Anda di halaman 1dari 25

TUGAS PENGOLAHAN AIR

PROSES ENGINEERING FLOW DIAGRAM/ PEFD UNTUK DIAGRAM ALIR


PENGOLAHAN AIR SUNGAI CISADANE DI DAERAH PASAR BARU TANGERANG

Disusun Oleh :
RISTIANA DWI HASTUTI
041300128
EKSTENSI TKN 2013

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta atas
berkat rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PROSES
ENGINEERING FLOW DIAGRAM/ PEFD UNTUK DIAGRAM ALIR PENGOLAHAN
AIR SUNGAI CISADANE DI DAERAH PASAR BARU TANGERANG. Makalah ini
disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Pengolahan air.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk memperbaiki makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai informasi
tambahan bagi rekan-rekan seprofesi khususnya serta bagi para pembaca umumnya.

Yogyakarta, 19 Nopember 2013

Ristiana Dwi Hastuti

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 4
B. Tujuan ............................................................................................................................. 4
C. Perumusan Masalah ........................................................................................................ 4
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................ 6
2.1 Keadaan Umum ................................................................................................................ 6
2.2 Pencemaran Perairan ........................................................................................................ 7
2.3 Beberapa Parameter Kualitas Air ..................................................................................... 8
PENGOLAHAN AIR SUNGAI CISADANE ......................................................................... 10
A. Waktu dan Lokasi ......................................................................................................... 10
B. Konsep Pengolahan ....................................................................................................... 11
C. Perhitungan ................................................................................................................... 11
D. Bak Equalisasi ............................................................................................................... 13
E. Bak Koagulasi dan Flokulasi ........................................................................................ 15
F.

Bak Klorinasi ................................................................................................................ 17

G. Bak Penampung ............................................................................................................ 20


H. Hasil Akhir Pengolahan ................................................................................................ 21
PENUTUP................................................................................................................................ 22
Kesimpulan........................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 24

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sungai merupakan salah satu bentuk perairan yang dicirikan memiliki arus
yang mengalir dari hulu ke hilir. Sungai oleh manusia digunakan sebagai sumber air
minum, pengairan, pertanian dan berbagai kegiatan lainnya. Kualitas air sungai sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang
mempengaruhi kondisi sungai misalnya hujan deras yang dapat meluap dan menjadi
keruh, sedangkan faktor yang berasal dari manusia misalnya pembuangan limbah
yang berasal dari industri, pertanian maupun domestik.
Sungai Cisadane memiliki luas wilayah 1100 km2 dengan debit air normal
berkisar pada 50 hingga 200 meter kubik per detik. Sungai cisadane merupakan salah
satu sungai utama di Propinsi Banten dan Jawa Barat. Sumbernya berada di Gunung
Salak Pangrango (Kabupaten Bogor) dan mengalir ke Laut Jawa melewati sebagian
wilayah DKI Jakarta dan Tangerang, Banten (Umiyati, 2002). Bahan pencemar yang
berasal dari pabrik, perumahan, tempat pembuangan sampah yang dekat dengan
sungai, kegiatan pertanian dan tambak di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cisadane dapat menyebabkan penurunan mutu kualitas air Sungai Cisadane. Hal ini
karena sisa kegiatan produksi yang dihasilkan kemungkinan besar akan dibuang ke
Sungai Cisadane. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan pengolahan air
Sungai Cisadane mengingat sungai ini berperan penting bagi masyarakat sekitar.
Tujuan
Mengetahui karakteristik kualitas air (tingkat pencemaran) Sungai Cisadane pada
daerah muara sungai bagian tawar dan payau untuk kepentingan pengelolaan Sungai
Cisadane.
A. Perumusan Masalah
Sungai Cisadane berhulu di Bogor dan berakhir di Tangerang. Sebelum sampai ke
muara, Sungai Cisadane melewati

salah satu sumber pencemar yakni Kota

Tangerang. Di Kota Tangerang terdapat industri-industri besar yang selain


menghasilkan limbah ke perairan juga mengakibatkan urbanisasi ke kota yang lebih
lanjut akan berdampak pada berdirinya pemukiman-pemukiman yang jumlahnya

besar sehingga menyebabkan permasalahan baru yakni adanya limbah domestik.


