Anda di halaman 1dari 16

komunikasi dalam konseling

BAB I
ARTI KOMUNIKASI

A. Pengertian komunikasi

Menurut Jalaluddin Rahmat, komunikasi sangat esensial untuk pertumbuhan dan


perkembangan manusia. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah ditelaahnya
dnegan baik. Dan dia menyimpulkan bagi setiap manusia komunikasi tersebut sangat
penting. Menurutnya ada dua hal yang penting, yaitu :

a. Penting untuk pertumbuhan dan perkembangan sebab kurangnya informasi


menurut ahli social bahwa kurangnya komunikasi akan mengahambat perkembangan
kepribadian. Untuk itu seorang konselor dituntut untuk menjadi model psikologi yang
baik kepada kliennya. Seperti yang telah kita ketahui di bab konselor dalam
konseling.

b. Komunikasi sangat erat kaitannya dnegna perilaku dan pengalaman kesadaran


manusia.
Namun Komunikasi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah hubungan atau
kontak. Untuk itu dalam berkomunikasi memiliki beberapa unsure. Yaitu komunikan
(penerima pesan dalam berkomunikasi), komunikator (yang menyampaikan), ada
pesan atau isi yang disampaikan. Untuk itu komunikasi merupakan landasan bagi
berlangusngnya suatu konseling. Oleh sebab itu komunikasi dapat diartikan sebgaai
suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia atau lebih dengan
menggunakna symbol-simbol bersama. Komunikasi akan lebih efektif apabila
tercapai saling pemahaman yaiatu pesan yang disampaikan dapat diterima dan
dipahami oleh si penerima.
Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsure yaitu
:
a) Siapa yang berbicara (pemberi pesan )
b) Mengatakan apa (isi pesan)
c) Dengan cara apa (media)

d) Kepada siapa (penerima pesan)


e) Hasilnya apa (umpan balik)

Dalam konseling harus tercipta adanya komunikasi dialogis, yang pihak yang satu
atau pemebr pesan dan penerima pesan memiliki peranan sebagai komunikator. Yaitu
sbegai pemberi seklagus penerima pesan dan sebagai peneima seklagus pemberi
pesan. Dengan arus umpan balik yang tepat maka kekurangan dan kesalahan akan
terkoreksi dalam komunikasi yang bersifat dialogis. Namun agar komunikasi dapat
berlangsung secara baik maka harus mengandung hal-hal seperti berikut ini :

1. Ada gagasan yang ingin disampaikan oleh sipemberia dalam hal ini yaitu konselor
2. Gagasan itu harus dinyatakan dalam suatu bentuk untuk dikirim.
3. Ada alat untuk mneyampaikan pesan.
4. Ganguan-ganguan pesan harus dihindari.
5. Pesan harus sampai diterima oleh sipenerima.
6. Adanya penafsiran secara tepat oleh pihak penerima.
7. Adanya tindak lanjut dari penerima, yaitu melkaukan tindakan.
B. Keterampilan Komunikasi

Dalam konseling ada yang namanya keterampilan-keterampilan konseling. Sebab hal


ini dianggap penting karen auntuk terlaksananya suatu komunikasi konsleing yang
dialogis dengan mengajak klien berpartisipasi secara aktif, selian dari memahami
karakter kalin, penguasan materi dan juga menguasai keterampilan komunikasi sangat
penting untuk jalannya komunikasi. Untuk itu setelah ini kita akan membahas lebih
rinci dan singkat apa itu keterampilan konsleing.

1. Penghampiram

Penghampiran (attending) merupakan keteram[ilan berkomunikasi melalui isyaratisyarata verbal dan non verbal sehingga dapat menarik perhatian kepada pembicara
pada tahap awal. Untuk itu penghampiran ini merupakan keterampilan dasar dalam
setiap proses komunikasi yang bersifat dialogis. Hal ini biasanya dilakukan dengan
sapaan yang biak dnegan nada yang baik, seperti : assalamualaikum, selamat pagi

