Anda di halaman 1dari 19

ISU LINGKUNGAN GLOBAL

Isu lingkungan global adalah Kejadian-kejadian kerusakan lingkungan yang


menjadi perhatian seluruh masyarakat nasional maupun internasional. Isu lingkungan
global mulai muncul dalam berberapa dekade belakangan ini. Kesadaran manusia akan
lingkungannya yang telah rusak membuat isu lingkungan ini mencuat.
Isu lingkungan global merupakan permasalahan lingkungan di mana dampak yang
ditimbulkan dari permasalahan lingkungan tersebut mengakibatkan dampak yang luas
dan serius bagi dunia. Kesadaran manusia akan lingkungannya yang telah rusak
membuat isu lingkungan ini mencuat.
Berikut ini adalah 7 Isu Lingkungan Global yang mulai menjadi ancaman
masyarakat di dunia :

1. Pemanasan Global (Global Warming)

a. Pengertian Pemanasan Global


Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer,
laut dan daratan bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan bumi telah
meningkat 0.18 C selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata
global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya
konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.
Peningkatan temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahanperubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas
kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola hujan. Pada
intinya, pemanasan global merupakan peningkatan temperatur di planet bumi secara
global, meliputi peningkatan temperatur atmosfer, temperatur laut dan temperatur
daratan bumi.

b. Hubungan Pemanasan Global dengan Efek Rumah Kaca


Semakin meningkatnya temperatur di permukaan bumi ternyata berkaitan dengan
gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia seperti yang telah

disebutkan sebelumnya. Beberapa jenis gas rumah kaca merupakan penyebab


meningkatnya temperatur di planet bumi yang berasal dari aktivitas manusia sendiri.
Artinya, aktivitas manusia merupakan kontributor terbesar bagi terbentuknya gas-gas
rumah kaca, seperti pembakaran pada kendaraan bermotor/industri (pabrik-pabrik), dan
pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar fosil (bahan bakar minyak,
batu bara dan sebagainya).
Bumi ini sebetulnya secara alami menjadi panas karena radiasi panas matahari
yang masuk ke atmosfer. Panas ini sebagian diserap oleh permukaan Bumi lalu
dipantulkan kembali ke angkasa. Karena ada gas rumah kaca di atmosfer, di antaranya
karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida (N2O), sebagian panas tetap ada di
atmosfer sehingga Bumi menjadi hangat pada suhu yang tepat (60F/16C) bagi hewan,
tanaman, dan manusia untuk bisa bertahan hidup. Mekanisme inilah yang disebut efek
gas rumah kaca. Tanpa efek gas rumah kaca, suhu rata-rata di dunia bisa menjadi -18C.
Sayangnya, karena sekarang ini terlalu banyak gas rumah kaca di atmosfer, terlalu
banyak panas yang ditangkapnya. Akibatnya, Bumi menjadi semakin panas.

c. Penyebab Pemanasan Global


Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal
dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, hal tersebut disebabkan oleh
tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang
terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara,
minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan.
Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi
metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs
merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global,
tetapi sekarang dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon,
metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring
banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap banyak CO2,
kemampuannya untuk menjadi atap sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti
bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara
bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global.

Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara


spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi
tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang
mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan.
Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari,
angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi
penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah,
dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk
bahan bakar fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon,
menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal
dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.

d. Dampak Pemanasan Global


Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan
bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun
pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna
tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas
sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan
kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan,
pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan
produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb).
Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan
global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.
Dampak-dampak lainnya :
Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayati
Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
Mencairnya es dan glasier di kutub
Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena
kekeringan yang berkepanjangan
Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100
diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 - 95 cm.

Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral


bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah-daerah baru
karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.

2. Penurunan Keanekaragaman Hayati

Keaneragaman hayati adalah keaneragaman jenis spesies makhluk hidup. Tidak


hanya mewakili jumlah atau sepsis di suatu wilayah, meliputi keunikan spesies, gen
serta ekosistem yang merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Dampaknya: karena keaneragaman hayati ini memeliki potensi yang besar bagi manusia
baik dalam kesehatan, pangan maupun ekonomi.
Menghilangnya keanekaragaman hayati di suatu wilayah dapat disebabkan oleh
beberapa faktor berikut ini.
1) Hilangnya Habitat
Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) menunjukkan
bahwa hilangnya habitat yang diakibatkan manajemen pertanian dan hutan yang tidak
berkelanjutan

menjadi

penyebab

terbesar

hilangnya

kenekaragaman

hayati.

Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan semakin bertambah pula kebutuhan


yang harus dipenuhi. Lahan yang tersedia untuk kehidupan tumbuhan dan hewan
semakin sempit karena digunakan untuk tempat tinggal penduduk, dibabat untuk
digunakan sebagai lahan pertanian atau dijadikan lahan industri.
2) Pencemaran Tanah, Udara, dan Air
Zat pencemar (polutan) adalah produk buangan yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
Polutan tersebut dapat mencemari air, tanah, dan udara. Beberapa polutan berbahaya
bagi organisme. Nitrogen dan sulfur oksida yang dihasilkan dan kendaraan bermotor
jika bereaksi dengan air akan membentuk hujan asam yang merusak ekosistem.
Penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) yang berlebihan menyebabkan lapisan ozon di
atmosfer berlubang. Akibatnya intensitas sinar ultraviolet yang masuk ke bumi
meningkat dan menyebabkan banyak masalah, antara lain berkurangnya biomassa

fitoplankton di lautan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan


organisme.
3) Perubahan Iklim
Salah satu penyebab perubahan iklim adalah pencemaran udara oleh gas karbon
dioksida (CO2) yang menimbulkan efek rumah kaca. Menurut Raven (1995), efek
rumah kaca meningkatkan suhu udara 1-3C dalam kurun waktu 100 tahun. Kenaikan
suhu tersebut menyebabkan pencairan es di kutub dan kenaikan permukaan air laut
sekitar 1-2 m yang berakibat terjadinya perubahan struktur dan fungsi ekosistem lautan.

4) Eksploitasi Tanaman dan Hewan


Eksploitasi hewan dan tumbuhan secara besar-besaran biasanya dilakukan terhadap
komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi, misalnya kayu hutan yang digunakan
untuk bahan bangunan dan ikan tuna sirip kuning yang harganya mahal dan banyak
diminati oleh pecinta makanan laut. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan
kepunahan spesies-spesies tertentu, apalagi bila tidak diimbangi dengan usaha
pengembangbiakannya.
5) Adanya Spesies Pendatang
Masuknya spesies dari luar ke suatu daerah seringkali mendesak spesies lokal yang
sebenarnya merupakan spesies penting dan langka di daerah tersebut. Beberapa spesies
asing tersebut dapat menjadi spesies invasif yang menguasai eksosistem. Contohnya
ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis) merupakan spesies endemik Danau
Ayamaru, Papua Barat. Ikan pelangi terancam punah karena dimangsa oleh ikan mas
(Cyprinus Carpio) yang dibawa dari Jepang dan menjadi spesies invasif di danau
tersebut.
6) Industrialisasi Pertanian dan Hutan
Para petani cenderung menanam tumbuhan atau memelihara hewan yang bersifat
unggul dan menguntungkan sedangkan tumbuhan dan hewan yang kurang unggul dan
kurang menguntungkan akan disingkirkan. Selain itu, suatu lahan pertanian atau hutan
industri umumnya hanya ditanami satu jenis tanaman (monokultur), misalnya teh, karet,
dan kopi. Hal ini dapat menurunkan keanekaragaman hayati tingkat spesies.

3. Global Pupulation
Pertumbuhan penduduk (Population Growsth) adalah perubahan jumlah penduduk
di suatu daerah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan dengan jumlah penduduk
pada waktu sebelumnya. Pertambahan penduduk duia yang mengikuti pertumbuhan
secara ekponsial merupakan permasalahan lingkungan. Dampaknya: terjadinya
pertumbuhan penduduk akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan sumber daya alam
dan ruang.

Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di


Indonesia dan bahkan dunia. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya
yang besar untuk bertahan hidup. Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal,
maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi
kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan
lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya
kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang
rendah.
Dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat dapat
berdampak kepada meningkatnya kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh. Menurut Soemarwoto
(1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk sebagai akibat laju

pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian lingkungan adalah sebagai


berikut:
1) Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik.
Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas
bertambah. Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah.
Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi
konsentrasi produksi limbah.
2) Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan
teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport modern. Industri dan
transport menghasilkan berturut-turut limbah industri dan limbah transport. Di
daerah industri juga terdapatkepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang
ramai. Di daerah ini terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan limbah
transport.
3) Akibat pertambahan penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan.
Kenaikan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan intensifikasi lahan pertanian,
antara lain dengan mengunakan pupuk pestisida, yang notebene merupakan sumber
pencemaran. Untuk masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada
lahan pertanian, maka seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan lahan
pertanian juga akan meningkat. Sehingga ekploitasi hutan untuk membuka lahan
pertanian baru banyak dilakukan. Akibatnya daya dukung lingkungan menjadi
menurun.

Bagi

mereka

para

peladang berpindah,

dengan

meningkatnya

pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat, berarti menyebabkan tekanan


penduduk terhadap lahan juga meningkat. Akibatnya proses pemulihan lahan
mengalami percepatan. Yang tadinya memakan waktu 25 tahun, tetapi dengan
semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan maka bisa berkurang
menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru ditinggalkan belum pulih
kesuburannya.
4) Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya. Untuk
penduduk agraris, meningkatnya kebutuhan sumber daya ini terutama lahan dan air.
Dengan berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain
juga meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan makin
meningkatnya kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber daya.

Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin besar


pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada umumnya makin
besar pula pencemaran.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :


1) Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah
anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi
jumlah angka kelahiran.
2) Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang
tinggi.
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
1) Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya
kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan
meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang
kependudukan.
2) Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak
terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut
mensukseskan gerakan keluarga berencana.

3) Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi


Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan
penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak
sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang
tersedia.
4) Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak
diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan
swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.

4. Kerusakan Lapisan Ozon


a. Penyebab kerusakan lapisan Ozon
Berdasarkan hasil penelitian ilmuwan, lapisan ozon yang menjadi pelindung bumi
dari radiasi UV-B ini semakin menipis. Hal ini disebabkan karena adanya zat-zat
pencemar udara yang merusak lapisan ozon. Zat-zat perusak ozon tersebut dikenal
dengan nama Bahan Perusak Ozon (BPO), contohnya yaitu :

1) Chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrochlorofluorocarbons (HCFC).


CFC yang berlebihan dikonsumsi oleh masyarakat modern dunia sejak
berpuluh-puluh tahun yang lalu. CFC dapat melepaskan atom Chlorine dan
dapat merusak lapisan ozon. CFC digunakan oleh masyarakat di dunia dengan
cara yang tidak terkira banyaknya, misalnya dengan penggunaan Freon pada alat
AC, lemari es, dan alat pendingin lainnya merupakan salah satu bentuk yang
turut andil dalam pengrusakan lapisan ozon, karena alat ini menggunakan CFC11, CFC-12, CFC 114 dan HCFC-22 dalam proses kerjanya.
2) Penggunaan CFC-11, CFC-12 dan CFC-114 secara luas juga digunakan pada
produk dengan alat kerja penyemprot atau disebut aerosol spray seperti kaleng
semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut (hair spray), minyak
wangi/parfum, insektisida, pembersih kaca (jendela), pembersih oven, produkproduk farmasi, cat, minyak pelumas dan oli.
3) Penggunaan CFC-113 sebagai cairan pembersih (cleaning solvent) pada proses
pembuatan peralatan elektronik, penghilangan lemak (degreasing) logam selama

proses fabrikasi. Selain itu CFC-113 digunakan untuk dry-cleaning dan spotcleaning pada industri tekstil.
4) Haloncarbon yang digunakan dalam zat cair pemadam kebakaran (aerosol fire
extinguiser) seperti Methyl Bromide,Carbon Tetrachloride,dan Methyl
Chloroform.
5) Penggunaan methyl chloroform dan carbon tetrachloride sebagai bahan pelarut
(solvent).

