Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 8

Koordinasi Alinyemen Vertikal Dan Alinyemen Horisontal


A. Pengertian Lengkung Gabungan
lengkung gabungan adalah gabungan lengkung dengan putaran yang sama dan jarijari yang berlainan yang bersambungan langsung.
Dalam hal perbedaan jari-jari pada lengkung yang berdampingan tidak melampaui 1 :
1,5 lengkung dapat dihubungkan langsung hingga membentuk lengkung gabungan.
suatu garis lurus yang dipasang pada titik balik untuk pencapaian kemiringan dapat
membantu lengkung gabungan tersebut.

B. Syarat-syarat Lengkung Gabungan


1) Ada dua macam lengkung gabungan, sebagai berikut:
(a) lengkung gabungan searah, yaitu gabungan dua atau lebih tikungan dengan
arah putaran yang sama tetapi dengan jari jari yang berbeda (lihat
Gambarll.23);

Gambar II.23
Lengkung gabung searah.

(b) lengkung gabungan balik arah, yaitu gabungan dua tikungan dengan arah
putaran yang berbeda (lihat Gambar 11.25).

Kelompok 8

Gambar II.25
Lengkung gabung balik

2) Penggunaan lengkung gabungan tergantung perbandingan R1 dan R2:

>

,lengkung gabungan searah hars dihindarkan

, lengkung gabungan harus dilengkapi bagian lurus atau


clothoide sepanjang paling tidak 20 meter (lihat Gambar
11.24).

Gambar II.24
Lengkung gabungan searah dengan sisipan
Bagian lurus minimal sepanjang 20meter

Kelompok 8

3) Setiap lenkung gabungan balik arah harus dilengkapi dengan bagian lurus di antara kedua
tikungan tersebut sepanjang paling tidak 30 m (lihat Gambar 11.26).

Gambar II.26
Lengkung gabungan balik dengan sisipan
Bagian lurus minimum 20meter

C. Pengertian Trase Jalan


Trase jalan adalah garis tengah atau sumbu jalan yang merupakan garis lurus yang
saling terhubung pada peta topografi dan merupakan garis acuan dalam penentuan
tinggi muka tanah dasar dalam perencanaan jalan baru.
D. Ketentuan Perancangan Trase yang Berhubungan degan Keamanan Pengguna jalan
Ketika merencanakan sebuah trase pada proyek jalan terlebih pada jalan raya yang
kemungkinan akan banyak di lalui oleh kendaraan-kendaran besar dan dalam
kecepatan tinggi mesti memperhatikan beberapa hal penting agar bisa menghindari
terjadinya kecelakanan akibat trase jalan yang tidak baik.

Sebelum membuat trase jalan yang akan direncanakan, maka terlebih dahulu kita
melihat beberapa syarat,antara lain :

Kelompok 8
a. Syarat Ekonomis
-

Pertama tama, dilihat apakah di daerah sekitar yang akan dibuat trase jalan
baru,sudah ada jalan lama atau tidak.

Untuk pembuatan jalan, diperlukan beberapa material seperti batu, dan pasir
yang banyak, maka perlu diperkirakan tempat penggalian material yang
letaknya berdekatan dengan lokasi pembuatan jalan.

b. Syarat Teknis
Untuk mendapatkan jalan yang bisa menjamin keselamatan jiwa dan dapat
memberi rasa nyaman berkendara bagi pengemudi kendaraan bermotor maka
perlu diperhatikan beberapa factor antara lain :
1. Keadaan Geografi
Keadaan geografi adalah keadaan permukaan (medan) dari daerah-daerah
yang akan dilalui oleh jalan yang akan dibuat yang dapat dilihat dalam peta
topografi. Peta topografi ini perlu untuk menghindari sejauh mungkin bukitbukit, tanah yang berlereng terjal, tanah yang berawa-rawa dan lainnya.
Apabila diperluka, maka dapat diusahakan untuk membuat peta yang didapat
dari pesawat udara atau satelit sebagai bantuan untuk medapatkan daerah yang
mempunyai permukaan tanah yang memenuhi syarat.
2. Keadaan Geologi
Keadaan Geologi dari daerah yang akan dilalui,harus diperhatikan juga karena
banyak fakta yang menunjukkan adanya bagian jalan yang rusak akibat
pengaruh keadaan geologi. Dengan adanya data yang menyatakan keadaan
geologi permukaan medan dari daerah yang akan dibuat, dapat dihindari
daerah yang rawan. Contohnya adalah adanya bagian jalan yang patah atau
longsor sebagai akibat dari tidak adanya data geologi saat jalan direncanakan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan trase jalan, diantaranya
yaitu :
1. Perencanaan garis trase dibuat sependek mungkin atau tidak terlalu panjang
2. Dipilih route rencana jalan sedatar mungkin mengikuti garis kontur atau transis.
3. Syarat antara sudut belokan pertama dan sudut belokan kedua diusahakan
sepanjang mungkin (4.0 cm pada gambar dengan skala 1: 10.000)

