Anda di halaman 1dari 18

DK2P2 : Kulit Dan Jaringan Penunjang

Nama
NIM
Kelompok
Fasilitator

: Gilang Aria Santosa


: FAA 113 003
: 6 (enam)
: dr. Supak Silawani

LUKA BEKAS OPERASI


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa saja jenis-jenis dari luka?


Bagaimana proses penyembuhan luka?
Apa saja factor penyembuhan luka?
Gambaran mikroskopik dan makroskopik dari jenis-jenis luka?
Bagaimana penatalaksanaan berbagai jenis luka?
Apa saja komplikasi dari penanganan yang tidak tepat?
Bagaimana mencegah penanganan yang tak tepat?
Bagaimana nasihat untuk pasien?

JAWABAN
1. Jenis-jenis luka
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukan
derajat luka.
1. Berdasarkan derajat kontaminasi
a. Clean Wounds (luka bersih)
Luka bersih adalah luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi, yang merupakan
luka sayat elektif dan steril dimana luka tersebut berpotensi untuk terinfeksi. Luka
tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius maupun traktus
genitourinarius. Dengan demikian kondisi luka tetap dalam keadaan bersih.
Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b. Clean-contamined Wounds (luka bersih terkontaminasi)
Luka bersih terkontaminasi adalah luka pembedahan dimana saluran pernafasan,
saluran pencernaan dan saluran perkemihan dalam kondisi terkontrol. Proses
penyembuhan luka akan lebih lama namun luka tidak menunjukkan tanda infeksi.
Kemungkinan timbulnya infeksi luka sekitar 3% - 11%.
c. Contamined Wounds (luka terkontaminasi)
Luka terkontaminasi adalah luka yang berpotensi terinfeksi spillage saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan saluran kemih. Luka menunjukan tanda infeksi.
Luka ini dapat ditemukan pada luka terbuka karena trauma atau kecelakaan (luka
laserasi), fraktur terbuka maupun luka penetrasi. Kemungkinan infeksi luka 10% 17%.
d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor)
Luka kotor adalah luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati dan
luka dengan tanda infeksi seperti cairan purulen. Luka ini bisa sebagai akibat
pembedahan yang sangat terkontaminasi. Bentuk luka seperti perforasi visera, abses
dan trauma lama.
2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya
a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema). Luka jenis ini adalah luka
yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b. Stadium II : Luka "Partial Thickness". Luka jenis ini adalah hilangnya lapisan kulit
pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan
adanya tanda klinis seperti halnya abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c. Stadium III : Luka "Full Thickness". Luka jenis ini adalah hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah
tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Luka ini timbul secara klinis
sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
d. Stadium IV : Luka "Full Thickness". Luka jenis ini adalah luka yang telah mencapai
lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi / kerusakan yang luas.
3. Berdasarkan waktu penyembuhan

