Anda di halaman 1dari 109

Parameter Gempa

Kelompok 2

Araminta Permatasari
Nur Amalia Putri
Ludy Claudia Hawa S
Alfadeo Vulgar Siantori
Jonathan Achmad H
Hana Dwi Sussena
Berlianti Oktaviana M
Liawening Vidyan P
Septiwiandari
Erwan Hermawan
Argya Hastubrata B

Outline
Pengertian Gempa
Klasifikasi Gempa
Skala Gempa
Macam-macam Parameter Gempa
Waktu Terjadinya
Episenter
Hiposenter
Magnitude
Intensitas
a-value
b-value
Fungsi Likelihood

Pengertian Gempa
Ludy Claudia Hawa S.
125090700111010

Pengertian Gempabumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang
terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa
disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng
bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk
menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian
gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat,
selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila
tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah
terlalu besar untuk dapat ditahan (Bolt, B.A,
1993).

Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi


akibat pelepasan energi di dalam bumi secara
tiba-tiba berupa gelombang, sehingga efeknya
dapat dirasakan sampai ke permukaan yang
ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada
kerak bumi. Akumulasi energi penyebab
terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan
lempeng-lempeng tektonik. Energi yang
dihasilkan dipancarkan kesegala arah bumi
(BMKG)

Penyebab Terjadinya Gempabumi


1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng
bumi
2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
3. Pergerakan geomorfologi secara lokal,
contohnya terjadi runtuhan tanah
4. Aktivitas gunung api
5. Ledakan nuklir

Mekanisme perusakan terjadi karena energi


getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi.
Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat
menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan
sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran
gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor,
runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang
merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga
menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran,
kecelakaan industri dan transportasi serta banjir
akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul
penahan lainnya.

Jalur Gempabumi Indonesia


Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi
karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng
tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng
Eurasia, dan lempeng Pasifik.Lempeng IndoAustralia bergerak relatif ke arah utara dan menyusup
kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik
bergerak relatif ke arah barat. Jalur pertemuan
lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi
gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka
akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga
Indonesia juga rawan tsunami.

Faktor-faktor yang Mengakibatkan


Kerusakan Akibat Gempabumi

Kekuatan gempabumi
Kedalaman gempabumi
Jarak hiposentrum gempabumi
Lama getaran gempabumi
Kondisi tanah setempat
Kondisi bangunan

Akibat Gempabumi

Getaran atau guncangan tanah (ground shaking)


Likuifaksi ( liquifaction)
Longsoran Tanah
Tsunami
Bahaya Sekunder (arus pendek,gas bocor yang
menyebabkan kebakaran, dll)

Klasifikasi Gempa
Hana Dwi Sussena
125090701111003

1) Bedasarkan Faktor Penyebab


a. Gempa bumi vulkanik ( Gunung Api )
Gempa bumi ini terjadi akibatadanya
aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum
gunung api meletus. Apabila keaktifannya
semakin tinggi maka akan menyebabkan
timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan
terjadinya gempabumi.. Gempabumi tersebut
hanya terasa di sekitar gunung api tersebut

1. Gempa gunungapi Tipe A


Sumber gempa terletak dibawah gunungapi
pada kedalaman 1-20 km. Tipe gempa ini biasanya
terdapat pada gunungapi yang berada dalam
keadaan aktif. Penyebab dari gempa gunungapi tipe
ini adalah naiknya magma ke permukaan dengan
disertai oleh rekahan-rekahan dengan ciri-ciri waktu
tiba gelombang P dan S terlihat jelas.

2. Gempa gunungapi Tipe B


Sumber gempa gunungapi tipe ini terdapat
pada kedalaman kurang dari 1 km dari kawah
yang sedang aktif. Oleh karena itu gempa yang
tercatatmempunyai gerakan awal yang cukup
jelas, tapi waktu tiba gelombang S tidak dapat
dilihat secara jelas.

3. Gempa Letusan
Merupakan gempa yang disebabkan oleh
terjadinya letusan yang bersifat eksplosif.
Berdasarkan hasil pengamatan seismik sampai
saat ini dapat dikatakan bahwa gerakan pertama
dari gempa letusan adalah push up atau gerakan
ke atas. Dengan kata lain, gempa letusan
ditimbulkan oleh mekanisme sebuah sumber
tunggal yang positif.

