Anda di halaman 1dari 78

1

PENGARUH LAMANYA MENDERITA TUBERKULOSIS PARU


TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DI
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

Oleh
Sheila Nurkhalesa
NIM 102010101005

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

PENGARUH LAMANYA MENDERITA TUBERKULOSIS PARU


TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DI
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI
diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran (S1)
dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran

Oleh
Sheila Nurkhalesa
NIM 102010101005

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:


1. Allah SWT yang telah memberi segala limpahan rahmat serta hidayah-Nya, beserta
Nabi Muhammad SAW dan Rasul- Nya yang selalu menjadi panutan dalam setiap
langkah.
2. Orangtua tercinta, Ayahanda Drs. Halimi Mahfudz, M.Pd dan Ibunda
Dra. Anna Triwahyuni Kusumastuti yang telah memberikan doa, dukungan,
bimbingan, kasih sayang serta pengorbanan selama ini.
3. Adikku tersayang, Faris Fajrul Fallah yang selalu memberikan motivasi, doa, dan
kasih sayang untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Guru-guru, yang telah menempa dan mendidik saya untuk menjadi manusia yang
berilmu dan beriman.
5. Keluarga besar Lambda Fakultas Kedokteran Universitas Jember Angkatan 2010.
6. Almamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember atas seluruh kesempatan
menimba ilmu yang berharga ini.

ii

iii

MOTTO

Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia.


(Terjemahan Q.S An-Nas 1)*)

Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.
Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik
(Terjemahan Q.S Al-Ankabut 69)**)

*) **) Departemen Agama Republik Indonesia. 1981. Al Quran dan Terjemahannya.


Semarang: PT Kumudasmoro Grafindo

iii

iv

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Sheila Nurkhalesa
NIM

: 102010101005

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul: Pengaruh


Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap Tingkat Depresi Pada Pasien di
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember adalah benar-benar hasil karya sendiri,
kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada
institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan
dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan dan
paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika ternyata
dikemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember, 22 September 2014


Yang menyatakan,

Sheila Nurkhalesa
NIM 102010101005

iv

SKRIPSI

PENGARUH LAMANYA MENDERITA TUBERKULOSIS PARU


TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DI
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

Oleh
Sheila Nurkhalesa
NIM 102010101005

Pembimbing:
Dosen Pembimbing Utama : dr. Alif Mardijana, Sp.KJ
Dosen Pembimbing Anggota : dr. Rosita Dewi

vi

PENGESAHAN
Skripsi berjudul Pengaruh Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap Tingkat
Depresi Pada Pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember telah diuji dan
disahkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jember pada:
hari, tanggal

: Senin, 22 September 2014

tempat

: Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Penguji I,

Penguji II,

dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

dr. Ali Santosa, Sp.PD

NIP. 196410111991032004

NIP. 195909041987011001

Penguji III,

Penguji IV,

dr. Alif Mardijana, Sp.KJ

dr. Rosita Dewi

NIP. 195811051987022001

NIP. 198404282009122003

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember

dr. Enny Suswati, M.Kes


NIP. 197002141999032001

vi

vii

RINGKASAN

Pengaruh Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap Tingkat Depresi;


Sheila Nurkhalesa; 102010101005; 2014; 62 halaman; Fakultas Kedokteran
Universitas Jember.

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh


kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
dapat juga menyerang organ tubuh lainnya (Riskiyani et al., 2013). Diperkirakan
sepertiga penduduk dunia telah terkena penyakit ini. Data WHO menunjukkan bahwa
di Indonesia setiap tahun ditemukan 539.000 kasus baru TB BTA positif dengan
kematian 101.000 jiwa (Depkes, 2010). Banyaknya angka kejadian dari penyakit TB
paru di dunia khususnya Indonesia, akan timbul permasalahan seperti terapi yang lama
dan kompleks, komplikasi penyakit serta banyak kekhawatiran lain yang dapat
menimbulkan potensi munculnya depresi. Depresi merupakan satu masa tergangunya
fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala
penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri
(Kaplan, 2010).
Penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh lamanya menderita penyakit
Tuberkulosis paru terhadap tingkat depresi pada pasien di Puskesmas Sumbersari Kab.
Jember. Metode Penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain survei analitik
dan pendekatan cross sectional serta menggunakan teknik pengumpulan data yang
mana penelitian dilakukan pada tanggal 12-25 Agustus 2014 di Puskesmas Sumbersari
Kab. Jember. Pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling, sebanyak 30
sampel. Data diperoleh dengan menggunakan kuisioner yang diisi oleh responden.
Dari hasil penelitian berdasarkan hasil uji statistik Spearman Rho yang dihitung
dengan program SPSS 22 didapatkan Significancy lama menderita Tuberkulosis paru

vii

viii

dengan tingkat depresi adalah sebesar 0,004 yang menunujukkan p 0,05>0,004 berarti
Ho ditolak yang mana terdapat hubungan lama menderita Tuberkulosis paru dengan
tingkat depresi pada pasien di Puskesmas Sumbersari Kab. Jember. Nilai korelasi
Spearman sebesar -0,514 menunjukkan bahwa arah korelasi negatif dengan kekuatan
sedang yang menunjukkan bahwa semakin lama menderita Tuberkulosis paru, maka
gejala depresi akan semakin menurun.

viii

ix

PRAKATA

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat rahmat dan karunia yang telah
dicurahkan dan dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul Pengaruh Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap Tingkat Depresi
Pada Pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember ini tanpa suatu hambatan
yang berarti. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan
pendidikan strata satu (S1) Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. dr. Enny Suswati, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember
atas segala fasilitas dan kesempatan yang diberikan selama menempuh pendidikan
kedokteran di Universitas Jember;
2. dr. Alif Mardijana, Sp.KJ selaku Dosen Pembimbing Utama dan dr. Rosita Dewi
selaku Dosen Pembimbing Anggota yang telah meluangkan waktu, pikiran, tenaga,
dan perhatiannya dalam penulisan skripsi ini;
3. dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ dan dr. Ali Santosa, Sp.PD sebagai dosen penguji
yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun dalam
penulisan skripsi ini;
4. dr. Hairrudin, M.Kes dan dr. Yudha Nurdian, M.Kes selaku Dosen Pembimbing
Akademik yang telah banyak membimbing penulis serta selalu memberikan
dukungan dan motivasi selama menjadi mahasiswa;
5. Keluarga tercinta, Ayahanda Drs. Halimi Mahfudz, M.Pd, Ibunda Dra. Anna
Triwahyuni Kusumastuti, Adikku Faris Fajrul Fallah terimakasih atas segala
dukungan moril, materi, doa, dan curahan kasih sayang yang tak akan pernah
putus;
6. Keluarga besar, khususnya Budhe dr. Niken Dwirini, Sp.Rad, Bapak
dr. Hafidin Ilham, Sp.An, dan Tante dr. Purnaning Wahyu, Sp.THT yang telah
banyak memberikan inspirasi serta membantu penulis selama menjadi mahasiswa;

ix

7. Yudha Anantha Khaerul Putra beserta keluarga yang telah banyak membantu dari
awal sampai akhir, selalu setia menemani, memberikan kasih sayang, semangat,
serta motivasi dalam penyelesaian skripsi ini;
8. Saudariku Maria Denta, Putri Arum, Indah Kusuma, dan Sherra Nadilla yang telah
memberikan dukungan, semangat, dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi yang
berharga ini;
9. Sahabat-sahabatku Adity Arisukma, Dyah Kusumayanti, Nur Rahmawati, serta
Andriyani terima kasih atas kasih sayangnya untukku, motivasi dan dukungannya
dalam penyelesaian skripsi ini;
10. Teman-temanku Amalia Firdaus, Dhevi Wulandari, Kartika Tari, Ayuwaica,
Relang, Lutfi, Alfarika, Michael, Okky Fatra, dan Adi Dharma yang telah bekerja
sama dan saling memberikan motivasi selama pelaksanaan penelitian skripsi ini;
11. Keluarga Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember yang telah membantu selama
pelaksanaan penelitian skripsi ini dan selalu memberikan dorongan semangat;
12. Seluruh angkatan 2010 yang telah berjuang bersama-sama demi gelar Sarjana
Kedokteran;
13. Alamamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember;
14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis juga menerima segala kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Jember, 22 September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... ii
HALAMAN MOTO .......................................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................... iv
HALAMAN PEMBIMBINGAN ...................................................................... v
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... vi
RINGKASAN .................................................................................................... vii
PRAKATA ......................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ...................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xv
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................... 2
1.3.1 Tujuan Umum .................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................... 3
1.4 Manfaat ....................................................................................... 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tuberkulosis Paru ......................................................................... 4
2.1.1

Epidemiologi ..................................................................... 4

2.1.2

Patogenesis ........................................................................ 4

2.1.3

Manifestasi Klinis ............................................................. 6

xi

xii

2.1.4

Terapi............................................................................... 7

2.2 Depresi ......................................................................................... 9


2.2.1

Etiologi............................................................................. 9

2.2.2

Epidemiologi ................................................................... 10

2.2.3

Manifestasi Klinis ............................................................ 10

2.2.4

Klasifikasi ........................................................................ 11

2.2.5

Diagnosis ......................................................................... 13

2.2.6

Beck Deppresion Inventory (BDI) ................................... 15

2.3 Hubungan Tuberkulosis Paru dan Depresi ............................. 15


2.4 Hipotesis Penelitian ................................................................... 16
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ........................................................................ 17
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 17
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ................................................ 17
3.3.1 Populasi ............................................................................. 17
3.3.2 Sampel ............................................................................. 17
3.3.3 Kriteria Inklusi .................................................................. 17
3.3.4 Kriteria Ekslusi .................................................................. 18
3.4 Variabel Penelitian ..................................................................... 18
3.4.1 Variabel Bebas................................................................... 18
3.4.2 Variabel Terikat ............................................................... 18
3.5 Definisi Operasional ................................................................... 18
3.5.1 Tuberkulosis Paru .............................................................. 18
3.5.2 Depresi ............................................................................... 19
3.6 Instrumen Penelitian .................................................................. 19
3.7 Cara Pengumpulan Data ........................................................... 19
3.8 Pengolahan Data ......................................................................... 19
3.9 Analisis Data ............................................................................... 20
3.10 Masalah Etika.............................................................................. 21

xii

xiii

3.11 Kerangka Kerja .......................................................................... 22


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian.............................................................................. 23
4.1.1 Distribusi Data Umum .......................................................... 23
4.1.2 Tabulasi Silang Distribusi Umum dengan Variabel ............. 30
4.1.3 Tabulasi Silang Distribusi Tingkat Depresi Menurut Lama
Menderita Tuberkulosis Paru ............................................... 40
4.1.4 Analisis Hubungan Lama Menderita Tuberkulosis Paru
dengan Tingkat Depresi........................................................ 41
4.2 Pembahasan ................................................................................... 41
BAB 5. KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN
5.1 Kesimpulan ................................................................................... 48
5.2 Saran ............................................................................................. 48
5.3 Keterbatasan Penelitian .............................................................. 49
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 50
LAMPIRAN
A. Lembar Persetujuan Menjadi Responden ..................................... 52
B. Lembar Pernyataan Bersedia Menjadi Responden ........................ 53
C. Lembar Kuisioner .......................................................................... 54
D. Data Umum Responden ................................................................. 60
E. Data Khusus Responden ............................................................... 61
F. Persetujuan Etik............................................................................. 62

