Anda di halaman 1dari 27

Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Program Promosi Kesehatan di Tempat Kerja:


Pemakaian Alat Pelindung Telinga di Perusahaan
Perakitan Kendaraan Bermotor PT X

Disusun Oleh:
Apriastuti Puspitasari, 0706272585

Diajukan sebagai pengganti UAS


Mata Kuliah Promosi Kesehatan K3
Kelas Kamis, pukul 13.00-15.30 WIB

DEPARTEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2009 1
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan kerja.
Data dari WHO tahun 1995 menunjukkan hampir 14 % dari total tenaga kerja di
negara industri terpapar bising lebih dari 90 dB di tempat kerjanya. Bahkan, lebih dari
20 juta orang Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Beberapa peneliti yaitu
Waugh dan Forcier mendapatkan data bahwa perusahaan kecil di Sydney mempunyai
tingkat kebisingan 87 dB. Di Quebec Kanada, Frechet juga mendapatkan data bahwa
55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei
prevalensi NIHL bervariasi antara 40-50%. Sedangkan di Indonesia, tingkat paparan
kebisingan di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31,55% pada tingkat
paparan kebisingan 85-105 dB. Di perusahaan plywood di Tangerang, paparan
kebisingan mencapai 86,1-108,2 dB dengan prevalensi NIHL sebesar 31,81%.
Zuldidzaan dalam penelitiannya pada awak pesawat helikopter TNI AU dan TNI AD
juga mendapatkan data paparan bising pada pekerja yaitu sebesar 86-117 dB dengan
prevalensi NIHL 27,16 % (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004).
Gambaran di atas memperlihatkan bahwa pajanan melebihi 85 dB dapat
menimbulkan NIHL atau ketulian. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan
keluhan non-pendengaran seperti susah tidur, mudah emosi, dan gangguan
konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pencegahan dampak buruk
kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja, dari
jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Penerapan Hearing Conservation
Program (HCP) atau Program Konservasi Pendengaran di tempat kerja bermanfaat
untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising.
Program Konservasi Pendengaran di tempat kerja terdiri atas hal-hal berikut
(NIOSH, 1996):
1. Monitoring paparan bising
2. Kontrol engineering dan administrasi
2
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

3. Evaluasi Audiometer
4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE)
5. Pendidikan dan Motivasi
6. Evaluasi Program
7. Audit Program
Salah satu elemen dari Program Konservasi Pendengaran di tempat kerja
tersebut adalah Pendidikan dan Motivasi. Menurut Ambar W. Roestam (2004),
program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi
pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja, dan
mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Tujuan
pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka
memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. Lebih lanjut penyuluhan tentang
hasil audiogram mereka, sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi
melindungi pendengarannya sendiri. Melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja
mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga.
Industri perakitan mobil yang sangat berkembang akhir-akhir ini di Indonesia,
memiliki proses yang banyak dan bervariasi. Pekerja dalam industri ini selalu
berhadapan dengan bahaya-bahaya dari proses perorangan dan langkah-langkah
safety yang relevan dengan hazard yang ada, sesuai dengan proses alur dalam siklus
produksi industri perakitan mobil (ILO, 1998). PT X, yang bergerak dalam industri
komponen dan perakitan mobil, kini memiliki target produksi mobil 100 buah dalam
sehari. Industri perakitan mobil adalah salah satu bagian dari industri otomotif yang
bertugas menjalankan produksi pembuatan body mobil, pengelasan, pengecatan,
perakitan komponen dan assesoris mobil, pengecekan kembali dan
pendistribusiannya kepada masyarakat.
Pada PT X, penurunan pendengaran termasuk lima besar penyakit di
perusahaan tersebut yaitu sebesar 37,8 % pada tahun 2002, dan tahun 2008 meningkat
menjadi 49,6 %. Peningkatan yang sangat signifikan ini menandakan perlunya upaya
yang besar untuk mencegah terjadinya dampak akibat bising di tempat kerja. Dalam
Program Konservasi Pendengaran tersebut, diperlukan promosi kesehatan pemakaian
3
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

APT. Penelitian Puspita Sari (2007) menunjukkan 38,6% selalu pakai APT dan 61,4
% tidak pernah memakai APT.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini diantaranya adalah memberikan rekomendasi
program promosi kesehatan di tempat kerja, khususnya Program Pemakaian APT
untuk memelihara fungsi pendengaran pekerja agar jumlah pekerja yang mengalami
gangguan pendengaran di perusahaan tersebut dapat ditekan. Selain itu, makalah ini
dapat melatih mahasiswa dalam perencanaan program K3, yang salah satunya adalah
program promosi kesehatan di tempat kerja.

