Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang dan Rumusan Masalah

1.1.1 Latar Belakang


Kemajuan teknologi otomasi industri pada saat ini sudah semakin pesat dan
luas hal ini didorong oleh kebutuhan industri yang semakin berkembang dan
bervariasi dari tahun ketahun, kemajuan ini dapat dilihat dengan semakin banyak
industri yang menggunakan sistem otomasi dalam menjalankan proses-proses
produksinya, seperti pada industri perakitan mobil, industri manufactur, industri
makanan, industri minuman, industri elektronik, industri kosmetik, dan lain
sebagainya.
Begitu pesat dan luas penggunaan sistem otomasi disetiap bidang industri,
yang mana sistem otomasi tersebut tidak lepas dari penggunaan sistem kontrol
konvensional yang terdiri dari beberapa komponen yaitu Relai, Kontaktor,
magnetik kontaktor , namun sistem tersebut sudah semakin ditinggalkan karena
memiliki banyak kelemahan dan digantikan oleh kehadiran PLC ( Programmable
Logic Controller ) yang memiliki banyak kelebihan.
PLC (Programmable Logic Controller ) merupakan sebuah alat yang
digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relai yang dijumpai pada
sistem kontrol proses konvensional, dirancang untuk mengontrol suatu proses
permesinan secara otomatis. Jenis dan tipe PLC sangat banyak dan berpariasi
sesuai dengan perusahaan yang mengeluarakan produk PLC tersebut.
PLC banyak digunakn pada aplikasi-aplikasi industri, misalnya pada proses
pengepakan, penanganan bahan, perakitan otomatis dan lain-lain. Dengan kata
lain, hampir semua aplikasi yang memerlukan kontrol listrik atau elektronik
membutuhkan PLC.

1.1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diajukan adalah :

1.2

1.

Jenis apa saja yang tergolong pada Programmable Logic Controller?

2.

Bagaimana aplikasi PLC pada kehidupan sehari-hari?

3.

Apa keuntungan dan kekurangan dari PLC?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui jenis apa saja yang tergolong pada Programmable
Logic Controller Untuk mengetahui bagaimana proses pembangkit
listrik tenaga panas bumi.
2. Untuk mengetahui aplikasi PLC pada kehidupan sehari-hari
3. Untuk mengetahui keuntungan dan kekurangan dari PLC

1.3

Sistematika Penulisan
Penulisan laporan penelitian ini terbagi atas empat bab. Pembicaraan

dimulai dengan pendahuluan sebagi bab pertama memuat latar belakang dan
rumusan masalah, tujuan penulisan, serta sistematika penulisan.
Selanjutnya

bab

dua

dijabarkan

teori-teori

mengenai

pengertian

programmable logic controller, jenis jenis programmable logic controller,


arakteristik kerja programmable logic controller, aplikasi programmable logic
controller dalam kehidupan sehari hari, dan keunggulan dan kekuranga
programmable logic controller.
Pada bab tiga dikemukakan mengenai simulasi atau aplikasi programmable
logic controller dalam kehidupan sehari hari.
Pada bab terakhir ini yaitu bab 4 merupakan simpulan dari hasil
pembahasan. Pada bab ini dikemukakan juga saran-saran.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Sejarah Programmable Logic Controller


PLC pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960-an. PLC dibuat untuk

mengurangi beban ongkos perawatan dan penggantian sistem kontrol mesin yang
menggunakan relai. Bedford Associates mengusulkan MODICON (Modilar
Digital Controller) untuk perusahaan yang ada di Amerika. MODICON 084
merupakan PLC pertama yang digunakan pada produksi yang bersifat komersil.
Semakin banyaknya kebutuhan dalam proses produksi menyebabkan sistem
harus diubah-ubah. Apabila sistem yang digunakan merupakan relai mekanik,
tentu saja hal itu akan menjadi masalah yang besar. Selain masa penggunaanya
terbatas, sistem juga membutuhkan perawatan yang cermat. Jika terjadi kerusakan
maka akan sangat sulit untuk menemukannya. Oleh sebab itulah dibutuhkan
pengontrolan yang memudahkan baik dalam perawatan maupun penggunaanya.
Pada tahun 70-an, teknologi PLC yang dominan adalah mesin sequencer dan
CPU yang berbasis bit-slice. Prosesor AMD 2901 dan 2903 cukup populer
digunakan dalam MODICON dan PLC A-B. kemampuan komunikasi pada PLC
muncul pada awal tahun 1973. Sistem yang pertama adalah Modbus dari
MODICON.
Pada tahun 1980-an dilakukan usaha untuk menyetandarisasi komunikasi
dengan protokol milik General Motor (MAP). Pada tahun 1990-an dilakukan
reduksi protokol baru dan mederenisasi lapisan fisik dari protokol-protokol yang
populer pada tahun 1980-an. Standart terakhir yaitu IEC 1131-3, berusaha
menggabungkan bahasa pemograman PLC dibawah satu standart.

