Anda di halaman 1dari 5

Apa perbedaan asuransi sebelum dan sesudah berlakunya BPJS?

Apa tanggapan
Saudara tentang berlakunya BPJS?

Asuransi Sosial adalah asuransi yang pada dasarnya memberikan perlindungan


kepada masyarakat luas, terhadap semua kemungkinan kerugian yang diderita di luar
kemampuan orang-orang pribadi, sehingga asuransi sosial menyangkut kepentingan
masyarakat, yang ditanggung oleh penanggung berupa risiko kolektif dari masyarakat atau
sebagian anggota masyarakat tertentu.
Penerapan prinsip asuransi sosial merupakan hal yang penting bagi Indonesia, karena:
1. Dengan mewajibkan anggota masyarakat untuk mengikuti asuransi, maka asuransi
sosial memungkinkan pengucuran uang bagi pemeliharaan kesehatan.
2. Asuransi sosial memastikan adanya sumber pendapatan yang stabil bagi sektor
kesehatan.
3. Asuransi sosial tidak mengurangi dana yang tersedia bagi Kementerian Kesehatan.
4. Asuransi sosial meningkatkan kesehatan para pekerja yang amat vital bagi
pertumbuhan negara.
5. Apabila memiliki fasilitas-fasilitas sendiri, maka asuransi sosial menggunakan dana
dengan lebih efisien daripada sektor swasta.
Seharusnya

Indonesia

telah

menerapkan

negara

kesejahteraan

sejak

awal

kemerdekaan. Namun pada kenyataannya Indonesia tertinggal dibanding negara lain.


Misalnya program Jaminan Kesehatan baru dimulai pada 1968 melalui Askes, sedangkan
untuk pekerja swasta baru dimulai tahun 1976 melalui Jamsostek. Padahal, sebagai contoh,
negara Malaysia merdeka pada tanggal 31 Agustus 1957 namun sudah memulai jaminan
sosial tenaga kerja pada tahun 1959 dengan nama Employee Provident Fund. Ketertinggalan
ini berdampak pada ketertinggalan Indonesia membentuk tabungan nasional.

Akibatnya

tabungan nasional Malaysia dan Singapura jauh melebihi dari Indonesia. Inilah salah satu
penyebab pada saat terjadi krisis moneter tahun 1997/1998 Indonesia terpuruk.
Dalam perkembangannya, asuransi sosial di Indonesia tidak menunjukkan hasil yang
diharapkan. Hal ini dikarenakan antara lain:
1. Legislasi program jaminan sosial di Indonesia belum komprehensif.
2. Tidak ada interrelasi antar berbagai program.

3. Tidak berdasarkan konsep yg konsisten.


4. Perkembangannya lambat sementara manfaatnya minim sehingga program jamsostek
tidak populer.
Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
dibentuklah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang
selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. Fungsi BPJS adalah menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan,
Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun.
Sedangkan tugas BPJS adalah:
1. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran Peserta,
2. Memungut dan mengumpulkan iuran dari Peserta dan Pemberi Kerja,
3. Menerima Bantuan Iuran dari Pemerintah,
4. Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan Peserta,
5. Mengumpulkan dan mengelola data Peserta program jaminan sosial,
6. Membayar manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan
program jaminan sosial, dan
7. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada
Peserta dan masyarakat.
BPJS terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan
berfungsi untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan, sedangkan BPJS
Ketenagakerjaan berfungsi menyelenggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan
Kematian, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun. BPJS Kesehatan mulai beroperasi tanggal
1 Januari 2014. Sejak beroperasinya BPJS Kesehatan:
1. Kementerian Kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas,
2. Kementerian Pertahanan, TNI dan Polri tidak lagi menyelenggarakan program
pelayanan kesehatan kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu yg berkaitan dengan
kegiatan operasionalnya,
3. PT Jamsostek tidak lagi menyelenggarakan program jaminan pemeliharaan kesehatan,
4. PT Askes dinyatakan bubar tanpa likuidasi.
Dengan penetapan BPJS Kesehatan maka Indonesia memasuki era baru dimana akan
terbentuk sebuah sistem pembayar tunggal (single entry payer system) layanan medis untuk

