Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TUGAS TEKNOLOGI LAS 1

FLUX CORE ARD WELDING (FCAW)

Anggota Kelompok FCAW :


1. Rendi Bagus A

10

2. Agil Waskito

11

3. Dedik Iskandar

18

4. Aldino Aries

19

5. Gandhi F

21

6. A.Sadan

23

PROGRAM STUDI TEKNIK PENGELASAN


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2012

Lay Out
1. Prinsip pengelasan FCAW
2. Skema & proses pengelasan FCAW
3. Pemilihan jenis elektroda
4. Pengaruh dari variabel
5. Keselamatan & Kesehatan Kerja

Prinsip Pengelasan FCAW


Termasuk dalam pengelasan busur (arc welding process)
Menggunakan elektroda terumpan(consumable electrode)
Produktivitas yang kontinu dari pasokan elektroda las
Sifat metalurgy las yang dapat dikontrol dari pemilihan
fluks
Pembentukan manik las yang cair dapat ditopang oleh slag
yang tebal dan kuat

Skema & proses pengelasan FCAW

Gambar 13.4 Skema Pengelasan FCAW

Saat terjadi busur listrik elektrode ikut mencair dan


berfungsi sebagai logam pengisi.
Elektroda
diarahkan

merupakan

kawat

dari

melalui

spul

yang

terus

menerus

dan

akhirnya

slang

diumpankan ke las melalui nozel welding gun.


Panas untuk pengelasan dihasilkan dari busur antara
kawat(inti dari fluks) dan permukaan kerja.

Pemilihan jenis elektroda


a. Klasifikasi Kawat Elektroda
FCAW adalah proses las yang menggunakan kawat elektroda
kontinyu, di mana inti fluksi akan melindungi cairan las dan kemudian
membentuk terak ( tipis ) setelah cairan las beku, seperti proses las busur
manual.
Beberapa tipe kawat elektroda dapat melindungi secara
keseluruhan proses tersebut, artinya fluksinya dapat melindungi cairan las dari
kontaminasi udara luar pada saat proses las berlangsung dan membentuk terak
pelindung saat pembekuan. Namun ada tipe kawat elektroda yang
membutuhkan gas pelindung tambahan ( kedua ), seperti gas Carbon Dioksida (
CO2 ) atau campuran gas Argon / CO2.
Kawat elektroda berinti fluksi ( flux-core electrode wire )
diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, antara lain :

bahan yang dilas


gas pelindung yang gunakan
posisi pengelasan
jenis arus yang dipakai
bentuk konstruksi
Sistem penulisan pada pengklasifikasian kawat elektroda dibagi tiga
kelompok, di mana tiap kelompok terdiri dari huruf dan angka yang akan
menunjukkan arti dari klasifikasi kawat tersebut.
Ada beberapa sistem klasifikasi elektroda yang dipakai saat ini, antara lain
menurut sistem klasifikasi American Welding Society ( AWS ), Australian
Standard ( AS ), JIS, DIN, dll.
Berikut ini adalah salah satu contoh sistem klasifikasi elektroda las flux core
yakni berdasarkan Australian Standard AS 2203 .

gas pelindung
Elektoda

bahan las
0,1 x tegangan tarik min

Desain elektroda

jenis gas pelindung

posisi pengelasan

no.tingkat teg.tekan

jalur tunggal

kondisi perlakuan panas

(jika mungkin)

komp.bahan kim
Contorolled H

E T X X

G XX

W XX

X X X H1

Kelompok Pertama : Disain dan Posisi Pengelasan


E
= Elektroda
T

= disain elektroda berongga/ pipa / tubular ( disambung atau tidak )

= posisi pengelasan : horizontal pada sambungan sudut ( fillet ) atau fIlat

= cocok untuk semua posisi

= hanya cocok untuk jalur tunggal

Contoh :
1. Elektroda dengan label ETD artinya hanya dapat dipakai untuk pengelasan pada
posisi flat dan sambungan sudut posisi horizontal.
2. Elektroda dengan label ETP artinya dapat dipakai untuk semua posisi.
Kelompok Kedua : Jenis Gas Pelindung dan Arus Las
G = menunjukkan bahwa pengelasan membutuhkan gas pelindung
tambahan/ kedua
N = Tidak membutuhkan gas pelindung ( tambahan )
C = gas pelindung : CO2
M

= gas pelindung campuran

Kemudia huruf N, C atau M akan diikuti oleh hurf kecil yang akan menunjukkan
jenis arus yang dipakai.

