Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.3 Latar Belakang


Crustacea adalah fillum Arthropoda yang sebagian besar hidup di laut dan
bernapas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalo), dada (thorax), dan
perut (abdomen). Kepala dan dada bergabung membentuk kepala-dada (chepalothorax).
Kepalanya biasanya terdiri dari lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka
mempunyai dua pasang antena, sepasang mandibel (mandible) atau rahang dan dua
pasang maksila (maxilla). Beberapa diantaranya digunakan untuk berjalan. Ruas
abdomen biasanya sempit dan lebih mudah bergerak dari padakepala dan dada. Ruasruas tersebut mempunyai embelan yang ukurannya sering mengecil (Nontji, 1993).
Crustacea mempunyai kulit (cangkang) yang keras disebabkan adanya endapan
kalsium karbonat pada kutikula. Semua atau sebagian ruas tubuh mengandung apendik
yang aslinya biramus. Bernapas dengan insang atau seluruh permukaan tubuh. Kelenjar
antena (kelenjar hijau) atau kelenjar maxilla merupakan alat ekskresi. Kecuali jenisjenis tertentu, crustacea pada umumnya dioecious, pembuahan di dalam. Sebagian besar
mengerami telurnya. Tipe awal larva crustacea pada dasarnya adalah larva nauplius
yang berenang bebas sebagai plankton (Ghufronet al, 1997).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana klasifikasi pada klas crustacea ?
1.2.2 Bagaimana sistem Pencernaan Crustacea ?
1.2.3 Bagaimana sistem reproduksi pada klas crustacea ?
1.2.4 Bagaimana sistem peredaran darah dan pernafasan pada klas crustacean ?
1.2.5 Bagaimana sistem syaraf pada klas crustacea ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui klasifikasi pada klas crustacean
1.3.2 Untuk mengetahui sistem pencernaan klas crustacea
1.3.3 Untuk mengetahui sistem reproduksi pada klas crustacean
1.3.4Untuk mengetahui sistem peredaran darah dan pernafasan pada klas crustacean
1.3.5 Untuk mengetahui sistem syaraf pada klas crustacean

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Pada Klas Crustacea


2.1.1 Crustacea Udang
Udang laut menjalani dua fase kehidupan yaitu fase di tengah laut dan fase di
perairan muara. Fase di tengah laut adalah fase dewasa, kawin, dan bertelur. Beberapa
saat sebelum kawin, udang betina terlebih dahulu berganti kulit. Setelah mengalami
pergantian kulit beberapa kali, kemudian menjadi zoea. Pada stadium zoea, larva mulai
mengambil makanan dari sekitarnya. Giliranselanjutnya, bentukzoea akan berubah lagi
menjadi mysis. Dari stadium mysis, larva bermetamorphosis menjadi stadium post
larva. Anakan udang yang bersifat planktonik ini kemudian beruaya (migrasi) kepantai,
cenderung keperairan muara sungai (Nontji, 1993).
Udang terutama jenis laut memiliki aneka warna yang indah dengan adanya
pigmen dalam eksoskeleton. Beberapa jenis dapat mengadaptasikan diri dengan berubah
warna sesuai warna lingkungannya, misalnya udang yang hidup di antara ganggang laut
berwarna kuning kehijauan olive yellow denagn bercak-bercak. Ukuran bervariasi
dari beberapa millimeter sampai lebih dari 50 cm (Suwignyo, 2005).
Menurut Sterrer (1986), udang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Crustaceae

Sub Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Family

: Palaemonoidae
Penaeidae

Genus

: Macrobranchium
Caridina
Penaeus
Metapenaeus

A) Klass Branchiopoda
1. Ordo Anostraca
Anostraca dan notostraca berenang dengan lemah gemulai dan anggun, lambat
atau cepat, atau beristirahat di dasar perairan. Kaki yang banyak dan langsing
merupakan alat renang. Anostraca mempunyai keiasaan berenang terbalik. Notostraca
acapkali merayap atau meliang pada permukaan substrat yang lembut. Pada
conchostraca, antenna kedua merupakan alat renang utama, sedang kaki-kakinya kurang
berperan. Conchostraca acapkali meliang atau merayap dengan kikuk di permukaan
substrat
Klasifikasi :
Filum

: Arthropoda

Subphylum

: Crustacea

Kelas

: Branchiopoda

Ordo

: Anostraca

(gambar 1 : Anostraca)

