Anda di halaman 1dari 210

LAPORAN KERJA PRAKTIK

TL 4098

EVALUASI PENGELOLAAN
LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)
PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP

disusun oleh:
Ayu Listiani
15311019

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTIK

EVALUASI PENGELOLAAN
LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)
PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP

disusun oleh:
AYU LISTIANI (15311019)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Kerja Praktik (TL4098) pada Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh:

Environmental Section Head

Pembimbing Lapangan

Herman Sumantri

Rakhmat Ibnas

Nopek: 605826

Nopek: 747573
Mengetahui,
HSE Manager

Leodan Haadin
Nopek: 734843

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTIK

EVALUASI PENGELOLAAN
LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)
PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP

disusun oleh:
AYU LISTIANI (15311019)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Kerja Praktik
(TL-4098) pada Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh:

Koordinator Kerja Praktik

Dosen Pembimbing Kerja Praktik

Dr. Moch. Chaerul, ST., MT.

Dr. Sukandar, S.Si., MT.

NIP. 197409262008011006

NIP. 197311012006041001

ABSTRAK

Dalam proses produksi produk BBM dan non-BBM, PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap menghasilkan berbagai macam limbah B3 sebagai produk sampingan.
Limbah B3 membutuhkan perlakuan khusus dan ketat dibandingkan dengan
limbah non-B3 karena sifatnya yang berbahaya dan beracun bagi manusia dan
lingkungan sehingga dibutuhkan pengelolaan yang tepat sebelum limbah-limbah
B3 ini dikembalikan ke lingkungan. Limbah B3 yang dihasilkan oleh PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap mayoritas terdiri dari oil sludge, spent
catalyst, spent clay, mineral wool, tanah terkontaminasi dan berbagai kemasan
bekas produk B3. Pengelolaan limbah B3 yang saat ini dilakukan oleh PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap meliputi reduksi, pengemasan dan
pewadahan, pelabelan, penyimpanan, pengangkutan serta pemanfaatan. Kegiatan
pengolahan dan pemanfaatan belum mendapat izin dari KLH sehingga tidak dapat
dijalankan, akan tetapi nyatanya PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3. Semua limbah B3 dari PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap diserahkan pengolahannya ke pihak ketiga, termasuk
kepada PT Holcim Indonesia Tbk. PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
memiliki nota kesepakatan (MoU) dengan PT Holcim Indonesia Tbk di mana PT
Holcim Indonesia Tbk akan memanfaatkan limbah B3 dari PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap dengan metode co-processing. Dalam metode yang
ramah lingkungan ini limbah B3 dibakar dengan tujuan untuk memanfaatkan
limbah sebagai bahan bakar dan juga bahan baku alternatif sehingga tidak
menimbulkan residu.

Kata kunci: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap, limbah B3, pengelolaan


limbah B3, TPS limbah B3, metode co-processsing.

ABSTRACT

In a process production of fuel and non-fuel, PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap produces a wide range of hazardous waste (B3) as a byproduct. This
hazardous waste has a specific and rigorous treatment compared with nonhazardous waste because its dangerous and toxic to humans and environment so
we need proper management of this hazardous waste before its returned to the
environment. Hazardous waste produced by PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap comprise the majority of oil sludge, spent catalyst, spent clay, mineral
wool, contaminated soil and other packaging products ex hazardous materials.
Hazardous waste management that currently carried out by PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap are reduction, packaging, labelling, storaging,
transporting and also utilization. Hazardous waste processing and utilization
hasnt received permission from KLH so it cant be done. In fact, PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap still doing hazardous waste utilization. All hazardous
waste from PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap is given to a third party to be
processing, including to PT Holcim Indonesia Tbk. PT Pertamina (Persero) RU-IV

Cilacap has a memorandum (MoU) with PT Holcim Indonesia Tbk where PT


Holcim Indonesia Tbk will utilize that hazardous waste with co-processing
method. With this environmental friendly method, hazardous waste is burned with
the aim of utilizing waste as a fuel and also alternative raw materials to avoid
residues.

Keywords: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap, hazardous waste, hazardous


waste management, Satellite Accumulation Point of hazardous waste, coprocesssing method.

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat, karunia
dan lindungan-Nya saya dapat melaksanakan kerja praktik serta menyelesaikan
laporannya dengan lancar. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu selama masa kerja praktik dan penulisan
laporan, yaitu kepada:
1.

Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan berupa doa,
semangat dan materi;

2.

Bapak Dr. Sukandar, S.Si., MT selaku dosen pembimbing yang telah


memberi banyak ilmu, nasihat serta bimbingan selama kerja praktik dan
penyusunan laporan;

3.

Bapak Dr. Mochammad Chaerul, S.T., MT selaku Koordinator Kerja Praktik


yang telah memberikan bimbingan dan informasi terkait pelaksanaan kerja
praktik;

4.

Bapak Dr. Herto Dwi Ariesyadi, S.T., MT., Ph.D. selaku Ketua Prodi Teknik
Lingkungan Institut Teknologi Bandung yang telah mendukung kelancaran
kegiatan kerja praktik;

5.

Ibu Titi, Pak Yono beserta para staf Tata Usaha Teknik Lingkungan Institut
Teknologi Bandung yang telah membantu urusan administrasi terkait kerja
praktik;

6.

Bapak Leodan Haadin selaku Manager Health Safety and Environment PT


Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap yang selalu ramah menyapa, berbagi ilmu
dan sangat memperhatikan kami selama kerja praktik di tengah kesibukannya;

7.

Bapak Herman Sumantri selaku Environment Head Section PT Pertamina


(Persero) RU-IV Cilacap yang selalu memberikan ilmu dan wawasan baru
serta sering mengajak makan siang bersama Environment Section. Semoga
sehat selalu ya Pak;

8.

Bapak Dasiyo, Bapak Rakhmat Ibnas dan Ibu Nina Febriana Rahmadani
selaku pembimbing lapangan atas segala data, tawa, cerita, ilmu dan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

pengalaman berharga serta ruangan dan meja kerja yang sangat membantu
dalam penulisan laporan;
9.

Bapak Warsanto selaku Kepala Gudang Penyimpanan Limbah B3 yang selalu


sabar memberikan penjelasan, mengajak berjalan-jalan di area kilang dan
telah membelikan nasi padang di kunjungan pertama ke gudang;

10. Pak Wahyu dan Environment Section lainnya serta Safety Section, Fire &
Insurance Section dan Occupational Health Section yang memberikan ilmu
serta semangat selama saya melaksanakan kerja praktik di sana;
11. Bapak Hery Harnoto dan Mas Andi dari bagian Diklat, Bapak Eko serta staf
dari bagian Litsus dan Bapak Anggoro serta staf dari bagian HR yang sangat
membantu dalam pembuatan kartu HSE serta badge kerja praktik;
12. Teman sekamar kost Budi Khairunnisa Solekha, yang setia berjuang bersama
menjalani kerja praktik di Cilacap;
13. Teman-teman seperjuangan KP di Environment yang baru datang saat kami
akan pulang, Riri, Nurul, Rio, Arga dari ITS, Yoyo dari UPN, Yona dan
Awal dari UII, Hana, Yuanita, Veli dari Undip. Terima kasih atas segala
cerita dan jalan-jalannya. Selamat berjuang!;
14. Dati dan Dihap, dua teman bimbingan dan diskusi yang sangat inspiratif!;
15. Teman-teman Cetar (Amay, Chissy, Uni, Ninis) yang selalu menghibur
dengan obrolannya di grup, semoga bisa segera ke Korea!;
16. Teman-teman Narayana penerus bangsa yang selalu meramaikan grup Line
dengan obrolan yang maunya berbobot tapi malah sering tidak berbobot tapi
menyenangkan, terima kasih atas hiburan dan kebersamaannya selama ini.
Sayang kalian selalu!;
17. Swargalokanata, Askharadiva, Arkaniyata dan Wariga Sangkara serta semua
pihak yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu di sini yang juga turut
membantu kelancaran kerja praktik dan penulisan laporan.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri sebagai penulis dan
juga para pembacanya.
Cilacap, 25 Juni 2014
Penulis
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

ii

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1. LATAR BELAKANG .............................................................................1
1.2. TUJUAN KERJA PRAKTIK ..................................................................2
1.2.1. TUJUAN UMUM ..........................................................................2
1.2.2. TUJUAN KHUSUS ......................................................................2
1.3. RUANG LINGKUP ................................................................................3
1.4. METODOLOGI ......................................................................................3
1.5. WAKTU DAN TEMPAT KERJA PRAKTIK ........................................4
1.6. SISTEMATIKA PENULISAN ...............................................................4

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .................................................6


2.1. SEJARAH PT PERTAMINA (PERSERO).............................................6
2.2. VISI DAN MISI PT PERTAMINA (PERSERO) ...................................8
2.2.1. VISI PT PERTAMINA (PERSERO) ............................................8
2.2.2. MISI PT PERTAMINA (PERSERO) ...........................................8
2.3. LOGO PT PERTAMINA (PERSERO) ..................................................9
2.4. PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ..............................10
2.5. VISI DAN MISI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ..13
2.5.1. VISI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ...........13
2.5.2. MISI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ..........13
2.6. DESKRIPSI KEGIATAN PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV
CILACAP ..............................................................................................14
2.6.1. KILANG MINYAK I (FOC I DAN LOC I) ...............................15
2.6.2. KILANG MINYAK II (FOC II DAN LOC II) ..........................17
2.6.3. KILANG PARAXYLENE COMPLEX .........................................20
2.6.4. KILANG LPG DAN SULPHUR RECOVERY UNIT (SRU) ......21
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

iii

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.6.5. DEBOTTLENECKING PROJECT CILACAP (DPC) .................22


2.6.6. SARANA PENUNJANG .............................................................23
2.7. HEALTH SAFETY AND ENVIRONMENT (HSE) PT PERTAMINA
(PERSERO) RU-IV CILACAP ..............................................................24
2.7.1. FIRE INSURANCE (PENANGGULANGAN KEBAKARAN) ...25
2.7.2. SAFETY (KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA).......26
2.7.3. ENVIRONMENT (LINDUNGAN LINGKUNGAN) ....................27
2.8. STRUKTUR ORGANISASI DAN MANAJEMEN PT PERTAMINA
(PERSERO) RU-IV CILACAP ..............................................................30

BAB III KONDISI EKSISTING PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT


PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP .................................32
3.1. GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT
PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ....................................32
3.2. REGULASI TERKAIT PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT
PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP .....................................32
3.3. IZIN TERKAIT PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT PERTAMINA
(PERSERO) RU-IV CILACAP .............................................................33
3.4. SUMBER DAN JENIS LIMBAH B3 YANG DIHASILKAN PT
PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP .....................................34
3.5. PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT PERTAMINA (PERSERO)
RU-IV CILACAP...................................................................................37
3.5.1. PENGURANGAN VOLUME LIMBAH B3...............................37
3.5.2. PENGEMASAN DAN PEWADAHAN LIMBAH B3 ...............37
3.5.3. PELABELAN LIMBAH B3 ........................................................38
3.5.4. PENGANGKUTAN LIMBAH B3 ..............................................39
3.5.5. PENYIMPANAN LIMBAH B3 .................................................40
3.5.6. PENGOLAHAN LIMBAH B3 ....................................................43
3.5.7. PEMANFAATAN LIMBAH B3 ................................................44
3.5.8. DOKUMEN PENGELOLAAN LIMBAH B3 ............................44

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

iv

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................45


4.1. LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) .................45
4.2. PERATURAN TERKAIT PENGELOLAAN LIMBAH B3 .................49
4.3. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI LIMBAH B3 ............................52
4.4. KARAKTERISTIK LIMBAH B3 .........................................................56
4.5. PRINSIP PENGELOLAAN LIMBAH B3 ............................................60
4.5.1. KONSEP 3R PENGELOLAAN LIMBAH B3 ............................61
4.5.2. MEKANISME CRADLE TO GRAVE..........................................62
4.6. PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI INDONESIA ................................65
4.6.1. PENGEMASAN LIMBAH B3 ....................................................66
4.6.2. PELABELAN LIMBAH B3 ........................................................67
4.6.3. PENYIMPANAN LIMBAH B3 ..................................................84
4.6.4. PENGANGKUTAN LIMBAH B3 ..............................................88
4.6.5. PENGOLAHAN LIMBAH B3 ....................................................90
4.6.6. PEMANFAATAN LIMBAH B3 .................................................91
4.6.7. KONSEP DOKUMEN PERJALANAN LIMBAH B3................91
4.7. NERACA LIMBAH B3 .........................................................................95
4.8. PENGELOLAAN LIMBAH B3 PADA KEGIATAN
PENGELOLAAN MINYAK .................................................................96
4.9. CO-PROCESSING ...............................................................................105
4.10. PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI JAMNAGAR REFINERY ........107

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN PENGELOLAAN LIMBAH B3


DI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ...................111
5.1. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI LIMBAH B3 ..........................111
5.2. KUANTITAS LIMBAH B3 ................................................................118
5.3. EVALUASI KINERJA PENGELOLAAN LIMBAH B3 ...................127
5.4. EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH B3 ......................128
5.4.1. EVALUASI PEDOMAN PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI
PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP ...................128
5.4.2. EVALUASI REDUKSI LIMBAH B3 .......................................130

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

5.4.3. EVALUASI PENGEMASAN DAN PEWADAHAN


LIMBAH B3 ..............................................................................131
5.4.4. EVALUASI PELABELAN LIMBAH B3 .................................137
5.4.5. EVALUASI PENYIMPANAN LIMBAH B3 ...........................144
5.4.6. EVALUASI PENGANGKUTAN LIMBAH B3 .......................159
5.4.7. EVALUASI PENGOLAHAN LIMBAH B3 .............................163
5.4.8. EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH B3 ..........................169
5.5. PERBANDINGAN PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT
PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP DENGAN
JAMNAGAR REFINERY INDIA ........................................................173

BAB VI PENUTUP ............................................................................................175


6.1. SIMPULAN ........................................................................................175
6.2. SARAN ...............................................................................................177

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................178


LAMPIRAN .......................................................................................................180

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

vi

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Proses-Proses Utama Kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap..................................................................................................14
Tabel 2.2. Kapasitas FOC I ...................................................................................16
Tabel 2.3. Kapasitas LOC I ...................................................................................16
Tabel 2.4. Produksi Kilang I (FOC I dan LOC I) ..................................................17
Tabel 2.5. Kapasitas FOC II ..................................................................................18
Tabel 2.6. Kapasitas LOC II ..................................................................................19
Tabel 2.7. Produksi Kilang II (FOC II dan LOC II) ..............................................19
Tabel 2.8. Kapasitas LOC III.................................................................................20
Tabel 2.9. Kapasitas Kilang Paraxylene Complex ................................................21
Tabel 2.10. Produksi Kilang Paraxylene...............................................................21
Tabel 4.1. Karakteristik Limbah B3 menurut Peraturan di Indonesia, Eropa, dan
Amerika ................................................................................................57
Tabel 4.2. Peletakan Simbol Limbah B3 ...............................................................80
Tabel 4.3. Prinsip Dasar Co-processing Limbah B3 dan Limbah Lainnya pada
Kiln Semen .........................................................................................106
Tabel 4.4. Jumlah Limbah B3 Jamnagar Refinery dan Cara Pengelolaannya ....108
Tabel 5.1. Daftar Limbah B3 dari Sumber Spesifik di PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap ...................................................................................112
Tabel 5.2. Jenis Limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap .............115
Tabel 5.3. Identifikasi Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap .......116
Tabel 5.4. Neraca Limbah Form II PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
Periode Bulan Februari 2014 .............................................................120
Tabel 5.5. Denah Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Periode Bulan
Juni 2014 ............................................................................................121
Tabel 5.6. Sebagian Neraca Limbah untuk Penilaian Proper (Juli 2013Juni 2014) ...........................................................................................123
Tabel 5.7. Jumlah Limbah yang Dihasilkan di PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap Periode Juli 2013-Juni 2014..................................................124

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

vii

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 5.8. Matriks Perbandingan Pengemasan Limbah B3 Menurut Peraturan dan


Realisasinya........................................................................................136
Tabel 5.9. Matriks Perbandingan Pelabelan Limbah B3 Menurut Peraturan dan
Realisasinya........................................................................................143
Tabel 5.10. Matriks Perbandingan Penyimpanan Limbah B3 Menurut
Peraturan dan Realisasinya ...............................................................156
Tabel 5.11. Jenis Limbah dan Pengolahannya Selama Periode Juli 2013-Juni
2014 ..................................................................................................166

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

viii

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Peta Lokasi PT Pertamina (Persero) ..................................................8


Gambar 2.2. Logo Lama PT Pertamina (Persero) ..................................................9
Gambar 2.3. Logo Baru PT Pertamina (Persero) ...................................................9
Gambar 2.4. Peta Lokasi Pabrik PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap ...........12
Gambar 2.5. Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap ...............................................12
Gambar 2.6. Lokasi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap...............................12
Gambar 2.7. Tata Letak Kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap .............13
Gambar 3.1. Kegiatan di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dan Limbah
B3 yang Dihasilkan ..........................................................................35
Gambar 3.2. Beberapa Limbah B3 yang Dihasilkan PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap .................................................................................36
Gambar 3.3. Pengemasan Limbah Cartridge Bekas dalam Drum Logam ...........38
Gambar 3.4. Pengemasan Limbah Sand Filter dalam Jumbo Bag ......................38
Gambar 3.5. Pengemasan Limbah Cair dalam IBC..............................................38
Gambar 3.6. Drum Wadah Limbah B3 yang Diberi Label Identitas Limbah
B3 .....................................................................................................39
Gambar 3.7. Label Simbol Limbah B3 (a) Korosif (b) Beracun ..........................39
Gambar 3.8. Tong Plastik Wadah Limbah B3 yang Diberi Label Wadah
Kosong ............................................................................................39
Gambar 3.9. Pengangkutan Eksternal Menuju Tempat Pengolahan ...................40
Gambar 3.10. Gudang TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap............................................................................................41
Gambar 3.11. Layout Gudang TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap............................................................................................41
Gambar 3.12. Sludge Pond PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap ...................42
Gambar 3.13. Layout Sludge Pond PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap .......42
Gambar 3.14. Kondisi TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap............................................................................................42
Gambar 3.15. Penataan Drum Limbah B3 di dalam TPS .....................................43
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

ix

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 3.16. Sludge pada Sludge Pond...............................................................43


Gambar 4.1. Hierarki Pengelolaan Limbah ..........................................................48
Gambar 4.2. Kaitan Komponen dalam Proses Industri ........................................50
Gambar 4.3. Mata Rantai Perjalanan Limbah B3 dan Manifestasinya ................64
Gambar 4.4. Kemasan Limbah B3 Cair (A) dan Sludge atau Padat (B) ..............67
Gambar 4.5. Bentuk Dasar Simbol Limbah B3 ....................................................69
Gambar 4.6. Simbol Limbah B3 Mudah Meledak ...............................................69
Gambar 4.7. Simbol Limbah B3 Berupa Cairan Mudah Menyala .......................70
Gambar 4.8. Simbol Limbah B3 Berupa Padatan Mudah Menyala .....................71
Gambar 4.9. Simbol Limbah B3 Reaktif ..............................................................71
Gambar 4.10. Simbol Limbah B3 Beracun ..........................................................72
Gambar 4.11. Simbol Limbah B3 Korosif ...........................................................72
Gambar 4.12. Simbol Limbah B3 Infeksius .........................................................73
Gambar 4.13. Simbol Limbah B3 Berbahaya Terhadap Lingkungan ..................73
Gambar 4.14. Label Limbah B3 ...........................................................................74
Gambar 4.15. Label Limbah B3 Wadah dan/atau Kemasan Limbah B3
Kosong ...........................................................................................75
Gambar 4.16. Label Limbah B3 Penandaan Posisi Tutup Wadah dan/atau
Kemasan Limbah B3 ......................................................................75
Gambar 4.17. Contoh Pelekatan Simbol Limbah B3 pada Tempat Penyimpanan
dengan 2 Karakteristik Dominan (Predominan) ............................78
Gambar 4.18. Contoh Pelekatan Simbol Limbah B3 dan Label Limbah B3 .......79
Gambar 4.19. Pola Penyimpanan Kemasan Drum ...............................................85
Gambar 4.20. Penyimpanan Limbah B3 dengan Rak ..........................................85
Gambar 4.21. Tempat Penyimpanan Limbah B3 Cair dalam Jumlah Besar ........86
Gambar 4.22. Pola Sirkulasi Udara dalam Tempat Penyimpanan Limbah B3 ....86
Gambar 4.23. Tata Ruang Gudang Penyimpanan Limbah B3 .............................88
Gambar 4.24. Skema Perjalanan Dokumen Limbah B3 .......................................93
Gambar 4.25. Skema Penanganan Limbah untuk Usaha Eksplorasi dan
Produksi.........................................................................................97
Gambar 4.26. Skema Crude Oil Recovery .........................................................103

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.1. Jumlah Timbulan Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap Periode Juli 2013-Juni 2014 ............................................125
Gambar 5.2. Jumlah Timbulan Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap Tahun 2010-2014 ..............................................................126
Gambar 5.3. Tong Sampah Limbah B3 dan Limbah non-B3 ............................131
Gambar 5.4. Berbagai Kemasan yang Digunakan untuk Mengemas Limbah
B3 ..................................................................................................132
Gambar 5.5. Kondisi Drum yang Penyok dan Berkarat ....................................133
Gambar 5.6. Drum Minyak Pertamina ...............................................................133
Gambar 5.7. Limbah Kaleng Bekas yang Belum di-Press .................................134
Gambar 5.8. Limbah Kaleng Bekas yang Sedang di-Press ................................134
Gambar 5.9. Limbah Kaleng Bekas yang Sudah di-Press .................................135
Gambar 5.10. Alat Press Kaleng ........................................................................135
Gambar 5.11. Simbol Limbah B3 Berbahaya Terhadap Lingkungan ................138
Gambar 5.12. Simbol Limbah B3 pada Kemasan ..............................................139
Gambar 5.13. Label Limbah B3 pada Kemasan .................................................140
Gambar 5.14. Pengisian Label Limbah B3 dengan Data Logbook ....................140
Gambar 5.15. Pemasangan Simbol dan Label Limbah B3 pada Kemasan ........140
Gambar 5.16. Pemasangan Simbol dan Label Limbah B3 pada Kemasan
yang Salah ....................................................................................141
Gambar 5.17. Pemasangan Label pada Kemasan Limbah B3 Kosong ..............141
Gambar 5.18. Simbol Limbah B3 yang Dipasang di Gudang TPS Limbah
B3 .................................................................................................142
Gambar 5.19. Simbol Limbah B3 Dipasang di Kendaraan Pengangkut Limbah
B3 .................................................................................................143
Gambar 5.20. Posisi Gudang TPS Limbah .........................................................145
Gambar 5.21. Gudang TPS Limbah B3 ..............................................................145
Gambar 5.22. Pintu Gerbang Gudang TPS Limbah B3 .....................................146
Gambar 5.23. Papan Petunjuk di Depan Gudang TPS Limbah B3 ....................147
Gambar 5.24. Tanggul dan Ventilasi Gudang TPS Limbah B3 .........................147
Gambar 5.25. Papan Petunjuk Nama Limbah B3 ...............................................148
Gambar 5.26. Atap TPS Limbah B3...................................................................148
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

xi

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.27. Pintu TPS Limbah B3 ..................................................................149


Gambar 5.28. Lantai dan Saluran di TPS Limbah B3 ........................................149
Gambar 5.29. Kotak P3K dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di TPS
Limbah B3 ...................................................................................150
Gambar 5.30. Alat Komunikasi, Tangga dan Timbangan di TPS Limbah B3 ...151
Gambar 5.31. Shower dan Eyewash pada TPS Limbah B3 ................................151
Gambar 5.32. Prosedur Tanggap Darurat di TPS Limbah B3 ............................152
Gambar 5.33. Sistem Blok Penyimpanan Limbah B3 di TPS ............................153
Gambar 5.34. Penyimpanan Kemasan Limbah B3.............................................154
Gambar 5.35. Sludge Pond .................................................................................154
Gambar 5.36. Kelengkapan di Sludge Pond .......................................................155
Gambar 5.37. Denah Sumur Pantau di Sludge Pond ..........................................155
Gambar 5.38. Alat Angkut Internal yang Digunakan PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap .............................................................................160
Gambar 5.39. Pengangkutan Limbah B3 dengan Transporter ...........................161
Gambar 5.40. Truk Transporter dengan Simbol Limbah B3 .............................162
Gambar 5.41. Mata Rantai Perjalanan Limbah B3 dan Manifestasinya yang
Dilakukan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap .....................164
Gambar 5.42. Pengolahan Limbah B3 oleh PT Holcim Indonesia Tbk .............167
Gambar 5.43. Flowchart Sludge Oil Recovery ...................................................168
Gambar 5.44. Drum Bekas Katalis Digunakan sebagai Wadah Limbah B3 ......170
Gambar 5.45. Tong Sampah dari Drum Bekas...................................................171
Gambar 5.46. Alat Rotary Kiln dari Drum Bekas ..............................................171
Gambar 5.47. Pemanfaatan Drum Bekas sebagai Tong Sampah .......................171
Gambar 5.48. Pemanfaatan Drum Bekas sebagai Rotary Kiln ...........................172

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

xii

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Energi adalah dasar penting dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh
manusia. Peningkatan kebutuhan energi di Indonesia yang kini sedang terjadi
merupakan dampak dari kian bertambahnya jumlah penduduk dan kian
berkembangnya kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut makin didukung oleh
berubahnya gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif. Negara Indonesia
harus berjuang agar kebutuhan energi masyarakatnya selalu terpenuhi secara
terus-menerus.
PT Pertamina (Persero) merupakan perusahaan negara yang bergerak di
bidang energi dengan produk minyak, gas, energi baru dan energi terbarukan.
Usaha tersebut dilakukan dari sektor hulu hingga ke hilir mulai dari kegiatan
eksplorasi hingga pengolahan minyak mentah yang diikuti oleh pemasaran
produk. Produk yang dihasilkan berupa produk BBM dan non-BBM seperti
premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, pelumas, aspal, Liquefied
Petroleum Gas (LPG), Paraxylene dan lain-lain. PT Pertamina (Persero) Refinery
Unit IV Cilacap merupakan unit yang memiliki kapasitas produksi terbesar di
Indonesia sejumlah 348.00 barrel/hari yang memasok 34% kebutuhan BBM
nasional atau 60% kebutuhan BBM untuk Pulau Jawa. Seiring dengan
meningkatnya permintaan produk BBM dan non-BBM di Indonesia, maka
optimalisasi produksi pun akan turut ditingkatkan untuk memenuhi permintaan
pasar.
Dengan produksi BBM dan non-BBM yang dioptimalkan ini tentunya juga
akan dihasilkan limbah B3 dalam jumlah yang sangat besar. Pengelolaan limbah
B3 memerlukan perhatian khusus dan utama sebelum dikembalikan ke lingkungan
agar tidak menimbulkan dampak negatif baik bagi lingkungan maupun bagi
manusia. Pada UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup pasal 59 dijelaskan bahwa setiap orang yang menghasilkan
limbah B3 wajib melakukan pengelolaan terhadap limbah B3 yang dihasilkannya.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Menurut PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999, kegiatan pengelolaan
dapat meliputi

pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan,

pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan. Tujuan utama pengelolaan limbah B3


tentunya adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.
Menurut PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999 dengan berbagai
macam jenis limbah B3 yang dihasilkannya, maka PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap tentu memiliki kewajiban untuk mengelolanya sesuai peraturan yang ada.
Proses pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap inilah yang menjadi fokus utama kerja praktik kali ini. Dari kondisi
eksisting yang diperoleh selama melakukan kerja praktik akan dilakukan evaluasi
terhadap kegiatan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap dengan mengacu pada berbagai peraturan yang berlaku.

1.2. Maksud dan Tujuan Kerja Praktik


Maksud dan tujuan dari kerja praktik ini adalah:
Mengetahui jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan
oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Mengadakan pengamatan dan evaluasi terhadap sistem pengelolaan
limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Mengetahui kinerja pengelolaan limbah B3 di PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap.
Membantu memberikan saran terhadap sistem pengelolaan limbah B3
yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

1.3. Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari pelaksanaan kerja praktik ini adalah:
Identifikasi limbah B3 yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap.
Evaluasi pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap meliputi reduksi, pengemasan dan pewadahan,
pelabelan,

penyimpanan,

pengangkutan

dan

pengolahan

serta

pemanfaatan.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

1.4. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam kerja praktik ini yaitu:
Observasi lapangan
Pengumpulan data-data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan
langsung di area kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Wawancara
Melakukan pencarian data dan informasi dengan bertanya pada para
pembimbing di bagian HSE serta pegawai lainnya di area kilang PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Studi literatur
Melakukan pengambilan data dan informasi dari referensi berupa buku,
jurnal, laporan dan website yang berhubungan dengan pengelolaan
limbah B3 sebagai acuan untuk menganalisis dan mengevaluasi sistem
pengelolaan limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap yang
data-data kondisi eksistingnya diperoleh dari observasi dan wawancara.

1.5. Waktu dan Tempat Kerja Praktik


Kerja praktik ini dilaksanakan di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
pada:
Periode pelaksanaan

: 16 Juni 20 Juli 2014

Alamat

: Jalan Letjen MT Haryono No. 77 Lomanis,


Cilacap, Jawa Tengah.

Departemen

: Health Safety and Environment

Contact Person

: Rakhmat Ibnas HSE Pertamina RU-IV Cilacap


(0282508674)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

1.6. Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang penulis memilih Pengelolaan Limbah B3
di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap sebagai tema kerja praktek,
tujuan yang ingin dicapai, ruang lingkup penelitian, metodologi yang
digunakan dalam penelitian serta waktu dan tempat kerja praktik. Bagian ini
disusun untuk menjadi gambaran awal tentang kegiatan kerja praktek yang
dilakukan.

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan yang dijadikan objek
penelitian, yaitu PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap meliputi sejarah,
visi dan misi, lokasi, kegiatan produksi, struktur organisasi perusahaan, serta
informasi mengenai departemen Health Safety and Environment (HSE).

BAB III KONDISI EKSISTING


Bab ini berisi tentang kondisi eksisting pengelolaan limbah B3 di PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap meliputi gambaran umum, sumber dan
jenis limbah B3 yang dihasilkan, peraturan yang digunakan, fasilitas dan
sistem pengelolaan limbah yang dilakukan.

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini berisi tinjauan pustaka yang digunakan sebagai acuan dalam
menganalisis kondisi eksisting pengelolaan limbah B3 di PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap. Pada bab ini dibahas mengenai pengertian limbah
B3, identifikasi limbah B3, peraturan terkait pengelolaan limbah B3, serta
sistem pengelolaan limbah B3 menurut peraturan yang berlaku.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisi analisis dan pembahasan dari penulis terhadap pengelolaan
limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Di bab ini akan
dibandingkan antara kondisi eksisting dengan tinjauan pustaka sehingga
dapat diberikan evaluasi dan saran terhadap pengelolaan limbah B3 yang
dilakukan.

BAB VI PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dan saran terkait
keseluruhan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah PT Pertamina (Persero)


Berdasarkan UU No. 19 Tahun 1960 Tentang Pendirian Perusahaan Negara
dan UU No. 44 Tahun 1960 Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, maka
pada tahun 1961 dibentuk perusahaan negara sektor minyak dan gas bumi, PN
Pertamina dan PN Permina, yang bergerak dalam usaha eksplorasi, eksploitasi,
pengolahan, serta pemasaran. Pada tahun 1971 kemunculan UU No. 8 Tahun 1971
menetapkan penggabungan kedua perusahaan tersebut menjadi PN Pertamina,
sebagai pengelola tunggal dalam pemenuhan kebutuhan minyak dan gas bumi
negara.
Sebagai upaya Pertamina dalam memenuhi kebutuhan minyak bumi, yang
semakin meningkat tiap tahunnya, maka pada tahun 1974 dibangunlah kilang
minyak yang dirancang untuk mengolah bahan baku minyak mentah dari Timur
Tengah, dengan tujuan selain untuk mendapatkan produk BBM juga untuk
mendapatkan bahan dasar minyak pelumas dan aspal. Kemudian mengikuti UU
No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi, maka status PN Pertamina
diubah menjadi Perusahaan Perseroan, yang sesuai dengan PP No. 31 Tahun
2003.
PT Pertamina (Persero) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis
Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum
& HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09
Oktober 2003. Pendirian perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan
yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan
(Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31
Tahun 2003 "Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak Dan
Gas Bumi Negara (Pertamina) Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)".

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Sesuai akta pendiriannya, maksud dari perusahaan perseroan adalah untuk


menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun
di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan
usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.
Adapun tujuan dari perusahaan perseroan adalah untuk:
1. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perseroan secara
efektif dan efisien.
2. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, perseroan melaksanakan
kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil olahan
dan turunannya.
2. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat
pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang
telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik perseroan.
3. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan
produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG
4. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan
usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1, 2, dan 3.
Unit-unit pengolahan minyak dan gas bumi yang dikelola oleh PT
Pertamina (Persero) terbagi atas tujuh lokasi, seperti yang ditunjukkan pada peta
di Gambar 2.1. yaitu:
1. Refinery Unit I Pangkalan Brandan (Sumatra Utara), kapasitas 5.000
BPSD*.
2. Refinery Unit II Dumai dan Sungai Pakning (Riau), kapasitas 170.000
BPSD*.
3. Refinery Unit III Plaju dan Sungai Gerong (Sumatra Selatan), kapasitas
132.500 BPSD*.
4. Refinery Unit IV Cilacap (Jawa Tengah), kapasitas 348.000 BPSD*.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

5. Refinery Unit V Balikpapan (Kalimantan Timur), kapasitas 253.500


BPSD*.
6. Refinery Unit VI Balongan (Jawa Barat), kapasitas 125.000 BPSD*.
7. Refinery Unit VII Kasim (Papua Barat), kapasitas 10.000 BPSD*.

*dengan BPSD adalah barrel per stream day.

Gambar 2.1. Peta Lokasi PT Pertamina (Persero)


(Sumber: PT Pertamina (Persero))

2.2. Visi dan Misi PT Pertamina (Persero)


2.2.1. Visi PT Pertamina (Persero)
Visi dari PT Pertamina (Persero) adalah:
Menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia.

2.2.2. Misi PT Pertamina (Persero)


Misi dari PT Pertamina (Persero) adalah:
Menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru yang terbarukan secara
terintegrasi berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.3. Logo PT Pertamina (Persero)


Setelah 35 tahun menggunakan logo seperti Gambar 2.2., PT Pertamina
(Persero) mengganti logo menjadi seperti pada Gambar 2.3. pada akhir tahun
2005 ketika dipimpin Direktur Utama Widya Purnama.

Gambar 2.2. Logo Lama PT Pertamina (Persero)


(Sumber: PT Pertamina (Persero))

Gambar 2.3. Logo Baru PT Pertamina (Persero)


(Sumber: PT Pertamina (Persero))

Keterangan Gambar 2.3. :


1. Biru : Melambangkan kehandalan, dapat dipercaya dan bertanggungjawab.
Sumber daya manusia sebagai mitra kerja yang loyal serta memiliki komitmen
untuk berdedikasi.
2. Hijau : Melambangkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.
Sumber daya lingkungan sebagai mitra kerja yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat.
3. Merah : Melambangkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam
menghadapi berbagai macam keadaan.
Sumber daya manusia sebagai sebagai mitra kerja yang tangguh dan pantang
menyerah.
Pemikiran perubahan Logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi krisis
Pertamina pada saat itu. Pemikiran tersebut dilanjutkan pada tahun-tahun
berikutnya dan diperkuat melalui Tim Restrukturisasi Pertamina tahun 2000 (Tim
Citra) termasuk kajian yang mendalam dan komprehensif sampai pada pembuatan
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

TOR dan perhitungan biaya. Akan tetapi, program tersebut tidak sempat
terlaksana karena adanya perubahan kebijakan/pergantian Direksi. Wacana
perubahan logo tetap berlangsung sampai dengan terbentuknya PT Pertamina
(Persero) pada tahun 2003. Pertimbangan yang mendorong adanya pergantian
logo adalah untuk dapat membangun semangat/spirit baru, mendorong perubahan
Corporate Culture bagi seluruh pekerja, mendapatkan image yang lebih baik
diantara global oil & gas companies serta mendorong daya saing perusahaan
dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain :

Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi Perseroan.

Perubahan strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan paska


PSO serta semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru dibidang
Hulu dan Hilir.

Dengan adanya perubahan logo PT Pertamina (Persero) sekaligus


meluncurkan slogan (band driver) SEMANGAT TERBARUKAN. Dengan slogan
tersebut cita-cita untuk menjadi penyedia energi global dapat diwujudkan melalui
percepatan perubahan dan langkah nyata transformasi, guna menggapai visi
menjadi perusahaan nasional kelas dunia.

