Anda di halaman 1dari 62

PENGUKURAN SIPAT DATAR

(waterpassing)

Data Ukuran

Data Ukuran

Jarak

Horisontal

Sudut

Vertikal

Horisontal

Vertikal
2

JARAK DAN BEDA TINGGI

SUDUT

Sudut = selisih
antara 2 arah ;
Jenis : Sudut
Horizontal dan
Sudut Vertikal ;
Satuan a.l. dalam
Sistem Sexagesimal.

PERSYARATAN ALAT UKUR SIPAT DATAR

Untuk kebutuhan pengukuran, alat ukur sipat datar harus memenuhi persyaratan :

1. Garis arah nivo // (sejajar) garis bidik


2. Garis arah nivo tegak lurus () Sumbu I
3. Garis arah nivo // (sejajar) garis bidik

PERSYARATAN PENGUKURAN SIPAT DATAR MEMANJANG

1. Bila pengukuran sipat datar jauh, maka pengukuran dibagi dalam seksi yang
genap.

A
Seksi :

1
P-1

2
1-2

2-3

B
3-B

Pembagian slag dalam pengukuran sipat datar

Slag 4
Slag 3

b4

m4

m3

b3
Slag 2
Slag 1

b1

b2

m2
m1

db1

dm1

db2

dm2

db3

dm3

db4

dm4
7

Pemeriksaan garis bidik dilakukan setiap hari sebelum pengukuran dan sore hari
setelah pengukuran.
Pada pengukuran setiap seksi dilakukan pengukuran pergi (pagi) dan pengukuran
pulang (sore), masing-masing dengan stand ganda (double stand).

Pengukuran satu seksi harus diselesaikan dalam satu hari.


Usahakan alat berada di tengah rambu belakang dan rambu muka. Bila sulit dilakukan
diusahakan untuk memenuhi jumlah jarak kebelakang = jumlah jarak kemuka di setiap
akhir seksi.

Dbelakang = Dmuka
Pembacaan rambu adalah rambu belakang lalu rambu muka menghindari kekeliruan
tanda + atau dari beda tinggi.
Kedudukan statip alat harus kuat menancap di tanah demikian pula skrup kaki tiga
harus terkunci.
8

Pada perpindahan slag posisi rambu belakang menjadi muka, muka menjadi
belakang dan seterusnya.
Rambu harus berdiri diatas stratpot selalu di atas tanah keras atau dibenamkan
sampai stabil.
Pembacaan rambu diusahakan lebih dari 0,5 m
Pembacaan data di lapangan :
Baca BT, BA, lalu BB (alat otomatik)
Periksa (BA+BB)/2=BT
Hitung jarak belakang dan jarak muka
Lakukan hitungan jarak setiap slag dengan slag sebelumnya
Db1+Db2+ ..+Dbakhir = Db
Dm1+Dm2+ +Dmakhir= Dm
Memenuhi : Db = Dm
Stan kedua cukup dibaca BT
9

Pada stan kedua posisi alat dirubah.


Selisih bacaan antara 2 stan tidak lebih dari 2 mm. Bila lebih pengukuran diulang.
Selama pengukuran alat selalu dipayungi untuk menghindari sengatan matahari.
Jarak antara kedua rambu dan alat sebaiknya antara 50 75 m
Pada pengisian formulir ditulis :

Nama pengukur, penulis, tanggal, daerah dan nomor alat


Data ditulis rapih dan jelas
Kesalahan tulis tidak dihapus melainkan dicoret
Penulis selalau mengulang bacaan sipengukur

10

HITUNGAN
Hitungan beda tinggi dan ketinggian ditulis dalam formulir hitungan dan dikerjakan di
base camp dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Hitungan sipat datar


Hitungan beda tinggi ukuran
hu = hA1 + h12 + h23 + h3B
Hitungan beda tinggi sesungguhnya
h =HB - HA
Hitung koreksi beda tinggi

h = h - hu
Hitung beda tinggi tiap-tiap seksi
hA1=((dA1)/d) x h
11

h12 =((d12)/d) x h
h23
h3B
Hitung tinggi masing-masing titik
h1 = hA1 + HA
h2 = h21 + H1
h3 = h31 + H2
Selisih hasil ukuran pulang dan pergi dari beda tinggi per seksi tidak melebihi
8VDkm untuk sipat datar primer dan 10VDkm untuk sipat datar skunder. Pada
pengukuran kring setelah selesai langsung dihitung salah penutupnya.
Ketelitiannya sama dengan yang diatas. Bila terjadi kesalahan dilakukan
pengukuran ulang.