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Bagi PT X, makalah ini bermanfaat sebagai rekomendasi untuk menciptakan
lingkungan kerja yang berperilaku sehat, sehingga dapat meningkatkan
produktivitas kerja.
2. Bagi Fakultas tempat menimba ilmu yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat,
makalah ini bermanfaat sebagai informasi penelitian sehingga dapat menjadi
referensi tambahan bagi penulis selanjutnya yang ingin mendalami topik serupa.
Selain itu, makalah berguna sebagai wujud implementasi keilmuan keselamatan
dan kesehatan kerja (K3).

4
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

BAB II
ISI

2.1 Natur Pekerjaan


Industri otomotif, khususnya pembuatan mobil, umumnya melakukan
produksi pembuatan komponen mesin (casting dan engine) dan pembuatan serta
perakitan body mobil. Dalam hal ini, PT X hanya melakukan pembuatan dan
perakitan body mobil. Pekerjaan yang dilakukan diantaranya adalah pressing,
welding, painting, dan assembling.

Inner
assembly

Material Pressing Welding Painting Assembly QC Check Transpor

Underbody

Gambar 2.1 Flow process dari proses assembly pada industri otomotif

2.1.1 Pressing
Proses pressing adalah proses pembentukan komponen atau part dari material
steel sheet (lembaran baja) menjadi bentuk komponen dgn menggunakan mesin press.
Secara garis besar proses pressing meliputi beberapa proses yaitu:

a. Drawing
Proses pembentukan material steel sheet mengikuti dies (cetakan), dimana
meterial steel sheet (lembaran baja) dipasang pada dies yang selanjutnya dengan
bantuan mesin press diadakan penekanan sehingga terbentuk komponen yang
diinginkan.
b. Trimming
5
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Trimming Adalah proses pemotongan tepi material yang sudah mengalami


proses drawing.
c. Piercing (PC)
Piercing adalah proses membuat lubang pada material setelah material
mengalami proses drawing
d. Bending
Bending adalah proses pembengkokan material
e. Restriking
Restriking adalah proses merapikan bentuk menjadi lebih sempurna (proses
pembentukan).

Gambar 2.2 Proses Stamping

2.1.2 Welding
Proses welding adalah proses pembuatan white body (mobil kosong) dengan
cara menggabungkan komponen/part melalui proses pengelasan. Proses ini meliputi:
a. Front Floor, adalah proses pembentukan (penyatuan) komponen mobil bagian
depan,
b. Rear Floor, adalah proses pembentukan mobil bagian samping.
c. Side body, adalah proses pembentukan mobil bagian samping.
d. Main body, adalah proses penyambungan dari masing-masinginti di atas menjadi
satu kesatuan (whole body).

6
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Gambar 2.3 Proses Welding

2.1.3 Painting
Proses painting adalah proses pemberian warna pada unit mobil, dan tujuan
dari proses pewarnaan adalah untuk melindungi permukaan unit mobil dari elemen-
elemen yang dapat merusak mobil, untuk memberikan keindahan pada mobil dan
juga memberikan petunjuk khusus. Pengecatan dapat memberikan proteksi terhadap
karat, sinar ultraviolet, pasir, dan udara yang mengandung garam, juga dari
penampilan dapat memberikan dimensi efek, kehalusan, kilauan (luster) dan efek dari
sebuah warna.

Gambar 2.4 Proses Painting

7
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Dalam industry otomotif, pengecatan terbagi atas:


a. Cat Stoving, yaitu cat yang digunakan untuk pengecatan material dari logam, dan
untuk cat ini pengeringan harus pada suhu tertentu dan biasanya pengeringan
menggunakan oven.
b. Cat Poliurethane, yaitu cat yang digunakan untuk pengecatan material dari bahan
plastik, dan pengeringannya tidak memerlukan suhu tinggi.
Secara garis besar, proses painting pada industri otomotifmeliputi:
a. Pre Treatment System, yaitu proses perlakuan terhadap permukaan untuk
menghindari karat dan pembersihan permukaan untuk persiapan proses painting.
b. CED Coat (cat dasar), yaitu proses pemberian cat dasar dengan menggunakan
system elektrodeposition, fungsi dari CED ini yang utama adalah sebagai anti
karat.
c. Intermediate Coat, yaitu untuk pemberian warna kedua sebelum body dilapisi cat
utama, agar dalam proses pemberian warna utama didapatkan hasil yang bagus.
d. Top Coat. Cat ini biasa kita sebut cat utama dan secara visual warna yang
sebenarnya telah terlihat dengan sempurna.