Ordo anostraca sebagian besar termasuk feeder filter. Panjang tubuhnya sekitar 1
hingga 3 cm, tetapi beberapa spesies, seperti Branchinecta gigas dapat tumbuh hingga
10 cm. Tubuh tidak memiliki karapaks (cangkang keras atau tulang). Anostraca betina
berwarna orange gelap, merah atau biru. Kebanyakan anggota anostraca memiliki jenis
kelamin terpisah. Pada jantan kedua antenanya bermodifikasi menjadi organ yang
berfungsi untuk menangkap betina saat kawin. Tubuh dapat dibagi menjadi tiga bagian
yang berbeda : kepala, dada dan perut. Memiliki mata majemuk dan dua pasang
antenna. Telur dikelilingi oleh dinding tebal yang memungkinkan mereka untuk

bertahan dari kekeringan dan suhu tinggi. Mereka memakan bahan organik, seperti
detritus, alga, protozoa, dan bakteri Branchinecta gigas. Kepalanya mengandung
kelenjar pencernaan.
Berikut anatomi tubuh anostraca:pada gamabar 2

(gambar 2 )

Anostraca biasa dijumpai di kolam, danau dan air laut. Beberapa spesies dapat
ditemukan pada danau dan gunung. Sementara yang lain, terutama Artemia ditemukan
di laut di seluruh benua, kecuali Australia, dan Parartemia hanya di Australia. Spesies
Thamnocephalus ditemukan di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Spesies
Dendrocephalus ditemukan di Amerika Selatan. Spesies Branchipodopsis ditemukan di
Afrika Selatan. Dan spesies Streptocephalus dan Branchinella ditemukan di perbukitan
timur laut Thailand.
Sistem reproduksi pada anostraca termasuk biseksual. Mereka bertelur. Pada
jantan, kedua antena telah termodifikasi menjadi organ yang digunakan untuk menahan
betina selama kopulasi. Selain itu, anostracans jantan memiliki dua penis. Daur
hidupnya melalui 3 fase. Yang pertama fase kista (telur), merupakan suatu kondisi
istirahat pada hewan crustacea tingkat rendah seperti artemia. Yang kedua, fase
nauplius, merupakan fase dimana embrio anostraca

masih terbungkus selaput

penetasan. Dan yang terakhir fase dewasa, dimana pada fase ini larva mulai dapat
berenang bebas di perairan.

( gambar 3: Anostraca betina )

(gambar 4: Anostraca jantan)

Anostraca memiliki beberapa manfaat, diantaranya:


a.Telurnya dapat digunakan sebagai sumber utama protein hewani dan pakan ikan.
Misal: Telur Artemia.
b.Spesies Streptocephalus dan spesies Branchinella dapat digunakan dalam berbagai
hidangan lokal.
Berikut beberapa contoh spesies Anostraca:
a. Family Streptocephalidae, contoh: Streptocephalus seali Ryder.
b.Family Chirocephalidae, contoh: Artemiopsis stephanssoni Johansen, Eubranchipus
bundyi Forbes, Eubranchipus ornatus Holmes, dan Eubranchipus intricatus HartlandRowe
c. Family Artemiidae, contoh: Artemia franciscana Kellogg
d.Family Branchinectidae, contoh: Branchinecta campestris Lynch, Branchinecta
coloradensis Packard, Branchinecta gigas Lynch, Branchinecta lindahli Packard,
Branchinecta mackini Dexter, dan Branchinecta paludosa Muller

B) Klass Maxillopoda
1. Ordo Copepoda
Copepoda berasal dari bahasa Yunani yaitu Kope = "dayung" dan Podos = "kaki".
Oleh karena itu Copepod = berdayung kaki, yang mengacu pada sepasang kaki yang
sama yang bergerak bersama-sama. Copepoda merupakan kelompok entomostraca
dengan jumlah spesies terbesar, yaitu sekitar 12.000 spesies dan sebagian besar hidup
bebas dan sekitar 25%-nya sebagian ektoparasit. Kebanyakan Copepoda terdapat di laut
dan sebagian lagi di air tawar, baik sebagai plankton maupun fauna interstisial.

Beberapa spesies hidup dalam hamparan lumut dan humus. Rata-rata ukurannya antara
0,5-15 mm tetapi ada yang dapat mencapai 25 cm yang biasanya sebagai parasit,
misalnya Panella sebagai ektoparasit pada ikan laut dan ikan hiu.
Klasifikasi :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthtropoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Maxillopoda

Subkelas

: Copepoda

Tubuh kelompok ini berbuku-buku dengan bentuk pipih memanjang dan berkaki
pendek dimana anterior lebih lebar. Bentuk dewasa mempunyai sebuah alat
penginderaan pertama yaitu antena yang tersusun dari banyak segmen. Sedangkan
antena kedua berfungsi untuk memegang. Pada daerah oral tubuh, dari beberapa
kelompok yang termasuk parasit Copepoda termodifikasi sebagai mulut yang berbentuk
pipa (mouth-tube) yang berfungsi untuk menyedot makanan, dengan mandibula
berbentuk seperti parutan dibagian dalamnya.
Anatomi tubuh Copepoda (dapat dilihat pada gambar 5).