a. Luka Akut. Luka akut adalah jenis luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan
konsep penyembuhan yang telah disepakati.
b. Luka Kronis. Luka kronis adalah jenis luka yang yang mengalami kegagalan dalam
proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.
4. Berdasarkan penyebab
a. Vulnus ekskoriasi atau luka lecet/gores adalah cedera pada permukaan epidermis
akibat bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar atau runcing. Luka ini banyak
dijumpai pada kejadian traumatik seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh maupun
benturan benda tajam ataupun tumpul.
b. Vulnus scissum adalah luka sayat atau iris yang di tandai dengan tepi luka berupa garis
lurus dan beraturan. Vulnus scissum biasanya dijumpai pada aktifitas sehari-hari
seperti terkena pisau dapur, sayatan benda tajam (seng, kaca), dimana bentuk luka
teratur .
c. Vulnus laseratum atau luka robek adalah luka dengan tepi yang tidak beraturan atau
compang camping biasanya karena tarikan atau goresan benda tumpul. Luka ini dapat
kita jumpai pada kejadian kecelakaan lalu lintas dimana bentuk luka tidak beraturan
dan kotor, kedalaman luka bisa menembus lapisan mukosa hingga lapisan otot.
d. Vulnus punctum atau luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang
biasanya kedalaman luka lebih dari pada lebarnya. Misalnya tusukan pisau yang
menembus lapisan otot, tusukan paku dan benda-benda tajam lainnya. Kesemuanya
menimbulkan efek tusukan yang dalam dengan permukaan luka tidak begitu lebar.
e. Vulnus morsum adalah luka karena gigitan binatang. Luka gigitan hewan memiliki
bentuk permukaan luka yang mengikuti gigi hewan yang menggigit. Dengan
kedalaman luka juga menyesuaikan gigitan hewan tersebut.
f. Vulnus combutio adalah luka karena terbakar oleh api atau cairan panas maupun
sengatan arus listrik. Vulnus combutio memiliki bentuk luka yang tidak beraturan
dengan permukaan luka yang lebar dan warna kulit yang menghitam. Biasanya juga
disertai bula karena kerusakan epitel kulit dan mukosa.
g. Vulnus abrasio adalah luka terkikis yang terjadi pada bagian luka dan tidak sampai ke
pembuluh darah.
h. Vulnus sclopetorum adalah luka tembak akibat tembakan peluru.
SUMBER :
Bakkara, CJ. 2012. Tinjauan Pustaka : Konsep Luka. Available from :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter%20II.pdf
Alimul, Aziz A. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan Edisi 2. Available from :
https://books.google.co.id/books?isbn=979302755X (google book)
Ismail.
Luka
dan
Perawatannya.
Available
from
:
http://blog.umy.ac.id/topik/files/2011/12/Merawat-luka.pdf
2. Proses penyembuhan luka
Proses penyembuhan luka melalui empat tahap, yaitu :

a. Tahap respon inflamasi akut terhadap cedera. Tahap ini dimulai saat terjadinya luka. Pada
tahap ini, terjadi proses hemostasis yang ditandai dengan pelepasan histamine dan
mediator lain lebih dari sel-sel yang rusak, disertai proses peradangan dan migrasi sel
darah putih kedaerah yang rusak.
b. Tahap destruktif. Pada tahap ini terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh leukosit
polimorfonuklear dan makrofag.
c. Tahap poliferatif. Pada tahap ini pembuluh darah baru diperkuat oleh jaringan ikat dan
menginfiltrasi luka.
d. Tahap maturasi. Pada tahap ini terjadi reepitelisasi, konstraksi luka, dan organisasi
jaringan ikat
SUMBER : Alimul, Aziz A. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan Edisi 2. Available
from : https://books.google.co.id/books?isbn=979302755X (google book)

Proses penyembuhan luka yang alami


a. Fase inflamasi atau lag Phase
Berlangsung pada hari ke -5. Akibat luka terjadi pendarahan. Ikut keluar trombosit dan
sel-sel radang. Trombosit mengeluarkan prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu
dan asam amino tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dingding
pembuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit.
Terjadi vasokonstriksi dan proses penghentian darah. Sel redang keluar dari pembuluh
darah secara diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel mast
mengeluarkan serotonin dan histamlin yang meninggikan permeabilitas kapiler, terjadi
aksudasi cairan edema. Dengan demikian timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit
dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran maupun kuman (proses pagositosis).
Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan luka sehingga di
sebut fase tertinggal (lag phase).
b. Fase proliferasi atau fibroblast
Berlangsung dari hari ke-6 sampai dengan 3 minggu. Terjadi proses proliferasi dan
pembentukan fibroblast (menghubungkan sel-sel) yang berasal dari sel-sel mesenkim.
Fibroblas menghasilkan mukopolisakarid dan serat kolangen yang terdiri dari asam-asam
amino glisin, prolin dan hidroksiprolin. Mukopolisekarid mengatur deposisi serat-serat
kolangen yang akan mempertautkan tepi luka. Serat-serat baru dibentuk, diatur,
mengkerut, yang tak diperlukan dihancurkan, dengan demikian luka mengkerut/mengecil.
Pada fase ini luka diisi oleh sel-sel radang, fibroblas, serat-serat kolagen, kapiler-kapiler
baru; membentuk jaringan kemerahan dengan permukaan tak rata disebut jaringan
granulasi. Epitel sel basal ditepi luka lepas dari dasarnya dan pindah menutupi dasar luka,
tempat diisi hasil mitosis sel lain. Proses migrasi epitel hanya berjalan kepermukaan yang
rata atau lebih rendah, tidak dapat naik pembentukan orignan granulasi berhenti setelah
seluruh permukaan luka tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan
luka : penyatuhan kembali, penyerapan yang berlebih.