2.2

Pengertian Programmable Logic Controller


PLC (Programmable Logic Controller) ialah rangkaian elektronik berbasis

mikroprosesor yang beroperasi secara digital, menggunakan programmable


memory untuk menyimpan instruksi yang berorientasi kepada pengguna, untuk
melakukan fungsi khusus seperti logika, sequencing, timing, arithmetic, melalui
input baik analog maupun discrete / digital, untuk berbagai proses permesinan[1].
PLC merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian
sederetan relai yang banyak dijumpai pada sistem kontrol konvensional, dirancang
untuk mengontrol suatu proses permesinan[2].
PLC jika dibandingkan dengan sistem kontrol konvensional memilki banyak
kelebihan antara lain :
1. Butuh waktu yang tidak lama untuk membangun, memelihara, memperbaiki
dan Mengembangkan sistem kendali, pengembangan sistem yang mudah.
2. Ketahanan PLC jauh lebih baik, Lebih murah.
3. Mengkonsumsi daya lebih rendah.
4. Pendeteksian kesalahan yang mudah dan cepat.
5. Pengkabelan lebih sedikit.
6. Perawatan yang mudah.
7. Tidak membutuhkan ruang kontrol yang besar.
8. Tidak membutuhkan spare part yang banyak, dan lain-lain.

2.3

Jenis Jenis Programmable Logic Controller


Berdasarkan jumlah input/output yang dimilikinya ini. secara umum PLC

dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar:


1. PLC mikro. PLC dapat dikatagorikan mikro jika jumlah input/ output pada
PLC ini kurang dari 32 terminal
2. PLC mini. Katagori ukuran mini ini adalah jika PLC tersebut memiliki
jumlah input/output antara 32 sampai 128 terminal.
4

3. PLC large. PLC ukuran ini dikenal juga dengan PLC tipe rack PLC dapat
dikatagorikan sebagai PLC besar jika jumlah input/ output-nya lebih dari
128 terminal.
Fasilitas, kemampuan, dan fungsi yang tersedia pada setiap kategori tersebut
pada umumnya berbeda satu dengan lainnya. Semakin sedikit jumlah input/output
pada PLC tersebut maka jenis instruksi yang tersedia juga semakin terbatas. Dari
ukuran dan kemampuannya, PLC dapat dibagi menjadi jenis jenis berikut:
1.

Tipe compact
Ciri ciri dari PLC jenis ini adalah :
-

Seluruh komponen (power supply, CPU, modul I/O, modul


komunikasi) menjadi satu.

Umumnya berukuran kecil (compact)

Mempunyai jumlah I/O relatif sedikit dan tidak dapat diexpand.

Tidak dapat ditambah modul modul khusus

Gambar 2.1 PLC Compact Micro Logix Dari Allen Bradle

2.

Tipe modular
Ciri ciri PLC jenis ini adalah :
-

Komponen komponenya terpisah ke dalam modul modul

Berukuran besar

Memungkinkan untuk ekspansi jumlah I/O (shingga jumlah lebih


banyak)

Memungkinkan penambahan modul modul khusus

Gambar 2.2 PLC modular dari Omron

Saat ini banyak merk merk serta type PLC yang banyak dipakai di industri
mulai dari low-end sampai yang high-end, berikut beberapa merk serta type PLC
yang banyak dipakai di industri :
1. Allen Bradley

Gambar 2.3 Contoh PLC Allen Bradley

Tabel 2.1 Karakteristik PLC Allen Bradley

Jenis
Logix-5 Family
Logix-500 Family
Logix-5000 Family

Type PLC
PLC-5
SLC-500
Micrologix
ControlLogix
CompactLogix
FlexLogix

Software yang digunakan untuk membuat program dari PLC Allen


Bradley adalah RSL LOGIC

Gambar 2.4 Tampilan Software RSL LOGIC

Gambar 2.5 Tampilan Simulator RSL LOGIC

2. Siemens

Gambar 2.6 Contoh PLC Siemens

Tabel 2.2 Karakteristiki PLC Siemens

Jenis

Type PLC

S7-200
S7-1200
S5-115U
Modular PLC
S7-300
S7-400
Software yang digunakan untuk membuat program dari PLC Siemens
Micro PLC

adalah SIMATIC STEP 7

Gambar 2.7 tampilan software simatic s7

3. Omron

Gambar 2.8 Contoh PLC Omron CPM 1

Tabel 2.3 Karakteristik PLC OMRON

Jenis

Type PLC

CPM1A
CP1E
CP1L
CJ1M
Basic PLC
CQM1H
CJ1H/CJ1G
Modular
CS1H/CS1G
Software yang digunakan untuk membuat program dari PLC Omron
Micro PLC

adalah Syswin atau CX-Programmer, namun pada syswin tidak terdapat


aplikasi untuk simulator, berbeda dengan CX-Programmer terdapat
aplikasi simulator

Gambar 2.9 Tampilan software syswin

Gambar 2.10Tampilan software CX-Programmer

4. Schneider

Gambar 2.11 Contoh PLC Schneider

Tabel 2.4 Karakteristik PLC Schneider

Jenis
Type PLC
Micro PLC
Modicon M340
Machine Control
Modicon Premium
PLC
Process Control PLC Modicon Quantum
Programmable
Twido
Controller
Smart Relay
Zelio
Software yang digunakan untuk membuat program dari PLC Schneider
adalah Twido dan Zelio Soft, kedua software ini memiliki aplikasi bawaan
yaitu simulator PLC, dan software ini dapat di unduh secara gratis, karena
pabrik pembuat tidak menyertakan software tersebut.

