Anda di halaman 1dari 25

Peran

Pen'ng UMKM dalam


Mens'mulasi Pertumbuhan Ekonomi
Disajikan Oleh:

Robert Tampubolon

KONDISI KEMISKINAN DI INDONESIA

83% Kabupaten/kota berbasis pertanian


82% Tenaga kerja berbasis pertanian/pedesaan dan UMKM/informal
42% Pengangguran terbuka ada di pedesaan
Masyarakat miskin = 36,1 jt jiwa (16,6% dari total penduduk)
Tinggal: di pedesaan 24,6 jt (68,14%), perkotaan 11,5 jt jiwa (31,86%)
Penghasilan utama: 63% sektor pertanian; 6,4% sektor industri, dan
27,7% sektor jasa, termasuk perdagangan, bangunan & angkutan
Pendidikan KK miskin: sebagian besar 'dak tamat SD, yakni:
72,1% untuk KK miskin di desa,
57% untuk KK miskin di kota.
Penyebaran: 59% di Jawa & Bali; 16% di Sumatra; 25% Kalimantan,
Nusatenggara, Maluku, Papua

WEALTH CREATION: VITAL UNTUK


MENGENTASKAN KEMISKINAN
Kunci untuk mengentaskan kemiskinan adalah
pertumbuhan ekonomi yang komprehensif dan
menjangkau mayoritas penduduk, khususnya penduduk
miskin.
Wirausahawan lokal dan UMKM secara universal menjadi
tulang punggung dari akGvitas ekonomi global
Meningkatkan kinerja dan kemampuan untuk survive dan
meraih untung akan mampu mencapai pertumbuhan
ekonomi yang komprehensif di atas

KENAPA UMKM BEGITU PENTING BAGI


PEREKONOMIAN SEBUAH NEGARA?

DAMPAK TERHADAP PEMBANGUNAN


EKONOMI NASIONAL
Menciptakan lapangan pekerjaan. Study menunjukkan
bahwa UMKM memberi kontribusi yang besar bagi
lapangan kerja di banyak negara.
Pemanfaatan sumber daya lokal. Memaksimalkan
pemanfaatan bahan mentah lokal yang membutuhkan
teknologi sederhana.
Memperbesar Output. Memberi kontribusi yang sangat
besar pada output nasional dalam eknomi rakyat.
Mendorong pengembangan inovasi dan teknologi.
Semua industri modern dimulai dari industri yang
sederhana, dan Negara berkembang dapat melakukan
lompatan kodok untuk maju dengan meniru
pengalaman negara maju
Memproduksi barang setengah jadi bagi perusahaan
korporat besar

MANFAAT UMKM BAGI PERUSAHAAN


KORPORAT
UMKM sebagai sumber pasokan dan kumpulan jasa lokal
yang dibutuhkan perusahaan korporat
UMKM memiliki pemahaman yang luas mengenai sumber
daya, pola pemasokan dan tren pembelian secara lokal
Bermitra dengan UMKM, korporat dapat membangun
sebuah basis pelanggan baru yang Gdak dapat dijangkau
oleh jaringan distribusi korporat tsb.
UMKM sbg sumber inovasi penGng UMKM memiliki
strateginya sendiri dan cenderung menguasai ceruk pasar
tertentu yang Gdak dimiliki perusahaan lain

Jumlah UMKM
Jumlah KUMKM : 51,26 Juta (BPS 2008)
Usaha Besar/Konglomerat :
Kekayaan Bersih/th Lebih dari 10 M
Hasil Penjualan Lebih dari 50 M
Usaha Menengah:
Kekayaan Bersih/th > Rp 500 Jt s.d 10 M
Hasil Penjualan > Rp 2,5 M s.d 50 M
Usaha Kecil :
Kekayaan Bersih/th > Rp 50 Jt s.d 500 Jt
Hasil Penjualan > Rp 300 Jt s.d 2,5 M

Usaha Mikro :
Kekayaan Bersih/th < Rp 50 Jt
Hasil Penjualan < Rp 300Jt

Kreteria sesuai UU No. 20/2008 ttg UMKM

Jumlah 4,37 ribu (0,01%)

Jumlah 39,66 ribu (0,08%)

Jumlah 520,22 ribu (1,01%)


Jumlah 50,70 juta
(98,90%)

SUMBER : DIOLAH DARI DATA UMKM TAHUN 2008, BPS 2009

KONDISI UMKM
Segmentasi Usaha

Omset/th. :
UB > 50 milyar
Omset/th. :
1milyar<UM 50 milyar

Omset/th. :
200 juta<UK1 milyar

0,004 juta

0,01%

0,068 juta

= 0,2%

1,62 juta = 3,6%

43 juta = 96,2%
Omset/th. :
UM 200 juta
Kreteria sesuai UU No. 20/2008 ttg UMKM

SUMBER : DIOLAH DARI DATA UMKM TAHUN 2008, BPS 2009

KONDISI YANG ADA


UMKM
a.
b.
c.
d.
e.