4. Tremor Gunungapi
Merupakan getaran yang menerus
disekitar gunungapi. Gempa yang ditimbulkan
oleh letusan-letusan tersebut selalu berulangulang dan dalam rekaman seismogram terlihat
seperti getaran yang menerus karena saling
bertumpukkan.

b. Gempa bumi tektonik


Gempabumi ini
disebabkan oleh adanya
aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng
lempeng tektonik
secara mendadak yang
mempunyai kekuatan
dari yang sangat kecil
hingga yang sangat
besar. Gempabumi ini
banyak menimbulkan
kerusakan atau bencana
alam di bumi, getaran
gempa bumi yang kuat
mampu menjalar
keseluruh bagian bumi.

Gempa bumi tektonik disebabkan oleh


perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran
lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang
karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

c. Gempa Runtuhan
Gempa runtuhan atau terban
merupakan gempa bumi yang
terjadi karena adanya runtuhan
tanah atau batuan. Lereng gunung
atau pantai yang curam memiliki
energi potensial yang besar untuk
runtuh, juga terjadi di kawasan
tambang akibat runtuhnya dinding
atau terowongan pada tambangtambang bawah tanah sehingga
dapat menimbulkan getaran di
sekitar daerah runtuhan.

Jenis-jenis longsoran dapat dilihat pada gambar


dibawah ini :

d. Gempa Buatan
Merupakan gempa yang
diakibatkan oleh adanya
ledakan dynamit yang
sengaja dibuat oleh
manusia dalam suatu
proses kegiatan baik dalam
bidang pertambangan
maupun yang lainnya yang
dapat menyebabkan
getaran di area sekitar.

e. Gempa Tumbukan
Gempa bumi ini diakibatkan oleh tumbukan
meteor atau asteroid yang jatuh ke bumi, jenis
gempa bumi ini jarang terjadi

2) Berdasarkan Magnitude Gempa


a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih


besar dari 8 SR.
Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR.
Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR.
Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR.
Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4
SR .
Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR.
Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil
dari 1 SR .

3) Berdasarkan Kedalaman Sumber

Gempabumi dalam h >


300 Km

Gempabumi menengah
70 - 300 Km

Gempabumi dangkal h
< 70 Km

4) Berdasarkan Bentuk Episentrum:

a. Gempa sentral:
episentrumnya
berbentuk titik

b. Gempa linear:
episentrumnya
berbentuk garis

5) Berdasarkan Lokasinya

Gempa daratan : episentrumnya di


daratan.

Gempa lautan : episentrumnya di


dasar laut. Input data sumber gempa

Reference :
http://pendidikankebencanaan.com/pendidikan-gempabumi/klasifikasi-gempa/
Fauzia, dkk. 2011. Laporan PL3002 Aspek Kebencanaan.
Bandung: ITB.

Skala Gempa
Araminta Permatasari
115090707111010

Beberapa cara untuk


mengukur besar magnitude gempa

Skala Richter
Skala MMI
(Modified Mercalli Intensity)

Skala Richter
Skala yang palingumum digunakan
Dikembangkan oleh Charles F. Richter
pada tahun 1934.
Formula berdasarkan amplitudo terbesar
yang terekam pada seismometer dan
jarak antara titik gemoa dengan
seismometer.

Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)


Diciptakan oleh seorang
vulkanologis dari Italia yang
bernama Giuseppe Mercalli pada
tahun 1902.
Skala Mercalli terbagi menjadi 12
tingkatan berdasarkan informasi
dari orang-orang yang selamat dari
gempa tersebut.

MACAM-MACAM
PARAMETER GEMPA

Waktu terjadinya
episenter
hiposenter
Argya Hastubrata B.
125090707111020

Parameter Gempa
Parameter Gempa bumi menurut Boen (2000)
dalam Sudibyakto (2000) biasanya digambarkan
dengan tanggal terjadinya, waktu terjadinya,
koordinat epicenter (dinyatakan dengan
koordinat garis lintang dan garis bujur),
kedalaman hypocenter, Magnitude, dan
intensitas maksimum.