seluruh penduduk. Dengan demikian diharapkan terwujudnya sebuah Sistem Jaminan


Kesehatan Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia.
PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1
Januari 2014. BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan
kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program jaminan pensiun, dan program jaminan
kematian bagi Peserta, selain peserta program yang dikelola PT TASPEN (Persero) dan PT
ASABRI (Persero). PT ASABRI (Persero) menyelesaikan pengalihan program Asuransi
Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan PT TASPEN (Persero) menyelesaikan
pengalihan program tabungan hari tua dan program pembayaran pensiun ke BPJS
Ketenagakerjaan paling lambat tahun 2029. BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi
menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program
jaminan pensiun, dan program jaminan kematian bagi Peserta, selain peserta program yang
dikelola PT TASPEN (Persero) dan PT ASABRI (Persero), paling lambat tanggal 1 Juli
2015.
Dengan ditetapkannya BPJS terutama BPJS Kesehatan, maka diharapkan kondisikondisi jaminan sosial kesehatan yang kurang memadai di Indonesia dapat diperbaiki
sehingga Universal Coverage Jaminan Kesehatan dapat tercapai. Aspek-aspek yang
diharapkan dapat menunjukkan hasil yang signifikan adalah:
1. Berdasarkan aspek kepesertaan, saat ini jumlah peserta Askes PNS adalah sebanyak
16,8 juta jiwa, anggota TNI dan Polri sebanyak 3,5 juta jiwa, penduduk miskin dan
tidak mampu sebanyak 76,4 juta jiwa, peserta JPK Jamsostek sebanyak 4,4 juta jiwa,
peserta Jamkesda/PJKMU sebanyak 11,3 juta jiwa peserta Askes Komersial sebanyak
8,8 juta jiwa, total sebanyak 121,2 juta jiwa. Diharapkan Program BPJS Kesehatan
dapat menjaring seluruh penduduk sehingga untuk ke depannya diharapkan ada
pertumbuhan peserta sebanyak 3-4 juta jiwa per tahun.
2. Berdasarkan aspek manfaat, saat ini manfaat yang diterima oleh peserta asuransi
sangat bervariasi:

Ada yang kurang memenuhi kebutuhan medis dasar, ada yang melebihi kebutuhan
medis dasar. Ada yang parsial, ada yang komprehensif

Cost sharing/excess claim besar

Utilisasi review dan case management belum optimal.

Diharapkan untuk ke depannya, manfaat yang diterima peserta sesuai standar:

Sesuai Kebutuhan Medis

Komprehensif: promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

Cost Sharing hanya untuk mencegah penyalahgunaan.

3. Berdasarkan aspek fasilitas kesehatan, saat ini fasilitas kesehatan yang disediakan
pemerintah sangat bervariasi:

Ada yg hanya sampai PPK II Kabupaten, ada yg sampai PPK III Propinsi tapi ada
yg sampai luar negeri. Ada yg melibatkan PPK Swasta di semua jenjang, ada yg
hanya PPK Pemerintah

Ada yg memenuhi prinsip portabilitas, ada yang tidak.

Diharapkan untuk ke depannya, jumlah fasilitas kesehatan mencukupi dan kualitas


memadai. Fasilitas kesehatan pemerintah & swasta yang bergabung bertambah, ada
kompensasi bila faskes tak tersedia di suatu wilayah, dan pelayanan standar sesuai
dengan kelasnya.
4. Berdasarkan aspek pembiayaan, saat ini belum terpenuhi dengan baik:

Iuran sangat bervariasi baik dari nilai besaran mau cara pengumpulannya.

Pembayaran PPK bervariasi. Ada yang dengan sistem kapitasi, DRG, maupun
reimbursement.

Skema pembiayaan sebagian besar masih bantuan sosial, yang menggunakan


skema collecting premi masih sedikit.

cost containment belum optimal.

Diharapkan ke depannya aspek pembiayaan dapat diperbaiki:

Segi iuran memiliki standar jelas, baik dari persentase maupun nominalnya.

Pembayaran memiliki pola yg sama yaitu prospective payment.

Skema pembiayaan berupa asuransi sosial bagi peserta PBI dan iuran bagi peserta
non-PBI.

Cost containment optimal dengan UR.

5. Berdasarkan aspek kelembagaan, saat ini masih memiliki kekurangan-kekurangan


berupa:

Kelembagaan yang masih bervariasi, belum terkoordinasi dan masih menunggu


regulasi.

Pola pengelolaan masih berbeda-beda antar lembaga.

Kapasitas organisasi sangat bervariasi.

Prosedur operasi yang tidak sama.

Diharapkan untuk ke depannya, kekurangan-kekurangan dalam aspek kelembagaan


dapat teratasi:

Kelembagaan terkoordinasi sesuai dengan regulasi.

Memiliki Pola pengelolaan yang sama sesuai dengan regulasi.

Memiliki prosedur operasi standar yang sama.

Tanggapan atas berlakunya BPJS:


Ke depan nanti, BPJS perlu memperbaiki kerjasamanya dengan fasilitas kesehatan.
Terutama sehubungan dengan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
peserta dan sistem pembayaran kepada fasilitas kesehatan. Tujuannya agar mutu
pelayanan yang diberikan kepada peserta lebih memuaskan. Dengan demikian,
pelaksanaan universal coverage pelayanan kesehatan yang bertepatan dengan
beroperasinya BPJS Kesehatan Tahun 2014, menjadi solusi bagi pemenuhan hak
penduduk untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pemerintah
sendiri

perlu

segera

menetapkan

peraturan

pelaksanaan

yang

mendukung

beroperasinya BPJS Kesehatan, sebagai payung hukum yang bersifat operasional bagi
penyelenggaraan program jaminan kesehatan.