Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala berkah rahmat dan hidayah-Nya jugalah sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul STUDI POTENSI AIR DAN KETERSEDIAAN ENERGI LISTRIK DI TALANG
LINTANG PADA RANCANG BANGUN PLTMH 5 kW .
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Strata-1 pada
Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang. Data-data dan sumber-sumber yang digunakan
sebagai bahan dalam pembuatan skripsi ini didapat dari studi pustaka buku-buku analisis mesin-mesin listrik dari berbagai judul dan
pengarang.
Penulis dapat menyelesaikan skripsi berkat bimbingan, pengarahan dan nasehat yang tidak ternilai harganya. Pada
kesempatan ini dan dengan selesainya skripsi ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Bapak Ir. Zulkiffli Saleh,M.Eng. selaku pembimbing I

2.

Bapak Ir. Abdul Majid. selaku pembimbing II


Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penyelesaian penulisan skripsi ini, yaitu :

1.

Bapak H. M. Idris, SE., MSi. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang.

2.

Bapak Ir. Zainul Bahri, MT, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang.

3.

Ibu Ir. Eliza, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang.

4.

Seluruh Staf Pengajar dan Karyawan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang.

5.

Kedua orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungannya, semangat, dan doa.

6.

Semua sahabat dan teman-temanku yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, penulis berharap semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Palembang,

Agustus 2011

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejalan dengan perkembangan sosial, budaya dan ekonomi serta informasi, maka listrik telah menjadi salah satu kebutuhan
pokok bagi masyarakat terpencil khususnya masyarakat perdesaan. Terbatasnya kemampuan PLN dalam menyediakan tenaga listrik
kepada masyarakat Indonesia, berdasarkan data Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE) pencapaian rasio
elektrifikasi baru mencapai 64% dan rasio desa berlistrik mencapai 88 % dari total sekitar 66.000 desa pada tahun 2008. Di sisi lain
Indonesia memiliki begitu banyak potensi air yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu sekitar 75,67 GW, namun baru sekitar 4.2
GW termanfaatkan dan diantaranya potensi untuk mini/mikrohidro sekitar 450 MW yang termanfaatkan sekitar 230MW terpasang
sampai pada tahun 2008.
Tenaga merupakan suatu unsur penunjang yang sangat penting bagi pengembangan secara menyeluruh suatu bangsa.
Pemanfaatan secara tepat guna akan merupakan suatu alat yang ampuh untuk merangsang pertumbuhan perekonomian negara.
Berdasarkan alasan tersebut, untuk dapat di mengerti apabila pada akhir akhir ini permintaan akan pembangkit tenaga semakin
meningkat di negara negara seluruh dunia. Secara garis besar dapat di katakan bahwa, di tinjau dari segi kebutuhan tenaga, hampir
dapat di pastikan semua negara di dunia benar benar sedang mengalami krisis energi dan berbagai kesibukan dilakukan untuk
menjagai pemanfaatan bebagai alternatif pembangkit energi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Tenaga listrik
memegang peranan penting dalam pengembangan ekonomi dan pembangunan suatu bangsa.
Kebutuhan tenaga listrik pada umumnya akan naik, dengan laju pertumbuhan berkisar 3 20 % pertahun, terutama tergantung
pada pertumbuhan ekonomi dan laju perkembangan industri suatu negara. Hal ini berpengaruh terhadap penyediaan energi listrik.
Semakin jelas bahwa harus ada suatu gagasan baru mengenai sumber-sumber penghasil energi dan rumusan program-program
pelaksanaan dengan efisiansi maksimal.
Pada saat ini sumber daya potensi air di setiap daerah belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat
khususnya pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten. Hal ini disebabkan pemahaman tahapan yang harus dilakukan untuk
membangun PLTMH masih kurang, khususnya bagaimana melakukan studi potensi/ (Pra FS), Detail Engineering Design (DED) belum
dilakukan dengan benar dan tepat.Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Istilah Mikrohidro biasanya dipakai untuk
pembangkit listrik yang menghasilkan output di bawah 500 kW. Lebih besar dari itu biasa disebut dengan PLTA. Potensi
pengembangan PLTMH di Indonesia juga masih sangat terbuka. Dari seluruh 75.000 MW potensi kelistrikan Mikrohidro. Saat ini, yang
baru dimanfaatkan baru sebesar 60 MW.
1.2 Tujuan Pembahasan
Tujuan skripsi ini yaitu untuk membahas studi potensi dan ketersediaan energi pada Talang Lintang Kelurahan Jokoh untuk
rancang bangun PLTMH 5 kW.

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah yang menjadi pokok pembahassan tidak meluas dan menyimpang dari tujuan pembahasan perlu di batasi
pada studi potensi dan ketersediaan energi pada rancang bangun PLTMH 5 kW.
1.4 Sistematika Penulisan
Penjelasan penulisan dan uraianya, skripsi ini di bagi menjadi 5 bab pembahasan yang secara sistematik di tulis sebagai
berikut;

BAB 1 PENDAHULUAN
Menjelaskan tenteang latar belakang,tujuan pembahasan, batasan masalah, serta sistematika pembahasan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Menjelaskan mengenai teori teori pendukung yang berkaitan dengan skripsi ini yaitu studi potensi air dan ketersediaan energi
listrik pada di Talang Lintang pada rancang bangun PLTMH 5 kW
BAB 3 SURVEI AWAL
Pada bab ini menjelaskan tentang survei awal studi potensi air dan ketersediaan energi listrik.
BAB 4 DATA DAN PERHITUNGAN
Pada bab ini menjelaskan tentang hasil data dan perhitungan ketersediaan energi listrik.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penulis menerangkan tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang dapat berguna bagi masa yang
akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Pustaka
Indonesia masih bertumpu kepada energi fosil yaitu minyak bumi, gas alam dan batu bara. Menurut data dari Dirjen

LembagaPengembangan Ekonomi (LPE) tahun 2005, penggunaan energi fosil ini mencapai 96%, dan hanya 4% saja yang berasal
dari energi baru terbarukan, yaitu tenaga air, panas bumi, bio massa, matahari dan angin.
Menurut data dari Dirjen LPE (2008), kapasitas yang dicapai baru sebesar 4410 MW saja, atau 2,8% dari kebutuhan energi
nasional, memang masih tergolong rendah. Sebenarnya pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan ini sejak beberapa tahun yang
lalu oleh pemerintah sudah mulai digalakkan, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi (1980), bahwa
yang pertama adalah meningkatkan eksplorasi yang diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak bumi, gas alam, batu bara serta
meningkatkan pemanfaatan tenaga air dan panas bumi.
Faktor pendorong perlu dibangunnya suatu PLTMH pada suatu daerah, Sutarno (1993) dalam bukunya Sistem Listrik MikroHidro untuk Kelistrikan Desa, mengemukakan sebagai berikut;
1.

