangan
Para dosen, guru, mahasiswa dan semua peserta seminar yang berbahagia
Assalamu Alaikum Wr. Wb.,
Selamat datang di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan kepada kita
semua sehingga dapat menghadiri Acara Seminar ini dalam keadaan sehat wal afiat. Seminar ini
diadakan pada hari Rabu, 4 Desember 2013 yang bertempat di kampus tercinta Fakultas Teknik Unesa
Ketintang Surabaya. Seminar ini merupakan kegiatan rutin yang akan diadakan tiap 2 tahun sekali.
Seminar ini merupakan bagian dari kegitan Dies Natalis Unesa yang ke-49 yang bertemakan
"Pemanfaatan Ict Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran dan Pemerataan Akses Pendidikan
dalam Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi". Tujuan pelaksanaan Seminar Teknik Elektro
2013 adalah sebagai forum komunikasi hasil penelitian, media berbagi (sharing) informasi dan
pengalaman antara pihak Perguruan Tinggi, Kement er ian Pendidikan dan Kebudayaan,
Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Dunia Usaha/Industri (DU/DI) maupun Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK), yang terkait dengan bidang teknik elektro dan menjajaki kemungkinan terbentuknya
asosiasi para pakar, peneliti dan pemerhati dalam bidang teknik elektro serta para pakar pendidikan
teknologi dan kejuruan pada umumnya, dan pendidikan teknik elektro pada khususnya.
Makalah yang akan dipresentasikan pada seminar ini adalah 87 makalah yang berasal dari kurang
lebih 18 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang dibagi menjadi makalah yang berhubungan
dengan Pendidikan Teknik Elektro, Teknik Elektro dan Informatika.
Kami selaku ketua panitia, mengucapkan terimakasih kepada para pembicara Stadium Generale, para
pemakalah, peserta, anggota panitia pengarah, para sponsor dan seluruh anggota panitia pelaksana
yang telah memberikan konstribusinya, sehingga STE 2013 dapat berjalan dengan sukses. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada pihak Universitas dan Fakultas Teknik yang telah mendukung
pelaksaan acara ini. Selaku ketua panitia kami juga memohon maaf bila dalam pelaksanaan seminar
ini terdapat kesalahan dan segala sesuatu yang tidak berkenan. Semoga Seminar ini dapat
memberikan alternatif solusi bagi permasalahan-permasalahan sosial yang telah berkembang saat ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Surabaya, 4 Desember 2013
Dr. IGP. Asto Buditjahjanto, S.T.,M.T.
Ketua Panitia STE 2013

iii

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

SAMBUTAN REKTOR UNESA


Assalamu Alaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya
kepada kita. Saya mengucapkan selamat datang kepada peserta Seminar Teknik Elektro 2013 yang
berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, peneliti, praktisi pendidikan, SMU dan SMK di Indonesia.
Tujuan pelaksanaan Seminar Teknik Elektro 2013 adalah sebagai forum komunikasi hasil
penelitian, media berbagi (sharing) informasi dan pengalaman antara pihak Perguruan Tinggi,
Kement er ian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Dunia
Usaha/Industri (DU/DI) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang terkait dengan bidang
Teknik Elektro dan menjajaki kemungkinan terbentuknya asosiasi para pakar, peneliti dan pemerhati
dalam bidang Teknik Elektro serta para pakar pendidikan teknologi dan kejuruan pada umumnya,
dan Pendidikan Teknik Elektro pada khususnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini membawa
dampak yang sangat luas dalam semua sektor kehidupan. Dunia pendidikan merupakan salah satu
sektor yang mengalami pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan teknologi
khususnya teknologi informasi dan komputer (TIK). Sebagai lembaga yang akan memproses dan
menghasilkan lulusan, dunia pendidikan dituntut untuk mampu merencanakan, memprediksi,
mengembangkan, menganalisis dan mengevaluasi ilmu dan teknologi yang sesuai dengan
karakteristik dunia pendidikan, maka pada kesempatan ini Seminar Teknik Elektro yang merupakan
bagian dari kegiatan Dies Natalis Unesa ke-49 diharapkan dapat memberikan alternatif solusi akan
permasalahan-permasalahan diatas.
Dalam kesempatan ini Unesa berterimakasih kepada semua pihak (Jurusan Teknik Elektro Fakultas
Teknik, Panitia STE, peserta seminar, sponsor dan semua pihak yang mendukung acara ini). Akhir
kata, kami mengucapkan selamat berseminar dan sampai jumpa pada Seminar STE 2015 dua tahun
kedepan.
Wassalamu Alaikum, Wr. Wb.
Surabaya, 4 Desember 2013
Prof. Dr. Muchlas Samani
Rektor Unesa

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

STEERING COMMITEE
Advisory Committee
Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd
Drs. Tri Wrahatnolo, M.Pd., M.T.
Prof. Dr. Eko Hariadi
Puput Wanarti, S.T, M.T.

Technical Program Committee


Prof. Dr. Mohamad Nur (Unesa)
Prof. Dr. Supari Muslim, M.Pd (Unesa)
Prof. Dr. Ismet Basuki, M.Pd. (Unesa)
Prof. Dr. Soenarjo, M.Pd. (Unesa)
Prof. Dr. Munoto, M.Pd. (Unesa)
Dr. Meini Sondang Sumbawati, M.Pd. (Unesa)
Dr. Tri Riyanto, M.Pd, M.T. (Unesa)
Dr. Bambang Suprianto, M.T (Unesa)
Dr. Agus Budi Santoso, M.Pd (Unesa)
Dr. Euis Ismayati, M.Pd (Unesa)
Dr. I.G.P.A. Buditjahjanto, S.T.,M.T (Unesa)
Dr. Son Kuswadi, M.Eng (PENS)
Dr. Endra Pitowarno (PENS)
Prof. Dr. Achmad Jazidie (ITS)
Dr. Mohamad Hariadi (ITS)
Dr. I Ketut Eddy Purnama, ST, MT (ITS)
Dr. Achmad Affandi (ITS)
Dr. Gamantyo Herdiantoro (ITS)
Dr. Joko Purwanto (ITS)
Dr. Joko Lianto (ITS)
Dr. Royyana Muslim Ijtihadi, S.Kom, M.Kom (ITS)
Dr. Tohari Ahmad, S.Kom, MIT (ITS)
Dr. M. Aziz Muslim (Unbraw)
Dr. Drs. Bambang Supriyanto, M.T.(Unesa);
Dr. Lilik Anifah, S.T., M.T. (Unesa);

vii

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

SUSUNAN PANITIA

Penasehat
Penanggung Jawab

:
:

Drs. Tri Wrahatnolo M.Pd, MT


Puput Wanarti R, ST,MT

Ketua Panitia
Sekretaris

:
:

Bendahara

Dr. IGP Asto Budi T


Hapsari Peni A, S.Si, MT
Asmunin S.Kom
Ignatius Destuardi, S.T.,M.T.
Ir. Imam Agung

Sie Makalah dan Prosiding

Dr. Lilik Anifah, S.T, M.T.


Dwi Fatrianto S., S.Kom, M.Kom
Agus Prihanto, S.T.M.Kom

Sie Publikasi dan Dokumentasi

Wiyli Yustanti, S.Si, M.Kom


Joko Catur Condro, S.Si, M.T.
Aditya Prapanca, S.T., M.Kom.

Sie Perlengkapan dan Keamanan

Drs. J.A. Pramukantoro, M.Pd


Ari Kurniawan, S.T.,M.T.
Nur Kholis, S.T., M.T.

Sie Acara dan Persidangan

Subuh Isnur H., S.T., M.T.


Salamun Rohman N, S.Kom.,M.Kom
I Kadek Dwi Nuryana. S.T., M.Kom.

Sie Penggalangan Dana

M. Syariffudin Zuhri, S.Pd., M.T.


Dedy Rahman, S. Kom, M.Kom
I.G.L. Putra Eka P., S.T., M.M

Sie Konsumsi

Dra. Indrati Agustinah


Aries Dwi Indriyanti, S.Kom., M.Kom
Nurhayati, S.T., M.T.

ix

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

KEYNOTE SPEAKERS
Ir. AnangTjahyono, M.T.
Direktur Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan
(Judul Makalah yang dipresentasikan)

Dr. Ir. Ari Santoso, DEA


Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi Pendidikan
(Judul Makalah yang dipresentasikan)

Dr. Ir. Endra Pitowarno, M.Eng


Pakar Robotika
(Judul Makalah yang dipresentasikan)

xi

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

DAFTAR ISI
SAMBUTAN KETUA PANITIA STE 2013 ................................................................................... iii
SAMBUTAN REKTOR UNESA ......................................................................................................v
STEERING COMMITEE ............................................................................................................. vii
SUSUNAN PANITIA ...................................................................................................................... ix
KEYNOTE SPEAKERS ................................................................................................................. xi
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. xiii
MAKALAH UTAMA .......................................................................................................................1
Pengembangan Nano-Satellite di PENS sebagai Wadah Pendukung Penelitian Infra Struktur Nasional
dalam Penguasaan TIK di bidang Satelit dan Keantariksaan.................................................................... 3
Endra Pitowarno, Dr. Ir. M.Eng ................................................................................................................. 3

MAKALAH PENDIDIKAN .............................................................................................................9


Tes Kinerja (Performance Test) Dalam Bidang Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan ......................... 11
Supari Muslim ........................................................................................................................................ 11
Identifikasi Kompetensi Lulusan D3 Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta Mengacu
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ................................................................................................ 25
Muhamad Ali ......................................................................................................................................... 25
Pemanfaatan Perangkat Lunak Open Source untuk Mendukung KBM dan Manajemen Sekolah....... 29
Inte Christinawati Buull1, Immanuel Panjaitan2 .................................................................................. 29
Pengembangan Perangkat Untuk Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Berorientasi Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan Standar Industri Bidang Perbaikan
Motor Listrik (PML)................................................................................................................................. 35
Joko1, Gatot Widodo2, Subhan3 ............................................................................................................... 35
Pengembangan Standar Kompetensi Perbaikan Motor Listrik Berbasis SKNI dan Kinerja di Industri
Listrik ........................................................................................................................................................ 47
Joko1, Gatot Widodo2, Subhan3 ............................................................................................................... 47
Pengembangan E-book Interaktif Mata Kuliah Elektronika Digital ....................................................... 55
Lusia Rakhmawati 1, Dhimas Ardhiansyah Pratama 2............................................................................... 55
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menerapkan Model Pembelajaraan Kooperatif Tipe Group
Investigation (Gi) Berbantuan Software Multisim Untuk Mencapai Kompetensi Mata Pelajaran Dasar
Kompetensi Kejuruan, Keterampilan Proses dan Keterampilan Sosial (Studi pada Kelas X SMK
Negeri 3 Boyolangu Tulungagung) ........................................................................................................... 63
Nofida Suwita Sari1, Ismet Basuki2 ......................................................................................................... 63
Kompetensi Mahasiswa Unesa Sebagai Calon Guru Dalam Merencanakan Pembelajaran .................. 71
Meini Sondang Sumbawati1, Sudarmono2 ............................................................................................... 71
Pengembangan Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran Kooperatif sebagai
Upaya Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa .................. 77
Puput Wanarti Rusimamto1, Achmad Imam Agung2, Indrati Agustinah3, Yosia Daniel4 ........................... 77
Menggubah Model Pembelajaran Konstruktivistik (Salah Satu Alternatif Mengatasi Masalah
Pembelajaran) ........................................................................................................................................... 83
Sudarmono ............................................................................................................................................. 83
Pengaruh Pembelajaran Active Knowledge Sharing terhadap Hasil Belajar Siswa pada Standar
Kompetensi Memahami Sifat Dasar Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya ...................................... 91
Adi Sunaryo1, Rr. Hapsari Peni2.............................................................................................................. 91
Pengembangan media pembelajaran aljabar relasional untuk perancangan query berbasis os android99
Wiyli Yustanti1, Bima Kharisma2 ............................................................................................................ 99

xiii

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Teori Rancangan Pembelajaran di Kelas dengan Pembelajaran Mandiri Berbasis Teknologi


Pembelajaran .......................................................................................................................................... 107
Indrati Agustinah .................................................................................................................................. 107
Media Pembelajaran Berbasis ICT*) ...................................................................................................... 119
Godlief Erwin Semuel1 , I Made Parsa2 ................................................................................................. 119
Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Mahasiswa Melalui Memberian Tugas Proyek Secara Mandiri
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak Mahasiswa D3 Manajemen Informatika Jurusan Teknik
Elektro Unesa .......................................................................................................................................... 123
Rina Harimurti ..................................................................................................................................... 123
Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa yang Memiliki
Motivasi Berprestasi Berbeda pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor .......... 129
Alfian Nur Dzul Qurnain1, Rr. Hapsari Peni A2 ..................................................................................... 129
Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran Matematika untuk Materi Bilangan dengan
Menggunakan Flash ................................................................................................................................ 139
Yuni Yamasari ..................................................................................................................................... 139
Pemanfaatan Software Animasi Kimia sebagai Media Pembelajaran pada Materi Larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit Mahasiswa Semester 1 Jurusan Teknik Elektro Unisla ........................................... 147
Cicik Herlina Yulianti .......................................................................................................................... 147
Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika ...................................................................... 153
Wiryanto1 ............................................................................................................................................. 153
Rancang Bangun Perangkat Pembelajaran Robotika Berbasis Computer Interactive Learning And
Computer Assisted Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Peserta Didik .................................. 161
M. Syariffuddien Zuhrie 1, Agung Prijo Budijono 2, Adam Ridhianto 3 ................................................... 161
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Blended Learning pada Standar Kompetensi
Mengolah Hidangan Kontinental untuk Meningkatkan Hasil ............................................................... 167
Nelis Susanti1, Luthfiyah Nurlaela2 , Ekohariadi3 .................................................................................. 167
Pengembangan Modul Ajar Pemrograman Komputer Dengan Mengintegrasikan Algoritma
Pemrograman Berbasis Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Ketrampilan Peserta Didik
................................................................................................................................................................. 173
Anita Qoiriah1, Bambang Sujatmiko2 .................................................................................................... 173

MAKALAH ELEKTRO ............................................................................................................... 177


Robot Pelacak Objek Bola Berbasis Sensor Kamera CMUCam3......................................................... 179
Didik Hariyanto1, Kuncoro Ariyo Wibowo2 .......................................................................................... 179
Karakateristik Potensi Energi Surya dan Energi Angin sebagai Alternatif dalam Menunjang Program
Agropolitan di Propinsi Gorontalo ......................................................................................................... 187
Lanto Mohamad Kamil Amali1, Dedi Ferinawan2 .................................................................................. 187
Prediksi Redaman Hujan Spesifik pada Kanal Gelombang Milimeter untuk Frekuensi 10 50 GHz. 195
Naemah Mubarakah1, Soeharwinto2, Fakhruddin Rizal B.3, Candra V. Tambunan 4 ................................ 195
Double Boost Converter Sebagai Optimalisasi Baterai Kendaraan Listrik........................................... 201
Ainur Rofiq1, Era Purwanto2, Aditya Rachman 3 .................................................................................... 201
Purwarupa Kontrol Robot Inverted Pendulum menggunakan Fuzzy Logic.......................................... 207
1,2)

Ahmadi

1)

M. Rameli Rusdhianto Effendie1) ...................................................................................... 207

Pemanfaatan Cyclone sebagai Alternatif Penerangan ............................................................................ 215


Achmad Imam Agung1, Tim Ghora Vira A 2.......................................................................................... 215
Pemanfaatan Sistem Inferensi Fuzzy untuk Penentuan Tingkat Kerawanan Penyebaran Leptospirosis
di Kabupaten Bantul ............................................................................................................................... 219
Ariesta Damayanti1, Syamsumin Kurnia Dewi2 ..................................................................................... 219
Analisis Kedip Tegangan Akibat Pengasutan Motor Induksi (Aplikasi di Perusahaan Pengolahan Air
Bersih di Kota Medan) ............................................................................................................................ 225
Army Frans Tampubolon 1, Syiska Yana2, Riswan Dinzi3, Zulkarnaen Pane4 .......................................... 225
xiv

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Design of Model Free Adaptive Fuzzy Controller for Speed Control of BLDC Motor ......................... 229
Sabat Anwari........................................................................................................................................ 229
Perancangan Kontrol PID pada Motor DC Shunt ................................................................................. 235
Irwan Kusuma Nugraha1, Ainur Rofiq Nansur, ST, MT3, Dr.Ir.Era Purwanto, M.Eng 2 .......................... 235
Ekstraksi Objek Citra Berbasis Pengaturan Threshold Alpha Matting Adaptive Menggunakan Analisa
Spectral ................................................................................................................................................... 241
Jarir1, Mochamad Hariadi2 .................................................................................................................... 241
Rancang Bangun Rangkaian Penstabil Tegangan Generator Sinkron Tiga Fasa 2 kVA Menggunakan
Peyearah Semi Terkontrol Satu Fasa Sebagai Rangkaian Suplay Eksitasi dengan Kontroler PI ........ 247
1
Noor Muttaqin Arrozzy, 2Gigih Prabowo, 3Renny Rakhmawati ............................................................ 247
Rancang Bangun Alat Selaras Nada Gamelan Pelog Jawa Timuran .................................................... 255
Joko Catur Condro Cahyono *) ............................................................................................................. 255
Pengendalian Tegangan Pada Koordinasi Multi AVR Menggunakan Metode Sensitivitas .................. 259
Subuh Isnur Haryudo ............................................................................................................................ 259
Pendekatan Maju (Forward) Dynamic Programming Untuk Permasalahan MinMax Knapsack 0/1 .. 265
Ani D Rahajoe1 , Arif Arizal2 ................................................................................................................ 265
Duplikasi dan Extraksi Website atau Blog Secara Otomatis ................................................................. 271
Zet Yulius Baitanu1, Andrea Stevens Karnyoto2 .................................................................................... 271
Membangun Aplikasi Hasil Penjualan Tiket Pesawat Berbasis Web Menggunakan YII Framework . 281
Zet Zulius Baitanu1, I Made Parsa2, I Nyoman Bagia3 ........................................................................... 281
Pengembangan Sistem Pakar Untuk Menentukan Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman Kopi
Menggunakan Algoritma Fuzzy Ruled Based ........................................................................................ 293
Agus Hariyanto1, Surateno2, M. Munih DW3 ......................................................................................... 293
Evaluasi Kinerja Sistem Antijamming OFDM dengan Convolutional Coding dan Interleaving pada
Komunikasi Taktis .................................................................................................................................. 299
Pradini Puspitaningayu1, Gamantyo Hendrantoro2 ................................................................................. 299
Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Kesesuaian Wilayah Perairan untuk Budidaya Rumput Laut
Berbasis Sistem Informasi Geografi ....................................................................................................... 305
Hari Toha Hidayat1, Wiwiet Herulambang2 ........................................................................................... 305
Deteksi Cemaran Aflatoksin Pada Biji Jagung dengan Metode Backpropagation Jaringan Syaraf
Tiruan (Backpropagation Artificial Neural Network) .......................................................................... 311
Salmawaty Tansa1 ................................................................................................................................ 311
Desain Sistem Monitoring Mobil Listrik dengan Tampilan Aplikasi Android pada Dashboard .......... 317
Era Purwanto1, Ainur Rofiq Nansur2, Muhammad Ridwan 3 ................................................................... 317
Pemanfaatan Sumber Energi Alternatif Tenaga Hybrid untuk Kafe Mandiri ..................................... 321
Renny Rakhmawati1, Priyambodo Arief Kurniawan2, Nani Setiyowati3 ................................................. 321
Sistem Beban Penerangan Hemat Energi Pada Rumah Mandiri Energi .............................................. 327
Bara Yohantomo1, Suhariningsih2, Indhana Sudiharto3 .......................................................................... 327
Pengendalian Kecepatan Motor Sinkron Magnet Permanen (MSMP) Menggunakan Neural network
Controller (NNC) .................................................................................................................................... 331
Richa Watiasih1, Kuspijani2 .................................................................................................................. 331
Analisa Fitur Citra X-Ray Osteoarthritis Berbasis Grey Level Co-Occurence Matrix dan Grey Level
Run Length Matrices .............................................................................................................................. 337
Lilik Anifah 1 , Haryanto2 ...................................................................................................................... 337
Penerapan Resolusi Rendah, Menengah dan Tinggi pada Tomografi Komputer ................................ 345
Nur Kholis1, Dedy Rahman Prehanto2 ................................................................................................... 345
Performansi Sistem Modulasi BPSK pada Kanal Rayleigh untuk Sistem Komunikasi CDMA dengan
Simulink Matlab ..................................................................................................................................... 349
Nurhayati1, Gracia Gitavanni2 ............................................................................................................... 349
xv

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Peningkatan Kemurnian Ethanol Dengan Pengontrolan Temperatur Pada Destilasi Model Batch
Sebagai Bahan Hidrogen DEFC ............................................................................................................. 357
Nurhayati ............................................................................................................................................. 357
Penggunaan Kamera CCTV Sebagai Sensor Pendeteksi Api Pada Robot Pemadam Api .................... 363
Dwi Edi Setyawan 1, Prihastono2 ........................................................................................................... 363
Penentuan Sindrom Jantung pada Traditional Chinese Medicine dengan menggunakan Expert System
................................................................................................................................................................. 369
I.G.P. Asto Buditjahjanto ...................................................................................................................... 369
Simulasi Aplikasi Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) Pada Pengaturan Level Air
Dengan WINLOG ................................................................................................................................... 377
Diana Rahmawati1, Miftachul Ulum2, Taqijuddin Alawy3, Iwan Nurfianto4 ........................................... 377
Estimasi Local Motion Berbasis Pencarian Hexagonal .......................................................................... 383
Rosida Vivin Nahari1 ............................................................................................................................ 383
Rancang Bangun Alat Pembuat Susu Kedelai Berbasis Mikrokontroler .............................................. 389
Renny Rakhmawati1, Irianto2, Febby Novetna3...................................................................................... 389
Pemanfaatan Serbuk TiO2 untuk Menghasilkan Sumber Energi Alternatif yang Mudah, Cepat, dan
Murah...................................................................................................................................................... 395
Aris Ansori1, Subuh Isnur Haryudo2, Indra Herlamba Siregar3 ............................................................. 395
Rancang Bangun Prototipe Sistem Absensi Otomatis dengan Teknologi RFID ................................... 403
Albert Sagala1, Daniel Sitorus2, Michael Toby Sembiring3 Titus Nainggolan4 ........................................ 403
Rancang Bangun Alat Otomatis Pemberi Pakan Ikan Pada Tambak Ikan Berbasis PLC ................... 415
Renny Rakhmawati, ST, MT[1], Agil Jeffry Aditya, A.Md[2], Mohamad Safrodin, B.Sc, MT[3]. ....... 415
Main Kontrol Unit (ECU) Sebagai Estimator Kapasitas Baterai Dan Setting Driver Motor Pada Mobil
Listrik ...................................................................................................................................................... 421
Ainur Rofiq,ST. MT, Dr.Ir.Era Purwanto. M.Eng, Dimas Setia Budi .................................................... 421

MAKALAH INFORMATIKA ..................................................................................................... 427


Pencarian Jalur Terpendek Menggunakan Multi Fungsi Pada Algoritma A* Berbasis Android ........ 429
Budi dwi Satoto1, Eza Rahmanita2 ........................................................................................................ 429
Aplikasi Kontrol dan Monitoring Jaringan Komputer Berbasis Mobile .............................................. 435
M. Basith Ardianto1, Koko Joni2, Miftachul Ulum3 ............................................................................. 435
Sistem Informasi Monitoring Tindakan Koreksi Dan Pencegahan Pada Pt.Kline Air Service Indonesia
................................................................................................................................................................. 445
Sejati Waluyo1, Dendy Afrianto2........................................................................................................... 445
Aplikasi Pembayaran Pajak Untuk Perbankan ..................................................................................... 451
Lis Suryadi ........................................................................................................................................... 451
Pemodelan Evaluasi Terintegrasi Atas Penggunaan Sistem Informasi ................................................. 457
Erna Yuliasari1, Wing Wahyu Winarno2, Bimo Sunarfri3....................................................................... 457
Rancang Bangun Perangkat Lunak Perakitan Tes Otomatis Menggunakan lpsolve dan mySQL ....... 467
Ariadie Chandra Nugraha1, Rumyati2 .................................................................................................... 467
Analisis Terhadap Peranan Audit Berbasis Cobit 4.1 Dalam Mengukur Produktifitas Penggunaan
Teknologi Informasi Dan Komunikasi ................................................................................................... 473
Indri Sudanawati Rozas1, Awalludiyah Ambarwati2 .............................................................................. 473
Pengalian Informasi Penting yang Tersembunyi dalam Tweet dari Data Stream Micro Blogging ...... 479
Arif Arizal1 , Syariful Alim2 .................................................................................................................. 479
Developed e-learning using Open Source Software Technology (Dokeos) Membangun e-learning
menggunakan Teknologi Open Source Software (Dokeos) .................................................................... 483
Aditya Prapanca ................................................................................................................................... 483
Game Congklak Digital sebagai Upaya Pelestarian Permainan Rakyat Tradisional ............................ 489
Agung Budi Prasetyo1, Pius Dian Widi Anggoro2.................................................................................. 489
xvi

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Sistem Informasi Pengadaan Barang Studi Kasus: PT.Sinar Elektronika SEB ............................ 495
Agus Umar Hamdani ............................................................................................................................ 495
Analisis Pengukuran Kinerja Akses Data Jaringan 3G ......................................................................... 501
Hubbul Walidainy1 M.Irhamsyah 2 Mohd. Citrawan Myza3 ................................................................... 501
Kombinasi Logika Fuzzy dan Algoritma Genetika untuk Analisis Asosiasi pada Fasilitas Evaluasi
dalam Sistem e-Learning ........................................................................................................................ 507
Yuni Yamasari ..................................................................................................................................... 507
Pengaruh penyelarasan strategi TI cobit ds4 (ensure continuous service) terhadap kinerja niaga
perusahaan BUMN kelistrikan ............................................................................................................... 513
I Kadek Dwi Nuryana ........................................................................................................................... 513
Web portal pencarian kost terdekat untuk mahasiswa di sekitar kampus ............................................ 521
Tiyan Wisesa1, I Kadek Dwi Nuryana2 .................................................................................................. 521
Rancang Bangun Sistem Informasi Hotel............................................................................................... 529
Dedy Rahman Prehanto1, Tito Bangun Septian 2 .................................................................................... 529
Implementasi Port-Knocking di Mikrotik dengan Menggunakan Komponen Delphi TcpClient ......... 541
Agus Prihanto1 ..................................................................................................................................... 541
Rancang Bangun Sistem Informasi pada Kifly Bakery.......................................................................... 547
Aris Dwi Indriyanti1 , Yulia Dwi Wulandari2 ......................................................................................... 547
Analisis Unjuk Kerja Jaringan Ad Hoc pada Protokol Perutean AODV dan OLSR dengan Metode
Testbed .................................................................................................................................................... 559
Deni Lumbantoruan1, Joko S. Siagian 2, Jhon B. Sibuea3, Markus M. Panjaitan 4 ..................................... 559
Ensiklopedia Busana Adat Nusantara Berbasis Multimedia Interaktif................................................. 569
Iwan Sonjaya ........................................................................................................................................ 569
Analisis Time Series Untuk Meramalkan Omset Penjualan Dengan Algoritma ARIMA ..................... 575
Aries Dwi Indriyanti 1 , Gidyon Adi Wicaksono2 ................................................................................... 575
VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik
................................................................................................................................................................. 583
Aan Choesni Herlingga1, Agus Prihanto2 .............................................................................................. 583
Pemanfaatan Virtualbox untuk Mensimulasikan Interkoneksi Jaringan OSPF dengan RouterOS
Mikrotik .................................................................................................................................................. 589
Agus Prihanto1 ..................................................................................................................................... 589

xvii

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

MAKALAH UTAMA

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Nano-Satellite di PENS sebagai Wadah Pendukung


Penelitian Infra Struktur Nasional dalam Penguasaan TIK di bidang
Satelit dan Keantariksaan
Endra Pitowarno, Dr. Ir. M.Eng
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

MAKALAH PENDIDIKAN

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Tes Kinerja (Performance Test)


Dalam Bidang Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan
Supari Muslim
Guru Besar Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya
Abstrak Ada banyak tulisan yang membahas
tentang bagaimana mengukur hasil belajar ranah
kognitif dan ranah afektif, tetapi masih sangat sedikit
yang membahas tentang bagaimana mengukur hasil
belajar ranah psikomotor. Untuk mengukur hasil
belajar ranah psikomotor pada dasarnya hanya ada
satu jenis tes, yaitu tes kinerja (performance test) yang
terdiri dari: (1) tes kinerja tertulis (paper-and-pencil
test), (2) tes identifikasi (identification test), (3) simulasi
kerja (simulation performance) dan (4) contoh kerja
(work sample). Hasil belajar ranah psikomotor dapat di
nilai dari dua acuan, yaitu acuan prosedur dan acuan
hasil.

(guided response), (4) mekanisme (mechanism), (5)


respons yang kompleks (complex overt response).
Kelima peringkat ranah psikomotor menurut
Simpson seperti dikutip oleh Bloom, Madaus, dan
Hasting (1981) tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut: (1) persepsi adalah suatu peringkat
kemampuan siswa yang paling rendah, yaitu siswa
baru dapat mengetahui dan memahami tentang alatalat praktek dan cara-cara penggunaanya, peraturanperaturan keselamatan kerja dan sebagainya; (2)
merakit adalah peringkat kemampuan siswa untuk
menirukan apa yang dilakukan oleh instruktur dan
mencoba mengadakan penyesuaian seperlunya untuk
memperoleh pengalaman; (3) respon terpimpin adalah
suatu tingkat kemampuan dimana siswa mulai
mengembangkan keterampilannya dengan jalan
mengadakan percobaan dan kesalahan di bawah
pengawasan instruktor; (4) mekanisme adalah suatu
tingkat keterampilan di mana siswa memiliki
kepercayaan untuk melakukan praktek secara mandiri
meskipun keterampilannya belum mencapai derajat
yang tertinggi dan; (5) respon yang kompleks adalah
merupakan tingkat keterampilan yang tertinggi yaitu
siswa dapat melakukan kegiatan praktek secara
mandiri dengan keterampilan yang bersifat kompleks,
efisien serta rapi dengan waktu dan energi yang
minimum.
Klasifikasi lain hasil belajar ranah psikomotor di
buat oleh Dave (1967) yang membaginya dalam lima
peringkat, mulai peringkat sederhana sampai
peringkat yang kompleks yaitu: (1) imitasi, (2)
manipulasi, (3) presisi, (4) artikulasi, dan (5)
naturalisasi. Kelima peringkat ranah psikomotor
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) imitasi,
yaitu siswa dapat melakukan kegiatan dengan meniru
apa yang pernah dilihat; (2) manipulasi, yaitu siswa
dapat melakukan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar
petunjuk atau perintah dari instruktur; (3) presisi,
adalah kemampuan siswa dalam melakukan kegiatankegiatan yang sifatnya presisi meliputi unsur
ketelitian, ketepatan dan keseimbangan meskipun
kegiatan tersebut belum nampak sebagai keutuhan;
(4) artikulasi, yaitu siswa dapat mengkoordinasikan
serangkaian kegiatan yang sifatnya presisi dengan
menetapkan urutan secara tepat diantara kegiatan
yang berbeda-beda; dan (5) naturalisasi, merupakan
peringkat dimana siswa telah dapat melakukan
kegiatan yang urut secara alami dan kegiatan tersebut
dilakukan dengan energi yang minimum.
Untuk memperoleh keterampilan dalam bidang
teknik listrik, diperlukan penguasaan peringkatperingkat hasil belajar ranah psikomotor dari yang

Kata kunci: Hasil belajar ranah psikomotor, dan tes


kinerja

I. PENDAHULUAN
Setiap kegiatan pembelajaran, pasti memiliki
tujuan yang umumnya disebut sebagai tujuan
pembelajaran. Seberapa jauh tujuan pembelajaran
tersebut telah dicapai oleh para siswa, diperlukan
kegiatan yang disebut evaluasi hasil belajar. Menurut
Bloom (1986) bahwa hasil belajar mencakup tiga
ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah
psikomotor. Untuk mengetahui hasil belajar ketiga
ranah tersebut perlu diukur. Seperti kita ketahui
bersama, bahwa telah banyak yang menulis dan
membahas tentang bagaimana mengukur hasil belajar
ranah kognitif dan ranah afektif, tetapi masih sangat
sedikit yang membahas tentang bagaimana mengukur
hasil belajar ranah psikomotor. Meskipun mengukur
hasil belajar ranah kognitif dengan tes kinerja tertulis
agak berbeda dengan tes tulis tradisonal. Di bawah
ini akan diuraikan bagaimana mengukur hasil belajar
ranah psikomotor, yang oleh beberapa ahli disebut
sebagai tes kinerja (performance test).
II. PENGERTIAN HASIL BELAJAR RANAH PSIKOMOTOR
Menurut Gagne dan Briggs (1974) terdapat
lima klasifikasi kemampuan manusia yaitu: (1)
kecakapan intelektual, (2) strategi kognitif, (3)
informasi verbal, (4) keterampilan dan (5) sikap.
Romiszowski (1984) mengklasifikasikan hasil belajar
dalam empat kategori yaitu: (1) keterampilan kognitif;
(2) keterampilan psikomotor; (3) keterampilan reaktif;
dan (4) keterampilan interaktif. Menurut Simpson
seperti dikutip oleh Bloom, Madaus dan Hasting
(1981) hasil belajar ranah psikomotor dibagi menjadi
lima peringkat dari yang sederhana sampai dengan
peringkat yang kompleks yaitu: (1) persepsi
(perception), (2) merakit (set), (3) respons terpimpin
11

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

tes; (2) disimpulkan dari bukti-bukti yang tersedia; (3)


khusus untuk tujuan tertentu (seleksi, penentuan
kedudukan siswa, evaluasi belajar), dinyatakan
dengan derajat (tinggi, sedang , dan rendah). Terdapat
tiga jenis validitas yaitu: (1) validitas isi (content
validity); (2) validitas yang berhubungan dengan
kriteria (criterion-related validity); dan (3) validitas
konstruk (contruct validity) (Popham, 1981;
Fernandes, 1984).
Suatu tes dapat dinyatakan memiliki validitas isi,
jika tes tersebut mengukur tujuan khusus yang sejajar
dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.
Karena materi yang diajarkan tercantum dalam
kurikulum, maka validitas isi sering juga disebut
validitas kurikuler (Fernandes, 1984; Stamboel,
1990). Validitas ini menurut Gronlund (1982) dapat
ditingkatkan dengan cara: (1) mengidentifikasi topiktopik pokok bahasan dan hasil tingkah laku yang akan
diukur, (2) membuat tabel spesifikasi, dan (3)
menyusun tes berdasarkan tabel spesifikasi itu.
Terdapat dua jenis validitas yang berhubungan
dengan kriterium (criterion-related validity) yaitu
validitas yang ada sekarang (concurrent validity) dan
(predictive validity). Concurrent validity adalah
bagaimana suatu tes mampu meramalkan keadaan
sekarang sehubungan dengan hasil pengukuran lain
yang disebut kriterium. Predictive validity adalah
bagaimana suatu tes mampu meramalkan keadaan
yang akan datang sehubungan dengan pengukuran
lain. Teknik perhitungan yang digunakan untuk
menganalisis validitas ini adalah dengan teknik
korelasi product moment.
Suatu tes dinyatakan memiliki validitas
konstruksi (contruct validity), jika butir-butir soal
yang membangun tes itu mengukur setiap aspek
berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan
instruksional khusus. Konstruksi merupakan rekaan
psikologis yang dibuat oleh para ahli ilmu jiwa yang
dengan cara tertentu merinci isi jiwa menjadi
beberapa aspek berpikir, seperti pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi
(ranah kognitif), atau imitasi, manipulasi, presisi,
artikulasi, dan naturalisasi (ranah psikomotor).
Validitas konstruksi dapat diperoleh dengan cara
merinci dan memasangkan setiap butir soal dengan
setiap aspek berpikir dalam tujuan intruksional
khusus.
Tes disebut memiliki sifat dapat dipercaya
(reliable), jika tes tersebut dapat memberikan hasil
yang kurang lebih sama jika digunakan pada siswasiswa atau kelompok siswa yang serupa yang telah
menerima pelajaran yang sama (Leighbody dan Kidd,
1966; Gronlund, 1982). Reliabilitas menunjuk pada
ketetapan atau konsistensi dari nilai yang diperoleh
sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda
dengan tes yang sama atau yang butir-butirnya
ekivalen (Stamboel, 1990).
Karena adanya kesalahan dalam pengukuran
(measurement error), maka variasi mengenai
penampilan dalam tes dari waktu ke waktu, dari satu

sederhana sampai pada peringkat yang kompleks.


Keterampilan motorik merupakan hasil belajar yang
penting dalam proses belajar teknik listrik secara
keseluruhan. Hasil belajar akan sempurna jika siswa
mampu mencapai tahap keterampilan psikomotor,
disamping penguasaan kognitif dan afektif yang
mendahuluinya (Gagne, 1974).
III. EVALUASI HASIL BELAJAR RANAH PSIKOMOTOR
Menurut Stake (Issac dan Michael,1983),
evaluasi adalah suatu penjelasan dan penilaian dari
suatu program pendidikan. Karena itu evaluasi hasil
belajar terdiri dari pengumpulan dan penggunaan
informasi tentang perubahan perilaku siswa untuk
membuat pertimbangan mengenai suatu program
pendidikan (Wiley, 1970). Bloom, Madaus, dan
Hasting (1981) memandang evaluasi sebagai
pengumpulan bukti yang sistematik untuk
menentukan apakah perubahan-perubahan tertentu
telah terjadi pada diri siswa. Agak berbeda dengan
ketiga batasan tersebut, Gronlund (1985) memandang
evaluasi sebagai suatu proses yang sistematis untuk
mengumpulkan, menganalisis, dan mengintrepretasi
bahan-bahan untuk menentukan keberadaan siswa
yang diberi tujuan intruksional.
Berdasarkan
pendapat-pendapat
seperti
dipaparkan di atas, yang di maksud evaluasi hasil
belajar adalah suatu proses atau cara yang sistematis
untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan
intruksional telah di capai oleh para siswa melalui
proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
IV. CIRI-CIRI ALAT UKUR HASIL BELAJAR RANAH
PSIKOMOTOR
Alat ukur hasil belajar ranah psikomotor, menurut
Leightbody dan Kidd (1966) harus memiliki ciri-ciri
sebagai berikut : (1) mengukur apa yang hendak
diukur; (2) mengukur dengan kecermatan yang
konsisten; (3) menilai secara obyektif dan; (4) dapat
dilaksanakan dan dinilai dengan mudah. Menurut
Tracey (1971) alat ukur yang baik memiliki tujuh ciri
yaitu : (1) absah, (2) andal, (3) obyektif, (4) mudah di
administrasikan, (5) baku, (6) komprehensif, dan (7)
ekonomis.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa ciri-ciri alat ukur hasil belajar ranah
psikomotorik yang baik adalah : (1) harus mengukur
apa yang hendak di ukur (absah); (2) dapat mengukur
dengan kecermatan yang konsisten (andal); (3) harus
dapat menilai secara obyektif, dan (4) dapat
dilaksanakan dan dinilai dengan mudah (praktis); (5)
bersifat baku; (6) bersifat komprehensif; dan (7) dapat
dilaksanakan dengan biaya yang tidak terlalu mahal
(ekonomis).
Alat ukur disebut valid atau basah, jika alat ukur
tersebut dapat mengukur apa yang hendak di ukur
(Andreson, Rall, dan Murphy, 1975; Tracey, 1971;
Popham, 1981). Menurut Gronlund (1982) konsep
keabsahan adalah: (1) menunjuk pada intrepetasi hasil
12

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

menerus, dan (3) membuat daftar pekerjaaan dan


skala penilaian.
Tes disebut memiliki sifat yang praktis, jika tes
tersebut dapat diberikan dan dinilai dengan mudah
(Leighbody dan Kidd, 1966; Jalinius dan Aziz, 1985;
Rasyid, 1985). Betapapun absah dan terandalnya
suatu alat pengukur, jika tidak di dukung oleh sarana
dan kemampuan, maka alat pengukur tersebut kurang
memiliki nilai kepraktisan. Namun demikian ciri
kepraktisan hendaknya tidak mengorbankan ciri
keabsahan dan keterandalan.
Tes bersifat baku (standard) jika contoh kinerja
diperoleh di bawah kondisi yang telah ditentukan dan
skor diperoleh dengan aturan yang pasti (Leighbody
dan Kidd, 1966).
Kebakuan tersebut meliputi semua kondisi untuk
semua peserta tes yang meliputi perlengkapan, alatalat, bahan-bahan, tingkat kesulitan, dan lingkungan
di mana tes dilaksanakan. Tes bersifat komprehensif,
jika tes tersebut merupakan sampel yang representatif
dari tujuan pengajaran, dan mencakup berbagai aspek
berpikir seperti yang dirumuskan dalam tujuan
pengajaran. Tes bersifat tidak mahal atau ekonomis,
jika tes tersebut tidak terlalu banyak menggunakan
waktu, perlengkapan, bahan-bahan dan personalia
untuk mengadministrasikannya.

bagian tes ke bagian yang lain sehingga reliabilitas


skor tes secara umum dinyatakan dengan koefisien
keterandalan (r) atau patokan kesalahan pengukuran
(standard error of measurement). Besar kecilnya
kesalahan pengukuran dapat diketahui dari koefisien
korelasi antara hasil pengukuran pertama dan kedua.
Jika koefisien korelasi (r) dikuadratkan dan diperoleh
koefisien determinasi (coeffisient of determination)
yang merupakan petunjuk besarnya hasil pengukuran
yang sebenarnya. Makin tinggi koefisien korelasi,
makin rendah kesalahan pengukuran.
Koefisien keterandalan dapat diperoleh dengan:
(1) metode tes dan tes kembali (test-retest method;,
(2) metode bentuk tes yang seimbang (equivalentforms method) tanpa selang waktu (without time
interval); (3) metode bentuk tes yang seimbang
(equivalent-form method) dengan selang waktu (with
time interval;, (4) metode belah-dua(split-half
method); dan metode (5) metode Kuder-Richardson
(Kuder-Richardson method) (Gronlund, 1985).
Konsep reliabilitas mengandung tiga aspek nilai
ketetapan yaitu koefisien stabilitas, koefisien
ekuivalen dan homogenitas butir (Stamboel, 1990).
Koefisien stabilitas tes adalah kesalahan pengukuran
dari nilai tes yang pertama dan nilai tes yang kedua
(reliabilitas temporer). Reliabilitas temporer dapat
diperoleh melalui metode test-retest dengan
menggunakan tes yang sama sehingga koefisien
reliabilitas diperoleh melalui korelasi nilai yang
diperoleh peserta dalam dua kali test tersebut.
Koefisien ekuivalen adalah aspek reliabilitas yang
didasarkan atas dua bentuk tes yang paralel atau
ekuivalen sehingga koefisien reliabilitas dapat
dilakukan melalui metode belah-dua dengan
menggunakan teknik korelasi dari angka pada belahan
pertama dan angka pada belahan kedua dari tes
tersebut.
Homogenitas butir adalah menunjuk pada
ketetapan dalam penyelenggaraan tes tertentu untuk
menghadapi semua butir, yang akan menghasilkan
koefisien konsistensi butir. Konsistensi respon subyek
tehadap semua butir dapat dihitung dengan teknik
Kuder-Richardson (K-R 20 atau K-R 21). Dari
pengertian konsep reliabilitas seperti tersebut di atas,
maka yang sesuai untuk tes kinerja adalah teknik
Kuder-Richardson, karena teknik ini menunjuk pada
konsistensi respon subyek (homogenitas butir)
maupun ekuivalensi.
Tes disebut memiliki sifat yang obyektif, jika
dalam pelaksanaan tes tidak ada faktor subyektif yang
mempengaruhi (Arikunto, 1986; Leighbody dan Kidd,
1966). Jika dikaitkan dengan reliabilitas, maka
obyektivitas
menekankan
pada
ketetapan
(consistency) dalam memberikan skor, sedangkan
reliabilitas menekankan kepada ketetapan dalam hasil
tes. Keobyektifan alat ukur hasil belajar ranah
psikomotor menurut Rasyid (1985) dapat ditingkatkan
dengan cara: (1) membuat kriteria penilaian yang
lebih rinci, (2) mengadakan penilaian secara terus

V. BENTUK-BENTUK ALAT UKUR HASIL BELAJAR


RANAH PSIKOMOTOR
Untuk mengukur hasil belajar ranah psikomotor
pada dasarnya hanya ada satu jenis tes, yaitu tes
kinerja (performance test) (Leighbody dan Kidd,
1966; Tracey, 1971; Rasyid, 1985). Menurut Tracey
(1971), tes kinerja dapat diklasifikasikan dalam tiga
bentuk yaitu: (1) identifikasi (identification), (2)
simulasi (simulation), dan (3) contoh kerja (work
sample). Lebih lengkap dari pada Tracey, Gronlund
(1982) membagi tes kinerja menjadi empat bentuk
yaitu: (1) tes kinerja tertulis (paper-and-pencil test),
(2) tes identifikasi (identification test), (3) simulasi
kerja (simulation performance) dan (4) contoh kerja
(work sample).
Tes penampilan dengan kertas dan pensil (paper
and pensil test) berbeda dengan tes tertulis tradisional.
Tes ini lebih menekankan pada penggunaan
pengetahuan keterampilan pada suatu keadaan yang
disimulasikan. Kinerja tertulis dapat memberikan
langkah awal terhadap kinerja yang siap pakai.
Sebelum menggunakan suatu peralatan khusus
(mikrometer, oskiloskop) adalah sangat tepat jika
menyuruh para siswa untuk membaca berbagai
pernyataan gambar-gambar skalanya. Dalam hal ini,
tes tertulis akan sangat sesuai karena tes tersebut
dapat diberikan kepada sekelompok siswa secara
bersamaan. Menyusun tes penampilan dalam bentuk
tes tertulis menurut Gronlund (1982) dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)
menyusun tabel spesifikasi untuk satu satuan
pelajaran, (2) menyusun seperangkat butir pertanyaan

13

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

waktu
untuk
mengadministrasikannya;
(3)
memerlukan administrasi secara individual bagi para
siswa; (4) memerlukan banyak alat, perlengkapan,
dan bahan sesuai dengan materi yang di ujikan; dan
(5) merancangnya relatif sulit.
Subino (1987) memandang dari sudut yang lain
tentang keterbatasan tes kinerja di antaranya adalah:
(1) memerlukan waktu yang lama dan biaya yang
besar; (2) harus dilakukan secara penuh dan lengkap
dan jika tidak hasilnya sulit dipertanggung jawabkan;
(3) keterampilan yang di ujikan melalui tes kinerja
belum tentu sesuai dengan tuntutan dunia kerja, sebab
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu
lebih cepat dengan apa yang di ajarkan di sekolah.

yang sesuai dengan tabel spesifikasi, dan


(3)menyusun daftar jawaban untuk menilai tes.
Tes identifikasi (identification test), adalah
bentuk tes kinerja yang meminta siswa untuk
mengenali suatu alat atau perlengkapan dan
menunjukkan fungsinya. Tes identifikasi sering juga
digunakan sebagai alat pengukur secara tidak
langsung terhadap ketrampilan penampilan seseorang.
Tes identifikasi banyak digunakan pada pelatihan
industri, bidang kesenian, pendidikan fisik, dan
pendidikan bisnis.
Simulasi
kerja
(simulation performance)
merupakan bentuk ketiga dari tes kinerja yang lebih
menekankan pada prosedur. Pada tes bentuk ini
seorang siswa diminta melakukan gerakan-gerakan
yang sama sebagaimana yang di inginkan dalam
pelaksanaan kinerja yang sebenarnya, tetapi kondisikondisi gerakan tersebut disimulasi. Dalam pelatihan
dan pelaksanaan pelajaran praktek, sering kali para
siswa dilatih dan di uji dengan memakai bahan-bahan
yang
disimulasikan.
Bahan-bahan
simulasi
(simulator) tersebut dapat mencegah kemungkinan
terjadinya kesalahan fatal pada diri seseorang pada
waktu ia menghadapi peralatan yang mahal, di mana
ia masih berada pada masa-masa awal perkembangan
keterampilan. Bahan bahan simulasi juga banyak
digunakan dalam berbagai bentuk program-program
pelatihan dalam pekerjaan tertentu. Keterampilan
yang ada dalam suatu praktek yang disimulasikan
dapat menunjukkan adanya kesiapan dalam mencoba
merealisasikan kinerja yang sebenarnya (Gronlund,
1982).
Bentuk tes kinerja yang keempat adalah contoh
kerja (work sample). Dalam pelatihan di industri, tes
bentuk ini dilakukan dengan cara meminta siswa
untuk membuat suatu pekerjaan tertentu yang
meliputi seluruh langkah-langkah yang mungkin
ditemui dalam pekerjaan yang sesungguhnya di
antaranya merancang, memesan bahan-bahan dan
membentuk. Tes dengan bentuk ini juga dapat
dilakukan dengan cara meminta para siswa untuk
mengoperasikan alat-alat, perbaikan alat-alat dan
tugas-tugas laboratorium yang berorientasi pada kerja.

VI. ELEMEN-ELEMEN HASIL BELAJAR RANAH


PSIKOMOTOR YANG DAPAT DI UKUR
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) elemenelemen hasil belajar ranah psikomotor yang dapat di
ukur meliputi: (1) keterampilan dalam menggunakan
alat-alat;
(2)
kemampuan
merencanakan,
melaksanakan dan menganalisis sampai pekerjaan
terselesaikan; (3) kemampuan membaca gambar dan
simbol teknik; (4) kemampuan dalam membuat
keputusan dengan menggunakan teori yang diperoleh;
(5) waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan; dan (6) kualitas dari tugas yang
diselesaikan.
Micheels dan Karnes (1950) menyatakan bahwa
penilaian tes kinerja dapat dilakukan terhadap: (1)
kecepatan siswa dalam bekerja; (2) prosedur kerja
yang digunakan; dan (3) kualitas dari pekerjaan yang
dihasilkan. Lebih rinci dari beberapa pendapat
tersebut, Gronlund (1982) memandang bahwa hasil
belajar ranah psikomotor dapat di nilai dari dua
acuan, yaitu acuan prosedur dan acuan hasil.
Penialain hasil belajar ranah psikomotor beracuan
prosedur adalah penilaian terhadap kemampuan siswa
dalam hal-hal: (1) menyiapkan suatu rencana yang
rinci bagi suatu proyek; (2) menentukan jumlah bahan
yang dibutuhkan; (3) memilih alat-alat yang sesuai;
(4) mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi
masing-masing pelaksanaan; (5) menggunakan alatalat dengan baik dan terampil; (6) menggunakan
bahan-bahan tanpa penghamburan yang tak perlu; dan
(7) menyempurnakan pekerjaan dalam waktu yang
tepat. Penilaian hasil belajar ranah psikomotor
beracuan hasil adalah penilaian terhadap kualitas
pekerjaan siswa yang meliputi: (1) apakah produknya
bagus dan sempurna; (2) apakah pembagiannya sesuai
dengan rencana semula; (3) apakah hasil akhir sesuai
dengan spesefikasinya; dan (4) apakah rangkaianrangkaiannya berjalan dengan baik.
Dalam hal reliabilitas tes kinerja seperti
dipaparkan di atas, Leighbody dan Kidd (1966)
menyatakan bahwa salah satu cara yang perlu
dilakukan adalah dengan membagi pekerjaan (bahan
tes) ke dalam bagian-bagian yang dapat di ukur dan
kemudian menetapkan nilai berbentuk angka untuk
tiap-tiap bagian yang di ukur tersebut, meliputi: (1)

Seperti halnya bentuk tes yang lain, tes kinerja


juga memiliki keunggulan dan keterbatasan. Tracey
(1971) dan Subino (1987) mengulas keunggulan dan
keterbatasan dari tes kinerja. Menurut Tracey (1971)
keunggulan tes kinerja di antaranya adalah: (1)
memiliki validitas permukaan; (2) relevan dengan
pekerjaan; dan (3) memiliki keandalan yang tinggi.
Berbeda dengan itu, menurut Subino (1987)
keunggulan tes kinerja di antaranya dapat digunakan
untuk: (1) melihat keterampilan siswa dalam
melakukan pekerjaan; (2) mencocokkan kesesuaian
antara pengetahuan mengenai teori dan praktek; dan
(3) menghilangkan peluang untuk menyontek.
Keterbatasan tes kinerja menurut Tracey (1971) di
antaranya adalah: (1) hanya mencakup sebagian dari
keterampilan yang di ajarkan; (2) memerlukan banyak
14

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dengan jelas; dan (4) menyiapkan format observasi


yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja.
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) langkahlangkah menyiapkan tes kinerja dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) menguraikan dengan pasti apa
yang akan diukur dengan mengacu kepada tujuan
pengajaran; (2) mengidentifikasi dan mendaftar tugastugas yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang tercakup dalam pelajaran tersebut; (3)
memilih tugas yang perlu diselesaikan siswa meliputi
semua elemen-elemen yang akan diukur oleh tes itu;
(4) mendaftar semua bahan, alat-alat, pesawat dan
gambar yang diperlukan siswa untuk mengerjakan tes
itu; (5) menyiapkan petunjuk tertulis atau lisan
kepada siswa peserta tes; (6) menyiapkan sistem
penilaian yang akan digunakan; dan (7) memeriksa
kembali tes yang telah disusun untuk meyakinkan
bahwa tes tersebut dapat diberikan tanpa terlalu
banyak kesukaran dan tidak terlalu banyak memakan
waktu.
Merancang tes kinerja dalam bentuk tes
identifikasi, simulasi kinerja, dan contoh kerja
menurut Gronlund (1982) adalah meliputi langkahlangkah sebagai berikut: (1) menspesifikasikan hasilhasil kinerja yang dapat diukur; (2) memilih suatu
derajat kenyataan yang sesuai; (3) menyiapkan
pengajaran yang bisa menspesifikasikan situasi tes
dengan jelas; dan (4) menyiapkan format observasi
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja.
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) langkahlangkah menyiapkan tes kinerja dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) menguraikan dengan pasti apa
yang akan diukur dengan mengacu kepada tujuan
pengajaran; (2) mengidentifikasi dan mendaftar tugastugas yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang tercakup dalam pelajaran tersebut; (3)
memilih tugas yang perlu diselesaikan siswa meliputi
semua elemen-elemen yang akan diukur oleh tes itu;
(4) mendaftar semua bahan, alat-alat, pesawat dan
gambar yang diperlukan siswa untuk mengerjakan tes
itu; (5) menyiapkan petunjuk tertulis atau lisan
kepada siswa peserta tes; (6) menyiapkan sistem
penilaian yang akan digunakan; dan (7) memeriksa
kembali tes yang telah disusun untuk meyakinkan
bahwa tes tersebut dapat diberikan tanpa terlalu
banyak kesukaran dan tidak terlalu banyak memakan
waktu.
Tes kinerja dalam bentuk tes identifikasi,
simulasi kinerja, dan contoh kerja menurut Leighbody
dan Kidd (1966) dapat dilaksanakan dengan prosedur
sebagai berikut: (1) memperhatikan apakah siswa
telah memiliki semua bahan, alat-alat, pesawat,
referensi, gambar, atau hal-hal lain yang diperlukan;
(2) meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa
yang telah dilakukan dan berapa lama ia harus
bekerja; (3) meyakinkan bahwa siswa telah
memahami apa yang telah dilakukan dan berapa lama
ia harus bekerja; (4) mengusahakan kondisi kerja
untuk setiap siswa sesama mungkin; (5) meyakinkan
bahwa alat-alat, bahan-bahan, dan mesin-mesin

urutan yang benar dalam merencanakan dan


menyelesaikan langkah-langkah di dalam proses
pekerjaan; (2) waktu yang diperlukan untuk
merencanakan dan membuat lay out pekerjaan; (3)
pemilihan alat-alat dengan benar; (4) teknik dalam
menggunakan alat-alat; (5) pemilihan bahan dengan
benar; (6) memperlakukan bahan dengan benar; (7)
pemeliharaan alat-alat yang digunakan dan yang tidak
digunakan; (8) kualitas dari pekerjaan yang di
selesaikan; dan (9) waktu yang di perlukan untuk
bekerja.
Berdasarkan pendapat Micheels dan Karnes,
Gronlund, serta Leighbody dan Kidd seperti
dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa
penilaian tes kinerja dapat dilakukan dengan pedoman
sebagai berikut: (1) mampu membaca gambar dan
symbol teknik; (2) menyiapkan rencana yang rinci
bagi suatu proyek; (3) merencanakan langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut; (4) merencanakan dan
membuat lay out pekerjaan dalam waktu yang tepat;
(5) mampu memilih bahan yang sesuai; (6)
menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan; (7)
mampu memilih alat-alat yang sesuai; (8)mengikuti
prosedur-prosedur yang benar bagi masing-masing
pelaksanaan; (9) menggunakan alat dengan baik dan
terampil ; (10) memperlakukan bahan dengan benar;
(11) mampu
membuat keputusan dengan
menggunakan teori yang diperlukan; (12) mampu
bekerja dengan mengikuti prosedur kerja yang ada;
(13) mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu
yang disediakan; (14) mampu menganalisis pekerjaan
dengan prosedur yang benar; (15) membersihkan
tempat kerja, alat-alat dan mesin-mesin setelah
digunakan; (16) hasil pekerjaannya bagus dan
sempurna; (17) pelaksanaan sesuai dengan rencana
semula; (18) hasil akhir sesuai dengan spesifikasi
yang ditetapkan; (19) rangkaian dan bagianbagiannya berjalan dengan baik; dan (20) hasil
analisis pekerjaan benar. Penilaian tes kinerja dapat
dilakukan dengan pedoman seperti tampak pada
Lampiran 1 dengan petunjuk penggunaan seperti
tampak pada Lampiran 2.
VII. MERANCANG DAN MELAKSANAKAN TES
KINERJA
Merancang tes kinerja tertulis dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)
menentukan tujuan tes; (2) mengidentifikasi hasil
belajar yang akan diukur dengan tes; (3) merumuskan
hasil belajar yang dapat diamati dan diukur; (4)
mencatat garis besar isi mata pelajaran (subject
matter); dan (6) menggunakan tabel spesifikasi
sebagai dasar untuk menyiapkan tes.
Merancang tes kinerja dalam bentuk tes
identifikasi, simulasi kinerja, dan contoh kerja
menurut Gronlund (1982) adalah meliputi langkahlangkah sebagai berikut: (1) menspesifikasikan hasilhasil kinerja yang dapat diukur; (2) memilih suatu
derajat kenyataan yang sesuai; (3) menyiapkan
pengajaran yang bisa menspesifikasikan situasi tes
15

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

sementara yang lain memiliki kriteria yang terlalu


rendah. Halo effect adalah kesalahan karena pengaruh
lingkaran, yaitu kesalahan yang terjadi jika dalam
menilai aspek khusus tingkah laku, penilai
terpengaruh oleh kesan umum subyek yang
bersangkutan. Logical error yang sering juga disebut
dengan errror of ambiguity terjadi jika dua atau lebih
sifat/kemampuan diberi nilai dalam satu angka.
Menurut Ahramson, Tittle, dan Cohen (1979),
untuk mengurangi kesalahan-kesalahan tersebut
penilai atau observer dapat menggunakan: (1) daftar
cek (checklist); (2) skala angka (numerical scale); (3)
skala deskripsi (desciptive scale); dan (4) skala grafik
(graphic scale). Sehubungan dengan hal tersebut di
atas, Ary, Jacobs, dan Rezavieh (1980) menyarankan
agar: (1) penilai dilatih dahulu sebelum menjalankan
tugas untuk menilai; (2) para penilai mempunyai
cukup waktu untuk mengamati peserta tes; dan (3)
tingkah laku yang akan dinilai dan titik-titik pada
skala penilaian itu dirumuskan dengan jelas dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati.

berbeda keadaannya antara siswa yang satu dengan


yang lain; (6) mengadakan pemantauan waktu dengan
cermat jika yang diuji adalah kecepatan; (7)
mengamati siswa pada saat ia bekerja dan mencatat
kesalahan-kesalahan yang dilakukan jika elemenelemen yang sedang diukur adalah kemampuan
merencanakan suatau pekerjaan; (8) menghindari
situasi tegang pada saat tes sedang berlangsung; (9)
memeriksa benda kerja dengan instrumen yang sama
atau alat-alat ukur yang digunakan siswa untuk
mengerjakan tugas tersebut jika tes meliputi ukuranukuran; dan (10) tidak memberi bantuan kecuali
menjelaskan petunjuk-petunjuk selama tes sedang
berlangsung (periksa Lampiran 3).
Reliabilitas tes kinerja menurut Leighbody dan
Kidd (1966) dapat ditingkatkan dengan membagi
pekerjaan atau bahan tes ke dalam bagian-bagian
yang dapat diukur, kemudian menetapkan nilai
terbentuk angka untuk tiap-tiap bagian yang diukur
tersebut meliputi: (1) urutan yang benar dalam
merencanakan dan menyelesaikan langkah-langkah di
dalam proses pekerjaan; (2) waktu yang diperlukan
untuk merencanakan dan membuat lay out pekerjaan;
(3) pemilihan alat-alat dengan benar; (4) tehnik dalam
menggunakan alat-alat; (5) pemilihan bahan dengan
benar; (6) memperlakukan bahan dengan benar; (7)
pemeliharaan alat-alat dengan benar; (8) kualitas dari
pekerjaan yang diselesaikan; dan (9) waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Abramson T.,Tittle C.K, & Cohen L. (1979). Handbook of
vocational education evaluation. London: Sage Publications.
[2]. Anderson, Scarvia B., Ball, Samuel, Murphy & Richard T.
(1975). Encyclopedia of educational evaluation, concepts and
techniques for evaluating education and training programs.
San Francisco: Jossey Bass Publishers.
[3]. Arikunto, Suharsimi. (1986). Dasar-dasar evaluasi pendidikan.
Yogyakarta: Bina Aksara.

VIII. KESALAHAN DALAM PENILAIAN

[4]. Ary, Donald, Jacobs, Lucy Cheser & Razavieh, Asghar.


(1982). Pengantar penelitian pendidikan. Penterjemah A.
Furchan. Surabaya: Usaha Nasiional.

Menurut Abramson, Tittle dan Cohen (1979)


kesalahan penilaian (rating errors) dapat di
klasifikasikan menjadi tiga yaitu: (1) kesalahan bahan
(error of standard); (2) kesalahan karena pengaruh
lingkaran (error of halo); dan (3) kesalahan logika
(logical error). Tracey (1971) mengklasifikasikan
kesalahan dalam penilaian menjadi empat kategori
yaitu: (1) kesalahan karena bersikap netral (error of
central tendency); (2) kesalahan baku (error of
standard); (3) kesalahan karena pengaruh lingkaran
(error of halo); dan (4) kesalahan logika (logical
error).
Ary,
Yacobs
dan
Razavieh
(1980)
mengklasifikasikan kesalahan dalam penilaian
menjadi empat klasifikasi tetapi dalam aspek yang
berbeda yaitu: (1) kesalahan karena pengaruh
lingkaran; (2) kesalahan karena terlalu murah hati
(generosity error); (3) kesalahan karena terlalu kikir
(error of severity); dan (4) kesalahan karena bersikap
netral (error of central tendency). Kesalahan karena
bersikap netral (error of central tendency) adalah
kecenderungan observer untuk menghindari penilaian
yang ekstrim dan menilai semua individu dengan
skala tengah-tengah. Kesalahan baku, adalah
kesalahan yang terjadi karena ada beberapa observer
menilai terlalu murah dan ada pula beberapa observer
menilai terlalu kikir.
Kesalahan ini bisa terjadi karena beberapa orang
observer memiliki kriteria yang terlalu tinggi,

[5]. Bloom, B.S., Madaus, G.F., & Hasting, J.T. (1981).


Handbook of formative and summative evaluation of student
learning. New York: McGraw Hill Book Company.
[6]. Bloom, B.S. (1986). Taxonomy of educational objectives
Book 1. Cognitive domain. London: Longman Group.
[7]. Dave, R.H. (1967). Taxonomy of educational objectives and
achievement testing. London: University of London Press.
[8]. Fernandes. (1984). Testing and measurement. Jakarta:
National Educational Planning.
[9]. Gagne, Robert M. & Briggs, Leslie J (1974). Principle of
instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston,
Inc.
[10]. Gronlund, Norman E. (1982). Constructing achievement test.
Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall, Inc.
[11]. ________. (1985). Measurement and evaluation in teaching.
New York: Macmillan Publishing Company.
[12]. Isaac, S. & Michael, W.B. (1983). Handbook in research and
evaluation for education and behavioral sciences. San Diego:
EDITS Publisher.
[13]. Leighbody, Geral B. & Kidd, Donald M. (1966). Methods of
teaching shop and technical subjects. New York: Delmar
Publisher, Inc.
[14]. Micheels,W.J. & Karnes M.R. (1950). Measuring educational
achievement. New York: McGraw-Hill Book Company.
[15]. Rasyid, Mardi. (1985). Evaluasi pelajaran keterampilan dalam
evaluasi hasil belajar. Padang: UPT Pusat Media FPTK IKIP
Padang.
[16]. Subino. (1987). Konstruksi dan analisis tes, suatu pengantar
teori tes dan pengukuran. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.

16

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
[17]. Tracey, W.R. (1971). Designing training and development
systems. New York: American Management Association, Inc.

[20]. Romiszowski. (1984). Producing instructional


system.london:Kogan Page

[18]. Jalinus, N. dan Azis, N. (1985). Jenis-jenis tes dan cara-cara


pembuatannya dalam evaluasi hasil belajar. Padang: FPTK
IKIP Padang.

[21]. Stamboel, Conny Semiawan. (1990). Prinsip dan teknik


pengukuran dan penilaian di dalam pendidikan. Jakarta:
Mutiara Sumber Widya.

[19]. Popham, James W. (1981). Modern educational measurement.


Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

[22]. Wiley, D.E. (1970). Design and analysis of evaluation studies


dalam The evaluation of instruction: Issues and problems, p.
259-269. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

17

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Lampiran 1
PEDOMAN PENILAIAN TES KINERJA
A.Skala Penilaian Acuan Prosedur
Seberapa jauh nilai kinerja (performance) siswa dalam masing-masing persoalan di bawah
ini.
1. Mampu membaca gambar dan simbol teknik (3) 1 2 3 4 5
2. Menyiapkan rencana yang rinci bagi suatu
1 2 3 4 5
proyek (10)
3. Merencanakan langkah-langkah proses
1 2 3 4 5
pekerjaan secara urut (2)
4. Merencanakan dan membuat lay out pekerjaan
1 2 3 4 5
dalam waktu yang tepat (5)
5. Mampu memilih bahan yang sesuai (2)
1 2 3 4 5
6. Menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan (5)
1 2 3 4 5
7. Mampu memilih alat-alat yang sesuai (2)
1 2 3 4 5
8. Mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi
1 2 3 4 5
masing-masing pelaksanaan (2)
9. Menggunakan alat dengan baik dan terampil
1 2 3 4 5
(2)
10. Memperlakukan bahan dengan benar (5)
1 2 3 4 5
11. Mampu membuat keputusan dengan
1 2 3 4 5
menggunakan teori yang diperlukan (5)
12. Mampu bekerja dengan mengikuti prosedur
1 2 3 4 5
kerja yang ada (2)
13. Mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu
1 2 3 4 5
yang disediakan (5)
14. Mampu menganalisis pekerjaan dengan
1 2 3 4 5
prosedur yang benar (8)
15. Membersihkan tempat kerja, alat-alat dan
1 2 3 4 5
mesin-mesin setelah digunakan (2)
B.Skala Penilaian Acuan Hasil/Produk
Seberapa jauh hasil pekerjaan siswa dapat menyesuaikan dengan standar di bawah ini.
16. Hasil pekerjaannya bagus dan sempurna (10)
17. Pelaksanaan sesuai dengan rencana semula (5)
18. Hasil akhir sesuai dengan spesifikasi yang
ditetapkan (5)
19. Rangkaian dan bagian-bagiannya berjalan
dengan baik (10)
20. Hasil analisis pekerjaan benar (10)

1
1
1

2
2
2

3
3
3

4
4
4

5
5
5

..,..20.
Guru/Penilai
.
NIP.
Keterangan :
Angka dalam kurung di belakang masing-masing butir penilaian, merupakan bobot dari butir
penilaian yang bersangkutan.

19

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Lampiran 2
PETUNJUK PENGGUNAAN PEDOMAN PENILAIAN TES KINERJA
Di bawah ini diberikan petunjuk penggunaan pedoman penilaian tes kinerja yang meliputi Skala
Penilaian Acuan Prosedur (no. 1 s/d 15 ) dan Skala Penilaian Acuan Hasil (no. 16 s/d 20 ). Setiap
butir penilaian diberikan kriteria penilaian, Anda perlu membaca petunjuk ini secara cermat sebelum
menilai hasil belajar ranah psikomotor dari para siswa.
A.Skala Penilaian Acuan Prosedur
1.Kemampuan membaca gambar dan simbol teknik.
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membaca maksimal 30% dari gambar dan simbol teknik yang
diberikan
Nilia 2 = jika siswa hanya mampu membaca 31-50% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 3 = jika siswa hanya mampu membaca 51-69% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 4 = jika siswa hanya mampu membaca 70-84% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 5 = jika siswa hanya mampu membaca 85-100% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
2.Menyiapkan rencana yang rinci bagi suatu proyek
Nilia 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 30% dari rencana secara rinci
yang harus dibuat.
Nilia 2 = jika siswa hanya mampu membuat 31-50% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 3 = jika siswa hanya mampu membuat 51-69% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 4 = jika siswa hanya mampu membuat 70-84% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 5 = jika siswa hanya mampu membuat 85-100% dari rencana secara rinci yang harus
dibuat.
3.Merencanakan langkah-langkah proses pekerjaan secara urut
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 30% dari langkah-langkah proses
pekerjaan secara urut
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 31-50% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 51-69% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 70-84% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 85-100% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
4.Merencanakan dan me lay out pekerjaan dalam waktu yang tepat
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 130% dari waktu yang disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 121-130% dari waktu yang disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 111-120% dari waktu yang disediakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 101-101% dari waktu yang disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 100% dari waktu yang disediakan
5.Mampu memilih bahan yang sesuai
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 30% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 31-50% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 51-69% dari bahan yang harus disediakan
20

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 70-84% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 85-100% dari bahan yang harus disediakan
6.Mampu menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan
Nilai 1 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 30% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 2 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 31-50% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 3 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 51-69% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 4 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 70-84% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 5 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 85-100% dari alat-alat yang dibutuhkan
7.Mampu memilih alat-alat yang sesuai
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 30% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 31-50% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 51-69% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 70-84% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 85-100% dari alat-alat yang dibutuhkan
8.Mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 30% dari prosedur-prosedur yang benar
bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 31-50% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 51-69% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 70-84% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 85-100% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
9.Menggunakan alat-alat dengan baik dan terampil
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 30% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 31-50% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 51-69% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 70-84% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 85-100% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
10.Memperlakukan bahan dengan benar
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 30% dari bahan yang
ada
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 31-50% dari bahan
yang ada
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 51-69% dari bahan
yang ada
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 70-84% dari bahan
yang ada
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 85-100% dari bahan
yang ada
11.Mampu membuat keputusan dengan mengggunakan teori yang diperlukan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 30% dari teori
yang diperlukan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 31-50% dari teori
yang diperlukan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 51-69% dari teori
yang diperlukan

21

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 70-84% dari teori
yang diperlukan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 85-100% dari
teori yang diperlukan
12.Mampu bekerja dengan mengikuti peraturan keselamatan kerja yang ada
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 30% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 31-50% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 51-69% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 70-84% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 85-100% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
13.Mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang disediakan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 130% dari
waktu yang disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 121-130%
dari waktu yang disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 111-120%
dari waktu yang disediakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 101-101%
dari waktu yang disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 100% dari
waktu yang disediakan
14.Mampu menganalisis pekerjaan dengan prosedur yang benar
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 30% dari prosedur yang
benar
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 31-50% dari prosedur yang
benar
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 51-69% dari prosedur yang
benar
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 70-84% dari prosedur yang
benar
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 85-100% dari prosedur yang
benar
15.Membersihkan tempat kerja, alat-alat dan mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 1 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 30% dari tempat kerja, alat-alat dan mesinmesin setelah digunakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 31-50% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 51-69% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 70-84% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 85-100% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
A. SKALA PENILAIAN ACUHAN HASIL
16.Hasil pekerjaanya bagus dan sempurna
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 30% dari yang seharusnya
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 31-50% dari yang
seharusnya

22

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 51-69% dari yang
seharusnya
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 70-84% dari yang
seharusnya
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 85-100% dari yang
seharusnya
17.Pelaksanaan sesuai dengan rencana semula
Nilai 1 = jika pelaksanaan hanya maksimal 30% dari rencana semula
Nilai 2 = jika pelaksanaan hanya maksimal 31-50% dari rencana semula
Nilai 3 = jika pelaksanaan hanya maksimal 51-69% dari rencana semula
Nilai 4 = jika pelaksanaan hanya maksimal 70-84% dari rencana semula
Nilai 5 = jika pelaksanaan hanya maksimal 85-100% dari rencana semula
18.Hasil akhir sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan
Nilai 1 = jika hasil akhir hanya maksimal 30% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 2 = jika hasil akhir hanya maksimal 31-50% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 3 = jika hasil akhir hanya maksimal 51-69% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 4 = jika hasil akhir hanya maksimal 70-84% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 5 = jika hasil akhir hanya maksimal 85-100% dari spesifikasi yang seharusnya
19.Rangkaian dan bagian-bagiannya berjalan dengan baik
Nilai 1 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimalhanya 30% yang dapat berjalan dengan
baik
Nilai 2 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 31-50% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 3 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 51-69% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 4 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 70-84% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 5 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 85-100% yang dapat berjalan
dengan baik
20.Hasil analisis pekerjaan benar
Nilai 1 = jika hasil analisis pekerjaan benarmaksimal hanya 30%
Nilai 2 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 31-50%
Nilai 3 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 51-69%
Nilai 4 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 70-84%
Nilai 5 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 85-100%

23

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Lampiran 3
Prosedur Pelaksanaan Tes Kinerja
(dalam bentuk identification test, Simulation test dan Work Sample)
No
1
2
3
4
5
6
7

8
9

10

Deskripsi Pelaksanaan Tes Kinerja


Memperhatikan apakah siswa telah memiliki semua bahan, alat-alat,
pesawat, referensi, gambar, atau hal-hal lain yang diperlukan;
Meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa yang telah
dilakukan dan berapa lama ia harus bekerja;
Meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa yang telah
dilakukan dan berapa lama ia harus bekerja;
Mengusahakan kondisi kerja untuk setiap siswa sesama mungkin;
Meyakinkan bahwa alat-alat, bahan-bahan, dan mesin-mesin
berbeda keadaannya antara siswa yang satu dengan yang lain
Mengadakan pemantauan waktu dengan cermat jika yang diuji
adalah kecepatan;
Mengamati siswa pada saat ia bekerja dan mencatat kesalahankesalahan yang dilakukan jika elemen-elemen yang sedang diukur
adalah kemampuan merencanakan suatau pekerjaan;
Menghindari situasi tegang pada saat tes berlangsung;
Memeriksa benda kerja dengan instrumen yang sama atau alat-alat
ukur yang digunakan siswa untuk mengerjakan tugas tersebut jika
tes meliputi ukuran-ukuran;
Tidak memberi bantuan apapun, kecuali menjelaskan petunjukpetunjuk selama tes sedang berlangsung.

Ya

Tidak

Keterangan:
Isi kolom sebelah kanan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan
memberi tanda (V) pada kolom yang bersangkutan.
Selamat Bekerja

24

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Identifikasi Kompetensi Lulusan D3 Teknik Elektro


Universitas Negeri Yogyakarta
Mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Muhamad Ali
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT, UNY, E-mail: muhal.uny@gmail.com
Payung hukum ini menguatkan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 232 Tahun 2002 tentang
pedoman penyusunan kurikulum perguruan tinggi dan
penilaian
hasil
belajar
mahasiswa
serta
Kepmendiknas No. 45 Tahun 2002 tentang kurikulum
di perguruan tinggi. Mengacu pada dasar hukum ini,
Program Studi D3 Teknik Elektro FT UNY sudah
mencoba melakukan perbaikan kurikulum lama
(1997) untuk dikembangkan dengan kurikulum
berbasis kompetensi pada tahun 2002 yang
dilaksanakan pada tahun 2004. Seiring dengan
perubahan ilmu dan teknologi di bidang Teknik
Elektro khususnya perkembangan elektronika,
komputer dan teknologi informasi, kurikulum KBK
yang disusun pada tahun 2002 dikembangkan dengan
melakukan revisi pada beberapa bagian dan
diberinama kurikulum 2009.
Walaupun Program Studi D3 Teknik Elektro FT
UNY sejak tahun 2004 telah mengembangkan dan
melaksanakan KBK, namun demikian pada
kenyataannya masih banyak pembelajaran yang
dilakukan sama dengan kurikulum sebelumnya.
Penerapan KBK sesuai dengan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 dan No
045/U/2002 masih belum dapat dilaksanakan dengan
baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara
lain masih beragamnya pemahaman dosen tentang
makna KBK serta bagaimana implementasinya dalam
pembelajaran. Perumusan kompetensi lulusan masih
berdasar pada persepsi dan pengetahuan masingmasing dosen sebagai pengampu mata kuliah tanpa
adanya suatu kerangka acuan yang jelas. Dengan
ditetapkannya Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI) oleh pemerintah melalui Perpres
No. 8 Tahun 2012 sebagai acuan dalam penyusunan
capaian pembelajaran lulusan dari setiap jenjang
pendidikan secara nasional, Program Studi D3 Teknik
Elektro menyikapinya dengan kembali mengkaji,
merumuskan dan menetapkan capaian pembelajaran
dan membangun struktur kurikulum yang mengacu
pada KKNI.

Abstract-Program Studi Diploma Tiga (D3)


TeknikElektroFT UNY didesain untuk menghasilkan
lulusan yang siap bekerjasebagai teknisi listrik atau
teknisi instrumentasi di industri. Untuk itu mereka
perlu dibekali dengan pengetahuan, keterampilan dan
sikap kerja sesuai dengan tingkatan yang dibutuhkan di
dunia kerja. Artikel ini akan membahas identifikasi
kompetensi lulusan D3 Teknik Elektro mengacu pada
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Identifikasi kompetensi bidang teknik elektro
dilakukan melalui kajian pustaka, pengamatan dan
analisis pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan
dunia teknik elektro pada berbagai industri. Analisis
dilakukan secara kualitatif untuk menentukan dan
mengidentifikasi kompetensi utama dan kompetensi
pendukung yang perlu dikembangkan dalam rangka
penyiapan tenaga kerja lulusan D3 Teknik Elektro.
Hasil kajian menunjukkan bahwa lulusan D3
Teknik Elektro perlu dibekali dengan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja pada level 5 KKNI
dengan jabatan di dunia kerja adalah sebagai teknisi.
Kompetensi ini dapat diberikan melalui pembelajaran,
pembiasaan, penanaman kesadaran dan latihan guna
membangun lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Kata kunci:kompetensi, d3 teknikelektro, kkni

I. PENDAHULUAN
Kompetensi didefinisikan sebagai akumulasi
kemampuan seseorang dalam melaksanakan suatu
deskripsi kerja secara terukur melalui asesmen yang
terstruktur, mencakup aspek kemandirian dan
tanggung jawab individu pada bidang kerjanya
(Mega, 2010). Berdasarkan pengertian ini,
kompetensi merupakan gabungan antara pengetahuan
(knowledge), keterampilan kerja (skill), sikap kerja
(attitude) yang dimiliki oleh seseorang dan didukung
oleh pengalamannya guna menyelesaikan pekerjaan
pada bidang tertentu.
Untuk mendapatkan
kompetensi, seseorang perlu melakukan pendidikan,
pelatihan, magang kerja, pengalaman kerja atau cara
lainnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
melalui pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dalam memberikan bekal
kompetensi kepada mahasiswa dan lulusannya
berpegang pada kurikulum yang digunakan sebagai
acuan dalam pembelajaran dan penilaian apakah
mahasiswa sudah memenuhi kompetensi yang
diharapkan atau belum. Peraturan Pemerintah No. 17
Tahun 2010 Pasal 97 memberikan arahan bahwa
kurikulum perguruan tinggi yang dikembangkan dan
dilaksanakan harus berbasis pada kompetensi (KBK).

II. KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA


Berdasarkan Perpres No. 8 Tahun 2012,
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau yang
dikenal dengan singkatan KKNI didefinisikan sebagai
kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang
dapat
menyandingkan,
menyetarakan,
dan
mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan
25

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam


rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai
dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI
memberikan kepastian pengakuan pemakai tenaga
kerja berdasarkan tingkat pendidikan formal,
pendidikan non formal, pengalaman kerja dan
keahlian yang dimilikinya untuk bekerja pada
berbagai sektor baik di dalam maupun luar negeri.
KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri
Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan
dan pelatihan nasional (Mega, 2012). Perguruan
tinggi sebagai pencetak calon tenaga kerja perlu
memahami
konsep
KKNI
sehingga
dapat
merumuskan capaian pembelajaran (learning
outcomes) sesuai dengan tingkat pendidikannya.
Gambar 2. Level KKNI melalui beberapa jalur

III. PROFIL LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO FT UNY


Lulusan Program Studi D3 TeknikElektroFT
UNY didesain dan dikembangkan untuk siap
memasuki dunia kerja. Berdasarkan KKNI, jenjang
Diploma (D3) berada pada level 5 dengan jabatan di
dunia kerja adalah sebagai teknisi. Profil lulusan
ditentukanmelalumekanismepenggabunganvisiakade
mik yang dilakukanmelalui analisisevaluasi diri
dengan teknik SWOT (Strengths, Weakness,
Oppurtunities and Threats) dan analisis kebutuhan
pasar melalui tracer studi kepada alumni dan juga
masukan dari asosisasi profesi dan industri
(Muhamad Ali dkk , 2012). Untuk itu perguruan
tinggi perlu melibatkan semua dosen, alumni,
pemakai lulusan dari dunia usaha dan industry serta
asosiasi profesi yang terkait dengan bidang ilmu.
Dunia usaha dan industri yang menyerap lulusan D3
Teknik Elektrojumlahnya sangat banyak, mulai dari
industri jasa konsultan, industri proses maupun
industri manufaktur sehingga perlu diidentifikasi
dunia industri yang akan dibidik oleh program studi.
Sedangkan asosiasi profesi yang berkaitan dengan
dunia teknik elektro diantaranya adalah Asosiasi
Ketenagalistrikan Indonesia (AKLI), Asosiasi Profesi
Teknik Elektro Indonesia (APTEI), Pekerjaan Dalam
Keadaan Bertegangan (Gema PDKB), Masyarakat
Kendali Indonesia (Masdali) dan lain sebagainya.
Program Studi D3 Teknik Elektro mempunyau 2
konsentrasi yang mencerminkan spesialisasi keahlian
yang akan dikembangkan kepada mahasiswa dan
lulusan yaitu Teknik Tenaga Listrik dan Teknik Tekni
Instrumentasi dan Kendali (Tim, 2009). Dari
konsentrasi inilah kemudian dibuatlah profil lulusan
yaitu profesi atau jabatan yang akan ditempati oleh
lulusan setelah mereka masuk dunia kerja. Profil
pekerjaan yang banyak dijumpai oleh lulusan D3
Teknik Elektro adalah:

Gambar 1. KKNI sebagai penyetaraan kerangka kualifikasi dunia

KKNI terdiri atas 9 (sembilan) jenjang kualifikasi


yang dimulai dari jenjang 1 (satu) sebagai jenjang
terendah sampai dengan jenjang 9sebagai jenjang
tertinggi. Struktur KKNI terdiri dari 3 pilar yaitu
tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan sertifikasi
kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Desain
KKNI dapat dijelaskan seperti yang ditunjukkan pada
gambar 1 (Endrotomo, 2012).Level 1 sampai dengan
level 3 dikelompokkan dalam jabatan operator dengan
pendidikan antara SMP, SMA dan Diploma 1 (D1).
Jenjang 4 sampai dengan jenjang 6 dikelompokkan
dalam jabatan teknisi atau analis dan Jenjang 7
sampai dengan jenjang 9 dikelompokkan dalam
jabatan ahli.Pengalaman kerja dan sertifikat
kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dapat
meningkatkan jenjang pengakuan di dunia kerja.
Sebagai contoh seorang pekerja dengan ijasan D3
akan masuk pada level 5 KKNI dan tergolong pada
kategori teknisi. Dengan pengalaman kerja dan
sertifikat
kompetensi
yang dimiliki, maka
pengakuannya dapat meningkat sampai kepada ahli
walaupun pendidikannya masih D3.

Teknisi Listrik (electrical)


Teknisi
Instrumentasi
(instrumentation and control)
26

dan

Kendali

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

TeknisiLaboratorium
Teknisi Umum

Berdasarkan deskripsi generik KKNI level 5,


maka kompetensi utama yang harus dimiliki oleh
lulusan D3 Teknik Elektro konsentasi Teknik listrik
dan Konsentrasi Teknik Instrumentasi dan Kendali
adalah sebagai berikut:

IV. LEARNING OUTCOMES

Mampu menjelaskan konsep pembangkitan,


penyaluran dan pendistribusian tenaga listrik
dengan baik
Mampu menguasai prinsip sistem proteksi tenaga
listrik (proteksi peralatan dan manusia)
Mampu membaca dan membuat gambar teknik
Mampu melakukan pengukuran besaran-besaran
listrik dan mengintepretasikan hasil pengukuran
secara tepat
Mampu menggunakan dan memilih metode/alat
yang terbaik untuk membantu menyelesaikan
pekerjaan.
Mampu mengoperasikan
peralatan-peralatan
listrik berdasarkan pedoman yang ada.
Mampu menginstalasisistemtenaga listrik sesuai
dengan standar yang berlaku
Mampu melakukan troubleshootingsistem tenaga
listrik berdasarkan prosedur operasi standar dan
instruksi kerja.
Mampu melakukan pengujian sistem kelistrikan
Mampu merencanakan dan mengelola sumberdaya
dalam
pekerjaan
keteknikelektroan
dan
bekerjasama dengan orang lain
Mampu bekerja secara mandiri dan melakukan
pengawasan pekerjaan orang lain di lingkup
bidang kerjanya
Menguasai konsep dan prinsip bidang ilmu
teknikelektro secara umum
Mampu mengkomunikasikan hasil pekerjaannya
secara lisan maupun tertulis
Mampu menyusun laporan hasil pekerjaan yang
menjadi tugasnya.

Learning outcome atau kompetensi lulusan


diturunkan dari profil yang telah ditetapkan.
Penetapan learning outcome ini dilakukan melalui
diskusi yang melibatkan dosen, alumni, industri
pemakai lulusan dan asosiasi profesi. Kompetensi
yang perlu dikuasai oleh lulusan Program Studi D3
Teknik Elektro terdiri dari kompetensi utama dan
kompetensi pendukung. Selain kompetensi utama dan
kompetensi pendukung, lulusan juga perlu dibekali
dengan karakter kebangsaan dan kemampuan untuk
hidup bermasyarakat sesuai dengan ideologi Negara
dan budaya Bangsa Indonesia yaitu:
Memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa
Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik
Memiliki
karakter
kebangsaan
dan
kewarganegaraan
Menjunjung tinggi penegakan hukum serta
memiliki
semangat
untuk
mendahulukan
kepentingan bangsa serta masyarakat luas
Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan
sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap
masyarakat dan lingkungan
Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan,
kepercayaan, dan agama serta pendapat/temuan
orisinal orang lain
Menumbuhkembangkan kode etik profesi ahli
madya teknik elektro
Secara umum, KKNI telah memberikan
gambaran tentang kompetensi yang harus dimiliki
oleh calon tenaga kerja lulusan D3 yaitu:
Mampu menyelesaikan pekerjaan di bidangterkait
yang berlingkup luas dan mendalam pada sub
bidang tertentu.
Mampu memilih alat / metode yang sesuai dari
beragam pilihan yang sudah maupun belum baku
melalui analisis data.
Mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan
kuantitas yang terukur terhadap hasil kerja sendiri,
orang lain, dan kelompok, yang menjadi
tanggungjawab pengawasan di lingkup bidang
kerjanya.
Menguasai konsep teoretis bidang keilmuan secara
umum tetapi mendalam di bidangbidang tertentu,
serta mampu memformulasikan penyelesaian
masalah prosedural.
Memiliki kemampuan mengelola kelompok kerja
keteknikan dan menyusun laporan tertulis secara
komprehensif.
Bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri dan
dapat diberi tanggungjawab atas pencapaian hasil
kerjaorganisasi.