xiii

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Resimen Pengobatan Tuberkulosis ..................................................... 7
Tabel 4.1 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut usia ................. 30
Tabel 4.2 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut jenis kelamin .. 31
Tabel 4.3 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut tingkat
pendidikan .......................................................................................... 32
Tabel 4.4 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut pekerjaan ........ 33
Table 4.5 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut status
perkawinan.......................................................................................... 34
Tabel 4.6 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut usia................................. 35
Tabel 4.7 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut jenis kelamin.................. 36
Tabel 4.8 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut tingkat pendidikan ......... 37
Tabel 4.9 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut pekerjaan ....................... 38
Tabel 4.10 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut status dalam keluarga .. 39
Tabel 4.11 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut lama menderita TB
Paru ..................................................................................................... 40
Tabel 4.12 Analisi hubungan lama menderita TB Paru dengan tingkat
Depresi ................................................................................................ 41

xiv

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 4.1 Diagram distribusi responden menurut usia .................................... 23
Gambar 4.2 Diagram distribusi responden menurut jenis kelamin ..................... 24
Gambar 4.3 Diagram distribusi responden menurut tingkat pendidikan ............ 25
Gambar 4.4 Diagram distribusi responden menurut tingkat pendidikan ............ 26
Gambar 4.5 Diagram distribusi responden menurut status perkawinan ............. 27
Gambar 4.6 Diagram distribusi responden menurut lama menderita TB ........... 28
Gambar 4.7 Diagram distribusi responden menurut tingkat depresi................... 29

xv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi


dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. TB Paru adalah penyakit yang dapat
menular melalui udara (airborne disease). Kuman TB menular melalui percikan dahak
(droplet) ketika penderita TB paru aktif batuk, bersin, bicara atau tertawa. Kuman TB
cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat tertidur lama
(dormant) selama beberapa tahun (Riskiyani et al., 2013).
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terkena penyakit ini. Pada tahun
2009, terdapat sekitar 9,4 juta insiden kasus TB secara global. Prevalensi di dunia
mencapai 14 juta kasus atau sama dengan 200 kasus per 100.000 penduduk (Tirtana
dan Musrichan, 2011). Data WHO menunjukkan bahwa di Indonesia setiap tahun
ditemukan 539.000 kasus baru TB BTA positif dengan kematian 101.000 jiwa.
Menurut catatan Departemen Kesehatan sepertiga penderita tersebut ditemukan di RS
dan sepertiga lagi di puskesmas, sisanya tidak terdeteksi dengan baik (Depkes, 2010).
Banyaknya angka kejadian dari penyakit TB paru di dunia khususnya
Indonesia, maka timbul permasalahan seperti terapi yang lama dan kompleks, biaya
pengobatan yang mahal, komplikasi penyakit serta banyak kekhawatiran lain yang
dapat menimbulkan potensi munculnya depresi. Depresi merupakan satu masa
tergangunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan
gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri
(Kaplan, 2010).
Faktor penyebab depresi terbagi atas faktor biologi, faktor genetik, dan faktor
psikososial. Namun yang paling banyak dilakukan penelitian adalah faktor psikososial.
Penyebab depresi dari faktor psikososial antara lain dikarenakan peristiwa kehidupan

dan stres lingkungan, faktor psikoanalitik, dan psikodinamik (Kaplan, 2010). Freud
juga menyatakan bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri
karena mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa
introjeksi merupakan suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap objek yang hilang.
Depresi menjadi suatu efek yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang
diarahkan kedalam dirinya. Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak
hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya akan mengakibatkan keputusasaan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu untuk diadakan CLP (Consultation
Liasion Psychiatry) di bidang psikiatri seorang dokter psikiatri berperan sebagai
konsultan bagi sejawat dokter lainnya dalam menangani pasien dalam berbagai kondisi
medis. Tujuannya adalah mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis
terhadap penyakit fisik pasien, sarana psikologis dan sosial, gaya menghadapi masalah
guna menganjurkan intervensi terapeutik yang paling tepat untuk kebutuhan pasien
(Kaplan, 2010). Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti
pengaruh lamanya menderita TB paru terhadap tingkat depresi di Puskesmas
Sumbersari Jember.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh

lamanya menderita TB Paru terhadap tingkat depresi pada pasien TB Paru di


Puskesmas Sumbersari?

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1

Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji pengaruh lamanya menderita TB

Paru terhadap tingkat depresi pada pasien TB Paru di Puskesmas Sumbersari.


1.3.2

Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah:

a. Menganalisis lamanya menderita TB Paru pada pasien TB Paru di Puskesmas


Sumbersari.
b. Menganalisis tingkat depresi pada pasien TB Paru di Puskesmas Sumbersari.
c. Menganalisis pengaruh lamanya menderita TB Paru terhadap tingkat depresi pada
pasien TB Paru di Puskesmas Sumbersari.

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:

a. Bagi pasien dapat dijadikan informasi ilmiah tentang pengaruh lamanya menderita
TB Paru terhadap tingkat depresi pada pasien TB paru dan membantu pasien dengan
mendapatkan perawatan dengan dokter psikiatri.
b. Bagi masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan tentang pengaruh lamanya
menderita TB Paru terhadap tingkat depresi pada pasien TB Paru.
c. Bagi institusi dapat dijadikan informasi perlunya melakukan rawat bersama di poli
psikiatri dan segera diterapi.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis Paru adalah suatu infeksi kronik jaringan paru, yang disebabkan

oleh Mycobacterium tuberculosae. Epidemiologi TB di Amerika Serikat selama 30


tahun terakhir telah mencerminkan kecenderungan sosial dan kesehatan lainnya.
Identifikasi kasus efektif dan kecenderungan penurunan angka kejadian TB memberi
kesan bahwa pemberantasan penyakit di Amerika Serikat merupakan tujuan yang
dapat dicapai. Namun di daerah tropis frekuensi tuberkulosis paru ini masih sangat
tinggi (Corwin, 2009).

2.1.1

Epidemiologi
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terkena penyakit ini. Pada tahun

2009, terdapat sekitar 9,4 juta insiden kasus TB secara global. Prevalensi di dunia
mencapai 14 juta kasus atau sama dengan 200 kasus per 100.000 penduduk (Tirtana
dan Musrichan, 2011). Data WHO menunjukkan bahwa di Indonesia setiap tahun
ditemukan 539.000 kasus baru TB BTA positif dengan kematian 101.000 jiwa.
Menurut catatan Departemen Kesehatan sepertiga penderita tersebut ditemukan di RS
dan sepertiga lagi di puskesmas, sisanya tidak terdeteksi dengan baik (Depkes, 2010).

2.1.2 Patogenesis
Patogenesis TB telah dipahami selama beberapa dekade. Basil tuberkel yang
terhirup dan bersarang di alveoli. Sering kali organisme ini bisa segera hancur, tanpa
gejala sisa kekebalan dan patologis lebih lanjut. Jika organisme ini tidak hancur,
mereka akan melukai dan menghancurkan jaringan alveolus di sekitarnya. Hal ini pada
nantinya akan menghasilkan sitokin dan faktor kemotaktik yang menarik makrofag,
neutrofil, dan monosit. Biasanya, pertumbuhan organisme akan diperiksa sekali pada
respon imunitas seluler yang adekuat yang terjadi dalam 2-6 minggu.

Sel dan bakteri membentuk sebuah nodul, sebuah granuloma yang mengandung
basil TB. Pada titik ini, tergantung pada faktor pejamu dan virulensi dari strain.
Beberapa hasil akhir yang

berbeda dapat dicapai. Pertama, jika tidak ada lagi

pertumbuhan, tuberkel merupakan satu-satunya tempat penyakit, dan organisme


bertahan pada stadium laten. Kedua, jika ada pertumbuhan lebih lanjut, basil memasuki
kelenjar limfe dan menginfeksi kelenjar getah bening hilus, menyebabkan
limfadenopati.
Tuberkel maupun kelenjar getah bening mengalami klasifikasi, sebagai
konsekuensi jangka panjang proses jaringan parut dan penahan. Gabungan tuberkel
perifer dan kelenjar limfe hilus yang membesar dan mengalami klasifikasi disebut
kompleks Ghon. Sebagian besar infeksi yang berkembang sampai titik ini biasanya
menunda pemeriksaan, sehingga menciptakan infeksi laten. Sebagian kecil pasien
mengalami penyakit primer progresif di paru, dan sangat sedikit pasien mengalami
penyebaran hematogen, dengan produksi tuberkel yang tak terhitung di seluruh tubuh.
Keadaan ini disebut tuberkulosis milier dan berhubungan dengan mortalitas yang
sangat tinggi.
Pasien yang memiliki respon CMI sukses akan mencerminkan memori
imunologi infeksi dengan tes Mantoux positif. Tes ini terdiri dari suntikan protein TB
intradermal steril dan mengamati tanda-tanda respon kekebalan, indurasi dari tempat
suntikan 48-72 jam setelah suntikan. Infeksi laten tidak selalu tetap laten. sekitar 10%
pasien akan mengaktifkan kembali infeksi laten mereka dalam 3 tahun pertama setelah
infeksi, berlanjut menjadi infeksi nekrotik destruktif dengan gejala konstitusi yang
menonjol. Kerusakan jaringan terlihat sebagai efek dari organisme dan respon
kekebalan pejamu. Sekelompok pasien lain akan terus berlangsung di kemudian hari
mengaktifkan kembali dekade setelah paparan, karena faktor usia, pengobatan, atau
penyakit kambuhan mengubah keseimbangan di antara pejamu dan organisme (Ringel,
2009).

2.1.3

Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau

malah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah
a.

Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang panas
badan dapat mencapai 40-41C. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar,
tetapi kemudian dapat timbul kembali. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.

b.

Batuk/batuk darah
Gejala ini paling banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar.
Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif), kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut
adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.

c.

Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak
napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah
meliputi setengah bagian paru-paru.

d.

Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah
sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura
sewaktu pasien menarik atau melepaskan napasnya.

e.

Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus, sakit
kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lain-lain (Sudoyo et al., 2009).

2.1.4

Terapi
Pengobatan TB memerlukan waktu sekurang-kurangnya 6 bulan agar dapat

mencegah perkembangan resistensi obat. Oleh karena itu, WHO telah menerapkan
strategi DOTS dimana terdapat petugas kesehatan tambahan yang berfungsi secara
ketat mengawasi pasien minum obat untuk memastikan kepatuhannya. WHO juga
telah menetapkan resimen pengobatan standar yang membagi pasien menjadi empat
kategori berbeda menurut definisi kasus tersebut.