Di daerah itu ada sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk PLTMH.

2.

Daerah tersebut sulit atau cukup jauh untuk dijangkau oleh jaringan

listrik PLN. Kalaupun akan dipasang biayanya terlalu mahal.


3.

Jarak antara pembangkit dengan daerah konsumen tidak terlalu jauh.

4.

Adanya minat dan keinginan dari penduduk setempat untuk

menggunakan tenaga listrik. Ada kemampuan untuk berswadaya. Dan lebih utama lagi apabila ada industri rumah misalnya yang
dimungkinkan akan lebih berkembang dengan adanya tenaga listrik.
2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
2.2.1

Pengertian
PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau dalam bahasa Inggrisnya Micro Hydro Power
(MHP). PLTMH adalah suatu sistem pembangkit listrik dengan menggunakan sumber energi dari tenaga air. Mikro menunjukan ukuran
kapasitas pembangkit, yaitu antara500 100 kilo menurut United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), sedangkan
menurut peraturan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2002 berkapasitas <1 MW.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), biasa disebut mikrohidro, adalah suatu pembangkit listrik kecil yang
menggunakan tenaga air di bawah kapasitas 200 kW yang dapat berasal dari saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara
memanfaatkan tinggi terjun dan debit air. Umumnya PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga air jenis di mana diperoleh tidak dengan
cara membangun bendungan besar, tetapi dengan mengalihkan sebagian aliran air sungai ke salah satu sisi sungai dan
menjatuhkannya lagi ke sungai yang sama pada suatu tempat di mana yang diperlukan sudah diperoleh. Dengan melalui pipa pesat air
diterjunkan untuk memutar turbin yang berada di dalam rumah pembangkit. Energi mekanik dari putaran poros turbin akan diubah
menjadi energi listrik oleh sebuah generator.

2.2.2. Prinsip kerja


PLTMH bekerja ketika air dalam jumlah dan ketinggian tertentu dijatuhkan melalui pipa pesat (penstok) dan menggerakan
turbin yang dipasang diujung bawah pipa. Putaran turbin di kopel (dihubungkan) dengan generator sehingga generator berputar dan
menghasilkan energi listrik. Listrik yang dihasilkan dialirkan melalui kabel listrik ke rumah- rumah penduduk atau konsumen lainnya.
Jadi PLTMH mengubah energi potensial yang berasal dari air menjadi energi listrik. Untuk memanfaatkan energi air dengan tepat dan
menghasilkan energi listrik yang baik, diperlukan peralatan yang sesuai dan perencanaan yang baik.
2.2.3. Klasifikasi pembangkit listrik tenaga air
Terlepas dari sejumlah klasifikasi teknis yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya, pembangkit listrik tenaga air di
kelompokan berdasarkan ukuran kapasitasnya. Walaupun ada sejumlah definisi yang berbeda, dalam hal ini kita akan memakai
klasifikasi berdasarkan standard UNIDO dan Permen ESDM tahun 2002
Tabel 2.1 Definisi tenaga air berdasarkan kapasitas daya

Istilah

Power Output

Permen ESDM Tahun 2002

Pico Hydro

< 500 W

Micro Hydro

500 W hingga 100 kW

< 1 MW

Mini Hydro

100 kW hingga 1 MW

1 MW 10 MW

Small Hydro

1 MW to 10 MW

Full-scale (large) hydro

> 10 MW

2.2.4. Pemanfaatan PLTMH


Mikrohidro dapat digunakan langsung sebagai tenaga mekanik poros untuk kebanyakan aplikasi industri kecil, seperti
penggilingan padi, jagung dan kopi. PLTMH biasanya diaplikasikan untuk penyediaan energi listrik. dengan mengkonversikan daya
poros menjadi energi listrik dengan menggunakan generator biasa atau motor listrik. Di beberapa wilayah miskin di dunia, seperti Afrika
PLTMH lebih banyak digunakan sebagai penggilingan bahan makanan dari pada digunakan sebagai pembangkit listrik.
2.2.5. Komponen PLTMH
Komponen pada PLTMH terdiri dari dua bagian yaitu komponen civil dan komponen mekanikal serta elektrikal.
2.2.5.1 Bangunan sipil
Komponen penunjang untuk menggerakan komponen mekanikal dan elektrikal. Ada 10 ( sepuluh ) komponen sipil yaitu;
a. Bendungan pengalihan

Terletak melintang aliran sungai yang berfungsi meninggikan permukaan air sungai agar aliran air yang masuk melalui ke
dalam sistem penyaluran PLTMH lebih lancar dan sesuai dengan kebutuhannya. Pembuatan bendung ini tidak sampai menghentikan
aliran air pada sungai yang dibendung untuk menjamin hak pengguna air lainnya.
b. Intake (saluran pemasukan)
Lubang intake merupakan pintu masuk menuju saluran pembawa. Lubang intake berada di samping bendung atau di bibir
sungai ke arah(DiversionWeir) hulu sungai. Pintu intake mengatur aliran air masuk dari sungai ke sistem pembawa air.
Pintu intake juga memungkinkan untuk menutup sama sekali aliran masuk selama periode perawatan dan selama banjir.
Pada pintu intake biasanya terdapat perangkap sampah.
c. Bak pengendap (sand trap)
Merupakan saluran yang terletak sesudah pintu (intake). Bagian dasar bak pengendap secara membujur dibuat lebih miring
agar kecepatan aliran air menurun. Penurunan ini akan mengendapkan kerikil, pasir dan sedimen sehingga tidak ikut masuk ke saluran
pembawa, dan yang terpenting tidak masuk ke dalam turbin. Pada bagian akhir bak pengendap terdapat pintu penguras untuk
membersihkan sand trap dari endapan pasir, kerikil dan sedimen. Pada PLTMH kecil bak pengendap juga berfungsi sebagai
bak penenang.
d. Saluran pembawa (head race channel)
Saluran yang membawa air mulai dari saluran pemasukan hingga ke bak penenang. Bagian dasar saluran dibuat miring
(landai) agar tidak ada air yang terjebak di dalam saluran. Kemiringan dibuat sedemikian rupa agar hilangnya ketinggian (head
lose) dapat dibuat seminimal mungkin.
e. Saluran pelimpah (spillway)
Berfungsi untuk mencegah aliran air berlebih yang tidak terkontrol dengan cara mengembalikan kelebihan air dalam saluran ke
sungai melalui saluran pelimpah. Kelebihan air terjadi ketika debit air di dalam saluran melebihi batas atau saringan di dalam bak
penenang tersumbat sampah. Spill way kemungkinan terletak pada bak pengendap, saluran pembawa, dan bak penenang. Dengan
adanya sistem pelimpah air dapat mencegah erosi dan tanah longsor pada sistem saluran air yang diakibatkan air meluber kemanamana.
f. Bak penenang(forebay)
Membentuk transisi dari saluran pembawa ke pipa pesat. Dalam beberapa kasus baknya diperbesar yang bertujuan sebagai
bak penampung pada beban puncak dan bak akhir untuk mencegah pengisapan udara (air suction). Bak penenang ini pun merupakan
bak pengendap dan penyaring terakhir sebelum air masuk ke dalam pipa pesat (penstock).
g. Saringan
Menyaring sampah dalam air agar tidak masuk ke dalam pipa pesat. Saringan terletak pada bagian depan intake , setelah bak
pengendap, dan ujung depan pipa pesat di dalam bak penenang. Saringan harus diperiksa dan dibersihkan secara teratur.