Mayoritas jumlah pelaku usaha (99,99% atau 44,69 juta unit


usaha)
Penyerap tenaga kerja terbanyak (96,78% atau 77, 68 juta
pekerja)
Kontribusinya terhadap PDB (54,22 % atau Rp 1.480 triliun)
Nilai investasi yang cukup sinifikan (45,91% atau Rp 275,37
triliun)
Kinerja ekspor non-migas (19,16% atau Rp 109,13 triliun)

SEGMENTASI PEMBIAYAAN UMKM


Kebutuhan dan Sumber

JUMLAH :

Usaha Besar/
Konglomerat :
0,004 juta (0,01%)
Usaha Menegah
0, 068 Juta (0,2%)
Usaha Kecil
1,62 Juta (3,6%)
Usaha Mikro
43 juta (96,2%)
Fakir Miskin
39,05 juta

PASAR
MODAL

KREDIT
KOMERSIAL
KREDIT PROGRAM
BERSUBSIDI
DANA BERGULIR

Modal minimal Rp 50 Milyar:

Pembiayaan :
Business Plan Perbankan : 60, 4 triliun
Realisai: 86,3 trilun
Kebutuhan sampai dng Rp 500 juta/
KUKM (Contoh SUP,
Penjaminan dan Laba BUMN)
Kebutuhan sampai dengan Rp 100 juta/
Koperasi Kelompok (Contoh :APBN:
PKPS-BBM, P3KUM, PERKASSA, dll.)

BANTUAN LANGSUNG TUNAI


Data UMKM Tahun 2005 , Sumber BPS 2006

Data Penduduk Miskin Maret 2006 (BPS)

BLT Rp 100 ribu/bl


u/ Biaya Hidup
(BLT- PKPS BBM, JPS, dll)

KEMISKINAN & USAHA MIKRO


The Older

The Poorest

Economically
Active Poor
(Pengusaha Mikro)

Small
Scale Business

Younger Poor
Sumber : Robibnson, 2000, World Bank

Jenis Kesulitan

Usaha Mikro

Usaha Kecil

1. Kesulitan modal

34.55%

44.05%

2. Pengadaan bahan baku

20.14%

12.22%

3. Pemasaran

31.70%

34.00%

4. Kesulitan lainnya

13.60%

9.73%

FENOMENA DAN KONDISI USAHA MIKRO


Sistim dan mekanisme pembiayaan (formal& semiformal)
belum dapat memenuhi kebutuhan usaha mikro, terutama
karena kendala akses dan pemenuhan persyaratan formal 5C
(sehingga masuk kategori Un-bankable)
Persyaratan formal yang sulit dipenuhi oleh usaha mikro,
antara lain formalitas usaha, agunan, business plan dan
laporan keuangan, pengalaman usaha dan kecukupan modal
sendiri.
Faktor SDM, karakter bisnis yang bersifat musiman, kondisi
geografis dan infrastruktur turut pula mempengaruhi daya
tarik lembaga keuangan formal untuk membiayai usaha mikro.
Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya fenomena gunung
es; dimana hanya sebagian kecil usaha mikro (bankable) yang
dapat mengakses pembiayaan, sebaliknya lapisan di bawahnya
belum tergarap secara sistematis dan berkelanjutan.
Fungsi keuangan mikro (Koperasi) menjadi sangat

strategis

HARAPAN UMKM PADA PEMERINTAH


Pengembangan sektor UMKM adalah kunci pertumbuhan
ekonomi dan lapangan kerja
Pemerintah dapat memberi insenGf hususnya bagi modal awal
usaha bagi UMKM
Pemerintah memainkan pean penGng dalam membangun
kapasitas UMKM seperG:
Mempromosikan kebutuhan akan lebih banyak lagi
wirausaha dan UMKM
Membuka unit-unit pelayanan UMKM dalam rangka
memberi pendidikan dan pelaGhan untuk memulai UMKM
di daerah-daerah

TAHAPAN USAHA DAN PEMBIAYAANNYA


Business
Idea

Develop
Business
Plan

Funding
(capitalize
project)

Set up
Company

Project
Mngmt
unit

Grow
Business

Key Steps
Develop
creative,
innovative,
business ideas
Decide to start
business
Identify market
gaps
Understand
market trends

Development
Advisors

Write up
business idea
Develop value
proposition
Identify key
customer
Develop
financial model
Finalize plan

Capability
Building

Secure
project
funding
Develop
investment
plan

Funding

Obtain
relevant Govt.
license
Develop
systems &
processes
Hire personnel
Locate office
space
Develop
marketing
plan