(gambar 5 )
Adaptasi secara morfologis yang terjadi pada parasit Copepoda berupa tambahan
Cephalothorax yang kompleks pipih memanjang dan bagian ventral cembung dengan
sebuah lempeng penghisap (sucking disc). Selain itu ada yang mempunyai struktur
seperti jangkar, berfungsi untuk menjaga parasit agar tetap menempel pada hospes
selama hidupnya. Contohnya pada Lernaecopodidae dan bangsa Siphonostomatoida.
Copepoda dewasa berukuran antara 1 dan 5 mm. Bagian depan meliputi 2 bagian yakni

cephalotoraks dan abdomen yang lebih kecil dibandingkan cephalotoraks. Pada bagian
kepala memiliki mata di bagian tengah dan antenna yang pada umumnya sangat
panjang. Copepoda yang bersifat planktonik pada umumnya suspension feeders.
Copepod dibagi menjadi 10 ordo, yaitu: Calanoid, Harpacticoid, Cyclopoid,
Gelylloida,

Harpacticoida,

Misophrioida,

Monstrilloida,

Platycopioida,

Poecilostomatoida, Siphonostoida, dan Argulidae. Sebagian besar anggota dari


Copepoda adalah parasit pada invertebrata lain atau ikan. Kelompok-kelompok parasit
menunjukkan sejumlah besar keanekaragaman morfologi dan memiliki spesialisasi yang
luar biasa banyak untuk gaya hidup mereka parasit. Tiga kelompok yang paling sering
hidup bebas,yaitu Calanoida, Harpactacoida, dan Cyclopoida. Para Harpactacoida
bersifat bentik terbukti dengan berbentuk ulat mereka (berbentuk cacing). Para
Calanoida dan Cyclopoida bersifat planktonik dan keduanya sangat penting dalam
jaring makanan pada ekosistem.
Copepoda berenang menggunakan kaki renang dengan gerakan yang sangat cepat
dan menyentak-nyentak (jerky sudden motions). Bila gerakan kaki renang berhenti,
maka antena pertama (antenul) membuka ke arah lateral supaya tidak tenggelam. Bila
sedang berenang, antenul mengarah ke belakang.
Kebanyakan copepoda planktonik di luar terdapat pada lapisan permukaan sampai
kedalaman 50 m, namun banyak spesies dijumpai sampai 2.000 m, bahkan beberapa
spesies lebih dalam lagi. Banyak spesies copepoda melakukan migrasi vertikal, dan
dalam hal ini dipengaruhi cahaya. Harpacticoida dan cyclopoida penghuni dasar
perairan merayap atau meliang (burrow) dalam substrat menggunakan kaki thorax dan
gerak undulasi tubuh. Banyak harpacticoida hidup sebagai fauna interstisial mempunyai
tubuh langsing dan antenna yang pendek.
Copepoda planktonik umumnya bersifat filter feeder dan memakan plankton.
Banyak pula jenis yang menangkap organisme lebih besar disamping sebagai filter
feeder, bahkan beberapa spesies merupakan predator. Beberapa jenis Cyclopoida seperti
beberapa spesies Cyclops juga predator. Kebanyakan Harpaticoid benthic memakan
bakteri dan detritus. Cadangan makanan dalam bentuk butir-butir minyak merupakan
penyebab utama warna merah cerah pada beberapa spesies Diaptomus.

Habitat copepoda bermacam-macam, antara lain:


a). Habitat Laut
Meskipun copepoda dapat ditemukan hampir di mana air tersedia tetapi sebagian
besar yang dikenal hidup di laut. Karena mereka adalah biomassa terbesar di lautan.
Beberapa menyebut mereka serangga laut. Mereka berkeliaran bebas air, liang melalui
sedimen di dasar laut, ditemukan pada flat pasang surut dan dalam parit laut dalam.
Setidaknya sepertiga dari semua spesies hidup sebagai asosiasi, commensals atau parasit
pada invertebrata dan ikan. Salah satu hotspot keanekaragaman spesies terumbu karang
tropis di IndoPacific. Beberapa spesies karang adalah host untuk sampai dengan 8
spesies copepoda. Seperti flat pasang mangrove berkerumun dengan kehidupan
copepoda .
b). Habitat Air Tawar
Spesies dari Calanoida, Cyclopoida dan Harpacticoida telah berhasil dijajah
semua jenis habitat air tawar dari sungai kecil untuk danau gletser tinggi di Himalaya.
Meskipun keanekaragaman jenis di air tawar tidak setinggi dalam kelimpahan laut
copepoda terkadang cukup besar untuk noda air. Bahkan di air tanah copepoda khusus
telah berevolusi. Beberapa spesies copepoda dapat ditemukan pada musim gugur daun
hutan basah atau di tumpukan kompos basah, kadang-kadang dalam kepadatan cukup
tinggi. Lainnya tinggal di lumut gambut atau bahkan dalam phytothelmata (kolam kecil
terbentuk di axils meninggalkan tanaman) dari bromeliad dan tanaman lainnya.
Copepoda dapat bertahan hidup degan baik pada berbagai habitat karena dapat
bertahan pada perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim. Hidup pada salinitas 25
sampai 35 ppt dan pada suhu 17-30C pada PH 8.
Copepoda (copepodit dan copepoda dewasa) juga dipercaya memiliki level enzim
pencernaan yang lebih tinggi dan berperan penting untuk menunjang kebutuhan nutrisi
larva. Padahal pada fase awal dari larva ikan-ikan laut belum memiliki perkembangan
pada sistem pencernaan dan yang lebih dipercaya berperan hanyalah cadangan makanan
exogenous (pakan dari luar) sebagai cadangan makanan alami untuk organisme. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Pederson (1984 dalam Lavens dan Sorgeloos, 1996),
yang menguji pencernaan pada awal pemeliharaan larva, dan ditemukan bahwa
copepoda lebih cepat tercerna dan cepat melewati usus serta lebih bagus tercerna
dibandingkan Artemia.