Kegiatan manusia yang terdapat di sekitar daerah aliran Sungai Cisadane dapat
mempengaruhi penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air perlu diwaspadai
sehingga diperlukan pengamatan karakteristik kualitas air yang nantinya diharapkan
kedepannya diperoleh suatu rumusan bentuk rekomendasi pengolahan muara Sungai
Cisadane.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keadaan Umum
Sungai Cisadane Kabupaten Tangerang secara keseluruhan memiliki luas 111038
Ha. Setiap tahunnya Kota Tangerang mengalami peningkatan kegiatan industri,
pertanian, pariwisata, perikanan, ekonomi dan jumlah penduduk (Departemen
Lingkungan Hidup Provinsi Banten, 2007). Daerah aliran Sungai Cisadane dibatasi oleh
sub DAS Cimanceuri di sebelah barat dan DAS Ciliwung di sebelah timur (Arwindrasti,
1997 in Anggoro, 2004). Sungai Cisadane memiliki panjang sungai dari hulu ke hilir
140 km, lebar 80 m. Air Sungai Cisadane dimanfaatkan untuk rumah tangga, industri,
kantor pemerintahan, niaga, sosial dan air curah seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Pemanfaatan air baku di Kabupaten Tangerang
No.

Pelanggan

Jumlah

Volume (m3/Tahun)

88622

1958463

Rumah Tangga

Industri

84

634434

Kantor Pemerintahan

92

156651

Niaga

282

803688

Sosial

734

770755

Air Curah

16

95605512

Sumber : Departemen Lingkungan Hidup, 2007

Kondisi perairan Sungai Cisadane pada bagian hilir (muara sungai) sangat
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Muara merupakan bagian dari estuari yang
mencakup sungai yang masih mendapat pengaruh laut. Muara Sungai Cisadane terdiri
dari aluvium pantai dan aluvium sungai dengan luas 85% dari total keseluruhan luas
muara Pada tahun 1994-1999 rata-rata daratan di depan muara Sungai Cisadane
bertambah maju ke arah laut sejauh 25,22 m pertahun. Muara Sungai Cisadane termasuk
dalam wilayah cekungan air tanah dimana air tanah payau berada di atas air tanah tawar
(brackish water above fresh ground water) (Idawaty, 1999). Tinggi pasang semakin naik
sejak hari pertama yang akan mencapai maksimum pada hari ke enam dan ke tujuh,
kemudian akan turun pada ketinggian minimum di hari ke empat belas serta biasanya
terjadi dua siklus lengkap setiap bulan yang berhubungan dengan fase bulan (Hutabarat
dan Evans, 1986). Salinitas pada saat pasang tertinggi (spring tide) di estuari dapat

mencapai 1 PSU 31 PSU (Clark, 1986). Daerah muara sungai merupakan tempat yang
menjadi akhir aliran air sungai dari daerah hulu dan merupakan awal mula masuk ke laut,
sehingga terdapat akumulasi bahan-bahan tertentu yang terdapat di sungai demikian pula
dengan limbah.
Estuari merupakan daerah perairan yang mendapat pengaruh dari air laut dan air
tawar (Larry, 1996). Odum (1996) menyatakan bahwa estuari merupakan bagian dari
perairan pesisir yang memiliki kandungan bahan organik yang tinggi yang dipengaruhi
oleh pasang surut dengan kelimpahan dan keanekaragaman yang cukup besar. Dahuri
(2003) mengatakan bahwa sirkulasi air di daerah estuari sangat dipengaruhi oleh aliran
tawar yang bersumber dari badan sungai di atasnya dan air pasang yang berasal dari laut.
Besar atau kecilnya debit kedua aliran massa air tersebut akan mempengaruhi pola
stratifikasi massa air berdasarkan salinitas. Sirkulasi air di muara sungai tergantung dari
kisaran pasang surut, percampuran vertikal di antara air tawar dan air laut serta topografi
dasar. Sifat khas dari estuari adalah dangkal dan gerak air turbulensi oksigen terlarut
tinggi, meski di dasar oksigen rendah pengadukan massa air di estuari tidak menyeluruh
dari permukaan ke dasar (Basmi, 1994). Estuari merupakan tempat sistem pembersih
bahan pencemar (Knox dan Miyabara, 1984).
2.2 Pencemaran Perairan
Miller dan Connell (1995) mengatakan bahwa pencemaran perairan merupakan
peristiwa masuknya senyawa-senyawa yang dihasilkan dari kegiatan manusia
ditambahkan ke lingkungan perairan, menyebabkan perubahan yang buruk terhadap
kekhasan fisik, kimia, biologis dan estetis. Makhluk hidup memiliki berbagai reaksi
mulai dari pengaruh yang sangat kecil sampai ke subletal seperti, berkurangnya
pertumbuhan, perkembangbiakan pengaruh perilaku, atau kematian yang nyata.
Sedangkan menurut (Williams, 1979) pencemaran merupakan keadaan perubahan dari
kondisi normal, satu atau lebih parameter yang menyebabkan lingkungan terdegradasi.
Miller dan Connell (1995) mengatakan bahwa ekosistem alamiah yang rumit pada
makhluk hidup merupakan suatu bagian integral dapat bereaksi dalam berbagai cara
untuk mempengaruhi komponen makhluk hidup mulai dari sumber (pencemar) sampai
dengan tanggapan dari populasi, komunitas dan ekosistem