2.1.4 Assembly
Setelah body dinyatakan baik dan selesai dari proses pengecatan menurut
kriteria tertentu, maka tahap pemasangan mesin dan assesoris segera dilakukan.
Assesoris yang dimaksud adalah kelengkapan kendaraan seperti, lampu, kaca, kabel-
kabel, panel-panel, instrument serta kelengkapan lain sesuai jenis kendaraan antara
lain:
1. Triming, pada tahap ini dilakukan pemasangan interior mobil seperti dashboard,
plavon, sabuk pengaman, dan kaca.
2. Chassis, pada tahap ini dilakukan pemasangan peralatan pada bagian atas dan
bawah mobil, seperti engine excel, engine drop, saluran bensin dan mesin.

8
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

3. Final, pada tahap ini dilakukan pemasangan steel pintu, steel lampu, pengisian
bahan bakar dan pengisian minyak rem. Selain itu juga pemasangan assesoris lain
seperti, bumper, roda, dll.

Gambar 2.5 Proses Assembly

Untuk memastikan bahwa mobil yang dihasilkan berkualitas tinggi, dalam


industri otomotif terdapat operasi khusus yakni inspection dan test track. Beberapa
tahap yang dilaksanakan, yaitu

1. Delivery, pada tahap ini dilakukan pengecekan terhadap mobil apakah terdapat
defect.
2. Leak test, pada tahap ini dilakukan uji kelayakan keseluruhan body mobil dengan
proses penyemprotan air untuk melihat apakah ada kebocoran pada mobil.
3. Test track, pada tahap ini dilakukan pengetesan terhadap kecepatan mobil dan
bagaimana kondisinya di jalan. Pengetesan ini dilakukan oleh seorang driver.

Gambar 2.6 Proses Inspection dan Test Track


9
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Test driver juga memudahkan dalam memeriksa berbagai macam stress


psikologi seperti keras tidaknya acceleration dan deceleration (perlambatan),
goncangan dan getaran, karbon monoksida dan keluaran asap, bising, melakukan cek
delivery inspection pada lingkungan dan iklim atau cuaca yang berbeda agar
menghasilkan produk yang berkualitas.

2.2 Step Manajemen Program Promosi Kesehatan Pemakaian Alat Pelindung


Telinga
2.2.1. Rekognisi
a. Heath Risk Assessment
Program dimulai dengan HRA sebagai data awal status kesehatan pekerja.
Dengan menggunakan kuesioner, didapatkan hasil gambaran keluhan pekerja akibat
pajanan bising di PT X. Hasil kuesioner tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Gambaran Keluhan Pusing selama Bekerja di Lingkungan Bising
pada Pekerja PT X
Keluhan Pusing
Unit Ya Tidak Total
N % n % n %
Pressing 21 53,85 18 46,15 39 100
Welding 33 80,48 8 19,52 41 100
Painting 24 68,57 11 31,43 35 100
Assembly 43 89,58 5 10,42 48 100
Total 121 74,23 42 25,77 163 100

Dari Tabel 1 didapat hasil bahwa terdapat 74,23 % (121 orang) yang
mengalami keluhan pusing selama bekerja. Sedangkan 25,77 % sisanya (42 orang)
tidak mengalami keluhan pusing selama melaksanakan pekerjaannya.

10
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Tabel 2. Gambaran Keluhan Lelah selama Bekerja di Lingkungan Bising pada


Pekerja PT X
Keluhan Lelah
Unit Ya Tidak Total
N % N % n %
Pressing 24 61,54 15 38,46 39 100
Welding 31 75,61 10 24,39 41 100
Painting 32 91,43 3 8,57 35 100
Assembly 30 62,5 18 37,5 48 100
Total 117 71,78 46 28,22 163 100

Dari Tabel 2 didapat hasil bahwa terdapat keluhan lelah pada pekerja di PT X
sebanyak 71,78 % atau 117 orang. Sedangkan yang tidak merasakan keluhan lelah
terdapat sebanyak 46 orang atau 28,22 %.

Tabel 3. Gambaran Penurunan Tingkat Pendengaran pada Pekerja PT X


Penurunan Tingkat Pendengaran
Unit Ya Tidak Total
N % N % n %
Pressing 30 76,92 9 23,08 39 100
Welding 21 51,22 20 48,78 41 100
Painting 16 45,71 19 54,29 35 100
Assembly 25 52,08 23 47,92 48 100
Total 92 56,44 71 43,56 163 100

Dari Tabel 3 didapat hasil bahwa 56,44 % (92 orang) mengalami penurunan
tingkat pendengaran. Sedangkan sisanya yaitu 43,56 % (71 orang) mengaku tidak
mengalami penurunan pendengaran.
11
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Tabel 4. Gambaran Kepatuhan Pemakaian APT pada Pekerja PT X


Kepatuhan Pemakaian APT
Bagian Selalu Tidak Pernah Total
N % n % n %
Pressing 22 56,41 17 43,59 39 100
Welding 21 51,22 20 48,78 41 100
Painting 25 71,43 10 28,57 35 100
Assembly 24 50 24 50 48 100
Total 92 56,44 71 43,56 163 100

