Anda di halaman 1dari 5

Yudha Anantha K. P. et al., Template untuk Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa UNEJ.........

Perbandingan Profil Gula Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2
Saat Menjalankan Puasa Ramadan dan Tidak Menjalankan Puasa
(Comparison of Blood Glucose Profile in Type 2 Diabetes Mellitus Out
Patient While Ramadhan Fasting and Not Fasting)
Yudha Anantha Khaerul Putra, dr. Ali Santosa, Sp.PD., dr. Sugiyanta, M.Ked.
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Jember (UNEJ)
Jln. Kalimantan 37, Jember 68121
E-mail: DPU@unej.ac.id

Abstrak
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan kelainan metabolik kompleks yang ditandai oleh hiperglikemia yang disebabkan
oleh kombinasi dari insufisiensi sekresi insulin dan resistensi insulin. Insidensi dan prevalensi dari DM tipe 2 terus
meningkat, didorong oleh peningkatan tingkat obesitas di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Indonesia adalah negara
dengan populasi muslim terbesar di dunia. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk melaksanakan puasa salah satunya
adalah puasa ramadan. Saat menlaksanakan puasa terjadi perubahan pola makan, aktivitas, konsumsi obat diabetes serta
meningkatnya resiko komplikasi dari DM. Pada 37 Pasien DM tipe 2 yang melaksanakan puasa ramadan dilakukan
pengukuran profil gula darah sebelum melaksanakan puasa dan saat melaksanakan puasa ramadan. Dari hasil analisa data
secara statistik dan deskriptif analitik dapat dinyatakan bahwa profil gula darah pasien DM tipe 2 yang menjalankan puasa
ramadan lebih terkontrol dan adanya peningkatan resiko hipoglikemi ringan.
Kata Kunci: Diabetes Melitus tipe 2, profil gula darah, puasa ramadan, hipoglikemi.

Abstract
The authors is asked to supply abstract both in Indonesian and English. Untuk penulisan ABSTRAK diatur sebagai
berikut: 1)judul Abstrak dan Abstract ditulis dan diletakkan di posisi tengah (center) dengan menggunakan front Times
New Roman ukuran 12 point tebal secara Title Case di bawah alamat dengan jarak 3 spasi; 2)naskah dibuat di bawah
judul dengan jarak 1 spasi dan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; 3)naskah dalam bahasa
Indonesia ditulis dengan huruf tegak/lurus dan dalam bahasa Inggris ditulis dengan huruf miring; 4)naskah dibuat dalam
bentuk paragraf dan hanya terdiri atas satu paragraf (berbeda dengan ringkasan) dalam bentuk kalimat penuh yang
terdiri atas 100 150 kata, serta ditulis dalam 1 halaman dan 1 kolom; 5)naskah ditulis dengan menggunakan front Times
New Roman ukuran 10 point tebal dengan jarak 1 spasi dan ditulis lebih sempit (1 tab) baik dari sisi kiri maupun sisi
kanan dari teks utama; 6)jarak antara abstrak dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Inggris 1 spasi.
Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, blood glucose profile, ramadhan fasting, hipoglicemi

Pendahuluan
Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolik yang
secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan
manifestasi berupa hilangnya toleransi glukosa. Manifestasi
klinis DM diantaranya adalah peningkatan pengeluaran
urin (poliuri), peningkatan nafsu makan (polifagi), dan
peningkatan rasa haus (polidipsi). Jika tidak ditangani
dengan baik, dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi
yang berbahaya [1]. DM tipe 2 merupakan kelainan
metabolik kompleks yang ditandai oleh hiperglikemia yang
disebabkan oleh kombinasi dari insufisiensi sekresi insulin
dan resistensi insulin. Insidensi dan prevalensi dari DM
tipe 2 terus meningkat, didorong oleh peningkatan tingkat
obesitas di seluruh dunia [2].
Di Indonesia sebagian besar penyandang DM
kebanyakan adalah penyandang DM tipe 2. Indonesia
sendiri telah memasuki epidemi DM tipe 2 dimana
peningkatan pasien DM tipe 2 ini nampaknya disebabkan
oleh perubahan gaya hidup dan urbanisasi [3]. World Health
Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 2025,
jumlah penderita DM membengkak menjadi 300 juta
orang. Data WHO yang lain menyebutkan bahwa pada
tahun 2025, Indonesia akan menempati peringkat nomor
UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