= DC elektroda negatif ( DC - ), potensial konstan

= DC elektroda positif ( DC + ) , potensial konstan

= AC atau DC , arus konstan atau potensial konstan

Contoh :
ETP-GCp artinya proses pengelasan memerlukan gas pelindung CO2 dan jenis
arus yang dipakai adalah DC +

Kelompok Ketiga : Sifat Mekanik dan Komposisi Kimia


Pada kelompok ketiga ini dimulai dengan huruf W ( weld metal )
yang kemudian diikuti oleh dua digit untuk menunjukkan tegangan tarik
minimum ( dalam MPa ) dan digit ketiga adalah nomor tingkat ( grade )
tegangan tekan.
Setelah digit ketiga diikuti oleh huruf dan angka yang menunjukkan
kondisi perlakuan panas, komposisi kimia bahan dan kontrol hydrogen.

Contoh :
ETD-GMp-W769A.K3H5 artinya :
ETD

= Elektroda tubular untuk pengelasan posisi flat atau


posisi horizontal untuk sambungan sudut

GMp

= Jenis gas pelindung campuran Argon/CO2 , menggunakan arus

DC +
W769A.K3H5
W

= Bahan las ( weld metal )

76

= 0,1 x tegangan tarik minimum = 760 MPa.

= no. tingkat tegangan tekan ( lihat AS 2203 )

= dilakukan perlakuan panas ( lihat AS 2203 )

K3

= kandungan kimia ( lihat AS 2203 )

H5

= hydrogen controlled dengan konten kurang dari 5 mL/100 g.

b. Pemilihan Kawat Elektroda


Jenis elektroda yang akan digunakan pada suatu pengelasan sangat
ditentukan oleh keperluan pengelasan itu sendiri.
Secara umum jenis kawat elektroda untuk FCAW adalah : rutile,
hydrogen controlled, serbuk besi ( metal cored ) dan self-shieding yang
penggunaannya adalah sebagai berikut :
1. Rutile
Kawat elektroda rutile digunakan untuk pengelasan sambungan
tumpul ( butt ) dan sudut ( fillet ) jalur tunggal atau bertumpuk ( multiple ) pada
baja tegangan rendah atau medium untuk posisi flat, vertikal dan di atas
kepala.

2. Basic ( Hydrogen Controlled )


Kawat elektroda jenis ini digunakan untuk pengelasan kualitas
tinggi, sehingga susuai untuk mengelas baja tegangan tinggi atau untuk
penggunaan di mana dibutuhkan sifat mekanik yang baik.
Secara umum kawat elektroda hydrogen controlled cocok untuk
pengelasan semua posisi.

3. Serbuk Besi ( Metal Cored )


Kawat elektroda jenis ini dibuat dengan menambahkan serbuk
besi, bahan-bahan paduan dan sedikit stabiliser arus. Proses pengelasan
menggunakan DC + dan gas pelindung adalah Argon-mix . Menghasilkan
pengisian/ jalur las yang baik pada penggunaan arus tinggi dan volume yang
banyak dengan terak yang tipis.

4. Self-Shielding
Jenis kawat elektroda ini tidak membutuhkan gas pelindung
tambahan, artinya kebutuhan gas pelindung sudah tercukupi oleh fluksi yang
ada pada inti kawat.