c. Fase remondeling atau fase resorpsi


Dapat berlangsung berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Parut dan
sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas, tak ada rasa sakit maupun gatal. Berlangsung
dengan sintesis kolagen oleh fibroblas hingga struktur luka menjadi utuh. Penyembuhan
luka sebagai suatu proses yang kompleks dan dinamis sebagai akibat dari penyembuhan
kontinuitas dan fungsi anatomi.
Penyembuhan luka yang ideal adalah kembali normal strukturnya, fungsinya dan
penampilan anatomi kulit. Batas waktu penyembuhan luka di tentukan oleh tipe luka dan
lingkungan ekstrinsik maupun intrinsik (Wound Healing Society). Pada luka bedah dapat
di ketahui adanya sintesis kolagen dengan melihat adanya jembatan penyembuhan
dibawah jahitan yang mulai menyatu. Jembatan penyembuhan ini muncul pada hari ke : 57 pasca operasi. Jahitan biasanya diangkat pada saat sudah terlihat adanya hasil yang
mendekati tepi luka. Pengangkatan jahitan itu tergantung usia, status nutrisi dan lokasi
luka. Jahitan biasa diangkat pada hari ke 6-7 proses operasi untuk menghindari
terbentuknya bekas jahitan walaupun pembentukan kollagen samapai jahitan menyatu
berakhir hari ke-21.
Suatu luka yang bersih bila dilakukan persiapan dan pembedahan yang baik serta
perawatan pasca operasi yang baik pula maka luka akan tetap bersih. Pemberian
antibiaotik peroral yang adekuat mampu mencegah terjadinya infeksi sehingga meski
tanpa cairan anti septik proses penyembuhan luka tetap dapat terjadi.
SUMBER : Bakkara, CJ. 2012. Tinjauan Pustaka : Konsep Luka. Available from :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter%20II.pdf

3. Factor penyembuhan luka


Faktor yang mempercepat penyambuhan luka
a. Pertimbangan perkembangan
Anak dan orang dewasa lebih cepat lebih cepat penyembuhan luka daripada orang tua.
Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati yang dapat
mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah
b. Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian metabolisme pada tubuh. Klien
memerlukan diit kaya Protein, Karbonhidrat, Lemak, Vitamin dan Miniral (Fe, Zn) Bila
kurang nutrisi diperlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi setelah pembedahan jika
mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama
karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
c. Infeksi
Ada tidaknya infeksi pada luka merupakan penentu dalam percepatan penyembuhan luka.
Sumber utama infeksi adalah bakteri. Dengan adanya infeksi maka fase-fase dalam
penyembuhan luka akan terhambat.
d. Sirkulasi dan oksigenasi

Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Saat kondisi fisik lemah
atau letih maka oksigenasi dan sirkulasi jaringan sel tidak berjalan lancar. Adanya
sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak yang memiliki sedikit pembuluh darah
berpengaruh terhadap kelancaran sirkulasi dan oksigenisasi jaringan sel. Pada orang
gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah
Infeksi dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa yang
mederita gangguan pembuluh darah prifer, hipertensi atau DM. Oksigenasi jaringan
menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernafasan kronik pada
perokok.
e. Keadaan luka
Kedaan kusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka.
Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu dengan cepat. Misalnya luka kotor akan lambat
penyembuhannya dibanding dengan luka bersih.
f. Obat
Obat anti inflamasi (seperti aspirin dan steroid), heparin dan anti neoplasmik
mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat
tubuh seseorang rentan terhadap Infeksi luka. Dengan demikian pengobatan luka akan
berjalan lambat dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Faktor yang memperlambat penyembuhan luka
Proses ini diklasifikasikan menjadi faktor Intrinsik dan ekstrinsik.
a. Factor intrinsic
Ketika luka terinfeksi, respon inflamatori berlangsung lama dan penyembuhan luka
terlambat. Luka tidak akan sembuh selama ada infeksi. Infeksi dapat berkembang saat
pertahanan tubuh lemah. Diagnosa dari infeksi jika nilai kultur luka melebihi nilai normal.
Kultur memerlukan waktu 24-48 jam dan selama menunggu pasien di beri antibiotika
spektrum luas. Kadang-kadang benda asing dalam luka adalah sumber infeksi. Suplai
darah yang adekuat perlu bagi tiap aspek penyembuhan. Suplai darah dapat terbatas
karena kerusakan pada pembulu darah Jantung/ Paru. Hipoksia mengganggu aliran
oksigen dan nutrisi pada luka, serta aktifitas dari sel pertumbuhan tubuh. Neutropil
memerlukan oksigen untuk menghasilkan oksigen peroksida untuk membunuh patogen.
Demikian juga fibroblast dan fagositosis terbentuk lambat. Satu-satunya aspek yang dapat
meningkatkan penyembuhan luka pada keadaan hipoksia adalah angio genesis.
b. Faktor ekstrinsik
Faktor ektrinsik dapat memperlambat penyembuhan luka meliputi malnutrisi, perubahan
usia dan penyakit seperti diabetes melitus. Malnutrisi dapat mempengaruhi beberapa area
dari proses penyembuhan. Kekurangan protein menurunkan sintesa dari kolagen dan
leukosit. Kekurangan lemak dan karbonhidrat memperlambat semua fase penyembuhan
luka karena protein di rubah menjadi energi selama malnutrisi. Kekurangan Vitamin
menyebabkan terlambatnya produksi dari kolagen, respon imun dan respon koagulasi.
Pasien tua yang mengalami penurunan respon inflamatari yang memperlambat proses
penyembuhan. Usia tua menyebabkan penurunan sirkulasi migrasi sel darah putih pada

