Anda di halaman 1dari 19

Definisi

KBBI yang dimaksud dengan resep adalah: (1)


keterangan dokter tentang obat serta takarannya,
yang harus dipakai oleh si sakit dan dapat
ditukar dengan obat di apotek; atau (2)
keterangan tentang bahan dan cara memasak
obat atau makanan.

Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada APA untuk
menyiapkan dan / atau membuat, meracik, serta menyerahkan obat
kepada pasien, yang berhal menulis resep adalah dokter, dokter gigi,
dan dokter hewan, Menurut Permenkes No.922 th 1993, Kepmenkes
No. 1332 th 2002 (Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek) dan
Kepmenkes No.1027 th 2004 (Standar pelayanan kefarmasian di
apotek),

Menurut Kepmenkes No.900 th 2000 (Registrasi dan


praktek bidan), bidan boleh menuliskan permintaan
kepada apoteker tentang kebutuhan obat tertentu
untuk pasien dengan menggunakan lembaran
permintaan obat.

Komponen Resep
Resep yang lengkap memuat hal-hal sebagai
berikut:

1.Nama, alamat, dan nomor izin praktek


dokter, dokter gigi, atau dokter hewan.
2.Tanggal penulisan resep (inscriptio).
3.Tanda R pada bagian kiri setiap penulisan
resep (invocatio).
4.Nama obat dan komposisinya
(praescriptio/ordonatio).
5.Aturan pemakaian obat yang tertulis
(signatura).
6.Tanda tangan atau paraf dokter penulis
resep sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku (subscriptio).
7.Jenis hewan serta nama dan alamat
pemiliknya untuk dokter hewan.
8.Tanda seru dan / paraf dokter untuk resep
melebihi dosis maksimalnya.

Dr. Supriyadi
SIP NO.228/K/84
Jl. Budi Kemuliaan no. 8A
No. Tilp. 4265
Jakarta.
Jakarta, 09-09-2012
R/ Acetosol 500 mg
Codein HCL 20 mg
C.T.M 4 mg
S.L

q.s

m.f. pulv. dtd no. xv


da in caps.
S.t.d.d. caps. I
Paraf/ tanda tangan Dokter

Pro: Tn. Marzuki (Dewasa)


Jl. Merdeka 10 Jakarta

Resep Hewan

Kerasionalan Resep
Kerasionalan penulisan resep adalah kesesuaian kombinasi
obat dari sudut terjadinya interaksi antar obat dalam resep
yang meliputi interaksi farmakodinamik dan/atau interaksi
farmakokinetik.
Resep yang rasional harus sesuai dengan diagnosa, kondisi
pasien, obat yang diberikan rasional, dosis yang diberikan
sesuai, dan sesuai standar pengobatan.
Peresepan yang baik dapat ditingkatkan melalui pelatihan :

Farmakologi dan terapi.


Supervisi, informasi obat melalui media cetak.
Mengaktifkan komisi farmasi dan terapi.
Pembatasan peresepan dan pelayanan.
Peningkatan kesadaran dokter akan biaya

Ketidakrasionalan dalam peresapan


obat
a. Peresepan boros (extravagant prescribing)
Peresepan dengan obat obat yang lebih mahal
padahal ada alternatif yang lebih murah dengan
kandungan, khasiat, manfaat dan keamanan yang
sama.
Terlalu berorientasi pada pengobatan terhadap gejala
penyakit, tanpa mencari faktor penyebab lain.
Pemakaian obat merk dagang (paten) secara
berlebihan sementara masih tersedianya obat generik
yang mempunyai kualitas, kemanfaatan dan keamanan
yang sama.

b. Peresepan berlebihan (over prescribing)


Peresepan dengan dosis, lama pemberian atau jumlah obat
yang diresepkan melebihi ketentuan, sehingga menyebabkan
lamanya pengobatan.
Peresepan dengan obat obat sebenarnya tidak diperlukan.
c. Peresepan kurang (under prescribing)
Bila obat yang diperlukan tidak diresepkan dan dosis obat
yang diberikan tidak cukup serta lama pemberian terlalu
pendek.
d. Peresepan majemuk (multiple prescribing)
Pemberian resep lebih dari dua macam obat yang mempunyai
khasiat, manfaat dan keamanan yang sama.
e. Peresepan salah (incorrect prescribing)
Pemakaian obat dengan indikasi keliru, dan Diagnosis tepat
tetapi obatnya keliru.

Bahasa Resep
Bahasa yang digunakan adalah bahasa latin, untuk ketentuan pembuatan,
bentuk obat, termasuk petunjuk aturan pemakaian obat, ditulis berupa
singkatan.
Alasan penggunaan bahasa latin:
1. Merupakan bahasa yang mati.
2. Merupakan bahasa internasional dalam profesi kedokteran dan
kefarmasian.
3. tidak akan terjadi dualisme bahan/zat dalam resep.
4. faktor psikologis.