Kompetensi pendukung yang perlu dikuasai oleh


lulusan D3 Teknik Elektro konsentasi Teknik listrik
dan Konsentrasi Teknik Instrumentasi dan Kendali
adalah sebagai berikut:
Mampu menguasai teknologi informasi dan
komunikasi
Mampu menguasai dan mengembangkan jiwa
enterprenuership
Mampunyai kemampuan berkomunikasi
Mampu bekerja secara tim
Mampu mengimplementasikan K3 di tempat kerja
Mampu menguasai konsep dasar manajemen yang
efektif
V. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa
kesimpulan berkaitan dengan kompetensi lulusan D3
Teknik Elektro FT UNY yaitu:
Lulusan Program Studi D3 Teknik Elektro FT
UNY harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan
oleh dunia kerja yang dalam KKNI masuk
27

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA

kategori level 5 dengan jabatan teknisi dengan


kompetensi utama, kompetensi pendukung dan
memiliki jiwa nasionalisme, religious dan ketaatan
terhadap hukum dan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia.
Kompetensi utama Lulusan Program Studi D3
Teknik Elektro FT UNY berkaitan dengan
penguasaan bidang ilmu teknik elektro khususnya
teknik listrik, teknik instrumentasi dan kendali.
Kompetensi pendukung berkaitan dengan
penguasaan ICT, kemampuan berkomunikasi, jiwa
enterpreneurship, bekerja secara aman dan
menguasai dasar-dasar manajemen.

[1]. Endrotomo, 2012, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,


Materi Sosialisasi KKNI di Perguruan Tinggi, disampaikan di
Hotel Ina Garuda Yogyakarta.
[2]. Mega, 2010, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,
Materi Sosialisasi KKNI di Perguruan Tinggi disampaikan
pada Workshop Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi
Mengacu pada KKNI, di UNY, 2012.
[3]. Muhamad Ali, dkk, (2012), Laporan Penyusunan Kurikulum
Program Studi Teknik Elektro FT UNY Berbasis Kompetensi
Mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
[4]. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 dan
No 045/U/2002
[5]. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010, Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK)
[6]. Presiden Republik Indonesia, 2012, Peraturan Presiden
Perpres No tahun 2012, Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI),
[7]. Kepmendiknas No. 45 Tahun 2002 tentang kurikulum di
perguruan tinggi

28

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pemanfaatan Perangkat Lunak Open Source


untuk Mendukung KBM dan Manajemen Sekolah
Inte Christinawati Buull 1, Immanuel Panjaitan2
Institut Teknologi Del, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, inte@del.ac.id1, immanuel@del.ac.id2
Kemudian pada bab 3 dijelaskan mengenai
implementasi perangkat lunak open source di SMA
Unggul Del.

Abstrak-Teknologi informasi dan komuniasi


(TIK) untuk mendukung kegiatan proses belajar
mengajar di sekolah saat ini menjadi suatu
kebutuhan. Bukan saja dapat meningkatkan citra
suatu sekolah, namun yang paling utama dirasakan
adalah dukungan TIK yang baik dapat meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar.
Masih banyak sekolah yang belum memiliki
dukungan TIK berupa sistem informasi atau web site
terutama di rural area. Salah satu penyebabnya
adalah tidak adanya dana dan sumber daya manusia
yang memadai untuk mengembangkan perangkat
lunak yang mereka butuhkan.
Melalui kajian ini diperkenalkan beberapa
perangkat lunak tidak berbayar dan open source
yang dapat digunakan oleh sekolah. Perangkat lunak
tersebut adalah aplikasi Moodle, Jibas, SENAYAN,
dan CMS Balitbang. Keempat perangkat lunak
tersebut sudah berhasil diimplementasikan di SMA
Unggul Del.

II. PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE UNTUK


DUNIA PENDIDIKAN
2.1 Moodle
Moodle adalah CMS yang mengkhususkan diri
untuk kegiatan belajar berbasis internet dan
website. Perangkat lunak ini dapat digunakan
secara bebas sebagai produk open source di bawah
lisensi GNU. Moodle (Modular Object-Oriented
Dynamic Learning Environment) salah satu LMS
(Learning
Management
System)
yang
mengotomatisasi dan memvisualisasi proses belajar
mengajar[2]. Beberapa fitur yang disediakan pada
Moodle adalah:
Manajemen pengguna dan hak akses pengguna,
fitur ini penting dan sangat membantu untuk
merepresentasikan interaksi antar pengguna di
dunia nyata, contohnya guru dan siswa.
a. Manajemen peserta suatu course dan juga
grouping peserta.
b. Manajemen materi baik berupa text, presentasi,
dokumen, video, audio.
c. Manajemen pengumpulan dan penilaian tugas,
kuis, atau test lainnya.
d. Manajemen kuisioner, survey, forum.
e. Fitur monitoring, pelaporan dan fitur log yang
lengkap.

Kata kunci: open source, Jibas, Moodle, SENAYAN,


slims, e-learning, CMS BALITBANG,
teknologi informasi.

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Besarnya dukungan TIK untuk meningkatkan
mutu pendidikan telah lama disadari pemerintah.
Salah satu kebijakan strategis Kementerian
Pendidikan Nasional adalah pemanfaatan secara
optimal berbagai sarana seperti radio, televisi,
komputer dan perangkat Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) lainnya untuk digunakan sebagai
media pembelajaran[1]. Kehadiran TIK dalam
pendidikan bisa dimaknai dalam tiga cara pandang,
yaitu (1) TIK sebagai alat atau berupa produk
teknologi yang bisa digunakan dalam pendidikan,
(2) TIK sebagai konten atau sebagai bagian dari
materi yang bisa dijadikan isi dalam pendidikan,
dan (3) TIK sebagai program perangkat lunak atau
alat bantu untuk manajemen pendidikan yang
efektif dan efisien. Terkait dengan poin pertama
dan ketiga, saat ini sudah banyak perangkat lunak
tidak berbayar dan open source yang tersedia baik
yang disediakan oleh non pemerintah maupun yang
dikelola pemerintah. Beberapa di antaranya, yang
dapat digunakan untuk mendukung proses-proses
yang berlangsung di sekolah adalah Moodle, Jibas,
SENAYAN, dan CMS Balitbang.Pada bab
selanjutnya dipaparkan lebih detail fitur dari
Moodle, Jibas, SENAYAN, dan CMS Balitbang.

2.2 Jibas
Jibas singkatan dari Jaringan Bersama Antar
Sekolah adalah perangkat lunak open source yang
dikelola oleh Yayasan Indonesia Membaca. Misi
Jibas adalah membangun jaringan informasi dan
komunitas pendidikan yang bisa mewadahi
interaksi dan aktifitas setiap elemen pendidikan dari
siswa, guru, orang tua, yayasan, pemerintah dan
masyarakat umum.
Road Map Jibas (Gambar 1) yang dapat diakses
dari website resmi Jibas menunjukkan tingginya
dukungan Yayasan Indonesia Membaca pada
perangkat lunak ini. Selain itu instalasi dan
penggunaan perangkat lunak Jibas yang mudah
dibandingkan perangkat lunak sejenis lainnya
menyebabkan tingginya minat lembaga pendidikan
dalam dan bahkan luar negeri untuk menggunakan
perangkat lunak ini. Tercatat sudah lebih dari 4000

29

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

lembaga
pendidikan
yang
mengunduh perangkat lunak Jibas.

Modul ini hanya dapat diakses oleh guru


menggunakan NIP/NIDN sebagai user
nama dan password yang dikelola sendiri
oleh guru. Berikut adalah beberapa fungsi
modul ini:
Sebagai media komunikasi dengan
adanya fungsi manajemen berita.
Sebagai media pembelajaran siswa
karena guru dapat menyimpan materimateri pembelajaran yang dapat
diakses siswa melalui modul info
siswa.
Sebagai media bagi guru untuk dapat
mengakses informasi akademik.
Pengelolaan personal information
baik data pribadi maupun pengaturan
agenda pribadi guru.
ii. Modul InfoSiswa, terintegrasi dengan
modul akademik, perpustakaan serta
pelaporan. Modul ini hanya dapat diakses
oleh siswa menggunakan NIS sebagai
username dan pin yang telah disediakan
oleh sistem sebagai password. Berikut
adalah beberapa fungsi pada modul
InfoSiswa:
Sebagai media komunikasi sekolah
untuk mengabarkan berita ke siswa.
Sebagai media pembelajaran siswa,
karena siswa dapat mengakses materi
pembelajaran yang disimpan oleh
guru.
Akses informasi akademik, siswa
dapat mengakses informasi akademik
seperti jadwal pelajaran, nilai.
Pengelolaan personal information baik
data pribadi maupun pengaturan
agenda pribadi siswa.
c. Pelaporan
i. Pelaporan melalui sms gateway, hanya
dapat digunakan oleh pengguna tertentu
yang ditunjuk misalnya bagian akademik.
Modul ini terintegrasi dengan modul
akademik, keuangan, dan perpustakaan.
Berikut beberapa fungsi yang ada pada
modul pelaporan ini:
Manajeman pengiriman sms yang
berisi pengumuman, nilai, kehadiran
dan pembayaran siswa. Penerima sms
dapat diatur dengan mudah.
Fitur
SMS Autoresponse yang
membalas sms yang berisi pesan
ataupun pertanyaan seputar nilai,
kehadiran dan info pembayaran siswa.
ii. Pelaporan Eksekutif, hanya dapat diakses
oleh pimpinan di lembaga pendidikan.
Modul ini terintegrasi dengan modul
akademik, kepegawaian, perpustakaan.
d. Informasi Online
Pengelola Jibas menyediakan sejumlah server
yang dapat digunakan secara gratis oleh

menggunakan/

Gambar 1 Road Map pengembangan Jibas[2]

Berikut beberapa modul/fitur yang ada pada


perangkat lunak Jibas [3]:
a. Manajemen sekolah
i. Modul akademik, hanya dapat diakses oleh
pegawai
tertentu
yang
mengurus
kepegawaian. Modul ini terintegrasi dengan
modul keuangan, perpustakaan, info guru,
info siswa, pelaporan. Modul ini terdiri dari
fungsi penerimaan siswa baru, manajemen
guru dan pelajaran, pembuatan jadwal
belajar mengajar,
pendataan siswa,
pencatatan kehadiran guru dan siswa,
manajemen penilaian, pengaturan kelulusan
dan mutasi siswa.
ii. Modul keuangan, hanya dapat diakses
petugas di bagian keuangan. Modul ini
terintegrasi dengan modul akademik,
perpustakaan, dan pelaporan. Modul ini
terdiri dari fungsi pencatatan penerimaan
keuangan, pengeluaran keuangan, jurnal
umum, laporan akuntansi, laporan audit
data.
iii. Modul perpustakaan, hanya dapat diakses
oleh petugas perpustakaan. Modul ini
terintegrasi dengan modul info guru, info
siswa dan pelaporan eksekutif. Modul ini
terdiri dari fungsi pendataan barang pustaka,
peminjaman pustaka, pengembalian pustaka,
aktifitas perputakaan.
iv. Modul Kepegawaian, hanya dapat diakses
petugas di bagian kepegawaian. Modul ini
terintegrasi dengan modul akademik, info
guru, dan pelaporan eksekutif. Modul ini
terdiri dari fungsi pendataan data pegawai,
statistik kepegawaian, jadwal agenda
kepegawaian.
v. Fitur Photo Take disediakan untuk
memudahkan pembuatan dan upload pas
foto siswa dan guru dan pegawai lainnya.
b. Interaksi Sekolah
i. Modul InfoGuru, terintegrasi dengan modul
akademik, kepegawaian, dan perpustakaan.
30

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

a.

Online Public Access Catalog (OPAC) dengan


pembuatan thumbnail yang di-generate onthefly.
b. Thumbnail berguna untuk menampilkan cover
buku.
c. Mode penelusuran tersedia untuk yang
sederhana (Simple Search) dan tingkat lanjut
(Advanced Search)
d. Detail record juga tersedia format XML
(Extensible
Markup
Language)
untuk
kebutuhan web service.
e. Manajemen data bibliografi yang efisien
meminimalisasi redundansi data.
f. Manajemen masterfile untuk data referensial
seperti GMD (General Material Designation),
Tipe Koleksi, Penerbit, Pengarang, Lokasi,
Supplier, dan lain-lain.
g. Sirkulasi dengan fitur: Transaksi peminjaman
dan pengembalian, Reservasi koleksi, Aturan
peminjaman
yang
fleksibel,
Informasi
keterlambatan dan denda.
h. Manajemen keanggotaan.
i. Inventarisasi koleksi (stocktaking)
j. Laporan dan Statistik
k. Pengelolaan terbitan berkala
l. Dukungan pengelolaan dokumen multimedia
(.flv,.mp3) dan dokumen digital. Khusus untuk
pdf dalam bentuk streaming.
m. Senayan mendukung beragam format bahasa
termasuk bahasa yang tidak menggunakan
penulisan selain latin.
n. Menyediakan berbagai bahasa pengantar
(Indonesia, Inggris, Spanyol, Arab, Jerman).
o. Dukungan Modul Union Catalog Service
p. Counter Pengunjung perpustakaan
q. Member Area untuk melihat koleksi sedang
dipinjam oleh anggota
r. Modul sistem dengan fitur: Konfigurasi sistem
global, Manajemen modul, Manajemen User
s. (Staf Perpustakaan) dan grup, Pengaturan hari
libur, Pembuatan barcode otomatis, Utilitas
untuk backup

lembaga pendidikan untuk mem-publish


informasi sekolah ke internet.
i. Sinkronisasi data, modul ini digunakan
untuk sinkronisasi data di server lokal
sekolah dengan server Jibas.
ii. Jendela Sekolah, perangkat lunak berbasis
web yang disediakan oleh Jibas untuk
menampilkan informasi sekolah yang sudah
melakukan sinkronikasi data dengan server
Jibas.
iii. Jendela Sekolah mobile
e. Pemeliharaan
i. Back up & Restore
ii. Live Update

Gambar 2 Jibas

2.3 SENAYAN
SENAYAN adalah perangkat lunak web-based
tidak berbayar dan open source untuk kebutuhan
automasi perpustakaan. Perangkat lunak ini
pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh
Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional,
Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat,
Kementerian Pendidikan Nasional. Perangkat lunak
SENAYAN dibangun dengan menggunakan PHP,
basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Pada
tahun 2009, SENAYAN mendapat penghargaan
tingkat pertama dalam ajang INAICTA 2009 untuk
kategori open source.

2.4 CMS Balitbang


CMS Balitbang adalah perangkat lunak yang
disediakan secara gratis untuk mengembangkan dan
memublikasikan
manajemen
sekolah
dan
pembelajaran berbasis website dengan metode yang
sangat mudah.
Salah satu kegiatan yang dilakukan Balitbang
Kemdiknas untuk mendukung renstra Depdiknas
adalah Pembuatan Model Website Sekolah sejak
Tahun 2009. Hingga saat ini model tersebut telah
dipergunakan oleh lebih dari 400 sekolah di
Indonesia.
Gambar 3 SENAYAN

Beberapa fitur SENAYAN adalah sebagai


berikut [4]:

31

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

b.

Fitur perpustakaan dapat ditemukan di Jibas,


namun fungsi-fungsi yang diberikan masih
sederhana dibandingkan fitur-fitur yang
disediakan oleh SENAYAN.
c. Jibas dengan modul Jendela Sekolah dapat
dimanfaatkan untuk mem-publish informasi
sekolah. Namun dengan alasan SMA Unggul
memiliki jaringan dan perangkat yang
memadai maka untuk keperluan tersebut akan
digunakan CMS Balitbang. Dengan demikian
semua data dikelola secara mandiri oleh
sekolah.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka
keempat perangkat lunak
tersebut digunakan
secara bersamaan, dengan pemfungsian sebagai
berikut:
a. Moodle digunakan sebagai LMS dan hanya
dapat diakses di dalam lingkup jaringan SMA
Unggul. Semua materi ajar akan disimpan di
Moodle. Demikian juga tugas dan pengujian
serta pemberitahuan nilai akan dikelola
menggunakan moodle. Moodle juga digunakan
sebagai media evaluasi kinerja guru dengan
memanfaatkan fitur kuesioner. Selain itu akan
digunakan sebagai media diskusi antara guru
dan siswa terkait suatu materi ajar atau
pengujian
b. Jibas digunakan sebagai Sistem Informasi
Sekolah (Gambar 2). Modul-modul yang akan
digunakan
adalah
modul
akademik,
kepegawaian, keuangan, info guru, info siswa,
dan pelaporan.
c. Senayan, digunakan sebagai Sistem Informasi
Perpustakaan SMA Unggul, menggantikan
modul perpustakaan yang ada pada Jibas
(Gambar 3).
d. CMS Balitbang digunakan sebagai template
website SMA Unggul. Untuk saat ini template
CMS Balitbang digunakan tanpa modifikasi
berarti pada tampilannya (Gambar 4).
Saat ini data pada keempat perangkat lunak
belum terintegrasi. Kedepan, diharapkan keempat
perangkat lunak tersebut sudah terintegrasi dengan
baik. Sehingga data siswa yang disimpan di Jibas
dapat otomatis dilihat dari SENAYAN dan, tidak
perlu ada perulangan/redundansi input data,
pengolahan data lebih cepat dan akurat.

Gambar 4 CMS Balitbang

Berikut beberapa fitur yang ada pada CMS


Balitbang [5]:
a. Manajemen pengguna
b. Manajemen agenda, artikel, banner, berita,
buku tamu, forum diskusi, galeri foto, info
almni, info sekolah, jajak pendapat, materi uji,
materi ajar, prestasi, silabus.
c. Manjemen data daftar hadir siswa, data BP/BK,
laporan, materi, nilai, SPP/DSP.
d. Manajemen data guru dan siswa
e. Pengontrolan dan log.
III. PELAKSANAAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai implementasi
perangkat lunak Moodle, Jibas, SENAYAN, dan
CMS Balitbang di SMA Unggul Del.
3.1 Tentang SMA Unggul Del
SMA Unggul Del adalah sekolah di bawah
naungan Yayasan Del, yang berdiri pada tahun
2012. Visinya menjadi sekolah unggul yang
terpanggil, terdidik, dan teruji dalam mendidik
pribadi anak bangsa dan misinya adalah mendidik
anak bangsa yang handal untuk memiliki
kompetensi akademik yang tinggi secara global dan
berbudi pekerti. Sekolah ini berlokasi di desa
Sitoluama, Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera
Utara.
Strategi pembelajaran yang diterapkan adalah
T4 (Telaah, Teliti, Tata, dan Tutur). Untuk
mendukung strategi tersebut dibutuhkan bantuan
teknologi informasi sehingga metode pembelajaran
yang diberikan kepada siswa menjadi lebih lengkap
dan variatif. Jaringan LAN dan internet perlu
disediakan demikian juga dengan perangkat lunak
pendukung antara lain perangkat lunak pendukung
proses belajar mengajar, administrasi akademik,
perpustakaan, dll.

3.3 Instalasi
Untuk keperluan instalasi perangkat lunak,
SMA Unggul Del menyediakan dua buah server.
Masing-masing diinstal dengan sistem operasi yang
berbeda yaitu Centos dan Windows 2003 server.
Pada server dengan sistem operasi Centos diinstal
Moodle. Sementara di server yang lainnya diinstal
Jibas, SENAYAN, dan CMS Balitbang.
Berikut adalah perangkat lunak yang perlu
diinstall pada server:
- XAMPP
- MySQL Workbench

3.2 Rencana Pelaksanaan


Berdasarkan paparan pada bab sebelumnya
mengenai fitur yang ada pada masing-masing
perangkat lunak, terdapat beberapa kesamaan fitur
antara satu perangkat lunak dengan perangkat lunak
yang lain. Berikut pemaparannya:
a. Baik Moodle, Jibas, dan CMS Balitbang
mempunyai fitur manajemen materi ajar.
Namun dari ketiganya, Moodle memberikan
fitur manajemen materi yang paling lengkap.

32

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

- Editor

b.

Instalasi Moodle cukup mudah, yaitu:


Setelah memdownload Moodle terbaru dari
http://moodle.org,
extract
Moodle
di
\xampp\htdocs
b. Buat folder moodledata di \xampp.
Kemudian klik kanan folder tersebut, pilih
Properties. Pada tab security, klik Edit. Pilih
"User/", centang allow pada "Full control"
setelah itu klik OK.
c. Buat file config.php isinya: show config.php.
Simpan file tersebut di \xampp\htdocs\moodle
d. Pada localhost/phpmyadmin buatklah database
baru: dbmoodle, dengan MySQL connection
collation:utf8_unicode_ci
e. Buka localhost/moodle dan ikuti langkah
instalasi.
a.

c.
d.

Instalasi CMS Balitbang juga tidak rumit,


berikut langkah-langkahnya:
a. Download CMS Balitbang terbaru dari
http://www.kajianwebsite.org. Ekstrak filenya
dan pindahkan isi foldernya ke folder website
di dalam \xampp\htdocs.
b. Buatlah
database
websiteDB
di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
webtemp35baru.sql
c. Ubah konfigurasi website/lib/config.php sesuai
dengan nama dan password database serta data
sekolah yang menggunakan CMS Balitbang.
d. Buka aplikasi SENAYAN dengan mengetik
alamat
berikut
di
browser
http://localhost/website.
e. Untuk mengubah isi CMS Balitbang, silakan
membuka
http://localhost/website/admin/
gunakan username: admin, password: admin.

Untuk keperluan instalasi Jibas diperlukan


perangkat lunak tambahan yang perlu diinstal
yaitu .Net. Perangkat lunak ini dibutuhkan untuk
menjalankan modul SMS Gateway.
a. Setelah mendownload Jibas versi terbaru dari
http://www.jibas.net,
extract
Jibas
di
\xampp\htdocs.
b. Buatlah
database
jibasDB
di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
jibas_db.sql.
c. Ubah konfigurasi pada file jibas/config.ini
sebagai berikut:

3.4 Pemanfaatan
Sesuai dengan paparan pada bagian rencana
pelaksanaan, Moodle, Jibas, SENAYAN, dan CMS
Balitbang telah digunakan di SMA Unggul Del.
Akibat dari proses pelatihan yang belum tuntas,
pemanfaatan keempat perangkat lunak tersebut saat
ini belum maksimal.
Sebagai contoh, saat ini aplikasi Moodle telah
dimanfaatkan untuk penyimpanan materi ajar,
tempat penyetoran tugas, media komunikasi guru
dan siswa, serta dimanfaatkan untuk mengevaluasi
performansi guru dengan memanfaatkan fitur
kuesioner. Pemanfaatan Moodle sebagai sarana
ujian online belum digunakan saat ini karena
pelatihan guru terkait penggunaan fitur tersebut
belum selesai. Modul-modul yang telah digunakan
di Jibas adalah modul kepegawaian, akademik,
keuangan, Info guru, Info siswa dan modul
pelaporan eksekutif. Modul SMS Gateway masih
belum digunakan saat ini karena semester pertama
belum berakhir sehingga pelaporan nilai belum
dapat dilakukan.

$db_host = 'localhost:3306'; // Alamat


dan port database yang digunakan
$db_user = 'root'; // Database user yang
digunakan
$db_pass = 'kebersamaan'; // Isi dengan
password database
$G_SERVER_ADDR = '192.168.1.1/jibas'; //
Ubah dengan alamat server
$FS_UPLOAD_DIR =
'C:\GMS\JIBAS\xampp\htdocs\filesharing';
// Sesuaikan dengan direktori instalasi
filesharing
$G_OS = 'win'; // Isikan win atau lin
$G_LOKASI = 'Bandung'; //Lokasi sekolah

d.

Buka file php.ini ubah nilai (semua) variabel


berikut sehingga menjadi

short_open_tag = On
error_reporting = E_ALL & ~E_NOTICE &
~E_DEPRECATED & ~E_WARNING\
register_global=On

e.

a.

Buatlah
database
senayanDB
di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
senayan.sql.
Ubah
konfigurasi
sysconfig.local.inc.php
sesuai dengan nama dan password database.
Buka aplikasi SENAYAN dengan mengetik
alamat
berikut
di
browser
http://localhost/senayan.
Untuk
dapat
mengakses halaman admin, gunakan username:
admin, password: admin.

Buka aplikasi jibas dengan mengetik alamat


berikut di browser http://localhost/jibas.
Gunakan username: jibas, password: password.

IV. PENUTUP

Instalasi SENAYAN adalah sebagai berikut:


Download
SENAYAN
terbaru
dari
http://slims.web.id. Ekstrak filenya dan
pindahkan isi folder slims ke folder senayan di
dalam \xampp\htdocs.

Keempat perangkat lunak tersebut saat ini


sudah berjalan dengan baik dan masih dalam tahap
penyempurnaan isi. Pemberian pelatihan baik
kepada guru, staf dan siswa masih terus dilakukan.
Beberapa kendala ditemukan pada saat penggunaan
keempat perangkat lunak tersebut, seperti beberapa
33

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA

fungsi yang disediakan perlu dimodifikasi sehingga


sesuai dengan kebutuhan SMA Unggul Del, belum
terintegrasinya data pada keempat perangkat lunak
sehingga data harus disimpan secara terpisah pada
setiap perangkat lunak.
Implementasi perangkat lunak tak berbayar dan
open source di SMA Unggul Del dapat dijadikan
contoh bagi sekolah-sekolah lainnya yang
terkendala dengan sumber daya manusia ataupun
dana untuk mengembangkan perangkat lunak
pendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah
masing-masing khususnya perangkat lunak
pendukung kegiatan belajar mengajar.
Kesiapan sekolah untuk menggunakan
dukungan TIK dalam kegiatannya menjadi poin
penting. Kesiapan yang dimaksud dalam hal ini
adalah kemauan untuk berubah ke arah penggunaan
TIK, tersedianya infrastuktur, dan tersedianya
sumber daya manusia yang memadai untuk
mengoperasikan perangkat lunak.

[1]. Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Rencana


Strategis Departemen PendidikanNasional 2005-2009.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
[2]. Jason Cole, Helen Foster, "Using Moodle - Teaching with
the Popular Open Source Course Management System",
O'Reilly (http://moodle.org)
[3]. Presentasi Jibas.ppt (http://www.jibas.net)
[4]. Dokumentasi SLiMS Berdasarkan SLiMS5(MERANTI).pdf (http://slims.web.id)
[5]. Komponen Utama CMS
Balitbang.doc(http://www.kajianwebsite.org)

34

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Perangkat Untuk Model Pembelajaran


Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Berorientasi Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan
Standar Industri Bidang Perbaikan Motor Listrik (PML)
Joko1, Gatot Widodo2, Subhan3
1

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: unesa_joko@yahoo.com


Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: gwid.unesa@yahoo.co.id

Abstrak - Model pembelajaran yang diterapkan


di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) relatif masih
menggunakan model pembelajaran konvensional,
yaitu ceramah dan sebagian dilanjutkan sebagian
praktik.Pelaksanaannya belum terintegrasi dan
belum sesuai tuntutan dunia industri atau usaha
(DI/DU) dan belum memenuhi Standar Kompetensi
Nasional (SKNI), termasuk mata pelajaran kejuruan
(MPK) PML.Proses pembelajaran juga belum
mengoptimalkan siswa pada ranah keterampilan
kognitif, keterampilan pemecahan masalah, dan
keterampilan psikomotorik atau belum relevan
dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) PML di
DI/DU industri. Akibatnya kompetensi siswa setelah
belajar PML masih terpotong-potong atau belum
terintegrasi dan hasil produk PML yang dihasilkan
juga
belum
menyeluruh
atau
terpotongpotong.Akibatnya kompetensi siswa dalam PML
setelah pembelajaran belum sesuai SKNI dan standar
kompetensi pada DI/DU PML yang ada di dunia
nyata atau kehidupan sehari-hari, termasuk hasil
produk PML yang dihasilkan siswa. Tujuan
penelitian ini adalah mengembangkan perangkat
pembelajaran dengan Model Pembelajaran Berbasis
Proyek (MPBP)yang implementatif bagi guru dan
siswadalam rangka mengoptimalkan kompetensi
atau hasil belajar siswa ranah keterampilan kognitif,
keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilan
psikomotorik atau sesuai kompetensi yang ada pada
SKNI dan SOP PML di industri, serta produk PML
yang dihasilkan sesuai standar hasil PML di DI/DU.
Metode yang digunakan menggunakan Riset and
Development (R&D). Penelitian
diawali dengan
mengembangkan perangkat pembelajaran dengan
MPBP, selanjutnya dilakukan validasi pada keduanya
pada ahli terkait. Hasil evaluasi dan perbaikannya
berdasarkan masukan dari validator digunakan
sebagai bahan Focus Group Discusion (FGD).dan
selanjutnya berdasarkan hasil FGD dilakukan
perbaikan lagi berdasarkan masukan yang ada dan
dilakukan publikasi ilmiah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran PML
dengan MPBP yang dikembangkan layak dan dapat
digunakan dalam pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyek. Persentase validator
yang menyatakan atau menilai sangat valid 71,87%
dan sisanya 28,14% menyatakan valid, sedangkan
masukan pada saat FGD dan validasi, hanya pada
aspek tata tulis.

Kata kunci: pengembangan, model pembelajaran


berbasis proyek, dan perangkat
pembelajaran

I. PENDAHULUAN
Perubahan paradigma pembelajaran, dari
berpusat pada guru (teacher centered learning)
menjadi strategi pembelajaran yang berpusat pada
siswa(student centered learning) adalah merupakan
salah satu upaya penting untuk mengoptimalkan
proses pembelajaran yang menumbuhkan siswa
menjadi lebih aktif belajar.
Menurut Dimyati & Mujiono (2006), dalam
suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi
aktivitas belajar apabila adanya proses perubahan
perilaku pada diri sebagai hasil dari suatu
pengalaman. Selanjutnya Uno (2008) juga
menjelaskan bahwa siswa yang belajar harus
berperan
secara
aktif
membentuk
pengetahuannya.Dari kedua pandangan tersebut,
dapat dikatakan bahwa seorang siswa harus
menunjukkan perubahan tindakan belajarnya
sebagai wujud nyata terhadap tanggungjawabnya,
dan ini juga menuntut perubahan paradigma bagi
guru.
Kegiatan belajar dapat dilakukan dengan baik,
benar, tepat, dan berhasil optimal
jikaguru
memiliki strategi pembelajaran yang dapat
membantu siswa mengoptimalkan kegiatan
belajarnya. Pandangan ini sejalan dengan Degeng
(2007), yang menyatakan bahwa strategi belajar
yang digunakan oleh siswa sangat menentukan
proses dan hasil belajar. Sedangkan menurut
(Slavin 2000), strategi belajar harus sesuai dengan
tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dapat
membuat siswa melakukan aktivitas belajarnya
secara bebas, menyenangkan, dan bermakna bagi
proses perkembangan hasil belajarnya.
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dapat
dinilai dari tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif
dan psikomotorik (Devies, 1986; Jarolimek &
Foster, 1981). Ranah kognitif mencakup
kemampuan intelektual terkait kegiatan atau proses
mental yang berawal dari kategori rendah sampai
35

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

pembelajaran berbasis proyek.Ini merupakan


perkembangan yang positif mengingat pada
pendidikan teknik yang menonjol adalah
keterampilan mekanis, meskipun penting juga
untuk menyadari bahwa globalisasi dan teknologi
telah mengakibatkan tuntutan baru pada jenis
keterampilan kerja yang diperlukan.
Secara khusus, ada kebutuhan meningkat
untuk lulusan untuk secara holistik menerapkan
keterampilan mereka dalam lingkungan kerja yang
berorientasi proyek (Traylor,2003; Moore,2003).
Untuk memastikan bahwa praktik pembelajaran
berbasis proyek masih tetap diperlukan saat ini,
atribut -atributnya perlu disertakan sebagai suatu
bagian kegiatan yang tidak terpisahkan.
Selain itu juga perlu mempertimbangkan akan
pentingnya soft skill. Sedangkan kemampuan
komunikasi sebelumnya dipandang tidak begitu
penting, padahal sebagian besar profesional dan
pemberi kerja sekarang menganggap kemampuan
komunikasi menjadi penting selain kemampuan
bekerjasama yang merupakan bagian dari kerja
tim. Penyelenggara pendidikan teknik menyadari
perlunya keterampilan komunikasi yang kuat, tetapi
banyak yang enggan untuk memasukkan
keterampilan
ini. Hal ini disebabkan karena
sebagian guru hanya menganggap menjadi beban
kerja tambahan saja dan prospek untuk konten
teknis berkurang (Yelvac, 2007).
Untuk membantu mengembangkan softskill,
diantaranya siswa perlu diberikan keterampilan
memecahkan masalah, keterampilan teknis, dan
keterampilan kognitif, maka metode pembelajaran
berpusat pada siswa seperti pembelajaran
berbasis proyek (project based learning-PBL)
adalah tepat. Implikasinya perlu adanya perubahan
secara
menyeluruh
berkaitan
pelaksanaan
administrasi top-down dan perubahan administrasi
secara ekstensif untuk mengakomodasi modifikasi
struktur kurikulum. Implementasi sepenuhnya
sering tidak layak dan pendekatan metode
pedagogis ini tetap dapat digunakan untuk
meningkatkan keterampilan siswa.
Sebelum mengadopsi model pembelajaran
berbasis proyek, ada dua elemen kunci yang
perludipertimbangkan, yaitu bahwa metode ini
memerlukan implementasi pembelajaran berpusat
pada siswa yangdirancangdengan benar dan
disesuaikan untuk mencapai hasil pembelajaran
yang
diinginkan. Pertimbangan kedua adalah
pertanyaan tentang bagaimana struktur dan
mengimplementasikan kegiatan untuk menjamin
motivasi yang tepat. Hal ini penting karena
pembelajaran yang berpusat pada proyek adalah
menemukan konsep, sehingga harus menarik
agartingkat kenyamanan lebih tinggi daripada
model pembelajaran tradisional.
Pembelajaran berbasis proyekadalah salah satu
model atau pendekatan pembelajaran yang
menekankan pada peningkatan kemampuan

kategori paling tinggi. Sedangkan Penilaian hasil


belajar kognitif mengacu pada teori Anderson, et.al.
(2001). Ranah kognitif terdiri dari dua dimensi,
yaitu:
(1) dimensi proses kognitif (cognitive
process dimension) dan (2) dimensi pengetahuan
(knowledge dimension). Dimensi proses kognitif
disusun secara berjenjang meliputi mengingat
(remember), mengerti (understand), memakai atau
menerapkan (apply), menganalisis (analyze),
menilai (evaluate), dan mencipta (create).
Sedangkan dimensi pengetahuan (knowledge
dimension) terdiri atas fakta (factual), konsep
(conceptual),
prosedur
(procedural),
dan
metakognisi (metacognitive).
Hakikat
pengetahuan
prosedural
atau
keterampilan
pemecahan
masalah
adalah
mempelajari langkah-langkah dan mengikuti
persyaratan sesuai yang ditentukan pada suatu
pemecahan masalah. Merril (1983) menyatakan
bahwa tipe isi hasil belajar meliputi empat kategori,
yaitu fakta,
konsep,
prosedur, dan prinsip.
Sedangkan
ranah afektif meliputi receiving
phenomena, responding to phenomena, valuing,
organization, dan internalizing values. Sedangkan
untuk aspek psikomotor meliputi reflex movements,
fundamental movements, perception, physical
abilities, skilled movements, dan no discursive
communication.
Banyakguru telah berupaya menemukan model
pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Sejumlah
penelitian dilakukan dan berbagai strategi
pembelajaran
diusulkan
untuk
menjawab
pertanyaan "bagaimana membelajarkan lebih
efektif". Proses ini dimulai dengan pendekatan
behaviorisme, dilanjutkan kognitivisme, dan
berakhir dengan pendekatan konstruktivisme.
Konstruktivisme mendapat perhatian karena
beberapa alasan, seperti pendekatan pembelajaran
yang berpusat pada siswa dan siswa aktif
berpartisipasi (Frank, Lavy, & Elata, 2003;
Richardson, 2003).
Dengan implementasi konstruktivistis,siswa
memiliki kesempatan untuk belajar dengan
melakukan, meningkatkan keterampilan kritis
mereka, dan terciptanya kondisi peran aktif siswa
dalam belajar. Model pembelajaran berbasis proyek
adalah salah satu metode yang didasarkan pada
konstruktivisme yang mendukung keterlibatan
siswa dalam situasi pemecahan masalah (Doppelt,
2003). Siswa dalam pembelajaran berbasis proyek
terlibat langsung di lingkungan kehidupan nyata
dalam memecahkan masalah, sehingga pengetahuan
yang diperoleh lebih permanen. Hal ini sekaligus
dapat menjadikan jawaban atas kekhawatiran akan
kemampuan lulusan siswa, khususnya siswa SMK.
Menanggapi
kekhawatiran para pemimpin
industri dan profesional teknik bahwa lulusan tidak
memiliki kemampuan untuk
mensintesis dan
menerapkan pengetahuan mereka untuk masalah
dunia nyata, guru harus menerapkan
model
36

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dipakai guru, dalam hal ini guru merupakan sumber


informasi vital, cenderung menggunakan metode
ceramah dan sesuai urutan. Hal ini juga sesuai
dengan pendapat Meier (2002), yang menyatakan
bahwa strategi pembelajaran tradisional cenderung
bersifat kaku, serius, mementingkan materi,
dikontrol oleh guru dan bersifat behavioristis; (3)
siswa banyak bersikap pasif dan melakukan tugas
sesuai petunjuk kerja pada job sheet; (4) tugas yang
diberikan kepada siswa banyak dikontrol oleh guru,
baik tugas perorangan maupun kelompok, teori
maupun praktik. Dampaknya, hasil belajar siswa
mulai tahun akademik 2007/2008 s.d 2009/2010
yang dicapai siswa secara umum belum optimal
hasilnya (rata-rata 6,5 sebelum dilakukan kegiatan
remidi).
Mengingat kebebasan merupakan unsur
esensial dalam lingkungan belajar, maka perlu
disediakan berbagai pilihan tugas untuk siswa
disediakan pilihan cara untuk memperhatikan
keberhasilan, disediakan waktu untuk memikirkan
dan mengerjakan tugas; jangan terlalu banyak
menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya,
disediakan kesempatan untuk berfikir ulang; dan
dilibatkan pengalaman-pengalaman konkret siswa
(Degeng, 2007).
Berdasarkan beberapa uraian di atas, peneliti
akan melakukan penelitian dengan judul:
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Untuk
Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Berorientasi
Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan Standar
Industri Bidang Perbaikan Motor Listrik (PML) .
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah mendeskribsikan apakah
perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat
diimplementasikan.Sedangkan urgensi(keutamaan)
penelitian ini adalah menghasilkan perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang dapat
digunakan mengoptimalkan hasil belajar siswa
ranah keterampilan kognitif, afektif, dan
keterampilan
pemecahan
masalah,
dan
keterampilan psikomotorik; dapat menjadi acuan
bagi guru PML dalam menerapkembangkan
pembelajaran dengan MPBP; sebagai masukan
kepada Kepala SMK untuk mendorong guru
menerapkan pembelajaran dengan MPBP dan
melengkapi alat dan bahan dengan berorientasi
pada DI/DU; serta dapat menjadi acuan bagi
Direktorat PSMK Kemendiknas, Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Propinsi dan Kabupaten/Kota
dalam penataan, pengembangan dan pembangunan
pendidikan di SMK.Adapun temuan atau inovasi
yang ditargetkan adalah menghasilkan perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang
implementatif bagi SMK. Selain itu hasil penelitian
ini dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan
model pembelajaran berbasis proyek, khususnya
pada mata pelajaran kejuruan perbaikan motor

analytical and critical thinking siswa.explorative,


team work and communication skills menjadi
landasan untuk berkembangnya kedua skill
tersebut. Skill tersebut juga menjadi landasan siswa
sebagai long live learners. Dalam model
pembelajaran ini, sekelompok siswa diminta untuk
mengerjakan suatu proyek dengan keluaran yang
jelas. Guru bertindak sebagai supervisor atau
fasilitator, memberikan feed back secara bertahap,
menilai proses dengan kisi-kisi penilaian terkait
dengan menumbuhkan skills tersebut.
Selain pemilihan model pembelajaran yang
tepat, karakteristik dari mata pelajaran yang
berbeda juga memberikan pengaruh dalam
keberhasilan
belajar.Dengan
mencermati
karakteristik tipe mata pelajaran yang dibelajarkan,
maka seorang guru dapat memilih model
pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam
mengembangkan strategi
belajarnya
dalam
mencapai hasil belajar yang optimal.
Mata pelajaran kejuruan PML pada Komli
TITL dengan 200 jam pelajaran terdiri dari lima
kompetensi dasar, yaitu: (1) memahami cara
perbaikan motor listrik; (2) membongkar kumparan
motor; (3) melilit kumparan motor; (4) memeriksa
hasil lilitan kembali; dan (5) melakukan uji fungsi
motor hasil lilitan ulang. Dari karakteristik standar
kompetensi kejuruan ini, dapat dijelaskan bahwa
siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan hasil
belajar antara lain: (1) untuk dimensi proses
kognitif (pengetahuan prosedural) berada pada dua
kategori yaitu mengerti dan
(memakai); (2)
dimensi afektif; (3) dimensi psikomotorik; dan (4)
produk yang dihasilkan sesuai standar hasil produk
yang dihasilkan industri atau usaha jasa perbaikan
dinamo. Tampak bahwa dalam pembelajarannya
bukan saja dapat menggunakan aktivitas mental
dalam mengerjakan tugas-tugas belajar, tetapi juga
keaktifan fisik dan sikap dalam mengerjakan tugastugas belajar.
Meskipun ada beberapa hasil penelitian tentang
hasil belajar, tetapi belum banyak hasil kajian
empirik tentang penerapan model pembelajaran
berbasis proyekterhadap hasil belajar (kinerja
keterampilan teknis, kinerja keterampilan proses
atau kemampuan memecahkan masalah, dan kinerja
keterampilan kognitif) khususnya SMK di
Indonesia, yang juga belum banyak menerapkan
model pembelajaran berbasis proyek.
Dari hasil survey bulan Agustus sampai
desember 2012 pada tiga SMK Negeri di Surabaya,
pelaksanaan pembelajaran perbaikan motor listrik
pada kelas XII. Temuan lain adalah: (1) penilaian
hasil belajar hanya berkaitan pada produk akhir dan
belum didasarkan pada standar hasil produk; (2)
strategi pembelajaran masih konvensional atau
berpusat pada guru sehingga siswa terpola
melakukan aktivitas belajar dengan cara
mendengar, memandang papan tulis disertai
mencatat berdasarkan materi di buku teks yang
37

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

kebiasaan
menunggu
langkah-demi-langkah
pembelajaran berbasis perintah (Lenschow, 1998).
Lebih lanjut Lenschow(1998) menyarankan
menerapkan pendekatan trial-and-error sebelum
pindah untuk sebuah pembelajaran berbasis proyek
proyek skala besar. Sebuah pembelajaran berbasis
proyek skala kecil terdiri atas lima sampai lima
belas siswa akan menjadi upaya untuk melihat
efek kepuasan pada siswa dan isu-isu terkait
dengan pelaksanaannya. Pada skala kecil akan
membantu guru menyadari tantangan pembelajaran
berbasis proyek. Misalnya, Frank dan Barzilai
(2003) memberikan daftar panjang kemungkinan
kendala menggunakan
pembelajaran berbasis
proyek, yaitu:
Teachers content knowledge, students lack of
experience in this new approach and their
preference for traditional-structured approach;
their preference for learning environment which
require less effort on their part;and problems
arising from time stress. Students struggling with
ambiguity, complexity, and unpredictability and are
liable to sense frustration in an environment of
uncertainty, where they have no notion of how to
begin or in which manner to proceed. (p. 43).
Sedangkan Heckendorn(2002) menjelaskan
bahwa dalam model pembelajaran berbasis proyek
memerlukan waktu lebih lama
untuk
menyelesaikan masalah yang kompleks sesuai
dalam lingkungan kehidupan nyata. Selain itu
pembelajaran berbasis proyek
memfokuskan
perhatian, baik pada produk akhir maupun
pengalaman selama proses. Karena penekanannya
pada proyek, pilihan perhatian utamanya pada
instruktur.
Proyek memiliki tanggungjawab
melatih siswa dan membawanya ke dalam
kehidupan nyata
dan membaginya ke dalam
langkah-langkah spesifik
dan lebihkecil
lagi(Solomon,2003). Untuk itu, Ozdener dan
zoban (2004) menekankan bahwaproyekdapat
diterapkandi tingkat pribadi atau kelompok, siswa
menggunakan
pemikiran dan keterampilan
kreativitasnya dalam memecahkan masalah.
Lenschow (1998) mengusulkan, proyek adalah
sedekat mungkin dengan realitas, untuk menutupi
kesenjangan antara lingkungan kehidupan nyata
dan sekolah, Selain itu Heckendorn (2002)
menegaskan bahwa bataswaktu harusditekankan
dalam pembelajaran berbasis proyek seperti
lingkungan dalam dalam situasi kehidupan nyata.
Selain itu, teori dan aplikasinya harus diatur
dengan jelelas sesuai tingkat kompetensi siswa.
Selain itu, lama waktu proyek harus disesuaikan
sehingga siswadapat berkonsentrasi pada bagianbagian proyek.

listrik dan mata pelajaran lain yang karakteristinya


menyerupai.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan
sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang
inovatif, menekankan belajar kontekstual melalui
kegiatan-kegiatan kompleks (Cord, 2001; Thomas,
Mergendoller, & Michaelson, 1999; Moss, VanDuzer, Carol, 1998).Pembelajaran berbasis proyek
dapat didefinisikan secara singkat sebagai "model
pembelajaran yang mengorganisasikan proyek"
(Thomas, 2000,hal. 1).Meskipun menugaskan
proyek-proyek untuk siswa di kelas tradisional
bukanlah fenomena baru, pembelajaran berbasis
proyek sangat berbeda dari aplikasi biasa. Thomas
memasukkan lima besar kriteria metode
pembelajaran untuk disebut pembelajaran berbasis
proyek, yaitu: (1) pembelajaran berbasis proyek
merupakan inti bukan bagian muka kurikulum; (2)
pembelajaran berbasis proyek difokuskan pada
pertanyaan atau masalah yang mendorong siswa
untuk menemukan konsep-konsep utama dan
prinsip-prinsip secara disiplin; (3) melibatkan siswa
dalam penyelidikan proyek konstruktif; (4) proyek
mendorong siswa sampai tingkat tertentu yang
signifikan; dan (5) proyek realistis, tidak seperti
sekolah.Peran instruktur dalam implementasi
pembelajaran berbasis proyek didefinisikan oleh
Frank, Lavy, dan Elata (2003) seperti ketika "...
belajar siswa pasif diubah dengan motivasi
mendorong, membimbing, menyediakan menyediakan sumber daya, dan membantu siswauntuk
membangun pengetahuan mereka sendiri ".
Pembelajaran berbasis proyek siswa belajar
lebihbaikdan mereka lebih aktif bertindak dalam
pembelajaran. Di sisi lain, instruktur bekerja di
belakang siswa yang mengerjakan proyek-proyek
mereka. Hal ini ternyata peserta menjadikan siswa
aktif menyelesaikan masalah dalam proyek,bukan
penerimapasifpengetahuan.SelanjutnyaThomas(200
0)mendefinisikan isu tentang dampak positif
daripembelajaran berbasis proyekbagi siswa
sebagai pengembangan sikap positif terhadap
proses belajar mereka, rutinitas pekerjaan,
kemampuan pemecahan masalah, dan harga diri.
Demikian pulaPanitz (2000) mencatat bahwa siswa
menyelesaikan proyek mereka, mereka melakukan
refleksi individu proses berdasarkan pengalaman
mereka dalam pembelajaranberbasisproyek . Selain
itu, siswa menyadari kesamaan antara apa yang
mereka pelajari dan apa yang terjadi di luar gedung
sekolah.
Meskipun siswa mengalami kendala pada tahap
awal pelaksanaanpembelajaran berbasis proyek
diprogram studi mereka, sebagian besar siswa
merasa
lebih
termotivasi
selama
dalam
pembelajaran berbasis proyek.Karena pembelajaran
berbasis proyek memberi kesempatan pada siswa
untuk mengimplementasikan kebebasan mereka
dalam lingkungan belajar ,mereka menghentikan

II. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS


PROYEK

Fokus pembelajaran berbasis proyek adalah


pada konsep-konsep, prinsip-prinsip inti dari suatu
38

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

harus merencanakan dengan baik dan fleksibel.


Pada
pendekatan
ini,
peranguru
sering
menampakkan diri mereka dalam kelompok siswa.
Guru dapat menilai hasis pembelajaran berbasis
proyek dengan kombinasi tes objektif, daftar, dan
rubrik, namun, ini sering dilakukan hanya
mengukur tugas selesai. Dimasukkannya reflektif
memberi peluang siswa melakukan evaluasi diri.
Menurut Andi Stix and Frank Hrbek (2006),
secara umum pembelajaran berbasis proyek
dilakukan melalui sembilan tahapan (tentu saja guru
harus dapat memodifikasi sesuai dengan tugas
yang harus dipenuhi siswa), yaitu:(1)guru
melakukan seting untuk siswa agar proyek yang
dikerjakan otentik atau sesuai dengan kondisi nyata
dalam kehidupan. Guru membawa siswa ke dalam
kehidupan nyata tentang proyek yang akan mereka
lakukan; (2) siswa mengambil peran mendesain
proyek, jika memungkinkan perlu membentuk
forum untuk menampilkan atau kompetisi; (3)
siswamembahas dan mengumpulkan informasi
latarbelakangyang diperlukan untuk desain mereka;
(4) guru dan siswa melakukan negoisasi kriteria
untuk
mengevaluasi
proyek;
(5)
siswa
mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk
proyek yang dikerjakan; (6) siswa membuat proyek
mereka; (7) siswa mempersiapkan diri untuk
mengerjakan
proyek
mereka;
(8)
siswa
mempresentasikan proyek mereka; dan (9). siswa
merefleksikan proses dan mengevaluasi proyek
berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada langkah
(4). Tabel 1 menunjukkan contoh prosedur dan
strategi pembelajaran berbasis proyek hasil
pengembangan dari Seungyeon Han and Kakali
Bhattacharya, 2012.

disipli nstudi, membutuhkan tugas-tugas kompleks,


berdasarkan pertanyaanatau masalah menantang,
melibatkan siswa dalam desain, pemecahan
masalah, pengambilan keputusan, atau kegiatan
investigasi, memberikan kesempatan siswa untuk
bekerja secara mandiri dengan periode waktu relatif
lebih lama , dan berakhir pada produk yang
realistis, refleksi atau presentasi (Thomas, 2000).
Karakteristik model atau pendekatan pembelajaran
berbasis
proyek
berbeda
dengan
model
pembelajaran yang telah banyak dikembangkan dan
dilakukan guru dalam pembelajaran, yaitu dengan
metode pelatihan.Pada pembelajaran tradisional,
guru memberikan penjelasan teori singkat,
selanjutnya siswa melakukan tugas sesuai dengan
job sheet didampingi guru, dan pada akhir
pembelajaran pembelajar menilai hasil pekerjaan
siswa.Prosedur
lebih
menekankan
aspek
keterampilan motorik semata tanpa memperhatikan
kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan
kognitif siswa.
Pada pembelajaran berbasis proyek, fokus pada
pengembangan produk atau unjuk kerja.Siswa
umumnya bekerja secara kolaboratif dalam
kelompok kecil. Mereka menemukan sumbersumber, melakukan penelitian, dan satu sama lain
bertanggung
jawab
ataspembelajaran
dan
penyelesaian tugas. Guru berperan membantu siswa
dengan memberikan bimbingan yang cukup dan
umpan balik. guru harus lebih teliti menjelaskan
semua tugas-tugas yang harus diselesaikan,
memberikan
petunjuk
rinciuntukbagaimana
mengembangkan proyek, dan keliling di dalam
kelas
untuk
menjawab
pertanyaan
danmendorongmotivasisiswa. Untuk sukses dalam
menciptakan pembelajaran berbasis proyek, guru

Tabel 1
.Prosedur dan Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek
Perspective Siswa
Prosedur dan Strategi

Konteks
Planing
1. Merancang kondis
isecara
menyeluruh
2. Penyelidikan

Creating
1. Analisis data

2. Bekerja

Penciptaan lingkungan yang


mendorong penyelidikan
Penciptaan keterkaitan
dengan dunia nyata
Pemilihan topik
Penemuan sumber
Pengorganisasian kolaborasi

Mengajukan dan
menyempurnakan pertanyaan
Merumuskan tujuan
Rencana prosedur
Debat ide
Menyertakan metode "Jigsaw"

Pembuatan prediksi
Desain rencana dan
pelaksanaan percobaan
Pengumpulan dan analisis
data
Pengkomunikasian

Panduan untuk menganalisis data


Menyertakan model bantuan teknis

Memiliki kemampuan yang dibutuhkan


untuk kolaborasi dan pengetahuan
mengeksplorasi pertanyaanyang muncul

Mengajukan pertanyaan baru


Menarik kesimpulan

sama dengan
yang lain
3. Mengembangkanp
emikiran & pen
dokumentasian

Perspective Guru

Pembuatan artefak
Pemvisualisasian dan

Berikan waktu yang cukup untuk


mengerjakan proyek
Memberikan masukan untuk pertanyaan
penciptaan, pendekatan dan artefak

39

Memahami isi proyek untuk


membantu siswa Penciptaan
suasana terbuka
Memfasilitasi pembelajaran
Memberikan pengetahuan
awal sebelum proyek
dimulai
Menyediakan serangkaian
struktur tahapan tindakan
penyelidikan bagi siswa

Tekankan individu
dan proses belajar kelompok
Menyediakan norma
akuntabilitas individu
Desain kegiatan
Menyediakan sumbersumber

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
Konteks

Perspective Siswa

Prosedur dan Strategi


pembangunan ide-ide

Perspective Guru
Berikan saran untuk
siswa demi kemajuan proye
k-proyek mereka

Proses
1. Menyajikan peng

Memantau apa yang diketahui

etahuan dan
artefak

Mendemonstrasikan secara lengkap


serangkaian kompetensi

2. Refleksi & tindak


lanjut

Penilaian
Evaluasi teman sejawat
Evaluasi diri
Penilaian portofolio

Memahami metode evaluasi guru


Menyepakati norma penilaian awal
yang telah dibuat
Merefleksikan pembelajarannya
sendiri
Berbagi dan memperoleh berbagai
perspektif

Memadukan
kesempatan presentasidenga
n melibatkan pihak luar
Perlu performance kriteria
lebih dari satu
(misalnya kolaborasi, penjel
asan, demonstrasi, laporan
diri)
Menciptakan
budaya kelas yang sering
mendukung umpan
balik dan asesmen
Menemukan cara bagi
siswa untuk
membandingkan pekerjaan
mereka dengan yang lain

Sumber:Dikembangkan dari Seungyeon Han and Kakali Bhattacharya, 2012

(2) pengetahuan konsep (conceptual knowledge),


yaitu pengetahuan seseorang tentang salingketerkaitan diantara elemen-elemen dasar; (3)
pengetahuan prosedur (procedural knowledge)
adalah pengetahuan tentang how to do something
(bagaimana cara melakukan sesuatu); dan (4)
pengetahuan
metakognisi
(metacognitive
knowledge) merupakan pengetahuan seseorang
tentang kognisi secara umum maupun kesadaran
tentang proses-proses kognitif sendiri.
Gagne & Briggs (1979), menjelaskan bahwa
lima kategori kapabilitas hasil belajar yang bisa
diukur pada diri siswa, yaitu: (1) keterampilan
intelektual (intelectual skills); (2) strategi kognitif
(cognitive strategy); (3) informasi verbal (verbal
information); (4) keterampilan motorik (motor
skills); dan (5) sikap (attitudes). Salah satu titik
perhatian dari kelima kategori tersebut adalah
keterampilan intelektual. Menurut Degeng (1989)
bahwa si pebelajar akan menggunakan suatu
keterampilan intelektual apabila beriteraksi dengan
lingkungan. Dua bentuk simbul, bahasa dan angka
dapat digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti
membedakan, mengkalsifikasikan, menjumlah, dan
mengenal fungsi motor listrik dan bagian utama.
Perubahan kemampuan dapat dilihat dari perubahan
perilaku seseorang yang berupa peningkatan
kapabilitas (kemampuan tertentu) pada berbagai
jenis kinerja, sikap, minat atau nilai.Jenkins &
Unwin (1996) menegaskan bahwa siswa mampu
mengerjakan sesuatu sebagai hasil belajar akibat
kapabilitasnya.
Domain afektif menurut (Krathwohl, Bloom,
Masia, 1973),
mencakup
cara
bagaimana
menangani hal-hal emosional, seperti perasaan,
nilai-nilai, apresiasi, antusiasme, motivasi, dan
sikap.Lima kategori
utama
dari
perilaku
sederhana sampai yang paling rumit adalah:(1)
receiving phenomena,kesadaran, kesediaan untuk
mendengar dan memperhatikan dengan baik; (2)

III HASILBELAJAR
Suatu perubahan tingkah laku terjadi akibat
proses belajar, dan perubahan tingkah laku sebagai
hasil belajar memiliki 3 (tiga) domain: kognitif,
afektif dan psikomotor (Anderson, 2001).
Sedangkan
menurut
Mclean,
R.
(2008),
menyimpulkan bahwa pengembangan kecakapan
kerja harus melalui pengembangan program
ketenagakerjaan,
tidak
hanya
keahlian
ketenagakerjaan secara spesifik, tetapi kecakapan
kerja secara umum mencakup keahlian motorik,
sosial, dan intelektual. Kecakapan kerja tersebut
merupakan keahlian atau kompetensi seseorang
dalam ketenagakerjaan yang diperoleh melalui
proses pembelajaran di lembaga pendidikan dan
latihan. Dua hal di atas menunjukkan bahwa hasil
belajar untuk SMK khususnya meliputi tiga
domain, yaitu domain kognitif, afektif dan
psikomotor.
Dimensi proses kognitif atau aspek belajar
difokuskan pada dua kategori, yaitu mengerti dan
memakai. Kategori mengerti (understand), kategori
pemahaman dihubungkan dengan kemampuan
untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang
telah diketahui dengan kata-kata sendiri atau
komunikasi lisan dan kategori memakai (apply),
penerapan
merupakan
kemampuan
untuk
menggunakan atau menerapkan informasi yang
telah dipelajari ke dalam situasi yang baru serta
memecahkan masalah
sehari-hari. Dimensi
pengetahuan (knowledge dimension) meliputi
pengetahuan
fakta
(knowledge
factual),
pengetahuan konsep (conceptual knowledge),
pengetahuan prosedur (procedural knowledge),
pengetahuan prosedur (procedural knowledge), dan
pengetahuan
metakognisi.
Secara
ringkas,
pengetahuan diuraikan secara berturut-turut sebagai
berikut: (1) pengetahuan fakta sebagai pengetahuan
seseorang tentang elemen-elemen dasar suatu topik;
40

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

otomatis; (6) adaptation, keterampilan yang


dikembangkan dengan baik dan individu dapat
memodifikasi pola pergerakan sesuai persyaratan
khusus ; dan (7) origination, membuat pola gerakan
baru agar sesuai dengan situasi tertentu atau
masalah khusus.
Berdasarkan beberapa uraian dan penjelasan
serta hasil penelitian di atas, dapat dikatakan hasil
belajar merupakan suatu perolehan yang dimiliki
siswa setelah melalui proses pembelajaran dimensi:
(1) proses kognitif, meliputi mengerti, memakai
dan
pengetahuan
prosedur
(keterampilan
intelektual); (2) afektif, meliputi: (a) receiving
phenomena,
kesadaran,
kesediaan
untuk
mendengar dan memperhatikan dengan baik; (b)
responding to phenomena, berpartisipasi dalam
diskusi kelas, melakukan presentasi, mengetahui
aturan
dan
praktik-praktik
keselamatan
kerja;(c)valuing, menunjuk-kan kemampuan untuk
mengatasi masalah, mengusul-kan rencana untuk
perbaikan sosial
dan menjalankannya dengan
komitmen; dan (d) organization,mengakui perlunya
keseimbangan antara kebebasan dan perilaku yang
bertanggung jawab, menerima tanggungjawab atas
apa
yang
diperbuat,
menjelaskan
peran
perencanaansistematis
dalam
memecahkan
masalah, menerima standar etika profesional,
membuat
rencana
hidup
selaras
dengan
kemampuan,
minat,
dan
keyakinan,
memprioritaskan waktu secara efektif ; dan (e)
internalizing values,
hasil pembelajaran
menekankan apakah sistem nilai mengendalikan
perilaku
mereka,
misalnya menampilkan
kemandirian ketika bekerja secara mandiri, bekerja
sama dalam kegiatan kelompok , menggunakan
pendekatanobjektif dalam pemecahan masalah,
menampilkan komitmen profesional untuk praktik
etika setiap hari, memperbaiki nilai dan perubahan
perilaku ditunjukkan dengan bukti-bukti baru; (3)
psikomotorik, berkaitan dengan hasil belajar
keterampilan memasang dan membongkar lilitan,
memerlukan latihan dan diukur dalam hal
kecepatan, ketepatan, jarak, prosedur, atau teknik
dalam pelaksanaan.

responding to phenomena, partisipasi aktif dari


siswa, hadir memberikan reaksi terhadap fenomena
tertentu.
Hasil
pembelajaran
menekankan
kepatuhan dalam memberikan tanggapan, kemauan
untuk
merespon,
atau
kepuasandalam
menanggapi (motivasi); (3) valuing, nilai layak
yang melekat pada seseorang pada objek tertentu,
fenomena atau perilaku menghargai didasarkan
pada internalisasi dari serangkaian nilai-nilai
tertentu, indikator nilai-nilai dinyatakan dalam
perilaku keterbukaan siswa yang teridentifikasi; (4)
organization, mengorganisasikan prioritas nilainilai yang bertentangan dan berbeda,menyelesaikan
konflik diantara mereka, dan menciptakansebuah
sistem nilai yang unik. Penekanannya pada
membandingkan,mengkaitkan dan mensintesisnilainilai. misalnya, mengakui perlunya keseimbangan
antara kebebasan dan perilaku yang bertanggung
jawab, menerimatanggungjawab atas apa yang
diperbuat,
menjelaskanperan
perencanaan sistematis
dalam
memecahkanmasalah, menerima standar
etika
profesional, membuatrencana hidup selaras dengan
kemampuan,
minat, dan
keyakinan,
memprioritaskan waktu secara efektif untuk
memenuhi kebutuhan organisasi,keluarga dan diri
sendiri; dan (5) internalizing values(karakterisasi),
apakah sistem nilai mengendalikan perilaku
mereka. Perilaku ini mendalam, konsisten, dapat
diprediksi, dan yang paling penting karakteristik
dari peserta didik.
Sedangkan domain psikomotor,
meliputi
gerakan fisik, koordinasi,
dan penggunaan
keterampilan bidang motorik. Pengembangan
keterampilan ini memerlukan latihan dan diukur
dalam hal kecepatan, ketepatan, jarak, prosedur,
atau teknik dalam pelaksanaan. Kategori utamadari
perilaku mulai dari yang sederhana sampai yang
paling rumit adalah: (1) perception, kemampuan
untuk menggunakan isyarat-isyarat sensoris dalam
memandu aktivitas motorik. Hal ini berkisar dari
rangsangan indra, melalui pemilihan isyarat,
menterjemahkan; (2) set, kesiapan untuk bertindak,
meliputi mental, fisik, dan emosional. Ketiga set
tersebut adalah disposisi respon seseorang untuk
situasi yang berbeda yang ditetapkan sebelumnya
(disebut juga pola pikir); (3) guided response,
tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang
kompleks yang mencakup imitasi dan trial and
error. Kecukupan kinerja dicapai dengan berlatih;
(4) mechanism, merupakan tahap peralihan dalam
belajar keterampilan yang kompleks. Siswa terbiasa
memberikan respon dan gerakan-gerakan yang
dilakukan dengan kemampuan dan keyakinan; (5)
complex overt response, kinerja terampil sebagai
penggerak tindakan yang melibatkan pola gerakan
kompleks. Kemahiran ditunjukkan dengan kinerja
cepat, akurat, dan sangat terkoordinasi, serta
membutuhkan energi minimal. Kategori ini
termasuk melakukan kerja tanpa ragu-ragu dan

IV METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian Riset and
development (R&D). Riset & Development (R &
D). Langkah penelitian yang dilakukan pada
penelitian ini adalah mengadopsi langkah-langkah
penelitian menurut Sugiono (2011). Dari 10
langkah, hanya diadopsi sampai 6 langkah, yaitu:
(1) Potensi dan masalah.Berupa kesenjangan antara
hasil belajar PML di SMK dengan SKNI dan
standar industri; (2) pengumpulan data.Dilakukan
dengan analisis penyebab kesenjangan, meliputi:
(a) analisis jurnal hasil pembelajaran dengan
MPBP, dilanjutkan survey ke SMK (survey
pembelajaran dan analisis hasil pembelajaran di
SMK); (b) analisis SNKI PPML; dan (c) survey dan
41

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
Tabel 2. Ringkasan Hasil Validasi Rpp
Hasil Validasi
No
Aspek
1
2
3
4
5
1
Tujuan pembelajaran
0
0
0
2
6
2
Kegiatan pembelajaran
0
0
0
3
5
3
Kemutakhiran
0
0
0
1
7
Jumlah
0
0
0
6
18
Rata-rata
0
0
0
2
6
Persentase
0
0
0
25
75
Keterangan: 1 Sangat tidak valid; 2 Tidak valid, 3 cukup valid, 4
valid, dan 5 sangat valid

analisis standar kompetensi atau keahlian PML di


industri; (3) Desain produk.Diwujudkan dalam
bentuk: (a) pengembangan perangkat pembelajaran
dengan MPBP,(b) pengadaan alat dan bahan
pembelajaran,
dan
pengembangan
perangkatpembelajaran bagi guru dan siswa; (4)
Validasi desain.Dilakukan oleh dosen ahli desain
perangkat pembelajaran, evaluasi pembelajaran,
MPBP, dan media pembelajaran serta guru SMK
dan pihak dari DI/DU.; (5) Revisi desain.Hasil
validasi dilakukan untuk perbaikan perangkat
pembelajaran, kuantitas dan kualitas alat dan bahan
pembelajaran, dan panduan kegiatan pembelajaran
bagi guru dan siswa; dan (6) Revisi
produk.Dilakukan setelah hasil penelitian dianalisis
dan dilakukan Focus Group Discussion (FGD)
melibatkan pakar pendidikan, guru SMK, dan pihak
dinas pendidikan dan kebudayaan. Berdasarkan
hasil FGD dilakukan perbaikan
atau revisi
perangkat
pembelajaran,
alat
dan
bahan
pembelajaran.
Luaran kegiatan penelitian adalah perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang sudah
diperbaiki dan siap diuji cobakanatau digunakan.
Lokasi penelitian ini adalah SMK Negeri 2
dan SMK Negeri 7 Surabaya Program Keahlian
(Progli) Teknik Ketenagalistrikan pada Kompetensi
Keahlian (Komli) Teknik Instalasi Tenaga Listrik
(TITL). Waktu penelitian Mei-Juni 2013.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
untuk
guru
terdiri
dariSilabus,
Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),Bahan Ajar,
Lembar Kegiatan Siswa (LKS)dilengkapiKunci
LKS, dan Perangkat Penilaian, sedangkan
perangkat pembelajaran bagi siswa adalah bahan
ajar dan LKS.
Sedangkan indikator perangkat pembelajaran
bagi guru dan siswadikatakan berkualitas, jika hasil
validasi ahli minimal valid (rata-rataminimal 75)
atau kategori baik dan sangat baik.

Berdasarkan Tabel 2, tampak bahwa 75%


validator menyatakan sangat valid dan sisanya 25%
validator menyatakan valid, sehingga RPP yang
dikembangkan dapat dinyatakan valid atau layak
digunakan pada pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyek.
Sedangkan hasil validasi dan aspek yang
divalidasi pada bahan ajar ditunjukkan Tabel 3
berikut ini.
No
1.

2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.

V HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
bagi guru terdiri dari RPP, bahan ajar, LKS beserta
kuncinya, dan perangkat penilaian, sedangkan
perangkat belajar bagi siswa terdiri dari bahan ajar
dan LKS.
Setelah perangkat atau panduan pembelajaran
bagi guru dan siswa selesai dikembangkan,
selanjutnya dilakukan validasi. Pelaksanaan
validasi pada 1 dosen ahli PML, 1 dosen ahli ahli
teknologi pembelajaran, dan 6 guru ahli isi materi
PML.
Aspek yang divalidasi pada rencana
pelaksanaan pembelajaran, meliputi: (1) tujuan
pembelajaran, (2) kegiatan pembelajaran, dan (3)
kemutakhiran. Ringkasan hasil validasi RPP
ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 3. Ringkasan Hasil Validasi Bahan Ajar


Skala Penilaian
Uraian
Ada
1 2 3 4 5
Kesesuaian antara judul bab
v
0 0 0 2 6
dengan pengembangan materi
bahan ajar.
Kejelasan kerangka isi.sruktur
v
0 0 0 2 6
materi.
Kesesuaian antara kompetensi
v
0 0 0 2 6
dasar dengan indikator hasil
belajar.
Kejelasan kata kunci di setiap bab.
v
0 0 0 2 6
Kesesuaian antara indikator hasil
v
0 0 0 2 6
belajar dan struktur materi.
Kejelasan uraian materi.
v
0 0 0 1 7
Kebenaran fakta dan konsep dalam
v
0 0 0 2 6
pengembangan materi.
Kejelasan contoh-contoh atau
v
0 0 0 3 5
lembar kerja yang diberikan.
Kesesuaian antara materi dengan
v
0 0 0 1 7
tugas/latihan/lembar kerja.
Kejelasan tugas/latihan soalv
0 0 0 2 6
soal/lembar kerja.
Kesesuaian antara tugas//lembar
v
0 0 0 2 6
kerja dengan indikator hasil
belajar.
Daftar pustaka relevan dengan
v
0 0 0 3 5
materi yang disajikan.
Jumlah
12 0 0 0 24 72
Rata-Rata
1
0 0 0 2 6
Persentase
100 0 0 0 25 75

Tampak bahwa hasil validasi terhadap bahan


ajar juga pada kategori sangat valid dan valid. Dari
12 aspek yang dinilai menunjukkan bahwa 6 (75%)
validator menyatakan valid, dan sisanya 2 (25%)
validator menyatakan valid, sehingga bahan ajar
yang dikembangkan dapat atau layak digunakan.
Lembar kerja siswa yang telah dikembangkan
juga dilakukan validasi, khusus untuk guru
dilengkapi dengan kunci LKS.Aspek yang
divalidasi dan hasil validasi terhadap LKS
ditunjukkan Tabel 4.Tampak bahwa hasil validasi
terhadap hasil LKS yang dikembangkan pada
kategori valid dan sangat valid, sehingga LKS yang
dikembangkan dapat atau layak digunakan.

42

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

No
1

3
4

5
6
7
8

9
10

Tabel 4. Ringkasan Hasil Validasi LKS


Skala Penilaian
Uraian
Ada
1
2
3
4
5
Kesesuaian antara
v
0
0
0
4
4
kompetensi dasar dengan
indikator hasil belajar.
Kesesuaian antara
v
0
0
0
3
5
indikator hasil belajar
dengan kegiatan siswa.
Kejelasan petunjuk LKS.
v
0
0
0
2
6
Kesesuaian dengan
v
0
0
0
2
6
materi pokok
pembelajaran.
Mencakup sebagian besar
v
0
0
0
2
6
konsep utama materi ajar.
Kesesuaian dengan sintak
v
0
0
0
3
5
model pembelajaran.
Kejelasan dan keruntutan
v
0
0
0
4
4
langkah-langkah LKS.
Kecukupan materi
v
0
0
0
4
4
pendukung dan sumber
belajar.
Kejelasan sumber belajar
3
5
v
0
0
0
yang ditunjukkan.
Kecukupan waktu untuk
3
5
setiap langkah/kerja
v
0
0
0
siswa.
Jumlah
10
0
0
0
30 50
Rata-rata
1
0
0
0
3
5
Persentase
100
0
0
0 37,5 63,5

sehingga siswa dapat lebih cepat memahami materi


pembelajaran.
Peserta kegiatan FGD menyadari perlunya
menyusun perangkat dan sarana dan prasarana
dalam pembelajaran dan mengusulkan pentingnya
memaparkan saran bagi pimpinan sekolah untuk
lebih memfasilitasi guna membiasakan guru
melaksanakan pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyek.
Pembahasan
Perangkat pembelajaran bagi guru terdiri dari
RPP, bahan ajar, LKS dilengkapi kunci LKS, dan
perangkat penilaian, sedangkan perangkat belajar
bagi siswa terdiri dari bahan ajar dan lembar kerja
siswa dilakukan validasi kepada 1 dosen ahli isi
PML, 1 dosen ahli ahli teknologi pembelajaran, dan
6 guru ahli isi materi PML.
Hasil validasi pada rencana pelaksanaan
pembelajaran, meliputi: (1) tujuan pembelajaran;
(2) kegiatan pembelajaran; dan (3) kemutakhiran.
Ringkasan hasil validasi RPP.Hasilnya
75%
validator menyatakan sangat valid dan sisanya 25%
validator menyatakan, sehingga RPP yang
dikembangkan dapat dinyatakan valid atau layak
digunakan pada pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyek.
Sedangkan aspek yang divalidasi pada bahan
ajar, meliputi: (1) kesesuaian antara judul bab
dengan pengembangan materi bahan ajar; (2)
kejelasan
kerangka
isi/struktur
materi;
(3)kesesuaian antara kompetensi dasar dengan
indikator hasil belajar; (4) kejelasan kata-kata kunci
di setiap bab; (5) kesesuaian antara indikator hasil
belajar dan struktur materi; (6) kejelasan uraian
materi; (7) kebenaran fakta dan konsep dalam
pengembangan materi; (8) kejelasan contoh-contoh
atau lembar kerja yang diberikan; (9) kesesuaian
antara materi dengan tugas/latihan/lembar kerja;
(10) kejelasan tugas/latihan soal-soal/lembar kerja;
(11) kesesuaian antara tugas/latihan/lembar kerja
dengan indikator hasil belajar; dan (12) daftar
pustaka relevan dengan materi yang disajikan. Hasil
validasi terhadap bahan ajar juga pada kategori
sangat valid dan valid. Dari 12 aspek yang dinilai
menunjukkan bahwa 6 (75%) validator menyatakan
valid, dan sisanya 2 (25%) validator menyatakan
valid, sehingga bahan ajar yang dikembangkan
dapat atau layak digunakan.
Untuk LKS yang telah dikembangkan juga
dilakukan validasi, khusus untuk guru dilengkapi
dengan kunci LKS.
Aspek yang divalidasi
meliputi: (1) kesesuaian antara kompetensi dasar
dengan indikator hasil belajar; (2) kesesuaian antara
indikator hasil belajar dengan kegiatan siswa; (3)
kejelasan petunjuk LKS; (4) kesesuaian dengan
materi pokok pembelajaran; (5)mencakup sebagian
besar konsep utama materi ajar; (6) kesesuaian
dengan sintak model pembelajaran; (7) kejelasan
dan keruntutan langkah-langkah LKS; dan (8)
kecukupan materi pendukung dan sumber belajar.

Ringkasan hasil validasi lembar penilaian


hasil belajar siswa selama pembelajaran dengan
model pembelajaran berbasis proyekditunjukkan
Tabel 5.Tampak bahwa hasil validasi terhadap
bahan ajar juga pada kategori sangat valid dan
valid. Dari 12 aspek yang divalidasi, 2 (25%)
validator menyatakan valid, dan sisanya 6 (75%)
validator menyatakan valid, sehingga bahan ajar
yang
dikembangkan
dapat
atau
layak
digunakan.Aspek yang divalidasi adalah ranah
materi, ranah materi, dan ranah bahasa.
Tabel 5. Ringkasan Hasil Validasi Perangkat Penilaian Hasil
Belajar Siswa
Kategori
Aspek yang
No.
divalidasi
1
2
3
4
5
1
Ranah materi
0
0
0
1
6
2
Ranah konstruksi
0
0
0
2
6
3
Ranah Bahasa
0
0
0
3
6
Jumlah
0
0
0
6
18
Rata-rata
0
0
0
2
6
Persentase
0
0
0
25
75

Tampak bahwa hasil validasi pada aspek


perangkat penilaian hasil belajar siswa juga pada
kategori valid dan sangat valid, sehingga perangkat
penilaian yang dikembangkan layak digunakan.
Pelaksanaan FGD untuk penyempurnaan
perangkat pembelajaran yang dikembangkan.
Pelaksanaan FGD dilakukan tanggal 28 Oktober
2013 dengan melibatkan 10 guru Teknik Instalasi
tenaga Listrik dan 2 Ketua Program Studi Teknik
Instalasi tenaga Listrik.
Masukan dan saran dari hasil FGD antara lain
adalah perlunya menambahkan materi terkait
dengan prinsip kerja motor listrik. Selain itu bahasa
yang digunakan pada bahan ajar tidak terlalu tinggi,
43

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

4. Kepala SMK dapat mendorong dan memotivasi


guru menerapkan pembelajaran dengan MPBP,
dengan memfasilitasi melalui penambahan
sarana dan prasarana pembelajaran alat dan
bahan dengan berorientasi pada DI/DU.
5. Perangkat
pembelajaran
atau
panduan
pembelajaran dapat menjadi acuan bagi
Direktorat
PSMK
Kemendiknas,
Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi dan
Kabupaten/Kota
dalam
penataan,
pengembangan dan pembangunan pendidikan di
SMK, khususnya mengubah mindset guru, jika
ingin menerapkan model pembelajaran berbasis
proyek.

Hasil validasi terhadap hasil LKS yang


dikembangkan juga pada kategori valid dan sangat
valid, sehingga LKS yang dikembangkan dapat atau
layak digunakan.
Dari hasil validasi perangkat penilaian hasil
belajar siswa pada aspek materi, konstruksi, dan
ranah bahasa pada kategori valid dan tidak valid,
sehingga perangkat penilaian yang dikembangkan
layak digunakan setelah direvisi.
Jika hasil validasi dari ke empat perangkat
pembelajaran dirata-rata, dari 8 guru yang
menyatakan valid 28,13% dan sangat valid 71,87%
(Tabel 6).
Tabel 6. Ringkasan Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran
MPBP
Hasil Validasi
No
Hasil validasi
1
2
3
4
5
1
RPP
0
0
0
2
6
2
Bahan Ajar
0
0
0
2
6
3
LKS
0
0
0
3
5
Perangkat penilaian
0
0
0
2
6
4
hasil belajar siswa
Jumlah
0
0
0
9
23
Persentase
0
0
0
28,13 71,87
Keterangan: 1 sangat tidak valid; 2 tidak valid, 3 cukup valid, 4
valid, dan 5 sangat valid

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Anderson, et.al., 2001. A Taxonomy for Learning,
Teaching and Assesing: A Revision of Blooms Taxonomy
of Educational Obejectives. (Eds) Abridged Edition. New
York: Longman.
[2]. Andi Stix and Frank Hrbek, 2006. Teachers as Classroom
Coaches: How to Motivate Students Across the Content
Areas. Chapter X1.Copyright 2006 by Andi Stix and
Frank Hrbek. All rights reserved.
[3]. Chungfang Zhou, et al., (2009). Group creativity
development in engineering students in a problems and
based learning environment. Proceedings, of the 2nd
International research Symposium on PBL, 3-4 Desember
2009, Melbourne, Australia.

Sehingga dapat dinyatakan bahwa perangkat


pembelajaran yang dikembangkan, meliputi RPP,
Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat penilaian hasil
belajar siswa layak dan dapat digunakan karena
hasil validasi valid dan sangat valid.

[4]. Degeng, I.N.S. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel.


Jakarta: Depdikbud, Ditjendikti, P2LPTK.
[5]. Degeng, I.N.S. 1993. Teori Pembelajaran Terapan. Malang:
Program Magistrer Manajemen Pendidikan Universitas
Terbuka.

VI KESIMPULAN DAN SARAN

[6]. Degeng, I.N.S. 2007.Paradigma Pendidikan Behaviorisme


ke Konsruktivisme. Bahan Presentasi. Universitas Negeri
Malang.

Kesimpulan
1. Perangkat pembelajaran PML denganMPBP
yang dikembangkan layak dan dapat digunakan
dalam
pembelajaran
dengan
model
pembelajaran berbasis proyek.
2. Persentase validator yang menyatakan atau
menilai sangat valid 71,87% dan sisanya
28,14% menyatakan valid.
3. Masukan pada saat FGD dan validasi, hanya
pada aspek tata tulis.

[7]. Dimyati & Mujiono, 2006.Belajar dan Pembelajaran.


Jakarta: Rineka Cipta.
[8]. Domblesky, J., "Project Assisted Learning in Engineering A Manufacturing Example", ASEE Upper Midwest
Conference, October 2009, Marquette University,
Milwaukee, WI. Proceedings of the 2009 ASEE North
Midwest Sectional Conference, 1-9.
[9]. Doppelt, Y. (2003). Implementation and assessment of
project-based learning in a flexible
environment.International Journal of Technology and
Design Education, 13, 255272.

Saran
1. Karena hasil validasi dan FGD menyatakan
layak dan dapat digunakan pada pembelajaran
PML dengan MPBP, maka perlu dilakukan uji
coba dalam penerapannya.
2. Model perangkat pembelajaran atau panduan
pembelajaran dapat menjadi acuan bagi guru
PML dalam menerapkembangkan pembelajaran
dengan MPBP.
3. Perangkat pembelajaran PML dengan MPBP
dapat digunakan sebagai acuan untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran untuk
materi yang memiliki karakteristik yang sama
atau hamper sama.

[10]. Edens, K. M. 2008. The Intraction of Pedagogical


Approach, Gender Self Regulation and Goal
Orentation.Using Student Response System
Tecnology.Journal of Research on Tecnology in
Education .41 (2): 161-171.
[11]. Elliot, S.N.; Kratchwill, T.R., Cook, J.L., Traver, J.E.
(2000).Educational Psychology: Effective Teaching,
Effective Learning.Third Edition. Boston: McGraw-Hill
Higher Education.
[12]. Frank, M., Lavy, I. & Elata, D. (2003).Implementing the
project-based learning approach in an academic
engineering course.International Journal of Technology
and Design Education, 13, 273288.
[13]. Gagne, R.M. & Briggs, L.J. 1979.Principles of Instructional
Design. New York: McGraw-Hill.

44

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
[14]. Gagne, R.M., Briggs, L.J. & Wager, W.W. 1992 Principles
of Instuctional Desigen 5th (Eds). New York: HBJ
College & Scholl Division.
[15]. Han, T. 2012. A Meta-Analysis of The Effects of
Adventure Programming on Locus of Control. Journal of
Contenporary Psychotherapy. 30 (1): 33-60.
[16]. Joko, Supari Muslim. 2011. Desain dan Implementasi Alat
Penguji Kualitas Inti Stator Mesin Listrik Berbasis
Komputer Untuk Meningkatkan Kualitas Hasil Perkuliahan
Perencanaan dan Pelaksanaan Membelit Motor Listrik.
Disajikan Dalam Seminar Hasil Penelitian Strategis
Nasional Tahun 2011.Diselenggarakan Direktorat
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan
Nasional di Hotel Millenium Jakarta Tanggal 25-26 Juli
2011.
[17]. Jenkins, A. & Unwin, D. 1996. How to Write Learning
Outocemes. New Yotk: McGraw Hill.
[18]. Joseph P. Domblesky, 2009. Project Assisted Learning in
Engineering A Manufacturing Example. Department of
Mechanical Engineering Marquette University Milwaukee,
Wisconsin 53233. Proceedings of the 2009 ASEE North
Midwest Sectional Conference, 1-9
[19]. Maclean, R. (2008). The Future of work and Skill
development for Employability: Implications for Tecnical
and Vocational Education Training. Seameo Voctech
Journal, 8 pages.
[20]. Meier, D. 2002. The Accelerated Learning Handbook. New
York: McGraw-Hill.
[21]. Michael L. Crawford, 2001. Teaching Contextually
Research, Rationale, and Techniques for Improving
Student Motivation and Achievement in Mathematics and
Science. Published and distributed by: CCI Publishing, Inc.
[22]. Mergendoller, J. & Thomas, J. (2000). Managing project
based learning: Principles from the field.
http://www.bie.org/index.php/site/RE/pbl_research/29.
Diakses tanggal 13 November 2012.
[23]. Merrill, 1983. Component Display Theory. Dalam
Reigeluth, C.M. (Ed). Insructional-Desigen Theories and
Models: An Overerview of their Current Status. New
Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publisher.

45

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Standar Kompetensi Perbaikan Motor Listrik


Berbasis SKNI dan Kinerja di Industri Listrik
Joko1, Gatot Widodo2, Subhan3
1

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: unesa_joko@yahoo.com


Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: gwid.unesa@yahoo.co.id
3
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: sbhn_ok@yahoo.com

pembelajaran competency based training (CBT) dan


production based training (PBT), yang berimplikasi
pada perumusan standar kompetensi didalam
mengukur hasil belajar siswaagar sesuai dengan
Standar KompetensiNasional Indonesia (SKNI),
yaitu mengadaptasi dari model competency based
assessment (CBA), serta penilaian kompetensi di
industri.
Untuk mengetahui kesesuaian lulusan dengan
tuntutan du/di dibutuhkanalat penilaian yang dapat
mengukur capaian kompetensi siswa yang
sesuaidengan
standar kompetensi nasional,
sehingga capaian kompetensi lulusanmemperoleh
pengakuan dari pihak industri (stakeholders).
Berdasarkan pemikirandi atas, penelitian ini
bertujuan untuk merumuskan standar kompetensi
yang dibutuhkan siswa dalam melakukan PML
berbasis SKNI dan standar proses dan produk di
industri PML.
Dalam mengembangkan rumusan standar
kompetensi melalui penelitian menggunakan
pendekatanpenelitian dan pengembangan (Research
and Development), melalui tahapan: (1)studi
pendahuluan; (2) perumusan kompetensi PML, dan
(3) validasi hasil rumusan standar kompetensi PML
yang dikembangkan, dan dilanjutkan dengan FGD.
Subjek dan lokasi penelitian ini adalah adalah
guru SMK, Kepala SMK, Pengawas SMK,
Pimpinan du/di PML, dan instruktur PML.
Pelaksanaan bulan Juni-Juli 2013.
Untuk mengetahui kompetensi dapat dinilai
secara tes tertulis dan tes tindakan, serta pengujian
produk. Sedangkan pelaksanaan penilaian meliputi
tahappreparation, collecting, judging, deciding,
moderation, certification dan atau award.
Permasalahan kompetensi pada penelitian ini
adalah: (1) kemampuan awal apa saja yang
dibutuhkan pada PML, (2) pekerjaan utama apa saja
yang harus dikerjakan dalam melakukan PML, (3)
apa saja yang harus dilakukan pada PML, (4)
keterampilan apa saja yang diperlukan dalam PML,
(5) kemampuan apa saja yang dibutuhkan dalam
PML, dan (6) bagaimana sikap yang diperlukan
pada pekerjaan PML.
Permasalahan-permasalahan tersebut sangat
relevan dengan sistem pendidikan kejuruan.Karena
pendidikan
kejuruan
sebaiknya
mampu
mencerminkan proses memanusiakan manusia.
Siswa diberi kesempatan secara optimal

Abstrak- Standar kompetensi hasil belajar


perbaikan motor (PML) di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) masih mengutamakan faktor
kehadiran siswa, kerapian dan hasil produk motor
listrik. Untuk aspek lainnya belum dioptimalkan dan
belum berbasis pada Standar Kompetensi Nasional
Indonesia (SKNI) PML dan standar PML di
industri.Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan
standar kompetensi PML yang harus dimiliki siswa
SMK Program Studi Teknik Instalasi Tenaga Listrik
(TITL).Metode penelitian menggunakan Risearch
and Development (R&D). Subyek penelitian Guru
PML SMK, Kepala SMK, Pengawas SMK, Pimpinan
Industri PML,
dan Instruktur PML.Penelitian
diawali dengan analisis standarkompetensi PML di
SMK, SKNI, dan kenerja PML di industri.
Datakompetensi PML yang diperolehselanjutnya
divalidasi untuk memperbaiki rumusan standar
kompetensi PML. Rumusan standar kompetensi PML
selanjutnya digunakan sebagai bahan Focus Group
Discussion (FGD) untuk mendapatkan masukan
dalam menyempurnakan rumusan
Standar
kompetensi
PML
yang
dikembangkan.Analisis data dilakukan dengan
statistik deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan
bahwa standar kompetensi PML meliputi pengujian
awal (pre-inspection) untuk menentukan kerusakan
bagian mekanis dan kelistrikan motor listrik stator
tertutup,pembongkaran dan pengujian bagian
mekanik (dismantling data) dan bagian kelistrikan
(electrical inspection) untuk menentukan kerusakan
bagian mekanik serta kelistrikan; membongkar dan
menguji atau mendata belitan (stripping coil) untuk
merancang belitan baru,membuat dan memasang
belitan baru serta pengujian hasilnya. Sedangkan
kompetensi yang dibutuhkan adalah apa yang harus
dilakukan pada saat PML, keterampilan dalam
melakukan PML, kemampuan, dan sikap di dalam
melakukan PML.
Kata kunci: Pengembangan, kompetensi PML, SKNI,
dan Standar Proses dan Produk PML.