b. Dampak kerusakan lapisan Ozon


Penipisan lapisan ozon akan menyebabkan lebih banyak sinar radiasi ultra ungu
memasuki bumi. Radiasi ultra ungu ini dapat membuat efek pada kesehatan manusia,
memusnahkan kehidupan laut, ekosistem, mengurangi hasil pertanian dan hutan.
Apabila lapisan ozon semakin tipis akan mengakibatkan beberapa hal sebagai
berikut :
1) Lapisan ozon akan membentuk lubang sehingga makin banyaknya sinar UV
yang mencapai bumi, karena untuk tiap 10 persen penipisan lapisan ozon akan
terjadi kenaikkan radiasi UV sebesar 20 persen. Hal ini sangat berbahaya
terhadap kelangsungan makhluk hidup di bumi. Sinar ultraviolet dalam jumlah
banyak dapat menyebabkan:
Kanker kulit pada manusia
Penyakit katarak pada mata manusia
Rusaknya sistem imunisasi tubuh
2) Gunung-gunung es di kutub utara akan mencair yang mengakibatkan naiknya
permukaan air laut dunia. Sehingga lambat laun daratan di bumi pun akan
tenggelam.
3) Kerusakan lapisan ozon juga memiliki pengaruh langsung pada pemanasan
bumi yang sering disebut sebagai Global Warming. Sebagian besar ozon
stratosfer dihasilkan di kawasan tropis dan diangkut ke ketinggian yang tinggi
dengan skala besar putaran atmosfer semasa musim salju hingga musim semi.
Umumnya kawasan tropis memiliki ozon yang rendah.

4) Pada bidang pertanian, penerimaan sinar ultra violet pada tanaman dapat
memusnahkan hasil tanaman utama dunia. Hasil kajian menunjukkan beberapa
hasil tanaman mengalami penurunan karena penerimaan sinar radiasi yang
semakin

tinggi.

Tanaman

diperkirakan

akan

mengalami

kelambatan

pertumbuhan, bahkan akan cenderung kerdil, sehingga merusak hasil panen dan
hutan-hutan yang ada. Radiasi penuh ini juga dapat mematikan anak-anak ikan,
kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah plankton yang menjadi
salah satu sumber makanan kebanyakan hewan-hewan laut. Kerusakan lapisan
ozon juga memiliki pengaruh langsung pada pemanasan bumi yang sering
disebut sebagai efek rumah kaca. Usaha-usaha untuk mencegah penipisan
ozon menjadi mulai dilakukan bersama oleh semua negara di dunia. Usaha itu
pun telah di galakkan secara serius melalui UNEP (United Nation Environment
Programme) salah satu organisasi PBB yang bergerak dibidang program
perlindungan lingkungan dan alam.

c. Pencegahan Kerusakan Lapisan Ozon


Dalam memelihara lapisan ozon, seluruh masyarakat di dunia harus bertindak
yaitu dengan cara :
1) Mengurangi atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang
mengandung zat-zat yang dapat merusak lapisan pelindung bumi (Bahan
Perusak Ozon) dari sinar UV.
2) Menggunakan selalu produk-produk yang berlogo ramah ozon.
3) Menggunakan alat pemadam api yang tidak mengandung Haloncarbon.
4) Memeriksa dan merawat peralatan pendingin/pengatur suhu dan sistem
pemadam api secara berkala untuk memastikan tidak adanya kebocoran BPO
(CFC, HCFC atau Halon)
5) Memastikan bahwa CFC/HCFC/Halon yang ada di dalam sistem diambil
kembali (recovery) dan didaur ulang (recycle) dalam proses perawatan dan
perbaikan sistem pendingin atau pemadam api.
6) Mengirim CFC/HCFC/Halon yang sudah tidak terpakai ke fasilitas pengolahan
BPO bekas seperti Halon Bank, Pusat Reklamasi CFC atau Pemusnahan BPO.

7) Mengganti alat-alat kebutuhan yang berpotensi menghasilkan zat-zat perusak


ozon dengan alternatif lain yang lebih ramah lingkungan misalnya pembangkit
tenaga listrik dari sel surya, angin atau arus air terjun/turbin.
8) Diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat
dalam

program

perlindungan

lapisan

ozon,

pemahaman

mengenai

penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses,


produk, dan teknologi yang tidak merusak lapisan ozon dengan cara
mengadakan seminar Save Our Earth.
9) Tidak membakar hutan maupun menebang pohon-pohon secara liar.

