Anda di halaman 1dari 3

Peta Permasalahan Dalam Proses

Perencanaan dan Penganggaran di Daerah


Refleksi singkat untuk kasus perencanaan dan penganggaran di Kalimantan Timur)
Oleh Edy Marbyanto
Pengantar. Pengelolaan keuangan daerah sering menghadapi masalah ketika perencanaan dan
penganggaran tidak dilakukan dan berjalan dengan baik. Gagal dalam merencanakan
sesungguhnya merencanakan sebuah kegagalan. Tulisan berikut ini menguraikan 13
permasalaha dalam perencanaan dan penganggaran di daerah berdasarkan pemahaman dan
pengalaman penulis di Kalimantan Timur. Sebelumnya ditampilkan dalam milis Partisipasi dan
pemuatan dalam blog ini atas ijin dari penulis. Saya ucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Bung Edy Marbyanto.
1. Intervensi hak budget DPRD terlalu kuat dimana anggota DPRD sering mengusulkan
kegiatan-kegiatan yang menyimpang jauh dari usulan masyarakat yang dihasilkan dalam
Musrenbang. Jadwal reses DPRD dengan proses Musrenbang yang tidak match misalnya
Musrenbang sudah dilakukan, baru DPRD reses mengakibatkan banyak usulan DPRD
yang kemudian muncul dan merubah hasil Musrenbang. Intervensi legislative ini
kemungkinan didasari motif politis yakni kepentingan untuk mencari dukungan
konstituen sehingga anggota DPRD berperan seperti sinterklas yang membagi-bagi
proyek. Selain itu ada kemungkinan juga didasari motif ekonomis yakni membuat proyek
untuk mendapatkan tambahan income bagi pribadi atau kelompoknya dengan mengharap
bisa intervensi dalam aspek pengadaan barang (procurement) atau pelaksanaan kegiatan.
Intervensi hak budget ini juga seringkali mengakibatkan pembahasan RAPBD memakan
waktu panjang untuk negosiasi antara eksekutif dan legislative. Salah satu strategi dari
pihak eksekutif untuk menjinakkan hak budget DPRD ini misalnya dengan
memberikan alokasi tertentu untuk DPRD missal dalam penyaluran Bantuan Sosial
(Bansos) ataupun pemberian Dana Aspirasi yang bisa digunakan oleh anggota DPRD
secara fleksibel untuk menjawab permintaan masyarakat. Di salah satu kabupaten di
Kaltim, dana aspirasi per anggota DPRD bisa mencapai 2 milyar rupiah per tahun.
2. Pendekatan partisipatif dalam perencanaan melalui mekanisme musrenbang masih
menjadi retorika. Perencanaan pembangunan masih didominasi oleh: Kebijakan kepala
daerah, hasil reses DPRD dan Program dari SKPD. Kondisi ini berakibat timbulnya
akumulasi kekecewaan di tingkat desa dan kecamatan yang sudah memenuhi kewajiban
membuat rencana tapi realisasinya sangat minim.
3. Proses Perencanaan kegiatan yang terpisah dari penganggaran, Karena
ketidakjelasan informasi besaran anggaran, proses Musrenbang kebanyakan masih
bersifat menyusun daftar belanja (shopping list) kegiatan. Banyak pihak seringkali
membuat usulan sebanyak-banyaknya agar probabilitas usulan yang disetujui juga
semakin banyak. Ibarat memasang banyak perangkap, agar banyak sasaran yang terjerat.
4. Ketersediaan dana yang tidak tepat waktu. Terpisahnya proses perencanaan dan
anggaran ini juga berlanjut pada saat penyediaan anggaran. APBD disahkan pada bulan

