Anda di halaman 1dari 3

Faktor resiko penyebab pedofilia

Faktor risiko adalah faktor yang dapat berkontribusi untuk terjadinya suatu masalah atau
kejadian. Variabel dalam faktor risiko secara bermakna mempunyai asosiasi dengan hasil
akhir yang buruk. Faktor-faktor risiko terhadap kejadian child abuse dapat dibedakan menjadi
tiga faktor yaitu, faktor eksternal dan internal.
1) faktor eksternal
- lingkungan keluarga
Pada saat ini di kota besar terkadang dapat dikatakan bahwa keluarga kita pada umumnya
tidak sempat lagi memperhatikan kebutuhan remaja akan penerapan moral dan pendidikan
agama pada putra-putrinya, selain itu diakibatkan tidak harmonisnya hubungan antara anak
remaja dengan orang tua. Misalnya akibat broken home atau orang tua tinggalnya berjauhan
padahal pada saat tertentu remaja sangat membutuhkan orang tua tetapi mereka tidak
disisinya.
- lingkungan sosial
Terjadi perubahan sosial dapat menyebabkan pergeseran nilai-nilai pada remaja. Perkenalan
remaja dengan seks sesungguhnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Perkenalan tersebut
akibat dari lingkungan yang mendorong mereka tidak hanya mengenal seks tetapi sekaligus
mempraktekkan hubungan seks diluar nikah. Para remaja mungkin bisa memalingkan muka
atau mematikan tv, vcd yang menayangkanfilm dengan adegan kissing atau berkumpul di tepi
pantai. Adegan-adegan itu mereka saksikan hampir setiap hari pada saatnya mereka
seharusnya belajar dan beribadah.
- lingkungan sekolah
Masalah seksual pada remaja mungkin terjadi karena kegagalannya sekolah formal untuk
mensosialisasikan nilai moral dan agama yang akan membentuk disiplin para remaja. Pada
saat ini lembaga-lembaga pendidikan agaknya lebih banyak memusatkan muatan pengajaran
pada masalah iptek dan kurang memaksimalkan masalah-masalah moralitas.
- penundaan usia perkawinan
Taraf pendidikan yang semakin tinggi di masyarakat, maka semakin tertunda kebutuhan
untuk melaksanakan perkawinan misalnya belum menyelesaikan studi karena tuntunan orang
tua, belum mendapatkan pekerjaan yang jelas, hal ini dapat berakibat buruk jika seseorang
yang sudah waktunya menikah belum menikah. Di lain pihak terdapat norma sosial yang
semakin lama semakin menuntut persyaratan yang semakin tinggi untuk perkawinan,
misalnya pendidikan, pekerjaan dan batas usia minimum dalam menikah.
- tabu-larangan
pada kalangan remaja, remaja cederung mempunyai rasa ingin tahu yang lebih. Sehingga
meskipun ada hal yang dilarang, mereka akan mencoba untuk mengetahui kenapa hal itu
dilarang.
- pergualan bebas
Adanya kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria dan wanita dalam
masyarakat dengan tidak mematuhi aturan dan norma yang berlaku. Dengan mudah kita
dapat melihat perilaku penyimpangan seksual. Terlebih ada mitos beredar di masyarakat
bahwa seorang pria akan awet muda jika melakukan hubungan seksual dengan orang yang
lebih muda. Oleh karena itu, mereka akan cenderung mencoba kepada anak kecil.

2) Faktor Internal

Menurut sarwono ( 1990:149 ) penyebab remaja melakukan penyimpangan perilaku seksual


antara lain :
- meningkatkan libido seksual
Kematangan organ kelamin mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual yang
menyebabkan menegangnya alat kelamin, sehingga untuk melepaskan ketegangan itu remaja
melakukan hubungan seksual. Dalam tubuh remaja diproduksi zat hormon kelamin yang
mempunyai pengaruh pada alat-alat kelamin sehingga timbul dorongan seksual pada remaja.
Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah
laku seksual tertentu.
- kurangnya informasi tentang seks
Dengan adanya teknologi yang canggih melalui media massa yang tidak terbendung akan
mengakibatkan pengaruh buruk bagi remaja seperti buku-buku cabul, film porno, melihat
praktek seksual dan lain-lain. Remaja dalam melihat teknologi yang canggih itu, ingin tahu
dan mencoba atau meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Hal ini dikarenakan belum
mengetahui masalah seksual dari orang tuanya yang mempunyai pandangan bahwa seks itu
tabu, sehingga mereka mencari informasi seks secara sembunyi-sembunyi dan belum jelas
kebenarannya.
-

Susunan Kromosom
Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang
berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom X dari ibu dan satu kromosm
X dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom X dari ibu dan satu
kromosom Y dari ayah. Kromosom Y adalah penentu seks pria. Jika terdapat kromosom
Y, sebanyak apapun kromosom X, dia tetap berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada
pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu XXY. Dan
hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang
mempunyai kromosom 48 XXY. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada
pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.
Ketidakseimbangan Hormon
Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki
oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat
sedikit. Tetapi apabila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron
yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan
seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.
Struktur Otak
Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males
terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas Straight
females terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas., otak antara bagian kiri
dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay males, struktur otaknya sama
dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight
males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.
Kelainan susunan syaraf
Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf otak
dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan
syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.

(http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/19/jhptump-a-budisasono-924-2-babii.pdf)