12

Perlakuan terhadap alat


Lakukan pemeriksaan atas kelengkapan alat sebelum pengukuran.
Jaga alat terhadap goncangan, hujan, panas matahari, perbuatan iseng, dsb.
Periksa kelengkapan alat setelah pengukuran dan bersihkan dari kotorang
menempel. Lakukan pemeriksaan setiap hari.

13

Pemeriksaan garis bidik :


Pemeriksaan garis bidik dilakukan sebelum dan setelah pengukuran, hasilnya
ditulis pada formulir.
Metode garis bidik.

14

PEMERIKSAAN GARIS BIDIK

b2

m2

b02

m02
m1

b0
b01

m01

dm1

db1
db2

dm2
15

Posisi I : Alat dekat dengan rambu belakang.


Posisi II : Alat dekat ke rambu muka.
Dari Gambar :
Posisi I

Posisi II

b1 b1b1 = b1 db1 tg

m1 = m1 m1m1 = m1 dm1 tg
Beda Tinggi :

b2 b2b2 = b2 db2 tg

m2 = m2 m2m2 = m2 dm2 tg
Beda Tinggi :

h1 = b1 m1 = ( b1 m1 ) ( db1 dm1 )

h2 = b2 m2 = ( b2 m2 ) ( db2 dm2 )

Bila kondisi alat baik : h1 - h2 ; maka :

tg

(b1 m1 ) (b 2 m2 )
(db1 dm1 ) (db2 dm2 )

: kesalahan garis bidik


16

3. Koreksi akibat kesalahan garis bidik :

A. Koreksi pembacaan pada rambu = d.tg


B. Koreksi beda tinggi = (db dm) tg

4. Bila koreksi miringnya garis bidik terlampau besar maka garis bidik harus
dikoreksi dengan menyetel sekerup koreksi di bagian atas dan bawah okuler.

17

Beda Tinggi ( H )
Beda Tinggi AB = Jarak Vertikal antara A dan B;
Satuan dalam Sistem Metrik (milimeter, sentimeter, meter) ;
Metode pengukuran Beda Tinggi :
Spirit (Direct) Leveling,
Trigonometric (Indirect) Leveling,
Stadia Leveling,
Barometric Leveling,
Gravimetric Leveling.

18

SPIRIT LEVELING

b
a
hAB = a-b

19

TRIGONOMETRIC LEVELING

h1.2S0 tg 1.2i1i2
20

STADIA LEVELING

garis bidik

bA
bT
bB

h
tA

hAB
dAB
v = dAB tan h

hAB = tA +v -bT
21

BAROMETER DAN GRAVIMETER

22

SPIRIT/DIRECT LEVELING (WATERPASSING)


Spirit/Direct Leveling adalah metode pengukuran beda tinggi yang
paling umum dan teliti ;
Alat utama yang digunakan : Waterpass (Sipat Datar) ;
Jenis peralatan waterpass :
(1) tipe semua tetap, dengan dilengkapi sekrup ungkit atau jungkit,
(2) tipe otomatis dan
(3) tipe sinar laser.
Alat Bantu
Pabrik

: Rambu Ukur (Baak Ukur, Nivo Rambu,Sepatu Rambu ;


: Produsen alat survei
23

PERALATAN SPIRIT/DIRECT LEVELING (WATERPASSING)

Waterpas Topcon

Nivo Tabung
(Tubular Bubble Level)

Waterpas Nikon

Nivo Kotak
(Circular Bubble Level)
24

WP SEMUA TETAP
Dumpy Level
1. Teropong.
2. Nivo tabung.
3. Pengatur Nivo.
4. Pengatur dafragma.
5. Kunci Horizontal.
6. Skrup Kiap
7. Tribrach.
8. Trivet.
9. Kiap (Leveling Head).
10. Sumbu ke-1
11. Tombol Fokus.

25

REVERSIBLE LEVEL
Teropong dapat diungkit dengan skrup (no
13), sehingga garis bidik dapat mengarah
ke atas, ke bawah, maupun mendatar.
1. Teropong.
2. Nivo Reversi.
3. Pengatur Nivo.
4. Diafragma.
5. Klem Horizontal.
6. Skrup Kiap.
7. Tribrach.
8. Trivet.