Kegiatan pengelolaan

kualitas air dan pengendalian pencemaran air sungai adalah untuk menjamin kualitas air
yang diinginkan sesuai peruntukkannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya serta
7

menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan
penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air. Radojevic dan Bashkin
(2007) mengatakan bahwa pencemar dapat berasal dari daerah khusus (point souirce) dan
terdistribusi (non- point source). Sumber pencemar point source, misalnya: saluran
buangan pabrik, dan sumur pengeboran minyak. Sumber pencemar non-point source,
misalnya: limpasan pestisida yang berasal dari sawah dan domestik.
Limbah organik dengan kadar yang tinggi akan menyebabkan penurunan kadar
oksigen terlarut karena dalam perombakan limbah organik membutuhkan oksigen
terlarut untuk proses perombakan (dekomposisi). Sumber limbah organik adalah limbah
rumah tangga, food processing, perkotaan, lumpur sisa produksi industri (Radojevic dan
Bashkin, 2007). Parameter yang umumnya digunakan untuk mengetahui tingkat
pencemaran limbah organik yaitu padatan total, BOD, COD, nitrogen total, amonianitrogen, klorida, alkalinitas dan minyak dan lemak (Rump dan Krist, 1992 in Effendi,
2003). Pencemaran diperairan dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut secara
tajam sehingga mengancam kehidupan biota perairan (Davis dan Masten, 2004;
Radojevic dan Bashkin, 2007).
2.3 Beberapa Parameter Kualitas Air
BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang
diperlukan

oleh

mikroorganisme (biasanya

bakteri)

untuk

mengurai

atau

mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf
& Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang
terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi ( readily
decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD se bagai suatu ukuran
jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan
sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertianpengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen,
tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik
mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.

COD (Chemical Oxygen Demand)


Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai
seluruh bahan organik yang terkandung dalam air (Boyd, 1990). Hal ini karena bahan or
ganik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium
bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd, 1990;
Metcalf & Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai
maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai
antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit
urai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa
lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.
TSS (Total Susppended Solid)
Zat yang tersuspensi biasanya terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayanglayang dalam air, secara fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair
yang mempunyai kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke
badan air karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi
sinar matahari masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme
tidak dapat berlangsung.
TDS (Total Dissolve Solid)
TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun
anorganik, misalnya : garam, dan lain-lain) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS
meter menggambarkan jumlah zat terlarut dalam Part Per Million (PPM) atau sama
dengan miligram per Liter (mg/L).

PENGOLAHAN AIR SUNGAI CISADANE

Gambar peta aliran Sungai Cisadane di Tangerang

Waktu dan Lokasi


Penelitian kualitas air di muara Sungai Cisadane dilakukan dengan cara survey lapang
dan analisis di laboratorium. Lokasi penelitian di Pasar Baru,Kota Tangerang, Provinsi
Banten.

Gambar Sungai Cisadane di daerah Pasar Baru, Tangerang

Pada saat pengambilan sampel di daerah Pasar Baru-Tangerang, suhu udara di


sekitar sungai saat itu 30C. Hasil sampling di Sungai Cisadane diperoleh data sebagai
berikut :
No

Parameter

Analisis

Satuan

BOD

250

mg/L

COD

250

mg/L

TSS

300

mg/L

TDS

300

mg/L

Q ( Debit )

0,5

m3/Jam

Konsep Pengolahan
Konsep pengolahan yang direncanakan adalah sebagai berikut :

