Anda di halaman 1dari 26

Hemiparese

KASUS
Skenario 3:
Seorang gadis berumur 15 tahun menemui dokter keluarganya karena tiba-tiba merasakan lemah
pada lengan dan tungkainya. Ia juga merasakan nyeri pada kepala bagian belakang. Tidak ada
riwayat cedera kepala, hanya diketahui bahwa sebelumnya gadis remaja ini pernah ke dokter gigi
karena sakit gigi.
KASUS
Skenario 3:
Seorang gadis berumur 15 tahun menemui dokter keluarganya karena tiba-tiba merasakan lemah
pada lengan dan tungkainya. Ia juga merasakan nyeri pada kepala bagian belakang. Tidak ada
riwayat cedera kepala, hanya diketahui bahwa sebelumnya gadis remaja ini pernah ke dokter gigi
karena sakit gigi.
A.
1.
2.
3.
4.
5.

Kata Kunci
Gadis 15 tahun
Tiba-tiba merasa lemah ekstremitas
Nyeri kepala bagian belakang
Tidak ada riwayat cedera kepala
Sakit gigi

B. Kata Sulit
Nyeri
Menurut The International Association for the studyof pain (IASP), nyeri didefenisikan
sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan
dengan kerusakan jaringan atau potensial akan menyebabkan kerusakan jaringan.
Lemah
Lemah (paresis/parese) adalah hilangnya tenaga otot sehingga gerak voluntar sukar tapi
masih bisa dilakukan walaupun dengan gerakan yang terbatas.
C. Pertanyaan

1.

Jelaskan anatomi dan fisiologi nervus yang terkait!

2.

Mengapa terjadi kelemahan ekstremitas?

3.

Bagaimana hubungan kelemahan ekstremitas, nyeri bagian belakang kepala dan sakit gigi!

4.

Jelaskan jenis-jenis nyeri!

5.

Jelaskan pengertian paresis dan jenis-jenisnya!

6.

Sebutkan anamnesis tambahan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis!

7.

Sebutkan pemeriksaan fisis neurologis dan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan
diagnosis!

8.

Sebutkan penatalaksanaan yang diperlukan!

9.

Sebutkan Differential Diagnosis pada kasus tersebut!

D. Jawaban
1. Anatomi dan fisiologi nervus yang terkait.
Anatomi organ yang terkait dengan hemiparese berhubungan erat dengan anatomi sistem
motorik.
Kinerja motorik bergantung pada otot yang utuh, hubungan neuromuskular yang
fungsional dan traktus saraf kranial dan spinal yang utuh. Untuk dapat memahami bagaimana
sistem saraf mengkoordinasi aktivitas otot yang perlu dipahami adalah neuron motorik atas
(Upper motor neuron) dan neuron motorik bawah (lower motor neuron).
Upper Motor Neuron (UMN)
Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik secara langsung ke LMN atau melalui
interneuronnya, tergolong dalam kelompok UMN. Neuron-neuron tersebut merupakan penghuni
girus presentralis. Oleh karena itu, gyrus tersebut dinamakan korteks motorik. Mereka berada di
lapisan Ke V dan masing-masing memiliki hubungan dengan gerak otot tertentu . Yang berads di
korteks motorik yang menghadap ke fisura longitudinalis serebri mempunyai koneksi dengan
gerak otot kaki dan tungkai bawah. Neuron-neuron korteks motorik dekat dengan fisura lateralis
serebri mengurus gerak otot larings, farings, dan lidah. Penyelidikan dengan elektrostimulasi
mengungkapkan bahwa gerak otot seluruh belahan tubuh dapat dipetakan pada seluruh kawasan
korteks motorik sisi kontralateral. Peta itu dikenal sebagai homenkulus motorik.

Dari bagian mesial gyrus presentralis (=area4 = korteks motorik) ke bagian lateral bawah,
secara berurutan terdapat peta gerakan kaki, tungkai bawah, tungkai atas, pinggul,
abdomen/thoraks, bahu, lengan, tangan jari-jari, leher, wajah, bibir, otot pita suara, lidah dan otot
penelan. Yanfg menarik adalah luasnya kawasan peta gerakan tangkas khusus dan terbatasnya
kawasan gerakan tangkas umum. Seperti diperlihatkan oleh homenkulus motorik, kawasan
gerakan otot-otot jari/tangan adalah jauh lebih luas ketimbang kawasan gerakan otot jari/kali.
Melalui aksonnya neuron korteks motorik menghubungkan motoneuron yang membentuk inti
motorik saraf kranial dan motoneuron di kornu anterius medulla spinalis.
Akson-akson tersebut menyusun jaras kortikobulbar kortikospinal. Sebagai berkas saraf
yang kompak mereka turun dari korteks motorik dan di tingkat talamus dan ganglia basalis
mereka terdapat diantara kedua bangunan tersebut. Itulah yang dikenal sebagai kapsula interna,
yang dapat dibagi dalam krus anterius dan krus posterius. Sudut yang dibentuk kedua bangunan
interna itu dikenal sebagai genu. Penataan somatotopik yang telah dijumpai pada korteks motorik
ditemukan kembali di kawasan kapsula interna mulai dari genu sampai seluruh kawasan krus
posterior.
Di tingkat mesencephalon, serabut saraf itu berkumpul 3/5 bagian tengah pedunkulus
serebri dan diapit oleh daerah-daerah serabut fropontin dari sisi medial dan serabut-serabut
parietotemporopontin dari sisi lateral. Maka dari itu, bangunan yang merupakan lanjutan dari pes
pontis, mengandung hanya serabut-serabut kortikobulbar dan kortikospinal saja. Bangunan itu
dikenal sebagai piramis dan merupakan bagian ventral medulla oblongata.
Sepanjang batang otak, serabut-serabut kortikobulbar meninggalkan kawasan mereka (di
dalam pedunkulus serebri, lalu di dalam pes pontis dan akhirnya di piramis), untuk menyilang
garis tengah dan berakhir secara langsung di motoneuron saraf kranial motorik (n.III, n.IV, n.V,
n.VI, n.VII, n.IX, n.X, n.XI, dan n.XII) atau interneuronnya disisi kontralateral. Sebagian dari
serabut kortikobulbar berakhir di inti-inti saraf kranial motorik sisi ipsilateral juga.
Di perbatasan antara medulla oblongata dan medulla spinalis, serabut-serabut
kortikospinal sebagian besar menyilang dan membentuk jaras kortikospinal lateral (=traktus
piramidalis lateralis), yang berjalan di funikulus posterolateralis kontralateralis. Sebagian dari
mereka tidak menyilang tapi melanjutkan perjalanan ke medulla spinalis di funikulus ventralis

ipsilateralis dan dikenal sebagai jaras kortikospinal ventral atau traktus piramidalis ventralis.
Kawasan jaras piramidal dan ventral makin ke kaudal makin kecil, karena banyak serabut yang
sudah mengakhiri perjalanan. Pada bagian servical disampaikan 55 % jumlah serabut
kortikospinal, sedangkan pada bagian torakal dan lumbosakral berturut-turut mendapat 20 % dan
25%. Mayoritas motoneuron yang menerima impuls motorik berada di intumesensia servikalis
dan lumbalis, yang mengurus otot-otot anggota gerak atas dan bawah.
Adapun seluruh serabut motorik yang tidak melalui piramid dinamakan sistem
ekstrapiramidalis, yang fungsinya mengatur secara kasar otot-otot voluntar.
Lower Motor Neuron (LMN)
Lower motor neuron mencakup sel-sel motorik nuklei saraf kranial dan aksonnya serta
sel-sel kornu anterior medulla spinalis dan aksonnya. Serabut-serabut motorik keluar melalui
radiks anterior atau motorik.