Copepoda kaya akan protein, lemak, asam amino esensial yang dapat
mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh serta mencerahkan warna
pada udang dan ikan. Keunggulan copepoda juga telah diakui oleh para peneliti, karena
kandungan DHA-nya yang tinggi, dapat menyokong perkembangan mata dan
meningkatkan derajat kelulushidupan larva. Copepoda juga mempunyai kandungan
lemak polar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Artemia sehingga dapat
menghasilkan pigmentasi yang lebih baik bagi larva ikan.
Copepoda hidup bernafas dengan permukaan tubuh. Kelenjar makila merupakan
alat ekskresi. Tidak ada jantung ataupun pembuluh darah. Darah beredar dalam
hemocoel karena adanya gerakan otot, apendik saluran pencernaan. Hanya calanoid
yang mempunyai jantung semacam kantung. Susunan syaraf terpusat, dan benang syaraf
tidak melewati thorax. Copepoda yang hidup sebagai parasit lebih dari 1000 spesies.
Kebanyakan sebagai ektoparasit, namun banyak juga sebagai endoparasit dalam tubuh
polychaeta, usus leli laut, saluran pencernaan tunica dan kerang, bahkan pada crustacea
lain. Endoparasit acapkali tidak mempunyai mulut, dan makanan diabsorbsi langsung
dari inang.

2. Ordo Ostracoda
Berbagai cara makan ada pada Ostracoda. Jenis herbivore memakan ganggang;
jenis karnivora memakan crustacean kecil, siput kecil dan annelida; jenis scavengers
memakan bangkai dan detritus organic; jenis filter feeder menyaring makanan.
Gygantocypris selain memakan Crustacea, dapat menangkap ikan kecil dengan
antenanya.

Kecuali beberapa jenis, umumnya Ostracoda bernafas dengan permukaan tubuh.


Luminescence terdapat pada 3 jenis Ostracoda laut yaitu Cypridina, Vargula dan
Conchoecia. Cahaya kebiruan dipancarkan sekejap-kejap selama satu sampai dua detik.
Reproduksi seksual, dioecious, terjadi kopulasi, pembuahan di dalam. Telur yang
telah dibuahi dierami dibawah karapas atau dilekatkan pada substrata tau tumbuhan air,
satu per satu atau berkelompok. Telur menetas menjadi larva nauplius yang juga
mempunyai dua keeping cangkang seperti induknya. Cypridae air tawar biasanya

berkembangbiak secara parthenogenesis dan beberapa spesies tidak pernah terdapat


jantan. Ostracoda kurang disukai ikan hias.
Hidupnya di air laut dan air tawar. Beberapa jenis diantaranya hidup sebagai
plankton.
Ordo:
Myodocopa, contoh: Cypridina sp.
Cladocopa, contoh: Polycope sp.
Podocopa, contoh: Cypris sp.
Platycopa, contoh: Cytherella sp.
Palaeocopida, contoh: spesies fosil
( lihat pada gambar 3 )

( gambar 6 )

3. Ordo Cirripedia
Cirripedia merupakan salah satu ordo yang termasuk dalam Entomostraca atau
Crustacea rendah. Tubuhnya terdiri dari kepala dan dada yang ditutupi karapaks
berbentuk cakram yang hidup melekat di laut. Cirripedia bersifat parasit dengan cara
hidupnya yang beranekaragam.

Klasifikasi :
Kerajaan

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Mandibulata

Kelas

: Crustacea

Subclass

: Cirripedia

( gambar 7 : Cirripedia )
Teritip sering diabaikan karena kita lebih tertarik pada hewan-hewan laut yang
berwarna-warni. Teritip biasa dikenal dengan nama barnakel. Mereka dianggap sebagai
salah satu makhluk hidup tertua di bumi, karena diperkirakan hidup jutaan tahun yang
lalu. Teritip merupakan crustacea yang mirip dengan kepiting dan udang. Mereka
termasuk dalam kelas Cirripedia.
Teritip memiliki 6 tentakel yang digunakan untuk menangkap makanan yang
disebut dengan cirri. Enam tentakel tersebut dilengkapi dengan bulu-bulu yang
berfungsi untuk menarik air ke dalam cangkang, sehingga mereka bisa makan. Teritip
mengeluarkan tentakel dan memperluas bulu-bulunya ketika air laut pasang. Bulu-bulu
tersebut tersegmentasi untuk mengumpulkan plankton dari air. Setelah mendapatkan
makanan, tentakel membentuk seperti sendok dimana partikel-partikel makanan yang
didapatkan diteruskan ke mulut. Tentakel kedua digunakan untuk menyaring kadar
polusi dan mendeteksi perubahan kondisi air, sehingga mereka bisa hidup meskipun
kondisi air tidak baik.

