Anda di halaman 1dari 5

TAMANNI

a.

Pengertian Tamanni

Adapun yang dimaksud dengan tamanni adalah meminta sesuatu yang disenangi yang
tak bakal dicapai karena mustahil terjadinya atau jauh kemungkinan akan terjadi. (Al-Jarim,
Ali dan Musthafa Usman.2006:440).
Adapun disebut Tamanni adalah : menuntut terjadinya sesuatu yang diidamkan yang
tidak diharap keberhasilannya karena mustahil terjadi atau sulit tercapai. contoh mustahil terjadi,
dalam syair :

=

Ketahuilah. Sekiranya masa muda itu kembali suatu hari, maka akan kuceritakan sesuatu
yg diperbuat di masa tuanya (alias kepahitan2 dan penyesalan).
Tamanni adalah menuntut sesuatu yang diinginkan tetapi tuntunan itu sulit terjadi atau
bahkan mustahil terjadi. (M. Sholihuddin Shofwan. 2008:111)
Contoh :

Mudah-mudahan Allah akan mengadakan sesuatu perkara sesudah itu.


Wahai kiranya aku memiliki seribu dinar (uang emas).

Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (kedunia) niscaya kami menjadi orang-orang
yang beriman

b. Perabot Tamanni

. . . . . . . .

Para ulama Maani menggunakan perabot:, , , huruf tahdid (memerintah dengan


keras / teguran) untuk tamanni seperti halnya .
Contoh :
:

.1

.2

Maka seandainya kita dapat kembali sekali lagi keduni, niscaya kami akan beriman.

:
Maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami.

Ayat ini tidak dimaksudkan untuk bertanya tentang ada atau tidak adanya penolong bagi
kami (orang-orang kafir), akan tetapi disampaikan untuk menyatakan angan-angan orang-orang
kafir diakhirat nanti, sehingga artinya sama daengan Andai saja kami memiliki penolong
niscaya mereka akan membantu kami
# :

.3


Hai kawanan burung-burung dara, adakah yang akan meminjamkan sayapnya semoga
aku bisa terbang kepada yang orang kucintai.
:

Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Karun.

Wahai masa muda kiranya engkau kembali pada suatu hari, akan kukabarkan apa-apa
yang telah dilakukan oleh masa beruban.

Wahai kiranya aku memiliki seribu dinar (uang emas).

Maka alangkah baiknya jika satu malam bulan Ramadhan itu lamanya sebulan,
sedangkan siangnya berjalan secepat perjalanan awan".

.4

Maka alangkah indahnya seandainya jarak antara aku dan kekasihku itu sama dengan
jarak antara aku dan musibah-musibah yang menimpaku.

Semua contoh diatas merupakan kalam insya thalabi. Bila kita perhatikan, dari
semua contoh diatas ialah menu jukan sesuatu yang ingin diraih pada setiap kalimat adalah
sesutu yang menyenangkan, namun tidak dapat diharapkan keberhasilannya, adakalanya
memang mustahil tercapai, dan adakalanya mungkin tercapai namun tidak bisa diharapkan
tercapainya. Kalam insya yang demikian inilah disebut sebagai tamanni.

Nida
A. Macam-macam Huruf al-Nida
Huruf Nida adalah huruf yang di gunakan untuk memanggil.
Huruf Nida itu ada tujuh yaitu:[2]

Semua huruf diatas mempunyai arti yang sama yaitu: WAHAI. Tetapi hanya
penggunaannya yang berbeda. Yang akan di jelaskan selanjutnya.

B. Cara Penggunaan Huruf al-Nida


dan di gunakan untuk munada yang jauh atau sesuatu yang di panggil itu dekat dari tempat
kita berada.
dan dan untuk munada yang di panggil itu jauh dari tempat kita berada.
Dan di gunakan untuk munada yang jauh, dekat, atau diantara jauh dan dekat.

Dan di gunakan untuk nudbah yang di gunakan untuk sesuatu yang mandub mutafajja alaihi
contoh:.
Dan untuk Allah hanya di gunakan huruf dan tidak boleh menyeru Allah dengan huruf selain
huruf . Begitu juga dalam istighosah atau meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak boleh
menggunakan selain dari huruf .
C. Munada
Munada itu ada lima macam, yaitu: [3]

Munada yang berbentuk mufrad alam

Munada yang bersifat nakirah maqsudah

Munada yang bersifat nakiroh ghoiru maqsudah

Munada yang berbentuk mudhaf

Munada yang di serupakan dengan mudhaf.


1. Munada yang berbentuk mufrad alam adalah:
Adalah lafazh yang bukan berbentuk mudhaf dan tidak di serupakan dengan mudhaf.
Contoh:
= hai Zaid!
= hai Umar!
= hai Ahamad!
2. Munada yang bersifat nakirah maqsudah,( nakirah yang di tentukan ), contoh:
= hai laki-laki! (menyeru seseorang yang tidak diketahui namanya).
3. Munada yang bersifat nakirah ghuiru maqsudah (yang tidak di tentukan maksudnya),
contohnya seperti perkataan seorang tunanetra:

= hai laki-laki! Bimbing lah tanganku.


4. Munada yang berbentuk mudhaf, yaitu munada dengan lafzh yang di idhofat-kan, contoh:
= hai Abdullah!
5. Munada yang di serupakan dengan mudhof, contoh:
= hai orang yang mendaki gunung!

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Machasin, MA. 2007. Menguasai Balaghah.Yogyakarta: Nurma Media Idea.
Hifni Bek Dayyab, Muhamad Bek Dayyab, Syeikh Musthafa Tomum, Mahmud Bek Muhamad .
1991. Kaidah Tata Bahasa Arab. Jakarta: Darul Ulum Press.
Al-Jarim, Ali dan Musthafa Usman. 2006. Al-Balaghatul Wadlihah. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
M. Sholihuddin Shofwan. 2008. Jauharul Maknun. Jombang: Darul Hikmah.
Ghulabi, Musthafa, Syakh, 2005, Jaamiuddurusilarabiah, Maktabah Ashriah, Shaidan, Beirut.