Fungsi motorik saraf


Peranan utama dari sistem saraf adalah mengatur akivitas tubuh. Hal ini dapat dicapai
dengan mengontrol kontraksi otot skelet, kontraksi otot halus, serta sekresi kelenjar eksokrin dan
endokrin. Aktivitas ini disebut fungsi motorik dari sistem saraf. Otot dan kelenjar sebagai
efektor. Otot skelet dikontrol oleh berbagai tingkat (level) dari sistem saraf pusat, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Medulla spinalis
Substansia retikularis dari medulla oblongata, pos, dan mesensephalon
Serebellum
Ganglia basalis
Korteks motorik
Daerah pada sistem saraf pusat tersebu yang terletak di bagian bawah mengatur respon
tubuh yang bersifat otomatis dan segera terhadap rangsang sensoris sedangkan bagian yang
tinggi mengatur gerakan-gerakan yang dikontrol oleh proses berpikir dari serebrum.

2. Patomekanisme terjadinya kelemahan ekstremitas

Paresis (kelemahan otot pada lengan dan tungkai) adalah kerusakan


yang menyeluruh, tetapi belum menruntuhkan semua neuron korteks piramidalis.
Hemiparase yang terjadi memberikan gambaran bahwa adanya kelainan
atau lesi sepanjang traktus piramidalis. Lesi ini dapat disebabkan oleh
berkurangnya suplai darah, kerusakan jaringan oleh trauma atau infeksi, ataupun
penekanan langsung dan tidak langsung oleh massa hematoma, abses, dan tumor.
Hal tersebut selanjutnya akan mengakibatkan adanya gangguan pada tractus
kortikospinalis yang bertanggung jawab pada otot-otot anggota gerak atas dan
bawah.

3. Hubungan kelemahan ekstremitas, nyeri bagian belakang kepala dan sakit gigi.
Adanya lesi pada perjalanan traktus piramidalis yang disebabkan berkurangnya suplai darah,
kerusakan jaringan oleh trauma atau infeksi, ataupun penekanan langsung dan tidak langsung
oleh massa hematoma, abses, dan tumor menyebakan terjadinya berbagai manifestasi klinis yang
berbeda. Pada kasus ini kemungkinan besar penyebab terjadinya manifestasi klinis adalah arteri
dan vena saling berikatan sehingga membentuk suatu massa yang mirip tumor. Hal tersebut dapat
menekan tractus kortikospinalis yang bertanggung jawab pada otot-otot anggota gerak atas dan
bawah. Hal tersebut menyebabkan timbulnya manifestasi klinis berupa kelemahan ekstremitas.
Sakit gigi dalam kasus tersebut sebenarnya tidak ada hubungan dengan penyakit yang dialami
pasien.

4. Jenis-jenis nyeri.
Nyeri umumnya dibagi dalam dua bagian yaitu nyeri cepat (fast pain) dan nyeri lambat
(slow pain). Nyeri cepat terjadi dalam waktu 0,1 detik bila terjadi stimulasi sedangkan nyeri
lambat terjadi beberapa detik atau lebih setelah terjadi stimulus dan nyeri akan menghilang
dalam beberapa detik.
Fast pain memiliki beberapa nama lain seperti nyeri tajam, nyeri akut, nyeri elektrik dan
sebagainya. Nyeri ini misalnya terjadi bila kulit terluka oleh pisau. Fast pain dihantar melalui
serabut saraf A-delta. Slow pain juga memiliki beberapa nama lain seperti nyei membakar
(buning pain), nyeri kronik dan sebagainya. Nyeri ini terjadi misalnya pada kerusakan jaringan

pada kulit atau pada jaringan dalam dan dapa berlangsung lama. Slow pain dihantarkan oleh
serabut saraf tipe C.
Dengan demikian rasa nyeri dapat pula diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Nyeri yang menusuk, dirasakan bila kulit ditusuk dengan jarum atau dipotong dengan pisau.
b. Nyeri yang membakar, dirasakan bila kulit dibakar
c. Nyeri yang dalam, tidak dirasakan pada permukaan tubuh tetapi di dalam tubuh.
5. Pengertian paresis dan jenis-jenisnya.
Paresis (kelemahan) adalah hilangnya tenaga otot sehingga gerak voluntar
sukar tapi masih bisa dilakukan walaupun dengan gerakan yang terbatas. Paresis
disebabkan oleh kerusakan yang menyeluruh, tetapi belum menruntuhkan semua
neuron korteks piramidalis sesisi, menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh
kontralateral yang ringan sampai berat.

Jenis-jenis paresis, yaitu:


a.

Monoparesis

Monoparesis adalah kelemahan pada salah satu ekstremitas atas atau salah satu ekstermitas
bawah.
b. Hemiparesis
Hemiparesis adalah kelemahan otot pada lengan dan tungkai pada satu sisi.
c.

Paraparesis

Paraparesis adalah kelemahan pada kedua ekstremitas bawah.


d. Tetraparesis/Quadraparesis
Tetraparesis adalah kelemahan pada kedua ekstremitas atas dan kedua ekstemitas bawah.
6.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Anamnesis tambahan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis.


Menanyakan bagaimana sifat nyeri yang dirasakan pada bagian kepala belakang.
Menanyakan kapan pasien berobat ke dokter gigi.
Menanyakan gejala lain yang menyertai.
Menanyakan apakah gejala tersebut pernah dirasakan sebelumnya.
Menanyakan riwayat penyakit sebelumnya.
Menanyakan riwayat penakit keluarga.
Menanyakan apakah pasien sudah minum obat sebelumnya.

7. Pemeriksaan fisis neurologis dan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
Pemeriksaan fisis neurologi

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Pemeriksaan fungsi kesadaran


Pemeriksaan fungsi kortikal luhur
Pemeriksaan tanda rangsang menings
Pemeriksaan fungsi koordinasi
Pemeriksaan fungsi sensorik : sensasi taktil dan nyeri superfisial
Pemeriksaan fungsi motorik : bentuk otot, kekuatan otot, dan tonus otot
Pemeriksaan refleks fifiologis : refleks bisep, trisep, brachioradialis, patella dan achilles
Pemeriksaan refleks patologis : Babinski, Hoffmann-Tromne, Oppenheim, Gordon, Chatdot,

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Skifer.
Pemeriksaan nervus kranialis : Nervus kranialis I-nervus kranialis XII
Pemeriksaan penunjang neurologi
Pungsi Lumbal
EMG dan ENG
EEG
TCD
SSEP
BAEP
PET

8.
a.
b.
c.