, dan lain sebagainya. Hal sepertyi itu dilakukan dnegan cara perkataan yang baik dan
sop[an dengan bahasa tubuh yang baik seperti kontak mata, gerak badan dan lainlain.
Dengan si klien akan merasa diterima dan merasa penting dan merasa dihargai berada
di dekat seorang konselor. Keterampilan ini dapat dikebangkan melalui berbagai cara,
seperti :
Ungakapan salam dan sapaan secara sopan
Penampilan diri dnegan postur fisik yang meyakinkan
Gerakan fisik yang disertai dnegan perhatian
Pengakuan
Memelihara kontak mata
Mengamati dan meyimak dnegna penuh perhatian
2. Empati

Empati adalah kesedian untuk memahami orang lain secara keseluruhan baik yang
tampak maupun yang terkadung khususnya dalam aspek perasaan, pikiran, sdan
keinginan. Karen adnegna berempati kita dapat berusaha menempatkan diri kita
sedekat mungkin dnegna orang lain. Dengan begitu kita dapat merasakan apa yang
dirasakan dan bahkan kita dapat merasa aklau seandainya kita berada dalam situasi
seperti tersebut.
Keterampilan ini dapat dilakukan memberikan respon sebagai berikut:
Sikap menerima dan memahami ungkapan klien, sperti gerak mata, anggukan.
Memberikan perhatian yang mendalam terhadap ungkapan lain
Pernyataan yang mengambarkan ungkapa suasana perasaan. Jadi jika sedih.
3. Merangkumkan

Sebagai wujud dari penerimaan kita terhadap ungkapan maka keterampilan yang
diperlukan adalah keterampialn mernagkum. Karen adalam berkomunikasi biasanya
klien kaan menyampaikannya secara panjang lebar. Untuk itu perlu kiranya kita
sebgaai seorang konselor meramkumnya. Dan untuk dapat merangkum maka seorang
konselor harus menyimak baik-baik apa yang dikatakan oleh kliennya dnegan baik

kemudian membuat rangkuman. Dan untuk selanjutnya adalah menyampaikan


sebagai respon konselor terhadap klien. Dengan demikian klien kana merasa diterima,
dihargai, dan diakui dan pada gilirannya akan menunjang proses konseling.
Hal ini dapat dilakukan dnegn cara sebgaai berikut:
Memberikan kesempatan kepada klien untuk menyampaikan ungkapan secara
lengkap
Menunjukkan sikap pemberian perhatian dan menyimaknya dnegna penuh
perhatian.
Membuat catatan-catatan seperlunya untuk merangkum pembicaraan
Pada akhirnya klien dapat menyampaikan ungkapan-ungkapan konselor
memberikan respon
4. Bertanya

Keteampialn bertanya merupakan ketemapilan yang penting dan strategis dalam


komunikasi konsleing sebab dapat menentukan kelancaran proses konseling. Jika
bertanya dilakukan dengan cara yang kurang tepat maka komunikasi tidak akan
berjalan dnegan cara yang efektif. Dan juga sebaliknya. Pertanyaan yang baik dapat
merangsang orang lain untuk lebih terbuka, keratif dan berkeinginan untuk berbagi
informasi dan pengalaman.
Keterampialn bertanya dapat diekbangkan dnegan memperhatikan bebrapa hal
sebgaai berikut:
Perhatikan suasan konseling dan kleinnya
Kuasai materi yang berkaitan dnegna pertanyaan
Ajukan pertanyaan dnegan cara yang jelas dan terarah
Segera berikan respon balikan terhadap jawaban balikan.
5. Kejujuran

Konselor harus mampu menunjukkan kejujuran dari apa yang diuangkap sehingga
data meberikan pesan secara objektif. Untuk itu seorang konselor harus mempu
memberikan penyampaiaan secara terbuka tanpa manipulasi. Dengan keterampialn ini
konselor dapat menyatakan perasaannya mengenai perasaan klien dengan cara

sedemikian rupa sehingga klien dapat menerima tanpa ada rasa tersinggung. Dan
keterampialn ini dapat membantu untuk berbagi perasaan terhadap apa yang dikatan
atau dilakukan klien dan tetap menjaga hubungan dnegna klien. Respon yang biasa
diberikan oleh seorang konselor dengan jujur adalah respon dnegan cara yang ikhlas
dan jujur secara emosional dan secara langsung dapat menyatakan perasaan sendiri.
Namun ada empat kondisi yang harus diperhatikan untuk mengemabngkan
keterampilan kejujuran, seperti :
Ungkapan perasaan yang sebenarnya
Kejadian tertentu yang membuat perasaan itu
Alasan mengapa berperasaan seperti itu
Pengaruh perasaan itu terhapad kegiatan selajutnya
6. Asertif