Origin Time
Waktu kejadian gempa bumi (Origin Time)
adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan
(stress) yang berbentuk penjalaran gelombang
gempa bumi dan dinyatakan dalam hari, tanggal,
bulan, tahun, jam, menit, detik dalam satuan WIB
atau UTC (Universal Time Coordinated).

Origin time dinyatakan dalam satuan waktu


internasional (GMT).
OT = RP - (P-H)
Dimana:
OT : waktu terjadinya gempa
RP : pembacaan waktu gelombang P pada
stasiun
P-H : nilai Jeffreys-Bullent.

Hypocenter
Hypocenter adalah titik dimana mula-mula
pergerakan seismik terjadi. Sering pula disebut
focus, center. Jadi lokasi hipocenter berada jauh
dibawah permukaan bumi. Definisi lain
menyatakan bahwa hiposenter adalah titik
dibawah permukaan bumi tempat gelombang
gempa pertama kali dipancarkan (Boen, 2000
dalam Sudibyakto, 2000).

Howell (1969) telah membagi jenis-jenis


gempabumi berdasarkan kedalaman
hipocentrumnya, yaitu :
a. Gempabumi dangkal (normal), pusatnya <
70 km.
b. Gempabumi sedang (intermediet),
pusatnya 70 300 km.
c. Gempabumi dalam, pusatnya 300 700
km.

Penentuan kedalaman sumber gempa dari


permukaan bumi, ditentukan dari
pembacaan pias seismogram setengah
amplitudo maksimum dari gelombang P
pada komponen vertikal. Untuk
menentukan kedalaman gempa dipakai
persamaan:

Epicenter
Episentrum adalah titik di permukaan bumi yang
merupakan refleksi tegak lurus dari kedalaman
sumber gempa bumi (Hiposentrum) . Posisi
episentrum dibuat dalam sistem koordinat
kartesian bola bumi atau sistem koordinat
geografis dan dinyatakan dalam derajat lintang
dan bujur. Jarak episenter gempa bumi
menggunakan data S-P (selisih waktu datang
gelombang S dengan waktu datang gelombang P).

Lokasi episenter dinyatakan dalam koordinat


geografis (derajat lintang dan bujur). Untuk
menentukan letak titik episenter digunakan
persamaan berikut;

Magnitude
Magnitude Lokal
Alfadeo Vulgar Siantori
125090700111017

Magnitude
Magnitudo adalah ukuran logaritmik dari kekuatan gempa bumi yang
berdasarkan pengukuran amplitudo maksimum fasa seismik
Magnitudo gempa pertama dikembangkan oleh K. Wadati dan C.
Richtertahun 1930an
Skala magnitudo berdasarkan pada beberapa asumsi sederhana, yaitu:
Dua gempa dengan kekuatan berbeda dan direkam dengan geometri
sumber-penerima yang sama, maka kejadian yang lebih besar adalah
yang akan menghasilkan amplitudo yang lebih besar
Magnitudo seharusnya adalah ukuran energi yang dilepaskan, karena
itu sebanding dengan kecepatan gerakan tanah, yaitu A/T maksimum
Penurunan amplitudo karena efek geometri dan atenuasi diketahui
secara statistik. Hal ini dikompensasi dengan fungsi kalibrasi f (, h)
Efek sumber seperti directivity dapat dikoreksi secara regional Cr dan
pengaruh lokal seperti struktur batuan lokal, topografi, dan Iain-Iain
dikoreksi dengan koreksi stasiun Cs

Magnitude
M = log(A/T) + f (,h) + Cs + Cr (9.30)
A = displocment dari fasa gempa T= periode sinyal
f = koreksi untuk jarak episentral () dan
kedalaman focal (h)
Cs = koreksi siting station
Cr = koreksi sumber regional

Magnitude
Pada dasarnya pengukuran secara kuantitatif
dibutuhkan untuk membandingkan ukuran dari gempa
bumi diseluruh dunia. Magnitude merupakan
pengukuran secara kuantitative jumlah dari energy yang
dilepaskan oleh gempa bumi. Adapun variasi skala
magnitude :
1. Local/Richter magnitude
2. Surface wave magnitude
3. Body wave magnitude
4. Moment magnitude
5. Duration magnitude