lima sedunia dengan jumlah penderita DM sebanyak 12,4


juta orang dan pada tahun 2030 prevalensi diabetes di
Indonesia mencapai 21,3 juta penderita [4].
Data insidensi DM di RSD dr. Soebandi Jember
menunjukkan kenaikan kasus di setiap tahunnya, jumlah
penderita DM di tahun 2008 mencapai angka 3.699, di
tahun 2009 menjadi 4.790, dan meningkat lagi di tahun
2010 menjadi 5.589. Peningkatan mencapai 29,5 % dari
taun 2008 ke 2009, dan 16,7 % di tahun 2010. Walaupun
kenaikan jumlah kasus DM di tahun 2010 tidak setinggi di
tahun 2009, namun laporan kasus DM yang terjadi di bulan
ramadan justru semakin tinggi.
Indonesia adalah negara dengan populasi muslim
terbesar di dunia dan Kabupaten Jember merupakan
wilayah dengan populasi muslim yang sangar besar, 98%
dari seluruh warga jember merupakan muslim [5]. Bagi
seorang muslim, puasa merupakan salah satu dari rukun
islam dan merupakan kewajiban bagi muslim yang telah
mencapai akhir baligh serta sehat. Selama berpuasa,
seorang muslim diwajibkan untuk tidak makan, minum,
merokok, maupun meminum obat secara oral dari subuh
sampai maghrib (kurang lebih 14 jam). Salah satu puasa
yang wajib dilaksanakan seorang muslim adalah puasa

Yudha Anantha K. P. et al., Template untuk Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa UNEJ.........
ramadan [6]. Makanan utama biasanya dikonsumsi pada
dua waktu, yaitu saat sebelum matahari terbit serta saat
matahari terbenam. Perubahan frekuensi makan, aktifitas
fisik, dan pola tidur selama ramadan dapat mempengaruhi
parameter glikemi dan biokimia lainnya pada pasien
diabetes. Walaupun dalam Alquran mengistimewakan
orang sakit untuk tidak berpuasa, namun banyak para
muslim dengan diabetes yang tidak menganggap dirinya
tidak sakit dan memilih untuk puasa [7].
Komplikasi utama yang berhubungan dengan pasien DM
selama
menjalankan
puasa
adalah
hipoglikemi,
hiperglikemi, diabetik ketoasidosis, dehidrasi, dan
thrombosis. Di antara penduduk secara keseluruhan,
jumlah episode hipoglikemi berat per bulan terjadi
peningkatan yang signifikan selama ramadan daripada
tahun sebelumnya pada kedua jenis diabetes. Di samping
itu, jumlah episode hiperglikemi berat dengan atau tanpa
ketoasidosis per bulan menunjukkan perbedaan yang
signifikan antara ramadan dan tahun sebelumnya pada
pasien dengan DM tipe 2 [8].
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbedaan profil gula darah serta menghitung angka
kejadian hipoglikemi pasien DM tipe 2 saat menjalankan
puasa ramadan.

Kolmogorov-Sminorv Test, paired T-Test, dan deskriptif


analitik untuk insidensi hipoglikemi yang terjadi pada
sampel.