Tabel 2.1 Resimen Pengobatan Tuberkulosis

Resimen Pengobatan
Kategori

Pasien TB

TBP sputum BTA


positif baru bentuk
TBP
berat,
TBP
ekstra-paru
(berat),
TBP BTA-negatif
Relaps
kegagalan
pengobatan kembali ke
default
TBP sputum BTAnegatif ,
TP ekstra-paru
(menengah berat)

Fase Awal

Fase Lanjutan

2 SHRZ (EHRZ)

6 HE

2 SHRZ (EHRZ)

4 HR

2 SHRZ (EHRZ)

4 H3R3

2 SHZE/1 HRZE

5 H3R3E3

2 SHZE/1 HRZE

5 HRE

2 HRZ/2 H3R3Z3

6 HE

2 HRZ/2 H3R3Z3

2 HR/4H

2 HRZ/2 H3R3Z3

2 H3R3/4H

Kasus kronis (masih Tidak dapat diaplikasikan


BTA-positif
setelah (mempertimbangkan menggunakan
pengobatan ulang yang obat-obatan barisan kedua)
disupervisi)

Singkatan: TB = TB; TBP = Tuberkulosis Paru; S = Streptomisin; H = Isoniazid; R =


Rifampisin; Z = Pirazinamide; E = Etambutol.
Sumber: (Sudoyo et al., 2009).

Resimen Pengobatan Saat Ini (metode DOTS)


a.

Kategori 1
Pasien TB paru dengan sputum BTA positif dan kasus baru, TB paru lainnya
dalam keadaan TB berat, seperti meningitis tuberkulosis, miliaris, perikarditis,
peritonitis, pleuritis masif atau bilateral, spondilitis dengan gangguan neurologik,
sputum BTA negatif tetapi kelainan di paru luas, tuberkulosis usus dan saluran
kemih. Pengobatan fase inisial resimennya terdiri dari 2 HRZS (E), setiap hari
selama dua bulan. Sputum BTA yang awal positif setelah dua bulan diharapkan
menjadi negatif, dan kemudian dilanjutkan ke fase lanjutan 4 HR atau 4 H3R3 atau
6 HE. Apabila sputum BTA masih tetap positif selama dua bulan, fase intensif
diperpanjang dengan 4 minggu lagi, tanpa melihat apakah sputum sudah negatif
atau tidak.

b.

Kategori 2
Pasien kasus kambuh atau gagal dengan sputum BTA positif. Pengobatan fase
inisisal terdiri dari 2HRZES/1HRZE, yaitu R dengan H, Z, E setiap hari selama 3
bulan, ditambah dengan S selama 2 bulan pertama. Apabila sputum BTA menjadi
negatif, fase lanjutan bisa segera dimulai. Apabila sputum BTA masih positif pada
minggu ke-12, fase inisial dengan 4 obat dilanjutkan 1 bulan lagi. Bila akhir bulan
ke-4 sputum BTA masih positif, semua obat dihentikan selama 2-3 hari dan
dilakukan kultur sputum untuk uji kepekaan. Obat dilanjutkan memakai resimen
fase lanjutan, yaitu 5H3R3E3 atau 5HRE.

c.

Kategori 3
Pasien TB paru dengan sputum BTA negatif tetapi kelainan paru tidak luas dan
kasus ekstra-pulmonal (selain dari kategori 1). Pengobatan fase inisial terdiri dari
2HRZ atau 2H3R3E3Z3, yang diteruskan dengan fase lanjutan 2HR atau H3R3.

d.

Kategori 4
Pasien dengan tuberkulosis kronik. Pada pasien ini mungkin mengalami resistensi
ganda, sputumnya harus dikultur dan uji kepekaan obat. Untuk seumur hidup

diberi H saja (WHO) atau sesuai rekomendasi WHO untuk pengobatan TB


resistensi ganda (MDR-TB) (Sudoyo et al., 2009).

2.2 Depresi
Menurut Kaplan (2010), depresi merupakan salah satu gangguan mood yang
ditandai dengan hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya
penderita berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang,
dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu.
Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan
munculnya gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan
bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, dan penurunan
konsentrasi (WHO, 2010).

2.2.1

Etiologi
Dalam buku At a Glance Psikiatri (2008), etiologi depresi yaitu:

a. Genetik
Riwayat keluarga sering positif dengan manik, depresi, ketergantungan alkohol.
b. Psikososial
Kejadian-kejadian terkini dalam hidup yang tidak menyenangkan dan membuat
rentan, misalnya:
1) Kehilangan ibu pada usia < 11 tahun
2) Pengangguran
3) 3 anak berusia < 14 tahun berada dalam satu rumah
4) Kurangnya hubungan yang dilandasi kepercayaan
5) Sosio-ekonomi
c. Neurokimia
1) Hipotesis monoamin

10

Bahwa metabolit-metabolit monoamin (terutama noradrenalin dan serotonin)


yang terdapat pada cairan serebrospinal dan urin berkurang pada pasien-pasien
depresi, dan bahwa obat antidepresan meningkatkan availabilitas monoamin.
2) Stress kronis
Stress kronis dapat meningkatkan kadar kortisol sehingga mengakibatkan
penurunan mood melalui mekanisme penurunan ekspresi neurotropin yang
berperan penting dalam pertumbuhan neuron.
3) Penyakit endokrin, kanker, dan penyakit kronis lainnya.
4) Penyalahgunaan zat alkohol, steroid, obat antihipertensi, dan kontrasepsi oral.

2.2.2

Epidemiologi
Gangguan depresi adalah suatu gangguan yang sering terjadi, dengan

prevalensi seumur hidup kira-kira 15% dan kemungkinan sekitar 25% terjadi pada
wanita. Terlepas dari kultur atau negara, prevalensi gangguan depresi berat dua kali
lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Rata-rata usia onset untuk gangguan
depresi berat kira-kira 40 tahun, 50% dari semua pasien mempunyai onset antara 20
dan 50 tahun. Beberapa data epidemiologi baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi
gangguan depresi berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang
dari 20 tahun (Emirza, 2013).

2.2.3 Manifestasi klinis


Menurut PPDGJ-III, gejala dari episode depresif yaitu:
a. Gejala utama
1) Afek depresif,
2) Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saat kerja) dan menurunnya aktivitas.
b. Gejala lainnya
1) Konsentrasi dan perhatian berkurang.

11

2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.


3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.
6) Tidur terganggu.
7) Nafsu makan berkurang.

2.2.4

Klasifikasi
Klasifikasi depresi menurut WHO dalam Lubis (2009):

a. Berdasarkan tingkat penyakit


1) Mild depression / minor depression atau depresi ringan dan dysthmic disorder.
Terjadi setelah adanya kejadian yang membuat stress secara spesifik, mood
menjadi rendah dan hilang timbul. Seseorang tersebut akan merasa cemas dan
tidak bersemangat. Untuk mengurangi depresi ringan ini, dibutuhkan perubahan
gaya hidup. Tanda dari depresi ringan: yakni terdapat5 gejala pada episode
depresi namun tidak lebih dari 5 gejala depresi, muncul selama 2 minggu
berturut-turut, dan gejala itu bukan karena pengaruh obat-obatan atau penyakit.
2) Dysthmic disorder adalah bentuk depresi yang kurang parah namun dapat
menimbulkan gangguan depresi ringan dalam jangka waktu lama sehingga
seseorang tidak bisa bekerja secara optimal. Gejala depresi ringan ada dysthmic
disorder dirasakan minimal dalam jangka waktu 2 tahun.
3) Moderate depression atau depresi sedang
Mood yang rendah berlangsung terus dan juga mengalami gejala fisik walaupun
berbeda-beda tiap orang. Untuk mengatasinya diperlukan perubahan gaya hidup
dan bantuan dari orang lain.
4) Severe depression / major depression atau depresi berat
Seseorang akan mengalami gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur,
makan dan menikmati hal yang menyenangkan. Membutuhkan bantuan medis
secepat mungkin. Tanda dari depresi berat yakni terdapat 5 atau lebih gejala yang

12

ditunjukkan dalam kriteria diagnosis Depressive Major dan berlangsung selama


2 minggu berturut-turut.
b. Berdasarkan klasifikasi nosologi
1) Depresi psikogenik
Terjadi karena pengaruh psikologis seseorang, biasanya akibat kejadian yang
dapat membuat seseorang sedih atau stress berat. Berdasarkan gejala dan tanda,
dibagi menjadi:
(a) Reactif depression
Timbul sebagai reaksi dari suatu pengalaman hidup yang menyedihkan.
Ditandai oleh apati dan retardasi atau oleh kecemasan dan agitasi. Depresi
ini lebih mendalam daripada kesedihan biasa dan berlangsung lama tapi
jarang melampaui beberapa minggu.
(b) Exhaustion depression
Timbul setelah bertahun-tahun masa laten, akibat tekanan perasaan yang
berlarut-larut, goncangan jiwa yang berturut atau pengalaman berulang yang
menyakitkan.
(c) Neurotic depression
Timbul akibat konflik-konflik psikologis masa anak-anak (seperti keadaan
perpisahan dengan ibu pada masa bayi, hubungan orangtua-anak yang tidak
menyenangkan) yang selama ini disimpan dan membekas dalam jiwa
penderita. Jauh sebelum timbulnya depresi sudah tampak adanya
gejala-gejala kecemasan, tidak percaya diri, gagap, sering mimpi buruk,
eneuresis,

banyak

berkeringat,

gemetar,

berdebar-debar,

gangguan

pencernaan seperti diare dan spasme.


2) Depresi endogenik
Diturunkan secara genetiik, biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah
psikologis atau fisik tertentu tapi bisa juga dicetuskan oleh trauma fisik maupun
psikis. Sebagian besar depresi endogen merupakan depresi unipolar.
3) Depresi somatogenik

13

Timbulnya depresi somatogenik diduga akibat faktor-faktor jasmani, terbagi


atas:
a) Depresi organik
Disebabkan oleh perubahan morfologi otak seperti arteriosklerosis serebri,
demensia senelis, tumor otak,

dan defisiensi mental. Gejalanya dapat

berupa kekosongan emosional disertai ide-ide hipokondrik. Biasanya


disertai dengan psychosyndrome akibat kelainan lokal atau difusi di otak
dengan gejala kerusakan memori jangka pendek, disorientasi waktu, tempat,
dan situasi, disertai tingkah laku eksplosif dan mudah terharu.
b) Depresi simtomatik
Disebabkan oleh penyakit fisik seperti infeksi (hepatitis, influenza,
pneumonia), penyakit endokrin (diabetes melitus, hipotiroid), akibat
tindakan

pembedahan,

pengobatan

jangka

panjang

dengan

obat

antihipertensi, pada fase penghentian kecanduan narkotika, alkohol, dan


obat penenang.

2.2.5 Diagnosis
Penegakan diagnosis berdasarkan PPDGJ-III adalah sebagai berikut.
a. Episode depresif ringan
1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
tersebut di atas.
2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya : (1) sampai dengan
(7).
3) Tidak boleh ada gejala yang berat di antaranya.
4) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu.
5) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.
b. Episode depresif sedang

14

1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti


pada episode depresi ringan.
2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya.
3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan dan urusan rumah tangga.
c. Episode depresif berat tanpa gejala psikotik
1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada.
2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di
antaranya harus berintensitas berat.
3) Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor)
yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu
untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian,
penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih
dapat dibenarkan.
4) Epsiode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun
waktu kurang dari 2 minggu.
5) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas.
d. Episode depresif berat dengan gejala psikotik
1) Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut episode depresif
berat tanpa gejala psikotik.
2) Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
Halusinasi auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang

15

menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.


Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika
diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau
tidak serasi dengan afek (mood congruent).

2.2.6

Beck Deppresion Inventory (BDI)


Merupakan salah satu cara untuk mendiagnosis depresi dengan menggunakan

kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Di dalam kuesioner terdapat 21


pertanyaan yang terdiri atas emosi, tingkah laku, kognitif, afektif, dan gejala somatis
depresi.
Tabel 2.2 Skor BDI
Klasifikasi

Skor Total

Tingkat Depresi

Ringan

1-10

Normal

11-16

Gangguan mood ringan

17-20

Batas depresi klinis

21-30

Depresi sedang

31-40

Depresi berat

Lebih dari 40

Depresi ekstrem

Sedang

Berat

Sumber: Beck, T. Aron. 1996. Beck Depression Inventory. San Antonio: The Psychological
Corporation Harcourt Brace & Company.

2.3

Hubungan Tuberkulosis Paru dan Depresi


Berdasarkan Jurnal Tuberkulosis Indonesia (2010) pasien yang sedang

mengalami pengobatan sebagai MDR-TB pasti mengalami kegelisahan dan ketakutan.


Betapa tidak, pasien harus diinjeksi setiap hari selama 6 bulan, disamping harus minum
obat sekian banyak macam di hadapan petugas, setiap hari selama hampir 2 tahun,
tepatnya 18 bulan setelah konversi dahak. Meskipun demikian tidak dijamin dapat

16

sembuh 100%. Pasien dengan tuberkulosis paru mengalami depresi sebagai respon
alaminya. Depresi di sini bukan merupakan suatu tanda adanya gangguan mental,
namun merupakan suatu respon terhadap kehilangan yang amat sangat sehingga
menarik diri dari kehidupan, menyendiri, sangat bersedih, dan tidak peduli dengan
lingkungan sekitar. Pada fase ini, seseorang mulai membangun kembali diri mereka
dari awal.
Penyakit tuberkulosis paru dapat mempengaruhi keseimbangan monoamine di
otak. Monoamin adalah suatu sistem neurotransmitter di otak dalam bentuk dopamin,
serotonin, dan norephinephrine. Ketidakseimbangan serotonin dalam otak inilah yang
dapat membuat pasien tuberkulosis paru sangat rentan terhadap depresi (Istanti, 2009).
Hal ini juga dipaparkan oleh Rachmawati dan Turniani (2009) bahwa TB Paru
merupakan penyakit kronis dan memerlukan pengobatan secara teratur selama 6-8
bulan. Karena pengobatan memerlukan waktu yang lama maka penderita TB Paru
sangat memungkinkan mengalami depresi yang cukup berat sehingga selain diperlukan
pengobatan secara medis juga diperlukan dukungan sosial dari keluarga maupun orang
di sekitarnya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Riskiyani et al. (2013) di Desa Ajangale,
TB Paru dapat sembuh bila dilakukan pengobatan secara teratur selama 6-8 bulan.
Karena pengobatan memerlukan waktu yang lama maka penderita TB Paruberisiko
mengalami kebosanan yang cederung akan mengakibatkan putus obat. Di samping itu
setelah mengonsumsi OAT (Obat Anti Tuberculosis), penderita mengalami efek
samping obat yang sangat keras sehingga penderita berhenti minum obat karena
kurangnya informasi tentang pengobatan penyakit TB paru yang diterima.

2.4

Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan lamanya menderita Tuberkulosis Paru terhadap tingkat

depresi pada pasien di Puskesmas Sumbersari.

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian
Metode Penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian

korelasional dan pendekatan cross sectional.

3.2

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12-25 Agustus 2014.

3.3.

Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1

Populasi
Populasi penelitian ini adalah pasien Tuberkulosis paru di Puskesmas

Sumbersari Kabupaten Jember.

3.3.2

Sampel
Sampel penelitian ini adalah pasien Tuberkulosis paru di Puskesmas

Sumbersari yang ada pada saat penelitian dilaksanakan dan memenuhi kriteria inklusi.
Berdasarkan teori eksperimental Roscoe, besar sampel yang layak dalam penelitian
adalah antara 30-500 orang (Sugiyono, 2013). Pada penelitian ini, besar sampel adalah
sebanyak 30 orang (responden). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
Consecutive Sampling. Semua subyek yang ada dan memenuhi kriteria pemilihan
dimasukkan dalam penelitian hingga jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi.

3.3.3

Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah

a.

Pasien dengan tuberkulosis paru yang ada pada data rekam medis di Puskesmas
Sumbersari.

18

b.

Bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur penelitian sampai dengan


tahap akhir.

c.

Usia > 18 tahun.

d.

Dapat membaca dan menulis.

e.

Dapat bekerja sama dengan peneliti.

3.3.4

Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah

a.

Pasien dalam keadaan tidak sadar atau kelemahan kondisi fisik sehingga tidak
memungkinkan untuk menjadi responden.

b.

Pasien mengalami gangguan fungsi kognitif.

c.

Pasien mengkonsumsi obat antidepresan.

d.

Pasien memiliki riwayat psikososial.

3.4

Variabel Penelitian

3.4.1

Variabel Bebas
Variabel bebas penelitian ini adalah lamanya pasien menderita tuberkulosis

paru.

3.4.2

Variabel Terikat
Variabel terikat penelitian ini adalah tingkat depresi yang dialami oleh pasien

tuberkulosis paru.

3.5
3.5.1

Definisi Operasional
Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman

TB (Mycobacterium tuberculosis). Dalam kuisioner ini peniliti menentukan kelompok


pasien yang menderita TB Paru dalam kurun waktu 1-3 bulan, 4-6 bulan, 7-9 bulan,
10-12 bulan (Riskiyani et al., 2013).

19

3.5.2

Depresi
Depresi merupakan satu masa tergangunya fungsi manusia yang berkaitan

dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus
asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010). Dengan menggunakan
kuisioner BDI (Beck Depression Inventory) akan didapatkan skor depresi sebagai
berikut:
Skor 1-10

= normal

Skor 11-16

= depresi ringan

Skor 17-30

= depresi sedang

Skor 31-63

= depresi berat

3.6

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini adalah lembar pengumpul data berupa kuesioner.

Kuesioner yang digunakan adalah Beck Depression Inventory (kuesioner terlampir).

3.7

Cara Pengumpulan Data


Data penelitian ini didapatkan melalui data primer yaitu data yang langsung

diperoleh dari responden penelitian dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan


kepada seluruh responden penelitian.

3.8

Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul diolah dengan menggunakan komputer dengan

langkah- langkah sebagai berikut.


a.

Cleaning
Memeriksa kembali data yang telah diperoleh mencakup kelengkapan atau
kesempurnaan data, kekeliruan pengisian, data sampel yang tidak sesuai atau tidak
lengkap.

20

b.

Coding
Data yang diperoleh diberikan kode tertentu untuk mempermudah pembacaan
data.

c.

Scoring
Dilakukan setelah menetapkan kode jawaban sehingga setiap jawaban responden
atau hasil observasi dapat diberikan skor.

d.

Entering
Memasukkan data ke dalam komputer.

3.9

Analisis Data
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui deskripsi dari identitas

responden, variabel bebas, dan variabel terikat. Deskripsi yang diketahui pada rencana
penelitian ini meliputi:
a.

Deskripsi mengenai karakteristik responden yang terdiri dari jenis kelamin, umur,
pendidikan, dan pekerjaan.

b.

Lama menderita TB paru: 1-3 bulan, 4-6 bulan, 7-9 bulan, dan 10-12 bulan.

c.

Tingkat depresi: normal, depresi ringan, depresi sedang, depresi berat.


Analisis bivariat untuk melihat hubungan lamanya menderita tuberkulosis

dengan tingkat depresi Setelah data terkumpul dilakukan tabulasi data dalam bentuk
tabel dan di kelompokkan. Jawaban setiap pertanyaan akan diberi skor. Kemudian
dilakukan uji Spearman Rho untuk mengetahui hubungan Variabel Independen
terhadap Variabel Dependen. Derajat kemaknaan = 0.05 artinya jika uji statistik
menunjukkan p 0,05 maka ada hubungan yang signifikasi antara variabel Independen
dengan Variabel Dependen.

21

3.10
a.

Masalah Etika
Informed Consent
Merupakan bentuk persetujuan antara penelitian dan responden penelitian.
Informed consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan
lembar persetujuan untuk menjadi responden (Informed consent terlampir)

b.

Anonimity
Memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak
mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan
kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

c.

Confidentiality
Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun masalah
lainnya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada
hasil riset.

22

3.11 Kerangka Kerja

Pasien Tuberkulosis paru di Puskesmas Sumbersari Jember

Sesuai kriteria eksklusi

Sesuai kriteria inklusi

Tidak diteliti

Pengumpulan Data

Tingkat Depresi

Lama menderita TB paru

Pengolahan Data

Analisis Data

Kesimpulan

BAB. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 30
responden penderita Tuberkulosis Paru pada tanggal 12-25 Agustus 2014 di
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember.

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Distribusi Data Umum
a. Distribusi responden menurut usia
Hasil penelitian dari 30 responden di Puskesmas Sumbersari Kabupaten
Jember, dapat digambarkan dalam diagram 4.1 di bawah ini:

9
8
7
6
5
Series1

4
3
2
1
0
20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun 61-70 tahun

Gambar 4.2 distribusi responden menurut usia


Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden
sebagian besar berusia 31-40 tahun dan 41-50 tahun yaitu masing-masing sebanyak 8
orang (27%).

24

b. Distribusi responden menurut jenis kelamin


Hasil penelitian responden menurut jenis kelamin dapat digambarkan dalam
diagram 4.2 di bawah ini:
16.5
16
15.5
15
Series1

14.5
14
13.5
13
Perempuan

Laki-laki

Gambar 4.2 Distribusi responden menurut jenis kelamin


Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden,
sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak16 orang (53%).

c. Distribusi responden menurut agama


Berdasarkan hasil penelitian responden menurut agama, dari 30 responden
semuanya adalah beragama Islam (100%).

25

d. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan


Hasil penelitian responden menurut tingkat pendidikan dapat digambarkan
dalam diagram 4.3 di bawah ini:
14
12
10
8
Series1

6
4
2
0
SD

SMP

SMA

AKADEMI/PT

Gambar 4.3 Distribusi responden menurut tingkat pendidikan


Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden,
sebagian besar tingkat pendidikannya adalah Akademi atau Perguruan Tinggi
(Akademi/PT) yaitu sebanyak 13 orang (44%).

26

e. Distribusi responden menurut pekerjaan


Hasil penelitian responden menurut pekerjaan dapat digambarkan dalam diagram
4.4 di bawah ini:
18
16
14
12
10
Series1

8
6
4
2
0
Pegawai Swasta

Wiraswasta

Pensiunan

PNS

Gambar 4.4 Distribusi responden menurut pekerjaan

Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden sebagian


besar adalah wiraswasta yaitu sebanyak 16 orang (53%).