I.PENDAHULUAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan
adanya tuntutan kompetensisiswa atau lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar sesuai
dengan tuntutanlapangan kerja.Siswa harus
diberikan pengalaman belajar yang sesuai
dengantuntutan dunia usaha dan industri (du/di).
Pengalaman
belajar
tersebut
dapat
diupayakanmelalui
penerapan
pendekatan
47

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

digunakan oleh guru masih heterogen pada setiap


SMK. Kondisi tersebut menuntut perlunya standar
kompetensi PML yang mencakup kemampuan
kognitif, afektif, dan psikomotor, termasuk pada
penilaiannya. Hal
ini sejalan dengan hasil
penelitian Jubaedah (2005:134) yang berkatian
dengan implementasi competency cased traning
berdasarkan Standar Kompetensi Nasional pada
kegiatan pembelajaran di SMK, menyimpulkan
guru paket keahlian Tata Busana belum siap untuk
melaksanakan penilaian secara komprehensif pada
keberhasilan belajar peserta didik.
Keberhasilan belajar yang komprehensif
tersebut meliputi kemampuan kognitif, psikomotor
dan afektif dalam pembuatan busana. Ketidaksiapan
tersebut teramati dari cara guru dalam melakukan
penilaian di dalam kegiatan praktikum, khususnya
pada penilaian proses kerja belum menggunakan
alat penilaian yang sesuai dengan tuntutan SKNI.
Hasil penelitian ini juga didukung hasil penelitian
Usam Sutarja (2010), tentang persepsi industri
terhadap kompetensi lulusan SMK program
keahlian teknik Otomotif dalam memenuhi tuntutan
kompetensi kerja industri. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa standar penilaian kompetensi
peserta didik yang di sekolah (SMK) secara
keseluruhan belum sesuai dengan (marginally
relevant) tuntutan standar proses penilaian di
industri. Beberapa uraian tersebut menunjukkan
perlunya dilakukan optimalisasi pelaksanaan
penilaian hasil belajar siswa, termasuk kompetensi
yang harus dimiliki siswa.
Optimalisasi pelaksanaan penilaian hasil
belajar yang komprehensif sesuai tuntutan
kompetensi di industri penting karena SMK
memiliki peranan dalam menyiapkan tenaga kerja
kompeten, sehingga dapat mengeliminir angka
pengangguran. Pelaksanaan penilaian hasil belajar
berbasis kompetensi diarahkan untuk mengukur dan
menilai kinerja siswa dalam kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotor, baik pada saat belajar
maupun secara tidak langsung, yaitu melalui bukti
hasil belajar (evidence of learning) sesuai dengan
kriteria kinerja maupun secara langsung. Kriteria
kinerja tersebut harus sesuai dengan tuntutan dunia
industri yang telah dirumuskan dalam standar
kompetensi nasional dan standar proses dan produk
di industri.
Hasil belajar siswa secara umum terdiri dari
tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Ketiga ranah tersebut sering tidak
dapat dipisahkan secara eksplisit, karena dalam
pembelajaran ada mata pelajaran yang mungkin
lebih menekankan ranah kognitif atau ranah afektif,
dan atau ranah psikomotorik saja.Misalkan pada
mata pelajaran PML, cenderung lebih menekankan
pada pada ranah psikomotorik walaupun juga
mengandung ranah afektif maupun kognitif.
Ranah psikomotor, berhubungan dengan hasil
belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan

membelajarkan diri untuk mengaktualisasikan


semua potensi yang dimilikinya menjadi
kemampuan profesional yang dapat dimanfaatkan
dalam dunia kerja. Pendapat ini sesuai dengan
sebagian pendapat Finch dan Crunkilton (1984:13),
yang menyatakan bahwa hasil belajar atau
kemampuan yang telah dikuasai diharapkan dapat
memberikan kontribusi pada pengembangan diri
peserta didik, sehingga mereka mampu bekerja
sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Pendidikan kejuruan sebagai pendidikan
khusus, direncanakan untuk menyiapkan siswa
yang mampu memasuki dunia kerja dan
mengembangkan sikap profesional di bidang
kejuruan. Lulusannya diharapkan menjadi individu
produktif yang mampu bekerja menjadi tenaga
kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk
menghadapi persaingan kerja sesuai dengan bidang
keahlian secara kompetitif dan profesional.
Gambaran kualitas lulusan pendidikan kejuruan
menurut
Finch dan Crunkilton (1984 : 13)
menerapkan ukuran ganda, yaitu kualitas menurut
ukuran sekolah dan kualitas menurut ukuran
masyarakat.
Kriteria pertama meliputi aspek
keberhasilan siswa dalam memenuhi tuntutan
kurikuler yang telah diorientasikan pada tuntutan
dunia kerja, sedangkan pada kriteria kedua
meliputi keberhasilan siswa yang ditunjukkan pada
unjuk kerja sesuai dengan SKNIPML dan standar
PML di industri setelah bekerja. Tetapi
kenyataannya SMK belum mempersiapkan lulusan
siap kerja. Hal ini sesuai dengan Suparno (2008:1),
yang menyatakan bahwa kompetensi para pencari
kerja belum link and match dengan industri.
Lapangan kerja bagi lulusan SMK sebenarnya
cukup banyak peluang yang dapat dimanfaatkan,
karena masih banyak industri yang membutuhkan
lulusan SMK.
Untuk mengatasinya, maka perlu menyiapkan
tenaga kerja yang kompeten sesuai tuntutan du/di
dapat dimulai pada saat siswa
menempuh
pendidikan di SMK masing-masing melalui
pengalaman belajar dan penilaian hasil belajar yang
tepat.
Pelaksanaan kurikulum di SMK menerapkan
pendekatan CBT dan PBT. Implikasinya adalah
kompetensi yang dilatihkan harus benar-benar
memenuhi standar. Selain itu dalam melakukan
penilaian hasil belajar di dalam mengukur
kompetensi siswaharus menerapkan model CBA.
Hal ini sesuai dengan Departemen Pendidikan
Nasional (2006:1), yang menjelaskan bahwa
pendekatan yang digunakan dalam pengembangan
dan pelaksanaan kurikulum sangat berpengaruh
terhadap sistem penilaian yang dilaksanakan.
Kompetensi
level kualifikasi merupakan
capaian kompetensi siswa sebagai hasil belajar,
pada umumnya belum mengakomodasi tuntutan
SKNI dan du/di, termasuk standar kompetensi PML
bagi siswa SMK. Kompetensi yang dirancang dan
48

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

memberikan tes kepada siswa untuk mengukur


pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa
waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak
dalam lingkungan kerjanya.
Dari beberapa uraian di atas, dapatdisimpulkan
bahwa dalam hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses,
dan produk. Penilaian dilakukan pada saat proses
berlangsung, yaitu pada waktu siswa melakukan
praktik, atau sesudah proses berlangsung (termasuk
produk yang dihasilkan).

memanipulasi dengan melibatkan otot dan kekuatan


fisik. Singer (1972), menyatakan bahwa mata
pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah
mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan
dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik dan
keterampilan tangan. Psikomotorik berkaitan
dengan tingkat keahlian seseorang dalam suatu
tugas atau sekumpulan tugas tertentu. Menurut
Mardapi (2003), keterampilan psikomotor terdiri
atas enam tahap, yaitu: gerakan refleks, gerakan
dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik,
gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif.
Pada proses pembelajaran PML di SMK,
keterampilan yang dibelajarkan masih sepotongsepotong atau tidak utuh seperti pada proses PML
di industri. Akibatnya kinerja hasil PML tidak
optimal karena siswa belum dibelajarkan
mengoptimalkan keterampilan psikomotoriknya.
Hal ini juga didukung penelitian Usam Sutarja
(2010), yang menunjukkan bahwa materi kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) secara
keseluruhan belum sesuai (marginally relevant)
dengan pekerjaan di industri. Selain itu hasil
penelitiannya juga menunjukkan bahwa standar
penilaian kompetensi peserta didik di sekolah
(SMK) secara keseluruhan belum sesuai dengan
(marginally relevant) dengan tuntutan standar
proses penilaian di industri.
Penilaian bertujuan untuk memperoleh
informasi tentang hasil belajar atau ketercapaian
kompetensi siswa. Evaluasi menurut Hasan
(1988:13) adalah suatu proses pemberian
pertimbangan mengenai nilai dan arti dari sesuatu
yang dipertimbangkan. Menurut Oliva (1992:445),
assessment dan evaluasi memiliki pengertian
berbeda. Assessment adalah proses dalam
mengumpulkan informasi tentang berapa banyak
siswa tahu, sedangkan evaluasi diartikan sebagai
penggunaan informasi untuk menentukan keputusan
atau judgement yang pada akhirnya digunakan
dalam pengambilan keputusan. Dapat disimpulkan
bahwa penilaian merupakan bagian dari evaluasi di
dalam melakukan evaluasi kurikulum dan hasilnya
akan menjadi bahan pertimbangan dalam
pengembangan kurikulum selanjutnya, karena
komponen dalam pengembangan kurikulum
meliputi tujuan, isi, strategi dan evaluasi. Evaluasi
berkaitan dengan keseluruhan kurikulum termasuk
hasil belajar dan siswa, sedangkan penilaian
terbatas pada hasil belajar. Hal ini sejalan dengan
pendapat Hasan (2008:18), yang menyatakan
bahwa assessment adalah bagian dari evaluasi
kurikulum.
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara
menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980),
menyatakan bahwa hasil belajar keterampilan dapat
diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan
penilaian tingkah laku siswa selama proses
pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah
mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan

II. METODE PENELITIAN


Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
Penelitiandan Pengembangan atau Research and
Development (R&D) yang disarikan dari Borg &
Gall (2003:775) mencakup 10 langkah,yang dalam
penelitian ini disederhanakan menjadi tiga tahap
(Sukmadinata, 2005:184), yaitu: (1) studi
pendahuluan;
(2)pengembangan
standar
kompetensi, dan (3) uji model.
Studi pendahuluan dilakukan dengan metode
survei, bertujuan untukmenggali kompetensi yang
dibutuhkan pada PML. Hasil studi pendahuluan
digunakan sebagai sumber acuan dalam merancang
desain awal pengembangan standarkompetensi
PML sesuai SKNIdan standar di industriPML.
Selanjutnya
hasil
pengembangan
standar
kompetensi PML divalidasi pada oleh ahli PML
dan teknologi pembelajaran teknik dan setelah itu
dilakukan FGD untuk menyempurnakan hasil
pengembangan standar kompetensi PML yang
dibuat.
Uji atau validasi rumusan standar kompetensi
yang dikembangkan dilakukan untuk menemukan
rumusan standar kompetensi keahlian PML
berbasis SKNI PMLdan standar proses dan produk
di industriPML. Tujuan dari validasi terhadap
rumusan standar kompetensi yang dikembangkan
adalah: (1) menentukan tingkat kelayakan
rumusanl, apakah kompetensi yang dirumuskan
benar-benar sesuai dengan SKNI dan kinerja di
industri
PML,
serta
cocok
untuk
SMK,(2)menyimpulkan
apakah
rumusan
kompetensi PML yang dikembangkan lebih efektif
memberikan dampakterhadap capaian kompetensi
siswa
maupun
pelaksanaan
tugas
guru
sebagaipembelajar dibandingkan dengan rumusan
kompetensi yang ada sampai dengan saat ini.
Penelitian dilaksanakan di SMK Progli TITL di
Surabaya dan telahmenerapkan model pendekatan
CBT dan PBTdalam proses pembelajaran kelompok
produktif, di/du perbaikan motor listrik, dan
lembaga pelatihan motor listrik.
Pengumpulan data diawali dari
studi
pendahuluan, pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara, observasi, dan studi dokumentasi
dengan menggunakan alat berupa pedoman
wawancara, pedoman observasi dan pedoman studi

49

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dokumentasi untuk selanjutnya digunakan bahan


mengembangkan muskan kompetensi PML.
Pada tahap merumuskan kompetensi PML
dilakukan berdasarkan hasil analisis data yang telah
diperoleh. Setelah rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan selesai, selanjutnya
dilakukan validasi, diperbaiki sesuai masukan
validator, maka langkah selanjutnya adalah hasilnya
dipakai sebagai bahan FGD untuk memperoleh
masukan guna perbaikan rumusan kompetensi PML
yang dikembangkan. Subyek yang terlibat pada
penelitian ini ditunjukkan Tabel 1.

No
1

3
4

bagian mekanis dan kelistrikan motor induksi 3


phasa stator tertutup, (b) pengujian bagian mekanik
dan bagian kelistrikkan untuk menentukan
kerusakan bagian mekanik dan kelistrikan motor
induksi 3 phasa stator terbuka, (c) membongkar
dan menguji atau mendata belitan
untuk
merancang belitan baru motor induksi 3 phasa, dan
(d) membuat dan memasang belitan baru pada
stator motor induksi 3 phasa dan pengujian
hasilnya.
3. Yang harus dilakukan pada saat PML
Yang harus dilakukan pada PML, meliputi: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku
cadang bahan, (d) melakukan pendataan dan
mencatat,(e) melakukan pengujian, ( f) memeriksa
sambungan, (g) memasang kembali, (h) mencatat
lama waktu bekerja, ( i) membaca name plate, (j)
membandingkan data dengan ketentuan atau aturan
dan memutuskan, (k) memeriksa, membersihkan,
merawat dan menyimpan peralatan, dan( l)
memeriksa dan mencatat bahan yang digunakan
serta mengembalikan sisa bahan pada tempatnya.
4. Keterampilan dalam PML
Keterampilan dalam PML, meliputi: (a)
menentukan jenis alat untuk kebutuhan untuk
melakukan PML, (b) menentukan jenis bahan yang
dibutuhkan untuk melakukan PML, (c) melakukan
pengujian PML menggunakan alat (termasuk
spesifikasi) yang sesuai kebutuhan, (d) melakukan
pengujian
menggunakan
bahan
(termasuk
spesifikasi)
sesuai
yang dibutuhkan,
(e)
menentukan penyebab kesalahan atau kerusakan
bagian-bagian kelistrikan dan memutuskan apa
yang harus dilakukan, (f) melakukan pemeliharaan
pada peralatan dan menentukan kapan serta apa
jenis perawatan yang dibutuhkan, (g) menginstal
peralatan, motor listrik, kabel, atau program untuk
memenuhi spesifikasi, (h) menggunakan logika
dan penalaran untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan
dari
alternatif
solusi
untuk
menyimpukan atau memecahkan masalah dalam
menentukan kerusakan bagian mekanik dan
kelistrikan stator tertutup, ( i) memahami kalimat
tertulis dan paragraf dalam dokumen (SOP) terkait
pekerjaan pengujian (standar tahanan resistansi dan
tahanan isolasi), (j) mengatur waktu bagi dirinya
dan waktu orang lain dalam kelompok ketika
bekerja pada sebuah proyek pengujian, (k)
menentukan lama waktu yang diperlukan untuk
mengerjakan proyek pengujian, (l) memahami
informasi
baru
dan
implikasinya
dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m)
memberi perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa
yang akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang
sesuai, dan tidak menginterupsi pada waktu yang
tidak tepat, dan (n) mengindahkan kesehatan dan
keselamatan kerja dalam bekerja.

Tabel 1 Subyek yang Terlibat dalam Penelitian


Sekolah/I
Personel
Jum
Keterangan
nstansi
SMKN 2
Guru TITL
2
Validator, guru
PML, dan
peserta FGD
Kaprodi TITL 1
Validator dan
pelaksana FGD
SMKN 7
Guru TITL
1
Validator, guru
PML, dan
peserta FGD
Kaprodi TITL 1
Validator dan
pelaksana FGD
Dinas P
Pengawas
1
Validator dan
&K
SMK
peserta FGD
DU/DI
Direktur
1
Validator dan
Teknik ABB
peserta FGD
Sakti Industri
Instruktur
1
Validator dan
YASCO
peserta FGD
College
Surabaya
Dosen
Ahli PML
1
Validator
JTE
Ahli
1
Validator
Teknologi
Pembelajaran

Pada tahap studi pendahuluan, temuan rumusan


kompetensi PML yang dibelajarkan guru di SMK
yang dilakukan saat ini, dideskripsikan dalam
bentuk sajian data naratif,kemudian dianalisis
secara
kualitatif,
sedangkan
pada
tahap
pengembangan rumusan kompetensi PML, data
kualitatif dideskripsikan dalambentuk sajian data
naratif, yang kemudian dianalisis secara kualitatif.
Sedangkan hasil FGD digunakan untuk masukan
dalam menyempurnakan rumusan kompetensi PML
yang dikembangkan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Kemampuan awal yang dibutuhkan pada PML
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam
PML, meliputi: memiliki pengetahuan dasar tentang
motor listrik, pengetahuan dasar tentang geometri,
pengetahuan dasar tentang penggunaan alat ukur
(mekanik dan listrik), pengetahuan dasar tentang
penggunaan alat kerja mekanik, dan kesehatan dan
keselamatan kerja (K3).
2. Kompetensi utama dalam PML
Kompetensi utama pada PML, meliputi: (a)
pengujian awal untuk menentukan kerusakan
50

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

5. Kemampuan atau abilities


Kemampuan atau abilities,meliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara
tepat gerakan satu tangan atau kedua tangannya
untuk menangkap, memanipulasi, atau merakit
objek yang sangat kecil, (b) kemampuan untuk
menggerakkan tangan dengan cepat, tangan dan
lengan bersama-sama, atau dua tangan untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek, (c)
kemampuan untuk mengetahui saat terjadinya
sesuatu kesalahan atau mungkin kesalahan yang
akan terjadi. (tidak mencakup pemecahan masalah,
tetapi hanya mengenali ada masalah, (d)
kemampuan untuk menjaga kestabilan tubuh pada
saat tangan dan lengannya bergerak atau sambil
memegang tangan dan lengan dalam satu posisi,
(e) kemampuan untuk mengatur hal-hal atau
tindakan dalam urutan atau pola tertentu sesuai
dengan aturan tertentu atau seperangkat aturan
misalnya pola angka-angka, huruf, kata, gambar,
operasi matematika, (f) kemampuan untuk
menggabungkan informasi-informasi terpisah untuk
membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
6. Sikap dalam PML
Sikap dalam PML yang dibutuhkan, meliputi:
(a) memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama,(d) kegigihan, (e) inisiatif, (f)
pengendalian diri, (g) berprestasi, ( h) berfikir
analistis, dan (i) dan inovatif.
7. Hasil validasi hasil rumusan standar
kompetensi PML yang dikembangkan
Ringkasan hasil validasi terhadap rumusan
standar kompetensi PML yang dikembangkan
ditunjukkan Tabel 2..Validasi dilakukan terhadap
aspek penggunaan bahasa, kesesuaian konstruksi
kompetensi dengan tujuan kompetensi, kesesuaian
rumusan standar kompetensi dengan indikator dan
rinciannya, dan kesesuaian subtansi kompetensi
dengan subtansi tujuan kompetensi, kebenaran
subtansi rumusan kompetensi, ketepatan waktu
untuk melakukan kompetensi, dan kebermaknaan.

No

Aspek
kompetensi
dengan subtansi
tujuan kompetensi,
kebenaran subtansi
rumusan
kompetensi
Kebenaran
5
subtansi rumusan
kompetensi
ketepatan waktu
6
untuk melakukan
kompetensi
7
Kebermaknaan
Rata-rata
Persentase

Aspek
Penggunaan
bahasa
Kesesuaian
konstruksi
kompetensi
dengan tujuan
kompetensi
Kesesuaian
rumusan
kompetensi
dengan indikator
dan rinciannya
Kesesuaian
subtansi

SV

CV

TV

STV

CV

TV

STV

6
6
60

4
4
40

0
0,0

0
0,0

0
0,0

Berdasarkan Tabel 2, tampak bahwa hasil


validasi menunjukkan 20,0% validator menyatakan
valid dan 80,0% validator menyatakan sangat valid.
Hal ini menunjukkan bahwa rumusan kompetensi
PML yang dikembangkan layak dan dapat
digunakan.
Adapun saran dan masukan validator banyak
pada tata tulis. Saran dan masukan yang diberikan
validator telah diakomodasi peneliti dan telah
dilakukan perbaikan.
8. Hasil FGD
Pelaksanaan FGD dilakukan di Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri 2 di Jalan Tentara Geni
Pelajar No 1 Surabaya.sSubyeperti telah dipaparkan
pada Tabel 1, bahwa peserta dan pelaksana FGD 8
orang. Perlaksanaan FGD selama 6jam, mulai pukul
08.00-14.00 tanggal 9 September 2013.Peserta
diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran
dan masukan.
Hasil FGD menunjukkan bahwa peserta lebih
mencermati pada penulisan dan tatabahasa pada
rumusan kompetensi yang.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis awal pada jurnal
ilmiah, SKNI, kinerja PML di industri, dan
penilaian PML di Sekolah, diperoleh:
1. Kemampuan awal apa saja yang dibutuhkan
pada PML
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam
PML , adalah memiliki pengetahuan tentang dasar
tentang motor listrik, pengetahuan dasar tentang
geometri, pengetahuan dasar tentang penggunaan
alat ukur (mekanik dan listrik), pengetahuan dasar
tentang penggunaan alat kerja mekanik, dan
kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
Tampak bahwa pada PML diperlukan
kemampuan awal agar hasil PML lebih
optimal.Dengan memiliki pengetahuan awal
tentang dasar tentang motor listrik, pengetahuan
dasar tentang geometri, pengetahuan dasar tentang
penggunaan alat ukur (mekanik dan listrik),
pengetahuan dasar tentang penggunaan alat kerja
mekanik, dan kesehatan dan keselamatan kerja

Tabel 2 Hasil Validasi LK-TKPPML-P1-P4

No

SV

51

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

melakukan PML, sehingga secara otomatis dapat


melakukan yang terbaik tentang apa yang
seharusnya dilakukan.
4. Keterampilan dalam PML
Dalam melakukan PML, siswa harus memiliki
keterampilan dalam: (a) menentukan jenis alat
untuk kebutuhan untuk melakukan PML, (b)
menentukan jenis bahan yang dibutuhkan untuk
melakukan PML, (c) melakukan pengujian PML
menggunakan alat (termasuk spesifikasi) yang
sesuai kebutuhan, (d) melakukan pengujian
menggunakan bahan (termasuk spesifikasi) sesuai
yang dibutuhkan, (e) menentukan penyebab
kesalahan atau kerusakan bagian-bagian kelistrikan
dan memutuskan apa yang harus dilakukan, (f)
melakukan pemeliharaan pada peralatan dan
menentukan kapan serta apa jenis perawatan yang
dibutuhkan, (g) menginstal peralatan, motor listrik,
kabel, atau program untuk memenuhi spesifikasi,
(h) menggunakan logika dan penalaran untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari
alternatif solusi untuk menyimpukan atau
memecahkan
masalah
dalam
menentukan
kerusakan bagian mekanik dan kelistrikan stator
tertutup, (i) memahami kalimat tertulis dan paragraf
dalam dokumen (SOP) terkait pekerjaan pengujian
(standar tahanan resistansi dan tahanan isolasi), (j)
mengatur waktu bagi dirinya dan waktu orang lain
dalam kelompok ketika bekerja pada sebuah proyek
pengujian, (k) menentukan lama waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan proyek pengujian, (l)
memahami informasi baru dan implikasinya dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m)
memberi perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa
yang akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang
sesuai, dan tidak menginterupsi pada waktu yang
tidak tepat, dan (n) mengindahkan kesehatan dan
keselamatan kerja dalam bekerja,
Dengan memiliki keterampilan sebagaimana
tersebut di atas, maka siswa tidak hanya terampil
dalam segi fisik saja, tetapi juga terlatih
kemampuan berfikirnya dan akan terampil dalam
memecahkan masalah terkait dengan PML.
5. Kemampuan atau abilities
Kemampuan atau abilitiesmeliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara
tepat gerakan satu tangan atau kedua tangannya
untuk menangkap, memanipulasi, atau merakit
objek yang sangat kecil; (b) Kemampuan untuk
menggerakkan tangan dengan cepat, tangan dan
lengan bersama-sama, atau dua tangan untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek; (c)
kemampuan untuk mengetahui saat terjadinya
sesuatu kesalahan atau mungkin kesalahan yang
akan terjadi. (tidak mencakup pemecahan masalah,
tetapi hanya mengenali ada masalah; (d)
Kemampuan untuk menjaga kestabilan tubuh pada
saat tangan dan lengannya bergerak atau sambil

(K3). Pelaksanaan PML akan optimal hasilnya.


Pekerjaan PML tidak cukup hanya bermodalkan
pada keterampilan fisik dan sikap, tetapi juga
pengetahuan awal tentang motor listrik karena ada
besaran-besaran motor listrik tidak nampak secara
kasat mata.
Pengetahuan dasar tentang trigonometri
diperlukan karena pada pekerjaan PML, dimensi
fisik dari motor listrik sangat bervariasi. Sehingga
dalam melakukan perbaikan perlu ketelitian dan
perlakuan yag berbeda untuk motor yang berbeda.
Demikian juga pentingnya pengetahuan tentang
penggunaan alat ukur mekanik dan listrik, karena
dalam PML memerlukan pekerjaan melakukan
pengukuran besaran mekanik (kecepatan putaran,
panjang, sudut, dan lainnya) dan listrik (arus listrik,
tegangan, dan lainnya). Hal lain yang penting
adalah menyangkut keselamatan kerja, baik
keselamatan benda kerja, lingkungan kerja, maupun
keselamatan manusia.
2. Kompetensi utama dalam PML
Seperti
telah
diuraikan
pada
bagian
sebelumnya, bahwa kompetensi utama pada PML
adalah: (a) pengujian awal untuk menentukan
kerusakan bagian mekanis dan kelistrikan motor
induksi 3 phasa stator tertutup, (b) pengujian
bagian mekanik dan bagian kelistrikkan untuk
menentukan kerusakan bagian mekanik dan
kelistrikan motor induksi 3 phasa stator terbuka,
(c) membongkar dan menguji atau mendata belitan
untuk merancang belitan baru motor induksi 3
phasa, dan (d) membuat dan memasang belitan baru
pada stator motor induksi 3 phasa dan pengujian
hasilnya.
Dengan dapat melaksanakan pekerjaan utama
pada PML seperti di atas, maka siswa tidak akan
mengalami kesulitan jika mendapatkan tugas kelak
terjun di masyarakat. Kompetensi utama tersebut
tidak semata hanya berpengaruh pada dapat atau
tidak dapatnya siswa melakukan pekerjaan tersebut,
tetapi juga berkaitan dengan efisiensi waktu, efektif
penggunaan peralatan, efektif dalam menggunakan
bahan atau suku cadang, ekonomis, serta hemat
tenaga.
3. Yang harus dilakukan pada saat PML
Siswa dalam melakukan PML, harus dapat: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku
cadang bahan, (d) melakukan pendataan dan
mencatat, (e) melakukan pengujian, (f) memeriksa
sambungan, (g) memasang kembali, (h) mencatat
lama waktu bekerja, (i) membaca name plate, (j)
membandingkan data dengan ketentuan atau aturan
dan memutuskan, (k) memeriksa, membersihkan,
merawat dan menyimpan peralatan, dan(l)
memeriksa dan mencatat bahan yang digunakan dan
mengembalikan sisa bahan pada tempatnya.
Dengan dapat melakukan apa yang dapat
diuraikan di atas, maka secara tidak langsung siswa
telah dapat belajar mengelola dirinya dalam
52

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

kritik diperhatikan dengan cara memperbaiki atau


menyempurnakan.

memegang tangan dan lengan dalam satu posisi,


(e) kemampuan untuk mengatur hal-hal atau
tindakan dalam urutan atau pola tertentu sesuai
dengan aturan tertentu atau seperangkat aturan
misalnya pola angka-angka, huruf, kata, gambar,
operasi
matematika,(f)
kemampuan
untuk
menggabungkan informasi-informasi terpisah untuk
membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
Dengan
terbiasa
memiliki
memiliki
kemampuan di atas, maka memiliki reflex atau aksi
yang cepat dalam menghadapi aksi yang
dihadapinya. Selain itu dengan semakin terlatihnya
kemampuan-kemampuan tersebut juga akan
menumbuhkan kemampuan untuk mengambil
keputusan.
6. Sikap dalam PML
Sikap dalam PML yang dibutuhkan adalah: (a)
memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama; d) kegigihan;( e) inisiatif; (f)
pengendalian diri; (g) prestasi, (h) berfikir analistis,
dan (i) dan inovatif.
Sikap-sikap di atas akan berpengaruh terhadap
keberhasilan dalam melakukan PML. Walaupun
sikap pada diri seseorang sulit untuk diubah, namun
dengan pembiasaan secara berkelanjutan maka akan
dapat duga mengubah sikap seseorang. Karena
sesungguhnya sikap-sikap tersebut memiliki nilai
yang mulia, sehingga secara manusiawi pada
hakekatnya manusia suka sikap-sikap yang meiliki
nilai positip.
7. Hasil validasi rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan
Validasi terhadap rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan dilakukan terhadap aspek
penggunaan
bahasa,
kesesuaian
konstruksi
kompetensi dengan tujuan kompetensi, kesesuaian
rumusan kompetensi
dengan indikator dan
rinciannya, dan kesesuaian subtansi kompetensi
dengan subtansi tujuan kompetensi, kebenaran
subtansi rumusan kompetensi, ketepatan waktu
untuk melakukan kompetensi, dan kebermaknaan.
Dari 10 validator, 6 (60%) validator
menyatakan sangat valid dan sisanya 4 (40%)
menyatakan valid. Adapun saran dan masukan
validator banyak pada tata tulis. Saran dan masukan
yang diberikan validator telah diakomodasi peneliti
dan telah dilakukan perbaikan.Hal ini menunjukkan
bahwa
rumusan
kompetensi
PML
yang
dikembangkan layak atau dapat digunakan.
8. Hasil FGD
Hasil FGD menunjukkan bahwa peserta lebih
mencermati pada penulisan dan tata bahasa pada
rumusan kompetensi yang dikembangkan. Hal ini
juga memperkuat bahwa rumusan standar
kompetensi PML yang dikembangkan layak dan
dapat digunakan, apalagi jika saran, masukan dan

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, hasil
validasi dan FGD, rumusan kompetensi PML yang
dikembangkan layak dan dapat digunakan,
beberapa kesimpulan lainnya adalah:
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam
PML, adalah memiliki pengetahuan dasar tentang
motor listrik, geometri, penggunaan alat ukur
(mekanik dan listrik), penggunaan alat kerja
mekanik, dan kesehatan dan keselamatan kerja
(K3).
Kompetensi utama pada PML adalah: (a)
pengujian awal untuk menentukan kerusakan
bagian mekanis dan kelistrikan motor induksi 3
phasa stator tertutup, (b) pengujian bagian mekanik
dan bagian kelistrikkan untuk menentukan
kerusakan bagian mekanik dan kelistrikan motor
induksi 3 phasa stator terbuka, (c) membongkar
dan menguji atau mendata belitan
untuk
merancang belitan baru motor induksi 3 phasa, dan
(d) membuat dan memasang belitan baru pada
stator motor induksi 3 phasa dan menguji hasilnya.
Dalam melakukan PML, harus dapat: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku
cadang bahan,(d) melakukan pendataan dan
mencatat,(e) melakukan pengujian, ( f) memeriksa
sambungan, (g) memasang kembali, (h) mencatat
lama waktu bekerja, (i) membaca name plate, (j)
membandingkan data dengan ketentuan atau aturan
dan memutuskan, (k) memeriksa, membersihkan,
merawat dan menyimpan peralatan; dan( l)
memeriksa dan mencatat bahan yang digunakan dan
mengembalikan sisa bahan pada tempatnya.
Dalam melakukan PML, siswa harus memiliki
keterampilan dalam: (a) menentukan jenis alat
untuk kebutuhan untuk melakukan PML; (b)
menentukan jenis bahan yang dibutuhkan untuk
melakukan PML;(c) melakukan pengujian PML
menggunakan alat (termasuk spesifikasi) yang
sesuai kebutuhan; (d) melakukan pengujian
menggunakan bahan (termasuk spesifikasi) sesuai
yang dibutuhkan; (e) menentukan penyebab
kesalahan atau kerusakan bagian-bagian kelistrikan
dan memutuskan apa yang harus dilakukan, (f)
melakukan pemeliharaan pada peralatan dan
menentukan kapan serta apa jenis perawatan yang
dibutuhkan; (g) menginstal peralatan, motor listrik,
kabel, atau program untuk memenuhi spesifikasi,
(h) menggunakan logika dan penalaran untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari
alternatif solusi untuk menyimpukan atau
memecahkan
masalah
dalam
menentukan
kerusakan bagian mekanik dan kelistrikan stator
tertutup, (i) memahami kalimat tertulis dan paragraf
dalam dokumen (SOP) terkait pekerjaan pengujian
53

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

di dalam pembelajaran menerapkan model


pembelajaran yang berbasis saintific, diantaranya
discovery learning, problem based learning, dan
project based learning agar hasilnya optimal.

(standat tahanan resistansi dan tahanan isolasi), (j)


mengatur waktu bagi dirinya dan waktu orang lain
dalam kelompok ketika bekerja pada sebuah proyek
pengujian; (k) menentukan lama waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan proyek pengujian, (l)
memahami informasi baru dan implikasinya dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m)
memberi perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa
yang akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang
sesuai, dan tidak menginterupsi pada waktu yang
tidak tepat, dan (n) mengindahkan kesehatan dan
keselamatan kerja dalam bekerja,
Kemampuan atau abilities meliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara
tepat gerakan satu tangan atau kedua tangannya
untuk menangkap, memanipulasi, atau merakit
objek yang sangat kecil; (b) kemampuan untuk
menggerakkan tangan dengan cepat, tangan dan
lengan bersama-sama, atau dua tangan untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek; (c)
kemampuan untuk mengetahui saat terjadinya
sesuatu kesalahan atau mungkin kesalahan yang
akan terjadi. (tidak mencakup pemecahan masalah,
tetapi hanya mengenali ada masalah; (d)
Kemampuan untuk menjaga kestabilan tubuh pada
saat tangan dan lengannya bergerak atau sambil
memegang tangan dan lengan dalam satu posisi;
(e) kemampuan untuk mengatur hal-hal atau
tindakan dalam urutan atau pola tertentu sesuai
dengan aturan tertentu atau seperangkat aturan
misalnya pola angka-angka, huruf, kata, gambar,
operasi matematika, (f) kemampuan untuk
menggabungkan informasi-informasi terpisah untuk
membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
Sikap dalam PML yang dibutuhkan, meliputi:
(a) memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama,(d) kegigihan, (e) inisiatif, (f)
pengendalian diri, (g) berprestasi, (h) berfikir
analistis, dan (i) dan inovatif.
Berdasarkan hasil validasi dan FGD, rumusan
standar kompetensi PML yang dikembangkan layak
dan dapat digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Calhoun, C.C. dan Finch, A.V. (1982). Vocational
Education: Concept and Operations. California: Wads
Worth Publishing Company.
[2]. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Petunjuk Teknis
Penyusunan Perangkat Uji: Ujian Nasional Komponen
Produktif dengan Pendekatan Project Work.
[3]. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (2003).
Standar Kompetensi Nasional Bidang Ketenagalistrikan
Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
[4]. Finch, C. dan Crunkilton, J.R. (1984). Curriculum
Development in Vocational and Technical Education:
Planning,Content and Implementation. Boston: Allyn and
Bacon, Inc.
[5]. Fletcher, S. (1992). Competence-Based Assessment
Techniques. Kogan Page, UK.
[6]. Gall, M.D., Gall, J.P. dan Borg, W.R. (2003). Educational
Research : An Introduction. San Fransisco: Pearson
Education.
[7]. Hasan, S.H. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
[8]. Jubaedah, Y. (2005). Telaah Implementasi Pendekatan
Competency Based Training Berdasarkan Standar
Kompetensi Nasional Pada Kegiatan Pembelajaran
diSekolah Menengah Kejuruan Kelompok Pariwisata.
Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan
Indonesia.
[9]. Mills, H.R. 1977. Teaching and training. London: The
Macmillan Press, Ltd.
[10]. National Centre For Competency Based Training. (1995).
Developing Competency Based Training Materials.
National Centre For Competency Based Training.
[11]. Oliva, P.F. (1992). Developing the Curriculum. America:
Harper Collins Publishers.
[12]. Pitman, Bell dan Fyfe (2000). Assumptions and Origin of
Competency-Based Assessment : New Challenges for
Teachers. Queensland: Board of Senior Secondary School
Studies.
[13]. Ryan, D.C. 1980. Characteristics of teacher. A Research
study: Their description, comparation, and
appraisal. Washington, DC: American Council of
Education.
[14]. Singer,R.N. 1972. The Psychomotor Domain: Movement
behavior. London: Henry Kimton Publisher.
[15]. Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[16]. ________ (2001). Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Saran
Dalam menerapkan rumusan kompetensi PML
yang telah dikembangkan, seyogyanga
sekolah
melengkapi sarana dan prasarana yang memadai
agar hasilnya lebih optimal.
Desain dan model pengembangan kompetensi
psikomotorik PML yang dikembangkan, dapat
diterapkan pada mata pelajaran yang memiliki
kemiripan karakterisik, terutama untuk menerapkan
kurikulum 2013.
Untuk
menggunakan
rumusan
standar
kompetensi yang dikembangkan, guru seyogyanga

[17]. Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung


Dunia Pendidikan dan Industri.
http://www.Edubenchmark.com/Diakses tanggal 10
Desember 2009 pukul 16.00
[18]. Usam Sutarja. (2010). Persepsi Industri Terhadap
Kompetensi lulusan SMK Program Keahlian Teknik
Otomotif dalam Memenuhi Tuntutan Kompetensi Kerja
Industri.ttprepository.upi.eduoperatoruploads
[19]. _e0551_060862 _abstract.pdf. Diakses 12 Januari 2013
pukul 19.00
[20]. Wosnop, P.J. (1993). Competency Based Training: How To
Do it For Trainers.

54

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan E-book Interaktif Mata Kuliah Elektronika Digital


Lusia Rakhmawati 1, Dhimas Ardhiansyah Pratama 2
1

Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, lusia.rakhmawati@gmail.com


2
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, dhimas.08@gmail.com

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk


menghasilkan media pembelajaran e-book interaktif
yang valid ditinjau dari kriteria materi, media, dan
bahasa sehingga dapat digunakan dalam kegiatan
belajar mengajar pada mata kuliah elektronika digital
di jurusan Teknik Elektro Unesa. Selain itu, juga untuk
mengetahui respon mahasiswa terhadap media
pembelajaran yang dihasilkan. Metode penelitian yang
digunakan
adalah
pengembangan
4-D
yaitu
pendefinisian
(define),
perancangan
(design),
pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate).
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan
melakukan validasi media kepada masing-masing ahli
materi, media, bahasa dan menggunakan lembar angket
mahasiswa, dan tes yang dianalisis menggunakan uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-book interaktif
pada mata kuliah elektronika digital di jurusan Teknik
Elektro Unesa dengan materi setelah UTS sampai UAS
telah valid. Hasil validasi meliputi materi 86,25%,
media 80%, bahasa 80%, hasil angket respon siswa
70,75%.

materi sebagai media interaktif. pada penelitian ini,


peneliti akan mengembangkan e-book interaktif yang
dapat digunakan sebagai alternatif dalam kegiatan
belajar mengajar pada mata kuliah elektronika digital.
Mata kuliah elektronika digital adalah mata
kuliah yang membahas konsep dasar teknik digital,
sistem bilangan, gerbang logika, Aljabar boolean,
perancangan rangkaian kombinasional, rangkaian
sekuensial, counter, dan register serta aplikasinya
dalam kehidupan sehari-hari. pada kegiatan
pembelajaran elektronika digital terdapat berbagai
macam buku wajib yang digunakan, namun
kebanyakan mahasiswa hanya mengandalkan slide
PowerPoint yang hanya berisi ringkasan dari materi
sebagai media belajarnya, maka menyebabkan
kurangnya sumber belajar dan apabila dosen
berhalangan hadir untuk memberikan perkuliahan
juga akan menyebabkan tertundanya pembelajaran.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah
media pembelajaran yang mampu menjembatani
permasalahan keterbatasan tersebut dalam proses
belajar mengajar. Berdasarkan uraian di atas, maka
perlu dikembangkan media pembelajaran yang
dikhususkan untuk mata kuliah Elektronika Digital
sebagai alternatif dalam pelaksanaan proses belajar
mengajar sehingga mahasiswa mendapatkan materi
yang utuh dan mendapatkan sumber belajar yang
dapat digunakan ketika dosen berhalangan hadir. dan
diharapkan mampu mendukung sistem pembelajaran
yang sudah ada.
Dalam Encyclopedia Britannica Ultimate
Reference Suite menjelaskan bahwa e-book adalah file
digital yang berisi teks dan gambar yang sesuai untuk
didistribusikan secara elektronik dan ditampilkan di
layar monitor yang mirip dengan buku cetak. Pada
Oxford Advanced Learners Dictionary menyatakan
bahwa e-book adalah buku yang ditampilkan di layar
komputer bukannya dicetak di kertas. Menurut [4] ebook berisi jaringan unit informasi digital yang terdiri
dari teks, grafik, video, animasi atau suara. Maka ebook atau electronic book adalah buku dalam bentuk
digital, yang terdiri dari teks, gambar, atau keduanya.
Sehingga hasil dari penelitian ini adalah e-book
yang berisi materi elektronika digital disertai dengan
simulasi yang dapat dan layak digunakan dalam
pembelajaran. Pada e-book interaktif akan disediakan
menu atau link opsional untuk menuju ke bagian atau
materi lain dari e-book. Diharapkan dengan media
yang atraktif dapat menarik minat mahasiswa dalam
belajar pada materi Elektronika Digital. E-book juga
memiliki kelebihan dibandingkan dengan buku cetak

Kata Kunci - E-book interaktif, media pembelajaran.

I. PENDAHULUAN
Pengertian media sesuai dengan pernyataan
Sadiman, dkk.[8], ialah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa
sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dengan menggunakan media pembelajaran dalam
proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan
membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap
siswa [1]. Sehingga dengan adanya media
pembelajaran ini, diharapkan dosen lebih mudah
dalam menyampaikan materi dengan menggunakan
simulasi pada media dan mahasiswa dapat lebih
mudah memahami materi yang disampaikan.
Dalam taksonomi Leshin, dkk. Terdapat
bermacam-macam media, yaitu media berbasis
manusia, berbasis cetakan, berbasis visual, berbasis
audio visual, dan media berbasis komputer [1]. Sesuai
dengan perkembangan teknologi, media pembelajaran
mengalami perubahan yang cukup signifikan. Media
pembelajaran yang digunakan tidak hanya dalam
bentuk visual ataupun bentuk audio tetapi sudah
berbentuk audio visual. Dari berbagai macam media
yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran,
salah satu bentuk media yang dapat dijadikan pilihan
adalah media berbasis komputer untuk menyajikan
55

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

berisi ringkasan dari materi sebagai media belajarnya,


maka menyebabkan kurangnya sumber belajar dan
apabila
pendidik
berhalangan
hadir
untuk
memberikan perkuliahan juga akan menyebabkan
tertundanya pembelajaran.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah
media pembelajaran yang mampu menjembatani
permasalahan keterbatasan tersebut dalam proses
belajar mengajar di dalam kelas. Berdasarkan uraian
di atas, maka perlu dikembangkan media
pembelajaran yang dikhususkan untuk mata kuliah
Elektronika Digital sebagai alternatif dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga
mahasiswa mendapatkan materi yang utuh dan
mendapatkan sumber belajar yang dapat digunakan
ketika pendidik berhalangan hadir. dan diharapkan
mampu mendukung sistem pembelajaran yang sudah
ada.
Analisis pebelajar
Analisis pebelajar merupakan telaah tentang
karakteristik pebelajar yang sesuai dengan desain
pengembangan perangkat pembelajaran. Analisis
pebelajar dilakukan untuk mendapatkan gambaran
karakteristik pebelajar, antara lain: tingkat
kemampuan atau perkembangan intelektualnya [13].
Rata-rata usia pebelajar pada jurusan Teknik
Elektro angkatan 2011 adalah 19 tahun. Apabila
ditinjau dari tahap perkembangan kognitif Piaget
sudah mencapai tahap operasional formal.
Kemampuan kognitif yang diperoleh pada tahap
operasional formal antara lain berpikir dengan
gagasan-gagasan; yang artinya tidak hanya
menggunakan fakta-fakta tapi juga pernyataanpernyataan atau gagasan-gagasan yang berisi data
kongkrit. Dapat menggunakan konsep-konsep abstrak
dengan mudah. Dan pada tahap ini, mereka
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan
membuat kombinasi antar variabel [6].
Sehingga dengan kemampuan kognitif tersebut,
pebelajar mampu memahami simbol-simbol logika
pada materi dan dapat membandingkan dengan
bentuk komponen nyata pada datasheet. Mampu
memahami simulasi berdasarkan penjelasan pada
materi.

antara lain lebih mudah disimpan dan mudah


diduplikasi.
II. METODE PENELITIAN
2.1Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan menggunakan model 4-D. dalam
penelitian
ini
akan
dikembangkan
media
pembelajaran interaktif pada materi elektronika
digital yang berisi materi dan simulasi rangkaian.
Penelitian pengembangan ini disebut model 4-D
karena proses pengembangannya dibagi menjadi 4
tahapan, yaitu define, design, develop, dan
disseminate atau pendefinisian, perancangan,
pengembangan, dan penyebaran. Langkah-langkah
penelitian dan pengembangan ditunjukkan pada
Gambar 1 [13].
Define
(Pendefinisian)

Design
(Perancangan)

Develop
(Pengembangan)

Disseminate
(Penyebaran)

Gambar 1. Langkah-langkah penelitian 4-D berdasarkan


Thiagarajan, dkk.

2.2 Langkah-Langkah Penelitian


Pada penelitian ini akan dihasilkan produk berupa
media pembelajaran e-book interaktif pada mata
kuliah elektronika digital di jurusan Teknik Elektro
Unesa. Tahapan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendefinisian (define), perancangan (design),
pengembangan
(develop),
dan
penyebaran
(disseminate).
Penjelasan untuk masing-masing tahapan di atas
adalah sebagai berikut:
Define (Pendefinisian)
Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan
mendefinisikan tentang hal yang diperlukan untuk
mengembangkan media pembelajaran yang akan
digunakan pada mata kuliah elektronika digital.
Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu
analisis ujung depan (front-end analysis), analisis
pebelajar (learner analysis), analisis tugas (task
analysis), analisis konsep (concept analysis) dan
perumusan
tujuan
pembelajaran
(specifying
instructional objectives) [13].

Analisis tugas
Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi
ketrampilan-ketrampilan utama yang diperlukan akan
dikaji oleh peneliti dan menganalisisnya ke dalam
himpunan ketrampilan tambahan yang mungkin
diperlukan [13].
Analisis tugas untuk media pembelajaran yang
dikembangkan adalah sebagai berikut :
Rangkaian kombinasional, yang mencakup dasar
adder, parallel binary adder, comparator, decoder,
encoder, kode konverter, multiplexer (data selector),
demultiplexer.Tujuan:
Dapat menggunakan full-adder untuk multibit
paralel binary adder

Analisis ujung depan


Analisis ujung depan adalah penelitian pada
masalah dasar yang dihadapi [13]. Dengan analisis ini
akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan
alternatif penyelesaian masalah dasar, yang
memudahkan dalam penentuan atau pemilihan bahan
ajar yang dikembangkan.
Masalah dasar yang dihadapi, berdasarkan
pengalaman penulis, pada kegiatan pembelajaran
elektronika digital terdapat berbagai macam buku
wajib yang digunakan, namun kebanyakan mahasiswa
hanya mengandalkan slide PowerPoint yang hanya
56

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Dapat menggunakan komparator magnitudo untuk


menentukan hubungan antara kedua bilangan
biner dan menggunakan komparator kaskade
untuk membandingkan bilangan besar
Dapat mengimplementasikan dasar decoder biner
Dapat menggunakan dekoder BCD-to-7-segment
dalam sistem tampilan
Dapat mengaplikasikan multiplexer pada seleksi
data, multiplexed display, pembangkitan fungsi
logika, dan sistem komunikasi sederhana
Dapat
menggunakan
dekoder
sebagai
demultiplexer

Rangkaian kombinasional, yang mencakup dasar


adder, parallel binary adder, comparator, decoder,
encoder, kode konverter, multiplexer (data selector),
demultiplexer. Tujuannya adalah untuk membedakan
antara half-adder dan full-adder
Rangkaian sekuensial, yang mencakup SR flipflop, D flip-flop, JK flip-flop, Master-Slave flip-flop.
Tujuan:
Dapat menjelaskan perbedaan S-R Flip-flop , D
Flip-flop, JK Flip-flop
Dapat memahami operasi Master- Slave Flip-flop
Dapat memahami karakteristik operasi Flip-flop
Counter, yang mencakup operasi asynchronous
counter, operasi synchronous counter, up/down
synchronous counter, desain synchronous counter,
cascaded counter. Tujuan:
Dapat menggambarkan perbedaan antara counter
sinkron dan asinkron
Dapat menganalisa diagram waktu counter
Dapat menganalisa rangkaian counter
Dapat menentukan modulo counter

Rangkaian sekuensial, yang mencakup SR flipflop, D flip-flop, JK flip-flop, Master-Slave flip-flop.


Tujuan:
Dapat menggunakan gerbang logika untuk
membangun dasar Flip-flop
Dapat mengaplikasikan Flip-flop dalam aplikasiaplikasi dasar
Counter, yang mencakup operasi asynchronous
counter, operasi synchronous counter, up/down
synchronous counter, desain synchronous counter,
cascaded counter. Tujuan:

Register, yang mencakup fungsi dasar register


geser, register serial in/serial out, register serial
in/parallel out, register parallel in/ serial out, register
parallel in/ parallel out , shift register counter. Tujuan:

Dapat menggunakan up/down counter untuk


membangkitkan urutan biner maju dan mundur
Dapat menggunakan kaskade counter untuk
menghasilkan modulo yang besar
Dapat mendesain counter sesuai deret yang
ditentukan

Dapat mengidentifikasi bentuk dari pergeseran


data pada register
Dapat menjelaskan operasi register serial in/serial
out, serial in/paralel out, parallel in/serial out, dan
parallel in/parallel out.
Sumber materi yang akan digunakan untuk
membuat e-book adalah buku Teknik Digital
karangan Ir. Wijaya Widjanarka dan buku Digital
Fundamentals, karangan Thomas L. Floyd.

Register, yang mencakup fungsi dasar register


geser, register serial in/serial out, register serial
in/parallel out, register parallel in/ serial out, register
parallel in/ parallel out , shift register counter.
Tujuannya adalah dapat menggunakan register
sebagai perangkat waktu tunda

Design (Perancangan)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang
media pembelajaran e-book interaktif untuk mata
kuliah elektronika digital di jurusan Teknik Elektro
Unesa dengan rentang materi setelah UTS sampai
sebelum UAS seperti yang telah dijelaskan pada
analisis konsep. langkah yang dilakukan pada tahap
ini dirincikan sebagai berikut:

Analisis konsep
Analisis
konsep
dilakukan
untuk
mengidentifikasi konsep pokok yang akan digunakan,
menyusunnya dalam bentuk hirarki, dan merinci
konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan
yang tidak relevan. Analisis ini membantu
mengidentifikasi kemungkinan contoh dan bukan
contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses
pengembangan [13]
Analisis-analisis yang dilakukan adalah analisis
standar kompetensi berdasarkan GBRP yang
bertujuan untuk mengumpulkan materi yang akan
digunakan dalam menyusun media pembelajaran.
Berdasarkan dosen mata kuliah elektronika digital
belum terdapat e-book yang dikembangkan pada
materi mata kuliah elektronika digital di jurusan
Teknik Elektro Unesa setelah UTS sampai UAS maka
materi
yang
digunakan
adalah
rangkaian
kombinasional, rangkaian sekuensial, counter, dan
register dengan rincian sebagai berikut:

Media selection (Pemilihan media)


Pemilihan media adalah pemilihan media
pembelajaran yang relevan dengan materi. Media
dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep,
karakteristik target pengguna, dan sumber pembuatan
[13].
Pemilihan
media
dilakukan
untuk
mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses
pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di
kelas.
Pemilihan media yang digunakan berupa media
pembelajaran e-book interaktif di mana dalam media
e-book tersebut tidak hanya berisi tulisan dan gambar,
tetapi terdapat simulasi yang menggambarkan apa
57

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

yang dijelaskan pada e-book tersebut. Materi pada


media tersebut disesuaikan dengan GBRP mata kuliah
elektronika digital di jurusan Teknik Elektro di Unesa
dengan rentang setelah UTS sampai sebelum UAS.

Teknik ini digunakan untuk memperoleh saran


untuk pengembangan media. Beberapa ahli akan
diminta untuk mengevaluasi media, sehingga dapat
diketahui kelemahannya. Berdasarkan saran dari para
ahli, media akan dimodifikasi untuk membuatnya
lebih tepat, efektif, dan bermanfaat [13].
Data yang diperoleh pada tahap ini dikumpulkan
dengan cara memberikan lembar validasi kepada para
ahli sebagai validator dengan menggunakan
instrumen penelitian. Instrumen penelitian digunakan
untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Instrumen
dalam penelitian ini meliputi lembar validasi untuk
ahli bahasa, ahli materi, dan ahli media.

Format selection (Pemilihan format)


Pemilihan
format
dalam
pengembangan
perangkat pembelajaran ini dimaksudkan untuk
pemilihan media pembelajaran [13]. Format yang
dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik,
memudahkan dan membantu dalam pembelajaran dan
dalam penelitian ini, format yang dipilih adalah
berbasis komputer.
Pada media tersebut terdapat 4 materi yang pada
tiap-tiap materi terdapat tombol navigasi untuk
menuju ke materi selanjutnya atau kembali ke materi
sebelumnya. Dengan panel daftar isi, pengguna dapat
langsung menuju materi manapun. Diagram alur
untuk media pembelajaran tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2.

Tahap Validasi Media Pembelajaran


Pada tahap ini, Sebelum diuji cobakan, media
akan divalidasi oleh ahli.
Analisis Penilaian Validator
Setelah memperoleh nilai dari hasil validasi, akan
dilakukan analisis terhadap penilaian tersebut.
Penilaian tingkat kevalidan (validitas) media
pembelajaran dan angket respon mahasiswa dilakukan
dengan cara memberikan tanggapan dengan
menggunakan skala Likert di mana setiap jawaban
pada setiap item instrumen mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif [12].
Dari hasil lembar validasi media pembelajaran
dapat diketahui tingkat kevalidan dari media
pembelajaran yang telah dibuat. Jawaban lembar
validasi yang akan digunakan untuk menilai adalah
sangat valid, valid, cukup valid, tidak valid dan sangat
tidak valid. Kemudian dianalisis dengan menghitung
rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban
validator. Uraian untuk analisis untuk penilaian
validator adalah sebagai berikut:

Halaman Utama

Menggunakan Media Tanpa Simulasi

Ya

Ya

Panduan

Program
Java Aktif?

Materi 1

Sub Materi 1

Materi 2

Sub Materi 2

Materi 3

Sub Materi 3

Materi 4

Sub Materi 4

Tidak

Tidak

Menginstal
Program Java

Nilai untuk masing-masing skor adalah sebagai


berikut:
5 = Sangat Valid
4 = Valid
3 = Cukup Valid
2 = Tidak Valid
1 = Sangat Tidak Valid
[12]

Gambar 2. Diagram Alur Media Pembelajaran.

Initial design (Rancangan awal)


adalah penyajian dari instruksi melalui media
yang tepat dan dalam urutan yang sesuai
(Thiagarajan, dkk., 1974: 7). Pada tahap ini akan
dilakukan pembuatan media e-book pembelajaran
interaktif. Produk yang akan dihasilkan nanti berupa
e-book media pembelajaran interaktif dengan yang
dijalankan di komputer dengan menggunakan web
browser.

Analisis skor penilaian


Mengalikan banyaknya item penilaian (n) dengan
skor, kemudian menjumlahkan hasilnya. Cara
perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jumlah untuk n item dengan skor 5 =
nx5
Jumlah untuk n item dengan skor 4 =
nx4
Jumlah untuk n item dengan skor 3 =
nx3
Jumlah untuk n item dengan skor 2 =
nx2
Jumlah untuk n item dengan skor 1 =
nx1
Skor Item =

Develop (Pengembangan)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk memodifikasi
rancangan desain. media yang telah dihasilkan
dianggap sebagai versi awal yang akan diubah
sebelum dapat menjadi versi akhir yang efektif. Dua
langkah dalam tahap ini adalah sebagai berikut.

Setelah diketahui jumlah total, kemudian dihitung


tingkat kevalidan sebagai berikut:

Expert appraisal (Validasi ahli)

58

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

mahasiswa dan analisis soal uji coba yang akan


dijelaskan di bawah ini.
Analisis Hasil Angket Respon Mahasiswa
Setelah memperoleh hasil angket respon
mahasiswa, akan dilakukan analisis terhadap
penilaian tersebut. Penilaian angket respon mahasiswa
dilakukan dengan cara memberikan tanggapan dengan
menggunakan skala Likert di mana setiap jawaban
pada setiap item instrumen mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif [12].
Dari hasil angket respon mahasiswa dapat
diketahui respon mahasiswa terhadap perangkat
pembelajaran yang telah dibuat. Tingkat respon yang
akan
digunakan
untuk menanggapi
media
pembelajaran adalah sangat valid, valid, cukup valid,
kurang valid dan tidak valid. Kemudian dianalisis
dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan
skoring setiap respon mahasiswa. Berikut ini uraian
analisis untuk penilaian dimana nilai untuk masingmasing skor adalah sebagai berikut:
5 = Sangat Valid
4 = Valid
3 = Cukup Valid
2 = Tidak Valid
1 = Sangat Tidak Valid[7]

Keterangan :
Skor Ideal = Jumlah Skor Ideal untuk seluruh item
= 5 x n [7].
Langkah
berikutnya
adalah
mengambil
kesimpulan atas hasil rata-rata tingkat kevalidan.
Kriteria interpretasi skor untuk tingkat kevalidan
(validitas) adalah sebagai berikut:
84% nilai < 100% = Sangat Valid
68% nilai < 84% = Valid
52% nilai < 68% = Cukup Valid
36% nilai < 52% = Tidak Valid
20% nilai < 36% = Sangat Tidak Valid
Developmental testing (Uji coba pengembangan)
Uji coba produk yang melibatkan pebelajar untuk
memperoleh masukan berupa respon, reaksi, dan
komentar pebelajar terhadap media pembelajaran
yang telah disusun [13]
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 5 =
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 4 =

nx5
nx4

Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 3 =


Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 2 =

nx3
nx2

Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 1 =

nx1

Setelah itu, menghitung rata-rata jawaban


berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden:
Setelah diketahui jumlah total, kemudian dihitung
rata-rata tingkat kevalidan sebagai berikut:

jawaban mahasiswa =

Subyek Penelitian.
Subyek penelitian yang digunakan adalah
mahasiswa yang akan mengikuti mata kuliah
elektronika digital. Pemilihan subyek tersebut karena
belum pernah mendapat materi elektronika digital
untuk mengetahui penilaian dari mahasiswa terhadap
media pembelajaran dan hasil uji coba soal pada
materi yang baru dipelajari. Mata kuliah elektronika
digital adalah mata kuliah untuk prodi elektro
komunikasi (elkom) semester 4 maka diambil sample
mahasiswa elkom semester 3 yaitu kelas elkom 1
angkatan 2011.

Keterangan :
Skor Ideal = Jumlah Skor Ideal untuk seluruh
item = 5 x n
Setelah diketahui rata-rata tingkat kevalidan
untuk tiap rincian penilaian, kemudian dijumlahkan
seluruhnya dan menghitung rata-rata tingkat
kevalidan untuk semua kriteria penilaian

Pengumpulan data
Tahap uji coba untuk pengumpulan data akan
dilakukan selama 2 jam pelajaran sehingga peneliti
akan menggunakan waktu kuliah pengukuran
elektronika yang terdiri dari 2 SKS. Untuk melakukan
pengumpulan data, mahasiswa dibagikan media
pembelajaran dan diberi waktu 1 jam untuk membaca
media pembelajaran sambil diberi tau akan dilakukan
tes tentang materi register dan mengisi angket respon
tentang media pembelajaran untuk 1 jam terakhir.
Setelah membaca materi selama 1 jam,
mahasiswa dibagikan soal tentang materi register dan
angket respon mahasiswa yang akan diisi selama 1
jam terakhir Analisis Uji Coba Pengembangan
Setelah dilakukan uji coba, akan dilakukan
analisis terhadap hasil uji coba tersebut. Analisis yang
dilakukan adalah analisis hasil angket respon

[7].
langkah berikutnya adalah mengambil kesimpulan
atas hasil rata-rata tingkat validitas. Kriteria
interpretasi skor untuk rata-rata tingkat validitas
adalah sebagai berikut:
84% nilai < 100% = Sangat Valid
68% nilai < 84% = Valid
52% nilai < 68% = Cukup Valid
36% nilai < 52% = Tidak Valid
20% nilai < 36% = Sangat Tidak Valid

59

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Disseminate (Penyebaran)
Proses penyebaran merupakan suatu tahap akhir
pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk
mempromosikan produk pengembangan agar bisa
diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok,
atau sistem [13]
Produk yang telah dikembangkan yaitu media
pembelajaran e-book interaktif pada mata kuliah
elektronika digital di jurusan Teknik Elektro Unesa
yang dikemas dalam bentuk CD (Compact Disc).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Media pembelajaran e-book yang dihasilkan
terdiri dari 2 kolom. yaitu kolom sebelah kiri
merupakan daftar isi, terdapat 4 bab utama, yaitu
rangkaian kombinasional, rangkaian sekuensial,
counter, dan register, dan masing-masing bab
memiliki sub-bab. Sedangkan kolom sebelah kanan
merupakan isi materi. Gambar 3 menunjukkan hasil
tampilan e-book.

Gambar 5. Tampilan isi setelah simulasi ditampilkan

Gambar 6. Grafik hasil validasi instrumen penelitian.

IV. KESIMPULAN
Hasil validasi untuk media pembelajaran dan
angket respon mahasiswa menunjukkan bahwa nilai
validasi materi pada media pembelajaran adalah
86,25% dinyatakan sangat valid. Nilai validasi media
adalah 80% dinyatakan valid. Nilai validasi bahasa
pada media pembelajaran adalah 80% dinyatakan
valid. Hasil angket respon mahasiswa terhadap media
pembelajaran adalah 70,85% dinyatakan valid, serta
berdasarkan angket respon mahasiswa menunjukkan
bahwa media yang dikembangkan dapat diterima oleh
mahasiswa baik dalam kriteria media dan simulasi.

Gambar 3. Tampilan e-book

Pada isi materi dalam media ini terdapat simulasi


rangkaian digital yang sesuai dengan materi yang
sedang dibahas. Pengguna dapat menggunakan atau
menampilkan simulasi dengan menekan tombol
buka/tutup seperti ditunjukkan pada Gambar 4 dan
Gambar 5.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Arsyad, Azhar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta.
Rajagrafindo Persada.
[2]. Agus, Suprijono. 2009. Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[3]. Dimury , Ricky Ompu. 2011. Pendidikan Merupakan
Kebutuhan. (Online), http://pendidikan-dimasa-yangakandatang.blogspot.com/2011/12/pendidikan-merupakankebutuhan.html , diakses 5 Oktober 2012).
[4]. Djan, Ohen. 2003. Personalising Electronic Books. (Online),
(http://journals.tdl.org/jodi/article/viewArticle/88/87, diakses
29 Juli 2012).

Gambar 4 Tampilan isi sebelum simulasi ditampilkan.

[5]. Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran: Sebuah


Penedekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press.

60

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
[6]. Nursalim, Mochamad. dkk. 2007. Psikologi Pendidikan.
Surabaya: Unesa University Press.
[7]. Riduwan. 2011. Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.
[8]. Sadiman, S. Arief. dkk. 2007. Media Pendidikan: Pengertian,
Pengembangan, Dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
[9]. Sastrawijaya, Tresna. 1991. Pengembangan Program
Pengajaraan. Jakarta: Rineka Cipta.
[10]. Shiratuddin. 2003. E-Book Technology and Its Potential
Applications in Distance Education. (Online),
(http://journals.tdl.org/jodi/article/viewArticle/90/89, diakses
29 Juli 2012).
[11]. Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1997. Media Pengajaran
(Penggunaan Dan Pembuatannya. Bandung: Sinar Baru.
[12]. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
[13]. Thiagarajan, dkk. 1974. Instruction Development For
Training Teachers Of Exceptional Children. Indiana: Indiana
University.
[14]. ____. 2008. KBBI Daring. (Online),
(http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/, diakses 29 Juli
2012).
[15]. ____. 2009. Interactive media. (Online),
(http://en.wikipedia.org/wiki/Interactivemedia, diakses 29 Juli
2012).
[16]. [_____. 2010. Oxford Advanced Learner's Dictionary 8th
edition [Computer software]. Great Clarendon Street: Oxford
University Press.
[17]. [_____. 2012. Encyclopdia Britannica Ultimate Reference
Suite 2012 [Computer software]. India: Magic Software..

61

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menerapkan Model


Pembelajaraan Kooperatif Tipe Group Investigation (Gi)
Berbantuan Software Multisim Untuk Mencapai Kompetensi
Mata Pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan,
Keterampilan Proses dan Keterampilan Sosial
(Studi pada Kelas X SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung)
Nofida Suwita Sari1, Ismet Basuki2
1

Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail:


Nofida.suwitasari@ymail.com.
2
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail:
Ismetbasuki2005@yahoo.co.id
senang dan tertarik terhadap mata pelajaran DKK.
Persentase ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif
produk sebesar 90,625%. Ketuntasan klasikal
keterampilan menggunakan software Multisim sebesar
100%. Ketuntasan klasikal keterampilan proses sebesar
100%. Keterampilan sosial siswa sosial berkategori
tinggi atau memuaskan.

Abstrak - Tujuan dari penelitian ini adalah


mengembangkan perangkat pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI
berbantuan software Multisim. Penelitian ini juga akan
mendeskripsikan kualitas perangkat pembelajaran yang
ada di sekolah, potensi siswa yang meliputi
keterampilan berfikir dan motivasi berprestasi, kualitas
perangkat pembelajaran GI berbantuan software
Multisim, aktivitas siswa, keterlaksanaan pembelajaran,
respon siswa, dan kompetensi siswa dalam mata
pelajaran DKK yang meliputi hasil belajar kognitif
produk, keterampilan proses, dan keterampilan sosial.
Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap, yakni
(1) studi pendahuluan; (2) mendesain perangkat
perangkat pembelajaran GI dengan mengacu model
pengembangan Research and Development (R & D; (3)
validasi dan revisi; (4) mengujicobakan perangkat
pembelajaran. Rancangan ujicoba menggunakan OneGroup Pretest-Posttest Design.
Temuan hasil penelitian yakni kualitas perangkat
di SMK Negeri 3 Boyolangu cukup baik sehingga
peneliti mengadaptasi perangkat pembelajaran tersebut.
Persentase keterampilan berfikir siswa menujukkan
bahwa 12.5% siswa memiliki keterampilan berfikir
tingkat ingatan dan 87,5% siswa memiliki keterampilan
berfikir tingkat dasar. Persentase siswa yang
menyatakan sangat setuju dengan pernyataan
mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru
dapat menunjang kesuksesan dalam belajar sebesar
69,7% dan setuju sebesar 30,3%, sehingga disimpulkan
siswa memiliki motivasi berprestasi berorientasi sukses.
Hasil valiadasi perangkat pembelajaran menunjukkan
bahwa silabus berkategori baik dengan koefisiean
reliabilitas sebesar 0,862, RPP berkategori baik dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8667, LKS berkategori
baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,8947, LP
berkategori baik dengan koefisien reliabilitas sebesar
0,9524. Sedangkan keterlaksanaan pembelajaran dapat
terlaksana
dengan
kategori
baik
(rata-rata
keterlaksanaan 3,82%). Aktivitas siwa yang paling
tinggi adalah aktivitas menganalisis sebesar 8,6225%
dan aktivitas memecahkan masalah sebesar 8,105%.
Persentase respon siswa menunjukkan 21,875% siswa
sangat setuju dan 75% siswa setuju dengan pernyataan
belajar dengan model pembelajaran GI membuat siswa

Kata-kata kunci: model pembelajaran kooperatif Group


Investigation, software Multisim, eterampilan
proses, dan keterampilan sosial.

I. PENDAHULUAN
Menurut Permendiknas Nomor 54 tahun 2013
Standar Kompetensi Lulusan pada satuan pendidikan
menengah kejuruan bertujuan agar peserta didik
memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang
beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia. Memiliki pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena
dan kejadian. Memiliki kemampuan pikir dan tindak
yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan
konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di
sekolah secara mandiri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per
Agustus 2010, tercatat lulusan SMK yang tidak
terserap dunia kerja jumlahnya mencapai 538.000
orang. Lebih lanjut, banyak dunia usaha atau industri
yang menolak para pelamar yang berasal dari lulusan
SMK karena tidak memenuhi kualifikasi yang
dibutuhkan oleh industri. Ini merupakan fakta bahwa
masih banyak peserta didik yang tidak mampu
menguasai kompetensi yang diharapkan.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh
peneliti, prestasi belajar siswa Teknik Elektronika
63

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Industri di SMK Negeri 3 Boyolangu tahun ajaran


2012/2013 belum seluruhnya mencapai hasil yang
optimal. Penguasaan mata pelajaran Dasar
Kompetensi Kejuruan belum mencapai prestasi yang
optimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal
(KKM) yang telah ditentukan oleh guru berdasarkan
kurikulum sekolah sebesar 75. Lebih lanjut pada
kompetensi keahlian tersebut, diperlukan perangkat
pembelajaran yang berkualitas baik berupa media
pembelajaran maupun bahan ajar (silabus, RPP, LKS,
dan lembar penilaian) sebagai alat bantu dalam
penyampaian materi. Ketersediaan perangkat
pembelajaran yang beragam dan berkualitas
dibutuhkan untuk membantu siswa mencapai
kompetensi yang telah ditentukan. Hal ini sesuai
dengan Permendiknas Nomor 65 Tahun 2013 tentang
standar proses di mana Untuk itu setiap satuan
pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian
proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Lebih lanjut, selain perangkat pembelajaran di
dalam proses pembelajaran diperlukan sebuah model
pengajaran yang baik. Berdasarkan observasi awal
yang dilakukan oleh peneliti, pembelajaran di SMK
Negeri 3 Boyolangu saat ini berbentuk ceramah
(lecturing). Pada saat proses pembelajaran di kelas,
aktivitas siswa sebatas mendengarkan dan membuat
catatan. Guru berperan utama dalam pencapaian hasil
pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya
sumber ilmu. Pola pembelajaran di mana seorang
guru lebih berperan aktif dan tidak memberikan
kesempatan siswa untuk berperan aktif memiliki
efektivitas pembelajaran yang rendah. Pembelajaran
yang diterapkan di SMK Negeri 3 Boyolangu saat ini
lebih berfokus pada pemahaman materi saja daripada
mengajarkan siswa mengaplikasikan pengetahuan
yang diperoleh dalam kehidupan nyata guna
memenuhi tuntutan dunia kerja.
Oleh karena itu diperlukan suatu model
pembelajaran yang inovatif, salah satunya adalah
model pembelajaran kooperatif. Referensi [1]
Suprijono menyebutkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation merupakan salah
satu model pembelajaran kooperatif yang menuntut
pelibatan siswa secara penuh dari awal penentuan
topik pembelajaran sampai evalusi di akhir
pembelajaran, selain itu juga menuntut siswa untuk
memiliki
kemampuan
yang
baik
dalam
berkomunikasi dan bekerja kelompok. Pembelajaran
kooperatif tipe ini menekankan pada partisipasi dan
aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi
(informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia hal ini sesuai dengan ide
utama kurikulum 2013 yaitu siswa aktif mencari tahu.
Oleh karena itu model pembelajaran ini cocok
digunakan dalam proses pembelajaran agar siswa
dapat mencapai KKM yang diinginkan serta
menguasai keterampilan-keterampilan lain seperti
keterampilan proses dan keterampilan sosial.

Referensi [2] Inal menyebutkan bahwa


keterampilan proses terdiri dari berpikir kreatif dan
kritis yang berhubungan dengan cara berfikir ilmiah.
Lebih lanjut beberapa penelitian mengakui bahwa
keterampilan proses memiliki hubungan erat dengan
keterampilan berfikir tingkat tinggi. Referensi [3]
Monica dalam studinya menyatakan bahwa
keterampilan proses dan keterampilan berpikir
memiliki hubungan yang erat. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa melatihkan keterampilan proses
pada siswa SMK akan meningkatkan keterampilan
berpikir seperti berpikir kritis, membuat keputusan,
dan memecahkan masalah.
Selanjutnya untuk memenuhi tuntutan dunia kerja
siswa SMK tidak hanya dibekali dengan kemampuan
akademik namun juga harus memiliki keterampilan
sosial yang tinggi. Dengan keterampilan sosial siswa
diharapkan
mampu
mengembangkan
dan
menyesuaikan diri dengan masyarakat dan dunia
kerja.
Dalam bidang pendidikan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi sangat berkaitan dengan
penggunaan hardware dan software. Salah satu
software yang dapat digunakan sebagai media
pembelajaran interaktif adalah Multisim. Software
Multisim ditunjukkan sebagai alat bantu pengajaran
dalam bidang elektronika, program ini dapat
digunakan untuk merancang dan menganalisa
rangkaian
tanpa
menggunakan
breadboard,
komponen nyata atau instrumenasi asli.
Berdasarkan pertimbangan itulah, peneliti ingin
mengembangkan
perangkat
pembelajaran
menerapkan model pembelajaraan kooperatif tipe GI
berbantuan software Multisim untuk mencapai
kompetensi mata pelajaran DKK, keterampilan
proses, dan keterampilan sosial.
Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan
perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS, LP)
yang mengacu pada kurikulum 2013. Oleh karena itu,
keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari aspek
kualitas dan efektifitas perangkat pembelajaran
tersebut.
Perangkat
pembelajaran
dikatakan
berkualitas apabila berdasarkan penilain ahli
perangkat tersebut telah sepenuhnya menerapkan
kurikulum 2013 serta memperoleh skor validasi yang
tinggi dan memiliki koofesien reliabilitas yang tinggi
pula. Lebih lanjut perangkat pembelajaran dikatakan
efektif apabila dapat meningkatkan kompetensi siswa
pada mata pelajaran DKK (hasil belajar kognitif
produk, keterampilan menggunakan
software
Multisim, keterampilan proses, dan keterampilan
sosial) serta efektifitas pembelajaran (keterlaksanaan
pembelajaran, aktivitas siswa, dan respon siswa).
II. KAJIAN PUSTAKA
Sebelum membuat perangkat pembelajaran
Group Investigation berbantuan software Multisim
peneliti melakukan observasi mengenai kualitas
perangkat pembelajaran yang ada di SMK Negeri 3
Boyolangu menggunakan analisis ujung depan (front64

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Menengah silabus merupakan acuan penyusunan


kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian
mata pelajaran. Silabus paling sedikit memuat aspekaspek, yaitu (1) identitas mata pelajaran dan identitas
sekolah; (2) Kompetensi Inti (KI) di mana (KI-1)
untuk kompetensi inti sikap spiritual, (KI-2) untuk
kompetensi inti sikap sosial, (KI-3) untuk kompetensi
inti pengetahuan, (KI-4) untuk kompetensi inti
keterampilan; (3) Kompetensi dasar (KD); (4) tema;
(5) materi pokok; (6) pembelajaran; (7) penilaian; (8)
alokasi waktu; (9) sumber belajar.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap
muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP paling
sedikit memuat aspek-aspek, yaitu (1) identitas mata
pelajaran dan identitas sekolah; (2) materi
pembelajaran; (3) alokasi waktu; (4) tujuan
pembelajaran
dengan
format
ABCD
dan
mencerminkan kemampuan siswa dalam mencari tahu
dan berfikir tingkat tinggi (higher order thingking);
(5) model pembelajaran yang mengacu pada student
centered active learning; (6) media dan sumber
belajar; (7) langkah-langkah pembelajaran yang
terdiri dari pendahuluan, inti, dan penutup; (8)
penilaian hasil belajar yang autentik (authentic
assessment).
Referensi [4] Trianto menyebutkan bahwa
Lembar Kegiatan Siswa adalah panduan siswa yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan
atau pemecahan masalah. Komponen-komponen LKS
meliputi (1) judul eksperimen; (2) teori singkat
tentang materi; (3) alat dan bahan; (4) prosedur
eksperimen; (5) data pengamatan; (6) pertanyaan dan
kesimpulan untuk bahan diskusi.
Referensi [9] Badan Standar Nasional Pendikan
(BSNP) menjelaskan bahwa penilaian merupakan
serangkaian
kegiatan
untuk
memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses
dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan. Referensi [10] Ruseffendi penilaian hasil
belajar peserta didik harus memperhatikan prinsipprinsip, yaitu (1) sahih (valid); (2) objektif; (3) adil;
(4) terpadu; (5) terbuka; (6) menyeluruh dan
berkesinambungan; (7) sistematis; (8) akuntabel.
Referensi [11] Arikunto menyebutkan bahwa
penilaian kelas meliputi 7 bentuk, yaitu (1) tes
tertulis; (2) tes lisan; (3) unjuk kerja; (4) produk; (5)
proyek; (6) portofolio; (7) penilaian diri. Dalam
penelitian ini penilaian secara tertulis diterapkan pada
hasil belajar kognitif produk dan keterampilan proses,
penilaian unjuk kerja diterapkan pada hasil belajar
psikomotor yaitu keterampilan menggunakan
software Multisim, serta untuk penilaian diri (secara
pengamatan) diterapkan pada keterampilan sosial.

end analysis). Referensi [4] Trianto menyebutkan


bahwa analisis ujung depan bertujuan untuk
memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang
dihadapi dalam pembelajaran di SMK sehingga
dibutuhkan pengembangan bahan pembelajaran.
Lebih lanjut peneliti melakukan analisis siswa
(learner analysis) yang meliputi keterampilan berfikir
dan motivasi berprestasi. Referensi [5] Nur
menyatakan bahwa istilah berfikir mencakup suatu
rentang proses-proses penalaran dari mengingat
sederhana sampai pemecahan masalah kompleks dan
pengambilan keputusan. Keterampilan berfikir dibagi
menjadi empat, yaitu (1) tingkat ingatan; (2) tingkat
dasar; (3) tingkat kritis; (4) tingkat kreatif.
Keterampilan berfikir yang paling rendah adalah
keterampilan
berfikir
tingkat
ingatan
dan
keterampilan berfikir yang paling tinggi adalah
keterampilan berfikir tingkat kreatif.
Referensi [6] Nur menyebutkan bahwa motivasi
adalah suatu komponen paling penting dari
pembelajaran dan satu komponen yang paling sukar
untuk diukur. Motivasi sebagai suatu proses internal
yang
mengaktifkan,
membimbing,
dan
mempertahankan perilaku dalam rentang waktu
tertentu. Lebih lanjut satu jenis motivasi paling tinggi
dalam psikologi pendidikan adalah motivasi
berprestasi atau achievement motivation yaitu
kecenderungan berupaya sampai berhasil dan memilih
kegiatan yang mengarah pada tujuan dan mengarah
pada keberhasilan/kegagalan.
Referensi [7] Kagan menyebutkan bahwa Group
Investigation adalah strategi pembelajaran kooperatif
di mana siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk
"menyelidiki"
topik
pembelajaran.
Model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
terdiri
dari
beberapa
sintaks,
yaitu
(1)
mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa
ke grup penelitian; (2) perencanaan tugas belajar; (3)
penyelenggaraan investigasi; (4) mempersiapkan
laporan akhir; (5) menyajikan laporan akhir; (6)
evaluasi.
Referensi [8] Muslich menyebutkan bahwa
perangkat pembelajaran adalah kumpulan dari sumber
belajar yang memungkinkan guru dan siswa
melakukan kegiatan pembelajaran. Menurut Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar
Proses
Pendidikan Dasar
dan Menengah
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan
pembelajaran meliputi
penyusunan
rencana
pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media
dan
sumber
belajar,
perangkat penilaian
pembelajaran,
dan
skenario
pembelajaran.
Penyusunan silabus dan RPP disesuaikan pendekatan
pembelajaran yang digunakan.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
65

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor


41 Tahun 2007 Tentang standar proses menyebutkan
bahwa standar proses adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai
kompetensi
lulusan.
Keterlaksanaan
proses
pembelajaran berkaitan erat dengan aktivitas siswa
dan aktivitas guru.
Referensi [12] Mujib menyebutkan bahwa pada
prinsipnya belajar adalah melakukan suatu kegiatan
atau aktivitas untuk mencapai tujuan. Aktivitas
belajar secara kognitif ada pada otak dan hal itu tidak
dapat dilihat secara langsung. Aktivitas belajar secara
psikomotor dan afektif dapat dilihat dari tingkah laku
seseorang yang belajar tersebut.
Referensi [13] Suherman menyatakan bahwa
minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, jika
siswa tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka
tidak dapat diharapkan akan berhasil baik. Jadi jika
siswa belajar sesuai minatnya, maka hasilnya akan
lebih baik.
Lebih lanjut, menurut Permendikbud No. 65
Tahun 2013 tentang Standar Proses menyebutkan
Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup
pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan
pendidikan. Referensi [15] Anderson menyebutkan
bahwa kompetensi menurut dimensi kognitif Bloom
dapat dikalsifikasikan ke dalam dimensi pengetahuan
dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan
terdiri dari (1) fakta (factual); (2) konsep
(konseptual); (3) prosedur (procedural); (4)
metakogitif (metacognitive). Dimensi proses kognitif
dibedakan menjadi (1) mengingat (remember); (2)
memahami (understand); (3) menerapkan (apply); (4)
menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate);
(6) menciptakan (create).
Referensi [4] Trianto menyatakan bahwa
keterampilan
proses
merupakan
keseluruhan
keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif,
maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk
menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori,
untuk mengembangkan konsep yang telah ada
sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan
terhadap suatu penemuan atau flasifikasi.
Referensi [14] Cartledge dan Milburn
menyatakan bahwa social skills are ones or society
number ability with establishing relationship with
other and his problems solving ability with which a
harmoniuous society can be achived.

Prosedur penelitian dan pengembangan ini terdiri


dari empat tahap, yakni (1) studi pendahuluan; (2)
mendesain perangkat perangkat pembelajaran dengan
mengacu model pengembangan Research and
Development (R & D); (3) validasi dan revisi
perangkat pembelajaran; (4) mengujicobakan
perangkat
pembelajaran.
Desain
Penelitian
ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.
Studi Pendahuluan
1. Analisis Ujung
Depan (front-end
analysis).
2. Analisis Siswa
(learner
analysis).

Instrument
1. Evaluasi
perangkat
pembelajaran.
2. Wawancara,
memberikan
angket, dan
memberikan
tes.

Merancang desain
perangkat
pembelajaran

1. Kerja individu.

Validasi dan revisi

1. Peer rewiew.
2. Kerja individu.
3. Revisi
perangkat
berdasarkan
masukan ahli.

Perangkat
Pembelajaran Draf I

Uji coba empiris


dan revisi

1. Desain uji
coba empiris
OX O
2. Kerja individu

Perangkat
pembelajaran Draf
II

hasil
1. Tingkat kualitas
perangkat yang
ada di SMK
Negeri 3
Boyolangu.
2. Potensi siswa
yang meliputi
keterampilan
berfikir dan
motivasi
berprestasi.

Perangkat
pembelajaran final

Gambar 1. Desain Penelitian

Aktivitas studi pendahuluan difokuskan pada (1)


meneliti kualitas perangkat pembelajaran yang ada di
SMK Negeri 3 Boyolangu dengan analisis ujung
depan (front-end analysis) di mana dari analisis
tersebut akan diambil keputusan yaitu mengadopsi,
mengadaptasi, atau menolak perangkat pembelajaran
tersebut; (2) meneliti tingkat berfikir siswa dan
motivasi siswa SMK Negeri 3 Boyolangu dengan
analisis siswa (learner analysis).
Mendesain perangkat pembelajaran dilkukan
secara mandiri oleh penulis dengan mengacu pada
hasil studi pendahuluan. Perangkat pembelajaran yang
disusun menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe Group Investigation dan menerapkan kurikulum
2013. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
meliputi (1) silabus yang akan dikembangkan adalah
silabus untuk mata pelajaran Dasar Kompetensi
Kejuruan dengan Kompetensi Dasar menjelaskan
sifat-sifat komponen elektronika pasif dan aktif yaitu
resistor, kapasitor, diode, dan transistor; (2) dibuat 4
RPP untuk 1 kompetensi dasar; (3) LKS yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah LKS
eksperimen yang melatihkan keterampilan proses
meliputi melaksanakan eksperimen, merumuskan
hipotesis, mengidentifikasi variabel, mendefinisikan
operasional
variabel,
membuat
tabel
data,
menganalisis, dan menarik kesimpulan; (4) lembar
penelitian yang akan dikembangkan meliputi lembar
penilaian kognitif produk (LP produk), lembar
penilaian keterampilan proses (LP proses), lembar
penilaian psikomotor (LP psikomotor), dan lembar
penilaian keterampilan sosial.
Perangkat pembelajaran draf I yang telah dibuat
diajukan kepada validator yaitu dosen Universitas
Negeri Surabaya dan guru SMK Negeri 3 Boyolangu

III. METODE
Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Research and Development (R & D). Referensi
[15] Anderson Borg & Gall, bahwa prosedur
penelitian dan pengembangan pada dasarnya terdiri
dari dua tujuan utama, yaitu (1) pengembangan
produk, (2) menguji kualitas dan efektivitas produk
dalam mencapai tujuan.

66

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

yang merupakan pakar dalam bidang perangkat


pembelajaran dan pakar dalam bidang mata pelajaran
tersebut. Setelah di validasi, dapat diketahui
kelemahan dan kekurangan perangkat pembelajaran
draf I sehingga dapat direvisi.
Perangkat pembelajaran draf II di ujicobakan di
SMK Negeri 3 Boyolangu. Ujicoba lapangan
dilakukan
untuk
memperoleh
data
berupa
keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas siswa, respon
siswa, dan kompetensi siswa yang meliputi hasil
belajar kognitif produk, keterampilan menggunakan
software Multisim, keterampilan proses, dan
keterampilan sosial. Ujicoba perangkat pembelajaran
dilakukan selama 4 kali pertemuan dengan desain uji
coba empiris yaitu One-Group Pretest-Posttest
Design seperti di tunjukkan oleh Gambar 2 di bawah
ini.

Lebih lanjut pengumpulan data keteralaksanaan


pembelajaran dilakukan dengan teknik observasi
menggunkan
instrumen
lembar
observasi
keteralaksanaan pembelajaran. Pengumpulan data
aktivitas siswa dilakukan dengan teknik observasi
menggunakan instrumen lembar observasi aktivitas
siswa. Pengumpulan data respon siswa dilakukan
dengan teknik angket dengan instrumen angket respon
siswa. Semua instrumen tersebut menerapkan
valitidas konstruk, validitas isi, validitas muka, dan
reliabilitas. Sedangkan untuk rata-rata hasil validasi
masing-masing instrumen berturut-turut adalah
sebesar 3,14; 3,14; 3.4.
Data kompetensi siswa dibagi menjadi 4, yaitu
(1) hasil belajar kognitif produk di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik tes tulis dengan
menggunakan instrumen LP 1 Kognitif Produk
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
butir, validitas muka, dan reliabilitas; (2)
keterampilan menggunakan software Multisim di
mana data tersebut dikumpulkan dengan teknik tes
kinerja dengan menggunakan instrumen LP 3
Psikomotor menerapkan valitidas konstruk, validitas
isi, validitas butir, validitas muka, dan reliabilitas; (3)
keterampilan proses di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik tes tulis dengan
menggunakan instrumen LKS LP 2 Proses
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
butir, validitas muka, dan reliabilitas; (3)
keterampilan sosial
di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik pengamatan dengan
menggunakan instrumen LP 4 Keterampilan Sosial
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
muka;
Data dari kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu, keterampilan berfikir siswa,
motivasi berprestasi siswa, kualitas perangkat
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation,
keterlakasanaan pembelajaran, aktivitas siswa, dan
respon siswa dianalisis menggunakan teknik analisis
deskriptif. Sedangkan kompetensis siswa yang
meliputi hasil belajar kognitif produk, keterampilan
menggunakan software Multisim, keterampilan
proses,
dan
keterampilan
sosial
dianalisis
menggunakan analisis ketuntasan klasikal, analisis
ketuntasan individual, dan analisis ketuntasan tujuan
pembelajaran serta uji t paired sample t-test untuk
mengetahui peningkatan kompetensi siswa sebelum
dan sesudah diberikan perangkan pembelajaran
kooperatif GI berbantuan software Multisim dan one
sample t-test untuk mengetahui apakah kompetensi
siswa memenuhi KKM yang telah ditetapkan sekolah.