Local Magnitude (ML)


Skala magnitudo pertama dikembangkan oleh C.
Richter
Richter berpendapat bahwa deskripsi gempa harus
meliputi pengukuran gempa yang objektif.
Richter mengobservasi bahwa logaritimik
gerakan tanah maksimum meluruh terhadap jarak
sepanjang suatu kurva

Local Magnitude (ML)


Plot logaritma data amplitudo maksimum
terhadap jarakdari gempa

Local Magnitude (ML)


Secara umum, kurva-kurva dalam gambar
mempunyai kecepatan peluruhan yang sama. Hal ini
menunjukkan adanya ketidaktergantungan ukuran
kekuatan gempa terhadapa jarak, maka ukuran
tersebut bisa ditentukan dari ukuran relatif terhadap
gempa referensi, atau dapat ditulis
ML = logA -logA0 (9.31)
Dengan A adalah displacment gempa dan A0 adalah
kejadian referensi pada jarak tertentu

Local Magnitude (ML)


Richter memilih gempa referensi ML = 0, dimana A0 = 10-3 m pada jarak
episenter 100 km. Dengan memakai gempa referensi untuk mendefinisikan
suatu kurva, persamaan (9.31) bisa diubah menjadi
ML = logA - 2.48 + 2.76 log
(9.32)
Dengan A adalah amplitudo displacment dalam 10-6 m dan adalah jarak
dalam kilometer.
Persamaan ini sekilas tidak sama dengan persamaan (9.30), tapi Richter
membuat sejumlah batasan sehingga bisa menentukan faktor-faktor dalam
persamaan (9.30). Pertama, semua instrumen berpita sempit dan identik
sehingga fasa seismik yang beramplitudo maksimum selalu berperioda
dominan tunggal 0,8 s. Kedua, semua seismisitas dangkal, kurang dari 15 Km.
dan penjalaran gelombangny terbatas di California Selatan. Oleh karena itu
koreksi regional dan kedalaman fokus bisa dikatakan konstan dan persamaan
(9.32) adalah turunan persamaan (9.30).

Local Magnitude (ML)


ML dewasa ini jarang digunakan dalam bentuk
aslinya dikarenakan instrumen Wood-Anderson
tidak umum digunakan dan tentu saja gempabumi
tidak hanya terjadi di California Selatan
Bagaimanapun ML tetap menjadi skala magnitude
yang sangat penting karena skala magnitude yang
lain berhubungan dengan ML

Daftar Pustaka
Afnimar. 2009. Seimologi. Bandung: Penerbit
Institut Teknologi Bandung
Wallace, T. 1995. Modern Global Seismology.
USA: Academic Press

Magnitude Body
Magnitude Surface
Jonathan Achmad H.
125090700111023

Body-wave Magnitude
Terbatasnya penggunaan magnitude lokal untukjaraktertentu membuat
dikembangkannya tipe magnitude yang bisa digunakan secara luas.
Magnitude ini didefinisikan berdasarkan catatan amplitude dari
gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T and
Wallace.T.C. 1995).
Secara umum dirumuskan dengan persamaan :
mb = log(A/T) + Q(h,)
dimana : A
= Amplitudo getaran (mm)
T
= Periode getaran (s)
Q(h,) = Koreksi jarak D dan kedalaman h yang didapatkan
dari pendekatan empiris.
Selain terdapat mb adalagi yang disebut mB , mB digunakan untuk periode
panjang sedangkan mb untuk periode pendek.

Surface-wave Magnitude
Gempabumi dalam tidak menghasilkan gelombang permukaan,
karena itu persamaan Ms tidak memerlukan koreksi kedalaman.
Magnitude tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran
terhadap gelombang permukaan (surface waves).
Untuk jarak A > 600km seismogram periode panjang (longperiod seismogram) dari gempabumi dangkal didominasi oleh
gelombang permukaan. Gelombang ini biasanya mempunyai
periode sekitar 20 detik.
Magnitudo ini juga akan mengalami saturasi pada gempa yang
mempunyai kekuatan di atas 8 skala richter.
Amplitude gelombang permukaan sangat tergantung pada jarak
dan kedalaman sumbergempa h.