h. Pipa pesat (penstock)


Pipa yang menghubungkan bak penenang dengan turbin di rumah pembangkit yang membawa air jatuh ke turbin. Umumnya
pipa pesat terbuat dari pipa baja yang di rol dan dilas untuk menyambungkannya. Namun demikian ada juga pipa pesat terbuat beton

atau plastik (PE, PVC, HDPE). Pipa pesat didukung oleh sliding blocks dan angkor serta expansion joint (sambungan) untuk mengatasi
pemuaian pipa secara memanjang akibat pengaruh temperatur.
i. Rumah pembangkit (Power House)
Bangunan tempat semua peralatan mekanik dan elektrik PLTMH dipasang secara aman baik dari pengaruh cuaca buruk
maupun akses masuk orang-orang yang tidak berkepentingan. Peralatan mekanik seperti turbin dan alternator berada di dalam rumah
pembangkit, demikian pula peralatan elektrik, seperti Controler.
j. Saluran pembuang (Tailrace Channel)
Terpasang dibagian dasar rumah pembangkit yang berfungsi mengalirkan air kembali ke sungai setelah melalui turbin.
2.2.5.2. Komponen mekanikal dan elektrikal
Peralatan elektro-mekanikal adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk merubah energi potensial air menjadi energi
listrik. Peralatan utamanya terdiri dari :
a. Turbin
Merupakan peralatan mekanik yang mengubah energi potensial air menjadi energi mekanik (putaran). Air yang memiliki
tekanan dankecepatan tertentu menumbuk sudu sudu turbin dan memutar runner turbin sehingga berputar dengan daya yang
sebanding dengan daya daripotensi air.
Gambar 2.1. Turbin crossflow.
Gambar 2.2. Turbin propeller open flume.
Ada beberapa jenis turbin yang digunakan dalam pemanfaatan PLTMH yang disesuaikan dengan besarnya debit air dan tinggi
jatuh. Turbin yang paling banyak digunakan untuk PLTMH di Indonesia adalah :
- Turbin crossflow : cocok untuk aplikasi tinggi jatuh medium 10 100 meter,
daya 1kW 250kW.
- Turbin propeler (open flume) : cocok untuk tinggi jatuh yang rendah 2 10
meter dengan debit air yang besar.
- Turbin Pelton : cocok untuk tinggi jatuh yang tinggi lebih dari 80 meter.
b. Generator
Generator merupakan komponen yang berfungsi merubah energi mekanik berupa putaran menjadi energi listrik. Generator
yang digunakan biasanya jenis arus bolak balik (AC) dengan frekuensi 50 hz pada putaran 1500 rpm. Energi listrik yang dihasilkan
dapat berupa 1 fasa (2 kabel) atau 3 fasa (4 kabel) dengan tegangan 220/380 . Generator diputar oleh turbin melalui kopel langsung
atau melalui dan sabuk. Ada dua jenis generator yang banyak digunakan untuk PLTMH yaitu generator sinkron dan motor induksi
sebagai generator (generator induksi).
Gambar 2.3. Contoh generator sinkron.
Gambar 2.4. Contoh generator induksi
c. Panel listrik dan alat kontrol

Panel listrik merupakan tempat dimana sambungan kabel (terminal) dan peralatan pengaman listrik (MCB) serta meter listrik
ditempatkan. Berikut fungsi panel listrik dan alat kontrol :
a.

Memonitor parameter dan besaran listrik seperti tegangan generator, arus


beban, frekuensi, indikator lampu, jam operasional dan lain lain.

b.

Sebagai alat pengaman generator dan peralatan listrik dari hubung singkat, arus
beban lebih, tegangan lebih/kurang (over/under voltage), frekuensi lebih/kurang (over/under frequency) dan lain-lain.

c.

Sebagai alat pengendali/kontrol generator supaya tegangan dan frekuensi generator stabil pada saat terjadi perubahaan beban di
konsumen.
Ada dua jenis kontrol yaitu ELC (electronic load controller) untuk generator sinkron dan IGC (induction generator) untuk
generator induksi. Pada prinsipnya kedua jenis kontrol ini adalah sama, hanya berbeda parameter yang di kontrol, dimana frekuensi
pada ELC dan tegangan pada IGC. Cara paling mudah untuk membedakannya adalah adanya kapasitor pada IGC.
Gambar 2.5. Panel kontrol ELC (electronic load controller)