Gambar 2.12 Tampilan Software Twido

10

Gambar 2.13 Tampilan software zelio soft

5. Mitsubishi

Gambar 2.14 Contoh PLC Mitsubishi

Tabel 2.5 Karakteristik PLC Mitsubishi

Jenis

Type PLC
MELSEC FX3UC
MELSEC FX3G
Compact PLC
MELSEC FX1N
MELSEC FX1S
Modular PLC
Q-Series Q00UJCPU
Process Control
Q12PHCPU
Software yang digunakan untuk membuat program dari PLC Mitsubishi
adalah GX Developer Ver. 8 Atau SW 8 Sebagai GPPW nya Dan GX
Simulator Ver. 7 atau SW 7 Sebagai LLT nya.

11

Gambar 2.15 Tampilan Software GX Developer V.8

Gambar 2.16 Tampilan Software GX Simulator

2.4

Komponen Utama PLC


Komponen utama atau perangkat keras penyusun plc adalah catu daya atau

power supply, cpu (central processing unit) yang didalamnya terdapat prosesor,
dan memori, modul masukan (input modul), dan modul keluaran (output modul),
dan perangkat pemrograman

Gambar 2.17. Komponen-komponen utama PLC[3].

12

a. Catu daya atau power supply


Catu daya listrik digunakan untuk memberikan pasokan daya keseluruh
komponen-komponen PLC. Kebanyakan PLC bekerja dengan catu daya 24
VDC atau 220 VAC, beberapa PLC catu dayanya terpisah (sebagai modul
tersendiri), yang demikian biasanya merupakan PLC besar, sedangkan
PLC medium atau kecil catu dayanya sudah menyatu.

b. CPU (central processing unit)


CPU atau unit pengolahan pusat, terdiri dari 3 komponen penyusun : (1)
prosesor, (2) memori dan (3) catu daya ( power supply )

Gambar 2.18 Komponen utama penyusun CPU[4]

Prosesor merupakan otak dari sebuah PLC , fungsi utama adalah mengatur
tugas pada keseluruhan sistem PLC, mengerjakan berbagai operasi antara
lain mengeksekusi program, menyimpan dan mengambil data dari memori,
membaca nilai input dan mengatur nilai output, memeriksa kerusakan,
melakukan operasi-operasi matematis, manipulasi data, tugas-tugas
diagnostik, serta melakukan komunikasi dengan perangkat lain.

13

Gambar 2.19 Sistem PLC[5]

Memori adalah area dalam CPU PLC tempat data serta program disimpan
dan dieksekusi oleh prosesor, pengetahuan tentang sistem memori pada
PLC akan sangat membantu dalam memahami cara kerja PLC. Secara
umum memori dapat dibagi dua kategori: Volatile ( mudah hilang ) dan
Nonvolatile, program atau data pada memori volatile akan hilang jika catu
daya PLC mati. Memori ini juga dikenal dengan nama RAM ( Random
Acces Memory ). Dalam sebagian PLC memori jenis RAM masih
digunakan untuk menyimpan program pengguna ( aplikasi ) dengan
menggunakan baterai sebagai back up daya jika catu daya mati. Adapun
sifat dari memori nonvolatile yaitu program atau data yang tersimpan di
dalamnya tidak akan hilang walaupun catu daya PLC mati, yang termasuk
kategori ini adalah :
1.

ROM (Read-Only Memory ) jenis memori ini dirancang untuk menyimpan


data atau program secara permanen. Pada PLC, ROM digunakan untuk
menyimpan sistem operasi dan bios

2.

PROM ( Programmable Read-Only Memory ) memori ini dapat diprogram


ulang dengan menggunakan alat pemrograman khusus. digunakan untuk
back up program.
14

3.

EPROM ( Erasable Programmable Read-Only Memory ) memori ini


turunan dari jenis PROM yang dapat diprogram ulang setelah program
yang sebelumnya dihapus dengan menggunakan Sinar Ultraviolet.

4.

EEPROM ( Electrically Erasable Programmable Read-Only Memory )


adalah memori nonvolatile yang menyerupai RAM. Kebanyakan PLC
menggunakan memori jenis ini untuk menyimpan program pengguna,
alasan utama adalah kemudahan dalam mengubah program pada memori
tersebut, yaitu hanya dengan menggunakan prangkat pemrograman PLC
itu sendiri, misalnya Komputer atau unit miniprogramer. Salah satu
kerugian memori jenis ini adalah keterbatasan dalam kemampuan hapustulisnya ( Erase/Write ) yaitu sekitar 10.000 kali.

c. Modul masukan dan modul keluaran


Modul masukan dan keluaran adalah perantara antara PLC dengan
perangkat keras masukan dan perangkat keras keluaran. Gambar 2.4
menunjukan posisi keduanya dalam sistem PLC. Modul masukan dan
keluaran pada PLC mini umumnya sudah Built in di PLC. Tujuannya
adalah melindungi CPU PLC dari sinyal yang tidak dikehendaki yang
dapat merusak CPU itu sendiri. Modul masukan dan modul keluaran ini
berfungsi untuk mengkonversi atau mengubah sinyal-sinyal masukan dari
perangkat keras masukan ke sinyal-sinyal yang sesuai dengan tegangan
kerja CPU PLC (misalnya masukan dari sensor dengan tegangan kerja 5
Volt DC harus dikonversikan menjadi tegangan 24 Volt DC agar sesuai
dengan tegangan kerja CPU PLC). Hal ini dapat dilakukan dengan mudah
yaitu dengan menggunakan opto-isolator sebagaimana ditunjukan pada
gambar 2.4.