Asertif adalah suatu tindakan dalam membrikan respon terhadap tindakan orang lain
dalam bentuk mempertahankan hak asasi sendiri yang mendasar tanpa melanggar hak
azasi oran g ain yang mendasar pula. Dalam berkomunikasi konsleing keterampilan
ini sangat diperlukan dalam menerima respon kembali dnegn acra sedemikian hingga
klien merasa hak asasinya tidak terganggu. Seperti menerima telepon dan lainnya.
Katerampialm ini dapat dikebangkan dnegna cara yaitu ungkapan non verbal dan
verbal. Dengan cara non verbal dilakukan dengan kontak mata yang baik, membagi
waktu yang baik, penampilan yang tenag. Namun dnegna cara yang verbal seperti;
ungkapan perasaan dan kepercayaan secraa jujur, dan menggunakan suara yang jelas
dan meyenangkan.
7. Konfrontasi

Keterampialn ini dugunakan untuk memberikan respon terhadap pesan seseorang


yang mengadung pesan ganda yang tidak sesuai atau saling bertentangan satu dnegan
yang lainnya. Dengan keterampialn ini kita daopat mengkonfontasikan dan merespon
pesan ganda klien. Keterampilan ini merupakan cara konselor untuk membetulakn
titik perbedaan atau pertentangan dalam situasi sebagai beriku ini :

a. Perbedaan atara apa yang diucapakan dengan apa yang dilakukan

b. Perbedaan antara apa yang dikatakan oleh seseorang dengan apa yang dilaporkan
oleh orang lain
c. Perbedaan atara apa yang dikatakan dengan apa yang Nampak

Namun untuk penerapan keterampilan konfrontasi ini sebaiknya memperhatikan halhal sebgaai berikut :
Konselor memiliki pemahaman yang tepat dan bersikap emapati dan jujur
Harus diperhitungkan agar klien mau menerima dan tidak menerima pertahanan dan
perlawanan,
Harus bersesuai dnegan situasi dan kondisi masalah
Harus singkat dan tepat sasaran

8. Pemecahan masalah

Hal ini penting karen auntuk membantu klien untuk memecahkan masalah-masalah
yang dihadapinya. Dengan demikian pihak konseloer harus mengemabngkan suatu
mekanisme komunikasi yang memebrikan kesempatan pada klein menyatakan
pendapat dan sumbangan pemikiran, menjabarkan, dan emmilih alternative. Ada
tujuh tahapan yang harus dilalui dalam pemecahan masalah, seperti :
`
1. Menjajaki masalah
2. Memahami masalah
3. Membatasi masalah
4. Menjabarkan alternative
5. Memilih alternative yang baik
6. Menerapkan alternative

BAB II
PEMBAGIAN KOMUNIKASI DALAM KONSELING

Komunikasi pada dasarnya melibatkan antara dua pihak yaitu konselor dan konseli
(klien) yang berlangsung dalam situasi konseling. Oleh sebab itu keberhasilan

konseling sanagt ditentukan oleh keefektivan komunikasi diatara partisipan konseling


yaitu konselor, konseli dan juga pihak lain yang terkait. Namun komunikasi atau
keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan oleh seorang konselor baik secara
dialogis atau dialog dengan klien. Komunikasi dialogis merupakan salah satu bentuk
komunikasi interaktif antara satu pihak dengan pihak lain melalui pencipataan suatu
situasi dalam upaya untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam pembuatan
keputusan secara tepat.

Oleh sebab itu, komunikasi dialogis merupakan bentuk komunikasi dua arah atau dua
orang individu atau lebih dalam membahas suatu masalah tertentu dengan tujuan
tertentu pula. Untuk melaksanakan komunikasi dialogis secara baik diperlukan
pemahaman atau penguasaan materi masalah yang akan dikomunikasikan dalam
proses konseling. Hal ini diwujudkan dalam penampilan secara efektif dalam suatu
proses komunikasi informasi secara tepat.