Hasil Penelitian
Pada penelitian ini jumlah sampel yang memenuhi
memenuhi inklusi sebanyak 43 pasien, namun beberapa
sampel harus drop out dikarenakan mengalami hipoglikemi
berat, sampel menjalankan operasi dan MRS, serta
beberapa mengalami menstruasi sehingga tidak dapat
menjalankan puasa. Data yang memenuhi kriteria dan
dapat dianalisis sebanyak 37 sampel. Terdiri dari 13 orang
laki-laki dan 24 orang perempuan. Nilai rata-rata kadar
gula darah (dalam mg/dl) tersaji dalam tabel dan grafik
berikut.
Non Puasa
sebelum
sarapan

2 jam pp
sarapan

sebelum
makan
malam

2 jam pp
makan
malam

163,28

137,83

126,71

136,92

190,05

Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini
adalah uji klinis yaitu penelitian pada orang sehat untuk
pengetahui perbedaan profil gula darah pasien DM tipe 2
dalam kondisi berpuasa ramadan dan tidak berpuasa.
Rancangan penelitian adalah quasi experimental dengan
desain uji klinis pretest-posttest control group design .
Sampel pada penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 RSD
dr. Soebandi yang terdaftar pada bulan Mei-Juni 2012.
Kriteria Inklusi
Pasien DM tipe 2

Puasa
sebelum
sahur

2 jam pp
sahur

sebelum buka

2 jam pp
buka

96,52

139,29

86,06

136,46

168,22

Kriteria Eksklusi
Masuk rumah sakit

Terdaftar pada bulan mei- Menjalani


juni 2012
sehingga
berpuasa

terapi
tidak

obat
bisa

Mampu menjalankan puasa Menstruasi atau mengalami


ramadan
hipoglikemi berat
Domisili di jember

Alamat sampel tidak bisa


ditemukan

Bersedia menjadi sampel


Teknik pengambilan jumlah sampel uji klinis
menggunakan rumus Cochran dengan jumlah sampel
sebanyak 37 orang. Variabel bebas pada penelitian ini
adalah pelaksanaan puasa ramadan, variabel terikat adalah
profil gula darah, dan variabel perancu adalah perubahan
intake kalori, perubahan aktivitas, serta perubahan pola
konsumsi obat anti diabetik. Profil gula darah adalah
bentuk serial dari kadar atau konsentrasi gula darah
sehingga pengambilan data sampel dilakukan sebanyak 4
kali dalam sehari baik saat menjalankan puasa ramadan
maupun saat tidak menjalankan puasa.
Pengolahan data menggunakan bantuan perangkat lunak
SPSS. Uji hasil penelitian menggunakan metode
UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

Kejadian hipoglikemi dihitung berdasarkan parameter


biokimia. Kadar gula darah yang berada di bawah 70
mg/dl. (3,9 mmol/L) dinyatakan hipoglikemi [9]. Pada
penelitian ini didapatkan 1 sampel mengalami hipoglikemi
saat tidak menjalankan puasa dan 4 sampel mengalami
hipoglikemi saat menjalankan puasa ramadan. Jika
dinyatakan dalam persentase maka angka kejadian

Yudha Anantha K. P. et al., Template untuk Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa UNEJ.........
hipoglikemi saat tidak berpuasa sebesar 2,7% dan 10,8%
saat menjalankan puasa.