Penatalaksanaan yang diperlukan.


Penatalaksanan secara farmokologi
Penatalaksanan secara non-farmokologi
Physioterapi

i.

9.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Differential Diagnosis dalam kasus ini


Neuralgia Tigeminus
Meningitis
Encephalitis
Nyeri fasialis atipikal
Guilaain-Barre sindrom
Multipel sklerosis
Cerebral abses
E. Tujuan pembelajaran Selanjutnya
Tujuan pembelajaran selanjutnya, yaitu:
1. Mengetahui lebih dalam tentang penyakit-penyakit yang menyebabkan paresis
2. Mengetahui penatalaksanaan penyakit-penyakit yang menyebabkan paresis

F. Informasi Baru
1. Penyakit-penyakit yang menyebabkan paresis, yaitu:
a. Meningitis
b. Encephalitis
c. Guilaain-Barre sindrom

d. Multipel sklerosis
e. Cerebral abses
2. Penatalaksanaan
a.
b.
c.
d.

e.

Meningitis
Encephalitis
Guilaain-Barre sindrom
Multipel sklerosis
Penatalaksanaan secara symptomatic digunakan produk Interferon beta
Penatalaksanaan untuk durasi yang pendek digunakan steroid, yaitu ACTH
Peatlaksanaan untuk komplikasi pskiatri, yaitu psychothreapy
Cerebral abses
G. Analisis Informasi
Pada kasus, seorang gadis berumur 15 tahun menemui dokter keluarganya karena tibatiba merasakan lemah pada lengan dan tungkainya. Ia juga merasakan nyeri pada kepala bagian
belakang. Tidak ada riwayat cedera kepala, hanya diketahui bahwa sebelumnya gadis remaja ini
pernah ke dokter gigi karena sakit gigi.
Informasi yang tertera pada modul merupakan informasi yang sangat umum, gejala-gejala
yang muncul merupakan gejala umum pada penyakit neurologis. Sehingga pengambilan
diagnosa yang pasti merupakan hal yang kurang bijak dan tidak tepat. Oleh karena itu dengan
berdasar kepada gejala-gejala tersebut, dapat dimunculkan beberapa diagnosa banding yang
masih memerlukan tahap-tahap tertentu seperti anamnesis dan pemeriksaan penunjang lainnya
yang memungkinkan munculnya kausa penyakit dan penegakan diagnosa yang tepat. Diagnosa
banding itu antara lain:

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Neuralgia Tigeminus
Meningitis
Encephalitis
Nyeri fasialis atipikal
Guilaain-Barre sindrom
Multipel sklerosis
Cerebral abses
Berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh penderita dalam pasien, maka dapat
dianalisis sebagai berikut:

Gejala

Tiba-

lemah

Nyeri kepala

Tidak ada

Sakit

tiba

ekstremita

bagian belakang

cedera kepala

gigi

+
+
+
-

s
+
+
-

+
+
+
+

+
+
+

+
+
+
+

+
+

+
+

+
+

+
+

+
+

DD
Neuralgia Tigeminus
Meningitis
Encephalitis
Nyeri fasialis atipikal
Guilaain-Barre
sindrom
Multipel sklerosis
Cerebral abses

Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien, maka dapat ditetapkan bahwa Differensial
Diagnosis utama adalah cerebral abses. Namun, dalam penetapan diagnosis tetap harus dilakukan
pemeriksaan penunjang karena manifestasi klinis yang diberikan skenario sangatlah umum.
Untuk mengetahui apakah pasien tersebut menderita cerebral abses atau tidak,

dilakukan

pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan CT-csan untuk melihat
adanya abses dalam otak dan melihat lokasinya serta seberapa luas daerah absesnya
Selain itu perlu dilakukan anamnesis lebih lanjut untuk mencari lebih banyak informasi
tentang penyaki pasien agar kita benar-benar yakin dengan diagnosis yang dipilih. Kita juga
perlu melakukan pemeriksaan laboratorium sebagai pemeriksaan penunjang untuk memeriksa
keadaan liqour cerebrospinal (LCS) baik warnanya, jumlahnya dan ada atau tidaknya sel-sel
radang. Pengambilan liqour cerebrospinal dilakukan dengan punksi lumbal pada L3-L4.
Pada kasus ini, kita juga tidak boleh menyingkirkan kemungkinan terjadinya
arteriovenous malformation (AVM), yakni arteri dan vena saling berikatan sehingga membentuk
suatu massa yang mirip tumor

HEMIPARESE
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut WHO (1997) stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak lokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24
jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler.
Stroke merupakan suatu penyakit yang lama dikenal dan dewasa ini banyak diderita oleh
masyarakat Indonesia. penyakit yang disebabkan oleh gangguan perederan darah otak ini
manisfestasinya adalah hemiparese. penyakit ini akan menimbulkan problem kapasitas fisik
berupa kelemahan anggota gerak sesisis kanan atau kiri, gangguan sensorik, potensial ulkus
tekan, potensial kontraktur juga mengakibatkan permasalahan kemampuan fungsional yaitu
gangguan gerak fungsional yang meliputi miring kekanan atau kekiri, bangun keduduk dan
berdiri.
Stroke adalah kehilangan kesadaran mendadak dan sering kali disertai kelumpuhan
sebagian tubuh yang disebabkan karena terbendungnya pembuluh darah. Hemiparese Dextra
adalah kelemahan sebelah kanan. Hemiparese Dextra ini ditandai dengan adanya tonus yang
abnormal, timbulnya pola sinergis, terlepasnya beberapa refleks tonus, dan gangguan sensoris.
Penatalaksanaan pada kondisi hemiparese dextra ini dengan menggunakan metode studi kasus.
Pada kasus ini akan menimbulkan kapasitas fisik diantaranya timbulnya spastisitas dan potensial
terjadinya kontraktur dan decubitus, dan juga penurunan kemampuan fungsional

BAB II
ANATOMI FISIOLOGI

Susunan Saraf Pusat Meliputi :


A. Otak
Otak merupakan organ tubuh yang paling penting menyangkut fungsi seperti berfikir,
bergerak, berbicara, melihat, mendengar dan merasa apabila mengalami kerusakan sedikit saja,
akibatnya sungguh fatal. Kerusakan sel otak setempat yang hanya sedikit saja, akan berakibat
gangguan fungsi tubuh yang lebih luas melebihi daerah yang sesungguhnya rusak, karena sel
otak yang rusak tadi akan mengeluarkan toksikasi glutamat yang akan merusak fungsi sel otak
sekitarnya secara berantai yang tadinya masih baik.
Otak terletak di rongga tengkorak (cavum cranii) dan bertanggung jawab dalam mengurus
organ dan jaringan untuk daerah kepala dan leher.
B.

