Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI FARMASI
UJI CEMARAN MIKROBA

DISUSUN OLEH KELOMPOK D1

10060310105

Siti Aminah

10060310106

Irma Yunita Aryani

10060310107

Selly Nurul Ulfah

10060310108

Haniva Humanisya

10060310109

Tara Verina

ASISTEN KELOMPOK:
Firman Ardiansyah, S. Si.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MIPA
UNISBA
2011

I.

TUJUAN

1.

Dapat melakukan penetapan jumlah cemaran mikroba yang terdapat pada sediaan

farmasi (baik obat, kosmetik dan bahan baku), makanan serta minuman.
2.

II.

Menguji tingkat cemaran mikroba pada sediaan yang diamati.

TEORI DASAR

Cemaran merupakan bahan kimia, fisik, biologik yang keberadaannya dalam pangan
pada batas tertentu dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan. (BSNI, 2009)
Cemaran mikroba merupakan mikroba yang keberadaanya dalam pangan pada batas
tertentu dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan. (BSNI, 2009)
Prinsip pengujian cemaran mikroba yaitu mengamati dan menghitung pertumbuhan
mikroba berupa jumlah koloni setelah dilakukan pengenceran pada sampel yang dituangkan
pada media plate agar dan diinkubasikan pada media dan suhu yang sesuai.( IK. Lab. Mikro,
2006)
Angka Lempeng Total (ALT) atau disebut juga Total Plate Count(TPC) pada bakteri
merupakan jumlah koloni bakteri aerob mesofilik per gram atau per mililiter sampel yang
ditentukan melalui metode standar. (BSNI, 2006)
Prinsip uji angka kapang/khamir pada makanan dan minuman sesuai metode analisis
mikrobiologi yaitu pertumbuhan kapang/khamir setelah cuplikan diinokulasikan pada media
Potato Dextrose Agar (PDA) yang ditambahkan kloramfenikol (100 mg/l) (0,01%) sebagai
media pertumbuhannya dan diinkubasi pada suhu 20-25C. Dan NaCl sebagai pengencer
sampelnya. (BPOM, 2006).
Angka Lempeng Total (ALT ) pada jamur merupakan jumlah koloni kapang atau
khamir atau kapang khamir per gram atau per mililiter sampel yang ditentukan melalui
metode standar. (BSNI, 2006)
Kapang adalah mikroba multiseluler, terdiri dari berbagai sel yang bergabung jadi
satu. Di bawah mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa,
kumpulan hifa ini dikenal sebagai miselium. Kapang tumbuh dengan cara memperpanjang

hifa pada ujungnya, dikenal sebagai pertumbuhan apical atau pada bagian tengah hifa yang
disebut pertumbuhan iterkalar. Hifa pada beberapa kapang mempunyai penyekat melintang
atau septa dan adanya septa ini dipergunakan untuk identifikasi. Hifa tersebut memanjang di
atas atau tembus melalui medium di mana kapang itu tumbuh (Soekarto, 2008).
Khamir / ragi merupakan mikroba bersel tunggal bulat-lonjong dan memperbanyak diri
melalui pembentukan tunas atau askospora, tapi tidak membentuk miselium.
Morfologi dari kapang dan khamir :

Kapang: tubuhnya talus terdiri 2 bag: miselium dan spora (sel resisten atau
dorman).Miselium merupakan kumpulan filamen yg disebut hifa (lebar 5 10 m). Di
sepanjang setiap hifa tdpt sitoplasma bersama. Ada 3 macam hifa: aseptat (tidak
bersekat), septat (bersekat) dengan sel uninukleat dan septat dengan sel multinukleat

Sel khamir : umumnya lbh besar dari sel bakteri

Ukurannya sangat beragam, ukuran lebar 1 5 m dan panjangnya ant. 5 30 m

Biasanya: bentuk telur at. Memanjang at.bentuk bola

Tidak ada : flagelum atau alat gerak lainnya

III.