2.4. PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap (Gambar 2.5.) merupakan
Unit Operasi Direktorat Pengolahan tebesar dan terlengkap, dilihat dari hasil
produksinya, di Indonesia. Kilang ini bernilai strategis karena memasok 34%
kebutuhan BBM nasional atau 60% kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Selain itu
kilang ini menjadi satu-satunya kilang di Indonesia yang memproduksi aspal dan
base oil untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur Indonesia.
Tujuan pembangunan kilang minyak di Cilacap adalah untuk memenuhi
kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi masyarakat Pulau Jawa, mengingat
secara geografis posisi kilang Cilacap di sentra Pulau Jawa atau dekat dengan
konsumen terpadat penduduknya di Indonesia. Di samping itu juga untuk
mengurangi ketergantungan impor BBM dari luar negeri dan sebagai langkah
efisiensi karena memudahkan suplai dan distribusi.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

10

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap mempunyai suatu landasan yang


disebut dengan Tata Nilai Budaya. Nilai dan budaya tersebut dikenal dengan
6C, yaitu:
1. Clean (Bersih)
2. Competitive (Kompetitif)
3. Confident (Percaya Diri)
4. Customer Focused (Fokus pada Pelanggan)
5. Commercial (Komersial)
6. Capable (Berkemampuan)

PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap berlokasi di Jalan. MT.Haryono


Nomor 77, Lomanis, Cilacap, Jawa Tengah Indonesia 53221 (Gambar 2.4.
dan Gambar 2.6.). Kilang RU-IV dibangun di Cilacap dengan luas area total
526,71 Ha. Tata letak kilang minyak Cilacap (Gambar 2.7.) beserta sarana
pendukung yang ada adalah sebagai berikut :
1.Area Kilang Minyak dan Kantor

: 203,19

ha

2.Area Terminal dan Pelabuhan

: 50,97

ha

3.Area Pipa Track dan Jalur Jalan

: 12,77

ha

4.Area Perumahan dan Sarananya

: 100,80

ha

5.Area Rumah sakit dan Lingkungannya

: 10,27

ha

6.Area Lapangan Terbang

: 70

ha

7.Area Paraxylene

ha

8.Sarana Olah Raga / Rekreasi

: 69,71

ha

526,71

ha

Total

Beberapa pertimbangan dipilihnya Cilacap sebagai lokasi kilang adalah :


1. Studi kebutuhan BBM menunjukkan bahwa konsumen terbesar adalah
penduduk pulau Jawa.
2. Daerah Cilacap

dan sekitarnya

telah direncanakan oleh

pemerintah

sebagai pusat pengembangan produksi untuk wilayah Jawa bagian selatan.


3. Terdapat

jaringan

pipa

Maos - Jogjakarta

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

dan

Cilacap - Padalarang

11

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

sehingga penyaluran produksi bahan bakar minyak menjadi lebih mudah.


4. Tersedianya sarana pelabuhan alami yang sangat ideal karena lautnya cukup
dalam dan tenang karena terlindung Pulau Nusakambangan.

Gambar 2.4. Peta Lokasi Pabrik PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Gambar 2.5. Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Gambar 2.6. Lokasi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

12

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 2.7. Tata Letak Kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

2.5. Visi dan Misi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


2.5.1. Visi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
Visi dari PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah:
Menjadi kilang minyak yang unggul di Asia Tenggara dan kompetitif pada tahun
2015.

2.5.2. Misi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


Misi dari PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah:
Mengolah minyak bumi menjadi produk BBM dan NBM, dan petrokimia untuk
memberikan nilai tambah bagi perusahaan dengan tujuan memuaskan
stakeholder melalui peningkatan kinerja perusahaan secara profesional,
berstandar internasional, dan berwawasan lingkungan.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

13

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.6. Deskripsi Kegiatan PT Pertamina (Persero) RU- IV Cilacap


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap merupakan salah satu unit operasi
dari Direktorat Hilir Pertamina dengan proses-proses utama kilang seperti pada
Tabel 2.1.. Kegiatannya membawahi kilang minyak dan kilang Paraxylene.
Kilang minyak Cilacap yang saat ini memiliki kapasitas 348.000 barrel/hari
dibangun dalam 2 tahap, yaitu pada tahun 1974 dan 1981, sedangkan kilang
Paraxylene dibangun pada tahun 1990. Saat ini tengah dibangun kilang RFCC
(Residual Fluid Catalytic Cracking) untuk meningkatkan produksi gasoline, LPG
dan propylene. Pertamax yang saat ini telah diproduksi PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap, produksinya akan lebih efisien.
Kilang utama disebut dengan Fuel Oil Complex (FOC) dan kilang pelumas
disebut dengan Lube Oil Complex (LOC). Bahan baku (minyak mentah) diolah di
FOC untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) sebagai produk utama dan
long residue sebagai bahan baku untuk LOC untuk diolah dan menghasilkan
bahan dasar minyak pelumas (Lube Oil Base Stock [LOBS]) dan asphalt
component.

Tabel 2.1. Proses-Proses Utama Kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


No.
1.
2.
3.

4.
5.
6.

Jenis Proses

Unit Proses

Persiapan

Desalter

Tujuan Proses
Menurunkan air,
menurunkan garam
Pemisahan primer
berdasar titik didih

Crude Distilling Unit (CDU)


High Vacuum Unit (HVU)
Hydrotreating dan demetalisasi
Treating
(HDS, ARHDM, DHDT),
Pemurnian
Amine Absorber
Hydrocracker, Fluid Catalytic
Perengkahan,
Cracking (FCC), RFCC,
Konversi
pembentukan
Delayed Coker, Visbreaker,
(reforming)
Platforming, H2 plant
Perbaikan kualitas
Hydotreater (HDS)
Perbaikan kualitas
Polimerisasi, Isomerisasi
Polimerisasi,
Proses lain
(Penex, Totaray), Wax
aromatisasi, filtrasi
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Pemisahan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

14

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.6.1. Kilang Minyak I (FOC I dan LOC I)


Kilang yang beroperasi sejak 24 April 1974 ini awalnya berkapasitas
100.000 BPSD. Kemudian karena adanya peningkatan kebutuhan konsumen maka
pada tahun 1996 melalui Debottlenecking Project Cilacap kapasitasnya
ditingkatkan menjadi 118.000 BPSD. Kilang ini dirancang untuk mengolah bahan
baku minyak mentah dari Timur Tengah dengan maksud selain mendapatkan
produk BBM sekaligus untuk mendapatkan produk NBM yaitu bahan dasar
minyak pelumas (lube oil base) dan aspal yang sangat dibutuhkan di dalam
negeri. Minyak dari Timur Tengah dipilih karena karakter minyak dalam negeri
yang tidak bisa menghasilkan bahan dasar pelumas dan aspal.
Dalam perkembangan selanjutnya, kilang ini tidak hanya mengolah Arabian
Light Crude (ALC) tetapi juga Iranian Light Crude (ILC) dan Basrah Light Crude
(BLC). Kilang Minyak I PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap meliputi:
1. Fuel Oil Complex (FOC I), untuk memproduksi BBM (Premium,
Kerosene, ADI/IDO, dan IFO).
2. Lube Oil Complex (LOC I), menghasilkan produk non BBM (LPG, base
oil, Minarex, Slack Wax, Parafinic, dan aspal).
3. Utilities Complex (UTL), menyediakan semua kebutuhan dari unit-unit
proses seperti steam, listrik, angin instrumen, air pendingin serta fuel
system.
4. Offsite Facilities

Kapasitas pada FOC I (Area 10) dapat dilihat di Tabel 2.2. sedangkan unit-unit
prosesnya meliputi:
1. Unit 11: Crude Distilling Unit (CDU) I
2. Unit 12: Naphta Hydrotreater I
3. Unit 13: Hydro Desulphurizer Unit (HDS)
4. Unit 14: Platformer Unit
5. Unit 15: Propane Manufacturer Unit (PMF)
6. Unit 16: Meroxtreater Unit
7. Unit 17: Sour Water Stripper Unit (SWS)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

15

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

8. Unit 18: Nitrogen Plant


9. Unit 19: CRP Unit (Hg Removal)

Kapasitas pada LOC I (Area 20) dapat dilihat pada Tabel 2.3. sedangkan unit-unit
prosesnya meliputi:
1. Unit 21: High Vacuum Unit (HVU) I
2. Unit 22: Prophane Deasphalting Unit (PDU) I
3. Unit 23: Fulfural Extraction Unit (FEU) I
4. Unit 24: Methyl Ethyl Keton (MEK) Dewaxing Unit (MDU) I
5. Unit 25: Hot Oil System I

Tabel 2.2. Kapasitas FOC I


Kapasitas Desain
TPSD
BPSD
CDU I
16.126
118.000
NHT I
2.805
25.600
Hydrodesulfurizer
2.300
17.000
Platformer I
1.650
14.900
Propane Manufacturing
43,5
Merox Treater
2.116
15.700
Sour Water Stripper
780
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

Tabel 2.3. Kapasitas LOC I


Kapasitas Desain
(TPSD)
HVU
2.574
PDU
538
FEU
478-573
MDU
226-337
Hydrotreating Unit
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

16

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Pada Tabel 2.4. dapat dilihat produksi yang dilakukan di Kilang I (FOC I
dan LOC I).
Tabel 2.4. Produksi Kilang I (FOC I dan LOC I)
Unit

Feed

Produk
Refinery Fuel Gas

Arabian Light Crude


FOC I

Iranian Light Crude


Basrah Light Crude

Kerosene/Avtur
Industrial Diesel Oil
Gasoline/Premium
Automotif Diesel Oil
Industrial Fuel Oil
HVI 60
HVI 95

LOC I

Long Residu FOC I

Slack Wax
Asphalt
Minarex A
Minarex B

(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

2.6.2. Kilang Minyak II (FOC II dan LOC II)


Kilang ini dibangun pada tahun 1981 dengan pertimbangan untuk dapat
memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri yang terus meningkat. Kilang yang
mulai beroperasi 4 Agustus 1983 ini berkapasitas awal 200.000 BPSD, yang
kemudian ditingkatkan menjadi 238.000 BPSD setelah Debottlenecking Project
Cilacap. Kilang ini mengolah minyak cocktail yaitu minyak campuran dari
dalam maupun luar negeri.
Minyak mentah dalam negeri, yang memiliki kadar sulfur lebih rendah dari
Arabian Light Crude (ALC), merupakan campuran dengan komposisi 80% Arjuna
Crude dan 20% Attaka

Crude yang pada perkembangan selanjutnya

menggunakan crude oil lain dengan komposisi yang menyerupai rancangan awal.
Perluasan kilang dirancang oleh Universal Oil Product (UOP) untuk fuel oil

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

17

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

complex, Shell International Petroleum Maatschappij (SIPM) untuk lube oil


complex dan Fluor Eastern, Inc. untuk offsite facilities.
Unit-unit proses pada FOC II (Area 01) meliputi:
1. Unit 008: Caustic and Storage Unit
2. Unit 009: Nitrogen Plant
3. Unit 011: Crude Distillation Unit (CDU) II
4. Unit 012: Naphta Hydrotreater Unit (NHT) II
5. Unit 013: Aromatic Hydrogenation (AH) Unibon Unit
6. Unit 014: Continous Catalytic Regeneration (CCR) Platformer Unit
7. Unit 015: Liquified Petroleum Gas (LPG) Recovery Unit
8. Unit 016: Minimize Alkalinity Merchaptan Oxidation (Minalk Merox)
Treater Unit
9. Unit 017: Sour Water Stripper (SWS) II
10.Unit 018: Thermal Distillate Hydrotreater Unit
11.Unit 019: Visbreaker Thermal Cracking Unit
Unit-unit proses pada LOC II (Area 02) meliputi:
1. Unit 021: High Vacuum Unit (HVU) II
2. Unit 022: Prophane Deasphalting Unit (PDU) II
3. Unit 023: Fulfural Extraction Unit (FEU) II
4. Unit 024: Methyl Ethyl Keton (MEK) Dewaxing Unit (MDU) II
5. Unit 025: Hot Oil System II

Tabel 2.5. Kapasitas FOC II


Kapasitas Desain
TPSD
BPSD
CDU II
30.680
230.000
NHT II
2.441
20.000
AH Unibon
3.084
23.000
Platformer II
2.441
20.000
LPG Rec
636
Naphta Merox
1.311
11.100
SWS
2.410
THDT
1.802
13.200
Visbreaker
8.390
55.600
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

18

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 2.5. menunjukkan kapasitas FOC II, Tabel 2.6. menunjukkan


kapasitas LOC II, sedangkan Tabel 2.7. menunjukkan produksi kilang II yang
terdiri dari FOC II dan LOC II. Kapasitas LOC III ditunjukkan pada Tabel 2.8..

Tabel 2.6. Kapasitas LOC II


Kapasitas Desain
(TPSD)
HVU
3.883
PDU
784
FEU
1.786-2.270
MDU
501-841
Hydrotreating Unit
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

Tabel 2.7. Produksi Kilang II (FOC II dan LOC II)


Unit

Feed

Produk
LPG

FOC II

Arjuna Crude

Naphtha

Attaka Crude

Gasoline/Premium

Minas Crude

Kerosene

SLC

HDO/LDO
IFO
HVI 95
HVI 160S

LOC II

Long Residu
FOC I

HVI 650
Asphalt
Minarex H
Slack Wax

(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Selain itu terdapat Kilang III dengan bahan baku distilat LOC I dan LOC II
yang menghasilkan produk HVI 650, Propane Asphalt, Minarex, dan Slack Wax.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

19

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 2.8. Kapasitas LOC III


Kapasitas Desain
(TPSD)
HVU
PDU
784
FEU
MDU
501-841
Hydrotreating Unit
1.700
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

2.6.3. Kilang Paraxylene Complex


Berdasarkan pertimbangan adanya bahan baku Naphta dan sarana
pendukung seperti tangki, dermaga, dan utilities, maka pada 1988 dibangunlah
Kilang Paraxylene Complex (KPC) guna memenuhi kebutuhan bahan baku kilang
PTA (Purified Terephtalic Acid) di Plaju, sekaligus sebagai usaha meningkatkan
nilai tambah produk kilang BBM. Kilang yang beroperasi sejak 20 Desember
1990 ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia.
Kapasitas produksi KPC adalah 590.000 ton/tahun. Naptha yang kemudian
diolah menjadi paraxylene 270.000 ton, LPG 17.000 ton, raffnate 92.000 ton,
heavy aromat 10.000 ton, fuel gas/excess 81.000 ton/tahun. Produk paraxylene
sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ke pusat aromatic
Plaju

dan

sebagian

lagi

untuk

diekspor.

Sedangkan

produk

benzene

keseluruhannya diekspor dan produk yang lain digunakan untuk keperluan dalam
negeri dan keperluan sendiri.
Unit-unit proses KPC (Area 80) meliputi:
1. Unit 81: Nitrogen Plant Unit
2. Unit 82: Naphta Hydrotreating Unit
3. Unit 84: CCR Platformer Unit
4. Unit 85: Sulfolane Unit
5. Unit 86: Tatoray Unit
6. Unit 87: Xylene Fractionation Unit
7. Unit 88: Paraxylene Extractination Unit
8. Unit 89: Isomar Unit

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

20

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Kapasitas dan produksi kilang Paraxylene dapat dilihat pada Tabel 2.9. dan
Tabel 2.10..
Tabel 2.9. Kapasitas Kilang Paraxylene Complex
Kapasitas
Desain (TPSD)
NHT
1.791
CCR Platformer
1.791
Sulfolane
1.100
Tatoray
1.730
Xylene Fractionator
4.985
Parex
4.440
Isomar
3.590
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Unit

Tabel 2.10. Produksi Kilang Paraxylene


Unit

Feed

Produk
Paraxylene

Paraxylene

Naphtha

Benzene
LPG
Toluene

(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

2.6.4. Kilang LPG dan Sulphur Recovery Unit (SRU)


Kilang yang beroperasi sejak 27 Februari 2002 ini bertujuan untuk
mendukung komitmen perusahaan terhadap lingkungan serta untuk memenuhi
peraturan UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
dengan Proyek Langit Biru. Kilang ini terdiri dari unit proses dan fasilitas
penunjang. Proyek ini dapat mengurang emisi gas dari kilang Refinery Unit IV
Cilacap, khususnya SO2 yang dapat direduksi menjadi sulfur sehingga emisi yang
dibuang ke udara akan lebih ramah terhadap lingkungan. Dibangunnya kilang
SRU dapat meningkatkan off gas sebagai refinery fuel gas maupun flare gas
sehingga dapat dijadikan bahan baku

LPG dan Naphta (condensate) selain

menghasilkan sulfur cair.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

21

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Unit-unit proses kilang ini (Area 90) meliputi:


1. Unit 90: Utilities Complex
2. Unit 91: Gas Treating Unit
3. Unit 92: LPG Recovery Unit
4. Unit 93: Sulphur Recovery Unit
5. Unit 94: Tail Gas Unit
6. Unit 95: Refrigerant Unit

2.6.5. Debottlenecking Project Cilacap (DPC)


Debottlenecking Project Cilacap (DPC) digagas untuk meningkatkan
kapasitas operasional PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dengan modernisasi
instrumentasi kilang yang meliputi unit pada FOC I, FOC II, Utilities I, Utilities
II, LOC I, dan LOC II. Modernisasi ini termasuk pengoperasian Utilities IIA yang
dihubungkan dengan Utilities I dan Utilities II serta beroperasinya LOC III.
Proyek peningkatan kapasitas kilang minyak secara keseluruhan termasuk
Kilang Paraxylene Complex dan pembuatan sarana pengolahan pelumas baru
(LOC III) yang selesai pada Maret 1999. Proyek ini bertujuan untuk
mengingkatkan kapasitas pengolahan FOC I dari 100.000 BPSD menjadi 118.000
BPSD, FOC II dari 200.000 BPSD menjadi 230.000 BPSD, LOC I dan LOC II
dari 225.000 TPSD menjadi 286.800 TPSD, serta unit baru LOC III dapat
memproduksi 141.200 TPSD lube base untuk semua grade. Proyek ini membuat
total kapasitas kilang BBM naik dari 300.000 BPSD menjadi 348.000 BPSD,
produksi bahan baku minyak pelumas (lube base oil) naik dari 255.000 TPSD
menjadi 428.000 TPSD atau sebesar 69%, sedangkan produksi aspal naik dari
512.000 TPSD menjadi 720.000 TPSD atau sebesar 40,63%. Dengan TPSD
adalah ton per stream day.
Pendanaan Debottlenecking Project Cilacap (DPC) berasal dari pinjaman
dari 29 bank dunia yang dikoordinir oleh CITICORP dengan penjamin US Exim
Bank. Dana yang dipinjam sebesar US$ 633 juta. Sedangkan sistem penyediaan
dananya adalah

Non Recourse Financing, di mana pengembalian pinjaman

berasal dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh proyek sehingga dana

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

22

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

pinjaman tersebut tidak membebani anggaran Pemerintah maupun cash flow PT


Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

2.6.6. Sarana Penunjang


Sarana-sarana penunjang dalam mendukung kelancaran dari operasi kilang,
baik kilang yang memproduksi BBM, Non BBM maupun Paraxylene antara lain:
1. Utilities
Utilities, yang menyediakan tenaga linstrik, uap, dan air untuk kebutuhan
industri maupun perkantoran, perumahan, rumah sakit, dan fasilitas lainnya.
Untuk PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap kapasitasnya sebagai berikut:
a.

Generator (pembangkit tenaga listrik): 102 MW

b.

Boiler: 730 ton/jam

c.

Sea water desalination (desalinasi air laut): 450 ton/jam

2. Laboratorium
Laboratorium yang telah mendapatkan sertifikat spesifikasi SNI 19-17025
berfungsi sebagai pengontrol spesifikasi dan kualitas bahan baku serta produk
antara maupun produk akhir. Laboratorium ini dilengkapi dengan fasilitas
penelitian dan pengembangan sehingga produk yang dihasilkan senantiasa
terjaga kualitasnya agar tetap mampu bersaing di pasaran.
3. Bengkel pemeliharaan
Fasilitas bengkel dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan perawatan
permesinan dan lain-lain. Fungsi bengkel ini tidak hanya sebagai sarana
perbaikan peralatan, tetapi juga sebagai sarana pembuatan suku cadang
pengganti yang diperlukan. Di samping itu juga melayani perbaikan dan
pemeliharaan sarana permesinan bagi industri lainnya.
4. Pelabuhan khusus
Bahan baku minyak mentah PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap seluruhnya
didatangkan melalui fasilitas kapal tanker. Hasil produksinya dijual tidak hanya
melalui fasilitas perpipaan, mobil tangki dan tangki kereta api, tetapi juga
melalui kapal. Pada saat ini PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap memiliki
fasilitas pelabuhan dengan kapasitas 250.000 DWT yang terdiri dari pelabuhan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

23

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

untuk bongkar minyak mentah dan membuat produk-produk kilang untuk


tujuan domestik maupun manca negara lainnya.
5. Tangki penimbun
Tangki-tangki dibangun untuk menampung bahan baku minyak mentah,
produk antara, produk akhir maupun untuk menampung air bersih. Semua ini
untuk keperluan operasional. Jenis-jenis tangki yang dipakai:
a. Floating roof, untuk menyimpan minyak ringan dan mentah.
b. Fixed dome roof, untuk menyimpan minyak yang mempunyai flash point
kurang dari 160F.
c. Fixed cone roof, untuk menyimpan minyak yang mempunyai flash point
lebih dari 160F.
d. Bola, untuk menyimpan gas terutama LPG.
6. Sistem informasi dan komunikasi
Mendukung kelancaran operasional kilang, sistem informasi, dan komunikasi,
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Di instalasi kilang telah dilakukan
otomatisasi dengan melengkapi sistem komputerisasi seperti OCS, MySAP,
dan lain-lain. Untuk mempermudah komunikasi dipasang sarana radio, Public
Automatic Branch Exchange (PABX), dan peralatan elektronika lainnya.

2.7. Health Safety and Environment (HSE) PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap
Unit ini bertugas menjaga keselamatan dan kesehatan karyawan dalam
bidang Health Safety and Environment (HSE). Bidang HSE bertanggung jawab
langsung kepada General Manager PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV
Cilacap. HSE memiliki tugas dan fungsi utama, yaitu:
1. Sebagai advisor body dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja,
kebakaran (peledakan) dan pencemaran lingkungan.
2. Mengkoordinir kegiatan pengawasan dan monitoring lingkungan kerja
untuk tercapainya kondisi operasi perusahaan yang aman, nyaman dan
berwawasan lingkungan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

24

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

3. Mengkoordinir pelaksanaan penanggulangan keadaan darurat dalam hal


kebakaran, tumpahan minyak, kegagalan tenaga (black out) secara cepat
dan tepat untuk meminimize kerugian.
4. Mengkoordinir kegiatan pelatihan dan pembinaan aspek HSE untuk
seluruh pekerja dan mitra kerja, dan pembinaan karir / kompetensi
pekerja fungsi HSE melalui kursus/pelatihan, safety talk, operation talk,
dsb.
5. Menjalin kerjasama dengan Instansi/Institusi Pemerintah dalam hal
penerapan peraturan Lindungan Lingkungan dan Keselamatan &
Kesehatan Kerja.
6. Merencanakan dan menentukan garis kebijakan program PROPER,
SMKP, SMK3, SMKK, SMT dan AMDAL sebagai bahan untuk
pengambil keputusan oleh Top Manajemen.
7. Mengkoordinir tindakan penyelidikan kejadian yang berakibat fatal / lost
time accident bersama dengan bidang / fungsi terkait.

Dalam melaksanakan tugasnya, bidang HSE dibagi menjadi tiga bagian.

2.7.1. Fire Insurance (Penanggulangan Kebakaran)


Fungsi unit Penanggulangan Kebakaran adalah mengkoordinasikan,
mengawasi,

mengevaluasi

serta

memimpin

kegiatan

pencegahan

dan

penanggulangan resiko serta tertib administrasi secara efektif dan efisien sesuai
standar kualitas yang ditetapkan untuk mendukung keamanan dan kehandalan
operasi kilang. Tugas dan fungsi Fire Insurance adalah:
1. Mencegah dan menanggulangi kebakaran/peledakan sekitar daerah
operasi PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap.
2. Meningkatkan kehandalan sarana untuk penanggulangan kebakaran.
3. Meningkatkan kesiapsiagaan sarana untuk penanggulangan kebakaran.
4. Menyelidiki (fire investigation) setiap kasus terjadinya kebakaran.
5. Melaksanakan

risk

survey

dan

kegiatan

pemantauan

terhadap

rekomendasi asuransi.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

25

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

6. Melakukan fire inspection secara rutin dan berkala terhadap sumber


bahaya yang berpotensi terhadap resiko kebakaran.

2.7.2. Safety (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Fungsi bagian ini adalah merencanakan, mengatur, menganalisis dan
mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan kecelakaan dan penyakit akibat kerja
guna tercapainya kondisi kerja yang sama, sesuai norma kesehatan untuk
meminimalkan kerugian perusahaan. Adapun tugas dan fungsi Safety adalah:
1. Mencegah dan menanggulangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
2. Meningkatkan kehandalan sarana dan prasarana untuk pencegahan dan
penanggulangan kecelakaan kerja.
3. Meningkatkan kesiapsiagaan personil dalam menghadapi setiap potensi
terjadinya kebakaran.
4. Menyelidiki (accident investigation) setiap kasus terjadinya kecelakaan.
5. Melaksanakan pengawasan terhadap cara kerja aman melalui ijin kerja,
inspeksi KK, gas test, dsb.
6. Memantau dan mengukur kualitas lingkungan kerja.
7. Menangani hazard, yang mencakup bahaya fisik, kimia, biologi,
ergonomis.
8. Menyediakan dan mendistribusikan alat-alat pelindung diri (APD).
9. Melaksanakan pembinaan aspek HSE, safety talk, safety meeting, dsb.
10.Menerapkan Manajemen Keselamatan Proses (MKP) dan Sistem
Manajemen Kesehatan Kerja (SMKK).

Dalam melaksanakan tugasnya, bagian Safety dibagi menjadi:


1. Occupational Health (Kesehatan Lingkungan Kerja [Keslingker])
2. Unit pemenuhan regulasi dan kesisteman KK
3. Safety Inspector

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

26

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.7.3. Environment (Lindungan Lingkungan)


Fungsi bagian ini adalah mengkoordinasikan, mengawasi, dan memimpin
kegiatan operasional, meliputi pemantauan/pengelolaan lingkungan, B3, kegiatan
house keeping dan pertamanan/penghijauan untuk menunjang tercapainya
lingkungan kerja yang bersih, aman, nyaman, serta meminimalkan dampak
lingkungan akibat operasional kilang guna mematuhi ketentuan/standar yang telah
diterapkan

pemerintah.

PT

Pertamina

(Persero)

RU-IV

Cilacap

merupakan salah satu pelopor Green Factory di Indonesia, hal ini ditunjukkan
dengan diperolehnya sertifikasi ISO 14001 yang mengedepankan Sistem
Manajemen Lingkungan.
Tanggung jawab Environmental Section antara lain adalah:
a. Mengkoordinir perencanaan dan usulan : Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP), ABI dan melaksanakan ABO serta memantau
realisasinya.
b. Menyetujui hasil analisis study, evaluasi terhadap sarana & prasarana
serta metode yang digunakan untuk pemantauan dan penanggulangan
pencemaran.
c. Mengkoordinir pelaksanan analisis dan evaluasi penentuan lokasi titik
pengambilan sample serta frekwensi monitoring yang dilakukan untuk
masing-masing parameter,

sistem, metode dan alat yang digunakan

untuk pemantauan lingkungan serta penanggulangan pencemaran.


d. Menyetujui hasil analisis dan evaluasi penentuan lokasi titik pengambilan
sample serta frekuensi monitoring yang dilakukan untuk masing-masing
parameter,mengkoordinir

hasil

pemantauan

serta

mengeluarkan

rekomendasi sebagai masukan pengelolaan lingkungan lebih lanjut guna


peningkatan optimalisasi sistem pengelolaan / pengolahan limbah.
e. Mengevaluasi dan menyetujui yang berkaitan dengan pemantauan
lingkungan dalam usaha memenuhi daya dukung lingkungan Menyetujui
hasil penghitungan beban pencemaran berikut analisis sistem, metode
dan alat yang digunakan.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

27

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

f. Mengkoordinir pelaksanan analisis dan evaluasi sistem, metode dan alat


yang digunakan untuk pemantauan lingkungan serta penanggulangan
pencemaran.
g. Menyetujui hasil analisis dan evaluasi penentuan lokasi titik pengambilan
sample serta frekuensi monitoring yang dilakukan untuk masing-masing
parameter yang berkaitan dengan pemantauan lingkungan dalam usaha
memenuhi daya dukung lingkungan
h. Mengkoordinir hasil pemantauan serta mengeluarkan rekomendasi
sebagai masukan pengelolaan lingkungan lebih lanjut guna peningkatan
optimalisasi sistem pengelolaan /pengolahan limbah.
i. Mengkoordinir pelaksanan analisis dan evaluasi sistem, metode dan alat
yang digunakan untuk pemantauan lingkungan serta penanggulangan
pencemaran.
j. Menyetujui : hasil analisis dan evaluasi penentuan lokasi titik
pengambilan sampel serta frekuensi monitoring yang dilakukan untuk
masing-masing parameter, hasil penghitungan beban pencemaran berikut
analisis sistem, metode dan alat yang digunakan, hasil investigasi dan
evaluasi setiap kejadian yang menimbulkan pencemaran
k. Mengkoordinir hasil pemantauan serta mengeluarkan rekomendasi
sebagai masukan pengelolaan lingkungan lebih lanjut guna peningkatan
optimalisasi sistem pengelolaan / pengolahan limbah.
l. Mengevaluasi dan menyetujui : pembuatan sarana proteksi paparan
hazardous material serta mengevaluasi untuk memastikan sistem
pemantau limbah berfungsi baik dan optimal, yang berkaitan dengan
pemantauan

lingkungan

dalam

usaha

memenuhi

daya

dukung

lingkungan.
m. Mereview, menganalisis, mengevaluasi,mengkoordinir dan up-dating
AMDAL (Analisis Masalah Dampak Lingkungan) seperti ANDAL, RKL
dan RPL, Mengkoordinir merencanakan, pengawasan, analisis study dan
evaluasi terhadap pelaksanaan pemantauan lingkungan dari aspek
BIOGEOFISKIM (Biologi, Geologi, Fisika dan Kimia) dan SOSEKBUD

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

28

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

(Sosial, Ekonomi dan Budaya) baik internal maupun dengan pihak


eksternal (lembaga penelitian / study lingkungan dan sebagainya)
n. Mengkoordinasikan pelaksanaan / pengawasan kegiatan dan monitoring
lingkungan kerja Environmental Section untuk tercapainya kondisi
operasi

perusahaan

yang

aman

dan

nyaman,mengkoordinasikan

pendistribusian, updating dan sosialisasi perundangan / peraturan aspek


lingkungan terkait serta implementasinya serta mengkoordinasikan dan
mengevaluasi

pelaksanaan

Kegiatan

Hari

Lingkungan,

Forum

Lingkungan, Seminar Lingkungan, baik yang sifatnya internal maupun


eksternal.
o. Mengkoordinasikan,

mengevaluasi,

mengimplementasikan

semua

program di lingkungan kerja Environmental Section.

Upaya yang dilakukan adalah dengan menyediakan sarana lindungan


lingkungan antara lain:
1. Sour water stripper: sarana untuk memindahkan gas-gas beracun dari air
bekas proses sebelum dibuang ke laut.
2. Corrugated plate interceptor: sarana untuk mengurangi dan memisahkan
minyak yang terbawa dalam air buangan.
3. Holding

Basin

dan

Waste

Water

Treatment

(WWT):

sarana

mengembalikan atau memperbaiki kualitas air buangan, terutama


mengembalikan kandungan oksigen dan menghilangkan kandungan
minyak untuk mengurangi kadar minyak dalam air buangan.
4. Stack (cerobong asap) yang tinggi untuk mengurangi pencemaran udara
sekitar.
5. Silencer: sarana untuk mengurangi kemungkinan pencemaran air
buangan.
6. Groyne: sarana pelindung pantai dari kikisan gelombang laut.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

29

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2.8. Struktur Organisasi dan Manajemen PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap
Pertamina dikelola oleh suatu Dewan Direksi Perusahaan dan diawasi oleh
suatu Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Pelaksanaan
kegiatan PT Pertamina (Persero) diawasi oleh seperangkat pengawas yaitu
lembaga negara, pemerintah maupun dari unsur internal PT Pertamina (Persero)
sendiri. Berikut ini adalah jajaran manajemen PT Pertamina (Persero) yang
dibawahi langsung oleh Direktur Utama:
1. Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko
2. Direktur Hulu
3. Direktur Pengolahan
4. Direktur Pemasaran dan Niaga
5. Direktur Umum
6. Direktur Sumber Daya Manusia
7. Direktur Keuangan
Direktur Utama juga membawahi Kepala Internal Audit dan Kepala Jasa
Korporat. Direktur Hulu membawahi Deputi Direktur bidang Hulu, sedangkan
Direktur Hilir membawahi Deputi Direktur bidang Pengolahan, Deputi Direktur
bidang Pemasaran dan Niaga, dan Deputi Direktur Bidang Perkapalan.
Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) membawahi unit-unit
pengolahan yang ada di Indonesia. Kegiatan utama operasi kilang di PT Pertamina
(Persero) Refinery Unit IV Cilacap adalah:
1. Kilang Minyak (BBM dan Non BBM)
2. Kilang Petrokimia

General Manager RU-IV Cilacap membawahi :


a. Manager Engineering and Development
b. Manager Legal and General Affair
c. Manager Health and Safety Environmental
d. Manager Procurement
e. Manager Reliability
f. Senior Manager Operation and Manufacturing
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

30

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

g. OPI Coordinator
h. Manager Refinery Internal Audit Cilacap
i. Manager Marine Region IV
j. Manager Refinery Finance Offsite Support Region II
k. Manager Human Resources Area
l. IT RU IC Cilacap Area Manager
m. Director of Pertamina Hospital Cilacap

Sedangkan Senior Manager Operation and Manufacturing membawahi 6


manager, yaitu: Manager Production I, Manager Production II, Manager
Refinery Planning and Optimization, Manager Maintenance Planning and
Support, Manager Maintenance Execution, dan Manager Turn Around.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

31

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB III
KONDISI EKSISTING PENGELOLAAN LIMBAH B3
DI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP

3.1. Gambaran Umum Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap
Bagian yang bertugas untuk menangani pengelolaan limbah B3 di PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah Environment Section (Lindungan
Lingkungan) yang berada di bawah HSE (Health Safety and Environment).
Environment Section melakukan identifikasi limbah B3 dan menyampaikannya ke
tiap unit yang menghasilkan limbah B3. Setelah menerima daftar identifikasi
limbah B3, tiap unit menggunakannya sebagai acuan untuk identifikasi jenis,
jumlah dan sumber limbah B3 yang dihasilkan. Jika unit tersebut akan melakukan
serah terima limbah B3, maka diharuskan untuk mengisi Formulir Berita Acara
Penyerahan Limbah B3 dan menyerahkannya kepada Environment Section.
Limbah yang diserahkan dari tiap unit kepada Environment Section
diletakkan dalam kemasan atau wadah khusus limbah B3 yang sesuai standar.
Selanjutnya limbah B3 akan menjadi tanggung jawab penuh Environment Section.
Mereka akan menempatkan limbah B3 di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS)
atau gudang limbah B3 setelah sebelumnya melakukan penimbangan dan
pelabelan. Sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut seperti pemanfaatan atau
pemusnahan, limbah B3 dapat disimpan selama maksimal 90 hari di gudang atau
TPS tersebut. Apabila tidak memiliki izin untuk mengelola sendiri, maka
Environment Section akan merencanakan dan melaksanakan pengelolaan limbah
B3 dengan bekerjasama dengan pihak ketiga.

3.2. Regulasi Terkait Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap
Sesuai dengan Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 59, PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap memiliki kewajiban untuk mengelola limbah B3 yang dihasilkannya.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

32

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah
B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. Dalam
pengelolaan ini apabila PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak mampu
melakukan semuanya sendiri, maka dapat dilakukan penyerahan pengelolaan ke
pihak lain sesuai kesepakatan.
Secara spesifik, pengelolaan limbah B3 diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun dan juga dalam PP No. 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah No. 18 tahun 1999. Untuk selanjutnya kedua peraturan itu dapat
disebut dengan PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999. Dalam peraturan
ini diatur mengenai tata cara pengelolaan limbah B3 yang diperlukan bagi
penghasil limbah B3 atau para pelaku pengelola limbah B3 seperti pengumpul,
pengolah, pemanfaat, pengangkut dan penimbun limbah B3.
Selain itu juga terdapat peraturan lain yang digunakan oleh PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap, yaitu:

Permen LH No.18 tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan


Limbah B3

Kep-01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis


Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 tentang


Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.03 tahun 2008 tentang


Tata Cara Pemberian Simbol dan Label B3

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 30 Tahun 2009 tentang


Tata Laksana Perizinan dan Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun serta Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun oleh Pemerintah Daerah

3.3. Izin Terkait Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap
Dalam pengelolaan limbah B3 diwajibkan terdapat izin pengelolaan dari
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. Hal ini
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

33

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

tercantum dalam UU NO. 32 Tahun 2009 Pasal 59. Karena itulah dalam
pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap memiliki berbagai izin, yaitu:

Keputusan Bupati Cilacap No. 660.1/133/30/tahun 2011 tentang


Pemberian Ijin Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
kepada PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.128/MenLH/2003 tentang Tata


Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah
Terkontaminasi oleh Minyak Bumi Biologis

Keputusan Bupati Cilacap No.050/22/30/tahun2012 tanggal 22 Mei 2012


tentang Pemberian Ijin Pembuangan Air Limbah kepada PT.Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap

3.4. Sumber dan Jenis Limbah B3 yang Dihasilkan PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap
Pada Gambar 3.1. dapat dilihat limbah-limbah B3 yang dihasilkan dari
berbagai kegiatan produksi di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Untuk
pencatatan di neraca limbah, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap membagi
limbah B3 yang dihasilkannya ke dalam 26 kelompok, yaitu:
1. Chloride Adsorbent (spent
adsorbent)
2. Kemasan (botol/kaleng)
bekas B3
3. Material terkontaminasi
(majun, filter, serbuk gergaji,
sarung tangan, cellusorb, dll)
4. Ceramic ball (spent
adsorbent)
5. Mineral wool / rockwool
(isolasi)
6. Molecular sieve (spent

7. Spent clay (spent clay)


8. Used accu / battery
9. Sulphur
10. Used lamp (limbah kantor
B3)
11. Used cartridge and toner
(limbah kantor B3)
12. Tanah terkontaminasi
(material terkontaminasi)
13. Asphalt kotor (produk off.
spec)
14. Slack wax (produk off. spec)

adsorbent)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

34

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

15. Limbah cair (dari

21. Adsorbent PSA (spent

laboratorium)

adsorbent)

16. Pyrite

22. Karat terkontaminasi

17. Spent activated carbon (spent

23. Oli bekas

adsorbent)

24. Zeolite

18. Activated alumina (spent


adsorbent)

25. Spent catalyst


26. Rocksalt

19. Debu catalyst (spent catalyst)


20. Sludge

Gambar 3.1. Skema Kegiatan di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


dan Limbah B3 yang Dihasilkan
(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

35

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Pada Gambar 3.2. di bawah ini dapat dilihat beberapa limbah yang dihasilkan
oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Oil sludge (Cake)

Tanah
terkontaminasi

Oil sludge

Cellusorb

Kemasan bekas B3

Lampu bekas

Spent catalyst
Ex 13 RI

Aki bekas

Majun
terkontaminasi

Spent catalyst
S 12

Rockwool

Slack wax

Spent catalyst
TA 5

Cartridge bekas

Sulphur

Molecular sieve

Ceramic ball

Zeolite

Activated allumina

Gambar 3.2. Beberapa Limbah B3 yang Dihasilkan PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap
(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

36

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

3.5. Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


3.5.1. Reduksi Limbah B3
Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi
jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3, sebelum dihasilkan
dari suatu kegiatan. Kegiatan reduksi bisa dilakukan dengan menerapkan good
housekeeping, substitusi bahan baku dan bahan tambahan dan juga modifikasi
proses. Saat ini yang bisa dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
hanyalah kegiatan good housekeeping yang dilakukan rutin dan berkala setiap 1
bulan sekali di seluruh area kilang.