EQUALISASI

KOAGULASI

FLOKULASI

FILTRASI

KLORINASI

BAK
PENAMPUNG

SEDIMENTASI

Perhitungan
1. Debit Air

= 0,5 m3/jam
= 0,5 m3/jam x 1000 kg/m3
= 500 kg/jam

2. Laju BOD

= 250 mg/L
= 250 mg/L x 0,5 m3/jam x 1000 L/m3 x 10-6 kg/mg
= 0,125 kg/jam

Digunakan 1000 L/m3 dan 10-6 kg/mg karena untuk konversi menjadi satuan kg/jam.
3. Laju COD

= 250 mg/L

11

= 250 mg/L x 0,5 m3/jam x 1000 L/m3 x 10-6 kg/mg


= 0,125 kg/jam
Digunakan 1000 L/m3 dan 10-6 kg/mg karena untuk konversi menjadi satuan kg/jam.
4. Laju TSS

= 300 mg/L
= 300 mg/L x 0,5 m3/jam x 1000 L/m3 x 10-6 kg/mg
= 0,15 kg/jam

Digunakan 1000 L/m3 dan 10-6 kg/mg karena untuk konversi menjadi satuan kg/jam.
5. Laju TDS

= 300 mg/L
= 300 mg/L x 0,5 m3/jam x 1000 L/m3 x 10-6 kg/mg
= 0,15 kg/jam

Digunakan 1000 L/m3 dan 10-6 kg/mg karena untuk konversi menjadi satuan kg/jam.

Bak Equalisasi
Bak equalisasi berfungsi untuk menampung air sebelum dilakukan pengolahan
lebih lanjut. Bak Equalisasi ini dimaksudkan untuk menangkap benda kasar yang mudah
mengendap yang terkandung dalam air baku, seperti pasir atau dapat juga disebut
partikel diskret. Penggunaan unit Equalisasi selalu ditempatkan pada awal proses
pengolahan air, sehingga dapat dicapai penurunan kekeruhan. Equalisasi merupakan bak
pengendapan material pasir dan lain-lain yang tidak tersaring pada screen, serta
merupakan pengolahan fisik yang kedua.
a. Kriteria Design
1. Debit (Q)

= 0,5 m3/jam

2. Beban Permukaan

= 32 m3/hari/m2 (kriteria desain)

3. Waktu Tinggal

= 1 4 jam

(kriteria desain)

4. Kedalaman Bak

= 2,5 m

(kriteria desain)

5. Effisiensi TSS & TDS = penurunan 15 %


b. Perhitungan Bak Equalisasi
= 0,5 m3/jam

1. Debit (Q)

= 0,5 m3/jam x 24 jam/hari


= 12 m3/hari
2. Luas Permukaan (A)

=
=
= 0,375 m2

c. Bak berbentuk persegi panjang, maka P : L = 2 : 1


=

2 L2

0,375 m2 =

2 L2

L2 =
L2 =

0,1875 m

0,43 m

13

2xL

2 x 0,43 m

0,86 m

d. Volume Bak Equalisasi


Volume Bak Equalisasi

= PxLxt
= 0,86 m x 0,43 m x 2,5 m
= 0,9245 m3

Menentukan waktu tinggal (td)

=
=
= 1, 849 jam

e. Dimensi Bak
1. Panjang Bak

= 0,86 m

2. Lebar Bak

= 0,43 m

3. Kedalaman Bak

= 2,5 + 0,3 (FB) = 2,8 m

(FB = Free Board)


4. Waktu tinggal

= 1,849 jam

f. Gambar Bak Equalisasi (Proses Engineering Flow Diagram)


BOD = 0,125 kg/jam

BOD = 0,125 kg/jam

COD = 0,125 kg/jam


TSS = 0,15 kg/jam

COD = 0,125 kg/jam


EQUALISASI

TDS = 0,15 kg/jam

TSS = 0,13 kg/jam


TDS = 0,13 kg/jam

TSS

= 0,02 kg/jam

TDS

= 0,02 kg/jam

Bak Koagulasi dan Flokulasi


Koagulasi adalah proses penambahan bahan kimia ke dalam air agar kotoran
dalam air yang berupa padatan tersuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus,
bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.
Flokulasi adalah proses pengadukan lambat agar campuran koagulan dan air
baku yang telah merata membentuk gumpalan atau flok dan dapat mengendap dengan
cepat. Tujuan utama flokulasi agalah membawa partikel ke dalam hubungan sehingga
partikel-partikel tersebut bertabrakan, kemudian melekat, dan tumbuh menjadi ukuran
yang siap turun mengendap. Pengadukan lambat sangat diperlukan untuk membawa
flok dan menyimpannya pada bak flokulasi.
a. Kriteria Design
1. Kebutuhan pembubuhan < 600 cc/menit
2. Kadar Tawas