A. Komunikasi antar pribadi

Komunikasi ini merupakan proses pemberian dan penerimaan pesan antara dua atau
lebih dengan melibatkan beberapa pengaruh dan umoan balik. Dalam proses
konseling komunikasi antara pribadi perlu dikuasi oleh seorang konselor demi
keefektifan konseling. Dalam proses konseling, komunikasi antar pribadi
memungkinkan terjadinya interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien.
Komunikasi ini ditandai dengan adanya:

1. Perkiraan berdasarkan informasi psikologis.


2. Interaksi berdasarkan pengetahuan yang lebih jelas.
3. Interaksi berdasarkan aturan yang dibuat secara pribadi.
Adapun maksud dari adanya komunikasi antar pribadi yakni sebagai berikut:
1. Menemukan diri sendiri.
2. Menemukan diri luar.
3. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain.
4. Mengubah sikap dan perilaku sendiri dengan orang lain.

5. Bermain dan hiburan.


6. Memberikan bantuan.

Agar tercapai keefektifan di dalam komunikasi, hendaknya memeperhatikan prinsipprinsip komunikasi, yaitu sebagai berikut:

1. Tidak mungkin terhindar dari kehidupan tanpa komunikasi.


2. Semua momunikasi merujuk pada isi dan hubungan di antara partisipan.
3. Komunikasi tergantung pada petukaran antar partisipan atas dasar kesamaan sistem
tanda dan makna.
4. Setiap orang berkomunikasi menggunakan rangsangan dan respon berdasrkan
sudut pandangnya sendiri.
5. Komunikasi antar pribadi dapat merangsang timbulnya saling meniru dan saling
melengkapi perilaku antar idnividu yang satu dengan yang lainnya.

Persepsi

Persepsi adalah proses individu menjadi sadar dan memberi makna terhadap obyek
dan peristiwa di luar dirinya melalui bermacam alat dria. Kualitas komunikasi itu
sangat ditentukan oleh persepsi masing-masing partisipan. Persepsi dipengaruhi oleh
berbgai hal, yakni sebagai berikut:

1. Harapan individu.
2. Kesan pertama.
3. Kesan kelompok.
4. Derajat kesamaan perilaku orang lain.
5. Konsistensi perilaku dalam berbagai situasi.
6. Motivasi internal dan eksternal.

Menyimak

Merupakan aktivitas yang diwujudkan dalam bentuk proses mengirimkan kembali

kepada pembicara mengenai pikiran, makna dan isi perasaan pembicara. Fungsi dari
menyimak di dalam komunikasi antar pribadi yakni:

1. Membuat pendengar mengecek pemahaman secara tepat.


2. Menyatakan penerimaan pesan pembicara.
3. Merangsang pembicaraan agar memperluas perasaan dan pemikiran.
4. Memberitahukan kepada pembicara mengenai reaksi pendengar.
5. Memberikan bimbingan kepada pembicara untuk menyesuaikan isi-isi pesannya.

Menyimak yang efektif ditandai dengan beberapa hal, yakni sebagai berikut:

1. Berhenti bicara.
2. Tempatkan pembiaraan dengan mudah.
3. Bereaksi secara baik.
4. Konsentrasi pada apa yang sedang dibicarakan.
5. Jangan terlalu tergesa-gesa memberukan tafsiran.
6. Berbagi tanggung jawab dalam komunikasi.
7. Ungkapan dengan cara yang benar.
8. Menyatakan pemahaman.
9. Mengajukan pertanyaan.
10. Bersikap secara baik, misalnya bersahabat, sopan, terbuka, sensitive, dan lainlain.

Keefektifan

1. Keterbukaan, kesediaan membuka diri, mereaksi kepada orang lain, merasakan


pikiran dan perasaan orang lain.
2. Empati, menghayati perasaan orang lain.
3. Mendukung, kesediaan secara spontan untuk menciptakan suasana yang
mendukung.
4. Positif, menyatakan sikap positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi.
5. Keseimbangan, mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai kepentingan yang
sama, pertukaran informasi secara seimbang.
6. Percaya diri, merasa yakin kepada diri sendiri, bebas dari malu.