Anatomi tubuh Cirripedia :

(gambar 8 : tubuh cirripedia)


Ada sekitar 1000 spesies teritip yang telah diketahui. Terkadang sulit dibedakan
dengan mollusca karena cangkang luarnya yang keras. Cangkang teritip digunakan
sebagai mantel untuk menutupi tubuhnya yang terbuat dari kalsit.
Teritip hidup sebagai sessile (menempel pada substrat). Hal tersebut dikarenakan
mereka memiliki lem dari kelenjar khusus yang mengandung protein, dimana lem
tersebut dapat mengeras dengan cepat di bawah air dan tekanan tinggi. Lem tetap dapat
melekat kuat meskipun teritip sudah mati. Mereka sering ditemukan menempel di
cangkang kepiting, ikan paus, batu, cangkang penyu, dan dinding perahu. Kerak dari
teritip dapat berkembang dengan cepat di dinding kapal. Hal ini dapat mengurangi
kecepatan kapal dan meningkatkan konsumsi bahan bakar meskipun sudah dicegah
dengan melapisi dinding kapal menggunakan cat beracun. Namun, dengan cara tersebut
teritip masih bisa hidup karena mereka dapat mengakumulasi logam berat yang berguna
sebagai bio-indikator untuk mengukur polusi air. Meskipun beberapa spesies teritip
bersifat parasit, namun sebagian besar teritip tidak berbahaya. Hal tersebut dikarenakan
teritip feeder filter. Teritip juga tidak mengganggu dan tidak merugikan hewan lain.
Panjang tubuh teritip antara 1 sampai 7 cm. Rata-rata bisa hidup 5 hingga 10
tahun. Teritip merupakan hewan hermaprodit. Tetapi mereka tidak membuahi dirinya
sendiri. Mereka juga tidak melepaskan telur dan sperma ke dalam air pada saat
bersamaan. Setelah terjadi pembuahan silang, telur akan dierami pada kantung telur
yang terdapat dalam rongga mantel.
Telur akan menetas menjadi larva naupilus. Larva ini berenang bebas. Ukurannya
sekitar 500 mikron hingga 2mm. Pada sudut-sudut depan larva terdapat duri seperti
tanduk. Larva naupilus tidak makan. Ia memiliki antena dan satu buah mata. Tubuhnya

berbentuk perisai. Juga mengalami molting (pergantian kulit) beberapa kali. Pada tahap
ini, sistem sarafnya mulai berkembang, yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan
mangsa.
Fase Nauplius( pada gambar 9 )

(gambar 9 )
Kemudian larva naupilus berkembang menjadi larva cyprid. Pada tahap ini, larva
mulai mencari dan menempel pada substrat yang cocok. Ketika menemukan substrat
yang cocok, ia akan mengeluarkan lem dari kelenjar khusus di antenanya untuk
menempelkan dirinya sebelum bermetamorfosis ke tahap dewasa. Setelah itu, ia akan
membentuk struktur yang keras seperti cangkang mollusca. Bersifat fototropik negatif
atau menjauhi cahaya. Larva ini menjelajahi permukaan substrat dengan merayap. Otak
larva cyprid cukup kompleks. Ia memiliki sistem sensori ganda yang digunakan untuk
mendeteksi tempat hidup yang sesuai.
Fase cyprid (pada gambar 10 )

( gambar 10 )

Setelah dewasa, tubuhnya bisa mencapai 7 cm. Untuk mencapai tahap dewasa,
larva teritip membutuhkan waktu lebih dari enam bulan. Karapaks sudah menyatu
dengan tubuhnya, sehingga hanya ada celah untuk jalan keluar masuk tentakel agar
tetap bisa makan serta celah untuk penis.
Fase dewasa (pada gambar 11)

( gambar 11 )
Predator teritip sangat banyak, seperti: cacing, siput, bintang laut, dan ikan. Selain
itu, teririp tidak mampu bertahan hidup apabila ada limbah minyak. Mereka juga saling
bersaing mendapatkan habitat yang layak bagi dirinya.
Teritip mengandung protein yang tinggi sehingga ia bisa dijadikan sumber
makanan bagi ikan-ikan. Fosilnya juga dapat dijadikan sebagai tempat hidup hewanhewan kecil.