Desember tahun sebelumnya, tapi dana seringkali lambat tersedia. Bukan hal yang aneh,
walau tahun anggaran mulai per 1 Januari tapi sampai bulan Juli-pun anggaran program
di tingkat SKPD masih sulit didapatkan.
5. Breakdown RPJPD ke RPJMD dan RPJMD ke RKPD seringkali tidak nyambung
(match). Ada kecenderungan dokumen RPJP ataupun RPJM/Renstra SKPD seringkali
tidak dijadikan acuan secara serius dalam menyusun RKPD/Renja SKPD. Kondisi ini
muncul salah satunya disebabkan oleh kualitas tenaga perencana di SKPD yang terbatas
kuantitas dan kualitasnya. Dalam beberapa kasus ditemui perencanaan hanya dibuat oleh
Pengguna Anggaran dan Bendahara, dan kurang melibatkan staf program sehingga
banyak usulan kegiatan yang sifatnya copy paste dari kegiatan yang lalu dan tidak
visioner.
6. Kualitas RPJPD, RPJM Daerah dan Renstra SKPD seringkali belum optimal.
Beberapa kelemahan yang sering ditemui dalam penyusunan Rencana tersebut adalah;
indicator capaian yang seringkali tidak jelas dan tidak terukur (kalimat berbunga-bunga),
data dasar dan asumsi yang seringkali kurang valid, serta analisis yang kurang mendalam
dimana jarang ada analisis mendalam yang mengarah pada how to achieve suatu
target.
7. Terlalu banyak order dalam proses perencanaan dan masing-masing ingin menjadi
arus utama misalnya gender mainstreaming, poverty mainstreaming, disaster
mainstreaming dll. Perencana di daerah seringkali kesulitan untuk menterjemahkan isuisu tersebut. Selain itu mainstreaming yang seharusnya dijadikan prinsip gerakan
pembangunan seringkali malah disimplifikasi menjadi sector-sektor baru, misalnya isu
poverty mainstreaming melahirkan lembaga Komisi Pemberantasan Kemiskinan padahal
yang seharusnya perlu didorong adalah bagaimana setiap SKPD bisa berkontribusi
mengatasi kemiskinan sesuai tupoksinya masing-masing. Demikian pula isu gender, juga
direduksi dengan munculnya embel-embel pada Bagian Sosial menjadi Bagian Sosial
dan Pemberdayaan Perempuan misalnya.
8. Koordinasi antar SKPD untuk proses perencanaan masih lemah sehingga kegiatan
yang dibangun jarang yang sinergis bahkan tidak jarang muncul egosektoral. Ada suatu
kasus dimana di suatu kawasan Dinas Kehutanan mendorong program reboisasi tapi
disisi lain Dinas Pertambangan memprogramkan ekploitasi batubara di lokasi tersebut.
9. SKPD yang mempunyai alokasi anggaran besar misal Dinas Pendidikan dan Dinas
PU seringkali tidak mempunyai tenaga perencana yang memadai. Akibatnya proses
perencanaan seringkali molor. Hal ini sering diperparah oleh minimnya tenaga Bappeda
yang mampu memberikan asistensi kepada SKPD dalam penyusunan rencana.
10. APBD kabupaten/Kota perlu evaluasi oleh Pemprop. Disisi lain Pemprop mempunyai
keterbatasan tenaga untuk melakukan evaluasi tersebut. Selain itu belum ada instrument
yang praktis yang bisa digunakan untuk evaluasi anggaran tersebut. Hal ini berakibat
proses evaluasi memakan waktu agak lama dan berimbas pada semakin panjangnya
proses revisi di daerah (kabupaten/kota).
11. Kualitas hasil Musrenbang Desa/Kecamatan seringkali rendah karena kurangnya
Fasilitator Musrenbang yang berkualitas. Fasilitasi proses perencanaan tingkat desa
yang menurut PP 72 tahun 2005 diamanahkan untuk dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten (bisa via Pemerintah Kecamatan) seringkali tidak berjalan. Proses fasilitasi
hanya diberikan dalam bentuk surat edaran agar desa melakukan Musrenbang, dan jarang
dalam bentuk bimbingan fasilitasi di lapangan.

12. Pedoman untuk Musrenbang atau perencanaan (misal Permendagri 66 tahun 2007)
cukup rumit (complicated) dan agak sulit untuk diterapkan secara mentah-mentah di
daerah pelosok pedesaan yang sebagian perangkat desa dan masyarakatnya mempunyai
banyak keterbatasan dalam hal pengetahuan, teknologi dll.
13. Dalam praktek penerapan P3MD, pendekatan pemecahan masalah yang HANYA
melihat ke AKAR MASALAH saja dapat berpotensi menimbulkan bias dan
oversimplifikasi terhadap suatu persoalan. Contoh kasus nyata; di sebuah desa di
Kaltim masyarakat dan pemerintah mengidentifikasi bahwa rendahnya pengetahuan
masyarakat disebabkan tidak adanya fasilitas sumber bacaan di wilayah itu. Sebagai
solusinya mereka kemudian mengusulkan untuk dibangunkan gedung perpustakaan.
Ternyata setelah gedung perpustakaan dibangun, sampai beberapa tahun berikutnya
perpustakaan tersebut tidak pernah berfungsi bahkan kemudian dijadikan Posko Pemilu.
Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena mereka hanya berpikir soal membangun
gedung, tetapi lupa berpikir dan mengusulkan bagaimana menyediakan buku/bahan
bacaan untuk perpustakaan itu, lupa mengusulkan kepengurusan untuk mengelola
perpustakaan itu dll. Kondisi seperti diatas mungkin tidak akan terjadi kalau mereka
berpikir dulu soal outcome misalnya meningkatkan minat baca 50 % warga
masyarakat. Dari outcome tersebut nantinya bisa diidentifikasi output yang diperlukan
misalnya: adanya gedung perpustakaan, buku atau bahan bacaan, tenaga pengelola
perpustakaan, kesadaran masyarakat untuk datang ke perpustakaan dll. Dari contoh kasus
itu nampaknya untuk pemerintah dan masyarakat memang perlu didorong untuk
memahami alur berpikir logis (logical framework) sebuah perencanaan. Selain itu pola
pikir yang ada yang cenderung berorientasi Proyek (yang berorientasi jangka pendek
dan berkonotasi duit) menjadi orientasi Program (orientasi jangka panjang dan lebih
berkonotasi sebagai gerakan pembangunan).