7. Kesegaran, segera melakukan kontak disertai rasa suka dna berminat.


8. Manajemen interaksi, mengendalikan interaksi untuk memberikan kepuasan
kepada kedua belah pihak, mengelola pembicaraan dnegan pesan-pesan yang baik
dna konsisten.
9. Pengungkapan, keterlibatan secara jujur dalam berbicara dan menyimak baik
secara verbal maupun non verbal.
10. Orientai kepada orang lain, penuh perhatian, minat dan kepedulian kepada ornag
lain.

B. Membuka diri
Yakni tindakan menunjukan diri sendiri sehingga memmbuat oleh orang lain jadi
mengenal diri sendiri. Dapat disebut membuka diri jika memiliki karakteristik
sebagai berikut:

1. Diri sendiri sebagai isi.


2. Disengaja.
3. Diarahkan kepada orang lain.
4. Jujur.
5. Membuka pikiran.
6. Berisi informasi yang tidak terdapat dalam sumber lain.
7. Berlangsung dalam suasana keakraban.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan adanya membuka diri di dalam komunikasi
antar pribadi, yakni:

1. Katarsis, upaya untuk melepaskan informasi diri.


2. Klarifikasi diri, memberikan penjelasan mengenai keyakinan, pendapatan, pikiran,
sikap, dan perasaan diri dengan menceritakan kepada orang lain.
3. Validasi diri, untuk memperoleh persetujuan orang lain.
4. Pertukaran, mengajak orang lain membuka diri juga.
5. Pembentukan impresi, membuat kesan tertentu tentang diri sendiri.
6. Pemeliharaan dan peningkatan hubungan, yakni membuat hubungan dengan orang
lain menjadi lebih baik dan berkembang.
7. Control social, mengingkatkan pengendalian terhadap orang lain dan situasi di

mana diri sendiri berhubungan dengan orang lain.


8. Manipulasi , melakukan pembukaan diri dengan diperhitungkan sebelumnya untuk
mencapai hasil yang diinginkan.
C. Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal merupakan bentuk komunikasi yang ikut mewarnai corak
konseling sebagai suplemen (tambahan), komplemen , dan subtitusi (pengantian)
komunikasi verbal. Oleh karean itu seorang konselor harus memiliki pemahaman dan
keterampilan dalam komunikasi non verbal. Namun ada bebrapa aspek perilaku
dalam komunikasi non verbal, sebagai berikut :

1. Menggunakan Waktu

a. Rekognisi, ketepatan waktu atau mengulur waktu dalam mengenal kehadiran orang
lain atau dalam memberikan respon terhadap komunikasi mereka.
b. Prioritas:

1) Sejumlah waktu yang digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang.


2) Sejumlah waktu yang relative yang digunakan untuk topic-topic yang bebas.
2. Menggunakan Badan
a. Kontak mata

1) Melihat obyek yang spesifik.


2) Melihat ke bawah.
3) Mentap kepada orang lain.
4) Menyorotkan pandangan dengan tajam.
5) Mengalihakan mata dari saru obyek ke obyek lain.
6) Melihat kepada orang lain, tetapi segera memalingkan diri apabila terlihat.
7) Menututp mata dengan tangan.
8) Berulang-ulang memandang kepada orang lain.
b. Mata

1) Berkilauan.
2) Meneteskan air mata.
3) Membelalak.
4) Posisi kelopak mata.
c. Kulit

1) Pucat
2) Berkeringat
3) Kemerah-merahan.
4) Tegak bulu roma.
d. Postur tubuh

1) Bersemangat, siap melakukan aktivitas.


2) Berbungkuk, kumal, nampak letih, merosot.
3) Tangan bersilang, di depan seperti melindungi diri.
4) Menyilangkan kaki.
5) Duduk mengahdapi orang lain atau duduk di samping atau menghindar.
6) Mengangkat kepala, melihat ke lantai, menundukan kepala.
7) Posisi tubuh untuk menghindari orang lain untuk bersama dalam kelompok.
e. Ekspresi wajah

1) Tidak ada perubahan.