C. Klass Malacostraca
1. Ordo Decapoda
1.Klasifikasi
Kerajaan

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Subphylum

: Crustacea

Class

: Malacostraca

Subclass

: Eumalacostraca

Superorder

: Eucarida

Order

: Decapoda
( lihat pada gambar 12)

( gambar 12 )

Termasuk ordo ini adalah udang dan ketam. Hewan ini mempunyai sepuluh kaki
dan merupakan kelompok udang yang sangat penting peranannya bagi kehidupan
manusia. Decapoda banyak digunakan sebagai sumber makanan yang kaya dengan
protein. Contohnya adalah udang, kepiting, ketam dan rajungan. Kepala dada menjadi
satu (cephalothorax) yang ditutupi oleh karapaks. Tubuh mempunyai 5 pasang kaki atau
sepuluh kaki sehingga disebut juga hewan si kaki sepuluh. Hidup di air tawar, dan
beberapa yang hidup di laut.
2.Sistem Pernapasan dan Peredaran Darah
Decapoda bernapas dengan insang yang terletak ditiap sisi ruas thorax.Pada
semua decapoda, air keluar melalui tepi karapas di anterior kepala, namun air masuk
sedikit bervariasi. Pada natantia, air masuk melalui berbagai sisi ventral dan posterior
tepi karapas. Pada udang karang, jenis Macrura, air masuk dari tepi posterior tepi
karapas dan sekitar pangkal kaki jalan karena tepi karapas dibagianventral melekat lebih
rapat daripada tepi karapas natantia. Pada jenis kepiting air masuk terbatas dari sekitar
pangkal karapas cheliped .
Dalam tiap sumbu insang terdapat saluran darah masuk dan saluran darah keluar.
Darah dari saluran darah masuk mengalir ketiap filamen atau lamella insang, dan
kembali ke saluran darah keluar. Pada jenis kepiting, darah dalam lamela mengalir melalui
sinus darah yang lembut. Darah decapoda mengandung pigmen pernapasan hemocyanin yang larut
dalam plasma darah. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi saat air mengalir melalui filamen
atau lamela insang. Jantung berbentuk persegi terletak dibagian dorsal thorax dan
mempunyai 3 pasang ostia. Darah keluar dari jantung melalui 5 buah arteri anterior dan
sebuah arteri abdomen di posterior. Disamping itu terdapat sebuah arteri sternum yang
keluar dari posterior jantung atau dari pangkal arteri abdomen. Arteri sternum turun ke
ventral melalui salah satu sisi saluran pencernaan dan diantara benang saraf ventral,
kemudian terbagi 2 menjadi arteri subneuron anterior dan arteri subneuron posterior.
Masing-masing arteri tersebut memasok darah ke sinus darah dalam berbagai organ
tubuh. Selanjutnya darah dari sinus-sinus tersebut dikumpulkan dalam sebuah sinus
sternum yang besar dibagian ventral thorax, kemudian darah mengalir ke insang melalui
saluran darah masuk larnea insang saluran darah keluar, kembali ke jantung melalui
sinus perikardium dan ostia.

3.Makan dan Cara Makan


Kebanyakan decapoda adalah karnivora, namun beberapa jenis hidup sebagai omnivor,
herbivor atau pemakan sampah. Jenis herbivor termasuk yang diair tawar dan darat juga
memakan

bangkai.Mangsa

atau

makanan

ditangkap

atau

dipegang

dengan

cheliped,kemudian dipindahkan ke maksiliped yang menyalurkan ke mulut. Mulut terletak agak ke


ventral dan dilengkapi (dilindungi, ditutupi) beberapa pasang apendik yang letaknya tumpang tindih.
Maksiliped ke-3 merupakan bagian terluar dan adakalanya menutup apendik-apendik yang lain.
Kepiting porselen, Petrolisthes eriomerus, beberapa jenis kelomang dan beberapa jenis
decapoda lainnya merupakan pemakan detritus-scavenger. Spesies penghuni lubang,
Callianassa penyaring plankton dan detritus dengan chalipedyang berbulu lebat. Ada
pula yang jenis filter feeder.

4.Reproduksi dan Perkembangan


Decapoda dioecious, terjadi kopulasi, beberapa jenis membentuk spermatofora
dan betina mempunyai seminal receptacle. Sepasang testis atau ovari terletak dalam
thorax,