Pembahasan
Berdasarkan uji paired samples T-test, diketahui bahwa
terdapat perbedaan statistik pada profil gula darah pasien
DM tipe 2 saat menjalan puasa ramadan dan tidak. Taraf
signifikasi yang digunakan dalam uji paired samples T-test
adalah < 0,05. Dalam uji tersebut diperoleh nilai signifikasi
sebesar 0,017. Dengan taraf signifikasi penelitian sebesar
0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
signifikan antara kadar gula darah saat berpuasa dan tidak
berpuasa.
Dalam penelitian ini telah dihasilkan beberapa nilai
profil gula darah karena pengukuran kadar gula dilakukan
dalam empat waktu berbeda selama satu hari. Hasil
pengukuran ini sangat diperlukan untuk mengambil
kesimpulan apakah pelaksanaan puasa ramadan memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap kadar gula darah.
Hasil analisis rerata kadar gula saat tidak berpuasa
sebesar 190,05 mg/dl, Sedangkan rerata pada saat berpuasa
adalah 168,22 mg/dl. Dengan demikian nilai rerata gula
darah puasa lebih rendah dari kadar gula darah saat tidak
berpuasa. Perbedaan nilai kadar gula darah tersebut
diakibatkan oleh kondisi puasa yang dialami objek
penelitian. Dalam kondisi puasa terjadi beberapa perubahan
fisiologis antara lain perubahan pola makan, perubahan
aktivitas, dan perubahan pola konsumsi obat. Perubahanperubahan tersebut merupakan variabel perancu yang
mempengaruhi kadar gula darah [10]
Perubahan pola makan terjadi karena saat puasa
pembagian jadwal makan hanya terletak pada buka dan
sahur sementara saat kondisi tidak puasa jadwal makan
objek tidak dibatasi. Distribusi makanan saat berpuasa
terpusat pada sahur dan buka. Jumlah makanan yang
dikonsumsi saat berpuasa dan tidak berpuasa juga
mengalami perbedaan. Mengenai diet, asupan energi
selama menjalankan puasa ramadan dilaporkan meningkat
di Arab Saudi dan negara-negara timur tengah lainnya.
Sementara terjadi penurunan asupan energy di India, Asia
selatan, dan juga negara-negara di Asia tenggara termasuk
Indonesia [11].
Mengenai konsumsi serat dan karbohidrat, studi
mencatat tidak ada perubahan dalam konsumsi. Namun
pada beberapa penelitian juga ditemui peningkatan jumlah
konsumsi karbohidrat. Mengenai lemak jenuh, penelitian
telah melaporkan tidak berubah selama ramadan. Konsumsi
asam lemak trans dilaporkan meningkat selama puasa.
Selain macronutrients, vitamin dan mineral umumnya
dikonsumsi dalam jumlah yang sama di bulan ramadan.
Contoh meliputi: thiamin, niacin, folat, vitamin C, vitamin
E, kalsium, magnesium, kalium, dan seng. Konsumsi
vitamin A tercatat meningkat selama ramadan sementara
Konsumsi riboflavin menurun selama ramadan. Natrium
tidak ada perubahan dalam konsumsi [10].
Perbedaan selisih kadar gula darah sebelum dan sesudah
makan menjelaskan bagaimana distribusi jumlah makanan
saat berpuasa maupun tidak berpuasa. Peningkatan kadar
gula darah terbesar pada pasien DM tipe 2 yang
menjalankan puasa adalah saat berbuka puasa. Kenaikan
tersebut sebesar 75,11 mg/dl. Perubahan kadar gula saat
sahur sebesar 59,84 mg/dl. Saat tidak menjalankan puasa
kenaikan kadar gula darah pada saat makan pagi lebih
UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