Gambar 2.6. Panel kontrol IGC dengan kapasitor


d. Beban ballast (ballast load)
Beban ballast hanya digunakan pada PLTMH dengan pemakaian kontrol beban (ELC/IGC) sedangkan pada PLTMH tanpa
kontrol tidak menggunakan beban ballast . Pada PLTMH tanpa menggunakan kontrol, tegangan dan frekuensi akan naik dan turun
sesuai dengan perubahan beban konsumen, hal ini akan mengakibatkan lampu dan peralatan elektronik akan cepat rusak.
Beban ballast digunakan untuk membuang energi listrik yang dibangkitkan oleh generator tetapi tidak terpakai oleh konsumen.
Sehingga daya yang dihasilkan generator dengan daya yang dipakai akan seimbang, hal ini dimaksudkan untuk menjaga tegangan dan
frekuensi generator tetap stabil.
Gambar 2.7. Beban ballast berupa elemen pemanas udara
2.2.5.3 Jaringan distribusi dan instalasi rumah
a. Kabel penghantar
Kabel penghantar digunakan untuk mentransmisikan daya listrik yang dibangkitkan di generator kepada konsumen dirumahrumah dan pusat beban lainnya. Pada PLTMH transmisi listrik dilakukan pada tegangan rendah (220/380 Volt ). Kabel transmisi yang
digunakan biasanya adalah kabel jenis twisted (NFA2X) dengan diameter penghantar 70 mm2 atau 50 mm2 atau lebih kecil sesuai
dengan panjang transmisi dan besarnya beban yang ditransmisikan.
Perlu diperhatikan bahwa transmisi daya listrik 3 fasa menggunakan kabel 4 penghantar dengan salah satu penghantar lebih
kecil dari yang lainnya. Kabel yang lebih kecil ini digunakan sebagai penghantar NETRAL. Contohnya kabel ukuran 70mm2 jumlah
kabelnya adalah 3x70+50mm . Ukuran 70 mm2 sebagi penghantar fasa (R, S, T) dan 50 mm2 sebagai penghantar netral/nol.
Gambar 2.8. Kabel twisted untuk jaringan
1. Conductor : A II Aluminium Conductor (AAC)

2. Insulation : Exruded Cross Linked Polyethylene (XLPE)


`
b. Tiang listrik
Tiang listrik digunakan untuk menyangga dan menarik kabel penghantar supaya menjaga jarak aman dari tanah dan tidak
mengganggu lalulintas manusia dan barang dibawahnya. Tiang listrik yang dipakai harus kuat menyangga beban kabel, beban karena
angin dan hujan dan beban tarikan kabel. Untuk itu digunakan material yang kuat dan ditanam di dalam tanah, seperti beton dan besi.
Tetapi karena beton dan besi di anggap cukup mahal sering juga digunakan kayu dan bahkan bambu. Untuk transmisi tegangan
rendah, tiang listrik yang digunakan memiliki ketinggian minimum 7 meter.
c. Instalasi rumah
Instalasi rumah biasanya terdiri dari tiga titik lampu dan satu stop kontak. Pembatas arus menggunakan MCB 1 Ampere untuk
daya 220Watt dan 0,5 Ampere untuk daya 110 Watt .

BAB 3
SURVEI AWAL

3.1. Pengumpulan Data Teknis


3.1.1. Pengumpulan bahan referensi dasar
Setelah mengidentifikasi dan memfokuskan lokasi potensi, maka langkah selanjutnya mengumpulkan bahan referensi dasar
yang dibutuhkan adalah antara lain ;
a.

Survei awal
Nama Lokasi

: Dusun Semidang Alas ,Talang Lintang, Kelurahan Jokoh

Kecamatan Dempo Tengah.


Tanggal kunjungan
-

: 10 sampai dengan 13 april 2011

Lokasi desa / dusun


Nama desa / dusun
Koordinat sesuai GPS (UTM)

: Semidang Alas, Talang Lintang,


: 9542763

b.

Ketinggian dariu permukaan laut

: 1043 m

Kecamatan

: Dempo Tengah

Kabupaten/ Kota

: Pagar Alam

Provinsi

: Sumatera Selatan

Peta lokasi
Merupakan peta tentang wilayah dusun/desa lokasi potensi, relatif terhadap lokasi pusat pemerintahan desa, kecamatan, kota
fasilitas umum, tanah pertanian, lokasi desa-desa, kemiringan sungai, daerah tangkapan air dari lokasi yang diusulkan, jalan menuju
lokasi dan sebagainya. Peta ini dapat menggambarkan tingkat aksesibilitas lokasi PLTMH untuk mendapatkan alternatif jalan akses
untuk memperkirakan kebutuhan jalan akses yang harus dibuat apabila PLTMH dibangun. Peta ini bisa didapatkan di Badan Koordinasi
Survai dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Gambar 3.1. Peta lokasi PLTMH di tunjukan oleh tanda panah

c.

Ketersediaan Material Konstruksi


Melakukan pengamatan dan identifikasi ketersediaan material konstruksi, hal ini penting dilakukan untuk menghitung nilai
ekonomis pembangunan PLTMH.

3.1.2. Pemilihan lokasi potensial


Pemilihan lokasi potensi sumber energi mikrohidro dapat dilakukan secara atau survai awal sebagai pendekatan, yakni sebagai
berikut ;
a.

Pemilihan menggunakan Peta Topografi


Perkiraan ketinggian, yang ditaksir melalui peta adalah kurang lebih 10 m untuk peta dengan skala 1:25.000 dan 25 m untuk
peta dengan skala 1:50.000.contoh pada Gambar 1
.
Gambar 3.2. Contoh Daerah Tangkapan Air

b.

Pemilihan dengan Pertimbangan Kemiringan Sungai/Saluran dan Debit Sungai/Saluran


Pemilihan lokasi potensial ini dengan mempertimbangkan profil tinggi dan saluran air serta debit air aliran yang ada. Jenis
informasi, yang diambil dari peta topografi adalah kemiringan sungai atau saluran meliputi perbedaan ketinggian dan panjang sungai
atau saluran dan debit.

Gambar 3.3. Deskripsi Pengertian Head


c.

Pengumpulan Data dan Informasi Kelayakan Teknis Lokasi


Pengumpulan data dan informasi kelayakan teknis ini adalah melengkapi bahan bahan referensi dasar yang akan digunakan
untuk analisis kelayakan lokasi dari segi teknis. Data yang terkumpul dalam formulir ini akan menjadi dasar persiapan perancangan
teknis, dan menilai kelayakan teknis pembangunan PLTMH. Kegiatan pengumpulan data primer di lapangan meliputi:

1.

Wawancara dengan pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya dengan penduduk lokal.

2.

Pengukuran head, survai proyek di lokasi dimulai dari sampai dengan . Pengertian tentang dan dapat dilihat di Pedoman Studi
Kelayakan Sipil Pembangunan PLTMH Buku 2B.

3.

Pengukuran aliran dengan metode hidrometri.

4.

Pengukuran dengan menggunakan peralatan (GPS) untuk jaringan transmisi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3. Data sekunder
yang dibutuhkan untuk kegiatan ini antara lain

Gambar 3.4. Alat Global Positioning System (GPS)


5.