Gambar 2. Desain Uji Coba Empiris

Subjek penelitian ini meliputi tiga kelompok,


yaitu (1) kelompok ahli bidang pembelajaran yang
terdiri dari satu dosen Universitas negeri Surabaya;
(2) kelompok guru yang terdiri dari satu orang guru
mata pelajaran Bahasa Indonesia dan satu orang guru
mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan SMK
Negeri 3 Boyolangu; (3) kelompok peserta didik yaitu
32 siswa kelas X TEI 1 SMK Negeri 3 Boyolangu
Semester Ganjil tahun ajaran 2013/2014.
Pengumpulan data studi pendahuluan yang
meliputi kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu dilakukan dengan teknik
observasi menggunakan instrumen lembar observasi
perangkat pembelajaran SMK Negeri 3 Boyolangu
yang telah divalidasi dengan rata-rata hasil validasi
sebesar 3.67. Sedangkan pengumpulan data tingkat
berfikir siswa dilakukan dengan teknik tes tulis
menggunakan
instrumen
AKKB
(Asesmen
Keterampilan-keterampilan Berfikir) yang diadaptasi
dari adaptasi dari Think Skills Asessment (TSA) dan
untuk memperoleh data motivasi berprestasi
dilakukan dengan teknik angket menggunakan
instrumen angket motivasi siswa yang telah divalidasi
dengan rata-rata hasil validasi sebesar 3.33.
Lebih lanjut pengumpulan data kualitas perangkat
pembelajaran Group Investigation dilakukan dengan
teknik validasi menggunakan instrumen lembar
validasi perangkat pembelajaran menerapkan valitidas
konstruk, validitas isi, validitas muka, dan reliabilitas.
Reliabilitas perangkat pembelajaran di hitung dengan
Rumus percentage of agreement seperti yang
ditunjukkan Gambar 3 di bawah ini.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Tahap 1 Studi Pendahuluan
Perangkat pembelajaran SMK Negeri 3
Boyolangu di telaah oleh satu pakar bidang
pendidikan Teknik Elektro. Berdasarkan penilaian
dan telaah validator tersebut diputuskan untuk

Gambar 3. Rumus Reliabiltas Perangkat Pembelajaran

67

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

mengadaptasi perangkat pembelajaran di SMK Negeri


3 Boyolangu. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan
diantaranya yaitu, (1) bahan ajar tidak disertai daftar
tujuan pembelajaran; (2) tujuan pembelajaran sangat
ambigu dan terlampau luas; (3) kondisi materi yang
digunakan cukup terbaru; (4) tujuan pembelajaran
tidak menggunakan format ABCD; dll.
Setelah dilakukan tes keterampilan berfikir
diperoleh
informasi
secara
umum
tentang
keterampilan berfikir siswa yaitu 12,5% siswa
memiliki keterampilan berfikir tingkat ingatan, 87,5%
siswa memiliki keterampilan berfikir tingkat dasar.
Lebih lanjut tidak ada siswa yang memilki
keterampilan berfikir tingkat kritis dan tingkat kreatif.
Berdasarkan hasil analisis angket motivasi
berprestasi diketahui bahwa persentase siswa yang
menyatakan sangat setuju pada pernyataan
mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru
dapat menunjang kesuksesan dalam belajar adalah
sebesar 69,7% sedangkan yang menyatakan setuju
adalah 30,3%. Lebih lanjut siswa menyatakan sangat
setuju pada pernyataan bahwa semua mata pelajaran
itu penting adalah sebesar 54,5% sedangkan yang
menyatakan setuju sebesar 39,4%. Berdasarkan data
tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki
motivasi berorientasi sukses.

lembar validasi dan masukan LKS berkatagori valid


dan reliabel.
LP yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,9524 sehingga LP
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan LP berkatagori valid
dan reliabel
3.4 Tahap 4 Uji Coba Empiris dan Revisi
Secara umum keterlaksanaan pembelajaran dalam
penelitian ini dapat dikatagorikan baik (rata-rata
keterlaksanaan 3.82). Selanjutnya untuk perhitungan
reliabilitas, secara berturut-turut dari pertemuan
pertama sampai pertemuan keempat diperoleh nilai
0,74; 0,79; 0,84; dan 0,89 sehingga dapat diperoleh
realibilitas rata-rata sebesar 0,82.
Aktivitas yang paling tinggi adalah aktivitas
mental yaitu aktivitas menganalisis sebesar 8,62%
dan aktivitas memecahkan masalah sebesar 8,11%.
Lebih lanjut aktivitas siswa mendengarkan penjelasan
guru dan memperhatikan penjelasan guru adalah
sebesar 7,32% dan 7,44%. Lebih lanjut siswa
melakukan aktivitas mencatat sebesar 7,52%,
menanggapi sebesar 6,71%, melakukan pengamatan
sebesar 70,7%, menghargai pendapat teman sebesar
6,98%.
Persentase siswa sangat setuju dengan pernyataan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe GI
membuat
siswa
mudah
memahami
materi
pembelajaran adalah sebesar 21,88% sedangkan yang
menyatakan setuju adalah sebesar 71,88%. Lebih
lanjut persentase siswa menyatakan sangat setuju
dengan pernyataan bahwa software Multisim dapat
membantu siswa belajar merakit komponen
elektronika dengan mudah dan efisien adalah sebesar
53,12% sedangkan yang menyatakan setuju adalah
sebesar 46,88%. Selanjutnya persentase siswa
menyatakan sangat setuju dengan pernyataan bahwa
siswa senang dengan keterampilan proses yang
diajarkan oleh guru karena dengan keterampilan
proses siswa dapat melakukan sebuah penelitian dan
membuat kesimpulan adalah sebesar 40,63%
sedangkan yang menyatakan setuju adalah sebesar
59,37%.
Untuk data kompetensi siswa dapat dilihat pada
Tabel 1 di bawah ini.

3.2 Tahap 2 Merancang Desain Perangkat


Pembelajaran
Berdasarkan data hasil studi pendahuluan,
peneliti membuat perangkat pembelajaran dengan
mencantumkan
beberapa
aspek,
yaitu
(1)
pengembangan perangkat pembelajaran mengacu
pada kuurikulum 2013; (2) penggunaan bahasa yang
tidak teralu rumit sehingga siswa mudah memahami
materi yang diberikan oleh guru; (3) memberikan
gambaran secara nyata mengenai materi yang
diajarkan dalam bentuk gambar atau simulasi
menggunakan software sehingga pemahaman siswa
bisa tidak abtrak; (4) penyajian materi dengan
gambar-gambar yang menarik dan jelas sehingga
siswa tertarik untuk mempelajari materi tesebut.
3.3 Tahap 3 Validasi dan Revisi
Silabus yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8621 sehingga silabus
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan silabus berkatagori valid
dan reliabel.
RPP yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8667, sehingga RPP
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan RPP berkatagori valid
dan reliabel.
LKS yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8947, sehingga LKS
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen

Tabel 1. Data Kompetensi siswa

Jenis Kompetensi
Hasil belajar kognitif produk
Keterampilan menggunakan
software Multisim
Keterampilan proses

Ketuntasa Klasikal
Pretest
Postest
0%
90,625%
0%

100%

0%

100%

Pada data hasil belajar kognitif produk 28 siswa


secara klasikal dikatakan tuntas dengan persentase
ketuntasan sebesar 90,625%. Indikator 1 sampai 7
tuntas dan indikator 9-11 tuntas sedangkan untuk
indikator 8 tidak tuntas. Indikator dikatakan tuntas
68

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

apabila proporsi skor yang diperoleh siswa 0,75.


Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas
diketahui bahwa data bersifat tidak normal dan tidak
homogen oleh karena itu data harus tidak bisa
dianalisis menngunakan uji t paired sample t-test dan
one sample t-test sehingga harus diuji non parametrik
yang setara dengan uji t yaitu sign test dan binomial
test. Dari uji sign test diperoleh nilai Z sebesar -5.480
dan signifikansi sebesar 0.000 sehingga H0 ditolak
dan H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil
belajar kognitif produk siswa sebelum dan sesudah
diberikannya model pembelajaran kooperatif GI. Dari
uji Binomial diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000
sehingga H0 ditolak dan H1 diterima dan dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif produk
siswa > KKM yang ditentukan sekolah yaitu 75.
Pada keterampilan menggunakan software
Multisim seluruh siswa mendapatkan nilai 75. Hal
ini menunjukkan bahwa skor keterampilan
menggunakan software Multisim yang diperolah oleh
32 orang siswa secara klasikal dapat dikatakan tuntas
dengan presentase 100%. Seluruh indikator soal di tes
keterampilan tuntas karena proporsi skor yang
diperoleh siswa pada setiap indikator 0,75.
Pada data keterampilan proses 32 siswa secara
klasikal dikatakan tuntas dengan persentase
ketuntasan sebesar 100%. Indikator 1 sampai 10
Indikator dikatakan tuntas apabila proporsi skor yang
diperoleh siswa 0,75. Berdasarkan uji normalitas
dan homogenitas diketahui bahwa data bersifat tidak
normal dan tidak homogen oleh karena itu data harus
tidak bisa dianalisis menngunakan uji t paired sample
t-test dan one sample t-test sehingga harus diuji non
parametrik yang setara dengan uji t yaitu sign test dan
binomial test. Dari uji sign test diperoleh nilai Z
sebesar -5.480 dan signifikansi sebesar 0.000
sehingga H0 ditolak dan H1 diterima dan dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara keterampilan proses siswa sebelum
dan sesudah diberikannya model pembelajaran
kooperatif GI. Dari uji Binomial diperoleh nilai
signifikansi sebesar 0.000 sehingga H0 ditolak dan H1
diterima dan dapat disimpulkan bahwa keterampilan
proses siswa > KKM yang ditentukan sekolah yaitu
75.
Keterampilan
sosial
bertanggung
jawab
mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.00 atau berada
pada kategoti tinggi (memuaskan), keterampilan
sosial
menyumbang
ide
atau
berpendapat
mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.10 atau berada
pada kategori tinggi (memuaskan), keterampilan
sosial menjadi pendengar yang baik mendapatkan
skor rata-rata sebesar 3.14 atau berada pada kategori
tinggi (memuaskan), dan keterampilan sosial
bekerjasama mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.09
atau berada pada kategori tinggi (memuaskan).
Pembahasan
Tingkat kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu yang masih kurang disebabkan

oleh pembuatan perangkat pembelajaran di SMK


tersebut belum mengacu pada Standar Isi Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sebagian besar siswa berada pada tingkat berfikir
dasar di mana siswa yang memiliki tingkat berfikir
dasar hanya sekedar bisa menguasai pemahaman dan
penalaran
konsep-konsep matematika
seperti
penjumlahan atau pengurangan dan aplikasinya dalam
masalah-masalah serta memahami konsep dan
mengenali suatu konsep ketika konsep tersebut berada
dalam suatu setting.
Siswa memiliki motivasi berorientasi sukses,
berorientasi kedepan, suka tantangan, dan tangguh.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa
memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Hal ini
sangat bagus karena motivasi adalah suatu komponen
yang paling penting dari pembelajaran. Dengan
adanya motivasi yang tinggi siswa akan terdorong
untuk mengikuti pembelajaran.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
meliputi Silabus, RPP, LKS, LP di mana perangkat
pembelajaran tersebut
secara
umum
dapat
dikategorikan baik dan reliabel. Dalam hal ini
perangkat pembelajaran dapat memiliki kualitas yang
baik karena dalam pengembangannya perangkat
pembelajaran mengacu pada metode Research and
Development (R & D) dan Permendiknas No.65
Tahun 2013.
Lebih lanjut berdasarkan data keterlaksanaan
pembelajaran, didapat data bahwa semua sintaks pada
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation dapat dilaksanakan dan mendapatkan
skor yang baik sehingga sehingga RPP yang
dikembangkan memberikan kemudahan bagi guru
untuk mengajar dan menyampaikan materi serta
memberikan kemudahan siswa untuk berhasil
menyelesaikan pembelajaran.
Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
didominasi oleh aktivitas keterampilan proses. Dari
data tersebut diketahi bahwa aktivitas yang paling
tinggi adalah aktivitas mental yaitu aktivitas
menganalisis sebesar 8.6225% dan aktivitas
memecahkan masalah sebesar 8.105%. Aktivitas ini
membuktikan bahwa siswa terlibat aktif pada proses
pembelajaran terutama pada proses pembelajaran
keterampilan proses. Keterlibatan siswa secara aktif
dalam pembelajaran menunjukkan bahwa pola
pembelajaran yang dilaksanakan di kelas berpusat
pada siswa (student centered active learning) sesuai
dengan penyempurnaan kurikulum 2013.
Menurut data respon siswa dalam proses
pembelajaran siswa merasa senang karena diberikan
kesempatan untuk menanggapi, mengingatkan,
bertanya kepada teman atau guru. Hal ini sesuai
dengan tujuan pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI), yaitu tidak hanya menuntut
pelibatan siswa secara penuh dari awal sampai
evaluasi di akhir pembelajaran, namun juga menuntut
69

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

menerapkan perangkat pembelajaran ini di sekolah.


Selain itu guru diharapkan terus mengembangkan
perangkat pembelajara yang berkualitas yang
menerapkan media lain yang inovatif yang menunjang
proses belajar siswa.

siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam


berkomunikasi dan bekerja kelompok.
Keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi
yang diharapkan ini didukung oleh beberapa hal, yaitu
(1) ketersediaan perangkat pembelajaran yang utama
yang meliputi Silabus, RPP, LKS, dan LP yang baik
dan reliabel yang mengacu pada kurikulum 2013
dengan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu
dan/atau saintifik dan/atau inkuiri serta melatihkan
siswa untuk mencari tahu; (2) kemudahan guru dalam
melaksanakan pembelajaran sehingga pembelajaran
dapat berlangsung dengan baik; (3) keterlibatan siswa
secara aktif dalam pembelajaran; (4) respon positif
siswa; (5) indikator soal yang dibuat mencerminkan
HOT (Higher Order Thingking); (6) menggunakan
penilaian secara autentik.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. A. Suprijono, Cooperatif learning teori dan aplikasi paikem.
Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009.
[2]. A. Inal, Assessing basic science prosess skills in practical
science and technology using simple manufacture objects,
Australian Journal of Engineering Education, pp.6, 2003.
[3]. K. M.M. Monica, Development and validation of a test of
integrated science process skills for the further education and
training learners, Dissertation, Faculty of Natural and
Agricultural Science University of Pretoria South Africa,
2005.
[4]. Trianto, Model pembelajaran terpadu: konsep, strategi, dan
implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

V. PENUTUP
Kualitas perangkat pembelajaran kooperatif tipe
Group Investigation berbantuan software multisim,
yaitu (1) silabus yang dikembangkan berkategori baik
atau berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik)
dengan reliabilitas sebesar 0,86 di mana instrumen
telaah dan masukan silabus berkatagori valid dan
reliabel; (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang dikembangkan berkategori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
reliabilitas sebesar 0.86 di mana instrumen telaah dan
masukan RPP berkatagori valid dan reliabel; (3)
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dikembangkan
berkategori baik atau berada pada tingkat kualitas
yang tinggi (baik) dengan reliabilitas sebesar 0.89 di
mana instrumen telaah dan masukan LKS berkatagori
valid dan reliabel; (4) Lembar Penilaian (LP) yang
dikembangkan berkategori baik atau berada pada
tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan reliabilitas
sebesar 0.95 di mana instrumen telaah dan masukan
LP berkatagori valid dan reliabel.
Perangkat pembelajaran menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
berbantuan software Multisim ini telah terbutkti dapat
meningkatkan hasil belajar kognitif produk,
keterampilan menggunkan software Multisim,
keterampilan proses, dan keterampilan sosial sehingga
guru dapat mengadopsi dan berlatih untuk

[5]. M. Nur, dkk, Pemetaan kemampuan logika, keterampilan


proses dan keterampilan berfikir siswa dan guru YLPI AlHikmah. Surabaya: Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Negeri Surabaya, 2009.
[6]. M. Nur, Pemotivasian siswa untuk belajar. Surabaya: Pusat
Sains dan Matematika Universitas Negeri Surabaya, 2008.
[7]. S. Kagan, M. Kagan, Kagan cooperative learning. San
Clemente: Kagan Publishing, 2009.
[8]. M. Muslich, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2007.
[9]. BSNP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar
dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas, 2007.
[10]. E.T. Ruseffendi, Statistika penilisan karya ilmiah. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia, 1998.
[11]. S. Arikunto, Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara, 2012.
[12]. A. I. Mujib, Keefektifan pembelajaran kooperatif dengan
pendekatan strukturak di SMU, Program Pasca Sarjana
Universitas Negeri Surabaya, 2004.
[13]. E. Suherman, Evaluasi proses dan hasil belajar matematika.
Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdikbud, 1993.
[14]. G. Cartledge, & Milburn, J.F, Teaching sosial skill to
children. New York: Pergamon Press, 1993.
[15]. L. W. Anderson, Krathwohl, D.R & Bloom, B.S, Taxonomy
for learning, teaching and assessing: a revision of blooms
taxonomy of educational objectives. NY: Addison Wesley
Longman Inc, 2001.

70

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Kompetensi Mahasiswa Unesa Sebagai Calon Guru Dalam


Merencanakan Pembelajaran
Meini Sondang Sumbawati1, Sudarmono2
1,2

Jurusan Teknik Elektro, Unesa


dalam menemukan ide dan gagasan, menyelesaikan
masalah dengan mengekspresikan segala potensi yang
dimilikinya.
Perguruan tinggi akan mencetak lulusan-lulusan
yang berdaya tinggi dan produktif agar mereka dapat
hidup sukses di masa depan dan mampu menghadapi
perubahan-perubahan. Dengan kata lain, manusia
yang berdaya adalah manusia yang produktif,
sedangkan manusia produktif adalah manusia yang
mampu memperbaiki kualitas hidupnya (Sondang,
2002). Unesa sebagai penyelenggara pendidikan di
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
mendapat amanat mencetak calon-calon guru untuk
mencerdaskan anak bangsa, yang menguasai
pengetahuan dan keterampilan sebagai kecakapan
hidup
yang dapat dijadikan sebagai sumber
penghidupan. Jurusan Teknik Elektro yang mencetak
lulusan sebagai calon guru SMK, dituntut mampu
membekali mahasiswa untuk memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan sikap keguruan, yang dipadukan
dengan keahlian kejuruan. Sesuai dengan amanat UU
Guru dan Dosen, maka setiap calon guru harus
menguasai kompetensi pedagodi, kepribadian,
profesional, dan sosial, dan mampu mengikuti
kemajuan ipteks dan perkembangan dunia pendidikan.
Bagaimana menyiapkan guru yang baik, menguasai
konsep keilmuan, mampu mengelola pembelajaran,
menghargai kemampuan setiap individu, dan dapat
berinteraksi dengan siswa secara efektif.
Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro pada
semester genap tahun 2011/2012 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran telah ditemukan
beberapa kelemahan, diantaranya:
(1) belum
memahami silabus dan RPP, dan (2) lemah dalam
penguasaan kompetensi dasar kejuruan Teknik Audio
Video, (3) belum memahami keterampilan mengajar.
Kelemahan tersebut berdampak pada kesulitan untuk
menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS
dan Lembar Penilaian yang penyusunannya
terintegrasi dengan penguasaan teknik audio video.
Masalah atau kelemahan mahasiswa tersebut
perlu diatasi melalui penelitian tindakan kelas ini,
karena mahasiswa wajib lulus mata kuliah
Perencanaan Pengajaran sebagai persyaratan untuk
menempuh mata kuliah PPL (Program Pengalaman
Lapangan). Standar kompetensi mata kuliah
Perencanaan Pengajaran yang tercermin pada GBPP
(Garis Besar Program Perkuliahan) adalah
mengembangkan perangkat RPP yang mengacu
Spektrum Keahlian di SMK dengan menggunakan
model-model pembelajaran yang inovatif. Model

Abstrak-Beberapa kelemahan mahasiswa S1


Pendidikan Teknik Elektro pada mata kuliah
Perencanaan Pengajaran semester genap tahun
2011/2012, diantaranya: (1) mahasiswa belum mengerti
silabus dan RPP,
(2) mahasiswa lemah dalam
penguasaan kompetensi dasar kejuruan Teknik Audio
Video, sehingga mahasiswa kesulitan dalam menyusun
perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS, modul dan
lembar penilaian yang mencerminkan penguasaan
teknik audio video, (3) mahasiswa belum memahami
keterampilan mengajar. Di sisi lain, mahasiswa wajib
lulus mata kuliah Perencanaan Pengajaran sebagai
persyaratan untuk menempuh mata kuliah PPL
(Program Pengalaman Lapangan). Rumusan masalah
penelitian ini adalah: (1) bagaimana upaya mahasiswa
S1 Prodi Elektronika Komunikasi 2010 Unesa
menyusun perencanaan pembelajaran dengan Model
Pembelajaran
Langsung
(MPL)
dan
Model
Pembelajaran Kooperatif (MPK)? (2) Bagaimana hasil
belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika Komunikasi
2010 Unesa dalam mensimulasikan model MPL dan
MPK di kelas?
Subyek penelitian adalah mahasiswa S-1 Program
Studi Elektronika Komunikasi Jurusan Pendidikan
Teknik Elektronika angkatan 2010 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran. Jenis penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan
pendekatan siklus berkelanjutan sebanyak tiga siklus,
siklus pertama digunakan sebagai dasar perbaikan pada
siklus kedua, dan siklus ketiga merupakan perbaikan
siklus ke dua. Simpulan: (1) penyusunan perencanaan
pembelajaran dengan Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK)
dalam bentuk RPP dan perangkat pembelajaran 85%
baik, setelah melalui pembimbingan yang intensif dan
beberapa kali revisi, dan kemudian disimulasikan; (2)
Hasil belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa dalam mensimulasikan model
MPL dan MPK di kelas, 18 orang (32%) mendapatkan
nilai tertinggi yaitu A, sedangkan nilai terendah B (9%).
Saran: (1) pembelajaran untuk materi pendidikan,
sebaiknya diajarkan secara terintegrasi, artinya
pengertian
tentang
materi
pendidikan
diimplementasikan dengan materi keteknikannya; dan
(2) penguasaan materi Teknik Audio Video perlu terus
ditingkatkan.
Kata Kunci: Pembelajaran; RPP, PTK

I. PENDAHULUAN
Mahasiswa pada dasarnya memiliki potensi untuk
dikembangkan. Untuk itu, sangat diharapkan peran
dosen untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
mahasiswa.
Salah satu cara adalah mengelola
pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk lebih aktif dan kreatif, baik
71

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Membimbing mahasiswa untuk praktik mengajar


dengan model MPL dan MPK melalui simulasi
mengajar di kelas sesuai dengan perangkat
pembelajaran yang disusun.

pembelajaran yang wajib dipahami dan mampu


diterapkan yaitu Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK).
Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1)
bagaimana hasil belajar mahasiswa S1 Prodi
Elektronika Komunikasi 2010 Unesa dalam
mensimulasikan model MPL dan MPK di kelas? (2)
bagaimana upaya mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa menyusun perencanaan
pembelajaran dengan Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK)?
Pemecahan masalah yang direncanakan dalam
penelitian ini, yaitu melakukan pembimbingan
penyusunan perangkat pembelajaran melalui beberapa
tahap:

II. KAJIAN PUSTAKA


2.1 Pembelajaran
Learning is the process through which we
become the human beings we are, the process by
which we internalize the external world and through
which we construct our experiences of that world
(Peter Jarvis, John Holford, & Colin Griffin, 2003).
Pembelajaran atau proses belajar mengajar
mempunyai makna lebih luas dari mengajar, artinya
ada serangkaian kegiatan antara guru dan siswa atas
dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam
situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Moh.
Uzer Usman, 1994). Pembelajaran adalah upaya
untuk membelajarkan orang (siswa, mahasiswa,
peserta diklat), atau upaya untuk membuat orang
menjadi belajar. Pembelajaran atau proses belajar
mengajar mempunyai makna lebih luas dari mengajar,
artinya ada satu kesatuan kegiatan antara dosen yang
mengajar dan mahasiswa yang belajar untuk
mencapai
tujuan
tertentu.
Dalam
kegiatan
pembelajaran tugas dosen secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) merencanakan
pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran, dan
(3) mengevaluasi proses pembelajaran dan hasil
belajar. Ketiga kegiatan tersebut merupakan kegiatan
yang saling kait-mengkait dan tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya. Dalam konteks
tersebut perencanaan pembelajaran merupakan
kegiatan yang paling strategis, karena pelaksanaan
dan evaluasi pembelajaran sebagian besar bergantung
pada perencanaan pembelajaran yang telah dibuat
sebelumnya. Menurut Nawawi (2003), perencanaan
yaitu (1) perencanaan adalah pemilihan sejumlah
kegiatan untuk ditetapkan sebagai keputusan tentang
apa yang harus dilakukan, kapan, dan bagaimana
melaksanakannya, serta siapa pelaksananya, (2)
perencanaan adalah penetapan secara sistematik
pengetahuan tepat guna untuk mengontrol dan
mengarahkan kecenderungan
perubahan menuju
tujuan yang telah ditetapkan, (3) perencanaan adalah
kegiatan persiapan yang dilakukan melalui perumusan
dan penetapan keputusan, yang berisi langkahlangkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan
suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan
tertentu.

mahasiswa mendeskripsikan landasan teoretis dan


empiris MPL dan MPK;
mendeskripsikan lingkungan pembelajaran MPL
dan MPK;
mendeskripsikan asesmen dan evaluasi MPL dan
MPK;
mengamati VCD MPL dan MPK;
mahasiswa diberi tugas untuk mencari silabus
SMK Kejuruan Teknik Audio Video yang berlaku
pada SMK di Surabaya atau Sidoarjo, dan
kemudian menyusun RPP dengan memilih standar
kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD);
mengembangkan perangkat RPP dengan model
pembelajaran MPL dan MPK pada kompetensi
keahlian Teknik Audio Video dengan bimbingan
dosen secara intensif;
mendiskusikan RPP, untuk mengetahui tingkat
pemahaman mahasiswa tentang materi teknik
audio video.
mengembangkan perangkat RPP yaitu LKS, dan
Lembar Penilaian beserta kunci jawaban.
Mensimulasikan model MPL dan MPK sesuai
dengan perangkat RPP yang disusun.
1.1 Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui
bagaimana
hasil belajar mahasiswa S1 Prodi
Elektronika Komunikasi 2010 dalam mensimulasikan
perangkat pembelajaran model MPL dan MPK di
kelas. (2) untuk mengetahui bagaimana upaya
mahasiswa S1 Prodi Elektronika Komunikasi 2010
Unesa menyusun perangkat pembelajaran RPP
dengan menerapkan model Pembelajaran langsung
(MPL) dan model pembelajaran Kooperatif (MPK).
1.2 Kontribusi Penelitian
Memperbaiki
dan
meningkatkan
kualitas
pembelajaran, khususnya mata kuliah Perencanaan
Pengajaran yang indikator keberhasilannya adalah
mahasiswa
dapat
menyusun
perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan Spektrum
Keahlian di SMK.
Meningkatkan pemahaman dan keterampilan
mahasiswa dalam penguasaan teknik audio video.

2.2 Model-Model Pembelajaran


Model adalah bagian dari struktur pembelajaran
yang memiliki cakupan yang luas. Di dalamnya
terdapat pendekatan, strategi, metode, dan teknik
(DBE2-USAID, 2010). Salah satu aspek penting dari
sebuah model pembelajaran adalah sintaks, yang
merupakan langkah-langkah baku yang harus
ditempuh dalam implementasi model tersebut. Sintaks
72

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Anggota tim yang berbeda dan memiliki materi sama


berkumpul membentuk tim ahli untuk belajar dan
saling membantu mempelajari materi tersebut.
Mereka lalu kembali ke kelompok awal dan
menjelaskan sesuatu yang telah mereka pelajari dalam
pertemuan tim ahli. (Ibrahim, 2005: 21-22). Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share,
dosen mengajukan pertanyaan atau isu dan meminta
setiap mahasiswa memikirkan jawaban atau
penjelasannya. Selanjutnya, mahasiswa diarahkan
untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban atau
penjelasan tadi. Beberapa pasangan mahasiswa,
diminta menyampaikan kepada mahasiswa lainnya
secara klasikal, tentang hasil yang telah didiskusikan
dalam pasangan mereka (Ibrahim, 2005: 26-27).

ini seharusnya tercermin dalam langkah-langkah


pembelajaran khususnya yang dirinci dalam kegiatan
inti pembelajaran. Seel & Dijkstra (2004)
mengungkapkan bahwa: instruction refers to methods
of teaching and the learning activities used to help
students master the content and objectives specified
by a curriculum and attain the standards that have
been prescribed. Instruction encompasses the
activities of both teachers and students. It can be
carried out by a variety of methods, sequences of
activities, and topic orders. Mohamad Nur (2011b)
juga mengungkapkan hal yang sama tentang istilah
model pengajaran yang mempunyai empat ciri khusus
yaitu (1) rasional teoritik yang logis dan kuat yang
disusun oleh pengembangnya, (2) landasan pemikiran
tentang apa dan bagaiman siswa belajar, (3) tingkah
laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut
dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan (4)
lingkungan belajar yang diperlukan.

2.3 Perangkat Pembelajaran


Perangkat pembelajaran seperti silabus dan
rencana pembelajaran, alat evaluasi merupakan
prasyarat
yang
sangat
penting
disusun,
dikembangkan, dan disiapkan oleh guru dan dosen.
Silabus terdiri dari perencanaan tugas dan jadwal
aktivitas setiap pelajaran selama kurun waktu tertentu.
Silabus terdiri dari hal-hal yang terkait waktu, tempat,
siswa, sumber yang tersedia, dan alat evaluasi yang
akan digunakan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) merupakan rencana mengajar guru yang
mengimplementasikan suatu model pembelajaran
tertentu, sehingga aktivitas guru tercermin sesuai
sintaks model pembelajaran yang dipilih, demikian
juga kegiatan siswanya mencerminkan bagaimana
perilaku model yang dipersyaratkan. Pengembangan
RPP dan perangkat pembelajaran lainnya, merupakan
tugas guru, sebagai salah satu kompetensi yang wajib
dimiliki.

1. Model Pembelajaran Langsung


Model Pembelajaran Langsung (MPL) atau
model pengajaran langsung (direct instruction)
bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi prilaku dan
teori belajar sosial khususnya tentang permodelan
(modelling). Tujuan model Pembelajaran Langsung
adalah (1) membantu mahasiswa untuk memperoleh
pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang
bagaimana melakukan sesuatu, (2) membantu untuk
memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan
tentang sesuatu (Kardi dan Nur, 2005).
MPL
dirancang untuk membelajarkan siswa tentang
pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan dapat
diajarkan secara langkah-demi-langkah, sehingga
tidak
dimaksudkan
untuk
mengembangkan
keterampilan sosial dan berpikir tingkat tinggi (Nur,
2011b:17).

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah mahasiswa S-1 Program
Studi Elektronika Komunikasi Jurusan Pendidikan
Teknik Elektronika angkatan 2010 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran. Penelitian ini
akan dikembangkan dan diterapkan dengan rancangan
penelitian tindakan kelas (classroom action research)
dengan pendekatan siklus berkelanjutan.

2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang menuntut kerjasama siswa dan
saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan,
dan hadiah (Ibrahim, M dkk., 2000). Muhamad Nur
(2011a) mengungkapkan bahwa model pembelajaran
kooperatif (MPK) dapat digunakan guru setiap hari
untuk membantu siswa belajar mulai dari
keterampilan-keterampilan dasar sampai pemecahan
masalah yang kompleks. Tiga konsep utama dalam
MPK, yaitu: (1) penghargaan tim, (2) tanggung jawab
individual, dan (3) kesempatan yang sama untuk
berhasil. Menurut Wina Sanjaya (2006) ada empat
unsur pokok dalam strategi pembelajaran kooperatif,
yaitu (1) adanya peserta dalam kelompok, (2) adanya
aturan kelompok, (3) adanya upaya belajar setiap
anggota kelompok, dan (4) adanya tujuan yang harus
dicapai.
Dalam pembelajaran MPK tipe Jigsaw, berbagai
materi disajikan kepada mahasiswa dalam bentuk
teks, dan setiap mahasiswa dalam kelompok
bertanggung jawab mempelajari satu bagian materi.

3.2 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini penelitian tindakan kelas, dan
direncanakan sebanyak tiga siklus, siklus pertama
digunakan sebagai dasar perbaikan pada siklus kedua,
dan siklus ketiga merupakan perbaikan siklus satu dan
dua. Setiap siklus selalu dilakukan secara partisipatif
dan kolaboratif antara peneliti dengan dosen mitra.
Setiap siklus terdapat empat tahapan yang meliputi
(1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan
(4) refleksi. Siklus ke satu, mahasiswa menyusun
perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran
MPL, dan siklus dua, menyusun perangkat
pembelajaran dengan model pembelajaran MPK, serta
siklus ke tiga, mahasiswa mensimulasikan model
73

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

MPL dan MPK sesuai


pembelajaran yang disusun.

dengan

dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (c)


pengembangan kurikulum, (d) kegiatan pembelajaran
yang mendidik, (e) pengembangan potensi peserta
didik, (f) komunikasi dengan peserta didik, dan (g)
penilaian dan evaluasi. Namun dalam penelitian ini
hanya menilai sebagian dari kompetensi tersebut,
yaitu (a) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik, (b) kegiatan
pembelajaran yang mendidik, dan (c) komunikasi
dengan peserta didik. Masing-masing butir soal diberi
penilaian secara rinci mengenai penskoran. Penskoran
pada tes kinerja 1 terdiri dari skor 4, skor 3, skor 2,
dan skor 1, sedangkan penskoran pada tes kinerja 2
terdiri dari skor 0, skor 1, dan skor 2. Penilaian
kinerja untuk menilai mahasiswa mengajar dengan
MPK dan kesesuaian dengan RPP, menggunakan
format penilaian kinerja guru dengan skor antara 0
sampai dengan 2.

perangkat

Siklus 1
Siklus1 terdiri dari tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Indikator keberhasilan siklus 1 adalah: membuat RPP
model MPL, dan perangkat RPP (LKS, lembar
penilaian (LP), dan kunci jawaban).
Siklus 2
Setelah pembahasan antara peneliti dan dosen
mitra maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap
tahapan-tahapan pembimbingan yang disusun dalam
perencanaan siklus 2. Siklus 2 menekankan
penyusunan perangkat pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif
(MPK). Indikator
keberhasilan siklus 2 adalah: membuat silabus, RPP
model MPKdan perangkat RPP (LKS, lembar
penilaian, dan kunci jawaban).

3.4 Teknik Analisis Data


Analisis data untuk penelitian ini dilakukan
secara kuantitatif dan deskriptif. Analisis diskriptif
untuk menggambarkan hasil observasi dan refleksi
selama pembimbingan penyusunan perangkat
pembelajaran dan kemampuan mahasiswa dalam
mensimulasikan MPL atau MPK. Analisis kuantitatif
digunakan untuk menilai hasil belajar yang meliputi
nilai-nilai tes pilihan ganda, tes essey, tes kinerja, dan
penilaian perangkat pembelajaran. Hasil belajar
mengacu pedoman penilaian yang berlaku di Unesa.
Nilai akhir = ((2 x P) + (3xT) + (2xUSS) +
(3xUAS))/10.

Siklus 3
Pada siklus 3, mahasiswa mensimulasikan model
MPL atau MPK
sesuai dengan perangkat
pembelajaran yang disusun. Indikator keberhasilan
siklus 3 adalah: mensimulasikan RPP model
pembelajaran MPL dan MPK.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan (1) metode observasi untuk mengamati proses
pembelajaran secara langsung di kelas maupun di
laboratorium ketika mahasiswa melakukan tugastugasnya (menyusun perangkat RPP dan berdiskusi
dalam kelompoknya) untuk ranah kognitif,
psikomotor dan kemampuan keterampilan proses, (2)
memberi tugas membuat perangkat pembelajaran
seperti RPP, LKS, LP dan kunci jawaban, untuk
mengetahui kompetensi dan keterampilan mahasiswa
dalam mengembangkan perangkat pembelajaran
sesuai model MPL dan MPK, yang terkait dengan
pemahaman materi Teknik Audio Video, (3) tes
pilihan ganda dan tes essay, dan (4) tes kinerja untuk
menilai presentasi MPL atau MPK.
Kriteria penilaian untuk tugas perangkat
pembelajaran berdasarkan tiga komponen yaitu: (1)
kelengkapan perangkat pembelajaran, dengan nilai
maksimum 40, (2) kesesuaian dengan nilai
maksimum 30, dan (3) kebenaran dengan nilai
maksimum 30. Penilaian hasil belajar berbentuk tes
tertulis dan tes kinerja. Tes tertulis, untuk mengukur
kemampuan mahasiswa dalam memahami model
pembelajaran baik MPL maupun MPK. Tes kinerja
untuk
mengukur
kemampuan
mahasiswa
mensimulasikan MPL dan MPK sesuai RPP dan
perangkat pembelajaran yang disusunnya, dan
mengacu pada Penilaian Kinerja Guru (PKG) pada
kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik ini
terdiri dari tujuh kompetensi, yaitu (a) menguasai
karakteristik peserta didik, (b) menguasai teori belajar

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian
Siklus 1
1. Perencanaan
Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam
pelaksanaan pembelajaran Perencanaan Pengajaran
selama ini. Selanjutnya bersama dengan dosen mitra
membahas alternatif pemecahannya.
Masalahnya:
jumlah mahasiswa yang banyak, yaitu 56 orang.
perlu dibentuk kelompok supaya lebih efektif,
maka dibagi menjadi 17 kelompok yang terdiri
dari tiga atau empat orang per kelompok.
menentukan ruang lingkup Standar Kompetensi
(SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dibagi ke
setiap kelompok. SK dan KD mengacu pada
kejuruan Teknik Audio Video (TAV) di SMK
Menyusun contoh RPP yang digunakan sebagai
panduan pembuatan RPP Model Pembelajaran
Langsung (MPL) untuk mahasiswa.
Menyusun instrumen penelitian, yaitu: (1) tes
tulis pilihan ganda dan essay; (2) tes kinerja; dan (3)
lembar pengamatan video

74

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

2. Pelaksanaan Tindakan
Mahasiswa diberikan materi MPL dengan metode
melalui pemodelan mengamati VCD MPL
Pemberian tugas kepada mahasiswa untuk
menyusun RPP dengan MPL yang sesuai dengan SK
dan KD yang tercantum pada Spektrum SMK Teknik
Audio Video. Setiap kelompok dibagi SK dan KD,
kemudian dilanjutkan untuk mencari materi
pendukungnya.
Membimbing mahasiswa secara intensif dalam
menyusun RPP dan perangkatnya yaitu LKS, lembar
penilaian (LP), kunci jawaban LP dengan struktur dan
substansi materi yang menjadi target capaian suatu
kompetensi dasar.

Peneliti dan dosen mitra mengamati aktivitas


mahasiswa dalam proses penyusunan RPP dan
perangkatnya. Mencatat kejadian-kejadian yang
mendukung maupun yang menghambat proses
pembelajaran.
4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian yang
sesuai terhadap kompetensi mahasiswa secara
individu maupun kelompok dalam proses penyusunan
maupun hasil dalam bentuk seperangkat RPP.
Peneliti dan dosen mitra mengkaji kelemahankelemahan mahasiswa dalam menyusun RPP selama
siklus 2, dan melakukan revisi terhadap rencana awal
siklus 3.
Penilaian didasarkan pada tes essay dan pilihan
ganda, serta pengamtan video MPK. Data tertinggi
untuk nilai tes Essay adalah 100 dan terendah 65, dan
nilai rata-rata 88,57. Nilai tertinggi untuk pengamatan
video MPK sebesar 100, sedangkan nilai terendah 70.
Nilai rata-rata 84,32. Nilai tes pilihan ganda tidak
setinggi nilai yang lain, nilai tertinggi 78 dan nilai
terendah 54, serta nilai rata-rata 68,68.

3. Tahap observasi
Dosen mitra (dalam hal ini, anggota peneliti)
mengamati, membimbing, dan mencatat semua
masalah yang muncul baik yang mendukung maupun
yang menghambat.
Mencatat dan merekam masalah tersebut dalam
lembar observasi.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti dan dosen
mitra mendiskusikan kekurangan dan kelemahan
mahasiswa.

Siklus 3
1. Perencanaan
Merancang instrumen penilaian simulasi MPL
dan MPK yang mengacu pada Penilaian Kinerja Guru
(PKG) pada kompetensi pedagogik. Kompetensi
pedagogik ini terdiri dari tujuh kompetensi, tetapi
yang digunakan dalam penelitian ini hanya menilai
kompetensi: (a) menguasai teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik, (b) kegiatan
pembelajaran yang mendidik, dan (c) komunikasi
dengan peserta didik.
Menentukan kelompok simulasi MPL dan MPK.

4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian yang
sesuai terhadap kompetensi mahasiswa secara
individu maupun kelompok dalam proses penyusunan
maupun hasil dalam bentuk seperangkat RPP.
Peneliti dan dosen mitra mengkaji kelemahankelemahan mahasiswa dalam menyusun RPP selama
siklus 1, dan melakukan revisi terhadap rencana awal
siklus 2.
Siklus 1 dinilai dari tes essay MPL dan
pengamatan video MPL. Nilai tes essay tertinggi 100
dan terendah 65 dari 56 orang mahasiswa, dengan
rata-rata 85,41. Nilai tertinggi 95 dan terendah 65
untuk pengamatan video MPL, sedangkan rataratanya 85,54.

2. Pelaksanaan Tindakan
Mahasiswa diberi kesempatan untuk menentukan
simulasi MPL atau MPK. Kemudian peneliti
menjelaskan kriteria penilaian simulasi kepada
mahasiswa, agar mereka dapat mempersiapkan
kelompoknya untuk mendapatkan nilai yang baik.
elaksanaan simulasi ditentukan waktunya setiap
kelompok 40 menit, termasuk presentasi dan tanya
jawab, serta komentar dari peneliti.

Siklus 2
1. Perencanaan
Mempelajari materi Model Pembelajaran
Kooperatif (MPK) dan mempersiapkan bentuk tugas.
Menyusun contoh RPP model pembelajaran
kooperatif (MPK).

3. Tahap observasi
Peneliti dan dosen mitra yang memberi penilaian
kepada kelompok yang simulasi.
Mencatat dan merekam aktivitas mahasiswa yang
aktif bertanya dan memberi pendapat dalam lembar
observasi.

2. Pelaksanaan Tindakan
Menjelaskan MPK, kemudian mahasiswa
mengamati VCD MPK.
Mahasiswa diberi tugas untuk menyusun RPP
dengan MPK yang sesuai dengan SK dan KD yang
tercantum pada Spektrum SMK Teknik Audio Video.
Membimbing mahasiswa untuk menyusun RPP
dan perangkatnya agar sesuai kompetensi dasar yang
dipilih.

4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian
terhadap kelengkapan RPP dan perangkatnya
berdasarkan:
(1)
kelengkapan
perangkat
pembelajaran, dengan nilai maksimum 40, (2)

3. Tahap observasi
75

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

kesesuaian dengan nilai maksimum 30, dan (3)


kebenaran dengan nilai maksimum 30.
Hasil simulasi cukup bervariasi dari nilai
tertinggi 90 dan terendah 60, sehingga nilai rata-rata
mencapai 81,16.

Kemampuan
mengajar
mahasiswa
perlu
ditingkatkan, terutama keberanian tampil di depan
dan kemampuan komunikasi yang baik.

4.2 Pembahasan
Simulasi
dilakukan
berkelompok,
setiap
kelompok terdiri dari 3-4 orang, tetapi yang mengajar
(presentasi sebagai guru) hanya satu orang dan yang
lainnya membantu mempersiapkan pembelajaran.
Beberapa kekurangan yang ditemukan pada saat
simulasi, yaitu (1) belum menerapkan langkahlangkah sesuai sintak MPL atau MPK, (2) aktivitas
kelompok dalam MPK belum kondusif,
(3)
penguasaan materi teknik audio video masih lemah,
dan (4) kemampuan memberi pertanyaan terbuka
masih jarang dilakukan. Untuk mengatasi kelemahan
tersebut, setiap selesai simulasi perkelompok diberi
masukan untuk perbaikan bagi kelompok yang
lainnya. Tidak semua kelompok punya kekurangan,
karena ada beberapa kelompok yang sangat baik
mempersiapkan simulasinya dan kerjasamanya cukup
baik.
Penyusunan
RPP
dan
perangkat
pembelajarannya,
pada
umumnya
ditemukan
kelemahan yaitu: (1) menyusun indikator, (2)
membedakan indikator proses dan psikomotor, (3)
menyusun tujuan pembelajaran yang mengacu teori
ABCD, (4) menyusun lembar penilaian yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dan (5) menyusun LKS
yang mencakup keluasan dan kedalaman KD yang
akan dicapai. Pembimbingan untuk menyusun RPP
dan perangkat pembelajaran dilakukan secara
kelompok secara intensif pada waktu terstruktur.

[1]. DBE2-USAID. 2010. Pembelajaran Aktif di Perguruan


Tinggi (ALIHE) Paket TOT Nasional ALFHE Decentralized
Basic Education 2- USAID.

DAFTAR PUSTAKA

[2]. Ibrahim, Muslimin, dkk. 2005. Pembelajaran Kooperatif.


Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah Universitas
negeri Surabaya.
[3]. Jarvis, Peter; John Holford, & Colin Griffin. 2003. The Theory
and Practice of Learning. London and Sterling: Kogan Page
[4]. Kardi, S & Nur M. 2005. Pengajaran Langsung. Surabaya:
University Press
[5]. Nawawi, H. Hadari. 2003. Manajemen Strategik; Organisasi
Non Profit Bidang Pemerintahan Dengan Ilustrasi di Bidang
Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[6]. Nur, Mohamad. 2011a. Model Pembelajaran Kooperatif.
Edisi Kedua. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa.
[7]. Nur, Mohamad. 2011b. Model Pembelajaran Langsung. Edisi
Kedua. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa.
[8]. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
[9]. Seel, Norbert M. dan Dijkstra, Sanne, 2004. Curricullum,
Plans, and Process in Instructional Design. London:
Lawrence Erlbaum Associates
[10]. Usman, Moh. Uzer. 1994. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penyusunan perencanaan pembelajaran dengan
Model Pembelajaran Langsung (MPL) dan Model
Pembelajaran Kooperatif (MPK) dalam bentuk RPP
dan perangkat pembelajarannya lebih dari 85% baik,
setelah melalui pembimbingan yang intensif dan
beberapa kali revisi, dan kemudian disimulasikan.
Hasil belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa dalam mensimulasikan
model MPL dan MPK di kelas. Berdasarkan data nilai
akhir diperoleh 18 orang (32%) mendapatkan nilai
tertinggi yaitu A, sedangkan nilai terendah B (9%).
5.2 Saran
Pembelajaran untuk materi pendidikan, sebaiknya
diajarkan secara terintegrasi, artinya pengertian
tentang materi pendidikan diimplementasikan dengan
materi keteknikannya.
Penguasaan materi elektronika khususnya Teknik
Audio Video perlu terus ditingkatkan.

76

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II


untuk Model Pembelajaran Kooperatif sebagai Upaya
Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran
di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa
Puput Wanarti Rusimamto 1, Achmad Imam Agung2, Indrati Agustinah3, Yosia Daniel4
1,2,3,4

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik - Unesa, Surabaya


ini diharapkan peran penting dosen serta media
pembelajaran yang memadai termasuk Lab. Fisika
Teknik dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa
dalam mempelajari ilmu Fisika.
Menyongsong pembangunan Laboratorium
Terpadu di Fakultas Teknik Unesa di mana
ditargetkan akan selesai pada semester genap tahun
ajaran 2012-2013 ini, semua jurusan dihimbau
untuk mempersiapkan diri. Jurusan Teknik Elektro
sekarang ini mempunyai 13 laboratorium,
laboratorium Fisika Teknik yang berada di gedung
A7 lantai 2, sekarang ini kondisinya digabung
dengan laboratorium komputer. Hal ini karena
komputer yang merupakan hibah dari dana APBNP
harus segera terserap penggunaannya. Mempelajari
rencana
jurusan
Teknik
Elektro
untuk
pengembangan laboratorium, di mana akan
mendapatkan tambahan 11 laboratorium di lab
terpadu tersebut diantaranya laboratorium Fisika
Teknik, maka Tim pengajar Fisika Teknik juga
mempersiapkan
diri
membuat
rencana
pengembangan laboratorium fisika teknik.
Untuk menjawab permasalahan tersebut salah
satunya adalah melakukan penelitian ini untuk
menyusun modul praktikum mata kuliah Fisika II
dengan menggunakan media trainer berbasis
pembelajaran kooperatif berorientasi industri.
Diharapkan dari hasil penelitian ini peserta didik
mengetahui dan memahami aplikasi ilmu fisika
dalam bidang Teknik Elektro. Selain itu, juga dapat
menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa dalam
mengikuti perkuliahan. Hal ini sangat menunjang
kompetensi mahasiswa sebelum terjun ke dunia
kerja, khususnya untuk lulusan Jurusan Teknik
Elektro UNESA yang nantinya akan berprofesi
sebagai guru SMK atau terjun ke dunia Industri.
Agar tingkat kualitas hasil pembelajaran
mahasiswa tinggi, maka menuntut peran dosen
dalam menerapkan metode pembelajaran dengan
Model Pembelajaran Kooperatir (MPK) secara
benar dengan ditunjang modul praktikum dengan
benar. Modul dalam penelitian ini adalah Modul
Praktikum Sensor Tekanan yang terdiri dari Modul
Mahasiswa, Modul Dosen beserta dan trainer.
Modul Mahasiswa berisi (1) Peta kedudukan modul
dan kemampuan prasyarat; (2) Pendahuluan yang
meliputi deskripsi, prasyarat, petunjuk penggunaan

Abstrak - Kompleknya aplikasi ilmu Fisika


dalam bidang Teknik Elektro menjadi bahan
pertimbangan penting dalam penelitian ini karena
mempunyai tujuan agar topiktopik serta bahan ajar
yang disampaikan selama pembelajaran dapat
memberikan
kontribusi
maksimum
terhadap
kesesuaian ilmu yang diperoleh dengan aplikasinya di
lapangan dan meningkatkan mutu lulusan Jurusan
Teknik Elektro Unesa. Dengan adanya modul
tersebut diharapkan dapat digunakan oleh para
pendidik dalam menyampaikan bahan ajar dengan
praktis dan sebagai salah satu rujukan untuk
mengajar mata kuliah Fisika II. Penggunaan modul
ini bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar
mampu dalam menerapkan teori ilmu Fisika yang
diperoleh selama kuliah ke dalam bidang Teknik
Elektro.
Hasil penilaian kelayakan terhadap Modul Ajar
Mata Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran
Kooperatif Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas
Hasil Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT
Unesa yang dikembangkan adalah sebagai berikut:
hasil analisa yang didapatkan dari validator adalah
85,1% untuk modul dan 89% untuk trainer, dari
respon mahasiswa adalah 83,9% untuk modul dan
84,8% untuk trainer. Sehingga Modul Ajar Mata
Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran
Kooperatif yang dikembangkan boleh dan layak
diterapkan pada perkuliahan mata kuliah Fisika II.
Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, modul ajar, hasil
pembelajaran.

I. PENDAHULUAN
Ruang lingkup Teknik Elektro sangat luas.
Mata kuliah yang satu dengan yang lain saling
berkesinambungan dan tidak bisa dipisahkan,
khususnya mata kuliah Fisika Teknik dengan
beberapa mata kuliah lain di Jurusan Teknik
Elektro. Mata kuliah Fisika adalah mata kuliah
umum yang menjadi dasar dalam memahami mata
kuliah keterampilan di bidang Teknik Elektro.
Kurangnya pemahaman terhadap materi fisika akan
mempengaruhi pencapaian target proses belajar
mengajar. Banyaknya aplikasi ilmu fisika dalam
bidang Teknik Elektro menuntut peserta didik harus
mampu memahami ilmu Fisika yang telah didapat
selama kuliah dan kemudian mengerti aplikasinya
di lapangan. Melihat begitu pentingnya mata kuliah
77

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

modul, kompetensi dan indikator; (3) Kegiatan


pembelajaran, di mana setiap kegiatan belajar
meliputi kompetensi dan indikator, uraian materi,
lembar kegiatan mahasiswa dan tes formatif yang
tidak disertai jawabannya dan (4) Evaluasi yang
meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

dan
bukan
mengkritik
teman,
berani
mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi
orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang
bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi
(interpersonal
relationship)
tidak
hanya
diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa
yang tidak dapat menjalin hubungan antara pribadi
akan memperoleh teguran dari guru juga dari
sesama siswa.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Trianto (2007), pembelajaran yang
bernaung dalam teori konstruktivis adalah
kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari
konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan
dan memahami konsep yang sulit jika mereka
saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara
rutin bekerja dalam kelompok untuk saling
membantu memecahkan masalah masalah yang
kompleks. Jadi hakikat sosial dan penggunaan
kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam
pembelajaran kooperatif.
Menurut Sugiyanto (2010), pembelajaran
kooperatif (Cooperative Learning) sendiri adalah
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pada
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja
sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk
mencapai tujuan belajar.
Menurut Lie (dalam Sugiyanto, 2010), pada
pembelajaran kooperatif ada beberapa elemen yang
harus diketahui. Elemen elemen tersebut adalah :
1) Saling ketergantungan positif.
Dalam
pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana
yang mendorong agar siswa merasa saling
membutuhkan.
Hubungan
yang
saling
membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling
ketergantungan positif. 2) Interaksi tatap muka.
Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling
tatap muka dalam kelompok sehingga mereka dapat
berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan
guru. Interaksi semacam itu sangat penting karena
siswa merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.
Ini juga mencerminkan konsep pengajaran teman
sebaya. 3) Akuntabilitas individual. Pembelajaran
kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar
kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara
individual. Hasil penilaian secara individual
selanjutnya disampaikan oleh guru kepada
kelompok agar semua anggota kelompok
mengetahui siapa anggota kelompok yang
memerlukan bantuan dan siapa yang dapat
memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan
atas rata rata hasil belajar semua anggotanya,
karena itu tiap anggota kelompok harus
memberikan sumbangan demi kemajuan kelompok.
Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata rata
penguasaan semua anggota kelompok secara
individual ini yang dimaksud dengan akunbilitas
individual. 4) Keterampilan menjalin hubungan
antar pribadi. Ketrampilan sosial seperti tenggang
rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide

2.2 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif


Terdapat enam langkah utama atau tahapan di
dalam pelajaran yang mengguanakan pembelajaran
kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru
menyampaikan tujuan pelajaran dan memotiviasi
siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian
informasi, sering kali dengan bahan bacaan
daripada secara verbal. Selanjutnya siswa
dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini
diikuti bimbingan guru pada saat siswa berkerja
bersama untuk menyelesaikan tugas bersama
mereka. Fase terakir meliputi presentase hasil akhir
kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang
telah mereka pelajari dan memberi penghargaan
terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
2.3 Pengertian Modul
Modul ialah unit program belajar-mengajar
terkecil yang secara terinci menggariskan: a)
Tujuan instruksional umum, b) Tujuan intruksional
khusus, c) Pokok-pokok materi yang akan dipelajari
dan diajarkan, d) Kedudukan fungsi satuan dalam
kesatuan program yang akan dipakai, e) Kegiatan
belajar-mengajar, f) Lembaran kerja yang akan
dikerjakan selama proses belajar berlangsung
(Wijaya: 1996). Selanjutnya menurut Nasution
(1982: 205) modul ialah suatu unit yang lengkap
yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian
kegiatan belajar yang disusun untuk membantu
siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan
secara khusus dan jelas.
Menurut Mulyasa (2004:148) modul adalah
suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan
bahasan tertentu yang disusun secara sistematis,
operasional dan terarah untuk digunakan oleh
peserta
didik,
disertai
dengan
pedoman
penggunaannya untuk para guru.
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki
karakteristik sebagai berikut: 1) Setiap modul harus
memberikan informasi dan memberikan petunjuk
pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus
dilakukan oleh peserta didik, bagaimana
melakukannya, dan sumber belajar apa yang harus
digunakan. 2) Modul merupakan pembelajaran
individual,
sehingga
mengupayakan
untuk
melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta
didik. 3) Pengalaman belajar dalam modul
disediakan untuk membantu peserta didik mencapai
tujuan pembelajaran seefektif dan seefesien
mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk
melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar
78

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

secara sistematis. 7) Tidak bias (gender, etnis,


religi, geografi, budaya, dll)
Dari indikator bahasa, modul yang berkualitas
memenuhi
kriteria
sebagai
berikut.
1)
Menggunakan tata bahasa yang benar. 2)
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat
perkembangan
mental
peserta
didik.
3)
Menumbuhkan motivasi untuk membaca lebih
lanjut. 4) Setiap terminology didefinisikan secara
jelas. 5) Menggunakan struktur kalimat yang
sederhana dan jelas. 6) Petunjuk-petunjuk ditulis
secara jelas.
Dari indikator ilustrasi, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut. 1) Ilustrasi
mendukung pemahaman konsep. 2) Terkait
langsung dengan konsep yang tertulis pada teks. 3)
Secara visual konsep menarik. 4) Jelas. 5) Mudah
dipahami. 6) Tidak bias (gender, etnis, religi,
geografi, budaya, dll)
Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji
kompetensi mahasiswa yang dilakukan secara teori
dan praktik dengan cara menjawab pertanyaan yang
ada
dan
untuk
praktik
dengan
cara
mendemonstrasikan kompetensi.

membaca dan mendengar, tetapi lebih dari itu,


modul memberikan kesempatan untuk bermain
peran (role playing), simulasi dan berdiskusi. 4)
Materi pembelajaran disajikan secara logis dan
sistematis, sehingga peserta didik dapat mengetahui
kapan dia memulai dan kapan mengakhiri suatu
modul, dan tidak menimbulkan pertanyaan
mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
5) Setiap modul memiliki mekanisme untuk
mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik,
terutama untuk memberikan umpan balik/respon
bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan
belajar.
Format modul menurut Mulyasa (2004: 44)
adalah sebagai berikut: 1) Pendahuluan. Bagian ini
berisi deskripsi umum, seperti materi yang
disajikan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang akan dicapai setelah belajar, termasuk
kemampuan awal yang harus dimiliki untuk
mempelajari
modul
tersebut.
2)
Tujuan
pembelajaran. Bagian ini berisi tujuan-tujuan
pembelajaran khusus yang harus dicapai oleh setiap
peserta didik setelah mempelajari modul. 3) Tes
awal. Tes ini berguna untuk menetapkan posisi
peserta didik, dan mengetahui awalnya, untuk
menentukan dari mana ia harus memulai belajar,
adan apakah perlu untuk mempelajari modul
tersebut atau tidak. 4) Pengalaman belajar. Bagian
ini merupakan rincian materi untuk setiap tujuan
pembelajaran khusus, yang berisi sejumlah materi,
diikuti dengan penilaian formatif sebagi balikan
bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang
dicapainya. 5) Sumber belajar. Pada bagian ini
disajikan tentang sumber-sumber belajar yang dapat
ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
Penetapan sumber belajar ini perlu dilakukan
dengan baik oleh pengembang modul, sehingga
peserta didik tidak kesulitan memperolehnya. 6)
Tes akhir. Tes akhir ini instrumennya sama dengan
isi tes awal hanya lebih difokuskan pada tujuan
terminal setiap modul.
Menurut OMeara (dalam Basuki, 2004)
kualitas modul ditentukan berdasarkan empat
indikator utama, yaitu : format, konsep/materi,
bahasa dan ilustrasi.
Dari indikator format, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Setiap
seksi/bagian dapat teridentifikasi secara jelas. 2)
Sistem penomoran jelas. 3) Terdapat keseimbangan
antara teks dan ilustrasi. 4) Secara visual, modul
menarik untuk dibaca. 5) Tata letak (teks dan
ilustrasi) sistematis.
Dari indikator konsep, modul yang berkualitas
memenuhi
kriteria
sebagai
berikut.
1)
Konsep/materi modul ditulis secara akurat. 2)
Konsep dikelompokkan secara logis. 3) Konsep
relevan dengan kurikulum. 4) Konsep didukung
sumber belajar yang memadai. 5) Konsep dapat
menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. 6)
Konsep dapat melatih peserta didik dalam berfikir

2.4 Indikator Lembar Validasi Instrumen


Indikator indikator instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini mengacu pada format indikator
instrumen Fauzi Amin dalam Siara (2004) dikutip
Purdiana (2004: 28). Adapun indikator instrumen
tersebut meliputi, Lembar validasi modul dan
Angket Respon Mahasiswa.
III. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
pengembangan. Pada penelitian pengembangan
modul ajar ini digunakan model pengembangan dari
Thiangarajan, Samuel dikutip oleh Trianto
(2007:65) yang disebut 4-D (Four D model), yang
terdiri dari 4 tahapan yaitu: 1) Define
(Pendefinisian), 2) Design (Perancangan), 3)
Develop
(Pengembangan),
4)
Disseminate
(Penyebarluasan).
Model ini dipilih karena langkah-langkah
pengembangannya mudah dipahami. Tahap-tahap
tersebut dijelaskan di bawah ini:
3.1 Define (Pendefinisian)
Tahap ini adalah merupakan syarat-syarat yang
diperlukan dalam pengembangan. Fokus dari tahap
ini adalah menganalisis situasi yang dihadapi dosen
dan konsep yang diajarkan.
Tahap define pada dasarnya merupakan tahap
penentuan format dan substansi produk yang akan
disusun (profil kecakapan hidup, topik-topik
esensial materi ajar, penyusunan modul bahan ajar).
Dalam hal ini dilakukan melalul lima sub-tahap,
yaitu analisis muka-belakang (front-end analysis),
analisis perkembangan kognitif peserta didik
(leaner analysis) dan analisis konsep (concept
79

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

telah mengikuti perkuiahan. Berdasarkan hasil


analisis dari mahasiswa yang telah mahasiswa
mengikuti perkuliahan Fisika II, ternyata proses
pembelajaran kurang terlaksana dengan baik,
khususnya proses belajar mengajar praktikum
karena kurangnya fasilitas modul ajar yang mudah
dipahami, maka dibuatlah kriteria tes yang sesuai
dengan permasalahan yang dihadapi mahasiswa. 2)
Pemilihan Media dan Format. Setelah mendapatkan
uraian di atas maka didapatkan cara untuk
membantu proses praktikum mahasiswa, yaitu
dipilih
media pembelajaran yang sesuai dan
diharapkan dapat membantu praktikum yang berupa
modul sesuai format ditetapkan. 3) Perancangan
Awal. Tahap ini dilakukan penyuntingan gambar
yang dianggap relevan dengan meteri yang akan
digunakan sebagai modul praktikum Fisika II.
Kegiatan dalam tahap ini terfokus pada penulisan
modul ajar dan pembuatan trainer, konsultasi
dengan dosen yang berkompeten, membaca acuanacuan terkait yang relevan, dan
dengan
mengadopsi modul praktikum yang ada.

analysis). Analisis muka belakang merupakan studi


pustaka dan survai lapangan. Studi pustaka
dilakukan dengan mencermati Kurikulum Jurusan
Teknik Elektro FT UNESA untuk dilakukan
sinkronisasi materi kurikulum relevan dengan
aplikasi di lapangan kerja atau dunia industri.
Survai lapangan merupakan need assessment yang
dilakukan dengan wawancara terbuka dan diskusi
kelompok terfokus para pengelola kalangan dunia
usaha dan industri dan ahli pendidikan kejuruan dan
teknologi pembelajaran untuk menggali pendapat
tentang kompetensi dan sub-kompetensi yang
relevan dalam bidang Teknik Elektro yang
seharusnya dikuasai. Hasil kedua metoda tersebut
kemudian digabungkan, sehingga dihasilkan buram
format kompetensi dan sub-kompetensi yang telah
sinkron dan relevan aplikasinya dalam bidang
Teknik Elektro.
Analisis peserta didik digunakan untuk
mengkaji tingkat perkembangan kognitif mereka,
sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bahan
menelaah buram pokok bahasan kompetensi dan
sub-kompetensi serta kemampuan dasar peserta
didik. Analisis dilakukan dengan mengkaji berbagai
hasil riset yang terkait dengan tingkat
perkembangan kognitif peserta didik, baik di
Indonesia dan di negara berkembang lainnya
melalui referensi yang diperoleh.
Analisis konsep diterapkan untuk menganalisis
pokok bahasan hasil kajian Kurikulum SMK.
Analis konsep menggunakan kriteria bahwa
kompetensi dan subkompetensi esensial memuat
sub-sub kompetensi penting yang belum dikuasal
peserta didik dan sulit dipelajarl dari sumber lain,
serta diperlukan sebagal bekal bekerja. Kompetensi
dan subkompetensi inilah yang selanjutnya disebut
sub-kompetensi esensial yang akan dituangkan
dalam materi pembelajaran dan pada modul bahan
ajar.
Untuk menjamin content dan face validity dan
pokok-pokok sub-kompetensi esensial tersebut
direviu dalam diskusi kelompok terfokus (focus
group discussion) dan diteruskan dengan penilaian
oleh pakar (expert judgment). Pakar yang dilibatkan
dalam diskusi kelompok terfokus dan expert
judgment adalah pakar diberbagai bidang,
mencakup pendidikan kejuruan Teknik Elektro
dengan ahli Fisika. Dengan demikian pada tahap
define akan dihasilkan kerangka dasar produk
penelitian yang telah melalui tahap pembahasan,
mencakup: format, modul, dan pokok-pokok
sub-kompetensi esensial yang sinkron dan relevan
dengan dunia kerja serta industri.

3.3 Develop (Pengembangan)


Tahap pengembangan ini menghasilkan modul
ajar yang telah divalidasikan ke para ahli dan
direvisi sehingga layak digunakan untuk uji coba
terbatas. Tahap pengembangan terdiri dari tahap
penilaian ahli dan tahap uji coba lapangan.
Penjelasan tahap-tahap tersebut adalah sebagai
berikut: 1) Validasi ahli atau penilaian ahli.
Penilaian ahli merupakan teknik dalam memperoleh
saran dan masukan yang selanjutnya digunakan
untuk merevisi modul ajar dan trainer yang telah
disusun. Saran dan masukan diperoleh dari para
ahli yang berkompeten khususnya pembina mata
kuliah fisika, sehingga dihasilkan modul yang tepat
dan efektif. Selain memberikan saran-saran dan
masukan, para ahli dimohon memberikan penilaian
validitas terhadap modul ajar dan trainer yang telah
disusun sesuai indikator yang ada (lembar
validitas). Hasil validasi tersebut kemudian
dilakukan analisis dan selanjutnya modul ajar dan
trainer direvisi sesuai saran dan masukan dari
validator. 2) Uji Pengembangan. Pada uji
pengembangan, peneliti melakukan uji coba
lapangan yang dilakukan untuk memperoleh
respon, reaksi, dan komentar dari lapangan terhadap
modul ajar dan trainer, dalam tahap ini diperoleh
hasil respon dari mahasiswa.
Keefektifan modul dan perangkat pembelajaran
Fisika Teknik berbasis kooperatif akan dianalisis
dengan statistik inferensial, berupa uji beda (t-test
dan anova).

3.2 Design (Perancangan)


Tahap ini dilakukan setelah selesai tahap
pendefinisian, adapun langkah-langkah yang
terdapat dalam perancangan modul ini adalah
sebagai berikut: 1) Penyusunan kriteria tes. Tahap
ini dilakukan setelah mendapatkan hasil analisis
mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2012 yang

3.4 Disseminate (Penyebaran)


Tahap
penyebaran
bertujuan
untuk
melaksanakan uji coba modul yang disusun dan
telah melalui tahap validasi, analisis, dan revisi.
Tujuan pelaksanaan uji coba ini adalah untuk
mengetahui
efektifitas pembelajaran yang
80

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dilaksanakan menggunakan modul ajar dan trainer.


Pada tahap ini pada pelaksanaan pembelajaran
dilengkapi dengan lembar pengamatan dan
observasi serta penilaian kinerja mahasiswa. Modul
akan diberikan kepada dosen pengampu mata
kuliah, dosen ahli modul, dan mahasiswa serta
observer.

Respon Trainer

Ukuran dan
bentuk

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kinerja

4.1 Hasil Penelitian


Pada tahap ini disajikan deskripsi data hasil
validasi penelitian media trainer dan hasil validasi
penelitian media modul.

Gambar 3. Grafik Respon Mahasiswa untuk Trainer

4.5 Hasil Respon Mahasiswa untuk Modul


Dari Gambar 5 dapat dilihat perolehan hasil
respon mahasiswa untuk modul.

4.2 Hasil Validasi Penilaian Trainer


Dari Gambar 1 dapat dilihat perolehan hasil
validasi media trainer.

Hasil Validasi Trainer

Tata Letak

Respon Modul
Ilustrasi

Tampilan

Bahasa

Ukuran dan
bentuk

Isi

Kinerja

Gambar 5. Grafik Respon Mahasiswa untuk Modul

4.6 Pembahasan
Proses pembuatan media modul dan trainer
aplikasi sensor loadcell ini mengunakan transduser
mechanic sebagai sensor dan microkontroller untuk
unit prossesing center atau CPU. Dalam media
trainer aplikasi sensor loadcell ini terdapat
beberapa fungsi antara lain untuk kalibrasi
timbangan, mengukur beban, menjumlah total
beban, menghitung jumlah barang yang mempunyai
berat yang sama dan pengukuran input dan output.
Untuk modul pembuatannya mengacu berdasarkan
Buku Pedoman Fakultas Teknik Unesa 2008 2009
untuk Jurusan S1 Teknik Elektro pada mata kuliah
Fisika II. Dalam media modul terdapat materi
tentang macam - macam transducer mechanic,
pengenalan trainer aplikasi loadcell, penggunaan
aplikasi sensor loadcell, pengukuran aplikasi
sensor loadcell tes formatif, daftar pustaka, dan
datasheet dari loadcell.
Modul dan trainer aplikasi sensor loadcell yang
telah selesai dibuat dilakukan validasi oleh
validator yang teriri dari 4 validator yaitu 4
validator dari dosen TE Universitas Negeri
Surabaya. Untuk hasil validasi modul aplikasi
sensor loadcell dari validator tentang perwatakan
dan tata letak 85%, ilustrasi 82,5%, bahasa 92,5%,
isi 78% dan huruf dan ukuran bahan 87,5%.
Sehingga hasil keseluruhan validasi media di lihat
dari 5 aspek adalah 85,1%.
Hasil validasi trainer aplikasi sensor loadcell
yaitu tampilan trainer 95%, pemilihan ukuran dan
bentuk papan trainer 90%, kinerja trainer 85%,
bahasa pada trainer mudah dipahami 90%, dan

Bahasa
Aspek
Gambar 1. Grafik Validator Trainer

4.3 Hasil Validasi Modul


Dari Gambar 2 dapat dilihat hasil validasi
modul.

Hasil Validasi Modul


Tata Letak
Ilustrasi
Bahasa
Isi

Aspek

Tampilan

Bentuk huruf

Gambar 2. Grafik Validator Modul

4.4 Hasil Respon Mahasiswa untuk Trainer


Data respon mahasiswa diperoleh dengan
menggunakan lembar angket respon mahasiswa
untuk trainer. Pada penelitian ini instrumen lembar
angket respon untuk trainer di isi oleh mahasiswa
S1 Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Negeri Surabaya
Dari Gambar 3 dapat dilihat perolehan hasil
respon mahasiswa untuk trainer.
81

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

keterkaitan modul dengan trainer 85%. Sehingga


rata-rata hasil keseluruhan validasi trainer dari ke-5
bagian diatas sebesar 89%.
Dari hasil respon mahasiswa diketahui bahwa
hasil rating tampilan tainer 84%, pemilihan ukuran
dan bentuk papan trainer 86%, kinerja trainer 86%,
bahasa pada trainer mudah dipahami 84%, dan
keterkaitan media sesuai dengan modul 84%.
Sehingga dari keseluruhan respon mahasiswa
terhadap trainer sebesar 84,8%. Sedang respon
mahasiswa tentang modul adalah sebagai berikut,
perwatakan dan tata letak 82,67%, ilustrasi 81%,
bahasa 91%, isi 78% dan huruf dan ukuran bahan
87%. Sehingga hasil keseluruhan validasi media di
lihat dari 5 aspek adalah 83,9%.
Dari hasil semua respon yang dikategorikan
sangat baik tersebut bisa diambil kesimpulan.
Bahwa mahasiswa sangat tertarik trainer tersebut
dan ingin sekali memahami lebih dalam
mempelajari trainer aplikasi sensor loadcell untuk
menambah wawasan tentang sensor dan transducer.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Arsyad, Azhar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
[2]. Basuki, Ismet. (2004). Pengembangan Buku Ajar Berbasis
Kompetensi. Surabaya: UNESA.
[3]. Basuki, Ismet. (2003). Analisis Buku Ajar. Surabaya:
UNESA.
[4]. Buku Pedoman Unesa Kurikulum 2012 2013, Unipress
Unesa 2012
[5]. Basuki, Ismed. 24 Juli 2006. Penulisan Modul Berbasis
Kompetensi. Pamekasan: UNIRA.
[6]. Budiharto, Widodo dan Firmansyah Sigit. 2004.
Elektronika Digital dan Mikroprosesor. Yogyakarta: C.V.
ANDI OFFSET.
[7]. Ibrahim, Muslimin. 2005. Pembelajaran Kooperatif, Unesa
University press, Surabaya
[8]. Musfiqon. 2012. Pengembangan Media dan Sumber
Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
[9]. Samsyuri, Hasan. 2005. Analisis Perakitan Trainer Unit
Berdasarkan Aplikasi Konsep Refrigerasi Pada Mata
Kuliah Sistem Pendingin. Dalam
file.upi.edu/Direktori/...HASAN/.../artikel_trainer_refr_1.p
df, diakses 15 Juni 2012. 15 Juni 2012.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

[10]. Thiagarajan, Sivasailam.Gemmmel, Dorothy S. dan


Semmel, Melviyn I. 1974. Instruction Development For
Training Teachers Of Exceptional Children. Minnesota:
Indiana University.

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
analisis
data
dan
pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut. 1) Telah berhasil dikembangan
Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II untuk Model
Pembelajaran
Kooperatif
Sebagai
Upaya
Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran di
Jurusan Teknik Elektro FT Unesa yang dirancang
menggunakan metode 4-D (four D model) pada
mata kuliah fisika teknik. 2) Hasil penilaian
kelayakan terhadap Modul Ajar Mata Kuliah Fisika
II untuk Model Pembelajaran Kooperatif Sebagai
Upaya Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran
di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa yang
dikembangkan adalah tinggi. Hasil analisa yang
didapatkan dari validator adalah 85,1% untuk
modul dan 89% untuk trainer. Dari respon
mahasiswa adalah 83,9% untuk modul dan 84,8%
untuk trainer. Sehingga Modul Ajar Mata Kuliah
Fisika II untuk Model Pembelajaran Kooperatif
yang dikembangkan boleh dan layak diterapkan
pada perkuliahan mata kuliah Fisika II.

[11]. Metcalfe, J & Kornell, N. 2005. A Region of Proximal


Learning Model of Study Time Allocation. Journal of
Memory & Language. 5: 563-477.
[12]. Meyers, C., and Jones, T.B. (1993). Promoting Active
Learning, Jossey-Bass Publishing Co., San Francisco, 5974.
[13]. Moore, D.J. (2003). Curriculum for an Engineering
Renaissance, IEEE Transactions on Education, 46(4),
452-455.
[14]. Panitz. 2000. Comparing Traditional Teaching and
Colaborative Learning. Journal of Educational
Psychology.82: 71- 80.
[15]. Slavin, R.E. 2000. Educational Psychologycal: Theory and
Practice. (Eds). Sixth Edition. Boston: Allyn & Bacon.
[16]. Thomas, J. (2000). A Review of the Research on ProjectBased Learning. The Autodesk Foundation Autodesk
Foundation 111 McInnis Parkway San Rafael, California
94903
[17]. Traylor, R.L., Heer, D., and Fiez, T.S. (2003). Using an
Integrated Platform for Learning to Reinvent Engineering
Education, IEEE Transactions on Education, 46(4), 409419.
[18]. Uno, H.B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses
Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi
Aksara.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis dari data penelitan
dan simpulan serta kondisi nyata penelitian selama
di lapangan, maka peneliti dapat memberikan saran
sebagai berikut. Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II
untuk Model Pembelajaran Kooperatif sudah
terbukti layak dan sesuai untuk digunakan di dalam
pembelajaran mata kuliah Fisika II pada semestersemester selanjutnya.

[19]. Yelvac, B., Smith, H.D., Troy, J.B., and Hirsch, P., 2007.
Promoting Advanced Writing Skills in an Upper-Level
Engineering Class, Journal of Engineering Education,
96(2), 117-129.

82

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Menggubah Model Pembelajaran Konstruktivistik


(Salah Satu Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran)
Sudarmono
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik - Unesa, Surabaya
Perubahan yang harus terjadi adalah perubahan dari
isi menjadi proses. Belajar bagaimana cara belajar
untuk mempelajari sesuatu menjadi suatu hal yang
lebih penting daripada fakta-fakta dan konsep-konsep
yang dipelajari itu sendiri. Sehingga pembelajaran
harus mempersiapkan para individu untuk siap hidup
dalam sebuah dunia di mana masalah-masalah muncul
jauh lebih cepat daripada jawaban dari masalah
tersebut, ketidakpastian dan ambiguitas dari
perubahan dapat dihadapi secara terbuka, individu
memiliki
keterampilan-keterampilan
yang
dibutuhkan.
Kebutuhan
akan
orientasi
baru dalam
pembelajaran terasa kuat dan nyata dalam berbagai
bidang studi. Pembelajar, praktisi pembelajaran dan
kita semua, mau tidak mau harus merespon perubahan
yang terjadi dengan mengubah paradigma
pembelajaran. Untuk menjawab dan mengatasi
perubahan yang terjadi secara terus-menerus, salah
satu alternatif yang dapat digunakan adalah
paradigmna konstruktivistik.

Abstrak - Menyikapi fenomena abat yang


menghendaki perubahan, dalam proses pembelajaran
kita perlu mengubah fokus dari apa yang perlu
dipelajari menjadi bagaimana cara mempelajari, dari isi
menjadi proses. Untuk mengatasi perubahan yang
terjadi secara terus menerus, salah satu alternatif yang
dapat digunakan adalah paradikma konstruktivistik.
Konstruktivistik adalah proses pembelajaran yang
menerapkan bagaimana pengetahuan disusun dalam
pikiran manusia. Aspek adapsi terhadap lingkungan
dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi
untuk membentuk atau memodifikasi skemata baru
melalui schaffolding yang terjadi pada daerah
perkembangan
terdekat.
Menggubah
model
pembelajaran konstruktivistik adalah menggubah
pengelolaan kelas, rancangan, dan strategi. Prinsip
dasar pembelajaran kostruktivistik adalah belajar
bersama yaitu pembelajaran yang menekankan kerja
kelompok. Model pembelajaran yang didukung oleh
teori pembelajaran konstruktivistik adalah: STAD,
CIRT, Jigsaw, TGT, TAI
Kata kunci : Asimilasi, Akomodasi, Skemata,
Schaffolding

II. AKAR SEJARAH KONSTRUKTIVISTIK

I. PANDANGAN UMUM

Konsep konstruktivistik ditulis Mark Baldwin


dan dipopulerkan Jean Piaget (Von Glasersfeld) dan
didahului oleh seorang ahli epistemology dari Itali
bernama Giambatistuta Vico. Vico menjelaskan
bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana
membuat sesuatu , ini menunjukkan bahwa
seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat
menjelaskan unsur-unsur apapun yang membangun
sesuatu itu. Cukup lama gagasan Vico tidak diketahui
orang dan seakan dipendam. Selanjutnya Piaget
menuliskan gagasan konstruktivistik dalam teori
perkembangan kognitif. Dikatakannya, bahwa
pengetahuan itu kita peroleh dari adaptasi struktur
kognitif kita terhadap lingkungan, seperti suatu
organisme harus beradaptasi dengan lingkungannya
agar dapat melangsungkan kehidupannya.
Tokoh lain sebagai pengembang ide-ide
konstruktivistik modern adalah Vygotsky. Keduanya
menekankan bahwa, perubahan kognitif hanya terjadi
jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami pebelajar
sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan
dalam upaya memahami hakekat sosial dari belajar.
Keduanya menyarankan untuk menggunakan
kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan
anggota kelompok yang berbeda-beda dalam
mengupayakan perubahan konseptual.

Abad XXI disebut juga abad millennium atau


abad digital, suatu abad yang menghendaki
perubahan-perubahan yang radikal dan revolusionir.
Degeng I Nyoman Sudana (1998), mengatakan bahwa
abad XXI memerlukan manusia-manusia yang benarbenar unggul, yaitu manusia-manusia yang memiliki
kompetensi: (1) Berpikir kreatif-produktif, (2)
Pengambilan Keputusan, (3) Pemecahan masalah, (4)
Belajar bagaimana belajar, (5) Kolaborasi, (6)
Pengelolaan diri.
Alternatif pendekatan pembelajaran yang sedang
menempatkan reformasi sebagai wacana kehidupan
berbangsa dan bernegara (Indonesia), bukan hanya di
bidang pembelajaran, melainkan juga pada segala
bidang. Selama ini, wacananya adalah behavioristik
yang berorientasi pada penyeragaman yang pada
akhirnya membentuk manusia yang sangat sulit
menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih
dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum,
karena
sudah terjangkit virus kesamaan, virus
keteraturan, dan lebih jauh virus inilah yang
mengendalikan perilaku kita dalam berbangsa dan
bernegara.
Menyikapi fenomena di atas, kita perlu
mengubah fokus dari apa yang perlu dipelajari
menjadi bagaimana caranya untuk mempelajari.
83

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dari kaca mata pembelajar kepada pembelajaran


sesuatu konsep dari kaca mata pebelajar sendiri.
Teori konstruktivistik sebagai pembelajaran
bersifat generatif, artinya tindakan mencipta sesuatu
maksud dari
apa yang mereka pelajari.
Konstruktivistik sebenarnya bukan merupakan ide
baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama
ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman
demi pengalaman, sehingga seseorang mempunyai
pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

Konstruktivistik adalah proses pembelajaran yang


menerapkan bagaimana pengetahuan disusun dalam
pikiran manusia. Unsur-unsur konstruktivistik
sebenarnya sudah dipraktikkan dalam pembelajaran
pada satuan pembelajaran dan di universitas tetapi
tidak begitu tampak dirasakan. Namun demikian,
pada decade sepuluh tahun yang lalu, di Indonesia
sebagian
besar
menggunakan
pendekatan
behavioristik, sebagian menerapkan gabungan antara
behavioristik dengan konstruktivistik dan sebagian
kecil murni menerapkan pendekatan konstruktivistik.
Paham konstruktivistik memandang ilmu
pengetahuan sekolah bukan memindahkan dari
pembelajar kepada pebelajar dalam bentuk secara
sempurna. Pebelajar mengolah pengetahuan tersebut
berdasarkan pengalaman dari masing-masing
individu. Pembelajaran dihasilkan dari upaya
pebelajar dan pembelajar tidak memberikan materi
pelajaran secara keseluruhan. Pikiran pebelajar tidak
berdasarkan realitas yang disediakan, tetapi lebih
banyak dikembangkannya sendiri karena pebelajar
telah memiliki ide dan pengalaman yang membentuk
struktur kognitif terhadap lingkungannya sendiri.
Untuk membantu pebelajar membina konsep atau
pengetahuan baru, pembelajar mengambil kaitan
struktur kognitif yang telah ada pada diri mereka. Jika
pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk
dijadikan sebagai pegangan kuat mereka, barulah
kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu
pengetahuan dapat dibina. Proses ini dinamakan
konstruktivistik.
Beberapa ahli konstruktivistik terkemuka,
berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu
bermula dengan pengetahuan atau pengalaman awal
para pebelajar. Pebelajar mempunyai ide sendiri
tentang hampir semua masalah, ada yang betul dan
juga ada yang salah. Jika pemahaman dan
miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan
baik, pemahaman atau kepercayaan mereka itu akan
tetap melekat pada diri pebelajar, walaupun mungkin
dalam pengecekan mereka tidak memberi jawaban
seperti apa yang dikehendaki pembelajar. Pembelajar
yang baik harus melaksanakan pembelajaran dan
pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina
pengalaman mereka
secara berkelanjutan atau
kontinyu dan selalu melibatkan diri di dalam setiap
aktivitas pembelajaran.
Dari persepektif epistemology, disarankan dalam
konstruktivistik
fungsi
pembelajar
berubah.
Perubahan akan berlaku dalam teknik pembelajaran,
penilaian, dan cara melaksanakan pembelajaran
kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan
mengubah kaidah pembelajaran yang bertumpu pada
keberhasilan pebelajar meniru dengan tepat apa saja
yang disampaikan oleh pembelajar kepada kaidah
pembelajaran yang bertumpu kepada keberhasilan
pebelajar membina skema konsep berdasarkan pada
pengalaman yang aktif. Pembelajar juga akan
mengubah model penyelidikan dan dasar pembinaan

III. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN


KONSTRUKTIVISTIK
Berikut ini akan dipaparkan karakteristik
pembelajaran konstruktivistik menurut beberapa
pakar. Selain berkaitan dengan kegiatan pembelajaran
secara praktis, juga dipaparkan karakteristik
pembelajaran konstruktivisitik dari sudut ilmu
pembelajaran,
Jonassen (1991), menyatakan bahwa banyak
pembelajar, teknologi pembelajaran dan psikolog
kognitif telah mengaplikasikan konstruktivistik dalam
usaha mengembangkan pembelajaran. Dari uraian
tersebut, ia mencatat
prinsip-prinsip desain
pembelajaran konstruktivisitik sebagai berikut: (1)
menciptakan
lingkungan
dunia-nyata
dengan
menggunakan masalah dunia yang relevan untuk
belajar; (2) berfokus pada pendekatan realistis untuk
memecahkan masalah dunia nyata; (3) pembelajaran
adalah membimbing dan menganalisis strategi yang
dipakai dalam memecahkan masalah; (4) menekankan
antar hubungan konseptual, menyediakan representasi
atau perspektif ganda tentang isi; (5) tujuan
pembelajaran harus dinegosiasikan dan tidak
dipaksakan; (6) evaluasi harus merupakan alat analisis
bagi diri sendiri; (7) menyediakan alat dan lingkungan
yang
membantu
pebelajar
di
dalam
menginterpretasikan perspektif ganda atas dunia; dan
(8) belajar harus dikontrol secara internal (oleh
pebelajar sendiri) dan dimediasi oleh pembelajar.
Selanjutnya
Wilson
dan
Cole
(1991),
memberikan deskripsi model belajar kognitif yang
mendorong menjadikan konsep konstruktivistik. Dari
deskripsi tersebut, kita dapat menunjukkan konsep
intinya guna mendesain dan merancang pembelajaran
konstruktivistik. Diskripsi yang dimaksudkan adalah:
(1) menjadikan belajar berada di dalam sebuah
lingkungan pemecahan masalah otentik yang kaya;
(2) menyediakan konteks otentik berhadapan dengan
akademik untuk kegiatan belajar; (3) memberikan
peluang kontrol ada pada pebelajar; dan (4)
menggunakan kesalahan sebagai mekanisme masukan
ke pemahaman pebelajar. Selain itu, untuk
mendukung pembelajaran konstruktivistik, diperlukan
adanya lingkungan yang sesuai.
Lebih lanjut Honebien (1996), mendeskripsikan 7
hal terkait dengan lingkungan belajar yang
mendukung pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1)
menyediakan pengalaman untuk proses konstruksi
pengetahuan; (2) menyediakan pengalaman dan
84

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

karakteristik sebagai berikut: (1) pebelajar tidak


dipandang sebagai sesuatu yang pasif tetapi memiliki
tujuan; (2) belajar mempertimbangkan seoptimal
mungkin proses keterlibatan pebelajar; (3)
pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar,
melainkan dikonstruksi secara personal; (4)
pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan,
melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas; dan
(5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan
seperangkat pembelajaran, materi dan sumber.
Pandangan tentang pebelajar dari kalangan
konstruktivistik yang lebih mutakhir dikembangkan
dari teori belajar kognitif. Ilmu pengetahuan dibangun
dalam pikiran seorang pebelajar dengan kegiatan
asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang
dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk
mengembangkan schemata. Pengertian tersebut
menunjuklkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas
yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern
pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau
lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah
laku.
Belajar lebih diarahkan pada experimental
learning, yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan
berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium,
diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian
dikontemplasikan
dan
dijadikan
ide
dan
pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi
dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada
pembelajar melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian
pembelajaran
konstruktivistik,
yaitu:
(1)
mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata
dalam konteks yang relevan; (2) mengutamakan
proses; (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks
pengalaman sosial, dan (4) pembelajaran dilakukan
dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.
Hakikat pembelajaran konstruktivistik secara
umum, pengetahuan adalah non-objective, bersifat
temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar
dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari
pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi
serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan
agar pebelajar termotivasi dalam menggali makna
serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini,
maka pebelajar akan memiliki pemahaman yang
berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada
pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam
menginterpretasikannya.
Dalam teori konsruktivistik, pebelajar harus
menemukan
sendiri
dan
mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturanaturan itu tidak sesuai. Bagi pebelajar, agar benarbenar memahami dan menerapkan pengetahuan,
mereka harus bekerja keras memecahkan masalah,
dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya. Lebih
lanjut dikatakan bahwa prinsip teori konsruktivistik,
bahwa pembelajar tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada pebelajar, pebelajar harus

apresiasi untuk menumbuhkan perspektif ganda atas


realitas; (3) menjadikan belajar dalam konteks yang
realistik dan relevan; (4) mendorong kepemilikan dan
ide-ide dalam proses belajar; (5) mendorong
penggunaan berbagai macam model representasi; (6)
memasukkan belajar pada pengalaman sosial; dan (7)
mendorong kesadaran diri dalam proses konstruksi
pengetahuan.
Konstruktivistik memiliki akar yang sangat kuat
dalam perjalanan dunia pembelajaran. Perkembangan
konstruktivistik dalam kegiatan pembelajaran tidak
terlepas dari usaha Jean Piaget dan Vygostky. Kedua
tokoh ini menekankan bahwa perubahan kognitif ke
arah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep
yang sebelumnya ada mulai tergeser karena adanya
informasi baru yang diterima melalui proses
ketidakseimbangan. Selain itu, Jean Piaget dan
Vygostky juga menekankan pada pentingnya
lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan
bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kelompok
akan dapat meningkatkan perubahan secara
konseptual.
IV. HAKIKAT PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK
Salah satu teori atau pandangan yang berkaitan
dengan teori belajar konstruktivistik adalah teori
perkembangan mental atau teori perkembangan
intelektual (teori perkembangan kognitif). Teori
belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan pebelajar
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap
perkembangan intelektual mulai dari lahir hingga
dewasa. Menurut Ruseeffendi (1988), setiap tahapan
perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi
dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu
pengetahuan. Misalnya pada tahap sensorik motorik.
Pebelajar berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
Pengetahuan tersebut dibangun pada pikiran pebelajar
melalui asimilasi dan akomodasi, asimilasi
merupakan
penyerapan informasi baru dalam
pikiran. Akomodasi adalah menyusun kembali
struktur pikiran karena adanya informasi baru atau
proses mental yang meliputi pembentukan skema baru
yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada agar sesuai
dengan rangsangan yang ada.
Pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, tetapi melalui suatu tindakan. Bahkan,
perkembangan kognitif pada pebelajar bergantung
pada mereka dalam aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan,
perkembangan kognitif sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang ketidakseimbangan dan
keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999:61). Dari
pandangan tentang tahap perkembangan kognitif,
dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu maupun
kemampuan pebelajar mengkonstruksi ilmu berbedabeda berdasarkan kematangan intelektualnya.
Berkaitan dengan pebelajar dan lingkungan
belajarnya. menurut pandangan konstruktivistik
Susan, Marilyn dan Tony (1995), mengusulkan
85

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya


pembelajar untuk membimbing pebelajar dalam
upayanya
mencapai
keberhasilan.
Dorongan
pembelajar sangat dibutuhkan agar pencapaian
pebelajar ke jenjang yang lebih tinggi menjadi
optimum.
Konstruktivistik Vygotsky memandang bahwa
pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar
individu dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh
setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan
melalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial
budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan
pengkonstruksian pengetahuan secara intra individu,
yaitu melalui proses regulasi diri internal. Dalam
hubungan ini, para konstruktivis Vygotsky lebih
menekankan pada penerapan teknik saling tukar
gagasan antar individu.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori
Vygotsky adalah: (1),
mengenai fungsi dan
pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang
dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign)
sampai kepada tukar menukar informasi dan
pengetahuan; dan (2) zona of proximal development.
Pembelajar sebagai
mediator memiliki peran
mendorong dan menjembatani pebelajar dalam
upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan
kompetensi.
Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia
berasal dari interaksi sosial masing-masing individu
dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa
pembelajaran terjadi saat pebelajar bekerja menangani
tugas-tugas yang belum dipelajari. Tugas-tugas
tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau
tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal
development mereka. Zona of proximal development
adalah daerah antar tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan
memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat
perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi jika
seseorang terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif
dalam percobaan-percobaan dan pengalaman.
Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.
Pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman
fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang
dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang
sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul
ketika pebelajar bekerja sama untuk mencapai tujuan
belajar yang diinginkan oleh pebelajar. Pengelolaan
kelas menurut cooperative learning bertujuan
membantu pebelajar untuk mengembangkan niat dan
kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pebelajar
yang lain.

membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.


