Anda di halaman 1dari 12

BAB 2.

PEMBAHASAN

2.1 Interpretasi Hasil Pemeriksaan Pasien


Berdasarkan data yang diperoleh, Bapak En mempunyai riwayat penyakit osteoarthritis dan
Diabetes Melitus sejak 2 tahun yang lalu. Disamping itu pasien merupakan perokok dan kadangkadang mengalami gangguan lambung. Dan berikut adalah interpretasi hasil pemeriksaan Bapak
En.

a. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bapak En sebulan yang lalu :


No Jenis Pemeriksaan Nilai Normal

Hasil Pemeriksaan

Keterangan

Gula Darah Puasa

< 126 mg/dL *

175 mg/dL

Diabetes Melitus

Gula darah 2 jam < 200 mg/dL *

218 mg/dL

Diabetes Melitus

160/92 mmHg

Hipertensi stage 2

setelah makan
3

Tekanan darah

(Lihat tabel A)

*sumber : Dipiro, 2008 : 1208

Tabel A. Klasifikasi Hipertensi (JNC 7, 2003 :3)

b. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bapak En sekarang


No Jenis Pemeriksaan Nilai Normal
1

Gula Darah Puasa

< 126 mg/dL

Hasil Pemeriksaan

Keterangan

182 mg/dL

Diabetes

Melitus

tipe 2
2

Gula darah 2 jam < 200 mg/dL *

215 mg/dL

setelah makan

Diabetes

Melitus

tipe 2

Tekanan darah

Lihat Tabel A

163/95 mmHg

Hipertensi stage 2

Nadi

60-80 x/menit

82 x/menit

Jarang berolahraga

Kolesterol total

Lihat tabel B

233 mg/dL

Batas tinggi
(indikasi
dislipidemia)

HDL

Lihat tabel B

55 mg/dL

Sedang

*sumber : Dipiro, 2008 : 1208

Tabel B. Klasifikasi total, LDL dan HDL kolesterol dan trigliserida (Dipiro, 2008 : 291)

Dari data diatas, dapat dikatakan bahwa Bapak En menderita beberapa penyakit yaitu
osteoarthritis, diabetes mellitus tipe 2, hipertensi stage 2 dan dislipidemia.

2.2 Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular


Dalam JNC 7 dijelaskan beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan pasien terkena
penyakit kardiovaskular yaitu sebagai berikut.
-

Hipertensi

Merokok

Obesitas (BMI 30 kg/m2)

Tidak ada aktifitas fisik

Dislipidemia

Diabetes mellitus

Mikroalbuminuria atau estimasi GFR < 60 mL/menit

Usia (laki-laki > 55 tahun ; wanita > 65 tahun)

Riwayat keluarga atau penyakit kardiovaskular dini (laki-laki < 55 tahun atau wanita < 65
tahun) (JNC 7, 2003 : 3)

Disamping faktor risiko diatas, untuk menilai seseorang mengalami kardiovaskular 10


tahun ke depan dapat dinilai dengan Framingham Risk Scoring. Penilaian dengan cara ini
dilakukan berdasarkan usia, kadar kolesterol total, kadar HDL, ada tidaknya diabetes,
merokok/tidak dan tekanan darah sistolik. Dari hasil penilaian menggunakan metode ini akan
diketahui seberapa persen kemungkinan risiko pasien mengalami penyakit kardiovaskular 10
tahun ke depan. Form penilaian yang digunakan pada Framingham Risk Scoring dapat dilihat
pada dibawah ini.

Sumber : http://www.cvtoolbox.com

2.3 Risiko Pasien Mengalami Penyakit Kardiovaskular


Untuk mengetahui risiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada Bapak En, dapat dilihat
pada penjabaran berikut ini.
2.3.1 Berdasarkan JNC 7
Dalam kasus ini, Bapak En adalah seorang perokok ,jarang berolahraga, menderita
hipertensi stage 2, dislipidemia dan diabetes mellitus tipe 2. Berdasarkan faktor risiko
terjadinya penyakit kardiovaskular yang dijelaskan dalam JNC 7, Bapak En memiliki
risiko mengalami penyakit kardiovaskular karena mengalami keadaan yang ditulis
dalam JNC 7 yaitu merokok, mengalami hipertensi, dislipidemia dan diabetes mellitus.
2.3.2 Berdasarkan nilai Framingham Risk Scoring
Penilaian untuk keadaan yang dialami Bapak En menurut Framingham Risk Scoring
dapat ditulis sebagai berikut.