Kelebihan kawat las self-shielding :


- Biaya pengoperasian lebih murah, karena tidak memerlukan gas pelindung,
regulator, dan flow meter.
- Dapat digunakan pada pengelasan di daerah terbuka, di mana tiupan angin
menjadi masalah.
- Harga tang las dan biaya perawatan lebih murah.
- Jenis kawat las lebih bervariasi ( a.l : untuk jalur bertumpuk, root, paduan,
dan untuk konstruksi berat ).
Kelemahan kawat las self-shielding :
- Sensitif terhadap kondisi pengelasan ( hasil tidak maksimal jika teknik las dan
penanganan atau setting tidak sesuai ).
- Asap las sangat banyak, sehingga memerlukan sistem pengisap jika mengelas
dalam ruangan ( tempat ) tertutup.

c. Stickout
Stickout adalah panjang kawat elektroda yang keluar dari ujung
nozzle. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka pengaturan stickout harus
sesuai dengan jenis pekerjaan dan diameter kawat, namun secara umum
adalah lebih panjang bila dibandingkan dengan penggunaan pada GMAW, yaitu
antara 10 mm untuk kawat diameter kecil sampai 30 mm untuk kawat diameter
besar.

Biasanya

tiap

fabrik

pembuat

kawat

las

flux

cored

merekomendasikan panjang stickout yang sesuai untuk memperoleh hasil las


yang optimum, yakni dengan mengacu pada :
- jenis gas pelindung ( jika tipe kawat non self-shielding )
- diameter kawat
- posisi pengelasan
- pengkutuban.

Gambar 9 : Stickout

d. Pengaturan Besar Arus dan Tegangan Pengelasan


1. Rutile
Tabel berikut ini adalah ketentuan untuk DC positif, gas pelindung
CO2 pada penggunaan 8 12 L/min:

D
iameter
Kawat

A
rus (

egangan

Amper )

(Volt)

1
,2

150
320

tickout

25
34

19

200

,6

400
2

25

26 -

25

35
290

,4

26

- 525

36

2. Hydrogen Controlled
Tabel berikut ini adalah ketentuan untuk DC positif, gas pelindung
18% Argon/ CO2 pada penggunaan 15 20 L/min:

iameter
Kawat

rus (

egangan

Amper )

(Volt)

140

,2

280
1

tickout

22

19

23

25

29
180

,6

380

30

3. Serbuk Besi

D
iameter
Kawat

A
rus (

egangan

Amper )

(Volt)

1
,6

350
400

4. Self-Shielding

tickout

31
32

30

Pengelasan hanya menggunakan DC negatif:

iameter
Kawat

rus (

egangan

Amper )

(Volt)

70

,9

150
1
180
1
250
2
280
2

14

12

16

19

17

19

17

19

22
250

,4

12

21
200

,0

13

18
150

,6

tickout

17
100

,2

350

22

Pengaruh dari variabel


Proses kontrol FCAW mencakup :
1. Weding current
2. Arc voltage
3. Electrode extention
4. Travel speed
5. Shielding gas flow
6. Deposition rate
7. Electrode angle

Arus pada FCAW berpengaruh langsung secara proposional


terhadap elctrode :
1. Feed rate
2. Diameter
3. Composition
4. Extension rate

1)Penggunaan voltage constant pada FCAW ialah untuk


mempertahankan pelelehan elektroda pada panjang busur tetap.

2)Tegangan busur (arc voltage) dan panjang busur mempunyai


hubungan erat karena mutu tampilan, kemulusan, dan sifat lasan
dengan FCAW akan sangat dipengaruhi oleh kondisi panjang
busur dan voltage
Contoh : Jika voltage busur arus terlalu panjang akan berakibat
banyak weld spatter dan manik las melebar.

FCAW dengan elektroda tanpa pelindung gas dengan busur


voltage tinggi akan mengkonsumsi nitrogen disekitarnya yang
dapat berakibat pososity pada pengelsan baja lunak dan akan
berakibat retak pada baja tahan karat karena proses akan
menngurangi kandungan ferrite pada hasil lasan.