Pembelajar dapat memberikan kemudahan untuk
proses ini, dengan memberikan kesempatan pebelajar
untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka
sendiri, dan pebelajar menjadi sadar dan secara sadar
menggunakan strategi yang dipunyai untuk belajar
secara mandiri. Pembelajar dapat memberi pebelajar
tangga yang dapat membawa pebelajar ke
pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan bahwa
pebelajar harus memanjat pebelajar tangga tersebut
sendiri.
V. ASPEK-ASPEK DALAM MENGGUBAH
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK
Beberapa aspek dalam teori konstruktivitik
adalah sebagai berikut: adaptasi, konsep pada
lingkungan, dan pembentukan makna. Dari ketiga
aspek tersebut oleh Jean Piaget bermakna, yaitu
adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua
proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana
seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang
sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi sebagai suatu
proses
kognitif
yang
menempatkan
dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru
dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini
berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan
perubahan atau pergantian skemata melainkan
perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu
proses individu dalam mengadaptasikan dan
mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru
pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau
pengalaman
baru
seseorang
tidak
dapat
mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan
skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru
itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema
yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan
mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk
membentuk skema baru yang cocok dengan
rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang
telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan
berjenjang ini oleh Vygotsky dalam Slavin (2000)
disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti
memberikan kepada seorang individu sejumlah besar
bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan
kemudian mengurangi bantuan tersebut dan
memberikan kesempatan kepada pebelajar tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar
segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan
yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk,
peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam
bentuk lain yang memungkinkan pebelajar dapat
mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori
pencapaian pebelajar dalam upayanya memecahkan
permasalahan, yaitu (1) pebelajar mencapai
keberhasilan dengan baik; (2) pebelajar mencapai
keberhasilan dengan bantuan; dan (3) pebelajar gagal

VI. MENGGUBAH KONSTRUKTIVISTIK DALAM


PENGELOLAAN KELAS
Pada kelas model pembelajaran konstruktivistik,
pembelajar sebagai guide bagi para pebelajar.
86

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengetahuan dibangun oleh pebelajar secara aktif,


Penekanan proses pembelajaran terletak pada
pebelajar,
Membelajarkan adalah membantu pebelajar
belajar,
Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses
dan bukan pada hasil belajar,
Kurikulum menekankan pada partisipasi pebelajar,
dan
Pembelajar adalah fasilitator.
Konstruktivistik ini digunakan oleh pembelajar
dalam kegiatan pembelajaran. Bentuk yang dapat
dilakukan diantaranya konsep pembelajaran
mandiri dan belajar kelompok. Pembelajar hanya
sebagai mediator, selanjutnya pebelajar secara
sendiri-sendiri maupun kelompok aktif untuk
memecahkan persoalan yang diberikan oleh
pembelajar, sehingga mereka dapat membangun
pengetahuan.

Pebelajar dimotivasi mengembangkan kemampuan


metakognitifnya, seperti berpikir reflektif, memiliki
teknik-teknik pemecahan masalah yang baik.
Pebelajar juga dibimbing untuk menjadi mandiri dan
mampu
menggeneralisasikan,
menemukan,
membangun,
dan
mengembangkan
kerangka
pengetahuannya. Brooks & Brooks (1993)
menyampaikan perbandingan atau perbedaan antara
kelas tradisional dan kontruktivistik, seperti
ditunjukkan tabel di bawah ini.
KELAS
TRADISIONAL
Pebelajar bekerja sendiri
Kurikulum disampaikan
dari bagian ke
keseluruhan, yang
menekankan pada
kemampuan dasar
Pembelajaran 100%
mengacu pada kurikulum
Pembelajaran text book
Pebelajar dipandang
sebagai kertas kosong
yang sepenuhnya harus
diisi tulisan oleh
pembelajar
Pembelajar bersikap
didaktik
Penilaian belajar
pebelajar dipisahkan dari
pembelajaran dan hampir
sepenuhnya melalui
serangkaian tes

KELAS
KONSTRUKTIVISTIK
Pebelajar bekerja dalam
kelompok
Kurikulum disampaikan dari
keseluruhan ke bagian, yang
menekankan pada konsep
utama
Pembelajaran berkembang
sesuai keadaan
Pembelajaran kontekstual

VII. MENGGUBAH RANCANGAN PEMBELAJARAN


KONSTRUKTIVISTIK

Pebelajar dipandang sebagai


pemikir yang mampu
mengembangkan pola pikir
sendiri

Pembelajaran dapat dirancang dengan model


pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:
Pertama, identifikasi prior knowledge dan
miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan
intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya
dijaring
untuk
mengetahui
kemungkinankemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang
menghinggapi struktur kognitif pebelajar. Identifikasi
ini dilakukan melalui tes awal dan interview.
Kedua, penyusunan program pembelajaran.
Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk
satuan pelajaran yang disusun setelah kegiatan
pembelajaran selesai dilaksanakan.
Ketiga, orientasi dan elisitasi. Situasi
pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan
sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal
pembelajaran untuk membangkitkan minat pebelajar
terhadap topik yang akan dibahas.
Keempat, refleksi. Berbagai macam gagasangagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada
tahap orientasi dan elisitasi direfleksikan dengan
miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal.
Miskonsepsi ini diklasifikasikan berdasar tingkat
kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan
merestrukturisasikannya.
Kelima, restrukturisasi ide. Terdiri dari: (a)
Tantangan, pebelajar diberikan pertanyaan-pertanyaan
tentang gejala-gejala yang kemudian dapat
diperagakan atau diselidiki dalam praktikum.
Pebelajar diminta untuk meramalkan hasil percobaan
dan memberikan alasan untuk
mendukung
ramalannya itu; (b) Konflik kognitif dan diskusi
kelas; dan (c) Membangun ulang kerangka
konseptual.
Keenam, aplikasi. Menyakinkan pebelajar akan
manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi
menuju konsepsi ilmiah.

Pembelajar bersikap interaktif


Penilaian pebelajaran dilakukan
sambil berjalan seiring dengan
kegiatan pembelajaran melalui
pengamatan, unjuk kerja dan
portofolio

Terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan


dalam pengelolaan kelas, yaitu: pengelompokan,
semangat kooperatif dan penataan kelas.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita
mengambil
simpulan
bahwa
pembelajaran
konstruktivistik dapat dibagi tiga, yaitu: zone of
proximal development, cognitive apprenticeship, dan
scaffolding.
Zone of proximal development atau zona
perkembangan terdekat adalah ide bahwa
pebelajar belajar konsep paling baik jika konsep
itu berada dalam zona perkembangan terdekat
mereka.
Cognitive apprenticeship, konsep lain yang
diturunkan dari teori Vygotsky menekankan pada
dua-duanya hakikat sosial dari belajar dan zona
perkembangan terdekat adalah pemagangan
kognitif.
Scaffolding atau mediated learning, menekankan
bahwa scaffolding atau mediated learning atau
dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan
pemecahan masalah
Prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivistik
telah banyak digunakan dalam pembelajaran sains dan
matematika. Prinsip yang sering digunakan dari
konstruktivistik antara lain:
87

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Jigsaw
Pada model pembelajaran ini, pebelajar dibagi
menjadi enam kelompok, mereka mempelajari materi
yang telah dirinci menjadi beberapa bagian. Seperti
pada saat pebelajar sedang belajar tentang sistim
pernafasan. Maka, masing-masing kelompok belajar
materi yang berbeda, ada yang belajar tentang hidung,
paru-paru dan lain sebagainya.
Beberapa model lain seperti group investigation,
coopeative scripting, prinsipnya juga tidak terlalu
berbeda, yakni menekankan model pembelajaran yang
melibatkkan kerjasama individu maupun kelompok.
Selain itu, beberapa model lain menurut Slavin
mengakar pada model pembelajaran konstruktivistik
adalah: learning together, group investigation dan
cooperative scripting. Ketiga model pemelajaran
tersebut pada prinsipnya sama dengan ke tiga model
yang sudah disebutkan di atas. Prinsipnya
mengedepankan kerja dalam tim, menemukan
pemahaman secara komprehensif setelah bekeja
dalam kelompok.

Ketujuh, review. Dilakukan untuk meninjau


keberhasilan strategi pembelajaran yang telah
berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi
yang muncul pada awal pembelajaran.
VIII. MENGGUBAH STRATEGI PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Slavin (2000 : 257) membagi strategi belajar,
antara lain adalah sebagai berikut :
Top down processing, pebelajar belajar dimulai
dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan,
kemudian
menghasilkan
atau
menemukan
keterampilan yang dibutuhkan,
Cooperative learning, pebelajar akan lebih
mudah menemukan pemahaman secara komprehensif
jika mendiskusikan dengan pebelajar yang lain, dan
Discovery learning, pebelajar dimotivasi untuk
belajar mandiri dengan diberikan konsep-konsep atau
prinsip-prinsip tertentu. Pembelajar memotivasi
pebelajar untuk memiliki pengalaman dan
melaksanakan percobaan-percobaan, sehingga mereka
menemukan prinsip-prinsip tersebut secara mandiri.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam kegiatan kegiatan
ini adalah :
Memberikan pertanyaan-pertanyaan pembuka
(leading questions),
Menggunakan materi dan permainan-permainan
yang bervariasi,
Membiarkan pebelajar puas dengan rasa ingin
tahunya masing-masing terlebih dahulu, meskipun
belum sesuai dengan isi materi yang disampaikan, dan
Menggunakan banyak ragam contoh yang
bertolak belakang dengan materi yang disampaikan.

X. KRITIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN


KONSTRUKTIVISTIK
Tidak ada model pembelajaran yang paling
sempurna dan dapat diimplementasikan pada setiap
situasi dan kondisi. Banyak faktor pendukung
diperlukan untuk dapat melaksanakan kegiatan
pembelajaran yang ideal. Selain itu, kondisi sosial
budaya para pebelajar juga sangat heterogen.
Mereka memerlukan bimbingan dan arahan untuk
mencapai kondisi belajar yang ideal. Model
pembelajaran
konstruktivistik
adalah
model
pembelajaran yang tidak terstruktur. Salah satu
konsep
pembelajaran
konstruktivistik
juga
mengimplementasikan learning by doing, padahal
learning by doing lebih tepat diimplementasikan pada
pebelajar yang sudah memiliki pengetahuan lebih.
Model pembelajaran konstruktivistik ini tidak begitu
banyak berguna bagi pebelajar pemula karena mereka
masih memerlukan bimbingan dan arahan untuk dapat
mengembangkan potensi diri mereka secara
maksimal.

IX. MENGGUBAH MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


KONSTRUKTIVISTIK
Prinsip dasar pembelajaran konstruktivistik
adalah belajar bersama atau cooperative learning,
yaitu pembelajaran yang menekankan pada
pentingnya kerja kelompok. Beberapa model
cooperative learning adalah sebagai berikut:
Student teams achievement divisions (STAD)
Dalam model pembelajaran ini, pebelajar
dikelompokkan menjadi empat kelompok belajar
yang merupakan kombinasi tingkatan, jenis kelamin
dan etnik. Pembelajar memberikan pelajaran,
sementara pebelajar bekerja dalam kelompok,
kemudian masing-masing mereka mengambil quis
secara individu yang harus mereka kerjakan sendirisendiri.

XI. PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, maka untuk
mengatasi beraneka ragam persoalan dalam
pembelajaran yang semakin rumit, khususnya teori
pembelajaran behavioristik yang telah digunakan
selama bertahun-tahun, tampaknya tidak sepenuhnya
mampu
lagi
menjawab
semua
persoalan
pembelajaran. Maka alternatifnya adalah pendekatan
konstruktivistik seperti yang telah diuraikan di atas.
Karena pendekatan ini menghargai perbedaan,
keunikan invidu, keberagaman dalam menerima dan
memaknai pengetahuan.

Cooperative integrated reading and composition


(CIRC)
Model ini lebih dikhususkan dalam pembelajaran
membaca dan menulis pada tingkatan dasar ke atas.
Pebelajar bekerja dalam 4 kelompok, mereka
melakukan serangkaian kegiatan, termasuk membaca
satu sama lain, membuat prediksi, menyimpulkan
cerita, menulis respon atas cerita, dan lain sebagainya.
88

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Baharuddin, Wahyuni Esa Nur, 2007. Teori belajar dan
pembelajaran. Ar Ruzz Media, Yogjakarta.
[2]. Degeng, I Nyoman Sudana, 1998. Teori pembelajaran.
Universitas Terbuka, Jakarta.
[3]. Poedjiadi, A. 1999. Pengantar filsafat ilmu bagi pembelajar.
Yayasan Cendrawasih, Bandung.
[4]. Ruseffendi, E.T. 1988. Pengantar kepada membantu
pembelajar mengembangkan kompetensinya dalam
pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Tarsito,
Bandung.
[5]. Slavin, Robert E, 2000, Educational psychology, theory and
practice, 6th. A pearson Ecucation Company, United States of
America.
[6]. Susan, C., Marilyn, L. dan Tony, T. 1995. Learning to teach in
the secondary school. Routledge, London.

89

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengaruh Pembelajaran Active Knowledge Sharing terhadap


Hasil Belajar Siswa pada Standar Kompetensi Memahami
Sifat Dasar Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya
Adi Sunaryo1, Rr. Hapsari Peni2
1

Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail: adisunaryo890@gmail.com


Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail: hapsari_peni@yahoo.co.uk

itu proses pembelajaran tidak lain adalah kegiatan


belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran tentu saja akan
dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif
untuk mencapainya. Untuk mendapatkan hasil belajar
yang maksimal, keaktivan siswa dalam belajar sangat
diperlukan, karena jika anak didik pasif, atau hanya
berperan sebagai penerima dari guru atau pengajar,
ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang
telah diberikan dalam pembelajaran.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama Praktek
Pengalaman Lapangan (PPL) II tahun 2011
pembelajaran yang dilakukan di SMK Negeri 2
Surabaya
masih
menggunakan
pembelajaran
langsung, diskusi dan latihan soal dimana siswa masih
menggunakan buku LKS untuk membantu siswa
dalam proses pembelajaran, hal ini cenderung
menimbulkan kebosanan siswa dalam menerima
pelajaran, selain itu hasil belajar siswa cenderung
kurang memuaskan. Hal ini dikuatkan juga oleh
pendapat guru dan siswa SMK Negeri 2 Surabaya.
Guru menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran
menggunakan pembelajaran langsung, diskusi dan
latihan soal. Selain itu sebagai alat bantu siswa dalam
menerima materi siswa diberikan LKS. Sedangkan
siswa menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran
terjadi kebosanan yang disebabkan pembelajaran
kurang variatif (catatan penulis, 2011). Sebagai
upaya dalam meningkatkan minat belajar dan hasil
belajar siswa, maka diperlukan lingkungan
pembelajaran yang lebih optimal dari berbagai aspek
pembelajaran
terutama
model
pembelajaran,
mengingat hasil belajar yang dicapai siswa tidak
hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan guru
terhadap materi pelajaran yang diajarkan, tetapi juga
metode pembelajaran yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
Metode Active Knowledge Sharing merupakan
bagian dari active learning yaitu suatu strategi
pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar
secara aktif menggunakan otak, baik untuk
menemukan ide pokok dari materi, memecahkan
masalah atau mengkorelasikan apa yang mereka
pelajari ke dalam masalah dikehidupan mereka.
Dengan belajar aktif siswa diajak turut serta dalam
semua proses pembelajaran, baik mental maupun
fisik. Dengan demikian mereka akan menemukan

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui


pengaruh pembelajaran active knowledge sharing
terhadap hasil belajar siswa lebih tinggi dibandingkan
dengan model pembelajaran langsung dan mengetahui
keterlaksanakan model pembelajaran active knowledge
sharing pada standar kompetensi memahami sifat dasar
sinyal audio

Metode penelitian yang digunakan adalah quasi


experiment dengan rancangan penelitian yang
digunakan yaitu Nonequivalen Control Design.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TAV
SMK Negeri 2 Surabaya. Di ambil sampel sebanyak 2
kelas dengan kelas X TAV-1 sebagai kelas eksperimen
dan X TAV-2 sebagai kelas kontrol. Sedangkan untuk
mengetahui perbedaan hasil belajarnya digunakan
teknik analisis data uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji-t
pretest kelas eksperiment dan kontrol tidak ada
perbedaan. Sedangkan hasil uji-t posttest kelas
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas
kontrol sehingga pengaruh pembelajaran active
knowledge sharing lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran langsung. Dalam pelaksanaan proses
keterlaksanaan pembelajaran Active Knowledge Sharing
di SMKN 2 Surabaya peneliti menemukan beberapa
kendala diantaranya; sulit mengkondisikan siswa,
dikarenakan
siswa
belum
mengerti
tentang
pembelajaran Active Knowledge Sharing. Setelah
dilakukan beberapa pertemuan dengan menggunakan
pembelajaran Active Knowledge Sharing siswa mulai
terangsang dalam melakukan aktifitas belajar individu
atau kelompok pada pembelajaran serta menumbuhkan
sikap sosial, dan solidaritas dan sistem belajar yang
komunikatif.
Hal
ini
menunjukkan
bahwa
pembelajaran aktif active knowledge sharing dapat
digunakan pada proses kegiatan belajar mengajar di
SMK Negeri 2 Surabaya.
Kata kunci: Pembelajaran Active Knowledge Sharing,
Pembelajaran Langsung, Hasil Uji-t Pretest
dan Posttest Siswa.

I. PENDAHULUAN
Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh
kinerja dari proses pembelajaran, yang berarti bahwa
berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
bergantung pada bagaimana proses belajar yang
dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam
kegiatan belajar mengajar siswa adalah sebagai subjek
dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena
91

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Penelitian dan pengembangan ini diharapkan


bermanfaat :
1. Bagi Peneliti
a. Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya
ilmu pengetahuan pembelajaran di SMK
khususnya
dalam
keterlaksanaan
pembelajaran Active Knowledge Sharing
untuk meningkatkan kerja sama antar siswa
dan hasil belajar.
b. Penelitian ini sebagai jalan untuk
menyelesaikan tugas skripsi yang merupakan
salah satu syarat untuk kelulusan dalam
menempuh pendidikan di Universitas Negeri
Surabaya.
2 Bagi pengajar
a. Membantu guru dalam menyampaikan
materi khususnya standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio.
b. Memberi masukan kepada guru untuk
meningkatkan kreativitas dan mendorong
dalam meningkatkan kinerja guru.
c. Menambah
kemampuan
guru
untuk
melaksanakan pembelajaran yang inovatif,
efektif dan menyenangkan.
3 Bagi siswa
a. Dengan diterapkan pembelajaran Active
Knowledge Sharing, siswa diharapkan
mampu mencapai tujuan pembelajaran
dengan hasil belajar yang memuaskan.
b. Memberikan kesempatan dan kebebasan
kepada siswa untuk belajar bersama sehingga
memudahkan siswa meningkatkan kerjasama
dengan
teman
sekelasnya
untuk
meningkatkan hasil belajar.
Agar penelitian ini dapat diketahui arahnya,
maka peneliti perlu memberikan batasan-batasan
masalah sebagai berikut :
1. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X TAV
di SMK Negeri 2 Surabaya.
2. Materi yang disampaikan hanya pada standar
kompetensi memahami sifat dasar sinyal audio
pada kompetensi dasar :
a. Memahami elemen gelombang, jenis-jenis
dan interaksi gelombang
b. Memahami sifat dan kegunaan penguat
c. Menjelaskan attenuasi gelombang
3. Hasil belajar siswa yang digunakan hanya pada
ranah kognitif.

suasana yang menyenangkan sehingga keberhasilan


pembelajaran diharapkan dapat lebih maksimal.
Namun dalam proses belajar mengajar tidak
cukup hanya menguasai strategi pengorganisasian isi
atau penyampaian pembelajaran saja, tetapi guru juga
harus mampu menguasai dan menerapkan strategi
pengelolaan
pembelajaran.
Selama
proses
pembelajaran,
guru
diharapkan
mampu
menumbuhkan, menjaga atau mempertahankan, dan
meningkatkan motivasi belajar siswa. Tanpa adanya
motivasi belajar siswa yang tinggi, maka guru akan
sulit untuk mencapai hasil pembelajaran yang
optimal.
Beberapa permasalahan dilapangan peneliti
menanggulangi kemungkinan kendala tersebut dengan
beberapa persiapan untuk menunjang keberhasilan
pembelajaran,
seperti
menyusun
perangkat
pembelajaran yang terdiri dari : (1) rencana
pelaksanaan pembelajaran, (2) modul, (3) tes evaluasi
pembelajaran. Untuk memperoleh perhatian kelas
peneliti berusaha mengkodisikan kelas dengan
pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
Bedasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan
penelitian dengan judul Pengaruh Pembelajaran
Active Knowledge Sharing (Saling Tukar
Pengetahuan) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Standar Kompetensi Memahami Sifat Dasar
Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya, yang
mana diharapkan sebagai bahan masalah dan bahan
pertimbangan
bagi
guru-guru SMK
untuk
mengembangkan pola pembelajaran yang lebih efektif
digunakan dalam proses pembelajaran.
Mengacu pada pembatasan masalah yang telah
peneliti kemukakan di atas, maka masalah yang akan
diteliti adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengaruh pembelajaran Active Knowledge
Sharing terhadap hasil belajar siswa lebih tinggi
dibandingkan dengan model pembelajaran
langsung pada standar kompetensi memahami sifat
dasar sinyal audio di kelas X TAV SMKN 2
Surabaya?
2. Bagaimanakah
keterlaksanaan
pembelajaran
Active Knowledge Sharing pada standar
kompetensi memahami sifat dasar sinyal audio di
kelas X TAV SMKN 2 Surabaya?
Mengacu pada rumusan masalah diatas maka
tujuan yang di harapkan peneliti dari mengadakan
peneliatian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Active
Knowledge Sharing terhadap hasil belajar siswa
dibandingkan dengan model pembelajaran
langsung pada standar kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio di kelas X TAV SMK
Negeri 2 Surabaya.

II. METODE PENELITIAN


Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen
yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
siswa pada Standar Kompetensi Memahami Sifat
Dasar Sinyal Audio. Penelitian ini merupakan suatu
penelitian Quasi Experimental Design. (Sugiyono,
2011:77)
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 2
Surabaya dan waktu penelitian pada semester genap
2012/2013.

2. Untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran


Active Knowledge Sharing pada standar
kompetensi memahami sifat dasar sinyal audio di
kelas X TAV SMKN 2 Surabaya.
92

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Dalam penelitian ini sebagai populasinya adalah


siswa SMK yang belajar standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio.
Sampel penelitian yang diambil adalah 2 kelas,
yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol pada
program keahlian teknik audio video sebanyak 2 kelas
yaitu kelas X TAV-1 dan X TAV-2.
Dalam penelitian ini rancangan penelitian yang
digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan
menggunakan bentuk Nonequivalent Control Group
Design. Desain ini hampir sama dengan pretestposttest control group design, hanya saja pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol
tidak dipilih secara random. Paradigma penelitiannya
dapat digambarkan sebagai berikut :
KELAS
ESKPERIMEN
KONTROL

3. Hasil Rating (HR).


Setelah melakukan penjumlahan jawaban nilai
aspek media, langkah berikutnya adalah
menentukan hasil rating dengan rumus dapat
dilihat pada persamaan berikut :
4

HR =

x i

n x imax

x100%

1) Merumuskan hipotesis
2) Menentukan taraf signifikan = 0,05
3) Uji statistik
Untuk menguji homogenitas digunakan
rumus:

Tabel 3.5 Ukuran Penilaian Kualitatif


Interpretasi
76 100 %
51 75 %
26 50 %
0 25 %

1. Pretest dan Postest


Pada penelitian ini digunakan uji normalitas
dan uji homogenitas sampel berdasarkan nilai pretest yang terdapat dalam lampiran 3, pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Untuk analisis data
penelitian, peneliti menggunakan beberapa uji
antara lain:
a. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan terhadap skor pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol.Uji
yang digunakan yaitu uji chi kuadrat.
Langkah-langkah dalam uji normalitas:
1) Merumuskan hipotesis
2) Menentukan taraf signifikan = 0,05
3) Menentukan daftar distribusi frekuensi
untuk setiap kelompok data.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas varians digunakan untuk
mengetahui apakah varians sampel-sampel
yang diambil homogen (sama). Uji
homogenitas
dilakukan
pada
skor
pretest.Langkah-langkah
yang
dilakukan
adalah:

POLA
O1 x O2
O3
O4

Pada penelitian ini, instrumen penelitian


meliputi:1) Lembar validasi perangkat pembelajaran,
dan 2) Tes hasil belajar. Data yang diperoleh dalam
penelitian ini dikumpulkan dengan cara memberikan
lembar validasi kepada para ahli sebagai serta tes
hasil belajar kepada siswa yang terdiri dari pretest dan
posttest
Dari
hasil
lembar
validasi
perangkat
pembelajaran dapat diketahui kelayakan media
pembelajaran yang telah dibuat. Untuk menganalisis
jawaban validator dan respon siswa digunakan
statistik deskriptif hasil rating yang diuraikan sebagai
berikut:
1. Penentuan ukuran penilaian beserta bobot
nilainya. Adapun penentuannya adalah :

Butir Soal
Sangat baik
Baik
Kurang baik
Tidak baik

i 0

Sesuai dengan instrumen penelitian maka hasil


belajar siswa diukur dengan melakukan pretest dan
postest. Hasil tes evaluasi yang diperoleh dianalisis
menggunakan uji-t. Data diperoleh dari penelitian di
kelas X TKJ 1 (kontrol) dan X TKJ2 (eksperimen)
SMKN 3 Buduran Sidoarjo .

Dimana :
O1 = Kemampuan awal siswa sebelum diberi materi
O2 = Kemampuan siswa setelah diberi perlakuan dan
materi
O3 = Kemampuan awal siswa sebelum diberi materi
O4 = Kemampuan siswa setelah diberi materi
x = Perlakuan/penerapan metode Active Knowledge
Sharing

Validasi Media
Sangat baik
Baik
Kurang baik
Tidak baik

Bobot nilai
4
3
2
1

Fhitung =
c. Uji Hipotesis
Sudjana (2005: 238) menjabarkan langkahlangkah dan rumus-rumus pengujian kesamaan
rata-rata sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis
b. Menentukan taraf signifikan yang akan
digunakan. Untuk penelitian ini digunakan
taraf 5%.
c. Uji statistika
Untuk uji statistika ini menggunakan uji-t,
berikut ini rumus uji-t yang digunakan :

(Riduwan, 2009:85)
2. Menentukan jumlah nilai tertinggi aspek media
Penentuannya adalah banyaknya validator/
responden kali bobot nilai tertinggi pada penilaian
kuantitatif kali banyaknya indikator penilaian
Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:
Jumlah Nilai Tertinggi Aspek Media = n x imax
Dimana : n = banyaknya validator/responden.
imax= bobot nilai tertinggi penilaian
kualitatif

93

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
(

dengan

Perhitungan untuk mengetahui tingkat prestasi


awal belajar siswa menggunakan perhitungan uji-t
dengan SPSS versi 15 adalah sebagai berikut:
1) Uji Normalitas

x x
t 1 2
1 1
s

n1 n2

Dimana :
t : uji t
x1 : mean kelompok eksperimen

Tabel 4.6 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


N
Normal Parametersa

x2 : mean kelompok kontrol


2

s
s12
s22
n1
n2

: simpangan baku
: varians nilai kelompok kontrol
: varians nilai kelompok eksperimen
: banyaknya sampel kelompok kontrol
: banyaknya sampel kelompok eksperimen

Most Extreme Differences

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

eksperimen
30
38.8000
6.99951
.254
.254
-.146
1.389
.042

kontrol
30
40.2667
7.83860
.186
.150
-.186
1.021
.248

Dari hasil tabel dapat disimpulkan bahwa data


nilai pretest berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji KolmogolovSmirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai
0,042 dan kelas kontrol yang bernilai 0,248 lebih
besar dari = 0,05. Dengan hipoetesis yaitu :
H0 = sampel berdistribusi normal
H1 = sampel berdistribusi tidak normal
2) Sehingga H0 yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H1 yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal
ditolak Uji Homogenitas pada Nilai Pretest
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah kedua sampel memiliki varian yang sama.
Pada penelitian ini penulis menggunakan uji
Levene Statistic (menggunakan software SPSS
versi 15.0) yang ditunjukkan pada Tabel seperti
berikut:

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Penelitian
1. Penyajian Data Hasil Validasi Buku Ajar

Gambar 4.1 Hasil Data Validasi Buku Ajar

2. Penyajian Data Hasil Validasi RPP

Tabel 4.7 Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Eksperimen


Levene Statistic
2.362

df1
3

df2
22

Sig.
.099

Tabel 4.8 Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Kontrol


Levene Statistic
2.091

df1
6

df2
21

Sig.
.098

Nilai signifikansi < 0,05 maka varian tidak


homogen
Nilai signifikansi > 0,05 maka varian homogen
Dari uji homogenitas di atas diperoleh
signifikansi kelas eksperimen adalah 0,098 dan
kontrol adalah 0,99 dengan demikian sampel
dalam penelitian ini adalah homogen dengan taraf
signifikan 0,05. Dengan hipotesis yaitu :
H0 = sampel homogen
H1 = sampel tidak homogen
Maka H0 yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H1 yang
menyatakan bahwa sampel tidak homogen,
ditolak.
3) Uji Hipotesis pada Nilai Pretest
Hasil pretest dalam penelitian ini digunakan
untuk mengetahui kemampuan akademik awal

Gambar 4.2 Hasil Data Validasi RPP

3. Penyajian Data Hasil Validasi Butir Soal

Gambar 4.3 Hasil Data Validasi Butir Soal

4. Penyajian Data Hasil Belajar Belajar Siswa


a. Analisis Pretest
94

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

kontrol, maka dapat disimpulakan bahwa nilai


pretest kelas kontrol dengan menerapkan
pembelajaran langsung adalah sebesar 40,27, dan
rata-rata nilai pretest kelas eksperimen dengan
menggunakan pembelajaran Active Knowledge
Sharing adalah sebesar 38,80.
b. Analisis Posttest
Sebagaimana ketentuan yang telah ada, untuk
melakukan
analisis
statistika
parametrik
diperlukan beberapa syarat.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
1) Uji Normalitas pada Nilai Posttest

siswa dalam standar kompetensi menjelaskan


dasar-dasar sinyal video pada masing-masing
kelompok, baik kelompok kelas eksperimen
maupun kelompok kelas kontrol. Setelah
terpenuhinya syarat-syarat pengujian statistika
parametrik, maka berikut ini hasil perhitungan
menggunakan data pretest kelas XI TAV 1 dan
kelas XI TAV 2 SMK Negeri 2 Surabaya.
Rumus untuk melakukan pengujian hipotesis
yang telah diajukan adalah menggunakan uji-t,
seperti yang telah dibahas pada sub teknik analisis
data
Tabel 4.9. Perhitungan Hasil Pretest

Tabel 4.11 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Group Statistik
Kelas
Nilai

kontrol
eksperimen

Mean

30
30

40.2667
38.8000

Std.
Deviation
7.83860
6.99951

N
Normal Parametersa

Std.
Error
Mean
1.43113
1.27793

Most Extreme Differences

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

Dari
data
perhitungan hasil
pretest
(menggunakan software SPSS versi 15.0)
diperoleh hasil sebagai berikut:
Rata-rata kelas X TAV 2 (kontrol)
Rata-rata kelas X TAV 1 (eksperimen): 40.27
S1 (kontrol)
: 6.999 : S12= 48.986
S2 (eksperimen)
: 7.838 : S22= 61.434
n
: 30
Jenis data pada penelitian ini adalah 2 sampel
independen yaitu kelas Kontrol dan kelas
eksperimen. Dengan mengacu pada hasil uji
normalitas dan uji homogenitas dengan
menggunakan program SPSS yang menunjukkan
bahwa data normal dan homogen maka
selanjutnya dilakukan analisis uji-t (Independent
Samples Test) dan hasilnya dapat dilihat pada
Tabel 4.10.

eksperimen
30
80,0667
4,97014
,173
,113
-,173
,947
,331

kontrol
30
76,5000
5,59402
,138
,096
-,138
,754
,621

Dari hasil Tabel 4.11 dapat disimpulkan bahwa data


: 38.80
nilai posttest
berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji KolmogolovSmirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0,331
dan kelas kontrol yang bernilai 0,621 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipoetesis yaitu :
H0 = sampel berdistribusi normal
H1 = sampel berdistribusi tidak normal
Sehingga H0 yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H1 yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
2) Uji Homogenitas pada Nilai Postest
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah kedua sampel memiliki varian yang sama.
Pada penelitian ini penulis menggunakan uji
Levene Statistic (menggunakan software SPSS
versi 15.0) yang ditunjukkan pada Tabel seperti
berikut:

Tabel 4.10. Perhitungan Uji-t Hasil Pretest

Tabel 4.12 Perhitungan Uji Homogenitas Eksperimen


Levene Statistic
1,771

df1
6

df2
21

Sig.
,154

Tabel 4.13 Perhitungan Uji Homogenitas Kontrol


Levene Statistic
1,322

Berdasarkan hasil analisis nilai pretest dengan


menggunakan teknik uji-t seperti pada tabel 4.10,
diperoleh nilai thitung sebesar 0,765 dengan taraf
signifikansi sebesar 1,000. Sedangkan diketahui
nilai ttabel sebesar 1,67 dengan taraf signifikansi
sebesar 0,05. Hasil perhitungan uji-t dengan
menggunakan software SPSS versi 15 diperoleh
thitung (0,765) lebih kecil daripada hasil ttabel
(1,671).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0
diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan
antara rata-rata hasil belajar siswa kelas
eksperimen dengan rata-rata hasil belajar kelas

df1
7

df2
22

Sig.
,287

Kriteria untuk uji homogenitas adalah:


Nilai signifikansi < 0,05 maka varian tidak
homogen
Nilai signifikansi > 0,05 maka varian homogen
Dari uji homogenitas di atas diperoleh
signifikansi kelas eksperimen adalah 0,287 dan
kontrol adalah 0,154 dengan demikian sampel
dalam penelitian ini adalah homogen dengan taraf
signifikan 0,05. Dengan hipotesis yaitu
H0 = sampel homogen
95

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

belajar antara siswa yang pembelajaran Active


Knowledge Sharing lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang menggunakan pembelajaran
langsung diterima. Sehingga prioritas H0 ditolak
dan H1 diterima. Ttest menunjukkan nilai positif,
maka ada perbedaan yang signifikan antara hasil
belajar siswa yang diajarkan pembelajaran Active
Knowledge Sharing dengan hasil belajar siswa
yang diajarkan menggunakan pembelajaran
langsung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
rata-rata nilai posttest kelas kontrol dengan
menerapkan pembelajaran langsung adalah
sebesar 76,5 dan rata-rata nilai posttest kelas
eksperimen dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing adalah sebesar 80,07.

H1 = sampel tidak homogen


Maka H0 yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H1 yang
menyatakan bahwa sampel tidak homogen,
ditolak.
3) Uji Hipotesis pada Nilai Posttest
Setelah terpenuhinya syarat-syarat pengujian
statistika parametrik, maka berikut ini hasil
perhitungan menggunakan data posttest kelas X
TAV 1 dan kelas X TAV 2 SMK Negeri 2
Surabaya.
Tabel 4.14 Perhitungan Hasil Posttest
Kelas
nilai

Eksperimen
Kontrol

Mean

30
30

80,0667
76,5000

Std.
Std. Error
Deviation
Mean
4,97014
,90742
5,59402
1,02132

3.1 Pembahasan

Dari data perhitungan hasil posttest


(menggunakan software SPSS versi 15.0)
diperoleh hasil sebagai berikut:
Rata-rata kelas X TAV 1 (eksperimen) : 80.07
Rata-rata kelas X TAV 2 (kontrol) : 76.5
S1 (eksperimen)
: 4.970; S12= 24,7
S2 (kontrol)
: 5.594; S22= 31,29
n
: 30
Jenis data pada penelitian ini adalah 2 sampel
independen yaitu kelas kontrol dan kelas
eksperimen. Dengan mengacu pada hasil uji
normalitas dan uji homogenitas dengan
menggunakan program SPSS yang menunjukkan
bahwa data normal dan homogen maka hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 4.15

3.1.1 Validasi Instrumen


1. Penyajian dan Pembahasan Hasil Validasi Buku
Ajar
Hasil validasi oleh para validator terhadap
buku ajar pada Standar Kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio. Adapun aspek penilaian
ini yang terdiri dari: 1) Aspek Cover, 2) Aspek
Ilustrasi, 3) Aspek Bahasa, dan 4) Aspek Isi
Materi.
a. Hasil validasi buku ajar yang di lihat dari
beberapa aspek dengan rincian: 1) Aspek
Cover 86,3%, 2) Aspek Ilustrasi 77,1%, 3)
Aspek Bahasa 76,25%, dan 4) Aspek Isi
Materi 81,7%. Hasil keseluruhan buku ajar
yang dirancang untuk standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio dinyatakan
baik dengan hasil rating sebesar 80,33%.
b. Hasil
validasi
rencana
pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang di lihat dari
beberapa aspek dengan rincian: 1) Aspek
Cover 78,75%, 2) Aspek Ilustrasi 79,2%, 3)
Aspek Bahasa 76,25%, dan 4) Aspek Isi
Materi 79,5%%. Hasil keseluruhan RPP yang
dirancang
untuk
standar
kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio dinyatakan
baik dengan hasil rating sebesar 78,35%.
c. Hasil validasi butir soal yang dilihat dari
beberapa aspek dengan rincian: 1) Aspek
Materi78,1%, 2) Aspek Konstruksi 76,1%, dan
3) Aspek Bahasa 75%. Hasil keseluruhan
validasi butir soal yang dirancang untuk
standar kompetensi memahami sifat dasar
sinyal audio dinyatakan baik dengan hasil
rating sebesar. 76,4%.

Tabel 4.15 Hasil Perhitungan Uji t

Independent Samples Test

Berdasarkan hasil SPSS, dapat diketahui


bahwa nilai t sebesar 2.611dengan nilai
signifikansi sebesar 0,456, maka 0,456> 0,05 yang
berarti dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang
artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara
kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai ratarata kelas eksperimen adalah 80.07, sedangkan
nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 76.5. Sehingga
didapat 80.07>76.5 dan dapat disimpulkan bahwa
H0 yang menyatakan hasil belajar antara siswa
yang
menggunakan
pembelajaran
Active
Knowledge Sharing lebih rendah dibandingkan
dengan siswa yang menggunakan pembelajaran
langsung ditolak dan H1 yang menyatakan hasil

3.1.2 Uji Hipotesis


1. Pembahasan Data Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat
dilihat bahwa nilai rata rata pretest kelas kontrol
dengan menerapkan pembelajaran langsung
adalah sebesar 40,27, dan rata-rata nilai pretest
kelas
eksperimen
dengan
menggunakan
96

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Active Knowledge Sharing siswa mulai terangsang


dalam melakukan aktifitas belajar individu atau
kelompok pada pembelajaran serta menumbuhkan
sikap sosial, dan solidaritas dan sistem belajar
yang komunikatif.

pembelajaran Active Knowledge Sharing adalah


sebesar 38,80. Sedangkan rata-rata nilai posttest
kelas kontrol dengan menerapkan pembelajaran
langsung adalah sebesar 76,5 dan rata-rata nilai
posttest kelas eksperimen dengan menggunakan
pembelajaran Active Knowledge Sharing adalah
sebesar 80,07.
2. Keterlaksanaan pembelajaran Active Knowledge
Sharing
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Active Knowledge Sharing di SMKN 2 Surabaya
peneliti
menemukan
beberapa
kendala
diantaranya;
sulit
mengkondisikan
siswa,
dikarenakan siswa belum mengerti tentang
pembelajaran
Active
Knowledge
Sharing.
Sebagian besar pengetahuan siswa masih minim
sehingga sering dalam proses sharing kadang
berjalan pasif. Setelah dilakukan beberapa
pertemuan dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing siswa mulai terangsang
dalam melakukan aktifitas belajar individu atau
kelompok pada pembelajaran serta menumbuhkan
sikap sosial, dan solidaritas dan sistem belajar
yang komunikatif.
Berdasarkan pelaksanaan proses pembelajaran
Active Knowledge Sharing hasil belajar siswa
meningkat 41,27% dari hasil penilaian pretest dan
posttest. Pembelajaran Active Knowledge Sharing
sangat berguna untuk mengembangkan potensi
yang dimiliki siswa karena dapat meningkatkan
solidaritas dan kerja sama dalam menyelesaikan
permasalahan yang ada. Wawasan akan suatu
pengetahuan dapat lebih luas karena dapat dari
berbagai sumber yang ada serta akan membentuk
sistem belajar yang lebih komunikatif.

[3]. Fitra, Pandu. (2012). Pengaruh Pembelajaran Aktif dengan


Metode Peer Lessons Terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Standar Kompetensi Menjelaskan Dasar-dasar Sinyal Video
di SMK Negeri 1 Madiun. Skripsi S-1 yang tidak di
publikasikan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

V. PENUTUP

[4]. Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka


Belajar.

5.2 Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka
disarankan untuk:
1. Pembelajaran active knowledge sharing ini dapat
dijadikan alternatif dalam proses belajar
mengajar agar proses belajar mengajar lebih
menarik. Karena pembelajaran active knowledge
sharing lebih optimal diterapkan pada
kemampuan kognitif, maka pembelajaran active
knowledge sharing lebih tepat digunakan pada
sesi teori pengantar pada setiap kompetensi
kejuruan.
2. Untuk mendapatkan penelitian yang relevan,
diharapkan untuk para peneliti yang lain agar
mengembangkan penelitian ini sehingga diperoleh
hasil yang lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta T. Reneka Cipta.
[2]. Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian . Jakarta:
Rineka Cipta

[5]. Riduwan. 2006. Belajar Mudah Penelitian. Bandung:


Alfabeta.

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka
dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:
3. Dari analisis hasil uji-t nilai pretest di ketahui
bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
tidak ada perbedaan. Selanjutnya dari analisis hasil
uji-t untuk nilai posttest diketahui bahwa nilai
posttest kelas eksperimen lebih tinggi daripada
kelas kontrol. Dari data tersebut ditunjukkan
bahwa pengaruh pembelajaran active knowledge
sharing lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran langsung.

[6]. Slameto. 2010. Belajar dan faktor faktor yang


mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
[7]. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
[8]. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
[9]. Sulistyono, Agung. (2012). Pengembangan perangkat
pembelajaran menggunakan model Active Learning dengan
strategi Class Concern pada standart kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio di SMK Negeri 3 Surabaya. Skripsi S1 yang tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya.
[10]. Tim Penyusun. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian
Skripsi. Surabaya: University Press.

4. Dalam pelaksanaan proses keterlaksanaan


pembelajaran Active Knowledge Sharing di
SMKN 2 Surabaya peneliti menemukan beberapa
kendala diantaranya; sulit mengkondisikan siswa,
dikarenakan siswa belum mengerti tentang
pembelajaran
Active
Knowledge
Sharing.
Sebagian besar pengetahuan siswa masih minim
sehingga sering dalam proses sharing kadang
berjalan pasif. Setelah dilakukan beberapa
pertemuan dengan menggunakan pembelajaran

[11]. Tim Penyusun. 2010. Bahasa Indonesia untuk Karangan


Ilmiah. Malang: UMM Press.
[12]. Zaini, Hisyam, Munthe Bermawy dan Aryani Sekar Ayu.
2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka
Insan Madani.

97

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan media pembelajaran aljabar relasional untuk


perancangan query berbasis os android
Wiyli Yustanti1, Bima Kharisma2
1

Jurusan Teknik Elektro, Unesa, Surabaya, wiyli.yustanti@gmail.com


Jurusan Teknik Elektro, Unesa, Surabaya, bima.kharisma@gmail.com

Abstrak Dalam dunia pendidikan telah banyak


beredar aplikasi untuk sarana pendukung belajar
mahasiswa secara mandiri. Aljabar relasional
merupakan sub materi dalam mata kuliah Sistem
Basis Data yang penting, pemahaman terhadap
materi ini sangat urgen terkait dengan konsep
perancangan query. Dengan membuat aplikasi
aljabar relasional ini diharapkan bisa membantu
para mahasiswa untuk memahami tentang aljabar
relasional sehingga para mahasiswa dapat menyusun
sintaks aljabar relasional dengan benar. Dalam
membuat aplikasi aljabar relasional ini langkah yang
diperlukan adalah menginvestigasi munculnya suatu
masalah, menganalisa masalah tersebut, mendesain
aplikasi, mengimplementasikan hasil desain aplikasi.
Dari hasil implementasi sistem dapat disimpulkan
bahwa aplikasi aljabar relasional cukup membantu
pemahaman mahasiswa, hal ini didukung oleh hasil
analisis deskriptif data survey yang dilakukan
melalui angket kuisioner. Data yang diperoleh
menunjukkan proporsi sebesar 81,24% responden
mengatakan bahwa penggunaan media ini sangat
baik sebagai penunjang pemahaman terhadap materi
aljabar relasional.

terlihat bahwa aplikasi dalam kategori untuk


pendidikan sangat banyak. Setelah melakukan
pengamatan, ditemukan bahwa aplikasi yang
ditujukan bagi pendukung kegiatan pembelajaran di
universitas masih kurang. Dalam hal ini terutama
aplikasi pembelajaran untuk mata kuliah sistem
basis data sub materi aljabar relasional.
Materi aljabar relasional ini sangat penting
karena merupakan kunci pemahaman kerja internal
DBMS relasional, pemahaman aljabar relasional
merupakan hal yang esensi dalam merancang query
SQL yang diolah secara efisien. Aljabar relasional
banyak digunakan pada optimasi query dan
pengolahan query tersebar. Aljabar relasional
mendefinisikan sekumpulan operator dan rumus
untuk memanipulasi himpunan data. Dalam
menyusun aljabar relasional yang benar dibutuhkan
suatu pemahaman tentang pemakaian simbolsimbol yang digunakan. [3].
Melihat kondisi ini, maka terdapat sebuah
peluang untuk mengembangkan aplikasi yang bias
digunakan secara mandiri oleh mahasiswa agar
dapat melatih kemampuanya dalam merancang
query melalui simbol-simbol aljabar relasional
dengan menggunakan aplikasi sederhana dalam
smartphone berbasis system operasi android.

Kata Kunci : Aljabar Relasional, Android, Media


Pembelajaran.

I. PENDAHULUAN

II. DASAR TEORI

Saat ini perkembangan teknologi perangkat


bergerak berjalan dengan sangat pesat. Dimana
perkembangan perangkat bergerak saat ini menuju
ke arah mobile smartphone yang memungkinkan
untuk melakukan komunikasi serta terdapat juga
fungsi Personal Digital Assistant (PDA)
didalamnya dan memiliki kemampuan layaknya
komputer. Android merupakan sebuah sistem
operasi untuk perangkat mobile berbasis linux yang
mencakup sistem operasi, middleware dan aplikasi.
Android itu sendiri adalah platform yang sangat
lengkap baik itu sistem operasinya, aplikasi dan
perangkat pengembangan, market aplikasi android
serta dukungan yang sangat tinggi dari komunitas
open source di dunia, sehingga android terus
berkembang pesat baik dari segi teknologi maupun
dari segi jumlah device yang ada di dunia. Android
juga menyediakan platform terbuka bagi
pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka.
[9]
Terkait dengan perkembangan aplikasi di pasar
aplikasi dengan menggunakan platform android,

A. Basis Data Relasional


Basis data (database) relasional adalah
kumpulan dari berbagai data yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya. Basis data
tersimpan di perangkat keras, serta dimanipulasi
dengan
menggunakan
perangkat
lunak.
Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi dari
tipe data, struktur dan batasan dari data atau
informasi yang akan disimpan. Database
merupakan salah satu komponen yang penting
dalam sistem informasi, karena merupakan basis
dalam menyediakan informasi pada para pengguna
atau user. Penyusunan basis data meliputi proses
memasukkan data kedalam media penyimpanan
data dan diatur dengan menggunakan perangkat
Sistem Manajemen Basis Data (Database
Management System DBMS). Manipulasi basis data
meliputi pembuatan pernyataan (query) untuk
mendapatkan informasi tertentu, melakukan
pembaharuan atau penggantian (update) data, serta
pembuatan report data. Tujuan utama DBMS
99

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

B =b (R)

adalah untuk menyediakan tinjauan abstrak dari


data bagi user. Jadi sistem menyembunyikan
informasi mengenai bagaimana data disimpan dan
dirawat, tetapi data tetap dapat diambil dengan
efisien. Pertimbangan efisien yang digunakan
adalah bagaimana merancang struktur data yang
kompleks, tetapi tetap dapat digunakan oleh
pengguna yang masih awam, tanpa mengetahui
kompleksitas struktur data.
Basis data menjadi penting karena munculnya
beberapa masalah bila tidak menggunakan data
yang terpusat, seperti adanya duplikasi data,
hubungan antar data tidak jelas, organisasi data dan
update menjadi rumit. Jadi tujuan dari pengaturan
data dengan menggunakan basis data adalah
menyediakan penyimpanan data untuk dapat
digunakan oleh organisasi saat sekarang dan masa
yang akan datang. Kemudahan pemasukan data,
sehingga meringankan tugas operator dan
menyangkut pula waktu yang diperlukan oleh
pemakai untuk mendapatkan data serta hak-hak
yang dimiliki terhadap data yang ditangani.
Pengendalian data untuk setiap siklus agar data
selalu up-to-date dan dapat mencerminkan
perubahan spesifik yang terjadi disetiap sistem.
Pengamanan
data
terhadap
kemungkinan
penambahan, pengubahan, pengerusakan dan
gangguan-gangguan lain.

Relasi R

Relasi S

Gambar 1. Contoh Selection

Projection ( )
Projection / Project () adalah operasi untuk
memperoleh kolom-kolom tertentu. Operasi project
adalah operasi unary yang mengirim relasi argumen
dengan kolom-kolom tertentu. Karena relasi adalah
himpunan, maka baris-baris duplikasi dihilangkan.
Sintak yang digunakan dalam operasi proyeksi ini
adalah sebagai berikut :
C,A(R)
Relasi R
2.

Gambar 2. Contoh Projection

3.

Cartesian Product (X)


Cartesian product (X),adalah operasi untuk
menghasilkan tabel hasil perkalian kartesian. Sintak
yang digunakan dalam operasi proyeksi ini adalah
R X S = {(x,y) | xR dan yS}. Operasi ini
memungkinkan kita mengkombinasikan informasi
beberapa relasi, operasi ini adalah operasi biner.
Sebagaimana telah dinyatakan bahwa relasi adalah
subset hasil cartesian product dan himpunan
domain relasi-relasi tersebut. Dalam penerapan
operasi ini, maka harus dipilih atribut-atribut untuk
relasi yang dihasilkan dari cartesian product.

B. Aljabar Relasional
Terdapat lima operasi dasar dalam aljabar
relasional, yaitu:
1. Selection ( )
2. Projection ( )
3. Cartesian Product ( X, juga disebut sebagai
Cross Product )
4. Union ( )
5. Set Difference ( - )
6. Rename ( )
Operasi operasi turunan dari operasi operasi
dasar tersebut adalah :
1. Set Intersection ( )
2. Theta Join ( )
3. Equi Join (*)
5. Division ( )

Relasi S

Relasi R

RXS

Gambar 3. Contoh Cartesian Product.

Berikut merupakan penjelasan tentang operatoroperator dasar pada Aljabar Relasional :

Union ( )
Union () adalah operasi untuk menghasilkan
gabungan tabel dengan syarat kedua tabel memiliki
atribut yang sama, yaitu domain atribut ke-i
masing-masing tabel harus sama. Sintak yang
digunakan dalam operasi union ini adalah R S =
{x | xR atau X S}.Operasi ini dapat dilaksanakan
apabila R dan S mempunyai atribut yang sama
sehingga jumlah komponennya sama.
4.

Selection ( )
Selection / Select () adalah operasi untuk
menyeleksi tupel tupel yang memenuhi suatu
predikat, kita dapat menggunakan operator
perbandingan (<, >, >=, <=, =, #) pada predikat.
Beberapa predikat dapat dikombinasikan menjadi
predikat majemuk menggunakan penghubung AND
( ) dan OR ( ).
1.

100

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Relasi R

Relasi S

S
Gambar 7. Contoh Theta Join

9.

Equi Join (*)


Kasus khusus dari kondisi theta join dimana
kondisi c hanya berisi kesamaan (nilai yang sama
dari kedua relasi). Skema hasil hampir sama dengan
cross-product, tapi hanya berisi satu copy field
yang mempunyai kesamaan dari field yang sudah
ditentukan. Natural join adalah Equi-join pada
semua fields.

Gambar 4. Contoh Union

5.

Set Difference ( - )
Set difference ( - ) adalah operasi untuk
mendapatkan tabel pada suatu relasi, tapi tidak ada
pada relasi yang lainnya. Sintak yang digunakan
dalam operasi union ini R S = { x | xR dan X
S}. Operasi ini dapat dilaksanakan apabila R dan S
mempunyai atribut yang tidak sama yang akan
ditampilkan, artinya adalah atribut R yang tidak ada
di S akan ditampilkan, sedangkan atribut yang sama
tidak ditampilkan.
Relasi R

10. Division ( )
Untuk memndapatkan nilai yang ada pada
salah satu atribut dari relasi pembilang yang nilai
atributnya sama dengan nilai atribut relasi
penyebut.

RS

Relasi S

A
a
b
e
e
a

B
b
c
d
d
b

S
C
e
d
c
e
d

D
c
f
d
f
e

C
e

D
f

R S
A
B
e
d

Gambar 5. Contoh Set Difference


Gambar 8. Contoh Division

Rename ( )
Rename (), adalah operasi untuk menyalin
table lama kedalam table yang baru. Sintaks yang
digunakan dalam operasi union ini adalah
[nama_tabel] (tabel_lama).
6.

C. Android
Android adalah sistem operasi yang berbasis
Linux untuk telepon seluler seperti telepon pintar
dan komputer tablet. Android menyediakan
platform terbuka bagi para pengembang untuk
menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk
digunakan oleh bermacam peranti bergerak.
Awalnya, Google Inc. membeli Android Inc.,
pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk
ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android,
dibentuklah Open Handset Alliance, konsorsium
dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan
telekomunikasi, termasuk Google, HTC, Intel,
Motorola, Qualcomm, T-Mobile, dan Nvidia. Pada
saat perilisan perdana Android, 5 November 2007,
Android bersama Open Handset Alliance
menyatakan mendukung pengembangan standar
terbuka pada perangkat seluler. Di lain pihak,
Google merilis kode-kode Android di bawah lisensi
Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan standar
terbuka perangkat seluler.
Di dunia ini terdapat dua jenis distributor
sistem operasi Android. Pertama yang mendapat
dukungan penuh dari Google atau Google Mail
Services (GMS) dan kedua adalah yang benar-benar
bebas distribusinya tanpa dukungan langsung
Google atau dikenal sebagai Open Handset
Distribution (OHD). [10].

Set Intersection ( )
Operasi ini dinotasikan dengan R S.
Hasilnya adalah berisi nilai yang memenuhi baik
pada tupel (baris) R dan S (sebagai irisan). Bisa
dicari dari operasi dasar: R (R S).

7.

Relasi R

RS

Relasi S

Gambar 6. Contoh Intersection.

8.

Theta Join ( )
Membentuk suatu relasi dari dua relasi yang
terdiri dari kombinasi yang mungkin dari relasi
relasi dengan kondisi tertentu. Misalnya C = A
B.
R
A
1
4

B
2
5

RB<D S = B <D (RXS)

S
C
3
6

D
4
7

E
6
8

A
1
1

B
2
2

C
3
3

D
4
7

E
6
8

101

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

c.

D. JDK (Java Development Kit)


JDK (Java Development Kit) adalah suatu
modal utama ketika kegiatan progamming
menggunakan Java menjadi pilihannya karena JDK
berisi satu bundled KIT, dimana proses kompilasi
source code java menjadi byte class dilakukan
dengan menggunakan JDK ini. Netbean atau
JCreator hanyalah IDE (Integrated Development
Editor). Ketika melakukan kompilasi melalui
Netbean sebenarnya JDK yang sudah terpasang di
dalam komputerlah yang dipanggil, hanya saja
proses kompilasi dipermudah dengan cara
memanggil langsung lewat IDE.

Multi-role. Selain sebagai IDE untuk


pengembangan aplikasi, Eclipse pun bisa
digunakan untuk aktivitas dalam siklus
pengembangan perangkat lunak, seperti
dokumentasi,
tes
perangkat
lunak,
pengembangan web, dan lain sebagainya.

Eclipse pada saat ini merupakan salah satu IDE


favorit dikarenakan gratis dan open source, yang
berarti setiap orang dapat melihat kode
pemrograman perangkat lunak ini. Selain itu,
kelebihan dari Eclipse yang membuatnya populer
adalah kemampuannya untuk dapat dikembangkan
oleh pengguna dengan komponen yang dinamakan
plug-in.

E. SDK (Software Development Kit)


Android SDK adalah sebuah software yang
diciptakan untuk pengembangan aplikasi di sistem
operasi Android. Perangkat lunak ini berguna untuk
mensimulasikan sistem operasi Android pada PC.
Selain untuk fungsi pengembangan, emulator ini
juga dapat digunakan untuk mencoba aplikasiaplikasi yang disediakan oleh para developer sistem
operasi tersebut. Walau emulator ini memiliki
keterbatasan dalam penggunaan marketnya dan
keterbatasan dalam requirements saat menginstal
aplikasi tertentu.

III. METODOLOGI
Pada pengembangan aplikasi ini digunakan tahapan
dalam rekayasa perangkat lunak yang meliputi
tahapan analisis, perancangan, implementasi, uji
coba dan evaluasi perangkat lunak yang dibuat.
A. Analisis Sistem
Permasalahan yang mendasar dari aplikasi ini
adalah sulitnya memahami model pembelajaran
konvensional tentang penyusunan aljabar relasional
dalam penerapan pembelajaran di mata kuliah
sistem basis data pada umumnya. Hal pertama yang
perlu dilakukan adalah menyiapkan sebuah basis
data yang berisi beberapa tabel dimana tabel
tersebut nantinya akan dijadikan contoh kasus
dalam aplikasi Aljabar Relasional ini. Data yang
digunakan yaitu data yang diperoleh dari sebuah
contoh kasus basis data universitas yang berisi tabel
dosen, tabel mata_kuliah, tabel jurusan dan tabel
mengajar. Setelah data diperoleh, data siap
digunakan pada sistem aplikasi.
Kebutuhan software yang diperlukan untuk
aplikasi Aljabar Relasional berbasis Android yaitu
Java Development Kit (JDK) dan Eclipse IDE yang
merupakan lingkungan pemrograman untuk
menulis program-program aplikasi dan applet java.
Serta didukung plugin Android Development Tools
(ADT) yang berfungsi untuk mengembangkan
apilkasi Android. Serta untuk desain tampilan
diperlukan software editing Adobe Photoshop.

F. ADT (Android Development Tools)


Android Development Tools adalah plugin
yang di desain untuk IDE Eclipse
yang
memberikan kemudahan dalam mengembangkan
aplikasi android dengan menggunkan IDE Eclipse.
Dengan menggunakn ADT untuk Eclipse akan
memudahkan dalam membuat aplikasi project
android, membuat GUI aplikasi, dan menambahkan
komponen-komponen yang lainnya, begitu juga
dapat dilakukan running aplikasi menggunakan
Android SDK melalui eclipse. Semakin tinggi
platform Android yang digunakan di anjurkan
menggunakn ADT yang lebih terbaru, karena
biasanya munculnya platform baru diikuti dengan
munculnya versi ADT yang terbaru. Untuk
download
ADT
dapat
di
lakukan
di
http://www.developer.android.com
/sdk/eclipseadt.html.
G. Eclipse
Eclipse adalah sebuah IDE (Integrated
Development Environment) untuk mengembangkan
perangkat lunak dan dapat dijalankan di semua
platform (platform-independent). Berikut ini adalah
sifat dari Eclipse:
a. Multi-platform. Target sistem operasi Eclipse
adalah Microsoft Windows, Linux, Solaris,
AIX, HP-UX dan Mac OS X.
b. Multi-language. Eclipse dikembangkan dengan
bahasa pemrograman Java, akan tetapi Eclipse
mendukung pengembangan aplikasi berbasis
bahasa pemrograman lainnya, seperti C/C++,
Cobol, Python, Perl, PHP, dan lain sebagainya.

B. Desain Sistem
Diagram gambaran alur program yang
digunakan sebagai perencanaan pembuatan aplikasi
dapat dilihat pada gambar 9.

102

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

1.

Menu Utama
Untuk menjalankan menu utama diperlukan
dua
komponen
yaitu
Main.xml
dan
MenuActivity.java.
File
Main.xml
digunakan untuk membuat layout Menu Utama
sedangkan MenuActivity.java merupakan
class yang berisi perintah-perintah untuk
menjalankan Menu Utama.
2.

Menu Belajar
Untuk menjalankan menu belajar ini, terdapat
tiga
komponen
yang
digunakan
yaitu
Belajar.xml, Belajar Activity.java
dan ListBelajar.java. File Belajar.xml
digunakan untuk membuat Layout Menu Belajar
sedangkan Belajar Activity.java berisi
perintah-perintah untuk menjalankan menu Belajar.
Dan ListBelajar.java merupakan komponen
yang berisi perintah-perintah untuk membuat list
menu Belajar.

Gambar 9. Flowchart Aplikasi

Aplikasi Aljabar Relasional ini akan berjalan


dimana pada tampilan pertama aplikasi user akan
dihadapkan pada tiga pilihan menu yaitu
BELAJAR, LATIHAN dan KELUAR. Pada pilihan
menu BELAJAR akan ditampilkan sub menu
materi dari Aljabar Relasional dimana nanti user
bisa memilih materi-materi dari Aljabar Relasional
tersebut. Sedangkan pada menu LATIHAN, user
akan memilih soal yang ada dan kemudian dapat
masuk ke form untuk menjawab soal tersebut. Alur
aplikasi pada menu latihan dapat dilihat pada
gambar 10.

3.

Isi Materi
Untuk menampilkan isi dari materi dibutuhkan
dua kompunen yaitu Materi.xml dan
MateriActivity. java. File Materi.xml
digunakan untuk membuat layout untuk
menampikan Isi Materi. Sedangkan Materi
Activity.java berisi perintah-perintah untuk
menampilkan
materi.
Dalam
MateriActivity.java isi dari materi-materi
disimpan di dalam Array. Jika user memilih menu
materi yang diinginkan maka materi yang
tersimpan dalam array secara otomatis akan
dikeluarkan sesuai dengan alamat array yang dipilih
atau dipanggil.
4.

Menu Soal Latihan


Untuk menjalankan Menu Soal Latihan ini,
terdapat dua komponen yaitu Pilih.xml dan
PilihActivity.java.
Pilih.xml
digunakan untuk membuat Layout Menu Soal
Latihan sedangkan PilihActivity.java
berisi perintah-perintah untuk menjalankan Menu
Soal Latihan.
5.

Latihan
Untuk menjalankan Latihan ini dibutuhkan tiga
komponen
yaitu
Latihan.xml,
Isi_slading.xml
dan
LatihanActivity.java.
Latihan.xml
digunakan untuk membuat Layout
untuk
menjawab soal latihan. Isi_slading.xml
digunakan untuk membuat tombol-tombol simbol
aljabar relasional untuk menjawab soal latihan
nanti. Sedangkan LatihanActivity.java
berisi perintah-perintah inti dari aplikasi ini yaitu
pengecekan jawaban terhadap soal yang telah
disediakan. dalam pengecekan jawaban berlaku
kondisi jika jawaban yang dimasukkan oleh user

Gambar 10. Flowchart Menu LATIHAN

C. Implementasi Sistem
Hasil dari impelementasi aplikasi ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.

103

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

benar maka akan diminta untuk menampilkan tabel.


Dalam
LatihanActivity.java
semua
jawaban dan soal sudah disediakan sebelumnya dan
disimpan di dalam Array.

yang tersedia, materi yang tersedia adalah operasioperasi dasar dalam Aljabar Relasional. Tampilan
yang ditemui saat user memilih menu BELAJAR
seperti pada gambar 12.

D. Uji Coba dan Evaluasi Sistem


Uji coba aplikasi dilakukan melalui survey
dengan mengambil sampel mahasiswa D3
Manajemen Informatika sebanyak 30 responden
yang memiliki smartphone dengan system operasi
Android.. Responden melakukan instalasi aplikasi
dan melakukan pengisian angker yang mengukur
parameter mengenai performansi aplikasi yang
meliputi :
1) Aspek Perangkat Lunak
2) Aspek GUI
3) Aspek Konten Materi
4) Aspek Konten Latihan Soal

Gambar 12. Menu Materi BELAJAR

Sebagai contoh, jika user memilih materi


SELECTION maka akan tampil uraian materi
operasi selection seperti yang ditampilkan pada
gambar 13.

Analisa hasil kuesioner dilakukan dengan metode


skoring. Penggolongan skor penilaian dilakukan
berdasarkan skor ideal dimana nilainya tergantung
pada jumlah responden yang ingin dilihat, sehingga
prosentase penggolongan skor penilaian adalah
(Jumlah Skor/Skor Ideal) x 100%. [8]
IV. PEMBAHASAN
Hasil implementasi dari pengembangan
aplikasi ini dapat dilihat sebagai berikut :
1.

Menu Utama
Berisi materi-materi Aljabar Relasional dan
contoh-contoh soal pada umumnya, bertujuan untuk
memberikan pemahaman pada user agar bisa
menyusun Aljabar Relasional dengan mudah dan
benar.Penggunaannya dengan cara langsung masuk
kedalam daftar menu-menu materi yang tersedia
untuk membaca materi-materi Aljabar Relasional.
Pertama kali aplikasi ini dijalankan, maka pada
layar akan tampak tampilan splash screen dan
kemudian
menu
utama
aplikasi
Media
Pembelajaran Aljabar Relasonal akan terlihat
seperti pada Gambar 11.

Gambar 13. Isi Materi SELECTION

Menu LATIHAN
Pada menu LATIHAN, user diminta untuk
memilih soal yang telah disediakan. Terdapat enam
soal yang dapat dipilih dan setiap soal memiliki
tingkat kesulitan sendiri. Setelah memilih soal
mana yang dipilih, kemudian masuk ke form untuk
menjawab soal tersebut. Yang perlu diperhatikan
dalam menjalankan latihan ini di sebelah kiri layar
terdapat tombol-tombol yang berfungsi untuk
menjawab soal yang tersedia. Ada beberapa tombol
slider yang harus dimengerti penggunaannya. Di
dalam button tabel Dosen, MataKuliah, Jurusan dan
Mengajar berisi pilihan atau checkbox untuk
memilih yang dibutuhkan untuk menjawan soal.
Setelah mengisi checkbox tekan Pilih.
3.

Gambar 11. Menu Utama

Menu BELAJAR
User memililh menu BELAJAR untuk
membaca materi-materi dasar Aljabar Relasional
2.

Gambar 14. Pilihan Tabel/Field

104

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Jika pilihan Tabel Dosen ditekan, maka akan


muncul seperti yang terlihat pada Gambar 15. User
bisa memilih atribut-atribut dalam tabel Dosen
yang tersedia dengan cara memberikan tanda
centang pada checkbox sebelah kanan.

Gambar 17. Form Soal

Setelah user selesai memasukkan jawaban,


kemudian user harus menekan tombol Check untuk
mengetahui apakah jawaban yang dimasukkan
benar atau salah. Jika jawaban benar akan muncul
message box seperti Gambar 17.

Gambar 15. Pilihan Atribut pada Tabel Dosen

Selain itu, user dapat memberikan velue atau nilai


jika diperlukan. Sebagai ilustrasi untuk menjawab
persoalan menampilkan daftar dosen yang
memiliki alamat di Jakarta atau Bogor, maka user
harus memberikan sebuah nilai pada operator
aljabar relasional yang digunakan. Pada saat
berhadapat dengan soal latihan tersebut, user akan
membaca terlebih dahulu pertanyaannya lalu
kemudian memilih langkah selanjutnya yaitu
memilih operator atau nama tabel dan memasukkan
kriteria/nilai.
Gambar 18. Message Box Jawaban Benar

Setelah selesai , maka akan tampil hasil dari


eksekusi aljabar relasional yang ditulis seperti
gambar 19. Selanjutnya, user boleh memilih tombol
Tutup atau Kembali untuk memilih soal lain atau
meneruskan soal berikutnya. Begitu seterusnya
sampai semua soal altihan berhasil terjawab dengan
benar.

Gambar 16. Form Masukan Nilai

Setelah user memilih tombol = user akan diminta


apakah memberikan value atau nilai sebagai kriteria
atau tidak. Kriteria ini berfungsi untuk memberikan
batasan atau nilai yang ditentukan agar hasil yang
ditampilkan nanti bisa sesuai dengan kriteria yang
ditentukan. Kemudian user akan menjawab dengan
cara menekan menu-menu yang sudah tersedia.
Setelah ditekan maka simbol yang ditekan tersebut
akan masuk ke dalam textfield jawaban. Ilustrasinya
dapat dilihat pada gambar 17.

Gambar 19. Hasil Eksekusi Aljabar Relasional

4.

Analisis Hasil Kuesioner


Nilai rata-rata dari hasil pengamatan minat
penggunaan aplikasi aljabar relasional secara
menyeluruh adalah 81,24% dari skala 1-5 dengan
predikat sangat baik. Ini menunjukkan bahwa minat
responden sudah puas dengan aplikasi aljabar
relasional berbasis android.

105

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

V. PENUTUP
Dari hasil impelemntasi dan ujicoba yang
sudah dilakukan didapatkan sebuah kesimpulan
bahwa aplikasi media pembelajaran untuk materi
aljabar relasional dalam mata kuliah system basis
data ini dapat diterima dan digunakan sebagai
media belajar mandiri oleh mahasiswa dengan
tingkat kepuasan sebesar 81,24% dari total
responden yang disurvey. Sebagai tindak lanjut
perbaikan aplikasi ini ini, maka dapat dilakukan
perbaikan dari sisi jumlah variasi soal yang lebih
kompleks dan tema yang berbeda. Dengan
demikian , dari hasil penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan titik awal untuk dilakukan pengembangan
media dalam mempelajari semua topik dalam
perkuliahan sistem basis data secara interaktif dan
user friendly.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Arifianto, Teguh. 2011. Membuat Interface Aplikasi
Android Lebih Keren dengan LWUIT. Yogyakarta: Andi
Offset
[2]. Christian, Derry. 2012. Smartphone di Indonesia Melonjak,
Android Menggeliat, (Online),
(http://infotekno.co.id/news/Gadget/2012/03/27
/smartphone _di_indonesia_melonjak_android_menggeliat,
diakses 19 juli 2012)
[3]. FTI. 2007. Edisi 1 Sistem Basis Data. Jakarta : URINDO.
[4]. Hermawan, Stephanus. 2011. Mudah Membuat Aplikasi
Android. Yogyakarta: Andi Offset
[5]. Kadir, Abdul. 2002. Konsep & Tuntunan Praktis Basis
Data. Yogyakarta : Andi Offset.
[6]. Kurniadi, Hary. 24 Mei 2010. Permasalahan Proses Belajar
Mengajar Bahasa Indonesia di SD, (Online),
(http://www.papantulisku.com/
[7]. 2010/05/ permasalahan-proses-belajar-mengajar.html
diakses 22 September 2011)
[8]. Mulyanto, Ainur R.. 2008. Rekayasa Perangkat Lunak Jilid
1. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
[9]. Nazir, Moh. 2009. Metodologi Penelitian. Bogor : Ghalia
Indonesia.
[10]. Safaat, Nazruddin. 2011. Pemograman Aplikasi Mobile
Smartphone dan Tablet PC Berbasis Android. Bandung :
Informatika Bandung.
[11]. Sulistyanto, Andhie. 27 Februri 2012. Sejarah Android
(Sistem Operasi), (Online),
(http://andhiequest.com/article/read/293/sejarah-androidsistem-operasi).

106

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Teori Rancangan Pembelajaran di Kelas dengan Pembelajaran


Mandiri Berbasis Teknologi Pembelajaran
Indrati Agustinah
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa
mempersiapkan siswa untuk melakukan evaluasi
diri dan evaluasi teman sebaya; (b) memberikan
instruksi yang jelas dalam merancang evaluasi diri
atau pengamatan mandiri dan manajemen sumber;
dan (c) membelajarkan siswa bagaimana mencari
bantuan ketika siswa membutuhkan.
Dalam pembelajaran, guru memberikan
kesempatan yang luas bagi siswa untuk berperan
aktif dalam self-regulated learning (SRL) atau
pembelajaran mandiri sampai mereka merasa
sukses, dalam bentuk: (1) bagi siswa yang
membutuhkan bantuan, guru memberikan instruksi
yang jelas dan menyampaikan strategi-strategi
manajemen diri dari awal. Bagi siswa-siswa
lainnya, guru memberi contoh dan menyampaikan
strategi-strategi pembelajaran manajemen diri
hanya ketika merespon atas usaha-usaha yang
dilakukan siswa; (2) menyuruh siswa secara
induktif mengenal strategi-strategi manajemen diri
dalam bahasa yang mudah dimengerti dan melalui
pengalaman yang siswa alami sendiri (diskusi
kelompok dan presentasi di kelas); (3) menyuruh
siswa melakukan sendiri belajar mandiri dan
menyarankan strategi-strategi SRL sebelum siswa
mengembangkan strategi SRL mereka sendiri
(misalnya, membuat strategi manajemen diri
tentang watak dalam sastra sebelum mereka
menulis tentang pengalaman pribadi); (4) menyuruh
siswa menulis esai tentang pengalaman manajemen
diri mereka dan menganalisisnya sendiri guna
menunjukkan bagaimana strategi tersebut dipakai;
(5) mendorong siswa memilih teman kerja atau
diskusi yang akan berbagi pandangan dan praktik
yang berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan
SRL; (6) memberikan nilai kualitatif pada hasil
kerja siswa yang memperagakan atau memberi
contoh
strategi-strategi
SRL;
(7)
secara
berkelanjutan, menilai kesiapan siswa dan
memperbaiki instruksi untuk mendukung siswa
yang membutuhkannya dan memberi kelonggaran
pada siswa yang lain; dan (8) merancang tugas
akhir dengan memberi keleluasaan bagi siswa
untuk mengaitkannya dengan sesuatu yang
berhubungan dengan kehidupan.
Adapun
peneliti,
peranannya
adalah
mendorong guru untuk berperan serta dalam
pembelajaran mandiri berkaitan dengan metode
pembelajaran, meliputi: (1) menggunakan alur
proses dari merencanakan, membuat, dan
menggunakannya
dalam
pembelajaran;
(2)

ABSTRAK. Tujuan utama pengembanagn teori


ini adalah untuk membantu pengembangan
pembelajaran mandiri antara siswa dan guru, (baik
tanpa komputer, berbantuan komputer, maupun
berbasis internet).
Hal lain yang berhubungan
dengan pembelajaran mandiri adalah pengembangan
potensi guru sebagai inovator, pemberi solusi atau
pemecahan masalah dan pengalaman yang diperoleh
siswa. Prasyarat utama adalah situasi lingkungan, di
mana pembelajaran mandiri merupakan tujuan yang
penting dan terdapat waktu yang cukup untuk
mengembangkan keahlian manajemn diri yang
dimiliki oleh pelajar atau siswa.
Kata kunci : rancangan pembelajaran, pengembangan
pembelajaran

I. PENDAHULUAN
Makalah ini disusun dari makalah pokok yang
ditulis Lyo Corno dan Judi Randi dengan
dilengkapi artikel atau makalah serta jurnal hasil
penelitian.Unsur-unsur yang ada sesuai dengan
teori ini adalah sebagai berikut: (1)pembelajaran
mandiri siswa, baik sebagai tujuan maupun cara
guna mendukung kompetensi mata pelajaran yang
dikembangkan; (2) mendukung usaha siswa dalam
pencapaian tujuan pembelajaran; (3) khusus guru,
self-regulation untuk pengembangan model mereka
dalam membelajarkan siswa secara mandiri; (4)
peningkatan profesionalisme yang menitikberatkan
keahlian guru dalam melakukan penelitian dan
menemukan praktik pembelajaran yang baru; (5)
mengkaitkan antara penelitian dan praktik; dan (6)
pembelajaran berbasis ICT,
II. METODE
Untuk dapat menciptakan pembelajaran yang
dapat mendorong siswa untuk belajar mandiri
seorang guru, perlu bekerja sama dengan peneliti
untuk menciptakan metode yang tepat dan
membantu pengembangan pembelajaran mandiri.
Guru jugaharus dapat mendampingi dalam
mengkondisikan kelas untuk pembelajaran mandiri,
yaitu memperhatikan kembali sistem evaluasi untuk
menitikberatkan pada aspek-aspek kualitatif kerja
siswa, daripada membuat peringkat dengan
memakai acuan nilai angka, terutama pada tahap
awal pembelajaran keahlian baru dan mendorong
siswa untuk membuat kriteria dan memilih tugas.
Sedangkan peranan guru di dalam
mendampingi siswadalam pembelajaran adalah: (a)
107

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

mengenalkan guru dengan beragam metode


pembelajaran (model-model pembelajaran); (3)
membantu guru menyesuaikan diri dengan metodemetode tersebut di kelas; (4) membantu guru
menilai metode pembelajaran baru, terutama
tberkaitan dengan siswa; (5) mendorong guru untuk
memberikan opini mereka tentang apa yang mereka
pelajari dan bagaimana mereka melakukannya,
guna mengantarkan guru pada penggunaan strategi
manajemen diri mereka pada tingkat sadar; (6)
membantu guru untuk menyatukan metode
pembelajaran baru mereka dengan metode yang
lama atau sebelumnya; dan (7) mendorong
kepercayaan, melalui percobaan dan pemecahan
masalah.
Dengan melakukan pendekatan penelitian
bersama guru, akan tercipta sebuah peluang untuk
bekerja sama dalam berbagai keahlian. Kerjasama
tersebut dalam hal mengembangkan cara baru
dalam pengumpulan data dan cara penilaian baru
terhadap efek pembelajaran. Selain itu juga dapat
melakukan penelitian kolaborasi dan cara
pengumpulan data yang baru untuk menambah
pengetahuan SRL.

siswa ke arah beragam bentuk pencapaian prestasi


pendidikan, berada di luar kondisi yang ada di
sekolah.
Penelitian tentang belajar mandiri sebelumnya
telah banyak dilakukan yang mengacu pada tujuan,
metode ilmiah dihubungkan dengan cara pandang
positivistic. Contohnya, program penelitian
prediktif oleh Pintrich (Pintrich & DeGroot, 1990;
Pintrich & Garcia, 1991), C. Weinstein (Weinstein
& Meyer, 1991), dan Zimmerman (Zimmerman &
Martinez-Pons, 1986;1988) yang menekankan pada
penggunaan strategi yang jelas pada lingkungan
akademik dan mengkaitkan laporan mandiri siswa
dengan hasil belajar, seperti nilai dan ujian prestasi.
Hasil penelitian ini menyimpulkan belajar mandiri:
(a) diukur dengan laporan mandiri, (b) berbeda
dengan kemampuan kognitif secara umum dan
aspek-aspek motivasi lainnya seperti keinginan, dan
(c) memprediksi hasil pencapaian pendidikan yang
penting pada masa remaja dan setelahnya.
Penelitian lain beralih dari penelitian
pembelajaran mandiri yang prediktif dan analitis
dalam tugas kelas ke arah model, evaluasi, prosedur
dan model pembelajaran (Harris & Graham,
1985;1992 yang berkenaan dengan pembelajaran
khusus; dan Bereiter, 1990 dan Bereiter &
Scardamalia, 1987 berkenaan dengan pembelajaran
menulis). Peneliti-peneliti ini menitiberatkan pada
pengembangan
model
pembelajaran
untuk
membelajarkanperlunya prinsip dan strategi
manajemen pada diri siswa terhadap materi yang
dipelajarinya guna mendukung penguasaan mata
pelajaran mereka. Secara umum, Pembelajaran
semacam itu berhasil. Bahkan siswa cacat mampu
belajar mengatur dan memotivasi dirinya untuk
menyelesaikan tugas-tugas sekolah secara benar.
Usaha sejenis untuk melengkapi hasil
penelitian strategi belajaradalah hasil penelitian
Palinesar dan Brown (1984; Palinesar, 1986),
Pressley, dkk. (Pressley, Forrest-Pressley, ElliottFaust, & Miller, 1985; Pressley, Goodchild, Fleet,
Zajchowski, & Evans, 1989; Borkowski, Carr,
Rellinger, & Pressley, 1990; Brown & Pressley,
1994), dan lainnya (Dole, Duffy, Roehler, &
Pearson, 1991). Hasil dari beberapa penelitian
teknis tersebut diringkas oleh Pressley dalam
beberapa buku dan artikel
yang berjudul
penggunaan model strategi yang baik. Strategi
belajar bermanfaat banyak bagi siswa dalam
membaca, meskipun beberapa penelitian gagal
mendapatkan manfaat strategi belajar pada tugastugas yang lain.
Penelitian
interpretatif-kualitatif
dan
etnografis, dilakukan baru-baru ini memberikan
bentuk berbeda tentang bukti dan model penelitian
alternatif guna mendukung penilaian praktis secara
eksplisit tentang strategi manajemen diri pada
konteks mata pelajaran. Penelitian kualitatif juga
banyak menyoroti pembelajaran dan tantangan

III. TEORI RANCANGAN PEMBELAJARAN


DI KELAS DALAM PEMBELAJARAN
MANDIRI
3.1. Tinjauan Singkat Penelitian Pembelajaran
Mandiri
Satu cara untuk mendukung pencapaian
tujuan siswa adalah membelajarkan strategi khusus
yang dapat mereka gunakan untuk membantu
dalam menyelesaikan tugas akademik. Menanyakan
pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ketika
membaca seperti apa ide pokok bacaan ini?
atau pemecahan masalah seperti sudahkah saya
menggunakan semua informasi yang diberikan?.
Kedua pertanyaan tersebut adalah contoh. Untuk
mencapai tujuan, siswa juga perlu belajar mengatur
waktu dan memberi penghargaan pada diri mereka
untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.
Manfaatnya kebiasaan pembelajaran yang dapat
dikenali dan strategi manajemen diri adalah
memudahkan, karena pembelajaran pada akhirnya
menjadi kurang kognitif dan beban perilaku (Corno
dan Mandinach, 1983).
Walaupun terdapat banyak definisi tentang
self-regulated learning yang berbeda, tetapi
semuanya
melibatkan
pengetahuan
yang
berhubungan dengan belajar dan strategi
manajemen
diri
ke
dalam
tugas,
dan
menitikberatkan
kecenderungan
pemanfaatan
mereka secara tepat (Zimmerman & Schunk, 1989).
Pembelajaran mandiri juga dapat dipahami sebagai
sebuah dimensi, di mana siswa berbeda, beberapa
siswa lebih mudah menggunakan belajar mandiri
daripada siswa yang lain. Hal ini penting bahwa
belajar mandiri menjadi lebih meluas, akan tetapi
dikarenakan fungsinya, pada prinsip menjadikan
108

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

cenderung mengambil hasil pembelajaran sebelum


digagas, mendekontruksi mereka, dan kemudian
menggunakan sumber-sumber yang ada dengan
cara yang unik selama pembelajaran. Hal tersebut
sesuai dengan jenis pembelajaran professional guru
yang disebut di dalam literatur pembaharuan
baru-baru ini (Lieberman, 1995), collaborative
innovation mendukung penemuan guru, daripada
penerapan gagasan-gagasan yang lain (Randi, 1996;
Corno & Randi, 1997).

pendidikan guru (Trawick & Corno, 1995), seperti


ditunjukan Tabel 1.
Tabel 1 :Tantangan Pendidikan Guru pada Penerapan Strategi
Belajar yang Baik

Guru tidak diajari tentang pengolahan informasi.