Magnitude permukaan mempunyai bentuk rumus sebagai


berikut:
Ms = logA + A1og + b
dimana: A = amplitude maksimum dari pergeseran tanah
horisontal pada periode 20 detik
= jarak
A dan b adalah koefisien dan konstanta yang didapatkan
dengan
pendekatan empiris. Persamaan ini digunakan hanya untuk
gempa dengan kedalaman sekitar 60 km

Hubungan antara Ms dan mb dapat dinyatakan dalam


persamaan :
mb = 2.5 + 0.63 Ms
Atau
Ms = 1.59 mb - 3.97

Magnitude Moment
Magnitude Durasi
Erwan Hermawan
125090707111014

MOMENT MAGNITUDE (Mw)


Awalnya moment magnitude ini diperkenalkan
oleh Hanks dan Kanamor.
Pada skala moment magnitude ini berhubungan
dengan momen seismic (Mo).
Seismic moment ini didefinisikan sebagai berikut:

MOMENT MAGNITUDE (Mw)


Dimana Mo adalah seismic moment, D adalah ratarata perpindahan diseluruh permukaan patahan, A
adalah luasan permukaan dari patahan, dan Miu
adalah nilai rigiditas dari batuan penyusun patahan
tersebut.
Untuk menghitung moment magnitude sebelumnya
kita harus mengetahui seismic momennya.
Berikut penjelasan.

MOMENT MAGNITUDE (Mw)


Prinsip :

Gambar di samping Ini


merupakan awal terjadinya
gempa ketika sebuah gaya
bekerja pada block batuan
(sebut saja transform fault).

Bukan hanya amplitude


gelombang yang dicatat, tetapi
juga mengukur besarnya
ukuran energy yang dilepas
gempa bumi dengan
menggunakan Seismic
momen.

Seismic moment

Kita mengenal bahwa


persamaan untuk seismic
moment tadi adalah:
Penjelasan:

gaya yang dibutuhkan


untuk menghasilkan
gelombang yang
direkam

Nilai dari rigitas batuan


semakin ke dalam (mantle)
maka nilai rigiditasnya
semakin besar dibandingkan
pada bagian kerak.

Nilai D terukur dari jarak


antara blok yang satu dengan
blok yang lainnya mengalami
slip

Gambar diatas merupakan


contoh dari penghitungan D
secara langsung, dapat dilihat
pagar yang mengalami
pergeseran cukup signifikan

Dengan mengetahui
seismic moment maka
setelah mendapatkan
nilainya dapat langsung
dimasukkan dipersamaan
momen magnitude
sebagai berikut :
Untuk pengukuran area (A)
dapat dilakukan dengan cara di
atas menghitung panjang dan
estimasi kedalaman dengan
pemodelan matematika dan
pengukuran strike dan dip.

Moment seismic

Kesimpulan
Seismic moment merupakan jumlah energi yang dilepaskan
pada sumbernya, bukan bergantung pada efek energi pada
satu atau lebih seismograf pada jarak tertentu dari
sumbernya.
Seismic moment dikembangkan untuk menghindari
masalah saturasi dalam skala magnitude lainnya, dan
biasanya digunakan untuk menggambarkan nilai besarnya
gempa gempa.
Magnitude moment baik digunakan untuk gempa yang
besar, karena tidak mudah saturated dan karena Mo
(seismic moment) dapat meningkatkan tanpa batas sebagai
nilai magnitude akibat patahan dan peningkatan dimensi
dislokasi.

DURATION MAGNITUDE
Skala ini didasarkan pada durasi getar yang diukur dengan
waktu peluruhan amplitudo seismogram, sering digunakan
dalam survey gempa mikro.
Duration magnitude (MD) digunakan di banyak daerah
karena memberikan perkiraan yang cepat dan dapat
diandalkan dari ukuran gempa bumi melalui prosedur
yang cukup sederhana berdasarkan ukuran durasi
seismogram yang direkam.
Bisztricany (1958) pertama kali menunjukkan adanya
hubungan antara magnitude dan durasi,
Dalam formulasi durasi magnitude bergantung pada durasi
getaran tanah (Ground-shaking) atau jarak hiposentral.