tinggi yaitu sebesar 63,08 mg/dl dan saat makan malam


sebesar 24,46 mg/dl. Tingkat kenaikan gula darah saat
puasa cukup tinggi melebihi 50 mg/dl. Hal ini menandakan
bahwa distribusi makanan terpusat pada saat sahur dan
berbuka puasa.
Perubahan aktivitas berpengaruh pada penggunaan
kalori pada objek penelitian, tingginya aktivitas dapat
mempengaruhi kadar gula darah. Pada saat puasa maupun
tidak puasa objek penelitian tidak mengalami perdedaan
aktivitas yang sangar berarti. Perbedaan aktivitas umumnya
terletak pada perubahan jadwal tidur dan pengurangan jam
kerja.
Jumlah obat dan dosis yang dikonsumsi setiap hari tidak
ada perbedaan antara saat berpuasa maupun tidak
berpuasa. Perbedaan terletak pada perubahan jadwal
konsumsi obat. Intervensi farmakologi yang diberikan pada
pasien DM tipe 2 umunya merupakan obat anti diabetik
oral dan insulin. Penggunaan obat anti diabetik dapat
memberikan kontribusi yang bervariasi terhadap penurunan
kadar gula darah. Beberapa jenis obat mampu
menghasilkan penurunan yang lebih nyata apabila
digunakan secara kombinasi daripada monoterapi.
Hipoglikemi merupakan kondisi dimana gula darah
plasma mengalami penurunan dan atau didapatkan gejala
klinis kekurangan glukosa. Kadar gula dara 70 mg/dl (3.9
mmol/L) merupakan batas untuk hipoglikemi [9]. Kejadian
hipoglikemi pada DM tipe 2 saat tidak berpuasa sebesar
2,7% atau 1 kasus hipoglikemi. Angka ini meningkat saat
menjalankan puasa menjadi 10,8% atau menjadi 4 kasus
hipoglikemi dari jumlah keseluruhan objek penelitian.
Hipoglikemi saat berpuasa, 2 diantaranya terjadi saat
menjalankan puasa atau hipoglikemi terjadi menjelang
waktu buka. Dua kejadian yang lain terjadi saat menjelang
waktu sahur. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan
oleh [8] bahwa resiko kejadian hipoglikemi meningkat pada
penderita DM tipe 2 yang menjalankan puasa.
Peningkatan kasus hipoglikemi tersebut menunjukkan
adanya pengaruh dari distribusi makanan dan konsumsi
obat anti diabetik. Saat menajalankan puasa perubahan
jadwal makan juga memperngaruhi jadwal konsumsi obat
diabetes. Perubahan pola konsumsi obat tersebut
mempengaruhi kadar gula darah dan bisa menyebabkan
hipoglikemi apabila terjadi kesalahan dalam pembagian
dosis selama menjalankan puasa. Berdasarkan hasil
wawancara dengan sampel, didapatkan beberapa kasus
dimana sampel harus membagi sendiri jadwal konsumsi
dari beberapa jenis obat diabetik oral. Sesuai dengan teori
[8] dimana kasus hipoglikemi yang meningkat saat berpuasa
umumnya disebabkan akibat perubahan dosis pada obat anti
diabetik atau insulin.
Kriteria hipoglikemi selain berdasarkan kadar gula darah
juga dapat ditetapkan berdasarkan ada tidaknya gejala khas
hipoglikemi. Peristiwa dimana seseorang melaporkan
adanya salah satu dari gejala khas hipoglikemi tetapi
dengan konsentrasi gula darah > 70 mg/dl (3,9 mmol/L)
dikategorikan sebagai hipoglikemi relatif. Kategori ini
mencerminkan fakta bahwa sampel memiliki kontrol
glikemik yang buruk dalam waktu yang lama sehingga
dapat mengalami gejala hipoglikemi walaupun kadar gula
darah > 70 mg/dl [9].
Gejala khas hipoglikemi terkait dengan penurunan kadar
gula darah sehingga gejala tidak hanya sebatas otonomik
tetapi dapat juga mencakup gejala neurogenik. Gejala
otonomik hipoglikemi antara lain berkeringat, jantung