No

Parameter

Point

Usia (50 tahun)

HDL (55mg/dL = 1,4245 mmol/L)

-1

Total Kolesterol (233 mg/dL = 6,0347 mmol/L)

Tekanan darah sistolik (163 mmHg)

Merokok

Diabetes

3
Total Point Risiko

19

Risiko penyakit kardiovaskular 10 tahun ke depan

> 30%

Berdasarkan penilaian dengan Framingham Risk Scoring diketahui risiko pasien adalah
>30 %, ini menunjukkan risiko besar terjadinya kardiovaskular pada Bapak En 10 tahun
ke depan.

2.4 Efektivitas Terapi pada Pasien


Untuk mengetahui efektivitas terapi yang diberikan kepada Bapak En, harus diketahui
terlebih dahulu algoritma terapi pada pasien hipertensi. Berikut ini adalah algoritma untuk terapi
hipertensi.

(Dipiro, 2008 : 149)

Berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tekanan darah Bp. EN sebesar


163/95 mg/dL hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertensi tahap 2, selain itu pasien
juga memiliki riwayat penyakit diabetes melitus dimana dari hasil pemeriksaan diperoleh nilai
GDP sebesar 182 mg/dL dan untuk GD2J sebesar 215 mg/dL. First choice pengobatan untuk
pasien yang mengalami hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus yaitu obat golongan ACE
inhibitor (Angiotensin Converting Enzym Inhibitor) atau golongan ARB (Angiotensin Receptor
blocker) atau bisa juga dikombinasi dengan obat golongan diuretik atau -blocker. Pengobatan
ini bertujuan untuk menjaga tekanan sistolik <130mmHg dan tekanan diastolik <80mmHg. Pada
kondisi ini, dokter memberi tambahan terapi untuk hipertensi berupa Kaptopril. Kaptopril
merupakan obat golongan ACE Inhibitor yang bekerja dengan cara menghambat perubahan
Angiotensin I menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan sekresi aldosteron. Selain
itu, degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat.
Vasodilatasi secara langsung akan menurunkan tekanan darah, sedangkan berkurangnya
aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan natrium dan retensi kalium. Golongan ACE
inhibitor terpilih untuk hipertensi kongestif. Obat ini juga menunjukkan efek positif terhadap
lipid darah dan mengurangi resistensi insulin sehingga sangat baik untuk hipertensi pada
diabetes, dislipidemia dan obesitas. Pemberian antasida bersamaan dengan obat golongan ACE
Inhibitor akan mengurangi absorbsi dari obat ACEI. Sedangkan kombinasi dengan NSAID akan
mengurangi efek antihipertensinya dan menambah resiko hiperkalemia. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terapi yang diberikan untuk Bp. En sudah tepat yaitu menggunakan
kaptopril. Tetapi penggunaan kaptopril tidak boleh bersamaan dengan obat antasida yang sering
diminum oleh pasien dan juga dengan obat golongan NSAID dalam hal ini Na-diklofenak.
Selain itu pasien juga mempunyai riwayat penyakit diabetes melitus. Berdasarkan hasil
pemeriksaan terakhir kadar gula darah puasa (GDP) sebesar 182 mg/dL dan kadar gula darah 2
jam setelah makan sebesar 215 mg/dL. Dan ini termasuk ke dalam kriteria diagnosa dibetes
melitus tipe 2 menurut dipiro.

Untuk mengetahui treatment yang cocok untuk pasien diabetes melitus tipe 2, pertama-tama
harus mengetahui algoritma treatmentnya. Berikut ini adalah algoritma treatment diabetes
melitus tipe 2 menurut Dipiro:

Jika kita lihat dari algoritma di atas, target pengobatan yaitu untuk mendapatkan kadar gula
darah puasa (GDP) sebesar 110 mg/dL dan kadar gula darah 2 jam setelah makan (GD2J)
sebesar 140-180 mg/dL. Monoterapi awal untuk diabetes melitus tipe 2 yaitu menggunakan
metformin, Thiazolidinediones (TZDs), Sulfonylurea dan Insulin. Namun jika dalam waktu 3
bulan tidak tidak mencapai target yaitu nilai GDP 110 mg/dL dan GD2J 140-180 mg/dL maka
perlu dilakukan dual terapi(terapi dengan dua obat) yaitu bisa dengan menggunakan :
-Sulfonilurea + metformin
-Metformin + Thiazolidinediones
-Sulfonilurea atau metformin+ exenatide
Sebelumnya pasien telah menerima terapi metformin. Namun, pemberian terapi metformin
belum bisa menurunkan kadar glukosa dalam darah. Sehingga kami merekomendasikan untuk
melakukan dual terapi yaitu menggunakan sulfonilurea (tolbutamide atau gliclazide) +
metformin.
Selain itu dari hasil pemeriksaan kolestrol total dan HDL, nilainya cukup tinggi untuk
kolestrol total dan HDL terlalu rendah yaitu untuk kolestrol total sebesar 233mg/dL dan untuk
HDL sebesar 55mg/dL. Karena kolesterol total terdiri dari kolesterol yang berasal dari LDL,
VLDL, dan HDL, penentuan HDL berguna ketika Total kolesterol plasma meningkat. Jika Kadar
total kolesterol antara 200 dan 239 mg / dL diklasifikasikan sebagai kadar kolesterol darah batas
tinggi

yang

mengindikasikan

terjadinya

dislipidemia.

