Anda di halaman 1dari 7

Semen

Semen portland telah dikembangkan dari semen natural di Britania pada awal abad ke19, dan nama semen portland diperoleh dari kesamaannya dengan portland stone, suatu
tipe batu bangunan yang digali di pulau kecil Portland, di Inggris. Joseph Aspdin,
seorang tukang batu Britania dari Leeds, di tahun 1824 telah mematenkan proses
pembuatan suatu semen yang ia sebut semen portland. Semennya merupakan artificial
cement yang punya sifat serupa dengan material yang dikenal sebagai "Semen Roma"
(yang dipatenkan di tahun 1796 oleh James Parker) dan prosesnya serupa dengan yang
dipatenkan di tahun 1822 dan telah digunakan sejak tahun 1811 oleh James Frost yang
menamai semennya "Semen Britania". Nama semen portland juga direkam dalam
direktori yang diterbitkan tahun 1823 dan dihubungkan dengan William Lockwood dan
mungkin orang yang lain
Tabel 2.2. Susunan unsur semen Persen (%)
portland

biasa

(Tjakrodimuljo,

1996) Oksida
Kapur (CaO)

60-65

Silica (SiO2)

17-25

Alumina ( Al2 O3)

3-8

Besi (Fe2 O3)

0,5-6

Magnesia (MgO)

0,5-4

Sulfur (SO3)

1-2

Soda / potash (Na2O + K2O)

0,5-1

Semen portland diperoleh dari hasil pembakaran bahan-bahan dasar yang terdiri antara
lain : batu kapur (CaO), tanah lempung yang mengandung H2O ,SiO2 dan Alumina
(Al2O2). Disamping itu ada tambahan bahan lain sesuai dengan jenis semen yang
diinginkan. Campuran dari bahan tersebut di atas selanjutnya dibakar dalam tanur baker
-

-butir (klinker). Kemudian

klinker digiling halus secara mekanis sambil ditambah gibs tak terbakar yang berfungsi

sebagai pengontrol waktu ikat. Hasilnya berbentuk tepung kering yang dimasukkan
dalam kantong-kantong semen yang pada
umumnya mempunyai berat 40 - 50 kg (Tjakrodimuljo, 1996).

Semen portland diperoleh dari hasil pembakaran bahan-bahan dasar yang terdiri antara
lain : batu kapur (CaO), tanah lempung yang mengandung H2O ,SiO2 dan Alumina
(Al2O2). Disamping itu ada tambahan bahan lain sesuai dengan jenis semen yang
diinginkan. Campuran dari bahan tersebut di atas selanjutnya dibakar dalam tanur baker
-

-butir (klinker). Kemudian

klinker digiling halus secara mekanis sambil ditambah gibs tak terbakar yang berfungsi
sebagai pengontrol waktu ikat. Hasilnya berbentuk tepung kering yang dimasukkan
dalam kantong-kantong semen yang pada umumnya mempunyai berat 40 - 50 kg
(Tjakrodimuljo, 1996).
Bila semen bersentuhan dengan air, maka terjadi proses hidrasi yaitu proses pengerasan
semen. Kekuatan tekan beton yang telah mengeras akan terus naik tergantung pada
jumlah air yang dipakai waktu proses hidrasi berlangsung. Pada dasarnya jumlah air
yang diperlukan untuk proses hidrasi hanya kira-kira 25% dari berat semennya,
penambahan jumlah air akan mengurangi kekuatan setelah mengeras (Tjakrodimuljo,
1996).
Sesuai dengan tujuan pemakaiannya, semen portland di Indonesia (SII 0013-81) dibagi
menjadi 5 jenis, yaitu :
Jenis I :Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratanpersyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain.
Jenis II :Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap
sulfat dan panas hidrasi sedang.
Jenis III :Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan
awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.
Jenis IV :Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas
hidrasi yang rendah.
Jenis V :Semen portland yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan tinggi
terhadap sulfat

Portland Composit Cement (Semen Portlant Komposit)/PCC


Menurut SNI 17064-2004, Semen Portland Campur adalah Bahan pengikat
hidrolisis hasil penggilingan bersama sama terak (clinker) semen portland dan gibs
dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran antara bubuk semen
portland dengan bubuk bahan bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara
lain terak tanur tinggi (blastfurnace slag), pozzoland, senyawa silika, batu kapur, dengan
kadar total bahan anorganik 6 35 % dari massa semen portland composite. Menurut
Standard Eropa EN 197-1 Portland Composite Cement atau Semen Portland Campur
dibagi

menjadi

Type

berdasarkan

jumlah

Aditive

material

aktif

1.

Type

II/A-M

mengandung

20

aditif

2.

Type

II/B-M

mengandung

21

35

aditif

Kalau pada Portland Pozzolan Cement (Semen Portland Pozzolan) aditif yang
digunakan hanya 1 jenis maka pada Portland Composite Cement ini aditif yang
digunakan lebih dari 1 jenis atau 2 jenis maka semen ini dikelompokkan pada
TERNARY CEMENT.
Acuan Normatif Untuk Pemakaian Semen Portland :

ASTM C 114-00, Standard test methods for chemical analysis of hydraulic


cement.