Entrepreneur
Relations
Incubation
Center

Execution
plan
Regular site
visits
Conditions
implemented
Advisory role
Coordination
with different
departments

Project
Management
Unit

Identify
business
opportunities
Identify
growth
options

Govt.
Procurement
Prog.
Marketing
14

PERAN PEMERINTAH
Kebutuhan dalam siklus kehidupan UMKM sebagai ''k
intervensi Pemerintah

Managers
Licenses
Financing
Market
Opportuni'es
Training &
Development
Test Bedding
IP
Mentorship

Startup

Leadership/
Managers
Branding
Distribu'on/
SCM
IP
Systems &
Processes (IT,
QMS)
Growth
Financing
Market (Mkt
Access)

Growth

Sophis'cated
Leaders &
Managers with
Global outlook
Corporate Finance
(Capital)
Design / ODM
Infrastructure
R&D
Extensive Global
Presence

Maturity

15

KEBUTUHAN PEMBIAYAAN UMKM OLEH


PEMERINTAH
Akses ke keuangan bukanlah isyu utama, karena isyu
terpenGng adalah:
Finding. Menemukan inovasi produk dan model bisnis
berbais R&D/Teknologi yang layak jual untuk dibiayai
Fostering. Mendorong dikembangkannya mindset baru
dan insGnk bisnis yang mendukung bisnis berdasarkan
teknologi dan Intelectual Property
Developing. Mengembangkan pembiayaan yang tepat
untuk membiayai ide-ide bisnis yang kreaGf dan sarat
teknologi
16

PERAN STRATEGIS LKM


LKM/S merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi
keterbatasan pembiayaan bagi masyarakat miskin di
pedesaan untuk menjalankan usaha produktif
LKM/S dapat menjadi wahana bagi optimalisasi
pengelolaan dana ZISWAF atau dana sosial lainnya untuk
kegiatan produktif dan pemerataan kesejahteraan/rezeki
(Fatwa majelis Ulama Indonesia (Komisi Fatwa) tanggal 2
Pebruari 1982, tentang Mentasharufkan Dana Zakat
untuk Kegiatan produktif dan Kemaslahatan Ummat)
L K M / S b e r p e r a n a k t i f d a l a m m e m p r o m o s i k a n
pembangunan ekonomi kerakyatan di Indonesia terutama
bagi pengusaha mikro dan rumah tangga berpenghasilan
rendah di pedesaan
Sebagaimana hasil penelitian World Bank dan ADB, LKM/S
merupakan pendekatan terbaik dalam penanggulangan
kemiskinan
Tahun 2005 dicanangkan sebagai Tahun Keuangan Mikro
Indonesia

PROFIL LKM DI INDONESIA


Jumlah unit LKM > 54.000, tersebar hingga pelosok pedesaan
Indonesia, termasuk KSP/USP-Koperasi dan KJKS/UJKS
38.083 koperasi yang terdiri dari 1.598 KSP/KJKS (3,46%) dan
36.485 USP-Kop./UJKS (96,54%). Total asset koperasi Rp 8,917
triliun dengan jumlah anggota 5,47 juta. Simpanan yang
diterima 1.779 milyar, dengan volume usaha (total pinjaman
yang diberikan) sebesar Rp 14.650 milyar.
Melayani > 33 juta penabung, > 21 juta peminjam, termasuk
masyarakat miskin, dengan jumlah pinjaman rata-rata :
Rp. 4 jt (BRI-Unit)
Rp. 3,7 jt (BPR)
Dibawah Rp. 1 juta (LKM lainnya)
Pinjaman lebih tinggi dibanding simpanan (selain BRI Unit,
dimana Simpedes > Kupedes) :
Daya salur kredit yang besar melebihi kemampuan
menggalang dana masyarakat
Sustainabilitas sudah terbukti
Tingginya* kemampuan LKM menyalurkan dana, dengan
tingkat pengembalian yang baik (sustain).

BPR/BPRS
Pengaturan
Perizinan
Pengawasan

Bank

= UU Perbankan No.7/92 jo UU No.10/98


= Bank Indonesia
= Bank Indonesia

BRI Unit
Pengaturan
Perizinan
Pengawasan

LKM

Badan Kredit Desa (BKD)


Pengaturan
Perizinan
Pengawasan

Formal

NonBank
Bank
Non

= UU Perbankan No.10/1998
= Bank Indonesia
= BRI atas nama Bank Indonesia

Koperasi Simpan Pinjam (KSP)


Pengaturan
= UU Koperasi No.25/1992
Perizinan
= Kementerian Negara Koperasi & UKM
Pengawasan
= Kementerian Negara Koperasi & UKM

Lembaga Dana dan Kredit Perdesaan (LDKP)