Medulla Spinalis
Medulla spinalis adalah massa jaringan saraf berbentuk silindris memanjang menempati
2/3 cranalis vertebralis kurang lebih 42-45 cm dari C1 s/d L1,2 ujung rostral diteruskan oleh
medulla oblongata sedangkan ujung distal diteruskan oleh Conus Medullaris. Dari sana keluar
serabut saraf berbentuk ekor kuda disebut cauda equine bersifat LMN
Fisiologi Peredaran Darah Cerebral
Aliran darah akan membawa O2, makanan dan substansi lain yang dibutuhkan ke otak.
Kebutuhan otak sangat mendesak dan sangat vital, kekurangan O2 kurang lebih 6 menit saja di
otak akan mengakibatkan kematian sel otak, sementara tidak ada sistem pembantu pengambilan
fungsi dari area yang lain yang terdekat melalui mekanisme adaptasi tetapi tidaklah sempurna.
Karena itu sirkulasi darah ke otak haruslah cukup dan konstan.
Arteri carolis interna dan arteri vertebralis beranastomosis di circulus Willici di substansia
Alba dan mendapat tambahan dari arteri Bacillaris. Metabolisme otak butuh kurang lebih 18%
O2 dari total kebutuhan O2, tubuh untuk oksidasi glukosa dan metabolisme karbohidrat dalam

otak merupakan sumber tenaga yang utama, sedangkan metabolisme lemak dan protein hanya
sedikit.
BAB III
PATOLOGI TERAPAN
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupun stroke hemorragik.
A. Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak
sebagian atau keseluruhan terhenti. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Stroke iskemik ini dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya
gangguan denyut jantung.
B.

Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir
70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.
Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu:

1. Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak.


2. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara
permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak).
Tanda dan Gejala-gejala Stroke
Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut:
1.

Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi sensorik

2.

Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau, mengecap,
mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu,
pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.

3.

Cerebral cortex: aphasia, apraxia, daya ingat menurun, hemineglect, kebingungan.


Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient
Ischemic Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke.
Faktor Penyebab Stroke

Faktor resiko medis, antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi), Kolesterol,
Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung, diabetes, Riwayat stroke dalam
keluarga, Migrain.
Faktor resiko perilaku, antara lain Merokok (aktif & pasif), Makanan tidak sehat (junk
food, fast food), Alkohol, Kurang olahraga, Mendengkur, Kontrasepsi oral, Narkoba, Obesitas.
80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis, Menurut statistik. 93% pengidap
penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi.
Pemicu stroke pada dasarnya adalah, suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah),
terlalu banyak minum alkohol, merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak.
Hemiparese mermerupakan suatu keadaan spastic / flaccid paralysis lengan dan tungkai separuh
badan akibat gangguan kontralateral fungsi otak.
Hemiparese yang terjadi akibat stroke disebabkan oleh:
1.

CVD : emboli,thrombus,macam-macam tumor dan infeksi

2.

CVA : Trauma perdarahan introcerebral dan subrachnoid sangat erat kaitanya dengan faktor
resiko:

a. Hipertensi
b. Kolestrol tinggi dalam darah (salah diet)
c. PJK dan sakit jantung lainya
d. Atherosklerosis arteri kepala dan leher
e. Kecenderungan kepala darah menggumpal
f. Obesitas
Hemiparase pada umumnya terjadi pada orang berusia 40 tahun keatas karena kualitas
pembuluh darah mulai menurun (degenerasi)bersamaan dengan bertambahnya usia,dalam hal ini
tekanan intravusal cenderung meninggi sehingga pembuluh darah di otak suatu saat pecah maka
terjadi hemiparese.Pada penyumbatan peredaran darah di batang otak (pons) menyebabkan
kelumpuhan sekitar wajah sisi homolateral serta lengan dan tungakai sisi kontaralateral.
Gejala-gejala Hemiparese pasca Stroke
1.

Fase akut (setelah stroke 2 minggu)

a. Lumpuh lemah separuh badan,terutama lengan dan tungkai,sering disertai mulut merot sesisi
atau bersebelahan dengan tubuh yang lumpu.

b. Tonus otot yang lumpuh bahkan hilang


c. Gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam berbagai posisi
d. Gangguan ADL
e. Gangguan mental dan intelegensi sangat dominan.
2.

Fase perbaikan (Recevory) (minggu ke 2-6 minggu)

a. Ketegangan (tonus) otot berangsur-angsur mulai muncul pada annggota tubuh yang lumpuh
b. Kseimbangan angkat pantat,duduk dan berdiri / berjalan berangsur-angsur muncul
c. Pelan-pelan mulai dapat bicara dan sedikit mengerti apa yang dikatakan orang lain,tetapi pada
hemiplegic kanan, gangguan bicara tetap mundur (afasia)
d. Emosi labil dan masuh pelupa
3.

Fase kronik (lebih dari 6 minggu)

a. Keadaan seperti fase perbaikan tetapi kemajuan lebih nampak


b. Ketegangan (tonus)otot sangat tinggi,dikenal dengan spastic
c. Keseimbangan angkat pantat, berdiri dan bergerak nampak sedikit demi sedikit mengalami
kemajuan
d. Koordinasi melakukan aktivitas keseharian juga sedikit mengalami kemajuan.
e. Aktivitas komunikasi bicara sedikit kemajuan, kecuali pada hemiparese kanan.
f. Kontraktur otot,kaku sendi dan sakit sendi bahu muncul dominan sehingga sangat menghambat
kemajuan aktivitas keseharian makan, minum, kamar mandi, pakaian dan memelihara diri.
g. Emosi labil
Keadaan diatas sangat dipengaruhi oleh jenis,letak dan luas kerusakan diotak,dimana
hemiparese akibat iskemik kemajuan kesehatan dan kebugaranya sangat nampak,bahkan dapat
mencapai perbaikan sekitar 95%. Apabila penderita dirawat / dilatih debgan baik,tetapi
sebaliknya apabila penangananya salah, bisa berakibat fatal yakni berubah menjadi hemoragic
hemiparse yang kemajuan maksimalnya 60%. Hal tersebut dapat terjadi karena pecahnya
penyumbatan pembuluh darah saja disebabkan antara lain oleh penanganan exercise yang salah.

BAB IV
PROGRAM LATIHAN

Metode Bobath
Metode pendekatan ini dikembangkan oleh K. Bobath (neurology) dan Bertha Bobath
(fisioterapis) di sekitar tahun 1960-an, khusus untuk penderita cerebral palsy, tetapi kemudian
diadaptasi dan dikembangkan juga untuk kondisi hemiplegiaPendekatan ini mengembangkan
reaksi-reaksi otomatis (reflek postural normal) yang normal berdasarkan analisa gerakan normal
dan perkembangan gerakan normal yang terjadi pada proses tumbuh kembang anak.
Prinsip-prinsip neurofisiologis yang dianut:
1.