Apabila voltage busur terlalu pendek (rendah) akan berakibat


capping yang mengecil dan convex / cembung, menurunnya daya
penetrasi dan banyak weld spatter.

3)Electrode extension perlu diperhatikan karena merupakan


hambatan dalam pemanasan elektrode sebelum meleleh.
Kondisi suhu elektrode sebelum meleleh akan berpengaruh
terhadap :
1. Penggunaan energy busur (arc energy)

2. Kemampuan beku elektrode (Electrode deposition rate)


3. Daya penetrasi (Penetration ability)

4)Travel speed berpengaruh pada penetrasi dan bentuk


ulir pengelasan.
Penetrasi pada travel speed yang lambat akan lebih dalam
daripada travel speed tinggi.
Pengelasan dengan travel speed lambat pada penggunaan arus
(A) tinggi akan berakibat panas yang berlebihan (over heating)
pada lasan, yang dapat menyebabkan bentuk bulir yang kasar,
terperangkapnya slag dan burn through.
Pengelasan dengan travel speed tinggi dengan arus lsitrik (A)
tinggi akan menyebabkan bulir las kasar dan undercut

Porosity : cacat yang terjadi karena adanya gas yang terperangkap


dalam lasan, biasanya berbentuk butir-butir .

5)Keakuratan aliran gas pelindung tergantung dari :


1. Bentuk nozle las
2. Jarak ujung nozle dengan benda kerja
3. Media gerak dari gas pada area pengelasan.

6)Deposition rate : Jumlah berat metal las beku / jadi per satuan
waktu
Deposition rate sangat bergantung pada variabel :
1. Diameter elektrode
2. Komposisi elektrode
3. Panjang keluaran elektrode (electrode extension)
4. Arus listrik pengelasan (welding current)

7) Electrode angle sangat berpengaruh terhadap hasil lasan.

Apabila sudut dalam proses mengelas tepat, maka hasil akan lebih
maksimal
Efisiensi pengelasan ialah perbandingan antara jumlah berat kawat las
yang digunakan dengan jumlah berat lasan yang jadi / beku dalam persen
Umunnya deposition rate eficiency FCAW :
1. Pelindung gas : 80 90 %
2. tanpa pelindung gas (self shielding) : 78 87 %
Mutu lasan FCAW bergantung :
1. Jenis elektrode yang digunakan
2. Metode yang digunakan
3. Kondisi bahan bakar
4. Desain sambungan las
5. Kondisi pengelasan

Keselamatan & Kesehatan Kerja


Sama halnya dengan proses-proses las yang lain, khususnya yang
menggunakan las busur listrik, maka pekerjaan FCAW adalah salah satu jenis
pekerjaan yang cukup berpotensi menyebabkan gangguan terhadap kesehatan
atau malah dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Gangguan kesehatan atau kecelakaan dapat diakibatkan oleh
beberapa faktor, yakni operator atau teknisi las itu sendiri, mesin dan alat-alat
las, atau lingkungan kerja, namun secara umum ada beberapa resiko kalau

bekerja dengan proses FCAW, yaitu kejutan listrik ( electric shock ), sinar las,
debu dan asap las dan luka bakar serta kebakaran.

1. Kejutan Listrik
Kecelakaan akibat kejutan listrik dapat terjadi setiap saat, baik itu pada saat
pemasangan peralatan, penyetelan atau pada saat pengelasan. Resiko yang
akan terjadi dapat berupa luka bakar, terjatuh, pingsan serta dapat meninggal
dunia.
Tindakan yang harus diperhatikan agar terhindar dari bahaya
tersengat aus listrik
1. Penyambungan listrik oleh yang ahli listrik
2. Kabel listrik jangan terkelupas
3. Kabel tersambung dengan baik
4. Ukuran kabel disesuaikan dengan kapasitas arus yang akan digunakan
5. Hindari dari kebasahan/lembab

AC lebih berbahaya dari DC


Density arus tinggi bahaya yang ditimbulkan tinggi
Longitudinal current lebih berbahaya dari Transversal current

2. Sinar las
Dalam

proses

pengelasan

menggunakan

FCAW

timbul

membahayakan operator las dan pekerja lain didaerah pengelasan.