= 60 % ( sebagai Larutan )

3. Dosis yang diperlukan

= 42,5 mg/L

4. Berat Jenis Al2(SO4)

= 2,6 kg/L

5. Konsentrasi larutan < 10 %


= 1,4 x 10-4 m3/dt

6. Debit (Q)

7. G ( Gradient kecepatan ) = 790 s-1 ( Kriteria Design )


8. Waktu Tinggal ( td )

= 40 s ( Kriteria Design )

9. Pengaduk Turbin 4 Flat Blade ( KT ) = 5,31


10. Kecepatan putaran pengaduk koagulasi = 100 RPM =100/60 RPS =1,667 RPS
11. Kecepatan putaran pengaduk flokulasi = 20 RPM = 20/60 PPS = 0,333 RPS
12. Effisiensi =

70 % ( Kriteria Design )

b. Perhitungan Bak Koagulasi dan Flokulasi


1. Debit

= 0,5 m3/jam x 1 jam/3600 s


= 1,4 x 10-4 m3/s
= 0,14 L/s

2. Kebutuhan Tawas

= Q x Dosis
= 0,14 L/detik x 42,5 mg/L
= 5,95 mg/s
15

= 357 mg/menit
= 3,57 x 10-4 kg/menit
3. Kapasitas Bak (V) = Q x td
= 1,4 x 10-4 m3/s x 40 s
= 5,6 x 10-3 m3
4. Dimensi Bak

P:l:t=

L3

5,6 x 10-3 m3 =

L3

1:1:1

0,18 m

Maka :
P = 0,18 m
l

= 0,18 m

h = 0,18 m
5. Power yang diperlukan (P) = G2 . . V
= (790s-1)2 x (0,00089 N.s/m2) x (5,6 x10-3 m3)
= 3,1 N.m/s
= 3,1 Watt
6. Diameter pengaduk (Di)

=
= 0,26 m
7. Dimensi Bak Koagulasi
a. Panjang Bak

= 0,18 m

b. Lebar Bak

= 0,18 m

c. Kedalaman bak

= 0,18 + 0,3 ( FB) = 0,48 m

d. Daya motor pengaduk

= 3,1 N. m/s

e. Kecepatan putaran pengaduk = 100 RPM


f. Tinggi Baling Dasar

= ( 0,18 + 0,3 (FB) ) x 0,2 = 0,096 m

8. Dimensi Bak Flokulasi


a. Panjang Bak

= 0,18 m

b. Lebar Bak

= 0,18 m

c. Kedalaman bak

= 0,18 + 0,3 ( FB) = 0,48 m

d. Daya motor pengaduk

= 3,1 N. m/s

e. Kecepatan putaran pengaduk = 20 RPM = 20/60 RPS = 0,333 RPS


f. Tinggi Baling Dasar

= ( 0,18 + 0,3 (FB) ) x 0,2 = 0,096 m

9. Bak Koagulasi dan Flokulasi


Al2(SO4)3
BOD

= 0,125 kg/jam

COD

= 0,125 kg/jam

TSS

= 0,13 kg/jam

TDS

= 0,13 kg/jam

BOD = 0,0375 kg/jam


KOAGULASI

FLOKULASI

COD = 0,0375 kg/jam


TSS = 0,039 kg/jam

SEDIMENTASI

TDS = 0,039 kg/jam

Al2(SO4)3 = 0,021 kg/jam

BOD = 0,0875 kg/jam


COD = 0,0875 kg/jam
TSS = 0,091 kg/jam
TDS = 0,091 kg/jam
Al2(SO4)3 = 0,021 kg/jam
Bak Filtrasi
Filtrasi adalah suatu operasi pemisahan campuran antara padatan dan cairan
dengan melewatkan umpan (padatan + cairan) melalui medium penyaring. Proses
filtarsi banyak dilakukan di industri, misalnya pada pemurnian air minum, pemisahan
kristal-kristal garam dari cairan induknya, pabrik-kertas dan lain-lain. Untuk semua
proses filtrasi, umpan mengalir disebabkan adanya tenaga dorong berupa beda
tekanan, sebagai contoh adalah akibat gravitasi atau tenaga putar. Secara umum
filtrasi dilakukan bila jumlah padatan dalamsuspensi relatif lebih kecil dibandingkan
zat cairnya.
1. Kriteria Design
Jumlah bak
Debit