Dari Tabel 4 didapatkan data bahwa sebanyak 92 orang atau 56,44 % pekerja
mengaku selalu menggunakan Alat Pelindung Telinga (APT), sedangkan 43,56 %
pekerja atau 71 orang menyatakan tidak pernah menggunakan APT saat bekerja.

b. Informasi dan Data Pendukung


1. Aktivitas PKDTK yang sudah ada
Diketahui bahwa pada PT X pernah melakukan training safety setahun terakhir,
namun training tersebut tidak berhubungan dengan bising di tempat kerja.
Training tersebut mengenai pengendalian stres di tempat kerja yang diikuti oleh
beberapa karyawan perwakilan tiap unit.
2. Persepsi Pekerja tentang PKDTK
Berdasarkan PKDTK yang telah ada sebelumnya, yaitu training pengendalian
stres yang tadi disebutkan di atas, seluruh karyawan ikut serta dalam training
tersebut dan minat karyawan terlihat cukup baik terhadap training-training yang
dilaksanakan.
3. Karakteristik Sosio-Demografi
Pekerja di PT X berusia antara 22 – 53 tahun dengan jenis kelamin sebagian
besar laki-laki.

12
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

4. Perilaku Kesehatan
Berdasarkan kuesioner yang disebarkan, sebanyak 68,1 % atau 111 orang
mempunyai hobi mendengarkan musik dengan suara keras. Bahkan, seperti
yang telah dikemukakan di atas bahwa terdapat 43,56 % pekerja menyatakan
tidak pernah menggunakan APT saat bekerja, karena alasan ketidaknyamanan
dan lain-lain.
5. Prevalensi Pekerja
Prevalensi pekerja yang mengalami penurunan pendengaran meningkat dari
tahun ke tahun. Tahun 2002 sebesar 37,8 %, tahun 2008 menjadi 49,6 %.
6. Biaya Medis
Perusahaan mengeluarkan biaya medis atau kompensasi kesehatan untuk
pekerja yang mengalami gangguan akibat pajanan bising, yaitu gangguan
auditory dan non auditiry (gangguan fisiologis, psikologis, komunikasi, dan
lain-lain) adalah sebesar 35 %.

2.2.2. Analisis
Setelah diketahui hasil HRA, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah
melakukan kegiatan saling menukar ide dan pengalaman antar pekerja, misalnya
dengan teknik multivoting, dimana seluruh pekerja dilibatkan dalam identifikasi
masalah, menentukan prioritas, dan membicarakan program yang akan ditetapkan.
Hasil pemeriksaan berkala di PT X menemukan prevalensi pekerja yang
mengalami penurunan pendengaran meningkat dari tahun ke tahun yaitu tahun 2002
sebesar 37,8 %, tahun 2008 menjadi 49,6 %. Hasil HRA sendiri menunjukkan 56,44
% pekerja mengalami penurunan pendengaran. Akar penyebab masalah ini adalah
ketidakpatuhan pemakaian APT. Ternyata ketidakpatuhan pemakaian APT
berkontribusi sangat besar terhadap biaya kesehatan yang dikeluarkan perusahaan.
Padahal ketidakpatuhan tersebut menyebabkan banyak dampak negatif, yaitu
gangguan auditory dan non-auditory. Selain berpengaruh pada produktivitas kerja,
gangguan tersebut dapat mencelakakan keselamatan diri sendiri dan lain-lain.

13
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Dilihat dari minat yang besar terhadap PKDTK sebelumya, persepsi pekerja
terhadap PKDTK mengenai Pemakaian APT dinilai cukup positif. Kemudian setelah
dilakukan negosiasi pada pekerja, ternyata hanya sekitar 60 % pekerja yang layak
diikutkan dalam PKDTK, karena hanya sub-grup ini yang dinilai dapat memberi
respon dan hasil yang diharapkan.

2.2.3. Perencanaan
Perencanaan PKDTK dikembangkan dengan mengikutsertakan wakil pekerja
dalam penyelenggaraan PKDTK sedini mungkin. Perencanaan dikembangkan
berdasarkan:
a. Target perubahan yang ingin dicapai
Target perubahan yang ingin dicapai adalah meningkatnya kesadaran atau
pengetahuan pekerja mengenai pentingnya penggunaan APT saat bekerja, sehingga
terjadi perubahan perilaku dan sikap dalam menghadapi risiko kebisingan yang
dinilai dengan peningkatan kepatuhan pemakaian APT menjadi 65 % dalam waktu 3
bulan, dan pada akhirnya dapat menurunkan risiko tersebut.