Gerakan normal meliputi bagian yang bergerak dan bagian yang diam (fiksasi gerakan)

2.

Gerakan normal ditandai dengan adanya gerakan rotasi yang merupakan komponen utama gerak
normal (fungsional)

3.

Gerakan normal dimulai dari proksimal ke distal, dari central ke perifer, dari cranial ke kaudal

4.

Gerakan normal menganut pada proses tumbuh kembang anak normal.


Prinsip-prinsip pendekatan Bobath untuk kondisi hemiplegia. Prinsip utama yang
dipegang di sini adalah normalitas dari tonus postural, yang bisa dicapai dengan cara:

1.

Stimulasi proprioceptive dan taktil

2.

Inhibisi terhadap pola abnormal

3.

Fasilitasi

4.

Key point of control

5.

Pemahaman prinsip-prinsip neurofisiologi, biomekanika, gerakan normal dan abnormal.


Tes mobilisasi

Low Back Pain, Keluhan yang Cukup Menyiksa

Pengertian
Sesuai namanya, Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan di pinggang bagian
bawah (punggung). Rasa nyeri yang terjadi bisa sangat menyebalkan karena
nyerinya teramat hebat sehingga mengganggu pergerakan (gerakan kaku/terbatas),
bahkan untuk berdiri pun amat sulit. Penderita dengan low back pain tidak jarang
menginap di rumah sakit beberapa hari sampai pulih kembali. Pada banyak kasus,
nyeri punggung ini diderita setiap orang setidaknya satu kali sepanjang hidup. Nyeri
ataupun perasaan tidak nyaman bisa dirasakan di bagian manapun di tubuh
belakang kita. Namun, bagian tersering adalah di punggung bagian bawah karena
bagian ini menopang sebagian besar berat tubuh.
Di Amerika saja, nyeri punggung bagian bawah merupakan alasan kedua yang
membawa orang datang ke dokter, setelah flu dan pilek.
Penyebab
Kebanyakan penyebab nyeri punggung ialah terkait pekerjaan dan injury. Biasanya
nyeri punggung baru dirasakan pertama kali ketika seseorang mengangkat beban
berat, bergerak tiba-tiba, duduk lama, ataupun terkena trauma dan kecelakaan.
Nyeri punggung yang terjadi segera setelah melakukan aktivitas atau terjadinya
benturan mekanis, dikategorikan sebagai nyeri punggung akut.
Nyeri punggung akut kebanyakan disebabkan oleh trauma tiba-tiba yang terjadi
pada otot, ligamentum, tulang, dan saraf di tulang spina (punggung). Sumber nyeri
biasanya berasal dari:

Penekanan dari tulang yang fraktur disebabkan kondisi osteoporosis


Spasme otot (otot tegang ketika berkontraksi)

Hernia atau ruptur lempeng tulang belakang (Herniated or ruptured disk)

Spinal stenosis (pemendekan kanal tulang belakang)

Tulang belakang yang bengkok (seperti pada keadaan kifosis dan skoliosis),
keadaan yang diwariskan dan sering terlihat pada anak dan remaja.

Otot dan ligamentum penopang punggung yang tegang (awam menyebutnya


keseleo).

Nyeri punggung juga dapat terjadi karena berbagai keadaan, di anataranya:


Aneurisma aorta abdominalis tahap lanjut (kebocoran)
Kondisi artritis seperti osteoartritis dan artritis reumatoid

Kanker yang mengenai tulang belakang

Fibromialgia

Infeksi pada tulang belakang (seperti osteomielitis)

Infeksi pada ginjal ataupun batu ginjal

Masalah yang terkait pada kehamilan

Kondisi medis yang mempengaruhi organ reproduksi wanita seperti kista


ovarium, kanker ovarium, dan endometriosis

Gejala
Nyeri punggung sendiri sebenarnya adalah gejala, tetapi jenis atau sensasi nyeri
bisa bervariasi pada setiap individu. Sensasi yang dirasakan dapat berupa sensasi
tertusuk benda tajam, pegal pada satu atau lebih titik, ataupun sensasi terbakar,
tergantung penyebabnya. Bahkan, sensasi nyeri yang dirasakan dapat menjalar
sampai ke ekstremitas bawah (kelemahan pada kaki/telapak kaki untuk menopang
tubuh).
Dampak yang diakibatkan nyeripun bervariasi, mulai dari nyeri biasa, sampai
ketidakmampuan untuk beraktivitas karena sulit bergerak.
Pemeriksaan
Apabila kita ke dokter dengan keluhan nyeri punggung, kita akan disuguhkan
berbagai pertanyaan, termasuk seberapa sering dan parahnya rasa nyeri yang kita
rasakan. Dokter akan berusaha mengetahui penyebab, dan terapi apa yang simpel
dan tepat untuk keluhan kita, seperti obat penghilang rasa nyeri, terapi dengan es,
terapi fisik, dan olahraga yang nyaman dan tepat. Kebanyakan pendekatanpendekatan tersebut amat berguna untuk menghilangkan keluhan nyeri.
Secara umum, pertanyaan yang sering diajukan dokter sebelum mendapatkan
penyebab dan rencana terapi adalah:
Kapan nyeri dimulai? Apakah terjadi tiba-tiba?
Nyeri yang dirasakan pada satu sisi atau kedua sisi punggung belakang?

Seperti apa nyeri yang dirasakan? Tumpul, tajam, berdenyut, atau terbakar?

Yang keberapa kali nyeri punggung dialami? Apabila sudah pernah nyeri
punggung sebelumnya, apakah rasa yang dialami sekarang sama dengan
yang dulu? Serta berapa lama nyeri punggung yang lalu berlangsung?

Adakah riwayat cedera punggung atau kecelakaan?

Sebelum sakit, aktivitas apa yang dilakukan? (Seperti mengangkat beban


berat, duduk dalam jangka waktu yang lama, mengemudi jarak jauh, dll)

Selain di punggung, adakah tempat lain yang juga nyeri? (Seperti di paha,
pinggul, kaki, atau di tempat lain)

Kapan keluhan bertambah parah? (Ketika berdiri, mengangkat beban,


memutarkan badan, dll)

Apa yang membuat keluhan terasa berkurang?

Adakah gejala tambahan, seperti demam? Berat badan turun? Buang air kecil
dan besar yang tidak normal?

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan berusaha mencari titik/lokasi nyeri dan
mencari tahu bagaimana hal itu bisa mempengaruhi pergerakan. Seorang pasien
akan diminta untuk:
Duduk, berdiri, dan berjalan. Bila pasien bisa berjalan, dokter mungkin
meminta anda untuk berjalan dengan tumpuan ujung jari, lalu tumit.
Pasien juga diminta berjalan maju, mundur, dan ke samping.