=
=

4 buah
0,14 L/s
17

Lama operasi
Kecepatan filtrasi
Kecepatan aliran pipa inlet
Efisiensi

=
=
=
=

3 jam
350 m3/m2 hari
0,6 1,8 m/s
70 %

=
=
=

kecepatan filtrasi x waktu tinggal


350m3/m2 hari x 0,125 hari
43,75 m3

2. Perhitungan
Kapasitas bak

43,75 m 3
4
=
10,9 m3
Karena jumlah bak yang digunakan 4 unit maka kapasitas tiap bak adalah
10,9 m3

Bak equalisasi berbentuk persegi panjang sehingga perbandingan panjang,


lebar dan tingginya adalah 2:1:1
P:L:H

2:1:1

2L3

10,9 m3 =

2L3

5,45 m3 =

L3

L dan H =

1,76 m

2 (1,76m)

3,52 m

Kedalaman bak

1,76 m + 0,3 (FB)

2,06 m

*FB = Free Board

PEFD Bak Filtrasi


BOD =
COD =
TSS =
TDS =

0,0375 kg/jam
0,0375 kg/jam
0,039 kg/jam
0,039 kg/jam

E-1

BOD = 0,02625 kg/jam

BOD = 0,01125 kg/jam


COD = 0,01125 kg/jam
TSS = 0,0117 kg/jam
TDS = 0,0117 kg/jam

COD = 0,02625 kg/jam


TSS = 0,0273 kg/jam
TDS = 0,0273 kg/jam
Bak Klorinasi
Bak klorinasi ini digunakan untuk memberi dan mencampurkan zat kimia berupa
klorin yang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada pada air
limbah.
1. Kriteria Design
1. Debit (Q) = 0,14 L/s
2. Kaporit yang digunakan mengandung 60 % Klor ( Larutan )
3. Konsentrasi yang direncanakan = 4 %
4. Berat jenis kaporit = 1,2 kg/L
5. Kapasoitas pembubuhan maksimum = 600 cc/menit
6. Daya pengikat Klor (DPC)

= 1,18 mg/L

7. Sisa klor direncanakan = 0,4 mg/L


8. Effisiensi = 70 %
2. Perhitungan Bak Klorinasi
1. Dosis klor total = DPC + sisa
= 1,18 mg/L + 0,4 mg/L
= 1,58 mg/L
2. Kebutuhan kaporit tiap menit = 1,58 mg/L x 100/60 x 0,14 L/s x 60 s/1menit
= 22,12 mg/menit
= 0,02212 gr/menit
Kebutuhan selama 1,849 jam = 0,02212 gr/menit x 1,849 jam x 60 menit
= 2,45 gram
= 0,00245 kg
3. Kapasitas Bak Klorinasi

= Q x td
= 0,14 L/s x 1,849 jam x 3600 s/jam
= 931,896 L
= 0,93 m3
19

4. Volume (V)

= pxlxt
0,93 m3 = p x p x p
0,93 m3 = p3
Panjang (p)

= 0,98 m

5. Dimensi Bak Klorinasi


A. Panjang Bak ( P )

= 0,98 m

B. Lebar Bak ( l )

= 0,98 m

C. Kedalaman Bak (t)

= 0,98 + 0,3 (FB) = 1,28 m

D. Efffisiensi Alat

= 70 %

6. Gambar Bak Klorinasi


Ca(OCl)2
BOD = 0,01125 kg/jam

BOD = 0,0034 kg/jam

COD = 0,01125 kg/jam

BAK KLORINASI

COD = 0,0034 kg/jam

TSS = 0,0117 kg/jam

TSS = 0,0035 kg/jam

TDS = 0,0117 kg/jam

TDS = 0,0035 kg/jam

Ca(OCl)2 = 0,0013 kg/jam


BOD = 0,0079 kg/jam
COD = 0,0079 kg/jam
TSS

= 0,0082 kg/jam

TDS

= 0,0082 kg/jam

Ca(OCl)2 = 0,0013 kg/jam


Bak Penampung
1. Perhitungan Bak penampung
a. Kapasitas bak = Q x dt
= 0,14 L/s x 24 x 3600 s/ 1 jam
= 12096 L
= 12,096 m3
b. Volume (V) = p x l x t
12,096 m3 = p x p x p
12,096 m3 = p3
Panjang (p) = 2,29 m