ASTM C 109/109M-01, Standard test method for compressive strength of


hydraulic cement mortar.

ASTM C151-00, Standard test method for autoclave expansion of portland


cement.

ASTM C 186-98, Standard test method for heat of hydration of hydraulic


cement.

ASTM C 187-98, Standard test method for normal consistency of hydraulic


cement.

ASTM C 191-01a, Standard test method for time of setting of hydraulic cement
by vicat needle.

ASTM C 204-00, Standard test method for fineness of hydraulic cement by air
permeability apparatus.

ASTM C 115-96a, Standard test methods fineness of portland cement by


turbidimeter.

ASTM C 266-99, Standard test methods for time of setting of hydraulic cement
paste by
gillmore needles.

ASTM C 451-99, Standard test methods for early stiffening of hydraulic cement
(paste method.)

ASTM C 185-01, Standard test method for air content of hydraulic cement
mortar,

ASTM C 778-00, Standard specification for standard sand.

ASTM C 183-97, Standar practice for sampling and the amount of testing of
hydraulic

cement.

ASTM C 430-96, Standard test for fineness of hydraulic cement by 45-m


(No325) Sieve.

ASTM C 670-03, Standard practice for preparing precision and bias statements
for test
methods for construction materials.

Pemanfaatan Semen Portland Komposit di bidang Konstruksi

Digunakan untuk konstruksi umum untuk semua mutu beton

Struktur bangunan bertingkat

Struktur jembatan

Struktur jalan beton

Bahan bangunan

Beton pratekan dan pracetak, Pasanganbata, plesteran dan acian,Panel beton,


Paving block, Hollow brick, batako, genteng, polongan, ubin dll.

Keunggulan Semen Portland Komposit

Lebih mudah dikerjakan

Suhu beton lebih rendah sehingga tidak mudah retak

Lebih tahan terhadap sulphat

Lebih kedap air

Permukaan acian lebih halus

Keunggulan semen Portland

Metode solidifikasi menggunakan semen Portland dapat menstabilkan logam berbahaya


menjadi tidak membahayakan lingkungan. Ada banyak komponen semen yang mampu
menstabilkan logam berbahaya, salah satunya yaitu trikalsium aluminat (Ca3Al2O6)
sebagai salah satu komponen utama dalam semen. Secara sederhana prinsip kerja
solidifikasi adalah proses pengubahan sifat fisika dan kimia limbah B-3 dengan cara
penambahan senyawa pengikat sehingga pergerakan senyawa-senyawa B-3 dapat
dihambat atau terbatasi dengan membentuk ikatan massa monolit struktur yang masif.

Solidifikasi limbah padat berbagai industri dapat dilakukan dengan 2 proses, yaitu
proses anhidrasi dan proses hidrasi.

1. Proses Anhidrasi
Proses anhidrasi yaitu proses homogenisasi antara limbah dengan semen Portlandtanpa
menggunakan air. Proses ini dapat dilakukan pada industri semen, yaitu dengan
menambahkan limbah pada awal proses pembuatan semen. Limbah yang mengandung
logam berbahaya dijadikan sebagai bahan tambahan pembuatan semen.

Proses anhidrasi akan menghasilkan semenlimbah yang homogen antara limbah


dengan semen. Semenlimbah kemudian dapat diolah dengan menambahkan air menjadi
campuran yang siap dicetak menjadi poduk yang bermanfaat , seperti paving blok,
batako, tiang listrik, dan produk lain yang terbuat dari semen.

2. Proses Hidrasi
Proses hidrasi yaitu proses homogenisasi antara limbah dengan semen Portland dengan
menambahkan air. Proses yang kedua ini lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan
proses anhidrasi, karena dapat dilakukan secara umum dengan proses yang lebih
sederhana. Faktor yang mempengaruhi proses hidrasi semen yaitu :

Proses hidrasi semen dipengaruhi oleh komposisinya. Salah satunya yaitu silika (SiO2)
yang ada di dalam semen. SiO2 akan mengeliminir Ca(OH)2 dan bereaksi membentuk
CSH pada proses hidrasi semen, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kuat tekan
semen. Hal ini disebabkan Ca(OH)2 di dalam mortar / beton akan bersifat merugikan
dan menurunkan kuat tekan semen. Reaksinya yaitu :
.(1)

curing (perendaman)
Umur curing (perendaman) akan berpengaruh terhadap kuat tekan dan proses hidrasi
semen. Semakin lama umurnya maka proses hidrasinya semakin sempurna sehingga
kekuatan
tekannya semakin naik.

Tingkat kehalusan akan berpengaruh terhadap kekuatan semen dan proses hidrasi
semen. Kehalusan menentukan luas permukaan partikel semen sehingga sangat
berpengaruh
pada proses hidrasi semen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kuat tekan
semen.

Proses hidrasi akan menghasilkan campuran homogen antara semen Portland, limbah,
dan air. Campuran ini dapat digunakan untuk produk yang bemanfaat, misalnya paving
blok, batako, tiang listrik produk lain yang terbuat dari semen.

TUGAS

Oleh:
SUPRIANTO MARWING
D11112296
TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2013/2014