27

f. Distribusi responden menurut status keluarga


Hasil penelitian responden menurut status dapat digambarkan dalam diagram 4.5
di bawah ini:
30
25
20
15

Series1

10
5
0
Belum kawin

Kawin

Gambar 4.5 Distribusi responden menurut status perkawinan


Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden,
sebagian besar responden sudah menikah yaitu sebanyak 27 orang (90%).

28

g. Distribusi responden menurut lama menderita Tuberkulosis Paru


Hasil penelitian responden menurut lama menderita Tuberkulosis Paru dapat
digambarkan dalam diagram 4.6 di bawah ini:
12
10
8
6

Series1

4
2
0
10-12 bulan

7-9 bulan

4-6 bulan

1-3 bulan

Gambar 4.6 Distribusi responden menurut lama menderita TB

Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden


sebagian besar telah menderita Tuberkulosis Paru selama 4-6 bulan yaitu sebanyak 11
orang (37%).

29

h. Distribusi responden menurut tingkat depresi


Hasil penelitian responden menurut tingkat depresi dapat digambarkan dalam
diagram 4.7 di bawah ini:
20
18
16
14
12
10

Series1

8
6
4
2
0
Depresi Sedang

Depresi Ringan

Normal

Gambar 4.7 Distribusi responden menurut tingkat depresi


Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden sebagian
besar mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 19 orang (63%).

30

4.1.2 Tabulasi Silang Distribusi Umum Responden dengan Variabel


a. Tabulasi silang distribusi lama menderita Tuberkulosis Paru menurut usia
Hasil penelitian lama menderita Tuberkulosis Paru menurut usia adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.1 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut usia
Lama Menderita TBC
10-12 bulan
20-30 tahun
31-40 tahun

Umur

41-50 tahun
51-60 tahun
61-70 tahun

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count

Total

% of Total

7-9 bulan

Total

4-6 bulan

1-3 bulan

0.0%

3.3%

6.7%

6.7%

16.7%

0.0%

6.7%

16.7%

3.3%

26.7%

3.3%

10.0%

6.7%

6.7%

26.7%

6.7%

0.0%

3.3%

0.0%

10.0%

3.3%

3.3%

3.3%

10.0%

20.0%

11

30

13.3%

23.3%

36.7%

26.7%

100.0
%

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden dengan usia 31-40 tahun
menderita Tuberkulosis Paru selama 4-6 bulan sebanyak 5 responden (16,7%).

31

b. Tabulasi silang distribusi lama menderita Tuberkulosis Paru menurut jenis kelamin
Hasil penelitian lama menderita Tuberkulosis Paru menurut jenis kelamin adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.2 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut jenis kelamin
Lama Menderita TBC
10-12
bulan
Jenis
Kelamin

Total

P
L

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

1
3.3%
3
10.0%
4
13.3%

Total

7-9 bulan 4-6 bulan 1-3 bulan


4
13.3%
3
10.0%
7
23.3%

5
16.7%
6
20.0%
11
36.7%

4
13.3%
4
13.3%
8
26.7%

14
46.7%
16
53.3%
30
100.0%

Dari tabel 4.2 dapat diketahui bahwa responden laki laki menderita Tuberkulosis
Paru selama 4-6 bulan sebanyak 6 responden (20%).

32

c. Tabulasi silang distribusi lama menderita Tuberkulosis Paru menurut tingkat


pendidikan
Hasil penelitian lama menderita Tuberkulosis Paru menurut tingkat pendidikan
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut tingkat pendidikan

SD

Pendidikan
Terakhir

SMP
SMA
AKADEMI/
PT

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

Total

Lama Menderita TBC


10-12
7-9
4-6
bulan
bulan
bulan
2
4
1
6.7%
13.3%
3.3%
0
0
0
0.0%
0.0%
0.0%
2
3
3
6.7%
10.0%
10.0%
0
0
7
0.0%
0.0%
23.3%
4
13.3%

7
23.3%

11
36.7%

Total
1-3
bulan
0
0.0%
1
3.3%
1
3.3%
6
20.0%

7
23.3%
1
3.3%
9
30.0%
13
43.3%

8
26.7%

30
100.0%

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa responden dengan tingkat pendidikan
Akademi/PT menderita Tuberkulosis Paru selama 4-6 bulan sebanyak 7 responden
(23,3%).

33

d. Tabulasi silang distribusi lama menderita Tuberkulosis Paru menurut pekerjaan


Hasil penelitian lama menderita Tuberkulosis Paru menurut pekerjaan adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.4 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut pekerjaan

Pegawai
Swasta

Wiraswasta
Pekerjaan
Pensiunan

PNS

Total

Count
% of
Total

Lama Menderita TBC


10-12
7-9
4-6
bulan
bulan
bulan
0
1
3
0.0%
3.3%
10.0%

Total
1-3
bulan
1
3.3%

5
16.7%

Count
% of
Total
Count
% of
Total
Count

4
13.3%

6
20.0%

4
13.3%

2
6.7%

16
53.3%

0
0.0%

0
0.0%

1
3.3%

3
10.0%

4
13.3%

% of
Total
Count
% of
Total

0.0%

0.0%

10.0%

6.7%

16.7%

4
13.3%

7
23.3%

11
36.7%

8
26.7%

30
100.0%

Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa responden dengan pekerjaan sebagai
wiaswasta menderita Tuberkulosis Paru selama 4-6 bulan sebanyak 4 responden
(13,3%).

34

e. Tabulasi silang

distribusi lama menderita Tuberkulosis Paru menurut status

perkawinan
Hasil penelitian lama menderita Tuberkulosis Paru menurut status perkawinan
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Tabulasi distribusi lama menderita TB Paru menurut status perkawinan
Lama Menderita TBC

Status
Perkawinan

Total

Belum
kawin
Kawin

10-12 bulan 7-9 bulan 4-6 bulan 1-3 bulan


Count
0
0
1
2
% of Total
0.0%
0.0%
3.3%
6.7%
Count
4
7
10
6
% of Total
13.3%
23.3%
33.3%
20.0%
Count
4
7
11
8
13.3%
23.3%
36.7%
26.7%
% of Total

Total
3
10.0%
27
90.0%
30
100.0%

Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa responden yang sudah menikah menderita
Tuberkulosis Paru selama 4-6 bulan sebanyak 10 responden (33,3%).

35

f. Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut usia


Hasil penelitian tingkat depresi menurut usia adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut usia
Tingkat Depresi
Depresi
Depresi
Sedang
Ringan
20-30 tahun
31-40 tahun
Umur

41-50 tahun
51-60 tahun
61-70 tahun

Total

Total
Normal

Count
% of Total

4
13.3%

1
3.3%

0
0.0%

5
16.7%

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

6
20.0%
4
13.3%
1
3.3%
4
13.3%

2
6.7%
2
6.7%
2
6.7%
2
6.7%

0
0.0%
2
6.7%
0
0.0%
0
0.0%

8
26.7%
8
26.7%
3
10.0%
6
20.0%

Count
% of Total

19
63.3%

9
30.0%

2
6.7%

30
100.0%

Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa responden dengan usia 31-40 tahun yang
mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 6 orang (20%) dan untuk usia 41-50 tahun
yang mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 4 orang (13,3%).

36

g. Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut jenis kelamin


Hasil penelitian tingkat depresi menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut jenis kelamin

Jenis
Kelamin

Total

Perempuan
Laki-laki

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

Tingkat Depresi
Depresi
Depresi
Normal
Sedang
Ringan
7
6
1
23.3%
12
40.0%
19
63.3%

20.0%
3
10.0%
9
30.0%

3.3%
1
3.3%
2
6.7%

Total

14
46.7%
16
53.3%
30
100.0%

Dari tabel 4.7 dapat diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki
yang mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 12 responden (40 %).

37

h. Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut tingkat pendidikan


Hasil penelitian tingkat depresi menurut tingkat pendidikan adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.8 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut tingkat pendidikan

Count
% of Total
Count
SMP
% of Total
Pendidikan
Terakhir
Count
SMA
% of Total
AKADEMI/ Count
PT
% of Total
Count
Total
% of Total
SD

Tingkat Depresi
Depresi
Depresi
Normal
Sedang
Ringan
2
5
0
6.7%
16.7%
0.0%
1
0
0
3.3%
0.0%
0.0%
5
2
2
16.7%
6.7%
6.7%
11
2
0
36.7%
6.7%
0.0%
19
9
2
63.3%

30.0%

6.7%

Total

7
23.3%
1
3.3%
9
30.0%
13
43.3%
30
100.0%

Dari tabel 4.8 dapat diketahui bahwa responden dengan tingkat pendidikan
akademi/perguruan tinggi, yang mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 11
responden (36,7%).

38

i. Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut pekerjaan


Hasil penelitian tingkat depresi menurut pekerjaan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.9 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut pekerjaan

Pegawai
Swasta
Wiraswasta
Pekerjaan
Pensiunan
PNS

Total

Count

Tingkat Depresi
Depresi
Depresi
Normal
Sedang
Ringan
5
0
0

Total

% of Total

16.7%

0.0%

0.0%

16.7%

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count

7
23.3%
3
10.0%
4
13.3%
19
63.3%

7
23.3%
1
3.3%
1
3.3%
9
30.0%

2
6.7%
0
0.0%
0
0.0%
2
6.7%

16
53.3%
4
13.3%
5
16.7%
30
100.0%

% of Total

Dari tabel 4.9 dapat diketahui bahwa responden denganpekerjaan sebagai


wiraswasta, mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 7 responden (23,3%).

39

j. Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut status dalam keluarga


Hasil penelitian tingkat depresi menurut status perkawinan adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.10 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut status dalam keluarga
Tingkat Depresi
Depresi
Depresi
Normal
Sedang
Ringan
Status
Perkawinan

Total

Belum
kawin
Kawin

Count
% of Total
Count
% of Total
Count

2
6.7%
17
56.7%
19
63.3%

1
3.3%
8
26.7%
9
30.0%

0
0.0%
2
6.7%
2
6.7%

Total

3
10.0%
27
90.0%
30
100.0%

% of Total

Dari tabel 4.10 dapat diketahui bahwa responden yang sudah menikah dan
mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 17 responden (56,7%).

40

4.1.3 Tabulasi Silang Distribusi Tingkat Depresi Menurut Lama Menderita


Tuberkulosis Paru
Tabel 4.11 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut lama menderita TB paru
Tingkat Depresi
Depresi
Ringan
Normal
7
1
0
23,3%
3,3%
0,0%
9
1
1
30,0%
3,3%
3,3%
2
5
0
6,7%
16,7%
0,0%
1
2
1
3,3%
6,7%
3,3%
19
9
2
63,3%
30,0%
6,7%

Depresi
Sedang
Lama
Menderita
TBC

Total

1-3 bulan

Count
% of Total
4-6 bulan
Count
% of Total
7-9 bulan
Count
% of Total
10-12 bulan Count
% of Total
Count
% of Total

Total
8
26,7%
11
36,7%
7
23,3%
4
13,3%
30
100,0%

10
9
8
7
Tingkat Depresi Depresi
Sedang

6
5
4

Tingkat Depresi Depresi


Ringan

Tingkat Depresi Normal

2
1
0
1-3 bulan

4-6 bulan

7-9 bulan

10-12 bulan

Lama Menderita TBC

Gambar 4.8 Tabulasi distribusi tingkat depresi menurut lama menderita TB Paru

41

Dari tabel 4.11 dapat diketahui bahwa responden yang menderita Tuberkulosis
Paru selama 4-6 bulan mengalami depresi sedang sebanyak 9 orang (30%) dan
mengalami depresi ringan sebanyak 1 orang (3,3%).