Yudha Anantha K. P. et al., Template untuk Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa UNEJ.........
berdebar, dan tremor. Gejala yang bersifat neurogenic
antara lain, bingung, sulit berbicara, inkoordinasi,
gangguan visual, sakit kepala, atau perilaku yang berbeda
[12].
Berdasarkan acuan dari gejala khas hipoglikemi di atas
maka dalam penelitian ini juga dicatat ada tidaknya
keluhan yang terjadi pada sampel saat menjalankan puasa
ramadan maupun saat tidak menjalankan puasa. Hasil
wawancara terhadap sampel menunjukkan tidak adanya
gejala khas hipoglikemi saat sampel tidak menjalankan
puasa. Wawancara selanjutnya dilaksanakan saat sampel
menjalankan puasa ramadan. Berdasarkan hasil wawancara
sebanyak 3 sampel mengeluhkan adanya gejala
hipoglikemi. Ketiga sampel tersebut mengeluhkan gejala
seperti gemetar, tremor, dan berkeringat. Salah satu sampel
juga mengeluhkan adanya gejala jantung berdebar. Pada
saat wawancara juga ditanyakan seputar aktivitas dan ada
tidaknya gangguan beraktivitas yang timbul akibat adanya
gejala hipoglikemi. Ketiga sampel menjelaskan bahwa
gejala hipoglikemi tersebut tidak terlalu mengganggu
aktivitas sampel.
Hasil wawancara pada sampel tentang insidensi
timbulnya hipoglikemi relatif menunjukkan kejadian
sebanyak 3 kasus atau sebesar 8,1%. Saat berpuasa kejadian
hipoglikemi memang terjadi peningkatan. Berdasarkan
parameter kadar gula darah maupun gejala hipoglikemi
keduanya menunjukkan adanya peningkatan Secara klinis
kejadian hipoglikemi saat berpuasa memang terjadi
peningkatan, namun kejadian hipoglikemi yang terjadi
merupakan hipoglikemi ringan. Kriteria ini sesuai dengan
hasil wawancara mengenai intensitas dari gejala
hipoglikemi yang dialami sampel.
Klasifikasi klinis hipoglikemi

[12]

Ringan

simtomatik, dapat diatasi sendiri, tidak


gangguan aktivitas sehari-hari yang nyata

Sedang

simtomatik, dapat diatasi sendiri,


menimbulkan gangguan aktivitas seharihari yang nyata.

Berat

sering simtomatik, karena gangguan


kognitif pasien tidak mampu mengatasi
sendiri
1. menimbulkan pihak ketiga tetapi tidak
membutuhkan terapi parenteral
2. membutuhkanterapi parenteral
(glukagon intramuskular atau glukosa
intravena)
3. disertai koma atau kejang.

Walaupun resiko hipoglikemi meningkat namun kejadian


hipoglikemi yang terjadi merupakan hipoglikemi yang
masih dalam kriteria ringan. Gejala hipoglikemi tidak
terlalu berar, dapat diatasi dan tidak menganggu aktivitas
sehari-hari. Pada dasarnya pelaksanaan puasa bagi
penderita DM tipe 2 lebih baik dalam mengontrol kadar