Tata Cara Penulisan Resep

Obat pokoknya ditulis dulu, yang disebut remidium cardinal (basis)


Remidium adjuvantia/ajuvans, yaitu bahan atau obat yang menunjang kerja
bahan obat utama
Corrigens, yaitu bahan atau obat tambahan untuk memperbaiki warna,
rasa, dan bau obat utama. Corrigens dapat berupa
Corrigens actionis, yaitu obat yang memperbaiki atau menambah efek
obat utama.
Corrigens saporis (memperbaiki rasa).
Corrigens odoris (memperbaiki bau).
Corrigens coloris (memperbaiki warna).
Corrigens solubilis untuk memperbaiki kelarutan obat utama.
Constituens/vehiculum/exipiens, yaitu bahan tambahan yang dipakai
sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk untuk memperbesar volume
obat. Misalnya, laktosa pada serbuk serta amilum dan talk pada bedak
tabor. Contohnya,
R/
Cedilanid tab. No. I
Diuretin Tab. No.
m.f pulv. Dtd. No.XII

Aturan pakai dalam resep sering ditulis berupa singkatan bahasa


Latin
a. tentang waktu

Omni hora cochlear (o.h.c): tiap jam satu sendok makan


Omni bihora cochlear (o.b.h.c): tiap 2 jam satu sendok makan
Post coenam (p.c.): sesudah makan
ante coenam (a.c.): sebelum makan
mane (m): pagi-pagi
ante meridiem (a.merid): sebelum tengah hari
mane et vespere (m.et.v): pagi dan sore
nocte (noct.): malam

b. tentang tempat yang sakit

pone aurem (pon.aur.): di belakang telinga


nocte (noct.): malam
tentang pemberian obat
in manum medici (i.m.m): diserahkan dokter
detur sub sigillo (det.sub sig.): berikan dalam segel
da in duplo (d.i.dupl): berikan dua kalinya
reperatur (Iteratur) ter. (rep.ter): diulang tiga kali

Tahap Penulisan Resep


Penulisan blanko resep (lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm)
Penulisan nama obat (Inscriptio)
Dimulai dengan huruf besar
Ditulis secara lengkap atau dengan singkatan resmi (dalam Farmakope
Indonesia atau nomenklatur Internasional)
Tidak ditulis dengan nama kimia atau singkatan lain dengan huruf
kapital, misal : kalium clorida dengan KCl

Penulisan jumlah obat

Satuan berat : mg, gr


Satuan volume : ml
Satuan unit : IU/IU (International Unit)
Penulisan jumlah obat dengan satuan biji menggunakan angka romawi
Penulisan alat penakar, seperti :
Arti prosentase

Penulisan bentuk sediaan obat (subscriptio)


Penulisan jadwal dosis atau aturan pemakaian
(signatura)
Setiap selesai menuliskan resep diberi tanda
penutup berupa garis penutup (untuk 1 R/)
atautanda pemisah di antara R/ (untuk > 2R/) dan
paraf/tanda tangan pada setiap R/.
Resep ditulis sekali jadi, tidak boleh ragu-ragu,
hindari coretan, hapusan dan tindasan
Penulisan tanda Iter (Itteretur/ harap diulang)
dan N.I. (Ne Iterretur/tidak boleh diulang)
Penulisan tanda Cito atau PIM

Syarat Pengerjaan Resep


5. Bila penderita seorang anak, maka harus
dicantumkan umurnya. Inipenting bagi
apoteker untuk mengkalkulasi apakah
Secara hukum dokter yang
dosis obat yang ditulis pada resep sudah
menandatangani suatu resep bertanggung
cocok dengan umur si anak. Ada nama
jawab sepenuhnya tentang resep yang
penderita saja tanpa umur, maka resep
ditulis untuk pasien.
tersebut dianggap untuk orang dewasa.
Resep ditulis sedemikian rupa sehingga
Pencantuman umur ini terutama berlaku
dapat dibaca, sekurang kurangnya oleh
untuk pasien yang berumur 12 tahun ke
petugas apotek.
bawah.
Resep ditulis dengan tinta atau lainnya,
sehingga tidak mudah terhapus.
Tanggal suatu resep ditulis dengan jelas. 6. Di bawah nama penderita hendaknya
Tanggal resep ditebus oleh penderita di
dicantumkan juga alamatnya; ini penting,
apotek tidak mutlak sama dengan tanggal
agar dalam keadaan darurat (misalnya
resep yang ditulis oleh dokter; obat bisa
salah obat) pasien dapat langsung
saja baru diambil oleh penderita satu atau
dihubungi. Alamat pasien di resep juga
beberapa hari setelah resep diterima dari
akan mengurangi kesalahan/tertukar
dokter (oleh karena sebab/alas an
memberikan obat bila ada nama pasien
tertentu).
yang kebetulan sama.
7. Untuk jumlah obat yang diberikan dalam
resep dihindari memakai angka decimal,

Beberapa ketentuan tentang menulis resep:

1.