2. Dimensi Bak penampung


1. Panjang bak = 2,29 m
2. Lebar bak

= 2,29 m

3. Tinggi bak

= 2,29 m + 0,3 (FB)


= 2,59 m

Effluent

Q eff = 0,5 m3/jam


BOD

= 0,0034 kg/jam

BOD = 0,0034 kg/jam

COD

= 0,0034 kg/jam

COD = 0,0034 kg/jam

TSS

= 0,0035 kg/jam

TSS = 0,0035 kg/jam

TDS

= 0,0035 kg/jam

TDS = 0,0035 kg/jam

A. Hasil Akhir Pengolahan


No

Parameter Air

Sebelum Pengolahan

Setelah Pengolahan

Limbah
1

BOD

250 mg/L

6,8 mg/L

COD

250 mg/L

6,8 mg/L

TSS

300 mg/L

7 mg/L

TDS

300 mg/L

7 mg/L

21

PENUTUP
Kesimpulan
1. Pengolahan dengan proses Equalisasi, dapat diperoleh efisiensi 15 % terhadap TSS dan
TDS, jadi adanya penurunan besarnya TSS dan TDS masing-masing adalah :
a. TSS dari ( 0,15 kg/jam atau 300mg/L ) menjadi ( 0,13 kg/jam atau 260 mg/L )
b. TDS dari ( 0,15 kg/jam atau 300 mg/L ) menjadi ( 0,13 kg/jam atau 260 mg/L )
2. Pengolahan dengan proses Koagulasi dan Flokulasi, dapat diperoleh efisiensi 70 %
terhadap BOD, COD, TSS dan TDS, jadi adanya penurunan besarnya BOD, COD, TSS
dan TDS masing-masing adalah :
a. BOD dari ( 0,125 kg/jam atau 250 kg/jam ) menjadi ( 0,0375 kg/jam atau 75 mg/L )
b. COD dari ( 0,125 kg/jam atau 250 kg/jam ) menjadi ( 0,0375 kg/jam atau 75 mg/L )
c. TSS dari ( 0,13 kg/jam atau 260 mg/L ) menjadi ( 0,039 kg/jam atau 78 mg/L )
d. TDS dari ( 0,13 kg/jam atau 260 mg/L ) menjadi ( 0,039 kg/jam atau 78 mg/L )
3. Pengolahan dengan Proses Filtrasi, dapat diperoleh effisiensi sebesar 70 % terhadap BOD,
COD, TSS dan TDS, jadi adanya penurunan besarnya BOD, COD, TSS dan TDS, masing
masing adalah :
a. BOD dari ( 0,0375 kg/jam atau 75 kg/jam ) menjadi (0,01125 kg/jam atau 22,5 mg/L)
b. COD dari ( 0,0375 kg/jam atau 75 kg/jam ) menjadi (0,01125 kg/jam atau 22,5 mg/L)
c. TSS dari ( 0,039 kg/jam atau 78 mg/L ) menjadi ( 0,0117 kg/jam atau 23,4 mg/L )
d. TDS dari ( 0,039 kg/jam atau 78 mg/L ) menjadi ( 0,0117 kg/jam atau 23,4 mg/L )
4. Pengolahan dengan Proses Klorinasi, dapat diperoleh effisiensi sebesar 70 % terhadap
BOD, COD, TSS dan TDS, jadi adanya penurunan besarnya BOD, COD, TSS dan TDS,
masing masing adalah :
a. BOD dari (0,01125 kg/jam atau 22,5 kg/jam) menjadi (0,0034 kg/jam atau 6,8 mg/L)
b. COD dari (0,01125 kg/jam atau 22,5 kg/jam) menjadi (0,034 kg/jam atau 6,8 mg/L)
c. TSS dari (0,0117 kg/jam atau 23,4 mg/L) menjadi (0,0035 kg/jam atau 7 mg/L)
d. TDS dari ( 0,0117 kg/jam atau 23,4 mg/L ) menjadi ( 0,0035 kg/jam atau 7 mg/L )