5. Water and Ocean Resources/Penemaran Air


Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai,
lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan
merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga
mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu
kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah
untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan
dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.
Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi
dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional
hingga sumber air pribadi dan sumur). Telah dikatakan bahwa pousi air adalah
penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit, dan tercatat atas kematian
lebih dari 14.000 orang setiap harinya. Ditambah lagi selain polusi air merupakan
masalah akut di negara berkembang, negara-negara industri/maju masih berjuang
dengan masalah polusi juga.
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda.
1) Pembuangan limbah industri ke perairan (sungai, danau,laut).
2) Perkembangan sektor industri yang ditandai dengantumbuh pesatnya jumlah pabrik
di

samping

berdampak

pada

peningkatan

pertumbuhan

ekonomi,

ternyata

jugaberdampak negatif terhadap lingkungan. Limbah cair pabrik dengan kandungan zat

beracun serta logam-logam berat seperti timbal (Pb), air raksa (Hg), cadmium (Cd) dan
seng (Zn), menyebabkan air tidak baik dikonsumsi, kematian ikan dan biota air lainnya,
bahkan penurunan produksi pertanian
3) Pembuangan limbah rumah tangga (domestik) kesungai, seperti air cucian, air
kamar mandi. Limbah dari sisa detergen dan pestisida (misalnya DDT) dapat
merangsang pertumbuhan kanker (bersifat karsinogen), menyebabkan gangguan ginjal,
dan gangguan kelahiran.
4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. DDT (Dikloro Difenil
Trikloretana) bersifat nonbiodegradabel (tidak dapat terurai secara alamiah), karena itu
jika dipergunakan dalam pemberantasan hama DDT akan mengalami perpindahan
melalui rantai makanan, akhirnya tertimbun dalam tubuh konsumen terakhir. Makin
tinggi tingkat trofi makin pekat kadar zat pencemarnya. Hal ini disebut biomagnifiation
(pemekatan hayati). Senyawa nitrat dan pospat yang terkandung dalam pupuk apabila
terbawa air dan terkumpul di suatu perairan (misalnya danau, waduk) dapat
menimbulkan eutrofikasi, yaitu terkonsentrasinya mineral di suatu perairan. Hal ini
akan merangsang pertumbuhan dengan cepat alga dan tumbuhan air seperti enceng
gondok dan sejenisnya sehingga menimbulkan blooming. Jika permukaan air tertutup
oleh tumbuhan air, maka difusi oksigen dan penetrasi cahaya matahari ke dalam air
menjadi terhalang. Sementara tumbuhan air terus-menerus mengambil air dan
menguapkannya ke udara, sehingga mempercepat habisnya cadangan air di tempat
tersebut.
5) Penggunaan racun dan bahan peledak dalam menangkap ikan. Penggunaan racun
dan bahan peledak dalam menangkap ikan menimbulkan kerusakan ekosistem air.
Bahan peledak dapat menghancurkan terumbu karang. Di samping merusak ekosistem
terumbu karang, penggunaan bahan peledak juga merusak habitat dan tempat
perlindungan ikan. Racun tidak hanya membunuh hewan sasaran yaitu ikan yang
berukuran besar, tapi juga memutuskan daur hidup dan regenerasi ikan tersebut.
6) Pembuangan limbah rumah sakit, limbah peternakanke sungai. Limbah rumah sakit
dan limbah peternakan sangat berbahaya jika langsung dibuang ke sungai. Kandungan
organisme seperti bakteri, protozoa pathogen dapat menjadi sumber penularan penyakit.
7) Tumpahan minyak karena kebocoran tanker atauledakan sumur minyak lepas
pantai. Tumpahan minyak di laut karena kebocoran tanker atau ledakan sumur minyak

lepas pantai mengakibatkan kematian kerang, ikan, dan larva ikan di laut. Hal ini karena
aromatik hidrokarbon seperti benzene dan toluene bersifat toksik. Sebagian minyak
dapat membentuk lapisan mengambang dan lengket yang menyebabkan burungburung
laut tidak dapat terbang karena lengketnya sayap. Lapisan minyak di permukaan air
dapat menghalangi difusi oksigen ke air laut, sehingga berakibat terjadinya penurunan
kadar oksigen terlarut. Hal ini akan membahayakan kehidupan di laut.