Perspektif strategi pembelajaran memberi tanggung
jawab yang besar bagi guru.
Strategi pembelajaran membutuhkan metode
pembelajaran yang menuntut banyak persyaratan.
Pemanfaatan strategi yang dapat bertahan lama sering
tidak mengacu pada strategi pembelajaran.
Kurangnya data evaluasi menyebabkan para pendidik
kesulitan dalam memilih bahan strategi pembelajaran
yang efektif.
Para pendidik memiliki akses informasi yang terbatas
tentang strategi.

Definisi dan Tujuan Collaborative Innovation


Collaborative innovationadalah proses cara
guru bekerja bersama-sama dengan sekolah yang
mengikutsertakan peneliti untuk membangun,
menilai, menjelaskan praktik kelas baru sesuai
dengan kebutuhan siswa-siswa yang bervariasi.
Oleh karena itu, collaborative innovation
mendukung guru untuk mengubah model yang
dipakai, menyesuaikan diri dan membuat praktik
pembelajaran baru. Karena inovasi guru sangat
disesuaikan dengan keadaan kelas, sehingga model
collaborative innovation tidak hanya membutuhkan
unsur pokok motivasi guru tetapi juga
pengembangan
praktik
pembelajaran
baru
disesuaikan dengan perbedaan individu siswa.
Collaborative innovation diwujudkan dengan
kedinamisan praktik. Sekolah dan kelas dewasa ini
berubah dari waktu ke waktu (McLaughlin, 1993).
Tujuan penting collaborative innovation adalah
untuk meningkatkan potensi guru sebagai inovator
dan memecahkan masalah. Tujuan yang lain adalah
menjelaskan pengembangan pembelajaran mandiri
kepada siswa. Dalam proses ini, guru dipandu
peneliti untuk mengartikulasikan apa yang telah
mereka pelajari, sehingga pada akhirnya mereka
mampu memandu siswa-siswa mereka pada
pengalaman pembelajaran serupa.
Collaborative innovation bertujuan untuk
meningkatkan pembelajaran eksperimental guru.
Pembelajaran eksperimental dianggap memiliki
peranan penting di dalam pembelajaran orang
dewasa
(Brookfield,
1996).
Collaborative
innovation mendukung upaya guru ketika belajar
mengkondisikan pembelajaran, mendorong mereka
mengartikulasikan pengetahuan mereka.

Sumber: Tantangan Pembelajaran Strategi Kelas, oleh


M.Pressley, F. Goodchiled, J. Fleet, R. Zajchowski, dan E.
Evans, 1989, Jurnal Sekolah Dasar, 89, halaman 309-322.

IV. PENDIDIKANPROFESI GURU


Pembelajaran mandiri merupakan pendekatan
baru ditinjuau secara teoritis maupun praktis guna
mengkaji masalah tentang pembelajaran siswa
mandiri secara luas. Tetapi, penekananya tetap pada
manajemen
diri
guru,
khususnya
dalam
menghadapi
tantangan
situasi
dalam
membelajarkan.
Berdasarkan pengalamannya, guru diminta
melengkapi inovasi yang dapat dikembangkan di
luar kelas mereka (Corno, 1977). Pada
pengembangan profesi cara lama, guru dipandang
sebagai pembelajar pasif yang menjalankan tugastugas dibantu dengan pelatihan keahlian,
mengajar
dan
dukungan
implementasi
(Mclaughlin & Marsh, 1978). Permintaan guru
supaya menjadi reflektif dan guru-peneliti
(Cochran-Smith & Lytle, 1992;Schon, 1983)
memberi bentuk baru pengembangan professional
guru yang memandang guru sebagai pembelajar
aktif (Lieberman, 1995).
Guru belajar bersama-sama dengan peneliti
tentang pembelajaran siswa secara mandiri,
memberi dasar pada guru untuk mengkaji
pembelajaran mandiri. Penelitian interpretatifkualitatif, mampu menyingkap usaha-usaha
manajemen diri guru dan strategi-strategi yang guru
pakai untuk menjelaskan manajemen diri pada
siswa (Gudmundsdottir, 1997). Tujuannya adalah
untuk membuka cara baru dalam mengamati dan
menilai gagasan belajar mandiri. Sifat kolaboratif
memungkinkan merekam proses manajemen diri
selama pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan
pemecahan masalah ketika mereka berusaha
memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih
maju kepada siswa-siswanya.
Bentuk pembelajaran professional guru ini,
collaborative innovation (inovasi kolaboratif),
sebagaimana yang dikatakan Reigeluth (1996),

Gambaran Collaborative Innovation


Corno & Randi (1997); Guthrie & Wigfield
(1997) menitikberatkan pada siswa sebagai
pebelajar dan guru menciptakan lingkungan kelas
yang mendukung siswa menjadi pebelajar mandiri.
V. PEMBELAJARAN MANDIRI GURU MELALUI
KAJIAN PUSTAKA
Mengeksplorasi tema-tema lama tentang
kebebasan dan kepercayaan diri dengan mengkaji
nilai pada bacaan dan film kemanusiaan, melihat
bagaimana kurikulum bisa memberi sebuah model
atau contoh implisit pembelajaran dalam
pembelajaran
mandiri.Sedangkan
di
luar
109

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

kurikulum, untuk melengkapi struktur kelas yang


memberikan banyak cara bagi siswa untuk berperan
aktif dalam pembelajaran mandiri. Siswa boleh
melakukan pembelajaran mandiri melalui studi
pustaka dan pada waktu yang bersamaan mereka
mempelajari strategi manajemen diri secara
induktif.
Pembelajaran
induktif
mereka
menyangkut analisis karakter kesusasteraan yang
menunjukkan ciri/sifat pribadi, karakteristik
pembelajar sendiri.
Menciptakan Kelas yang Memudahkan Belajar
Mandiri
Guna membantu siswa belajar bagaimana
menjadi siswa dan bagaimana berjuang setelah
belajar sebagaimana yang diharapkan pada
pembelajaran mandiri, hal yang penting adalah
menciptakan sebuah struktur kelas yang
memungkinkan belajar mandiri berjalan. Mereka
diajari merencanakan dan bagaimana memantau
belajar mereka sendiri, siswa juga diarahkan tahap
demi tahap untuk mencapai keberhasilan dalam
situasi belajar yang semakin menantang.
Unsur yang mempengaruhi perasaan sukses
siswa adalah cara di mana evaluasi dipakai untuk
memberi penghargaan dan membantu siswa dalam
menghadapi tantangan yang semakin bertambah.
Contoh, sebelumnya siswa-siswa ini diajari
bagaimana mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri
dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan
contoh dan kriteria yang diberikan. Dengan
demikian, siswa didorong untuk mengevaluasi
pekerjaan mereka secara objektif dan jujur.
memperbaiki pekerjaan mereka setelah dievaluasi,
atau diberi penghargaan ekstra ketika penjelasan
dan evaluasi mereka sesuai dengan jawaban guru.
Seperti unsur keberhasilan yang lain, siswa
didorong mendiskusikan kriteria dan tugas agar
tugas yang diberikan lebih menyenangkan.
Mempersingkat dan menambah tugas merupakan
strategi mengendalikan motivasi belajar mandiri
yang dapat dipakai guna mempertahankan usaha ke
arah tujuan yang ingin dicapai (Corno, 1993).
Untuk
mendorong
belajar
mandiri,
memperjelas orientasi tujuan, dan meminimalkan
kejenuhan siswa dalam mengerjakan tugas yang
sulit, siswa diberi instruksi yang jelas dalam
perencanaan dan manajemen sumber, misalnya
bagaimana mencari bantuan dari teman, cara untuk
menyusun daftar sumber yang memungkinkan, dan
alternatif
merencanakan
tindakan
atau
mengikutinya. Siswa diberi rekan kerja dan
diminta memeriksa bersama dengan rekan mereka
pada saat mereka melupakan tugas atau
membutuhkan bantuan. Struktur kelas, selama
pembelajaran induktif dalam penggunaan strategi,
menguatkan perintah bahwa tanggung jawab belajar
bergantung pada siswa sendiri.

3.2 Pelajaran Dimasukkan di dalam Kurikulum


Hal tersebut dimasukkan di dalam kondisi
lingkungan kelas yang disusun dengan tujuan
tertentu, mengeksplorasi kemungkinan strategi
belajar manajemen diri secara khusus implisit
dalami kurikulum, memulai rencana menyatukan
struktur dan konten atau isi, pengantar dan perintah.
Cronbach (1989) dalam tulisan, hasil dan proses
strategi pembelajaran mandiri secara implisit
melalui isi kurikulum memuat tujuan guru:
mengembangkan pembelajaran mandiri lebih
eksplisit dan lebih dapat dimengerti oleh siswa.
Manajemen diri dan strategi belajar yang digunakan
belajar mandiri: tetap berusaha dalam mengerjakan
tugas yang sulit, memfokuskan perhatian pada
tugas yang harus dikerjakan, mengingat kesuksesan
sebelumnya pada situasi yang sama, mengatur
waktu dan sumber, mengubah prioritas, dan
memprediksi pencapaian tujuan akhir yang selama
ini diinginkan.
Analisis literatur dalam konteks pengalaman
tentang model untuk membangkitkan usaha
manajemen diri pada siswa terbukti berguna. Di
dalam kegiatan semacam ini, siswa diminta
menciptakan karakter bayangan 3 sifat
orang
Roma yang ditunjukkan oleh pahlawan, Aeneas, di
Aeneid Virgil. Sifat orang Roma, yakni kesetiaan,
kesungguhan pada tujuan, dan ketekunan dijadikan
sebagai sasaran oleh guru untuk tugas ini karena
mereka diajarkan supaya menunjukkan usaha
manajemen diri.
Pada
kegiatan
berikutnya,
siswa
mengartikulasikan strategi manajemen diri dalam
menguraikan bagaimana pahlawan mengatasi
segala rintangan tanpa kehilangan tujuan mereka.
Terutama,
siswa
diminta
menyebutkan,
mengkategorikan, dan memberi nama aneka macam
strategi. Kategori atau kelompok dan nama yang
dikenal dan digagas siswa serupa dengan strategi
metakognitif, motivasi dan pengendalian emosi.
Setiap siswa di kelas ini menunjukkan
penggunaan strategi manajemen diri di dalam esai
yang mereka tulis. Perencanaan, pengendalian
emosi, dan evaluasi diri merupakan bukti. Contoh
strategi manajemen diri ditunjukkan Tabel 1.

110

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Tabel 1. Contoh Strategi Manajemen Diri


Strategi Manajemen Diri dan yang Ditunjukkan
Siswa
Strategi
Siswa
Kontrol
Berpikir langkah pertama untuk
Metakognitif
mengambil dan memulai dengan
benar
Menyusun beberapa tujuan
yang bisa dicapai
Mengecek pekerjaan ketika
akan pergi;mencari feedback
Kontrol
Motivasi

Kontrol Emosi

Mengendalikan
kondisi tugas

Mengendalikan
lain-lain dalam
penyusunan
tugas

Strategi Serupa yang Ditunjukkan Pahlawan


Strategi
Perencanaan

Pahlawan
Odysseus berpikir tentang apa yang dia butuhkan untuk memperdaya
Polyphemus dan melarikan diri

Pengawasan atau
menyusun nilai
Evaluasi tujuan atau
kemajuan

Odysseus harus membunuh pelamar sebelum dia memperoleh


kedudukannya sebagai raja Ithaca
Odysseus mengambil satu rintangan pada satu waktu
Odysseus terpaksa mempertimbangkan kembali pentingnya tujuannya
ketika Calypso menawarinya peluang pelanggaran susila
Odysseus membayangkan berada di rumah dengan istrinya Penelope
dan anak laki-lakinya Telemachus
Odysseus berbicara pada dirinya ketika sendiri di atas rakit; dia
menyuruh dirinya tetap tinggal di atas rakit sampai dia bisa berenang
menepi dengan aman

Membayangkan melakukan
pekerjaan dengan baik
Memberi instruksi dan perintah
sendiri tentang ketetapan waktu
dan memberi penghargaan pada
diri sendiri untuk kerja keras
Mengingat: aku telah
mengerjakan hal ini
sebelumnya
Membayangkan saat indahnya
pada saat itu
Mengumpulkan materi dan
orang sebelum memulai kerja
Mempersingkat tugas sehingga
lebih mudah dan mengerjakan
tugas lebih sedikit; menambah
tantangan atau menghiasi tugas
agar lebih menyenangkan.
Meminta bantuan dari guru.

Fokus atau berpikir


positif
Kesabaran atau
kepercayaan diri

Mendapatkan
bantuan dari teman
karib

Odysseus mendapat bantuan dari Athena

Menyuruh anak-anak diam jika


mereka menggangguku; pindah
ke tempat yang tenang

Mengendalikan
pengawalpengawalnya

Odysseus mencoba mencegah pengawalnya dari memakan sapi suci


dan menghindari kemarahan Helios, dewa matahari.

Visualisas atau
bayangan pikiran

Penggunaan
sumber jelas
Menggunakan
kepandaian atau
tipu daya

Elaine H. J. Yew dan Henk G. Schmidt


(2009)
melalui
penelitiannya
bertujuan
meningkatkan pemahaman tentang learning
oriented interaksi verbal yang terjadi antar siswa
selama siklus problem-based learning (PBL).
Interaksi verbal dari satu kelompok PBL dari lima
siswa di seluruh siklus PBL intensif dicatat dalam
transkrip verbatim yang terdiri dari 1.000 lebih
ucapan-ucapan dianalisis untuk menyelidiki apakah
dan bagaimana PBL merangsang siswa terhadap
pembelajaran yang konstruktif, mandiri dan
kolaboratif. Hasilnya menunjukkan terjadinya
pemahaman tentang learning oriented interaksi
verbal 53,3% kejadian kolaboratif,
27,2%
mandiri, dan 15,7% konstruktif.
Martin H. Jones & David B. Estell & Joyce
M. Alexander, (2007) juga melakukan penelitian
yang hampir mirip Elaine dkk ingin memahami
hubungan antara diskusi kelompok di dalam dan di
luar kelas dalam belajar mandiri. Penelitian
dilakukan pada delapan puluh delapan siswa SMA
tahun pertama untuk menjawab pertanyaan apakah
siswa belajar mandiri terkait dan melaporkan
frekuensi diskusi dengan rekan-rekan, baik di
dalam maupun di luar kelas dalam pengaturan
belajar mandiri. Hasilnya menunjukkan bahwa ada
perbedaan antara frekuensi self-egulation diskusi
dengan rekan-rekan di dalam dan luar kelas,

Di atas rakit Calypso, Odysseus mengingat banyaknya penderitaan


yang ia pikul sebelumnya
Setelah Athena menunjukkan Odysseus gambaran kesuksesannya,
Odysseus siap menjadi pelamar
Odysseus menggunakan ramuan gaib untuk menetralkan mantera circe
Odysseus membiarkan dirinya mendengar lagu sirens tetapi tidak putus
asa atas pencarian kampung halamannya: pengawalnya mengikat dia
di tiang kapal jadi dia tidak tergoda untuk melompat keluar kapal

terutama untuk diskusi tentang motivasi. Diskusi


dengan rekan-rekan yang lebih dekat di luar kelas.
Pembelajaran mandiri diatur dari diskusi dengan
rekan-rekan di kelas. Selain itu, pendirian
kelompok dengan tingkat rata-rata lebih tinggi
mengatur belajar secara individu lebih tinggi dalam
mengatur belajarnya sendiri. Hasil penelitian juga
menyoroti perlunya penelitian lanjutan tentang
kemungkinan-kemungkinan mekanisme diskusi
kelompok yang terkait dengan pengaturan belajar
mandiri.
SedangkanMaria Ainley & Patrick Lyn, 2006
melalui penelitian yang berjudul proses pengaturan
pembelajaran mandiri melalui pelacakan pola
kegiatan interaksi siswa dengan prestasi kerja.
Dengan pendekatan pada level rendah untuk
mempelajari hubungan antar komponenproses
dengan mendiskripsikan pengaturan belajar mandiri
siswa menggunakan pendekatan proses pengaturan
belajar mandiri melalui pelacakan pola interaksi
siswadengan kegiatan prestasi, kontingensi antara
proses self-regulatted dapat diidentifikasi dan
wawasan
faktor-faktor
yang
mendorong
penggunaan self-regulated siswa dapat diselidiki.
Bukti yang disajikan menunjukkan bagaimana
pengaruh pencapaian tujuan penguasaan spesifik
pengerjaan tugas dapat dimediasi oleh interes awal
siswa. Selanjutnya pengembangan pedekatan ini
111

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

respon; (8) kurikulum kemanusiaan itu sendiri


menyediakan literatur bermanfaat dan tema-tema
yang dapat dipakai sebagai dasar diskusi dan
belajar tentang manajemnen diri; dan (9)
kolaboratif mampu menciptakan penilaian yang
komprehensif dan multi cara terhadap gagasan
pembelajaran mandiri pada siswa.

membutuhkan pertimbangan
pada masalah
pengukuran terkait dengan penggunaan item
tunggal untuk mengukur status tugas yang
dilakukan. Bukti untuk keandalan dan status
validitas item tunggal dianggap ada kaitannya
dengan bidang penyelidikan psikologis yang secara
teratur menggunakan langkah-langkah item
tunggal-item
dan
disimpulkan
bahwa
perkembangan lebih lanjut dari jenis ukuran
memiliki potensi untuk memperluas pemahaman
tentang pengaturan belajar mandiri.

3.4.
Bagaimana
Collaborative
Innovation
Mendukung Pembelajaran Mandiri
Inovasi guru merupakan bagian integral dari
pembelajaran tetapi kurang mendapat dukungan.
Merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan
perbedaan individu siswa dan memaksimalkan
setiap potensi siswa sebagai pembelajar mandiri.
Selain
itu,
bekerja
bersama-sama
untuk
memasukkan hasil penelitian ke dalam kurikulum
dan pembelajaran di kelas memberi kesempatan
bagi studi kasus dalam penelitian tindakan kelas
pada guru kelas tradisional untuk pengembangan
profesionalisme. Ditemukan bahwa strategi
pembelajaran baru dihasilkan dari interaksi antar
peneliti.
Collaborative innovation pada proyek ini,
memberi model alternatif untuk mengesahkan
keefektifan strategi pembelajaran inovatif yang
dikembangkan oleh guru yang lain. Khususnya,
penggabungan data yang didapatkan dari studi
kasus meliputi jenis penilaian multi cara, penarikan
banyak contoh, dan kelengkapan ukuran yang
diusulkan oleh ahli pengukuran terkait dengan
validitas konstruk (Snow, Corno, & Jackson, 1996).
Strategi belajar mandiri penting bagi siswa
dalam belajar. Namun, pengetahuan bagaimana
cara belajar berharga di tempat kerja juga penting
sebagaimana berharganya di kelas (Corno &
Kanfer, 1993). Guru, seperti halnya siswa, sering
tertinggal untuk mendapatkan pengetahuan yang
tidak tertulis,tacit knowledge (Schon, 1983) atau
pengetahuan bagaimana berhasil di tempat kerja
dengan sedikit bantuan dari orang lain (Sternberg,
1995). Kemampuan mendapatkan pengetahuan
yang sama sangat penting dilakukan (Sternberg &
Wagner, 1993). Meskipun program pengembangan
pegawai membantu guru berinovasi dalam
pembelajaran, dan menurut pengalaman lalu, guru
didorong untuk menerapkan inovasi-inovasi
lainnya, terdapat beberapa bukti bahwa beberapa
guru belajar berinovasi secara implisit dengan
membiasakan diri dengan model yang diberikan
pada mereka (Randi & Corno, 1997).
Di kelas yang terstruktur secara tradisional,
seperti pada pengembangan pegawai cara lama,
terdapat sedikit kesempatan bagi siswa untuk
mempelajari manajemen diri. Namun, beberapa
siswa (dan beberapa guru) dengan jelas belajar
strategi belajar mandiri. Guru dan orang tua (Xu,
1994) mempraktekkan strategi manajemem diri
tetapi tidak diijinkan memberikan strategi ini pada
siswa (pebelajar). Dengan demikian, beberapa

3.3 Peran Guru


Guru bertindak sebagai fasilitator. Sesuai
dengan tujuan untuk mengajari manajemen diri
secara implist, siswa diarahkan oleh guru untuk
mengenali sifat-sifat yang dicontohkan oleh
pahlawan pejuang dan membuat hubungan antara
perjuangan pahlawan dengan perjuangan mereka
dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, pertamapertama siswa mengenali dan menjelaskan strategi
manajemen diri dengan kata-kata mereka sendiri.
Pemahaman siswa lalu diberi nama dan diperkuat
oleh guru melalui pemberian contoh dan kegiatan
berikutnya menitikberatkan pada pengartikulasian
strategi pembelajaran mandiri, seperti identifikasi
strategi siswa dalam menulis.
Kutipan ini mengartikulasikan perlunya
pembelajaran yang disesuaikan dengan perbedaan
individu tiap-tiap siswa (Cronbach & Snow, 1977).
Secara umum, hasil pengamatan pada jurnal Randi
mempunyai perhatian rangkap pada: (a) data yang
dikumpulkan tentang kemajuan siswa terkait
pembelajaran mandiri dan (b) cara dia (guru)
menganalisis dan menggunakan data tersebut
menitikberatkan pada apa yang ia rasa perlu diubah.
Tipe pengembangan kurikulum ini tidak mungkin
muncul dalam model pembelajaran cara lama.
Belajar mandiri dapat ditanamkan oleh guru
yang membelajarkan isi kurikulum yang sesuai
melalui cara-cara yang tepat.Bagian-bagian teori
pembelajaran tersebut, adalah sebagai berikut: (1)
kelas diatur dengan hati-hati untuk memungkinkan
belajar
mandiri
berlangsung
dan
untuk
memudahkan pembelajaran kognitif yang baru dan
strategi manajemen diri; (2) siswa didampingi guru
untuk mengambil bagian dalam tantangan dalam
unit ini. Walaupun semua siswa berkemampuan
rata-rata, masing-masing disiapkan untuk evaluasi
sendiri dan evaluasi teman sebaya; (3) evaluasi
dipakai untuk mengarahkan siswa pada pencapaian
tujuan daripada sekedar pertimbangan prestasi
siswa; (4) guna memastikan keberhasilan dan
meminimalkan
rasa
ketidakpuasan
dalam
pembelajaran, siswa diberi instruksi eksplisit dalam
merencanakan dan manajemen sumber; (5)
kesempatan yang luas bagi siswa untuk belajar dan
mempraktikan belajar mandiri. (6) tugas akhir
merupakan pekerjaan rumah; (7) guru peka pada
perbedaan individu tiap siswa dan bentuk-bentuk
112

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

terhadap kinerja tetapi terkait erat dengan selfregulated dan penggunaan strategi kognitif, terlepas
dari prestasi pada tingkatakurasi.

siswa dirugikan dalam memperoleh strategi yang


pada umumnya dipakai oleh siswa yang baik.
Karena tidak belajar dari pengalaman sebelumnya,
beberapa guru sangat dirugikan (Olson, 1997).
Collaborative innovation membantu guru belajar
tentang pembelajaran mereka dengan mendorong
penemuan guru yang muncul dari keadaan kelas
yang khas, serta artikulasi apa yang telah mereka
pelajari. Oleh sebab itu, collaborative innovation
membuat penggunaan strategi guru ke tingkat sadar
serta memungkinkan guru untuk memberi nama
strategi mereka pada siswa.Proses kolaboratif
membiarkan guru ikut serta dalam pelaksanaan
pembelajaran. Guru dan siswa memperoleh manfaat
dari pembelajaran dengan strategi belajar mandiri
secara implisit sesuai dengan pengalaman mereka.

Menciptakan Lingkungan Guru


Karena meyakini bahwa guru mendapat
keuntungan dari lingkungan belajar yang
berkualitas yang memberi tantangan pada waktu
yang sama mendorong pengambilan resiko, maka
diperlukan kesempatan belajar bagi guru. Cronbach
(1955) antara lain menyarankan, dengan memberi
lebih banyak pengalaman tipe tertentu daripada
yang dialami..dan dengan membantu orang
tersebut untuk menuliskan kesimpulannya dengan
cepat (halaman 79).Daripada menerapkan program
pengembangan staff seperti yang ditentukan, guru
menyesuaikan diri dengan model yang diberikan
pada mereka atau membuat strategi pembelajaran
sendiri sesuai dengan keadaan kelas mereka.
Hasilnya, penyesuaian diri dan penemuan mereka
dilakukan dengan sengaja: guru dengan jelas
mengetahui perbedaan antara praktik pembelajaran
dan model yang mereka kenal sebagai sumber ide
mereka.
Proses penelitian kolaboratif mendukung
inovasi guru pada beberapa hal penting dalam teori
ini. Pertama, proses penelitian sejalan dengan
proses perencanaan pembelajaran yang dipakai
guru pada umumnya. Contohnya, wawancara dan
pengamatan di mana guru berperan serta, sementara
peneliti berperan dalam pertimbangan, pembuatan,
serta pemikiran tindakan yang dideskripsikan pada
pembuatan kurikulum individu guru (Connelly &
Clandinin, 1988). Oleh sebab itu, pada proses siklus
ini, guru melanjutkan evaluasi dan merevisi
pekerjaan mereka.
Kedua,
guru diminta
mendeskripsikan pelajaran mereka dan menjelaskan
bagaimana mereka membedakannya dengan model
yang mereka kenal sebagai sumber ide mereka.
Maka dari itu, penemuan mereka diakui sebagai
bentuk pengetahuan yang logis. Akhirnya, proses
kolaboratif mendukung guru dalam mengatasi
masalah
berdasarkan
keadaan,
menggagas
pengetahuan baru tentang pembelajaran dan
pembelajaran,
serta
menyatukan
praktik
pembelajaran baru mereka dengan ide-ide lama
yang tetap dominan di luar kelas mereka.

Inovasi Guru dalam Pembelajaran Mandiri


Beberapa penelitian menjelaskan bahwa guru
sebagai pembelajar mandiri (Gallimore, Dalton, &
Tharp, 1986; Manning & Payne, 1993). Cara yang
bisa membuat guru menjadi mandiri adalah melalui
interaksi dengan inovasi pembelajaran mereka atau
di lingkungan belajar. Demikian juga, guru belajar
menemukan praktek mengajar yang baru dari
model-model pembelajaran yang diberikan pada
mereka (Randi, 1996). John L. Nietfeld & Li Cao &
Jason W. Osborne (2006) dalam penelitiannya yang
berjudul pengaruh latihan pemantauan terdistribusi
dan umpan balik terhadap kinerja, akurasi
pemantauan, dan self-efficacy. Pemantauan proses
seseorang secara akurat adalah penting dalam selfregulated. Hasilnya menunjukkan kesesuaian
mengintegrasikan terdistribusikannnya latihan
metakognitif di kelas dan peran fundamental
kemampuan dalam pemantauan hasil pelatihan
berbasis kinerja dan self-efficacy.
Selanjutnya Paul R. Pintrich and Elisabeth V.
De Groot. (1990), melakukan penelitian dengan
judul motivational and self-regulated learning
components of classroom academic performance.
Permasalahan yang diteliti adalah: (1) Bagaimana
tiga
komponen
motivasi
berhubungan
dengankomponen pengaturan belajar mandiri?; (2)
Apakah interaksi antara ketiga komponen motivasi
dan hubungannya dengan pengaturan komponen
pembelajaran mandiri?; dan (3)
Bagaimana
motivasi dan komponen pengaturan
belajar
mandiri berhubungan dengan kinerja tugas
akademis murid di kelas?. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa self efficacy siswa, nilai
intrinsik, uji kecemasan, self-regulated, dan
penggunaan strategi belajaryang diberikan, dan data
kinerja yang diperoleh dari tugas kelas.Self-efficacy
dan nilai intrinsik positif terkait dengan keterlibatan
kognitif
dan
kinerja.
Analisis
regresi
mengungkapkan bahwa, pada ukuran hasil, selfregulation, self-efficacy, dan kecemasan pada saat
tes muncul sebagai prediktor kinerja yang terbaik.
Nilai intrinsik tidak memiliki pengaruh langsung

Komponen Ajar untuk Pembelajaran Profesional


Guru
Sepuluh prinsip pembelajaran professional
guru timbul dari kerjasama dengan para guru.
Proses kolaboratif dipakai memberi beberapa
contoh bagaimana guru belajar di lingkungan
mengajar
mereka,
termasuk
bagaimana
pembelajaran guru dapat ditingkatkan dengan
menyediakan lingkungan pembelajaran yang
berkualitas. Ringkasnya, prinsip komponen ajar
yang mengacu
pada teori collaborative
innovation yang lebih formal sebagai bentuk
pembelajaran professional guru, yaitu: (1)
113

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

tertentu yang didasarkan pada pemahaman mereka


tentang integrasi PBL dan ICT. Tujuan utama dari
proyek desain ini adalah membantu guru membuat
hubungan erat antara konten, pedagogi, dan
teknologi pembelajaran, merancang artifak bersama
mitra. Dara dari survei dan desain pelajaran artefak
dianalisis untuk mengidentifikasi pemahaman
peserta, persepsi, dan aplikasi dari TPCK.
Analisis data mengungkapkan bahwa
sementara peserta memiliki pemahaman teoritis
pedagogis pengetahuan tentang PBL, desain
pelajaran mereka menunjukkan ketidakcocokan di
antara alat-alat teknologi, konten, dan strategi
pedagogis.
Temuan
lain
adalah
adanya
pertentangan
dalammengintegrasikan
pedagogis,rancangan konten pengetahuan dalam
pedagogis dan pengintegrasian teknologi dalam
pembelajaran. Desain pelajaran dianalisis untuk
mengetahui
bagaimana
pre-service
guru
menerapkan pengetahuan mereka pada pedagogi,
konten dan teknologi ke dalam desain. Meskipun
skor rata-rata desain pedagogis dan teknologi
sangat mirip antar kelompok, tetapi skor pada
setiap kriteria bervariasi.
Secara keseluruhan, hasil dari analisis desain
artefak terungkap pre-service guru kurang
memahami tiga bidang utama, desain yaitu
teknologi, pedagogis, dan keterkaitannya dengan
desain pelajaran. Hasil dari studi ini adalah
mengetahui persepsi guru pre-service TPCK dan
mereka kesulitan kognitif dalam menerapkan TPCK
ke dalam desain pelajaran yang sebenarnya. Peserta
yang terlibat dalam proyek, mereka merancang
konten pelajaran tertentu yang didasarkan pada
pemahaman mereka dalam mengintegrasikan PBL
dan ICT.
A MODEL FOR SELF-REGULATED
LEARNING IN TECHNOLOGY EDUCATION
(SRLT)
Bagian ini mengusulkan sebuah model
sebagai pengembangan SRL menjadi self-regulated
learning technology(SRLT).Dalam Moshe Barak
(2009), terdiri dari domain kognitif, metakognitif
dan motivasi. Diskusi terpusat pada domain
kognitif pemecahan masalah dan kreativitas,
dengan fokus akhir pada kebutuhan untuk
melibatkan siswa dalam tugas terbuka dalam
konteks informal dan metode untuk mengajar
mereka, strategi dan heuristik untuk inventif desain
dan pemecahan masalah, daripada membiarkan
mereka mencari secara acak untuk ide-ide atau
dengan menggunakan metode
trial-and-error.
Gagasan metakognisi berkaitan dengan kemampuan
masyarakat untuk menyadari dan mengendalikan
pemikiran mereka sendiri, misalnya, bagaimana
mereka
memilih
tujuan
belajar
mereka,
menggunakan pengetahuan sebelumnya atau
sengaja memilih strategi pemecahan masalah.
Self-regulated sangat berkorelasi dengan
motivasi individu untuk menangani menantang

penemuan guru (teacher invention), (2)pilihan guru


(teacher choice). Inonasi yang kolaboratif
(collaboration innovation) memberi kesempatan
pada guru untuk membuat model pembelajaran
sesuai pilihannya sendiri, (3) evaluasi model
pembelajaran baru(evaluating new practices),: (4)
pembuatan siklus kurikulum (cyclical curriculum
naking)(5) pemecahan masalah (problem solving),
(6)pembelajaran konteks (learning-in-context),(7)
siswa sebagai fokus (students as focus).(8)
membangun
pengetahuan
(knowledge
construction),
(9)kerja
sama
sementara
(collaborative apprenticeship), dan (10) resiko
rendah dan tantangan tinggi (low risk and high
challenge).
Collaborative Innovation Sebagai Pembelajaran
Profesional Guru
Walaupun
collaborative
innovation
menggabungkan bentuk-bentuk baru pembelajaran
profesional guru yang disebutkan dalam literatur
pengembangan pegawai baru-baru ini (Lieberman,
1995), collaborative innovation tidak tepat di
semua situasi. Beberapa guru, sama seperti siswa,
mendapatkan manfaat dari bentuk pembelajaran
yang lebih tepat. Selanjutnya, tidak semua guru
berkeinginan bekerja seperti yang dilakukan; hal ini
bisa
bertentangan
dengan
tujuan
untuk
memaksakan collaborative innovation kepada guru.
Akan tetapi, banyak guru yang mendapatkan
manfaat dari jenis kolaborasi yang dijelaskan tidak
memiliki kesempatan membentuk kerja sama
dengan peneliti, walaupun kolaborasi semacam itu
sangat umum.
Pasti ada cara lain untuk menjelaskan
pembelajaran mandiri kepada guru dengan baik.
Collaborative innovation sebagai suatu cara
membangun lingkungan pembelajaran yang
berkualitas bagi guru, guru diberi jenis
pembelajaran yang sama dan diharapkan mereka
merancang untuk siswanya. Ironisnya, guru jarang
diberi arahan.
So, Hyo-Jeong, Kim Bosung. 2009 melakukan
penelitian tentang: Learning about problem based
learning:Student teachers integrating technology,
pedagogy and content knowledge (TPCK).
Permasalahan yang diteliti adalah apa yang harus
menjadi basis pengetahuan guru-guru yang
diharapkan di masa depan untuk dapat
mengintegrasikan teknologi, pedagogis dan konten
pengetahuan. Sembilan puluh tujuh pre-service
guru dalam studi ini terlibat dalam sebuah proyek
desain
kolaboratif
pembelajaran.
Mereka
menerapkan pengetahuan pedagogis tentang PBL
untuk merancang teknologi pembelajaran terpadu
pada
daerah subjek mereka mengajar. Data
dikumpulkan dari dua sumber survei dan
pelaksanaan desain pembelajaran. Peserta yang
terlibat
dalam
proyek
kolaborasi
desain
pembelajaran, mereka merancang pelajaran konten
114

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

tugas, dan dengan kepuasan internalnya terlibat


dalam tugas yang memberikan kontribusi lebih
untuk kreativitas daripada konstribusi eksternal.
Faktor penting lainnya adalah kepercayaan seorang
individu (self-efficacy) dalam kemampuan mereka
untuk menangani tugas yang sangat menuntut
engalaman positif sebelumnya dalam tugas-tugas
yang sama dan keberadaan lingkungan sosial dan
emosional yang mendukung. Model SRLT
menyoroti keterkaitan antara aspek kognitif,
metakognitif dan motivasi belajar, pemecahan
masalah dan penemuan. Sebagai contoh, siswa
belajar strategi pemecahan masalah
dapat
membantu
mereka
menyelesaikan
tugas,
meningkatkan
kemampuan
mereka
untuk
memantau
mereka
sendiri
berpikir
dan
merenungkan
pembelajaran
mereka,
dan
meningkatkan self-efficacy tentang masalahpemecahan dan kreativitas. Para guru berperan
dalam mengenalkan
SRLT dan arah untuk
penelitian lebih lanjut juga perlu dibahas.
Para
sarjana
di
bidang
teknologi
pembelajaran, serta dalam disiplin lain, menjadi
semakin menyadari kebutuhan untuk desain
pembelajaran menggunakan teori belajar yang
dapat membantu dalam memahami bagaimana
orang belajar dan bagaimana keterampilan
intelektual dikembangkan. Menurut Zimmerman
(2008), teknologi pembelajaran dapat membantu
dalam mengeksplorasi tujuan dan metode
pembelajaran secara jelas, teori pembelajarannya
harus lebih luas, dan peran teknologi pembelajaran
dapat memberikan pemahaman lebih mendalam
dalam memberdayakan kompetensi intelektual
siswa, dan lainnya.
Lebih lanjut Zimmerman (2008), menekankan
bahwa self-regulated bukan kemampuan mental
atau keterampilan prestasi akademis, seperti
inteligensi atau kemahiran semata. Sebaliknya, SRL
mengacu pada proses self-regulated diarahkan
melalui mengubah pelajar akan kemampuan mental
mereka menjadi keterampilan akademik. Sebuah
model untuk mengatur belajar mandiri melalui
teknologi pembelajaran (SRLT). Konsep SRL tidak
memiliki satu atau sama persis definisi, tetapi
sering disajikan sebagai suatu proses siklus yang
dipengaruhi oleh kombinasi kognitif dan faktor
sosial. Dalam tulisan Moshe Barak (2009),
menyarankan model umum SRLT ditandai oleh tiga
dimensi utama: kognisi, metakognisi dan motivasi,
seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1.
Teori SRL menunjukkan suatu kerangka
komprehensif untuk memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi individu transisi dari bergantung ke
pelajar otonom. Kami telah melihat model SRLT
terdiri dari domain kognitif, metakognitif dan
motivasi, dan menganalisis bagaimana pendidikan
teknologi berhubungan dengan kompetensi
mengembangkan orang dalam masing-masing
domain ini.

Gambar 1. A Model for Self-Regulated Learning in technology


Education (SRLT)

Self Regulated Learning Berbasis Internet


Dalam beberapa tahun terakhir, yang meminati SRL
telah berkembang pesat. Sedangkan kegiatan SRL
dikendalikan kognitif
mereka lebih dari
pemantauan kegiatan kognitif. Motivasi dan
proses emosional juga penting dalam belajar dan
mereka juga perlu mengaturnya, Pada saat yang
sama, program komputer multimedia dan internet
telah memainkan peran penting dalam suatu dalam
lingkungan belajar. Karl, Steffen (2001) dalam
penelitian yang berjudul self-regulation and
computer based learning hasilnya menunjukkan
bahwa lingkungan belajar berbasis komputer dan
web
mengklaim
dapat
mengembangkan
keterampilan self-regulateddalam menghasilkan
keterampilan kognitif dan metakognitif saja tetapi
juga menghasilkan efek non-kognitif. Cox (1997),
misalnya, penelitian mengenai pengaruh ICT pada
motivasi siswa di Inggris, menemukan bahwa
penggunaan ICT meningkatkan minat siswa dalam
belajar, difasilitasi self-directed learning dapat
meningkatkan harga diri mereka dan meningkatkan
potensi untuk mencapai tujuan.
Lebih lanjut menurut Karl, Steffen (2001),
bahwa untuk dapat merancang komponen perancah
pengaturan-diri non-kognitif secara baik, perlu
memiliki pemahaman yang sangat tepat tentang
bagaimana fungsi proses metamotivational pada
tingkat yang sangat halus. Hal yang sama harus
memperhatikan komponen yang memfasilitasi
metakognitif selt-regulation. Model self-regulated
yang disajikan sebelumnya masih relatif kasar. Self
regulatedjauh lebih kompleks, meskipun mungkin
akhirnya memperolehnya pada tingkat yang sangat
fine-grained dari bagaimana manusia benar-benar
melakukan pengaturan-diri mereka, mungkin secara
teknis terlalu sulit dan terlalu rumit untuk
menerapkan pengetahuan dalam pembelajaran
berbasis komputer.
Selanjutnya Elaine H. J. Yew dan Henk G.
Schmidt (2009) melalui penelitiannya bertujuan
115

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

yang berkaitan dengan pembelajaran dan konteks


pendidikan yang lebih luas. Hasilnya adalah 'teori
belajar kontekstual' yang menentukan tiga set
kondisi
pendidikan
untuk
meningkatkan
pembelajaran: (1) diferensiasi materi belajar dan
prosedur; (2) integrasi dan dukungan ICT, dan (3)
strategi untuk meningkatkan pengembangan dan
pembelajaran.
Penelitian
modelpembelajaran
berbasis ICT yang terkait dengan SRL juga
dilakukan Ton Mooij (2009) ditunjukkan Gambar
2.
Secara umum menunjukkan bahwa bakat
kinerja siswa dapat membaik. Yang diperlukan
proses pengajaran dan pembelajaran dapat
dirancang terutama oleh siswa sendiri, dengan
bantuan dan secara bertahap dikurangi bantuannya.

meningkatkan pemahaman tentang learning


orientedinteraksi verbal yang terjadi antara
mahasiswa selama siklus problem-basedlearning
(PBL) siklus. Interaksi verbal interaksi dari satu
kelompok PBL dari lima siswa di seluruh siklus
PBL seluruh data intensif dicatat dalam transkrip
verbatimterdiri dari lebih dari 1.000 ucapan-ucapan
dianalisis untuk menyelidiki apakah dan bagaimana
PBL merangsang siswa terhadap pembelajaran
yang konstruktif, mandiri dan kolaboratif. Hasilnya
menunjukkan terjadinya pemahaman tentang
learning oriented interaksi verbal 53,3% kejadian
kolaboratif, 27,2% mandiri dan 15,7% konstruktif.
Penelitian Helge I. Strms & Brten Ivar,
(2009), hasilnya menunjukkan bahwa dimensi
keyakinan epistemis internet khusus ditemukan
untuk menjelaskan variasi unik dalam pencarian
berbasis internet, membantu mencari, dan strategi
regulasi diri masing-masing. Secara khusus, siswa
menekankan bahwa pengetahuan yang berkaitan di
internet terdiri dari fakta yang spesifik dan rincian
pencarian dan evaluasi hasil pencarian menjadi
kurang bermasalah dan dilaporkan membantu
mencari dan menggunakan strategi self-regulated
selamapembelajaran berbasis internet. Selain itu,
siswa percaya bahwa klaim pengetahuan berbasis
internet harus diperiksa dari sumber-sumber lain,
akal, dan pengetahuan sebelumnya dilaporkan lebih
cenderung
menggunakan
strategi
selfregulatotedketika menggunakan internet selama
belajar.
Hasil penelitian
Ton Mooij (2009) yang
berjudul: Education and ICT-based self-regulation
in learning: Theory, design and implementation,
hasilnya siswa mencapai standar yang relatif rendah
atau tinggi dibandingkan dengan sebagian besar
lainnya, siswa mungkin akan mengalami masalah
motivasi dan prestasi menjelang lulus dari
pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut,
pendidikan dengan pendekatan sistemik disajikan.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Untuk dapat menciptakan pembelajaran yang
dapat mendorong siswa untuk belajar mandiri
seorang guru, perlu bekerja sama dengan
peneliti untuk menciptakan metode yang tepat
dan membantu pengembangan belajar mandiri.
2. Peranan guru di dalam mendampingi siswa
dalam pembelajaran adalah: (a) mempersiapkan
siswa untuk melakukan evaluasi diri dan
evaluasi teman sebaya; (b) memberikan
instruksi yang jelas dalam merancang evaluasi
diri atau pengamatan mandiri dan manajemen
sumber; dan (c) membelajarkan siswa
bagaimana mencari bantuan ketika siswa
membutuhkan.
3. Peranannya peneliti dalam kolaborasi inovatif
adalah mendorong guru untuk berperan serta
dalam belajar mandiri berkaitan dengan metode
pembelajaran.
4. Dengan melakukan pendekatan penelitian
bersama guru, akan tercipta sebuah peluang
untuk bekerja sama dalam berbagai keahlian.
Kerjasama tersebut dalam hal mengembangkan
cara baru dalam pengumpulan data dan cara
penilaian baru terhadap efek pembelajaran.
Selain itu juga dapat melakukan penelitian
kolaborasi dan cara pengumpulan data yang
baru untuk menambah pengetahuan SRL.
5. Model pembelajaran SRL berbasis teknologi
dan internet, umum menunjukkan bahwa kinerja
pendidikan siswa berbakat dapat membaik.
Yang diperlukan proses pengajaran dan
pembelajaran dapat dirancang pertama-tama
oleh siswa sendiri dengan bantuan dan secara
bertahap dikurangi bantuannya

Gambar 2. Self-Regulation Cycle of Learning TaskSelection ,


Coaching and Assessment

SARAN
Di era sekarang, model pengembangan SRL di
sekolah-sekolah sebaiknya lebih diarahkan menjadi

(Ton Mooij, 2009)

Aspek kognitif, sosial, motivasi dan mengatur


dirinya dari tugas belajar dan proses pembelajaran
116

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

self-regulated learning technology (SRLT) dan


internet
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Adv in Health Sci Educ, (2009). Evidence for constructive,
self-regulatory, and collaborative processes in problembased learning. Adv in Health Sci Educ (2009) 14:251273
Volume 14:251273
[2]. Charles M. Reigeluth, 1999. Instructional-design theories
and models volume II A paradigm of instructional theory.
Lawrence Erlbaum Associates, Publishers Mahwah, New
Jersey London.
[3]. Helge I. Strms & Brten Ivar, 2009. The role of personal
epistemology in the self-regulation of internet-based
learning. Metacognition Learning DOI10.1007/s11409009-9043-7
[4]. John L. Nietfeld & Li Cao & Jason W. Osborne, 2006. The
effect of distributed monitoring exercises and feedback on
performance, monitoring accuracy, and self-efficacy. Educ
Psychol Rev 18:267286.
[5]. Karl, Steffen, 2001. Self-regulation and computer based
learning. Attuurio de Psicologu. Facultat de Psicologia
Universitat de Barcelona vol. 32- 2 page 77-94.
[6]. Maria Ainley & Patrick Lyn, 2006. Measuring selfregulated learning processes through tracking patterns of
student interaction with achievement activities. Educ
Psychol Rev 18:267286
[7]. Martin H. Jones & David B. Estell & Joyce M., Alexander,
2007. Friends, classmates, and self-regulated learning:
discussions with peers inside and outside the
classroom.Metacognition Learning (2008) 3:115.
[8]. Moshe Barak, 2009. Motivating self-regulated learning in
technology education.
Int J Technol Des Educ.
Departement of Science and Technology, Ben-Gurion
university of the Negev Beer Sheva, Israel.
[9]. Paul R. Pintrich and Elisabeth V. De Groot. 1990.
Motivational and self-regulated learning components of
classroom academic performance. Journal of Educational
Psychology. Vol. 82, No. 1,33-40
[10]. So, Hyo-Jeong, Kim Bosung. 2009. Learning about
problem based learning: Student teachers integrating
technology, pedagogy and content knowledge. Australian
Journal of Educational Technology, 25(1), 101-116.
[11]. Ton Mooij, 2009. Education and ICT-based self-regulation
in learning: Theory, design and implementation. Educ Inf
Technol (2009) 14:327

117

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Media Pembelajaran Berbasis ICT*)


Godlief Erwin Semuel1 , I Made Parsa2
1,2

Lab. Tek. Elektro, PTK FKIP Universitas Nusa Cendana, Kupang


email : 1godlieverwin@yahoo.com, 2md_parsa@yahoo.co.id

Abstrak Setiap guru mempunyai target dalam


proses pembelajaran untuk mata pelajaran yang
diasuhnya seperti yang termuat dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berbagai metode
diterapkan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang
telah ditargetkan mengingat syarat kelulusan UN yang
semakin berat tiap tahunnya. Banyak kendala yang
dihadapi para guru dan murid (terlebih kesulitan
dihadapi oleh siswa yang bersekolah pada siang hari)
dalam mencapai kompetensi pembelajaran. Kesulitan
bukan hanya pada mata pelajaran eksakta tetapi juga
mata pelajaran umum, sosial dan bahasa. Setelah diteliti
(saat pra kegiatan pengabdian), salah satu penyebab
kegagalan siswa untuk mencapai kompetensi adalah
media ajar yang dipakai guru dalam penyampaian
materi dirasakan kurang menarik. Selain itu siswa tidak
dapat berkonsentrasi karena mengantuk, guru dalam
menyampaikan materi dianggap membosankan dan
monoton, guru seperti berpidato dan kurang
berinteraksi dengan siswa .Guru kemudian diberikan
pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis ICT.
Output dari pelatihan ini adalah masing-masing peserta
harus membuat media pembelajaran yang berbasis ICT
untuk mata pelajaran yang diasuhnya untuk kemudian
dijadikan sebagai media dalam proses pembelajarandi
sekolah. Dari hasil tes, observasi dan wawancara dengan
para siswa, ada peningkatan hasil belajar karena siswa
merasa tertarik dengan media pembelajaran yang
menyenangkan dan interaktif.
Kata kunci : kompetensi,media, pembelajaran, ICT

I. PENDAHULUAN
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan
dapat merangsang pikiran, membangkitkan semangat,
perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat
mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri
siswa. Media pembelajaan yang dibuat harus mampu
membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan.
Untuk menggunakan media sesuai dengan materi
pelajaran perlu dikatahui terlebih dahulu jenis-jenis
media yang ada yaitu media audio, video dan grafis.
Media yang dipakai harus mampu menunjang tujuan
yaitu
pencapaian
kompetensi,
tepat
guna,
menyesuaikan dengan keadaan siswa, ketersediaan
media dan biaya.
Dasar pemilihan media yang juga perlu
dipertimbangkan adalah memilih alat bantu yang
sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan
kelompok, memilih alat bantu secara tepat untuk
kegiatan
pembelajaran,
mempertahankan

keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih,


menghindari alat bantu yang berlebihan, serta
mempertanyakan apakah alat bantu tersebut
diperlukan dan dapat mempercepat pembelajaran atau
tidak [1]. Media pembelajaran berbasis ICT
mempunyai dampak yang sangat luas dan banyak
apabila digabungkan dengan internet.
Manfaat media pembelajaran berbasis ICT dalam
dunia pendidikan bagi siswa antara lain :
1) Sebagai sumber belajar alternatif,
2) Dapat lebih memahami materi yang disampaikan
guru karena ada gambar dan animasi yang menarik
perhatian,
3) Dapat berlatih soal dengan menanfaatkan uji
kompetensi,
4) Cara belajar lebih efisien,
5) Wawasan bertambah,
6) Meringankan dalam membuat contoh soal,
7) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi
dan info-info lain yang berhubungan dengan
bidang studi,
8) Membantu siswa dalam mempelajari materi secara
individu selain disekolah,
9) Membantu siswa melek ICT
Manfaat ICT bagi guru antara lain sebagai media
untuk membuat alat bantu penyampaian materi,
peningkatan profesionalisme guru, berbagi ilmu dan
ide dengan rekan guru, mempublikasikan hasil karya
dan dapat berdiskusi dalam forum maya.
Dari berbagai manfaat yang diperoleh,terlihat
bahwa penerapan ICT dalam dunia pendidikan
dapat meningkatkan kualitas guru, siswa serta model
bahan ajar.
II. KOMPUTER SEBAGAI MEDIA
Aplikasi
komputer
dalam
pembelajaran
memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara
individual (individual learning). Pemakai komputer
atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan
sumber informasi. Komputer yang berjejaring
(internet) memungkinkan pemakainya melakukan
interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan
informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk interaksi
pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya
medium komputer. Beberapa lembaga pendidikan
jarak jauh di sejumlah negara yang telah maju
memanfaatkan medium ini sebagai sarana interaksi.
Pemanfaatan ini didasarkan pada kemampuan yang
dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan
balik (feedback) yang segera kepada pemakainya.

119

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Contoh penggunaan internet dalam dunia pendidikan


adalah penyelenggaraan e-learning, salah satunya
yang berbasis Moodle.
A.. Kelebihan Komputer
Ada beberapa kelebihan dan juga kelemahan yang
ada pada medium komputer. Aplikasi komputer
sebagai alat bantu proses belajar memberikan
beberapa keuntungan. Komputer memungkinkan
siswa/mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan
dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan
informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer
dalam proses belajar membuat siswa/mahasiswa dapat
melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya.
Penggunaan komputer dalam lembaga pendidikan
jarak jauh memberikan keleluasaan terhadap
siswa/mahasiswa untuk menentukan kecepatan belajar
dan memilih urutan kegiatan belajar sesuai dengan
kebutuhan.
Kemampuan komputer untuk menayangkan
kembali informasi yang diperlukan oleh pemakainya,
yang diistilahkan dengan "kesabaran komputer", dapat
membantu siswa /mahasiswa yang memiliki kecepatan
belajar lambat. Dengan kata lain, komputer dapat
menciptakan iklim belajar yang efektif bagi
siswa/mahasiswa yang lambat (slow learner), tetapi
juga dapat memacu efektivitas belajar bagi
siswa/mahasiswa yang lebih cepat (fast learner).
Disamping itu, komputer dapat diprogram agar
mampu memberikan umpan balik terhadap hasil
belajar dan memberikan pengukuhan (reinforcement)
terhadap prestasi belajar siswa/mahasiswa. Dengan
kemampuan komputer untuk merekam hasil belajar
pemakainya (record keeping), komputer dapat
diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor
hasil belajar secara otomatis.
Komputer juga dapat dirancang agar dapat
memberikan
preskripsi
atau
saran
bagi
siswa/mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar
tertentu. Kemampuan ini mengakibatkan komputer
dapat dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran
yang bersifat individual (individual learning).
Kelebihan komputer yang lain adalah kemampuan
dalam mengintegrasikan komponen warna, musik dan
animasi grafik (graphic animation). Hal ini
menyebabkan komputer mampu menyampaikan
informasi dan pengetahu-an dengan tingkat realisme
yang tinggi. Hal ini me-nyebabkan program komputer
sering dijadikan sebagai sarana untuk melakukan
kegiatan belajar yang bersifat simulasi. Lebih jauh,
kapasitas memori yang dimiliki oleh komputer
memungkinkan penggunanya menayangkan kembali
hasil belajar yang telah dicapai sebelumnya. Hasil
belajar sebelumnya ini dapat digunakan sebagai dasar
pertimbangan untuk melakukan kegiatan belajar
selanjutnya.
Keuntungan lain dari penggunaan komputer
dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar
dengan penggunaan waktu dan biaya yang relatif
kecil. Contoh yang tepat untuk ini adalah program

komputer simulasi untuk melakukan percobaan pada


mata kuliah sains dan teknologi. Penggunaan program
simulasi dapat mengurangi biaya bahan dan peralatan
untuk melakukan percobaan.
B. Kekurangan Komputer
Disamping memiliki sejumlah kelebihan,
komputer sebagai sarana komunikasi interaktif juga
memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama
adalah tingginya biaya pengadaan dan pengembangan
program komputer, terutama yang dirancang khusus
untuk maksud pembelajaran. Disamping itu,
pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan komputer
yang meliputi perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software) memerlukan biaya yang
relatif tinggi. Oleh karena itu pertimbangan biaya dan
manfaat (cost benefit analysis) perlu dilakukan
sebelum memutuskan untuk menggunakan komputer
untuk keperluan pendidikan. Masalah lain adalah
compatability dan incompability antara hardware dan
software. Penggunaan sebuah program komputer
biasanya memerlukan perangkat keras dengan
spesifikasi yang sesuai. Perangkat lunak sebuah
komputer seringkali tidak dapat digunakan pada
komputer yang spesifikasinya tidak sama. Disamping
kedua hal di atas, merancang dan memproduksi
program pembelajaran yang berbasis komputer
(computer based instruction) merupakan pekerjaan
yang tidak mudah. Memproduksi program komputer
merupakan kegiatan intensif yang memerlukan waktu
banyak dan juga keahlian khusus.
Jaringan
komputer/internet
memberi
kemungkinan bagi pesertanya untuk melakukan
komunikasi tertulis dan saling bertukar pikiran tentang
kegiatan belajar yang mereka lakukan. Jaringan
komputer dapat dirancang sedemikian rupa agar
guru/dosen
dapat
berkomunikasi
dengan
siswa/mahasiswa
dan
siswa/mahasiswa
dapat
melakukan interaksi belajar dengan siswa/mahasiswa
yang
lain.
Interaksi
pembelajaran
dengan
menggunakan jaringan komputer tidak saja dapat
dilakukan secara individual, tetapi juga untuk
menunjang kegiatan belajar kelompok. Pemanfaatan
jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh
dikenal juga dengan istilah Computer Conferencing
System (CCF). Biasanya sistem ini dilakukan melalui
surat e-mail. Beberapa kelebihan pemanfaatan
jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh
yaitu: dapat memperkaya model-model tutorial, dapat
memecahkan masalah belajar yang dihadapi
siswa/mahasiswa dalam waktu yang lebih singkat dan
dapat mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam
memperoleh informasi. CCF memberi kemungkinan
bagi mahasiswa dan dosen untuk melakukan interaksi
pembelajaran langsung antar individu, individu
dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
C.. Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang berbasis ICT berfungsi
untuk :

120

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang


terjadi pada masa lampau
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan
pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
Media pembelajaran dapat melampaui batasan
ruang kelas
Media pembelajaran memungkinkan adanya
interaksi langsung antara peserta didik dengan
lingkungannya
Media dapat menanamkan konsep dasar yang
benar, konkrit, dan realistis
Media membangkitkan motivasi dan merangsang
anak untuk belajar
Memperoleh gambaran yang jelas tentang
benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung
karena ukurannya yang tidak memungkinkan
D. Mengola Materi Menjadi Berbasis ICT
Materi ajar konvensional perlu diolah ulang agar
modelnya berubah tanpa tetapi tidak merubah makna
atau inti dari materi itu sendiri. Dengan kata lain,
kemasan berubah tetapi isinya tetap. Materi ajar diolah
dengan
tahapan:
1. Seleksi buku. Memilih sebuah buku yang akan
menjadi acuan dengan pertimbangan isi materi, tingkat
kesulitan, metodologi instruksional dan integritas
keilmuan penulis.
2. Strukturisasi. Sturkturisasi diawali dengan
membuat
proposisi
dari
teks
dasar.
Setelah menentukan proposisi utama, makro, dan
mikro, langkah selanjutnya adalah mengalihkannya ke
bentuk outline, sehingga didapatkan sebuah model
representasi
teks.
3. Seleksi. Seleksi materi yang sesuai kebutuhan
siswa. Tidak semua materi yang ada pada topik/materi
diperlukan oleh siswa. Oleh karena itu dibutuhkan
pemilihan kembali terhadap materi yang sesuai
dengan tuntutan kurikulum.
4. Reduksi. Reduksi pada materi yang akan
diajarkan dilakukan dengan cara penyederhanakan

bahasa, visualisasi, dan penggunaan teknik historis


dalam pemaparannya. Penyederhanaan bahasa
dilakukan dengan mengabaikan hal-hal kurang relevan
dengan kebutuhan siswa. Visualisasi dilakukan
dengan memberikan gambar dari suatu proses yang
terjadi. Akan lebih mudah dipahami jika disajikan
dalam bentuk gambar (visual).
III. METODE PENERAPAN
Metode penerapan ICT sebagai basis dalam
pembuatan media pembelajaran di beberapa sekolah di
Kota/Kabupaten Kupang diawali dengan melakukan
survei mengenai SDM guru dibidang ICT, sarana
penunjang yang tersedia dan media pembelajaran yang
dipakai. Hasil survey kemudian dituangkan dalam
bentuk proposal pengabdian untuk dibiayai
pelaksanaannya. Dari semua peserta, dipilih secara
acak 10 orang guru yang akan dijadikan sampel untuk
dinilai. Materi yang diberikan untuk tiap sekolah
berbeda. Dengan bekal software program aplikasi
yang telah disampaikan, guru didampingi untuk
menuangkan materi ajarnya kedalam bentuk teks,
grafik, audio dan video. Materi pembelajaran berupa
pemaparan teori serta tes dan kunci jawaban yang
interktif. Selanjutnya guru melakukan tes awal kepada
siswa sebelum memberikan materi dalam media yang
baru. Data kemajuan penerapan media pembelajaran
berbasis ICT didapat dari hasil observasi, wawancara
dan diskusi serta nilai pada tugas, tes harian, tes
tengah semester dan tes akhir.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah guru dilatih untuk membuat media
pembelajaran yang berbasis ICT dan diterapkan saat
sebelum
tengah
semester
untuk
dipantau
perkembangannya, didapat data sebagai berikut [1]:

Tabel 1. Gambaran peserta dan hasil pelatihan

No
1
2
3
4
5
6

Sekolah

Jlh Peserta

Penguasaan ICT awal

Materi

SMAN 1
SMAN 7
SMAN 8
SMAN 9
SMPN 1
SMA Advent

10
14
11
10
15
12

25 %
20 %
25 %
25 %
20 %
20 %

Moodle
Flash & P.Point
Flash & P.Point
Flash & P.Point
Wordpress
Blogger

Kualitas Media
Yang Dibuat
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Tabel 2. Sampel hasil penerapan media pembelajaran berbasis ICT

No

Sekolah

Tes Awal

1
2
3
4
5
6

SMAN 1
SMAN 7
SMAN 8
SMAN 9
SMPN 1
SMA Advent

75
68
70
65
70
68

Penerapan ICT
Tes Mid
78
79
80
80
79
80

Tes Harian
77
75
70
80
80
80

121

Tes Akhir
80
81
80
80
80
80

Progres
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

[10]. Noto Widodo dkk. (2006). Relevansi kurikulum


STM otomotif dengan kebutuhan kemampuan kerja
industri otomotif.Laporan Penelitian DPPM Ditjen Dikti
Depdikbud. Tidak Diterbitkan. Perpustakaan IKIP
Yogyakarta.

Dari hasil yang ada, terlihat bahwa dengan


merubah atau mengembangakan bahan ajar, dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa terlihat
begitu antusias menyimak paparan materi karena
disajikan dengan cara yang berbeda dan tes yang
dikerjakan juga mempunyai kunci jawaban dan
terasa menyenangkan karena bersifat interaktif.
Saat diwawancarai, banyak yang senang
mengulang-ulang mengerjakan tes interaktif karena
mereka seperti bermain game Who Wants To Be
Milionare
V. KESIMPULAN
Kesimpulan
dari
penerapan
pembelajaran berbasis ICT antara lain :

media

Guru yang terus mengembangkan bahan ajar


mengikuti perkembangan teknologi akan merasa
puas karena kompetensi yang ditargetkan untuk
tiap pokok bahasan dapat dicapai oleh siswa.
Materi yang diajarkan akan lebih mudah
dipahami siswa karena bahan ajar yang
menarik.
Bahan ajar berbasis ICT yang menarik membuat
siswa bersemangat untuk terus mengulangulang mengerjakan tes karena terasa
menyenangkan.
Bahan ajar berbasis ICT membuat siswa dapat
belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu serta
dapat
menyesuaikan
dengan
kecepatan
penalarannya.
DAFTAR REFERENSI
[1]. London H.H. (1999), Principles and techniques of vocational guidance, Columbus, OH.: Charless E. Merrill
Publishing Co.
[2]. Mager, Robert F. & Beach, Venneth
M. (2006). Developing vocational instruction. Columbo:
Flarson Publishers.
[3]. Manning, Chris. (2008). Struktur pekerja sektor informal.
Yogyakarta: Puslit Kependudukan UGM.
[4]. Masinambow, E.K.M. (2001). "Perubahan kebudayaan dan
pola-pola transformasi struktural". Makalah. Disampaikan
dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V. LIPI
Jakarta, 7 September 1991.
[5]. Mige, G.Erwin S.(2013),L aporan Akhir IbM 2011-2013,
LPM Undana, Kupang.
[6]. Muchlas. (2007). Unjuk kerja karyawan industri kecil jenis
logam di sentra industri logam waru sidoarjo jawa
timur. Tesis. Tidak diterbitkan. Pasca Sarjana IKIP
Jakarta.
[7]. Muhadjir, Noeng. (2008). Perencanaan dan
kebijakan pendidikan. Yogyakarta: Rake Sarasin.
[8]. Mulyani A., Nurhadi. (2000). Perencanaan
pendidikan dalam menyiapkan tenaga kerja produktif dan
permasalahannya. Pidato Ilmiah dalam
Dies Natalis XXVI IKIP Yogyakarta. Yogyakarta, 21
Mei 1990.
[9]. Nolker, Helmut. (2003).Pendidikan kejuruan.
Jakarta: PT.Gramedia.

122

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Mahasiswa Melalui


Memberian Tugas Proyek Secara Mandiri Praktikum
Rekayasa Perangkat Lunak Mahasiswa D3 Manajemen
Informatika Jurusan Teknik Elektro Unesa
Rina Harimurti
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya. E-mail: rina.harimurti@gmail.com
I. PENDAHULUAN

Abstrak - Dengan model pemberian tugas


yang tepat diharapkan akan didapatkan
gambaran hasil yang lebih jelas tentang
seberapa pemahaman mahasiswa terhadap
materi Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak.
Oleh karena itu diupayakan pemberian tugas
proyek secara mandiri dapat mengasah
keterampilan mahasiswa dalam hal pemecahan
masalah,
mendesain
sampai
dengan
menghasilkan produk jadi/setengah jadi untuk
kebutuhan rekayasa perangkat lunak.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan
sebanyak 3 siklus, siklus pertama digunakan
sebagai dasar perbaikan siklus kedua demikian
juga siklus ketiga dijadikan dasar perbaikan
siklus kedua. Setiap siklus terdapat empat
tahapan
yang
meliputi
perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sedangkan
pokok bahasan yang digunakan sebagai bahan
untuk penelitian ini adalah (1) pembuatan ERD
(Entity Relationship Diagram), (2) pembuatan
DFD (Data Flow Diagram), dan (3) pembuatan
Use Case Diagram.
Pada siklus 1 didapatkan hasil 90%
mahasiswa melakukan analisis ERD dengan
betul dan mengumpulkan tugas tepat waktu.
Pada siklus 2 didapatkan hasil 75% mahasiswa
mampu menyelesaikan tugas proyek pembuatan
DFD tepat pada waktunya juga dengan analisis
yang betul dan pada siklus 3 didapatkan hasil
75% mahasiswa mampu menyelesaikan tugas
proyek pembuatan Use Case diagram dengan
betul dan tepat pada waktunya. Kesimpulan
dari 3 siklus yang dilaksanakan rata-rata
tingkat pemahaman dan analisis mahasiswa
terhadap tugas proyek yang diberikan bagus,
yang berarti 80% mahasiswa mampu mencapai
nilai yang diharapkan. Demikian juga dari hasil
tes dan asesmen kinerja mahasiswa, rata-rata
mampu mencapai nilai yang diharapkan yaitu
diatas 75%. Nilai yang diharapkan adalah
rentang A B.

Berbagai
upaya
perbaikan
sistem
pendidikan di Indonesia saat ini banyak sekali
macamnya, perubahan pada sistem belajar
mengajar, media pembelajaran dan juga sarana
dan prasarana yang disediakan. Pendidikan
adalah salah satu upaya pembinaan
kepribadian dan kemajuan manusia baik
jasmani maupun rohani. Hasil pendidikan
dianggap tinggi mutunya apabila mampu
meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Pendidikan menduduki posisi penting untuk
menuju perkembangan dan kemajuan suatu bangsa.
Sehingga tujuan pendidikan nasional akan dapat
tercapai apabila ada tanggung jawab dari semua
pihak, baik mahasiswa, orang tua, dosen,
pemerintah, lembaga pendidikan serta masyarakat.
Pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari satu
pihak saja melainkan tanggung jawab bersama.
Pelaksanaan usaha dalam mencapai tujuan
pendidikan di atas dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah upaya peningkatan hasil
belajar, hal ini dimaksudkan agar dapat dijadikan
bekal oleh mahasiswa untuk mempersiapkan
kemampuan dan keahlian apabila terjun pada dunia
kerja yang akan mereka hadapi.
Ini berarti perspektif yang baru pun harus
terjadi dalam sistem proses belajar mengajar lebih
khususnya adalah pemberian tugas yang punya
pengaruh signifikan terhadap penilaian dan hasil
belajar. Evaluasi bisa dilakukan dengan melihat
model pembelajaran dan pemberian tugas selama
ini.
Satu hal yang bisa dijadikan dasar untuk model
pemberian tugas mandiri adalah data awal yang
menunjukkan kurangnya disiplin mahasiswa untuk
pengumpulan tugas. Hampir 40% dari jumlah
mahasiswa yang memprogram mata kuliah selalu
terlambat mengumpulkan tugas, baik tugas mandiri
maupun tugas kelompok. Jumlah tersebut bisa
diperinci bahwa mahasiswa memang belum
mengerjakan sama sekali (mengumpulkan pada hari
berikutnya) dan selebihnya mengerjakan pada saat
proses belajar mengajar dilakukan. Dari data
tersebut di atas, diupayakan sebuah model
pemberian tugas yang mampu membuat mahasiswa

Kata kunci : Kedisiplinan, Tugas Proyek Mandiri,


Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak.

123

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Siklus 1, pokok bahasan Entity Relationship


Diagram (ERD. Tugas proyek yang diberikan
kepada mahasiswa adalah Pembuatan sebuah ERD)
Siklus 2, pokok bahasan DFD (Data Flow
Diagram). Tugas proyek yang diberikan kepada
mahasiswa adalah Pembuatan DFD
Siklus 3, pokok bahasan konsep dan komponen
Use Case Diagram. Tugas proyek yang diberikan
kepada mahasiswa adalah Pembuatan UML
(Unified Modelling Language) merupakan bahasa
pemodelan yang dapat digunakan secara luas dalam
pemodelan bisnis, pemodelan perangkat lunak dari
semua fase pembentukan dan semua tipe sistem,
dan pemodelan secara umum dari berbagai
pembentukan/konstruksi yang memiliki dua
perilaku yaitu baik statis maupun dinamis
Indikator keberhasilan mahasiswa meliputi
ketepatan waktu penyelesaian tugas, kebenaran
pemilihan
metode
pemecahan
masalah,
keberhasilan mahasiswa menyelesaikan tugas dan
penilaian akhir

merasa memiliki
tanggung jawab untuk
menyelesaikan tepat waktu.
Dengan model pemberian tugas yang tepat
diharapkan akan didapatkan gambaran hasil yang
lebih jelas tentang seberapa pemahaman mahasiswa
terhadap materi Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak. Menggunakan berbagai macam instrumen
yang valid dan reliabel dapat membantu
mengkomunikasikan kepada orang lain kemampuan
mahasiswa. Selanjutnya setelah pemberian tugas
tersebut efektif, bisa dilihat dari hasil penilaian
dalam proses pembelajaran. Sistem penilaian
biasanya didominasi satu metode yaitu tes tertulis.
Melalui tes tertulis, dapat dinilai banyak hal, tapi
tidak semua hasil proses belajar yang penting dapat
dinilai dengan tes tertulis. Banyak situasi penilaian
yang membutuhkan non-tes tertulis untuk
mendapatkan informasi tentang kemampuan peserta
didik.
Selama ini dalam pembelajaran Rekayasa
Perangkat Lunak, cenderung lebih dominan dosen
yang aktif, sedangkan mahasiswa hanya pasif
mendengar. Mahasiswa jarang mendapatkan tugas
yang berhubungan dengan penemuan atau
pemecahan masalah. Oleh karena itu diupayakan
pemberian tugas proyek secara mandiri dapat
mengasah keterampilan mahasiswa dalam hal
pemecahan masalah, mendesain sampai dengan
menghasilkan produk jadi/setengah jadi untuk
kebutuhan rekayasa perangkat lunak.
Berdasarkan pada latar belakang masalah di
atas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian
sebagai berikut:
Apakah pemberian tugas proyek secara mandiri
pada mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak dapat meningkatkan kedisiplinan mahasiswa
dan prestasi hasil belajar mahasiswa?
Penelitian ini bertujuan: meningkatkan
kedisiplinan mahasiswa dengan cara memberikan
sebuah model tugas untuk melihat keterampilan
mahasiswa dalam hal pemecahan masalah,
mendesain sampai dengan menghasilkan produk
jadi/setengah jadi untuk kebutuhan rekayasa
perangkat lunak, dan yang kedua mengetahui hasil
belajar mahasiswa dari pemberian tugas proyek
secara mandiri

II. KAJIAN PUSTAKA


Pengertian Disiplin
Disiplin merupakan istilah yang sudah
memasyarakat diberbagai disiplin ilmu, ada disiplin
belajar, disiplin menyelesaikan tugas dan macammacam disiplin lainnya. Masalah disiplin yang
dibahas dalam penelitian ini difokuskan pada
disiplin penyelesaian tugas proyek secara mandiri.
Disiplin yang dimaksud dalam hal ini adalah
disiplin yang dilakukan oleh mahasiswa dalam
kegiatan penyelesaian tugas secara mandiri baik di
kampus/laboratorium maupun di rumah.
Seorang mahasiswa perlu memiliki sikap
disiplin dengan melakukan latihan yang
memperkuat dirinya sendiri untuk selalu terbiasa
patuh dan mempertinggi daya kendali diri. Disiplin
menurut beberapa ahli dapat dikemukakan sebagai
berikut:
Disiplin sebagai upaya mengendalikan diri
dan sikap mental individu atau masyarakat dalam
mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap
peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan
kesadaran yang muncul dari dalam hatinya.
(Maman Rachman, 1999:168)
Adapun disiplin sendiri ada bermacam-macam,
sedangkan dalam penelitian ini difokuskan pada
disiplin penyelesaian tugas proyek secara mandiri.
Mengerjakan tugas merupakan salah satu rangkaian
kegiatan dalam proses belajar mengajar, yang
dilakukan di dalam maupun di luar jam kuliah.
Tujuan dari pemberian tugas biasanya untuk
menunjang pemahaman dan penguasaan materi
kuliah yang disampaikan.

Pemecahan Masalah
Dalam penelitian ini upaya peningkatan
disiplin dan tugas proyek mandiri dalam bentuk:
pemberian tugas proyek secara mandiri yang
didalamnya mengandung aspek identifikasi
masalah, perumusan masalah dan teknik
pemecahan masalahnya
tugas proyek ini direncanakan berlangsung
secara berkelanjutan mulai dari pokok bahasan
pertama sampai dengan ketiga sesuai dengan 3
siklus yang direncanakan, dengan perincian:

Tugas Proyek Mandiri


Tujuan utama dari pemberian tugas secara
mandiri adalah untuk melihat kemampuan dan
kemauan mahasiswa dalam penyelesaian sebuah
124

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

perangkat lunak dari semua fase pembentukan


dan semua tipe sistem, dan pemodelan secara
umum dari berbagai pembentukan/konstruksi
yang memiliki dua perilaku yaitu baik statis
maupun dinamis

masalah, selain itu juga konsep belajar mandiri


benar-benar bisa dilakukan. Menurut Prof. Dr.
Mohamad Nur (2004:8) pebelajar mandiri atau selfregulated learner, yang mengacu pada belajar
yang dapat melakukan 4 hal penting berikut ini:
Secara cermat mendiagnose suatu situasi
pembelajaran tertentu.
Memilih suatu strategi belajar tertentu untuk
menyelesaikan masalah belajar tertentu yang
dihadapi.
Memonitor keefektifan strategi tersebut.
Cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi
belajar tersebut sampai masalah tersebut
terselesaikan.

III. METODE PENELITIAN


Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah mahasiswa D-3
Program Studi Manajemen Informatika angkatan
2009 Kelas A yang memprogram mata kuliah
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak. Penelitian
ini akan dikembangkan dan diterapkan dengan
metode pemberian tugas secara mandiri di
laboratorium komputer yang dirancang dengan
action research (tindakan kelas) dengan pendekatan
siklus berkelanjutan.

Berdasarkan pada pendapat tersebut di atas,


maka pemberian tugas proyek mandiri ini
dimaksudkan
agar
mahasiswa
mampu
menyelesaikan beban tugas yang diberikan pada
saat proses belajar mengajar mata kuliah Praktikum
Rekayasa Perangkat Lunak. Adapun tugas yang
diberikan bersifat berkelanjutan dari mulai pokok
bahasan pertama sampai ketiga sesuai dengan
rencana penelitian yang akan dilakukan. Dapat
disimpulkan bahwa tugas proyek tersebut
merupakan sebuah produk desain Rekayasa
Perangkat Lunak.

Jenis Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebanyak
3 siklus, setiap siklus selalu dilakukan secara
partisipatif dan kolaboratif antara peneliti dengan
dosen mitra. Setiap siklus terdapat empat tahapan
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi,
dan refleksi. Tahapan yang dilakukan pada ketiga
siklus adalah sebagai berikut:
Perencanaan
Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam
pelaksanaan pembelajaran, pemberian materi
dan waktu tatap muka, pemberian tugas
mandiri, dan permasalahan penilaian akhir.
Menyusun rencana pembelajaran dan satuan
acara perkuliahan (SAP)
Merencanakan tugas praktikum yang sesuai
dengan rencana pembelajaran yang telah
disusun.
Menyusun pedoman pengamatan dan kriteria
penilaian terhadap kegiatan praktikum.
Pelaksanaan Tindakan
Menjelaskan tentang mekanisme pelaksanaan
tugas proyek mandiri kepada mahasiswa
Pembagian tugas proyek mandiri kepada
mahasiswa dan menetapkan batas waktu
penyelesaian proyek
Mahasiswa diminta mencatat semua kegiatan
dan membuat laporan tertulis

Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak


Mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak adalah merupakan mata kuliah wajib pada
Prodi D-3 Manajemen Informatika. Mata kuliah ini
akan membekali mahasiswa mengenai konsepkonsep rekayasa perangkat lunak yang dapat
diaplikasikan
secara nyata
dalam
siklus
pengembangan
perangkat
lunak.
Sehingga
diperlukan pemahaman mengenai rekayasa
perangkat lunak, Rekayasa Sistem Komputer, Dasar
dari analisis requirement, Dasar desain perangkat
lunak, Software quality guarantee.
Adapun tiga pokok bahasan yang akan dipakai
dalam penelitian ini adalah:
Entity Relationship Diagram (ERD), yang akan
menjelaskan pengertian serta manfaat ERD.
Tugas proyek yang diberikan kepada mahasiswa
adalah Pembuatan ERD
Menjelaskan pengertian serta manfaat DFD,
yang akan menjelaskan tentang pengertian serta
manfaat Data Flow Diagram (DFD). Tugas
proyek yang diberikan kepada mahasiswa
adalah Pembuatan DFD
Use Case Diagram, yang akan menjelaskan
tentang konsep pembuatan Use case Diagram
dan komponen-komponen yang terdapat pada
Use Case Diagram. Tugas proyek yang
diberikan kepada mahasiswa adalah Pembuatan
Use Case diagram dengan penggunaan UML
(Unified Modelling Language) yaitu merupakan
bahasa pemodelan yang dapat digunakan secara
luas dalam pemodelan bisnis, pemodelan

Tahap observasi
Dosen melakukan pengamatan dan mencatat
semua kejadian baik yang mendukung maupun
yang menghambat.
Mencatat dalam lembar observasi.
Peneliti dan dosen mitra mendiskusikan
kekurangan dan kelemahan
mahasiswa
berdasarkan hasil pada lembar observasi
Tahap refleksi

125

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian


yang sesuai terhadap tugas proyek mandiri yang
telah dikerjakan mahasiswa.
Peneliti dan dosen mitra membahas semua
permasalahan dan mempertimbangkan kendalakendala yang terjadi selama siklus 1, dan
melakukan revisi terhadap rencana awal.

siklus 2 mahasiswa diberi tugas membuat Data


Flow Diagram (DFD). Penilaian analisis pada
pembuatan DFD lebih ditekankan pada:
1. Membuat Process Analyst Model (PAM) adalah
membuat Proses Utama (root process). Ini
merupakan kumpulan dari semua Fungsi
(Function) dalam sistem yang akan di analisa

Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini dilakukan dengan cara (1) metode
observasi yaitu untuk mengamati proses
pembelajaran secara langsung di laboratorium
komputer
ketika mahasiswa
melaksanakan
praktikum untuk menyelesaikan tugas proyek
secara mandiri, (2) metode kuesioner dilakukan
untuk mengumpulkan data tentang tanggapan
mahasiswa terhadap tugas proyek secara mandiri,
serta kendala-kendala yang mereka alami selama
penyelesaian tugas tersebut, dan (3) tes, untuk
mengetahui kemampuan mahasiswa menyerap
materi praktikum rekayasa perangkat lunak, (4)
asesmen kinerja untuk menilai proses dan produk
dari masing-masing tugas proyek dari mahasiswa.

2. Membuat Decomposisi Proses yaitu memecah


proses utama ke dalam proses lain yang levelnya
lebih rendah dengan analisa lebih detail dari
proses utama.
3. Membuat Data Item dan Domain. Data Item
adalah unsure dasar informasi dalam Process
Analyst Model (PAM). Sedangkan Domain
menyatakan tipe dari data item dalam project.
Membuat Data Store yaitu menyimpan dan
menyetujui akses untuk data item.
Dari 4 kriteria penilaian keberhasilan tugas
proyek mahasiswa tersebut didapatkan hasil ratarata 75% mahasiswa dapat memenuhi kriteria
tersebut. 25 % sisanya tidak mampu menyelesaikan
tugasnya, atau belum menyelesaikan 4 kriteria yang
diharuskan. Bisa disimpulkan bahwa dari
keseluruhan mahasiswa yang memprogram mata
kuliah, 75% mahasiswa mampu menyelesaikan
tugas proyek pembuatan DFD tepat pada waktunya.

Teknik Analisis Data


Analisis data untuk penelitian ini dilakukan
secara kualitatif untuk mengambarkan hasil
observasi dan tanggapan maupun kendala yang
dialami selama pembelajaran berlangsung . Analisis
kuantitatif juga dilakukan untuk instrumen tes yang
dilakukan.

Siklus 3
Pada awal pelaksanaan siklus 3 dilakukan
penyempurnaan dari pelaksanaan siklus 2.
Beberapa poin yang dijadikan sebagai bahan
perbaikan adalah ketepatan waktu penyelesaian
tugas proyek, dan prosentase penurunan hasil
kinerja mahasiswa dari siklus 1 ke siklus 2. Hal ini
bisa disebabkan karena faktor materi mata kuliah
dan indikator analisis yang lebih kompleks. Pada
siklus 3 adalah membuat Use Case Diagram, tugas
proyek yang diberikan kepada mahasiswa adalah
penggunaan UML (Unified Modelling Language)
merupakan bahasa pemodelan yang dapat
digunakan secara luas dalam pemodelan bisnis,
pemodelan perangkat lunak dari semua fase
pembentukan dan semua tipe sistem, dan
pemodelan
secara
umum
dari
berbagai
pembentukan yang memiliki dua perilaku yaitu
baik statis maupun dinamis. Penilaian analisis pada
siklus 3 lebih ditekankan pada:
Komponen utama dari sebuah Model Use-case
(Actor, Use Case, Relationship)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Siklus 1
Pada siklus 1, waktu pelaksanaan lebih panjang
karena pada awal dimulainya pelaksanaan Tugas
Proyek Mandiri ini harus disosialisasikan terlebih
dahulu kepada mahasiswa. Pada siklus 1 mahasiswa
diberi tugas untuk membuat ERD (Entity
Relationship Diagram). Menentukan masalah yang
akan dibuat ERD, kemudian dilihat model analisis
yang digunakan. Di dalam pembuatan ERD poin
yang paling menentukan adalah memilih
kardinalitas (cardinality) yang dikehendaki sebagai
relasi antara dua entity yang direlasikan. Ada 4
macam kardinalitas yaitu: One to One, One to
Many, Many to One dan Many to Many. Melihat
hasil dari tugas ERD mahasiswa, 90% mahasiswa
(dari 44 orang yang mengambil mata kuliah
Praktikum RPL) melakukan analisis dengan betul
dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Dalam arti
pemilihan relasi kardinalitas antar dua entitas yang
digunakan adalah betul. Sedangkan selebihnya
yaitu 10% belum mampu melakukan analisis
dengan benar.

Membuat Use case


Membuat
komunikasi
Association
(Communicates Associations)
Membuat Include Relationships
Membuat Extended Relationships
Hasil akhir pembuatan Use Case Diagram

Siklus 2
Pada awal pelaksanaan siklus 2 dilakukan
penyempurnaan dari pelaksanaan siklus 1. Pada

Dari 6 kriteria penilaian keberhasilan tugas


proyek mahasiswa tersebut didapatkan hasil ratarata 75% mahasiswa dapat memenuhi kriteria
126

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Hasil Tes
Tes disini untuk mengetahui kemampuan
mahasiswa menyerap materi praktikum rekayasa
perangkat lunak. Dalam hal ini adalah nilai akhir
semester mahasiswa yang mengambil mata kuliah
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak. Dari 44
mahasiswa tersebut didapatkan 75% mahasiswa
mendapatkan nilai A dan B. Sedangkan selebihnya
25% mahasiswa mendapatkan nilai C, D dan E.
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa rata-rata
pemahaman mahasiswa terhadap materi yang
dibahas pada mata kuliah Praktikum Rekayasa
Perangkat Lunak cukup bagus.

tersebut. 25 % sisanya tidak mampu menyelesaikan


tugasnya, atau belum menyelesaikan 6 kriteria yang
diharuskan. Bisa disimpulkan bahwa dari
keseluruhan mahasiswa yang memprogram mata
kuliah, 75% mahasiswa mampu menyelesaikan
tugas proyek pembuatan Use Case diagram tepat
pada waktunya.
Kuesioner
Metode kuesioner ini untuk mengumpulkan
data tanggapan mahasiswa terhadap tugas proyek
mandiri. Skala sikap yang digunakan adalah skala
Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan
yang diajukan, baik pernyataan positif maupun
negatif, dinilai oleh subjek dengan Setuju, Kurang
Setuju, Ragu-ragu, Tidak Setuju. Skor yang
diberikan terhadap pilihan tersebut bergantung pada
penilai,
asal
penggunaannya
konsisten.
(Sudjana,2006:80).
Hasil pengambilan data dari kuesioner tersebut
pada indikator kedisiplinan penyelesaian tugas
didapatkan kesimpulan bahwa 20 orang mahasiswa
setuju bahwa tugas harus dikumpulkan tepat waktu
dan tugas proyek praktikum akan dikerjakan pada
saat mata kuliah sedang berlangsung (di kampus).
Terkait dengan pelaksanaan tugas proyek mandiri
didapatkan data tanggapan dari mahasiswa bahwa
ada kecenderungan mahasiswa menyukai tugas
yang diberikan secara mandiri, karena mahasiswa
merasa bahwa beban penyelesaian tugas kelompok
seringkali tidak berimbang (30 mahasiswa). Dan
dengan adanya tugas proyek secara mandiri
membuat pemahaman dan penguasaan materi
kuliah menjadi mudah (23 mahasiswa). Dan
indikator ketiga yaitu penilaian hasil akhir
didapatkan kesimpulan bahwa dengan pemberian
tugas proyek mandiri semacam ini dapat melatih
kemampuan analisis mahasiswa, mahasiswa
cenderung menyukai penilaian hasil akhir dari
laporan tugas proyek saja (26 mahasiswa) tanpa
harus dilakukan demo tugas.
Hasil rekapitulasi pengambilan data dengan
menggunakan kuesioner dari masing-masing
indikator adalah sebagai berikut:

Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja untuk menilai proses dan
produk dari masing-masing tugas proyek dari
mahasiswa. Dalam hal ini diambil dari nilai akhir
tugas yang berasal dari nilai unjuk kerja tugas
proyek (demo tugas) dan laporan akhir dari tugas
proyek tersebut. Dari penilaian asesmen kinerja
tersebut didapatkan 80% mahasiswa mendapatkan
nilai dalam rentang 70-85. Sedangkan selebihnya
yaitu 20% mendapatkan nilai dibawah 70. Dengan
demikian bisa disimpulkan bahwa sebagian besar
unjuk kerja tugas proyek mandiri mahasiswa
tersebut bagus.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pada siklus 1 didapatkan hasil 90% mahasiswa
melakukan analisis ERD dengan betul dan
mengumpulkan tugas tepat waktu. Pada siklus 2
didapatkan hasil 75% mahasiswa mampu
menyelesaikan tugas proyek pembuatan DFD tepat
pada waktunya juga dengan analisis yang betul dan
pada siklus 3 didapatkan hasil 75% mahasiswa
mampu menyelesaikan tugas proyek pembuatan
Use Case diagram dengan betul dan tepat pada
waktunya.
Dari 3 siklus yang dilaksanakan tersebut maka
kesimpulannya adalah rata-rata tingkat pemahaman
dan analisis mahasiswa terhadap tugas proyek yang
diberikan bagus, yang berarti 80% mahasiswa
mampu mencapai nilai yang diharapkan.
Demikian juga dari hasil tes dan asesmen
kinerja mahasiswa, rata-rata mampu mencapai nilai
yang diharapkan yaitu diatas 75%. Nilai yang
diharapkan adalah rentang A B.