Sinar yang membahayakan tersebut adalah :
Cahaya tampak
Sinar infra merah
Sinar ultra violet

sinar

yang

Pencegahan Kecelakaan karena Sinar Las :

Memakai pelindung mata dan muka ketika mengelas, yaitu kedok atau helm
las.
Memakai peralatan keselamatan dan kesehatan kerja ( pakaian pelindung )
pakaian kerja , apron / jaket las, sarung tangan , sepatu keselamatan kerja ).
Buatlah batas atau pelindung daerah pengelasan agar orang lain tidak
terganggu (menggunakan kamar las yang tertutup, menggunakan tabir
penghalang.

3. Radiasi.
Ultrafiolet dan infrared mengakibatkan luka bakar, kerusakan kulit dan
mata
Besarnya radiasi ini tergantung Jenis proses las yang digunakan.

Menghindari
1. Jaga jarak
2. Gunakan APD yang memadai

4. Debu dan Asap Las


Debu dan asap las besarnya berkisar antara 0,2 m sampai dengan
3 m yang biasanya terdiri dari jenis debu eternit dan hidrogen rendah. Butir
debu atau asap dengan ukuran 0,5 m dapat terhisap, tetapi sebagian akan
tersaring oleh bulu hidung dan bulu pipa pernapasan, sedang yang lebih halus
akan terbawa ke dalam dan ke luar kembali.

Debu atau asap yang tertinggal dan melekat pada kantong udara
diparu-paru akan menimbulkan penyakit, seperti sesak napas dan lain
sebagainya. Karena itu debu dan asap las perlu dapat perhatian khusus.
Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap las :
a.

Peredaran udara atau ventilasi harus benar-benar diatur dan diupayakan, di


mana setiap kamar las dilengkapi dengan pipa pengisap debu dan asap yang
penempatannya jangan melebihi tinggi rata-rata / posisi wajah ( hidung )
operator las yang bersangkutan.
Menggunakan kedok/ helm las secara benar, yakni pada saat pengelasan
berlangsung harus menutupi sampai di bawah wajah ( dagu ), sehingga
mengurangi asap/ debu ringan melewati wajah.
Menggunakan baju las (Apron) terbuat dart kulit atau asbes.
Menggunakan alat pernafasan pelindung debu, jika ruangannya tidak ada
sirkulasi udara yang memadai ( sama sekali tidak ada ).

b.

c.
d.

5. Luka Bakar
Luka bakar dapat terjadi karena :

Logam panas
Busur cahaya
Loncatan bunga api
Pencegahan Luka Bakar :
Untuk mencegah luka bakar, operator las harus memakai baju

kerja yang lengkap yang meliputi :

Baju kerja (overall) dari bahan katun


Apron / jaket kulit
Sarung tangan kulit
Topi kulit ( terutama untuk pengelasan posisi di atas kepala )
Sepatu kerja
Helm / kedok las
Kaca mata bening, terutama pada saat membuang terak.

6.Suara/bunyi . bising
Tingkat kebisingan tergantung proses las yang digunakan
GTAW : 50 -60 dB

SMAW : 62 82 dB

FCAW : 50 86 dB

Air Carbon Arc : 96 116 dB

Oxyfuel : < 70 dB

GMAW : 70 82 dB

Flame gouging : 80 90 dB

Flame cutting : 88 95 dB

Carbon arc gouging : 110 120 dB Hammering in a vessel : 120


135 dB
Density kebisingan dapat diterima telinga max. 85 dB

Gunakan alat proteksi kebisingan