Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN TEORI

I.

Arti Screening pada Lansia


Screening adalah suatu strategi yang digunakan dalam suatu populasi
untuk mendeteksi penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala
penyakit itu, atau suatu usaha secara aktif untuk mendeteksi atau mencari
penderita penyakit tertentu yang tampak gejala atau tidak tampak dalam
suatu masyarakat atau kelompok tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan
yang secara singkat dan sederhana dapat memisahkan mereka yang sehat
terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya
diproses melalui diagnosis dan pengobatan.
Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang
di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di
ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan
reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang
akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia
lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya.
Screening pada dapat didefinisikan sebagai pelaksanaan prosedur
sederhana dan cepat untuk mengidentifikasikan dan memisahkan lansia
yang tampaknya sehat, tetapi kemungkinan beresiko terkena penyakit, dari
lansia yang mungkin tidak terkena penyakit tersebut. Screening lansia
dilakukan untuk mengidentifikasi lansia yang diduga mengidap penyakit
sehingga mereka dapat dikirim untuk menjalani pemeriksaan medis dan
studi diagnostik yang lebih pasti.

Jenis Screening :
1.

Penyaringan Massal (Mass Screening)


Penyaringan yang melibatkan populasi secara keseluruhan.

Contoh: screening prakanker leher rahim dengan metode IVA pada


22.000 wanita.
2.

Penyaringan Multiple
Penyaringan yang dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik uji
penyaringan pada saat yang sama.
Contoh: skrining pada penyakit aids

3.

Penyaringan yg. Ditargetkan


Penyaringan yg dilakukan pada kelompok kelompok yang terkena
paparan yang spesifik.
Contoh : Screening pada pekerja pabrik yang terpapar dengan bahan
Timbal.

4.

Penyaringan Oportunistik
Penyaringan yang dilakukan hanya terbatas pada penderita penderita
yang berkonsultasi kepada praktisi kesehatan.
Contoh: screening pada klien yang berkonsultasi kepada seorang dokter.

Bentuk screening test


Dikenal

dua bentuk screening,

dapat

bersifat

seri

dan

paralel.screening seri berupa dua penyaringan dimana mereka dinyatakan


positif bila memberikan hasil positif pada pemeriksaan pertama dan
pemeriksaan kedua yang dilakukan menyusul. Bentuk inilah misalnya yang
diterapkan pada uji saring HIV. Sedangkan penyaringan paralel yakni dua
penyaringan dilakukan bersamaan dimana hasil tes penyaringan bisa
dinyatakan positif berdasarkan hasil positif pada salah satu tes. Masingmasing bentuk penyaringan ini mempunyai kelebihan dan kekurangan,
tyergantung pada tujuan penyaringan, jenis penyakit dan ketersediaan biaya
dan fasilitas.

II.

Proses Screening pada Lansia


Proses uji tapis terdiri dari dua tahap yang pertamanya melakukan
pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai
resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negative maka dianggap
orang tersebut tidak menderita penyakit. Bila hasil tes positif maka
dilakukan pemeriksaan tahap kedua yaitu pemeriksaan diagnostik yang bial
hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan, tetapi bila
hasilnya negative maka dianggap tidak sakit. Bagi hasil pemeriksaan yang
negatif dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik. Ini berarti bahwa
proses uji tapis adalah pemeriksaan pada tahap pertama.
penjelasan :
1. pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan
(tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif.
2. Individu dengan hasil negatif pada suatu saat dapat dilakukan tes
ulang sedangkan pada individu dengan hasil tes positif dilakukan
pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila hasilnya positif
dilakukan pengobatan secara intensif sedangkan individu denga hasil
tes negatif dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai semua
penderita terjaring. Hal ini secara skematis dapat digambarkan sebagai
berikut :
Kelompok orang yang tampak sehat
Tes

Hasil tes negatif

hasil tes positif

Pemeriksaan diagnostik

hasil tes positif

pengobatan intensif

hasil tes negatif

Pemeriksaan yang bisa digunakan untuk uji tapis dapat berupa pemeriksaan
laboratorium atau radiologis, misalnya :
1. Pemeriksaan gula darah
2. Pemeriksaan radiologis untuk uji tapis penyakit TBC
3. Pemeriksaan yang harus dilakukan :
a. Dengan cepat dapat memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut
( pemeriksaan diagnostic)
b. Tidak mahal
c. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan dan
d. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa

Aplikasi Rumus Screening Test :


1. Tahap 1 : melalukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk
yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit.

a. Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut tidak menderita


penyakit.

b. Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap 2


2. Tahap 2 : pemeriksaan diagnostic
a. Hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan.
b. Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit (dilakukan
pemeriksaan ulang secara periodik).

III. Interpretasi Data Hasil Screening


1. Tebel cek Screening
Hasil tes

Keadaan Penderita
Sakit

Tidak sakit

Jumlah

Positif

a+b

Negatif

c+d

Jumlah

a+c

b+d

Keterangan:
a = positif benar
b = Positif semu
c = negatif semu
d = negatif benar
N = a+b+c+d

2. Kriteria Evaluasi
Untuk menilai hasil uji tapis dibutuhkan kriteria seperti berikut :
a.

VALIDITAS
Validitas adalah kemampuan tes / screening untuk menuntukan
individu mana yang benar sakit dan mana yang tidak sakit.
Indikator untuk menilai validitas hasil screening adalah sensitivitas
dan spesifisitas.
1) Sensitivitas
Sensitivitas (sensitivity) : kemampuan suatu tes untuk
mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif
dan

benar

Sensitivitas =

sakit.

a+c
a) makin besar persentase sensitivitas makin baik, karena akan
mengurangi

resiko

penularan

disebabkan penyakit tersebut.

atau

kematian

yang

b) makin kecil persentase sensitivitas makin berbahaya, karena


makin banyak orang yang sebenarnya sakit tapi tidak
merasa sakit sehingga tidak berobat / diobati. Selain itu juga
akan dapat menularkan penyakitnya ke orang lain (bila
screeningnya pada penyakit menular)
2) Spesifisitas
Kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan
tepat, dengan hasil negatif dan benar tidak sakit.
Spesifisitas =

b+d
a) makin besar persentase spesifisitas makin baik, karena akan
mengurangi kesalahan pengobatan atau perawatan. sehingga
orang yang sehat tidak dikira sakit dan tidak perlu
dilakukan pengobatan.
b) makin kecil persentase spesifisitas makin merugikan karena
dapat menyebabkan pemberian pelayanan kesehatan /
pengobatan yang salah, karena memungkinkan pemberian
layanan kesehatan/ pengobatan kepada orang yang tidak
sakit.
3) Positive Predictive Value (PPV)
Proporsi subjek / penduduk yang di-skrining yang benar-benar
positif (menderita penyakit) dari semua subyek / penduduk
yang di temukan menderita sakit oleh uji diagnostic.
Probabilitas pasien yang menderita sakit dengan hasil test
Positive.
PPV =

a+b
4) Negative Predictive Value (NPV)
Proporsi subyek / penduduk yang ditemukan benar-benar
negative ( tidak menderita penyakit ) dari semua yang
ditemukan tidak menderita penyakit.

Probabilitas pasien yang tidak menderita sakit dengan hasil test


negative.
NPV =

d/c+d

5) Nilai perkiraan kecermatan :


a) Nilai Kecermatan (+) (Positive accuracy) : Proporsi jumlah
yang sakit terhadap semua hasil tes (+)
Rumus

y= a

a+b
b) Nilai Kecermatan (-) (Negative accuracy) : Proporsi jumlah
yang tidak sakit terhadap semua hasil tes (-)
Rumus

z=

c+d
Selain nilai kecermatan, dpt juga dihitung nilai komlemennya
yaitu :
a) False positive rate: Jumlah hasil tes (+) semua dibagi dengan
jumlah seluruh hasil tes (+)
False positif =

b+d
b) False negative rate : Jumlah hasil tes (-) semua dibagi
degnan jumlah seluruh hasil tes (-)
False negative =
a+c

b.

RELIABILITAS
Pemeriksaan yg dilakukan berulang-ulang akan menghasilkan
sesuatu yg konsisten. reliabilitas didasarkan pada seberapa baik uji
dilakukan pada waktu itu dalam hal keterulangannya (repeatibility).

c.

YIELD (hasil)
Yield merupakan istilah lain yang terkadang digunakan untuk
menyebut tes screening. Yield adalah angka atau jumlah screening
yang dapat dilakukan suatu tes dalam suatu periode waktu, jumlah
penyakit yang dapat terdeteksi dalam proses screening. Validitas
suatu uji dapat dipengaruhi oleh keterbatasan uji dan sifat individu
yang diuji. Status penyakit, keparahan, tingkat dan jumlah pajanan,
kesehatan

giz,

kebugaran

fisik,

dan

faktor

lain

yang

mempengaruhi dan berdampak pada responden dan temuan tes.

Alat Ukur Lansia

Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)


Penilaian untuk mengetahui fungsi intelektual lansia

Nama klien

Tanggal

Jenis kelamin :

Umur

Agama

Suku

Alamat

tahun

Pewawancara :

Skor
+

NO

Pertanyaan

Tanggal berapa hari ini?

Hari apa sekarang ini?

Apa nama tempat ini?

Dimana alamat anda?

Berapa umur anda?

Kapan anda lahir?

Siapa presiden Indonesia


sekarang?

Siapa presiden sebelumnya?

Siapa nama kecil ibu anda?

10

Kurang 3 dari 20 dan tetap


pengurangan 3 dari setiap
angka baru, semua secara
menurun !

Jumlah Kesalahan Total

Jawaban

Kesimpulan :
1. Kesalahan 0 2 = Fungsi intelektual utuh
2. Kesalahan 3 4 = Kerusakan intelektual Ringan
3. Kesalahan 5 7 = Kerusakan intelektual Sedang
4. Kesalahan 8 10 = Kerusakan intelektual Berat

Keterangan:
a. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan bila subyek hanya
berpendidikan SD
b. Bisa dimaklumi bila kurang dari 1 (satu) kesalahan bila subyek mempunyai
pendidikan lebih dari SD
c. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan untuk subyek kulit hitam,
dengan menggunakan kriteria pendidikan yang lama.

Apgar Keluarga Dengan Lansia


Skrining untuk melengkapi pengkajian fungsi sosial

Suatu Alat Skrining Singkat Yang Dapat Digunakan Untuk Mengkaji Fungsi
Sosial Lansia

Nama klien

Tanggal

Jenis kelamin :

Umur

Agama

Suku

Alamat

No
1

tahun

Uraian

Fungsi

Skor

Adaptation

Partneship

Growth

Affection

Resolve

Total

Saya puas bahwa saya dapat kembali pada


keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
pada waktu sesuatu menyusahkan saya

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah dengan saya

Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya


menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas atau arah baru

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya mengekspresikan afek dan berespon
terhadap emosi-emosi saya seperti marah, sedih
atau mencintai

Saya puas dengan cara teman-teman saya dan


saya menyediakan waktu bersama-sama
Keterangan:
Selalu = 2,
Kadang-kadang = 1,

Hampir tidak pernah = 0

Inventaris Depresi Beck


Mengetahui tingkat depresi lansia
Nama klien

Tanggal

Jenis kelamin :

Umur

: tahun

Agama

Suku

Alamat

Skor

Uraian

A. Kesedihan
3

Saya sangat sedih/tidak bahagia dimana saya tak dapat menghadapinya

Saya galau/sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat keluar darinya

Saya merasa sedih atau galau

Saya tidak merasa sedih

B. Pesimisme
3

Saya merasa bahwa masa depan adalah sia sia dan sesuatu tidak dapat
membaik

Saya merasa tidak mempunyai apa apa untuk memandang ke depan

Saya merasa berkecil hati mengenai masa depan

Saya tidak begitu pesimis atau kecil hati tentang masa depan

C. Rasa kegagalan
3

Saya benar benar gagal sebagai orang tua (suami/istri)

Bila melihat kehidupan ke belakang semua yang dapat saya lihat hanya
kegagalan

Saya merasa telah gagal melebihi orang pada umumnya

Saya tidak merasa gagal

D. Ketidakpuasan
3

Saya tidak puas dengan segalanya

Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun

Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan

Saya tidak merasa tidak puas

E. Rasa bersalah
3

Saya merasa seolah olah sangat buruk atau tidak berharga

Saya merasa sangat bersalah

Saya merasa buruk/tak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik

Saya tidak merasa benar benar bersalah

F. TIdak menyukai diri sendiri


3

Saya benci diri saya sendiri

Saya muak dengan diri saya sendiri

Saya tidak suka dengan diri saya sendiri

Saya tidak merasa kecewa dengan diri sendiri

G. Membahayakan diri sendiri


3

Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai kesempatan

Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri

Saya merasa lebih baik mati

Saya tidak mempunyai pikiran pikiran mengenai membahayakan diri


sendiri

H. Menarik diri dari social


3

Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak perduli
pada mereka

Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan mempunyai
sedikit perasaan pada mereka

Saya kurang berminat pada orang lain dari pada sebelumnya

Saya tidak kehilangan minat pada orang lain

I. Keragu raguan
3

Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali

Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan

Saya berusaha mengambl keputusan

Saya membuat keputusan yang baik

J. Perubahan gambaran diri

Saya merasa bahwa saya jelek atau tampak menjijikan

Saya merasa bahwa ada perubahan permanent dalam penampilan saya dan
in membuat saya tidak tertarik

Saya kuatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik

Saya merasa bahwa saya tampak lebih buruk dari pada sebelumnya

K. Kesulian kerja
3

Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali

Saya telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk melakukan
sesuatu

Saya memerlukan upaya tambahan untuk memulai melakukan sesuatu

Saya dapat bekerja kira kira sebaik sebelumnya

L. Keletihan
3

Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu

Saya merasa lelah untuk melakukan sesuatu

Saya merasa lelah dari yang biasanya

Saya tida merasa lebih lelah dari biasanya.

M. Anoreksia
3

Saya tidak mempunyai napsu makan sama sekali

Napsu makan saya sangat memburuk sekarang

Napsu makan saya tidak sebaik sebellumnya

Napsu makan saya tidak buruk dari yang biasanya.

Penilaian
0-6

Depresi tidak ada atau minimal

7-13

Depresi ringan

14-21 Depresi sedang


22-39 Depresi berat

MINI MENTAL STATE EXAM ( MMSE )


( Menguji Aspek-Aspek Kognitif dari Fungsi Mental )

Nilai

Pasien

Pertanyaan

Maksimum
Orientasi
5

(Tahun) (Musim) (Tanggal) (Hari) (Bulan apa


sekarang)?

Dimana kita: (Negara bagian) (Wilayah) (Kota)


(Rumah sakit) (Lantai )?

Registrasi
3

Sebutkan Nama 3 Objek : 1 detik untuk mengatakan


masing-masing. Kemudian tanyakan klien ketiga
objek setelah anda telah mengatakannya. Beri 1 poin
untuk setiap jawaban yang benar. Kemudian ulangi
sampai ia mempelajari ketiganya.
Jumlah percobaan dan catat.
Percobaan:

Perhatian dan Kalkulasi


5

Seri 7s 1 poin untuk setiap kebenaran


Berhenti setelah 5 jawaban. Berganti eja kata ke
belakang

Mengingat
3

Meminta untuk mengulang ketiga objek diatas


Berikan 1 poin untuk setiap kebenaran

Bahasa
9

Nama Pensil dan melihat ( 2 poin )


Mengulang hal berikut : tidak ada jika, dan, atau
tetapi ( 1 poin )
Nilai Total

Kaji tingkat kesadaran sepanjang kontinum:


1. Composmentis
2. Apatis
3. Somnolen
4. Suporus
5. Coma
Keterangan:
1. > 23

: aspek kognitif dari fungsi mental baik

2. 18-22

: kerusakan aspek fungsi mental ringan.

3. 17

: terdapat kerusakan aspek mental berat.

PENGKAJIAN EMOSIONAL MANULA


Identifikasi Masalah Emosional
Tanggal

Nama klien

Jenis kelamin

Umur

TB/BB

: cm/kg

Agama

Suku

Golongan darah

Tahun pendidikan

: SD, SMP, SMA, PT

Alamat

Tahap I
1.

Apakah klien mengalami susah tidur?


Ya

2.

Apakah klien sering merasa gelisah?


Ya

3.

Tidak

Apakah klien sering murung atau menangis sendiri?


Ya

4.

Tidak

Tidak

Apakah klien sering merasa was-was atau khawatir?


Ya

Tidak

Lanjutkan ke tahap 2 bila minimal ada satu jawaban ya pada tahap I

1.

Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam 1 bulan.
Ya

2.

Ada masalah atau banyak pikiran.


Ya

3.

Tidak

Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter?


Ya

5.

Tidak

Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain?


Ya

4.

Tidak

Tidak

Cenderung mengurung diri?


Ya

Tidak

Jika ada minimal satu jawaban ya maka masalah emosional (+)

INDEKS KATZ
Indeks Kemandirian Pada Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari

Tanggal

Nama klien

Jenis kelamin

Umur

TB/BB

: cm/kg

Agama

Suku

Golongan darah

Tahun pendidikan

: SD, SMP, SMA, PT

Alamat

Skore
A

Criteria
Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil,
berpakaiandan mandi

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari


fungsitersebut

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi dan


satufungsi tambahan

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,


berpakaiandan satu fungsi tambahan

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari kecuali mandi,


berpakaian,ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari kecuali mandi,


berpakaian,ke kamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan

G
Lainlain

Ketergantungan pada ke enam fungsi tersebut


Tergantung pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat
diklasifikasikan sebagaiC, D, E, atau F

Modifikasi dari Barthel Indeks

No Criteria

Dengan

Mandiri

Keterangan

bantuan
1.

Makan

Frekuensi:
Jumlah:
Jenis:

2.

Minum

Frekuensi:
Jumlah:
Jenis:

3.

Berpindah dari kursi roda


ke tempat tidur begitu pula
sebaliknya.

4.

Personal toilet (cuci muka,

Frekuensi:

menyisir rambut, gosok


gigi)
5.

Keluar masuk toilet


(mencuci pakaian, menyeka
tubuh, menyiram)

6.

Mandi

7.

Jalan di permukaan datar

8.

Naik turun tangga

9.

Mengenakan pakaian

10. Control bowel (BAB)

Frekuensi:

Frekuensi:
Konsistensi:

11. Control bladder (BAK)

Frekuensi:
Warna:

12. Olahraga/latihan

Frekuensi:

Jenis:
13. Rekreasi/pemanfaatan
waktu luang

Jenis:
Frekuensi:

INDEKS BARTHEL

Variabel: Kemampuan Fungsional


Merupakan alat ukur yang di gunakan untuk mengetahui kemampuan
fungsional pada pasien yang mengalami gangguan system syaraf.

Prosedur tes:
Pasien dinilai dengan menggunakan Barthel Indeks pada awal treatment,
selama rehabilitasi dan pada akhir masa rehabilitasi. Hal ini digunakan untuk
menilai peningkatan treatment yang dilakukan terhadap pasien.

No

Aktifitas

Score
Dependence

Independence

Pemeliharaan kesehatan diri

Mandi

Makan

10

Toilet (aktifitas bab & bab)

10

Naik/turun tangga

10

Berpakaian

10

Kontrol bab

10

Kontrol bak

10

Ambulasi
Kursi roda

15
10
(bila px a,bulasi
dengan kursi roda)

10

Transfer kursi/bed

5-10

15
Total: 100

Kriteria hasil:
1. 0-100

Skala
1. Numerik (ratio)

2. 0-20 = ketergantungan penuh


21-61 = ketergantungan berat (sangat tergantung)
62-90 = ketergantungan moderat
91-99 = ketergantungan ringan
100 = mandiri

2. Kategorik (ordinal)

PENGKAJIAN KESEIMBANGAN UNTUK LANSIA


Lembar Observasi Keseimbangan Lansia

Tanggal

Nama klien

Jenis kelamin

Umur

TB/BB

: cm/kg

Agama

Suku

Golongan darah

Tahun pendidikan

: SD, SMP, SMA, PT

Alamat

Komponen
utama dalam

Langkah-langkah

Kriteria

bergerak
A. perubahan 1. Bangun dari
posisi atau

kursi

1. Tidak bangun dari tempat duduk


dengan satu gerakan, tetapi

gerakan

mendorong tubuhnya keatas

keseimbangan

dengan tangan atau bergerak


kedepan kursi terlebih dahulu,
tidak stabil pada saat berdiri
2. Duduk ke kursi

pertama kali.
2. Menjatuhkan diri kekursi, duduk

3. Menahan
dorongan pada
sternum

ditengah kursi
3. Pemeriksa mendorong sternum
(perlahan-lahan sebanyak 3 kali).
Klien menggerakkan kaki
memegang objek untuk

Nilai

(mata ditutup)

dukungan, kaki tidak menyentuh

4. Bangun dari

sisi-sisinya.

kursi
5. Duduk ke kursi 4. Kriteria sama dengan kriteria
untuk mata terbuka
6. Menahan

5. Kriteria sama dengan kriteria

dorongan pada
sternum

untuk mata terbuka


6. Kriteria sama dengan kriteria

7. Perputaran leher

untuk mata terbuka

7. Menggerakkan kaki, memegang


obyek untuk dukungan kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya, keluhan
8. Gerakan
menggapai
sesuatu

vertigo, pusing atau keadaan


tidak stabil.
8. Tidak mampu untuk menggapai
sesuatu dengan bahu fleksi max,
sementara berdiri pada ujungujung jari kaki tidak stabil,

9. Membungkuk

memegang sesuatu untuk


dukungan.

9. Tidak mampu membungkuk


untuk mengambil objek-objek
kecil dari lantai, memegang onjek
untuk bisa berdiri, memerlukan
usaha-usaha multiple untuk
bangun.

B. gaya

10. minta klien

berjalan/gerak

10.

untuk berjalan

ragu-ragu, tersandung,
memegang objek untuk dukungan

ketempat yang
ditentukan
11. ketinggian

11.

kaki tidak naik dari lantai secara

langkah kaki

konsisten (menggeser atau

(saat berjalan)

menyeret kaki), mengangkat kaki


terlalu tinggi (>50 cm)

12. Kontinuitas

12.

setelah langkah-langkah awal,

langkah kaki

langlkah menjadi tidak konsisten,

(diobservasi dari

memulai mengangkat satu kaki

samping klien)

sementara yang lain menyentuh

13. Kesimetrisan
langkah

tanah.
13.

(diobservasi dari

Tidak berjalan pada garis lurus,


bergelombang dari sisi ke sisi.

samping klien)
14. Penyimpangan
jalur pada saat
berjalan

14.

(diobservasi dari

Tidak berjalan pada garis lurus,


bergelombang dari sisi ke sisi.

belakang klien)
15. Berbalik

15.

Berhenti sebelum berbalik, jalan


sempoyongan, bergoyang,
memegang onjek untuk
dukungan.

Intervensi hasil
0-5 = resiko jatuh rendah

6-10 = resiko jatuh sedang


11-15 = resiko jatuh tinggi

GERIATRI DEPRESSION SCALE ( GDS )


Joseph J. Gallo ( 1998 : 81 ), mengatakan bahwa salah satu langkah awal yang
penting dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi.
Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah GDS (Geriatri Depression
Scale). Skala depresi geriatri (GDS) adalah suatu kuesioner, terdiri dari 30
pertanyaan yang harus dijawab. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15
pertanyaan yang harus dijawab. Sederhana saja, hanya dengan YA atau TIDAK,
suatu bentuk penyederhanaan dari skala yang mempergunakan lima rangkai
respon kategori. Kuesioner ini mendapatkan angka dengan memberi satu pokok
untuk masing masing jawaban yang cocok dengan apa yang ada dalam sintesa di
belakang pertanyaan tertulis tersebut. Angka akhir antara 10 sampai 11, biasanya
dipergunakan sebagai suatu tanda awal untuk memisahkan pasien tersebut masuk
ke dalam kelompok depresi atau kelompok non depresi.
Geriatri Depression Scale ( GDS ) tersebut terpilah dari 100 pertanyaan
yang dirasakan berhubungan dengan ketujuh karakteristik depresi pada kehidupan
lansia. Secara khusus 100 pertanyaan tersebut dikelompokkan secara apriori ke
dalam beberapa sisi yaitu :
1) Kekuatiran somatis
2) Penurunan afek
3) Gangguan kognitif
4) Kurangnya orientasi terhadap masa yang akan datang
5) Kurangnya harga diri
Menurut Joseph J. Gallo ( 1998 : 85 ), secara umum terdapat 15 pertanyaan
yang harus diajukan pada lansia dalam instrumen Geriatri Depression
Scale (GDS) adalah sebagai berikut :
1.

Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda ?

2.

Apakah anda telah banyak menghentikan aktivitas dan minat minat anda
?

3.

Apakah anda merasa kehidupan anda kosong ?

4.

Apakah anda sering merasa hidup anda bosan ?

5.

Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap saat ?

6.

Apakah anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan akan terjadi pada anda
?

7.

Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda ?

8.

Apakah anda sering merasa tidak berdaya ?

9.

Apakah anda lebih senang tinggal di rumah dari pada pergi ke luar dan
mengerjakan sesuatu hal yang baru ?

10. Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah dengan daya ingatan
anda di bandingkan kebanyakan orang ?
11. Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini menyenangkan ?
12. Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan anda saat ini ?
13. Apakah anda merasa penuh semangat ?
14. Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada harapan ?
15. Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya dari pada anda
?

Menurut JA Yesavage dan TL Brink yang dikutip Josep J. Gallo ( 1998 : 85 ),


penentuan skornya adalah :
1. Skor 20 40 : Tidak ada depresi
2. Skor 41 60 : Depresi ringan
3. Skor 61 80 : Depresi sedang
4. Skor 81 - 100 : Depresi berat

BERG BALANCE SCALE

Berg balance scale (BBS) merupakan skala untuk mengukur keseimbangan static
dan dinamik secara objektif, yang terdiri dari 14 item tugas keseimbangan
(balance task) yang umum dalam kehidupan sehari-hari.

No
1.

Item keseimbangan
Duduk ke berdiri

Skor (0-4)
4 = dapat berdiri tanpa menggunakan tangan dan
menstabilkan independen.
3 = mampu berdiri secara independen menggunakan
tangan.
2 = mampu berdiri menggunakan tangan setelah
mencoba.
1 = perlu bantuan minimal untuk berdiri atau
menstabilkan
0 = perlu asisten sedang atau maksimal untuk berdiri.

2.

Berdiri tanpa

4 = dapat berdiri dengan aman selama 2 menit.

penunjang

3 = mampu berdiri 2 menit dengan pengawasan.


2 = dapat berdiri 30 detik yang tidak
dibantu/ditunjang.
1 = membutuhkan beberapa waktu untuk mencoba
berdiri 30 detik yang tidak dibantu.
0 = tidak dapat berdiri secara mandiri selama 30
detik

3.

Duduk tanpa

4 = bisa duduk dengan aman dan aman selama 2

penunjang

menit
3 = bisa duduk 2 menit dengan pengawasan
2 = mampu duduk selama 30 detik
1 = bisa duduk 10 detik
0 = tidak dapat duduk tanpa penunjang

4.

Berdiri ke duduk

4 = duduk dengan aman dengan menggunakan


minimal tangan
3 = mengontrol posisi turun dengan menggunakan
tangan
2 = menggunakan punggung kaki terhadap kursi
untuk mengontrol posisi turun
1 = duduk secara independen tetapi memiliki
keturunan yang tidak terkendali
0 = kebutuhan membantu untuk duduk.

5.

Transfer

4 = dapat mentransfer aman dengan penggunaan


ringan tangan
3 = dapat mentransfer kebutuhan yang pasti aman
dari tangan
2 = dapat mentransfer dengan pengawasan
1 = membutuhkan satu orang untuk membantu
0 = membutuhkan dua orang untuk membantu atau
mengawasi

6.

Berdiri dengan mata

4 = dapat berdiri 10 detik dengan aman

tertutup

3 = dapat berdiri 10 detik dengan pengawasan


2 = mampu berdiri 3 detik
1 = tidak dapat menjaga mata tertutup 3 detik tapi
tetap aman
0 = membutuhkan bantuan agar tidak jatuh

7.

Berdiri dengan kaki

4 = mampu menempatkan kaki bersama-sama secara

rapat

independen dan berdiri 1 menit aman


3 = mampu menempatkan kaki bersama-sama secara
independen dan berdiri 1 menit dengan pengawasan
2 = mampu menempatkan kaki bersama-sama secara
mandiri tetapi tidak dapat tahan selama 30 detik
1 = memerlukan bantuan untuk mencapai posisi tapi

mampu berdiri 15 kaki bersama-sama detik


0 = memerlukan bantuan untuk mencapai posisi dan
tidak dapat tahan selama 15 detik

8.

Menjangkau ke

4 = dapat mencapai ke depan dengan percaya diri 25

depan dengan tangan cm (10 inci)


3 = dapat mencapai ke depan 12 cm (5 inci)
2 = dapat mencapai ke depan 5 cm (2 inci)
1 = mencapai ke depan tetapi membutuhkan
pengawasan
0 = kehilangan keseimbangan ketika mencoba /
memerlukan dukungan eksternal
9.

Mengambil barang

4 = dapat mengambil sandal aman dan mudah

dari lantai

3 = dapat mengambil sandal tetapi membutuhkan


pengawasan
2 = tidak dapat mengambil tetapi mencapai 2-5 cm
(1-2 inci) dari sandal dan menjaga
keseimbangan secara bebas
1 = tidak dapat mengambil dan memerlukan
pengawasan ketika mencoba
0 = tidak dapat mencoba / membantu kebutuhan
untuk menjaga dari kehilangan keseimbangan atau
jatuh

10. Menoleh ke
belakang

4 = tampak belakang dari kedua sisi dan berat


bergeser baik
3 = tampak belakang satu sisi saja sisi lain
menunjukkan pergeseran berat badan kurang
2 = hanya menyamping tetapi tetap mempertahankan
keseimbangan
1 = perlu pengawasan saat memutar

0 = butuh bantuan untuk menjaga dari kehilangan


keseimbangan atau jatuh
11. Berputar 360 derajat

4 = mampu berputar 360 derajat dengan aman dalam


4 detik atau kurang
3 = mampu berputar 360 derajat dengan aman satu
sisi hanya 4 detik atau kurang
2 = mampu berputar 360 derajat dengan aman tetapi
perlahan-lahan
1 = membutuhkan pengawasan yang ketat
atau dengan lisan
0 = membutuhkan bantuan saat memutar

12. Menempatkan kaki

4 = mampu berdiri secara independen dengan aman

bergantian di bangku dan menyelesaikan 8 langkah dalam 20 detik


3 = mampu berdiri secara mandiri dan
menyelesaikan 8 langkah dalam> 20 detik
2 = dapat menyelesaikan 4 langkah tanpa bantuan
dengan pengawasan
1 = dapat menyelesaikan> 2 langkah perlu assist
minimal
0 = membutuhkan bantuan agar tidak jatuh / tidak
mampu untuk mencoba
13. Berdiri dengan satu
kaki didepan

4 = mampu menempatkan tandem kaki secara


independen dan tahan 30 detik
3 = mampu menempatkan kaki depan independen
dan tahan 30 detik
2 = dapat mengambil langkah kecil secara mandiri
dan tahan 30 detik
1 = kebutuhan membantu untuk melangkah tapi
dapat menyimpan 15 detik
0 = kehilangan keseimbangan saat melangkah atau

berdiri

14. Berdiri dengan satu


kaki

4 = mampu mengangkat kaki secara independen dan


tahan> 10 detik
3 = mampu mengangkat kaki secara independen dan
tahan 5-10 detik
2 = mampu mengangkat kaki secara independen dan
tahan 3 detik
1 = mencoba untuk angkat kaki tidak bisa tahan 3
detik tetapi tetap berdiri secara independen.
0 = tidak dapat mencoba kebutuhan membantu untuk
mencegah jatuhnya.

Total score = 56
Interpretasi
0-20

= harus memakai kursi roda (wheelchair bound)

21-40 = berjalan dengan bantuan


41-56 = mandiri/independen

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Eko dan Dewi Anggraini. 2002. Pengantar Epidemiologi edisi 2.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Bustan MN. 2002. Pengantar Epidemiologi, Jakarta : Rineka Cipta
Tarwoto, Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Hardywinoto,dkk. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek (Menjaga
Keseinbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia). Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama.
Darmojo, B. (2010). Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan lanjut usia). FK UI :
Jakarta.