b. Proses menuju target perubahan


Menkombinasikan visi, misi dan komitmen perusahaan yang menjunjung
tinggi nilai perlindungan pekerja. Selain itu, dapat dilakukan metode keteladanan
yaitu pimpinan perusahaan harus menjadi contoh bagi karyawan-karyawannya.
Melaksanakan publikasi yang continue pada pekerja, seperti pembuatan poster dan
menggunakan media lainnya. Sistem insentif juga diberikan jika pekerja selalu
menggunakan perlengkapan kerja dengan baik saat bekerja.

c. Cara penilaian keberhasilan pencapaian target


Tipe desain evaluasi yang digunakan berdasarkan tujuan program yaitu terjadi
perubahan perilaku dan sikap dalam menghadapi risiko kebisingan yang diukur
dengan peningkatan kepatuhan pemakaian APT menjadi 65%. Dasar perbandingan
yang digunakan adalah perubahan dalam jangka waktu tertentu yaitu 3 bulan.
14
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

Sedangkan fasilitas pendukung yang tersedia adalah menggunakan statistik dan


epidemiologi agar dapat diketahui dengan mudah hubungan antara variabel-variabel
yang terdapat dalam masalah.

2.2.4. Komunikasi
Membuka hubungan komunikasi sebelum diluncurkannya program sangat
penting dilakukan. Program Pemakaian APT dikomunikasikan oleh komunikator
(pemberi pesan) yaitu profesional kesehatan kepada sasaran penerima yaitu
manajemen dan wakil pekerja. Advokasi dilakukan kepada manajemen dan sosialisasi
dilakukan kepada pekerja. Dengan cara yang empati, jujur, berkomitmen tinggi dan
berkompetensi, pesan disampaikan oleh komunikator. Pesan tersebut mengenai risiko
kesehatan yang ada, tujuan, manfaat, perencanaan dan implementasi pengendalian
dalam bentuk Program Pemakaian APT.

2.2.5. Persiapan
Setelah program Program Pemakaian APT disepakati oleh manajemen dan
wakil pekerja, segera dipersiapkan kebijakan organisasi dan komitmen tertulis
sebagai landasan program dan dipersiapkan sumber daya manusia, sarana dan
prasarana untuk pelaksanaan program, serta elemen lainnya agar program dapat
terlaksana sesuai dengan target yang telah disepakati.
Elemen yang perlu dipersiapkan adalah:
a. Pernyataan tertulis tentang tujuan dan target Program Pemakaian APT yang
disetujui oleh manajemen dan dapat diterima oleh pekerja, yaitu pernyataan
tertulis bahwa program dilaksanakan dalam rangka terjadinya perubahan perilaku
dan sikap dalam menghadapi risiko kebisingan yang diukur dengan peningkatan
kepatuhan pemakaian APT menjadi 65% selama 3 bulan.
b. Dukungan tertulis dari top manajemen dan wakil pekerja tentang Program
Pemakaian APT, yaitu dukungan berupa tersedianya sumber daya yang memadai
serta kesediaan pekerja terlibat dalam pelaksanaan program untuk mencapai
tujuan dan target program tersebut.
15
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

c. Menyusun organisasi atau tim pelaksana dalam penyelenggaraan Program


Pemakaian APT. Tim pelaksana dibuat dengan mengangkat koordinator program
dan anggota tim. Tim-tim terdiri atas tim pengawas, tim pelaksana masing-masing
acara, tim operasional yang memegang perlengkapan yang digunakan, dan lain-
lain.
d. Melaksanakan koordinasi efektif dengan aktivitas kesehatan lainya. Program ini
jangan sampai terjadi berbenturan dengan aktivitas kesehatan yang lain. Memilih
media yang tepat untuk menjalin komunikasi terus-menerus dengan divisi dan
departemen, dari tingkat manajer menengah sampai dengan pekerjanya, yaitu
misalnya dengan memberikan hasil pencapaian program pada setiap bulan
sehingga manajemen mendapat progress pencapaian program dan komunikasi
tetap berjalan lancar.
e. Menyiapkan mekanisme umpan balik yang berkesinambungan. Umpan balik
dapat didapat dengan cara penyebaran kuesioner, dan lain-lain.
f. Menyiapkan sarana dan prasana promosi, seperti poster, brosur, artikel dalam
bulletin. Hal ini dilakukan untuk menarik calon peserta.
g. Menyiapkan prosedur baku untuk menjaga kerahasiaan, sebagai kode etik
pelaksanaan program. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kerahasiaan
kuesioner dan hasil pemeriksaan kesehatan pada pendengaran pekerja.
h. Menyiapkan sistem dokumentasi, seperti presensi dan foto-foto serta arsip
lainnya. Hal ini digunakan untuk mengukur tingkat keikutsertaan pekerja dan
outcome sebagai parameter keberhasilan program yang digunakan sebagai basis
pemantauan dan evaluasi.
i. Menyiapkan format rekipitulasi dan analisis data yang relevan, misal hasil grafik
keberhasilan program Pemakaian APT, dan lain-lain. Hal ini digunakan sebagai
laporan berkala kepada manajemen sebagai dasar pertimbangan penyediaan
anggaran yang berkelanjutan dan dasar perubahan atau perbaikan program.
j. Menyiapkan fasilitas pendidikan dan pelatihan, berupa materi bahan ajar
penyuluhan, brosur, film, video, ruang belajar beserta medianya seperti papan
tulis, LCD, dan fasilitator atau tutor.
16
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