Kemudian pasien juga diminta mengangkat kaki sambil berbaring.

Dan lain-lain.

Semua perintah dokter bukan tanpa alasan, melainkan untuk keperluan diagnosis.
Namun dalam artikel kali ini, penulis tidak menjabarkan secara detail cara diagnosis
penyakit yang mendasari nyeri punggung.
Pengobatan
Berikut adalah beberapa tips yang berguna untuk penanganan awal nyeri
punggung:
Kurangi aktivitas fisik normal yang sering dilakukan beberapa hari pertama
setelah nyeri dirasakan.
Berikan es pada area yang nyeri 48-72 jam pertama, lalu lanjutkan dengan
air hangat.

Penghilang rasa sakit seperti ibuprofen atau asetaminofen biasanya diberikan


oleh dokter.

Tidur dengan posisi tengkurap dengan bantal dibawah dijepit di antara dua
kaki. Atau tidur terlentang dengan bantal berada di bawah lutut.

Istirahat total dalam jangka waktu lama tidak disarankan. Yang disarankan
adalah mengurangi aktivitas beberapa hari pertama setelah nyeri punggung
dimulai, kemudian mulai perlahan-lahan beraktivitas lagi seperti biasa.
Selama beraktivitas jangan mengangkat berat dan memutar-mutar
punggung.

Apabila nyeri berkurang, mulailah berolahraga secara rutin, seperti berjalan,


naik sepeda, dan berenang. Cegah jenis olahraga seperti sepak bola, tari
ballet, golf, jogging, angkat beban, dan sit-up karena dapat memacu nyeri
punggung terjadi lagi.

Semua terapi sebenarnya tergantung penyebab, terapi yang dijelaskan di atas ialah
terapi yang bersifat simptomatis (penghilang gejala) bukan kausatif (penghilang
penyebab gejala).
Prognosis
Kebanyakan, pasien akan membaik setelah satu minggu terkena nyeri punggung.
Setelah 4-6 minggu, keluhan benar-benar hilang.
Kapan sebaiknya menemui dokter?
Ketika:
Rasa sakit setelah terjatuh atau terkena pukulan keras
Memiliki riwayat kanker

Nyeri disertai episode ngompol (inkontinensia)

Rasa nyeri menjalar ke kaki ataupun lutut

Nyeri sampai menyebabkan anda terbangun di malam hari

Nyeri punggung saat berbaring

Bengkak atau memar (kemerahan) di bagian belakang

Nyeri disertai episode demam

Kelemahan atau mati rasa pada tungkai (kaki) atau pinggul

Nyeri punggung disertai penurunan berat badan

Nyeri dan ada riwayat menggunakan steroid dan obat intravena

Nyeri punggung dan ada riwayat nyeri punggung sebelumnya, tetapi keluhan
nyeri yang kali ini lebih parah

Nyeri punggung yang telah terjadi lebih dari 4 minggu

ABSTRAK
Seorang pasien laki-laki 37 tahun datang dengan keluhan sakit punggung dan pinggang yang
menjalar sampai ke tungkai bawah kiri yang terasa baal. Dengan nyeri yang diderita terganggu
untuk melakukan aktivitas sehari-hari merasakan susah untuk tidur dengan nyaman. Nyeri

punggung bawah (Low Back Pain) adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan di daerah antara vertebra torakal 12 sampai dengan bagian bawah pinggul
atau lubang dubur. Yang timbul akibat adanya potensi kerusakan ataupun adanya
kerusakan jaringan antara lain: dermis pambuluh darah, facia, muskulus, tendon, cartilago,
tulang ligament, intra artikuler meniscus, bursa. Tanda dan gejala nyeri punggung bawah
akibat miogenik adalah onset/ waktu timbulnya bertahap, nyeri difus (setempat) sepanjang
punggung bawah, tenderness pada otot-otot punggung bawah, lingkup gerak sendi (LGS)
terbatas, tanda-tanda gangguan neurologis tidak ada.
Keyword: Terapi, Low Back Pain

ISI
Seorang wanita laki-laki 37 tahun datang ke Poliklinik Syaraf dengan keluhan keluhan sakit
punggung dan pinggang yang menjalar sampai ke tungkai bawah kiri yang terasa baal. Dengan
nyeri yang diderita terganggu untuk melakukan aktivitas sehari-hari merasakan susah untuk tidur
dengan nyaman. Nyeri timbul saat batuk, bersin dan nyeri bersifat hilang muncul (intermitten).
Lalu pasien berusaha untuk mencari pengobatan atas nyeri yang di deritanya ke poli syaraf
RSUD Wirosaban.
Pada pemeriksaan vital sign tampak baik dan pada pemeriksaan rangsang meningen Laseque :
+/+ dan kerniq: +/+. Pada pemeriksaan laboratorium normal dan RO L5: Spondilosis lumbalis
dengan penyempitan canalis cervikalis lumbalis menyempit L3-4.
DIAGNOSIS
Low Back Pain
TERAPI
Pada pasien ini di berikan pengobatan yaitu diberikan Inj ketorolak 1 ampul sebagai analgetik,
Inj metcobalamin 500mg, Diazepam 2 x 2 mg sebagai obat penenang/antidepresan, Neurodex
2x1 tab sebagai neurotropik, Na Diklofenac 2x50 mg sebagai analgetik selama 7 hari.
DISKUSI
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien ini menderita low back pain yaitu mengalami
nyeri pinggang yang dirasa oleh pasien tiba-tiba. Rasa nyerinya menjalar hingga ke dua tungkai
kanan dan kiri, sehingga pasien tidak kuat untuk berjalan dan berdiri lama. Menurut anak pasien,
pasien sering mengangkat barang berat. Pasien sudah berobat ke dokter tetapi tidak ada
perbaikan. pasien nyeri pinggang yang dirasakan bila posisi tidur terlentang, berubah posisi tidur
dan membungkukkan badan. Pasien mengatakan bahwa sakitnya sering kambuh dan memburuk

jika pasien tidak minum obat penahan sakit. Pemeriksaan rangsang meningen Laseque: +/+ dan
kerniq: +/+. Pada pemeriksaan laboratorium normal dan RO L5: Spondilosis lumbalis dengan
penyempitan canalis cervikalis lumbalis menyempit L3-4. Hal ini semakin menyakinkan ke arah
low back pain.
Nyeri punggung bawah (Low Back Pain) adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan di daerah antara vertebra torakal 12 sampai dengan bagian bawah
pinggul atau lubang dubur. Yang timbul akibat adanya potensi kerusakan ataupun adanya
kerusakan jaringan antara lain: dermis pambuluh darah, facia, muskulus, tendon,
cartilago, tulang ligament, intra artikuler meniscus, bursa. Tanda dan gejala nyeri
punggung bawah akibat miogenik adalah onset/ waktu timbulnya bertahap, nyeri difus
(setempat) sepanjang punggung bawah, tenderness pada otot-otot punggung bawah, lingkup
gerak sendi (LGS) terbatas, tanda-tanda gangguan neurologis tidak ada.
Dalam klinik, terdapat penyakit-penyakit yang memang memiliki keluhan nyeri pinggang,
seperti :
1.