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

gula darah walaupun terdapat resiko munculnya kejadian


hipoglikemi.
Variabel perancu dalam penelitian ini merupakan
perubahan pola makan, perubahan aktivitas, dan perubahan
konsumsi obat anti diabetik oral. Variabel-variabel tersebut
menjadi penyulit utama dalam penelitian ini karena pasien
DM tipe 2 yang menjadi sampel merupakan pasien rawat
jalan yang memiliki perbedaan konsumi makanan dalam
kesehariannya. Walaupun sebelumnya sudah ada penelitian
yang menyatakan bahwa secara umum pola konsumsi
makanan di Negara Indonesia justru mengalami penurunan
saat menjalankan puasa ramadan, namun hal tersebut tidak
dapat digunakan sebagai standar mengingat tidak adanya
aspek pengukuran intake calori dalam penelitian ini.
Perubahan aktivitas pada pasien DM tipe 2 yang
menjalankan puasa tidak mengalami perbadaan yang
berarti. Karena hasil wawancara menunjukkan bahwa
perubahan yang terjadi berupa perubahan minimal yakni
perubahan jadwal tidur dan pengurangan jam kerja. Sampel
juga berinisiatif dan melakukan pengurangan aktivitas
selama menjalankan puasa ramadan.
Konsumsi obat anti diabetik oral dan insulin eksogen
merupakan variabel yang dapat memberikan kontribusi
nyata terhadap perubahan kadar gula darah. Jumlah obat
dan dosis yang dikonsumsi setiap hari tidak ada perbedaan
antara saat menajalankan puasa ramadan maupun saat
tidak berpuasa. Perbedaan terletak pada perubahan jadwal
konsumsi dan pembagian obat. Obat anti diabetik dapat
memberikan kontribusi yang bervariasi terhadap penurunan
kadar gula darah. Beberapa jenis obat mampu
menghasilkan penurunan yang lebih nyata apabila
digunakan secara kombinasi. Untuk meminimalisir bias
yang dapat ditimbulkan konsumsi obat diabetik oral dan
insulin tersebut maka dalam penelitian ini hasil
pengukuran gula darah non puasa menjadi kontrol terhadap
hasil pengukuran saat menjalankan puasa untuk sampel itu
sendiri mengingat tidak adanya perubahan pada jumlah dan
dosis obat yang dikonsumsi.
Pengaruh dari obat antidiabetik oral dan insulin pada
pasien DM tipe 2 saat menjalankan puasa ramadan telah
banyak diteliti. Studi tentang sulfonylurea (gliklazid)
sebagai monoterapi selama bulan ramadan pada 136 lakilaki non obesitas dengan DM tipe 2 menunjukkan tidak ada
perubahan signifikan pada perubahan profil gula darah,
tidak ada penambahan berat badan, dan peristiwa
hipoglikemik sedikit. Hasil yang serupa juga ditemukan
pada terapi gliklazid selama bulan ramadan. Penelitian lain
menunjukkan bahwa gliklazid setidaknya sama efektifnya
dengan glimepiride, baik sebagai monoterapi atau
kombinasi. Bahkan, gliklazid secara signifikan lebih baik,
menunjukkan sekitar 50% lebih sedikit episode
hipoglikemik dibandingkan dengan glimepiride [13].
Obat antidiabetes lain juga digunakan selama ramadan,
termasuk repaglinide, acarbose metformin, glitazone dan
insulin (lispro dan glargine) dengan dosis yang sesuai
cukup aman untuk pasien diabetes tipe 2 yang tetap
menjalankan puasa selama bulan ramadan. Studi tentang
efek glimepiride, repaglinide, dan insulin glargine pada
DM tipe 2 pada tiga titik dalam waktu sebelum ramadan,
setelah ramadan dan 1 bulan setelah ramadan menunjukkan
tidak ada perubahan signifikan dalam gula darah puasa [13].
Insulin dapat digunakan dengan aman pada DM tipe 2.
Insulin dua kali sehari seperti lispro campuran 25/75 (25%
insulin lispro dan 75% netral protamine lispro) dan insulin

Yudha Anantha K. P. et al., Template untuk Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa UNEJ.........
manusia 30/70 telah dibuktikan aman digunakan selama
bulan ramadan. Disarankan bahwa dosis pagi resimen ini
digunakan saat berbuka puasa, dan setengah dosis malam
digunakan saat makan sahur. Glargine insulin juga efektif
dan aman digunakan selama bulan ramadan [13].

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan dari penelitian ini adalah profil gula darah
pasien DM tipe 2 saat menjalankan puasa lebih terkontrol
secara signifikan jika dibandingkan dengan yang tidak
menjalankan puasa. Jumlah kejadian hipoglikemi pada
pasien DM tipe 2 sebanyak 1 kasus saat tidak menjalankan
puasa, saat menjalankan puasa ramadan sebanyak 4 kasus
jika diukur berdasarkan parameter biokimia dan 3 kasus
apabila diukur berdasarkan ada tidaknya gejala
hipoglikemi.
Saran dari penelitian ini diharapkan penderita DM tipe 2
yang mampu menjalankan puasa untuk mulai menjalankan
puasa sebagai salah satu pilihan dalam mengontrol kadar
gula darah. Bersasarkan pembahasan maka diharapkan
adanya penyesuain terhadap dosis obat anti diabetik selama
menjalankan ibadah puasa. Selanjutnya diharapkan ada
penelitian lebih lanjut mengenai profil gula darah dan
insidensi timbulnya komplikasi pasien DM tipe 2 saat
menjalankan puasa yang lebih lengkap dengan
mengintegrasikan variabel-variabel yang lebih lengkap.

