Anda di halaman 1dari 16

Macam-macam Kebijakan Anggaran Pemerintah | Baiklah kita akan membahas tentang

macam-macam kebijakan anggaran pemerintah terkait dengan kondisi perekonomian di


suatu negara. Berikut penjelasan macam-macam kebijakan anggaran pemerintah.
1. Kebijakan Anggaran Berimbang
Kebijakan ini menghendaki terjadinya keseimbangan antara pendapatan negara dengan
pengeluaran negara. Kebijakan ini sebaiknya dilakukan pada kondisi ekonomi yang stabil, di
mana pengeluaran yang dilakukan harus disesuaikan dengan kemampuan. Kebijakan
anggaran berimbang umumnya dilakukan dengan pola pembiayaan yang berasal dari
pinjaman luar negeri (External Financing) pada saat terjadi defisit anggaran.

2. Kebijakan Anggaran Defisit.


Kebijakan ini menghendaki posisi pengeluaran negara lebih besar dari pada posisi
penerimaan negara dalam satu tahun anggaran. Karena pengeluaran lebih besar daripada
penerimaan maka negara mengalami defisit (kekurangan) anggaran. Untuk menutup
kekurangan ini maka pemerintah melakukan pinjaman luar negeri atau dengan mencetak
uang yang sebenarnya akan berakibat terjadinya inflasi (kenaikan harga). Pada dasarnya
kebijakan anggaran defisit dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui penggunaan
pinjaman luar negeri yang optimal dengan asumsi tingkat korupsi rendah untuk menutup
kekurangan anggaran yang terjadi. Kebijakan ini dipakai Indonesia sampai pada akhir masa
transisi (1 April- Desember 2000). Mulai saat ini secara mendasar pemerintah sudah
berupaya mengurangi defisit anggaran yang terjadi, misalnya penghematan energi (listrik dan
BBM), pengurangan subsidi dan pengurangan ketergantungan pada utang luar negeri melalui
pengoptimalan sumber daya yang ada dan program gerakan cinta terhadap produk dalam
negeri.
3. Kebijakan Anggaran Surplus
Pada anggaran surplus, belanja negara lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan negara
yang tersedia. Kebijakan ini digunakan untuk mengatasi kondisi perekonomian yang inflasif,
di mana nilai uang semakin merosot karena kenaikan harga secara umum. Dengan demikian,
pemerintah akan berusaha mengurangi pengeluaran sehingga lambat laun jumlah uang yang
beredar semakin kecil dan harga cenderung turun. Kalian tentu ingat bila turunnya harga
tidak terkontrol maka akan timbul gejala deflasi yakni turunnya harga secara umum, hal ini
kurang baik untuk perumbuhan ekonomi, maka pemerintah kembali mengatasinya dengan
kebijakan anggaran defisit.

4. Kebijakan Anggaran Dinamis.


Kebijakan anggaran dinamis mengandung dua pengertian, sebagai berikut:
a. Dinamis ABsolut, adanya peningkatan jumlah tabungan pemerintah yang diharapkan
mampu untuk menggali sumber daya dalam negeri bagi pembiayaan pembangunan.
b. Dinamis relatif, yaitu persentase ketergantungan pembiayaan perekonomian nasional
terhadap bantuan luar negeri/ utang luar negeri semakin kecil.
Sejak tahun 2001 Indonesia menggunakan tahun anggaran per 1 januari - 31 Desember untuk
tiap tahunnya, dan selama tahun 2005 Indonesia menggunakan anggaran defisit sebesar
kurang lebih 264 triliun.

http://www.zakapedia.com/2014/09/macam-macam-kebijakan-anggaran.html#_

Untuk mencapai tingkat stabilitas kegiatan perekonomian, mencegah terjadinya infasi dan
pengangguran serta menciptakan pertumbuhan eonomi yang pesat, dapat ditempuh dengan
berbagai kebijakan anggaran. Adapun macam-macam kebijakan anggaran yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut
1. Kebijakan Anggaran Seimbang
ahli ekonomi klasik berpendapat untuk mencapai tingkat ekonomi yang dikehendai,
pemerintah harus melakukankebijakan anggara keseimbangan. Artinya, anggaran belanja
negara harus sama dengan pendapatan negara. bila pemerintah ingin menaikan anggaran
belanja maka pemerintah harus menaikan pendapatan negara sesuai kenaikan belanja
tersebut. Sebaliknya, bila pendapatan negara turun maka anggaran belanja negara juga harus
diturunkan agar APBN berlangsung seimbang.
kebijakan anggran memiliki kekurangn yaitu,