Proses degeneratif, meliputi: spondilosis, HNP, stenosis spinalis, osteoartritis.

2.

Penyakit inflamasi.

3.

Osteoporotik

4.

Kelainan kongenital

Anamnesis yang cermat dan terperinci tentang sifat nyeri, saat timbulnya, lokalisasi serta
radiasinya sangat diperlukan dalam menetapkan diagnosa. Perlu ditanyakan tentang peristiwa
sebelumnya yang mungkin menjadi pencetus keluhan, seperti adanya trauma, sikap tubuh yang
salah, misalnya waktu mengangkat beban, kegiatan fisik atau olahraga yang tidak biasa, dan
penyakit yang dapat berhubungan dengan keluhan nyeri pinggang tersebut.
Adanya keluhan neurologis perlu diperhatikan dan perlu pemeriksaan neurologis yang lebih teliti
dan bahkan perlu pemeriksaan kemungkinan adanya tanda keganasan. Pemeriksaan rontgen
terutama untuk kelainan tulang dan persendian sangat diperlukan, bahkan perlu teknik khusus
dan alat lebih canggih seperti MRI, CT Scan, EMG, dan lain-lain. Pemeriksaaan laboratorium
sangat membantu untuk menentukan penyakit sistemik yang mungkin sebagai penyebab nyeri
pinggang.
Penyebab nyeri pinggang ini sangat bervariasi dari yang ringan seperti sikap tubuh yang salah
sampai yang berat dan sangat serius, misalnya oleh keganasan. Kondisi psikologis seperti
neurosis, histeria dan reaksi konversi mungkin pula berkaitan dengan nyeri pinggang. Depresi
lebih jarang sebagai penyebab nyeri pinggang, sebaliknya depresi sering timbul sebagai
komplikasi nyeri pinggang kronik.
Seringkali pasien tidak dapat menunjukkan lokasi sakit pinggangnya secara tepat. Oleh karena
itu berbagai tindakan pemeriksaan dilakukan untuk membangkitkan nyeri pinggang.Pemeriksaan

dimulai pada saat pasien masuk ke dalam ruang periksa. Gaya berjalannya diperhatikan, cara
pasien duduk diobservasi dan juga sikap duduk yang disukainya harus diketahui.Sebagai titik
tolak pemeriksaan dapat dipakai tempat nyeri yang ditunjuk pasien atau yang telah diprovokasi
dengan gerakan tulang belakang atau dengan penekanan pada lamina-lamina atupun dengan tes
melipat atau menggulung kulit.
Penderita nyeri pinggang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan cara yang ditempuh untuk
menanggulangi nyeri pinggang yaitu kelompok pertama yang pergi ke dokter untuk memperoleh
pertolongan medis dan kelompok yang berusaha menanggulangi sendiri nyerinya dengan cara
istirahat, minum jamu, mengoleskan parem, mengoleskan minyak gosok, dan pijat tradisional.
Penanggulangan nyeri pinggang bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri, mengembalikan fungsi
pergerakan dan mobilitas, mengurangi residual impairment, pencegahan kekambuhan, serta
pencegahan timbulnya nyeri kronik. Perlu diperhatikan walaupun yang terbaik adalah
memberikan pengobatan sesuai dengan penyebab nyeri, tetapi sangat sulit menentukannya pada
fase akut nyeri atau bahkan pada nyeri kronik sekalipun.
Nyeri pinggang dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, istirahat, dan modalitas. Penjelasan
singkat penatalaksanaan perlu diberikan dan hindari penggunaan istilah yang tidak banyak
dimengerti oleh awam atau dapat menimbulkan rasa takut seperti kata nyeri psikiatrik, artritis,
spasme, penyakit diskogenik, dan sebagainya.Pemberian obat anti inflamasi non steroid
(OAINS) diperlukan untuk jangka waktu pendek disertai dengan penjelasan kemungkinan efek
samping dan interaksi obat. Tidak dianjurkan penggunaan muscle relaxan karena memiliki efek
depresan. Pada tahap awal, apabila didapati pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi
akibat rasa nyeri, pemberian anti depresan dianjurkan. Untuk pengobatan simptomatis lainnya,
kadang-kadang memerlukan campuran antara obat analgesik, antiinflamasi, OAINS, dan
penenang.
Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas yang keras
dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung Modalitas itu bisa berupa
kompres es, semprotan etil klorida, dan fluorimetan. Nyeri tidak selalu dapat diatasi dengan caracara di atas. Terkadang diperlukan tindakan injeksi anestetik atau anti inflamasi steroid pada
tempat-tempat tertentu seperti pada faset, radiks saraf, epidural, intradural. Setelah fase akut
teratasi dilakukan beberapa pencegahan kekambuhan diantaranya pelatihan peregangan dan
pemakaian korset atau bracing.
KESIMPULAN
Low back pain merupakan gangguan musculoskeletal yang menyerang sekitar 80% manusia
dengan bermacam-macam derajat kesakitan, baik yang ringan, sedang maupun yang sudah berat
ayng disebabkan oleh b erbagai macam penyebab. Dalam hal ini sangat terkait dengan
penanganan low back pain yaitu harus mengetahui faktor penyebab sehingga terapi yang di
berikan bisa tepat. Terapi farmakologi seperti obat analgesik, antiinflamasi, OAINS, dan
penenang akan membantu pasien.

Sakit Pinggang (Low Back Pain)

Share

Low Back Pain (LBP) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah dan dapat
menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan samping luar. Keluhan ini dapat
demikian hebatnya sehingga pasien mengalami kesulitan dalam setiap pergerakan (salah tingkah)
dan pasien harus istirahat serta dirawat di rumah sakit.
Keluhan lob back pain ini ternyata menempati urutan kedua tersering setelah nyeri kepala. Dari
data mengenai pasien yang berobat ke poliklinik Neurologi menunjukkan bahwa jumlah pasien
diatas usia 40 tahun yang datang dengan keluhan low back pain ternyata jumlahnya cukup
banyak. Di Amerika Serikat lebih dari 80% penduduk pernah mengeluh low back pain dan di
negara kita sendiri diperkirakan jumlahnya lebih banyak lagi.
Mengingat bahwa low back pain ini sebenarnya hanyalah suatu simptom / gejala, maka yang
terpenting adalah mencari faktor penyebabnya agar dapat diberikan pengobatan yang tepat.
Sebab-sebab terjadinya LBP
Pada dasarnya timbulnya rasa sakit adalah karena terjadinya tekanan pada susunan saraf tepi
daerah pinggang (saraf terjepit). Jepitan pada saraf ini dapat terjadi karena gangguan pada otot
dan jaringan sekitarnya, gangguan pada sarafnya sendiri, kelainan tulang belakang maupun
kelainan di tempat lain, misalnya infeksi atau batu ginjal dan lain-lain.
SPASME OTOT (ketegangan otot) merupakan penyebab yang terbanyak dari LBP. Spasme ini
dapat terjadi karena gerakan pinggang yang terlalu mendadak atau berlebihan melampaui
kekuatan otot-otot tersebut. Misalnya waktu sedang olah raga dengan tidak kita sadari kita