2) Mengerutkan dahi (tanda kekhawatiran).
3) Mengerutkan hidung.
4) Senyum, tertawa.
5) Mulut yang sedih.
6) Mengigit bibir.

f. Tangan dan isyarat bahu

1) Tangan simbolik dan isyarat bahu.

2) Isyarat tangan dan bahu untuk menunjukkan ukuran atau bentuk.


3) Menunjukan bagaimana sesuatu terjadi atau bagaimana melakukan sesuatu.

g. Perilaku membebani/menyakiti diri

1) Mengigit kuku.
2) Manggaruk-garuk.
3) Menekan ibu jari.
4) Menarik rambut.
5) Menggosok atau memukul tangan.

h. Perilaku repetitit

1) Menghentak-hentak kaki, atau memukul-mukul dengan jari.


2) Berjalan bolak-balik.
3) Gemetar.
4) Mempermainn kancing, rambut, atau baju.

i. Petunjuk atau perintah

1) Membunyikan jari.
2) Meletakan jari ke bibir untuk memerintahkan diam.
3) Menunjukkan.
4) Mebeberkan jari untuk menunjukan ketidak setujuan.
5) Mengangkat bahu.
6) Melambaikan tangan.
7) Mengangguk dalam pengenalan.
8) Mengedipkan mata.
9) Mengangguk tanda setuju, emnggelengkan kepala tanda ridak setuju.

j. Sentuhan

1) Untuk mendapat perhatian.


2) Penuh kasih sayang, penawaran.
3) Hal-hal yang bersifat seksual.
4) Menentang, seperti menonjok pada dada.
5) Symbol persahabatan, seperti menepuk punggung.
6) Meremehkan, seperti sentuhan di atas kepala.

k. Penampilan serba rapih danbagus

1) Derajat kebersihan.
2) Keharuman.
3) Dandanan.
4) Warna dan penata rambut.
3. Menggunakan Media Vokal

a. Tekanan suara

1) Datar, monoton, tanpa perasaan.


2) Terang, gamblang dalam perubahan nada suara.
3) Kuat, meyakinkan, mantap.
4) Lemah, ragu-ragu, gemetar.
5) Terpatah-patah, bimbang.

b. Kecepatan bicara

1) Cepat.
2) Sedang.
3) Lambat.

c. Kekerasan suara

1) Keras
2) Sedang
3) Lemah lembut

d. Gaya bicara

1) Tertib atau sembrono.


2) Keragaman regional.
3) Keajengan gaya bicara.
4. Menggunakan Lingkungan

a. Jarak
1) Menjauh apabila yang lain mendekat.
2) Mendekati apabila ada yang menjauh.
3) Mengambil inisiatif dalam mendekat atau menjauh.
4) Membuat jarak secara bertahap semakin meluas.
5) Membuat jarak secara bertahap makin menyempit.

b. Pengaturan penata fisik


1) Rapi, tersusun rapi, tertata dengan baik.
2) Berantakan, sembarangan, tidak terpelihara.
3) Biasa atau formal.
4) Warna yang hangat atau dingin.
5) Bahan-bahan yang lembut atau keras.
6) Susunan teratur rapi atau beraneka ragam.
7) Menyenangkan dan hidup atau kotor dan membosankan.
8) Selera menyenangkan atau mentereng tak berharga.
9) Mahal, mewah atau sederhana.

c. Pakaian
1) Tebal atau tipis.
2) Bergaya atau biasa-biasa saja.

d. Posisi dalam ruang


1) Melindungi posisi sendiri dengan obyek tertentu seperti kursi, atau meja antara diri
sendiri dan orang lain.
2) Mengambil posisi yang terbuka dan bebas seperti berada pada posisi di tengah
ruangan, dalam sofa yang berdampingan, atau kursi-kursi yang tanpa penghalang.
3) Mengambil posisi yang berhadapan atau menguasai.
4) Perpindahan dalam ruangan.
5) Bergerak keluar masuk ke dalam wilayah orang lain.
6) Berdiri apabila ada orang lain duduk, atau mengambil posisi yang lebih tinggi dari
orang lain.

Referensi
Hari Setiawan. Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya : Karya Gemilang Utama
Jalaliddin Rakhmat. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Moh. Surya. 2003. Psikologi konseling. Bandung : Pustaka bani Quraisy