9. Kiap.
10. Sumbu I
11. Fokus.
12. Pegas.
13. Skrup Ungkit
14. Skrup Teropong.
15. Sumbu Mekanis.

26

TILTING LEVEL (TIPE JUNGKIT)

Pada tipe ini sumbu tegak dan teropong dihubungkan


dengan engsel dan skrup pengungkit. Berbeda dengan tipe
reversi, pada tipe ini teropong dapat diungkit dengan skrup
pengungkit

27

WP OTOMATIS
Tipe ini sama dengan tipe semua tetap, hanya di dalam teropongnya terdapat alat
yang disebut kompensator untuk membuat agar garis bidik mendatar. Berbeda
dengan 3 tipe sebelumnya, pada tipe otomatik ini tidak terdapat nivo tabung
untuk mendatarkan garis bidik sebagai penggantinya di dalam teropong dipasang
alat yang dinamakan kompensator.
Bila benang silang diafragma telah diatur dengan baik, sinar mendatar dan
masuk melalui pusat objektif akan selalu jatuh tepat di titik potong benang
silang diafragma, walaupun teropong miring (sedikit). Dengan demikian, dengan
dipasangnya kompensator antara lensa objektif dan diafragma garis bidik
menjadi mendatar.
Kekurangan yaitu mudah dipengaruhi getaran, karena sebagai kompensatornya
dipergunakan sistim pendulum.
28

BAGIAN ALAT WP OTOMATIS

29

WP DIGITAL

30

ALAT BANTU SPIRIT/DIRECT LEVELING (WATERPASSING)

Rambu Ukur

31

ALAT BANTU SPIRIT/DIRECT LEVELING (WATERPASSING)

Nivo Rambu
Field of View
Waterpass
Sepatu Rambu
32

Tinggi suatu obyek diatas permukaan bumi ditentukan dari suatu bidang
referensi, yaitu bidang yang dianggap ketinggiannya nol; misalnya digunakan
bidang referensi tersebut dalam geodesi disebut geoid, yaitu bidang
equipotensial yang dianggap berimpit dengan permukaan air laut rata-rata
(mean sea level). Bidang equipotensial juga disebut bidang nivo, yang selalu
tegak lurus dengan arah gaya berat di sembarang permukaan bumi. Ada
banyak bidang nivo dipermukaan bumi; satu dengan yang lain saling
melingkupi.

33

Pengukuran beda tinggi antara 2 titik dipermukaan bumi, pada prinsipnya,


pengukuran jarak vertikal antara bidang-bidang nivo yang melalui titik satu
dan lainnya. Untuk wilayah yang terbatas luasannya, maka bidang-bidang nivo
tersebut dianggap datar, pengukuran ini dapat dilakukan dengan
waterpassing;

34

DATUM VERTIKAL
Jaring Kontrol Vertikal (JKV) mempunyai datum vertikal yang realisasinya
dilaksanakan dengan penetapan tinggi ortometrik pada suatu titik TTG
(Tanda Tinggi Geodesi).
Penetapan tinggi ortometrik TTG awal ini harus diikatkan dengan stasiun
pasut yang diamati selama kurun waktu sekurang-kurangnya 18,6 tahun
untuk memperoleh tinggi TTG terhadap Muka Laut Rerata (MLR) atau
Mean Sea Level (MSL).
Datum Vertikal yang ditetapkan adalah Bidang yang mempunyai potensial
yang sama (equipotential/ekipotensial) yang melalui MLR pada stasiun
pasut di titik datum atau juga sering disebut Geoid.