3.5.2. Pengemasan dan Pewadahan Limbah B3


Pengemasan limbah B3 perlu diperhatikan dengan baik supaya limbah B3
tidak tersebar kemana-mana sehingga membahayakan lingkungan. Dalam
mengemas dan mewadahi limbah B3, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
menggunakan drum logam berukuran 200 liter, bak kontainer plastik IBC
(Intermediate Bulk Container) berukuran 1000 liter, tong plastik biru 250 liter dan
jumbo bag dengan kapasitas berat maksimal 1000 kg. Limbah yang berada dalam
satu wadah merupakan limbah yang jenisnya sama. Prosedur ini nyaris sama
untuk setiap jenis limbah yang dihasilkan.
Sebelum diletakkan dalam drum, limbah B3 tidak diwadahi dengan inert
bag. Selain itu ada pula beberapa drum yang tidak memiliki penutup dan cincin
pengunci. Drum yang memiliki penutup dan pengunci hanyalah drum yang berisi
limbah spent adsorbent, molecular sieve, ceramic ball, dan spent catalyst.
Sedangkan drum yang tidak berpenutup dan berpengunci tersebut digunakan
untuk limbah B3 seperti lampu bekas, cartridge bekas, filter bekas, dan rockwool.
Wadah berupa IBC dan tong plastik digunakan untuk limbah cair yang berasal
dari kegiatan laboratorium, sedangkan wadah berupa jumbo bag digunakan untuk
sand filter. Pada Gambar 3.3., Gambar 3.4. dan Gambar 3.5. dapat dilihat
pengemasan limbah B3 dalam berbagai kemasan yang dilakukan oleh PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

37

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 3.3. Pengemasan Limbah Cartridge Bekas dalam Drum Logam

Gambar 3.4. Pengemasan Limbah Sand Filter dalam Jumbo Bag

Gambar 3.5. Pengemasan Limbah Cair dalam IBC

3.5.3. Pelabelan Limbah B3


Label yang digunakan adalah label identitas limbah B3, label simbol limbah
B3 serta label penanda kemasan kosong (Gambar 3.8.). Tidak digunakan label
penunjuk tutup kemasan pada drum walaupun drum tersebut memiliki penutup.
Label identitas limbah B3 diisi oleh penghasil limbah B3, yaitu PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap yang dilakukan oleh petugas TPS limbah B3 dengan
melihat data pada buku catatan inventarisasi limbah B3 yang terdapat di TPS.
Pada label identitas limbah B3 (Gambar 3.6.) terdapat keterangan nama,
alamat dan nomor telepon perusahaan penghasil limbah B3, nomor kode unit yang
menghasilkan limbah, tanggal pengemasan, kode limbah, jenis dan jumlah
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

38

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

limbah, sifat limbah dan nomor drum kemasan. Sifat limbah ini selain ditulis
dalam label identitas limbah juga diberitahukan melalui penempelan label simbol
limbah B3 seperti pada Gambar 3.7..

Gambar 3.6. Label Identitas Limbah B3 pada Drum Kemasan Limbah B3

(a) Korosif

(b) Beracun

Gambar 3.7. Label Simbol Limbah B3

Gambar 3.8. Tong Plastik Wadah Limbah B3 yang Diberi Label Wadah
Kosong

3.5.4. Pengangkutan Limbah B3


Pengangkutan limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
dilakukan secara internal maupun eksternal. Pengangkutan internal dilakukan oleh
unit-unit dalam perusahaan yang menghasilkan limbah B3 menuju ke TPS limbah
B3. Penyerahan limbah B3 dari unit penghasil ke TPS disertai dengan dokumen
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

39

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

berupa Berita Acara Serah Terima Limbah B3 yang diisi oleh pihak penghasil
dan pihak penerima yang dalam hal ini merupakan bagian Environment Section.
Unit penghasil biasanya menggunakan pick-up atau truk untuk mengangkut
limbahnya ke TPS. Frekuensi pengangkutan limbah tidak tentu tergantung dengan
keberadaan limbah yang dihasilkan di unit-unit tersebut. Limbah-limbah B3 dari
berbagai unit tersebut akan diletakkan di dalam TPS limbah B3 dan diatur
penempatannya dengan menggunakan forklift supaya tertata rapi dan sesuai
dengan aturan yang berlaku.
Pengangkutan selanjutnya adalah pengangkutan eksternal (Gambar 3.9.).
Pengangkutan ini merupakan pengangkutan limbah B3 dari TPS yang dilakukan
oleh pihak ketiga yang memiliki kesepakatan dengan PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap untuk kegiatan pengolahan limbah B3. Pihak ketiga yang memiliki
kesepakatan dengan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dalam pengolahan
limbah B3 adalah PT Pasadena Metric Indonesia, PT Wastec Internasional dan PT
Holcim Indonesia Tbk.

Gambar 3.9. Pengangkutan Eksternal Menuju Tempat Pengolahan


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

3.5.5. Penyimpanan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap hanya memiliki 1 buah gudang
limbah B3 yang dijadikan Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) yang terletak di
koordinat 1090006 BT dan 074149 LS (Gambar 3.10.). TPS ini berukuran
35 m x 20 m x 12 m dengan layout seperti terlihat di Gambar 3.11. Selain itu
juga terdapat tempat penyimpanan sementara berupa sludge pond (Gambar 3.12.)
untuk menampung sludge dari berbagai sumber dalam area kilang RU-IV. Lokasi
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

40

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

sludge pond ini terletak pada koordinat 1095987.4 BT dan 074141.65,9


LS dengan ukuran 4,5 m x 20 m x 2 m (Gambar 3.13.). Kedua TPS tersebut
sudah mendapat izin dari Bupati Cilacap melalui Keputusan Bupati Cilacap
No.660.1/133/30/Tahun 2011 tentang Pemberian Ijin Penyimpanan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun kepada PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
dengan masa berlaku 5 tahun hingga tahun 2016. Pada Gambar 3.14. dan
Gambar 3.15. dapat dilihat kondisi TPS dan penataan drum limbah B3 di dalam
TPS, sedangkan pada Gambar 3.16. dapat dilihat kondisi sludge pada sludge
pond.

Gambar 3.10. Gudang TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap

BAGIAN I

BAGIAN II

BAGIAN III

Gambar 3.11. Layout Gudang TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

41

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 3.12. Sludge Pond PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: Nina, 2008)

Gambar 3.13. Layout Sludge Pond PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


(Sumber: Lampiran Keputusan Bupati Cilacap No.660.1/133/30/Tahun
2011)

Gambar 3.14. Kondisi TPS Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

42

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 3.15. Penataan Drum Limbah B3 di dalam TPS

Gambar 3.16. Sludge pada Sludge Pond


(Sumber: Nina, 2008)

3.5.6. Pengolahan Limbah B3


Pada dasarnya PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak melakukan
pengolahan limbah B3-nya sendiri karena belum mendapat izin pengolahan
limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Oleh karena itu, proses
pengolahan diberikan kepada pihak ketiga yang telah memiliki izin KLH. Saat ini
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap memiliki kontrak dengan PT Pasadena
Metric Indonesia dan PT Wastec Internasional dalam mengolah limbah B3.
Sebelumnya PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap memiliki insinerator untuk
membakar limbah B3 tapi saat ini sudah tidak digunakan karena hasilnya kurang
efektif dan izin penggunaannya tidak diteruskan. PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap juga memiliki nota kesepakatan (MoU) dengan PT Holcim Indonesia Tbk
untuk mengolah limbah B3 yang dihasilkannya dengan teknologi co-processing.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

43

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

3.5.7. Pemanfaatan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap saat ini hanya melakukan
pemanfaatan limbah B3 dengan menggunakan drum bekas wadah bahan kimia,
minyak, katalis dan slack wax sebagai tong sampah yang diletakkan di area PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Drum bekas wadah B3 ini juga dimanfaatkan
sebagai rotary kiln dan wadah untuk mengemas limbah B3. Sebelumnya PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap juga pernah memanfaatkan katalis bekas
sebagai paving block, akan tetapi saat ini tidak dilanjutkan karena tidak
meneruskan lagi izinnya ke Kementerian Lingkungan Hidup.

3.5.8. Dokumen Pengelolaan Limbah B3


Dalam kegiatan pengelolaan limbah B3 terdapat berbagai macam dokumen
yang diperlukan saat melakukan transaksi dan pengangkutan limbah B3.
Dokumen yang dibutuhkan saat transaksi antara penghasil limbah dengan pihak
yang akan menyimpan sementara merupakan lembar berita acara. PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap, dengan berpedoman pada Tata Kerja Organisasi (TKO)
B-005 tentang Pengelolaan Limbah B3, pihak penghasil limbah B3 yang
merupakan berbagai unit di area kilang wajib mengisi formulir pemberitahuan
limbah B3 yang dihasilkan dan juga mengisi berita acara serah terima limbah B3
dengan pihak Environment Section supaya limbah tersebut dapat disimpan di TPS
limbah B3.
Setelah itu apabila limbah akan diolah pihak ketiga, maka dibutuhkan
dokumen manifestasi atau shipping paper yang diisi oleh pihak penghasil (PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap) dan juga pihak pengolah (PT Pasadena
Indonesia atau PT Wastec Internasional) yang melakukan pengangkutan limbah
B3 tersebut dari Pertamina.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

44

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
4.1. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Pada prinsipnya pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun di
Indonesia telah mengacu pada prinsipprinsip yang terdapat dalam pedoman
pembangunan berkelanjutan yang telah diatur dalam UU No. 32 tahun 2009.
Secara spesifik, pasal 59 dalam UU tersebut menggariskan bahwa:

Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan


limbah B3 yang dihasilkannya.

Dalam hal penanganan B3 yang telah kadaluarsa, maka pengelolaannya


mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.

Apabila produsen limbah B3 tidak mampu mengelola sendiri limbah yang


dihasilkan, maka pengelolaannya wajib diserahkan ke pihak lain.

Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari menteri, gubernur, atau


bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan


lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi
pengelola limbah B3 lain.

Keputusan pemberian izin harus diumumkan.


Pembuatan undang undang atau peraturan seperti yang telah disebutkan di

atas dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain:


1. Meningkatnya penggunaan bahan berbahaya dan beracun pada berbagai
kegiatan, antara lain seperti perindustrian, pertambangan, kesehatan, rumah
tangga, dan kegiatan lainnya.
2. Meningkatnya upaya pengendalian pencemaran udara dan pengendalian
pencemaran air, yang menghasilkan lumpur atau sludge dan debu yang
mengandung sifat berbahaya dan beracun.
3. Dampak penting atau pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan limbah
B3 terhadap lingkungan dan manusia.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

45

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4. Indonesia merupakan salah satu negara tujuan tempat pembuangan limbah B3.
(Haruki, A. 2006)

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pengelolaan limbah B3, hal


substansial pertama yang mutlak dibutuhkan adalah pengertian dari B3, limbah
B3, dan pengelolaan limbah B3. B3, yang merupakan bahan berbahaya dan
beracun, berbeda dengan limbah B3. Menurut PP 74/2001, B3 adalah bahan yang
karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup,
dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Sementara, menurut PP 18/1999,
limbah adalah sisa usaha dan/atau kegiatan dan limbah B3 adalah sisa suatu usaha
dan/atau kegiatan yang mengandung bahan yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lain.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat terlihat perbedaan antara B3 dan
limbah B3. Jika B3 adalah bahan yang mengandung sifat berbahaya dan beracun
yang akan digunakan untuk suatu kegiatan, maka limbah B3 adalah sisa dari suatu
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Pengelolaan B3 dan
pengelolaan limbah B3 pun akan berbeda. Dalam laporan ini ruang lingkup yang
digunakan terbatas pada pengelolaan limbah B3.
Menurut PP 18/1999, pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan
yang

mencakup

reduksi,

penyimpanan,

pengumpulan,

pengangkutan,

pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah. Reduksi limbah B3 adalah


suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat
bahaya dan racun limbah B3, sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan.
Penyimpanan limbah B3 adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan
oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah
dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara.
Pengumpulan limbah B3 adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

46

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

oleh penghasil limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara sebelum


diserahkan kepada pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3.
Masih menurut PP 18/1999, pengangkutan limbah B3 adalah suatu kegiatan
pemindahan limbah B3 dari penghasil dan/atau dari pengumpul dan/atau dari
pemanfaat dan/atau dari pengolah ke pengumpul dan/atau ke pemanfaat dan/atau
ke pengolah dan/atau ke penimbun limbah B3. Pemanfaatan limbah B3 adalah
suatu kegiatan perolehan kembali (recovery) dan/atau penggunaan kembali
(reuse) dan/atau daur ulang (recycle) yang bertujuan untuk mengubah limbah B3
menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus juga aman bagi lingkungan
dan kesehatan manusia. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah
karakteristik dan komposisi limbah B3 untuk menghilangkan dan/atau
mengurangi sifat bahaya atau sifat racun.
Terakhir, penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan
limbah B3 pada suatu fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan
kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Dalam PP 18/1999 juga diatur bahwa
setiap orang atau badan usaha yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan
pengelolaan limbah B3. Pengelolaan limbah B3 bertujuan untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang
sudah tercemar sehingga sehingga sesuai fungsinya kembali.
Menurut EPA, pembuangan limbah bukanlah hal pertama yang harus
dilakukan dalam melestarikan lingkungan. Langkah atau strategi yang seharusnya
dominan untuk dilakukan melainkan adalah minimasi limbah dan pencegahan
polusi. Berikut Gambar 4.1. menunjukkan skema pengelolaan limbah menurut
EPA.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

47

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 4.1. Hierarki Pengelolaan Limbah


(Sumber: EPA, 2009)

Langkah pertama yang paling disarankan dalam hirarki pengelolaan limbah


adalah mencegah timbulnya limbah pada sumbernya (waste prevention/waste
avoidance) sehingga tidak dihasilkan limbah. Upaya pencegahan ini dapat
dilakukan melalui penerapan prinsip produksi bersih (clean production) yaitu
melalui penerapan teknologi bersih, pengolahan bahan, substitusi bahan,
pengaturan operasi kegiatan, memodifikasi proses produksi, mempromosikan
penggunaan bahan-bahan yang tidak berbahaya dan beracun atau lebih sedikit
kadar bahaya dan racunnya, menerapkan teknik konservasi, dan menggunakan
kembali bahan daripada mengolahnya sebagai limbah sehingga dapat mencegah
terbentuknya limbah dan zat pencemar.
Langkah yang kedua, apabila pencegahan tidak dapat dilakukan, adalah
dengan berupaya melakukan minimisasi atau pengurangan limbah (reduction).
Upaya minimisasi limbah ini juga dapat dilakukan dengan cara menerapkan
produksi bersih. Penggunaan teknologi yang terbaik yang tersedia dapat
membantu mengurangi konsumsi energi dan sumber daya alam secara signifikan
yang pada akhirnya dapat mengurangi timbulnya limbah.
Langkah yang ketiga adalah pemanfaatan dengan cara penggunaan kembali
(reuse). Reuse adalah penggunaan kembali limbah dengan tujuan yang sama tanpa
melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal.
Langkah keempat adalah pemanfaatan dengan cara recycle, yaitu mendaur ulang
komponen-komponen yang bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia,

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

48

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

fisika,biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama


ataupun produk yang berbeda
Langkah yang kelima adalah pemanfaatan limbah dengan cara recovery,
yaitu perolehan kembali komponen-komponen yang bermanfaat dengan proses
kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Langkah yang keenam adalah
pengolahan (processing) limbah dengan metode yang memenuhi persyaratan
lingkungan dan keselamatan manusia. Contoh pengolahan yang umum adalah
pembakaran limbah (insinerasi) dan penimbunan (landfilling).
Penerapan prinsip hirarki limbah yang konsisten dapat mengurangi jumlah
limbah sehingga bisa menekan biaya pengolahan limbah dan juga dapat
meningkatkan kemanfaatan bahan baku yang pada gilirannya dapat mengurangi
kecepatan pengurasan sumber daya alam. Bagi perusahaan dan masyarakat,
penerapan prinsiphirarki pengelolaan limbah dapat berarti efisiensi biaya dan
keuntungan secara ekonomi. Meskipun prinsip hirarki pengelolaan limbah sudah
ditegaskan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia, namun sayangnya,
sebagian besar limbah di Indonesia masih dibuang secara sembarangan (open
dumping).
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini adalah tidak
adanya kebijakan pengelolaan limbah yang terintegrasi antara pencegahan
(prevention) dan pengendalian (control), dengan menerapkan prinsip hirarki
pengelolaan limbah secara konsisten. Adanya instrumen ekonomi dalam bentuk
insentif bagi keberhasilan pencegahan dan pengurangan limbah dan disinsentif
bagi produsen limbah sesuai dengan jumlah limbah yang dihasilkannya
merupakan kebutuhan yang mendesak untuk diterapkan di Indonesia saat ini

4.2. Peraturan Terkait Pengelolaan Limbah B3


Aspek aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan limbah
B3 telah diturunkan langsung dari UU No. 32/2009 ke dalam peraturan
pemerintah, PP No. 18 tahun 1999 jo. PP No. 85 tahun 1999. Peraturan ini berisi 8
bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal, menjelaskan tentang ketentuan umum,
identifikasi limbah B3, pelaku pengelolaan, kegiatan pengelolaan, tata laksana,
sanksi, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

49

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Limbah B3 sendiri didefinisikan sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan


yang mengandung bahan berbahaya yang dapat diidentifikasikan menuRU-t
sumber dan/atau uji karakteristik dan/atau toksikologi. (Pasal 6 PP No. 85 tahun
1999).
Dalam setiap tahapan dalam proses di sebuah industri dapat dipastikan
bahwa akan terdapat timbulan bahan terbuang atau yang lebih sering disebut
limbah. Hubungan antara proses yang terjadi serta limbah dalam sebuah proses di
industri dapat dilihat pada Gambar 4.2..

Gambar 4.2. Kaitan Komponen dalam Proses Industri


(Sumber: Damanhuri, 1994)

Peraturanperaturan yang telah ada sebelumnya mendefinisikan penghasil


limbah B3 terlalu luas, tidak hanya mereka yang bergerak dalam kegiatan yang
bersifat komersil namun juga termasuk perorangan yang menyimpan limbahnya
dalam lokasi kegiatannya sebelum limbah tersebut ditangani lebih lanjut sesuai
dengan peraturan yang ada. Namun regulasi ini tidak lagi dipertahankan karena
dinilai kurang memperhatikan kuantitas dan kualitas kontribusi dari penghasil
limbah, yang mana berujung pada rumitnya pengaturan bagi prosedur administrasi
izin pengelolaan limbah B3 yang harus dimiliki tiap produsen limbah B3. Maka,
pasal 6 PP No. 18 tahun 1999 menyebutkan bahwa pihak yang dapat dikatakan
sebagai penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya
menghasilkan limbah B3, baik perorangan, sekelompok orang orang, maupun
badan hukum.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

50

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Berikut ini adalah beberapa peraturan perundangan yang berkaitan langsung


dengan pengelolaan limbah B3.
1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009
UU ini berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 59 UU
tersebut menggariskan bahwa:
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan
pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.
Dalam

hal

B3

sebagaimana

dimaksud

telah

kadaluarsa,

pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.


Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri
pengelolaan limbah B3, pengelolaannya diserahkan kepada pihak
lain.
Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan
persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban
yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
2. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 jo. PP No 85 Tahun 1999
Peraturan ini mengatur tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan
beracun (B3).
3. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP01/BAPEDAL/09/1995
Keputusan ini menetapkan syarat-syarat penyimpanan dan pengumpulan
limbah B3 (termasuk penanggulangan dan penandaan).
4. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP02/BAPEDAL/09/1995
Keputusan ini menetapkan syarat-syarat tentang tentang dokumen limbah
B3.
5. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP03/BAPEDAL/09/1995
Keputusan ini menetapkan persyaratan teknis pengolahan limbah B3.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

51

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

6. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP04/BAPEDAL/09/1995


Keputusan ini menetapkan tata cara persyaratan penimbunan hasil
pengolahan, persyaratan lokasi bekas pengolahan, dan lokasi bekas
penimbunan limbah B3.
7. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.14 tahun 2013
Keputusan ini menggantikan Keputusan Kepala Badan Pengendalian
Dampak

Lingkungan

No.

KEP-05/BAPEDAL/09/1995

yang juga

menetapkan mengenai simbol dan label limbah B3.


8. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP68/BAPEDAL/05/1994
Keputusan ini menetapkan tata cara memperoleh izin penyimpanan,
pengumpulan,

pengoperasian

alat

pengolahan,

pengolahan,

dan

penimbunan akhir limbah B3.


9. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP02/BAPEDAL/01/1998
Keputusan ini menetapkan tata laksana pengawasan pengelolaan limbah
B3 di daerah.
10. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP255/BAPEDAL/08/1996
Keputusan ini menetapkan tata cara dan persyaratan penimpanan dan
pengumpulan minhyak pelumas bekas.

4.3. Identifikasi dan Klasifikasi Limbah B3


Penentuan apakah suatu limbah termasuk ke dalam kategori limbah B3
dilakukan melalui serangkaian pengujian yang berdasarkan dua parameter, sumber
dan sifat. Dalam PP 85/1999 dinyatakan bahwa limbah B3 dapat diidentifikasi
menurut

sumber

dan/atau

uji

karakteristik

dan/atau

uji

toksikologi.

Mengidentifikasi limbah sebagai limbah B3 dilakukan melalui tahapan sebagai


berikut:

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

52

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Langkah 1 : mencocokkan jenis limbah dengan daftar jenis limbah B3


sebagaimana Lampiran I PP 85/1999, dan apabila cocok dengan daftar
jenis limbah tersebut, maka limbah tersebut termasuk limbah B3.
Langkah 2 : apabila tidak cocok dengan daftar jenis limbah B3 tersebut,
maka diperiksa apakah limbah memiliki salah satu atau lebih
karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, beracun, bersifat
reaktif, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif.
Langkah 3 : apabila kedua tahapan tersebut sudah dilakukan dan tidak
memenuhi ketentuan limbah B3, maka dilakukan uji toksikologi.
Keterangan tambahan: daftar limbah dengan kode limbah D220
(Eksplorasi dan Produksi Minyak, Gas dan Panas Bumi), D221 (Kilang
Minyak dan Gas Bumi), D222 (Pertambangan), dan D223 (PLTU yang
Menggunakan Bahan Bakar Batu Bara) dapat dinyatakan limbah setelah
dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi.
Langkah 1 identifikasi limbah sebagai limbah B3 dimulai dengan
mengidentifikasi limbah berdasarkan sumbernya. Jenis limbah B3 menurut
sumbernya meliputi:
1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik
Sumber tidak spesifik adalah sumber limbah yang menghasilkan limbah
yang pada umumnya bukan berasal dari proses utamanya, tetapi berasal
dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi, pelarutan
kerak, pengemasan. Terdapat 43 jenis limbah yang termasuk kelompok ini.
2. Limbah B3 dari sumber spesifik
Sumber spesifik adalah limbah sisa proses suatu industri atau kegiatan
yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah. Sumber
limbah ini terbagi dalam 51 jenis kegiatan yang termasuk kelompok
penghasil limbah B3, salah satunya adalah kegiatan pertambangan.
3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan
buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

53

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Selain yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan, kelompok limbah


jenis ini juga merupakan kelompok limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi.
Terdapat 178 jenis bahan kimia yang termasuk kelompok limbah B3 ini.
Jika suatu limbah tidak termasuk ke dalam ketiga jenis limbah B3 menurut
sumbernya seperti di atas, maka identifikasi dilanjutkan dengan melakukan
Langkah 2, yaitu uji karakteristik limbah B3. Limbah dinyatakan sebagai limbah
B3 apabila setelah pengujian memiliki salah satu atau lebih dari karakteristik
limbah B3 adalah sebagai berikut:
1. Limbah mudah meledak.
Pada suhu dan tekanan standar (25C, 760 mmHg) dapat meledak, atau
melalui reaksi kimia atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan
tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya.
2. Limbah mudah terbakar.
Merupakan limbah-limbah yang mempunyai salah satu sifat:

Berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume,


dan/atau pada titik nyala 60C (140F), akan menyala apabila
terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber nyala lainnya,
pada tekanan 760 mmHg.

Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar


dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui
gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan,
dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus menerus.

Merupakan limbah yang bertekanan mudah terbakar.

Merupakan limbah pengoksidasi.

3. Limbah yang reaktif pada air.


Merupakan limbah yang memiliki beberapa sifat, antara lain:

Pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan


perubahan tanpa proses peledakan

Limbah yang bereaksi hebat dengan air

Limbah yang bila bercampur dengan air maupun uap air akan
menimbulkan ledakan/menghasilkan gas, uap, atau asap beracun

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

54

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia maupun


lingkungan

Limbah sianida, sulfida, atau amoniak yang pada pH antara 212,5


dapat menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang
akan membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan

Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau


menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil
dalam suhu tinggi

4. Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang


bersifat racun bagi manusia dan lingkungan sehingga dapat mengakibatkan
kematian atau sakit yang serius apabila terpapar. Indikator untuk limbah
bersifat racun pada umumnya adalah uji Toxicity Characteristic Leaching
Procedure atau uji TCLP.
5. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang dapat meyebabkan iritasi pada
kulit, proses perkaratan pada lempeng baja standar dengan laju korosi
lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55C, atau
yang memiliki pH 2 untuk limbah yang bersifat asam dan pH 12,5
untuk limbah yang bersifat basa.
6. Limbah yang menyebabkan infeksi merupakan limbah yang mengandung
bakteri pathogen sehingga memiliki potensi untuk menularkan penyakit
dari satu individu ke individu lain, umumnya terdiri dari limbah kegiatan
medis. Sifat-sifatnya adalah:

Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit.

Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja standar SAE1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan
temperatur pengujian 55C.

Mempunyai pH 2 untuk B3 bersifat asam, dan/atau pH 12,5


untuk B3 bersifat basa.

Apabila kedua langkah identifikasi limbah sudah dilakukan namun limbah


masih tidak memenuhi ketentuan limbah B3, maka dilakukan Langkah 3 yaitu uji
toksikologi/toksisitas. Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan/atau
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

55

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

kronis. Di Indonesia, bila batas TCLP tidak terlampaui, penghasil limbah masih
tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis.
Terdapat dua tahapan dalam uji toksisitas, yaitu:
Uji toksisitas untuk menentukan sifat akut limbah
Uji ini dilakukan terhadap hewan uji untuk mengukur hubungan antara
dosis limbah yang dikenakan terhadap hewan uji dengan respon berupa
kematian hewan uji, sehingga diperoleh nilai LD50. Baku mutu yang
digunakan untuk uji ini adalah apabila nilai dari LD50 > 20 mg/kg berat
hewan uji maka perlu dilakukan evaluasi sifat kronis.
Uji toksisitas untuk menentukan sifat kronis dari limbah
Sifat kronis dari limbah B3 (toksik, mutagenik, karsinogenik) ditentukan
dengan cara mengevaluasi sifat zat pencemar yang terdapat dalam limbah
dengan metodologi tertentu.
Setelah rangkaian pengujian tersebut di atas selesai dilakukan, maka
identifikasi karakteristik limbah sudah diketahui dan pengelolaan limbah secara
aman dapat diterapkan.

4.4. Karakteristik Limbah B3


Limbah yang berbahaya juga dapat dilihat dari karakteristik dan
toksikologinya. Karakteristik limbah B3 di Indonesia dicantumkan dalam PP No.
18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999, di Uni Eropa dicantumkan dalam
European Waste Framework Directive (2008/98/EC), dan di Amerika Serikat
dicantumkan oleh USEPA. Daftar karakteristik limbah B3 di masing-masing
negara ditunjukkan dalam Tabel 4.1. berikut.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

56

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 4.1 Karakteristik Limbah B3 menurut Peraturan di Indonesia,


Eropa, dan Amerika
No.

PP No. 18 jo PP
85 th. 1999

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Mudah meledak
Mudah terbakar
Reaktif
Beracun
Infeksius
Korosif

Karakteristik limbah B3
European Waste Framework
Directive (2008/98/EC)

USEPA

Mudah meledak
Beracun
Pengoksidasi
Korosif
Sangat mudah terbakar
Mudah
menyala
Mudah terbakar
Reaktif
Iritan
Berbahaya
Beracun
Karsinogenik
Infeksius
Beracun untuk sistem
reproduksi
Mutagenik
Limbah yang melepaskan gas
beracun
Sensitisasi
Ekotoksik
(Sumber: PP No. 18 jo PP 85 th. 1999, European Waste Framework
Directive (2008/98/EC), RCRA)

Di Indonesia, definisi dari karakteristik limbah yaitu sebagai berikut:


a. Mudah Meledak
Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan
standar (250OC, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia
dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi
yang dapat dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya.
b. Mudah Terbakar
Limbah mudah terbakar: termasuk limbah bertekanan yang mudah
terbakar, limbah pengoksidasi, limbah cair yang mengandung alkohol
24% volume, dan atau pada titik nyala 60F akan menyala apabila
terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber nyala lainnya.
Sedangkan yang bukan berupa cairan, yang pada temperatur dan tekanan
standar (25oC, 760 mmHg) dapat mudah menyebabkan kebakaran
melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

57

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran terus


menerus.
c. Reaktif
Limbah yang reaktif pada air adalah limbah yang memiliki beberapa
sifat, antara lain:
pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan
tanpa proses peledakan
limbah yang bereaksi hebat dengan air
limbah yang bila bercampur dengan air maupun uap air akan
menimbulkan ledakan/menghasilkan gas, uap, atau asap beracun
dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia maupun
lingkungan
limbah sianida, sulfida, atau amoniak yang pada pH antara 2 12,5
dapat menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang
akan membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan
limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima
oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu
tinggi
d. Beracun
Limbah yang beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang
bersifat

racun

bagi

manusia

dan

lingkungan

sehingga

dapat

mengakibatkan kematian atau sakit yang serius apabila terpapar.


Indikator untuk limbah bersifat racun pada umumnya adalah uji Toxicity
Characteristic Leaching Procedure atau uji TCLP yang merupakan batas
aman yang dikembangkan oleh USEPA, yang merupakan simulasi
terburuk kondisi landfill, yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada
air tanah, yang airnya digunakan secara rutin. Simulasi transportasi
pencemar ini, menghasilkan batas aman yang memperhitungkan
probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker.
Namun, dalam versi Indonesia, bila ambang batas TCLP tidak
terlampaui, penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji
toksisitas akut maupun kronis.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

58

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

e. Menyebabkan Infeksi
Limbah yang menyebabkan infeksi merupakan limbah yang mengandung
bakteri pathogen sehingga memiliki potensi untuk menularkan penyakit
dari satu individu ke individu lain, umumnya terdiri dari limbah kegiatan
medis. Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia
yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi,
limbah darilaboratoriumatau limbah lainnya yang terinfeksi kuman
penyakit yang dapat menular. Limbah ini berbahaya karena mengandung
kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera, yang ditularkan pada
pekerja, pembersih jalan dan masyarakat lain di sekitar lokasi
pembuangan limbah.
f. Korosif
Limbah bersifat korosif adalah limbah yang dapat meyebabkan iritasi
pada kulit, proses perkaratan pada lempeng baja standar dengan laju
korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian
55C, atau yang memiliki pH 2 untuk limbah yang bersifat asam dan
pH 12,5 untuk limbah yang bersifat basa
g. Limbah B3 Campuran
Materi limbah kadangkala menjadi lebih berbahaya bila berada dalam
kondisi tercampur dengan bahan lain. Kadangkala secara tidak sengaja
terjadi pencampuran antara 2 materi yang asalnya tidak berbahaya.
Pencampuran bahan berbahaya dapat menyebabkan:
Timbulnya bahan toksik
Timbulnya gas bakar yang dapat menimbulkan kebakaran atau
ledakan,
Panas akibat reaksi kimia yang terjadi akan dapat membakar bahan
mudah terbakar di sekitarnya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

59

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4.5. Prinsip Pengelolaan Limbah B3


Pengertian pengelolaan limbah B3 sesuai dengan pasal 1 PP No. 18 tahun
1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup
reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan
limbah, dan penimbunan limbah B3. Adanya kewajiban bagi setiap produsen
limbah untuk mengelola limbahnya memiliki tujuan untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang diakibatkan
oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah
tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali.
Rangkaian pengelolaan limbah B3 tersebut merupakan mata rantai yang
berurutan. Setiap mata rantai tersebut memerlukan pengawasan dan pengaturan.
Oleh karena itu, PP tersebut juga mengatur masalah perizinan bagi mereka yang
terlibat dalam kegiatan operasional tersebut. Badan yang mempunyai kewenangan
untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 di Indonesia adalah Kementerian
Lingkungan Hidup. Hal ini tertuang dalam PP tersebut bahwa setiap badan usaha
yang melakukan kegiatan:
Penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan
limbah B3 wajib memiliki izin operasi dari kepala instansi yang bertanggung
jawab.
Pengangkut limbah B3 wajib memiliki izin pengangkutan dari menteri
perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari kepala instansi yang
bertanggung jawab.
Pemanfaatan limbah B3 sebagai kegiatan utama wajib memiliki izin
pemanfaatan dari instansi yang berwenang memberikan izin pemanfaatan
setelah mendapat rekomendasi dari kepala instansi yang bertanggung jawab.
Masih berdasarkan PP yang sama dituliskan bahwa penghasil limbah B3
wajib membuat dan menyimpan catatan tentang:

Jenis, karakteristik, jumlah dan waktu dihasilkannya limbah B3.

Jenis, karakteristik, jumlah dan waktu penyerahan limbah B3.

Nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada


pengumpul atau pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

60

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Penghasil limbah B3 wajib menyampaikan catatan tersebut sekurangkurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab
dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamadya Kepala
Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
Catatan tersebut dipergunakan untuk :

Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dihasilkan.

Sebagai bahan evaluasi dalam rangka penetapan kebijaksanaan dalam


pengelolaan limbah B3.

4.5.1. Konsep 3R Pengelolaan Limbah B3


Penanganan limbah B3 yang mengacu pada PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP
No. 85 tahun 1999 mengarah ke pengelolaan limbah B3 yang berdasar pada
konsep cleaner production. Konsep reduksi limbah di sumber ini ditegaskan pada
pasal 9 yang berisi tentang kewajiban reduksi mulai dari bahan baku maupun
limbah yang akan timbul, dan melakukan pengolahan atau penimbunan bagi
limbah yang ditimbulkannya. Apabila kegiatan reduksi yang telah dilaksanakan
masih menghasilkan limbah, maka sebisa mungkin limbah tersebut dimanfaatkan
kembali, baik dilakukan oleh perusahaan itu sendiri maupun memanfaatkan jasa
dari perusahaan lain.
Pengelolaan limbah B3 yang bertujuan untuk menjaga lingkungan hidup
dari pencemaran menganut beberapa prinsip yang diitegrasikan dengan metode
penanganan di lapangan, mencakup pengelolaan di sumber sampai ke pengolah
limbah. Prinsip prinsip tersebut adalah:
a. Minimasi limbah B3
Prinsip ini merupakan upaya untuk mereduksi kuantitas limbah yang dihasilkan
oleh sebuah badan/lembaga/industri, minimasi limbah B3 ini meliputi:

Reuse: penggunaan kembali limbah B3 dengan tujuan yang sama tanpa


melalui proses tambahan secara kimia dan/atau fisika dan/atau biologi
dan/atau termal.

Recycle: mendaur ulang komponen yang bermanfaat melalui proses


tambahan secara kimia dan/atau fisika dan/atau biologi dan/atau secara

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

61

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

termal yang menghasilkan produk yang sama ataupun produk yang


berbeda.

Recovery: perolehan kembali komponenkomponen yang bermanfaat


dengan proses kimia dan/atau fisika dan/atau biologi dan/atau secara
termal.

Substitusi bahan baku dengan limbah B3 yang masih memenuhi


karakteristik sebagai bahan pengganti.

b.

Pengelolaan

secara

terpadu

(produksi,

penyimpanan,

penggunaan,

pengangkutan, pengedaran, dan pembuangan).


c. Berpegang pada prinsip pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas
hidup manusia.
d. Cradle to grave (Gunadarma, 1997)

Jalan yang dapat ditempuh dalam mereduksi limbah yang akan timbul antara lain
adalah meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyimpanan bahan baku, substitusi
bahan baku dengan yang tidak mengandung potensi bahaya, modifikasi proses
agar tidak menghasilkan buangan yang berbahaya, dan upayaupaya reduksi
lainnya yang ditentukan oleh pihak instansi yang berwenang. Di Amerika Serikat
sempat akan diadakan pemberian pajak tambahan kepada industri yang
menghasilkan limbah B3, akan tetapi tindakan pemberian pajak ini dapat
menimbulkan kecenderungan industri tersebut untuk melakukan pembuangan
limbah B3 secara illegal (Sigman, 2003).