15

Gambar 2.20 Rangkaian modul masukan[5]

Dengan menggunakan opto-isolator maka tidak ada hubungan kabel sama


sekali antara perangkat keras masukan/keluaran dengan unit CPU. Secara
optic dipisahkan (perhatikan gambar 2.5) dengan kata lain, sinyal
ditransmisikan melalui cahaya. Cara kerjanya sederhana, perangkat keras
masukan akan memberikan sinyal untuk menghidupkan LED (dalam optoisolator) akibatnya phototransistor akan menerima cahaya dan akan
menghantarkan arus (ON), CPU akan melihatnya sebagai logika nol.
Begitu juga sebaliknya, saat sinyal masukan tidak ada lagi maka LED akan
mati dan phototransistor akan berhenti menghantar sinyal (OFF), CPU
akan melihatnya sebagai logika satu.
Perbedaan antara modul masukan dan modul keluaran adalah LED pada
modul masukan dihidupkan oleh perangkat keras masukan sementara LED
pada modul keluaran dihidupkan oleh CPU PLC.

16

Gambar 2.21 Rangkaian modul keluaran[5]

d. Perangkat pemrograman (programming device)


Programming Device adalah alat untuk memasukan (membuat atau mengedit)
program ke dalam PLC. Ada 2 perangkat program yang biasa digunakan,
diantaranya : (1) Miniprogrammer atau Programming Console, dan (2)
Komputer.

1.

Miniprogrammer atau Konsole.


Miniprogrammer atau Programming Console (biasa disebut Konsol) adalah
sebuah

perangkat

seukuran

kalkulator

saku

yang

berfungsi

untuk

memasukkan instruksi-instruksi program ke dalam PLC. Umumnya, instruksiinstruksi program dimasukan dengan mengetikkan simbol-simbol diagram

tangga dengan menggunakan kode mnemonik (Mnemonic Code). Sebagai


contoh, untuk memprogram diagram tangga pada gambar dibawah ini
dengan menggunakan PLC produksi OMRON maka diketikkan instruksi instruksi pada Programming Console sebagai berikut:

17

Gambara 2.22 Diagram tangga yang akan diketik pada konsol[4]

Tabel 2.6 Contoh kode mnemonik dan pengalamatan untuk gambar 2.4
Kode Mnemonik

Alamat

LD

00000

OR

00002

AND

00001

OUT

00100

OUT

00101

Dalam hal ini, simbol-simbol LD, OR LD, AND OUT adalah kode
mnemonik yang dapat berbeda, tergantung vendor pembuat PLC (
misalnya instruksi LD ekivalen dengan instruksi STR pada PLC produksi
Allen Bradley ) sedangkan bilangan numeris 00000, 00002, 00100, dan
00100 adalah parameter yang berupa alamat-alamat terminal masukan dan
terminal keluaran PLC tersebut

Pada umumnya, miniprogrammer dirancang untuk kompatibel dengan dua


atau lebih PLC dalam sebuah tipe. Selain digunakan untuk memasukkan
program diagram ladder, beberapa jenis miniprogrammer juga dilengkapi
fasilitas untuk monitoring klan tugas-tugas diagnostic
18

Gambar 2.23 MiniProgrammer

2.

Komputer
Pemrograman PLC dengan menggunakan miniprogrammer ini akan sangat
melelahkan jika jumlah anak tangga pada diagram ladder yang akan
diprogram berukuran relatif besar. Umumnya, penggunaan konsol ini
biasa

digunakan

hanya

untuk

pengeditan

program

saja.

Untuk

memasukkan program secara keseluruhan pada PLC, dapat digunakan


Komputer.Vendor-vendor PLC umumnya menyertakan perangkat lunak (
Software ) untuk mengimplementasikan pemasukan program diagram
tangga, pengeditan, dokumentasi dan monitoring ke dalam PLC.

Gambar 2.24 Pemrograman PLC dengan menggunakan komputer

e.

Perangkat keras masukan dan keluaran PLC


PLC

harus

dihubungkan

dengan perangkat keras masukan sebagai

pengendali dan perangkat keras keluaran sebagai sesuatu

yang

dikendalikan sementara PLC tersebut bekerja sebagai pemroses, seperti


diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

19

Gambar 2.25 Perangkat masukan dan perangkat keluaran PLC

1.

Perangkat keras masukan (input device)


Input Device merupakan bagian PLC yang berhubungan dengan perangkat
luar yang memberikan masukan kepada CPU, perangkat masukan dapat
berupa tombol, Switch, Saklar, Sensor atau perangkat ukur lain. Perangkat
masukan memicu eksekusi logika/program pada PLC

Gambar 2.26 Perangkat keras masukan PLC[4]

Perangkat masukan PLC terbagi dua yaitu : Perangkat Masukan Digital


(Digital Input Device ) dan Perangkat Masukan Analog ( Analog Input
Device ). Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami istilah
diskrit dan analog. Karena keduanya menentukan sinyal yang akan
diterima

atau

dihasilkan

oleh

peralatan.

Discrete

input

device

menghasilkan sinyal 0 dan 1, sedang analog input device menghasilkan


sinyal dengan range tertentu (0, 1, 2, 3, 4, ). Demikian juga discrete
output device diaktifkan oleh sinyal 0 dan 1, sedang analog output device
dapat diaktifkan oleh sinyal dengan range tertentu (0, 1, 2, 3, 4,), Diskrit
yang pada dasarnya hanyalah sinyal-sinyal hidup/ mati, adapun analog
yaitu sinyal-sinyal yang amplitudonya mempresentasikan magnitude
kuantitas yang dideteksi. Sinyal analog yang sering dijumpai adalah sinyal
20

arus 4-20 mA, tegangan 0-5 Volt. Perangkat keras masukan yang termasuk
digital ( digital input device ) adalah:
a.