35

Untuk mendapatkan Tinggi Orthometris (H) ada dua


cara yaitu dengan pengukuran sipat datar dan
dengan pengukuran GPS (h) di gabungkan dengan
Undulasi Geoid (N) dengan hubungan H = h-N

36

TERM
SNI 19-6988-2004
Jaring kontrol vertikal dengan metode sipatdatar

tinggi ortometrik
tinggi terhadap geoid sepanjang garis unting-unting
tanda tinggi geodesi (TTG)
titik tetap di lapangan yang berbentuk pilar dengan ukuran
tertentu, yang menandai nilai tinggi, sebagai bagian dari
jaring kontrol vertikal, yang berfungsi sebagai titik kontrol
vertikal (TKV).
Keterangan: Tanda tinggi geodesi disebut juga tanda tinggi
tetap (bench mark)

37

datum vertikal
bidang referensi untuk sistem tinggi ortometrik yaitu geoid
1. geoid
bidang ekipotensial gayaberat bumi yang paling mendekati
muka laut rerata
2. titik datum
titik yang mempunyai nilai tinggi terhadap datum vertikal dan
dipilih sebagai titik pangkal (origin) untuk jaring kontrol vertikal
3. muka laut rerata (MLR)
bidang permukaan laut rata-rata selama kurun waktu tertentu

38

jaring kontrol vertikal nasional


serangkaian titik kontrol vertikal yang satu sama lainnya
diikatkan dengan ukuran beda tinggi ortometrik mengacu
pada titik datum
Keterangan: jaring kontrol vertikal yang diselenggarakan oleh
instansi yang berwenang belum bisa disebut jaring kontrol
vertikal nasional
sub jaring kontrol vertikal
jaring kontrol vertikal yang meliputi sebagian wilayah nasional
dengan datum vertikal lokal (independen)
39

kelas
atribut yang menunjukkan ketelitian internal (internal
accuracy) jaring sebagai fungsi metode dan alat pengukuran
desain jaring, dan metode hitungan. Kelas dinilai melalui
analisis ketelitian hasil proses perataan terkendala minimal
orde
atribut yang menunjukkan ketelitian eksternal (external
accuracy) jaring sebagai fungsi kelas jaring, kedekatan
(kesesuaian) data ukuran terhadap jaring kontrol yang
digunakan untuk ikatan dan ketelitian proses transformasi
datum. Terbagi menjadi orde 0, orde 1, orde 2, orde 3 dan
orde 4
slag
jalur pengukuran antara dua titik berdiri rambu ukur dengan
sekali berdiri instrumen.
40

seksi
jalur pengukuran antara dua Tanda Tinggi Geodesi (TTG)
atau Bench Mark (BM) yang berurutan. Satu seksi pada
umumnya terdiri atas beberapa slag
kring
jalur pengukuran yang membentuk rangkaian tertutup
(berawal dan berakhir pada titik kontrol vertikal yang sama)

41

perataan kuadrat terkecil


metode hitung perataan yang berdasarkan pada minimalisasi jumlah kuadrat
residu data pengamatan
presisi
derajat kesesuaian atau kedekatan hasil-hasil ukuran berulang satu terhadap yang
lain. Presisi menunjukkan konsistensi internal
akurasi
derajat kedekatan hasil ukuran terhadap nilai sebenarnya atau nilai yang dianggap
benar
perataan terkendala minimal
perataan kuadrat terkecil data pengamatan dengan jumlah kendala (parameter
yang dianggap tetap) sebanyak minimal yang diperlukan untuk mencapai
penyelesaian. Dalam hal penentuan tinggi, jumlah kendala minimal sama dengan
satu
perataan terkendala penuh
perataan kuadrat terkecil data pengamatan dengan jumlah kendala (parameter
yang dianggap tetap) melebihi jumlah minimal yang diperlukan untuk mencapai
penyelesaian
42

Mengingat sampai saat ini metode maupun


teknologi penyatuan datum vertikal untuk
seluruh wilayah Indonesia yang merupakan
negara kepulauan belum bisa diwujudkan,
jaring kontrol vertikal nasional orde nol belum
dapat dilaksanakan.
Instansi yang berwenang dalam survei dan
pemetaan telah menyelenggarakan JKV di
sejumlah pulau di Indonesia yaitu:
43

1. Pulau Jawa JKV orde satu dengan datum vertikal rerata


MLR di Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya;
2. Pulau Madura: JKV orde satu dengan datum vertikal
pengukuran trigonometri dari TTG.1751 di Pulau Jawa ke
TTG. 1030 di Pulau Madura;
3. Pulau Bali: JKV orde satu dengan datum vertikal rerata MLR
di stasiun pasut pelabuhan Benoa;
4. Pulau Lombok: JKV orde satu dengan datum vertikal MLR di
stasiun pasut Lembar Pulau Lombok;
5. Pulau Sumatera: JKV orde dua dengan datum vertikal rerata
MLR di stasiun pasut Malahayati Nangro Aceh, stasiun
pasut Sibolga, stasiun pasut Telukbayur Padang, stasiun
pasut Bengkulu, stasiun pasut Dumai, dan stasiun pasut
Panjang;
44

6. Pulau Sulawesi: Sulawesi Selatan, JKV orde dua dengan


datum vertikal MLR di stasiun pasut Ujungpandang, Mamuju
dan Palopo. Sulawesi Utara, JKV orde dua dengan datum
vertikal rerata MLR stasiun pasut Bitung. Sulawesi Tenggara,
JKV orde dua dengan datum vertikal rerata MLR di stasiun
pasut pelabuhan Kendari;
7. Pulau Kalimantan: Kalimantan Barat, JKV orde dua dengan
datum vertikal MLR stasiun pasut Jungkat, Pontianak;
8. Pulau Ambon: JKV orde dua dengan datum vertikal MLR
stasiun pasut pelabuhan Ambon;
9. Pulau Seram: JKV orde dua dengan datum vertikal Tinggi
Elipsoid dikurangi Undulasi dari data gayaberat global.

45

1.
2.
3.
4.
5.

Dalam kondisi tidak memungkinkan penetapan datum vertikal dengan


metode ideal, seperti tersebut di atas, maka penetapan datum vertikal
dapat ditempuh melalui pendekatan dengan teknik tertentu sedemikian
rupa sehingga diperoleh tinggi titik datum sedekat mungkin dengan tinggi
terhadap geoid. Datum vertikal pendekatan dapat ditetapkan dengan
cara-caraprioritas sebagai berikut.
penetapan datum vertikal dengan data pasut minimal 1 tahun;
penggunaan peil pelabuhan laut atau sungai yang memiliki informasi
tentang tinggi terhadap MLR;
kombinasi GPS dengan model geoid global;
interpolasi tinggi pada peta topografi;
penentuan tinggi barometrik.

46

DASAR TEORI WP/SD


Sipat datar (waterpassing/levelling) adalah suatu operasi untuk
menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah.
rambu muka
rambu belakang

BS

FS

titik kontrol
permukaan tanah

titik kontrol

Beda Tinggi
H=BS-FS

arah pengukuran

47

DASAR TEORI WP/SD


Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan elevasi diukur terhadap bidang
tersebut. Beda elevasi yang ditentukan dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yang
ditetapkan tersebut, dan hasilnya adalah elevasi titik-titik tadi.
permukaan tanah

H,t
permukaan laut

48

PENGUKURAN SIPAT DATAR (LEVELING)

PERMUKAAN LAUT

49

B
HC

HB
MSL

HA

50

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan


ketinggian atau beda tinggi antara dua titik. Pengukuran waterpass
ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai
keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan
konstruksi.
Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan
untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak
bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada,
perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluransaluran yang sudah ada, dan lain-lain.

51

BAGIAN ALAT SD

52

Syarat Pemakaian SD
Prinsip cara kerja dari alat ukur waterpass adalah membuat
garis sumbu teropong horisontal. WP lama menggunakan
indikator nivo tabung teropong.
Dalam menggunakan alat ukur waterpass harus dipenuhi
syarat pemakaian sbb :
1. Sumbu I vertikal.
2. Garis bidik harus sejajar dengan garis arah nivo.
3. Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I.
4. Benang silang horisontal harus tegak lurus sumbu I.

53

PRINSIP PENGUKURAN SIPAT DATAR

Beda Tinggi = Bt-Ta


54

Beda Tinggi = Btb-Btm

55

Beda Tinggi = Btb-Btm

56

RAMBU UKUR / BAAK / STAFF

57

58

Kontrol Bacaan Rambu :

BT = (BA + BB) / 2
BT = bacaan benang tengah
BA = bacaan benang atas
BB = bacaan benang bawah
Dopt = (BA BB) x 100

Dopt = jarak datar optis


100 = konstanta pengali instrumen

59

PERMUKAAN BUMI
A

PERMUKAAN AIR

DANAU

A1

A2

ELLIPSOID
B1

GEOID

B2

1. Agung N. Bimasena, A.N., 2013., DASAR- DASAR PENGUKURAN


(waterpassing), STPN.

61

62

Anda mungkin juga menyukai