4.1.4 Analisis Hubungan Lama Menderita Tuberkulosis Paru dengan Tingkat Depresi
Tabel 4.12 Analisi hubungan lama menderita TB Paru dengan tingkat depresi

Correlation Coefficient
Lama Menderita TBC

Correlation Coefficient
Tingkat Depresi

Tingkat

TBC

Depresi
1.000

Sig. (2-tailed)
N

Spearman's rho

Lama Menderita

Sig. (2-tailed)
N

-.514

**

.004

30

30

**

1.000

.004

30

30

-.514

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan hasil uji statistik Spearman Rho didapatkan Significancy lama


menderita Tuberkulosis Paru dengan tingkat depresi adalah sebesar 0,004 yang
menunujukkan p 0,05>0,004 berarti Ho ditolak yang mana terdapat hubungan antara
lama menderita Tuberkulosis Paru dengan tingkat depresi pada pasien di Puskesmas
Sumbersari kabupaten Jember. Nilai korelasi Spearman sebesar -0,514 menunjukkan
bahwa arah korelasi negatif dengan kekuatan sedang, dalam hal ini menunjukkan
bahwa semakin lama menderita Tuberkulosis Paru, maka gejala depresi akan semakin
menurun.

4.2 Pembahasan
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 30 responden di Puskesmas
Sumbersari Kabupaten Jember pada tanggal 12- 25 Agustus 2014 menunjukkan bahwa
responden yang menderita Tuberkulosis Paru laki-laki lebih banyak mengalami depresi
daripada perempuan yaitu sebanyak 12 responden mengalami depresi sedang (40%).

42

Temuan ini ternyata berbeda dengan penelitian Peterson yang mana menyatakan
bahwa depresi lebih banyak diderita oleh perempuan daripada lai-laki. Menurut Sandra
Witelson dalam penelitiannya menemukan bahwa Corpus Calosum pada laki-laki
lebih kecil daripada perempuan, demikian juga dengan komponen yang disebut
Commisura anterior. Kedua hal tersebut menyebabkan laki-laki tidak begitu
berpengaruh terhadap emosi dan stressor yang terjadi padanya. Laki-laki juga lebih
suka menumpahkan masalah dan emosi dengan kegiatan daripada memendamnya serta
akan merasa malu jika mereka sampai menangis jika ada masalah (Sari, 2009).
Sedangkan menurut Patch et al. (2013), laki-laki juga memiliki kemungkinan besar
untuk mengalami depresi pada saat menderita penyakit Tuberkulosis Paru. Kondisi
depresi tersebut dikarenakan menurunnya kemampuan individu untuk bekerja dan
berhubungan dengan masyarakat, khususnya apabila mengingat bahwa laki-laki
merupakan kepala dalam rumah tangga. Hal ini dapat menyebabkan mereka cenderung
rendah diri yang dikarenakan rasa takut menularkan penyakit kepada orang lain
termasuk anggota keluarga, serta adanya opini negatif dalam masyarakat tentang
penyakit TB Paru sendiri.
Berdasarkan kategori umur didapatkan kelompok umur 20-30 tahun berjumlah 5
orang (16%), kelompok umur 31-40 tahun berjumlah 8 orang (27%), kelompok umur
41-50 tahun berjumlah 8 orang (27%), kelompok umur 51-60 tahun berjumlah 3 orang
(10%), dan kelompok umur 61-70 tahun berjumlah 6 orang (20%). Temuan tersebut
menunjukkan bahwa umur mayoritas penderita TB Paru adalah rentang 31-50 tahun.
Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa usia 31-40 cenderung mengalami depresi
sedang yaitu sebanyak 6 orang (20%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
di Puskesmas Bahu Malayang Manado. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
mayoritas responden adalah laki-laki. Golongan umur terbanyak adalah usia produktif
20-50 tahun (Sihotang et al., 2012). Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Nofriyanda (2010) di Padang. Pada penelitian tersebut didapatkan
kasus Tuberkulosis Paru sebagian besar pada usia produktif 30-59 tahun sebesar 284
penderita (76,55%).

43

Menurut Sihotang et al. (2012), laki-laki pada usia produktif cenderung memiliki
semangat tinggi untuk bekerja keras terutama melihat posisinya sebagai kepala rumah
tangga. Sehingga pada umumnya laki-laki usia produktif 30-55 tahun rentan
mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga mudah terkena penyakit.
Gunawan dan Sumadiono (2009) memaparkan, apabila seseorang mengidap
penyakit kronis termasuk TB paru, maka akan mengalami penurunan system imun.
Selain itu pada penelitiannya juga memaparkan, terdapat hubungan antara stres dan
sistem imun. Stresor pertama kali akan ditampung oleh pancaindera dan diteruskan ke
pusat emosi yang terletak di sistem saraf pusat. Dari sini, stres akan dialirkan ke organ
tubuh melalui saraf otonom. Organ yang dialiri stres adalah kelenjar hormone.
Sehingga terjadilah perubahan keseimbangan hormon, yang selanjutnya akan
menimbulkan perubahan fungsional berbagai organ target. Beberapa peneliti
membuktikan stres telah menyebabkan perubahan neurotransmitter neurohormonal
melalui berbagai aksis seperti HPA (Hypothalamic-Pituitary Adrenal Axis), HPT
(Hypothalamic-Pituitary-Thyroid Axis) dan HPO (Hypothalamic-Pituitary-Ovarial
Axis). Di sini, sistem imun sendiri menerima sinyal dari otak dan sistem neuroendokrin
melalui sistem saraf autonom dan hormon, sebaliknya dia juga mengirim informasi ke
otak lewat sitokin. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sistem saraf mengontrol
sistem imun, dan sebaliknya.
Menurut Istanti (2009), Penderita TB Paru sebaiknya mewaspadai depresi.
Penyakit TB Paru dapat mempengaruhi keseimbangan sistem monoamine di otak. Ini
adalah suatu sistem yang mengatur kerja neurotransmitter di otak yang bernama
dopamin, serotonin dan norephinephrine. Ketidakseimbangan serotonin dalam otak
inilah yang dapat membuat pasien Tuberkulosis paru menjadi sangat rentan terhadap
depresi.
Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa 16 responden (53%) sebagai
wiraswasta, 5 responden (17%) bekerja sebagai pegawai, 4 responden (13%) sebagai
pensiunan, dan 5 responden (17%) sebagai PNS. Temuan tersebut menunjukkan bahwa
penderita Tuberkulosis Paru sebagian besar adalah wiraswasta. Hal ini sesuai dengan

44

penelitian yang dilakukan di Thailand pada tahun 2008. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa faktor yang berkontribusi penularan TB adalah status gizi
masyarakat, riwayat pneumonia, dan sanitasi pemukiman yang buruk, manakal ketiga
variabel ini berintegrasi maka peluang penularan tuberkulosis sekitar 72,8% (Weber et
al., 2008).
Arjana (2009) memaparkan, lama seseorang menderita Tuberkulosis Paru juga
banyak berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Sesorang yang telah
didiagnosis dengan penyakit Tuberkulosis Paru akan secara langsung maupun tidak
langsung mengubah pola kesehariannya. Berbagai masalah kesehatan terkait
Tuberkulosis Paru yang dideritanya akan bermunculan, serta kenyataan harus
mengonsumsi obat sepanjang hidupnya menyebabkan lama kelamaan sebagian dari
penderita Tuberkulosis Paru akan mengalami depresi. Pada penelitian yang dilakukan
di Puskesmas Sumbersari, pasien TB paru tidak lagi terganjal mengenai biaya
pengobatan. Hal ini dikarenakan pasien dapat mengambil obat secara gratis yang sudah
disiapkan oleh pemerintah dan tenaga kesehatan di Puskesmas Sumbersari.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 responden di Puskesmas
Sumbersari Kabupaten Jember pada tanggal 12-25 Agustus 2014 menunjukkan bahwa
responden yang menderita Tuberkulosis Paru selama 1-3 bulan sebanyak 8 responden
(27%), menderita selama 4-6 bulan sebanyak 11 responden (37 %), menderita selama
7-9 bulan sebanyak 7 responden (23%), dan yang menderita 10-12 bulan sebanyak 4
responden (13%). Hal ini menunjukkan mayoritas respoden terbilang belum terlalu
lama menderita Tuberkulosis Paru yaitu sekitar 4-6 bulan.
Berdasarkan tingkat depresi yang diderita, didapatkan sebanyak 19 responden
(63,3 %) mengalami depresi sedang, 9 responden (30%) mengalami depresi ringan, 2
responden (6,7 %) tidak mengalami gejala depresi dan tidak ada yang mengalami
depresi berat. Hal ini menunjukkan bahwa dari 30 responden yang diteliti sebagian
besar mengalami depresi sedang. Sedangkan, pada responden yang mengalami
Tuberkulosis Paru selama 10-12 bulan cenderung mengalami depresi ringan sebanyak
2 orang (6,7%), yang menderita selama 7-9 bulan cenderung mengalami depresi ringan

45

yaitu sebanyak 5 orang (16,7%), menderita selama 4-6 bulan cenderung mengalami
depresi sedang yaitu sebanyak 9 orang (30%), dan yang menderita selama 1-3 bulan
cenderung mengalami depresi sedang 7 orang (23,3%). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa depresi lebih banyak muncul pada masa awal menderita Tuberkulosis Paru.
Menurut Pachi et al.(2013), pasien cenderung mengalami shock saat pertama kali
terdiagnosis menderita Tuberkulosis Paru. Selanjutnya, pasien akan mengalami
fase-fase berat pada bulan bulan berikutnya. Sering kali ada periode penolakan, diikuti
oleh pengunduran diri dan depresi, yang mengarah ke persepsi terdistorsi tentang
penyakit. Pasien digambarkan menunjukkan emosi yang kuat seperti rasa takut,
cemburu, kemarahan, mengucilkan diri, adanya rasa bersalah, atau rasa malu. Bunuh
diri juga dapat terjadi, terutama ketika seluruh keluarga mencoba untuk memisahkan
penderita di lembaga yang jauh.
Berdasarkan fakta dan teori di atas dan pada uji analisis data Spearman Rho di
dapatkan nilai signifikansi 0,004 yang berarti nilai signifikansi <0,05 sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara lama seseorang menderita
Tuberkulosis Paru terhadap tingkat depresi yang di deritanya. Banyak faktor yang
menyebabkan penderita menjadi depresi pada masa masa awal menderita Tuberkulosis
Paru. Pertama, maraknya informasi yang beredar soal Tuberkulosis Paru tak jarang
membuat penderitanya yang baru didiagnosis menderita Tuberkulosis Paru berasumsi
buruk mengenai dirinya sendiri. Mereka menganggap penyakit TB Paru memiliki
peluang sedikit untuk bertahan hidup. Kerap kali penderita mengkhawatirkan tentang
berapa lama dia bisa sembuh, dan bagaimana dia akan beradaptasi dengan keluarga dan
masyarakat. Hal ini yang pada akhirnya membuat penderita menjadi depresi (Pachi et
al., 2013). Kedua, perubahan pola hidup pada penderita Tuberkulosis Paru juga
menjadi pemicu terjadinya depresi. Banyak yang harus diubah ketika seseorang telah
terdiagnosis Tuberkulosis Paru, antara lain pola makan, pola tidur, aktivitas
sehari-hari, dan lain-lain. Penderita TB Paru akan menjalani perubahan pola makan
yang dikarenakan pantangan terhadap makanan tertentu. Selain itu, penderita TB Paru
juga akan mengalami perubahan pola tidur yang dikarenakan gejala batuk yang