Peta topografi skala 1:50.000 atau lebih kecil untuk menggambarkan daerah tangkapan air.

6.

Hasil analisis data hidrologi berupa analisis debit andalan. Debit andalan adalah debit minimum sungai dengan kemungkinan debit
terpenuhi 80% sehingga dapat dipakai untuk dasar analisis besar daya yang dapat dihasilkan mikrohidro. Debit andalan pada umumnya
dianalisis sebagai debit rata-rata untuk periode sepuluh harian, setengah bulanan atau bulanan. Kemungkinan tak terpenuhi ditetapkan
20% untuk menilai tersedianya air berkenaan dengan kebutuhan pengambilan (diversion requirement)

Secara garis besar kelompok data dan informasi yang dihasilkan dari kegiatan pengumpulan data dan informasi kelayakan
teknis lokasi adalah :
- Deskripsiumum potensi.
- Deskripsi lokasi potensi.
- Layout umum.
- Jaringan dan transmisi lokal.
- Faktor-faktor lingkungan.
- Penggunaan lahan sekitar lokasi potensi saat ini.
Hal yang perlu diklarifikasi selain dari kelompok informasi di atas antara lain adalah :
1.

Profil potensi sumber alam mikrohidro di desa/dusun wilayah yang telah diindikasikan dengan aliran sungai atau saluran.

2.

Profil potensi sosial ekonomi desa/dusun yang diidentifikasi membutuhkan listrik.

3.

Apakah benar bahwa memungkinkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang dekat dengan daerah yang
membutuhkan daya.

4.

Berapa kapasitas daya yang diperkirakan dapat dihasilkan berdasarkan profil topografi (representasi head) dan debit /deras aliran
sungai yang ada.

5.

d.

Alternatif lokasi potensial lain di sepanjang aliran sungai dusun/desa tersebut.

Kajian pencarian lokasi


Dalam kajian lokasi pembangkit diupayakan sedekat mungkin dengan lokasi-lokasi konsumen yang membutuhkan daya.
Apabila lokasi permintaan daya tersebar pada daerah yang luas, maka disarankan menyebarkan pembangkit skala
kecil (picohydro) daripada memasok daya ke seluruh kelompok penduduk dengan menggunakan sebuah pembangkit tunggal. Syarat
yang perlu diperhatikan adalah biaya jaringan lebih rendah, lebih mudah pengoperasian dan perawatan dan dampak penghentian tak
terduga dari pembangkit dapat diperkecil. Selanjutnya perlu juga diperhitungkan adalah daya yang dihasilkan, tingkat permintaan,
topografi, kondisi jalanmasuk, tegangan jaringan dan perhitungan ekonomi jaringan.
Perkiraan jarak maksimum jaringan sampai dengan konsumen adalah radius 5 km untuk tegangan menengah 20 kV dan
radius 2 km untuk tegangan rendah. Jarak ini berdasarkan pada asumsi bahwa tegangan pada akhir jaringan distribusi harus terjaga
diatas 205 Volt, 15V sebagai kerugian tegangan yang diijinkan pada aturan tegangan 220V, tanpa trafo (transformer). Apabila lokasi
potensial tidak ditemukan karena terlalu jauh pelayanan konsumen maka trafo harus dipasang.

e.

Kajian kondisi stabilitas dan struktur tanah (kondisi geologis) rencana bangunan sipil PLTMH.
Kajian ini dilakukan dari desk study data/informasi kondisi struktur tanah atau kondisi geologi, atau dengan survai awal
stabilitas tanah, terutama permukaan tanah, diperlukan untuk pembangunan dari sebuah pembangkit tenaga air skala kecil disebabkan
;
- Bangunan mikrohidro sebagian besar adalah bangunan sipil.

- Rute saluran air umumnya berada di kemiringan sisi bukit.


Penelitian harus dihasilkan dalam bentuk sketsa sebagaimana Gambar 5, untuk tujuan referensi untuk menentukan bangunan dasar
dari setiap bangunan sipil.

Gambar 3.5. Sketsa geologi berdasarkan pengamatan lokasi


Sumber : Tokyo Electric Power Services Co, Ltd Nippon Koei Co, Ltd, 2003

f.

Pembuatan Layout awal sistem PLTMH


Saat dilakukan tahap pra studi kelayakan dapat dibuat Layout awal sistem PLTMH untuk memudahkan studi kelayakan lanjut
yang merepresentasikan posisi/lokasi komponen sistem PLTMH sebagaimana Gambar 6.

Gambar 3.6. Skema Pembangkit Listrik Mikrohidro


Berdasarkan dari layout dasar sistem PLTMH tersebut akan dapat menggambarkan alternatif sistem PLTMH.
-

Air dari intake dialirkan melalui saluran pembawa dan pipa pesat sampai ke turbin. Jalur pipa pesat (penstock tunnel) direncanakan
sedemikian rupa sehingga mengikuti aliran air sejajar dengan sungai sebagaimana Gambar 7. Metoda ini dapat dipilih seandainya pada
medan yang ada tidak memungkinkan untuk dibuat kanal. Perlu diperhatikan bahwa penstock pipe harus aman terhadap banjir.

Gambar 3.7. Pipa penstock sejajar sungai


Sumber : British Hydropower Association, 2005

Jalur pipa pesat dapat dibuat langsung dari intake ke turbin tanpa mengikuti bentuk sungai (short penstock). Penstock tunnel yang
digunakan lebih pendek dibandingkan cara pertama. Cara ini menuntut adanya kemiringan tanah yang memadai pada jalur penstock
tunnel yang dipilih.

Seandainya memungkinkan, pembuatan saluran terbuka (kanal) dapat dibuat sampai lokasi tertentu, selanjutnya digunakan penstock
tunnelsampai ke turbin (middle length penstock), dengan demikian jalur penstock tunnel menjadi lebih pendek. Panjang saluran terbuka
serta kondisi tanah perlu diperhitungkan. Saluran yang panjang akan cepat rusak bila kurang mendapat perawatan. Kondisi tanah yang
labil dan miring akan menyulitkan dalam konstruksinya serta mahal.
Sedapat mungkin pada tingkat studi potensi, selain layout di atas, dapat menggambarkan juga ;

Sketsa layout lokasi,

Jarak yang diukur menggunakan pita ukur (rollmeter),

Ketinggian berdasarkan pada data altimeter atau peralatan lain yang memadai.