Selector switches, push buttons, thumbwheel switches

Gambar 2.27Push Button

Gambar 2.28 thumbwheel

switches

b.

Photoelectric eyes, limit switches, circuit breakers

Gambar 2.29 Photoelectric eyes

21

Gambar 2.30 limit switches

c.

Proximity switches, level switches

Gambar 2.31 Proximity switches

Gambar 2.32 level switches

Perangkat keras masukan yang termasuk analog (analog input device) adalah:

a. Temperature sensors

Gambar 2.33 Temperature Sensors

22

b. Pressure sensors

Gambar 2.34 Pressure Sensosrs

c. Flow sensors

Gambar 2.35 Flow Sensors

2.

Perangkat keras keluaran (output device)


Output Device Merupakan bagian PLC yang berhubungan dengan
perangkat luar yang memberikan keluaran dari CPU, perangkat keluaran
dapat berupa Motor AC/DC, lampu, katup dan lain-lain. Perangkat
keluaran tersebut akan bekerja sesuai dengan perintah yang dimasukan
kedalam PLC.

Gambar 2.36 Perangkat keras keluaran [4]

Perangkat keluaran PLC juga terbagi dua yaitu : Perangkat Keluaran


23

Digital (Digital Output Device ) dan Perangkat Keluaran Analog ( Analog


Output Device).
Perangkat keras keluaran yang termasuk digital ( Digital Output Device )
adalah:
a.

Alarms

Gambar 2.237 Alarm


b.

Control relays

Gambar 2.38 Control Relays


c.

Motor starters, solenoids

Gambar 2.39 Motor Starter

24

Gambar 2.40 Selenoids

Perangkat keras keluaran yang termasuk analog ( Analog Output Device )


adalah:
a. Analog Valves

Gambar 2.41 Analog valves

b. Actuators

Gambar 2.42 Actuators

c. Electric Motor Drives

Gambar 2.43 Electric motor drives

2.5

Bahasa Pemrograman Pada PLC


Berkaitan dengan pemrograman PLC, ada lima model atau metode yang

telah distandardisasi penggunaannya oleh IEC (International Electrotechnical


Commission) 1131-3 adalah sebagai berikut:
25

a. List Instruksi (instruction list)


Pemrograman dengan menggunakan instruksi-instruksi bahasa level rendah
(Mnemonic), seperti LD, AND, OR dan lain sebagainya.

Table 2.7 Contoh list instruksi

ALAMAT

INSTRUKSI

OPERAN

LD

00000

AND NOT

00001

OUT

00002

END

b. Giagram Tangga (ladder diagram)


Diagram Tangga (Ladder Diagram) Pemrograman berbasis logika relai,
cocok

digunakan

untuk

persoalan-persoalan

kontrol

diskret

yang

input/output hanya memiliki dua kondisi on atau off seperti pada sistem
kontrol konveyor, lift, dan motor-motor industri.

Gambar 2.44 Diagram tangga

c. Diagram blok fungsi (function blok diagram)


Diagram Blok Fungsi ( Function Blok Diagram ) Pemrograman berbasis aliran
data Secara grafis. Banyak digunakan untuk tujuan kontrol proses yang
melibatkan Perhitungan-perhitungan kompleks dan akuisisi data analog.

26


(a)

(b)

Gambar 2.45 (a) Diagram tangga, (b) diagram blok fungsional

d. Diagram fungsi sekuensial (sequential function/flow charts)


Diagram Fungsi Sekuensial (Sequential Function/Flow Charts) - Metode
grafis untuk pemrograman terstruktur yang banyak melibatkan langkahlangkah rumit, seperti pada bidang robotika, perakitan kendaraan, Batch
Control, dan lain sebagainya.

Gambar 2.46 Diagram fungsi sekuensial

e. Teks terstruktur (structured text)


Tidak

seperti

ke-empat

metode

sebelumnya,

pernrograman

ini

menggunakan statemen-statemen yang umum dijumpai pada bahasa level


tinggi (high level programming) seperti If/Then, Do/While, Case, For/Next,
dan lain sebagainya. Dalam aplikasinya, model ini cocok digunakan untuk
perhitungan-perhitungan matematis yang kompleks, pemrosesan tabel, serta
fungsi fungsi kontrol yang memerlukan algoritma khusus.

27

Gambar 2.47 Teks Terstruktur

2.6

Pemilihan Penggunaan PLC


Dalam

memilih

PLC

untuk

keperluan

mempertimbangkan beberapa faktor, diantarnya :


a. Kriteria
b. Jumlah Masukan dan Keluaran Logika
c. Memori
d. Jumlah Modul I/O khusus
e. Kemampuan Ekspansi
f. Scan Time
g. Komunikasi
h. Software
i. Pendukung
j. Dana

28

sistem

otomasi,

harus

BAB III
SIMULASI

3.1

Konveyor
Konveyor adalah salah satu jenis alat pengangkut atau pemindah yang

berfungsi untuk mengangkut atau memindahkan bahan-bahan industri yang


berbentuk padat, terdiri dari ban berbentuk bulat menyerupai sabuk (Belt) yang
diputar oleh motor. Konveyor memiliki banyak jenis dibuat sesuai dengan
kebutuhan industri seperti Belt Conveyor, Chain Conveyor, Screw Conveyor

(a)

(b)

(c)

Gambar 3.1 Jenis Konveyor (a) Belt conveyor, (b) chain conveyor, (c) screw conveyor

Dari banyak jenis konveyor maka dipilihlah Konveyor Sabuk (Belt


Conveyor) karena lebih mudah dibuat dan lebih hemat. Komponen utama dari
Konveyor Sabuk ini adalah : Roller, Sabuk (Belt), Rangka, Motor DC, Roda
Gigi/Pulley.