Dikutip dari : American Diabetes Association: Management of dyslipidemia in adults with


diabetes (Position Statement).Diabetes Care 25 (Suppl. 1):S74S77,2002.

Dislipidemia pada diabetes ditandai dengan meningkatnya kadar trigliserida dan menurunnya
kadar HDL kolesterol.
Penatalaksanaan dislipidemi terdiri atas :
1. Penatalaksanaan non-farmakologik
2. Penatalaksanaan farmakologik menggunakan obat-obat penurun lipid.
1. Penatalaksanaan non-farmakologik
Meliputi terapi nutrisi medis, aktivitas fisik serta beberapa upaya lain seperti berhenti merokok,
menurunkan berat badan bagi yang gemuk dan mengurangi asupan alkohol. Penurunan berat
badan dan peningkatan aktivitas fisik dapat menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan
kadar HDL kolesterol serta sedikit menurunkan kadar LDL kolesterol.
Terapi Nutrisi Medis
Selalu merupakan tahap awal penatalaksanaan dislipidemia, oleh karena itu disarankan untuk
berkonsultasi dengan ahli gizi. Pada dasarnya adalah pembatasan jumlah kalori dan jumlah
lemak. Pasien dengan kadar kolesterol LDL atau kolesterol total yang tinggi dianjurkan untuk
mengurangi asupan lemak jenuh dan meningkatkan asupan lemak tidak jenuh rantai tunggal dan
ganda ( mono unsaturated fatty acid = MUFA dan poly unsaturated fatty acid = PUFA). Pada
pasien dengan kadar trigliserida yang tinggi perlu dikurangi asupan karbohidrat, alkohol dan
lemak.
Aktivitas fisik
Pada prinsipnya pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai dengan
kondisi dan kemampuannya. Semua jenis aktivitas fisik bermanfaat, seperti jalan kaki, naik
sepeda, berenang dll. Penting sekali diperhatikan agar jenis olahraga disesuaikan dengan
kemampuan dan kesenangan pasien, selain itu agar dilakukan secara terus menerus. Pasien DM
yang mempunyai BB berlebih sebaiknya mendapat Terapi Nutrisi Medik dan meningkatkan
aktivitas fisik. The American Heart Association merekomendasikan untuk pasien DM dengan
Penyakit Kardiovaskular bahwa Terapi Nutrisi Medik maksimal dapat menurunkan kadar LDL
kolesterol sebesar 15 sampai 25 mg/dl. Jadi, bila kadar LDL kolesterol mengalami peningkatan
lebih dari 25 mg/dl diatas kadar sasaran terapi, hendaklah diputuskan untuk menambahkan terapi
farmakologik terutama terhadap pasien2 dengan risiko tinggi (pasien DM dgn riwayat infark
miokard sebelumnya atau dengan kadar LDL kolesterol tinggi (diatas 130 mg/dl).

2. Penatalaksanaan farmakologik
Berbagai studi klinis menunjukkan bahwa terapi farmakologik dengan obat-obat penurun lipid
memberi manfaat perbaikan profil lipid dan menurunkan komplikasi Kardiovaskular pada
pasien-pasien DM tipe 2. Hasil dari beberapa studi klinis mendukung rekomendasi ADA, bahwa
kadar

LDL

kolesterol

dibawah

100

mg/dl

merupakan

sasaran

utama

penatalaksanaan dislipidemia diabetik. Disamping itu penurunan kadar trigliseridaa dengan


menggunakan gemfibrozil seperti yang ditunjukkan dalam VA-HIT secondary prevention study,
dapat pula menurunkan angka kejadian komplikasi kardiovaskular berulang sebesar
24%. Prioritas pemilihan obat-obat penurun lipid untuk terapi dislipidemia diabetik dapat dilihat
pada tabel 4 dibawah ini :

(Dipiro ,2008: 395)

Rekomendasi pengobatan untuk Bp. EN :


-

Terapi Farmakologi
Terapi

Dosis

Kaptopril

25 mg : 3 x 1

Metformin

500 mg : 2 x 1

Tolbutamide

1000 mg : 2 x 1

Gemfibrozil

600 mg : 2 x 1

Terapi Non Farmakologi


Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalah mengurangi atau berhenti merokok,

meningkatkan asupan buah, sayur dan mengurangi asupan makanan yang mengandung lemak,
mengurangi asupan natrium (makanan asin) dan olahraga ringan secara teratur (Dipiro, 2008).