4.5.2. Mekanisme Cradle To Grave


Seperti yang dipaparkan dalam PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun
1999, penanganan limbah B3 merupakan serangkaian kegiatan yang mencakup
penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, dan pengolahan
termasuk penimbunan hasil dari pengolahan limbah B3 tersebut. Dalam rangkaian
kegiatan di atas, setiap mata rantai yang terlibat dalam kegiatan di atas tentu
memerlukan pengawasan dan pengaturan dari badan yang berwenang, terutama
masalah perizinan bagi yang akan terlibat dalam bisnis kegiatan operasional
terkait pengelolaan limbah B3 ini.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

62

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Badan yang memiliki kewenangan untuk mengawasi pengelolaan limbah B3


di Indonesia sampai saat ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH),
instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.
Perjalanan limbah dari mata rantai awal sampai yang terakhir dikendalikan
dengan sistem manifest berupa dokumen limbah B3. Sistem ini dapat
menunjukkan berapa jumlah limbah B3 yang dihasilkan dan berapa yang telah
dimasukkan ke dalam proses pengolahan dan penimbunan tahap akhir yang telah
memiliki persyaratan lingkungan.
Dokumen ini, yang dikenal pula dengan nama shipping papers dengan
format yang telah dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No.
02/Bapedal/09/1995, antara lain terdiri dari:
a) Bagian I (diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3)

Nama dan alamat penghasil limbah atau pengumpul yang menyerahkan


limbah

Nomor identifikasi (UN/NA)

Kelompok kemasan

Kuantitas

Kelas bahaya dari limbah tersebut

Tanggal penyerahan limbah

Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul, dilengkapi tanggal, untuk


menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis
serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku.

b) Bagian II (diisi oleh pengangkut limbah)

Nama dan alamat pengangkut limbah B3

Tanggal pengangkutan limbah B3

Tanda tangan pejabat pengangkut limbah B3

c) Bagian III (diisi oleh pengolah/pengumpul limbah B3)

Nama dan alamat pengolah/pengumpul/pemanfaat limbah B3

Tanda tangan pejabat pengolah, pengumpul, atau pemanfaat, dilengkapi


tanggal, untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

63

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

keterangan dari penghasil yang akan diproses sesuai peraturan yang


berlaku
d) Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat,
maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada produsen dengan keterangan:

Jenis limbah B3 dan jumlah

Alasan penolakan

Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian.

Dokumen ini dibuat dalam rangkap 7 dengan pengangkutan yang terjadi


hanya 1 kali. Apabila terdapat lebih dari 1 kali pengangkutan (antar
moda), maka dibutuhkan rangkap yang lebih banyak tergantung dari
jumlah pergantian moda transportasi. Dokumen atau manifest ini
merupakan sarana pengawasan yang diadaptasi dari konsep cradle to
grave dari Amerika Serikat.

Skema rantai perjalanan limbah beserta manifestnya dapat dilihat pada


Gambar 4.3. di bawah ini.

Gambar 4.3. Mata Rantai Perjalanan Limbah B3 dan Manifestasinya


(Sumber: Damanhuri, 1994)

Badan yang berwenang untuk mengawasi pengelolaan limbah B3 dari


perusahaan (Kementerian Lingkungan Hidup) memiliki hak untuk memasuki area
lokasi kegiatan, mengambil contoh limbah B3 untuk dianalisis di laboratorium,
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

64

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

meminta keterangan tentang pelaksanaan pengelolaan limbah, dan melakukan


pemotretan untuk kelengkapan pengawasan tersebut. Bentuk pengawasan itu
sendiri meliputi pemantauan penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan
administratif oleh pihak yang mengelola limbah B3 tersebut. Sedangkan pihak
pengelola yang terkait pun harus membantu sepenuhnya aktivitas pengawasan
yang dilakukan di daerah tanggung jawabnya.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam kedua PP itu adalah kesehatan dan
keselamatan pekerja yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan ini serta tanggung
jawab pengelola bila terjadi kecelakaan serta pencemaran. Salah satu kewajiban
pihak pengelola adalah mengadakan pemeriksaan kesehatan bagi pekerjanya yang
bekerja atau mengalami kontak dengan B3 maupun limbahnya. Pemeriksaan ini
harus dilakukan secara berkala untuk mendeteksi sedini mungkin apabila terjadi
kontaminasi oleh bahan berbahaya. Apabila pihak pengelola tidak mampu
melakukan penanggulangan kepada pekerja yang mengalami kontaminasi, maka
instansi yang bertanggung jawab akan melakukan upaya penanggulangan dengan
biaya penanggulangan yang dibebankan kepada pihak pengelola.

4.6. Pengelolaan Limbah B3 di Indonesia


Di Indonesia sendiri penanganan limbah B3 yang mencakup pengemasan,
pelabelan dan simbol, penyimpanan, maupun pengangkutan ini didasarkan pada:

Kep68/Bapedal/05/1994; tentang tata cara memperoleh izin pengelolaan


B3

Kep-01/Bapedal/09/1995; tentang tata cara dan persyaratan teknis


penyimpanan dan pengumpulan limbah B3

Kep02/Bapedal/09/1995; tentang dokumen limbah B3

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 tentang


Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Kep225/Bapedal/08/1996; tentang tata cara dan persyaratan penyimpanan


dan pengumpulan minyak pelumas bekas.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

65

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4.6.1. Pengemasan Limbah B3


Ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 di Indonesia
mengacu kepada Kep01/Bapedal/09/1995. Alat pengemas yang umum
digunakan adalah drum baja, kotak kayu, drum fiber, botol gelas dan sebagainya.
Keterangan alat pengemas ini perlu dicantumkan dalam surat pengangkutan.
Kriteria dari proses pengemasan yang baik adalah tidak adanya kebocoran
(material berbahaya yang keluar dari kemasan), keefektifan dari material tidak
berkurang selama masa penyimpanan, dan terisolasi dari kemungkingan
tercampur dengan gas atau uap.
Bentuk, ukuran, serta bahan kemasan yang digunakan untuk mewadahi
limbah B3 yang dihasilkan atau dikumpulkan harus disesuaikan dengan
karakteristik dari limbah B3 tersebut, dengan mempertimbangkan faktor
keamanan dan kemudahan untuk menanganinya. Maka dari itu setiap produsen
atau pengumpul limbah B3 harus mengetahui dengan pasti karakteristik bahaya
dari setiap limbah B3 yang dihasilkan atau dikumpulkannya. Pengisian limbah
dalam satu kemasan harus mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah,
pengaruh

pemuaian,

pembentukan

gas,

dan

kenaikan

tekanan

selama

penyimpanan. Limbah yang akan disimpan dalam satu kemasan adalah limbah
dari jenis yang sama. Bila akan dicampur dengan jenis lain harus dengan yang
memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Apabila bekas kemasan akan
digunakan untuk mewadahi limbah lain yang memiliki karakteristik berbeda maka
bekas kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan diletakkan di
tempat penyimpanan B3 sampai akan digunakan kembali.
Sesuai Gambar 4.4., kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah
B3 yang berbentuk drum atau tong umumnya memiliki ukuran 50 liter, 100 liter,
dan 200 liter. Sedangkan yang berbentuk bak kontainer berpenutup memiliki
kapasitas 2 m, 4 m3, dan 8 m3. Kemasan yang telah terisi penuh harus diberi
simbol dan label berkaitan dengan material yang diwadahinya. Kemasan ini harus
selalu tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan pengisian
kembali atau pengambilan limbah. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik
(HDPE, PP, atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon, SS304, SS316, atau

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

66

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi
dengan limbah B3 yang disimpannya.

Gambar 4.4. Kemasan Limbah B3 Cair (A) dan Sludge atau Padat (B)
(Sumber: Damanhuri, 1994)

Pemeriksaan wadah atau kemasan yang digunakan setidaknya dilakukan 1


minggu sekali. Pemeriksaan ini dilakukan antara lain untuk mendeteksi secara
dini potensi kebocoran dari gangguan pada bahan kemasan, memonitor peralatan
pengendali luapan/tumpahan, dan memonitor areal di sekitar wadah untuk
mendeteksi kebocoran. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami
kerusakan (karat atau bocor), maka isi limbah B3 tersebut harus segera diangkat
dan dibersihkan, kemudian disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah.
Untuk mencegah terjadinya kebocoran material yang diwadahi, maka tangki
atau kemasan limbah B3 ini wajib dilengkapi dengan penampung sekunder seperti
tanggul atau pelapisan ganda pada dinding tangki. Selain akibat kebocoran,
penampung sekunder ini harus dapat menanggulangi cairancairan yang berasal
dari ceceran atau presipitasi.

4.6.2. Pelabelan Limbah B3


Setiap kemasan limbah B3 wajib diberi simbol dan label yang
menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3, maka dari itu dibutuhkan standar
bagi pelabelan dan simbol agar dapat dimengerti secara luas oleh pihakpihak
yang terkait dengan pengelolaannya.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

67

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Penerapan pelabelan yang diterapkan di Indonesia mengacu pada Peraturan


Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 tentang Simbol dan Label
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang menggantikan peraturan sebelumnya
yaitu Keputusan Bapedal No. 05/Bapedal/09/1995.
Penandaan limbah B3 dimaksudkan untuk memberikan identitas limbah B3
sehingga dapat dikenali. Melalui penandaan dapat diketahui informasi dasar
tentang jenis dan karakteristik limbah B3 bagi:
Pelaksana pengelolaan limbah B3
Pengawas pengelolaan limbah B3
Setiap orang atau masyarakat di sekitarnya
Penandaan terhadap limbah B3 juga penting untuk penelusuran dan penentuan
pengelolaan limbah B3. Tanda yang digunakan ada 2 jenis yaitu simbol limbah
B3 dan label limbah B3.
Simbol Limbah B3
Simbol limbah B3 berbentuk bujur sangkar diputar 45 sehingga
membentuk belah ketupat (Gambar 4.5.). Pada keempat sisi belah ketupat
tersebut dibuat garis sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah
ketupat dalam dengan ukuran 95% dari ukuran belah ketupat luar. Warna garis
yang membentuk belah ketupat dalam sama dengan warna gambar simbol limbah
B3. Pada bagian bawah simbol limbah B3 terdapat blok segilima dengan bagian
atas mendatar dan sudut terlancip berhimpit dengan garis sudut bawah belah
ketupat bagian dalam. Panjang garis pada bagian sudut terlancip adalah 1/3 dari
garis vertikal simbol limbah B3 dengan lebar dari panjang garis horizontal
belah ketupat. Simbol limbah B3 yang dipasang pada kemasan dengan ukuran
paling rendah 10 cm x 10 cm, sedangkan simbol limbah B3 pada kendaraan
pengangkut limbah B3 dan tempat penyimpanan limbah B3 dengan ukuran paling
rendah 25 cm x 25 cm, sebanding dengan ukuran boks pengangkut yang ditandai
sehingga tulisan pada simbol limbah B3 dapat terlihat jelas dari jarak 20 m.
Simbol limbah B3 harus dibuat dari bahan yang tahan terhadap goresan
dan/atau bahan kimia yang kemungkinan akan mengenainya, misalnya bahan
plastik, kertas, atau plat logam dan harus melekat kuat pada kemasan. Warna
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

68

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

simbol limbah B3 untuk dipasang pada kendaraan pengangkut limbah B3 harus


dengan cat yang dapat berpendar (flourenscence).

Gambar 4.5. Bentuk Dasar Simbol Limbah B3


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Setiap simbol limbah B3 adalah satu gambar tertentu untuk menandakan


karakteristik limbah B3 dalam suatu pengemasan, penyimpanan, pengumpulan
atau pengangkutan. Terdapat 9 jenis simbol limbah B3 untuk penandaan
karakteristik limbah B3 yaitu:
1. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 mudah meledak
Warna dasar bahan jingga atau oranye memuat gambar berupa suatu
materi limbah yang berwarna hitam terletak di bawah sudut atas garis
ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat tulisan MUDAH
MELEDAK berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna
hitam sehingga membentuk 2 bangun segitiga sama kaki pada bagian
dalam belah ketupat. Terdapat pula blok segilima berwarna merah
(Gambar 4.6.).

Gambar 4.6. Simbol Limbah B3 Mudah Meledak


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

69

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 mudah menyala


Terdapat 2 macam simbol limbah B3 untuk limbah B3 mudah menyala,
yaitu simbol limbah B3 untuk limbah B3 berupa cairan mudah menyala
dan simbol limbah B3 untuk limbah B3 berupa padatan mudah menyala.
- Simbol limbah B3 untuk limbah B3 berupa cairan mudah menyala
Bahan dasar berwarna merah, memuat gambar berupa lidah api
berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna putih
terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. Pada bagian
tengah terdapat tulisan CAIRAN dan di bawahnya terdapat tulisan
MUDAH MENYALA berwarna putih serta blok segilima berwarna
putih (Gambar 4.7.).

Gambar 4.7. Simbol Limbah B3 Berupa Cairan Mudah Menyala


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

- Simbol limbah B3 untuk limbah B3 berupa padatan mudah menyala


Dasar simbol limbah B3 terdiri dari warna merah dan putih yang
berjajar vertikal berselingan, memuat gambar berupa lidah api berwarna
hitam yang menyala pada suatu bidang berwarna hitam. Pada bagian
tengah terdapat tulisan PADATAN dan di bawahnya terdapat tulisan
MUDAH MENYALA berwarna hitam. Terdapat pula blok segilima
berwarna kebalikan dari warna dasar simbol limbah B3 (Gambar 4.8.).

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

70

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 4.8. Simbol Limbah B3 Berupa Padatan Mudah Menyala


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

3. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 reaktif


Bahan dasar berwarna kuning, memuat gambar berupa lingkaran hitam
dengan asap berwarna hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu
permukaan garis berwarna hitam. Di sebelah bawah gambar terdapat
tulisan REAKTIF berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah
(Gambar 4.9.).

Gambar 4.9. Simbol Limbah B3 Reaktif


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

4. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 beracun


Bahan dasar berwarna putih memuat gambar berupa tengkorak manusia
dengan tulang bersilang berwarna putih dengan garis tepi berwarna hitam.
Pada sebelah bawah gambar simbol terdapat tulisan BERACUN berwarna
hitam serta blok segilima berwarna merah (Gambar 4.10.).

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

71

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 4.10. Simbol Limbah B3 Beracun


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

5. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 korosif


Belah ketupat terbagi pada garis horizontal menjadi 2 bidang segitiga.
Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar, yaitu di sebelah
kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan
berwarna hitam, dan di sebelah kanan adalah gambar telapak tangan kanan
yang terkena tetesan limbah B3 korosif. Pada bagian bawah, bidang
segitiga berwarna hitam, terdapat tulisan KOROSIF berwarna putih, serta
blok segilima berwarna merah (Gambar 4.11.).

Gambar 4.11. Simbol Limbah B3 Korosif


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

6. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 infeksius


Warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat
bagian dalam berwarna hitam, memuat gambar infeksius berwarna hitam
terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah ketupat bagian dalam.
Pada bagian tengah terdapat tulisan INFEKSIUS berwarna hitam dan di
bawahnya terdapat blok segilima berwarna merah (Gambar 4.12.).
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

72

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 4.12. Simbol Limbah B3 Infeksius


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

7. Simbol limbah B3 untuk limbah B3 berbahaya terhadap perairan


Warna dasar bahan adalah putih dengan garis pembentuk belah ketupat
bagian dalam berwarna hitam, gambar ikan berwarna putih, dan gambar
tumpahan limbah B3 berwarna hitam yang terletak di sebelah garis belah
ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah bawah terdapat tulisan
BERBAHAYA

TERHADAP

dan

di

bawahnya

terdapat

tulisan

LINGKUNGAN berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah


(Gambar 4.13.).

Gambar 4.13. Simbol Limbah B3 Berbahaya Terhadap Lingkungan


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)
Label limbah B3
Label limbah B3 merupakan penandaan pelengkap untuk memberikan
informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu limbah B3
yang dikemas. Terdapat 3 jenis label limbah B3 yang berkaitan dengan sistem
pengemasan limbah B3 yaitu:
1. Label limbah B3 untuk wadah dan/atau kemasan limbah B3
Label limbah B3 berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal
usul limbah B3, identitas limbah B3, serta kuantifikasi limbah B3 dalam
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

73

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

kemasan limbah B3. Label berukuran paling rendah 15 cm x 20 cm,


dengan warna dasar kuning serta garis tepi berwarna hitam, dan tulisan
identitas berwarna hitam serta tulisan PERINGATAN! dengan huruf
yang lebih besar berwarna merah (Gambar 4.14.).

Gambar 4.14. Label Limbah B3


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Label limbah B3 diisi dengan huruf cetak yang jelas terbaca dan tidak
mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 dan di
tempat penyimpanan. Pada label limbah B3 wajib dicantumkan:
-

Penghasil, nama perusahaan yang menghasilkan limbah B3 dalam


kemasan

Alamat, alamat jelas perusahaan di atas, termasuk kode wilayah

Telepon, nomor telepon penghasil, termasuk kode area

Fax, nomor faksimile penghasil, termasuk kode area

Nomor penghasil, nomor yang diberikan Kementerian Lingkungan


Hidup kepada penghasil ketika melaporkan

Tanggal pengemasan, data tanggal saat pengemasan dilakukan

Jenis limbah, keterangan limbah berkaitan dengan fasa atau


kelompok jenisnya (cair, padat, sludge anorganik, atau organik, dll)

Kode limbah, kode limbah yang dikemas, didasarkan pada daftar


limbah B3 dalam lampiran I PP 85 tahun 1999

Jumlah limbah, jumlah total kuantitas limbah dalam kemasan (ton,


kg atau m3)

Sifat limbah, karakteristik limbah B3 yang dikemas (sesuai simbol


limbah B3 yang dipasang)

Nomor, nomor urut pengemasan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

74

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2. Label limbah B3 untuk wadah dan/atau kemasan limbah B3 kosong


Bentuk dasar label limbah B3 untuk wadah dan/atau kemasan limbah B3
kosong sama dengan bentuk dasar simbol limbah B3. Label limbah B3
yang dipasang pada wadah dan/atau kemasan dengan ukuran paling
rendah 10 cm x 10 cm dan pada bagian tengah terdapat tulisan
KOSONG berwarna hitam di tengahnya (Gambar 4.15.).

Gambar 4.15. Label Limbah B3 Wadah dan/atau Kemasan Limbah B3


Kosong
(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

3. Label limbah B3 untuk penunjuk tutup wadah dan/atau kemasan


Label berukuran paling rendah 7 cm x 15 cm dengan warna dasar putih
dan terdapat gambar yang terdiri dari 2 buah anak panah mengarah ke
atas yang berdiri sejajar di atas blok hitam terdapat dalam frame hitam
(Gambar 4.16.). Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak
karena goresan atau akibat terkena limbah dan bahan kimia lainnya.

Gambar 4.16. Label Limbah B3 Penandaan Posisi Tutup Wadah dan/atau


Kemasan Limbah B3
(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

75

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Pelekatan simbol limbah B3 dan label limbah B3 memiliki ketentuan


sendiri, yaitu:
1. Simbol limbah B3
a. Simbol limbah B3 pada wadah dan/atau kemasan limbah B3
Simbol limbah B3 yang dilekatkan pada wadah dan/atau kemasan
limbah B3 harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Jenis simbol limbah B3 yang dilekatkan harus sesuai dengan
karakteristik limbah yang di wadah dan/atau dikemasnya, apalagi
limbah B3 di dalam wadah dan/atau kemasan:
- Memiliki 1 karakteristik, maka wadah dan/atau kemasannya
wajib dilekati dengan simbol limbah B3 sesuai dengan
karakteristik limbah B3 yang dikemas
- Memiliki

lebih

dari

karakteristik,

wadah

dan/atau

kemasannya wajib dilekati dengan simbol limbah B3 dengan


,asing-masing karakteristik yang dominan. Karakteristik
dominan adalah karakteristik yang terlebih dahulu harus
ditangani dalam keadaan darurat seperti kecelakaan
- Tidak memiliki karakteristik mudah meledak, mudah menyala,
reaktif, beracun, infeksius atau korosif, pada wadah dan/atau
kemasan, tempat penyimpanan, atau alat angkut limbah B3
harus dilekati dengan simbol limbah B3 berbahaya terhadap
lingkungan
2) Dilekatkan pada sisi-sisi wadah dan/atau kemasan yang tidak
terhalang oleh wadah dan/atau keamsan lain dan mudah dilihat
3) Simbol limbah B3 tidak boleh terlepas atau dilepas dan diganti
dengan simbol limbah B3 lain sebelum wadah dan/atau kemasan
dikosongkan dan dibersihkan dari sisa limbah B3
b. Simbol limbah B3 pada kendaraan pengangkut limbah B3
Simbol limbah B3 yang dilekati pada kendaraan pengangkut limbah
B3 harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

76

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

1) Simbol limbah B3 yang dilekati harus 1 macam simbol limbah


B3 yang sesuai dengan karakteristik limbah yang diangkutnya,
apabila alat angkut limbah B3 mengangkut:
- Limbah B3 yang memiliki lebih dari 1 karakteristik; dan/atau
- Beberapa limbah B3 dengan karakteristik lebih dari 1
Simbol limbah B3 yang dilekati merupakan simbol limbah b3
dengan karakteristik yang paling dominan atau simbol limbah
B3 dengan ,asing-masing karakteristik yang dominan
2) Dilekati di setiap sisi boks pengangkut dan di bagian muka
kendaraan serta harus dapat terlihat jelas dari jarak paling rendah
30 m
3) Simbol limbah B3 tidak boleh dilepas dan diganti dengan simbol
limbah B3 lain sebelum muatan limbah B3 dikeluarkan dan
kendaraan yang digunakan dibersihkan dari sisa limbah B3 yang
tertinggal
c. Simbol limbah B3 pada wadah dan/atau kemasan limbah B3
Gudang tempat penyimpanan limbah B3 harus dilekati dengan
simbol limbah B3 dengan mengikuti ketentuan sebagai berikut:
1) Jenis simbol limbah B3 yang dilekati harus sesuai dengan
karakteristik limbah B3 yang disimpan, apabila limbah B3 yang
disimpan:
- Memiliki 1 karakteristik, tempat penyimpanan wajib dilekati
dengan simbol limbah B3 sesuai dengan karakteristik limbah
B3 yang disimpan
- Memiliki lebih dari 1 karakteristik, tempat penyimpanan wajib
dilekati dengan simbol limbah B3 dengan karakteristik yang
paling dominan
2) Simbol

limbah

B3

dilekati

pada

setiap

pintu

tempat

penyimpanan limbah B3 dan bagian luar dinding yang tidak


terhalang
3) Selama tempat penyimpanan masih difungsikan, simbol limbah
B3 tidak boleh terlepas atau dilepas dan diganti dengan simbol
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

77

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

limbah B3 lain, kecuali jika akan digunakan untuk penyimpanan


limbah B3 dengan karakteristik yang berlainan
Pada Gambar 4.17. ditunjukkan contoh pelekatan simbol limbah B3 pada tempat
penyimpanan dengan 2 karakteristik dominan (predominan).

Gambar 4.17. Contoh Pelekatan Simbol Limbah B3 pada Tempat Penyimpanan


dengan 2 Karakteristik Dominan (Predominan)
(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

2. Label limbah B3
a. Label limbah B3 pada wadah dan/atau kemasan limbah B3
Label limbah B3 dilekati di sebelah atas simbol limbah B3 dan/atau
kemasan dan harus terlihat dengan jelas. Label limbah B3 ini juga
harus dipasang pada kemasan yang akan dimasukkan ke dalam
kemasan yang lebih besar. Apabila limbah B3 yang disimpan pada
wadah dan/atau kemasan:
1) Memiliki 1 karakteristik, maka wadah dan/atau kemasannya
wajib dilekati dengan label limbah B3 sesuai dengan
karakteristik limbah B3 yang dikemas
2) Memiliki 1 karakteristik, maka wadah dan/atau kemasannya
wajib dilekati dengan label limbah B3 yang menunjukkan
karakteristik keseluruhan limbah B3
b. Label limbah B3 untuk wadah dan/atau kemasan limbah B3 kosong
Wadah dan/atau kemasan yang telah dibersihkan dari limbah B3
dan/atau akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 harus
diberi label limbah B3 wadah dan/atau kemasan kosong
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

78

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

c. Label limbah B3 penunjuk tutup wadah dan/atau kemasan


Label limbah B3 dilekati dekat tutup wadah dan/atau kemasan
dengan arah panah menunjukkan posisi penutup wadah dan/atau
kemasan. Label limbah B3 harus terpasang kuat pada setiap wadah
dan/atau kemasan limbah B3, baik yang telah diisi limbah B3
maupun wadah dan/atau kemasan yang akan digunakan untuk
mengemas limbah B3.
Pada Gambar 4.18. diberikan contoh pelekatan simbol limbah B3 dan label
limbah B3.

Gambar 4.18. Contoh Pelekatan Simbol Limbah B3 dan Label Limbah B3


(Sumber: Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Keterangan:
(a) Drum 200 liter yang berisi limbah B3 dengan 1 karakteristik
(b) Drum 200 liter yang berisi limbah B3 dengan 2 karakteristik dominan
(predominan)
(c) Drum 200 liter kosong setelah limbah B3-nya dikosongkan

Pelekatan simbol limbah B3 pada wadah dan/atau kemasan, tempat penyimpanan


limbah B3 dan alat angkut limbah B3 dilakukan sesuai dengan tabel berikut:

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

79

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 4.2. Peletakan Simbol Limbah B3

(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

1. Pelekatan simbol limbah B3 pada wadah dan/atau kemasan


a. Keadaan 1, korosif
b. Keadaan 2, reaktif
c. Keadaan 3, mudah menyala dan reaktif
d. Keadaan 4
1) Korosif limbah A
2) Reaktif limbah B
Catatan: wadah dan/atau kemasan harus terpisah antara limbah A dan
limbah B
e. Keadaan 5
1) Korosif limbah A
2) Mudah menyala dan reaktif limbah C
Catatan: wadah dan/atau kemasan harus terpisah antara limbah A dan
limbah C
f. Keadaan 6
1) Korosif limbah A
2) Reaktif limbah B
3) Mudah menyala dan reaktif limbah C
Catatan: wadah dan/atau kemasan harus terpisah antara limbah A,
limbah B dan limbah C
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

80

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2. Pelekatan simbol limbah B3 pada tempat penyimpanan


a. Keadaan 1, korosif, jika hanya menyimpan limbah B3 dengan
karakteristik korosif
b. Keadaan 2, reaktif, jika hanya menyimpan limbah B3 dengan
karakteristik reaktif
c. Keadaan 3, mudah menyala dan reaktif, jika hanya menyimpan limbah
B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
d. Keadaan 4
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan reaktif
3) Korosif dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya
secara keseluruhan dominan korosif dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, tempat penyimpanan dilakukan secara terpisah
untuk setiap karakteristik limbah B3
2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling
dominan jumlahnya
e. Keadaan 5
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Mudah menyala dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah
B3-nya secara keseluruhan dominan mudah menyala dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, tempat penyimpanan dilakukan secara terpisah
untuk setiap karakteristik limbah B3
2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling
dominan jumlahnya
3) Limbah B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
lazimnya didahulukan penanganannya ketika terjadi kecelakaan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

81

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4) Hindari penyimpanan limbah B3 pada satu tempat penyimpanan


limbah B3 yang dominansi secara keseluruhannya lebih dari 2
karakteristik untuk menghindari kebingungan penanganan ketika
terjadi kecelakaan
f. Keadaan 6
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Mudah menyala dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah
B3-nya secara keseluruhan dominan mudah menyala dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, tempat penyimpanan dilakukan secara terpisah
untuk setiap karakteristik limbah B3
2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling
dominan jumlahnya
3) Limbah B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
lazimnya didahulukan penanganannya ketika terjadi kecelakaan
4) Hindari penyimpanan limbah B3 pada satu tempat penyimpanan
limbah B3 yang dominansi secara keseluruhannya lebih dari 2
karakteristik untuk menghindari kebingungan penanganan ketika
terjadi kecelakaan
3. Pelekatan simbol limbah B3 pada alat angkut
a. Keadaan 1, korosif, jika hanya mengangkut limbah B3 dengan karakter
korosif
b. Keadaan 2, reaktif, jika hanya mengangkut limbah B3 dengan
karakteristik reaktif
c. Keadaan 3, mudah menyala dan reaktif, jika hanya mengangkut limbah
B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
d. Keadaan 4
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan reaktif
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

82

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

3) Korosif dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya


secara keseluruhan dominan korosif dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, pengangkutan dilakukan secara terpisah
untuk setiap karakteristik limbah B3
2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling
dominan jumlahnya
e. Keadaan 5
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Mudah menyala dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah
B3-nya secara keseluruhan dominan mudah menyala dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, pengangkutan dilakukan secara terpisah
untuk setiap karakteristik limbah B3
2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling
dominan jumlahnya
3) Limbah B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
lazimnya didahulukan penanganannya ketika terjadi kecelakaan
4) Hindari pengangkutan limbah B3 pada satu alat angkut limbah
B3 yang dominansi secara keseluruhannya lebih dari 2
karakteristik untuk menghindari kebingungan penanganan
ketika terjadi kecelakaan
f. Keadaan 6
1) Korosif, jika jumlah dan karakteristik limbah B3-nya secara
keseluruhan dominan korosif
2) Mudah menyala dan reaktif, jika jumlah dan karakteristik limbah
B3-nya secara keseluruhan dominan mudah menyala dan reaktif
Catatan:
1) Jika dimungkinkan, tempat penyimpanan dilakukan secara
terpisah untuk setiap karakteristik limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

83

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

2) Dominansi ditetapkan berdasarkan karakteristik yang paling


dominan jumlahnya
3) Limbah B3 dengan karakteristik mudah menyala dan reaktif
lazimnya didahulukan penanganannya ketika terjadi kecelakaan
4) Hindari penyimpanan limbah B3 pada satu tempat
penyimpanan limbah B3 yang dominansi secara
keseluruhannya lebih dari 2 karakteristik untuk menghindari
kebingungan penanganan ketika terjadi kecelakaan
4.6.3. Penyimpanan Limbah B3
Kegiatan penyimpanan limbah B3 wajib memiliki izin operasi, yaitu izin
penyimpanan limbah B3, dari kepala instansi yang bertanggung jawab, dalam hal
ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup. Penghasil limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 yang dihasilkannya, menurut PP 18/1999, paling lama 90
(sembilan puluh) hari sebelum menyerahkannya kepada pengumpul atau
pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3. Bila limbah B3 yang
dihasilkan kurang dari 50 (lima puluh) kilogram per hari, penghasil limbah B3
dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkannya lebih dari 90 (sembilan puluh)
hari sebelum diserahkan kepada pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah
B3, dengan persetujuan instansi yang bertanggung jawab.
Sesuai dengan Kep 01/Bapedal/09/1995, penyimpanan B3 maupun
limbahnya dilakukan dengan sistem blok, di mana masing masing blok terdiri
dari 2 x 2 kemasan. Lebar antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan petugas
melaluinya, sedangkan lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut
disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.
Penumpukkan blok harus pula memperhatikan kestabilan kemasan. Jika
kemasan berupa drum dari logam (200 liter), maka tumpukan maksimum adalah 3
lapis dengan palet sebagai pelapis dasar peletakan drum. Jika tumpukan lebih dari
3 lapis atau apabila kemasan terbuat dari plastik maka harus dipergunakan rak.
Jarak tumpukan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap atau
dinding bangunan penyimpanan minimal 1 meter. Susunan kemasan yang legal
dapat dilihat pada Gambar 4.19..
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

84

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 4.19. Pola Penyimpanan Kemasan Drum


(Sumber: Damanhuri, 1994)

Kemasan B3 atau limbah B3 yang saling tidak cocok harus disimpan secara
terpisah, tidak dalam satu blok dan area yang sama. Pemisahan ini dilakukan
sedemikian rupa agar bila terjadi kebocoran dari kemasan, maka material limbah
yang satu tidak akan bercampur dengan material dari limbah lain yang saling tidak
cocok.
Penumpukan kemasan limbah B3 harus mempertimbangkan kestabilan
tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka
tumpukan maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet, dan setiap
palet mengalasi 4 drum. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari
plastik, maka harus dipergunakan rak (Gambar 4.20.). Jarak tumpukan kemasan
tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan
penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 meter.

Gambar 4.20. Penyimpanan Limbah B3 dengan Rak


(Sumber: Lampiran KEP-01/BAPEDAL/09/1995)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

85

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan


tangki seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.21.. Berikut ini adalah
ketentuannya:
1. Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran
pembuangan yang menuju bak penampung.
2. Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal
110% dan kapasitas maksimal volume tangki.
3. Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di
daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
4. Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan
secara langsung.

Gambar 4.21. Tempat Penyimpanan Limbah B3 Cair dalam Jumlah Besar


(Sumber: Lampiran KEP-01/BAPEDAL/09/1995)

Desain gudang penyimpanan limbah B3 harus memperhatikan ventilasi agar


sirkulasi udara di dalam gedung berjalan lancar. Hal ini sangat berpengaruh pada
faktor keamanan pekerja yang bertugas menyimpan limbah dan memelihara
gedung. Pola sirkulasi udara yang baik dapat dilihat pada Gambar 4.22..

Gambar 4.22. Pola Sirkulasi Udara dalam Tempat Penyimpanan Limbah B3


(Sumber: Damanhuri, 1994)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

86

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 antara lain:

Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai


dengan jenis, karakteristik, and jumlah limbah B3 yang dihasilkan.

Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk
mencegah terjadinya akumulasi gas.

Memasang kasa untuk mencegah masuknya binatang kecil dan burung ke


dalam tempat penyimpanan.

Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai


untuk operasional penggudangan atau inspeksi rutin. Jika menggunakan
lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas
kemasan dengan sakelar (stop contact) harus terpasang di sisi luar
bangunan.

Memiliki sistem penangkal petir.

Pada bagian terluar tempat penyimpanan diberi penandaan sesuai dengan


tata cara yang berlaku.

Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat,


dan tidak retak. Selain itu, lantai harus memiliki kemiringan sekitar 1%,
melandai ke arah bak penampung kebocoran. Pada bagian luar bangunan,
kemiringan lantai diatur sedemikian rupa agar air limpasan hujan dapat
mengalir menjauhi bangunan.
Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1

karakteristik limbah B3, mempunyai beberapa persyaratan:


Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan, dengan ketentuan bahwa setiap
bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan satu karakteristik limbah
B3, atau limbah-limbah B3 yang saling cocok.
Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya harus dibuat tanggul atau
tembok pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan
limbah B3 ke bagian penyimpanan lainnya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

87

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Setiap bagian penyimpanan masing-masing harus mempunyai bak penampung


tumpahan limbah dengan kapasitas yang memadai.
Sistem dan ukuran saluran yang ada harus dibuat sebanding dengan kapasitas
maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya
dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.
Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam
kebakaran, pagar pengaman, pembangkit listrik cadangan, fasilitas pertolongan
pertama, peralatan komunikasi, gudang tempat penyimpanan peralatan dan
perlengkapan, pintu darurat, alarm.
Tata ruang gudang penyimpanan limbah B3 yang baik yang telah
mempertimbangkan karakteristik dan fase dari limbah dapat dilihat pada Gambar
4.23. Adapun lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong harus
merupakan daerah bebas banjir, atau daerah yang diupayakan melalui pengurugan
sehingga aman dari kemungkinan terkena banjir, serta jarak minimum antara
lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.

Ganbar 4.23. Tata Ruang Gudang Penyimpanan Limbah B3


(Sumber: Lampiran KEP-01/BAPEDAL/09/1995)

4.6.4. Pengangkutan Limbah B3


Berdasarkan PP 18/1995, pengangkutan limbah B3 dilakukan dengan alat
angkut khusus yang memenuhi persyaratan dengan tata cara pengangkutan yang
ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Transportasi
bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan melalui segala
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

88

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

jenis angkutan, seperti melalui darat, kereta api, atau laut. Alat angkut yang
digunakan harus sesuai dengan peraturan tentang angkutan yang ada, yaitu:
perkereta-apian (UU 13/1992), angkutan darat (UU 14/1992), penerbangan (UU
15/1992), dan pelayaran (UU 21/1992).
Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut limbah B3 wajib disertai
dokumen limbah B3. Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan
dokumen limbah B3 kepada pengumpul atau pemanfaat atau pengolah atau
penimbun limbah B3 yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3. Penghasil limbah
pun dapat bertindak sebagai pengangkut limbah, dengan aturan-aturan yang
berlaku bagi pengangkut limbah B3. Cargo tank merupakan sarana yang biasa
digunakan di darat, dan biasanya terbuat dari baja, campuran alumunium, atau
dari bahan lain seperti titanium, nikel, atau stainless steel. Kapasitas yang
digunakan di Amerika Serikat adalah antara 15-50 m3. Beban kendaraan biasanya
dibatasi sampai 36 ton.
Transportasi limbah B3 melalui jalur perairan yang terbesar adalah dengan
tanker atau tank-barges. Tank-barges berkapasitas antara 1135-2270 m3,
sedangkan tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Cara ini relatif
memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar. Secara statistik, cara
ini adalah yang teraman, baik dari jumlah kecelakaan maupun banyaknya
limpahan.
Sektor pengangkutan merupakan aktivitas yang beresiko tinggi dengan
kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan serta hal-hal lain yang tidak
diinginkan. Usaha ini membutuhkan terlebih dahulu izin pengangkutan dari
Menteri Perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari kepala instansi yang
bertanggung jawab, dalam hal ini Menteri Lingkungan Hidup. Kemungkinan
kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu mendapat
perhatian, karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak terlibat
langsung dengan kecelakaan. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam
transportasi hendaknya mengantisipasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Bila
terjadi kecelakaan lalu lintas, maka respon aparat terkait (polisi dan pemadam
kebakaran) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis
kecelakaan jenis itu, demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

89

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

dengan bahan berbahaya akan tergantung apakah paramedis terkait telah


mendapat pelatihan menangani korban semacam itu. Perpindahan tangan limbah
B3 dari penghasil dan/atau pengumpul dan/pemanfaat dan/atau pengolah kepada
pengangkut wajib disertai dengan dokumen limbah B3 yang diisi oleh pihak
penghasil.

