Anda di halaman 1dari 2

Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

A.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.

8.

LATAR BELAKANG
Seperti diketahui Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menurun sangat lambat (450/100.000
kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 373/100.000 kelahiran hidup SKRT 1995) dan masih
tertinggi diantara negara ASEAN. Sedangkan Angka Kematian Bayi(AKB) telah menurun cukup
cepat,pemerintah Indonesia bertekat untuk menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran
hidup dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup pada tahu 2010.Salah satu faktor kematian ibu
adalah perdarahan masa nifas yang bisa disebabkan karena kurangnya pelayanan yang diberikan
oleh tenaga kesehatan dan program pemerintah yang tidak berjalan,masa nifas adalah masa
setelah placenta lahir sampai dengan 6 minggu post partum dan terdiri dari tiga tahapan yaitu
puerperium dini, intermedial dan remote puerperium.dalam masa nifas ini bidan mempunyai
peran dan tanggung jawab dalam melekukan manajemen asuhan dan memberikan asuhan
Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun
peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :
Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan
ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.
Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu
melakukan kegiatan administrasi.
Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan,
mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang
aman.
Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan
rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah
komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.
Memberikan asuhan secara professional.
PEMBAHASAN
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

1.
2.
3.
4.

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan
kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu
nifas dan bayinya.
Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun
bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:


Kunjungan Waktu Asuhan
Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta
melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah
perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
6-8 jam
Pemberian ASI awal.
I
post
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru
partum
lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus
menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau
sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus,
tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
6 hari
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
II
post
partum Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada
tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
2
minggu Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang
III
post
diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
partum
6
Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
minggu
IV
post
Memberikan konseling KB secara dini.
partum