5. Dari seluruh proses, diperoleh hasil pengolahan :


No

Parameter

Sebelum

Setelah

Kep.Menteri

Peraturan

Air

Pengolahan

Pengolahan

lingkungan hidup

MenKes RI

No 3 Tahun 2010

No. 82/2001

Limbah
1

BOD

250 mg/L

6,8 mg/L

50 mg/L

6 mg/L

COD

250 mg/L

6,8 mg/L

100 mg/L

12 mg/L

TSS

300 mg/L

7 mg/L

150 mg/L

500 mg/L

TDS

300 mg/L

7 mg/L

500 mg/L

6. Berdasarkan hasil pengolahan air Sungai Cisadane - Tangerang yang saya lakukan, maka
hasil akhir diperoleh BOD dan COD memenuhi baku mutu Keputusan Menteri lingkungan
hidup No 3 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah bagi kawasan industri, yaitu
sebesar 6,8 mg/L untuk BOD dimana kadar maksimum 50 mg/L; dan juga dihasilkan 6,8
mg/L untuk COD dimana kadar maksimum adalah 100 mg/L.
7. Demikian puka Hasil TSS = 7 mg/L dan TDS = 7 mg/L telah sesuai dengan Keputusan
Menteri lingkungan hidup No 3 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah bagi
kawasan industri, dimana nilai maksimal TSS dan TDS yaitu 150 mg/L.
8. Pada pengolahan air Sungai Cisadane, hasil yang diperoleh disesuaikan dengan Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 82/2001 Tentang Standar Baku Mutu Pengolahan Air Minum,
dimana hasil TDS yang diperoleh adalah 7 mg/L telah memenuhi persyaratan kualitas air
minum. Nilai maksimum TDS yang ditetapkan adalah 500 mg/L. Sementara untuk nilai
TSS hasil pengolahan sebesar 7 mg/L juga memenuhi persyaratan kualitas air minum,
dimana nilai maksimalnya sebesar 500 mg/L.
9. Untuk nilai BOD dan COD dari hasil pengolahan adalah 6,8 mg/L dan 6,8 mg/L, untuk
kadar BOD melebihi nilai maksimal yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 82/2001 Tentang Standar Baku Mutu Pengolahan Air Minum. Pada peraturan ini
ditetapkan nilai maksimalnya untuk BOD adalah 6 mg/L dan untuk kadar COD masih di
bawah kadar maksimum yaitu 12 mg/L.

23

DAFTAR PUSTAKA
http://harainternational.wordpress.com/2013/04/17/pengertian-bod-dan-cod/
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/01/pengertian-bod-cod-tss-pada-airlimbah.html
http://rifihamdani.wordpress.com/2011/11/17/tds-untuk-standar-air-sehat/
http://jdih.menlh.go.id/pdf/ind/IND-PUU-7-2010-Permen
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/53_Permenkes

DIAGRAM ALIR KUANTITATIF


inffluent
BOD
COD
TSS
TDS

=
=
=
=

0,125 kg/jam
0,125 kg/jam
0,15 kg/jam
0,15 kg/jam
TSS
TDS

EQUALISASI

= 0,02 kg/jam
= 0,02 kg/jam

BOD = 0,125 kg/jam


COD = 0,125 kg/jam
TSS = 0,13 kg/jam
TDS = 0,13 kg/jam
Al2(SO4)3
= 0,021 kg/jam

KOAGULASI
BOD =
COD =
TSS =
TDS =
Al2(SO4)3

BOD
COD
TSS
TDS

FLOKULASI

0,0875 kg/jam
0,0875 kg/jam
0,091 kg/jam
0,091 kg/jam
= 0,021 kg/jam

=
=
=
=

0,0375 kg/jam
0,0375 kg/jam
0,039 kg/jam
0,039 kg/jam

SEDIMENTASI

FILTRASI

BOD
COD
TSS
TDS

=
=
=
=

0,01125 kg/jam
0,01125 kg/jam
0,0117 kg/jam
0,0117 kg/jam
KLORINASI

BOD =
COD =
TSS =
TDS =

0,0034 kg/jam
0,0034 kg/jam
0,0035 kg/jam
0,0035 kg/jam

BAK PENAMPUNG

BOD =
COD =
TSS =
TDS =

0,0034 kg/jam
0,0034 kg/jam
0,0035 kg/jam
0,0035 kg/jam

BOD
COD
TSS
TDS

=
=
=
=

0,02625 kg/jam
0,02625 kg/jam
0,0273 kg/jam
0,0273 kg/jam

BOD = 0,0079 kg/jam


COD = 0,0079 kg/jam
TSS = 0,0082 kg/jam
TDS = 0,0082 kg/jam
Ca(Ocl)2 = 0,0013 kg/jam

Effluent
Q eff = 0,5 m3/jam
BOD = 0,0034 kg/jam
COD = 0,0034 kg/jam
TSS = 0,0035 kg/jam
TDS = 0,0035 kg/jam
25