3.2. Pengumpulan Data Non Teknis


3.2.1. Data dan informasi profil sosial ekonomi
Data dan informasinya dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif yang dapat dilakukan melalui pengumpulan data
sekunder maupun data primer yang didapat dari isian kuesioner maupun dari hasil wawancara pada penduduk lokal di lokasi potensi.
Data non teknis tersebut meliputi :
a.
-

Profil dusun/desa lokasi potensi yang menggambarkan tentang :


Tingkat populasi penduduk berdasarkan jumlah orang per kepala keluarga, jenis kelamin, usia/umur, latar belakang pendidikan,
komposisi agama yang dianut.

Tingkat heterogenitas masyarakat.

Tingkat aksesibilitas lokasi dusun/desa dari pusat administrasi desa, kecamatan, kota/kabupaten, dan ibu kota provinsi, kondisi jalan,
moda transportasi yang ada dan jarak lokasi.

Profil ketersediaan sumber energi dan pola penggunaan dan pemanfaatannya.

Tingkat dan pola konsumsi peralatan listrik.

b.

Tingkat standar hidup dan sumber pendapatan masyarakat.

c.

Kondisi dan kesadaran serta partisipasi.

d.

Tingkat kesadaran masyarakat untuk :

Kontribusi pada pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan sarana kelistrikan.

Kesadaran dan kemampuan untuk membayar pelayanan penyediaan listrik.

e.

Profil usaha dan sumber ekonomi produktif berbasis sumber daya lokal.

f.

Kecepatan akses, kemampuan mengusahakan akses kepada pasar.

g.

Kapasitas lokal dan kemampuan berkembang dengan pemanfaatan potensi sumber daya lokal.

h.

Kondisi dan profil infrastruktur pelayanan publik yang ada.

i.

Tingkat respon dan dukungan pemerintah daerah setempat.

3.2.2. Analisis finansial PLTMH


Setelah dilakukan analisa didapatkan perkiraan analisis finansial berdasarkan dukungan data harga dan biaya. Analisis
finansial ini berupa perhitungan secara sederhana tentang total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTMH di lokasi potensi.
Perhitungan biaya meliputi komponen mikrohidro dan biaya lain sebagaimana berikut :
a.

Harga pengadaan peralatan mekanik elektrik.

b.

Biaya transportasi/pengiriman peralatan dari pabrik ke lokasi.

c.

Total harga pembangunan seluruh bangunan sipil sistem PLTMH, yang meliputi biaya material dan tenaga kerja pembangunan
bangunan sipil.

d.

Biaya pemasangan/instalasi.

e.

Biaya pengadaan jaringan dan transmisi.

f.

Biaya konsultansi detil perancangan dan.

g.

Biaya administrasi dan kontingensi.


Analisis finansial ini dapat dilanjutkan dengan memetakan perkiraan jumlah pendapatan penjualan listrik berdasarkan jumlah
optimal daya terbangkit potensi PLTMH, potensi keuntungan yang dapat diproyeksikan dari jumlah perkiraan pendapatan dikurangi
jumlah biaya pengeluaran untuk gaji operator, biaya perawatan peralatan PLTMH, pembayaran kewajiban lain seperti iuran air dan
sebagainya.
Berdasarkan analisis finansial ini dapat diperhitungkan biaya per kW untuk setiap lokasi potensi PLTMH. Sebagai catatan,
untuk perhitungan perkiraan jumlah pendapatan penjualan listrik per kW dapat menggunakan harga tarif yang ditetapkan setiap wilayah
lokasi potensi sesuai Kepmen ESDM No. 1122/K/30/MEM/2002.

3.2.3. Inventarisasi potensi kebutuhan listrik


3.2.3.1. Survai tingkat pelayanan dan potensi kebutuhan listrik
Tingkat pelayanan dan potensi kebutuhan daya listrik masyarakat perlu diteliti awal, apakah benar tingkat permintaan daya
sedikit lebih tinggi dari kemampuan produksi dan layanan listrik PT. PLN yang ada. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan berkaitan
dengan efisiensi .
Survai awal ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara jumlah kepala keluarga atau unit rumah yang telah teraliri
listrik PT PLN dengan yang belum teraliri sebagai rasio elektrifikasi. Berdasarkan profil jumlah kepala keluarga atau unit rumah yang
teraliri dapat dianalisis profil beban puncak per kepala keluarga atau unit rumah dengan daya rata-rata 150-200 W yang dihubungkan
dengan tingkat kemakmuran dan pertumbuhan usaha/ekonomi masyarakat. Berdasarkan data awal di atas, dapat diperbandingkan
dengan perkiraan tingkat layanan penyediaan listrik PLTMH berdasarkan data kebutuhan listrik masyarakat.
3.2.3.2. Jaringan Transmisi dan Distribusi Listrik PT. PLN
Inventarisasi jaringan transmisi dan distribusi listrik PT. PLN adalah untuk mengetahui awal profil jaringan PT. PLN yang ada di
lokasi potensi dan rencana pengembangan di masa depan. Hal ini perlu diketahui sejak awal untuk mencegah kejadian dimana
pascapembangunan PLTMH, tidak dilakukan pengembangan, karena PLTMH tersebut tidak dioperasikan lagi disebabkan sudah
dibangun jaringan transmisi distribusi listrik PT. PLN. Untuk melengkapi kajian profil jaringan transmisi dan distribusi listrik PT. PLN
tersebut dapat dilakukan dengan pengumpulan data sebagai berikut:
a.

Data Rencana Pengembangan Jaringan Pelayanan PT. PLN


Banyak unit PLTMH tidak beroperasi lagi disebabkan sudah terpasang jaringan transmisi dan distribusi penyediaan listrik oleh
PT. PLN, sehingga perlu diupayakan untuk mendapatkan gambaran rencana penyediaan listrik di desa/dusun calon lokasi PLTMH.
Selain itu juga perlu didapat data rencana pengembangan jaringan pelayanan PT. PLN dari rencana pemasangan jaringan kelistrikan.
Data ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk rencana penyambungan pada jaringan PT. PLN sebagaimana skema.

b.

Data Pelanggan PT. PLN di Lokasi Potensi PLTMH

Sebenarnya data pelanggan PT. PLN adalah salah satu profil data sosial ekonomi sebagaimana telah dikumpulkan sebagai
data non teknis, tetapi data ini dapat difokuskan menjadi data profil pelanggan PT. PLN. Data ini dapat diperoleh dari PT PLN dan
dengan data ini dapat menganalisis potensi pertumbuhan kebutuhan listrik di wilayah lokasi PLTMH.