Pada masa deflasi uang yang beredar lebih sedikit dari pada kebutuhan masyarakat,
harga-harga turun, produksi dan investasi turun sehingga kegiatan ekonomi turun.
Sehingga pendapatan negara yang utama berasal dari pajak akan menurun, anggaran
belanja menurun menyebabkan kegiatan akonomi menurun, memperburuk
pertumbuhan ekonomi.
Pada masa inflasi uang yang beredar melampaui batas kebutuhan masyarakat.
mengakibatkan naiknya harga-harga secara umumdan pendapatan negara meningkat.
Bila kenaikan tersebut diimbangi dengan anggaran belanja yang miningkat maka
permintaan barang dan jasa akan meningkat. Keadaan tersebut memperburuk
perekonomian , karena mendorong kelebihan permintaan yang lebih banyak dan
menaikan tingkat inflasi.

2. Kebijakan Anggaran Surplus


Arti kebijakan anggaran surplus adalah anggaran pendapatan negara lebih besar dari
anggaran belanja. Dengan demikian pemerintah memiliki tabungan. Semakin besar tabungan
maka semakin tinggi kemampuan pemerintah dalam meningkatkan dan memperluas
investasi. Selanjutnya, akan memperbanyak lapangan pekerjaan dan mendorong
meningkatkan produksi. Jadi, anggran yang surplus ini akan mempermudah mengarahkan
tingkat kegiatan ekonomi sesuai dengan yang dikehendaki pemerintah.
3. Kebijakan Anggaran Defisit
Makna kebijakan anggaran defisit adalah anggaran pendapatan negara lebih kecil dari
anggaran belanja. Jadi, terdapat kekurangan pendapatan. jika pemerintah memiliki banyak
tabungan yang dapat ditimbun sebelumnya, tabungan tersebut dapat digunakan untuk
menutup defisit.
bila pemeritah belum pernah berhutang atau hutangnya relatif sedikit, defisit APBN dapat
ditutup dengan pinjaman. Namun bila pemerintah tidak memiliki tabungan sedangkan utang
luar negeri sudah terlalu banyak, pemerintah dapat menganbil tindakan dengan cara memberi
sanksi hukum melalui pengadilan untuk memperoleh kembali aset-aset negara yang hilang.
Langkah-langkah yang ditempuh antara lain sebagai berikut;

Menyita kekayaan penunggak Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) yang telah
melanggar kesepakatan dan menyelewengkan BLBI untuk memperkaya diri.
menyita kekayaan para koruptor yang telah merugian negara dan rakyat.

kebijakan lain yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah untuk menutupi defisit APBN adalah
dengan jalan mencetak uang, namun dengan resiko kemungkinan terjadi inflasi. Untuk itu,
pemerintah perlu memperhatikan hal-hal sebagai beriut;

Bila kemungkinan tersebut mengakibatkan inflasi ringan (dibawah 10% setahun atau
maksimal inflasi sedang 10%-30% setahun), percetakan uang dapat dipertimbangkan,
asalkan tidak dibebankan kepada golongan masyarakat berpenghasilan rendah dan
miskin.
Bila kemungkinan mengakibatkan inflasi berat (30%-100% setahun atau hiper inflasi,
diatas 100%) percetakan uang utk menutupi defisit APBN sebaiknya tidak dilakukan.