4.6.5. Pengolahan Limbah B3


Kegiatan pengolahan limbah B3 memiliki ketentuan yang juga diatur dalam
PP 18/1999. Pengolah limbah B3 dilakukan oleh penghasil atau badan usaha yang
melakukan kegiatan pengolahan limbah B3. Pengolah limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 yang akan diolah dan limbah B3 yang dihasilkannya
paling lama 90 hari. Pengolahan limbah B3 dapat dilakukan dengan cara thermal,
stabilisasi dan solidifikasi, secara fisika, kimia, biologi dan/atau cara lainnya
sesuai dengan perkembangan teknologi, yaitu:
1. Pengolahan thermal
-Rotary kiln incenerators
-Liquid injection incinerators
-Plasma arc incinerators
-Wet air oxidation
-Fluidazed bed combustion
2. Pengolahan kimia
- Netralisasi
-Detoksifikasi
-Presipitasi (Pengendapan)
-Penukar ion
3. Pengolahan Fisika
-Filtrasi
-Flokulasi
-Sedimentasi
-Sentrifugasi
4. Disposal
-Langsung ke landfill (penimbunan)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

90

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

-Perlakuan pendahuluan dan kemudian ke lanfill


-Pembuangan air limbah
-Pembuangan ke udara

4.6.6. Pemanfaatan Limbah B3


Dalam PP 18/1999 dijelaskan bahwa pemanfaat limbah B3 dilakukan oleh
penghasil atau badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3.
Setiap kegiatan yang menghasilkan limbah B3 dan apabila limbah B3 tersebut
masih dapat dimanfaatkan, maka penghasil dapat memanfaatkannya sendiri.
Pemanfaatan limbah B3 meliputi perolahan kembali (recovery), penggunaan
kembali (reuse), dan daur ulang (recycle). Pemanfaatan limbah B3 bertujuan
untuk mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan
harus juga aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Kegiatan pemanfaatan limbah B3 wajib memiliki izin operasi, yaitu izin
pemanfaatan limbah B3, dari kepala instansi yang bertanggung jawab, dalam hal
ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup. Pemanfaat limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 sebelum dimanfaatkan paling lama 90 (sembilan puluh)
hari. Pemanfaat limbah B3 wajib membuat dan menyimpan catatan mencakup
sumber limbah B3 yang dimanfaatkan serta jenis, karakteristik, dan jumlah limbah
B3 yang dikumpulkan, dimanfaatkan, dan produk yang dihasilkan. Badan yang
memiliki kegiatan pemanfaatan sebagai kegiatan yang terintegrasi dengan
kegiatan utamanya wajib membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup.

4.6.7. Konsep Dokumen Perjalanan Limbah B3


Mata rantai siklus perjalanan limbah B3 sejak dihasilkan oleh penghasil
limbah B3 sampai penimbunan akhir oleh pengolah limbah B3 harus dapat
diawasi. Perjalanan limbah B3 dikendalikan dengan sistem manifest berupa
dokumen limbah B3. Dengan sistem manifest dapat diketahui berapa jumlah
limbah B3 yang dihasilkan dan berapa yang telah dimasukkan ke dalam proses
pengolahan dan penimbunan tahap akhir yang telah memiliki persyaratan
lingkungan.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

91

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Menurut

Keputusan

Kepala

Bepedal

No.

Kep-02/Bapedal/09/1995,

Dokumen limbah B3 adalah surat yang diberikan pada waktu penyerahan limbah
B3 untuk diangkut dari lokasi kegiatan penghasil ke tempat penyimpanan di luar
lokasi kegiatan, dan atau pengumpulan dan atau pengangkutan dan atau
pengolahan limbah B3 dan atau pemanfaatan limbah B3 serta penimbunan hasil
pengolahan. Dokumen ini akan memegang peranan penting dalam pemantauan
perjalanan limbah B3 dari penghasil sampai ke pengolah limbah. Berdasarkan PP
18/1999, dokumen limbah B3 tersebut berisi ketentuan sebagai berikut:

Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan


limbah B3

Tanggal penyerahan limbah B3

Nama dan alamat pengangkut limbah B3

Tujuan pengangkutan limbah B3

Jenis, jumlah, komposisi, dan karakteristik limbah B3 yang diserahkan


Dokumen limbah B3 dibuat dalam rangkap 7 (tujuh) apabila pengangkutan

hanya satu kali dan apabila pengangkutan lebih dari satu kali (antar moda), maka
dokumen terdiri dari 11 (sebelas) rangkap dengan perincian sebagai berikut:
Lembar asli (pertama) disimpan oleh pengangkut limbah B3 setelah
ditandatangani oleh pengirim limbah B3
Lembar kedua yang sudah ditandatangani oleh pengangkut limbah B3,
oleh pengirim limbah B3 dikirimkan kepada instansi yang bertanggung
jawab
Lembar ketiga yang sudah ditandatangani oleh pengangkut disimpan oleh
pengirim limbah B3
Lembar keempat setelah ditandatangani oleh pengirim limbah B3, oleh
pengangkut diserahkan kepada penerima limbah B3
Lembar kelima dikirimkan oleh penerima kepada instansi yang
bertanggung jawab setelah ditandatangani oleh penerima limbah B3
Lembar keenam dikirim oleh pengangkut kepada Bupati/Walikotamadya
Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan dengan pengirim, setelah
ditandatangani oleh penerima limbah B3
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

92

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Lembar ketujuh setelah ditandatangani oleh penerima, oleh pengangkut


dikirimkan kepada pengirim limbah B3
Lembar kedelapan sampai dengan lembar kesebelas dikirim oleh
pengangkut kepada pengirim limbah B3 setelah ditandatangani oleh
pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya/antar
moda.
Skema perjalanan limbah B3 dapat dilihat pada Gambar 4.24.

Gambar 4.24. Skema Perjalanan Dokumen Limbah B3


(Damanhuri, 2010)

Dokumen limbah B3 juga diatur dalam format yang telah dibakukan dengan
Keputusan Kepala Bapedal No. 02/Bapedal/09/1995, yang antara lain terdiri dari:
Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3, antara lain
berisi:
- Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan
limbah
- Nomor identifikasi (identification number) UN/NA
- Kelompok kemasan (packing group)
- Kuantitas (berat, volume, dan sebagainya)
- Kelas bahaya dari bahan tersebut (hazard class)
- Tanggal penyerahan limbah
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

93

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul, dilengkapi tanggal, untuk


menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis
serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku.
Apabila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dari penghasil,
maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut
dari penghasil limbah.
Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3, antara lain berisi:
- Nama dan alamat pengangkut limbah
- Tanggal pengangkutan limbah
- Tanda tangan pejabat pengangkut limbah
Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah
B3, antara lain berisi:
- Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3
- Tanda tangan pejabat pengolah, pengumpul, atau pemanfaat, dilengkapi
tanggal, untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan
keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku.
Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat,
maka limbah tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil, disertai keterangan:
- Jenis limbah dan jumlahnya
- Alasan penolakan
- Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian.
Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan
angkut sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan suratsurat lain. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah tersebut
dari pengumpul atau pengolah selambat-lambatnya 120 hari sejak limbah tersebut
diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat.
Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North
America) diikuti oleh 4 digit angka, yang secara cepat akan dapat memberikan
informasi bila terjadi kecelakaan. Diharapkan, tim yang bertanggung jawab dalam
menangani kecelakaan, secara cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya
itu serta cara penanggulangannya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

94

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4.7.

Neraca Limbah B3
Istilah neraca limbah didefinsikan dalam Peraturan Menteri Negara

Lingkungan Hidup No. 02 Tahun 2008 tentang Pemanfaatan Limbah Bahan


Berbahaya dan Beracun. Menurut peraturan tersebut, neraca limbah B3 adalah
data kuantitas limbah B3 dari usaha dan/atau kegiatan yang menunjukan kinerja
pengelolaan limbah B3 pada satuan waktu penaatannya.
Penghasil dan/atau pengumpul yang melakukan kegiatan pemanfaatan
limbah B3 wajib memiliki catatan peneriman, penyimpanan, pemanfaatan dan
pengolahan limbah B3 lainnya; memiliki neraca limbah B3; dan melaporkan
kegiatan pemanfaatan dan neraca limbah B3 paling sedikit satu kali dalam 6 bulan
kepada Menteri, gubernur, bupati/walikota.
Neraca limbah B3 dibuat dalam formulir dengan format yang diatur oleh
pemerintah dalam Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
02 Tahun 2008. Formulir neraca limbah B3 merupakan kinerja pengelolaan
limbah B3 dalam periode penaatan tertentu. Petunjuk pengisian juga dijelaskan
dalam lampiran tersebut.
Bagian paling awal dari neraca limbah B3 berisikan informasi mengenai
nama perusahaan, bidang usaha, dan periode waktu. Informasi yang disusun
dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut:
Jenis awal limbah dan jumlahnya
Perlakuan, jumlah, jenis limbah yang dikelola, serta perizinannya.
Residu
Jumlah limbah yang belum terkelola
Total jumlah limbah yang tersisa
Kinerja pengelolaan limbah B3 selama periode skala waktu penaatan
Jenis awal limbah diisi sesuai dengan jenis limbah B3 yang dihasilkan
sebelum dilakukan perlakuan selama periode waktu yang ditentukan dan sisa
limbah pada periode sebelumnya. Sementara itu, perlakuan limbah yang dimaksud
dalam neraca limbah B3 adalah tipikal kegiatan pengelolaan limbah B3 yang
meliputi antara lain penyimpanan, pemanfaatan, pengolahan, penimbunan,
penyerahan ke pihak ketiga, ekpsor, dan perlakuan lainnya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

95

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Adapun residu adalah jumlah limbah yang terbentuk dari proses perlakuan
seperti abu insinerator, bottom ash dan/atau fly ash dari pemanfaatan sludge
minyak di boiler, residu dari penyimpanan dan pengumpulan oli bekas dan lainlain yang belum dikelola. Sehingga jika misalnya limbah tertentu setelah
dilakukan salah satu jenis perlakuan lalu menghasilkan sisa limbah, maka sisa
limbah tersebut dimasukkan sebagai residu. Untuk jumlah limbah yang belum
terkelola, diisi untuk limbah yang tidak ikut dalam perlakuan dalam arti kata lain
jumlah limbah yang tidak dilakukan perlakuan apapun, limbah yang disimpan
telah melebihi batas waktu 90 hari, atau limbah yang dikelola tanpa disertai izin.
Sementara itu, total jumlah limbah yang tersisa diisi dengan cara menjumlahkan
antara jumlah residu dengan jumlah limbah yang belum dikelola.
Kinerja pengelolaan limbah B3 selama periode skala waktu penaatan diisi
dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

dimana : A = total jumlah awal limbah,


B = total jumlah limbah yang dilakukan perlakuan (disimpan,
dimanfaatkan, dikirim, dll),
C = residu,
D = jumlah limbah yang belum terkelola (A-B),
Kinerja ini menunjukan derajat ketaatan pengelolaan limbah B3 terhadap
peraturan yang ada. Jika menunjukkan angka 100% maka seutuhnya taat terhadap
peraturan yang ada yang berarti seluruh limbah yang ada dalam skala waktu
penaatan di atas dikelola dengan baik dan benar.

4.8. Pengelolaan Limbah B3 pada Kegiatan Pengolahan Minyak


Industri minyak bumi menghasilkan sejumlah limbah selama kegiatan
berlangsung. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan minyak adalah
lumpur minyak, katalis bekas, tanah terkontaminasi, dll. Pembuangan yang tidak
tepat dari limbah ini memiliki potensi untuk merusak tanah, sumber daya air dan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

96

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

satwa liar. Skema dalam penanganan limbah di industri minyak dapat dilihat pada
Gambar 4.25.

Gambar 4.25. Skema Penanganan Limbah untuk Usaha Eksplorasi dan


Produksi
(Sumber: E&P Forum 1993)
Secara lebih spesifik, limbah-limbah yang dihasilkan dari industri minyak
bumi dapat ditangani sebagai berikut:

1. Contaminated Soil
Menurut The E&P Forum, Exploration and Production (E&P), Waste
Management Guidelines tahun 1993, limbah ini dapat termasuk tanah, pasir, atau
pantai bahan yang timbul akibat terkena kebocoran atau tumpahan hidrokarbon
atau bahan bakar. Dampaknya akan tergantung pada jenis hidrokarbon dan lokasi
tumpahan atau kebocoran. Opsi pengelolaan untuk limbah ini yaitu:

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

97

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Mengurangi : menghindari tumpahan dan kebocoran dengan pelaksanaan


good house keeping, perbaikan dan pemeliharaan alat operasi, serta
penerapan prosedur transportasi yang baik.
- Daur ulang : hal

ini

dilakukan

tergantung

pada tingkat kontaminasi

tanah, pengambilan kembali cairan bebas dalam tanah dapat memungkinkan


untuk dilakukan.
- Pengolahan : dapat

dilakukan

landfarming,

landspreading

dan

pengomposan jika degradasi biologi pada tanah berada dalam kondisi yang
baik. Selain itu, dapat pula dilakukan pengolahan dengan insinerasi.
- Pembuangan: landfill dan penguburan dapat dibatasi oleh ketersediaan dan
kuantitas / sifat tanah yang terkontaminasi. Teknik stabilisasi limbah mungkin
perlu dilakukan sebelum pembuangan.

2. Kain terkontaminasi
EPA menganjurkan untuk memisahkan kain terkontaminasi yang digunakan
untuk membersihkan minyak bekas terpisah dengan kain pembersih untuk limbah
cair yang lain. Jika kain pembersih hanya mengandung minyak bekas, minyak
tersebut sebaiknya dipisahkan dari kain melalui pemerasan kain, dimana minyak
hasil perasan tersebut dimasukan ke dalam suatu kemasan khusus. Oleh karena
itu, harus dipastikan agar minyak atau bahan berbahaya lainnya yang
merupakan kontaminan pada kain pembersih tidak menetes dari kain tersebut. Hal
ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan akibat ceceran limbah bahan berbahaya.
Menurut

BLR's

Special

Report, Regulation

and

Guidance

on

Solvent-Contaminated Rags, perusahaan dapat menghemat uang pengeluaran


dengan menyisihkan penggunaan larutan pada proses tertentu, mengurangi jumlah
larutan, dan mengurangi jumlah kain pembersih yang terkontaminasi.
Menghilangkan limbah pelarut dan toksisitas kain pembersih digunakan
dengan mencari cairan pembersih atau semiaqueous untuk menggantikan pelarut.
Pertimbangkan untuk menggunakan pelarut pengganti ialah dengan pelarut yang
tidak diklorinasi dan memiliki volatil emisi senyawa organik yang rendah, serta
dilakukan konsultasi keamanan bahan informasi lembar data untuk toksisitas dan
data volatilitas.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

98

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Minimasi penggunaan kain terkontaminasi yang dihasilkan dapat dilakukan


antara lain dengan:
- Menggunakan kain untuk kapasitas penuh penyerapnya. Kain pembersih
sebagian digunakan harus disimpan secara terpisah dan diberi label untuk
digunakan kembali sebelum pencucian.
- Penerapan sistem reuse kain untuk mengurangi pemakaian yang berlebih.
Misalnya, menggunakan tiga kontainer yang ditandai "bersih," "dapat
digunakan kembali," dan "kotor" di kain pembersih. Kain pembersih kotor
harus disimpan dalam kontainer tahan api yang

tertutup,

dan

dapat

ditandai untuk daur ulang bila memungkinkan. (Sumber: enviro.blr.com)

3. Kemasan bekas terkontaminasi


Kemasan dengan bahan logam dan plastik umumnya digunakan industri
untuk mengemas minyak pelumas dan bahan kimia bekas dalam jumlah yang
besar. Akumulasi dan pembuangan kemasan bekas terkontaminasi tersebut dapat
menimbulkan masalah. Drum dan kemasan mengadung sejumlah residu yang
bervariasi yang tidak bisa diacuhkan begitu saja. Dampak akan muncul baik
akibat volume maupun kehadiran residu. Opsi pengelolaan untuk jenis limbah ini
yaitu:
- Reduksi : transportasi

dan penyimpanan harus mempertimbangkan

barang dengan volume yang tinggi


- Reuse : Kemasan tertentu dapat diisi kembali dari tempat penyimpanan dan
digunakan kembali. Apabila memungkinkan, kemasan yang tidak dapat diisi
kembali (non-refillable) harus dikembalikan kepada vendor terkait untuk
dilakukan reuse atau kepada perusahaan yang khusus menangani
pembaharuan kemasan. Drum dan kemasan juga dapat digunakan untuk
transportasi limbah yang sesuai dengan pertimbangan keselamatan.
- Recycle : Baik drum logam maupun drum plastik dapat didaur ulang. Daur
ulang dilakukan apabila outlet memnungkinkan. Bagaimanapun, hal ini
membutuhkan pembersihan residu dari kemasan sebelum dilakukan proses
daur ulang maupun recovery.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

99

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Pengolahan : Insinerasi dapat diaplikasikan untuk kemasan plastik,


tetapi insinerator membutuhkan alat pengendali pencemaran udara.
- Pembuangan : Banyak residu yang terbatas untuk opsi pengelolaan ini
atau membutuhkan pra-pembersihan.

4. Lampu bekas
Lampu bekas merupakan limbah yang umumnya dihasilkan dari fasilitas
penunjang pada kegiatan suatu usaha atau kegiatan. Pengelolaan lampu bekas
dapat dilakukan dengan proses daur ulang. Langkah pengelolaan tersebut dapat
dilakukan dengan langkah berikut.
- Mengganti lampu yang sudah tidak berfungsi
- Pengumpulan lampu bekas
- Pengiriman lampu ke pendaur ulang
- Pemantauan generator terhadap pengolahan lampu
- Memperbaiki tabung yang rusak
Proses daur ulang lampu bekas dengan pihak ketiga dilakukan dengan
kontrak langsung antara generator dengan pihak pendaur ulang lampu bekas.
Perusahaan

mengganti

lampu

yang

sudah

tidak

berfungsi,

kemudian

menempatkan lampu ke dalam wadah, baik label wadah, dan transportasi lampu
(atau menyebabkan mereka dijemput oleh) pendaur ulang ketika cukup
menghabiskan lampu telah terakumulasi. (Best Management Practices for
Managing Spent Fluorescent, Department of Toxic Substances Control, 2005)

5. Cartridge dan toner bekas


Limbah cartridge dan toner dianjurkan untuk didaur ulang dalam
pengelolaannya. Limbah ini mengandung zat yang dapat membahayakan
kesehatan manusia, seperti:
- Volatile Organic Compounds (VOC). Bahan berbasis minyak bumi dalam
toner dapat melepaskan VOC selama proses pencetakan
- Debu toner. Iritasi saluran pernafasan dapat terjadi dengan menghirup debu
toner. Penggunaan toner cartridge produk sebagaimana dimaksud
membantu meminimalkan pelepasan debu.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

100

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Karbon hitam yang bersifat karsinogen digunakan dalam banyak toner,


namun penggunaannya dalam toner tidak diketahui menimbulkan risiko.
Pengelolaan akhir limbah ini memerlukan cartridge bekas untuk diremanufaktur, dan ketika remanufaktur tidak mungkin, cartridge dapat dikirim ke
pendaur ulang. Kebanyakan vendor memiliki program pengambilan kembali
untuk cartridge bekas yang menjamin penggunaan kembali dan daur ulang yang
tepat. Cartridge tidak boleh dikirim ke TPA atau insinerator.

6. Bahan Kimia Bekas/Kadaluarsa


Menurut The E&P Forum, Exploration and Production (E&P), Waste
Management Guidelines tahun 1993, limbah ini mencakup kelebihan atau bahan
kimia

bekas

pada

seluruh

tahap

aktivitas

eksplorasi

dan

produksi.

Pengelolaan bahan kimia bekas bergantung pada komposisi dan dampak yang
ditimbulkannya pada lingkungan. Limbah ini dapat memerlukan pemisahan dan
teknik pembuangan yang spesifik. Opsi pengelolaan jenis limbah ini antara lain:
- Reduce: Jika memungkinkan, perencanaan dan penerapan good house
keeping dapat dilakukan meminimalkan kelebihan bahan kimia serta
kontaminasi. Substitusi bahan kimia dengan bahan kimia yang memiliki
umur lebih lama dan memiliki dampak yang lebih rendah terhadap
lingkungan.
- Reuse: Kelebihan bahan kimia dapat berguna di lokasi lain atau
dikembalikan pada vendor jika memungkinkan.

Bahan seperti

semen,

bentonite dan lime dapat digunakan kembali pada pengolahan limbah yang
lain, konstruksi jalan, konstruksi lahan landfill, dan lain-lain.
- Recycle/Recovery: limbah seperti baterai timah asam, nikel atau cadmium
basah harus dikirm ke fasilitas daur ulang jika memungkinkan. Limbah
bahan kimia tertentu dapat mengandung logam seperti merkuri yang harus
diolah terlebih dahulu. Larutan kimia dapat di-recovery atau digunakan pada
program pencampuran bahan bakar.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

101

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Pengolahan/Disposal: solidifikasi dengan pencampuran menggunakan


semen, lime, atau bahan pengikat lain dapat diaplikasikan sebelum
pembuangan. Landfill khusus harus tersedia untuk menerima jenis limbah
kimia tertentu. Kemungkinan lindi yang timbul harus diidentifikasi.
Sedangkan untuk limbah kimia organic, insinerasi dapat menjadi pilihan
dalam pengolahan. Untuk bahan kimia seperti PCBs, insinerasi dengan
temperatur tinggi dibutuhkan untuk merusak senyawa tersebut.

7. Oil Sludge
Menurut API Environmental Guidance Documents, Oil sludge terdiri dari
tank bottoms dan oily debris. Tank bottoms didefinisikan sebagai cairan dan
residu, seperti hidrokarbon berat, padatan, pasir dan emulsi, yang menempati
dasar ruang pengolahan (separators, knockouts, dan heater treaters) dan atau
tangki penyimpanan setelah satu periode waktu layanan. (API, 1989). Sedangkan
oily debris biasanya didefinisikan sebagai tumpahan minyak akibat adanya
kebocoran, dan atau media saringan yang telah terpakai untuk menyaring minyak
dari air (USEPA, 2000).
- Minimisasi: Oil sludge dapat dikurangi dengan cara menerapkan good
housekeeping.
- Recycle: Kandungan

minyak pada oil sludge dapat diperoleh kembali

dengan cara memisahkannya dengan tanah, padatan dan cairan. Pemisahan


dilakukan dengan metoda gravitasi dan pemanasan dengan suhu 150-200F.
Metoda ini merupakan metoda yang paling direkomendasikan oleh industri
migas (API, 1989). Berikut pada Gambar 4.26. merupakan skema crude oil
sludge recovery.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

102

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Produced Water,
Produced Water
Skimmings, Off-Spec
Crude Oil,
And Tank Bottoms

Produced
Water

Off-Spec Crude
Oil, Tank Bottoms
And Produced
Water Skimmings

Yes

Evaporation
Ponds

<1%

Crude Oil
Storage
Tank

No
Produced
Water

Crude
Oil

Heater Treatment

Basic Sediment
& Water
(BS&W)

On-Site State
Permitted Surface
Impoundment

Gambar 4.26. Skema Crude Oil Recovery


(Sumber: API, 1989)
Disposal: Pengolahan oil sludge dapat dilakukan antara lain dengan
insinerasi,

pengolahan

lahan, roadspread, bioremediasi dan solidifikasi.

Pembuangan lumpur yang telah diolah dapat dilakukan ke landfill maupun


fasilitas pembuangan limbah khusus.

8. Spent Catalyst
Spent catalyst merupakan limbah katalis yang telah jenuh dan telah
kehilangan kemampuan katalitiknya. Kejenuhan dari katalis ini dapat diakibatkan
oleh berakhirnya umur katalis, perubahan struktur katalis, atau pusat aktifnya
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

103

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

telah tertutup oleh material lain (Hilmi, 2011). Limbah katalis ini umumnya
dihasilkan oleh industri pengolahan minyak bumi. Setelah menjadi limbah, katalis
ini biasany mengandung logam-logam berharga seperti platina, aluminium, nikel,
dll. Spent catalyst sebaiknya diolah dengan proses pengolahan temperatur tinggi
untuk mengurangi resiko tercemarnya air oleh logam berat yang dikandungnya
(Alshammari, et.al, 2008).
- Reuse/Recycle: Spent catalyst dikirim kembali ke vendor untuk diambil
kembali logam-logam berharganya
- Disposal: Spent catalyst dapat digunakan sebagai bahan baku paving block
dengan cara solidifikasi, selain itu dapat juga dibuang dengan cara landfill.
(Dando, et.al, 2003).

9. Baterai bekas
Pengelolaan baterai bekas dapat dilakukan melalui kegiatan daur ulang
untuk minimasi limbah dan pembuangan pada fasilitas pembuangan khusus atau
landfill khusus. Menurut peraturan di Amerika, baterai timah asam merupakan
salah satu jenis baterai yang korosif dan beracun. Pengelolaan terhadap limbah ini
antara lain ialah dengan:
- Mengembalikan baterai kembali ke vendor atau pendaur ulang lain
- Mengelola baterai sebagai limbah B3.
Hal ini dilakukan dengan penyimpanan pada kemasan yang tidak bereaksi
dengan baterai jika baterai tersebut bocor. Kemasan plastik dapat digunakan untuk
membungkus limbah ini. Tempat penyimpanan harus didesain untuk mencegah
ceceran

yang

mungkin

terjadi.

Desain

tempat

penyimpanan

harus

mempertimbangkan adanya fasilitas/kemasan cadangan untuk menangani


kebocoran. Jika terjadi kebocoran pada baterai asam, asam tersebut harus
dengan segera dinetralisasi dengan baking soda atau soda ash dan limbah soda
tersebut kembali harus dikelola sebagai limbah B3. Jika baterai disimpan dengan
cara yang memungkinkan pelepasan
lingkungan,

asam

atau

timbal

baterai

ke

EPA dapat menganggap pembuangan tersebut adalah ilegal.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

104

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

4.9. Co-processing
Co-processing adalah pembakaran limbah dengan tujuan memanfaatkan
limbah sebagai sumber energi dan bahan baku alternatif dan sebagai akibat dari
pembakaran tersebut terjadi pemusnahan limbah. Berbeda dengan insinerasi yang
bertujuan memusnahkan limbah melalui pembakaran. Co-processing dapat
dilakukan di industri semen, pembangkit listrik, dan baja.
Berdasarkan

Basel

Convention,

co-processing

merupakan

konsep

pembangunan yang berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi industri


yang berfokus pada potensi untuk mengurangi pencemaran lingkungan dalam
produk siklus hidup (Mutz et al, 2007; Karstensen, 2009). Salah satu tujuan paling
penting dari ekologi industri adalah untuk membuat alternatif material dari limbah
suatu industri (OECD,2000).
Bahan bakar batu bara dan bahan baku berhasik disubtitusi oleh beragam
macam limbah pada tanur semen di Australia, Canada, Europe, Japan, dan USA
sejak awal tahun 1970 (GTZ/Holcim,2006). Penggunaan subtitusi bahan bakar
dan bahan baku menggunakan limbah B3 dan limbah non B3 diulas kembali oleh
CCME (1996), EA (1999), Twigger et al. (2001), dan Kartensen (2007).
Pemanfataan limbah B3 maupun non-B3 dengan co-processing di industry
semen harus mendukung keuntungan lingkungan sekitar. Untuk menhindari
perencanaan yang buruk sehingga meningkatkan emisi polusi udara, terdapat
prinsip umum yang dikembangkan oleh Deutsche Gesellschaft fur Technische
Zusammenarbeit (GTZ) GmbH dan Holcim Group Support Ltd seperti tercantum
pada Tabel 4.3.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

105

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 4.3. Prinsip Dasar Co-processing Limbah B3 dan Limbah Lainnya


pada Kiln Semen
Prinsip

Deskripsi

Hierarki pengelolaan limbah harus - sampah harus di-co-processing di tanur


dipatuhi

semen dimana secara ekolodikal dan


ekonomi metode yang kuat pemulihan tidak
tersedia
- Co-processing harus dipikirkan sebagai
bagian dari pengelolaan limbah
- Co-processing harus sejalan dengan Basel
and Stockholm Conventions dan aturan
lainnya

Emisi tambahan dan dampak

- dampak negatif dari polusi terhadap

negatif pada kesehatan manusia

lingkungan dan kesehatan manusia harus

harus dihindari

diminimalisir
- emisi udara dari kiln cement yang di-coprocessing tidak boleh lebih tinggi dari kiln
yang tidak memanfaatkan co-processing

Kualitas semen harus tidak

- produk tidak boleh digunakan sebagai

berubah

pengendapan logam berat


- produk tidak boleh memiliki dampak
negatif terhadap lingkungan
- kualitas produk harus mengikuti end-of-life
recovery

Industri/Perusahaan yang

- terdaftar secara legal

melalukan co-processing harus

- mempunyai track record environmental

terkualifikasi

and safety compliance


- memiliki background, proses, dan sistem
yang berkomitmen untuk melindungi
pencemaran lingkungan, kesehatan, dan
keselamatan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

106

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Prinsip

Deskripsi
- mampu dalam mengkontrol input hingga
proses produksi
- dapat mempertahankan relasi yang baik
dengan masyarakat sekitar dan partisipan
lainnya baik dalam lokal, nasional, maupun
internasional waste management shemes.

Implementasi dari co-processing

- persyaratan dan peraturan dari negara yang

harus mempertimbangkan

bersangkutan harus tercermin pada regulasi

keadaan nasional

dan prosedur yang dibuat


- implementasi harus mengizinkan untuk
build-up of the required capacity and the
set-up of institutuonal arrangements
- pengenalan co-processing harus sesuai
dengan perubahan proses lainnya dalam
struktur pengelolaan limbah pada suatu
negara
(Sumber: GTZ/Holcim, 2006)

4.10. Pengelolaan Limbah B3 di Jamnagar Refinery


Jamnagar Refinery merupakan perusahaan refinery minyak mentah terbesar
di dunia dengan kapasitas 1.240.000 BPD (197.000 m3/d). Perusahaan ini terletak
di Jamnagar, Gujarat, India dan berdiri sejak 14 Juli 1999 dengan luas area
mencapai 30.000.000 m2. Dengan kapasitas yang besar ini juga dihasilkan limbah
B3 yang cukup banyak dan mayoritas berupa sludge dan katalis, diantaranya yaitu
methanol synthesis, poly vinyl alcohol, propylene derivatives, dan maleic
anhydride.
Pengelolaan limbah padat termasuk limbah B3 dan limbah non-B3
merupakan salah satu hal yang paling diperhatikan di Jamnagar Refinery. Limbah
B3 yang dihasilkan pada akhirnya akan dijual atau diolah sendiri oleh Jamnagar
Refinery. Limbah B3 yang dihasilkan dan cara pengolahannya dapat dilihat pada
tabel berikut.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

107

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 4.4. Jumlah Limbah B3 Jamnagar Refinery dan Cara Pengelolaannya

(Sumber: Jamnagar Refinery, 2009)

Prosedur pengelolaan limbah B3 di Jamnagar Refinery adalah sebagai


berikut:
- Mengurangi jumlah dan kadar toksik limbah B3 dari sumber
- Pemilahan kemudian reuse dan recycle limbah-limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

108

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Penyimpanan limbah B3 pada kondisi yang tepat dan tidak membahayakan


lingkungan sekitar
- Memastikan adanya pengolahan limbah B3 yang dilakukan
Jamnagar Refinery sudah melakukan good housekeeping untuk mengurangi
jumlah dan juga sifat toksik limbah B3 yang dihasilkannya. Setelah limbah
terbentuk, dilakukan pemilahan limbah B3 sesuai jenisnya dan juga dilakukan
kegiatan reuse dan recycle. Beberapa limbah yang mendapat perlakuan reuse dan
recycle adalah plastik bekas (sebelumnya dibersihkan dahulu), ceceran minyak
dan beberapa katalis yang masih layak pakai.
Setelah limbah terbentuk dan sebelum dilakukan pengolahan, limbah B3
dikemas di drum khusus limbah B3. Limbah yang dihasilkan akan disimpan
dalam wadah yang berbeda-beda sesuai jenis dengan kode warna yang berbeda
pula. Pemilahan jenis di awal ketika limbah terbentuk merupakan salah satu teknis
pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh Jamnagar Refinery supaya
mempermudah dalam pengelolaannya nanti. Wadah limbah B3 harus kedap air
dan mudah dipindahkan. Selain itu lokasi penyimpanan limbah B3 harus
dijauhkan dari lokasi penyimpanan bahan kimia dan sistem drainase. Pada area
kilang terdapat truk khusus berkapasitas 4,5 m 3 untuk mengumpulkan limbah B3
yang dihasilkan dari setiap unit. Truk ini didesain untuk mampu melakukan
pengangkutan secara manual dan automatis. Truk ini kemudian akan membawa
limbah B3 ke tempat pengolahan.
Beberapa teknologi digunakan untuk mengolah limbah B3 diantaranya yaitu
komposting mikrobiologi, insinerasi, power generation, fuel pelletisation dan
lain-lain. Setiap limbah memiliki pengolahan yang berbeda-beda tergantung
dengan sifat dan karakteristiknya. Limbah seperti sludge oil akan diolah di sludge
treatment kemudian dibuang ke landfill khusus. Limbah biological sludge dapat
dimanfaatkan untuk kompos. Limbah material terkontaminasi dan limbah medis
akan diinsinerasi di insinerator khusus milik Jamnagar Refinery kemudian abunya
akan dibuang ke landfill. Drum bekas dapat dijual setelah sebelumnya dibersihkan
supaya bebas dari kontaminan.
Jamnagar Refinery juga memanfaatkan ceceran minyak yang termasuk
limbah B3, yang pertama yaitu dikembalikan lagi ke dalam tangki crude oil untuk
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

109

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

diolah, lalu yang kedua digunakan sebagai bahan bakar atau pelumas di area
kilang. Sebelum digunakan kembali, ceceran minyak ini harus diolah terlebih
dahulu dengan teknologi bernama ultra filtration atau dengan metode osmosis.
Hal ini dilakukan apabila dalam ceceran minyak ini terdapat kandungan logam
yang tinggi atau kontaminan lain.
Perlakuan khusus juga dilakukan untuk katalis-katalis bekas. Katalis bekas
ini akan dideaktivasi dengan metode yang sudah ditentukan oleh suppliers dari
katalis tersebut. Katalis yang sudah dideaktivasi ini dapat dikembalikan ke
suppliers-nya untuk diregenerasi atau apabila masih dapat digunakan katalis ini
akan dijual ke perusahaan lain yang membutuhkan. Katalis yang mengandung
logam tertentu juga dapat dijual ke perusahaan khusus yang mampu melakukan
recovery logam. Limbah lain yang tidak disebutkan pengelolaannya di atas akan
dijual ke berbagai pihak yang membutuhkan atau pihak pengolah limbah B3 yang
memiliki sistem pengolahan khusus sesuai jenis limbahnya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

110

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB V
ANALISIS & PEMBAHASAN PENGELOLAAN LIMBAH B3
DI PT PERTAMINA (PERSERO) RU-IV CILACAP

5.1. Identifikasi dan Klasifikasi Limbah B3


Identifikasi limbah B3 dibutuhkan supaya diketahui karakteristik limbah
tersebut sehingga dapat dilakukan pengelolaan yang tepat sesuai dengan
karakteristik masing-masing. Sesuai dengan PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85
tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, limbah B3 dapat digolongkan ke
dalam beberapa kategori menurut sumbernya, yaitu dari sumber tidak spesifik,
dari sumber spesifik dan dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan
dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Limbah B3 yang
dihasilkan dari kegiatan produksi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
tergolong ke dalam 3 kategori tersebut (Tabel 5.1.), yaitu:
1. Limbah B3 dari sumber spesifik
Limbah B3 yang berasal dari sumber spesifik merupakan limbah
yang berasal dari suatu proses khusus yang merupakan produksi utama.
Sesuai dengan Lampiran I Tabel II pada PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP
No. 85 tahun 1999, dapat dilihat bahwa limbah B3 yang dihasilkan oleh
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah limbah B3 yang termasuk
pada kode D206, D221 dan D228. PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap merupakan perusahaan di bidang energi yang menghasilkan
produk BBM dan non-BBM yang fokus pada pengolahan minyak
mentah (refinery unit) yang disimpan dalam kilang-kilang minyak untuk
diolah menjadi produk-produk seperti premium, minyak tanah, solar,
LPG dan LNG. Sumber limbah B3 bisa berasal dari berbagai proses
produksi, pembersihan tangki minyak dan pengolahan limbah cair di
IPAL. Limbah B3 yang dihasilkan berupa sludge, limbah cair, berbagai
jenis katalis bekas dan material-material terkontaminasi B3 atau limbah
B3 yang sudah tidak terpakai.
Pada RU-IV Cilacap juga terdapat kilang Paraxylene yang
mengolah naphta menjadi produk petrokimia seperti paraxylene,
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

111

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

benzene, toluen dan LPG. Limbah berupa sludge dan katalis bekas
dihasilkan dari proses produksi dan IPAL yang mengolah limbah cair.
Terakhir, dalam area kilang RU-IV ini terdapat laboratorium yang
berfunsi untuk mengontrol spesifikasi dan kualitas bahan baku serta
produk antara dan produk akhir. Selain itu di laboratorium ini terdapat
kegiatan

penelitian

dan

pengembangan

untuk

menjaga

dan

meningkatkan mutu produk. Dari berbagai proses penelitian di


laboratorium tersebut dapat dihasilkan limbah berupa sisa-sisa bahan
kimia yang tergolong B3. Limbah yang diberikan pihak laboratorium
kepada Environment Section untuk disimpan di TPS B3 biasanya berupa
limbah cair.