3.1.1 Rangkaian Pengendali Konveyor


Rangkaian pengendali yaitu rangkaian yang berfungsi sebagai pengendali
konveyor yang juga merupakan bagian dari perangkat keras masukan ( input
device ), rangkain pengendali terdiri dari :
1. Catu Daya
Untuk menggerakan motor konveyor diperlukan tegangan listrik yang
sesuai dengan tegangan input motor konveyor tersebut yaitu 12 Volt DC.
Power supply berfungsi menyuplai tegangan pada motor DC tersebut.
29

Rangkaian power supply yang digunakan terdiri dari sebuah tansformator


step down dan 4 buah dioda (diode bridge) yang akan menghasilkan
output berupa tegangan DC. tegangan keluaran yang dikeluarkan adalah
12 Volt DC dan +5 Volt DC. Catu daya ini mensuplai 2 buah komponen
Kelistrika yaitu : Motor DC untuk penggerak Konveyor yang memiliki
tegangan input sebesar 12 Volt DC ( sebanyak 3 buah ),

Sensor

Proximity yang memiliki tegangan input +5 Volt DC, ( sebanyak 2


pasang ). Pemasangan

Catu

Daya

ini

ditujukan agar komponen-

komponen elektrikal yang terdapat pada prototipe konveyor yaitu motor


dc penggerak konveyor, dan 2 buah sensor tidak rusak ketika terjadi
tegangan tidak konstan. Pada catu daya ini, tegangan AC dari jala-jala
listrik

terlebih

dahulu

akan

diturunkan

dengan

menggunakan

transformator stepdown untuk kebutuhan regulasi sekunder. Tegangan


yang diturunkan tersebut selanjutnya akan disearahkan oleh sebuah
rectifier (Penyearah) dan akan distabilkan tegangannya oleh sebuah filter
yang nantinya akan diteruskan pada rangkaian konveyor penghitung
barang.

Gambar 3.2 Rangkaian catu daya pada konveyor penghitung barang

2. Sensor Cahaya
Sensor yang digunakan dalam rangkaian ini adalah sensor photodiode.
Sensor yang digunakan sebanyak 2 bauh sensor 1 untuk menedeteksi
keberadaan box (selanjutnya disebut sensor box) dan sensor 2 untuk
mendeteksi (menghitung) barang (selanjutnya disebut sensor barang).
30

Photodioda digunakan sebagai detektor cahaya dan LED (Light Emiting


Dioda) yaitu dioda pemancar cahaya, yang digunakan sebagai sumber
cahaya yang diletakkan pada suatu tempat dimana objek dapat dideteksi
ketika memotong garis cahaya. Photodiode dipasang berhadapan sejajar
dengan Led agar dapat menerima cahaya dari Led, dalam kondisi normal
sensor menghasilkan logika Nol, dan ketika cahaya terhalangi oleh benda
maka akan menghasilkan nilai logika 1. Prinsip kerja sensor dalam
kondisi normal sensor tanpa dilewati benda adalah Nol, dalam artian
keluaran dari sensor tidak menghasilkan tegangan sama sekali, cahaya
yang diterima oleh sensor pothodioda diatur pada komparator agar
menghasilkan logika 0 yang berupa tengangan sebesar 0 volt, dan jika
pothodioda tidak mendapatkan cahaya ( terhalangi oleh benda ) maka
output sensor akan menghasilkan logika 1 yang berupa tegangan sebesar
4,5 volt, karena output tegangan dari rangkaian sensor hanya 4,5 volt saja
maka ditambahkan Driver relay, yang fungsinya sebagai saklar otomatis
yang menghubungkan tegangan catu daya dari PLC omron ke Jalur
masukan pada PLC Omron, agar logika 1 dan 0 dapat dibaca oleh PLC.

Gambar 3.3 Driver sensor proximity berbasis photodiode

3. Tombol Start dan Tombol Stop


Jenis tombol yang digunakan adalah tombol jenis pushbutton,
menggunakan 2 buah tombol, yang pertama berfungsi sebagai tombol
start, dan yang kedua berfungsi sebagai tombol stop.

31

4. PLC
PLC

digunakan

untuk

mengontrol,

mekanisme kerja konveyor

penghitung barang. PLC yang digunakan adalah PLC Schenaider.