2.

3.
4.

Tahap Pengerjaan Resep


1.

Penulisan blanko resep (lebar


10-12 cm dan panjang 15-18
cm)
Penulisan nama obat (Inscriptio)
Dimulai dengan huruf besar
Ditulis secara lengkap atau
dengan singkatan resmi (dalam
Farmakope Indonesia atau
nomenklatur Internasional)
Tidak ditulis dengan nama kimia
atau singkatan lain dengan huruf
kapital, misal : kalium clorida
dengan KCl
Penulisan jumlah obat

2.
3.
4.

5.

6.

7.

Satuan berat : mg, gr


Satuan volume : ml
Satuan unit : IU/IU (International
Unit)

Penulisan jumlah obat dengan


satuan biji menggunakan angka
romawi

8.
Hindari penggunaan sendok
makan dan sendok teh rumah tangga ,
karena volume sendok makan tidak selalu 15
ml dan sendok teh tidak selalu 5 ml.
9.
Arti prosentase
0,5% (b/b) = 0,5 gram dalam 100
gram sediaan
0,5% (b/v) = 0,5 gram dalam 100
ml sediaan
0,5% (v/v) = 5 ml dalam 100 ml
sediaan
10.
Penulisan bentuk sediaan obat
(subscriptio)
11.
Penulisan jadwal dosis atau
aturan pemakaian (signatura). Misal : s.t.d.d.
pulv. I
s.p.r.n.t.d.d.tab. I
12.
Setiap selesai menuliskan resep
diberi tanda penutup berupa garis penutup
(untuk 1 R/) atautanda pemisah di antara R/
(untuk > 2R/) dan paraf/tanda tangan pada
setiap R/.
13.
Resep ditulis sekali jadi, tidak
boleh ragu-ragu, hindari coretan, hapusan

Tahap Pengerjaan Resep


Jika pada resep yang mengandung narkotika tidak boleh
tercantum tulisan atau tanda iter (iterasi: dapat diulang),
m.i (mihi ipsi: untuk dipakai sendiri), atau u.c (usus
cognitus: pemakaian diketahui). Untuk resep penanganan
segera, dokter dapat memberi tanda di bagian kanan atas
resepnya dengan kata-kata: cito (segera), statim (penting),
urgent (sangat penting), atau P.I.M (periculum in mora:
berbahaya bila ditunda).

Bila dokter menghendaki, resep tersebut tidak boleh


diulang tanpa sepengetahuannya. Oleh karena itu,
tersebut dapat ditulis dengan singkatan n.i (ne
iteratur: tidak dapat diulang). Resep tidak boleh
diulang adalah resep yang mengandung narkotika,
psikotropika, obat keras yang ditetapkan oleh
pemerintah/ Menteri Kesehatan R.I.

Kopi Resep

1.
2.
3.
4.

Nama dan alamat apotek.


Nama dan nomor S.I.K APA.
Tanda tangan atau paraf APA.
Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan, atau
tanda nedet (ne detur) untuk obat yang belum diserahkan.
5. Nomor resep dan tanggal pembuatan.
6. Kopi resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter
penulis resep, penderita yang bersangkutan, petugas
kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut
undang-undang

Apotek Sinar Jaya


Jl. Kemanggisan 48 tlp. 5876980
Apoteker : Handayani S., Apt.
SIK : No. 3959/B
Jakarta, 09-09-2012
Salinan Resep
Resep untuk

: Tn. Marzuki

Resep dari

: dr.Supriyadi

Tanggal ditulis resep

: 09-09 2012

No. Tgl. Pembuatan

: 113, 09-09- 2012

R/

Acetosal 500 mg
Codein HCL 20 mg

C.T.M 4 mg
S.L

q.s

m.f. pulv. dtd no. xv


da in caps.

detur

S.t.d.d. caps. I
p.c.c =

Cap
apotek
(warna
biru)

pro copie conform


(sesuai dengan aslinya)
Yang menyalin:
Paraf atau tanda tangan apoteker
Handayani S., Apt.

Daftar Pustaka
.

Syamsudin.2006.Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta:EGC

Anief, Moh. 2004. Farmasetika. Yogyakarta. UGM


Zaman, Nanizar, dan Joenoes. 2007. Ars Prescribendi Resep yang
Rasional. Surabaya: Airlangga University Press.
Anief, Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.