2.2.6. Implementasi
Program Pemakaian APT dilaksanakan salam bentuk sesi kelompok dan
poster.
1. Sesi Kelompok,
Sesi kelompok yang dilakukan pada program ini adalah penyuluhan. Hal ini
bertujuan untuk memberikan pengetahuan, meningkatkan kesadaran, memberikan
kesempatan tanya jawab, dan mendapatkan dukungan serta interaksi antar teman
sekerja. Metode tanya jawab sangat baik dilakukan karena memegang peranan
penting dalam proses belajar-mengajar. Teknik ini dapat meningkatkan partisipasi
pekerja dalam kegiatan penyuluhan karena menuntut kita untuk berpikir dan
memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dibahas. Fasilitator dihadirkan dari
luar perusahaan dan harus komunikatif serta berpengalaman dalam melakukan
penyuluhan pemakaian APT. Topik yang dibahas mengenai dampak kebisingan,
jenis-jenis APT dan kapan digunakannya, pentingnya pemakaian APT, tata cara
pemeliharaan APT yang baik, prosedur pengembalian APT yang telah rusak kepada
perusahaan dan lain-lain.
Tata cara perawatan APD adalah sebagai berikut:
1. Setelah selesai menggunakan, diletakkan pada tempatnya
2. Dibersihkan secara berkala
3. Periksa APD sebelum atau sesudah dipakai, untuk mengetahui adanya kerusakan
atau tidak layak pakai.
4. Pastikan APD yang digunakan aman untuk keselamatan, jika tidak sesuai maka
perlu diganti dengan yang baru.
Penyuluhan dapat dilakukan dua minggu sekali dengan topik yang berbeda,
namun pada masalah yang sama. Waktu penyuluhan dilakukan di waktu istirahat,
pada saat pekerja tidak sedang melaksanakan pekerjaannya. Lokasi penyuluhan yaitu
di ruang rapat yang memiliki fasilitas yang lengkap dalam sistem akustik dan audio
visual, serta mudah dijangkau oleh seluruh peserta, yaitu terletak pada tempat yang

17
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

strategis, misalnya terletak pada perjalanan menuju toilet, kantin, lapangan parkir,
dan lain-lain.

2. Media Grafis
Media grafis dapat berupa poster, banner, selebaran, dan bulletin. Media ini
berfungsi menyalurkan pesan yang berupa simbol-simbol komunikasi visual yang
perlu dipahami, untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan
atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan nilai tidak digrafiskan.
Media-media grafis ini tersedia di keseluruhan area perusahaan tanpa terkecuali.
Syarat-syarat poster yang baik adalah
1. Eye catching. Poster harus menarik dan membuat orang ingin memperhatikannya
dengan lebih detail.
2. Disesuaikan dengan area/ tema atau hazard diarea tertentu, dalam hal ini
kebisingan
3. Entertainment&Artistik (menghibur, tidak membosankan, dan diyakini dapat
mempengaruhi emosional).
4. Sesuaikan dengan trend, agar tidak ketinggalan zaman sehingga safety semakin
hidup dan bergairah.
5. Dikemas/ditampilkan secara baik dan tidak asal-asalan, misalnya dengan
menggunakan pigura atau papan pengumuman khusus. Jika ada LAN atau milis,
poster bisa juga berupa slide or screen saver.
6. Poster tidak hanya gambar, tetapi bisa juga ditambahkan bahaya yang akan
timbul, standard yang harus dipenuhi dan alasan yang dijelaskan secara
teknis/klinis, edukatif. Tambahkan pula kata-kata yang menyentuh emosional,
contoh poster model atau seperti cover film.
7. Memperhatikan background penerima pesan.

18
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

3. Reward

Program ini adalah penilaian dan pemberian penghargaan kepada pekerja


yang mempunyai performance terbaik yaitu terutama selalu menggunakan APT
selama bekerja. Performance dinilai oleh pengawas program Pemakaian APT dan
Manajer masing-masing divisi. Reward dinilai sebulan sekali dan reward tersebut
dapat berupa ucapan terima kasih, sertifikat dan voucher. Sedangkan punishment
mulai dari teguran lisan sampai teguran tertulis.