BAB 4
DATA DAN PERHITUNGAN

4.1 Pengukuran dan Perhitungan Debit


4.1.1 Pengertian debit dan debit andalan
Debit adalah laju aliran air dalam besaran volume air yang melewati suatu penampung melintang sungai per satuan waktu,
dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m 3/dt). Debit aliran biasanya ditunjukan dalam
bentuk hodrograf aliran. Hidrograf aliran merupakan suatu perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik
yang berlangsung dalam suatu DAS (daerah aliran sungai) oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS atau adanya perubahan (fluktuasi
musiman atau tahunan) iklim lokal. Laju aliran permukaan adalah jumlah atau volume air yang mengalir pada suatu titik per detik atau
per jam, dinyatakan dalam m3 per detik atau m3per jam. Laju aliran permukaan dikenal juga dengan istilah debit. Besarnya debit
ditentukan oleh luas penampang air dan kecepatan aliranya.
Debit andalan merupakan debit minimum sungai dengan kemungkinan debit terpenuhi dalam persentase tertentu, misalnya
90%, 80% atau nilai persentase lainya, sehingga dapat dipakai untuk kebutuhan pembangkitan. Debit andalan yang optimal didapatkan
melalui analisis dengan menggunakan metode catatan debit sungai atau apabila catatan debit itu terdapat bagian yang tidak ada, maka
digunakan perhitungan dengan menggunakan data yang kita peroleh di lapangan.
4.1.2 Pengukuran Debit

Pengukuran debit aliran menggunakan metode sebagai berikut:


1.

Metode ember (bucket method)

2.

Metode pelampung

1.

Pengukuran dengan metode ember ( bucket method) dilakukan terhadap


sumber mata air yang tidak menyebar dan bisa dibentuk menjadi sebuah terjunan. Alat yang di perlukan dalam pengukuran debit

Alat tampung ember

Stop watch atau alat ukur waktu yang lain (arloji) yang dilengkapi dengan stop watch

Alat tulis untuk mencatat hasil perhitungan

Di lakukan berulang ulang sebanyak 12 kali


Langkah langkah pengukuran debit terlebih dahulu bersihkan lokasi di sekitar sumber air untuk mempermudah kegiatan
pengukuran, lalu sebuah ember diisi air pada terjunan air tersebut sampai ember penuh, kemudian dalam berapa liter/detikah sebuah
ember tersebut akan penuh. Diperlukan 3 orang untuk melakukan pengukuran, satu orang memegang ember, satu lagi memegang stop
watch dan yang satu lagi mencatat hasil perhirungan yang dilakukan sebanyak 12 kali percobaan. Proses start diawali dengan aba-aba
dari orang yang memegang stop watch pada saat penampungan air dimulai dan finish jika ember terisi penuh, kemudian waktu yang
diperlukan dari mulai sampai terisi penuh waktunya (t). Pengukuran dilakukan sampai 12 kali percobaan untuk mencari rata-ratanya
(trata-rata). Hasil pengukuran di atas, dapat digunakan rumus sebagai berikut;
Q=
Trata-rata

2.

(4.1)
=

(4.2)

Cara pengukuran debit air menggunakan metode pelampung sangat sederhana alat yang digunakan dalam pengukuran ini

adalah stopwatch dan steoroform, dalam penentuan debit air pada lokasi pembuatabn PLTMH data yang diperlukan yaitu luas
penampang sungai dan rata-rata kecepatan aliran.
Cara mendapatkan kecepatan aliran dilakukan 12 kali percobaan perhitungan menggunakan steoroform setelah melakukan
percobaan tersebut didapatkan hasil sebanyak 12 kali kecepatan aliran, dari nilai tersebut dapat dijumlahkan data keseluruhan
percobaan dan didapatkan kecepatan aliran rata-rata ( Vrata-rata) atau rata-rata kecepatan aliran. Pengukuran luas penampang aliran,
diperoleh dengan melakukan pengukuran kedalam sungai atau saluran air pada beberapa titik dengan interval jarak yang sama
sepanjang arah melintang sungai.
Dalam penelitian ini salah satu cara dapat dipilih yang sesuai untuk diterapkan dilokasi pengukuran pada lokasi penelitian
digunakan metode pelampung karena dalam metode ini hanya memerlukan peralatan yang sederhana dan mudah didapat. Hasil
pengukuran data luas penampang diatas. Dapat digunakan rumus sebagai berikut;
drata-rata

(4.3)

A = drata rata.W
Trata-rata

(4.4)
(4.5)

dengan;
A

= luas penampang aliran sungai

d1,d2...dn

= kedalaman sungai atau saluran air

= lebar interval antar titik pengukuran kedalaman sungai

t1,t2...tn

= waktu pengukuran kecepatan aliran

4.1.3 Perhitungan Debit


Debit aliran dapat dihitung dengan mengalikan luas penampang aliran dan kecepatan aliranseperti terlihat pada persamaan
berikut
Q = A.V

(4.6)

atau;
Q=

(4.7)

dengan;
Q

= Debit air (m3 / detik atau m3/jam)

= Luas penampang air (m2)

= kecepatan pelampung ( m/detik)

= selang waktu pengukuran (detik)

= volume tampung air ( volume ember)

Perhitungan debit dilakukan dengan metode pelampung sesuai dengan lokasi penelitian karena metode ini cukup sederhana
dengan peralatan yang sederhana pula. Penentuan debit aliran dilakukan dengan melakukan 12 kali pengukuran di sepanjang aliran
sungai, dimana pengukuran dilakukan terhadap waktu, kedalaman sungai dan kecepatan aliran.
Gambar 4.1 berikut menunjukkan penempatan titik-titik pengukuran kedalaman sepanjang lebar sungai. Tabel 4.1 memuat
hasil pengukuran luas penampang sungai yang dilakukan sebanyak 12 titik.
Gambar 4.1 Pengukuran Luas Penampang Sungai
Rata-rata kedalaman sungai dapat dilihat pada tabel 4.1, dimana jumlah d1..d12 adalah 124,55, d rata-rata kedalaman dihitung
dengan persamaan 3.3 ,yaitu ;
(4.8)