Kelompok 8
4. Perencanaan sudut belok pada masng-masing tikungan disesuaikan dengan
kecepatan rencana kendaraan (Vr)
5. Pelaksanaan dan pemeliharaan operasional mudah dan efisien.
6. Ekonomis dari segi pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya.
7. Aman dalam pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya.
8. Memenuhi perencanaan desain.
Walaupun kita tahu bahwa jarak yang tersingkat untuk menghubungkan dua tempat
adalah merupakan garis lurus, tetapi dalam hal ini tidak mungkin untuk membuat
centre line selurus lurusnya karena banyak menghadapi rintangan- rintangan yang
berupa bukit, lembah,sungai yang sukar dilalui, maka trase jalan dibuat sedemikian
rupa dengan memperhatikan factor keamanan dan kenyamanan pemakai jalan

E. Pengertian koordinasi alinyemen


Menurut buku Rekayasa Jalan Raya yang diterbitkan oleh Gunadarma,alinyemen horizontal
dan alinyemen vertical merupakan unsur permanen di dalam perancangan geometric jalan. Di
dalam perancangan jalan, kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Rancangan alinyemen yang baik jika digabungkan dengan rancangan vertical yang
baik, tidak selalu akan menghasilkan suatu alinyemen jalan yang baik. Oleh karena itu kedua
unsur ini harus di rancang secara selaras.
Ketidakselarasan antara rancangan alinyemen vertical dan alinyemen horizontal ini
akan berakibat pada kenampakan fisik ruas jalan,yaitu jalan akan Nampak terbelit dan akan
memperpendek jarak pandangan. Hal ini akan menyulitkan pengemudi dan mengurangi
tingkat keselamatan.
Perlu diperhatikan alinyemen bahwa di dalam perencanaan jalan, keterpaduan
kombinasi alinyemen vertical dan horizontal ini sangat penting,karena untuk memperbaiki
geometric jalan yang sudah jadi akan sangat sulit dan memerlukan biaya yang besar.
Untuk dapat memperoleh kombinasi lengkung horizontal dan vertical yang selaras di
dalam perancangan perlu diperhatikan beberapa petunjuk di bawah ini :
1. Jika dalam perencanaan terdapat lengkung vertical yang berada pada daerah lengkung
horizontal,maka alinyemen horizontal harus satu fase dengan alinyemen vertical. Jika
alinyemen horizontal dan alinyemen vertical tidak satu fase, maka ruas jalan akan

Kelompok 8
Nampak

terputusb

sehingga

pengemudi

akan

mengalami

kesulitan

dalam

memperkirakan bentuk jalan.


2. Pada bagian bawah langsung vertical cembung dan di bagian atas lengkung vertical
cekung perlu dihindari adanya tikungan tajam.
3. Titik balik dari dua tikungan yang berurutan dan berbeda arah tidak boleh
ditempatkan di bagian atas lengkung vertical cembung dan dibagian bawah lengkung
vertical cekung.
4. Di dalam satu tikungan tidak diperbolehkan ada lebih dari satu lengkung vertical.
Berikut ini adalah contoh kombinasi alinyemen horizontal dan alinyemen vertical.
1. Profil pada alinyemen horizontal lurus.
Pada ainyemen horizontal yang lurus harus dihindarkan adanya penurunan loka.
Hal ini ditempuh untuk mengimbangi galian timbunan.
2. Profil pada tikungan
Pada daerah tikungan harus dihindarkan adanya penggunaan yang pendek
3. Pandangan jarak jauh menunjukkan punggungan diprofil landai.
Pandangan samping jarak jauh atas kelandaian yang panjangpada garis singgung
akan mengungkapkan setiap punggung di atasnya
4. Bagian lurus antara dua tikungan yang terlalu pendek pada tanjakan.
Kombinasi ini kurang baik karena :
a. Bagian lurus antara dua tikungan terlalu pendek
b. Belokan terjadi di tanjakan
5. Penampilan sudut tajam
Kombinasi ini memperlihatkan penampilan yang buruk. Sudut horizontal tampak
membentuk sudut tajam.
6. Kesan terputus
Kesan terputus terjadi jika permukaan lengkung horizontal tersembunyi dari
pandangan pengemudi karena terhalang oleh suatu cembungan sementara
kesinambungan lengkung dapat terlihat menjauh

melewati cembungan yang

menutupi
7. Tikungan pada lengkung vertical cembung
Kombinasi ini berada dalam satu fase dan memberikan suatu penampilan yang
baik.
8. Tikungan pada lengkung vertical cembung