3.1.2 Membuat Program Menggunakan ZelioSoft-2


Sebelum Pprogram dimasukkan kedalam PLC maka program dibuat
menggunakan perangkat lunak zeliosoft-2 yang kemudian disimulasikan dengan
simulator. Setelah program benar baru kemudian dimasukkan kedalam PLC.
Tahapan dalam pembuatan program menggunakan software zeliosoft, sebagai
berikut :
a. Jalankan program zeliosoft-2 sehingga tampak seperti gambar di bawah ini

Gambar 3.4 Tampilan awal dari program zeliosoft-2

b. Pilih jenis PLC yang akan digunakan , sesuai PLC nyatanya, misal PLC
yang digunakan adalah jenis SR3B261FU

32

Gambar 3.5 Tampilan pemilihan PLC

Klik next, maka akan keluar tampilan pemilihan bahasa plc yang
digunakan, misal pilih ladder

Gambar 3.6 Tampilan pemilihan bahasa PLC

c. Memasukkan instruksi instruksi yang telah dibuat kedalam ladder


diagram sesuai dengan urutan proses dan kerja dari system keseluruhan

33

Gambar 3.7 Tampilan Ladder Diagram

Untuk simulasi, klik simbol

, lalu klik simbol

, maka akan seperti

tampilan dibawah ini

Gambar 3.8 Tampilan simulasi koil 1 bekerja

34

Gambar 3.9 Tampilan simulasi koil 2 bekerja

Untuk berhenti simulai klik simbol

, maka tampilan akan kembali kesemula.

Gambar 3.10 Tampilan semula

3.2

Traffic Light Dua Arah (simpang dua)

3.2.1 Pengertian
Traffic light merupakan sarana untuk memudahkan pengaturan para
pengendara kendaraan untuk mendapatkan antrian berjalan sesuai dengan urutan
yang telah ditentukan. Traffic light ditujukan agar kendaraan dapat berjalan
35

dengan tertib dan lancar sesuai dengan lampu indikator yang memberikan tanda
kapan harus hati-hati, dan kapan harus berjalan sehingga tidak terjadi kemacetan
lalulintas. Pengaturan nyala lampu ditentukan berdasarkan kendaraan yang lewat
pada salah satu persimpangan jalan tersebut. Biasanya traffic light dipasang di
jalan lurus, simpang dua , simpang tiga, simpang empat, dan simpang lima.
Selama ini pengaturan nyala traffic light dibuat tetap dan tidak bisa diubah
sewaktu-waktu.

3.2.2 Sistem Kontrol


Sistem kontrol instalasi traffic light diantaranya :
a. Kontaktor magnet
Kontaktor magnet atau sakelar magnet adalah sakelar yang bekerja
berdasarkan kemagnetan. Artinya sakelar ini bekerja bila ada gaya
kemagnetan. Magnet berfungsi sebagai penarik dan pelepas kontakkontak. Sebuah kontaktor harus mampu mengalirkan arus dan
memutuskan arus dalam keadaan kerja normal. Arus kerja normal ialah
arus yang mengalir selama pemutusan tidak terjadi. Sebuah kontaktor
kumparan magnetnya (coil) dapat dirancang untuk arus searah (arus DC)
atau arus bolak-balik (arus AC). Kontaktor arus AC ini pada inti
magnetnya dipasang cincin hubung singkat, gunanya adalah untuk
menjaga arus kemagnetan agar kontinu sehingga kontaktor tersebut
dapat bekerja normal. Sedangkan pada kumparan magnet yang
dirancang untuk arus DC tidak dipasang cincin hubung singkat.
b. PLC
c. Push Button
Pushbutton merupakan sebuah device untuk menghubungkan dan
memutuskan rangkaian listrik antara 2 titik. Penggunaan pushbutton
dikehidupan sehari-hari hampir menyentuh semua bidang. Di bidang
komputer dengan keyboard dan mouse, dibidang otomotif dengan panel36

panel kontrolnya, bahkan diperalatan rumah tangga sekalipun seperti


kontrol peralatan listrik juga menggunakan push button.
d. Timer
Pada dasarnya hanya dua jenis timer yakni tipe Mekanik dan tipe
elektronik. Timer tipe mekanik mempunyai semacam piringan bundar
yang memuat angka - angka secara melingkar. Untuk mengatur saat
hidup (on) dan mati (off ), tipe mekanik mempunyai dua cara. Ada yang
dengan menekan salah satu bagian dari piringan itu (disebut metode
segmen). Yang lain adalah dengan menusukkan jarum-jarum sepanjang
lingkaran itu (disebut metode pin). Cara yang terakhir ini sering ada
keluhan kehilangan jarum, walaupun dari pabriknya tentu juga telah
disediakan jarum cadangan.
e. Pengaman
Pengaman yang digunakan terdiri dari :
1. Fuse
Elemen rangkaian yang terbakar atau putus bila arus yag melaluinya
melebihi nilai tertentu. Fuse melindungi rangkaian dari kerusakan
fungsi yang sama dengan pemutus arus.
2. MCB (mini circuit breaker)
Sebuah saklar yang membuka dan memutuskan aliran arus ketika
arus

melebihi

tingkat

tertentu, dan

circuit

breaker sering

menggantikan sering karena mereka hanya perlu direset, bukan


diganti.

3.2.3 Membuat Program Menggunakan ZelioSoft-2


Sebelum Pprogram dimasukkan kedalam PLC maka program dibuat
menggunakan perangkat lunak zeliosoft-2 yang kemudian disimulasikan dengan
simulator. Setelah program benar baru kemudian ditransfer kedalam PLC dari
37

komputer ke head unit PLC menggunakan kabel konektor. Tahapan dalam


pembuatan program menggunakan software zeliosoft, sebagai berikut :
a. Jalankan program zeliosoft-2 sehingga tampak seperti gambar di bawah ini

Gambar 3.11 Tampilan awal dari program zeliosoft-2

b. Pilih jenis PLC yang akan digunakan , sesuai PLC nyatanya, misal PLC
yang digunakan adalah jenis SR3B261FU