Tabel 1. Hasil Kuesioner

Saran
Model pemberian tugas proyek semacam ini
bisa dilanjutkan untuk mata kuliah praktikum atau
mata kuliah produk yang lainnya
Memungkinkan untuk membuat model/metode
pemberian tugas yang lain sehingga dapat
membangkitkan gairah belajar dan jiwa kompetisi
yang sehat dalam proses belajar mengajar.

127

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Nur, Muhamad. 2004. Strategi-strategi Belajar Edisi 2.
UNESA UNIVERSITY PRESS SURABAYA
[2]. Prijodarminto, Soegeng. 1994. Disiplin Kiat Menuju
Sukses. Jakarta : Abadi
[3]. Rachman, Maman. 1999. Manajemen Kelas. Jakarta :
Depdiknas, Proyek Pendidikan Guru SD
[4]. Setia Tunggal, Hadi. 2003. Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta : Harvarindo
[5]. Tuu, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan
Prestasi Siswa. Jakarta : Grasindo

128

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching


Terhadap Hasil Belajar Siswa yang Memiliki Motivasi
Berprestasi Berbeda pada Standar Kompetensi
Menerapkan Sistem Mikroprosesor
Alfian Nur Dzul Qurnain1, Rr. Hapsari Peni A2
1,2

Jurusan Teknik Elektro, UNESA, Surabaya.Email:alfiannurdzulqurnain@yahoo.co.id


memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik
dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi
afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan
diterima)cenderung memilih mitra yang ramah.
Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang
memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih
lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang
motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung
menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya
upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat
diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor
eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran.
Bisa dibayangkan bagaimana jika siswa dengan
motivasi rendah mendapat pembelajaran yang
menjenuhkan dengan durasi jam belajar yang lama,
tentunya hasil belajar yang didapat siswa dengan
motivasi berprestasi rendah akan semakin jauh
dengan yang diharapkan.
Berangkat dari permasalahan tersebut peneliti
mecoba menerapkan teknik pembelajaran yang
menyenangkan sehingga siswa mampu melewati
kegiatan belajar di kelas dengan durasi jam belajar
yang lama dengan penuh suka cita dan
menyenangkan, selain itu motivasi berprestasi dalam
suatu pelajaran juga ikut meningkat dan berdampak
pada hasil belajar yang maksimal. Maka pada
penelitian ini peneliti mengangkat judul Pengaruh
Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap
Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi
Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi
Menerapkan Sistem Mikroprosesor.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1)
Apakah ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang
dibelajarkan dengan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dan kelas yang dibelajarkan dengan Model
Pembelajaran?; (2) Apakah ada perbedaan hasil
belajar
mata
diklat
Menerapkan
Sistem
Mikroprosesor pada siswa yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen
maupun kelas kontrol?; (3) Apakah ada interaksi
antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar?
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui
perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan
dengan teknik pembelajaran Quantum Teaching dan
kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran
Langsung pada standar kompetensi Menerapkan
Sistem Mikroprosesor kelas X TEI; (2) Mengetahui

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk: 1)


mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang
diajar menggunakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan siswa yang diajar menggunakan
Model Pembelajaran Langsung pada mata diklat
menerapkan sistem mikroprosesor, 2) mengetahui
perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki
motivasi berprestasi rendah pada mata diklat
menerapkan sistem mikroprosesor kelas X TEI, 3)
mengetahui ada tidaknya interaksi antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil
belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi
experiment dengan design penelitian Nonequivalent
Control Group Design. Subyek dalam penelitian ini
adalah siswa kelas X TEI 1 sebagai kelas kontrol dan X
TEI 2 sebagai kelas eksperimen SMK Negeri 1 Jetis.
Kemudian untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
hasil belajar antara teknik pembelajaran Quantum
Teaching dan Model Pembelajaran Langsung, ada
tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang
memiliki motivasi berprestsi rendah, serta untuk
mengetahui ada tidaknya interaksi model pembelajaran
dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa
dilakukan analisis varian dua jalur.
Kata kunci: Quantum Teaching, Model Pembelajaran
Langsung, Motivasi Berprestasi, Quasi
Experiment, Hasil Belajar

I. PENDAHULUAN
Kondisi jam pelajaran yang lama tentu membuat
suasana belajar di dalam kelas menjadi sangat
menjenuhkan, apalagi jika jenis pelajaran yang
disampaikan adalah pelajaran yang bersifat teori.
Ditambah lagi motivasi berprestasi dalam diri siswa
yang tentunya beraneka ragam, ada siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi juga ada siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah.
Motivasi berprestasi menurut Mohamad Nur
(2001:27) adalah keinginan untuk mengalami
keberhasilan dan peran serta dalam kegiatan dimana
keberhasilan bergantung pada upaya dan kemampuan
seseorang.
Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan
mudah menyerah meskipun menghadapi masalah
yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan.
Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung
129

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan


Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol; (3)
Mengetahui ada tidaknya interaksi antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil
belajar
mata
diklat
Menerapkan
Sistem
Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI pada kelas
eksperimen maupun kelas kontrol.
Pada penilitian ini dipilih teknik pembelajaran
Quantum Teaching karena teknik ini dinilai peneliti
mampu menciptakan
suasana belajar yang
menyenangkan. Quantum adalah pengubahan belajar
yang meriah dengan segala nuansanya. Kata quantum
berarti interaksi yang mengubah energi menjadi
cahaya, dengan demikian Quantum Teaching adalah
pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di
dalam
dan
di
sekitar
momen
belajar
(DePorter,2003:3).
Dalam teknik pembelajaran Quantum Teaching
tidak hanya cara mengajarnya atau pembawaannya
yang diperhatikan, namun penataan lingkungan kelas
(konteks) juga sangat diperhatikan dengan
pemasangan poster ikon, poster afirmasi penataan
bangku, penggunaan musik, keakraban antara guru
dengan siswa juga dijalin untuk menghilangkan
jurang antara guru dengan siswa yang selama ini
banyak terlihat di dalam dunia pendidikan. Hal ini
sesuai dengan azas Quantum Teaching yaitu Bawalah
Dunia Mereka ke Dunia Kita. Hal-hal seperti inilah
yang membedakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan model pembelajaran yang lain,
sehingga dapat diduga siswa akan lebih nyaman di
kelas, keluh kesah siswa entah tentang pelajaran atau
masalah sosial juga dapat tersampaikan pada guru.
Berikut disajikan sintak teknik pembelajaran
Quantum Teaching.

Tahap 4:
Demonstrasi
kan

Tahap 5:
Ulangi

Tahap 6:
Rayakan

Jika penataan lingkungan kelas sudah cukup


maka pelajaran dimulai dengan alur sesuai sintak
yaitu :
1. Tahap Tanamkan Teknik Pembelajaran Quantum
Teaching
Guru
menumbuhkan
siswa
dengan
menampilkan video yang berisi berbagai aplikasi
mikroprosesor dalam berbagai bidang sehingga
mampu menumbuhkan motivasi berprestasi siswa
untuk mempelajari mata diklat menerapkan
sistem mikroprosesor (Fase 1 Quantum
Teaching)
2. Fase 3 MPK Tahap Alami Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
a. Guru mengelompokkan siswa dalam
kelompok besar (anggotanya seluruh kelas)
untuk mengurangi resiko belajar, kemudian
guru memberikan video terkait dengan
pelajaran yang akan disampaikan selanjutnya
siswa diminta untuk memperhatikan video
tersebut dan mencatat informasi yang
didapatkan, siswa diperbolehkan saling
bertukar informasi dengan teman-teman satu
kelas. (Fase 2 Quantum Teaching)
b. Guru mengelompokkan siswa dalam
kelompok yang lebih kecil (mengurangi
resiko),
terdiri
dari
4-5
orang.
Pengelompokkan ini dibagi-bagi sesuai
kemampuan modalitas siswa yang diketahui
dengan mengerjakan instrumen modalitas
yang terdapat pada lampiran buku ajar.
Kemudian guru kembali memberikan video
terkait dengan pelajaran yang akan

Tabel 1. Sintak Teknik Pembelajaran Quantum Teaching

Tahap 1:
Tumbuhkan

Tahap 2:
Alami

Tahap 3:
Namai

Perilaku Guru
membuat siswa penasaran dan penuh
pertanyaan mengenai pengalaman.
Guru menyediakan kesempatan bagi
siswa untuk dapat menunjukkan
kemampuannya. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
mempresentasikan hasil percobaan dan
diskusi sehingga memberi kesempatan
pada siswa untuk menunjukkan bahwa
mereka tahu.
Guru menunjukkan kepada siswa cara
cara mengulang materi dan menegaskan
bahwa mereka benar-benar tahu akan
apa yang dipelajari. Merekatkan gambar
keseluruhan. Dalam tahap ini dapat
dilakukan dengan mengajarkan ke
kelompok lain atau mengerjakan soal
posttest
Jika layak dipelajari, maka layak pula
dirayakan. Perayaan menambatkan
pengalaman belajar dengan asosiasi
positif. Dapat berupa pujian, bernyanyi
berama atau tepuk tangan.

Perilaku Guru
Berarti menumbuhkan minat belajar
siswa dengan cara memberitahukan
manfaat materi yang akan dipelajari.
Bertujuan untuk menumbuhkan minat
siswa dan menimbulkan pertanyaan
"Apa Manfaatnya Bagiku" (AMBAK)
dalam diri siswa.
Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memperoleh pengalamanpengalaman umum yang dapat
dimengerti oleh mereka. Memberikan
pengalaman baru pada siswa dengan
cara melakukan percobaan untuk
membuktikan suatu konsep. Pengajar
juga memberikan masalah atas konsep
yang telah diperoleh sebagai bahan
diskusi kelompok yang telah dibentuk
sebelumnya. Hal ini dapat menciptakan
kerjasama antar siswa dan memberikan
kebebasan siswa untuk berfikir.
Guru menyediakan kata kunci, data,
nama saat minat memuncak. Sehingga

130

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

3.

4.

5.

6.

disampaikan
dan
meminta
siswa
memperhatikan dan merangkum dari hasil
menyimak video tersebut. (Fase 2 Quantum
Teaching)
Fase 4 MPK Tahap Namai Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Guru membimbing siswa menyelesaikan
masalah yang diberikan untuk mempertegas
informasi
yang
mereka
dapat
dengan
memperhatikan kelompok-kelompok modalitas.
Untuk kelompok visual guru menjelaskan dengan
gambar-gambar melalui media powerpoint dan
membuat rangkuman. Untuk kelompok auditorial
guru menjelaskan secara lisan. Untuk kelompok
kinestetik guru memberikan perumpamaan
dengan mengaitkan pada kehidupansehari-hari,
misalkan untuk menjelaskan berapa kapasitas
memori yang mampu ditangani oleh suatu
mikroprosesor jika memiliki jumlah penyemat 4
saluran , maka dengan membuat kartu A0-A4
dimana pada kartu A0 memiliki bobot
dst.
Maka didapat jumlah total yang menunjukkan
jumlah kapasitas memori yang mampu
dialamati.(Fase 3 Quantum Teaching)
Fase 5 MPK Tahap Demontrasikan Teknik
Pembelajaran Quantum Teaching
Guru meminta siswa sesuai kelompoknya
mempresentasikan informasi yang diperoleh
dengan media powerpoint guna menambah
pemahaman. (Fase 4 Quantum Teaching)
Fase 5 MPK Tahap Ulangi Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
a. Guru meminta kelompok lain untuk memberi
tanggapan (Fase 5 Quantum Teaching)
b. Guru membantu siswa untuk mengkaji ulang
hasil yang diperoleh siswa. (Fase 5 Quantum
Teaching)
c. Guru membagi lagi kelompok-kelompok kecil
tersebut menjadi individu, sehingga walaupun
resiko besar namun setidaknya setiap individu
sudah memiliki bekal informasi dari
kelompok besar dan kelompok kecil tadi,
kemudian guru mengadakan evaluasi. (Fase 5
Quantum Teaching)
Fase 6 MPK Tahap Rayakan Teknik
Pembelajaran Quantum Teaching
a. Memberi penghargaan kepada siswa dan
merayakan atas penampilan penyelesaian,
partisipasi, pemerolehan keterampilan dan
ilmu pengetahuan dengan menyanyi bersama,
bertepuk tangan bersama atau pemberian
permen. (Fase 6 Quantum Teaching)

b. Dengan melibatkan siswa menutup pelajaran


dengan berdoa dan merapikan laboratorium
bersama-sama untuk menjalin kemitraan dan
kerjasama dengan siswa. (Fase 6 Quantum
Teaching)
Yang membedakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan model pembelajarn yang lain adalah
adanya upaya mengurangi resiko belajar yaitu dengan
memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari
pengalaman dan informasi dalam kelompok besar
terlebih dahulu (anggota seluruh kelas) baru dibagibagi menjadi kelompok kecil sehingga modal
informasi yang diperoleh siswa semakin banyak
sehingga kelak pada saat evaluasi untuk tiap individu
siswa akan menjadi lebih siap karena telah memiliki
modal informasi yang banyak
Selain itu yang membedakan adalah pada
pembagian kelompok kerja dilakuakan pengukuran
modalitas terlebih
dahulu,
sehingga
siswa
dikelompokkan sesuai dengan kemampuan modalitas
yang dimiliki siswa. Pengukuran kemampuan
modalitas menggunakan intrumen pengukuran
modalitas yang telah disediakan, terlampir pada
skripsi. Pengelompokan yang disesuaikan dengan
kemampuan modalitas ini bertujuan agar pemberian
bimbingan oleh guru bisa disesuaikan dengan
kemampuan modalitas yang dimiliki oleh siswa,
sehingga bimbingan yang diberikan guru akan lebih
mengena dan lebih dipahami oleh siswa.
Selain itu pemberian motivasi pada siswa tidak
hanya secara verbal, dalam penelitian ini siswa pada
awal pelajaran diberikan waktu sekitar 10-20 menit
untuk bermain game atau mendengarkan lagu, hal ini
bertujuan agar siswa nyaman terlebih dahulu di dalam
kelas dan merasa dekat dengan guru sehingga
penyampaian pelajaran akan lebih mudah.
Pemberian penghargaan dilakukan bukan pada
ketepatan hasil, namun pada proses yang telah
dilakukan siswa entah salah maupun sudah benar. Hal
ini dikarenakan pemberian penghargaan yang hanya
pada ketepatan hasil akan membuat siswa merasa
takut mengutarakan pendapat pada kesempatan
selanjutnya. Siswa akan takut menutarakan
pendapatnya jika merasa pendapat yang dimiliki
belum terlalu benar, dan siswa baru mau
mengutarakannya jika mereka sangat yakin
jawabannya benar.
Model pembelajaran kooperatif merupakan teknikteknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap
hari untuk membantu siswa belajar setiap mata
pelajaran, mulai dari keterampilan-keterampilan dasar
sampai pemecahan masalah yang kompleks
(Nur,2011:1).
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih
luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk
bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan guru (Suprijono,2011:54). Secara umum
pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan
oleh guru, dimana guru menetapkan tugas,
131

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
Tabel 3. Sintak Model Pengajaran Langsung

pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahanbahan dan informasi yang dirancang untuk membantu
peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.
Adapun fase-fase dalam model pembelajaran
kooperatif tersebut adalah sebagai berikut :

Fase
Fase 1 :
Klarifikasi tujuan
dan memotivasi
siswa

Tabel 2. Sintak Model Pembelajaran Kooperatif


Fase-fase

Perilaku Guru

Fase 1 : present goals and set


Menyampaikan tujuan dan
memper siapkan peserta didik

Menjelaskan tujuan
pembelajaran dan
mempersiapkan peserta didik
siap belajar.

Fase 2 : present information


Menyajikan informasi

Mempresentasikan informasi
kepada paserta didik secara
verbal.

Fase 3 : organize students into


learning teams
Mengorganisir peserta didik ke
dalam tim tim belajar

Memberikan penjelasan kepada


peserta didik tentang tata cara
pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok
melakukan transisi yang efisien.

Fase 4 : assist team work and


study
Membantu kerja tim dan belajar

Membantu tim- tim belajar


selama peserta didik
mengerjakan tugasnya.

Fase 5 : test on the materials


Mengevaluasi

Menguji pengetahuan peserta


didik mengenai berbagai materi
pembelajaran atau kelompokkelompok mempresentasikan
hasil kerjanya.

Fase 6 : provide recognition


Memberikan pengakuan atau
penghargaan

Mempersiapkan cara untuk


mengakui usaha dan prestasi
individu maupun kelompok.

Fase 2 :
Mempresentasikan
pengetahuan atau
mendemonstrasikan
keterampilan
Fase 3 :
Memberi latihan
terbimbing
Fase 4 :
Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik
Fase 5 :
Memberi latihan
lanjutan dan
transfer

Perilaku Guru
Guru mengkomunikasikan garis
besar tujuan pelajaran tersebut,
memberi informasi latar
belakang, dan menjelaskan
mengapa pelajaran itu penting.
Mempersiapkan siswa untuk
belajar
Guru-mendemonstrasikan
keterampilan tersebut dengan
benar atau mempresentasikan
informasi langkah demi langkah
Guru memberi latihan awal
Guru mengecek untuk mencari
tahu apakah siswa melakukan
tugas dengan benar dan
memberi umpan balik
Guru mempersiapkan kondisi
untuk latihan lanjutan dengan
memusatkan perhatian pada
transfer keterampilan dan
pengetahuan tersebut ke situasisituasi lebih kompleks

Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2011:7172), motivasi adalah perubahan energi dalam diri
seorang yang ditandai dengan munculnya feeling
dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya
tujuan.
Menurut McClelland dan Atkinson dalam
Mohamad Nur (2001:27). Suatu jenis motivasi paling
penting dalam psikologi pendidikan adalah motivasi
berprestasi
atau
achievement
motivation,
kecenderungan berupaya sampai berhasil dan memilih
kegiatan yang mengarah pada tujuan dan mengarah
pada keberhasilan/kegagalan. Motivasi berprestasi
menurut Mohamad Nur (2001:27) adalah keinginan
untuk mengalami keberhasilan dan peran serta dalam
kegiatan dimana keberhasilan bergantung pada upaya
dan kemampuan seseorang. Menurut Atkinson dalam
Hamzah (2008:8), motivasi berprestasi dimiliki oleh
setiap orang, sedangkan intensitasnya tergantung pada
kondisi mental orang tersebut.
Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan
mudah menyerah meskipun menghadapi masalah
yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan.
Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung
memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik
dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi
afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan
diterima)cenderung memilih mitra yang ramah.
Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang
memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih
lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang
motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung
menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya

(Agus Suprijono, 2011:65)


Model pembelajaran langsung adalah sebuah
pendekatan
yang mengajarkan
keterampilanketerampilan dasar dimana pelajaran sangat
berorientasi pada tujuan dan lingkungan pembelajaran
yang terstruktur secara ketat. Model pengajaran
langsung ditujukan pada pencapaian dua tujuan utama
siswa yaitu penuntasan konten akademik yang
terstruktur dengan baik dan perolehan seluruh jenis
keterampilan (Nur,2011:16).
Namun kritik utama terhadap model pengajaran
langsung adalah penekanan pengajaran pada ceramah
atau bicara guru. Kebanyakan pengamat mengklaim
bahwa bicara guru menyita waktu antara setengah dan
tiga perempat dari tiap periode kelas. Model ini hanya
terbatas
untuk
mengajarkan
keterampilanketerampilan dasar dan informasi tingkat rendah dan
bahwa model itu tidak berguna bagi pencapaian
tujuan tingkat tinggi.
Adapun fase-fase dalam model pengajaran
langsung tersebut adalah sebagai berikut :

132

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.


Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah materi
pembelajaran, alokasi waktu KBM dan soal pretestpostest. Variabel moderator dalam penelitian ini
adalah motivasi berprerstasi.
Prosedur dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga
tahap yaitu: (1) Tahap persiapan dan perencanaan
penelitian meliputi: (a) survei ke sekolah; (b)
menyusun proposal skripsi; (c) menyusun perangkat
pembelajaran; (d) menyusun instrumen penelitian; (e)
validasi instrumen. (2) Tahap pelaksanaan penelitian;
dan (3) Tahap penyajian hasil penelitian meliputi
analisis data dan penyusunan laporan penelitian.
Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil
pretest-postest dari kelas kontrol dan kelas
eksperimen, sedangkan untuk mengukur motivasi
berprestasi pada masing-masing siswa digunakan
angket motivasi berprestasi dengan skala likert.
Teknik analisis data dalam penelitian ini
meliputi analisis validitas perangkat pembelajaran,
untuk melihat validitas perangkat pembelajaran
digunakan kriteria validitas dari hasil rating(HR)
(Riduwan,2006:48).
Analisis instrumen hasil belajar pada
penelitian ini menggunakan program Anates V4
supaya lebih praktis dan tepat dalam melakukan
analisis butir soal, butir soal yang akan dianalisis
yaitu:
1) Taraf kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu
mudah atau tidak terlalu sukar. Setelah soal
dianalisis dengan program anates V4 dan
diketahui indeks tingkat kesukarannya maka
indeks tingkat kesukaran di intepretasikan pada
tabel berikut.

upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat


diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor
eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran.
Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka
yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:
Ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang
dibelajarkan
dengan
teknik
pembelajaran
QuantumTeaching dan kelas yang dibelajarkan
dengan Model Pembelajaran Langsung pada
standar
kompetensi
Menerapkan
Sistem
Mikroprosesor kelas X TEI;
Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah kelas X
TEI pada standar kompetensi Menerapkan Sistem
Mikroprosesor pada kelas eksperimen maupun
kelas kontrol;
Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran
Quantum Teaching dan Model Pembelajaran
Langsung dengan motivasi berprestasi terhadap
hasil belajar siswa pada kelas eksperimen maupun
kelas kontrol.
II. METODE
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis
penelitian eksperimen. Penelitian dilaksanakan di
kelas X TEI SMK Negeri 1 Jetis Mojokerto pada
semester ganjil pada tahun ajaran 2013/2014. Dengan
sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yang
diambil dari populasi yaitu kelas X TEI 1 sebagai
kelas kontrol dan kelas X TEI 2 sebagai kelas
eksperimen.Metode penelitian yang dipakai adalah
Quasi Experimental Design. Dengan desain penelitian
yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group
Design.
Rancangan penelitian ini digambarkan
sebagai berikut (Sugiono,2011:79).
E
K

x
-

Tabel 4. Penafsiran Taraf Kesukaran

Indeks
Kesukaran (P)
0,90 1,00
0,70 0,90
0,30 0,70
0,10 0,30
0,00 0,10

Keterangan :
E
: Kelas eksperimen
K : Kelas kontrol
O1 : Observasi Pre-test kelas eksperimen
O2 : Observasi Post-test kelas eksperimen
O3 : Observasi Pre-test kelas kontrol
O4 : Observasi Post-test kelas kontrol
X : Perlakuan pada kelas eksperimen (model
kooperatif Teknik Quantum Teaching)
: Perlakuan pada kelas kontrol (Model
Pembelajaran Langsung)

Penafsiran Taraf
Kesukaran
Sangat mudah
Mudah
Sedang
Sukar
Sangat sukar

(Arikunto , 2006:210)
2) Daya pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan
sesuatu soal untuk membedakan antara siswa
berkemampuan
tinggi
dengan
siswa
berkemampuan rendah. Setelah butir soal
dianalisis dengan program anates V4 maka
akan diketahui indeks daya pembeda,
kemudian diintepretasikan pada tabel
berikut.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah teknik


pembelajara yang digunakan dalam proses
pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif
dengan menggunakan teknik pembelajaran Quantum
Teachinguntuk kelas eksperimen dan model
pemngajaran langsung untuk kelas kontrol. Variabel
133

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
Tabel 5. Penafsiran Daya Pembeda Tes

Indeks Diskriminasi
(D)
0,70 1,00
0,40 0,70
0,20 0,40
0,00 0,20
negatif 0,00

buku ajar diperoleh prosentase rata-rata 78.57%


meliputi tiga aspek penilaian yaitu aspek fisik, materi
dan bahasa. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil
validasi buku ajar dikategorikan baik dengan kriteria
memenuhi sehingga buku ajar layak digunakan. (2)
validasi terhadap tes hasil belajar diperoleh prosentase
rata-rata 78.125% meliputi tiga aspek penilaian yaitu
aspek materi, konstruksi dan bahasa. Maka dapat
disimpulkan bahwa hasil validasi tes hasil belajar
dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi
sehingga tes hasil belajar layak digunakan. (3)
validasi terhadap RPP diperoleh prosentase rata-rata
76.44% meliputi tujuh aspek penilaian yaitu
kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran,
bahasa, format, kegiatan belajar mengajar dan alokasi
waktu. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil validasi
RPP dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi
sehingga RPP layak digunakan.
Sebelum dilakukan penelitian untk mengetahui
keampuhan instrumen diberikan soal terlebih dahulu
kepada siswa kelas XI TEI 2 dengan jumlah soal 45
dan siswa telah mendapatkan materi menerapkan
sistem mikroprosesor lalu dilakukan Analisis.
Analisis yang dilakukan tiga macam, yaitu analisis
tingkat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas butir
soal yang semuanya di analisis menggunakan Anates
V4.
Dari hasil Anates V4 hasil uji reliabilitas, nilai
reliabilitas instrumen tes hasil belajar 0,93 dengan
butir soal yang gugur sebanyak 5 soal dari 45 butir
soal 5 soal yang di analisis memiliki indeks daya
pembeda kurang dari (< 0.20) sehingga soal
dikategorikan jelek . Dinyatakan ke 40 butir tes
reliabel dan dapat digunakan semua karena memenuhi
persyaratan rhitung > rtabel yaitu 0.93 > 0.3388
Setelah itu soal diuji cobakan pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui
kemampuan nilai akademik awal siswa berikut hasil
deskriptif statistik awal (pretest) pada Tabel 7.

Penafsiran Daya Beda


Soal
Baik sekali
Baik
Cukup baik
Jelek perlu revisi
Jelek dan dibuang

(Arikunto,2006:218)
3) Analisis Reliabilitas Instrumen
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai
taraf kepercayaan yang tinggi jika tes
tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.
Maka
pengertian
reliabilitas
tes,
berhubungan dengan masalah ketepatan hasil
tes. Atau seandainya hasil berubah-ubah
perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak
berarti (Arikunto, 2006:86).
Dalam menetukan reliabilitas tes hasil
belajar ini dilakukan dengan program anates
V.4. Kemudian hasil hitung reliabilitas yang
diperoleh
dengan
program
anates
dibandingkan dengan rtabel dengan kriteria:
jika rhitung > rtabel item dikatakan reliabel.
Analisis data pretest berfungsi untuk mengetahui
kemampuan awal siswa pada standar kompetensi
menerapkan sistem mikroprosesor. Pada analisis data
pretest dilakukan uji normalitas dengan uji
kolmogorov-smirnov, uji homogenitas dan uji-t. Pada
penelitian ini analisis data dilakukan dengan bantuan
SPSS v.19.
Analisis data postest berfungsi untuk menganalisis
uji hipotesis penelitian hasil belajar pada kelas
eksperimen dan kontrol baik siswa yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi dan rendah serta untuk
melihat interaksi antara teknik pembelajaran, motivasi
berprestasi dan hasil belajar siswa.
Pada penelitian ini digunakan uji anava dua jalur
untuk menganalisis data postest dengan bantuan SPSS
v.19. Berikut disajikan tabel penolong anava 2 x 2.

Tabel 7. Deskriptif Data Pretest

Tabel 6. Tabel penolong anava 2 x 2

Uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov


dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data
hasil pretes disajikan sebagai berikut.

Anova dua jalur digunakan apabila kita ingin


mengetahui ada atau tidaknya perbedaan beberapa
variabel bebas dengan sebuah variabel terikatnya
dimana masing-masing variabel mempunyai dua
subvariabel atau lebih (Usman,2006:177).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis validasi perangkat pembelajaran
didapatkan hasil sebagai berikut: (1) validasi terhadap
134

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Tabel 10. Perhitungan Uji-t Nilai Pretest


Tabel 8. Perhitungan Uji Kolmogolov-Smirnov Dengan SPSS 19.0

Dengan hipotesis awal yaitu


H0 = Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol adalah sama
H1 = Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol adalah berbeda
Kemudian untuk kriteria pengujiannya adalah
dengan taraf signifikan = 0,05 , terima Ho jika thitung
< t tabel . Dalam hal lainnya H0 ditolak. Diperoleh nilai
thitung dari tabel 10 sebesar 1.605 sedangkan dengan
nilai df = 70 dan tingkat signifikansi sebesar 0.05
maka dengan menggunakan uji dua sisi pada tabel t
didapat nilai t tabel = 1.994.
Karena t hitung terletak di antara range dari -1.994
sampai +1.994 maka H0 diterima yaitu kemampuan
awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
adalah sama. Dan kesimpulannya adalah kemampuan
awal antara siswa kelas eksperimen maupun kelas
kontrol pada standar kompetensi menerapkan sistem
mikroprosesor adalah sama.
Angket motivasi berprestasi diberikan baik pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Terdapat dua
kategori intepretasi dalam mengkategorikan siswa
dalam pengukuran motivasi berprestasi ini yaitu siswa
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Berikut
ini adalah hasil motivasi berprestasi yang dijadikan
dalam Tabel 11.

Dari hasil Tabel 8, dapat disimpulkan bahwa data


nilai pre-test berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji KolmogolovSmirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.998
dan kelas kontrol yang bernilai 0.554 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu :
H0 = sampel berdistribusi normal
H1 = sampel berdistribusi tidak normal
Dan

kriteria pengujian tolak H0 jika


(
)
.
Maka
H0 yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H1 yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah sampel memiliki varian yang sama. Pada uji
homogenitas ini H0 akan diuji dengan H1 dengan
hipotesis awal yaitu:
H0 = sampel homogen
H1 = sampel tidak homogen
dan taraf signifikan yang ditentukan = 0,05 kriteria
pengujiannya
yaitu
tolak
H0
jika
(
)
. Dalam hal lainnya, H0 diterima. Berikut
disajikan tabel uji homogenitas pretest dengan SPSS
v.19.

Test of Homogeneity of Variances


Nilai Pretest
Levene Statistic

df1

df2

Sig.

.003

70

.954

Tabel 9. Perhitungan Uji Homogenitas Nilai Pretest Dengan SPSS


Tabel 11. Motivasi Berprestasi Siswa

Dari tabel di atas ditunjukkan nilai signifikansi


sebesar 0.954 yang lebih besar dari 0.05. Maka H0
diterima yaitu varians sama atau homogen. Jadi dapat
disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian ini
homogen dengan taraf signifikan 5%.
Berikut ini akan dijelaskan analisis uji-t dengan
menggunakan software SPSS versi 19
yang
ditunjukkan oleh Tabel 10 sebagai berikut:

Data didapat dari hasil uji posttest setelah


masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan.
Kelompok eksperimen diberikan model pembelajaran
kooperatif teknik pembelajaran Quantum Teaching
dan untuk kelompok kontrol diberikan Model
Pembelajaran-Langsung.
Berikut adalah paparan deskriptif data hasil
belajar nilai posttest siswa yang dihitung

135

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Dengan hipotesis awal yaitu:


H0 = sampel homogen
H1 = sampel tidak homogen

menggunakan software SPSS 19.0 pada tabel 12


sebagai berikut :

Tabel 12. Deskriptif Data Posttest

Dan kriteria pengujiannya yaitu tolak H0 jika


(
)
, dalam hal lainnya, H0 diterima. Dari tabel di
atas ditunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.120 yang
artinya lebih besar dari 0.05.
Maka H0 yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H1 yang menyatakan
sampel tidak homogen ditolak.
Setelah diketahui sampel berdistribusi normal
dan memiliki varian homogen selanjutnya dilakukan
uji analisis anava untuk uji hipotesisnya. Dalam
penelitian ini yang digunakan adalah uji anva dua
jalur dikarenakan terdapat beberapa variabel bebas
dengan sebuah variabel terikatnya dimana masingmasing variabel mempunyai dua subvariabel atau
lebih (Usman,2006:177). Berikut ini adalah tabel
deskriptif statistik kelas eksperimen dan kontrol
dengan motivasi berprestasi berbeda.

Tabel 13 berikut menunjukkan hasil perhitungan


uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov
dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data
hasil posttest.

Tabel 15. Deskriptif Statistik Kelas Eksperimen dan Kontrol


Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Tabel 13. Perhitungan Uji Kolmogorov-Smirnov Nilai Postest


Dengan SPSS 19.0

Dari hasil Tabel 13, dapat disimpulkan bahwa


data nilai postest berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji KolmogolovSmirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.579
dan kelas kontrol yang bernilai 0,920 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu :
H0 = sampel berdistribusi normal
H1 = sampel berdistribusi tidak normal

Berdasarkan tabel 15 diketahui rata-rata nilai


pada kelas eksperimen atau kelas yang dibelajarkan
dengan teknik Quantum Teaching dan memiliki
motivasi berprestasi tinggi memiliki rata-rata 88.625
dengan jumlah siswa 20, dan yang bermotivasi rendah
memiliki rata-rata 77.031 dengan jumlah siswa 16.
Dengan rat-rata total untuk kelas eksperimen sebesar
83.472 Sedangkan rata-rata nilai pada kelas kontrol
atau kelas yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung dan memiliki motivasi
berprestasi tinggi memiliki rata-rata 74.853 dengan
jumlah siswa 17 dan yang bermotivasi berprestasi
rendah memiliki rata-rata 76.184 dengan jumlah
siswa 19. Dengan rata-rata total keseluruhan kelas
kontrol sebesar 75.556. Total keseluruhan siswa kelas
eksperimen dan kontrol berjumlah 72 siswa.

Sehingga H0 yang menyatakan bahwa sampel


berdistribusi normal diterima dan H1 yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
Tabel 14 berikut menunjukkan hasil
perhitungan uji homogenitas
dengan bantuan
software SPSS versi 19.0 untuk data hasil posttest.

Tabel 14. Perhitungan Uji Homogenitas Postest Dengan SPSS 19.0

136

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Dari output SPSS pada Tabel 15 terdapat


deskriptif statistik hasil belajar siswa keseluruhan
yang menunjukkan rata-rata motivasi berprestasi
tinggi = 82.297 dan rata-rata keseluruhan siswa
dengan motivasi berprestasi rendah = 76.571, maka
hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi
tinggi lebih unggul daripada hasil belajar siswa yang
memiliki motivasi berprestasi rendah.
Kemudian untuk uji hipotesis dengan uji anava
dua jalur didapatkan output seperti tabel berikut ini.

pembelajaran kooperatif teknik Quantum Teaching


dan model pembelajaran langsung.
Kemudian
untuk
interaksi
motivasi
ditunjukkan nilai signifikansinya untuk motivasi =
0.015 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat
disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu
terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang
memiliki motivasi berprestasi rendah.
Pada interaksi antara kelas dan motivasi
terhadap hasil belajar ditunjukkan nilai signifikansi =
0.002 lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H0 ditolak
dan terima H1 yaitu terdapat pengaruh interaksi antara
model pembelajaran dan
motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar siswa.

IV. PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil hitung uji anava dengan batuan
SPSS 19.0 untuk menguji pengaruh penerapan
model pembelajaran terhadap hasil belajar siswa,
seperti yang ditunjukkan tabel 16 didapatkan nilai
signifikansi = 0.001 yang lebih kecil dari 0.05
maka dapat disimpulkan untuk tolak H0 dan
terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil belajar
antara yang mendapat perlakuan model
pembelajaran
kooperatif
teknik
Quantum
Teaching dan model pembelajaran langsung.
Sedangkan dari tabel 15 deskriptif statistik kelas
eksperimen dan kontrol dengan motivasi
berprestasi berbeda didapatkan nilai rata-rata
untuk siswa kelas eksperimen (Quantum
Teaching) = 83.47, dan untuk rata-rata nilai kelas
kontrol (MPL) = 75.56. Artinya model
pembelajaran kooperatif teknik pembelajaran
Quantum Teaching lebih unggul daripada Model
Pembelajaran Langsung.
Berdasarkan hasil uji anava dengan bantuan
software SPSS 19.0 untuk menguji pengaruh
motivasi terhadap hasil belajar siswa, seperti yang
ditunjukkan tabel 16 didapatkan nilai signifikansi
= 0.015 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat
disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu
terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah.
Dengan rata-rata nilai pada masing-masing
motivasi berprestasi seperti pada tabel 15 terlihat
rata-rata nilai keseluruhan untuk siswa dengan
motivasi berprestasi tinggi = 81.739 dan rata-rata
nilai siswa dengan motivasi berprestasi rendah =
76.608 maka terlihat hasil belajar siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih unggul
daripada hasil belajar siswa yang memiliki
motivasi berprestasi rendah.
Berdasarkan tabel 16 terdapat hasil perhitungan
uji anava dua jalur dengan menggunakan SPSS
19.0 untuk pengaruh interaksi antara model

Tabel 16. Uji Anava Dua Jalur

Gambar 1. Plot interaksi Model Pembelajaran


dengan Motivasi Berprestasi

Pada uji hipotesis ini H0 akan diuji dengan H1.


Dengan taraf signifikansi yang ditentukan = 0,05
kriteria
pengujiannya
yaitu-tolak-H0-jika(
)
.
Dalam hal lainnya H0 diterima.
Pada tabel 16 terlihat nilai signifikansi untuk
variabel hubungan antar kelas = 0.001 yang lebih
kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak
H0 dan terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil
belajar antara yang mendapat perlakuan model

137

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

REFERENCES

pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap


hasil belajar yaitu dengan nilai signifikansi =
0.002 yang lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H0
ditolak dan terima H1 yaitu terdapat pengaruh
interaksi antara model pembelajaran dan motivasi
berprestasi terhadap hasil belajar siswa. Pada
gambar 1 juga terlihat ada perpotongan garis yang
menunjukkan adanya hubungan interaksi antara
model pembelajaran dengan motivasi berprestasi
siswa. Dengan demikian terdapat interaksi
terhadap hasil belajar antara model pembelajaran
dan motivasi berprestasi yang dilakukan peneliti
di SMKN 1 Jetis.

[1]. Arikunto, Suharsimi.2006.Dasar-Dasar Evaluasi


Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara
[2]. DePorter, Bobbi.2003.Quantum Teaching.Bandung:Kaifa
[3]. Kurikulum SMK Negeri 1 Jetis. 2013. Silabus Kompetensi
Kejuruan Kompetensi Keahlian: Teknik Elektronika Industri.
[4]. Nur, Mohamad.2001.Pemotivasian Siswa Untuk
Belajar.Surabaya:Universitas Negeri Surabaya
[5]. Nur, Mohamad.2011.Model Pengajaran
Langsung.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa
[6]. Nur, Mohamad.2011.Model Pembelajaran
Kooperatif.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa
[7]. Riduwan.2006.Dasar-dasar Statistika.Bandung: Alfabeta

Saran

[8]. Sardiman, A. M. 2011. Interaksi & Motivasi Belajar


Mengajar. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada

Penerapan
teknik
pembelajaran
Quantum
Teaching sangat cocok diterapkan untuk suasana
kelas yang kurang kondusif dengan jam belajar
yang lama. Terbukti dengan keadaan yang lebih
kondusif dengan diterapkannya teknik ini
dikarenakan
keikutsertaan
siswa
dalam
pembelajaran sehingga tanpa terasa jam belajar
yang lama dilalui siswa begitu saja.
Teknik pembelajaran Quantum Teaching sangat
cocok untuk meningkatkan hasil belajar pada
siswa dengan motivasi berprestasi rendah.
Terbukti dengan kemajuan belajar siswa dengan
motivasi berprestasi rendah pada kelas Quantum
Teaching lebih unggul dibanding dengan siswa
bermotivasi berprestasi tinggi pada kelas dengan
Model Pembelajaran Langsung.
Kemampuan penguasaan kelas sangat dibutuhkan
untuk berjalannya teknik pembelajaran ini,
sehingga
benar-benar
tercipta
suasana
pembelajaran yang menyenangkan dan kondusif.
Sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan
peneliti membawa rekan sejawat yang kompeten
agar dapat mengorganisasikan kelas dengan baik
sehingga suasana kelas tidak ramai dan berjalan
kondusif.

[9]. Simanjuntak, Henri.2001.Dasar-dasar


Mikroprosesor.Yogyakarta:Kanisius
[10]. Siwo Wardoyo, 2004, BPK Mikroprosesor,
Surakarta:POLITAMA.
[11]. Sudjana.2005.Metoda Statistika.Bandung:Tarsito
[12]. Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D.Bandung:Alfabeta
[13]. Sugiyono.2012.Metode Penelitian Administrasi.Bandung:
Alfabeta
[14]. Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi Paikem. Surabaya: Pustaka Pelajar
[15]. Uno, B.Hamzah.2008. Teori Motivasi dan
Pengukurannya.Jakarta:Bumi Aksara
[16]. Usman Husaini., Akbar, Purnomo Setiadi.2006.Pengantar
Statistika.Jakarta:Bumi Aksara
[17]. Yoyo Somantri & Erik Haritman, 2006, Hand Out Bahan
Kuliah, Bandung: UPI.

138

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran Matematika


untuk Materi Bilangan dengan Menggunakan Flash
Yuni Yamasari
Jurusan Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya. E-mail: yamasari2000@yahoo.com
dikembangkan media pembelajaran matematika
berbasis TIK agar belajar matematika lebih menarik
khususnya untuk materi bilangan. Mengingat
pentingnya materi bilangan yang akan mendasari
materi-materi berikutnya. Makalah ini berkaitan
dengan makalah yang berjudul Pengembangan
Media Pembelajaran Matematika Berbasis ICT yang
Berkualitas yang membahas tentang ujicoba media
pembelajaran matematika ini sebagai perangkat
pembelajaran dan dari hasil ujicoba menunjukkan
keefektifan tercapai dengan ditunjukkan 80% lebih
siswa tuntas dalam belajar serta menunjukkan respon
positif dari angket yang diberikan[1].

Abstrak - Dalam matematika, materi bilangan


termasuk materi yang mendasar. Materi ini akan
menjadi dasar dari materi-materi berikutnya. Oleh
karena itu, materi ini harus dipahami dan dikuasai
siswa dengan baik agar pemahaman materi-materi
berikutnya tidak mengalami kesulitan. Namun, guru
seringkali kesulitan dalam pencapaian tujuan tesebut.
Siswa kesulitan memahami dan menguasai materi
tersebut. Selain matematika bersifat abstrak, metode
penyampaian oleh guru yang kurang menarik dianggap
sebagai penyebabnya.
Oleh karena itu kehadiran media pembelajaran
matematika berbasis TIK untuk materi bilangan
ditujukan agar metode penyampaian guru lebih
menarik dan tidak membosankan. Media pembelajaran
yang menarik dapat dibangun dengan menggunakan
flash.
Flash merupakan tool yang mempunyai
kemampuan dalam pembuatan animasi dan gambar
vektor. Selain itu, flash juga mempunyai lingkungan
pemrograman yaitu actionscript. Sehingga media
pembelajaran yang akan dihasilkan lebih interaktif.

II. LINGKUNGAN FLASH


Dalam dunia digital,image dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu image bitmap dan image vector. Sebelumnya
yang dikenal dalam dunia animasi adalah selalu
imagebitmSalah
satu
tool
untuk
memap.
Perkembangan selanjutnya, flash menggunakan image
vector. Keuntungan image vector jika dibandingkan
dengan bitmap adalah sebagai berikut:

Kata kunci: Media pembelajaran, matematika, bilangan,


flash.

Secara umum image vector mempunyai ukuran


file yang kecil.
Image vector mudah dibawa diubah-ubah
ukurannya tanpa mengurangi kualitas gambar,
sedangkan bitmap memiliki range pembesaran
yang kecil. Jika terlalu diperbesar maka
tampilannya menjadi kasar dan tidak jelas.
Apabila
diperkecil
maka
gambar
akan
menggumpal(ngeblok).
Sedangkan kekurangan dari image vector
dibanding bitmap adalah ketika menampilkan
gambar foto atau tekstur lukisan makaimage
vector kurang bagus.

I. PENDAHULUAN
Perkembangan
teknologi
informasi
dan
komunikasi (TIK) merambah ke segala bidang,
termasuk bidang pendidikan. Penerapan teknologi di
bidang ini dapat dilakukan untuk proses
pembelajaran. Salah satu bentuk pemanfaatannya
adalah pembuatan media pembelajaran berbasis TIK.
Pemanfaatan komputer dalam bidang pendidikan saat
ini sudah mulai dikembangkan. Penggunaan media
komputer dalam bidang pendidikan memiliki banyak
keuntungan antara lain dengan teknologi ini ilmu
pengetahuan akan lebih mudah diakses, disebar, dan
disimpan[5].
Perkembangan teknologi ini dapat dimanfaatkan
untuk menunjang proses belajar mengajar khususnya
dalam bidang matematika supaya matematika tidak
lagi menjadi suatu hal yang abstrak. Dikatakan
abstrak, karena obyek matematika tidak bisa dilihat
maupun diraba, obyek tersebut hanya ada dalam
pikiran kita. Melalui kecanggihan dan kemampuan
komputer saat ini memungkinkan dalam penyampaian
informasi secara cepat, tepat dan menarik. Dengan
kemampuan komputer dalam bentuk multimedia
menjadikan komputer dapat mengubah skenario
pembelajaran matematika yang membosankan karena
keabstrakannya menjadi lebih menarik dan
menyenangkan bagi siswa. Dengan hal ini harapannya
dapat menjadi alternatif dalam menyampaikan
pelajaran.
Berdasarkan
hal
tersebut
perlu

Media pembelajaran
matematika ini dibuat
dengan menggunakan tool adalah flash. Selain
kelebihan flash dalam penggunaan image vector, tool
ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:
Segi grafis dan animasi yang berbasis vektor
grafis yang mempunyai kecepatan dan kualitas yang
tinggi walau dapat diisi dengan bitmap yang diimpor
dari program lain.
Flash movie dapat melakukan hubungan
interaktif dengan pengguna.
Pembuatan movie akan lebih menarik karena
grafis statis dibuat dengan efek yang seolah-olah
nampak bergerak
Tool ini mempunyai panel-panel dan fasilitas
yang dapat menunjang pembuatan movie dengan

139

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

semester 1. Pemilihan materi bilangan ini


dilatarbelakangi kebutuhan akan media pembelajaran
untuk materi dasar yang lebih menarik dan lebih
interaktif sehingga materi dasar yang akan
disampikan guru dapat dipahami siswa dengan lebih
baik.
Media pembelajaran berbasis TIK ini dirancang
dengan menggunakan flowchart (diagram alir/alur).
Alur pembuatan media pembelajaran diperlihatkan
pada gambar 3.

lebih baik. Lingkungan dari tool flash ini dapat dilihat


pada gambar 1.
Lingkungan flash pada gambar 1 terdiri dari
beberapa bagian penting antara lain:
Stage, yaitu bidang segi empat dimana movie
dimainkan
Timeline adalah tempat dimana obyek gambar
yang diletakkan pada frame diatur tampilannya
berdasarkan urutan waktunya
Simbol merupakan media aset dari movie yang
dapat dipakai ulang

proses

input
Materi
bilangan

Perancangan
dg Flowchart

output
Implementasi Flowchart
dg flash

Media Pembelajaran
berbasis ICT

Gambar 3. Alur Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis TIK

Dari gambar 3 diperlihatkan 3 tahapan utama


untuk pembuatan sebuah aplikasi. Ketika membuat
aplikasi harus mendefinisikan input(masukan), proses
dan output(keluaran).
Tahap input(masukan) adalah materi bilangan
yang akan dibuat. Materi bilangan yang dibuat
dikhususkan untuk bilangan bulat. Oleh karena itu
media pembelajaran ini materinya terdiri dari
bilangan bulat, operator-operator pada bilangan bulat,
sifat-sifat operasi bilangan bulat dan eksponen.
Tahapan kedua adalah mendefinisikan proses
yang harus dilakukan agar perancangan dan
pembuatan media terarah pada keluaran dan
implementasi mudah dilakukan. Diagram alir pada
perancangan digunakan untuk menggambarkan alur
dari fitur-fitur media pembelajaran berbasis TIK ini
yang ditunjukkan pada gambar 4, 5 dan 6. Sedangkan
pembuatan media dilakukan dengan implementasi
perancangan menggunakan flash yang mempunyai
kelebihan seperti dijelaskan pada sub bab
sebelumnya.

Gambar 1. Lingkungan Flash

Library window adalah tempat dimana obyekobyek diorganisasikan


Movie explorer merupakan tempat dimana kita
dapat melihat keseluruhan movie beserta
strukturnya.
Panel-panel merupakan bagian dari flash yang
memuat berbagai elemen dalam movie.
Actions adalah tempat menuliskan scripting
language pada flash
Beberapa bagian penting diatas sangat menunjang
dalam pembuatan flash movie terutama timeline.
Timeline ini mempunyai struktur sebagai berikut:

Dengan struktur timeline seperti diatas, flash


movie yang dihasilkan akan lebih menarik dan lebih
interaktif dengan pengguna. Sehingga kelebihan yang
dimiliki tool flash ini dapat dioptimalkan untuk
pembuatan media pembelajaran berbasis TIK ini.
III. PERANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Media ini dirancang untuk pembelajaran
matematika materi bilangan untuk SMP kelas 1
140

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

IV IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN


MATEMATIKA
Media pembelajaran Matematika untuk materi
bilangan yang sudah dirancang pada pembahasan
sebelumnya, akan diimplementasikan dengan
menggunakan tool flash. Implementasi dilakukan
untuk semua fitur yang sudah dirancang. Beberapa
fitur saja yang akan dibahas dimakalah ini. Fitur
fitur tersebut antara lain:
Tampilan
utama
merupakan
tampilan
pendahuluan yang disajikan dengan animasi judul
dari media pembelajaran matematika dengan
soundtrack yang sesuai agar siswa tertarik
menggunakan media sejak awal. Tampilan
pendahuluan ini diperlihatkan pada gambar 7.

Gambar 4. Diagram Alir Perancangan Fitur-Fitur Media


Pembelajaran III

Gambar 7. Tampilan Utama

Tampilan standar kompetensi merupakan


tampilan tentang standar kompetensi dari materi
bilangan kelas 7 semester 1 yaitu memahami sifatsifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya
dalam pemecahan masalah yang diperlihatkan pada
gambar 8.

Gambar 5. Diagram Alir Perancangan Fitur-Fitur Media


Pembelajaran II
B

C
Sifat Asosiatif
Pada Penjumlahan
BB
Elemen Identitas
Pada Penjumlahan
BB
Elemen Invers
Pada Penjumlahan
BB

Elemen Identitas
pada Perkalian

Pembagian
BB_1

BB
Sifat Asosiatif pada
Perkalian

Pembagian

Pangkat pada
Pembagian

BB_2
BB
Sifat komutatif
pada Perkalian

Perkalian

BB
Perkalian

BB positif dg
positif
Perkalian

BB negatif dg
negatif
Perkalian

BB positif dg

BB negatif dg

Pangkat dengan
pangkat

Contoh Pangkat
dalam sehari-hari

Gambar 8. Tampilan Standar Kompetensi dari Bilangan

Tampilan pengertian bilangan dan penggambaran


bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tampilan
ini mempergunakan tokoh kartun doraemon dari
141

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

negara jepang yang mengenal 4 musim. Ketika musim


salju maka suhu digambarkan dengan bilangan negatif
misal -10 derajat celcius (10 derajat dibawah 0),
seperti terlihat pada gambar 9.

Gambar 11. Tampilan Contoh Operasi Penjumlahan Bilangan


Positif dengan Positif.

Tampilan contoh operasi pada bilangan bulat


positif dan positif ditunjukkan pada gambar 11,
sedangkan operasi bilangan bulat negatif dengan
negatif diperlihatkan pada gambar 12.

Gambar 9. Tampilan Pengertian dan Penggambaran

Tampilan letak bilangan pada garis bilangan.


Pada tampilan menjelaskan pengertian bilangan
positif dan negatif serta penggambaran bilangan pada
garis bilangan. Tampilan diperlihatkan pada gambar
10.

Gambar 12. Tampilan Contoh Operasi Penjumlahan Bilangan


Negatif dengan Negatif.

Gambar 10. Tampilan Letak Bilangan pada Garis Bilangan

Operasi pada bilangan bulat ini menggunakan


animasi tentara penjaga yang mondar-mandir agar
lebih dipahami siswa.
Tampilan tentang sifat-sifat penjumlahan
bilangan bulat diperlihatkan pada gambar13. Sifatsifat itu antara lain: sifat ketertutupan, sifat komutatif,
sifat asosiasi, elemen identitas dan elemen invers.

142

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Gambar 13. Tampilan Sifat-Sifat Penjumlahan Bilangan Bulat

Gambar 15. Penjumlahan bilangan

Tampilan
tentang
penjelasan
mengenai
pengertian sifat komutatif pada penjumlahan bilangan
bulat diperlihatkan pada gambar 15.
Penggunaan animasi doraemon ketika membagi
jeruk dalam 2 keranjang bertujuan agar penjelasan
lebih menarik sehingga siswa mudah memahami sifat
tersebut.
Tampilan
tentang
penjelasan
mengenai
pengertian sifat asosiatif pada penjumlahan bilangan
bulat diperlihatkan pada gambar 16.

Tampilan
tentang
penjelasan
mengenai
pengertian sifat keterrtutupan pada penjumlahan
bilangan bulat diperlihatkan pada gambar 14.

Gambar 14. Tampilan Pengertian Sifat Ketertutupan pada


Penjumlahan Bilangan Bulat

Gambar 16. Tampilan Pengertian Sifat Asosiatif pada Penjumlahan


Bilangan Bulat

143

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Gambar 19. Tampilan Pengertian Perkalian pada Bilangan Bulat


Gambar 17. Tampilan Pengertian Elemen Identitas pada
Penjumlahan Bilangan Bulat

Tampilan mengenai perkalian pada bilangan bulat


diperlihatkan pada gambar 19. Animasi balon untuk
menjelaskan perkalian ditujukan agar siswa lebih
mudah memahami perkalian.
Tampilan mengenai pengertian sifat komutatif
pada perkalian bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 20. Penggunaan animasi kucing yang dibagi
jadi 6 bagian menjadikan media pembelajaran lebih
menarik dan siswa mudah memahami sifat tersebut.

Tampilan mengenai pengertian elemen identitas


pada penjumlahan bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 17.

Gambar 18. Tampilan Pengertian Elemen Invers pada Penjumlahan


Bilangan Bulat

Tampilan mengenai pengertian elemen invers


pada penjumlahan bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 18.

Gambar 20. Tampilan Sifat Komutatif pada Perkalian Bilangan


Bulat

Tampilan mengenai pengertian sifat asosiatif


pada perkalian bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 21. Penggunaan animasi ditujukan agar
pembelajaran matematika lebih menarik dan siswa
mudah memahami sifat tersebut.

144

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Tampilan mengenai pengertian eksponen pada


bilangan bulat diperlihatkan pada gambar 22 dan
contoh penggunaan eksponen pada gambar 23 .

Gambar 24. Peraturan Evaluasi

Gambar 21. Tampilan Sifat Asosiatif pada Perkalian Bilangan


Bulat

Gambar 25. Soal Evaluasi

Gambar 23. Tampilan Contoh Penggunaan Eksponen

Penambahan suara dan teks pada media ini


ditujukan agar siswa lebih memahami materi yang
disampaikan. Selain itu, penggunaan animasi
doraemon dimaksudkan agar siswa lebih tertarik pada
media pembelajaran ini.
Evaluasi dimulai dengan tampilan gambar 24
tentang aturan evaluasi dan siswa diminta untuk
menulis nama dan kelasnya. Tampilan soal evaluasi
diperlihatkan pada gambar 25. Evaluasi ini terdiri
dari 15 soal. Hasil evaluasi siswa diperlihatkan
padagambar 26.

Script yang ditambahkan dalam implementasi ini


antara lain:
on (release) {
pilih = "B";
temp=0;
jawaban[0]=pilih;
flatih=_currentframe-2
jb=klatih[flatih]

145

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
if (pilih == jb) {
nilai=nilai+10;
tellTarget ("bs") {
gotoAndPlay("benar");
}
} else {
count=count+1;
temp=1;
jawabanslh[count]=temp;
tellTarget ("bs") {
gotoAndPlay("salah");
}
}
tellTarget ("TABIR") {
gotoAndPlay(2);
}
}

V. KESIMPULAN
Penggunaan flash untuk mengimplementasikan
perancangan media pembelajaran telah dapat
menghasilkan media pembelajaran berbasis TIK yang
lebih menarik dan interaktif. Hasil ini tercapai karena
flash memiliki kemampuan dalam pembuatan animasi
dan gambar vektor. Penggunaan flash untuk
membangun media pembelajaran matematika berbasis
TIK ini ditujukan agar proses pembelajaran
matematika lebih menarik dan tidak membosankan
sehingga siswa akan lebih memahami materi yang
disampaikan khususnya materi bilangan yang
merupakan materi dasar.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Yuni Yamasari, Pengembangan Media Pembelajaran
Matematika Berbasis ICT yang Berkualitas, Seminar
Nasional Pascasarjana X ITS , Agustus 2010, Pascasarjana
ITS.
[2]. Ismail, Atik Wintarti, Yuni Yamasari, Pengembangan Media
Pembelajaran Matematika Berbasis ICT (Information and
Communication Technology) untuk Menumbuhkan Minat dan
Motivasi Siswa dalam Memahami Konsep Matematika di
SMP, Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains
FMIPA Unesa, 2009
[3]. Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
[4]. Wahyono, Teguh. 2006. 36 Jam Belajar Komputer Animasi
dengan Macromedia Flash 8.0. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
[5]. Zain, Ismail. 2001. Pendidikan Bertaraf Dunia ke Arah
Pembestarian Dalam proses Pengajaran. (online)
(www.tutor.com.my/tutor/motivasi/index.asp?pg=artikel/pend
idikan_bertaraf_dunia1.htm-34k diakses 27 April 2007)

146

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pemanfaatan Software Animasi Kimia


sebagai Media Pembelajaran pada Materi Larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit Mahasiswa Semester 1
Jurusan Teknik Elektro Unisla
Cicik Herlina Yulianti
Universitas Islam Lamongan (UNISLA), E-mail: cicikherlina@gmail.com
Abstrak Ruang lingkup mata kuliah kimia dasar
di jurusan elektro Unisla ditekankan pada fenomena
alam yang berhubungan dengan elektrokimia, salah
satu bahasan dalam mata kuliah kimia dasar ini adalah
larutan elektrolit dan non elektrolit. Penekanan tersebut
tidak hanya pada tahapan mengetahui saja, namun
mahasiswa diharapkan mampu memahami fenomena
larutan elektrolit dan non elektrolit secara utuh. Akan
tetapi selama ini banyak ditemui kendala dalam
memahami fenomena-fenomena kimia, termasuk konsep
larutan elektrolit dan non elektrolit, karena fenomena
yang terjadi pada peristiwa larutan elektrolit dan non
elektrolit bersifat mikroskopik sehingga mahasiswa sulit
membayangkan bagaimana proses yang terjadi pada
larutan elektrolit dan nonelektrolit, oleh sebab itu
mahasiswa perlu mendapatkan gambaran dengan
media sederhana misalnya dengan animasi kimia yang
berhubungan dengan larutan elektrolit dan non
elektrolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemanfaatan software animasi kimia
terhadap hasil belajar mahasiswa pada topik larutan
elektrolit dan nonelektrolit.
Bentuk penelitian ini adalah eksperimen, yaitu
membandingkan hasil belajar antara kelompok kelas
eksperimen dan kelas kontrol, dengan metode analisis
datanya secara kuantitatif. Pengumpulan data
menggunakan instrumen tes, dan angket tanggapan
terhadap pemanfaatan software animasi kimia sebagai
media pembelajaran. Perbandingan penyebaran nilai
hasil belajar mahasiswa dari kelas eksperimen lebih
tinggi daripada kelas kontrol. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa software animasi kimia yang
digunakan sebagai media pembelajaran dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil belajar kimia
mahasiswa pada topik materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit.

sangat paham pada konsep-konsep kimia, namun


tidak mampu mengaplikasikan konsep tersebut dalam
kehidupan sehari-hari (Iskandar, 2009).
Kendala yang lain adalah dalam proses
perkuliahan, tidak seluruhnya pesan/informasi yang
disampaikan dosen dapat diserap oleh mahasiswa
dengan optimal. Terkadang dalam proses perkuliahan
terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi kuliah
atau pesan yang disampaikan dosen tidak dapat
diterima mahasiswa dengan optimal, atau tidak
seluruh materi kuliah dapat dipahami dengan baik
oleh mahasiswa. Disamping itu, kurangnya partisipasi
dosen dalam merancang dan menerapkan berbagai
media yang inovatif, yaitu kurangnya variasi dalam
pengajaran serta jarangnya penggunaan media yang
dapat memperjelas pemahaman mahasiswa tentang
materi-materi kimia menjadikan materi kimia sulit
dan tidak menarik untuk dipelajari sehingga dapat
menyebabkan motivasi belajar kimia yang rendah
dalam diri mahasiswa.
Media pembelajaran seperti software animasi
kimia disusun dan diimplementasikan oleh
pembuatannya sebagai media belajar yang dapat
membantu memudahkan mahasiswa atau pelajar
dalam memahami materi-materi kimia.
Ruang lingkup mata kuliah kimia dasar di jurusan
elektro Unisla ditekankan pada fenomena alam yang
berhubungan dengan elektrokimia, salah satu bahasan
dalam mata kuliah kimia dasar ini adalah larutan
elektrolit dan non elektrolit. Penekanan tersebut tidak
hanya pada tahapan mengetahui saja, namun
mahasiswa diharapkan mampu memahami fenomena
kimia secara utuh. Akan tetapi selama ini banyak
ditemui kendala dalam memahami fenomenafenomena kimia, termasuk konsep larutan elektrolit
dan non elektrolit, karena fenomena yang terjadi pada
peristiwa larutan elektrolit dan non elektrolit bersifat
mikroskopik
sehingga
mahasiswa
sulit
membayangkan bagaimana proses yang terjadi pada
larutan elektrolit dan nonelektrolit, oleh sebab itu
mahasiswa perlu mendapatkan gambaran dengan
media sederhana misalnya dengan animasi kimia yang
berhubungan dengan larutan elektrolit dan non
elektrolit, sebelum dilakukan praktikum secara
langsung di laboratorium.

Kata Kunci : animasi kimia, eksprimen, elektrolit, non


elektrolit.

I. PENDAHULUAN
Mata kuliah kimia merupakan salah satu mata
kuliah yang dianggap sulit bagi sebagian mahasiswa.
Salah satu kendala yang dihadapi mahasiswa dalam
mempelajari ilmu kimia adalah banyaknya konsep
kimia yang bersifat abstrak yang harus diserap
mahasiswa dalam waktu relatif terbatas. Pada
umumnya mahasiswa cenderung belajar dengan
hafalan daripada aktif mencari pemahaman terhadap
konsep kimia. Ada juga sebagian mahasiswa yang
147

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

dimensi), bahan grafis (gambar-gambar atau visualvisual yang penampilannya tidak diproyeksikan), dan
display (bahan pameran atau medium yang
penggunaannya dalam ilmu kimia di tempat tertentu),
(2) media yang diproyeksikan (projected media),
seperti : Over Head Transparansi (OHT) dan slide,
(3) media Audio, (4) media Video, (5) media berbasis
komputer (computer based media).

II. DASAR TEORI


2.1 Software Animasi Sebagai Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin medium yang
berarti perantara atau penyalur. Menurut Yusufhadi
Miarso (1984) media pembelajaran adalah sesuatu
yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar
pada diri mereka yang belajar. Media yang menarik
tentunya sangat membantu dalam pemahaman suatu
materi pelajaran, karena sesuatu yang menarik dapat
menimbulkan minat peserta didik, meningkatkan
aktivitas berpikir, dan mem-pertinggi daya ingat.
Menurut Edgar Dale,
pengalaman belajar
manusia itu 75% diperoleh melalui indera
penglihatan, 13% melalui indera pendengaran dan 12
% melalui indera lainnya. Pendapat ini memberikan
arti bahwa pembelajaran dengan alat bantu (media)
selain dapat menarik perhatian peserta juga sekaligus
meningkatkan pemahaman karena melibatkan indera
penglihatan (Oemar Hamalik, 1994). Lebih lanjut
Oemar Hamalik mengemukakan bahwa penggunaan
media juga dapat membangkitkan minat dan motivasi
belajar siswa, memperjelas pengertian, memberikan
pengalaman yang menyeluruh. Pendapat lain
dikemukakan Nasution (1987), menurutnya cara
penyampaian informasi dengan media jauh lebih
bermutu daripada hanya ceramah.
Secara umum manfaat media dalam pembelajaran
adalah memperlancar interaksi guru dan siswa
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara
optimal. Menurut Kemp dan Daytom (1985) yang
dikutip oleh Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001)
beberapa manfaat media yang lebih khusus untuk
tujuan pembelajaran adalah :
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat
diseragamkan.
2. Proses pembelajaran menjadi menarik.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan
kapan saja.
7. Sikap positif siswa terhadap bahan belajar maupun
terhadap proses belajar itu sendiri dapat
ditingkatkan.
8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih
positif dan produktif.

2.2 Software Animasi Kimia


Software animasi kimia dengan topik larutan
elektrolit dan nonelektrolit yang digunakan dalam
penelitian ini adalah software animasi yang dibuat
oleh pustekkom tahun 2003. Software ini dapat
digunakan untuk membantu mempelajari materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit. Software ini
memberikan gambaran awal tentang larutan elektrolit
dan nonelektrolit dengan penjelasan yang mudah
dipahami disertai dengan animasi percobaan dan tes
untuk mengetahui tingkat pemahaman. Tampilan
software animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit
ditunjukkan oleh rangkaian Gambar 1 hingga Gambar
4 berikut ini. Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut:
Gambar 1 menunjukkan tampilan utama software
animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Pada
tampilan utama ini terdapat 4 menu yaitu,
kompetensi, materi, simulasi dan test. Materi
kompetensi berisi penjelasan mengenai jenis larutan
serta sifat larutan berdasarkan daya hantarnya.

Gambar 1. Tampilan Utama Software Animasi Larutan Elektrolit


dan Nonelektrolit

Sedangkan pada menu materi terdiri dari 5


pembahasan, yaitu: alat uji elektrolit, larutan
elektrolit, larutan nonelektrolit, teori elektrolit, dan
latihan. Gambar 2 menunjukkan tampilan alat uji
yaitu rangkaian percobaan yang digunakan dalam
animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit,
dilanjutkan dengan penjelasan materi larutan
elektrolit, nonelektrolit, teori elektrolit, dan latihan.

Setiap jenis media memiliki karakteristik dan


kemampuan dalam menayangkan pesan dan
informasi. Karakteristik dan kemampuan masingmasing media perlu diperhatikan oleh para guru agar
mereka dapat memilih media yang tepat sesuai
dengan kondisi & kebutuhan. Menurut Heinich dalam
Benny Agus Pribadi dan Dewi Padmo Putri (2001),
media pembelajaran dapat diklasifikasikan : (1) media
yang tidak diproyeksikan (non projected media),
seperti : realita (benda nyata), model (benda tiga
148

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

2.3 Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit


Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai
ke dalam bentuk ion-ionya. Zat yang jumlahnya lebih
sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau
solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak
dari pada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut
atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam
larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan
pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau
solvasi. Larutan terdiri dari larutan nonelektrolit dan
larutan elektrolit. Larutan nonelektrolit adalah larutan
yang tidak menghantarkan arus listrik, sedangkan
larutan elektrolit adalah larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik dengan mudah. Ion-ion
merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit
dapat berupa senyawa garam, asam, atau amfoter.
Beberapa gas tertentu dapat berfungsi sebagai
elektrolit, hal ini terjadi pada kondisi tertentu
misalnya pada suhu tinggi atau tekanan rendah.
Elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam.
Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion atau
kovalen polar. Sebagian besar senyawa yang
berikatan ion merupakan elektrolit sebagai contoh
adalah garam dapur atau NaCl. NaCl dapat menjadi
elektrolit dalam bentuk larutan dalam simtem aqueous
dan lelehan, sedangkan dalam bentuk padatan
senyawa ion tidak dapat berfungsi sebagai elektrolit
(Riyanto, 2013).

Gambar 2. Alat Uji Percobaan

Menu berikutnya adalah simulasi yang


ditunjukkan pada Gambar 3, yaitu untuk mengetahui
pemahaman mahasiswa mengenai materi yang sudah
dijelaskan pada menu sebelumnya. Pada menu
simulasi ini mahasiswa diminta menebak daya hantar
larutan yang ditanyakan, kemudian memberikan
kesimpulan apakah termasuk larutan elektrolit atau
nonelektrolit.

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Variabel Penelitian
Variabel bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah
adalah pemanfaatan media software animasi kimia
pada topik larutan elektrolit dan nonelektrolit
Gambar 3. Tampilan Menu Simulasi

Variabel terikat
Sedangkan variabel terikatnya adalah hasil
belajar mahasiswa jurusan Elektro semester satu pada
topik materi larutan elektrolit dan nonektrolit.

Gambar 4 adalah menu terakhir yaitu menu test,


Pada menu ini mahasiswa diminta untuk menuliskan
nama serta mengerjakan 5 soal yang berkaitan dengan
materi yang telah dijelaskan pada menu-menu
sebelumnya.

3.2 Alat dan Bahan


Komputer atau Labtop
LCD Projector
Software kimia

Gambar 4. Tampilan Menu Test

149

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

3.3 Desain Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen,
yaitu untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan
software animasi kimia terhadap hasil belajar
mahasiswa pada topik materi larutan elektrolit dan
nonektrolit.
Penelitian ini dititik beratkan pada pemanfaatan
software animasi kimia sebagai media perkuliahan.
Analisis datanya secara kuantitatif, yaitu dengan
membandingkan nilai belajar mahasiswa pada kelas
yang mendapatkan perkuliahan dengan metode
ceramah saja tanpa disertai pemanfaatan software
animasi kimia dengan nilai belajar mahasiswa setelah
mendapatkan perkuliahan dengan pemanfaatan
software animasi kimia, serta data quisioner
tanggapan mahasiswa. Adapun desain eksperimen
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Kelas A:
a) Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari dosen
mengenai materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit;
b) Mahasiswa diajak aktif dengan melontarkan
pertanyaan kepada dosen mengenai materi
tersebut;
c) Mahasiswa mencatat pokok bahasan yang
dianggap penting;
d) Mahasiswa menarik kesimpulan dari hasil
perkuliahan.
e) Tes untuk mengetahui tingkat pemahaman
mahasiswa terhadap materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit

KELAS A

KELAS B

Dosen memberikan
ceramah mengenai materi
larutan elektrolit dan
nonelektrolit

Dosen menggunakan
software animasi kimia
untuk menjelaskan materi
larutan elektrolit dan
nonelektrolit

Dosen memberikan
kesempatan bertanya
kepada mahasiswa
mengenai materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit

Mahasiswa menulis materi


yang dinggap penting dari
pembelajaran
menggunakan software
animasi kimia

Mahasiswa mencatat
pokok bahasan yang
dianggap penting

Mahasiswa berdiskusi dan


saling bertukar informasi
hasil catatannya masing2

Mahasiswa menarik
kesimpulan hasil
perkuliahan

Mahasiswa menarik
kesimpulan dan mencatat
hasil diskusi

Tes untuk mengetahui


tingkat pemahaman
terhadap materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit

Tes untuk mengetahui


tingkat pemahaman
terhadap materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit

data tes hasil belajar dan angket


tanggapan

2. Kelas B:
a) Mahasiswa menyimak dengan seksama materi
yang dijelaskan melalui media software animasi
kimia dengan metode diskusi;
b) Mahasiswa menulis materi yang dinggap penting
dari penjelasan dosen terhadap materi tersebut;
c) Mahasiswa saling bertukar informasi dari hasil
catatannya masing-masing;
d) Mahasiswa menarik kesimpulan dan mencatat
dari hasil diskusi;
e) Mahasiswa memaparkan hasil diskusinya.
f) Tes untuk mengetahui tingkat pemahaman
mahasiswa terhadap materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit

Gambar 5. Flowchart desain penelitian yang dilakukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Kondisi Sebelum Penelitian
Hasil observasi awal, kondisi mahasiswa Elektro
semester 1 Unisla dalam proses perkuliahan Kimia
dasar cenderung pasif. Mahasiswa terbiasa
mendengarkan penjelasan dari dosen, menulis hasil
perkuliahan dan bertanya. Namun, mahasiswa yang
dapat bertanya kepada dosennya pun hanya beberapa
mahasiswa saja. Dan terkadang hanya mahasiswa
yang sama yang dapat mengajukan pertanyaan.
Kondisi perkuliahan yang demikian dapat berdampak
negatif pada hasil belajar yang diperoleh mahasiswa,
yaitu tujuan perkuliahan tidak tercapai dan mahasiswa
tidak dapat memenuhi standar nilai yang ditentukan.
Mencermati permasalahan perkuliahan dengan
model ceramah ini, maka mahasiswa membutuhkan
suatu perkuliahan yang lebih aktif terutama pada
materi yang dianggap sulit karena bersifat
mikroskopik seperti pada topik larutan elektrolit dan
nonelektrolit. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba
memberi alternatif perkuliahan menggunakan media
software animasi kimia. Media yang digunakan

Desain eksperimen yang dilakukan dapat dilihat


pada flowchart berikut :

150

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pun setelah perkuliahan dengan memanfaatkan


software kimia, materi diulas kembali dengan metode
diskusi. Dimana metode diskusi sendiri, sangat efektif
apabila digunakan dalam proses perkuliahan. Hal ini
dikarenakan mahasiswa dapat aktif bertukar informasi
dengan mahasiswa yang lain. Sehingga pendalaman
terhadap materi akan lebih dikuasai dan optimal.
Dibandingkan dengan metode ceramah yang
diterapkan dalam penelitian ini. Hal ini lebih
dikarenakan karena motivasi mahasiswa yang
menurun
sejak awal
perkuliahan sehingga
berpengaruh pada perkuliahan berikutnya.

disesuaikan dengan materi larutan elektrolit dan


nonelektrolit. Sehingga dalam perkuliahan ini,
diharapkan akan membangkitkan motivasi mahasiswa
karena media software animasi kimia akan
memberikan gambaran tentang materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit, yang kemudian
perkuliahan tersebut disertai dengan praktikum.
Dengan praktikum inilah akan memperjelas lagi
konsep yang telah diterima oleh setiap mahasiswa.
Sehingga mahasiswa dapat mengalami secara
langsung, mengikuti dan mengamati prosesnya serta
dapat menganalisis hasil yang telah diperoleh.

4.3 Hasil Angket Tanggapan Mahasiswa


4.2 Perbandingan Penyebaran Nilai
Perbandingan penyebaran nilai belajar mahasiswa
Tabel 1 Rekap Angket Tanggapan Mahasiswa
dilakukan
setelah
mahasiswa
mendapatkan
Jawaban
perkuliahan dengan metode ceramah saja tanpa
Pertanyaan
disertai penggunaan software animasi kimia dengan No
Y
T
nilai belajar mahasiswa setelah mendapatkan
Mahasiswa senang belajar kimia
1
21
6
karena menarik
perkuliahan dengan menggunaan software animasi
Mahasiswa tidak suka belajar kimia
kimia.
2
8
19
karena rumit.
Hasil perbandingan penyebaran nilai dapat dilihat
Mahasiswa merasa bosan belajar
pada grafik berikut:
3

7
Gambar 2 Grafik Perbandingan Penyebaran Nilai

Pada grafik di atas, perkuliahan yang


menggunakan software animasi kimia memiliki
penyebaran nilai hasil belajar mahasiswa yang lebih
tinggi dibandingkan perkuliahan yang tanpa
menggunakan software animasi kimia. Nilai hasil
belajar mahasiswa dapat dipengaruhi oleh faktor
internal mahasiswa, maupun faktor eksternal
mahasiswa yaitu penggunaan media software animasi
untuk menunjang perkuliahan.
Fakta ini selaras dengan berbagai studi yang
dilaksanakan
diberbagai
negara
mengenai
dampak/pengaruh positif media belajar dalam
menunjang perkuliahan dengan metode diskusi antara
lain bahwa audiovisual dapat: (a) meningkatkan
pengetahuan; (b) menumbuhkan keinginan atau
motivasi untuk memperoleh informasi dan
pengetahuan lebih lanjut; (c) meningkatkan
perbendaharaan kosakata, istilah, dan kemampuan
berbahasa secara verbal dan nonverbal; (d)
meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas; (e)
meningkatkan kekritisan daya pikir karena
dihadapkan pada dua relitas gambar dunia; dan (f)
memicu minat baca dan motivasi belajar.

kimia karena penyampaian materi


melalui metode ceramah kurang dapat
menjelaskan materi dengan jelas
Mahasiswa merasa bosan belajar
kimia karena dosen kurang aplikatif
sehingga materi sulit dipahami
Mahasiswa lebih paham setelah dosen
menerangkan materi dengan
memanfaatkan software animasi kimia
Mahasiswa tertarik belajar kimia
dengan alat peraga yang digunakan
dalam pembelajaran
Mahasiswa merasa senang belajar
kimia karena media yang diterapkan
lebih inovatif
Bagaimana interaksi antara dosen dan
mahasiswa dalam perkuliahan apakah
lebih interaktif setelah memanfaatkan
software animasi kimia?
Mahasiswa lebih semangat melakukan
praktikum setelah mendapatkan
perkuliahan menggunakan software
animasi kimia yang dapat memberikan
gambaran materi yang dipelajari.

Prosentase
(%)
Y
T
78

22

30

70

10

17

37

63

12

15

44

56

27

100

27

100

27

100

26

96

27

100

Tabel di atas menunjukkan hasil rekap tanggapan


mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan dengan
menggunakan software animasi kimia. Dari tabel di
atas dapat diketahui bahwa mahasiswa Elektro
semester 1 yang menyenangi mata kuliah kimia,
sebanyak 78%, hasil ini menunjukkan bahwa
sebenarnya mahasiswa Elektro semester 1 banyak
yang menyenangi mata kuliah kimia, sedangkan yang
tidak menyenangi mata kuliah kimia sebanyak 22%.
Adapun mahasiswa yang tidak senang belajar kimia
kemungkinan disebabkan karena beberapa kendala,
antara lain: karena rumit sebanyak 70%, penyampaian
materi kuliah oleh dosen melalui metode ceramah
kurang jelas sebanyak 37%, sehingga tidak seluruh
materi kuliah dapat dipahami dengan baik oleh
mahasiswa, serta dalam perkuliahan dengan motode

151

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

ceramah kurang diberikan contoh-contoh yang


aplikatif sebanyak 44%.
Sedangkan hasil tanggapan mahasiswa terhadap
metode perkuliahan kimia yang diharapkan adalah:
memanfaatkan software animasi kimia sebanyak
100%, hasil ini menunjukkan bahwa semua
mahasiswa Elektro semester 1 setuju penggunaan
software animasi kimia dapat membantu memberikan
pemahaman terhadap materi yang dipelajari,
penggunaan alat peraga yang digunakan untuk
mempermudah penyampaian materi sebanyak 100%,
dan penggunaan media lain yang lebih inovatif
sebanyak 100%. Yang lebih menarik adalah
tanggapan mahasiswa terhadap interaksi dosen dan
mahasiswa ketika perkuliahan menggunakan software
kimia lebih interaktif sebanyak 96%, hal ini karena
penggunaan software animasi kimia dalam
perkuliahan mampu membangkitkan motivasi
mahasiswa untuk bertanya dan berdiskusi. Disamping
itu, perkuliahan menggunakan software animasi kimia
dapat memberikan gambaran materi yang dipelajari
sehingga dapat meningkatkan semangat mahasiswa
dalam melakukan praktikum sebanyak 100%.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Benny Agus Pribadi dan Dewi Padmo Putri (2001). Ragam
Media dalam Pembelajara, Depdiknas, Jakarta.
[2]. Iskandar (2009), Psikologi Pendidikan (Sebuah Orientasi
Baru), Gaung Persada, Ciputat.
[3]. Nasution, S. (1987), Berbagai Pendekatan dalam Proses
Belajar-Mengajar, Bina Aksara, Jakarta
[4]. Oemar Hamalik. (1994), Media Pendidikan, Alumni, Jakarta.
[5]. Riyanto (2013), Elektrokimia dan aplikasinya, edisi ke-1,
Graha Ilmu, Yogyakarta
[6]. Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001), Media Sederhana,
Depdiknas, Jakarta.
[7]. Yusufhadi Miarso. (1984). Teknologi Komunikasi Pendidikan,
Pengertian dan Pengem-bangannya, Media Pembelajaran,
Rajawali, Jakarta.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada
mahasiswa jurusan Elektro Unisla, semester 1 pada
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit diperoleh
kesimpulan, sebagai berikut :
1. Software animasi kimia yang digunakan sebagai
media perkuliahan dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hal ini dapat
dilihat dari perbandingan nilai hasil belajar kelas
eksperimen, yaitu yang dalam perkuliahannya
menggunakan software animasi kimia lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai hasil belajar kelas
kontrol yang hanya menggunakan metode
ceramah saja.
2. Perkuliahan dengan menggunakan software
animasi kimia dapat berpengaruh positif pada
motivasi belajar mahasiswa terhadap materi-materi
kimia daripada perkuliahan dengan menggunakan
metode ceramah saja.
5.2 Saran
Hendaknya media sofware animasi dapat
diterapkan pada mata kuliah yang lain. Sehingga
media software animasi dapat membangkitkan
motivasi belajar mahasiswa.

152

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika


Wiryanto1
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Email : wiryantoro29@yahoo.co.id
Abstrak Upaya pembentukan karakter sesuai
dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata
hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian
kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi
juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan,
seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras,
cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya.
Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan
tentang hal-hal yang benar dan salah, akan tetapi juga
mampu merasakan terhadap nilai yang baik dan tidak
baik, serta bersedia melakukannya dari lingkup terkecil
seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas
di
masyarakat.
Nilai-nilai
tersebut
perlu
ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada
akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan
yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter
karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan
melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah
(school culture). Untuk itu diperlukan suatu upaya
terencana, kontinu, dan sistematis dalam pembelajaran
matematika. Perencanaan pembelajaran yang memuat
tujuan membentuk karakter siswa harus dengan
disengaja (by design) bukan sekedar sebagai dampak
pengiring saja (by chance)..

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan


menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Pengembangan potensi peserta
didik tersebut meliputi tataran individu, kolektif,
maupun untuk kepentingan eksistensi bangsa.
Mengingat tujuan pendidikan nasional adalah untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar
berkarakter
cerdas,
sementara
pembelajaran
matematika berkaitan dengan pengembangan potensi
peserta didik dalam berolah pikir, maka pembejaran
matematika memiliki potensi besar dan strategis
dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional
tersebut. Agar pembelajaran matematika dapat
berkontribusi secara nyata dalam pencapaian tujuan
tersebut, maka kita perlu mengidentifikasi faktorfaktor utama yang perlu menjadi fokus kajian
khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran
matematika.
Karakter cerdas yang menjadi orientasi utama
dari pembelajaran matematika menurut tujuan
pendidikan yang dituntut undang undang, didasarkan
atas nilai-nilai tertentu yang juga perlu menjadi fokus
kajian guru maupun para peneliti.
Karena
pembelajaran terjadi pada konteks sosial, maka nilainilai yang relevan dengan pembelajaran matematika
sebenarnya sangat memungkinkan dikembangkan
melalui interaksi sosial yang bisa terjadi melalui
pembelajaran. Dengan demikian, desain interaksi
(hubungan pedagogis) merupakan hal penting yang
layak menjadi fokus kajian pembelajaran matematika
yang berkarakter.
Berdasarkan uraian tersebut, karakter cerdas yang
menjadi tujuan pendidikan di Indonesia, antara lain
dapat diupayakan melalui pembelajaran matematika
yang dapat membentuk karakter bangsa. Dengan
demikian, melalui kesempatan ini yang berorientasi
pada pengembangan kualitas materi ajar matematika
dan diharapkan dapat mendorong optimalisasi potensi
siswa, perlu menjadi alternatif dalam upaya
pengkajian
pembelajaran
matematika
yang
berkarakter. Salah satu yang penulis tawarkan melalui
seminar ini adalah melalui pembelajaran matematika
dapat membentuk karakter bangsa.

Kata kunci: pendidikan karakter, pembelajaran


matematika.