46

semakin berat dirasakan pada malam hari sehingga mengganggu pola tidur penderita.
Ketiga, kenyataan bahwa dirinya harus mengkonsumsi obat setiap hari secara tepat
waktu dapat menjadi beban bagi penderita. Keempat, adalah anggapan diri sebagai
beban bagi orang lain terutama keluarga. Jika terdapat faktor-faktor di atas yang
dialami responden semakin banyak, maka semakin tinggi pula tingkat depresi yang
dialami responden.
Pada penelitian ini didapatkan nilai korelasi Spearman sebesar -0,514 yang
menunjukkan arah korelasi negatif yang mana berarti semakin lama responden
menderita penyakit Tuberkulosis Paru maka cenderung responden tersebut tidak
mengalami depresi. Hal ini sesuai dari teori di atas yang menegaskan bahwa depresi
cenderung terjadi pada awal penderita terdiagnosis Tuberkulosis Paru. Kubler (1969)
memaparkan, ada 5 tahapan yang berkaitan dengan proses kesedihan yang dialami
manusia. Kelima tahapan itu adalah penolakan, kemarahan, perundingan, depresi, dan
penerimaan. Pertama, pada tahap penolakan, Kubler menyatakan bahwa pasien akan
memanfaatkan sikap penolakan di tahap awal penderitaan mereka. Penolakan
berfungsi sebagai penyangga setelah adanya berita buruk yang tidak terduga. Ketika
tahap penolakan tidak dapat dipertahankan lagi, digantikan oleh kemarahan, iri hati,
dan kebencian yang merupakan tahapan kedua. Tahapan ketiga adalah tahap
perundingan yang merupakan periode dimana pasien mencoba bernegosiasi dengan
Tuhan. Pasien akan berfikir apabila mereka tidak mampu menghadapi kenyataan yang
menyedihkan dan kemarahan tidak berhasil membuat keadaan membaik, mereka
masih memiliki kesempatan untuk dapat menunda berbagai kejadian buruk yang akan
menimpanya. Tahapan keempat adalah depresi, yang mana merupakan tahapan dimana
pasien benar-benar larut dalam kesedihan. Pada tahap ini pasien sering kali mengalami
penurunan pola tidur, penurunan nafsu makan, penurunan aktivitas, hingga datangnya
pemikiran untuk bunuh diri. Selama tahapan ini, pasien mulai mencoba memahami
penderitaan yang dialaminya. Tahapan kelima adalah Penerimaan. Pada tahap ini
pasien akan memahami masalah atau penderitaan yang sedang dihadapinya. Tahap

47

penerimaan sering kali disebut sebagai tahap akhir penyembuhan, dimana pasien akan
belajar untuk dapat melanjutkan hidupnya (Sanchez, 2004).
Pada penelitian yang dilakukan di Bangladesh oleh Karim (2009), bahwa pasien
TB Paru cenderung mengalami shok saat pertama kali terdiagnosis menderita TB Paru.
Semakin lama menderita TB paru, pasien akan dapat beradaptasi dengan situasi ini.
Pasien akan dapat beradaptasi dalam pola tidur mereka, pola makan, dalam
mengkonsumsi obat, serta dalam bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat.
Untuk pola tidur, semakin lama irama sirkardian akan berubah dan mereka cenderung
berganti pola tidur. Demikian dengan pola makan dan pengonsumsian obat, semakin
lama pasien akan terbiasa ditambah lagi dengan semangat dan dukungan penuh dari
pihak keluarga yang juga ikut memantau pasien. Dukungan dan motivasi dari keluarga
dan masyarakat sekitar inilah yang akan sangat membantu bagaimana pasien dapat
beradaptasi dan mengurangi depresi yang mereka alami.

BAB 5. KESIMPULAN, SARAN,


DAN KETERBATASAN PENELITIAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara lamanya menderita penyakit Tuberkulosis Paru terhadap tingkat
depresi pada pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember. Dari 30 pasien yang
diteliti, sebagian besar baru menderita penyakit Tuberkulosis Paru antara 4-6 bulan
dan juga sebagian besar mengalami depresi sedang.
Analisis pengaruh dari lamanya menderita Tuberkulosis Paru dengan tingkat
depresi pada pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember menunjukkan nilai
korelasi negatif, yang menjelaskan bahwa adanya kecenderungan semakin lama pasien
menderita Tuberkulosis Paru maka semakin menurunkan gejala depresi yang
dideritanya atau bahkan tidak mengalami gejala depresi sama sekali. Sedangkan, pada
pasien yang baru mengidap penyakit Tuberkulosis Paru kecenderungan untuk
menderita depresi semakin meningkat.

5.2 Saran
Saran-saran yang dapat dapat diberikan dari hasil penelitian adalah :
1. Perlunya sosialisasi penanggulangan depresi bagi penderita Tuberkulosis Paru yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kesadaran dalam diri pasien
terhadap bahaya dari penyakit tersebut.
2. Perlunya pasien mendapat rawat bersama di poli psikiatri dengan poli penyakit
dalam untuk menurunkan derajat depresi yang diderita.
3. Perlunya informasi ilmiah bagi petugas kesehatan tentang masalah depresi dalam
merawat dan membantu pasien agar pasien dapat segera diterapi serta mendapatkan
rawat bersama.

49

5.3 Keterbatasan Penelitian


Dalam melakukan penelitian ini, penulis memiliki beberapa keterbatasan yaitu:
1. Pada penelitian ini peneliti menggunakan kuisioner BDI, yang mana responden
diharapkan mengisi kuisionernya secara mandiri sehingga peneliti memiliki sedikit
kesempatan untuk mengawasi atau memperhatikan selama proses pengisian
kuisioner.
2. Kesungguhan responden dalam mengisi kuisioner pada saat penelitian dilakukan
merupakan hal-hal yang berada di luar jangkauan peneliti untuk mengontrolnya.
3. Beberapa pasien dikarenakan adanya keterbatasan tidak berkenan untuk mengisi
kuisioner yang diberikan oleh peneliti secara mandiri, sehingga tidak dapat
dimasukkan sebagai responden.
4. Dalam menjawab pertanyaan setiap pertanyaan dalam kuisioner, sebagian
responden kurang begitu memahami maksud dari pertanyaan yang diajukan,
sehingga peneliti perlu menjelaskan kembali maksud dari pertanyaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

American Thoracic Society. Beck Depression Inventory II (BDI-II). www.thoracic.org


Arjana, I. G. A. 2009. Depresi Pada Lansia dan Permasalahannya. Jakarta: Agung
Seto
Corwin, E. J. 2008. Handbook Of Pathophysiology. New York: Lippincott William &
Wilkins, a Wolter Kluwer.
Kubler, E & Ross. 1969. On Death and Dying. New York: McMillan Co.
Gunawan, B. & Sumadiono. 2009. Stres dan Sistem Imun Tubuh. Yogyakarta: Sub
Bagian Alergi Imunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
Universitas Gajah Mada.
Karim, Ahmad, Begum, dan Johanssen. 2009. Female-Male Differences at Various
Clinical Steps of Tuberculosis Management. Bangladesh: Int. J. Tuberc Lung
Dis.
Katona, Cooper , Robertson, Mary. 2008. At a Glance Psikiatri. Ed. 4. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Hlm. 64-65.
Nofriyanda. 2010. Gambaran Hasil Pengobatan Penderita TB Paru di Poli Paru RS.
Dr. M. Djamil Padang. Padang: UNAND.
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT RINEKA
CIPTA.
Pachi, Bratis, Mousses, dan Tselebis. 2013. Psychiatric Morbidity and Other Factors
Affecting Treatment Adherence in Pulmonary Tuberculosis Patients. Greece:
Psychiatric Department, Sotiria General Hospital of Chest Disease.
Ringel, E. 2009. The Little Black Book of Pulmonary Medicine. New York: Jones and
Barlett Publishers.
Riyanto, A. 2009. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Medika.

51

Sadock, B. J. & Sadock, V. A. 2010. Kaplan & Sadocks Pocket Handbook of Clinical
Psychiatry. New York: Lippincott William & Wilkins, a Wolter Kluwer.
Sanchez, J. R. 2004. Pastoral & Clinical Implications of The Death & Dying Stage
Model in Caring Process. Puerto Rico: Inter American University of Puerto
Rico.
Sihotang, R. H., Lampus, B., dan Pandelaki, A. J. 2012. Gambaran Penderita TB Paru
yang Berobat Menggunakan DOTS di Puskesmas Bahu Malalayang. Manado:
Ilmu Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
ALFABETA.
Syam, Riskiyani, dan Rachman. 2013. Dukungan Sosial Penderita Tuberkulosis Paru
di Wilayah Kerja Puskesmas Ajangale Kabupaten Bone. Makassar: Bagian PKIP
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hassanudin.
Tirtana, B. T. & Musrichan. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Paru dengan Resistensi Obat
Tuberkulosis di Wilayah Jawa Tengah. Semarang: Universitas Diponegoro.
Weber, Areerat, Fischer, Thamthitiwat, dan Varma. 2008. Factor Associated With
Diagnostic Evaluation for Tuberculosis Among Adults Hospitalized for Clinical
Pneumonia in Thailand. Thailand: Infection Control And Hospital
Epidemiology, Vol. 39 (7)

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya telah diminta dan memberikan persetujuan untuk berperan serta dalam
penelitian yang berjudul Pengaruh Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap
Tingkat Depresi Pada Pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember, yang
dilakukan oleh:
nama

: Sheila Nurkhalesa

fakultas

: Pendidikan Kedokteran Umum Universitas Jember

pembimbing : 1. dr. Alif Mardijana, Sp.KJ


2. dr. Rosita Dewi
Saya mengerti bahwa resiko yang akan datang tidak akan membahayakan saya,
serta

berguna

untuk

meningkatkan

pengetahuan

serta

kesadaran

dalam

penanggulangan depresi bagi penderita tuberkulosis paru. Namun saya berhak


mengundurkan diri dari penelitian ini tanpa adanya sanksi atau kehilangan hak. Saya
mengerti data atau catatan mengenai penelitian ini akan dirahasiakan. Semua berkas
yang mencantumkan identitas saya hanya digunakan untuk pengolahan data dan
apabila penelitian ini selesai data milik responden akan dimusnahkan.
Demikian secara sukarela dan tanpa unsur paksaan dari siapapun saya bersedia
berperan serta dalam penelitian ini.
No Responden

:..