6. Deforestation/Kerusakan Hutan

Pengertian dan definisi dari kerusakan hutan adalah berkurangnya luasan areal
hutan karena kerusakan ekosistem hutan yang sering disebut degradasi hutanditambah
juga penggundulan dan alih fungsi lahan hutan atau istilahnya deforestasi.
Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup
dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan membentuk
suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis. Dengan demikian
berarti berkaitan dengan proses-proses yang berhubungan yaitu:
1. Hidrologis
Hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air hujanmaupun
embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai yang memiliki mata
air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut irama alam. Hutan juga berperan
untuk melindungi tanah dari erosi dan daur unsur haranya.
2. Iklim,
artinya komponen ekosistern alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar
matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan yang ada
di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.

3. Kesuburan tanah,
Tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsur-unsur
mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor
seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam proses
pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban, suhu dan air tanah,

topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-faktor inilah yang kelak
menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi hutan dan vegetasi hutan.
4. Keanekaragaman genetik,
Hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila hutan tidak
diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah mustahil akan terjadi
erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin berkurang habitatnya.
5. Sumber daya alam,
Hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi devisa
negara, terutama di bidang industri. Selain itu hutan juga memberikan fungsi kepada
masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain kayu juga
dihasilkan bahan lain seperti biofuel, damar, kopal, gondorukem, terpentin, kayu putih
dan rotan serta tanaman obat-obatan.
6. Wilayah wisata alam
Hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika dan
sebagainya.

Kerusakan hutan (deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia.


Menurut data laju deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan
oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar
pertahun.
Bahkan kalau menilik data yang dikeluarkan oleh State of the Worlds Forests
2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka
deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi
hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan gelar
kehormatan bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia.

Kerusakan hutan akan menimbulkan beberapa dampak negatif yang besar di bumi, yaitu
1) Efek Rumah Kaca (Green house effect).
Hutan merupakan paru-paru bumi yang mempunyai fungsi mengabsorsi gas Co2.
Berkurangnya hutan dan meningkatnya pemakaian energi fosil (minyak, batubara dll)
akan menyebabkan kenaikan gas Co2 di atmosfer yang menyelebungi bumi.

2) Kerusakan Lapisan Ozon


Lapisan Ozon (O3) yang menyelimuti bumi berfungsi menahan radiasi sinar
ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan di bumi. Di tengah-tengah kerusakan hutan,
meningkatnya zat-zat kimia di bumi akan dapat menimbulkan rusaknya lapisan ozon.
Kerusakan itu akan menimbulkan lubang-lubang pada lapisan ozon yang makin lama
dapat semakin bertambah besar. Melalui lubang-lubang itu sinar ultraviolet akan
menembus sampai ke bumi, sehingga dapat menyebabkan kanker kulit dan kerusakan
pada tanaman-tanaman di bumi.
3) Kepunahan Species
Hutan di Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Dengan
rusaknya hutan sudah pasti keanekaragaman ini tidak lagi dapat dipertahankan bahkan
akan mengalami kepunahan. Dalam peringatan Hari Keragaman Hayati Sedunia dua
tahun yang lalu Departemen Kehutanan mengumumkan bahwa setiap harinya Indonesia
kehilangan satu species (punah) dan kehilangan hampir 70% habitat alami pada sepuluh
tahun terakhir ini.
4) Merugikan Keuangan Negara.
Sebenarnya bila pemerintah mau mengelola hutan dengan lebih baik, jujur dan
adil, pendapatan dari sektor kehutanan sangat besar. Tetapi yang terjadi adalah
sebaliknya. Misalnya tahun 2003 jumlah produksi kayu bulat yang legal (ada ijinnya)
adalah sebesar 12 juta m3/tahun. Padahal kebutuhan konsumsi kayu keseluruhan
sebanyak 98 juta m3/tahun. Data ini menunjukkan terdapat kesenjangan antara pasokan
dan permintaan kayu bulat sebesar 86 juta m3. Kesenjangan teramat besar ini dipenuhi
dari pencurian kayu (illegal loging). Dari praktek tersebut diperkirakan kerugian yang
dialami Indonesia mencapai Rp.30 trilyun/tahun. Hal inilah yang menyebabkan
pendapatan sektor kehutanan dianggap masih kecil yang akhirnya mempengaruhi
pengembangan program pemerintah untuk masyarakat Indonesia.