Gambar 3.12 Tampilan pemilihan PLC

Klik next, maka akan keluar tampilan pemilihan bahasa plc yang
digunakan, misal pilih ladder

38

Gambar 3.13Tampilan pemilihan bahasa PLC

c. Memasukkan instruksi instruksi yang telah dibuat kedalam ladder


diagram sesuai dengan urutan proses dan kerja dari system keseluruhan

Gambar 3.14 Tampilan Ladder Diagram

39

Untuk simulasi, klik simbol

, lalu klik simbol

, maka akan seperti

tampilan dibawah ini

Gambar 3.15 Tampilan simulasi koil 1 dan koil 4 bekerja

Pada gambar 3.15 kondisi push button on ditekan dengan asumsi Q adalah
lampu lalu-lintas, dimana koil 1 (Q1) adalah lampu hijau 1 bekerja dan
koil 4 (Q4) adalah lampu merah 2 menyala bersamaan dengan setting
waktu 30 detik.

Gambar 3.16 Tampilan simulasi koil 2 bekerja

Pada gambar 3.16 menjelaskan kondisi setelah waktu setting 30 detik


berlalu, koil 2 (Q2) adalah lampu kuning 1 menyala, tetapi koil 4 (Q4)
adalah lampu merah 2 tetap menyala selama setting waktu 5 detik.

40

Gambar 3.17 Tampilan simulasi koil 1 bekerja

Pada gambar 3.17 menjelaskan kondisi setelah waktu seting 5 detik berlalu,
koil 3 (Q3) adalah lampu merah 1, dan koil 5 (Q5) adalah lampu hijau 2
menyala selama setting waktu 30 detik.

Gambar 3.18 Tampilan simulasi koil 1 bekerja

Pada gambar 3.18 menjelaskan kondisi setelah waktu setting 30 detik


berlalu, koil 3 (Q3) adalah lampu merah 1 menyala, dan koil 6 (Q6) adalah
lampu kuning 2 menyala selama setting waktu 5 detik.

41

Gambar 3.19 Tampilan simulasi koil 1 bekerja

Pada gambar 3.19 menjelaskan kondisi setelah waktu setting 5 detik berlalu,
koil 3 (Q3) adalah lampu merah 1 mati, dan koil 6 (Q6) adalah lampu
kuning 2 mati, dan kondisi kembali ke semula.
Untuk berhenti simulai klik simbol
kesemula.

42

, maka tampilan akan kembali

Gambar 3.20 Tampilan semula

Tabel 3.1 Kondisi Traffic Light dari Arah 1


Lampu

Lama Waktu (detik)

Merah

30

Kuning

Hijau

30

Tabel 3.2 Kondisi Traffic Light dari Arah 2


Lampu

Lama Waktu (detik)

Merah

30

Kuning

Hijau

30

43

BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa PLC
merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan
relai yang banyak dijumpai pada sistem kontrol konvensional, dirancang untuk
mengontrol suatu proses permesinan. Pada tahun 1960-an PLC diperkenalkan,
PLC dibuat untuk mengurangi beban ongkos perawatan dan penggantian sistem
kontrol mesin yang menggunakan relai. Bedford Associates mengusulkan
MODICON (Modilar Digital Controller) untuk perusahaan yang ada di Amerika
Dipasaran PLC terdapat berbagai macam type, jenis sesuai pabrikan
pembuatan, pada umum nya PLC terdiri dari PLC mikro yang terdiri dari 32
modul I/O, dan PLC mini terdiri dari 32 sampai 128 mdoul I/O. PLC memiliki
komponen penting atau utama,yang terdiri dari inputan, prosessor dan output.
Peranan PLC di dunia industri sangat bermanfaat, salah satu contoh
penggunaan PLC pada industri, digunakan untuk mengendalikan suatu alat untuk
memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain atau yang sering disebut
yaitu konveyor, prinsip dasarnya bagaimana mengatur 2 buah motor bekerja
dengan kondisi reverse dan forward. Dengan sistem PLC memudahkan
mengontrol kinerja suatu konveyor tampa memerlukan tenaga kerja yang banyak.
Selain di insutri peranan plc untuk fasilitas umum (komersial) sangat diperlukan,
contohnya dalam pembuatan lampu lalu lintas (trafic light). Dimana trafic light
merupakan sarana untuk memudahkan pengaturan para pengendara kendaraan
untuk mendapatkan antrian berjalan sesuai dengan urutan yang telah ditentukan.
Traffic light ditujukan agar kendaraan dapat berjalan dengan tertib dan lancar
sesuai dengan lampu indikator yang memberikan tanda kapan harus hati-hati, dan
kapan harus berjalan sehingga tidak terjadi kemacetan lalulintas.
44

DAFTAR PUSTAKA

[1]

Tung Yan, Tang. Simulator PLC (Software), Malaysia., Johor., 1998

[2]

Eko Putra, Agfianto. PLC Konsep, Pemrograman dan Aplikasi. Edisi


Pertama. Yogyakarta. Gava Media. 2007

[3]

Wicaksono, Handy. Programmable Logic Controller, Teori Pemrograman


dan Aplokasinya Dalam Otomasi Sistem. Edisi Pertama. Yogyakarta.
Graha Ilmu. 2009

[4]

Bryan, L.A. & E.A Bryan. Programmable Controller: Theory and


Implementation. Second Edition. United States of America. Industrial Text
Company. 1997

[5]

Bolton, William. Programmable Logic Controller (PLC) Sebuah


Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta. Erlangga. 2004

45