ALAT DAN BAHAN

ALAT

B AHAN

Cawan Petri

10 buah

Natruim klorida 0,9 %

Pipet Agar 20mL

1 buah

Media Nutrient Agar

Pipet ukur 1 mL

1 buah

Media Potato Desktrose Agar

Tabung reaksi

5 buah

Sampel : Kuah baso


Kloramfenikol : 0,25 mL

Rak tabung reaksi


Spiritus

IV.

1 buah
1 buah

1000mL media PDA = 1mL kloramfenikol


250 mL media PDA = 0,25 mL kloramfenikol

PROSEDUUR KERJA
C-1

selama 30 menit. Kemudian dibuat pengenceran pada sample ( 10 ; 10

-2

-3

; 10 ; 10

C
-4

menggunakan Natrium Klorida 0,9 % steril. Lalu disiapkan 10 cawan petri dan diberi
identitas nama media dan tingkat pengenceran : cawan 1 5 untuk media NA ( 4 tingkat

pengenceran dan 1 kontrol media) dan cawan 6-10 untuk media Potato Dekstrose Agar +
Kloramfenikol ( 4 tingkat pengenceran dan 1 kontrol media).
Dipipet masing masing 1mL sampel dan dimasukkan kedalam cawan petri sesuai
pengenceran. Agar cair d

C-

Csebanyak 20 mL pada masing-

masing cawan petri yang berisi sampel. Kemudian digoyangkan searah jarum jam 5x dan
berlawanan jarum jam 5x.
dan diamati setelah 1x
diamati setelah 5x24jam. Dihitung jumlah koloni bakteri, kapang dan khamir pada setiap
lempeng agar.

VI.

PEMBAHASAN

Pada praktikum uji cemaran mikroba ini kami menggunakan sampel kuah baso yang
berwarna kekuningan. Sampel ini kemudian diencerkan dari 10x, 100x, 1000x, 10000x.
Gunanya pengenceran ini yaitu untuk memastikan mendapat plate bakteri sebanyak 30-300
koloni dan plate jamur sebanyak 40-60 koloni. Karena data tersebutlah yang dapat dianggap
valid. Bila jumlah koloni melebihi yang seharusnya maka akan menyulitkan dalam
pengamatan dan memperbesar kesalahan penghitungan. Dan bila kurang dari seharusnya
maka dianngap tidak absah secara statistik. Maka pengenceran ini dilakukan hingga 10000x
berguna agar memudahkan pengamatan, terkontrol juga meminimalisasi kesalahan dalam uji
cemaran mikroba ini. (Syafa'atin Ani, 2010).
Media yang digunakan adalah Potato Dextrose Agar (PDA). PDA digunakan untuk
menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast/khamir dan kapang. Dapat juga digunakan untuk
enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA mengandung
sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2%
glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk
pertumbuhan bakteri. Komposisi dari PDA yaitu adanya kentang, dextrose, agar. Pada media
PDA ( Potato Dekstrose Agar) ditambahkan kloramfenikol yang berfungsi menjadi antibiotik
yang membunuh bakteri sehingga pada media PDA yang tumbuh hanya jamur
(kapang/khamir). Dilakukan sesuai prosedur yaitu 1 mL kloramfenikol untuk 1000 mL
sehingga bila media digunak

artinya agar kloramfenikol bekerja baik dan tidak rusak saat penambahannya.

Dalam suatu

media, dikenal satu istilah yang disebut rasio C/N, yaitu suatu perbandingan banyaknya
komposisi unsur Carbon dengan Nitrogen. Besar kecilnya nilai rasio ini mempengaruhi
potensi kemampuan suatu mikroba dalam menumbuhkan suatu mikroba. Nutrient Agar
memiliki rasio C/N yang lebih kecil karena banyak mengantuk protein yang berasal dari
pepton dan beef extract, keadaan ini membuat NA sangat bisa menumbuhkan berbagai jenis
mikroba didalamnya. Sebaliknya, Potato Dextrose Agar memiliki rasio C/N yang lebih besar
karena banyak mengandung karbohidrat dari amylum atau tepung yang diambil dari kentang.
Potato Dextrose Agar juga bersifat asam sehingga membantu menghambat pertumbuhan
bakteri tertentu yang peka terhadap asam, sehingga media ini sangat cocok digunakan untuk
menumbuhkan jamur apabila dibantu dengan antibiotik tertentu seperti Chloramfenikol.

Tekanan osmotik yang dikondisikan pada praktikum ini adalah isotonik. Yaitu dengan
dilakukan pengenceran sampel menggunakan NaCl 0,9 % sehingga keadaan sel bakteri atau
kapang/khamir akan sama dengan kondisi sampel. Keadaan isotonik ini memungkinkan
cairan akan keluar masuk melalui membaran sel tanpa melukai sel bakteri atau
kapang/khamir. Berbeda jika dikondisikan pada kondisi hipertonik atau hipotonik. Pada
keadaan hipertonik konsentrasi didalam sel terlalu tinggi sehingga sel bakteri atau
kapang/khamir akan mengalami pengerutan. Dan pada keadaan hipotonik, konsentrasi
didalam sel terlalu rendah sehingga banyak air yang masuk dan sel akan pecah.
Ada beberapa alasan mngapa mikroorganime sebagai indikator mutu, yaitu :

Kandungan mikroorganisme menentukan mutu bahan makannan karena berkaitan dengan


mutu bahan mentah, proses sanitasi, dan keefektifan metode pengolahan

Karena itu persyaratan mikrobiologi menjadi salah satu persyaratan yang dikeluarkan oleh
Badan pengawas obat dan makanan (BPOM/FDA) agar suatu produk makanan dapat beredar
di masyarakat

Sutau produk makanan harus memenuhi atauran standar dari SNI (Standar nasional
indonesia).
Uji cemaran mikroba ini dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu uji cemaran bakteri
dengan menggunakan media NA dan uji cemaran kapang/khamir dengan media
PDA+kloramfenikol. Keuntungan dari metode pertumbuhan agar atau metode uji Angka
Lempeng Total adalah dapat mengetahui jumlah mikroba yang dominan. Keuntungan lainnya
dapat diketahui adanya mikroba jenis lain yang terdapat dalam contoh. Adapun kelemahan
dari metode ini adalah :
1. Kemungkinan terjadinya koloni yang berasal lebih dari satu sel mikroba, seperti pada
mikroba yang berpasangan, rantai atau kelompok sel. Kemungkinan ini akan memperkecil
jumlah sel mikroba yang sebenarnya.
2. Kemungkinan adanya jenis mikroba yang tidak dapat tumbuh karena penggunaan jenis
media agar, suhu, pH, atau kandungan oksigen selama masa inkubasi.
3. Kemungkinan ada jenis mikroba tertentu yang tumbuh menyebar di seluruh permukaan
media agar sehingga menghalangi mikroba lain. Hal ini akan mengakibatkan mikroba lain
tersebut tidak terhitung.
4. Penghitungan dilakukan pada media agar yang jumlah populasi mikrobanya antara 30
300 koloni. Bila jumlah populasi kurang dari 30 koloni akan menghasilkan penghitungan
yang kurang teliti secara statistik, namun bila lebih dari 300 koloni akan menghasilkan hal
yang sama karena terjadi persaingan diantara koloni.

5. Penghitungan populasi mikroba dapat dilakukan setelah masa inkubasi yang umumnya
membutuhkan waktu 24 jam atau lebih (Buckle, 1987).

Bakteri merupakan mikroba bersel tunggal yang memiliki dinding sel, berkembang biak
dengan membelah diri dan mempunyai empat bentuk utama yaitu coccus, basil, koma dan
spiral. Bakteri yang mungkin terdapat pada makanan dan minuman :
1. Salmonelosis
Infeksi oleh bakteri genus Salmonella, menyerang saluran gastrointestinal yg mencakup
perut, usus halus dan usus besar (kolon). Penjangkitan terutama pada acara makan dalam
pesta perkawinan, perjamuan makan, pada penyajian makanan dalam jumlah banyak. Tanda:
sakit perut mendadak, mulai 8 48 jam setelah makan makanan yg tercemar, timbul sakit
perut yg mendadak dengan diare encer, kadang dengan lendir dan darah. Mual, muntah,
demam suhu 38

- 39oC. Ini dikarenakan adanya endotoksin tahan panas yg dihasilkan

Salmonella. Gejala ini dapat hilang dalam 2 5 hari. Obatnya:

Chloramphenicol,

Thiamphenicol. Penyebab: Salmonella enteridis var. typhimurium, S. choleraesuis. : Bakteri


Gram(-), motil, tidak membentuk spora.
2. Staphylococcus aureus
Penyebab: Bakteri Staphylococcus aureus. Disebabkan termakannya toksin yg dihasilkan
oleh bakteri S. aureus yg tumbuh pada makanan yg tercemar. Termasuk enterotoksin. Bakteri
ini terdapat pada berbagai bagian tubuh manusia seperti Hidung, tenggorokan, kulit shg
mudah memasuki makanan. Bakteri ini dapat berasal dr orang yg mengolah yg menderita
infeksi.
Staphylococcus aureus ; kokus Gram(+), tunggal/berpasangan, tak berkapsul, tak btk spora,
nonmotil, aerobik, anaerobik fakultatif, koagulase (+).
3. Botulisme

Disebabkan oleh Clostridium botulinum Anerobik, Gram(+), hasilkan spora tahan panas.
Tumbuh pada media biasa, optimum pd 25oC ( 20 -35oC)

Yg menyebabkan penyakit pada manusia: tipe A, B, E dan F.

Tipe C dan D : penyakit pd burung dan mamalia (selain manusia) Tipe G : belum jelas
penyakit apa.
Sifat botulisme:

Toksin paling ampuh, dosis letal tipe A pd tikus: 1 g dapat membunuh 33 milyar tikus

toksin menyerang urat syaraf, menyebabkan kelumpuhan pd faring dan diafragma.

Bila terjadi kelumpuhan pada saluran pernapasan: lakukan trakeotomi (bedah batang
tenggorok)

Bila diduga orang termakan racun botulin usahakan agar muntah


DiagnosaBotulisme Menunjukkan adanya racun botulinum dlm serum atau tinja
penderita. Suntikan intraperitonial dgn serum atau cairan tinja penderita pd mencit
hewan mati, (mencit sangat peka thdp toksin ini)

Botulus

, diberi nama demikian sebab selama bertahun-tahun sosis yg tak

dimasak dihubungkan dengan penyakit ini.


Biasanya adalah makanan yg dikalengkan, pembuatan acar at. Pengasapan, ttp tak dpt
membunuh sporanya. Pengalengan buah,sayuran, ikan asap serta daging dan ikan yg
dibumbui hsl produksi rumah tangga.
Epidemiologi: bakteri ini tersebar luas, mencemari makanan olahan pd wadah tertutup
kedap (anaerobik), spora tumbuh jadi sel vegetatif dan memproduksi toksin botulin.
Penyakit pada bayi : botulisme bayi, badan lemah, tak dpt buang air besar dan lumpuh.
Kemungkinan karena pemberian madu yg mengandung spora bakteri ini.
Pencegahan: pengawasan kualitas yg ketat oleh industri pangan (industri rumah tangga).
4. Vibrio parahaemolyticus

Sebabkan gastroenteritis

Seafood, ikan mentah yg tercemar

Pencegahan: penyimpanan makanan dlm lemari es dan memasak secara sempurna.

Sifat bakteri: btk koma, batang Gram(-), tunggal, tak berkapsul, tak btk spora, motil,
flagel tunggal, aerobik, anaerobik fakultatif
Bahan Farmasi

Antibiotik

Penisilin dihasilkan oleh kapang Penicillium chrysogenum

Produksi Enzim

Streptokinase dari Streptococcus haemolyticus untuk melarutkan gumpalan darah

Amilase, protease, invertase

Kobalamin Streptomyces alivaceus (Pengobatan anemia karena kekuarangan vitamin


B12)
5. Pseudomonas

Merupakan sel tunggal, batang lurus atau melengkung namun tidak berbentuk heliks. Pada
umumnya berukuran 0,5-1 mikron. Motil dengan flagellum polar, monotricus atau

multitrikus. Tidak menghasilkan selongsong prosteka. Tidak dikenal adanya stadium


istirahat. Sifatnya gram negatif, kemoautotrof, metabolisme dengan respirasi bukan dengan
fermentasi. Dapat menggunakan H2 sebagai energi. Type : pseudomonas aeruginosa.
6. Escherichia coli
Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya,
dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi
beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius
pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin.
Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA,
sehingga menghentikan sintesis protein.[1] Sumber bakteri ini contohnya adalah daging yang
belum masak, seperti daging hamburger yang belum matang.
E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin
K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus. E. coli banyak digunakan dalam
teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen
tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat
cepat dan mudah dalam penanganannya. Negara-negara di eropa sekarang sangat mewapadai
penyebaran bakteri E.Coli ini, mereka bahkan melarang mengimpor sayuran dari luar.

Kapang adalah kelompok mikroba yang tergolong dalam fungi, ilmu yang
mempelajari mengenai fungi disebut mikologi. Fungi adalah organisme heterotrofik, untuk
nutrisinya memerlukan senyawa organik. Beberapa fungi hidup dari benda organik mati
yang terlarut, mikroorganisme ini disebut saprofit. Segi positif dari Fungi berperan penting
dalam industri fermentasi dan produksi antibiotik seperti penisilin. Tetapi segi negatifnya
yaitu sebagai parasit pada tumbuha-tumbuhan, hewan dan manusia. Fungi lebih besar dari
bakteri, ukuran fungi berkisar 1 sampai 5

lebih. Fungi dapat mensintesa protein dengan mengambil sumber karbon dari karbohidrat
(glukosa, sukrosa dan maltosa), sumber nitrogen dari bahan organik atau bahan anorganik
(amonium dan nitrat), dan mineral dari substratnya. Fungi/kapang adalah fungi multiselular
yang mempunyai filamen. Kapang adalah mikroorganisme aerobik sejati. Heterotrop, Suhu
optimum kapang saprofitik 22 sampai 30 oC dan kapang patogen 30 C sampai 37 C. Tubuh
kapang terdiri dari 2 bagian : miselium dan spora. Miselium merupakan kumpulan beberapa
filamen yang dinamakan hifa, Hifa ada dua macam :
1. Hifa vegetatif untuk tumbuh
2. Hifa fertil untuk reproduksi.

Kapang dapat dibedakan atas dua kelompok berdasarkan struktur hifa :


1. Hifa tidak bersekat, contoh Phycomycetes
2. Hifa bersekat, contoh Ascomycetes, dan Basidiomycetes

Klasifikasi Kapang, Fungi tergolong Eumycetes, terdiri dari 4 kelas :


1. Phycomycetes
2. Ascomycetes
3. Basidiomycetes
4. Deuteromycetes (Rahmawan, 2010).
Kapang berlawanan dengan bakteri dan khamir, seringkali dapat dilihat dengan mata.
Sifat pertumbuhan yang khas adalah berbentuk kapas dan biasanya terlihat pada kertas-kertas
yang basah, kulit-kulit yang sudah usang,dinding basah, buah-buahan yang membusuk dan
bahan pangan lain seperti keju dan selai. Pertumbuhannya dapat berwarna hitam, putih atau
berbagai macam warna. Secara biokimia kapang bersifat aktif karena terutama merupakan
organisme saprofitik. Organisme ini dapat memecah bahan-bahan organik kompleks menjadi
yang lebih sederhana termasuk pembusukan daundaun dan bahan lain dalam tanah. Kegiatan
yang sama dapat menyebabkan pembusukan pada pangan yang terjadi dimana-mana.

Gambar Miselium

Beberapa kapang dapat langsung bersifat patogenik dan menyebabkanpenyakit pada


manusia dan tanaman. Beberapa kapang merupakan penyebab berbagai infeksi pernafasan
dan kulit pada manusia. Beberapa jenis lain selama proses pembusukan pangan atau
pertumbuhannya dalam bahan pangan dapat memproduksi racun yang dikenal sebagai

mikotoksin. Sebagai suatu kelompok zat, mikotoksin dapat menyebabkan gangguan hati,
ginjal dan susunan syaraf pusat dari manusia maupun hewan ( Winarno, 1980 ).
Reproduksi pada fungi /jamur yaitu ada yang secara seksual dan aseksual. Spora
seksual:
1.Askospora

bersel satu terbentuk dalam kantung yang disebut Askus,biasanya ada 8 askospora

dalam 1 askus.
2.Basidiospora

bersel satu terbentuk diatas struktur sepertiga dari yang disebut basidium

3.Zigospora

besar berdinding tebal yang terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa yang secara

seksual serasi, disebut juga gametangia, pd beberapa fungi melebur.


4.Oospora

ini terbentuk dalam struktur betina khusus yang disebut oogonium. Pembuahan telur

atau Oosfer oleh gamet jantan yang terbentuk dalam anteredium menghasilkan oospora.

Dan reproduksi spora aseksual terdiri dari :


1. Konidiospora(Konidium)
2. Sporangiospora
Spora bersel satu terbentuk dalam kantung disebut Sporangium diujung hifa.
Aplanospora : sporangiospora nonmotil.
Zoospora : sporangiosporaygmotil, karena ada flagelum.
3. Atrospora(Oidium)
Spora bersel satu ini terbentuk karena terputusnya sel hifa.
4. Klamidospora
Spora bersel satu berdinding tebal sangat resisten terhadap keadaan buruk, terbentuk dari sel
hifasomatik.
5. Blastopora
Tunas ataukuncuppadaselkhamir

Teknik yang digunakannya yaitu pour plate. Pour plate ini kurang umum digunakan
untuk isolasi rutin, tetapi sering digunakan untuk mengukur jumlah bakteri dalam suatu
sampel. Prosedur ini memerlukan satu takar sampel yang dicampurkan pada suatu media
yang dilelehkan, yang kemudian dituang di petri plate dan dibiarkan solid. (Syafa'atin Ani,

10

2010). Penggoyangan cawan petri

C dan sampel dimasukan ke

dalamnya dimaksudkan untuk menghomogenkan media tersebut dengan sampel sehingga


koloni bakteri yang tumbuh nantinya menyebar dan rata.
Agar pertumbuhan bakteri dan kapang/khamir tidak terhambat, maka harus
ditempatkan pada medium dan suhu yang tepat. Berdasarkan grafik dibawah terli

Sesuai dengan jumlah koloni yang muncul pada praktikum ini, maka koloni pada uji v
S

()

membentuk koloni sebanyak. Namun terjadi kontaminasi pada kontrol NA adanya tumbuh
koloni pada bakteri dan PDA adanya koloni kapang/khamir. Ini disebabkan karena kurang
aseptisnya pengerjaan yang dilakukan dan karena lingkungan(sarana/prasarana) yang tidak
mendukung sehingga kemungkinan kontaminasi besar sekali. Ini dibuktikan dengan
terkontaminasinya juga kontrol dari kelompok lain dengan sampel yang berbeda.

Berdasarkan cara penghitungan yang ditetapkan dalam prosedur operasional baku


pengujian mikrobiologi oleh badan POM pada tahun 1992, maka dipilih cawan petri dari
pengenceran terendah dengan jumlah koloni bakteri karena dari seluruh tingkat pengenceran
menunjukkan jumlah koloni <30 koloni. Maka terhitung jumlah koloni dari bakteri adalah 55
CFU/g. Begitu pun dengan uji kapang/khamir yang menunjukkan jumlah koloni <40 maka
dicatat dari angka sebenarnya dari pengenceran terendah. Maka terhitung jumlah koloni
kapang/khamir adalah 65 CFU/g.

11

Data literatur dari BPOM yaitu :


BAKSO

JUMLAH

APM koliform

10/g

APM Escherichia coli

< 3/g

Salmonella sp

negatif /25 g

Staphylococcu aureus

1 x 102 koloni/g

Clostridium perfringens

10 koloni/g

ALT (30 C,72 jam )

1x 105 koloni/g

BUMBU RASA SAPI/AYAM

JUMLAH

ALT (30 C, 72 jam )

1x104 koloni/g

APM koliform

< 3/g

Kapang dan khamir

2x102 koloni/g

Berdasarkan Surat keputusan Dirjen POM Nomor : 037267/B/SK/VII/89

Faktor Penunjang adanya bakteri dalam makanan atau minuman

Makanan yang kurang matang memasaknya.

Penyimpanan makanan pada suhu yg tidak sesuai

Makanan yg diperoleh dari sumber yg kurang bersih

Alat-alat yg tercemar

Kesehatan perorangan yg kurang baik

Cara pengawetan yang kurang sempurna

Upaya menimalisisr terkontaminasinya makanan, diantaranya :


1. Memasak dg baik makanan yg berasal dari daging.
2. Penyimpanan makanan pd suhu lemari es yg sesuai
3. Melindungi makanan dari cemaran oleh lalat,tikus dll.
4. Pemeriksaan berkala thdp orang yg mengolah makanan.
5. Penggunaan metode produksi dan pengolahan makanan yg baik
6. Kebersihan pribadi yg baik dan hidup dgn cara sehat.

12

Selain dapat merusak, mikroorganisme punada yang bisa dijadikan untuk pembuatan
produk pangan, contohnya :

Produk persusuan
Yoghurt (Streptococcus dan Lactobacillus)

Tempe (Rhizopus oryzae)

Oncom (Neurospora crassa)

Roti (Saccharomyces cerevisiae,)

Bahkan mikroorganisme dapat dijadikan sebagai sumber makanan, contohnya :

Bakteri, khamir, dan algae dalam jumlah banyak dapat menjadi sumber makanan bagi
manusia dan hewan

Mikroba tersebut dapat dikembangkan dalam jumlah besar sehingga menjadi


makanan kaya protein dalam bentuk protein sel tunggal

Di jepang sel-sel khamir yang diperoleh dari tong-tong minuman-minuman


beralkohol dipanen untuk digunakan sebagai makanan tambahan

VII.

KESIMPULAN

1. Jumlah koloni dari bakteri dari media NA adalah


2. Jumlah koloni kapang/khamir pada media PDA+kloramfenikol adalah
3. Sampel yang dianalisa yaitu kuah baso masih dibawah ambang batas camaran mikroba
sehingga aman untuk dikonsumsi.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2006. Metode Analisis Mikrobiologi Suplemen 2000. Pusat Pengujian
Obat Dan Makanan Badan Pengawasan Obat Dan Makanan Republik
Indonesia : Jakarta.

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

Syafa'atin Ani, DRA. 2010. Panduan Laboratorium Mikrobiologi. Bandung

Yuliarti ,Nurheti. Keajaiban ASI - Makanan Terbaik Untuk Kesehatan, Kecerdasan dan
Kelincahan si Kecil. Andi

13

14