Kelompok 8
Kombinasi ini berada dalam satu fase dan memberikan suatu penampilan yang
baik.
9. Lengkung datar yang sangat panjang
Lengkung datar yang sangat panjang dengan sudut pusat yang kecil tidak
dipengaruhi oleh keadaan profil memanjang.
10. Alinyemen vertical dan horizontal satu fase
Bagian puncak lengkung vertical bertemu dengan puncak lengkung horizontal.
11. Kombinasi alinyemen dengan loncatan fase tunggal
Walaupun terjadi loncaan fase, kasus ini masih diperbolehkan karena puncak
lengkung vertical masih berhimpit dengan puncak lengkung horizontal.
12. Kombinasi alinyemen dengan loncatan setengah fase
13. Lengkung horizontal tidak seimbang.
Lengkung horizontal tak seimbang terjadi jika pada bagian lurus suatu jalan
sangat panjang dengan lengkung yang pendek.
14. Lengkung horizontal seimbang
Lengkung horizontal seimbang terjadi jika terdapat keseimbangan antara bagian
lurus dengan bagian lengkung. Lengkung horizontal seimbang ini merupakan
lengkung yang baik.
15. Kombinasi alinyemen yang baik.
Kombinasi alinyemen horizontal dan vertical dapat dicapai dengan menggunakan
garis pedoman untuk koordinasi.

Alinyemen vertical, alinyemen horizontal dan potongan melintang jalan arteri


perkotaan harus dikoordinasikan sedemikian sehingga menghasilkan suatu bentuk jalan yang
baik dalam arti memudahkan pengemudi mengemudikan kendaraannya dengan aman dan
nyaman. Bentuk kesatuan ketiga eleman jalan tersebut diharapkan dapat memberikan kesan
atau petunjuk kepada pengemudi akan bentuk jalan yang akan dilalui di depannya, sehingga
pengemudi dapat melakukan antisipasi lebih awal.

F. Ketentuan untuk proses koordinasi alinyemen

Kelompok 8
Untuk mempermudah dalam penggambaran bagian-bagian perencanaan, maka bentuk
fisik jalan digambarkan dalam bentuk alinyemen horizontal atau trase jalan,
alinyemen vertikal atau penampang memanjang jalan dan potongan melintang jalan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan alinyemen sebagai berikut
:
1. Alinyemen horisontal dan vertikal terletak pada satu fase, sehingga tikungan
tampak alami dan pengemudi dapat memperkirakan bentuk alinyemen berikutnya
(gambar 4.38.)

2. Bila tikungan vertikal dan horisontal tidak terletak pada satu fase maka
pengemudi akan sukar untuk memperkirakan bentuk jalan selanjutnya, dan bentuk
jalan terkesan patah, disuatu tempat (gambar 4.39.)

3. Tikungan yang tajam sebaiknya tidak diadakan di bagian atas lengkung vertikal
cembung, atau dibagian bawah lengkung vertikal cekung. Alinyemen vertikal
akan menghalangi pengemudi pada saat mulai memasuki awal tikungan (gambar
4.40.)

Kelompok 8

4. Pada jalan yang lurus dan panjang sebaiknya tidak dibuatkan lengkung vertikal
cekung (gambar 4.41a) atau kombinasi dari lengkung vertikal cekung (gambar
4.41b)

5. Kelandaian yang landai dan pendek, sebaiknya tidak di letakkan diantara dua
kelandaian yang curam, sehingga mengurangi jarak pandang pengemudi (gambar
4.42)

Kelompok 8

6. Jangan menempatkan bagian lurus pendek pada puncak lengkung cembung, akan
memberikan efek loncatan pada pengemudi (gambar 4.43)

7. Hindarkan menempatkan awal dari tikungan, mendekati puncak dari lengkungan


cembung (gambar 4.44)

8. Hindarkan menempatkan posisi jembatan, dibagian lengkung cekung (gambar


4.45a dan 4.45b), atau diawal puncak bagian lengkung cembung (gambar 4.45c)

Kelompok 8
apalagi jembatan pada alinyemen horinsontal berada pada suatu tikungan. Hal ini
sangat menyulitkan pengendara menguasai kendaraan akibat loncatan kendaraan
keatas, ataupun dalam kasus terakhir, akan menerima gaya setrifugal.