Tabel 5.1. Daftar Limbah B3 dari Sumber Spesifik di PT Pertamina


(Persero) RU-IV Cilacap
Kode
Limbah

D206

Jenis
Industri/Kegiatan

Petrokimia
dengan bahan
baku naphta

Sumber
Pencemaran

Asal/Uraian
Limbah

Pencemaran
Utama

MFDP produk
petrokimia dan
IPAL yang
mengolah efluen
proses
pengolahan
limbah

Sludge proses
produksi dan
fasilitas
penyimpanan,
katalis bekas, tar
(residu akhir),
residu proses
produksi/reaksi,
absorban (misal
karbon aktif)
bekas dan filter
bekas, limbah
laboratorium,
sludge dari IPAL,
residu/ash proses
spray drying,
pelarut bekas

Organik,
hidrokarbon
terhalogena
si, logam
berat
(terutama
Cr, Ni, Sb),
hidrokarbon
aromatis

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

112

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Kode
Limbah

D221

Jenis
Industri/Kegiatan

Kilang minyak
dan gas bumi

Sumber
Pencemaran

Asal/Uraian
Limbah

Pencemaran
Utama

Proses
pengolahan,
IPAL yang
mengolah
effluen proses
pengolahan, unit
DAF (Dissolved
Air Flotation),
pembersihan
heat exchanger,
tanki
penyimpanan

Sludge minyak,
katalis bekas,
karbon aktif
bekas, sludge dari
IPAL, filter
bekas, residu
dasar tanki yang
memiliki
kontaminan di
atas standar dan
memiliki
karakteristik
limbah B3,
limbah
laboratorium dan
limbah PCB

Bahan
organik,
bahan
terkontamin
asi minyak,
logam dan
logam berat
(terutama
Ba, Cr, Pb,
Ni), sulfida,
ferusioactiv
e
(surfactant,
dll)

Bahan
kimia
Seluruh jenis
(murni atau
Laboratorium
laboratorium
Pelarut, bahan
konsentrasi)
D228
riset dan
kecuali yang
kimia kadaluarsa, dan larutan
komersial
termasuk D227
residu sampel
kimia
(Rumah Sakit)
berbahaya
atau
beracun
(Sumber: Lampiran I Tabel II pada PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85
tahun 1999)

2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik


Limbah yang merupakan limbah B3 dari sumber tidak spesifik adalah
limbah B3 yang bukan berasal dari proses produksi yang utama. Pada
neraca limbah milik PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap terdapat
limbah berupa pelumas atau oli bekas yang dihasilkan dari kegiatan
maintenance alat-alat di area kilang. Selain itu juga terdapat lampu
bekas, baterai bekas, cartridge bekas, serta toner. Semua limbah tersebut

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

113

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

tergolong ke dalam limbah dari sumber tidak spesifik dengan kode


D1005d.
3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan
buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi
Limbah yang tergolong dalam jenis ketiga ini yang dihasilkan oleh PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah tanah terkontaminasi,
kemasan berupa botol atau kaleng bekas wadah B3,

Identifikasi limbah B3 di atas menggunakan peraturan yang berdasar pada


PP PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999 dengan meneliti sumber
limbah B3. Selain identifikasi dengan PP tersebut, dapat pula dilakukan
identifikasi sifat limbah B3 dengan melakukan uji karakteristik dan uji toksikologi
bila limbah B3 yang ditemukan tidak termasuk ke dalam jenis limbah B3 menurut
sumbernya.
Sesuai dengan ijin yang diterima oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap dari Bupati Cilacap (Keputusan Bupati Cilacap No. 660.1/133/30/Tahun
2011 tentang Pemberian Ijin Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun) terdapat 17 golongan limbah B3 yang diperbolehkan unuk disimpan di
TPS limbah B3 milk PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Akan tetapi dalam
pendataan di neraca limbah dibuat penggolongan jenis limbah yang lebih spesifik
menjadi 26 jenis seperti terlihat pada Tabel 5.2..

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

114

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 5.2. Jenis Limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


18 Jenis Limbah B3 yang Diijinkan
Disimpan di TPS PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap Menurut Ijin
(Keputusan Bupati Cilacap No.
660.1/133/30/Tahun 2011)
Oil sludge

26 Jenis Limbah B3 yang Selama ini


Dicatat di Neraca Limbah B3 PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
Tahun 2010-2014
Chloride Adsorbent (spent adsorbent)

Pelumas bekas

Kemasan (botol/kaleng) bekas B3


Material terkontaminasi (majun, filter,
Air cucian drum bekas
serbuk gergaji, sarung tangan, cellusorb,
dll)
Spent catalyst
Ceramic Ball (Spent adsorbent)
Limbah laboratorium
Mineral wool/rockwool (isolasi)
Aki bekas
Molecular sieve (spent adsorbent)
Bahan kimia kadaluarsa
Spent clay (spent adsorbent)
Spent adsorbent
Used accu/battery
Material terkontaminasi minyak
Sulphur
Isolasi
Used lamp (limbah kantor B3)
Lampu bekas
Used cartridge and toner
Tanah terkontaminasi (material
Tabung/kaleng/botol ex kemasan B3
terkontaminasi)
Limbah kantor termasuk B3
Asphalt kotor (produk off. spec)
Sulphur
Slack wax (produk off. spec)
Debu katalis
Limbah cair
Pyrite
Pyrite
Produk off. spec
Spent activated carbon (spent adsorbent)
Limbah cair
Activated alumina (spent adsorbent)
Debu catalyst (spent catalyst)
Sludge
Adsorbent PSA (Spent adsorbent)
Karat terkontaminasi (material
terkontaminasi)
Oli bekas
Zeolite
Spent catalyst
Rocksalt
(Sumber: Keputusan Bupati Cilacap No. 660.1/133/30/Tahun 2011 dan Neraca
Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

115

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Pada Tabel 5.3. dapat dilihat jenis dan karakteristik dari limbah B3 yang
dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Data karakteristik limbah
B3 sangat diperlukan untuk mengetahui cara penanganan limbah tersebut, baik
dari segi pewadahan, penyimpanan, pengolahan, pemanfaatan dan penanganan
kecelakaan kerja terkait limbah B3 tersebut.

Tabel 5.3. Identifikasi Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


No.
1
2
3
4
5
6
7

10

Jenis Limbah B3
Chloride Adsorbent
(spent adsorbent)
Molecular sieve (spent
adsorbent)
Spent clay (spent
adsorbent)
Ceramic Ball (spent
adsorbent)
Spent activated carbon
(spent adsorbent)
Activated alumina (spent
adsorbent)
Adsorbent PSA (Spent
adsorbent)
Material terkontaminasi
(majun, filter, serbuk
gergaji, sarung tangan,
cellusorb, dll)
Karat terkontaminasi
(material
terkontaminasi)
Tanah terkontaminasi
(material
terkontaminasi)

Sumber Limbah

Perkiraan
Karakteristik

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber tidak
spesifik dan
tumpahan /
ceceran
Sumber tidak
spesifik/tumpahan
/ ceceran

Presentase
Timbulan

32,99%

Beracun

Beracun

Tumpahan /
ceceran

Beracun

2,68%

11

Used accu/battery

Sumber tidak
spesifik

Beracun

0,58%

12

Sulphur

Sumber spesifik

Korosif,
beracun

0,69%

Used lamp (limbah


kantor B3)
Used cartridge and
toner

Sumber tidak
spesifik

Beracun

0,068%

Sumber tidak
spesifik

Beracun

0,052%

13
14

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

116

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.
15
16
17

Jenis Limbah B3
Kemasan (botol/kaleng)
bekas B3
Asphalt kotor (produk
off. spec)
Slack wax (produk off.
spec)

18

Limbah cair

19

Pyrite

20
21
22

Debu catalyst (spent


catalyst)
Spent catalyst
Mineral wool/rockwool
(isolasi)

23

Oli bekas

24

Zeolite

Sumber Limbah

Perkiraan
Karakteristik

Presentase
Timbulan

Bekas kemasan

Beracun

0,263%

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik

Beracun

Sumber tidak
spesifik
Sumber tidak
spesifik

Korosif,
beracun
Mudah
terbakar

Sumber spesifik

Beracun

Sumber spesifik
Sumber tidak
spesifik
Sumber tidak
spesifik
Sumber tidak
spesifik

Beracun

3,41%

26

0,28%
0,2%

Beracun

2,36%

Mudah
terbakar

9,65%

Beracun

Beracun,
Sludge
Sumber spesifik
mudah
terbakar
Rocksalt
Sumber spesifik
Beracun
(Sumber: Neraca Limbah B3 PT Pertamina (Persero)

25

13,25%

33,5%
0

RU-IV Cilacap)

Karakteristik limbah B3 yang paling banyak terdapat di PT Pertamina


(Persero) RU-IV untuk setiap jenis adalah beracun. Bila dilihat dari presentase
timbulan limbah B3 pun, limbah B3 yang dihasilkan mayoritas bersifat beracun.
Hal ini wajar karena PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap bergerak di bidang
pengolahan

minyak dan gas yang mengandung banyak bahan beracun. Oleh

karena itu dalam pengelolaan limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV harus


lebih diperhatikan tentang sifat beracun dari berbagai limbah B3 tersebut agar
tidak salah menangani

sehingga

menurunkan kualitas lingkungan dan

membahayakan manusia.
Selain itu limbah dengan karakteristik lain juga butuh perlakuan ketat dan
tepat, yaitu korosif dan mudah terbakar. Apabila limbah B3 tersebut menimbulkan
kecelakaan kerja berupa kebakaran bahkan hanya kebakaran kecil sekalipun,
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

117

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

maka dampaknya akan sangat merugikan. Area kilang Pertamina memproduksi


produk BBM dan non-BBM yang mudah terbakar sehingga bila terjadi letupan api
kecil pun akan mudah memicu terjadinya kebakaran yang lebih besar.

5.2. Kuantitas Limbah B3


Jumlah limbah B3 yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap untuk tiap jenisnya tentu bervariasi terhadap waktu. Kuantitas limbah
yang dihasilkan tergantung pada proses produksi yang dilakukan di semua unit.
Contohnya apabila sedang dilakukan tank cleaning maka jumlah limbah B3
berupa oil sludge akan meningkat. Jumlah limbah B3 diperoleh dari kegiatan
penimbangan yang dilakukan di gudang TPS limbah B3 dengan menggunakan
timbangan untuk limbah.
Untuk mengetahui jumlah limbah B3 yang dihasilkan, disimpan di TPS,
diolah sendiri, dimanfaatkan atau diberikan pengolahannya ke pihak ketiga maka
dibuatlah neraca limbah setiap bulannya. Dalam neraca ini disajikan data kuantitas
limbah tiap jenis sesuai dengan yang sudah diklasifikasikan oleh penghasil limbah
B3. Pengertian neraca limbah B3 (menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
No. 02 tahun 2008 tentang Pemanfaatan Limbah B3) adalah data kuantitas limbah
B3 dari usaha dan/atau kegiatan yang menunjukkan kinerja pengelolaan limbah
B3 pada satuan waktu penataannya. PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
sebagai penghasil limbah B3 wajib memiliki catatan peneriman, penyimpanan,
pemanfaatan dan pengolahan limbah B3 lainnya serta neraca limbah B3 kemudian
melaporkannya minimal satu kali dalam 6 bulan kepada Menteri, Gubernur,
Bupati/Walikota.
Neraca limbah B3 merupakan formulir isian dengan format yang telah
diatur dalam Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 02
tahun 2008. Dalam lampiran tersebut juga dijelaskan petunjuk untuk mengisi
neraca limbah B3. Neraca limbah yang dibuat oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap terdiri dari 2 formulir, yaitu neraca limbah B3 form I dan neraca limbah
B3 form II. Neraca limbah form I merupakan neraca yang terdapat pada
Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 02 tahun 2008,
sedangkan neraca limbah form II terdapat pada Lampiran I Keputusan Bupati
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

118

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Cilacap No. 660.1/133/30/Tahun 2011 tentang Pemberian Ijin Penyimpanan


Limbah B3 kepada PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Dalam neraca limbah, hanya limbah yang dihasilkan pada periode
pembuatan neraca limbah itulah yang ditulis. Walaupun PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap mengklasifikasikan jenis limbahnya dalam pencatatan neraca ke
dalam 26 jenis, tapi tidak semua jenis limbah itu harus ditampilkan setiap periode
neraca. PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap membuat neraca limbahnya dalam
periode bulanan. Sebagai contoh, dapat dilihat pada Tabel 5.4. yang merupakan
neraca limbah form II periode bulan Februari 2014.
Untuk pelaporan neraca limbah B3, PT Pertamina membuat laporan dalam
kurun waktu setiap 3 bulan (triwulan). Laporan ini diberikan kepada KLH
(Kementerian Lingkungan Hidup), BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kabupaten
Cilacap, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, dan Pertamina Pusat. Dari
sini dapat dilihat bahwa PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap telah
melaksanakan kewajibannya bahkan lebih disiplin dengan mengirimkannya setiap
3 bulan sekali.
Selain membuat neraca limbah B3 bulanan dalam 2 bentuk form, PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap juga menginventarisasi limbah B3 yang
dihasilkannya dalam berbagai bentuk. Pertama adalah neraca harian (log book)
yang bentuknya mirip dengan neraca limbah form II dengan perbedaan hanya
pada periode pembuatan. Selanjutnya adalah denah limbah B3 (Tabel 5.5.) yang
merupakan formulir yang digunakan oleh kepala TPS gudang limbah B3 dalam
mendata jumlah limbah B3 yang masuk. Selain itu selama setahun sekali pada
pertengahan tahun, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap membuat laporan
limbah B3 yang dihasilkan dalam rangka penilaian Proper.
Proper adalah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan yang
merupakan upaya dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia untuk
mendorong perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pada laporan ini
lebih difokuskan pada jumlah limbah B3 yang dihasilkan dan pengelolaan dari
limbah tersebut. Periode pendataan dimulai dari bulan Juli 1 tahun sebelumnya
hingga bulan Juni saat tahun penilaian Proper (periode 1 tahun). Contoh neraca
limbah untuk penilaian Proper dapat dilihat pada Tabel 5.6..
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

119

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 5.4. Neraca Limbah Form II PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap Periode Bulan Februari 2014
Masuknya limbah B3 ke TPS
No

Jenis limbah B3
masuk

Tanggal masuk
limbah B3

(A)
1

(B)
Oli bekas

(C)
03 Januari 2014
13 Januari 2014
14 Januari 2014
15 Januari 2014
16 Januari 2014
17 Januari 2014
18 Januari 2014
19 Januari 2014
20 Januari 2014
21 Januari 2014
07 Februari 2014
08 Februari 2014
17 Februari 2014
28 Februari 2014
03 Februari 2014
13 Februari 2014
25 Februari 2014
17 Februari 2014

(D)
Paraxylene
Bengkel
Utilities
Timbangan
Paraxylene
Paraxylene
Paraxylene
Bengkel
Paraxylene
Paraxylene
Paraxylene
Paraxylene
RFCC Project
Paraxylene
Paraxylene
MA I (ex LOC I)
All Area
RFCC Project

17 Februari 2014
17 Februari 2014

2
3
4
5
6

Spent Clay
Tanah
terkontaminasi
Used
Toner/Cartridge
Material
terkontaminasi
Kemasan ex B3 /
ex sample

Sumber limbah B3

Keluarnya limbah B3 dari TPS


Jumlah
limbah B3
masuk
(ton)

Sisa

Maksimal
penyimpana
n s/d tanggal
: (t = 0 + 90
hr, 180 hr) (2)

Tanggal
keluar
limbah

Jumlah
limbah
B3
(ton/m3/
Liter)

Jumlah
Limbah B3
yang
dimanfaatka
n
(ton/m3/Liter
)

Bukti nomor
dokumen (3)

Sisa LB3
yang ada di
TPS
(ton/m3/Lite
r)

(E)
8,0000
1,6000
0,4000
0,8000
4,0000
4,0000
4,0000
0,2000
0,4000
5,8000
2,4000
2,6000
0,1860
4,0000
64,6449
3,3820
0,1409
0,0050

(F)
03-Apr-14
13-Apr-14
14-Apr-14
15-Apr-14
16-Apr-14
17-Apr-14
18-Apr-14
19-Apr-14
20-Apr-14
21-Apr-14
08-Mei-14
09-Mei-14
18-Mei-14
29-Mei-14
04-Mei-14
14-Mei-14
26-Mei-14
18-Mei-14

(G)

(H)

(I)

(J)

20-Feb-14

0,186 ton

XH 0002851

20-Feb-14

0,005 ton

XH 0002848

(K)
8,000
1,600
0,400
0,800
4,000
4,000
4,000
0,200
0,400
5,800
2,400
2,600
0,000
4,000
64,645
3,382
0,141
0,000

RFCC Project

0,0570

18-Mei-14

20-Feb-14

0,057 ton

XH 0002849

0,000

RFCC Project

0,1060

18-Mei-14

20-Feb-14

0,106 ton

XH 0002850

0,000

(Sumber: Neraca Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Periode Bulan Februari 2014)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

120

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 5.5. Denah Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Periode Bulan Juni 2014
N
O.

JUMLAH
SUMBER
PCS

Botol ex sample
& chemical
Botol ex sample
& chemical
Botol ex sample
& chemical
Botol ex sample
& chemical
Botol ex sample
& chemical
Botol ex sample
& kaleng
Botol, Jirigen

TANGGAL

JENIS

Botol ex sample
Kaleng es
sample
Kaleng ex
sample
Kaleng ex
sample

PALET

DRUM

NETO

0,75

1,25

0,75

0,75

0,5

0,125

0,5

0,5

0,5

0,75

Kaleng ex cat

1,25

Kaleng ex
sample

0,75

Kaleng ex cat

2,5

10

Kaleng ex
sample

0,5

Botol ex sample
Kaleng & Botol
ex sample
Kaleng ex
sample
Botol ex sample

0,25

1,25

0,75

0,5

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

132,
00
220,
00
132,
00
132,
00
88,0
0
22,0
0
88,0
0
88,0
0
132,
00

TONAGE

MASUK

0,13

Lab Produksi II

0,22

Lab Produksi II

0,13

Lab Produksi II

0,13

Lab Produksi II

0,09

Lab Produksi II

0,02

LOC. III
Pest Control/Cleaning
Servisce ( OH )

0,09
0,088

Lab Produksi II

0,13

Lab Produksi II

0,00

0,00

All Area (Incenerator)

0,00

0,00

All Area (Incenerator)

0,22

37T-103 ( M.A 3 )

0,13

Lab Produksi II

0,44

Scrap yard (
Sweeping )

0,09

Lab Produksi II

220,
00
132,
00
440,
00
88,0
0
44,0
0
220,
00
132,
00
88,0
0

0,04
0,22
0,13
0,09

BATAS
TERAHIR

7-Mar14

11-Mar14
7-Mar14
10-Mar14
6-Mar14
10-Mar14

616
5-Jun-14
0,616

9-Jun-14

5-Jun-14

0,5

8-Jun-14

4-Jun-14

8-Jun-14

11-Mar14
13-Mar14
14-Mar14

9-Jun-14

11-Jun-14

12-Jun-14

10

18-Mar14

16-Jun-14

2
1
21

Lab Produksi II

Lab Produksi II

KETERANGAN

KELUAR

14

Lab Produksi II

Lab Produksi II

TANGGAL

12May-14

10-Aug-14

924
0,924

B.A Belum. Tgl. Masuk TPS 10 Mei


2013
B.A Belum. Tgl. Masuk TPS 24 Mei
2013
B.A Belum. Tgl. Masuk TPS 20 Des
2013
B.A Belum. Tgl. Masuk TPS 15 Jan
2014
1 drum pendek (Masuk Tgl. 17 Jan Feb
2014)
225 Pcs (2 drum utuh) (Masuk Tgl. 20
Feb 2014)
2 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 27 Feb
2014)
3 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 27 Feb
2014)
37+18=55 drum utuh B.A Blm (Masuk
Tgl. Jan 2014)
4 drum pendek B.A Blm (Masuk Tgl Jan
2014)
5 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 11
Mar 2014)
3 drum utuh B.A Belum (Masuk Tgl. 13
Mar 2014)
10 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 14
Mar 2014)
2 drum utuh B.A Blm ( Masuk Tgl. 18
Mar 2014 )
1 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 18
Mar 2014)
2 drum kaleng + 3 drum botol (Masuk
Tgl. 1 Apr 2014)
3 drum (Masuk Tgl. 12 Mei 2014)
2 drum (Masuk Tgl. 12 Mei 2014)

di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di gd ex
sandblast
di gd ex
sandblast
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3

121

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung
N
O.

JUMLAH

TANGGAL

JENIS

SUMBER
PCS

Kaleng ex
sample
Botol ex sample
Kaleng ex
sample
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
Kaleng
Kaleng ex cat
Kaleng ex cat
TOTAL
BOTOL

PALET

DRUM

NETO

0,75

0,5

1,5

0,75

12

0,75

0,5

0,5

0,25

0,75

0,25

1,625

6,5

0,75

12

0,25

2,25

0,25

32,25

129

132,
00
88,0
0
264,
00
132,
00
528,
00
176,
00
132,
00
88,0
0
88,0
0
44,0
0
132,
00
44,0
0
286,
00
132,
00
528,
00
44,0
0
396,
00
44,0
0
5676,
00

TONAGE

0,13
0,09
0,26
0,13
0,53
0,18
0,13
0,09
0,09
0,04
0,13
0,04
0,29
0,13
0,53
0,04
0,40
0,04
5,68

MASUK

BATAS
TERAHIR

TANGGAL

KETERANGAN

KELUAR

Lab Produksi II
Lab Produksi II
Lab Produksi II
FOC. II ( Unit 019 )

5-May14

3-Aug-14

3
24

All area

1056

All area
All area

19May-14

1,056
17-Aug-14

All area
All area
All area
Tanki 41T-5, T-4, T3,T-23
Dermaga 67 M.A 1
36T-103
All area
LOC I SRU
36T-103
Area 041
MA I (Unit 48)

28May-14
16May-14
21May-14
2-Jun14
2-Jun14
13-Jun14
13-Jun14
16-Jun14

26-Aug-14

14-Aug-14

19-Aug-14

6,5

31-Aug-14

31-Aug-14

12

11-Sep-14

11-Sep-14

3 drum B.A Blm ( Masuk Tgl. 26 Mei


2014)
2 drum B.A Blm ( Masuk Tgl. 26 Mei
2014)
8 Kantong = 6 drum utuh B.A Blm
(Masuk Tgl. 28 Apr 2014)
70 Pcs ( 3 drum utuh) Masuk Tgl. 5 Apr
2014
12 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 2 Apr
2014)
4 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 11
Apr 2014)
3 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 17 Apr
2014)
2 drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 28 Apr
2014)
2 Drum utuh B.A Blm (Masuk Tgl. 8 Mei
2014)
1 drum B;A Blm (Masuk Tgl. 19 Mei
2014)
1. Lot (2.5 karung + 1,5 karung = 3 drum)
B.A udah (Masuk Tgl. 28 Apr 2014)
1 drum (Masuk Tgl. 16 Mei 2014)
1 drum pot + 6 drum = 6,5 drum (Masuk
Tgl. 21 Mei 2014)
3 drum B.A Blm ( Masuk Tgl. 2 Jun
2014)
1 Lot =12 drum (Masuk Tgl. 2 Jun 2014)
1 drum B.A Blm
9 drum (Masuk Tgl. 13 Juni 2014)

14-Sep-14

1 lot (1 drum)

di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3
di TPS limbah
B3

119,00

(Sumber: Denah Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Periode Bulan Juni 2014)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

122

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tabel 5.6. Sebagian Neraca Limbah untuk Penilaian Proper (Juli 2013-Juni 2014)
LIMBAH DIKELOLA

N
O
.

JENIS
LIMBA
H B3

SUM
BER

SAT
UAN

PERLAKU
AN

Period
e
sebelu
mnya
(
SALD
O)

Agu
stus

Septe
mber

Okt
ober

No
v

De
s

Jan

Fe
b

Ma
ret

Apr
il

Mei

Jun
i

0,0
00

0,0
00

26,5
10

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

26,5
10

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

DIMANFA
ATKAN
SENDIRI

0,0
00

0,0
00

0,00
0

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

DIOLAH
SENDIRI

0,0
00

0,0
00

0,00
0

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

LANDFIL
L
SENDIRI

0,0
00

0,0
00

0,00
0

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

DISIMPA
N DI TPS

Pros
es
Prod
uksi

TO
N

TAHUN 2014

Juli

DIHASILK
AN

Chlori
de
Adsor
bent
(Spen
t
Adsor
bent)

TAHUN 2013

0,000

DISERAH
KAN
KEPIHAK
KETIGA
BERIZIN

0,0
00

0,0
00

0,00
0

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

TIDAK
DIKELOL
A

0,0
00

0,0
00

0,00
0

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

0,0
00

LIMBA
H
DIHASI
LKAN

DISIM
PAN
DI
TPS

DIMANFA
ATKAN
SENDIRI

DIO
LAH
SEN
DIRI

LAND
FILL
SEND
IRI

DISERA
HKAN
PIHAK
KETIGA
BERIZI
N

LIMB
AH
TIDA
K
DIKE
LOLA

26,510

0,00
0

0,000
0,00
0
0,00
0

0,000

0,000

KETER
ANGAN

KODE
MANI
FEST

disimpa
n di
TPS
LB3

Pengol
ah : PT.
Pasade
na
Metric
Indone
sia
Pengan
gkut :
PT.
Pasade
na
Metric
Indone
sia

LC
0002
574,
LC
0000
041

(Sumber: Neraca Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Periode Juli 2013-Juni 2014 untuk Penilaian Proper 2014)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

123

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dari neraca limbah B3, dapat diketahui data kuantitas limbah B3 yang
dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap berdasarkan jenisnya pada
periode tertentu. Pada Tabel 5.7. ditampilkan jumlah limbah B3 yang dihasilkan
oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap pada periode 1 tahun (Juli 2013-Juni
2014). Total limbah yang dihasilkan selama periode tersebut oleh PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap adalah 1065,487 Ton.

Tabel 5.7. Jumlah Limbah yang Dihasilkan di PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap Periode Juli 2013-Juni 2014
No.

Jenis Limbah B3

Jumlah

Chloride Adsorbent (spent


adsorbent)

26,51 Ton

2,8 Ton

Sumber
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities
All area

13,865 Ton

All area

2,604 Ton
25,12 Ton

4
5

Kemasan (botol/kaleng) bekas B3


Material terkontaminasi (majun,
filter, serbuk gergaji, sarung
tangan, cellusorb, dll)
Ceramic Ball (Spent adsorbent)
Mineral wool/rockwool (isolasi)

Molecular sieve (spent adsorbent)

2,09 Ton

Spent clay (spent adsorbent)

169,645 Ton

Used accu/battery

6,184 Ton

9
10
11

Sulphur
Used lamp (limbah kantor B3)
Used cartridge and toner
Tanah terkontaminasi (material
terkontaminasi)
Asphalt kotor (produk off. spec)
Slack wax (produk off. spec)
Limbah cair
Pyrite

7,396 Ton
0,729 Ton
0,549 Ton

All area
All area
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG &
SRU, Paraxylene, utilities
IT RU-IV, LOC II, FOC I,
LOC I
SRU
All area
IT RU IV, lab produksi II

13,528 Ton

All area

9,975 Ton
26,4 Ton
141,15 Ton
2,995 Ton

All area
All area
FOC I, laboratorium
FOC I, FOC II, LOC I, SRU
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities

12
13
14
15
16
17

Spent activated carbon (spent


adsorbent)

8,747 Ton

18

Activated alumina (spent


adsorbent)

0,38 Ton

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

124

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.

Jenis Limbah B3

Jumlah

19

Debu catalyst (spent catalyst)

2,147 Ton

20

Sludge

357,033 Ton

21

Adsorbent PSA (Spent adsorbent)

Sumber
SRU, FOC I, FOC II, LOC I,
LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities
Holding basin, FOC II, SRU,
IPAL

141,6 Ton

SRU, FOC I, FOC II, LOC I,


LOC II, LOC III, LPG&
SRU, Paraxylene, utilities

1,254 Ton

Maintenance

23
24

Karat terkontaminasi (material


terkontaminasi)
Oli bekas
Zeolite

102,786 Ton
0

25

Spent catalyst

Maintenance
Utilities
FOC I, FOC II, LOC I, LOC
II, LOC III, Paraxylene
FOC I

22

26

0
1065,487
Total
Ton
(Sumber: Neraca Limbah PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap Periode
Rocksalt

Juli 2013-Juni 2014)

Gambar 5.1. Jumlah Timbulan Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap Periode Juli 2013-Juni 2014

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

125

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dari Tabel 5.7. dan Gambar 5.1. dapat dilihat bahwa limbah B3 yang
paling banyak dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah
sludge. Sludge ini mayoritas berasal dari kegiatan IPAL yang berupa cake hasil
dari alat filter press. Selain itu limbah sludge juga dihasilkan dari kegiatan tank
cleaning. Limbah B3 yang dihasilkan terbanyak ke-2 adalah spent adsorbent.
Spent adsorbent digunakan sebagai penyerap air pada beberapa unit. Spent
adsorbent yang paling banyak digunakan adalah spent clay dan adsorbent PSA.

Gambar 5.2. Jumlah Timbulan Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap Tahun 2010-2014

Dari Gambar 5.2. dapat dilihat bahwa limbah B3 yang dihasilkan PT


Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap cenderung meningkat. Pada tahun 2012
terlihat lonjakan timbulan limbah B3 yang sangat tinggi akibat jumlah sludge
yang sangat banyak dihasilkan di tahun itu. Pada tahun 2010 dan 2011 belum
terdapat sistem pendataan limbah B3 yang rapi dan akurat sehingga kemungkinan
besar ada beberapa limbah yang tidak terinventarisasikan. Barulah pada tahun
2012 neraca limbah B3 dibuat dengan lebih akurat dan teliti. Data timbulan
limbah B3 pada tahun 2014 masih sangat mungkin bertambah jumlahnya karena
pembuatan neraca baru sampai pada bulan Juni (setengah tahun).

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

126

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

5.3. Evaluasi Kinerja Pengelolaan Limbah B3


Kegunaan pembuatan neraca limbah B3 selain untuk mengetahui kuantitas
limbah B3, juga untuk menilai kinerja pengelolaan limbah B3 yang dilakukan
pada suatu satuan waktu tertentu. Rumus yang digunakan untuk menghitung
kinerja pengelolaan adalah:

A = total jumlah awal limbah,


B = total jumlah limbah yang dilakukan perlakuan (disimpan, dimanfaatkan,
dikirim, dll),
C = residu,
D = jumlah limbah yang belum terkelola (A-B),
Angka yang dihasilkan dari perhitungan tersebut menunjukkan derajat ketaatan
pengelolaan limbah B3 terhadap peraturan yang ada dengan nilai terkecil 0 dan
terbesar 100%. Bila menunjukkan angka 100% maka dapat dikatakan bahwa PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap taat pada peraturan dengan mengelola limbah
B3 yang dihasilkannya secara baik dan benar.
Berdasarkan neraca limbah B3 untuk periode Juli 2013-Juni 2014 dilakukan
perhitungan sebagai berikut:
{

)]

= 100%

Dari hasil perhitungan didapat angka 100%, artinya PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap telah mengelola semua limbah B3 yang dihasilkannya dengan
baik. Walaupun dalam segi jumlah pengelolaan limbah B3 sudah sangat baik
karena 100% limbah B3 terkelola, harus diikuti pula dengan sistem dan teknis
pengelolaan yang sesuai dengan peraturan dan izin yang berlaku. Jangan sampai
semua limbah terkelola tapi dalam teknis pelaksanaannya tidak sesuai dengan
peraturan.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

127

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

5.4. Evaluasi Sistem Pengelolaan Limbah B3


5.4.1. Evaluasi Pedoman Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap memiliki beberapa prosedur yang
digunakan sebagai pedoman dalam menangani limbah B3. Prosedur-prosedur
tersebut disebut dengan Tata Kerja Organisasi (TKO) dan Tata Kerja Individu
(TKI). Dalam tata kerja di antaranya berisi fungsi/unit organisasi/jabatan terkait,
tujuan, ruang lingkup, referensi, dokumen terkait, pengertian dan batasan,
prosedur, indikator dan ukuran keberhasilan serta lampiran. Beberapa tata kerja
yang terkait dengan pengelolaan limbah B3 adalah:

Tata Kerja Organisasi B-002 tentang Kesiagaan dan Tanggap Darurat.


Tujuannya untuk memberikan panduan bagi seluruh pekerja dalam
menanggapi keadaan darurat seperti misalnya ketika terjadi tumpahan
limbah B3.

Tata Kerja Organisasi B-005 tentang Pengelolaan Limbah B3. Tujuannya


untuk mengelola limbah B3 secara tepat sehingga tidak menimbulkan
dampak terhadap lingkungan atau menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Selain itu juga untuk mendorong penggunaan kembali (reuse) dan daur
ulang (recycle) B3. Hal tersebut mencakup pengelolaan semua limbah B3
yang dihasilkan dari kegiatan, produk dan jasa kilang di seluruh area
kilang. Dalam TKO ini juga terlampir diagram alir TKO Pengelolaan
Limbah B3, formulir identifikasi jenis, jumlah dan sumber limbah B3,
formulir pemberitahuan limbah B3, serta berita acara serah terima limbah
B3.

Tata Kerja Individu C-016 tentang Penataan dan Penyimpanan Limbah B3


di Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3. Dalam TKI ini berisi
instruksi kerja dan ketentuan dalam melakukan penyimpanan limbah B3 di
TPS. Dalam TKI ini juga terlampir gambar kemasan penyimpanan limbah
B3, penyimpanan dengan sistem palet 3 susun, penyimpanan dengan
sistem rak susun 4, dan label untuk limbah B3.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

128

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Tata Kerja Individu C-002 tentang Penanganan Oil Sludge di Sludge Pond,
Tata Kerja Individu C-003 tentang Pengedrainan Air di Sludge Pond, Tata
Kerja Individu C-012 tentang Pengoperasian Kerangan Drainase Sludge
Pond dan Tata Kerja Individu C-017 tentang Penuangan Minyak Bekas ke
Sludge Pond. Keempat TKI tersebut menjelasakan mengenai tata cara
menuangkan minyak bekas ke dalam sludge pond secara aman dan
berbagai tata cara operasional lain dalam menjalankan kegiatan di sludge
pond.
Pedoman-pedoman yang disebutkan di atas dibuat dari berbagai peraturan

pengelolaan limbah B3 dan izin terkait pengelolaan limbah B3 yang dimiliki oleh
PT (Pertamina) RU-IV Cilacap. Peraturan dan izin yang digunakan adalah:
- UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
- PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan
Limbah Berbahaya dan Beracun (B3)
- Permen LH No.18 tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan
Limbah B3
- Kep-01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3
- Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 tentang
Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
- Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.03 tahun 2008 tentang
Tata Cara Pemberian Simbol dan Label B3
- Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 30 Tahun 2009 tentang
Tata Laksana Perizinan dan Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun serta Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun oleh Pemerintah Daerah
- Keputusan Bupati Cilacap No. 660.1/133/30/tahun 2011 tentang
Pemberian Ijin Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
kepada PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

129

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.128/MenLH/2003 tentang


Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan
Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi Biologis
- Keputusan Bupati Cilacap No.050/22/30/tahun2012 tanggal 22 Mei 2012
tentang Pemberian Ijin Pembuangan Air Limbah kepada PT.Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap

5.4.2. Evaluasi Reduksi Limbah B3


Dalam hierarki pengelolaan limbah, hal pertama yang sebaiknya dilakukan
para penghasil limbah B3 adalah mencegah terbentuknya limbah dari sumbernya
(reduksi). Dengan mencegah timbulnya limbah B3, biaya pengolahan limbah B3
yang dikeluarkan dan juga usaha yang diperlukan untuk mengatasi dampak
lingkungan akan lebih sedikit.
Upaya reduksi yang dilakukan sebelum limbah B3 terbentuk meliputi:
Inventarisasi sumber limbah.
Dengan usaha ini, dapat diketahui unit apa saja yang berpotensi untuk
menghasilkan limbah B3 sehingga dapat dilakukan pengajian dan evaluasi
mengenai usaha minimasi timbulan limbah B3 yang dihasilkan.
Melaksanakan good housekeeping (GHK) secara tepat dan teratur.
Usaha yang dapat dilakukan antara lain pemeliharaan dan perawatan alat
operasi, penerapan prosedur transportasi yang baik serta substitusi bahan
dengan sifat yang lebih hemat dan ramah lingkungan. PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap melakukan kegiatan GHK di area kilang satu kali
setiap bulan. Kegiatan yang dilakukan antara lain pengecatan marka jalan,
perbaikan fasilitas yang sudah rusak, pembenahan berkala kondisi gudang
penyimpanan bahan kimia dan gudang penyimpanan limbah B3 serta
maintenance alat. Kondisi gedung penyimpanan bahan kimia harus selalu
dipantau agar tidak ada bahan kimia yang tumpah atau terkontaminasi
sehingga tidak bisa digunakan lagi dan menjadi limbah B3. Perbaikan marka
jalan dibutuhkan untuk mengurangi terjadinya kecelakaan pada saat
mentransport bahan-bahan kimia atau limbah B3 sehingga tercecer dan
mengontaminasi barang-barang lain sehingga menjadi limbah B3 juga.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

130

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Maintenance alat dan perbaikan fasilitas dibutuhkan supaya tidak terjadi


penggunaan bahan kimia yang sia-sia dan memaksimalkan produk yang
dihasilkan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan.
Selain itu PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap memberi perlakuan
berbeda untuk sampah B3 dan non-B3 dengan membuat 2 jenis tong
sampah, yaitu tong sampah untuk limbah B3 dan tong sampah untuk limbah
non-B3 (Gambar 5.3.). Pemisahan sampah ini dilakukan supaya
pengelolaannya lebih efektif dan untuk mencegah bertambahnya jumlah
sampah B3 akibat tercampurnya sampah non-B3 dengan sampah B3.
Sampah non-B3 dapat langsung dibuang ke TPA dan tidak perlu melewati
serangkaian prosedur pengelolaan ketat seperti layaknya sampah B3.