Metode implementasi yang digunakan adalah metode pilot projek. Metode ini
bertujuan untuk menilai kelayakan program skala besar melalui uji coba program
skala kecil selama 3 bulan. Jika program ini berhasil, maka program ini akan
dilakukan dalam skala besar di plant yang lain.

2.2.7. Evaluasi
Metode evaluasi yang dilakukan pada program ini dilakukan sederhana, yaitu
melihat participant rate pada saat penyuluhan berlangsung. Jika hasilnya kurang
memuaskan, maka diperlukan topik yang lebih menarik lagi dan poster dicetak
dengan tema yang lebih menarik lagi. Level evaluasi berdasarkan level tradisional
yang digunakan pada program ini adalah evaluasi pencapaian (output). Fokusnya
menilai efek kegiatan program, yaitu objek interest-nya berupa meningkatnya
pengetahuan, perubahan perilaku menjadi patuh dalam pemakaian APT dengan nilai
standar minimal menjadi terjadi kepatuhan pemakaian APT sebesar 65% dalam
waktu 3 bulan. Nilai standar didapatkan dari nilai standar historical dari pencapaian
tahun lalu yang meningkat sekitar 6 %.
Berikut ini adalah hal-hal yang dievaluasi dalam program Pemakaian APT
yang telah berjalan selama 3 bulan ini:
1. Dana efektif dan efisien, karena untuk melaksanakan program Pemakaian APT
hanya dibutuhkan dana untuk membayar fasilitator setiap dua minggu sekali serta
membuat media grafis dengan jumlah 700 eksemplar setiap bulan.

19
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

2. Tujuan program Pemakaian APT tercapai, karena terdapat peningkatan kepatuhan


pemakaian APT menjadi sebesar 70 % selama 3 bulan. Persentase ini telah
mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. Pencatatan dengan uji statistik dan epidemiologi perlu dilakukan untuk melihat
lebih dalam mengenai variabel-variabel perilaku hidup aman dan sehat. Karena
target telah tecapai, maka perlu membuat laporan pertanggungjawaban agar dapat
menjadi pedoman dan pengalaman bagi program selanjutnya.

2.2.8. Kontinuitas
Program Pemakaian APT, yang telah berjalan selama 3 bulan ini, terbukti
sudah dapat diterima oleh manajemen dan pekerja PT. X. Oleh karena itu, harus
segera dilakukan pembuatan program baru dengan bertumpu pada program
Pemakaian APT yang pernah dijalankan sebelumnya. Tujuan program selanjutnya
adalah untuk meningkatkan target yaitu peningkatan kepatuhan penggunaan APT
lebih besar lagi agar menurunkan risiko NIHL dan lain-lain. Program yang
berkesinambungan dikembangkan berdasarkan apresiasi termasuk penghargaan bagi
pekerja yang berhasil mencapai target. Bagi yang belum mencapai target,
dikembalikan lagi untuk dikenali masalahnya, kemudian dianalisis, dan seterusnya
mengikuti siklus semula. Dengan demikian program PKDTK dapat berjalan terus,
berkembang dan mencapai sasarannya.

20
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
PT X yang bergerak di bidang Perakitan Kendaraan Bermotor, memiliki
banyak potensi bahaya yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja.
Salah satunya adalah bahaya kebisingan. Bahaya ini dapat direduksi dengan
menggunakan HCP (Hearing Conservation Program), yang salah satunya adalah
penerapan edukasi dan motivasi. Program Promosi Kesehatan Pemakaian APT
berawal dari ketidakpatuhan pekerja dalam pemakaian APT di tempat kerja. Dengan
implementasi berupa penyuluhan APT (sesi kelompok), media grafis, dan reward
diharapkan terjadi perilaku patuh dalam penggunaan APT saat bekerja.

3.2 Saran
Suatu program tidak akan dapat dijalankan jika tidak mendapat dukungan dari
manajemen dan pekerja. Oleh karena itu, advokasi dan sosialisasi kepada pihak-pihak
terkait sangat dibutuhkan untuk melancarkan program PKDTK. Pekerja harus
diikutsertakan dalam pengambilan masalah dan penentuan program, agar pekerja
sejak dini merasakan bahwa program PKDTK yang dibuat memang semata-mata
untuk kesejahteraan pekerja. Selain itu, untuk mencanangkan suatu program, konsep
dan persiapan yang matang harus dimiliki agar program sukses dan dapat menjadi
pedoman bagi program selanjutnya.