bergerak terlalu mendadak dan berlebihan pada waktu mengejar atau memukul bola (badminton,
tennis, golf, dll). Demikian juga kalau kita mengangkat benda-benda agak berat dengan posisi
yang salah, misalnya memindahkan meja, kursi, mengangkat koper, mendorong mobil, bahkan
pada waktu kita dengan sangat gembira mengangkat anak atau cucu kita akan dapat terjadi LBP.
Pengapuran tulang belakang disekitar pinggang yang mengakibatkan jepitan pada saraf yang
bersangkutan dapat mengakibatkan nyeri pinggang yang hebat juga.
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : terdorongnya nucleus pulposus suatu zat yang berada
diantara ruas-ruas tulang belakang, kearah belakang baik lurus maupun kearah kanan atau kiri
akan menekan sumsum tulang belakang atau serabut-serabut sarafnya dengan mengakibatkan
terjadinya rasa sakit yang sangat hebat. Hal ini terjadi karena ruda paksa (trauma/kecelakaan)
dan rasa sakit tersebut dapat menjalar ke kaki baik kanan maupun kiri (iskhialgia). Adapun sebab
lain yang perlu kita perhatikan adalah: tumor, infeksi, batu ginjal, dan lain-lain. Kesemuanya
dapat mengakibatkan tekanan pada serabut saraf.
Hendaknya jangan dilupakan adanya stress mental yaitu : suatu keadaan kejiwaan yang
menyebabkan pasien tersebut merasa sangat tertekan. Penseritaan kejiwaan stress ini gejala
klinisnya dialihkan menjadi LBP, walaupun sebelumnya telah ada faktor-faktor kelemahan dari
susunan organ-organ di punggung.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang terbaik adalah menghilangkan penyebabnya (kausal), walaupun bagi
pasien yang terpenting adalah menghilangkan rasa sakitnya (simptomatis). Jadi kita
menggunakan kombinasi antara pengobatan kausal dan simptomatis. Untuk mencari penyebab
yang tepat disamping pemeriksaan foto rontgen poros tulang belakang, kadang-kadang
diperlukan pemeriksaan khusus misalnya Scanning, MRI, dll.
Pada LBP karena tegang otot dapat dipergunakan SIRDALUD (Tizanidine) yang berfungsi untuk
mengendorkan kontraksi otot tersebut (muscle relaxan). Untuk pengobatan simptomatis lainnya
kadang-kadang memerlukan campuran antara obat-obat analgesic, anti inflamasi, NSAID,
penenang, dll. Apabila dengan pengobatan biasa tidak berhasil mungkin fisioterapi (rehabilitasi)
dengan alat-alat khusus maupun dengan traksi (tulang belakang ditarik). Tindakan operasi
mungkin diperlukan apabila pengobatan dengan fisioterapi ini tidak berhasil misalnya pada HNP
atau pada pengapuran yang berat. Jadi penatalaksanaan LBP ini memang cukup kompleks.
Disamping berobat pada Neurolog (spesialis Penyakit Saraf), mungkin juga diperlukan untuk
berobat ke internist. Bedah Saraf, Bedah Orthopedi bahkan mungkin perlu konsultasi pada
Psikiater atau Psikolog.
MENCEGAH LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI
Agar kita tetap sehat, khususnya agar tidak terkena LBP walaupun usia sudah lanjut, perlu
dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Olah raga yang teratur dimana frekuensi / jumlah dan intensitasnya harus cukup,

jangan berlebihan. Bagi yang berbakat LBP, dianjurkan untuk berenang, dan sebaiknya
jangan meloncat-loncat.
2. Mengatur makanan dengan menghindari makanan-makanan yang mengandung banyak
lemak, asam urat, dll, agar memperlambat terjadinya pengapuran tulang belakang.
Disamping itu usahakan jangan sampai terjadi kelebihan berat badan.
3. Hidup dalam lingkungan yang sehat dengan udara yang bersih dan menghindari
polusi yang berlebihan.
4. Hidup yang teratur, mengatasi stress, serta menjalani hidup dan beragama dengan
sungguh-sungguh.
Dengan cara-cara tersebut diatas, mudah-mudahan kita tetap dalam keadaan sehat dan mudahmudahan Allah SWT selalu melindungi kita semua.
[dari berbagai sumber]

DASAR DIAGNOSIS KLINIS


Pada pasien ini didapatkan gambaran klinis berupa sefalgia, demam hilang timbul, dermatitis
generalisata, tanda defisit neurologis berupa gangguan fungsi luhur, hemiparese dekstra,
timbulnya refleks patologis adanya refleks primitif.
DASAR DIAGNOSIS TOPIK
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan kecurigaan lokasi lesi terdapat pada
kedua hemisfer serebri, dan serebeli karena didapatkan adanya kelainan neurologis pada kedua
sisi tubuh, serta berdasarkan pemeriksaan MRI didapatkan adanya multipel abses pada kedua
hemisfer serebri et serebeli.

DASAR DIAGNOSIS ETIOLOGIK


Sesuai dengan kesimpulan dari diagnosis klinis dan topis maka yang paling tepat sebagai etiologi
adalah adanya SOL di kedua hemisfer, selanjutnya dengan pemeriksaan CT Scan, MRI dan
Serologi didapatkan adanya multipel abses dan juga pada pemeriksaan serologis didapatkan HIV
(+). Adanya multipel abses pada pasien ini diduga disebabkan oleh infeksi toxoplasmosis yang
menyerang SSP, karena sesuai dengan gambaran MRI tentang toxoplasmosis yaitu adanya
multipel lesi, dengan nekrosis sentral dengan gambaran ring enhancement, perifokal edem, dan
efek massa serta adanya corpus calosum enhancement. Serta gejala yang sesuai yaitu nyeri
kepala, defisit neurologis fokal seperti hemiparese serta adanya gangguan status mental.
DASAR DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding pasien ini difikirkan sebagai multipel abses pada HIV yang disebabkan oleh
Tubesculosis, karena abses pada tuberculoma juga terdapat multipel abses, dengan gambaran
abses yang lebih kecil dengan ukuran 1-2 mm, serta efek massa yang minimal. Namun pada
pasien ini didapatkan adanya gejala infeksi tuberkulosis pada paru, yaitu tidak adanya batukbatuk yang lama dan pada pemeriksaan fisik paru tidak didapatkan kelaianan serta pada hasil
MRI didapatkan ukuran yang lebih besar dan efek massa (+).