4. Kebijakan Anggaran Seimbang dan Dinamis


Pengertian APBN seimbang, keadaan dimana pendapatan pemerinta dan pengeluaran
pemerintah aalah sama. adapun arti dari dinamis bahwa keadaan dimana pendapatan dan
belanja negara terus meningkat, sehingga mendorong laju pembangunan.
Meningkatkan penerimaan dilaksanakan oleh pemirintah dengan meningkatkan semua unsur
seperti pajak dan sektor penerimaan lainnya. Indonesia sangat sulit mencapai kebijakan
APBN seimbang dan dinamis. Namun, bila ada kemauan polotik yang kuat dan kerja keras,
tujuan tersebut bisa saja tercapai secara bertahap. Dengan meningatkan pendapatan negara,
menutup kebocran pembelanjaan dan menghukum para koruptor dengan hukuman maksimal.

http://karlinaaafaradila.wordpress.com/2011/02/10/kebijakan-anggaran/

KEBIJAKAN ANGGARAN
1. Pengertian Kebijakan Anggaran.
Kebijakan anggaran adalah suatu teknik untuk mengubah pengeluaran atau penerimaan
Negara saat perekonomian guncang baik karena inflasi atau deflasi.
2. Tujuan Kebijakan Anggaran.
Tujuan kebijakan anggaran adalah untuk menemukan arah, tujuan dan prioritas pembangunan
nasional serta pertumbuhan ekonomi agar sesuai propenas yang pada gilirannya
meningkatkan kemakmuran masyarakat.
3. Macam-macam Kebijakan Anggaran.
Kebijakan anggaran terbagi 4 bagian yaitu:
a. Anggaran berimbang. Adalah suatu bentuk anggaran apabila jumlah realisasi pendapatan
Negara sama dengan jumlah realisasi pengeluaran atau belanja Negara.
b. Anggaran deficit. Adalah apabila jumlah pendapatan Negara lebih kecil dari
pengeluaran/belanja Negara.
c. Anggaran surplus. Adalah apabila jumlah realisasi pendapatan Negara lebih besar dari pada
belanja Negara.
d. Anggaran dinamis. Adalah suatu bentuk anggaran apabila penerimaan Negara dari tahun
ke tahun selalu meningkat dan terbuka dan diiringi meningkatnya pengeluaran Negara, dari
sisi pemerintahan yang perlu ditingkatkan adalah penerimaan pajak, tabungan dan pinjaman
pemerintah.

http://dickyhendramulyadi.blog.com/2011/04/24/kebijakan-anggaran/

Pada dasarnya, terdapat tiga jenis kebijakan anggaran yang mungkin ditetapkan oleh
pemerintah, yaitu:
1. Anggaran Surplus
Anggaran disebut surplus bila penerimaan anggaran diperkirakan lebih besar dari pada
pengeluaran. Hal ini bisa terjadi bila perekonomian aktif sehingga pemerintah tidak perlu
mengeluarkan banyak uang untuk mendorong perekonomian. Bila perekonomian aktif, maka
pemerintah akan dapat mengumpulkan lebih banyak pajak. Misalnya, bila kondisi
perekonomian suatu perusahaan bagus, ia akan dapat membayar pajak lebih tinggi.
Perusahaan itu juga dapat mengembangkan usahanya. untuk itu, perusahaan akan
membutuhkan lebih banyak pekerja. Semakin banyak orang bekerja, berarti semakin banyak
pula pajak yang dapat diperoleh pemerintah.
Para pekerja baru ini juga akan memiliki banyak uang untuk dibelanjakan. Mereka akan
makan di restoran, nonton bioskop, membeli VCD dan kaset, serta lain-lain. dari
pembelanjaan ini, pemerintah akan memperoleh pemasukan dari pajak. Bila banyak orang
berbelanja, maka keuntungan perusahaan akan bertambah. Perusahaan dapat memperluas
usahanya dan menambah pekerja lebih banyak lagi. Begitu seterusnya. Uang yang berlebih
ini dapat digunakan untuk membayar hutang negara.
2. Anggaran Defisit
Jika aktivitas perekonomian lambat dan pengangguran meningkat, maka anggaran negara
bisa menjadi defisit. Anggaran tersebut defisit jika pengeluaran pemerintah diperkirakan
lebih besar daripada pendapatan. Peningkatan pengeluaran pemerintah itu bisa terjadi di
bidang pertahanan, kesejahteraan, transportasi dan lain-lain. Pengeluaran ini bisa
menciptakan lapangan kerja baru. Bila banyak tenaga kerja yang diserap, maka masyarakat
akan semakin mampu untuk membeli barang dan jasa. Dengan demikian, bisnis akan semakin
berkembang dan pada akhirnya bisnis akan menciptakan lapangan kerja baru.
Meskipun demikian terdapat bahaya dari anggaran defisit, yaitu munculnya inflasi karena
pengeluaran pemerintah lebih besar daripada pendapatan. Selain itu, untuk mendapatkan dana
biasanya pemerintah harus meminjam uang. Dengan demikian, utang pemerintah semakin
meningkat.
3. Anggaran Berimbang
Anggaran berimbang dipakai jika pendapatan negara diperkirakan sama dengan pengeluaran
negara.
Manajemen Utang Negara
Utang suatu negara tidak dapat dibayar sekaligus, namun harus dibayar dengan cara mencicil.
Kalaupun negara bertekad membayar semua hutang secara sekaligus, pembayaran semacam
ini dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Karena itulah suatu negara perlu melakukan
pengaturan pembayaran utang dengan cara:

1. Mempertahankan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran


2. Tidak menambah utang baru dengan membuat anggaran surplus tanpa menghambat
pertumbuhan ekonomi.

http://campusnancy.blogspot.com/2013/04/3-jenis-kebijakan-anggaran-yag.html

Kebijakan Anggaran
1. Pengertian kebijakan anggaran
Kebijakan anggaran adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam rangka
mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi melalui pengendalian pajak dan pengeluaran
pemerintah.
2. Tujuan kebijakan anggaran
a. Menciptakan stabilitas ekonomi.
b. Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
c. Menciptakan keadilan dalam pendistribusian pendapatan.
d. Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
e. menciptakan terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat.
3. Macam-macam kebijakan anggaran
a. Kebijakan Anggaran defisit
Kebijakan anggaran defisit adalah jenis kebijakan anggaran dimana pengeluaran pemerintah
lebih besar dari pada pendapatan pemerintah dalam satu tahun anggaran.
b. Kebijakan anggaran surplus
Kebijakan anggaran surplus adalah kebijakan ini menyatakan penerimaan pemerintah lebih
besar dari pada pengeluaran pemerintah.
c. Kebijakan anggaran berimbang
Kebijakan anggaran dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.
1. dinamis absolute
dinamis absolute menunjukkan adanya peningkatan jumlah tabungan pemerintah yang
diharapkan mampu untuk menggali sumber daya dalam negeri, bagi pembiayaan
pembangunan.
2. Dinamis relatif
Dinamis relatif menunjukkan adanya pensentase ketergantungan pembiayaan perekonomian
nasional terhadap bantuan luar negeri/utang luar negeri semakin kecil.

http://yhot.blogspot.com/2012/10/kebijakan-anggaran_14.html

Hubungan Kebijakan Anggaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan


Ekonomi Indonesia
Oleh : Gede Dwipa Ria Narasara

ABSTRAK
Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk yang sangat banyak ,
negara sebesar Indonesia yang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah akan terlihat kecil
jika masyarakatnya tidak sejahtera. Salah satu indikator kesejahteraan masyarakat suatu
negara adalah pertumbuhan ekonominya, walaupun pertumbuhan ekonomi bukanlah alat
satu-satunya dalam mengukur kesejahteraan masyarakat suatu negara tapi setidakya
pertumbuhan ekonomi dapat memberikan sedikit gambaran tentang kondisi sebagian besar
masyarakat di suatu negara. Salah satu faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan
ekonomi adalah kebijakan fiskal yang diterapkan di suatu negara, beberapa tahun terakhir
ini Indonesia menerapkan kebijakan defisit anggaran, kebijakan ini diharapkan dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tapi kenyataannya

harapan tersebut

tidak dapat berjalan mulus karena terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi.