21
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2007. Promosi Kesehatan di Tempat Kerja. Jakarta


Mubarak, Wahit Iqbal, et al. 2007. Promosi Kesehatan: Sebuah Pengantar Proses
Belajar Mengajar dalam Pendidikan. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Puspita Sari, Indriani. 2007. Gambaran Keluhan Yang Dirasakan oleh Pekerja yang
Terpapar Bising di Bagian Large Pressing PT Indomobil Suzuki Internasional
Plant Tambun II, [Skripsi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia, Depok.
Roestam, Ambar W., ‘Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja’. Cermin
Dunia Kedokteran No. 144, 2004.

22
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

KUESIONER HRA PT X

Nama :
Umur :
Unit :
Masa Kerja di PT X :
Masa kerja di bagian Pressing :

I. Data riwayat pekerja


1. Apakah saudara sebelum bekerja dibagian pressing pernah mengalami gangguan
pendengaran?
a. Ya
b. tidak

2. Apakah saudara sebelum bekerja sebagai petugas pressing pernah bekerja di


tempat yang bising?
a. Ya
b. Tidak

3. Apakah saudara mempunyai hobi mendengarkan musik dengan suara keras?


a. Ya
b. Tidak (langsung ke pertanyaan nomor 5)

4. Apakah saudara sering mendengarkannya?


a. Ya
b. Tidak

5. Apakah saudara mendapatkan pemeriksaan kesehatan khususnya telinga sebelum


bekerja di PT X?
a. Ya
23
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

b. Tidak (langsung ke pertanyan nomor 7)

6. Apakah hasil pemeriksaan kesehatantersebut menunjukkan adanya gangguan pada


telinga saudara?
a. Ya
b. Tidak

7. Apakah saudara menderita salah satu penyakit di bawah ini?


a. infeksi telinga
b. dibetes
c. meningitis (radang selaput otak)
d. hipertensi

II. Data Keluhan


1. Selama anda bekerja di bagian pressing, keluhan apa yang pernah anda rasakan?
(Lingkari semua pernyataan yang pernah anda rasakan)
Selama Bekerja
a. Pusing
b. Lelah / mengantuk
c. Jantung berdebar-debar
d. Otot menjadi tegang
e. Sulit berkonsentrasi

Setelah Bekerja
a. kurang tidur
b. emosional
c. tekanan darah meningkat

2. Apakah keluhan tersebut sering terjadi?


a. Ya
24
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

b. Tidak
3. Apakah saudara terganggu dengan keluhan tersebut?
a. Ya
b. ttidak

III. Data Gangguan Pendengaran


1. Apakah saudara merasa pendengaran anda berkurang selama bekerja di bagian
pressing?
a. Ya
b. Tidak

2. Apakah saudara pernah merasakan tidak dapat mendengar untuk sementara dan
setelah beberapa saat kemudian pendengaran anda normal kembali?
a. Ya
b. Tidak (langsung ke pertanyaan nomor 4)

3. Jika Ya, apakah hal itu sering terjadi?


a. Ya
b. Tidak

4. Apakah saudara sering merasakan adanya dengungan pada telinga saudara?


a. Ya
b. Tidak

5. Bila Ya, apakah hal itu sering terjadi?


a. Ya
b. Tidak

6. Kapan dengungan itu terjadi?


a. Sering
25
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

b. Tidak sering

7. Apakah saudara dapat mendengar dengan baik apabila teman atau anggota
keluarga berbicara dengan saudara di luar jam kerja (pada lingkungan tidak
bising)?
a. Ya
b. Tidak

8. Apakah saudara dapat menangkap dgn jelas apa yang diucapkannya tanpa harus
memperhatikan gerak bibir lawan bicara?
a. Ya
b. Tidak

9. Apakah saudara dapat mendengar dengan baik apabila rekan kerja berbicara
dengan saudara pada saat bekerja?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah saudara dapat menangkap dgn jelas apa yang diucapkannya tanpa harus
memperhatikan gerak bibir lawan bicara di lingkungan kerja (pada saat bekerja)?
a. Ya
b. Tidak

IV. Data Penggunaan Alat Pelindung Telinga


1. Apakah di tempat perusahaan saudara bekerja disediakan APT?
a. Ya
b. Tidak

2. Jenis APT apa saja yang saudara ketahui yang disediakan oleh perusahaan (pilih
semua pernyataan yang menurut saudar benar)
a. Ear plug
26
Created by: Apriastuti Puspitasari (K3 FKM UI)

b. Ear muff
c. Ear plug dan Ear muff
3. Jenis APT apa yang anda gunakan pada saat bekerja?
a. Ear Plug
b. Ear muff
c. Kapas
d. Tissue
e. Tidak menggunakan

4. Keluhan apa yg saudara rasakan pada saat menggunakan APT (pilih pernyataan
yang menurut saudar benar)?
a. Tidak nyaman
b. Tidak praktis
c. Gatal-gatal
d. Panas
e. mengurangi gerak

27