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas
Kedokteran Universitas Jember yang telah memberikan
fasilitas demi terlaksananya penelitian ini. Terima kasih
kepada Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember yang
telah memberikan izin dan fasilitas dalam melakukan
penelitian ini. Terima kasih juga penulis sampaikan pada
sampel yang telah bersedia dan kooperatif dalam
menjalankan penelitian ini.

Daftar Pustaka
[1]
[2]

[3]
[4]

[5]

[6]

[7]

Price, S. A. dan Wilson, L. M. 2003. Patofisiologi (Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit) Vol.2 Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Al-Arouj M., Buse J., Assaad-Khalil S., Fadhil I., Fahmy M., Hafez S.,
Hassanein M., Ibrahim M., Kendall D., Kishawi S., Al-Madani A.,
Nakhi A,. Tayeb K., dan Thomas A. 2010. Recommendations for
Management of Diabetes During Ramadan Update 2010. Diabetes
Care,
Vol.
33(8):
1895-1902
[Jurnal
online].http://care.diabetesjournals.org/content/33/8/1895.full
[2
Februari 2012].
Perkeni. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Tipe 2 di
Indonesia 2011. Jakarta: Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia.
Suyono, S. 2006. DM di Indonesia. Dalam Sudoyo, Setyohadi, Alwi,
Simadibrata, Setiati (Editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III
Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
BPS. 2011. Kabupaten Jember dalam Angka (Jember Regency In
Figures).
Badan
Pusat
Statistik.
http://www.jemberkab.go.id/index.php/jember-dalam-angka. [25 Maret
2012].
Miller T, Ed. 2009. Mapping the Global Muslim Population: A Report
on the Size and Distribution of the Worlds Muslim Population. [Serial
online].
http://pewforum.org/newassets/images/reports/Muslimpopulation/Musli
mpopulation.pdf. [2 Mei 2012].
Hui, E. dan Devendra, D. 2010. Diabetes and Fasting during Ramadan.
Diabetes/Metabolism Research and Reviews, Vol. 26(8): 606-610
[Serial
online].

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2012, I (1): 1-5

[8]

[9]
[10]
[11]
[12]
[13]

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/dmrr.1137/pdf. [2 Februari
2012].
Al-Arouj M., Bouguera R., Buse J., Hafez S., Hassanein M., Ibrahim
M., Ismail-Belgi F., El-Kebbi I., Khatib O., Kishawi S., Al-Madani A.,
Mishal A., Al-Maskari M., Nakhi A., Al-Rubean K. 2005.
Recommendations for Management of Diabetes During Ramadan.
Diabetes Care, Vol. 28(9): 2305-2311.
Philip, E. C. 2005. Defining and Reporting Hypoglycemia in Diabetes.
Diabetes Care, Vol. 28(5) 1245-1249.
Trepanowski, J. F. & Bloomer, R. J. 2010. The Impact of Religious
Fasting on Human Health. Nutrition Journal vol. 9(57).
El Ati J, Beji C, Danguir J. 1995. Increased fat oxidation during
Ramadan fasting in healthy women: an adaptative mechanism for bodyweight maintenance. American Journa Clinical Nutrition. 302-307.
Soemadji, D. W. 2006. Hipoglikemi Iatrogenik. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ahmed, M. dan Abdu, T. 2011. Diabetes and Ramadan: An Update On
Use of Glycemic Therapies During Fasting. Annals of Saudi Medicine.
Vol. 31(4): 402406.