Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK (ASP)

FENOMENA GANTI MENTERI GANTI KURIKULUM

OLEH

HEZRON
(12 13 064)

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Judul
Mencermati Fenomena Ganti Menteri Ganti Kurikulum
B. Latar Belakang Masalah
Indonesia semakin hari semakin buruk kualitas pendidikannya. Berdasarkan survey United
Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas di
Negara-negara berkembang di Asia Pasific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14
negara. Sedangkan pada kualitas guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara
berkembang.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya
kualitas guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan
kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki
siswanya. Masalah lainnya adalah fenomena ganti menteri ganti kurikulum. Mungkin frasa
tersebut sudah cukup akrab di telinga kita sejak dahulu. Pergantian kurikulum menjadi
momok tersendiri bagi siswa-dan tidak jarang juga bagi guru yang mengajar.
Dari segi bahasa, menurut kamus Webster tahun 1994 kurikulum diartikan sebagai sejumlah
mata pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi yang harus dicapai untuk
memperoleh suatu ijazah atau tingkat, juga keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh
lembaga pendidikan nasional.
Fenomena ini kembali mencuat setelah pergantian kepemimpinan dari era Susilo Bambang
Yudhoyono ke era Joko Widodo, yang diikuti juga oleh perubahan kabinet serta menteri.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang di era SBY dipimpin oleh Muh. Nuh sejak
2009-2014 mengadakan kurikulum diakhir pemerintahannya dari Kurikulum 2006 berbasis
KTSP yang kemudian beralih ke Kurikulum 2013 yang sekarang menjadi permasalahan
nasional. Kurikulum ini memiliki 3 aspek penilaian yaitu aspek pengetahuan, aspek
keterampilan dan aspek sikap dan perilaku. Hal menonjol dalam kurikulum 2013 ini adanya
perampingan materi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, PPKn dan beberapa mata
pelajaran lainnya dirampingkan kedalam satu mata pelajaran Tematik. Selain perampingan
materi perbedaan mendasar dari kurikulum 2013 adalah guru tidak lagi diposisikan sebagai
pihak yang memberikan materi tok kepada para murid. Alih-alih sebagai pemberi informasi
searah, guru diposisikan hanya sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar. Inilah
yang menjadi masalah sekaligus kritik oleh para peneliti serta pemerhati pendidikan, bahwa
masalah utama kurikulum 2013 terletak pada guru sebagai fasilitator. Sulitnya mengubah
mindset guru, perubahan proses pembelajaran dari teacher centered ke student centered,
rendahnya moral spiritual, budaya membaca dan meneliti yang masih rendah, kurangnya
penguasaan teknologi informasi, lemahnya pengusaan bidang administrasi, dan
kecenderungan guru yang lebih menekankan pada aspek kognitif merupakan kelemahan dari
penerapan kurikulum 2013 ini.
C. Pembatasan Masalah
Dari uraian diatas dilihat begitu kompleksnya permasalahan dalam pendidikan yang ada di
Indonesia. Oleh karena itu, penulis membatasi beberapa masalah dalam penulisan makalah
dengan Masalah-masalah mendasar penerapan Kurikulum 2013, Kualitas pendidikan di
Indonesia, dan Solusi Pendidikan di Indonesia

D. Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan
Sesuai dengan pembatasan masalah diatas, maka tujuan penulisan adalah untuk
mengetahui masalah-masalah apa saja yang terjadi pada penerapan kurikulum 2013 yang
dilihat dari semrawutnya penerapan kurikulum ini.
2. Manfaat
Dari penulisan ini diharapkan mendatangkan manfaat berupa penambahan pengetahun
serta wawasan penulis tentang keadaan pendidikan akibat dari ganti menteri ganti
kurikulum sehingga kita dapat mencari solusinya secara bersama-sama agar pendidikan
Indonesia di masa yang akan datang dapat meningkat baik dari segi kualitas maupun
kuantitas yang diberikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masalah Mendasar Penerapan Kurikulum 2013
Bagi orang-orang yang berkompeten dibidangnya akan menyadari bahwa keadaan
pendidikan di Indonesia sekarang berada pada masa sakit akut, sakit ini disebabkan karena
yang seharusnya memanusiakan manusia tetapi dalam keadaannya seringkali tidak begitu.
Justru kepribadian manusia direduksi oleh sistem sehingga menghasilkan manusia robot
yang ketika ada perintah baru dilaksanakan, inilah masalah pertama. Masalah kedua adalah
mekanisme sistem top-down, dimana sistem ini menempatkan sebagai peserta didik yang
dianggap sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan
murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Jadi
hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai objek. Model ini tidak
membebaskan karena sangat menindas murid. Masalah ketiga adalah model ini hanya siap
untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Hal
inilah yang coba di selesaikan dengan lahirnya Kurikulum 2013 yang berusaha mengubah
sistem dengan menjadikan murid sebagai subjek pembelajaran (student learning centered).
Namun, pengaplikasian yang dinilai beberapa pihak terlalu dipaksakan justru berakibat buruk
terhadap sistem pendidikan Indonesia, dimulai dari kesiapan buku acuan yang tidak
terdistribusi secara normal di semua sekolah-sekolah di Indonesia, kesiapan para guru untuk
menerapkan metode pembelajaran ini, dan murid yang merasa terbebani oleh tugas-tugas
sekolah sehingga waktu luang yang harusnya mereka gunakan untuk membangun bakat serta
jiwa sosialnya direnggut dari mereka. Hal ini disadari oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI di era Jokowi, beliau diawal pemerintahannya berusaha menghindari dampak
penerapan kurikulum ini dengan memberhentikannya sementara dengan menerbitkan
Permendikbud nomor 179342/MPK/KR/2014 perihal pelaksanaan Kurikulum 2013 yang
ditujukan kepada Kelapa Sekolah di seluruh Indonesia, yang isinya (1) menghentikan
pelaksanaan kurikulum 2013 disekolah-sekolah yang baru menerapkan selama satu semester
(2) Tetap menerapkan kurikulum 2013di sekolah-sekolah yang telah menerapkan selama 3
semester (3) Mengembalikan tugas pengembangan kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum
dan Perbukuan. Senada dengan hal itu, penulis berpendapat bahwa kehadiran Kurikulum
2013 dari segi subtantifnya dibuat untuk menjawab perubahan, supaya pendidikan kita bisa
lebih baik. Yang perlu dilakukan sekarang adalah merespon kurikulum itu dengan evaluasi
yang cepat serta manajemen sekolah yang dibuat lebih prima.

B. Kualitas Pendidikan di Indonesia


1. Rendahnya kualitas sarana fisik
Untuk sarana fisik, banyak sekali sekolah maupun perguruan tinggi kita yang gedungnya
tidak layak, kepemilikan dan penggunaan media belajar yang rendah, buku perpustakaan
tidak lengkap. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri dsb.
2. Rendahnya kualitas guru
Keadaan guru di Indonesia juga sangat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum
memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya. Kendati secara
kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru,
pada umumnya masih rendah.
3. Rendahnya kesejahteraan guru
Rendahnya kesejahteraan guru juga memiliki andil penting dalam membuat rendahnya
kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak
guru yang melakukan pekerjaan sampingan.
4. Rendahnya prestasi siswa
Dengan keadaan yang demikian (rendahnya kualitas sarana fisik, kualitas guru dan
kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun tidak memuaskan. Dalam hal prestasi,
15 september 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah
mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia
melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan
tahunan ini Indonesia hanya menduduki peringkat 111 dari 177 negara. Banyaknya studi
yang menempatkan Indonesia pada kualitas pendidikan yang masih rendah, harusnya
dijadikan sebagai evaluasi oleh pemerintahan yang ada untuk mengadakan perbaikan
secepatnya.
5. Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar.
Kegagalan dalam pengembangan usia dini tentu akan menghambat pengembangan
sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu dibutuhkan kebijakan dan
strategi pemerataan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
6. Mahalnya biaya pendidikan
Bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang
harus dikeluarkan masyarakat untuk mengeyam bangku pendidikan. Walaupun program
pendidikan gratis belajar 12 tahun telah diterapkan tapi toh masih ada juga sekolahsekolah yang membebani muridnya lewat penjualan buku pembelajaran.
C. Solusi Pendidikan di Indonesia
Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar penulis berusaha untuk
memberikan solusi berdasarkan pandangan penulis :
1. Evaluasi Kurikulum
Penerapan kurikulum 2013 yang dinilai terlalu dipaksakan penerapannya, mengakibatkan
permasalahan yang menjamur sehingga mengakibatkan sistem pendidikan Indonesia
menjadi semrawut. Diperlukan tindakan serta evaluasi yang cepat agar penerapan
kurikulum 2013 ini berjalan efektif dan efisien sehingga pendidikan Indonesia yang baik
dapat tercapai.
2. Solusi Teknis
Merupakan solusi terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah kualitas
guru dan prestasi siswa.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Banyak sekali faktor yang mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Faktor-faktor teknis serta fenomena ganti menteri ganti kurikulum menjadi masalah-masalah
yang harus ditanggapi secara cepat untuk menemukan penyelesaian masalah yang efektif.
Namun, sebenarnya yang menjadi masalah mendasar di Indonesia adalah sistem di Indonesia
itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran bukannya subjek
pembelajaran. Sehingga dampak dari sistem ini adalah terbentuknya manusia-manusia yang
dipersiapkan untuk memenuhi tuntutan zaman bukannya bersikap kritis terhadap zamannya.
Maka disinilah dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi
masalah di Indonesia.