PENDAHULUAN
Gambaran Umum
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam jangka panjang
yang menerangkan atau mengukur perkembangan prestasi suatu perekonomian. Dalam
kegiatan ekonomi yang sebenarnya pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan ekonomi
fiskal yang terjadi di suatu negara, seperti pertambahan jumlah dan produksi barang industri,
perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah sekolah, pertambahan produksi kegiatan
kegiatan ekonomi yang sudah ada, dan berbagai perkembangan lainnya.
Perumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat di
suatu negara, terdapat banyak faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi, beberapa
faktor tersebut yaitu :
- Tanah dan kekayaan alam lainnya
- Jumlah dan mutu dari penduduk dan tenaga kerja
- Barang-barang modal dan tingkat teknologi

- Sistem sosial dan sikap masyarakat


- Luas pasar sebagai sumber pertumbuhan
- Kebijakan pemerintah
- Ekonomi global

Kebijakan pemerintah di bidang penganggaran pada khususnya sangat erat kaitannya


dengan pertumbuhan ekonomi, ada beberapa tujuan dari kebijakan fiskal yaitu :
a. untuk menciptakan stabilitas ekonomi;
b. untuk menciptakan lapangan kerja;
c. untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi;
d. untuk menciptakan keadilan dalam mendistribusikan pendapatan.

Jika dilihat dari perbandingan jumlah penerimaan dengan jumlah pengeluaran,


kebijakan fiskal dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
a.

Kebijakan Anggaran Seimbang


Kebijakan anggaran seimbang adalah kebijakan anggaran yang menyusun
pengeluaran sama besar dengan penerimaan.

b.

Kebijakan Anggaran Defisit


Kebijakan anggaran defisit yaitu kebijakan anggaran dengan cara menyusun
pengeluaran lebih besar daripada penerimaan.

c.

Kebijakan Anggaran Surplus


Kebijakan anggaran surplus yaitu kebijakan anggaran dengan cara menyusun
pengeluaran lebih kecil dari penerimaan.

d.

Kebijakan Anggaran Dinamis


Kebijakan anggaran dinamis, yaitu kebijakan anggaran dengan cara terus menambah
jumlah penerimaan dan pengeluaran sehingga semakin lama semakin besar (tidak
statis).

Masalah
Beberapa tahun belakangan Indonesia menganut kebijakan defisit anggaran, banyak
terjadi pro dan kontra terhadap kebijakan ini, beberapa pakar ekonomi dan masyarakat
awam ada yang mengatakan bahwa kebijakan defisit anggaran bagi Indonesia saat ini
merupakan kebijakan yang sangat cocok untuk kondisi saat ini ada juga yang mengatakan
bahwa kebijakan ini malah akan berdampak buruk bagi negeri ini. Saat ini masih terdapat
masyarakat Indonesia yang masih tergolong pada kategori miskin dan hampir miskin

mungkin salah satu penyebab dari tingkat kemiskinan di Indonesia adalah kebijakan fiskal
yang diterapkan di Indonesia. Mengingat adanya kemungkinan tersebut maka perlu analisa
sejauh mana kebijakan fiskal di Indonesia dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang
sangat erat kaitannya dengan kemiskinan di Indonesia.

Tujuan
Jurnal ini dimaksudkan untuk menganalisa ada atau tidaknya hubungan antara
kebijakan fiskal yang diterapkan terhadap pertumbuhan ekonomi di negeri ini yang sangat
erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan. Setelah mengetahui keterkaitan semuanya maka
diharapkan akan ada solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sehingga dapat
mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia.