DURATION MAGNITUDE
Duration magnitude didefinisikan sebagai berikut :

Dimana :
A, b, dan c adalah koefisien yang dapat ditentukan melalui
analisis regresi.
Tau adalah durasi sinyal
R adalah jarak hiposenral
Sc adalah station correction

Intensitas Gempa
Septiwiandari
125090707111007

Intensitas Gempa
Intensitas dapat didefinisikan sebagai suatu
ukuran deskriptif akibat guncangan selama
gempa terjadi.
Berlawanan dengan konsep magnitudo
yang berdasarkan penilaian dan klasifikasi
dari kerusakan akibat guncangan gempa
serta persepsi manusia terhadap guncangan
tersebut.

Besarnya intensitas tergantung pada energi


yang diradiasikan yang dapat dinyatakan
dalam magnitudo.
Semakin jauh suatu tempat dari titik
episenter, tentu saja energinya akan
semakin kecil, akan tetapi sifat penjalaran
gelombang seismikdalam batuan harus
dipertimbangkan.

Goncangan yang disebabkan gempa akan


besar di daerah basin walaupun jaraknya
cukup jauh dari episenter.
Untuk gempa-gempa besar (proses rupture
yang rumit), durasi goncangan bisa lebih
lama.
Besarnya intensitas tergantung pada
bangunan itu sendiri, seperti rancangan,
tinggi dan bahan bangunan.

Skala Intensitas

Pengumpulan Data Makroseismik


Secara prinsip, pengumpulan data ini
berdasarkan dua sumber, yaitu survei dengan
menyebarkan kuisioner dan investigasi
lapangan atau keduanya mungkin dilakukan
pada gempa bumi tertentu.
Survei kuisioner dipakai untuk skala intensitas
dalam kisaran II samapai IV.
Untuk kisaran VII keatas, investigasi lapangan
diperlukan.

Kuisioner tentu saja harus dibuat semudah


mingkin bagi pengisinya dan mendapatkan
informasi sebaik mungkin.
Dengan kemajuan teknologi informasi
sekarang ini, pengumpulan data secara
online sudah dapat dilakukan dengan baik,
seperti ada isian dalam situs USGS jika
terjadi gempa.

Dalam hal investigasi lapangan pada gempa dengan


intensitas tinggi, perlu diperhatikan hal-hal berikut :
Sebaiknya dibuat perencanaan investigasi
sebanyak mungkin, bahwa sebelum terjadi
gempa. Anggota tim harus orang yang
berpengalaman.
Di lapangan, penting untuk mengkombinasikan
survei rinci dan survei umum dari karakteristik
struktur.
Untuk insinyur struktur, studi rinci seharusnya
dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat
ketahanan struktur bangunan baik yang rusak
maupun yang tidak.
Aspek geoteknik juga seharusnya diinvestigasi.

Peta Isoseismal
Setelah dilakukan pengolahan data yang
terkumpul dan dilakukan penilaian intensitas
seterusnya ditandai dengan simbol tertentu.
Dengan demikian dapat dibuat peta
intensitasnya yang disebut peta isoseimal.

A-value
Liawening Vidyan P.
125090706111001

SEISMISITAS
Seismisitas merupakan suatu sistem data serasi yang
dapat memberikan suatu gambaran atau informasi secara
sistematis tentang karakteristik dan aktivitas gempa bumi
pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.
Nilai tingkat seismisitas di suatu daerah yang sedang diamati
tergantung dari :
1)Periode pengamatan,
2)Luas daerah pengamatan, dan
3)Aktivitas seismik daerah yang diamati.

Parameter Seismisitas A
Merupakan harga numerik yang dapat digunakan
sebagai ukuran dalam kaitannya dengan tingkat kegempaan
suatu daerah ditinjau dari keaktifan seismik.

A
Parameter
Seismisitas

Rumus empiris yang diturunkan oleh B. Gutenberg dan C.F.


Richter adalah sebagai berikut:
Log 10 N ( M ) = a b M
Nilai a merupakan konstanta dari persamaan linier dengan
hubungan frekuensi dan magnitudo dari Gutenberg-Richter
yaitu Log N = a bM. Tingkat keaktifan seismik (a) juga
dipengaruhi oleh tingkat kerapuhan batuan.