Gambar 5.3. Tong Sampah Limbah B3 dan Limbah non-B3


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

5.4.3. Evaluasi Pengemasan dan Pewadahan Limbah B3


Menurut Keputusan Kepala BAPEDAL No. 01 tahun 1995 tentang Tata
Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3, setiap
penghasil dan pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik
bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkannya. Dalam hal ini baik dari unitunit yang menghasilkan limbah dan juga pihak Environment Section wajib
mengetahui kemasan mana yang tepat untuk mewadahi limbah B3. Bentuk, bahan
dan ukuran kemasan harus dipilih berdasarkan kecocokannya terhadap jumlah,
jenis dan karakteristik limbah yang akan dikemasnya.
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap sudah melakukan pengemasan
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Kep01/Bapedal/09/1995. Alat
pengemas yang umumnya digunakan di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

131

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

adalah drum, tong plastik, kontainer IBC dan jumbo bag (Gambar 5.4.). Drum
berukuran 200 liter digunakan untuk mewadahi limbah B3 padat, kontainer IBC
1000 liter dan tong plastik 250 liter digunakan untuk mewadahi limbah B3 cair,
dan karung jumbo bag digunakan untuk mewadahi limbah B3 padat berupa pasir
seperti sand filter.

(a)Drum

(b)Kontainer IBC

(c) Jumbo Bag

(d)Tong Plastik

Gambar 5.4. Berbagai Kemasan yang Digunakan untuk Mengemas Limbah B3

Proses pengemasan limbah B3 ini dilakukan oleh pihak Environment


Section yang dalam hal ini dilakukan oleh petugas TPS limbah B3. Sebelum
limbah B3 ini sampai di TPS, unit-unit lain dalam perusahaan yang menghasilkan
limbah B3 biasanya tidak mewadahi atau mengemas limbah B3 mereka dalam
wadah yang layak, terkadang hanya dalam kantong plastik atau drum bekas.
Setelah tiba di TPS barulah limbah B3 dikemas dalam wadah yang sesuai.
Apabila terjadi keterbatasan wadah di TPS, pihak Environment Section meminta
unit-unit tersebut mencari wadah yang layak untuk limbahnya tersebut sebelum
dikirim ke TPS.
Kemasan yang digunakan untuk limbah B3 seharusnya berada dalam
kondisi baik, tidak rusak dan bebas karat dan bocor untuk mencegah terjadinya
kontaminasi limbah B3 tersebut ke lingkungan. Mayoritas kondisi kemasan
limbah B3 yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dalam
keadaan layak dan tidak rusak. Kemasan pun terbuat dari bahan yang aman untuk
limbah B3 yang dikemasnya. Akan tetapi masih ada beberapa drum yang sudah
penyok dan berkarat (Gambar 5.5.) tapi masih digunakan untuk mewadahi
limbah B3. Hal ini sebaiknya dihindari karena wadah yang penyok dan berkarat

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

132

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

beresiko untuk bocor dan dapat membuat limbah B3 mudah kontak dengan
lingkungan luar.

Gambar 5.5. Kondisi Drum yang Penyok dan Berkarat

Sebelum dikemas dalam drum, limbah tidak dimasukkan ke dalam inert bag
terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena dianggap limbah tidak akan mengalami
kebocoran akibat kondisi drum yang anti bocor. Beberapa drum juga ada yang
tidak menggunakan tutup dan tidak berpengunci, seperti drum yang digunakan
untuk mewadahi lampu bekas, kaleng bekas cat, cartridge bekas, filter bekas, dan
rockwool. Hanya drum yang digunakan untuk mengemas limbah spent adsorbent,
molecular sieve, ceramic ball, dan spent catalyst yang menggunakan penutup dan
berpengunci. Drum tidak memiliki tutup karena drum yang digunakan merupakan
drum bekas wadah minyak atau bahan kimia yang memiliki tutup yang harus
dibuka dengan cara dipotong dan tidak bisa dipasang lagi tutupnya (Gambar
5.6.). Drum ini seharusnya dibuatkan penutup supaya limbah B3 yang terdapat di
dalamnya tidak mencemari lingkungan sekitar.

Gambar 5.6. Drum Minyak Pertamina

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

133

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dalam mengemas kaleng bekas cat atau B3 lain, digunakan alat forklift
untuk mengurangi volume kaleng bekas (Gambar 5.7.). Kaleng-kaleng bekas
wadah B3 tersebut di-press hingga pipih dengan menggunakan forklift sehingga
tidak memakan banyak ruangan saat diwadahi. Walaupun metode ini tidak
mengurangi massa limbah, tapi pengurangan volume ini dapat memaksimalkan
sistem penyimpanan dan pengangkutan limbah B3 (Gambar 5.9.). Sayangnya
proses press masih menggunakan forklift bukan dengan alat khusus untuk mengepress kaleng (Gambar 5.10.). Proses press dengan forklift kurang baik karena
membutuhkan waktu lama, hasilnya kurang bagus (bentuk pipih tidak sempurna)
dan juga dapat membahayakan pekerja. Dapat dilihat pada Gambar 5.8., apabila
pengendara forklift tidak hati-hati, maka pekerja yang sedang meletakkan kaleng
di roda forklift dapat terlindas.

Gambar 5.7. Limbah Kaleng Bekas yang Belum di-Press

Gambar 5.8. Limbah Kaleng Bekas yang Sedang di-Press

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

134

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.9. Limbah Kaleng Bekas yang Sudah di-Press

Gambar 5.10. Alat Press Kaleng


(Sumber: Anggi, 2010)

Apabila ditinjau dari segi peraturan pengemasan limbah B3 (Kep


01/Bapedal/09/1995), hal ini seharusnya menyalahi aturan karena kemasan limbah
B3 yang baik haruslah memiliki penutup. Akan tetapi dalam kasus ini menurut
penulis, kondisi drum yang tanpa penutup ini tidak terlalu bermasalah asalkan
limbah yang dikemasnya bukan limbah yang rawan tumpah dan apabila tercecer
susah dikumpulkan lagi seperti sludge, molecular sieve, ceramic ball, spent
adsorbent dan spent catalyst. Penggunaan drum tanpa penutup ini merupakan
salah satu bentuk pemanfaatan drum bekas wadah B3 (reuse) sehingga akan
mengurangi timbulan limbah B3 berupa drum bekas. Apalagi drum tersebut
nantinya setelah digunakan untuk mengirim limbah B3 ke pihak pengolah tidak
akan dikembalikan lagi ke Pertamina sehingga tidak bisa dipakai ulang utnuk
mengemas limbah B3.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

135

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Limbah B3 di gudang TPS disimpan dalam kemasan sesuai dengan jenisnya


masing-masing. Bahkan tidak terdapat limbah B3 padat yang berbeda jenis namun
karakteristiknya sama yang disatukan dalam 1 wadah atau kemasan. Hal ini sudah
sesuai dengan Kep 01/Bapedal/09/1995 yang mengatur supaya limbah-limbah
B3 yang tidak saling cocok tidak disimpan bersama-sama dalam satu kemasan.
Namun khusus untuk limbah cair, ada beberapa jenis yang dicampurkan dalam 1
wadah (kontainer IBC) dengan tetap memperhatikan perbedaan karakteristik dari
limbah-limbah cair tersebut. Pada Tabel 5.8. dapat dilihat perbadndingan
pengemasan limbah B3 menurut peraturan dan realisasinya di PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap.

Tabel 5.8. Matriks Perbandingan Pengemasan Limbah B3 Menurut


Peraturan dan Realisasinya
No

Parameter

Kemasan
Kondisi

Bahan
Keamanan
Penutup

Jenis kemasan

Persyaratan
Menurut Peraturan
Terkait (*)

Realisasi di PT
Pertamina RU-IV
Cilacap

Keterangan

Baik, tidak bocor,


berkarat, dan rusak

Beberapa kurang baik,


tidak bocor, agak
rusak (penyok) dan
beberapa berkarat
Cocok dengan
karakteristik limbah
B3
Cukup aman

Beberapa
belum
sesuai

Beberapa memiliki
tutup dan beberapa
masih ada yang tidak
memiliki tutup
Drum 200 liter, tong
plastik 250 liter,
kontainer plastik IBC
1000 liter (1 m3), jumbo
bag kapasitas 1000 kg.

Beberapa
belum
sesuai

Cocok dengan
karakteristik
limbah B3
Mampu
mengamankan
limbah B3
Memiliki penutup
yang kuat
Drum atau tong
berukuran 50 liter,
100 liter, 200 liter
Bak kontainer
berpenutup dengan
kapasitas 2 m3, 4
m3 atau 8 m3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Sesuai

Sesuai

Sesuai

136

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No

Parameter

Karakteristik

Operasional

Pertimbangan
karakteristik

Pemeriksaan

Pemakaian
ulang kemasan

Operator

Persyaratan
Menurut Peraturan
Terkait (*)
Karakteristik sama
dalam satu kemasan
Sebaiknya
dimasukkan ke
dalam plastik
terlebih dahulu
Perhatikan sifat
limbah B3 yang
reaktif dan mudah
meledak
1 minggu sekali

Realisasi di PT
Pertamina RU-IV
Cilacap
Satu kemasan untuk
satu karakteristik
Tidak dimasukkan ke
plastik terlebih dahulu

1 minggu sekali

Sesuai

Kemasan dipakai
lagi untuk limbah
yang sama atau
berkarakter sama
Bila tidak cocok
harus dicuci
terlebih dahulu
Berizin dan telah
mengikuti pelatihan
K3

Kemasan hanya sekali


pakai

Sesuai

Mempunyai izin dan


telah mengikuti
pelatihan K3

Sesuai

Kemasan sudah
disesuaikan dengan
karakteristik limbah

Keterangan

Sesuai
Sesuai
(karena
tidak
diwajibkan)
Sesuai

Keterangan:
(*) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 01 tahun 1995 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3

5.4.4. Evaluasi Pelabelan Limbah B3


Peraturan terkait simbol dan pelabelan limbah B3 yang saat ini berlaku
adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 tahun 2013 tentang
Simbol dan Label Limbah B3. Peraturan tersebut menggantikan peraturan
sebelumnya yaitu Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor: Kep-05/BAPEDAL/09/1995 tentang Simbol dan Label Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun. Hal baru yang diatur dalam Permen LH No. 14 tahun
2013 adalah mengenai penambahan simbol limbah B3 menjadi 9 jenis yang
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

137

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

tadinya hanya terdapat 8 jenis dalam Kep-05/BAPEDAL/09/1995. Simbol yang


baru ditambahkan adalah simbol limbah B3 untuk limbah B3 berbahaya terhadap
perairan dengan simbol seperti terlihat pada Gambar 5.11..

Gambar 5.11. Simbol Limbah B3 Berbahaya Terhadap Lingkungan


(Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013)

Selain itu, terdapat perubahan nama karakteristik, dimana dalam PP No. 18


tahun 1999 Jo. PP No. 85 tahun 1999 dan Kep-05/BAPEDAL/09/1995 terdapat
jenis limbah B3 cairan mudah terbakar dan padatan mudah menyala. Pada Permen
LH No. 14 tahun 2013 kedua limbah tersebut disebut sebagai limbah B3 cairan
mudah menyala dan limbah B3 padatan mudah menyala. Pada simbol juga
mengalami perubahan tulisan dari CAIRAN MUDAH TERBAKAR dan
PADATAN MUDAH TERBAKAR menjadi CAIRAN MUDAH MENYALA
dan PADATAN MUDAH MENYALA.
Walaupun peraturan mengenai simbol limbah B3 ini sudah bertambah,
namun belum terdapat perubahan dalam PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 85
tahun 1999 yang menyebutkan mengenai karakteristik limbah B3 di Indonesia.
Pada PP tersebut belum terdapat mengenai karakteristik limbah B3 berbahaya
terhadap perairan dan perubahan dari terbakar menjadi menyala sehingga
perlu dilakukan perubahan secepatnya karena dalam Permen LH No. 14 tahun
2013 sudah berbeda nama karakteristik.
Selain mengenai penambahan simbol untuk karakteristik baru limbah B3
dan perubahan nama, isi dari Permen LH No. 14 tahun 2013 tidak jauh berbeda
dengan Kep-05/BAPEDAL/09/1995. Simbol limbah B3 yang digunakan harus
berbentuk bujur sangkar diputar 45 membentuk belah ketupat. Simbol limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

138

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

ini harus ditempel pada kemasan limbah B3, kendaraan pengangkut limbah B3
dan tempat penyimpanan limbah B3.
Simbol limbah B3 yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x
10 cm dan harus sesuai dengan karakteristik dari limbah B3 yang terdapat dalam
kemasan tersebut. Setiap simbol limbah B3 menandakan 1 karakteristik dari
limbah B3. Untuk mempermudah pemasangan, simbol limbah B3 di PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap terbuat dari kertas stiker yang dapat langsung ditempel
ke kemasan. Sifat dari kertas siker ini tidak boleh berbahaya terhadap kemasan,
tempat penyimpanan, alat angkut dan juga lingkungan. Bila limbah B3 tersebut
memiliki lebih dari 1 karakteristik, maka wadah atau kemasan dilekati dengan
simbol limbah B3 masing-masing karakteristik yang dominan. Bila mengacu pada
ketentuan di atas, simbol yang digunakan PT Pertamina (Persero) RU-IV
(Gambar 5.12.) sudah sesuai dari segi ukuran dan bahan.

Gambar 5.12. Simbol Limbah B3 pada Kemasan

Selain simbol, pada kemasan limbah B3 juga harus ditempel dengan label
limbah B3 berbentuk persegi panjang dengan ukuran 15 cm x 20 cm. Pada label
ini berisi informasi tentang limbah yang dikemas meliputi nama, alamat dan
nomor telepon perusahaan penghasil, nomor penghasil, tanggal pengemasan,
jenis, kode, jumlah dan sifat limbah serta nomor urut pengemasan. Pengisian
informasi di label dan juga penentuan jenis simbol didasarkan pada data limbah
B3 yang ada pada logbook yang terdapat di gudang TPS limbah B3 (Gambar
5.14). Pengisian dan penempelan label dan simbol ini dilakukan oleh petugas
TPS.
Pada Gambar 5.13. terlihat label yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap yang ditempel pada kemasan limbah B3. Sama seperti dengan
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

139

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

simbol, bahan dari label ini juga merupakan stiker kertas yang dapat dengan
mudah ditempel dan juga melekat erat pada dinding kemasan. Label sudah diisi
dengan huruf cetak yang jelas terbaca dan tidak mudah terhapus.

Gambar 5.13. Label Limbah B3 pada Kemasan

Gambar 5.14. Pengisian Label Limbah B3 dengan Data Logbook

Dalam penempelan simbol dan label limbah B3 juga terdapat peraturan


yang harus ditaati. Label dilekatkan di sebelah atas simbol limbah B3 pada wadah
atau kemasan dan harus terlihat jelas tanpa saling menutupi seperti yang sudah
dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap (Gambar 5.15.). Setiap
petugas yang melakukan kegiatan penempelan ini harus mengerti tentang
peraturan tersebut supaya tidak terdapat kesalahan penempelan seperti pada
Gambar 5.16.

Gambar 5.15. Pemasangan Simbol dan Label Limbah B3 pada Kemasan


Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

140

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.16. Pemasangan Simbol dan Label Limbah B3 yang Salah pada
Kemasan

Selain label untuk kemasan limbah yang berisi limbah B3, juga terdapat
label khusus untuk menandai kemasan limbah B3 yang kosong. Bentuk dasarnya
sama dengan bentuk dasar simbol limbah B3 dengan ukuran 10 cm x 10 cm dan
terdapat tulisan KOSONG di tengah. PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
juga menggunakan label tersebut untuk menandai kemasan limbah B3-nya yang
kosong seperti terlihat pada Gambar 5.17.. Akan tetapi, PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap masih belum menggunakan label yang terakhir, yaitu label untuk
penunjuk tutup wadah atau kemasan limbah B3.

Gambar 5.17. Pemasangan Label pada Kemasan Limbah B3 Kosong

Selain dipasang pada kemasan limbah B3, simbol limbah B3 juga dipasang
pada tempat penyimpanan (gudang TPS) limbah B3 dan juga kendaraan
pengangkut limbah B3 seperti terlihat pada Gambar 5.18. dan Gambar 5.19..
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

141

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Sesuai dengan data limbah B3 yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap, terdapat 4 jenis karakteristik limbah B3, yaitu beracun, padatan
mudah terbakar, cairan mudah terbakar dan korosif. Keempat simbol limbah B3
itu digambar pada pintu depan gudang TPS limbah B3 yang menandakan bahwa
dalam gudang tersimpan 4 jenis limbah B3 tersebut. Selain itu juga terdapat
simbol limbah campuran yang menandakan dalam gudang tersebut tersimpan
limbah B3 yang berada dalam kondisi tercampur, yaitu limbah cair dalam
kontainer IBC seperti yang sudah dibahas sebelumnya pada subbab pengemasan
limbah B3.
Pada kendaraan pengangkut limbah B3 juga perlu dipasang simbol limbah
B3 dengan ukuran 25 cm x 25 cm seperti pada gudang TPS limbah B3. Simbol
tersebut perlu dipasang untuk memberi informasi bahwa dalam kendaraan tersebut
terdapat limbah B3 dengan karakteristik tertentu. Informasi mengenai
karakteristik limbah B3 ini berguna dalam penanganan limbah B3 tersebut baik
saat diangkut maupun bila terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan.
Proses pengangkutan internal dalam area kilang menggunakan kendaraan
seperti vacuum truck dan pick-up yang tidak menempelkan simbol limbah B3.
Kemudian dalam proses pengangkutan eksternal limbah B3-nya, PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap bekerja sama dengan pihak ketiga atau transporter. Pada
mobil transporter tersebut sudah terdapat simbol limbah B3 yang dipasang di
depan dan samping truk, akan tetapi ukurannya sangat kecil dan tidak sebanding
dengaan ukuran boks pengangkut. Simbol yang kecil tersebut pastinya tidak akan
terlihat jelas dari jarak 20 m seperti yang diatur dalam Permen LH No. 14 tahun
2013. Pada Tabel 5.9. dapat dilihat matriks perbandingan pelabelan limbah B3
menurut peraturan dan realisasinya di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Gambar 5.18. Simbol Limbah B3 Dipasang di Gudang TPS Limbah B3


Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

142

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.19. Simbol Limbah B3 Dipasang di Kendaraan Pengangkut


Limbah B3
(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Tabel 5.9. Matriks Perbandingan Pelabelan Limbah B3 Menurut Peraturan


dan Realisasinya
No.

Parameter

Simbol pada
kemasan

Simbol pada
gudang TPS

Simbol pada
kendaraan
pengangkut

Persyaratan
Menurut Peraturan
Terkait (*)
Bentuk dasar bujur
sangkar diputar 45
Ukuran 10 cm x 10
cm
Bahan tahan goresan
dan melekat kuat
pada kemasan
Penyimbolan sesuai
karakteristik
Bentuk dasar bujur
sangkar diputar 45
Ukuran 25 cm x 25
cm
Karakteristik sesuai
dengan limbah
tersimpan
Bentuk dasar bujur
sangkar diputar 45
Ukuran 25 cm x 25
cm
Terlihat jelas pada
jarak 20 m

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Realisasi di PT
Pertamina RU-IV
Cilacap
Bentuk bujur sangkar
diputar 45
Ukuran 10 cm x 10
cm
Bahan dari stiker
kertas dengan perekat
kuat
Penyimbolan sesuai
dengan karakteristik
limbah di dalamnya
Bentuk dasar bujur
sangkar diputar 45
Ukuran 25 cm x 25
cm
Karakteristik sesuai
dengan limbah
tersimpan
Bentuk dasar bujur
sangkar diputar 45
Ukuran 25 cm x 25
cm
Terlalu kecil untuk
terlihat dari jarak 20m

Keterangan

Sesuai
Sesuai

Sesuai

Sesuai
Sesuai
Sesuai
Sesuai

Sesuai
Sesuai
Tidak sesuai

143

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.

Parameter

Label
Pada kemasan
berisi limbah
B3

Pada kemasan
kosong
Penunjuk tutup
wadah/
kemasan
Keterangan:

Persyaratan
Menurut Peraturan
Terkait (*)

Realisasi di PT
Pertamina RU-IV
Cilacap

Keterangan

Terdapat label berisi


informasi penting
terkait limbah

Sesuai

Label terletak di atas


simbol limbah B3

Berisi nama, alamat


dan nomor telepon
perusahaan penghasil,
nomor penghasil,
tanggal pengemasan,
jenis, kode, jumlah
dan sifat limbah serta
nomor urut
pengemasan
Terletak di atas
simbol limbah B3

Terdapat label
bertuliskan
KOSONG

Terdapat label
bertuliskan
KOSONG

Sesuai

Terdapat label
bertanda panah

Tidak terdapat label


bertanda panah

Sesuai

Tidak sesuai

(*) Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 tentang
Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

5.4.5. Evaluasi Penyimpanan Limbah B3


TPS yang digunakan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap untuk
menyimpan limbah B3 terdiri dari gudang dan sludge pond. Kedua tempat
tersebut sudah mendapat izin dari Bupati Cilacap melalui Keputusan Bupati
Cilacap No. 660.1/133/30/Tahun 2011 untuk menyimpan limbah B3 fasa padat
dan fasa cair. Dalam izin tersebut PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap boleh
menggunakan gudang limbah B3 untuk menyimpan spent catalyst, limbah
laboratorium, aki bekas, bahan kimia kadaluarsa, spent adsorbent, material
terkontaminasi minyak, isolasi, lampu bekas, tabung/kaleng/botol eks kemasan
B3, limbah kantor yang termasuk B3, sulphur, debu katalis, oil sludge, pyrite,
produk off spec dan limbah cair. Sedangkan limbah yang boleh disimpan di sludge
pond adalah oil sludge, pelumas bekas dan bilasan cucian drum bekas. Menurut
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

144

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

PP PP No. 18 tahun 1999, limbah dapat disimpan selama maksimal 90 hari, akan
tetapi menurut izin dari Bupati Cilacap (Keputusan Bupati Cilacap No.
660.1/133/30/Tahun 2011) apabila limbah yang dihasilkan kurang dari 50
kilogram per hari, maka limbah dapat disimpan lebih dari 90 hari.
Gudang TPS limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap (Gambar
5.21.) berada dalam area kilang dengan jarak dari gerbang depan sekitar 1 km
(Gambar 5.20.). Lokasi gudang TPS limbah B3 yang diusahakan dekat dengan
akses keluar masuk area kilang ini bertujuan untuk memudahkan transporter saat
mengambil limbah B3 untuk diangkut ke pengolah ketiga. Sedangkan letak sludge
pond berada agak jauh di dalam area kilang dengan lokasi dekat tanah kosong
yang luas. Hal ini bertujuan untuk memudahkan apabila akan dilakukan
pengolahan sludge dengan metode SOR yang memakai banyak alat dengan
ukuran cukup besar.

Gambar 5.20. Posisi Gudang TPS Limbah B3


(Sumber: Google Earth)

Gambar 5.21. Gudang TPS Limbah B3


Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

145

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gudang TPS limbah B3 ini berukuran 25 m x 30 m dan hanya terdapat 1


TPS limbah B3 untuk area kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV yang memiliki
luas 526,71 hektar. Tentunya TPS ini kurang luas untuk menampung limbah B3
dari area seluas itu dengan proses produksi yang tentunya berlangsung setiap hari.
Untuk mengatasi sempitnya gudang TPS limbah B3, maka bagian Environment
Section harus secara rutin dan terjadwal mengirimkan limbah B3 ke pihak ketiga
supaya limbah tidak menumpuk dan memenuhi gudang.
Pada pintu gudang TPS limbah B3 terdapat nama TPS Limbah B3
(Gambar 5.22.), titik koordinat dan simbol karakteristik dari limbah B3 yang
disimpan di dalamnya. Titik koordinat berfungsi sebagai petunjuk lokasi TPS
tersebut dan juga untuk memudahkan KLH dan BLH dalam melakukan
pengecekan terhadap TPS. Lokasi TPS perlu dicek agar perusahaan tidak
sembarangan dalam membuat TPS dan meletakkan limbah B3-nya. Selain itu di
depan gudang TPS juga terdapat beberapa papan petunjuk (Gambar 5.23.). Papan
petunjuk itu dibuat oleh Environment Section untuk menertibkan penggunaan TPS
limbah B3 agar orang-orang tidak asal menggunakan TPS tersebut. Tidak boleh
menitipkan barang yang bukan merupakan limbah B3 dan semua limbah B3 yang
masuk TPS harus diketahui oleh bagian Environment Section dengan membuat
berita acara penyerahan limbah B3.

Gambar 5.22. Pintu Gerbang Gudang TPS Limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

146

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.23. Papan Petunjuk di Depan Gudang TPS Limbah B3

Gambar 5.24. Tanggul dan Ventilasi Gudang TPS Limbah B3

Lay out gudang TPS limbah milik PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
dapat dilihat pada Gambar 3.11.. Gudang TPS limbah B3 tersebut terdiri dari 3
bagian dengan dibatasi oleh tanggul atau tembok pemisah seperti yang terlihat di
Gambar 5.24. (lingkaran merah). Tiap bagian terdiri dari limbah B3 dengan
karakteristik yang berbeda atau tidak saling cocok. Untuk mempermudah
identifikasi, di tiap baris tumpukan limbah B3 terdapat papan nama yang
bertuliskan nama dari limbah B3 tersebut (Gambar 5.25.). Pada gudang juga
terdapat ventilasi yang cukup Gambar 5.24. (lingkaran kuning) yang terdapat di
sepanjang sisi gudang. Ventilasi ini berguna untuk mencegah akumulasi gas
dalam ruang penyimpanan. Pada ventilasi juga diberi kasa untuk mencegah
masuknya binatang ke dalam gudang.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

147

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.25. Papan Petunjuk Nama Limbah B3

Gambar 5.26. Atap TPS Limbah B3

TPS ini memiliki atap tanpa plafon yang berada dalam kondisi baik atau
tidak bocor sehingga terlindung dari air hujan. Pada atap juga terdapat fiber
sehingga cahaya matahari bisa masuk dari luar untuk memberikan pencahayaan
alami. Untuk pencahayaan buatan, gudang TPS juga dilengkapi dengan lampu
sebanyak 15 buah (Gambar 5.26. lingkaran hijau) yang letaknya lebih dari 1
meter di atas batas teratas penumpukan kemasan.
Akses masuk gudang melalui 2 buah pintu yang terdapat di bagian depan
gudang. Pintu dari plat besi tersebut dapat dibuka dengan 2 cara, yaitu digeser
untuk mempermudah forklift masuk atau dibuka sehingga petugas bisa masuk
melalui pintu yang kecil. Selain itu pintu kecil tersebut juga berfungsi sebagai
pintu darurat atau pintu evakuasi (Gambar 5.27.).

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

148

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.27. Pintu TPS Limbah B3

Lantai gudang terbuat dari beton dengan kondisi kedap air, tidak
bergelombang dan tidak retak. Lantai tersebut dibuat miring ke arah saluran
penampung yang terdapat di tiap bagian (Gambar 5.28.). Saluran tersebut berupa
bak penampung yang tidak dialirkan kemana-mana. Apabila ada ceceran maka
ceceran tersebut ditampung di sana dan akan disedot dengan pompa vacuum yang
kemudian akan diletakkan ke dalam sludge pond. Kemiringan lantai pada bagian
luar gudang diatur menjauhi bangunan untuk menghindari aliran hujan masuk ke
dalam gudang.

Gambar 5.28. Lantai dan Saluran di TPS Limbah B3

Kelengkapan lain yang terdapat pada gudang TPS limbah B3 PT Pertamina


(Persero) RU-IV Cilacap adalah kotak P3K, alat pemadam api ringan (APAR),
alat komunikasi berupa telepon, tangga, timbangan, shower dan petunjuk tanggap
darurat. Kotak P3K terletak di meja petugas yang berada dekat pintu gudang
sehingga mudah untuk diakses (Gambar 5.29.). APAR pun terdapat di dekat
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

149

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

pintu gudang dan berada dalam posisi yang mudah diakses. Akan tetapi lokasi
APAR tersebut rawan untuk tersenggol karena letaknya di dekat pintu tanpa
pengaman. Apalagi pintu tersebut merupakan akses keluar-masuk forklift
sehingga bisa saja forklift secara tidak sengaja menyenggol dan melindas APAR.
Sebaiknya dibuatkan tempat khusus untuk APAR supaya aman tapi tetap mudah
diakses.

Gambar 5.29. Kotak P3K dan APAR di TPS Limbah B3

Pada meja petugas juga terdapat telepon dan logbook (Gambar 5.30.).
Telepon berada dalam kondisi baik dan dapat digunakan untuk menghubungi
berbagai unit dalam area kilang PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Logbook
seperti yang sudah pernah dijelaskan berfungsi untuk menginventarisasi limbah
B3 yang masuk dan keluar dari TPS. Pengisian dilakukan oleh petugas TPS.
Logbook ini juga berguna untuk dijadikan sumber data dalam mengisi label
limbah B3 yang akan ditempel pada tiap kemasan. Pada gudang TPS ini tidak
terdapat gudang untuk menyimpan alat-alat. Penyimpanan alat-alat seperti tangga,
sekop, lemari penyimpanan dan timbangan memanfaatkan pojok gudang yang
berada dekat pintu. Timbangan yang berada di TPS digunakan untuk mengetahui
berat dari limbah B3. Timbangan ini sebenarnya kurang ideal karena ukurannya
kecil serta jumlahnya hanya satu dan digunakan untuk mengukur limbah yang
jumlahnya sangat banyak dan besar ukurannya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

150

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.30. Alat Komunikasi, Tangga dan Timbangan di TPS


Limbah B3

Gambar 5.31. Shower dan Eyewash pada TPS Limbah B3

Pada bagian luar depan gudang terdapat 2 shower dan eyewash (Gambar
5.31.) yang letaknya di dekat pintu kiri dan kanan gudang. Shower dan eyewash
ini berguna apabila ada orang yang secara tidak sengaja terkena limbah B3 yang
berbahaya bagi tubuh. Orang yang terpapar limbah berbahaya tersebut dapat
segera mencuci anggota tubuhnya. Pada bagian dalam gudang terdapat poster
prosedur tanggap darurat di gudang limbah B3 (Gambar 5.32.). Pada poster
tersebut terdapat berbagai petunjuk bila terjadi tumpahan, kebocoran kemasan
atau kebakaran dalam gudang. Di situ juga terdapat berbagai nomor pertolongan
darurat yang bisa dihubungi dan rute evakuasi bagi mereka yang berada dalam
gudang TPS limbah B3 ketika sedang terjadi keadaan darurat. Rute tersebut akan
mengarahkan kita pada assembly point atau muster area (tempat berkumpul).

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

151

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.32. Prosedur Tanggap Darurat di TPS Limbah B3

Dilihat dari peralatan yang ada pada gudang, TPS limbah B3 yang dimiliki
oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap sudah memenuhi ketentuan dari
Keputusan Kepala Bapedal No. 01 tahun 1995 walaupun ada beberapa
kelengkapan yang kurang. Hal pertama yang paling penting adalah luas dari
gudang tersebut. Sebaiknya gudang TPS limbah B3 diperluas agar sebanding
dengan luas area dan banyaknya proses produksi yang dilakukan oleh PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Selanjutnya adalah pemenuhan kelengkapan
lain seperti penangkal petir, gudang peralatan yang layak, pintu darurat dan alarm.
Penangkal petir cukup dibutuhkan apalagi di dalam gudang tersebut terdapat jenis
limbah yang mudah menyala/terbakar. Pintu darurat dan alarm dibutuhkan dalam
keadaan darurat, walaupun terdapat pintu darurat yang menyatu dengan pintu
utama gudang, sebaiknya dibuat pintu lain dengan letak berbeda untuk
memaksimalkan fungsinya.
Selain itu juga terdapat syarat khusus untuk bangunan penyimpanan limbah
B3 yang terdapat jenis limbah mudah menyala/terbakar. Apabila bangunan TPS
berdampingan dengan gudang lain harus dibuat tembok pemisah api. Kebetulan
TPS limbah B3 ini bersebelahan dengan gudang penyimpanan bahan kimia namun
tidak terdapat tembok tahan api di antara keduanya. Selain itu bahan-bahan untuk
membangun gedung juga harus diperhatikan agar tidak memperparah apabila
terjadi kebakaran. Sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran yang layak pun
harus tersedia agar saat terjadi kebakaran dapat diatasi dengan cepat dan tepat.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

152

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Pada tata cara penyimpanan limbah B3 di Keputusan Kepala Bapedal No.


01 tahun 1995, penyimpanan kemasan harus dibuat dengan sistem blok yang
terdiri atas 2 x 2 kemasan (1 palet). Dalam melakukan penyimpanan kemasan
limbah B3-nya, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap sudah menerapkannya di
ketiga bagian gudang limbah B3. Akan tetapi peletakan kemasan tersebut
didempetkan sehingga membentuk suatu baris. Hal ini tentunya akan mempersulit
pemeriksaan menyeluruh terhadap kemasan yang berada di tengah. Alasan dibuat
baris adalah untuk menghemat tempat penyimpanan dikarenakan kondisi TPS
yang kurang luas.
Lebar gang antar blok sudah memenuhi syarat yaitu minimal 60 cm
(Gambar 5.33.), tapi jarak 60 cm hanya diberikan di bagian kiri dan kanan palet.
Seharusnya diberikan pula jarak 60 cm di bagian depan dan belakang palet.
Seperti yang sudah disebutkan, kondisi seperti ini akan mempersulit petugas
limbah B3 untuk lewat dan mengecek kemasan dan kondisi limbah B3 secara
menyeluruh. Dengan peletakan secara sistem baris ini, akan terdapat bagian yang
sulit untuk diperiksa, yaitu bagian tengah.
Pada bagian depan barisan kemasan sudah terdapat ruang yang cukup luas
bagi forklift untuk secara leluasa keluar-masuk dan mengangkut serta mengatur
kemasan limbah B3. Limbah B3 diatur dalam bagian-bagian dan blok-blok yang
memisahkan antara limbah yang karakteristiknya tidak cocok. Limbah B3 cair
berada di bagian III dan penyimpanannya disatukan dengan limbah B3 padat. Hal
ini tidak masalah karena kedua limbah tersebut kebetulan memiliki karakteristik
yang sama.

60 cm

Gambar 5.33. Sistem Blok Penyimpanan Limbah B3 di TPS

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

153

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dalam peletakan kemasan, dilakukan penumpukan dengan maksimal


tumpukan 3 lapis untuk drum sehingga tidak diperlukan rak penyimpanan. Pada
setiap lapis digunakan palet yang mengalasi setiap kemasan. Setiap palet yang
terbuat dari kayu ini dapat mengalasi 4 drum. Untuk kontainer IBC dan jumbo
bag, dilakukan penumpukan sebanyak 2 lapis dengan dilengkapi pemasangan
palet untuk jumbo bag. Pada kontainer IBC tidak diperlukan palet karena pada
kontainer tersebut sudah terdapat rangka besi yang kokoh (Gambar 5.34.). Jarak
tumpukan kemasan teratas dengan atap sudah lebih dari 1 meter, akan tetapi jarak
kemasan terluar dengan dinding masih kurang dari 1 meter.

Gambar 5.34. Penyimpanan Kemasan Limbah B3

Tempat penyimpanan sementara limbah B3 yang dimiliki oleh PT


Pertamina (Persero) RU-IV lainnya adalah sludge pond (Gambar 5.35.). Pada
sludge pond, sludge yang merupakan ceceran dari berbagai sumber dikumpulkan.
Selain itu air bekas cucian drum minyak juga dimasukkan kesini. Di sludge pond
dilakukan pemanasan (steam) untuk memisahkan antara padatan dengan minyak
yang terdapat pada sludge sehingga minyak bisa dikembalikan ke dalam tangki
untuk diproses ulang.

Gambar 5.35. Sludge Pond


(Sumber: Nina, 2010)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

154

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Lantai fondasi sludge pond terbuat dari beton sehingga kedap air. Sludge
pond ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kotak P3K, alat
pemadam api, simbol limbah B3, penerangan berupa lampu, logbook, petunjuk
tanggap darurat dan petunjuk jalur evakuasi (Gambar 5.36.). Simbol limbah B3
yang terdapat di sludge pond merupakan karakteristik dari limbah sludge, yaitu
beracun dan mudah terbakar.

Gambar 5.36. Kelengkapan di Sludge Pond


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Selain itu juga terdapat sumur pantau di sekitar sludge pond yang
berjumlah 5 buah (Gambar 5.37.). Perletakan sumur tersebut dipertimbangkan
sesuai dengan arah aliran air tanah. Sumur pantau dibuat sebagai alat parameter
terhadap dampak yang ditimbulkan dari limbah sludge tersebut terhadap
lingkungan sekitarnya.

Gambar 5.37. Denah Sumur Pantau di Sludge Pond


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

155

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Akan tetapi dalam penggunaannya, sludge pond ini mengalami kontroversi.


Izin yang didapat dari Bupati Cilacap untuk sludge pond ini adalah hanya sebagai
tempat penyimpanan, bukan tempat pengolahan. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya di sludge pond ini terdapat proses steam untuk memisahkan minyak
dengan padatan. Pemanasan dengan steam ini sudah tergolong dalam pengolahan
limbah B3 sehingga terjadi pelanggaran dengan izin tempat penyimpanan limbah
B3 yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap. Pada Tabel 5.10.
ditampilkan matriks perbandingan penyimpanan limbah B3 menurut peraturan
dan realisasinya di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Tabel 5.10. Matriks Perbandingan Penyimpanan Limbah B3 Menurut


Peraturan dan Realisasinya
No.

Parameter

Penyimpanan
kemasan

Bangunan
penyimpanan

Persyaratan
Realisasi di PT
Menurut Peraturan
Pertamina RU-IV
Terkait (*)
Cilacap
Sistem blok dengan Menggunakan sistem
setiap blok terdiri
blok dengan setiap
dari 2x2 kemasan
blok 2x2 kemasan
Lebar gang antar
Lebar gang antar
blok min. 60 cm
blok 60 cm hanya
dan cukup untuk
bagian kiri kanan
kendaraan
tidak semua sisi,
pengangkut lewat
forklift dapat lewat
dengan leluasa di
jalurnya
Tumpukan drum
Tumpukan drum 3
maks 3 lapis
lapis dengan dialasi
dengan dialasi
palet tiap lapis
palet tiap lapis
Jarak kemasan ke
atap lebih dari 1 m
Jarak kemasan ke
dinding dan atap
dan ke dinding
min. 1 m.
kurang dari 1 m
Pemisahan
Pemisahan
penyimpanan
penyimpanan antara
antara limbah yang
limbah yang tidak
tidak saling cocok
saling cocok
Rancang bangun
Luas gudang TPS
dan luas sesuai
sebenarnya kurang
dengan jenis,
untuk menampung
karakteristik dan
limbah
jumlah limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Keterangan

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Kurang sesuai

Sesuai
Kurang sesuai

156

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.