Pengaturan
Perizinan
Pengawasan

Non
Formal
Sumber : Bank Indonesia

= UU Perbankan No.7/92 jo UU No.10/98


= Bank Indonesia
= * BRI Cabang
* Bank Indonesia untuk BRI secara keseluruhan

= Peraturan Daerah
= Gubernur setiap provinsi
= Pemda Tk . I

LSM, KSM
BMT
UEDSP
UPPKS

BEBERAPA FAKTA DAN SEBUAH PERTANYAAN


Beberapa Fakta:
Kemiskinan itu memalukan secara sosial dan poliGkal
Kesempatan kerja adalah sebuah alat untuk menghapus
kemiskinan
Pertanyaan:
Bagaimana meningkatkan kesempatan kerja di daerah
yang ingin diperbaiki jika di sana Gdak ada lembaga
(keuangan), Gdak ada pengetahuan, Gdak ada keingingan
untuk mengembangkan kemitraan antara masyarakat
dan usaha swasta dan Gdak ada kapasitas jejaring sosial?

BEBERAPA ISU
Entrepreneur: Saya tahu apa yang harus dilakukan dan
bagaimana melakukannya, tapi Gdak punya modal
Bank-bank: Gdak suka usaha yang baru berdiri atau
usaha mikro
Pendapat publik: entrepreneurs adalah orang-orang
dengan kecerdasan alami (street smart people), Gdak
mempersoalkan latar belakang pendidikan
Sisem pendidikan: mengutamakan pendidikan formal
dan mengabaikan pendidikan informal
Donatur Interna'onal: sangat ketat dalam kerja
samanya

PERMASALAHAN
Banyak implementasi program pemberdayaan masyarakat
belum efekGf, kurang menjamin ke arah usaha produkGf yang
berkelanjutan secara mandiri
Sektor yang dikembangkan masih terbatas, masih ada peluang
untuk sektor lain, termasuk sektor jasa
Program pemberdayaan masyarakat belum terkoordinir
secara padu di Gngkat lokal
ParGsipasi masyarakat masih bersifat semu
Pemberdayaan Gdak dimulai sejak dini, dikaitkan dengan
kesiapan para pelajar sejak di bangku Sekolah. Lebih
diarahkan pada para Kepala Keluarga yang sulit diberikan
paradigma baru
Persoalan birokrasi kelembagaan, sinergi Gdak opGmal
Permasalahan aksesibilitas

PERAN GEREJA: MENERJEMAHKAN KHOTBAH


KE DALAM PRAKTEK
Gereja Gdak ikut ambil bagian dalam kegiatan bisnis karena dianggap
sekuler
Membentuk sebuah lembaga yang akan meningkatkan kesejahteraan
manusia dalam konteks program pembangunan yang sustainable
(walaupun Gdak bermoG[an laba tetapi Gdak boleh rugi)
Ijin beroperasi secara komersial menunjukkan kemampuan untuk
melakukan perubahan secara sektoran untuk kepenGngan seluruh
komunitas
Mengimplementasikan loso dasar untuk mendukung sektor yang
menjadi prioritas dari aspek sosial
Sector 1 Akomodasi menyediakan paket kredit perumahan
Sector 2 Pertanian & Perikanan
Memfasilitasi manajemen arus kas (menghindari ijon)
Produk keuangan khusus untuk mensGmulasi investasi dalam mengelola
limbah.
Mendorong adanya diskusi mengenai isu dasar dalam berkolaborasi dengan
pemerintah
Membentuk bantuan penasihatan

PERAN GEREJA: MENERJEMAHKAN KHOTBAH


KE DALAM PRAKTEK
Sector 3 Olah raga. BerGndak sebagai penghubung antara
para ahli dengan investor untuk memasGkan bahwa
investment sustainable
Sector 4 Cra=s dan UMKM. Menghubungkan ke bank, bukan
hanya memberi penasihatan keuangan tetapi juga
pendampingan manajemen/konsultansi
Beberapa insenGf yang baik untuk diambil:
Menurunkan bunga KPR untuk mengurangi beban keuangan
keluarga
Mencari sponsor untuk kepenGngan sosial, lingkungan dan olah
raga
Mengorganisasikan sebuah konser tahunan untuk musik
gerejawi (Sacred Music)
Menyelenggarakan konferensi mengenai pengembangan
pertanian dan perikanan

PERAN PRIBADI: PARTISIPASI


MENSEJAHTERAKAN KOTA DI MANA KITA
DITEMPATKAN
Kesejahteraan masyarakat di lingkungan kita adalah
juga kesejahteraan kita
Secara pribadi saya membangun sistem berbasis web
di Internet:
www.mlmoxy.com (untuk masyarakat yang ingin
menambah income di bisnis MLM)
www.depositoberjenjang.co.cc (untuk masyarakat yang
ingin menginvestasikan uang minimal Rp.100.000 tetapi
bisa menghasilkan income jauh di atas bunga bank)