Magnitude
Magnitudo merupakan ukuran kekuatan gempa bumi,
menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat
gempa bumi terjadi dan merupakan hasil pengamatan
seismograf.

Grafik Hubungan Frekuensi


dengan Magnitude

: Konstanta yang menunjukkan tingkat aktivitas gempa

: Magnitude gempa dalam skala Richter

: Jumlah gempa dengan magnitude M desain pertahun

: Konstanta yang menentukan perbedaan frekuensi terjadinya gempa


kecil dan gempa kuat.

b-value
Nur Amalia Putri
125090700111004

Definisi

b-value

Tingkat
kerapuhan suatu
batuan

Frequency Magnitude Distribution / FMD

log N = a b M

Persamaan empirik
Gutenberg-Richter

dimana,
N
= jumlah gempabumi,
M
= magnitudo,
a
= konstanta produktivitas gempabumi,
b
= konstanta distribusi gempabumi.

Konstanta b atau b-value


Kurva hubungan frekuensi dan magnitudo

Study Case

Fulki, Ahmad. 2011. Skripsi: Analisis Parameter


Gempa, b Value dan PGA di Daerah Papua.
Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.

Perhitungan B value dengan Metode


Likelihood

Perhitungan b value
Data 1 adalah sebagai berikut :

Tabel Wilayah dan Nilai b-value

Penyebaran Data b-value

Fungsi Likelihood
Berlianti Oktaviana Manurung
125090702111003

Hubungan frekuensi-magnitudo gempa bumi


dikenalkan pertama kali sekitar 70 tahun silam.
Hubungan frekuensi-magnitudo gempa bumi
dinyatakan dengan persamaan empirik GutenbergRichter sbb :
log N = a'-bM
..(1)
Ket : a = a log (b. ln 10)
N = Jumlah kumulatif gempa bumi pada
wilayah kajian dengan magnitudo lebih
besar atau sama dengan M
a dan b masing-masing adalah parameter model
regresi.

Jika fungsi distribusi probabilitas yang tergantung


pada parameter b adalah f (M,b), maka fungsi
Likelihood didefinisikan sebagai;
P(M,b)= f(M1,b), f(M2,b), f(M3,b) . . . . . f(MN,b)

Estimasi Likelihood dari b adalah harga parameter


yang memaksimalkan fungsi P(M, b). Nilai estimasi
b dapat diperoleh melalui :

Jika metoda ini diterapkan pada masalah hubungan


magnitude-frekuensi, fungsi distribusi probabilitas
Mi adalah.

f (M i , b ' ) = b 'e-b ( M i M o ) , M i > M o


dengan b = b. ln 10

Fungsi Likelihood Sampel


P = (b' ) N .exp[-b' ( M i - NM o )

Estimasi Likelihood dan estimasi nilai a pada persamaan (1)


adalah :
a = log N + log(b. ln10) + M o b
dengan N, M dan Mo masing-masing adalah jumlah kumulatif data
yang digunakan, magnitudo rata-rata dan magnitudo terkecil
dalam blok volume yang dikaji.

Nilai b dari hubungan frekuensi-magnitudo


gempa, biasa dikenal juga sebagai b-value.
Nilai b bergantung kondisi struktur, makin
besar nilai b menggambarkan struktur makin
tidak homogen.
Dengan teknik grid 3-D dapat dibuat citra
distribusi nilai b fungsi dari ruang dengan
resolusi tinggi. Besarnya nilai b tiap grid
dihitung dengan mengambil jumlah gempa
tetap.

Nilai b dihitung dari titik ke titik grid yang


telah ditentukan dengan jumlah gempa sama
tanpa memperhatikan luas daerahnya. Untuk
mendapat citra nilai b dengan resolusi tinggi
digunakan interpolasi spline untuk
memperoleh nilai b antara titik-titik grid.
Nilai b yang mewakili masing- masing titik
adalah nilai b yang tingkat kepercayaanya
(goodness of fit) lebih dari 90 %. Magnitudo
minimal tiap volume, Mc > 4,5.

Bi dan Si masing-masing adalah jumlah gempa


kumulatif dengan magnitudo Mi yang teramati dan
yang terprediksi

Terima
Kasih