Parameter

Persyaratan
Menurut Peraturan
Terkait (*)
Terlindung dari air
hujan
Ventilasi memadai
dan berkasa

Realisasi di PT
Pertamina RU-IV
Cilacap
Terlindung dari air
hujan
Terdapat banyak
jendela ventilasi
yang berkasa
Memiliki sistem
Saat siang hari
penerangan
cahaya matahari
memadai
dapat masuk dan
tidak butuh lampu.
Pada malam hari
terdapat lampu
sejumlah 15 buah
dalam gudang
Sistem penangkal
Tidak ada penangkal
petir
petir
Diberi simbol di
Memiliki gambar
bagian luar
simbol di pintu
depan
Lantai kedap air,
Lantai kedap air,
tidak
tidak bergelombang,
bergelombang,
kuat dan tidak retak
kuat dan tidak retak serta landai ke bak
serta landai ke bak
penampung
penampung
Terdapat bak
Terdapat 3 buah bak
penampungan
penampung ceceran
ceceran di tiap
untuk 3 bagian
bagian
penyimpanan
penyimpanan
Terdapat tanggul
Terdapat tanggul
pemisah antar
pemisah antar bagian
bagian
penyimpanan
penyimpanan
Terdapat APAR,
Hanya terdapat
pagar pengaman,
APAR, fasilitas P3K,
pembangkit listrik
alat komunikasi dan
cadangan,fasilitas
sudut penyimpanan
P3K, alat
alat
komunikasi,
gudang
perlengkapan,
pintu darurat, alarm

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

Keterangan

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Tidak sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Kurang Sesuai

157

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.

Parameter

Syarat
khusus
(bangunan
penyimpan
limbah B3
mudah
terbakar)

Syarat lain

Lama
penyimpanan

Persyaratan
Realisasi di PT
Menurut Peraturan
Pertamina RU-IV
Terkait (*)
Cilacap
Terdapat tembok
Tidak terdapat
pemisah tahan api
tembok pemisah
jika bersebelahan
tahan api dengan
dengan bangunan
gudang bahan kimia
lain
di sebelahnya
Pintu darurat
Tidak terdapat pintu
dibuat tidak pada
darurat
tembok tahan api
Memakai tiang
Tidak terdapat tiang
beton bertulang
beton bertulang
yang tidak
ditembusi kabel
listrik
Atap tidak dari
Atap terbuat dari
bahan mudah
bahan yang tidak
menyala
mudah menyala
Penerangan
Penerangan explotion
explotion proof
proof
Terdapat sistem
Hanya terdapat
pendeteksi
APAR
kebakaran dan
persediaan air dan
hidran pemadam
api
Daerah bebas
Daerah bebas banjir
banjir
Jarak minimum
Jarak dengan fasilitas
dengan fasilitas
umum lebih dari 50
umum 50 m
m
Maksimal 90 hari
Limbah selalu dikirim
(bila limbah >50 kg ke pihak ketiga
per hari) atau 180
sebelum 90 hari
hari (bila limbah <50
kg per hari)

Keterangan

Tidak sesuai

Tidak sesuai

Tidak sesuai

Sesuai

Sesuai
Kurang sesuai

Sesuai
Sesuai

Sesuai

Keterangan:
(*) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 01 tahun 1995 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

158

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

5.4.6. Evaluasi Pengangkutan Limbah B3


Pengangkutan limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap terdiri
dari pengangkutan internal dan eksternal. Pengangkutan internal dilakukan oleh
unit-unit yang menghasilkan limbah B3 untuk dibawa ke TPS limbah B3.
Pengangkutan eksternal dilakukan oleh pihak ketiga yang bekerja sama dengan
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap untuk membawa limbah B3 dari TPS ke
pengolah limbah B3.
Tiap unit memiliki daftar identifikasi limbah B3 yang dibuat oleh
Environment Section sebagai acuan untuk mengidentifikasi jenis, jumlah dan
sumber limbah B3 yang dihasilkannya. Apabila unit tersebut akan menyimpan
limbah B3-nya di TPS, maka unit tersebut harus menghubungi Environment
Section dan juga bagian Warehouse agar mengirimkan pick-up atau truk untuk
mengangkut limbah ke TPS. Sebelum limbah diterima, terdapat dokumen berita
acara penyerahan limbah B3 yang harus diisi oleh unit penghasil dan Environment
Section.
Lembar berita acara berisi waktu penyerahan limbah B3, kemasan yang
digunakan, jenis, jumlah dan sumber limbah B3 serta rencana tindak lanjut. Pada
lembar tersebut juga terdapat 3 pihak yang harus tanda tangan, yaitu pihak Yang
Menerima yaitu Environment Section, pihak Yang Menyerahkan yaitu Section
Head unit penghasil limbah B3 dan pihak Yang Melaksanakan yaitu staf unit
penghasil limbah B3 yang membawa limbah tersebut. Limbah B3 yang diterima
akan disimpan di TPS gudang limbah B3 dan diatur penempatannya
menggunakan forklift. Forklift yang tersedia di gudang TPS limbah B3 hanya
berjumlah 1 buah sehingga memakan waktu lama untuk menempatkan dan
mengatur limbah B3. Kendaraan lain yang digunakan untuk pengangkutan
internal adalah vacuum truck. Vacuum truck ini digunakan untuk mengumpulkan
dan mengangkut ceceran minyak dan sludge yang terdapat di seluruh area kilang
untuk dibawa ke sludge pond. Pada Gambar 5.38. ditunjukkan alat angkut
internal yang digunakan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap untuk
mengangkut limbah B3.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

159

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

(a) Pick-up

(b) Forklift

(c) Truk

(d) Vacuum Truck

Gambar 5.38. Alat Angkut Internal yang Digunakan PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap
(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Pengangkutan

selanjutnya

adalah

pengangkutan

eksternal

yang

pelaksanaannya tidak dilakukan langsung oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV


Cilacap melainkan bekerja sama dengan pihak lain. Pengangkutan eksternal ini
bertujuan untuk membawa limbah B3 dari TPS ke pihak pengolah atau pemanfaat
limbah B3. Truk transporter akan datang ke area kilang PT Pertamina (Persero)
RU-IV Cilacap menuju ke gudang TPS untuk memuat limbah-limbah B3 dari
TPS. Sebelum dan sesudah truk memuat limbah, akan dilakukan penimbangan
untuk mengetahui total berat limbah B3 yang diangkut. Limbah B3 dari gudang
akan dinaikkan ke truk transporter dengan menggunakan forklift (Gambar 5.39.).
Karena jumlah forklift hanya 1, maka dibutuhkan waktu lama untuk memuat
limbah dari gudang ke truk tersebut. Pada truk transporter terdapat simbol limbah
B3 sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang diangkutnya (Gambar 5.40.).
Sesuai dengan kontrak saat ini, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
bekerja sama dengan PT Pasadena Metric Indonesia, PT Wastec Internasional dan
PT Holcim Indonesia dalam mengolah limbahnya. Untuk membawa limbahnya ke
3 lokasi tersebut, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap menggunakan jasa
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

160

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

transporter yang memiliki ijin untuk mengangkut limbah B3. Izin pengangkutan
diberikan oleh Departemen Perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari
Kementerian Lingkungan Hidup.
Persyaratan pengajuan perizinan pengangkutan limbah B3 adalah:
Pemohon merupakan badan usaha
Pemohon mengajukan permohonan dengan mengisi formulir sesuai
Permen LH No. 18 tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan
Limbah B3
Dokumen administratif yang harus dilengkapi dalam pengajuan perizinan
pengangkutan limbah B3 sesuai dengan persyaratan Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan adalah sebagai berikut:
Surat keterangan tentang jenis dan jumlah barang yang diangkut
Rekomendasi pengangkutan B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup
Keterangan tentang tempat pemuatan, pemberhentian, pembongkaran dan
lintasan yang dilalui
Daftar, foto, STNK, dan buku uji kendaraan yang digunakan untuk
mengangkut
Waktu dan jadwal pengangkutan
Izin usaha angkutan bagi kendaraan umum
Prosedur penanggulangan keadaan darurat yang diterapkan oleh
perusahaan.

Gambar 5.39. Pengangkutan Limbah B3 dengan Transporter

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

161

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.40. Truk Transporter dengan Simbol Limbah B3

Penunjukan transporter ini tergantung dari kesepakatan yang dimiliki oleh


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dengan pihak pengolah, apakah pihak
pengolah atau pihak Pertamina yang mencari dan menyediakan transporter-nya.
PT Pasadena Metric Indonesia dan PT Wastec Internasional sebenarnya memiliki
kendaraan pengangkut sendiri yang juga berizin, akan tetapi apabila kendaraan
tersebut tidak tersedia karena sedang dipakai perusahaan lain untuk mengangkut
limbah, maka akan dicari transporter berijin lain untuk mengangkut. Transporter
yang saat ini bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap adalah
PT Pasadena Metric Indonesia, PT Duta Selaras Semesta, PT Wastec
Internasional, PT Guna Purnama, dan PT Gema Putra Buana. Pengangkutan
limbah B3 melalui jalur darat dengan truk yang jenisnya disesuaikan dengan
karakteristik, jenis dan jumlah limbah B3 yang diangkut. Pada truk pengangkut
harus dilengkapi dengan simbol limbah B3 sesuai karakteristik limbah yang
diangkutnya.
Pada kegiatan pengangkutan ini wajib dilengkapi dengan dokumen limbah
B3 (Hazardous Waste Manifest). Dokumen ini berisi informasi mengenai
penghasil limbah B3, informasi lengkap mengenai limbah B3 yang diangkut,
instruksi penanganan limbah B3, tanggal dan tujuan pengangkutan, informasi
mengenai pihak pengangkut limbah B3, dan informasi mengenai peusahaan
pengolah/pengumpul/pemanfaat limbah B3. Dokumen ini harus diisi lengkap saat
melakukan kegiatan pengangkutan dan dibawa dari tempat asal pengangkutan
hingga ke tempat tujuan akhir.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

162

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dokumen ini terdiri dari 7 rangkap (bila pengangkutan hanya 1 kali) atau 11
rangkap (bila pengangkutan lebih dari 1 kali atau antarmoda). Sebagai penghasil
limbah B3, lembar yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
adalah lembar ke-2, ke-3 dan ke-7. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 5.41. yang merupakan mata rantai perjalanan dokumen limbah B3 yang
dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Gambar 5.41. Mata Rantai Perjalanan Limbah B3 PT Pertamina (Persero)


RU-IV Cilacap dan Manifestasinya

5.4.7. Evaluasi Pengolahan Limbah B3


Izin yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap hanyalah
izin menyimpan limbah B3, belum sampai ke izin pengolahan. Sebelumnya PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap pernah melakukan pengolahan limbah B3
dengan insinerator yang berada di dalam area kilang. Insinerator tersebut
dahulunya pernah digunakan untuk membakar limbah-limbah B3 akan tetapi
sudah sejak lama penggunaannya dihentikan karena tidak memperpanjang izin
dan dirasa bahwa pengolahan dengan alat tersebut kurang efektif hasilnya.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

163

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Di dalam area kilang RU-IV terdapat IPAL (Instalasi Pengolahan Air


Limbah) yang dibangun untuk mengolah limbah cair dari unit SWS (Sour Water
Stripper) dan unit desalter FOC I dan FOC II. Limbah cair yang dapat diolah di
IPAL ini hanyalah limbah cair dengan kondisi pH yang cenderung netral (7)
untuk menjaga agar bakteri di tangki aerator tetap dapat bekerja optimum. Karena
hal tersebut, masih ada beberapa limbah cair dari FOC I dan laboratorium yang
akhirnya disimpan di TPS limbah B3 untuk diserahkan pengolahannya ke pihak
ketiga. Limbah cair ini sifatnya sangat basa sehingga tidak dapat diolah di IPAL
yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.
Sebelum waktu penyimpanan limbah B3 mencapai 90 hari, limbah B3
tersebut harus diolah dengan bantuan pihak ketiga yang memiliki izin pengolahan
limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Pemilihan pihak
ketiga untuk mengolah limbah dilakukan dengan cara lelang tender untuk
mendapatkan kontrak pengolahan limbah B3. Untuk tahun ini PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap memiliki kontrak dengan PT Pasadena Metric dan PT
Wastec Internasional. Kegiatan yang dilakukan adalah:
a. PT Wastec International
Dalam mengolah limbah B3, PT Wastec Internasional telah mendapat izin
dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup No. 60 tahun 2010 tentang Izin Pengoperasian Alat
Pengolahan (Insinerator) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun PT
Wastec Internasional. Alat pengolahan yang boleh dioperasikan adalah
pressure jet incinerator, rotary incinerator dan liquid incinerator. Untuk
jenis limbah B3 yang boleh diolah di insinerator tersebut adalah limbah
dengan fasa padat dan cair.
b. PT Pasadena Metric Indonesia
Izin pengelolaan limbah B3 PT Pasadena Metric Indonesia diberikan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup melalui Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 63 tahun 2011 tentang Izin Pemanfaatan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun PT Pasadena Metric Indonesia. Perusahaan
ini dapat menyimpan, mengumpulkan dan mengolah limbah B3 yang
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

164

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

berupa spent catalyst, sludge mengandung logam non besi dan logam yang
terkontaminasi dengan limbah B3.

Selain itu pada tahun 2013 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap


menandatangani nota kesepakatan

(MoU) dengan PT Holcim Indonesia Tbk

untuk mengolah limbah B3 yang dihasilkannya. Kerja sama ini terlihat


menguntungkan kedua belah pihak akan tetapi PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap tetap harus membayar untuk jasa pengolahan limbahnya di Holcim
walaupun Holcim untung karena mendapat bahan baku dan bahan bakar untuk
proses produksinya.
Limbah yang diterima oleh PT Holcim Indonesia Tbk adalah material
terkontaminasi (majun, filter, serbuk gergaji, sarung tangan, cellusorb), ceramic
ball, mineral wool, molecular sieve, spent clay, asphalt, tanah terkontaminasi,
slack wax, spent adsorbent dan sludge. Limbah B3 tersebut akan diolah dengan
metode bernama co-processing di Holcim. Dalam metode ini limbah B3
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan bahan bakar. Dalam
limbah B3 yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV tentunya banyak
terkandung minyak yang memiliki nilai kalor tinggi sehingga bisa dijadikan bahan
bakar. Limbah B3 yang dapat dijadikan bahan bakar adalah material-material
dengan kandungan kalori sama atau lebih besar dari 2.500 kkal/kg. Limbah B3
yang dapat digunakan adalah oil sludge dan berbagai material terkontaminasi
minyak.
Limbah B3 yang dimanfaatkan sebagai bahan baku di PT Holcim Indonesia
Tbk adalah sludge IPAL dan lumpur HB yang akan dicampur dengan bottom ass
(bahan utama) untuk membuat semen (Gambar 5.42.). Perbandingan campuran
sludge dengan bottom ass adalah 1:10. Kedua bahan tersebut dicampur,
ditambahkan clay lalu dimasukkan ke dalam raw mill untuk digiling. Campuran
tersebut kemudian dimasukkan ke dalam free granding untuk diproses lebih lanjut
hingga menyerupai tepung. Selain sludge IPAL dan lumpur HB, limbah B3 yang
dapat digunakan sebagai bahan baku adalah berbagai jenis spent adsorbent, slack
wax dan asphalt bekas.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

165

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Gambar 5.42. Pengolahan Limbah B3 oleh PT Holcim Indonesia Tbk


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Pada Tabel 5.11. ditampilkan mengenai perlakuan pengolahan limbah B3


oleh pihak ketiga yang dihasilkan PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap selama
periode 1 tahun (Juli 2013-Juni 2014).

Tabel 5.11. Jenis Limbah dan Pengolahannya Selama Periode Juli 2013Juni 2014
No.
1
2

Jenis Limbah B3
Chloride Adsorbent
(spent adsorbent)
Kemasan
(botol/kaleng) bekas
B3
Material
terkontaminasi (majun,
filter, serbuk gergaji,
sarung tangan,
cellusorb, dll)
Ceramic Ball (Spent
adsorbent)
Mineral
wool/rockwool
(isolasi)
Molecular sieve (spent
adsorbent)

Spent clay (spent


adsorbent)

Used accu/battery

Pengolahan
Disimpan di TPS, diangkut dan diolah PT Pasadena
Metric Indonesia
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan PT Guna Purnama dan diolah PT Wastec
International dan PT Guna Purnama
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan PT Guna Purnama dan diolah PT Holcim Indonesia
Tbk. (Cilacap Plant) dan PT Guna Purnama

Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric


Indonesia dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk.
(Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric
Indonesia dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk.
(Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric
Indonesia dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk.
(Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Wastec International

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

166

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

No.
9

Jenis Limbah B3
Sulphur

10

Used lamp (limbah


kantor B3)
Used cartridge and
toner

11

12

15

Tanah terkontaminasi
(material
terkontaminasi)
Asphalt kotor (produk
off. spec)
Slack wax (produk off.
spec)
Limbah cair

16

Pyrite

17

Spent activated carbon


(spent adsorbent)
Activated alumina
(spent adsorbent)

13
14

18

19
20

Debu catalyst (spent


catalyst)
Sludge

21

Adsorbent PSA (Spent


adsorbent)

22

Karat terkontaminasi
(material
terkontaminasi)
Oli bekas

23

24
25
26

Pengolahan
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Wastec International
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Wastec International
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan PT Guna Purnama dan diolah PT Wastec
International dan PT Guna Purnama
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Gema Putra Buana dan
diolah PT Wastec International
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Wastec International
Disimpan di TPS, diangkut PT Duta Selaras Semesta
dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric
Indonesia dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk.
(Cilacap Plant)
Disimpan di TPS, diangkut dan diolah PT Pasadena
Metric Indonesia
Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric
Indonesia, PT Duta Selaras Semesta dan PT Sukses
Jagratara dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk. (Cilacap
Plant)
Disimpan di TPS, diangkut PT Pasadena Metric
Indonesia dan diolah PT Holcim Indonesia Tbk.
(Cilacap Plant)
Disimpan di TPS

Disimpan di TPS, diangkut PT Guna Purnama dan PT


Wastec Internasional dan diolah PT Guna Purnama dan
PT Wastec Internasional
Zeolite
Spent catalyst
Rocksalt
(Sumber: Neraca Limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
Periode Juli 2013-Juni 2014)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

167

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Untuk tahun ini rencananya PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap akan


melakukan pengolahan sludge yang terdiri dari oil sludge dan lumpur HB (lumpur
yang berasal dari Holding Basin) dengan metode SOR (Sludge Oil Recovery)
apabila izin telah didapatkan dari KLH. SOR adalah suatu proses pemisahan
sludge yang menghasilkan minyak, air dan padatan (cake) dengan metode
biologis, kimia atau fisika atau kombinasi dari metode-metode tersebut. Oil sludge
diproses menjadi recovered oil dan dikembalikan ke tangki crude oil atau tangki
slop untuk dijadikan feed ke unit proses. Air akan diolah di IPAL dan cake
dikelola lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku. Cake ini masih memiliki nilai
ekonomis karena nilai kalornya masih tinggi karena masih terdapat kandungan
minyak di dalamnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar. Cake dapat
dikirim ke PT Holcim Indonesia Tbk untuk diolah dengan metode co-processing
sebagai bahan campuran pembuatan semen atau bahan bakar.
Alat-alat yang digunakan dalam proses SOR antara lain decanter/centrifuge,
heater, mixer, recovered oil tank, boiler, thickener, pompa, generator, compressor
dan strainer (Gambar 5.43.). Fungsi decanter adalah untuk memisahkan cake
(padatan) dengan liquid (air dan minyak). Untuk selanjutnya minyak dan air akan
dipisahkan melalui unit thickener. Minyak yang didapatkan disini bisa
dimasukkan kembali ke dalam proses awal pengolahan minyak untuk menambah
bahan baku.

Gambar 5.43. Flowchart Sludge Oil Recovery


(Sumber: Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero), 2010)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

168

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Kelebihan dari proses pengolahan sludge dengan SOR adalah:

Meminimalisir personil yang masuk ke dalam tangki untuk


pembersihan tangki sehingga meminimalisir kecelakaan kerja

Sebagian besar minyak dalam sludge dapat di-recovery (usaha waste


minimization)

Durasi cukup cepat karena dilakukan secara mekanis sehingga


meningkatkan waktu operasional tangki

Masih ada nilai tambah dari recovered oil

Biaya yang dibutuhkan untuk tank cleaning lebih rendah

Pada proses SOR, PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap akan bekerja


sama dengan PT Melati Technofo Indonesia dan PT Patra Badak Arun Solution
(PT PBAS) yang akan menyediakan alat-alat yang diperlukan dalam proses
pengolahan sludge. Kerjasama PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dengan 2
perusahaan tersebut didapat dengan cara tender. Proses pengolahan dengan SOR
ini dapat segera dilakukan setelah PT Pertamina (Persero) memperoleh izin
pengolahan limbah B3 dengan SOR dari KLH.
Sebelum melakukan SOR, dibutuhkan uji analisis mendalam mengenai
kandungan minyak yang terdapat di oil sludge. Apabila kandungan minyak
sedikit, tentulah biaya yang dikeluarkan untuk SOR akan sia-sia dan lebih baik
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap membayar biaya pengolahan oil sludge
kepada PT Holcim Tbk untuk diolah dengan metode co-processing.

5.4.8. Evaluasi Pemanfaatan Limbah B3


Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan perolehan kembali
(recovery), dan/atau penggunaan kembali (reuse), dan/atau daur ulang (recycle).
Sebenarnya PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak memiliki izin
pemanfataan limbah B3, akan tetapi ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk
memanfaatkan limbah B3 yang dihasilkannya. Kegiatan pemanfaatan limbah B3
yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV mayoritas dilakukan pada
drum bekas kemasan B3 seperti minyak, katalis dan bahan-bahan kimia lain.
Drum bekas ini dimanfaatkan (reuse dan recycle) sebagai wadah limbah B3, tong
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

169

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

sampah dan rotary kiln seperti ditunjukkan pada Gambar 5.44., Gambar 5.45.
dan Gambar 5.46.. Sebelum dimanfaatkan drum-drum bekas tersebut dicuci
terlebih dahulu. Pencucian drum dilakukan untuk mencegah terjadinya
pencemaran oleh kontaminan yang sebelumnya berada pada drum tersebut. Air
bekas cucian drum ini dimasukkan ke dalam sludge pond sehingga kandungan
minyak yang masih terdapat dalam air cucian tersebut dapat diambil kembali.
Drum yang karakteristik bahan kimia sebelumnya tidak membahayakan dapat
langsung digunakan sedangkan drum yang mengandung kontaminan berbahaya
akan dicuci terlebih dahulu. Sifat bahan kimia yang sebelumnya berada dalam
drum harus sangat diperhatikan apakah akan membahayakan apabila bereaksi
dengan limbah B3 atau tidak.
Kegiatan reuse lain yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap adalah:
- Penggunaan kembali ceramic ball yang bentuknya masih bagus. Ceramic ball
yang sudah dipakai dalam kolom atau reaktor sebagai support catalyst akan
dikeluarkan dan dipilah. Ceramic ball tersebut diayak supaya ceramic ball
yang bentuknya masih bagus dimasukkan dan digunakan lagi ke dalam kolom
atau reaktor. Jumlah limbah B3 ceramic ball yang dicatat dalam neraca limbah
B3 adalah jumlah yang sudah dikurangi dengan jumlah ceramic ball yang
dimasukkan kembali ke proses.
- Mengambil minyak yang terkandung dalam oil sludge untuk dikembalikan ke
dalam proses produksi minyak. Proses pemisahan minyak dengan padatan dan
air dilakukan di sludge pond dengan metode steam.

Gambar 5.44. Drum Bekas Katalis Digunakan sebagai Wadah Limbah B3

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

170

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Usaha recycle yang dilakukan adalah penggunaan drum-drum besar bekas


wadah B3 sebagai tong sampah yang diletakkan di area kilang Pertamina RU-IV
(Gambar 5.47.). Drum yang digunakan merupakan drum bekas wadah bahan
kimia, minyak, pelumas, slack wax, atau katalis. Selain itu, drum bekas juga dapat
digunakan sebagai rotary kiln, yaitu alat untuk membuat pupuk. Alat tersebut
berupa kaleng silinder yang diputar secara manual untuk mengolah sampah
organik menjadi pupuk.

Gambar 5.45. Tong Sampah dari Drum Bekas


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Gambar 5.46. Alat Rotary Kiln dari Drum Bekas


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Gambar 5.47. Pemanfaatan Drum Bekas sebagai Tong Sampah


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

171

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Dalam pembuatan tong sampah, drum dipotong mendatar menjadi 2 supaya


didapatkan 2 tong sampah. Drum yang sudah terbagi 2 kemudian dilubangi bagian
samping kiri dan kanannya untuk membuat pegangan. Setelah itu drum dicat
dengan 2 warna berbeda untuk membedakan antara wadah limbah B3 dan limbah
non-B3. Tong sampah untuk limbah B3 berwarna biru dan tong sampah untuk
limbah bon-B3 berwarna kuning.
Selain itu drum bekas juga dimanfaatkan sebagai rotary kiln. Drum yang
sudah dibersihkan akan dilas bagian atas dan bawahnya untuk memasang kaki
penyangga dan alat pemutar. Setelah itu dibuatlah lubang persegi di badan drum
dan dipasangi tutup. Drum kemudian dicat dan diberi logo Pertamina (Gambar
5.48.).

Gambar 5.48. Pemanfaatan Drum Bekas sebagai Rotary Kiln


(Sumber: Environment Section PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak memanfaatkan limbah B3-nya


yang lain selain drum bekas wadah B3, ceramic ball dan oil sludge. Sebenarnya
pemanfaatan minyak yang masih terdapat dalam oil sludge tidak boleh dilakukan
karena PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak memiliki ijin pemanfaatan
limbah B3 dari KLH. Ijin yang dimiliki di sludge pond hanyalah ijin menyimpan
limbah B3.
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

172

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Kegiatan pengolahan dan pemanfaatan limbah B3-nya yang lain diserahkan


kepada pihak ketiga, yaitu PT Holcim Indonesia Tbk. Seperti sudah dijelaskan di
sub-bab sebelumnya, PT Holcim Indonesia Tbk akan memakai metode coprocessing untuk memanfaatkan beberapa limbah B3 PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap sebagai bahan tambahan pembuatan semen dan juga bahan bakar.
Dengan metode ini, limbah B3 akan dicampur dengan bahan baku pembuatan
semen lainnya sebagai bahan baku atau dibakar sebagai bahan bakar dengan tanur
suhu tinggi sehingga hampir tidak menimbulkan residu.

5.5. Perbandingan Pengelolaan Limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap dengan Jamnagar Refinery India
Pengelolaan limbah B3 di PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dengan di
Jamnagar Refinery India sebenarnya tidak jauh berbeda. Kedua perusahaan ini
sama-sama menerapkan prinsip minimasi limbah dengan menerapkan good
housekeeping. Setelah limbah terbentuk juga dilakukan pengemasan dan
pewadahan yang dipisahkan sesuai jenis dan karakteristik limbahnya kemudian
disimpan di tempat penyimpanan tertentu yang lokasinya harus aman dan tidak
membahayakan lingkungan. Transportasi juga dilakukan untuk membawa limbah
B3 dari tempat penyimpanan ke tempat pengolahan selanjutnya.
Hal yang paling membedakan adalah dari segi pengolahan limbah B3. Di
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap tidak terdapat fasilitas insinerator seperti
di Jamnagar Refinery. Untuk mengolah limbahnya, PT Pertamina (Persero) RUIV Cilacap harus membayar pihak ke-3 yang akan mengolah limbah B3 dengan
berbagai cara, salah satunya adalah dengan diinsinerasi. Selain itu di India
terdapat pembagian tanggung jawab antara pihak produsen katalis dengan
perusahaan pengguna katalis. Perusahaan produsen katalis di India memiliki
metode khusus untuk mengolah limbah katalis supaya dapat diregenerasi.
Jamnagar Refinery dapat mengembalikan limbah katalis bekas yang telah
digunakannya kepada produsen katalis untuk diregenerasi. Di Indonesia, tanggung
jawab pengolahan limbah katalis diserahkan kepada perusahaan yang memakai,
dalam hal ini PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

173

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Selain itu, dapat juga dilakukan perjanjian dengan produsen cartridge di


Indonesia untuk mengambil kembali cartridge bekasnya. Hal ini sesuai dengan
rekomendasi pengelolaan limbah cartridge bekas oleh E&P Forum yang
menganjurkan supaya cartridge bekas dikembalikan ke produsennya. PT
Pertamina juga dapat melakukan pengolahan tanah terkontaminasi seperti yang
dilakukan oleh Jamnagar Refinery, yaitu dengan melakukan pengomposan
biologis. Tanah yang terkontaminasi dapat diolah dengan teknik pengomposan
yang menggunakan mikrobiologi khusus sehingga tanah dapat digunakan kembali
dan tidak berbahaya bagi lingkungan.
Di Jamnagar Refinery ada beberapa limbah B3 yang dijual ke pihak lain
untuk dimanfaatkan kembali. Dari limbah B3-nya ini, pihak perusahaan dapat
memperoleh keuntungan uang dengan menjualnya. Lain halnya dengan di PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap yang harus membayar untuk pengelolaan
limbah B3-nya ke pihak lain yang memiliki ijin khusus untuk mengelola limbah
B3. Hal ini terjadi karena pihak ke-3 ini hanya melakukan tugas memusnahkan
limbah B3. Lain halnya dengan di India dimana limbah B3 dijual oleh Jamnagar
Refinery ke pihak lain untuk dimanfaatkan. Oleh karena itulah dibutuhkan
penelitian mengenai alternatif pemanfaatan limbah B3. Terdapat pengecualian
pada pengelolaan limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap di PT
Holcim Indonesia Tbk. yang menggunakan metode co-processing. Pada kondisi
ini, pihak PT Holcim juga membutuhkan limbah B3 tersebut untuk dimanfaatkan
tapi PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap yang harus membayar. Karena itulah
dibutuhkan perumusan ulang MoU supaya saling menguntungkan kedua belah
pihak.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

174

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

BAB VI
PENUTUP

6.1. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan serta melakukan
analisis dan pembahasan mengenai kondisi eksisting pengelolaan limbah B3 yang
dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap, dapat diambil simpulan
bahwa:
1. Berdasarkan neraca limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
periode Juli 2013 - Juni 2014 terdapat 26 jenis limbah dengan jumlah
limbah B3 yang dihasilkan sebesar 1065,487 Ton. Karakteristik limbah
yang dihasilkan yaitu BERACUN, MUDAH TERBAKAR dan
KOROSIF.
2. Kinerja pengelolaan limbah B3 PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
berdasarkan neraca limbah untuk periode Juli 2013-Juni 2014 adalah
100%, artinya PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap telah mengelola
semua limbah B3 yang dihasilkannya dengan baik.
3. Kegiatan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh PT Pertamina
(Persero) RU-IV Cilacap meliputi reduksi, pengemasan dan pewadahan,
pelabelan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan dan pemanfaatan.
Kegiatan pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 dilakukan dengan
bantuan dari pihak ketiga berijin yaitu PT Pasadena Metric Indonesia, PT
Wastec Internasional dan PT Holcim Indonesia Tbk.
Evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap dapat dilihat pada poin-poin
berikut:
Reduksi: sudah melakukan inventarisasi jumlah limbah dan good
housekeeping.
Pengemasan dan pewadahan: sudah menggunakan berbagai kemasan
yang sesuai dengan peraturan (drum, kontainer IBC, tong plastik dan
jumbo bag), masih ada kemasan yang berkarat dan penyok serta tidak

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

175

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

menggunakan inert bag dan tutup drum, masih terdapat kesalahan


dalam menempatkan jarak antar palet drum limbah B3.
Pelabelan: sudah menggunakan label yang sesuai dengan peraturan
pada kemasan, tempat penyimpanan dan kendaraan angkut namun
belum memakai simbol baru dari Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup 14 tahun 2013, tidak memakai label penunjuk tutup
wadah/kemasan.
Penyimpanan: memiliki ijin tempat penyimpanan sementara (TPS)
limbah B3 berupa gudang dan sludge pond, kondisi gudang sudah
sesuai peraturan namun kurang luas untuk menampung limbah B3
yang dihasilkan dan kurang memiliki beberapa fasilitas yang
dibutuhkan di TPS limbah B3, yaitu penangkal petir, pagar pengaman,
pembangkit listrik cadangan, gudang perlengkapan, pintu darurat dan
alarm.
Pengangkutan: melakukan pengangkutan internal dan eksternal dan
memiliki kelengkapan dokumen pengangkutan seperti berita acara
penyerahan limbah B3 dan dokumen limbah B3 (Hazardous Waste
Manifest) lembar ke-2, ke-3 dan ke-7.
Pengolahan: Pengolahan dilakukan oleh pihak ketiga yaitu PT
Pasadena Metric Indonesia, PT Wastec Internasional dan PT Holcim
Indonesia Tbk. Pada PT Holcim Indonesia Tbk, limbah diolah dengan
metode co-processing yang ramah lingkungan. Tahun ini rencananya
sludge akan diolah dengan metode Sludge Oil Recovery dengan
bekerja sama dengan pihak ketiga.
Pemanfaatan: pemanfaatan yang dilakukan sendiri adalah reuse dan
recycle, yaitu menggunakan drum bekas sebagai wadah limbah B3,
tong sampah dan rotary kiln serta menggunakan kembali ceramic ball
yang masih layak pakai dan mengambil kandungan minyak dari oil
sludge untuk dimasukkan ke proses awal. Pemanfaatan limbah B3 PT
Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap yang dilakukan oleh PT Holcim
Indonesia Tbk adalah penggunaan limbah B3 tersebut sebagai bahan

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

176

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

bakar dan campuran bahan baku pembuatan semen (metode coprocessing).

6.2. Saran
Beberapa saran yang dapat disampaikan untuk meningkatkan kinerja
pengelolaan limbah B3 oleh PT Pertamina (Persero) RU-IV ke depannya adalah:
1. Membeli alat khusus untuk press kaleng (limbah B3) supaya hasil lebih
bagus dan rapi serta mengurangi risiko kecelakaan kerja karena selama
ini proses press kaleng menggunakan forklift yang hasilnya kurang bagus
dan dapat membahayakan pekerja.
2. Mengganti drum yang sudah berkarat dan penyok dengan drum yang
kondisinya masih bagus dan memiliki tutup serta menggunakan label
penunjuk tutup wadah/kemasan pada wadah limbah B3.
3. Memperbesar luas area gudang TPS limbah B3 supaya memiliki
kapasitas lebih banyak dalam menampung limbah B3 yang menurut trend
grafik setiap tahun jumlahnya akan selalu meningkat.
4. Membuat pintu darurat, ruang peralatan, alarm kebakaran, penangkal
petir serta pengaturan ulang letak APAR di gudang TPS limbah B3.
5. Menambah jumlah forklift untuk menata limbah B3 di gudang TPS dan
juga untuk mengangkut limbah B3 ke truk

transporter agar

mengefektifkan dan mengefisienkan waktu.


6. Menambah jumlah pekerja karena hanya terdapat 2 pekerja pada gudang
TPS limbah B3 sehingga produktivitas kerja kurang maksimal.
7. Selalu rajin menanyakan keluarnya izin dari KLH untuk pemanfaatan
limbah B3 dan pengolahan sludge dengan SOR.
8. Efektifkan perjanjian kerjasama antara PT Pertamina (Persero) RU-IV
Cilacap dengan pihak ke-3 pengolah limbah B3 yaitu PT Holcim
Indonesia Tbk, PT Pasadena Metric Indonesia, PT Wastec Internasional
dan pihak ke-3 transporter.

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

177

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

DAFTAR PUSTAKA

Alshammari, Jadea S . Solid Waste Management in Petroleum Refineries .


American Journal of Environmental Sciences . 4(4): 353-361, 2008
American Petroleum Institute . 1989. API Environmental Guidance Document:
Onshore Solid Waste Management in Explorations and Productions .
Washington D.C.: American Petroleum Institute
Damanhuri, Enri . 2010 . Diktat Kuliah TL-3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3) Edisi Semester II 2009-2010 . Bandung : Program Studi
Teknik Lingkungan ITB
Exploration & Production Forum . 1993. Exploration & Production (E&P) Waste
Management Guidelines. London : E&P Forum
Reliance Jamnagar Infrastructure Limited . 2009 . Environmental Impact
Assessment for Petroleum & Petrochemical Complex in Special Economic
Zone, Jamnagar . Consolidated ElA document with Clarifications &
Additional Information Provided to the MoEF, New Delhi
Kementerian Lingkungan Hidup, 2009. Kumpulan Peraturan PerundangUndangan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Jakarta :
MEN-LH
Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-01/BAPEDAL/09/1995 Tentang Tata Cara
dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun
Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-02/BAPEDAL/09/1995 Tentang Dokumen
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-03/BAPEDAL/09/1995 Tentang Persyaratan
Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 02
Tahun 2008 Tentang Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2013 Tentang Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3
PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

178

Program Studi Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 juncto 85 tahun 1999


Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Sigman, Hillary . 2003 . Taxing Hazardous Waste: The U.S. Experience . Rutgers
University
US. Environmental Protection Agency, 1997. Best Management Practices:
Handbook for Hazardous Waste Containers. Washington D.C. : USEPA
environmentalchemistry.com (diakses tanggal 7 Juli 2014)
http://www.defra.gov.uk (diakses tanggal 14 Juli 2014)
http://www.epa.gov (diakses tanggal 14 Juli 2014)

Evaluasi Pengelolaan Limbah B3


PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap
2014

179

LAMPIRAN