I. PENDAHULUAN
Peran pembelajaran matematika dalam
pembentukan karakter bangsa telah diamanatkan
dalam pendidikan UUD 1945 (versi amandemen),
Pasal 31 ayat 3 menyebutkan Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan
dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan
undang-undang. Pernyataan ini secara ekplisit
mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan nasional
adalah untuk membangun kedidupan bangsa yang
cerdas berlandaskan atas nilai-nilai keimanan,
ketakwaan, serta ahlak mulia. Dengan demikian,
karakter bangsa yang ingin kita bangun melalui
pendidikan adalah karakter cerdas yang didasari nilai
keimanan, ketakwaan, dan ahlak mulia. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecerdasan dimaknai
sebagai kesempurnaan perkembangan akal budi,
ketajaman pikir, serta kesempurnaan pertumbuhan
fisik.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
pasal 3, antara lain disebutkan bahwa pendidikan
nasaional bertujuan untuk perkembangan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

II. PENDIDIKAN KARAKTER


Berkowitz (2002) menjelaskan bahwa karakter
dapat dipandang sebagai suatu ukuran atau sarana
mengukur kebaikan atau keeksentrikan seorang
individu yang berkaitan moralitas. Selain itu, juga
dapat berkaitan non moralitas (seperti fungsi-fungsi
kognitif). Berkowitz mendefinisikan karakter sebagai
an individuals set of physchological characteristics
153

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

that affect that persons ability and inclination to


function morally. Artinya karakter adalah suatu
kumpulan karakteristik psikologis individu yang
memberi dampak terhadap kemampuan seseorang dan
peningkatan fungsi-fungsi moralitas.
Dengan
demikian makna karakter dapat diartikan sebagai
tabiat, watak, atau aspek-aspek psikologi lain yang
melekat
pada
seorang
individu.
Karakter
membimbing dan mengarahkan seseorang untuk
menilai sesuatu yang dilakukan baik atau buruk.
Fungsi-fungsi moral menurut Berkowitz (2002)
tersebut dinamakan moral anatomy yang meliputi (1)
moral behaviour (perilaku moral), (2) moral values
(nilai-nilai
moral),
(3)
moral
personality
(personalitas moral), (4) moral emotion (emosi
moral), (5) moral reasoning (penalaran moral), (6)
moral identity (identitas moral), dan (7) foundational
characteristics (karakteristik-karakteristik dasar).
Fungsi-fungsi tersebut memberi gambaran bahwa
karakter merupakan suatu konsep psikologi yang
kompleks. Karakter meliputi kemampuan berpikir
membedakan yang baik dan benar, mengalami
emosi-emosi moral (bersalah, empati, sadar diri),
melibatkan diri dalam tindakan-tindakan (berbagi,
berderma, berbuat jujur), meyakini moralitas yang
beradab dan bermartabat, dan menunjukkan
kejujuran, kebaikan hati, dan tanggung jawab.
McElmeel (2002) dalam bukunya memfokuskan
nilai-nilai karakter terdiri dari peduli, percaya diri,
tertantang, ingin tahu, fleksibel, kebersamaan
(friendship),
terencana
(goalsetting),
hormat
(humility), ceria (humor), inisiatif, integritas, sabar,
tekun, sikap positif, pemecah masalah, disiplin, dan
kerjasama (teamwork). Nilai-nilai tersebut diperlukan
dalam menghadapi dunia kerja dan saling terkait
dengan nilai-nilai yang lain.
Tim Pengembang, Depdiknas (2010) menuliskan
bahwa karakter merupakan perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan
yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma
disebut insan berkarakter mulia. Karakter mulia
berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi
dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti
reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis,
kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat,
bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati,
rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur,
menepati janji, adil, rendah hati, dan nilai-nilai
lainnya. Individu juga memiliki kesadaran untuk
berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga
mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya
tersebut.
Kementrian Pendidikan Nasional dalam Desain
Induk Pembangunan Karakter Bangsa
(2010)
menyebutkan bahwa karakter adalah nilai-nilai yang
unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, dan

nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri


dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara
koheren memancar dari hasil olahpikir, olahhati,
olahrasa dan olahkarsa, serta olahraga seseorang atau
sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas
seseorang atau sekelompok orang yang mengandung
nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran
dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Pengertian ini secara lengkap menggabungkan
karakter sebagai nilai-nilai, kemampuan, kapasitas
moral, keyakinan, dan tindakan.
Berdasar
pembahasan
sebelumnya
dapat
dikatakan bahwa karakter merupakan suatu kumpulan
karakteristik individu yang khas dalam berpikir,
berperilaku, dan bertindak dalam hidup, bergaul,
bekerjasama, maupun memecahkan masalah di
lingkungannya. Karakteristik tersebut dapat berkaitan
dengan aspek psikologis (seperti bawaan, emosi,
kepribadian, budi pekerti, sifat, tabiat, temperamen,
atau watak), aspek moral (berupa nilai-nilai yang
disadari dan diyakini), dan aspek kognitif (gaya
berpikir, penalaran, ataupun berbahasan). Dengan
demikian, karakter sebenarnya tidak hanya berupa
nilai-nilai, tetapi juga kemampuan, keyakinan,
moralitas, pengendalian emosi dan pengarahannya,
serta perwujudan perilaku yang sebenarnya.
Untuk menanamkan karakter tersebut dilakukan
melalui pendidikan. Pendidikan yang mengarahkan
dan menanamkan karakter tersebut dinamakan
pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan
upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara
sistematis untuk menanamkan nilai-nilai perilaku
peserta didik yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan
adat istiadat (Kemendiknas, 2010).
Pendidikan karakter dalam lingkup pembelajaran
di kelas dapat diartikan sebagai upaya merancang dan
melaksanakan suatu strategi atau model-model
pembelajaran yang bertujuan mengembangkan
kemampuan akademik dan membangun karakter.
Tujuan membangun karakter harus didesain dengan
sengaja (by design) bukan sebagai akibat samping
(dampak pengiring). Karakter-karakter itu harus
tergambar secara eksplisit pada langkah-langkah
pembelajaran yang dirancang. Karakter tersebut
berupa nilai-nilai, kemampuan, keyakinan, moralitas,
pengendalian emosi, dan perilaku yang berkaitan
langsung maupun tidak langsung dengan karakteristik
dan sifat alami dari mata pelajaran tersebut. Ketika
belajar Bahasa Indonesia mungkin saja ditekankan
nilai-nilai dan etika berbahasa yang baik, sedang
ketika belajar matematika diajarkan nilai-nilai yang
berkaitan dengan penalaran. Dengan demikian,
seorang guru perlu mengetahui karakteristik dari ilmu
yang akan diajarkan dan mengaitkan dengan tujuantujuan pengembangan karakter peserta didik
(Tatag,Y.E.: 2012)
154

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Berikut ini contoh nilai yang ditanamkan dari


proses pembelajaran pada tahap eksplorasi, elaborasi,
dan konfirmasi, yang potensial dapat membantu siswa
menginternalisasi nilai-nilai karakter.
a) Eksplorasi, dalam kegiatan eksplorasi, guru: (1)
Melibatkan siswa mencari informasi yang luas
dan dalam tentang topik/tema materi yang akan
dipelajari dengan menerapkan prinsip belajar dari
pengalaman atau belajar dari apa yang ada di
sekitar kita, jadi guru dan belajar dari aneka
sumber (mandiri, berpikir logis, kreatif,
kerjasama).
(2)
Menggunakan
beragam
pendekatan pembelajaran, media pembelajaran,
dan sumber belajar lain (kreatif, kerja keras) (3)
Memfasilitasi
terjadinya
interaksi
antar
siswaserta antara siswa dengan guru, lingkungan,
dan sumber belajar lainnya (kerja sama, saling
menghargai, peduli lingkungan), (4) Melibatkan
siswa secara aktif dalam setiapkegiatan
pembelajaran (rasa percaya diri, mandiri), dan
(5) Memfasilitasisiswa melakukanpercobaan di
laboratorium studio, atau lapangan (mandiri,
kerjasama, kerja keras)
b) Elaborasi, dalam kegiatan elaborasi, guru: (1)
Membiasakan siswamembaca dan menulis yang
beragam melalui tugas-tugas tertentu yang
bermakna (cinta ilmu, kreatif, logis), (2)
Memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas,
diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan
gagasan baru, baik secara lisan maupun tertulis
(kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai,
santun),
(3)
Memberikesempatan
untuk
berpikir,menganalisis, menyelesaikan masalah,
dan bertindak tanpa rasa takut (kreatif, percaya
diri, kritis), (4) Memfasilitasi siswadalam
pembelajaran
kooperatif
dan
kolaboratif
(kerjasama, saling menghargai, tanggung
jawab), (5) Memfasilitasi siswa berkompetisi
secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar
(jujur, disiplin, kerja keras, menghargai), (6)
Memfasilitasi siswamembuat laporan eksplorasi
yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara
individual
maupun
kelompok
(jujur,
bertanggungjawab,
percaya
diri,
saling
menghargai,
mandiri,
kerjasama),
(7)
Memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja
individual maupun kelompok ( percaya diri,
saling menghargai, mandiri, kerjasama), (8)
Memfasilitasi siswa melakukan pameran,
turnamen, festival,seta produk yang dihasilkan
(percaya diri, saling menghargai, mandiri,
kerjasama), (9) Memfasilitasi siswa melakukan
kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan
danrasa percaya diri siswa (percaya diri, saling
menghargai, mandiri, kerjasama).
c) Konfirmasi, dalam kegiatan konfirmasi, guru:
(1) Memberikan umpan balik positif dan
penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat,
maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa
(percaya diri, saling menghargai, santun, kritis,

III. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


MATEMATIKA
Kagiatan pelaksaan dan tahapan kegiatan
pendahuluan, inti dan penutup, dipilih dan
dilaksanakan agar siswa mempratikkan nilai-nilai
karakter yang ditargetkan. Pada pelaksanaan
pembelajaran tersebut dapat dibuat dalam bentuk
diagram sebagai berikut.
PENDAHULUAN

Kegiatan Inti :
Eksplorasi
Elaborasi
Konfirmasi

PENUTUP

3.1 Kegiatan Pendahuluan


Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam
suatu pertemuan pembelajaran yang ditunjuk untuk
membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian
siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses
pembelajaran. Pada pelaksanaan pembelajaran dalam
kegiatan pendahuluan guru: (1) menyiapkan siswa
secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses
pembelajaran, (2) mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan
materi yang akan dipelajari (apersepsi), (3)
menjelaskan tujuan pembelajaran atau kopetensi dasar
yang akan dicapai, (4) menyampaikan cakupan materi
dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Sejumlah contoh yang dapat dilakukan guru
untuk mengenalkan nilai, membangun kepedulian
akan nilai, dan membantu internalisasi nilai atau
karakter pada tahap pendahuluan adalah sebagai
berikut.
a) Guru datang tepat waktu (disiplin)
b) Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada
siswa ketika memasuki ruang kelas (santun, dan
peduli)
c) Berdoa sebelum membuka pelajaran (religius)
d) Mengecek kehadiran siswa yang tidak hadir
karena sakit atau karena halangan lainnya
(religius, peduli)
e) Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat
waktu (disiplin)
f) Menegur siswa yang terlambat dengan sopan
(disiplin, santun, peduli)
g) Mengaitkan
materi/kopetensi
yang
akan
dipelajari dengan karakter
h) Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan
ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak
dikembangkan selain yang terkait dengan
SK/KD.
3.2 Kegiatan Inti
Kegiatan
pembelajaran
dilakukan
secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
155

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

logis), (2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil


eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai
sumber (percaya diri, kritis, logis),(3)
Memfasilitasi
siswa
melakukan
refleksi
untukmemperoleh pengalaman belajar yang telah
dilakukan
(memahami
kelebihan
dan
kekurangan diri sendiri), (4) Memfasilitasi
siswa untuk memperoleh pengalaman yang
bermakna dalam mencapai kompetensi dasar
antara lain dengan guru: (a) berfungsi sebagai
nara sumber dan fasilitator dalam menjawab
pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan,
dengan menggunakan bahasa yang baku dan
benar (peduli dan santun), (b) membantu
menyelesaikan masalah (peduli), (c) memberi
acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan
hasil eksplorasi (kritis), (d) memberi informasi
untuk bereksplorasi lebih jauh (cinta ilmu), (e)
memberikanmotivasi kepada siswa yang kurang
atau belum berpartisipasi aktif (peduli, percaya
diri.

jawab, mandiri, kerja keras); (5) menyampaikan


rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya
(rasa ingin tahu, tanggung jawab).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
internalisasi nilai-nilai terjadi dengan lebih intensif
selama tahap penutup, yaitu sebagai berikut: (1)
Selain simpulan yang terkait dengan aspek
pengetahuan, siswa difasilitasi membuat pelajaran
moral yang berharga, yang dipetik dari
pengetahuan/keterampilan
dan/atau
proses
pembelajaran
yang
telah
dilaluinya
untuk
memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan pada
pelajaran tersebut. (2) Penilaian tidak hanya
mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan
keterampilan, tetapi juga pada perkembangankarakter
mereka. Untuk menanamkan kejujuran penilaian
dapat dilakukan antar teman (peer assesment), (3)
Umpan balik yang terkait dengan produk maupun
proses, harus menyangkut baikkompetensi maupun
karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif
yang ditunjukkan oleh siswa. (4) Karya-karya siswa
yang dipajang untuk mengembangkan sikap saling
menghargai karya orang lain dan rasa percaya diri.
(5)Berdoa pada akhir pelajaran.
Berdasarkan hal lain yang perlu dilakukan oleh
guru untuk mendorong dipraktekannya nilai-nilai.
Pertama, guru garus merupakan seorang model dalam
karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata,
sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan
dari nilai-nilai karakter yang hendak ditanamkannya.
Kedua, pemberian reward kepada siswa yang
menunjukkan karakter yang dikehendaki dan
memberikan punishment kepada mereka yang tidak
menunjukkan karakter yang dikehendaki. Reward dan
punishment yang dimaksud dapat berupa ungkapan
verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat atau
catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk itu, guru
harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap
siswanya selama proses pembelajaran. Ketiga, harus
dihindari olok-olok ketika ada siswa yang datang
terlambat atau menjawab pertanyaan dan/atau
berpendapat kurang tepat/relevan.
Kebiasaan
mengolok-olok terhadap siswa yang lain harus
dijahui,
untukmenumbuhkembangkan
sikap
bertanggung jawab, empati, kritis, kreatif, inovatif,
rasa percaya diri dan sebagainya.
Selain itu, setiap kali guru memberi umpan balik
dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai
dari aspek-aspek positif atau sisi-sisi yang telah
kuat/baik pada pendapat, karya, dan /atau sikap siswa.
Guru memulainya dengan memberi penghargaan pada
hal-hal yang lebih baik dengan ungkapan verbal
dan/atau non verbal dan baru kemudian menunjukkan
kekurangan-kekurangan dengan hati. Dengan cara
ini, sikap-sikap saling menghargai dan menghormati
kritis, dan kreatif, percaya diri, santun, dan
sebagainya akan tumbuh subur.

Pada
pelaksanaan
pembelajaran,
proses
pembelajaran pada tahap eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi,
yang
dapat
membantu
siswa
menginternalisasi nilai-nilai karakter ini dapat
terwujud, apabila guru dapat memilih suatu
pendekatan pembelajaran dimana peserta didik
memiliki hasil yang komprehensip tidak hanya pada
tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran
objektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor
(olah raga). Salah satu pendekatan yang dimaksud
adalah
pendekatan
kontektual.
Pendekatan
pembelajaran yang berbasis kontektual ini antara lain:
(1) pembelajaran berbasis masalah, (2) pembelajaran
kooperatif, (c) pembelajaran berbasis proyek, (4)
pembelajaran pelayanan, dan (5) pembelajaran
berbasis kerja. Kelima pembelajaran tersebut dapat
memberikan nurturanteffect pengembangan karakter
siswa, seperti karakter cerdas, berpikir terbuka,
tanggung jawab, rasa ingin tahu.
3.3 Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan
untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat
dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan,
penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
Dalam kegiatan penutup guru (1) bersama-sama
dengan siswa atau sendiri membuat rangkuman/
simpulan pelajaran; (2) melakukan penilaian dan/atau
refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan
secara konsisten dan terprogram (jujur, mengetahui
kelebihan dan kekurangan); (3) memberikanumpan
balik terhadap proses dan hasil pembelajaran (saling
menghargai, percaya diri, santun, kritisdan logis);
(4) merencankan kegiatantindak lanjut dalambentuk
pembelajaran remidi, program pengayaan, layanan
konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas
individual maupun kelompok sesuai dengan hasil
belajar siswa (disiplin, berprestasi, tanggung
156

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

(habituation) tentang nilai-nilai budaya dan karakter,


yaitu mana yang baik sehingga siswa menjadi paham
(kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu
merasakan (afektif) nilai yang baik, dan biasa
melakukannya (psikomotor) melalui pembelajaran
matematika.
Paradigma baru pembelajaran kita adalah
beralihnya bentuk pengajaran ke pembelajaran.
Paradigma baru ini, memberikan peran lebih banyak
kepada siswa untuk mengembangkan potensi dan
kreativitas dirinya. Paparan tulisan di atas merupakan
salah satu usaha untuk mewujudkan suatu
pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak
pada siswa saat berlangsungnya pembelajaran.
Berikut ini contoh Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), dimana dalam RPP ini memuat
identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK),
Kompetensi Dasar (KD), indikator pencapaian
kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi
waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Agar
dalam pelaksanaan pembelajaran kegiatan eksplorasi,
elaborasi, dan konfirmasi dapat membantu siswa
menginternalisasi nialai-nilai karakter ini dapat
terwujud, guru harus dapat memilih suatu pendekatan
pembelajaran yang dapat dilakukan secara interaktif,
inspiratif, menyenagkan, menantang, memotivasi
siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian siswa. Berikut ini contoh RPP
pembelajaran matematika yang mengimplikasikan
nilai-nilai pendidikan karakter.

IV. RELEVANSI KARAKTERISTIK


MATEMATIKADENGAN PENDIDIKAN
KARAKTER
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) karakteristik mata pelajaran matematika
antara lain adalah menuntut kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis,kreatif dan inovatif
serta menekankan pada penguasaan konsep dan
algoritma disamping pemecahan masalah. Menurut
Soedjadi nilai-nilai yang terkandung dalam
matematika meliputi kesepakatan, kebebasan,
konsisten, dan kesemestaan. Karakteristik mata
pelajaran matematika dan nilai-nilai yang terkandung
dalam matematika tersebut dapat ditumbuhkan pada
proses pembelajaran dengan pemilihan metode dan
materi yang tepat.
Ciri umum matematika yaitu: (1) Objek
matematika
adalah
abstrak.(2)
Matematikamenggunakan simbol-simbol yang kosong
dari arti. (3). Berpikir matematik dilandasi aksioma.
(4) Cara menalarnya adalah deduktif (Hudojo:1988).
Relevansi ciri umum matematika dengan Pendidikan
Karakter adalah pada objek matematika yang abstrak
relevan dengan nilai berpikir kreatif pada pendidikan
karakter karena dengan objek kajian yang abstrak
membuka peluang tumbuhnya nilai berpikir kreatif
dalam pemecaham masalah. Pada ciri matematika
menggunakan simbol-simbol yang kososng dari arti
relevan dengan nilai percaya diri pada pendidikan
karakter karena pada simbol yang kosong dari arti
membuka peluang tumbuhnya nilai percaya diri
berupa kebebasan menggunakan simbol dalam sistem
matematika. Pada ciri matematika berpikir matematik
dilandasi aksioma relevan dengan nilai disiplin
padapendidikan
karakter
karena
konsistensi
menggunakan aksioma dalam matematika membuka
peluang tumbuhnya nilai disiplin untuk selalu taat
azas atau taat aturan. Pada ciri matematika berpola
pikir deduktif relevan dengan nilai kreatif pada
pendidikan karakter dimana pola pikir deduktif
membuka peluang tumbuhnya kebiasaan kreatif pada
peserta didik. Sistem matematika yang bersifat
deduktif-aksiomatik
dapat
dikaitkan
dengan
kehidupan masyarakat yang memiliki nilai-nilai
budaya yang mungkin bersifat lokaldan tetap harus
dihargai dan dijadikan patokan nilai sebagaimana
kedudukan aksioma dalam matematika. Apabila nilai
taat azas dan konsistensi dalam matematika sudah
tertanam pada peserta didik maka taat peraturan dan
disiplin akan tertanam dalam jiwa. Sehingga dapat
dikatakan bahwa karakteristik, nilai-nilai mayupun
ciri umum matematika dapat digunakan untuk
menanamkanpendidikan karakter.
V. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Berbicara tentang implementasi pendidikan
karakter pada pembelajaran matematika, tentunya
tidak terlepas dari bagaimana menanamkan kebiasaan
157

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


SEMESTER GASAL 2013/2014
JURUSAN/FAKULTAS
MATA KULIAH
PROGRAM/ANGKATAN
MATERI AJAR
ALOKASI WAKTU

: Teknik Elektro/Fakultas Teknik


: Matematika 1
: S1 TEKNIK ELEKTRO/2013
: Aplikasi Turunan
: 2 x 50 menit

A. STANDAR KOMPETENSI
Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah
B. KOMPETENSI DASAR
Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi dan penafsirannya
C. INDIKATOR
1. Menyelesaikan model matematika dari masalah ekstrim fungsi
2. Menafsirkan solusi dari masalah ekstrim fungsi
3. Mengembangkan karakter berpikir kreatif, disiplin, kerja keras, percaya diri, ingin tahu dan demokratis
D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Peserta didik dapat menyelesaikan model matematika dari masalah ekstrim fungsi
2. Peserta didik dapat menafsirkan solusi dari masalah ekstrim fungsi
3. Peserta didik dapat mengembangkan karakter berpikir kreatif, disiplin, kerja keras, percaya diri, ingin
tahu dan demokratis
E. MATERI PRASYARAT
Materi prasyarat yang harus dikuasai peserta didik adalah rumus-rumus turunan fungsi aljabar dan syarat
fungsi stasioner (maksimum atau minimum).
F. MATERI PEMBELAJARAN
Turunan fungsi dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari hari misalnya untuk
menghitung pengeluaran minimum agar diperoleh hasil maksimum:
Langkah-langkah menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan nilai ekstrim fungsi dan penafsirannya
menggunakan metode Creative Problem Solving sebagai berikut.
a. Memahami masalah dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam penyelesaian masalah dan
memeriksa data.
b. Menghasilkan ide-ide dengan mengeksplorasi cara yang mungkin untuk menyelesaikan masalah.
c. Menyiapkan tindakan dengan mengembangkan solusi yaitu mengubah permasalahan yang ada dalam
variabel matematika, menotasikan variabel yang belum ada, mengidentifikasi fungsi yang berkaitan,
menentukan hubungan antar variabel, membuat model matematika, menentukan penyelesaian optimum
(maksimum atau minimum) menggunakan turunan fungsi dan membangun penerimaan dengan
menafsirkan hasil penyelesaian masalah.
G. METODE PEMBELAJARAN
Diskusi dengan metode Creative Problem Solving.

158

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

H. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Dosen
Pendahuluan
a. Menyampaikan standar kompetensi, kompetensi
dasar, indikator, tujuan pembelajaran dan materi
yang dibahas yaitu penerapan turunan fungsi dalam
kehidupan sehari-hari
b. Motivasi: Menceritakan kisah pembangun
karakter berpikir kreatif.
c.Apersepsi: Bertanya untuk mengulas kembali
tentangrumus turunan suatu fungsi dan fungsi
stasioner sebagai materi prasyarat.
d. Mempersilahkan peserta didik duduk sesuai
kelompok.
Kegiatan Inti
Langkah 1: Memahami masalah
Eksplorasi:
e. Mengajak peserta didik membuka buku peserta
didik bagian 1 untuk menemukan konsep tentang
penerapan turunan dalam kehidupan sehari-hari
f. Membagikan LKM 1 dan memberikan
permasalahan yang berkaitan dengan penerapan
maksimum dan minimum dalam kehidupan seharihari (soal nomor 1) serta membimbing peserta didik
memahami masalah yang diajukan.
Langkah 2: Menghasilkan ide-ide
Elaborasi:
g. Memberi tugas untuk mendiskusikan soal di
LKM 1, memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk mengungkapkan ide-ide serta mendorong
terjadinya diskusi dalam kelompok
Langkah 3: Menyiapkan tindakan
h. Memberikan bimbingan kepada peserta didik
dalam diskusi kelompok.
Konfirmasi:
i. Memberikan kesempatan presentasi dengan
memperhatikan peserta didik yang kurang
kemampuannya untuk maju.
j. Membimbing peserta didik mengoreksi cara
pemecahan masalah dan memberikan umpan balik
terhadap proses pembelajaran.
k. Memberikan tugas terstruktur mengerjakan LKM
1
Penutup
l. Mengarahkan peserta didik membuat kesimpulan
dan membimbing peserta didik melakukan refleksi
tentang proses pembelajaran (aspek kompetensi
dasar maupun karakter).
m. Memberikan penilaian (kuis) dan umpan balik
hasil pembelajaran.
n. Memberi tugas mandiri mengerjakan soal di buku
mahasiswa untuk dikumpulkan minggu depan
setelah pertemuan.
o. Menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya

Kegiatan Peserta didik (mhs)

Waktu

Karakter

a. Memperhatikan penjelasan guru

20
5

Ingin tahu

b. Menginternalisasi nilai.

Berpikir
kreatif

Percaya diri

Disiplin

60
10'

Ingin tahu

5'

Ingin tahu

10'

Berpikir
kreatif,
percaya diri,
demokratis

c. Menjawab pertanyaan dosen


d. Duduk sesuai kelompok
e. Membaca buku peserta didik
bagian 1, memahami masalah
dengan bimbingan guru
f. Menetapkan tujuan pemecahan
masalah dan mengeksplorasi data
meliputi variabel apa saja yang
muncul kemudian menuliskannya
di LKM 1 secara individu.
g. Berdiskusi antar anggota
kelompok sehingga mendapat
alternatif solusi berupa daftar ideide untuk membuat model
matematika dan menyelesaikan
masalah.
h. Mengembangkan solusi dan
mengevaluasi berbagai ide, memilih
strategi yang tepat serta
menerapkan strategi sampai
mendapat solusi, menafsirkan solusi
dan menulis hasil diskusi kelompok
i. Masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya,
peserta didik dari kelompok lain
menanggapi dan memberikan
masukan dalam diskusi kelas
j. Mengoreksi cara pemecahan
masalah dan menyimakumpan balik
proses pembelajaran.
k. Mengerjakan tugasterstruktur.
l. Menarik kesimpulan dan
melakukan refleksi
m. Mengerjakan kuis dan menerima
umpan balik hasil pembelajaran.
n. Mencatat tugas untuk dikerjakan
di rumah.

Kerja keras
10'

Percaya diri
10'

20
5'

Mampu
Membuat kesimpulan

8'
Berpikir
Kreatif
3'
Disiplin

o. Menyimak penjelasan dosen


4'
Ingin
tahu

159

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

VI. SIMPULAN
Untuk
membentuk
karakter
bangsa
membutuhkan pendidikan karakter, yaitu pendidikan
budi pekerti, yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), aspek perasaan (afektif), dan aspek
tindakan
atau
aksi
(psikomotorik).
Untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter tersebut
melalui pembelajaran matematika, yaitu bagaimana
menanamkan kebiasaan (habituation) tentang nilainilai budaya dan karakter,yaitu mana yang baik
sehingga siswa menjadi paham (kognitif) tentang
mana yang benar dan salah, mampu merasakan
(afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya
(psikomotor) melalui pembelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Berkowitz, Marin W. 2002. The Science of Character
Education. In Damon, William (Ed). Bringing in a New Era
in Character Education. Stanford, CA: Hoover Institution
Press, Stanford University
[2]. Departemen Pendidikan Nasional. 2010. Desain Induk
Pembanguna Karakter Bangsa 2010-2025. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
[3]. Depdiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: UU
20 Tahun 2003.
[4]. Hudojo. 1988. Strategi Mengajar Belajar Matematika.
Malang:IKIP Malang
[5]. Kemdiknas. 2010. Rencana Aksi Nasional Pendidikan
Karakter. Jakarta
[6]. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan
Pengembangan Pusat Kurikulum. 2010. Pengembangan
pendidikan budaya dan karakter bangsa. Bahan Pelatihan
Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai
Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa.
Jakarta.
[7]. McElmeel, Sharron L. 2002. Character Education: A Book
Guide for Teachers, Librarians, dan Parents. Greenwood
Village, Colorado: Libraries Unlimited, Teacher Idea Press
[8]. Pusat Kurikulum. 2009. Pengembangan dan Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa:Pedoman Sekolah. Jakarta.
[9]. Siswono, Tatag Y.E 2012. Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Pendidikan Matematika Pengembangan
Desain Pembelajaran Matematika Berkarakter, di
Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta
[10]. Tim Pengembang. 2010. Pendidikan Karakter Sekolah
Menengah Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional
[11]. Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional

160

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Rancang Bangun Perangkat Pembelajaran Robotika Berbasis


Computer Interactive Learning And Computer Assisted
Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Peserta Didik
M. Syariffuddien Zuhrie 1, Agung Prijo Budijono 2, Adam Ridhianto 3
1,3
2

Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Kota Surabaya.


Jurusan Teknik Mesin, Universitas Negeri Surabaya, Kota Surabaya.
E-mail: zuhrie.syarif@gmail.com

Abstrak Pada dua dasawarsa terakhir ini


penggunaan mobile robot (robot bergerak) terus
bertambah, karena ada beberapa keuntungan bagi
industri maupun masyarakat. Di Indonesia, obyek
penelitian ini merupakan topik yang terus berkembang.
Sebenarnya perkembangan robotika di tanah air sudah
sangat menggembirakan. Fokus dari penelitian ini
adalah rancang bangun perangkat pembelajaran
robotika pada mata kuliah mekatronika melalui robot
cerdas pemadam api yang sedang booming serta akan
diimplementasikan dalam Kontes Robot Cerdas
Indonesia dan dunia industri agar dapat memajukan
dunia robotika Indonesia. Pada tahun pertama
menitikberatkan pada pembuatan modul ajar,
perencanaan desain mekanik, sistem kontrol melalui
teknologi mikroprosesor dan manueverability dari robot.
Pokok persoalannya adalah bagaimana perangkat
kurikulum dan modul tersebut diimplementasikan
dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
sesuai kebutuhan industri (dunia kerja). Untuk
menjawab
permasalahan tersebut maka dalam
penelitian ini akan disusun dalam bentuk perangkat
pembelajaran robotika pada mata kuliah mekatronika
berbasis Computer Interactive and Assited Learning
untuk meningkatkan ketrampilan peserta didik.
Tujuan khusus yang ingin dicapai penelitian ini
yaitu tersusunnya Perangkat Pembelajaran Robotika
pada Mata Kuliah Mekatronika Berbasis Computer
Interactive Learning dan Computer Assisted Learning.
Secara umum penelitian ini menghasilkan dua hal
pokok, pertama yaitu panduan untuk menentukan
content bahan ajar dan strategi pembelajaran, yang
kedua berupa bahan ajar dan peralatan yang telah
disesuaikan dengan kebutuhan sebagai alat bantu
sarana belajar-mengajar di Unesa untuk meningkatkan
ketrampilan peserta didik.
Strategi
pembelajaran
computer
interactive
Learning and assisted learning merupakan strategi
pembelajaran yang menitikberatkan pemanfaatan atau
penggunaan komputer dan alat bantu pembelajaran
(assisted learning) dalam proses belajar mengajar
(PBM).

diperoleh dengan menggunakan instrumen lembar


angket respon. Penilaian validator terhadap modul
adalah mengacu pada indikator-indikator lembar
validasi. Dari data hasil Kontes Robot Nasional selama
periode 2009 2011 dapat diketahui bahwa modul yang
sudah dikembangkan sudah mencapai tahap ke empat
dari metode penelitian pengembangan yaitu metode
disseminate. Sosialisasi angket tingkat mahasiswa
menunjukkan bahwa image kompetensi jurusan teknik
mesin untuk saat ini hanya terbatas pada mesin-mesin
konvensional. rata-rata hasil penilaian validator adalah
3,34 yang termasuk dalam kategori baik.
Modul yang dikembangkan dapat memberikan
harapan ke depan mampu menghasilkan perangkat
pembelajaran robotika berbasis computer interactive
learning dan assisted learning untuk meningkatkan
ketrampilan peserta didik sehingga dapat diterapkan ke
lapangan. Hasil respon mahasiswa juga menunjukkan
respon yang positif terhadap modul robotika berbasis
computer interactive learning and assisted learning yang
dikembangkan. Rata-rata hasil penilaian validator
adalah 3,34 yang termasuk dalam kategori baik.
Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran Robotika, Computer
Interactive Learning, Assisted Learning,
Mata Kuliah Mekatronika, Kontes Robot
Nasional.

I. PENDAHULUAN
Di Indonesia, obyek penelitian ini merupakan
topik yang terus berkembang. Sebenarnya
perkembangan robotika di tanah air sudah sangat
menggembirakan. Sebagai barometernya adalah
suksesnya penyelenggaraan Kontes Robot Indonesia
(KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI).
Dalam kontes tersebut tidak kurang 40 perguruan
tinggi besar di Indonesia turut ambil bagian. Namun
perkembangan robot tersebut baru sebatas pada
kontes dan belum dikembangkan untuk mengatasi
masalah-masalah yang lebih riil terutama dalam dunia
industri.
Fokus dari penelitian ini adalah rancang bangun
perangkat pembelajaran robotika pada mata kuliah
mekatronika melalui robot cerdas pemadam api yang
sedang booming serta akan diimplementasikan dalam
Kontes Robot Cerdas Indonesia dan dunia industri
agar dapat memajukan dunia robotika Indonesia.
Robot jenis ini hanya dikembangkan oleh negaranegara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris dengan

Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan


rancangan penelitian pengembangan dengan tujuan
untuk menghasilkan produk berupa modul dan
perangkat pembelajaran Robotika. Modul yang
dikembangkan ini merupakan hasil-hasil riset dan
pemantauan ketua peneliti bersama tim yang selama 3
tahun terus berusaha mengembangkan penelitian
robotika berbasis kontes. Data hasil sosialisasi modul
pada mahasiswa Jurusan Teknik Mesin UNESA

161

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

harga jual yang sangat mahal. Saat ini sebenarnya


robot ini menggunakan teknologi tinggi, karena
kendali sepenuhnya dikendalikan oleh Mikroprosesor
sebagai pengganti Manusia dan kami berusaha
mengembangkan dengan Low Cost Technology.
Fokus penelitian pada tahun pertama adalah
pembuatan modul ajar, perencanaan desain mekanik,
sistem kontrol melalui teknologi mikroprosesor dan
manueverability dari robot tersebut. Dari penelitian
tahun pertama ini diharapkan dapat menghasilkan
sebuah robot cerdas yang handal baik dari segi
teknologi maupun dari segi ekonomi.
Pokok persoalannya adalah bagaimana perangkat
kurikulum dan modul tersebut diimplementasikan
dalam
pembelajaran
dengan
menggunakan
pendekatan sesuai kebutuhan industri (dunia kerja)[4].
Dalam rangka menunjang kurikulum berbasis
kompetensi kebutuhan industri, juga telah disusun
modul baik manual maupun modut interaktif, yang
berorientasi pada pencapaian kompetensi kerja
sekaligus juga mengakomodasi kecakapan hidup.
Berkenaan dengan itu, persoalan yang bakal muncul
ialah modul pembelajaran yang seperti apa yang
sesuai dengan karakteristik tujuan belajar yakni
pencapaian kompetensi dunia kerja sekaligus juga
pencapaian kompetensi dalam bidang kecakapan
hidup dengan menggunakan bahan ajar utama berupa
modul dan media pembelajaran.
Untuk menjawab permasalahan tersebut maka
dalam penelitian ini akan disusun dalam bentuk
perangkat pembelajaran robotika pada mata kuliah
mekatronika berbasis Computer Interactive and
Assited Learning terhadap kebutuhan industri.
Diharapkan dari hasil penelitian ini akan bisa
menjembatani kebutuhan dunia kerja, khususnya dari
lulusan jurusan Teknik Mesin Unesa yang nantinya
akan berprofesi sebagai guru SMK atau terjun ke
dunia Industri.

maka diperlukan infrastruktur berupa peralatan


pembelajaran yang terdiri atas :
1) Computer interactive learning yaitu perangkat
komputer yang memuat program-program
komputer (software) yang bisa digunakan untuk
melakukan simulasi tentang materi yang
dipelajari oleh peserta didik. Contoh program
simulasi untuk pembelajaran Computer
Interactive Learning .
2) Assisted learning yaitu alat bantu pembelajaran
yang bisa dipakai untuk mengaplikasikan hasil
simulasi dari komputer pada alat secara
langsung.
2.2 Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model
4-D
Pada penelitian ini model pengembangan
perangkat yang digunakan adalah model 4-D (four D
models). Model ini disarankan oleh Thiagarajan,
Semmel, dan Semmel (1974). Model 4-D ini terdiri
dari empat tahap yaitu:
1) Tahap Define (pendefinisian)
Tujuan tahap ini adalah untuk menetapkan dan
mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Tahap ini
memiliki lima langkah pokok, meliputi : analisis
ujung-depan, analisis siswa, analisis konsep, analisis
tugas, dan perumusan tujuan pembelajaran.
2) Tahap Design (perancangan)
Pada tahap ini dilakukan perancangan prototip
perangkat pembelajaran. Hasil dari tahap ini biasanya
berupa rancangan awal perangkat pembelajaran yang
tergantung pada kebutuhan. Komponen perangkat
yang digunakan sangat beragam, antara lain berupa:
buku siswa, modul, buku guru, lembar kegiatan siswa,
rencana pelajaran, tes hasil belajar siswa, dan media
pembelajaran.
3) Tahap Develop (pengembangan)
Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan
perangkat pembelajaran yang sudah direvisi
berdasarkan masukan para pakar. Langkah berikutnya
adalah uji coba dengan jumlah siswa yang sesuai
dalam kelas sesungguhnya (tidak terbatas). Kegiatan
ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh
efektivitas
perangkat
pembelajaran
yang
dikembangkan bila diterapkan pada proses belajar
mengajar. Efektivitas perangkat pembelajaran dapat
dilihat melalui pengamatan, misalnya aktivitas guru
dan
siswa,
kemampuan
dalam
mengelola
pembelajaran, dan tes hasil belajar siswa.

II. KAJIAN PUSTAKA


2.1 Strategi Pembelajaran Computer Interactive
Learning And Assisted Learning
Strategi pembelajaran computer interactive
Learning and assisted learning merupakan strategi
pembelajaran yang menitikberatkan pemanfaatan atau
penggunaan komputer dan alat bantu pembelajaran
(assisted learning) dalam proses belajar mengajar
(PBM). Penggunaan komputer sebagai media
pembelajaran berguna bagi peserta didik untuk
melakukan simulasi materi yang dipelajarinya. Hasil
simulasi dari komputer ini nantinya diterapkan atau
diaplikasikan pada alat bantu pembelajaran (assisted
learning) yang ada. Sehingga melalui strategi
pembelajaran computer interactive and assisted
learning memudahkan peserta didik dalam
memahami materi dan menerapkan konsep materi
pada alat bantu pembelajaran secara lansung.
Untuk menunjang proses belajar mengajar (PBM)
berbasis computer interactive and assisted learning

4). Tahap Disseminate (penyebaran)


Pada tahap ini merupakan tahap penyebaran dan
penggunaan perangkat pembelajaran. Perangkat
pembelajaran yang telah diujicobakan dan direvisi
tadi, digandakan dan disebarkan untuk digunakan
pada pembelajaran dalam skala yang lebih besar

162

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

III. METODE PENELITIAN

perangkat pembelajaran dianalisa dengan teknik


deskriptif. Begitu juga, data hasil diskusi kelompok
terfokus dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan
merumuskan topik-topik esensial sebagai materi ajar
mata kuliah mekatronika untuk diintegrasikan dalam
bentuk teori, simulasi, dan aplikasi dengan
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Teknik
analisis
deskriptif
kualitatif,
lebih
menekankan pada pembuatan evaluasi dan sintesis
terhadap kesimpulan yang dihasilkan dari kegiatan.
Sintesis dan simpulan hasil penelitian ini dirumuskan
melalui forum-forum workshop, dan diskusi focus
grup.

Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan


rancangan penelitian pengembangan dengan tujuan
untuk menghasilkan produk berupa modul dan
perangkat pembelajaran Robotika berbasis Computer
Interactive Learning and Assisted Learning pada
jurusan Teknik Mesin untuk meningkatkan
ketrampilan peserta didik.
3.1 Prosedur Pengembangan
Prosedur pengembangan dalam penelitian
dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
a) Mengidentifikasi berbagai permasalahan seputar
Robotika yang digunakan dalam kontes-kontes
robot melalui studi literatur maupun data mining
yang akan digunakan sebagai acuan untuk
menyusun teori, simulasi maupun aplikasi yang
mendekatinya.
b) Menganalisa dan merumuskan hasil identifikasi
berbagai permasalahan seputar Robotika yang
relevan untuk dikembangan pada jurusan Teknik
Mesin.
c) Membuat analisa dan menyusun Isi serta
Skenario Pembelajaran dan Mendesain saranaprasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan
peralatan, tenaga pengajar, tenaga laborat, dan
penetapan sistem evaluasi yang tepat sesuai
kebutuhan materi robotika.
d) Merumuskan indikator-indikator keberhasilan
kegiatan PBM yang berorientasi pada
pencapaian tuntutan
kinerja
profesional
kebutuhan dunia kerja.
e) Pelaksanaan pembuatan modul ajar dan
perangkat pembelajarannya (sarana-prasana)
berbasis Computer Interactive Learning and
Assisted Learning sebagai alat untuk
mengintegrasikan antara teori, simulasi dan
aplikasi yang bersesuain dengan berbagai
permasalahan seputar Robotika untuk kebutuhan
pembelajaran dan kontes.
f)
Melakukan uji coba lapangan terhadap modul
ajar dan perangkat pembelajaran robotika mata
kuliah mekatronika berbasis Computer
Interactive Learning and Assisted Learning
pada jurusan Teknik Mesin yang berorientasi
pada penguasaan kompetensi kebutuhan dunia
kerja.
g) Menganalisa hasil uji coba lapangan dan
melakukan perbaikkan untuk memvalidasikan
prosedur pengujian maupun hasil uji.
h) Melakukan revisi akhir terhadap modul ajar dan
perangkat
pembelajaran
robotika
berbasis Computer Interactive Learning and
Assisted Learning berdasarkan dari hasil uji
coba lapangan dan validasinya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data hasil Kontes Robot Nasional 2009-2012.
Dari data hasil Kontes Robot Nasional selama
periode 2009 2012 dapat diketahui bahwa modul
yang sudah dikembangkan sudah mencapai tahap ke
empat dari metode penelitian pengembangan yaitu
metode disseminate. Sehingga modul sudah sempurna
dan siap untuk digandakan dan disebarkan sebagai
perangkat pembelajaran mata kuliah robotika maupun
mata kuliah mekatronika. Dalam Kontes Robot
Nasional ini, bahan-bahan modul ajar yang disusun
berbasis kontes tidak hanya khusus untuk jurusan
elektro saja, melainkan multi disiplin ilmu, dan obyek
penelitian yang dikembangkan tidak harus teknologi
terbaru maupun teknologi tepat guna saja, melainkan
mencakup pengembangan perangkat pembelajaran.
4.2 Data hasil sosialisasi perangkat pembelajaran
pada mahasiswa.
Berdasarkan data tentang kegiatan
sosialisi perangkat pembelajaran yang dilakukan pada
mahasiswa jurusan teknik mesin di atas menghasilkan
data sebagai berikut. Untuk pertanyaan nomor 1, 2,
dan 3 semua responden yang terdiri dari 10
mahasiswa dari perwakilan berbagai program studi di
jurusan teknik mesin (100%) menjawab tidak
mengerti tentang aplikasi robotika di industri, ataupun
tentang peralatan robotika. Responden juga
berpendapat kompetensi robotika tidak diajarkan di
jurusannya yaitu jurusan teknik mesin. Hal ini
menunjukkan bahwa image kompetensi jurusan
teknik mesin untuk saat ini hanya terbatas pada
mesin-mesin konvensional yaitu berkisar pada mesin
bubut, mesin skrap, dan mesin las saja, tidak
menyinggung kompetensi robotika di Industri.
Padahal saat ini perkembangan mesin-mesin di
industri sudah banyak yang menggunakan robot
industri.
Untuk pertanyaan no. 4 tentang modul
robotika berbasis computer interactive learning and
assisted learning responden yang menjawab menarik
adalah sebanyak 9 siswa (90%) dari 10 siswa
perwakilan SMK-SMK dan yang berpendapat tidak
menarik sebanyak 1 siswa (10%). Sedangkan untuk
pertanyaan no. 5 dan no. 6 tentang penggunaan

3.2 Pengumpulan Data dan Teknik Analisis data


Informasi hasil survei lapangan dan diskusi
dalam rangka mengimplementasikan standart
kebutuhan kontes / lomba robot sehingga pengguna
163

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

3). Modul yang telah selesai dibuat kemudian


divalidasikan pada 5 orang validator yang terdiri
dari dosen ahli pembelajaran, ahli pendidikan,
ahli keteknikan dan ahli tata bahasa. Dan ratarata hasil penilaian validator adalah 3,34 yang
termasuk dalam kategori baik. Sehingga modul
tersebut dapat digunakan pada uji coba 2 yaitu uji
coba yang dilakukan pada perkuliahan
mekatronika.
Berdasarkan hasil analisis dari data penelitan dan
simpulan serta kondisi nyata penelitian selama di
lapangan, maka peneliti dapat memberikan saran
sebagai berikut:
1). Perlu adanya modul-modul pembelajaran yang
lain selain modul mekatronika pokok bahasan
robotika
seperti
modul
sensor, modul
mikrokontroller dan lain sebagainya untuk
menunjang mata kuliah mekatronika.
2). Metode
perkuliahan
berbasis
computer
interactive learning and assisted learning
sebaiknya dilakukan pada setiap mata kuliah
yang ada selain mata kuliah mekatronika. Karena
perkuliahan yang menggunakan komputer dan
alat bantu sebagai media pembelajaran dapat
membantu meningkatkan motivasi mahasiswa
untuk mengikuti perkuliahan dan dapat
memudahkan mahasiswa untuk memahami
materi perkuliahan.
3). Kompetensi robotika perlu diajarkan di jurusan
teknik mesin, baik untuk sekolah tinggi ataupun
Universitas. Karena kompetensi robotika sangat
dibutuhkan bagi lulusan jurusan teknik mesin
ketika terjun ke dunia industri, terutama industriindustri yang mesin-mesinnya beroperasi secara
otomatis.
IV. REFERENCES

komputer dan alat bantu modul responden yang


berpendapat menarik sebanyak 10 siswa (100%)
dan yang berpendapat tidak menarik sebanyak tidak
ada (0%). Hal ini menunjukkan adanya respon yang
positif terhadap perangkat pembelajaran yang berupa
modul dan perangkat pelajaran yang dikembangkan.
Untuk pertanyaan no. 7 semua responden
sebanyak 10 orang (100%) berpendapat bahwa modul
yang dikembangkan dapat memudahkan dalam
memahami materi. Semua responden (100%)
berpendapat bahwa mereka merasa senang dan
termotivasi dengan pembelajaran yang menggunakan
modul dan alat bantu pembelajaran. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya modul dapat memotovasi
peserta didik dan membantu peserta didik dalam
memahami materi.
4.3 Data hasil validasi perangkat pembelajaran oleh
Staf Pengajar (Dosen).
Modul yang telah selesai dibuat kemudian
divalidasikan pada 5 orang validator yang terdiri dari
dosen ahli pembelajaran, ahli pendidikan, ahli
keteknikan dan ahli tata bahasa. Dan rata-rata hasil
penilaian validator adalah 3,34 yang termasuk dalam
kategori baik. Sehingga modul tersebut dapat
digunakan pada uji coba 2 yaitu uji coba yang
dilakukan pada perkuliahan mekatronika.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan,
maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut :
1). Modul yang dikembangkan ini merupakan hasilhasil riset dan pemantauan ketua peneliti bersama
tim yang selama 4 tahun terus berusaha
mengembangkan penelitian robotika berbasis
kontes, dengan harapan ke depan mampu
menghasilkan perangkat pembelajaran robotika
berbasis computer interactive learning dan
assisted
learning
untuk
meningkatkan
ketrampilan peserta didik.
2). Hasil respon dari mahasiswa pada waktu
sosialisasi
perangkat
pembelajaran
yang
dikembangkan menunjukkan bahwa image
kompetensi jurusan teknik mesin untuk saat ini
masih terbatas pada mesin-mesin konvensional
yaitu berkisar pada mesin bubut, mesin skrap,
dan mesin las saja, tidak menyinggung robot
industri. Padahal saat ini perkembangan mesinmesin di industri sudah banyak yang
menggunakan robot industri. Oleh karena itu
diperlukan perangkat pembelajaran yang dapat
menunjang pembelajaran kompetensi robotika di
jurusan teknik mesin. Dari hasil respon
mahasiswa juga menunjukkan respon yang positif
terhadap modul robotika berbasis computer
interactive learning and assisted learning yang
dikembangkan.

[1]. Adviso F, bernardo (1990). Development Of The National


Training Council As The Coordinating Body For Technical
And Vocational Trainng, Jakarta: Depdikbud
[2]. Blank,WE. (1982). Handbook For Developing Competency
Based Training Program. Englewood Cliffs; Prentice Hall.
[3]. Bonk CJ, Cummings JA, Hara N, Fischler RB, Lee SM.
(2000)A ten level web integration continuum for higher
education: new resources, partners, courses, and markets.
Abbey B, ed. Instructional and cognitive impacts of webbased education. University of Indiana
[4]. Brown S. (1999) Reinventing the university. Assoc Learning
Technol J; 6: 30-37. Fender B. The e-university project.
London: Higher Education Funding Council for England.
[5]. Carr MM, Reznick RK, Brown DH. (1999) Comparison of
computer-assisted instruction and seminar instruction to
acquire psychomotor and cognitive knowledge of epistaxis
management. Otolaryngol Head Neck Surg; 121: 430-434
[6]. Depdikbud, (1993) Konsep Sisem ganda pada sekolah
menengah Kejuruan di Indonesia,Jakarta, Depdikbud RI.
[7]. ------, (1998). Keputusan Menteri Pendidikan Menengah Dan
Kebudayaan RI No. 323/U/1997 tentang Pelaksanaan
Pendidikan Sistem Ganda Pada Sekolah Menengah Kejuruan.
Jakarta; Direktorat Dikmenjur.

164

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013
[8]. Dit. Dikmenjur, (1996). Kerangka Acuan Studi tentang
Pelaksanaan Program Dukungan Pelatihan Industri
( Industrial Training Support Program ). Jakarta: Proyek
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan.

teaching a basic surgical technical skill. Am J Surg 1998;


175: 508-10
[29]. Son Kuswadi, Eru Puspita, (2005) Modul Praktikum Interaktif
Teknik Digital. Modul praktikum Politeknik Elektronika
Negeri Surabaya ITS, Surabaya

[9]. Daniel JS.( 1996) The knowledge media. In: Megauniversities and knowledge media. Technology strategies for
higher education. London: Kogan Page,:101-135.

[30]. Son Kuswadi, Eru Puspita, (2006) Modul Praktikum


Computer Assisted untuk Pengendalian Kecepatan Motor DC,
Modul praktikum Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
ITS, Surabaya

[10]. Devitt P, Palmer E. (1999)Computer-aided learning: an


overvalued educational resource Med Ed; 33: 136-139
[11]. D'Alessandro DM, Kreiter CD, Erkonen WE, Winter RJ,
Knapp HR. Longitudinal follow-up comparison of
educational interventions: multimedia textbook, traditional
lecture, and printed textbook. Acad Radiol 1997; 4:723
[12]. Elves AW, Ahmed M, Abrams P. Computer-assisted learning;
experience at the Bristol Urological Institute in the teaching
of urology. Br J Urol 1997; 80 (suppl 3): 59-62
[13]. Erickson, H.L (1998) Concept Based Curriculum Instruction:
Teaching Beyond The Thousand Oaks: Corwin
[14]. Finch, Curtis R. & john R Crunkilton. 1983. Curriculum
Development in Vocational and Technical Education,
London: Allyn and Bacon, Inc.
[15]. Greinert, WD., 1992. The Dual System Of Vocational
Training In The Federal Republic of Germany; Structure and
function. Postfach 1, 6101 6326 Eschborn, Federal Republic
of Germany
[16]. Heywood, John, 1989 Learning Adaptability And Change:
The Challenge For Education And Industry, Great Britain:
Paul Chapman Publishing Ltd.
[17]. Harris, R., Guthrie, H., Hobart, B., dan Ludnberg, D. (1995).
Competency-Based Education And Training; Between A
Rock And Whirlpool. South Yarra; Macmillan Education
Australia.
[18]. Loftis, H. A. (1980) An Exemplary Model For Change,
Vocational Instruction. Columbus; Flarson Publisher
[19]. Mardapi, Djemari. (1999). Performance Based Evaluation
Bahan Lokakarya Tentang Performance Based Evaluation di
Program Pascasarjana UNY.
[20]. Norton, R.E (1985). DACUM handbook. Columbus: The
National Centre For Research In Vocational The Ohio State
University
[21]. Sulifan, R. (1995) The Competency Approach To Training.
JHPIEGO strategy Paper. www.reproline.jhu.edu
/english/6read/6training/cbt/cbt.htm
[22]. Slamet PH., 1993. Pendekatan Alternatif Dalm Penyiapan
Dan Pengembangan Tenaga Kerja Profesional Di Indonesia
Disampaikan Pada Seminar Nasional Sistem Permagangan
Dalam Pendidikan Dan Kejuruan Dan Penyiapan Tenaga
Kerja, Malang 18 Desember
[23]. Phillips R. 1996. Developers' guide to interactive multimedia.
A methodology for educational applications. Perth: Curtin
University Press,.
[24]. Haag M, Maylein L, Leven FJ, Tonshoff B, Haux R. 1999.
Web-based training: a new paradigm in computer-assisted
instruction. Int J Med informatics 1999; 53: 79-90.
[25]. Hilger AE, Hamrick HJ, Denny Jr FW. Computer instruction
in learning concepts of streptococcal pharyngitis. Arch
Pediatr Adolesc Med 1996; 150: 629-631
[26]. Kulik JA. Meta-analytic studies of findings on computerbased instruction. In: Baker EL, O'Neil HF, eds. Technology
assessment in education and training. Hillsdale, NJ: Erlbaum,
1994:52-66.
[27]. Kallinowski F, Mehrabi A, Gluckstein C, Benner A,
Lindinger M, Hashemi B, et al. Computer-based traininga
new method in surgical education and continuing education.
Chirurg 1997; 68: 433-438
[28]. Rogers DA, Regehr G, Yeh KA, Howdieshell TR. Computerassisted learning versus a lecture and feedback seminar for

165

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Blended


Learning pada Standar Kompetensi Mengolah Hidangan
Kontinental untuk Meningkatkan Hasil
Nelis Susanti1, Luthfiyah Nurlaela2 , Ekohariadi3
1
2

Guru SMK Negeri 1 Dlanggu, Mojokerto. E-mail: bean_sus@yahoo


Jurusan PKK-FT-Unesa, Surabaya. E-mail: luthfiyahN@yahoo.com
3
Jurusan TE-FT-Unesa, Surabaya. E-mail: idairahoke@yahoo.com

Abstrak Tujuan penelitian pengembangan


perangkat
pembelajaran
ini
untuk
adalah
mendiskripsikan kelayakan perangkat pembelajaran
(RPP, LKS, Weblog dan LP), keterlaksanaan RPP
selama proses pembelajaran berbasis blended learning
berlangsung,
aktivitas
siswa
selama
proses
pembelajaran, respon siswa terhadap pengembangan
perangkat pembelajaran, dan mengetahui ketuntasan
hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif
produk, proses, psikomotor dan afektif.

siswa selain di restoran dan hotel berbintang, selain


itu juga kendala bahasa asing dan istilah boga yang
sering digunakan pada pembelajaran hidangan
kontinental.
Teknologi internet telah dimanfaatkan untuk
pembelajaran namun terbatas pada penyelesaian tugas
mandiri siswa. Kurangnya keterampilan siswa dalam
mencari informasi yang relevan tentang materi
hidangan kontinental di dunia internet dan minimnya
bimbingan guru menjadikan tugas mandiri siswa tidak
mencapai hasil yang diharapkan sehingga berdampak
pada hasil belajar siswa tidak mencapai ketuntasan.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk
memaksimalkan hasil belajar melalui sistem
pembelajaran yang terstruktur dengan baik antara
model pembelajaran tatap muka (face to face) dengan
model pembelajaran yang menggunakan internet
(online). Upaya penggabungan model pembelajaran
kelas dengan model pembelajaran online ini dikenal
dengan istilah blended learning. Menurut Referensi
[1] menyatakan bahwa pembelajaran menggunakan
blended learning dengan tatap muka dan online
learning berupa web based instruction menunjukkan
rata-rata peningkatan hasil belajar. Tujuan blended
learning adalah untuk mendapatkan kualitas
pembelajaran yang baik dimana metode pembelajaran
tatap muka (face to face) memungkinkan untuk
melakukan pembelajaran secara interaktif, sedangkan
metode online learning dapat memberikan materi
secara online tanpa batasan ruang dan waktu, namun
masih memungkinkan mendapatkan bimbingan dan
arahan sehingga dicapai pembelajaran yang maksimal
Referensi [2]. Blended learning melengkapi
penggabungan pemanfaatan teknologi dan interaksi
kelas yang baik, menghasilkan dukungan sosial,
konstruktif serta pengalaman belajar bagi siswa.
Pertimbangan menggunakan blended learning
tergantung pada analisis dari kompetensi yang harus
dicapai, karakteristik siswa, dan lokasi pengguna
Ref. [2]. Pertimbangan pertama adalah karakteristik
kompetensi dasar yang diajarkan pada siswa kelas XI
tahun pelajaran 2012/2013 adalah kompetensi dasar
yang tergolong dalam pengetahuan deklaratif yaitu
pengetahuan tentang sesuatu dan pengetahuan
prosedural yaitu pengetahuan bagaimana melakukan
sesuatu. Kompetensi dasar tersebut terdiri atas a)

Penelitian untuk mengembangkan perangkat


pembelajaran berbasis blended learning pada standar
kompetensi mengolah hidangan kontinental dengan
berorientasi pada Four-D Models. Rancangan dalam
ujicoba perangkat pembelajaran menggunakan onegroup pretest -posttest design.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa validasi
perangkat pembelajaran meliputi RPP, LKS, Weblog
dan Lembar Penilaian berkategori sangat layak untuk
diterapkan pada siswa. Persentase keterlaksanaan RPP
pembelajaran berbasis blended learning saat ujicoba
terbatas menunjukkan peningkatan pada pertemuan
pertama sampai pertemuan ketiga secara berurutan
menunjukkan angka peningkatan yaitu 82,23%; 90%
dan 93,33%.
Kata Kunci : blended learning, perangkat pembelajaran,
mengolah hidangan kontinental, weblog,
ketuntasan hasil belajar.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan hasil survey di SMK Negeri I
Dlanggu Mojokerto, program keahlian Jasa Boga
pada standar kompetensi mengolah hidangan
kontinental menunjukkan bahwa proses pembelajaran
masih berpusat pada guru, guru banyak memberikan
ceramah dan penugasan mandiri melalui pemanfaatan
internet,
namun
siswa
mengerjakan
tanpa
mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru. Hasil
respon siswa terhadap pembelajaran mengolah
hidangan kontinental pada siswa yang telah
menyelesaikan standart kompetensi tahun sebelumnya
menunjukkan bahwa 85% siswa menyatakan bahwa
mengolah hidangan kontinental merupakan materi
yang sulit untuk dipahami karena karasteristik
hidangan kontinental jauh berbeda dengan makanan
Indonesia, hidangan kontinental jarang ditemui oleh
167

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

sosial siswa pada kultur yang beragam maka


diterapkan model pembelajaran kooperatif sebagai
upaya untuk meningkatkan peran aktif siswa dalam
model blended learning.
Pertimbangan terakhir adalah lokasi SMK Negeri
I Dlanggu yang memungkinkan untuk pembelajaran
online. Ketersediaan sarana prasarana yang
mendukung proses blended learning mutlak
diperlukan untuk kelancaran proses pembelajaran. Di
SMK Negeri I Dlanggu tersedia fasilitas laboratorium
komputer, dan laptop untuk pembelajaran yang
memadai. Area bebas internet (free wi-fi) juga
disediakan bagi siswa untuk mendukung proses
pembelajaran weblog.
Blended learning meliputi pembelajaran tatap
muka dan pembelajaran online learning. Siswa
dituntut untuk aktif mencari dan memanfaatkan
informasi sebagai sumber belajar, guru bukan lagi
sebagai satu-satunya sumber belajar, guru sebagai
fasilitator, guru dapat memberikan kesempatan
kepada siswa dalam menemukan dan memberikan
kesempatan untuk membangun pengetahuan tentang
strategi belajar yang efektif. Hal ini sesuai yang
dikemukakan oleh referensi [5] bahwa dalam
pembelajaran
guru
hendaknya
memberikan
kesempatan kepada anak didik untuk bersama-sama
terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan
mengambil keputusan, serta, membantu anak didik
berkembang
sesuai
taraf
perkembangan
intelektualnya. Blended learning pada pembelajaran
online yang dipilih adalah weblog berdasarkan
pertimbangan kemudahan proses aplikasi program
tersebut untuk siswa dan guru program keahlian Jasa
Boga.
Pembelajaran online dan pembelajaran tatap
muka pada blended learning menggunakan model
pembelajaran berdasarkan pertimbangan yang sangat
matang, sehingga diharapkan tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan tercapai. Hal ini didukung oleh
pendapat referensi [3] dan para pakar pendidikan
bahwa tidak ada satupun model pembelajaran yang
paling baik diantara yang lain, karena masing-masing
model pembelajaran dirasakan baik, apabila telah
diujicoba untuk mengajarkan materi tertentu.
Model pembelajaran yang dipilih pada penelitian
ini adalah model pembelajaran langsung (MPL) dan
model pembelajaran kooperatif (MPK). Model
pembelajaran
langsung
dirancang
untuk
meningkatkan penguasaan pengetahuan yang
distrukturisasikan dengan baik dan penguasaan
ketrampilan (pengetahuan prosedural) yang dapat
diajarkan selangkah demi selangkah mengingat
karakteristik materi seperti yang dipaparkan diatas.
Pemilihan pendekatan model pembelajaran langsung
mengingat kompetensi dasar yang diajarkan adalah
konsep pengetahuan dasar tentang hidangan
kontinental dan ketrampilan mengolah hot dan cold
appetizer, sehingga diharapkan siswa dapat
mempelajari tahap demi tahap.

prinsip hidangan kontinental, dan b) mengolah hot


dan cold appetizer. Mengingat kompetensi dasar yang
diajarkan adalah pengetahuan dan ketrampilan dasar
yang harus diajarkan selangkah demi selangkah pada
siswa maka model pembelajaran yang sesuai model
pembelajaran langsung (direct instruction). Hal ini
dipertegas oleh pendapat referensi [3] bahwa The
direct instruction model was specially design to
promote student learning of prosedural knowledge
dan declarative knowledge that is well structured and
can be taught in a step-bystep fashion. Pembelajaran
langsung ini dimaksudkan untuk menuntaskan dua
hasil belajar yaitu penguasaan pengetahuan yang
distrukturkan dengan baik dan penguasaan
ketrampilan yang dapat diajarkan tahap demi tahap.
Pertimbangan kedua adalah karakteristik siswa
kelas XI merupakan siswa yang heterogen dalam
kemampuan belajar dan menggunakan internet. Hal
ini ditunjukkan oleh hasil penugasan siswa yang
berhubungan dengan pemanfaatan internet dimana
siswa masih belum menguasai ketrampilan mencari
informasi yang relevan dengan materi pembelajaran.
Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran
yang dapat membimbing dan mengarahkan siswa
untuk memanfaatkan internet untuk pembelajaran
mengolah hidangan kontinental. Salah satu model
pembelajaran online yang digunakan dalam penelitian
ini adalah weblog. Weblog merupakan sebuah
website yang memuat tulisan catatan pribadi
seseorang di internet dan merupakan aplikasi berbasis
web (web based application) yang memungkinkan
setiap orang membuat dan mengembangkan sebuah
situs dinamis tanpa harus memahami bahasa
pemrograman dan menyediakan weblog secara gratis
tanpa memerlukan biaya. Penggunaan weblog dalam
sarana pendidikan adalah meningkatkan sharing
informasi, mudah dalam mempublikasikan informasi
dan memudahkan guru untuk memonitoring Ref.
[4]. Guru dapat mengunggah materi pembelajaran,
tugas dan evaluasi dalam media weblog, siswa dapat
mengunduhnya sebagai referensi pelajaran sekaligus
memberikan kemudahan pada siswa untuk
memperdalam pengetahuan siswa melalui link
berbagai situs yang mendukung materi.
Perbedaan
penguasaan
pengetahuan
dan
ketrampilan pada siswa menuntut dikembangkan
model pembelajaran yang dapat menyiasati berbagai
perbedaan tersebut. Salah satu model pembelajaran
yang menuntut peran aktif siswa dalam kelompok
yang heterogen adalah model pembelajaran
kooperatif. Sesuai dengan dukungan teori Vigotsky
pada model
pembelajaran kooperatif yang
menekankan
peserta
didik
mengonstruksi
pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang
lain dan penekanan belajar sebagai proses dialog
interaktif. Hal ini dipertegas pula oleh referensi [5]
bahwa model pembelajaran kooperatif menerapkan
ide bahwa siswa bekerja sama untuk belajar dan
bertanggung jawab terhadap pembelajaran teman
sekelompoknya. Mengingat pentingnya interaksi
168

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

pada standar
kontinental?

Hal ini juga didukung oleh teori pembelajaran


perilaku dan teori belajar sosial dimana pada teori
pembelajaran perilaku yang dikemukakan oleh
Skinner menyatakan bahwa manusia belajar untuk
bertindak dengan cara-cara tertentu sebagai respon
terhadap konsekwensi-konsekwensi positip dan
negatip. Pada teori belajar sosial menurut Albert
Bandura menyatakan bahwa sebagian besar dari apa
yang dipelajari manusia diperoleh melalui
pengamatan pada orang lain referensi [5].Oleh
karena itu pembelajaran langsung pada saat
pembelajaran tatap muka bertujuan agar siswa dapat
menguasai pengetahuan konseptual tentang hidangan
kontinental secara tahap demi tahap.
Pada model pembelajaran kooperatif diharapkan
siswa dapat bekerja sama mencapai prestasi akademik
dengan mempertimbangkan toleransi dan penerimaan
terhadap keanekaragaman dan pengembangan
ketrampilan sosial Referensi [3]. Pemilihan
pembelajaran kooperatif mempertimbangkan pada
kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi
dasar tentang mengolah hot dan cold appetizer
dimana siswa dilatih untuk berperan aktif dalam tim
dan dituntut untuk mengerjakan tugas yang sama
secara
bersama-sama
dan
siswa
harus
mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan
tugas itu Referensi [5]. Maka model pembelajaran
kooperatif pada blended learning digunakan untuk
memaksimalkan
peran
aktif
siswa
dalam
pembelajaran yang diorganisir dalam kelompokkelompok belajar.
Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, maka
diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran hidangan kontinental pada siswa kelas
XI SMK Negeri I Dlanggu Mojokerto. Upaya yang
dilakukan adalah mengembangkan perangkat
pembelajaran berbasis blended learning yang
merupakan penggabungan pembelajaran tatap muka
menggunakan model pembelajaran langsung dan
model pembelajaran kooperatif serta pembelajaran
online learning menggunakan weblog. Perangkat
pembelajaran yang dikembangkan berupa Rencana
Pelaksanaan Pengajaran (RPP), Lembar Kegiatan
Siswa (LKS), Lembar Penilaian (LP) dan Weblog.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi makanan
kontinental, sehingga akan memudahkan siswa
memahami kompetensi dasar selanjutnya dalam
standart kompetensi mengolah hidangan kontinental.
Dalam penelitian ini diharapkan akan dapat diketahui
proses pengembangan dan hasil perangkat
pembelajaran, aktivitas siswa selama pembelajaran,
respon siswa terhadap pembelajaran blended learning,
dan tingkat ketuntasan siswa selama pembelajaran
berbasis blended learning.

kompetensi

mengolah

hidangan

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis
proses dan hasil pengembangan perangkat
pembelajaran makanan kontinental berbasis blended
learning
meliputi
kelayakan
perangkat,
keterlaksanaan perangkat, aktivitas siswa, respon
siswa dan tingkat ketuntasan hasil belajar siswa pada
kompetensi dasar mengolah hidangan kontinental.
Manfaat penelitian ini untuk meningkatkan
kualitas proses pembelajaran Jasa Boga di SMK
melalui
pemanfaatan
pemanfaatan
teknologi
informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
sehingga siswa dapat lebih
terlibat dalam
pembelajaran, lebih termotivasi, lebih menarik, dan
lebih menyenangkan. Perangkat pengembangan
berbasis blended learning yang disusun dapat
mengatasi keterbatasan media pembelajaran makanan
kontinental, dalam upaya meningkatkan pemahaman
konseptual pada prinsip pengolahan hidangan
kontinental. Selain itu pengembangan perangkat
berbasis blended learning dapat menambah wawasan
siswa untuk semakin aktif mencari informasi yang
relevan dengan materi pembelajaran di internet.
Manfaat penelitian bagi guru adalah
memberikan suatu perangkat pembelajaran yang
berkualitas yang dapat digunakan dalam pembelajaran
mengolah hidangan kontinental kelas XI. Selain itu
manfaat yang diperoleh siswa adalah pengalaman
yang menyenangkan dalam proses pembelajaran
berbasis blended learning pada pembelajaran
hidangan kontinental dimana siswa memiliki weblog
yang dapat dijadikan media bagi siswa untuk
mengaktualisasikan diri.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Four-D
Models yang diadopsi dari Referensi [6]. yang
terdiri dari 4 tahapan, yaitu Define (Pendefinisian),
Design (Desain), Develop (Pengembangan), dan
Desseminate (Penyebaran) tetapi dalam penelitian
hanya sampai pada tahap yang ketiga mengingat hasil
pengembangan diterapkan terbatas pada sekolah
tempat penelitian yaitu SMK Negeri I Dlanggu.
Tahap tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar 1.
Subjek penelitian adalah siswa SMK
Program Keahlian Jasa Boga kelas XI semester ganjil
di SMK Negeri I Dlanggu Tahun Pelajaran 2013/2014
pada Standart Kompetensi Mengolah Hidangan
Kontinental sebanyak 10 siswa untuk ujicoba terbatas.
Ujicoba dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan tatap
muka.
Pengumpulan data menggunakan teknik yang
relevan dengan data yang diperlukan. Pada tahap
pendefinisian menggunakan teknik studi dokumen
kurikulum, angket dan observasi. Pada tahap
pengembangan terbagi menjadi 2 yaitu kelayakana
perangkat dan efektifitas perangkat pembelajran Pada
kelayakan perangkat menggunakan teknik penilaian

B. Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian ini secara umum
adalah: Bagaimana kelayakan pengembangan
perangkat pembelajaran berbasis blended learning
169

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

ahli (expert appraisal), sedangkan pada efektivitas


perangkat pembelajaran menggunakan teknik
observasi, tes hasil belajar dan kuesioner. Rancangan
penelitian pada ujicoba menggunakan one-group
pretest-postest design Referensi [7]. Teknik analisis
data yang digunakan diskriptif kualitatif. Analisis
diskriptif dilakukan ntuk mendiskripsikan hasil
kelayakan perangkat, keterlaksanaan RPP, aktivitas
siswa, respon siswa dan ketuntasan hasil belajar.

Hasil penelitian pada tahap pengembangan


meliputi hasil kelayakan perangkat pembelajran dan
hasil ujicoba terbatas. Pada hasil kelayakan perangkat
yang meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), lembar kegiatan siswa (LKS), Weblog dan
Lembar Penilaian (LP) divalidasi oleh pakar dan
praktisi yang kompeten di bidangnya terdiri atas 2
ahli pembelajaran IT, 2 orang ahli pembelajaran Jasa
Boga dan 1 orang praktisi DU/DI. Hasil validasi
perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa:
1) Validasi RPP menunjukkan skor rata rata hasil
validasi adalah 4,82 yang dapat diinterpretasikan
dalam kategori sangat layak dengan kualitas
sangat baik, sangat mudah dipahami, dan sangat
relevan dengan konteks pembelajaran sehingga
dapat digunakan untuk diujicobakan dalam
pembelajaran standar kompetensi mengolah
hidangan kontinental.
2) Validasi LKS manunjukkan hasil skor rata rata
yang diperoleh 4,65 yang dapat diinterpretasikan
dalam kategori sangat layak digunakan untuk
diujicobakan dalam pembelajaran standar
kompetensi mengolah hidangan kontinental.
3) Validasi Weblog yang dikembangkan peneliti
dengan alamat: http://belajarkontinental.com/jb
menunjukkan hasil validasi skor rata-rata 4,56
yang dapat diinterpretasikan dalam kategori
sangat layak digunakan untuk diujicobakan
dalam
pembelajaran
standar
kompetensi
mengolah hidangan kontinental.
4) Validasi Lembar Penilaian (LP) diperoleh skor
rata rata hasil validasi weblog adalah 4,88 yang
dapat diinterpretasikan dalam kategori sangat
layak digunakan.
Hasil ujicoba terbatas
meliputi: hasil
keterlaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), aktivitas siswa dalam pembelajaran, respon
siswa dan ketuntasan hasil belajar siswa. Pelaksanaan
ujicoba terbatas adalah pretest (tes awal yang meliputi
tes kognitif) dilanjutkan dengan kegiatan belajar
mengajar meliputi 3 pertemuan, kemudian postest (tes
akhir meliputi tes kognitif, afektif dan psikomotor).
Berdasarkan pada hasil validasi dari para ahli
maka berbagai saran dan masukan dilaksanakan oleh
peneliti pada draf II perangkat pembelaaran yang siap
untuk diujicobakan.
Hasil Persentase keterlaksanaan RPP saat
ujicoba terbatas menunjukkan peningkatan pada
pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga secara
berurutan menunjukkan angka peningkatan yaitu
82,23%; 90% dan 93,33%. Hal ini menunjukkan
adanya peningkatan kemampuan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran blended learning
sehingga dapat diartikan bahwa
perangkat
pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang dikembangkan dapat diaplikasikan dalam
proses belajar mengajar dengan baik.
Aktivitas siswa didominasi dengan mengerjakan
LKS/tugas tertinggi (37,8%). Pada ujicoba terbatas
aktivitas siswa mengalami peningkatan pada

Analisis Ujung Depan


Analisis siswa
Pendefinisian
Analisis Konsep

Analisis Tugas

Perumusan Tujuan Pembelajaran


Penyusunan Perangkat Pembelajaran:
RPP, LKS,LP dan weblog
Perancangan
Desain awal Perangkat
Pembelajaran

Draft I

Validasi Perangkat Pembelajaran


Draft II

Revisi I
Uji Coba Terbatas
Pengembangan
Revisi II

Draft III

Uji Coba Lapangan

Hasil Final
Batas Penelitian
Penyebaran

Uji Coba Skala Luas

Gambar 1. Bagan Alir Pengembangan Perangkat

E. Metode Blended Learning


Pada penelitian ini yang menggunakan
metode blended learning yang merupakan kolaborasi
antara pembelajaran tatap muka (face to face
learning) yang menerapkan model pembelajaran
langsung dan model pembelajaran kooperatif
dipadukan dengan pembelajaran weblog. Pemilihan
metode blended learning disesuaikan dengan
karakteristik materi, karakteristik siswa dan sarana
prasarana yang mendukung. Berdasarkan ketiga
parameter tersebut, desainer pembelajaran akan
menentukan pilihan yang tepat. Dalam suatu mata
pelajaran ditentukan bagian yang akan dibuat online,
dan bagian yang akan dilakukan secara tatap muka.
Metode blended learning pada penelitian ini
menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) sebanyak 3 kali pertemuan dengan 2
kompetensi dasar yang berbeda. Kompetensi dasar
pertama adalah Prinsip Dasar Kontinental dan
kompetensi dasar kedua adalah Mengolah Hot dan
Cold Appetizer
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian

170

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Penggunaan metode blended learning pada


penelitian ini menunjukkan respon siswa yang positif
lebih besar (96,3) dibanding respon negatif (3,7)
senada dengan pendapat Referensi [14]. bahwa
blended learning memiliki keuntungan antara lain:
siswa tidak hanya belajar lebih banyak pada saat sesi
online yang ditambahkan pada pembelajaran tatap
muka, tetapi dapat meningkatkan interaksi dan
kepuasan siswa dan siswa tidak hanya belajar satu
arah yang berurutan, dengan blended learning siswa
memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang
diinginkan. Sedangkan siswa yang merespon negatif
seiring dengan kekurangan blended learning yaitu
keterbatasan pengetahuan siswa dalam penggunaan
internet dan keterbatasan pengaksesan internet karena
bandwith yang terbatas.

pertemuan pertama ke pertemuan kedua, sedangkan


dari pertemuan kedua ke pertemuan ketiga tidak
mengalami peningkatan.
Respon siswa terhadap pembelajaran blended
learning sangat positif 96,3%, sedangkan yang
merespon negatif hanya 3,7%. Respon positif dari
siswa berkaitan dengan aspek materi dan aspek
penerapan perangkat pembelajaran. Respon negatif
siswa dikarenakan dikarenakan siswa merasa
kesulitan mencari informasi secara mandiri di internet
dan tidak setuju apabila semua mata pelajaran
menggunakan metode pembelajaran blended learning
ini.
Hasil belajar pada pretes menunjukkan tidak
tuntas, sedangkan pada hasil belajar postes
menunjukkan tuntas baik secara individu maupun
secara klasikal. Secara individu dikategorikan tntas
jika presentasenya 70% Referensi [8]. dan secara
klasikal dikategorikan tuntas jika presentasenya 80%
Referensi [9]. Nilai ketuntasan secara klasikal pada
hasil belajar kognitif produk 83,7%, kognitif proses
89,9%, psikomotor 89,4 dan afektif ketrampilan sosial
sebesar 79,6%.

III. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari
prosedur penelitian ini danmengacu pada tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan maka dapat
disimpulkan bahwa:
1) Kelayakan perangkat pembelajaran berupa
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Weblog dan
Lembar
Penilaian
yang
dikembangkan
berdasarkan penilaian oleh validator sebagi
berikut:
a. Hasil penilaian RPP meliputi aspek tujuan
pembelajaran kegiatan pembelajaran, dan
pendukung kegiatan pembelajaran adalah 4,82
yang dapat diinterpretasikan dalam kategori
sangat layak dengan kualitas sangat baik, sangat
mudah dipahami, dan sangat relevan dengan
konteks pembelajaran sehingga dapat digunakan
untuk diujicobakan dalam pembelajaran standar
kompetensi mengolah hidangan kontinental.
b. Hasil penilaian LKS yang mencakup aspek
format LKS, kejelasan isi, prosedur/petunjuk,
pertanyaan dan daftar pustaka memperoleh skor
rata rata 4,65 yang dapat diinterpretasikan dalam
kategori sangat layak digunakan dalam
pembelajaran standar kompetensi mengolah
hidangan kontinental.
c. Hasil penilaian weblog yang meliputi komponen
kelayakan penyajian weblog, dan kelayakan
isi/materi/konten memperoleh skor rata rata 4,56
yang dapat diinterpretasikan dalam kategori
sangat layak digunakan dalam pembelajaran
standar
kompetensi
mengolah
hidangan
kontinental.
d. Hasil penilaian LP yang terdiri dari aspek materi,
prosedur/petunjuk,
pertanyaan dan daftar
pustaka memperoleh skor rata-rata hasil validasi
weblog adalah 4,88 yang dapat diinterpretasikan
dalam kategori sangat layak digunakan.
2) Hasil keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran selama pembelajaran berbasis

B. Pembahasan
Pada metode pembelajaran blended learning
siswa SMK Jasa Boga ditantang untuk melaksanakan
pembelajaran kolaborasi antara pembelajaran tatap
muka dan pembelajaran online menggunakan weblog,
sehingga ketrampilan siswa dalam menggunakan
media informasi dan komunikasi serta internet dapat
ditingkatkan dan dapat mencapai tingkat ketuntasan
hasil belajar. Dengan cara ini keuntungan dari
kolaborasi pembelajaran tatap muka dan weblog dapat
dimaksimalkan. Hal ini memperkaya temuan
Referensi [10]. yang menyakan bahwa classroom
blogging dapat meningkatkan proses berpikir kritis,
kolaborasi dan dapat diterapkan pada pembelajaran
sains dengan berbagai model pembelajaran.
Dalam penelitian blended learning ini
perpaduan pembelajaran weblog dapat memacu
aktivitas siswa dalam mengerjakan tugas/LKS, hal ini
senada dengan pendapat Referensi [11]. yang
menyatakan bahwa penerapan blended learning
menunjukkan adanya perubahan perilaku belajar yang
lebih efektif. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian
Referensi [12]. di Mts. Kanjeng Sepuh Gresik
tentang pengembangan perangkat pembelajaran kimia
menggunakan e-learning bentuk modul dalam weblog
yang menunjukkan antusias siswa untuk belajar.
Hasil temuan dalam penelitian ini yang
menunjukkan bahwa pembelajaran mengolah
hidangan kontinental di SMK menggunakan metode
blended learning dapat mencapai ketuntasan siswa
baik secara individu maupun secara klasikal. Hal ini
didukung oleh pendapat Referensi [13]. yang
menyatakan bahwa penerapan blended learning pada
pendidikan
sekolah di India menunjukkan
penambahan online learning pada pembelajaran tatap
muka dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
171

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Jasa Boga dengan memadukan pembelajaran


tatap muka dnegan pembelajaran online lainnya.
2) Pihak sekolah yang telah memiliki sarana dan
prasarana yang memadai di bidang IT dapat
meningkatkan
kemampuan
guruuntuk
menerapkan pembelajaran berbasis blended
learning.
3) Para guru meningkatkan kemampuan dalam
memanfaatkan IT untuk mendukung proses
pembelajaran.

blended learning menunjukkan bahwa persentase


keterlaksanaan RPP saat ujicoba terbatas
menunjukkan peningkatan pada pertemuan
pertama
sampai pertemuan ketiga secara
berurutan menunjukkan angka peningkatan yaitu
82,23%; 90% dan 93,33%.
3) Aktivitas belajar yang tertinggi/dominan adalah
siswa mengerjakan LKS/tugas tertinggi (37,8%)
pada pertemuan kedua dan ketiga, sedangkan
terendah pada pertemuan pertama. Pada ujicoba
terbatas aktivitas siswa mengalami peningkatan
pada pertemuan pertama ke pertemuan kedua,
sedangkan dari pertemuan kedua ke pertemuan
ketiga tidak mengalami peningkatan. Hal ini
menunjukkan
bahwa
blended
learning
mendukung pembelajaran berpusaqt pada siswa.
4) Respon postif yang diberikan siswa terhadap
pembelajaran blended learning sebesar 96,3%,
sedangkan yang merespon negatif hanya 3,7%.
Respon positif dari siswa berkaitan dengan aspek
materi dan aspek
penilaian perangkat
pembelajaran, sedangkan respon negatif lebih
dikarenakan keterbatasan pengetahuan siswa
menggunakan internet dan kesulitan siswa jika
metode ini diterapkan pada semua mata pelajaran
karena keterbatasan pengaksesan internet.
5) Ketuntasan hasil belajar meliputi aspek kognitif,
psikomotor dan afektif. Pada nilai pretest kognitif
produk dan proses menunjukkan belum tuntas
baik ketuntasan individual maupun klasikal.
Namun pada nilai postes kognitif produk dan
proses dikategorikan tuntas baik secara klasikal
maupun secara individual. Sedangkan ketuntasan
belajar psikomotor dan afektif ketrampilan sosial
menunjukkan kategori tuntas secara individu
maupun secara klasikal.

REFERENCES
[1]. Sitzman, T, & Ely K. 2009. Web Based Instruction: Design
and Technical Issues which Influence Training Effectiveness.
Retrieved.
http://webboard.adlnet.org/Technologies/Evaluation/LibraryA
dditional%20Resources/Presentations/ASTD%202009%2020
09%20Presentation%20Slides.pdf.
[2]. Hadi, S.A.. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Pendidikan. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2012
[3]. Arends, Richard.I. Learning to Teach 9th Edition. New York.
Mc Grand Will Companies.Inc. 2012
[4]. Huffaker, D. The Educated Blogger: Using Weblogs to
Promote Literacy in the Classroom Washington Dc..
Association for the Advancement of Computing In Education
Journal, 13(2) 2005. [Online] Available:
http://editlib.org/d/5680 [Accessed Jan. 5, 2013].
[5]. Nur, M,. Model Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Pusat
Sains dan Matematika Sekolah Universitas Negeri Surabaya
2011
[6]. Thiagarajan, Semmel & Semmel.. Instructional Development
for Training Teacher of Exceptional Children. Minneapolis,
Minnesota. 1974.
[7]. Fraenkel Jack R., Wallen, Norman E. How to Design and
Evaluate Research in Education. New York: McFraw-Hill
Higher Education. 2009
[8]. Depdiknas. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk
Satan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. BSNP. 2006

B. Saran
1) Penelitian yang dilakukan dengan mengembangkan
perangkat pembelajaran berbasis blended learning
mampu menuntaskan hasil belajar siswa meliputi
kognitif, psikomotor dan afektif siswa SMK, maka
peneliti
memberikan
saran
agar
guru
meningkatkan kemampuan menguasai ketrampilan
menggunakan IT dalam proses belajar mengajar.
2) Penerapan pembelajaran blended learning yang
dikembangkan ini dalam memerlukan waktu
yang tak terbatas, terutama pada pembelajaran
online, maka diperlukan tekad dan keuletean
yang baik bagi guru guru yang menerapkannya.
3) Siswa diharapkan menambah wawasan tentang
pengolahan hidangan kontinental melalui blog
yang disediakan serta pemanfaatan internet yang
telah diajarkan karena akan sangat membantu
menuntaskan hasil belajar siswa.

[9]. Dokumen KTSP SMK Negeri I Dlanggu Mojokerto Tahun


Pelajaran 2012/2013.
[10]. Sawmiller, Alison.. Classroom Blogging: What is the Role in
Science Learning? The Clearing House, 83: pp.4448 2010.
Routledge Journal [Online] Available:
http://web2integration.pbworks.com/f/Blogging%2Bscience.p
df [Accessed Jan 5, 2013]
[11]. Quinn, Diana. Yousef Amer dan Anne Lonie.. Leading
change: Applying management approaches to engage students
in blended learning. Australian Journal of Educational
Technology. Edisi 28 Januari 2012.
Available:www.ascilite.org.au/ajt/ajet28/quinn.pdf [Accessed
March 23, 2013]
[12]. Istiqomah,. Pengembangan perangkat Pembelajaran ELearning Pada Mata Pelajaran Kimia di MTs Kanjeng Sepuh.
Tesis 2012. Magister Pendidikan. Universitas Negeri
Surabaya.
[13]. Shinde, S.P. Blended Learning Methodology in School
Education. International Journal of Compuing and Business
Research (IJCBR) vol.3 Issue: 2 May 2012. Online Available:
www.researchmanuscripts.com/may2012/4.pdf [Accessed
March 23, 2013]
[14]. [Harriman,Gray. 2010. M-Learning. Available:
www.grayharriman.com/blended_ learning .htm

C. Rekomendasi
1) Pembelajaran
blended
learning
dapat
dilaksanakan pada berbagai standar kompetensi
172

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Pengembangan Modul Ajar Pemrograman Komputer Dengan


Mengintegrasikan Algoritma Pemrograman Berbasis
Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Ketrampilan
Peserta Didik
1

Anita Qoiriah1, Bambang Sujatmiko2


Pendidikan Teknik Elektro, FT-UNESA Surabaya. E-mail: anitaqoi@yahoo.com

Abstrak Perkembangan software untuk


pemrograman dan kebutuhan industri mengalami
kemajuan begitu cepat sehingga dunia perkuliahan
harus mampu bersinergi secara maksimal. Oleh karena
itu kekurangan pada kuliah pemrograman komputer
(prokom) seperti pada saat proses belajar mengajarnya
tidak melakukan aktifitas merancang algoritma
pemrograman suatu contoh soal bahasa pemrograman
secara langsung sehingga dapat dikatakan siswa hanya
membuat program yang kurang terstruktur dan
membuat kuliah kurang menarik. Untuk mengatasi hal
tersebut maka pada penelitian ini penulis ingin
mengembangkan modul ajar pemrograman komputer
(prokom)
dengan
mengintegrasikan
algoritma
pemrograman. Penelitian tindakan kelas
berbasis
pembelajaran kontekstual dilaksanakan dalam dua
siklus. Dalam setiap siklus dilakukan suatu tindakan
diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar satu kali
pertemuan yang lamanya 40 menit. Setiap siklus
penelitian terdiri dari perencanaan tindakan observasi
dan refleksi. Validasi modul dari 3 validator mendapat
skor rata-rata 3. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
modul adalah valid. Perbandingan hasil pembelajaran
Pemrograman Komputer pada siklus I dan Siklus II
menunjukkan peningkatan nilai rata-rata, yaitu pada
siklus I hanya 60.00 termasuk kurang menjadi 80.5
termasuk kriteria sangat baik. Perbandingan nilai ratarata aktivitas mahasiswa menunjukkan peningkatan
nilai rata-rata, yaitu pada Siklus I hanya 52.8 termasuk
kriteria kurang menjadi 73.8 termasuk kriteria baik
pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa metode
CTL yang didukung oleh media pembelajaran yang
baik mampu meningkatkan hasil pembelajaran dan
dapat membuat peserta didik menjadi lebih aktif,
kreatif dan inovatif sehingga pembelajaran menjadi
lebih menyenangkan dan bermakna.

memelihara (maintenance) aplikasi program di


industri harus memenuhi kualifikasi yang memadai
agar program tersebut berjalan sesuai dengan yang
diharapkan dan optimal. Khususnya saat kegiatan
membuat program untuk kebutuhan industri
dibutuhkan
kualifikasi
programmer
yang
berkemampuan / berkompeten membuat algoritma
pemrograman yang baik untuk aplikasi yang
dibutuhkan industri kemudian menterjemahkan ke
dalam bahasa pemrograman komputer (prokom).
Selanjutnya dari bahasa pemrograman komputer
(prokom) tersebut dapat dikembangkan ke dalam
bentuk yang lebih mudah digunakan (user friendly)
oleh industri.
Kemampuan membuat algoritma
pemrograman dan menerjemahkan ke dalam bahasa
pemrograman komputer (prokom) tersebut merupakan
peran yang sangat menentukan, apabila terdapat
kesalahan pada mata kuliah pemrograman komputer
(prokom) melakukan perancangan algoritma atau
kesalahan dalam membuat program menerjemahkan
ke dalam bahasa pemrograman komputer (prokom)
akan menyebabkan aplikasi program tersebut tidak
dapat digunakan. Keadaan ini akan mengakibatkan
proses operasi perusahaan mengalami penundaan.
Untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan
tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dalam
membuat algoritma pemrograman dan pemrograman
komputer (prokom) secara terintegrasi.
Jurusan Teknik Elektro Program Studi S1
Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Negeri
Surabaya (UNESA) yang dalam perkembangan
sangat erat berhubungan dengan dunia Industri
Teknologi akan senantiasa dituntut harus membekali
lulusannya dengan kualifikasi keahlian yang
berstandar, sikap dan perilaku sesuai dengan
kebutuhan dunia kerja..
Pada kenyataannya di dunia perkuliahan belum
bersinergi secara maksimal dengan industri.
Kekurangan ini dapat terlihat pada saat kuliah
pemrograman komputer (prokom). Pada saat proses
belajar mengajarnya tidak melakukan aktifitas
merancang algoritma pemrograman suatu contoh soal
bahasa pemrograman secara langsung sehingga dapat
dikatakan siswa hanya membuat program yang
kurang terstruktur dan membuat kuliah kurang
menarik.

Kata Kunci : Modul, CTL, Software, Pemrograman


Komputer.

I. PENDAHULUAN
Perkembangan software untuk pemrograman
dan kebutuhan industri akan program guna
menunjang operasi di industri tersebut mengalami
kemajuan begitu cepat, tentunya hal ini akan
memberikan konsekuensi, bahwa tenaga kerja yang
membuat (programmer) dan

173

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

Diharapkan dari hasil penelitian ini akan bisa


menjembatani kebutuhan dunia kerja, khususnya dari
lulusan Jurusan Teknik Elektro Program Studi S1
Pendidikan Teknologi Informasi UNESA yang
nantinya akan terjun ke dunia industri maupun
membuka usaha pembuatan program aplikasi sendiri.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) menurut Elaine B.Johnson
(dalam Rusman, 201:187) mengatakan pembelajaran
Kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang
otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan
makna. Pembelajaran kontekstual merupakan usaha
untuk membuat sisiwa aktif dalam memompa
kemampuan diri, sebab siswa berusaha mempelaja