dan

memanjang

sampai

bagian

anterior

abdomen.Banyak

decapoda

memperlihatkan perbedaan jenis jantan dan betina, misalnyahewan jantan lebih kecil
daripada yang betina, atau salah satu capit pada jantan besar sekali sedangkan pada
betina capitnya kecil, atau jantan mempunyai warna lebih indah.Pada beberapa jenis
penaeid yang tidak mengerami telur dan udang.Sergestes telur menetas menjadi larva
nauplius, meta nauplius atau protozoea. Namun pada kebanyakan decapoda laut, telur
menetas menjadi protozoea atauzoea. Tergantung habitatnya, reproduksi dan daur hidup
decapoda sangat beranekaragam. Berikut ini disajikan reproduksi daur hidup beberapa
jenis decapoda yang banyak dikenal. Jenis udang dari famili Penaeidae dalam daur
hidupnya melakukan migrasi. Udang dewasa bertelur di laut. Telur dilepas ke air dan
menjadi larva nauplius yang hidup sebagai plankton dan akan menuju tepi pantai.
Dalam perjalanannya menuju tepi pantai, nauplius mengalami metamorfosa menjadi protozoea, zoea,
mysis dan post larva.Pada musim tertentu, udang stadia mysis atau post larva dalam
jumlah sangat banyak bersama air pasang memasuki muara sungai, hutan bakau dan
tambak ikan atau tambak udang melalui pintu tambak. Daerah tersebu t merupakan
nursery ground bagi anak udang sampai stadia juvenil. Pada akhir stadia juvenile atau
menjelang dewasa, udang akan kembali ke laut untuk bertelur.

2.2 Sistem Pencernaan Crustacea


Crustacea memiliki alat pencernaan yang lengkap. Alat pencernaannya yaitu
mulut yang terletak di bagian anterior, esophagus, lambung, usus dan anus terletak di
bagian posterior. Hewan ini juga memiliki kelenjar pencernaan atau hati di bagian
chepalotoraks. Sisa hasil metabolisme dibuang melalui anus, selain itu juga dibuang
melalui alat ekskresi yang disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.
Crustacea memiliki cara makan yang beraneka ragam yaitu dengan filter feeder,
pemakan bangkai, herbivora, karnivora, dan parasit. Filter feeder dalam menyaring air
untuk mendapatkan makanan hal ini menyebabkan mandibel (rahang) dan antenna akan
berubah (berevolusi) sesuai dengan fungsinya yaitu mulut untuk menyring air dan
antenna untuk melacak makanan pada air). Pada Crustacea pemakan bangkai,
herbivore, dan karnivora memiliki bagian tubuh yang berfungsi untuk mencengkram
atau mengambil makanan, misalya maksilla mandible yang berfungsi untuk memegang,
menggigit, dan menggiling makanan.
Biasanya Crustacea aktif di malam hari, pada waktu itu mereka meninggalakan
tempat persembunyiannya untuk mencari makanan. Jenis yang hidup di perairan
dangkal akan menuju terumbu karang, sedangkan yang hidup di perairan agak dalam
akan berkeliaran disekitar tempat persenmbunyiannya untuk mencari makan.

2.3 Sistem reproduksi Crustacea


Kebanyakan Crustacea memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau
terdapat individu jantan dan betina, namun pada Crustacea tingkat rendah ada yang
bersifat hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga dan alat
kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada spesies tertentu ada
yang belum dapat diketahui perkembangbiakan dan perkelaminannya.
Gonad biasanya panjang dan sepasang terletak dibagian dorsal toraks dan atau
abdomen. Crustacea bereproduksi dengan mengadakan kopulasi (pembuahan). Pada
proses kopulasi tersebut individu jantan biasanya memiliki apendiks yang dapat
berfungsi untuk memegang betina. Individu jantan akan meletakan massa spermatoforik
di bagian sternum udang betina. Peletakan massa spermatoforik tersebut berlangsung
sebelum telur dikeluarkan. Pembuahan terjadi saat telur yang dikeluarkan dari celah
genital ditarik ke arah abdomen oleh pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur

tertarik ke abdomen, sperma keluar dari massa spermatoforik yang tersobek sehingga
terjadi pembuahan.
Pembuahan tersebut dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Hal ini
tergantung pada sifat dari spermatoforiknya. Jika spermatoforknya bersifat kental,
pembuahan terjadi secara eksternal. Sedangkan spermatoforik yang bersifat cair
memungkinkan untuk masuk ke dalam oviduct (saluran telur) sehingga terjadi secara
internal.
Telur yang sudah menetas akan menjadi nauplius yang planktonis. Naulius
tersebut mempunyai tiga pasang apendik yaitu antenna pertama, antenna kedua dan
mandibula; tubuh belum beruas-ruas; dibagian anterior terdapat mata nauplius.