5) Banjir
Dalam peristiwa banjir yang sering melanda Indonesia akhir-akhir ini, disebutkan
bahwa salah satu akar penyebabnya adalah karena rusaknya hutan yang berfungsi
sebagai daerah resapan dan tangkapan air (catchment area).

7. Sustainable Development dalam Agenda 21

Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable


development. Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam

World

Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United


Nations Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of
Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada
1980.
Pada 1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun
gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan
atas penanganan lingkungan selama ini. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati
pembentukan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission
on Environment and Development - WCED).
PBB memilih PM Norwegia Nyonya Harlem Brundtland dan mantan Menlu
Sudan Mansyur Khaled, masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua WCED.
Menurut Brundtland Report dari PBB (1987), pembangunan berkelanjutan adalah
proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.
Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan
adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan
kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Konsep Pembangunan Berkelanjutan ini kemudian dipopulerkan melalui laporan

WCED berjudul Our Common Future (Hari Depan Kita Bersama) yang diterbitkan
pada 1987. Laporan ini mendefinisikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai
pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di dalam
konsep tersebut terkandung dua gagasan penting.
Pertama, gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial kaum miskin sedunia
yang harus diberi prioritas utama.
Kedua, gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan
organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebututuhan kini
dan hari depan.
Jadi, tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan
keberlanjutan di semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
Budimanta (2005) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah suatu cara
pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam
kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia
tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk
menikmati dan memanfaatkannya.
Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang
terencana, yang didalamnya terdapat eksploitasi sumberdaya, arah investasi orientasi
pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam
keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk
memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Pembangunan berkelanjutan tidak saja
berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan\
berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan
sosial dan perlindungan lingkungan (selanjutnya disebut 3 Pilar Pembangunan
berkelanjutan).
Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut
ketiga pilar tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan
berkelanjutan. Idealnya, ketiga hal tersebut dapat berjalan bersama-sama dan menjadi
focus pendorong dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam buku Bunga Rampai
Pembangunan Kota Indonesia dalam Abad 21 (Buku 1) Sarosa menyampaikan bahwa
pada era sebelum pembangunan berkelanjutan digaungkan, pertumbuhan ekonomi

merupakan satu-satunya tujuan bagi dilaksanakannya suatu pembangunan tanpa


mempertimbangkan aspek lainnya.
Selanjutnya pada era pembangunan berkelanjutan saat ini ada 3 tahapan yang
dilalui oleh setiap Negara. Pada setiap tahap, tujuan pembangunan adalah pertumbuhan
ekonomi namun dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin komprehensif
dalam tiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya pada
keseimbangan ekologi. Tahap kedua dasar pertimbangannya harus telah memasukkan
pula aspek keadilan sosial. Tahap ketiga, semestinya dasar pertimbangan dalam
pembangunan mencakup pula aspek aspirasi politis dan sosial budaya dari masyarakat
setempat.
Prof. Otto Soemarwoto dalam Sutisna (2006), mengajukan enam tolok ukur
pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk
pemerintah pusat maupun di daerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala
Pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok
ukur itu meliputi:
a) Pro Ekonomi Kesejahteraan, maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi ditujukan
untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, dapat dicapai melalui teknologi
inovatif yang berdampak minimum terhadap lingkungan.
b) Pro Lingkungan Berkelanjutan, maksudnya etika lingkungan non antroposentris
yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan
kelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi sumberdaya alam vital, dan
mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material.
c) Pro Keadilan Sosial, maksudnya adalah keadilan dan kesetaraan akses terhadap
sumberdaya alam dan pelayanan publik, menghargai diversitas budaya dan
kesetaraan jender.