KERANGKA ANALISIS
Indonesia bisa dikatakan sebagai Negara yang sedang giat-giatnya melakukan
pembangunan. Bagi negara-negara yang sedang membangun, stabilisasi ekonomi
merupakan syarat bagi terlaksananya pembangunan ekonomi agar tujuan pembangunan
dapat tercapai secara efisien dan efektif. Apabila pembangunan ekonomi dilaksanakan
dengan kurang memperhatikan berbagai faktor faktor yang relevan maka dapat
menimbulkan ketidakstabilan ekonomi sehingga menghambat pembangunan itu sendiri.
Maka dari itu pembangunan ekonomi sangat memerlukan desain kebijaksanaan ekonomi,
baik kebijaksanaan kualitatif maupun kebijaksanaan kuantitatif. Ada dua kebijakan yang
biasa digunakan dalam ekonomi makro yaitu, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.
Kebijakan moneter merupakan kebijakan ekonomi yang terkait dengan jumlah uang yang
beredar dalam mengatasi masalah perekonomian. Sedangkan kebijakan fiskal dalam
mempengaruhi perekonomian lebih mempersentasikan pilihan pilihan pemerintah dalam
menentukan besarnya jumlah pengeluaran dan pendapatan negara yang tertuang dalam
APBN .
Kegunaan anggaran sebagai instrumen utama kebijakan fiskal memberikan
pembenaran kepada pemerintah untuk melakukan campur tangan guna mempengaruhi
pertumbuhan dan tingkat aktivitas ekonomi melalui pemberian stimulus fiskal, baik dari sisi
pendapatan maupun dari sisi belanja.
Terjandinya krisis ekonomi 1998 membuat pemerintah mengalami defisit finansial.
APBN mengalami penurunan pendapatan secara drastis namun pengeluaran semakin tinggi

akibat besarnya beban penangulangan krisis. Sehingga terjadi krisis fiskal di Indonesia yang
ditandai dengan meningkatnya belanja pemerintah terutama untuk kewajiban kontinjensi.
Keadaan di atas membuat pemerintah Indonesia terbelit beban utang yang berat untuk
menutup defisit APBN. Utang pemerintah bertambah menjadi tiga sampai empat kali lipat
dari kondisi sebelum krisis, dan hampir tiga perempat dari pertambahan ini merupakan
utang dalam negeri yang harus dibayar untuk restrukturisasi perbankan (. Kewajibankewajiban penutupan utang (bunga dan amortisasi) melebihi 40 persen penerimaan
pemerintah selama beberapa tahun terakhir, sedangkan kebutuhan pembiayaan baru (baik
dari luar maupun dalam negeri) di tahun-tahun mendatang masih tetap dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan belanja.
Pascakrisis Indonesia masih bergantung pada utang dalam negeri guna membiayai
defisit APBN. Namun untuk utang dari luar negeri digunakan untuk pembangunan di dalam
negeri, seperti pembangunan infrastruktur, industri, pencapaian Millenium Development
Goals (MDGs) dan pinjaman untuk program lainnya. Defisit anggaran yang terjadi sangat
membatasi ruang gerak pemerintah dalam melakukan pembangunan di dalam negeri.
Perhatian terhadap utang dan defisit memiliki arti penting dalam analisis keuangan
pemerintah. Hal ini disebabkan karena defisit yang dibiayai dengan surat utang akan
menimbulkan efek crowding-out. Pinjaman yang dilakukan pemerintah terhadap publik akan
berakibat pada berkurangnya investasi swasta. Hal ini disebabkan penurunan cadangan
dana publik yang akan diikuti oleh meningkatnya tingkat bunga. Dengan biaya modal yang
tinggi, investasi swasta menjadi tertekan dan pertumbuhan ekonomi akan menurun.
Defisit fiskal juga dapat berdampak negatif terhadap perekonomian secara
keseluruhan. Efek yang dapat ditimbulkan oleh ekspansi anggaran pemerintah yang
terlampau eksesif adalah terjadinya pelarian modal (capital flight) ke luar negeri. Dalam
jangka pendek, defisit yang dibiayai dengan utang luar negeri dan juga utang dalam negeri
beban ekonominya bisa berakumulasi menjadi semakin besar. Konsekuensinya, dalam
jangka panjang, akan timbul pergeseran beban utang ke generasi yang akan datang.
Selain masalah defisit anggaran, aspek lain yang penting adalah masalah sinkronisasi
kebijakan fiskal dengan siklus bisnis perekonomian .Idealnya, kebijakan fiskal memiliki sifat
sebagai automatic stabilizer perekonomian, artinya dalam kondisi perekonomian sedang
mengalami

ekspansi,

maka

pengeluaran

pemerintah

seharusnya

berkurang

atau

penerimaan pajak yang bertambah. Sebaliknya, jika perekonomian sedang mengalami


kontraksi, kebijakan fiskal seharusnya ekspansif melalui peningkatan belanja atau
penurunan penerimaan pajak. Dengan demikian, automatic stabilizer kebijakan fiskal
mensyaratkan adanya fungsi countercyclical dari kebijakan fiskal.

Secara teoritis kebijakan fiskal dalam model ekonomi makro dirumuskan melalui
pengeluaran pendapatan nasional kotor

(gross

national income) yang

bertujuan

mempengaruhi sektor investasi saving ( IS) sehingga mampu mempengaruhi agregat


demand (AD) nasional, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Y=C+I+G+EM
Saat subsidi di hapuskan maka pengeluaran pemerintah ( G ) akan turun, dan
pendapatan agregat ikut turun. Agar penghapusan subsidi tidak membuat Y terlalu turun,
maka dana subsidi dipindahkan ke sektor lain yang dapat diserap kembali kas negara, yaitu
investasi. Dana subsidi yang biasa digunakan untuk mengurangi harga BBM dan beberapa
kebutuhan pokok agar tetap terjangkaau di alokasikan untuk pembangunan kawasan
industri yang ditopang oleh infrastruktur penunjang dan pelatihan bagi tenaga SDM yang
akan mengelola hal tersebut.
Anggaran subsidi yang di pindahkan ke investasi melalui pembangunan industri
industri dalam negeri tersebut dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak sehingga dapat
mengurangi pengangguran terdidik maupun tidak terdidik.

Data Perbandingan Antara Deficit Angaran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi


TAHUN

DEFISIT ANGGARAN

PERTUMBUHAN

TINGKAT

(DALAMTRILYUNAN

EKONOMI

KEMISKINAN

RUPIAH)
2008

-4,12

6,1

15,42

2009

-88,62

4,5

14,15

2010

-46,85

6,1

13,33

2011

-150,84

6,5

12,49

2012

-190,11

6,23

11,66

2013

-225,5

5,9%

11,70

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa pada tahun 2008 defisit APBN sebesar -88,62
trilyun rupiah dan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,5 % lalu tingkat kemiskinan
berada di kisaran angka 14,15 %, pada tahun berikutnya yaitu tahun 2009 defisit anggaran
bertambah besar menjadi -88,62 trilyun, pertumbuhan ekonomi turun menjadi berada di

kisaran 4,5% tapi tingkat kemiskinan pun menurun menjadi 14,15%, pada tahun berikutnya
yaitu tahun 2010 defisit anggaran diturunkan menjadi -46,85 trilyun, pertumbuhan ekonomi
malah meningkat menjadi 6,1% dan tingkat kemiskinan pun turun menjadi 13,33%, pada
tahun selanjutnya yaitu tahun 2011 defisit anggaran melonjak drastic menjadi 150,84 trilyun
pertumbuhan ekonomi naik menjadi 6,5 % lalu tingkat kemiskinan kembali berhasil
diturunkan menjadi 12,49%, lalu pada tahun 2012 defisit anggaran meningkat lagi menjadi 190,11 trilyun kali ini pertumbuhan ekonomi malah menurun menjadi 6,23% tapi tingkat
kemiskinan tetap berhasil diturunkan menjadi 11,66%, lalu pada tahun 2013 kembali terjadi
peningkatan deficit anggaran menjadi 225,5 trilyun kali ini pun pertumbuhan ekonomi
kembali menurun menjadi 5,9% dan ternyata tingkat kemiskinan meningkat menjadi 11,70
%
Hal di atas mengindikasikan bahwa deficit anggaran sangat berpengaruh pada
pertumbuhan ekonomi, ketika deficit anggaran membesar pertumbuhan ekonomi relatif
stabil tapi tetap mengalami penurunan, untungnya penurunan pertumbuhan ekonomi
tersebut tidak terlalu signifikan sehingga tetap dapat menekan angka kemiskinan.
Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak saja efek dari kebijakan fiskal yang
ditetapkan pemerintah tapi juga terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi turunnya
pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut, misalnya saja efek dari perekonomian global,
kebijakan negara lain yang berhubungan dengan Indonesia, harga komoditi luar negeri yang
dikonsumsi di dalam negeri, dan terdapat banyak lagi faktor lain yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi.

Perbandingan Data Belanja Pemerintah dan Tingkat Inflasi


TAHUN

BELANJA PEMERINTAH (DALAM TRILYUNAN

TINGKAT INFLASI

RUPIAH)

(%)

2011

1.294.999,2

3.79

2012

1.548.310,4

4.30

2013

1.683.011,1

8,38

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa belanja pemerintah dari tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013 selalu meningkat, demikian pula dengan tingkat inflasi yang semakin
meningkat, hal ini disebabkan karena defisit anggaran tersebut digunakan untuk melakukan
pembangunan di berbagai sektor dengan harapan dapat meningkatkan pertumbuhan

ekonomi nasional walaupun kenyataannya berbeda dengan harapan. Pembangunan yangn


dilakukan pemerintah menyebabkan peredaran uang di masyarakat melimpah sehingga
menyebabkan inflasi. Dampak inflasi yang semakin tinggi malah menyebabkan efek yang
semakin buruk yang dapat memperparah penurunan pertumbuhan ekonomi. Jika kita lihat
pertumbuhan ekonomi tahun 2013 pada tabel I maka terdapat penurunan pertumbuhan
ekonomi

dari 6,23% menjadi 5,9% salah satu penyebab dari turunnya pertumbuhan

ekonomi ini adalah tingkat inflasi yang sangat besar pada tahun 2013 yaitu 8,38%

KESIMPULAN
1.

Pada beberapa tahun terakhir ternyata Indonesia menggunakan kebijakan defisit


anggaran;

2.

Kebijakan defisit anggaran tersebut diharapkan oleh pemerintah dapat meningkatkan


pertumbuhan ekonomi tapi ternyata tidak berjalan semulus yang diharapkan;

3.

Kebijakan fiskal sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi yang dapat


memberikan efek pada tingkat kemiskinan;

4.

Pada situasi tertentu misalnya jika perekonomian sedang dalam keadaan kontraksi,
defisit anggaran dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi (ceteris paribus), akan
tetapi hal itu tetap bergantung pada hal-hal lain berhubungan dengan perekonomian;

5.

Jika ekonomi nasional sedang dalam keadaan ekspansi maka defisit anggaran yang
terlalu besar justru akan memperparah keadaan ekonomi ditandai dengan adanya
penurunan pertumbuhan ekonomi

6.

Kebijakan fiskal bukan satu-satunya variable yang dapat menunjukkan hubungan yang
sebanding dengan pertumbuhan ekonomi.

7.

Kebijakan defisit fiskal juga sangat berpengaruh pada peningkatan inflasi di Indonesia
yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi

8.

Defisit anggaran yang terlalu besar ternyata dapat meningkatkan inflasi, lalu inflasi yang
terlalu besar ternyata dapat memperparah keadaan ekonomi nasional yang
menyebabkan semakin parahnya penurunan pertumbuhan ekonomi.
SARAN

1. Hendaknya pemerintah berhati-hati dalam menerapkan kebijakan fiskal karena terdapat


banyak faktor

yang

harus dipertimbangkan agar pertumbuhan ekonomi dapat

ditingkatkan
2. Pemerintah harus terus memantau rasio hutang agar tidak melakukan kesalahan dalam
menerapkan kebijakan defisit anggaran, jika terjadi kesalahan maka akan terjadi
kegagalan pembayaran hutang dan menyebabkan kekacauan perekonomian

3. Pemerintah harus benar-benar tepat dalam menganalisa apakah perekonomian sedang


aktif atau sedang lesu sehingga pemerintah dapat mengambil keputusan yang tepat
apakah menggunakan kebijakan defisit anggaran atau surplus anggaran
4. Pemerintah harus tepat menggunakan Kebijakan fiskal agar dapat memperkecil tradeoff
antara pembangunan yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
inflasi
DAFTAR PUSTAKA
Sadono, Sukirno . Makroekonomi Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta. Rajagrafindo Persada. 2012
www.bps.go.id
http://yantiruby.blogspot.com/2013/05/kebijakan-fiskal.html

https://www.academia.edu/7824787/Hubungan_Kebijakan_Anggaran_Pemerintah_Terhadap_Pertu
mbuhan_Ekonomi_Indonesia