Tanggal/Bulan/Tahun

:..

Tanda tangan

()

53

Lampiran 2

PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bersedia menyatakan


bersedia turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Jember yang diberi judul
Pengaruh Lamanya Menderita Tuberkulosis Paru Terhadap Tingkat Depresi Pada
Pasien di Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember. Tanda tangan saya menunjukan
bahwa saya telah diberi informasi dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini.

Tanda Tangan
:
Tanggal / Bulan / Tahun

LEMBAR KUISIONER
Petunjuk Pengisian :
-

Berilah tanda CENTANG


Bapak/Ibu/Saudara/I.

()

pada jawaban yang sesuai dengan yang

rasakan saat ini.

Satu jawaban untuk 1(satu) soal dan SEMUA soal harus diisi.

A. Data Demografi
1. Jenis kelamin :
Laki-laki

Perempuan

2. Usia : .. Tahun

3. Agama :
Islam
Budha

Protestan
Katholik

Hindu

4. Tingkat pendidikan :
Tidak sekolah

SMP

Akademi/PerguruanTinggi
SD

SMA

5. Pekerjaan :
Pegawai Swasta

Wiraswasta

Pegawai Negeri Sipil

Pensiunan

6. Status Dalam Keluarga :


Istri/ Suami

Ayah

Ibu

Anak

Lainnya

55

7. Lama Menderita Tuberkulosis Paru :


1-3 bulan

10-12 bulan

4-6 bulan

7-9 bulan

B. Data Khusus
Kuesioner Tingkat Depresi BDI (BECKS DEPRESSION INVENTORY)
1. Apakah saat ini anda merasa sedih?
Saya tidak merasa sedih.
Saya merasa sedih.
Saya sedih sepanjang waktu dan tidak dapat mengubahnya.
Saya begitu sedih atau tidak gembira sehingga saya sama sekali tidak suka.
2. Apakah harapan anda untuk masa depan?
Saya tidak berkecil hati tentang masa depan.
Saya merasa berkecil hati tentang masa depan.
Saya merasa tidak memiliki apa-apa yang diharapkan.
Saya merasa bahwa masa depan tidak ada harapan dan bahwa segalanya tidak
dapat membaik.
3. Apakah anda merasa gagal?
Saya tidak merasa gagal.
Saya merasa telah gagal lebih dari rata-rata orang.
Saat saya melihat masa lalu, semua yang dapat saya lihat adalah banyak
kegagalan.
Saya merasa saya adalah orang yang gagal total.
4. Apakah anda merasakan kepuasan dalam hidup ini?
Saya mendapatkan banyak kepuasan dari banyak hal, seperti biasanya.
Saya tidak menikmati hal-hal seperti biasanya.
Saya tidak lagi mendapat kepuasan sesungguhnya dari setiap hal.

56

Saya tidak puas dan bosan dengan segala sesuatu.


5. Apakah anda merasa bersalah terhadap sesuatu?
Saya tidak merasa bersalah.
Saya merasa bersalah dalam sebagian kecil waktu.
Saya merasa agak bersalah dalam sebagian besar waktu.
Saya merasa bersalah sepanjang waktu.
6. Apakah kegagalan yang pernah anda alami sebagai hukuman?
Saya tidak merasa sedang dihukum.
Saya merasa mungkin dihukum.
Saya perkirakan saya dihukum.
Saya merasa saya sedang dihukum.
7. Apakah anda merasa kecewa dengan diri anda?
Saya tidak merasa kecewa pada diri saya.
Saya kecewa pada diri saya.
Saya jijik dengan diri saya.
Saya membenci diri saya.
8. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap orang lain?
Saya tidak kehilangan minat pada orang lain.
Saya kurang berminat pada orang lain dibanding biasanya.
Saya kehilangan sebagian besar minat saya pada orang lain.
Saya kehilangan semua minat saya pada orang lain.
9. Apakah anda dapat membuat suatu keputusan?
Saya membuat keputusan sebaik yang saya dapat.
Saya menunda membuat keputusan lebih dari biasanya.
Saya sangat sulit membuat keputusan dibanding biasanya.
Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali.

57

10. Apakah anda merasa diri anda lebih buruk dari biasanya?
Saya tidak merasa tampak lebih buruk dari biasanya
Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik.
Saya merasa terdapat perubahan menetap pada penampilan saya yang membuat
saya terlihat tidak menarik.
Saya yakin bahwa saya tampak buruk.
11. Apakah anda bisa bekerja seperti biasanya?
Saya dapat bekerja sebaik biasanya.
Saya memerlukan usaha extra untuk memulai mengerjakan sesuatu.
Saya harus sangat memaksa diri untuk melakukan sesuatu.
Saya tidak dapat bekerja sama sekali.
12. Apakah anda bisa tidur dengan nyenyak?
Saya dapat tidur sebaik biasanya.
Saya lebih mudah lelap dibanding biasanya.
Saya bangun 1-2 jam lebih awal dari biasanya dan merasa sulit untuk kembali
tidur.
Saya bangun beberapa jam lebih awal dari biasanya dan tidak bisa kembali
tidur.
13. Apakah anda mudah merasa lelah?
Saya tidak merasa lelah lebih dari biasanya.
Saya lebih mudah lelah dibanding biasanya.
Saya lelah setelah melakukan sebagian besar pekerjaan.
Saya terlalu lelah untuk melakukan apapun.
14. Apakah nafsu makan anda berkurang?
Nafsu makan saya tidak lebih buruk dari biasanya.
Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya.
Nafsu makan saya jauh lebih buruk sekarang.
Saya tidak mempunyai nafsu makan sama sekali.

58

15. Apakah anda selalu merasa bersalah?


Saya tidak merasa lebih buruk dibanding dengan orang lain.
Saya kritis terhadap diri saya untuk kelemahan atau kesalahan saya.
Saya menyalahkan diri saya untuk kesalahan saya sepanjang waktu.
Saya menyalahkan diri saya untuk setiap hal buruk yang terjadi.
16. Apakah anda ingin bunuh diri?
Saya tidak terfikir untuk bunuh diri.
Saya berfikir untuk bunuh diri tetapi tidak akan melakukannya.
Saya ingin bunuh diri.
Saya akan bunuh diri jika ada kesempatan.
17. Apakah saat ini merasakan gangguan pada kesehatan?
Saya tidak lebih khawatir tentang kesehatan dibanding biasanya.
Saya khawatir tentang masalah fisik seperti sakit dan nyeri atau gangguan
lambung atau kontipasi (sulit buang air besar)
Saya sangat khawatir tentang masalah fisik, dan sulit untuk memikirkan banyak
hal lain.
Saya begitu khawatir tentang masalah fisik saya sehingga saya tidak dapat
melakukan hal-hal lain.
18. Apakah anda selalu menangis?
Saya tidak menangis lagi dibanding biasanya.
Saya lebih banyak menangis sekarang dibandingkan biasanya.
Saya menangis sepanjang waktu sekarang.
Saya biasanya bisa menangis, tetapi sekarang saya tidak dapat menangis
meskipun saya ingin.
19. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap seks?
Saya tidak memperhatikan adanya perubahan minat terhadap seks belakangan
ini.
Saya kurang tertarik terhadap seks dibanding biasanya.

59

Saya sangat kurang tertarik terhadap seks sekarang.


Saya benar-benar hilang minat terhadap seks.
20. Apakah saat ini anda merasa kesal?
Sekarang saya tidak lebih kesal dibanding biasanya.
Saya lebih mudah terganggu atau kesal dibanding biasanya.
Sekarang saya merasa kesal sepanjang waktu.
Saya tidak dibuat kesal sama sekali oleh hal-hal yang biasanya membuat saya
kesal.
21. Apakah anda merasa berat badan anda menurun?
Jika ada penurunan berat badan, saya tidak banyak mengalaminya belakangan
ini.
Berat badan saya berkurang lebih dari 2,5 Kg.
Berat badan saya berkurang lebih dari 5 Kg.
Berat badan saya berkurang lebih dari 7,5 Kg.

TERIMA KASIH BANYAK ATAS PARTISIPASI ANDA

SKOR :

Lampiran 4
DATA UMUM RESPONDEN
No.

Usia

Jenis
Kelamin

Agama

Tingkat
Pendidikan

Pekerjaan

Status

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

50
65
37
62
65
22
30
37
40
45
52
50
42
36
27
63
37
57
45
65
55
40
23
40
27
48
45
50
64
32

P
P
L
L
L
P
L
L
P
P
L
L
P
L
P
L
L
P
P
P
L
P
P
L
L
L
P
L
L
P

Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam
Islam

SMA
Akademi/PT
SD
SMA
Akademi/PT
Akademi/PT
SMA
Akademi/PT
SD
SD
Akademi/PT
SMA
SMA
Akademi/PT
Akademi/PT
SD
Akademi/PT
SD
SMA
Akademi/PT
SD
SMA
Akademi/PT
SMA
Akademi/PT
SD
SMA
SMP
Akademi/PT
Akademi/PT

Wiraswasta
Pensiunan
Wiraswasta
Wiraswasta
Pensiunan
Swasta
Swasta
PNS
Wiraswasta
Wiraswasta
PNS
Wiraswasta
Wiraswasta
Swasta
PNS
Wiraswasta
Swasta
Wiraswasta
Wiraswasta
Pensiunan
Wiraswasta
Wiraswasta
Swasta
Wiraswasta
PNS
Wiraswasta
Wiraswasta
Wiraswasta
Pensiunan
Swasta

Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Belum kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Belum kawin
Kawin
Belum kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin
Kawin

61

Lampiran 5
DATA KHUSUS RESPONDEN MENURUT LAMA MENDERITA TB PARU
DAN KLASIFIKASI TINGKAT DEPRESI
No

Lama
Menderita
TB

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

4-6 bln

1-3 bln

4-6 bln

10-12 bln

4-6 bln

1-3 bln

7-9 bln

4-6 bln

21

Total
Skor

Tingkat
Depresi

Normal

18

Sedang

20

Sedang

20

Sedang

15

Ringan

14

Ringan

19

Sedang

17

Sedang
Ringan

7-9 bln

16

10

7-9 bln

12

Ringan

11

4-6 bln

23

Sedang

12

10-12 bln

10

Normal

13

4-6 bln

21

Sedang

14

1-3 bln

17

Sedang

15

4-6 bln

18

Sedang

16

7-9 bln

12

Ringan
Sedang

17

4-6 bln

23

18

10-12 bln

12

Ringan

19

1-3 bln

20

Sedang

20

1-3 bln

11

21

Sedang

21

10-12 bln

13

Ringan

22

7-9 bln

14

Ringan

23

4-6 bln

20

Sedang

24

4-6 bln

21

Sedang
Sedang

25

1-3 bln

24

26

7-9 bln

20

Sedang

27

7-9 bln

16

Ringan

28

1-3 bln

22

Sedang

29

1-3 bln

20

Sedang

30

4-6 bln

18

Sedang

62