2.4 Sistem Peredaran darah Crustacea


Sistem peredaran darah pada Crustacea disebut sistem peredaran darah terbuka
(haemocoelic). Hal ini berarti bahwa darah beredar tanpa melalui pembuluh darah,
sehingga terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem peredaran darah ini
menyebabkan hilangnya rongga tubuh, karena darah memenuhi celah antar jaringan dan
organ tubuh yang disebut homocoel (rongga tubuh yang dipenuhi darah). Rongga
tubuhnya hanya pada rongga ekskresi dan organ perkembangbiakan.
Letak jantung dari Crustacea biasanya terdapat di bagian dorsal toraks atau di
sepanjang badan. Darah keluar dari jantung melalui sebuah aorta anterior, arteri
abdomen posterior, beberapa arteri lateral dan sebuah arteri ventral. Beberapa Crustacea
tidak mempunyai sistem arteri. Pada kebanyakan Malakostraca terdapat jantung
tambahan (accessory heart) atau pompa darah untuk menaikan tekanan darah.
Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang
bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya. Letak insang pada
malacostraca biasanya terbatas pada apendik thorax. Aliran air kearah insang umumnya
dihasilkan dari gerakan teratur sejumlah apendik. Oksigen dalam peredaran darah
terdapat dalam bentuk larutan sederhana atau terikat pada hemoglobin atau hemocyanin.
Hemocyanin hanya trrdapat pada malacostraca.Pigmen pernapasan larut dalam plasma,
tetapi adakalanya hemoglobin terdapat dalam otot dan jaringan saraf, bahkan dalam
telur beberapa jenis Crustacea.

2.5 Sistem Syaraf dan alat indra Crustacea


Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan
alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan mata majemuk
(facet) yang bertangkai.
Alat indra terdiri atas mata majemuk, bintik mata, statocyst, proproceptor, alat
peraba dan chemoreceptor. Mata majemuk terdapat pada hampir semua spesies dewasa,
biasanya terletak pada ujung tangkai yang dapat digerakkan tetapi adakalanya sessil.
Crustacea dengan mata majemuk yang berkembang baik mempunyai kemampuan untuk
membedakan ukuran dan bentuk tetapi ketajaman penglihatannya kecil dan gambarnya
kasar.
Bintik mata selalu terletak digaris menengah dan khusus terdapat pada stadium
larva nauplius; terdiri atas 3 sampai 4 ocelli berbentuk mangkuk pigmen; berfungsi
untuk mendeteksi cahaya. Bintik mata diperlukan hewan planktonik untuk menentukan
lokasi permukaan air, dan bagi hewan peliang untuk menentukan lokasi permukaan
substrat. Statocyst hanya terdapat pada beberapa kelompok Malakostraca. Sepasang
statocyst biasa terletak pada pangkaal antenul, uropod atau telson.
Propioreceptor merupakan alat indra otot, terdapat pada malacostraca terutama
decapoda. Tiap organ terdiri atas sejumlah sel otot yang mengalami modifikasi spesial,
berperan membantu mengatur kedudukan apendik, semacam indra gerak yang
dirangsang oleh peregangan diantara sel otot, kontraksi otot diskitarnya. Alat peraba
biasanya membentuk bulu-bulu dan tersebar di berbagai tempat pada permukaan tubuh,
terutama apendik. Chemoreceptor merupakn alat indra untuk mendeteksi zat kimia,
terdapat pada kedua pasang antena dan apendik mulut . Esthetasc berbentuk bulu-bulu
indra yang panjang dan lembut merupakan chemoreseptor yang umum terdapat
kebanyakan crustacea.

Ket :
merah : system peredaran
Hijau : sistem pencernaan
Kuning : sistem syaraf
Pink
(gambar 13)

:sistem reproduksi

darah

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda. Kelompok ini mencakup
hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, udang karang, serta
teritip. Mayoritas merupakan hewan air. Sedangkan hewan Arthropoda yang tergolong
kedalam kelas Arachnida umumnya hidup di darat, tetapi ada juga yang hidup dalam
air. Ukuran tubuhnya mikroskopis sampai beberapa sentimeter panjangnya. Tubuhnya
terdiri atas chepalothoraks dan abdomen serta tidak mempunyai antenna.

3.2 Saran
Dalam pembelajaran mata kuliah Avertebrata Air diharapkan mahasiswa dapat
mengenal lebih jauh tentang klass crustacean mulai dari klasifikasi,habitat,system
pencernaan, system reproduksi,system syaraf serta system pernafasannya.

Daftar Pustaka

Adi,bagus S.2011. Copepods (Copepoda) Ciri umum, Ciri khusus, Habitat, Penyakit.
http://www.sbg.ac.at. Diakses tanggal 28 November 2014.
Erghi,Muhammad.2010.Crustacea.http://nemofishunhas.blogspot.com. Diakses tanggal
28 November 2014.
Ghufron, Muneaki, Basri. 1997. Potensi Budidaya Udang. Bina Tjipta, Jakarta
Hermawan. 2010. Crustacea. http://e-dukasi.net. Diakses tanggal 10 Desember 2011.
http://gmpg.org. Diakses tanggal 10 Desember 2011.
Nontji.2002. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
Suwignyo, Sugiarti. 1989. Avertebrata Air. Bogor. LembagaSumberdayaInformasi. IPB
.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini
disusun dengan tujuan

memenuhi tugas kelompok mata kuliah avertebbrata air

mengenai klass crustacean.


Penulis menyadari bahwa penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangan di
dalamnya. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharap kritik dan saran.Dengan
adanya makalah ini semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi semua
pihak.

Malang, 21 April 2014

Penulis