4.1.4 Data Debit Aliran


Tabel 4.1 Kedalaman aliran air sungai
kedalaman aliran air
d1

d1

d3

d4

d5

d6

d7

d8

d9

d10

d11

d12

10,1 cm

10,5 cm

10,0 cm

10,4 cm

10,1 cm

10,6 cm

10,05 cm

11,25 cm

10,8 cm

10,0 cm

10,65 cm

10,1 cm

Tabel 4.2 Waktu aliran sungai


Waktu aliram menggunakan metode pelampung
t1

t2

t3

t4

t5

t6

t7

t8

t9

t10

3,55 det

3,46 det

3,16 det

3,17 det

3,49 det

3,86 det

2,63 det

1,97 det

3,54 det

3,6 det

t1

2,66

Tabel 4.3 Debit sungai


Perhitungan Debit metode pelampung
Lebar (w)

dr

tr

22 cm

10,379 cm

3,201 det

Luas Penampang (A)


228,341 cm2

0,0228 m2

0,072 m3/det

Tabel 4.4 Konsumsi Listrik (Watt)


Tabel Kolam Tando Harian
Jam
Watt

1
850

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

850

850

1000

4000

4150

4200

1000

1150

1160

1250

2500

2650

2750

400

500

3500

4000

4250

Tabel 4.5 % Puncak


Tabel Kolam Tando Harian
Jam

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

17,0

17,0

20,0

80,0

83,0

85,0

20,0

23,0

23,2

25,0

50,0

53,0

55,0

8,0

10,0

70,0

80,0

85,0

%
Puncak

17,0

4.1.5 Analisis debit


Debit puncak pada penelitian ini adalah 0,072 m3/detik didapat dari perhitungan luas penampang dan rata-rata kedalaman
aliran sungai pada lokasi pembuatan PLTMH di dusun Talang Lintang Desa Sebidang Alas Kecamatan Dempo Tengan Kota
Pagaralam.
% puncak dalam hal ini adalah beban pemakaian listrik dusun talang lintang pada saat beban maximum pada jam 20.00-21.00
Wib yaitu 4250-4500 Watt, sampai 85-90% karena pada jam tersebut seluruh masyarakat menggunakan listrik untuk berbagai macam
keperluan rumah tangga ataupun beraktivitas pada malam hari seperti; menonton TV, menghidupkan lampu untuk penerangan dusun,
rumah maupun pos-pos kamling dan kebutuhan sosial

4.2 Energi air


4.2.1 Energi air terjun
Potensi tenaga air dan pemanfaatanya pada umumnya sangat berbeda bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga lain.
Sumber tenaga air secara teratur dibangkitkan kembali karena adanya pemanasan sinar matahari. Sehingga sumber tenaga air
merupakan sumber yang dapat diperbaharui.potensi secara keseluruhan tenaga air relatif kecil bila dibandingkan dengan jumlah
sumber bahan bakar fosil. Penggunaan tenaga air merupakan pemanfaatan multiguna, karena dikaitkan dengan irigasi, pengendalian
banjir, perikanan darat, dan pariwisata.
Pembangkit listrik tenaga air dilakukan tanpa ada perubahan suhu, karena tidak ada proses pembakaran bahan bakar.
Sehingga mesin hidro yang dipakai bisa lebih tahan lama dibanding dengan mesin bahan bakar
Pada dasarnya ada tiga faktor utama dalam penentuan pemakaian suatu potensi sumber tenaga air untuk pembangkit tenaga
listrik, yaitu;
a.

Debit andalan

b.

H efektif

Gambar 4.2.1 siklus hidrologi air


Perlu kita ketahui bahwa potensi energi air terjun adalah memanfaatkan energi karena ketinggian atau potensial yang
selanjutnya dikonversi menjadi energi kinetik untuk menggerakan sirip dan memutar turbin selanjutnya menjadi energi listrik. Sehingga
dengan persamaan energi potensial, kita bisa mencari besarnya energi yang dikandung pada air terjun adalah sebagai berikut;
E = m.g.h
dengan ;
E = energi potensial
M = masa
g = percepatan gravitasi
h = tinggi relatif pada permukaan bumi

(4.9)

Bila persamaan 1 kita diferensialkan akan menjadi;


dE = dm.g.h
dE merupakan energi yang dibangkitkan oleh elemen massa dm yang melalui jarak h.
Bila Q di definisikan sebagai debit air, menurut rumus;
Q=

(4.10)

Dengan;
Q = debit air
dm = elemen masa air
dt = elemen waktu

Kita ingat bahwa daya merupakan energi per satuan waktu, sehingga rumus daya dapat kita tuliskan sebagai berikut;
P = = .h.g

(4.11)

P = Q .g.h
diantara data primer yang diperlukan untuk suatu survei dapat disebut:
Jumlah energi yang secara teoritis dapat diperoleh setahun, dalam kondisi-kondisi tertentu di musim hujan dan musim kering.
Jumlah daya pusat listrik yang akan dipasang, dengan memperhatikan apakah pusat listrik itu akan dipakai untuk beban dasar atau beban
puncak.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1.

Rancang bangun PLTMH sangat perlu diadakanya survei awal dan studi potensi, karena survei awal sangat mempengaruhi hasil
rancang bangun PLTMH.

2.

Pembuatan PLTMH dipengaruhi oleh debit dan ketinggian jatuh air, sesuai dengan potensi energi aliran yang dimiliki sungai tersebut.
Debit anadalan dalam penelitian PLTMH adalah 0,0073 m3/detik ditentukan dengan metode pelampung menggunakan besaran luas
penampang dan kecepatan aliran sungai (trata-rata).

3.

Ada dua faktor utama dalam penentuan pemakaian suatu potensi sumber tenaga air untuk pembangkit tenaga listrik, yaitu;

c.

Debit andalan

d.

H efektif

5.2 Saran
1.

Dibutuhkan data hidrologi yang lebih lengkap sekurang-kurangnya lima tahun untuk mendapatkan debit andalan yang dibutuhkan
dalam pembuatan PLTMH.

2.

Digunakan pengukuran debit dengan metode yang lebih akurat dengan menggunakan alat ukur current meter.

DAFTAR PUSTAKA

Loebis, J, 1993, Hidrologi Sungai. Departemen Pekerjaan Umum.


Resnick, D.H, 1994, Physics. terjemahan: Pantur Silaban dan Erwin Sucipto,
Jakarta, Erlangga.
SKSNI, 03-2159, 1992, Metode Pengukuran Debit Sungai. Direktorat Jenderal
Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum.
Wibowo, C, 2005, Langkah Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikrohidro (PLTMH). Ford Foundation, Mini Hydro Power Project (MHPP) dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL),