Anda di halaman 1dari 18

Written by:

Lia Setiawati
2. Istifari Azizah
3. Dyanti Abriani
4. Dimas Khresna
5. Tunjung Kusuma
6. Bima Prawira
1.

Air yang baik idealnya tidak berbau, tidak berwarna,

tidak memiliki rasa/ tawar dan suhu untuk air minum


idealnya 30 C.
Padatan terlarut total (TDS) dengan bahan terlarut
diameter <10-6 dan koloid (diameter 10-6-10-3 mm) yang
berupa senyawa kimia dan bahan-bahan lain.
(Effendi, 2003).

Parameter fisik menyatakan kondisifisik air atau

keberadaan bahan-bahan yang dapat diamatisecara


visual/kasat mata.
Parameter fisik tersebut adalah daya hantar listrik,
warna, kekeruhan, temperatur, kandungan zat padat
(TDS, TSS, VSS), bau dan rasa .
(Effendi, 2003).

DHL pada air merupakan ekspresi numerik yang

menunjukkan kemampuan suatu larutan untuk


menghantarkan arus listrik.
Semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL.
Besarnya daya hantar listrik bergantung pada
kandungan ion anorganik (TDS) yang disebut juga
materi tersuspensi.
(Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).

TDS (mg/L) = DHL (mmhos/cm atau ds/m) x 640

Pengukuran DHL dilakukan menggunakan


konduktivitimeter dengan satuan mhos/cm. Prinsip
kerja alat ini adalah banyaknya ion yang terlarut dalam
contoh air berbanding lurus dengan daya hantar
listrik. Batas waktu maksimum pengukuran yang
direkomendasikan adalah 28 hari

Menurut Effendi (2003) diketahui bahwa


pengukuran DHL berguna dalam hal sebagai berikut :
Menetapkan tingkat mineralisasi dan derajat disosiasi

dari air destilasi.


Memperkirakan efek total dari konsentrasi ion.
Mengevaluasi pengolahan yang cocok dengan kondisi
mineral air.
Memperkirakan jumlah zat padat terlarut dalam air.

Berdasarkan zat penyebabnya, warna air dapat


dibedakan menjadi :
Warna Sejati (true color)
Warna Semu (apparent color)

Kekeruhan

adalah suatu parameter pengukuran


banyaknya padatan tersuspensi dalam larutan dengan
menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk
mengukur keadaan air baku dengan skala NTU
(nephelo metrix turbidity unit) atau JTU (jackson
turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit)

Prinsip dari pengukuran kekeruhan (turbiditas) dapat

ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang


diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang
terdapat dalam air.

Semakin

tinggi nilai padatan tersuspensi, nilai


kekeruhan juga semakin tinggi.
Dan semakin tinggi nilai turbiditas maka kualitas
sample air semakin buruk.
Air tanah memiliki nilai turbiditas rendah karena air
tanah telah mengalami proses filtrasi alamiah oleh
lapisan batuan di bawah permukaan tanah.
Berdasarkan KepMenKes RI No. 907 tahun 2002 nilai
turbiditas maksimal sebesar 5 mg/L dan tidak
melebihi angka tersebut.

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 907/Menkes/SKVII/2002 tentang


standar baku mutu air tanah yang dapat dikonsumsi,
dimana suhu air tanah yang layak dikonsumsi adalah
suhu udara 3C, maksudnya adalah suhu air tanah
harus lebih besar 1-3C, misalnya suhu udara sampel
yang diuji sekitar 27-28C sedangkan suhu udara saat
pengukuran sebesar 25-26C. (Irianto, 2005).

a). TDS (Total Dissolve Solid)


Ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun
anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan.
TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part
per million (ppm) atau sama dengan milligram per
liter (mg/L).
Sumber utama untuk TDS dalam perairan adalah
limpahan dari pertanian, limbah rumah tangga, dan
industri. Unsur kimia yang paling umum adalah
kalsium, fosfat, nitrat, natrium, kalium dan klorida.
(Misnani, 2010).

Batas ambang dari TDS yang diperbolehkan di sungai

adalah 1000mg/L.
Ada dua metode yang sering digunakan dalam
pengukuran TDS, yaitu:
1. Gravimetri
2. Electrical Conductivity

b). TSS (Total suspended solid)


Adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh
saringan dengan ukuran partikel maksimal 2m atau
lebih besar dari ukuran partikel koloid.
TSS menyebabkan kekeruhan pada air akibat
padatan tidak terlarut dan tidak dapat langsung
mengendap.
Baku mutu air berdasarkan peraturan pemerintah
No.82 tahun 2001, batas ambang dari TSS di sungai
50 mg/L. (Misnani, 2010).

TSS (mg/L) = (D-C) X 1000 / V

Keterangan:
D = berat kertas saring + residu kering (mg)

C = berat kertas saring (mg)


V = volume contoh (mL)

c). VSS (Volatil Suspended Solids)


Zat padat yang hilang sewaktu TSS dibakar pada suhu
500 50oC.
Pengukuran
VSS penting karena merupakan
representasi dari mikroorganisme yang terdapat di
dalam air limbah.
VSS dapat diketahui dengan cara membakar kertas
filter berisi residu air limbah pada temperatur 600oC
kemudian menghitung perbedaan berat sebelum dan
sesudah filter dibakar.

a). Bau
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa syarat air
minum yang dapat dikonsumsi manusia adalah tidak
berbau.
b). Rasa
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa syarat air
minum yang dapat dikonsumsi manusia adalah tidak
berasa. (Kementerian Lingkungan Hidup. 2006. )

Pada pengujian nilai TSS didapatkan hasil percobaan

sebagai berikut:

Jika volume air sample yang digunakan adalah 100 ml.


Berapakah nilai TSS & TDS!

Kementerian

Lingkungan Hidup. 2006. Himpunan Peraturan


Perundangan Undangan di Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
Tarigan, M.S, dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat
Tersuspensi (Total Suspended Solid) di Perairan Raha, Sulawesi
Tenggara. MAKARA. SAINS. VOL.7. NO. 3
Misnani. 2010. Praktikum Teknik Lingkungan Total Padatan Terlarut.
http://misnanidulhadi.blogspot.com/. diakses 24 September 2014.
Alabaster, JS dan R Lloyd. 1982. Water Quality Criteria for Freshwater
Fish. Second Edition. Food and Agriculture Organization of United
Nations. Butterworths. London.
Anonymous.
2010.
Total
Dissolved
Solids.
http://en.wikipedia.org/wiki/Total_ dissolved_solids . diakses 24
September 2014.