sisa luka dan fagositasis terlambat. Ditambah pula kemungkinan Pasien mengalami
gangguan yang secara bersamaan menghambat penyembuhan luka seperti Diabetes
Melitus.
Diabetes Melitus adalah gangguan yang menyebabkan banyak pasien mengalami kesulitan
dalam proses penyembuhan karena gangguan sintesa kolagen, angiogenesis dan
fagositosis. Peningkatan kadar glucosa mengganggu transport sel asam askorbat
kedalaman bermacam sel termasuk fibroblast dan leukosit. Hiperglikemi juga menurunkan
leukosit kemotaktis, arterosklerosis, kususnya pembuluh darah kecil, juga pada gangguan
suplai oksigen jaringan.
Neurapati diobotik mrupakan gangguan penyembuhan lebih lanjut dengan mengganggu
komponen neurologis dari penyembuhan. Kontrol dari gulu darah setelah operasi
memudahkan penyembuhan luka secara normal.
Merokok adalah gangguan Vaso kontriksi dan hipoksia karena kadar Co2 dalam rokok
serta membatasi suplai oksigen ke jaringan. Merokok meningkatkan arteri sklerosis dan
platelet agregasi. Lebih lanjut kondisi ini membatasi jumlah oksigen dalam luka.
Penggunaan steroid memperlambat penyembuhan dengan menghambat kologen sintesis,
Pasien yang minum steroid mengalami penurunan strenght luka, menghambat kontraksi
dan menghalangi epitilisasi. Untungnya Vitamin A ada untuk meningkatkan penyembuhan
luka yang terhambat karena gangguan atau penggunaan steroid.
SUMBER : Bakkara, CJ. 2012. Tinjauan Pustaka : Konsep Luka. Available from :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter%20II.pdf
Jenis-jenis penyembuhan luka
a. Healing by Primary Intention (Penutupan luka primer)
Penutupan ini akan merapatkan jaringan yang terputus dengan bantuan benang, klip dan
verban perekat. Setelah beberapa waktu, maka sintesis, penempatan dan pengerutan
jaringan kolagen akan memberikan kekuatan dan integritas pada jaringan tersebut.
Pertumbuhan kolagen tersebut sangat penting pada tipe penyembuhan ini. Pada penutupan
primer tertunda, perapatan jaringan ditunda beberapa hari setelah luka di buat atau terjadi.
Penundaan penutupan luka ini bertujuan mencegah infeksi pada luka-luka yang jelas
terkontaminasi oleh bakteri atau yang mengalami trauma jaringan yang hebat.
Fase-fase dalam intention primer :
Fase inisial berlangsung 3-5 hari
Sudut insisi merapat, migrasi sel-sel epitel,mulai pertumbuhan sel
Fase granulasi (5 hari 4 mg)
Fibroblas bermigrasi kedalam bagian luka dan mensekresi kolagen. Selama fase
granulasi luka berwarna merah muda dan mengandung pembuluh darah. Tampak
granula-granula merah. Luka beresiko dehiscence dan resisten terhadap infeksi.
Epitelium pada permukaan tepi luka mulai terlihat. Dalam beberapa hari lapisan
epithelium yang tipis akan bermigrasi menyebrangi permukaan luka. Epitel menebal

dan mulai matur dan luka mulai merapat. Pada luka superficial, reepitelisasi terjadi 35 hari.
Fase kontraktur scar (7 hari beberapa bulan)
Serabut-serabut kolagen terbentuk dan terjadi proses remodeling. Pergerakan
miofibroblast yang aktif menyebabkan kontraksi area penyembuhan, menutup defek
dan membawa ujung kulit tertutup bersama-sama. Skar yang matur selanjutnya
terbentuk. Skar yang matur tidak mengandung pembuluh darah dan pucat, serta lebih
terasa nyeri dari pada fase granulasi.
b. Healing by Secondary Intention (Penutupan luka sekunder)
Luka yang terjadi dari trauma, ulserasi dan infeksi dan memiliki sejumlah besar eksudat
dan luas, batas luka ireguler dengan kehilangan jaringan yang cukup luas menyebabkan
tepi luka tidak merapat. Reaksi inflamasi dapat lebih besar dari pada penyembuhan luka.
Kegagalan penutupan sekunder dari luka terbuka akan berakibat terbentuknya luka
terbuka kronis.
c. Healing by Tertiary Intention (Penutupan luka tertier)
Adalah intension primer yang tertunda. Terjadi karena dua lapisan jaringan granulasi
dijahit bersama-sama. Ini terjadi ketika luka yang terkontaminasi, terbuka dan dijahit rapat
setelah infeksi dikendalikan. Juga dapat terjadi ketika luka primer mengalami infeksi,
terbuka dan dibiarkan tumbuh jaringan granulasi dan kemudian dijahit. Intension tersier
biasanya mengakibatkan skar yang lebih luas dan lebih dalam dari pada intension primer
atau sekunder.
SUMBER : Bakkara, CJ. 2012. Tinjauan Pustaka : Konsep Luka. Available from :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter%20II.pdf

4. Gambaran mikroskopik dan makroskopik dari jenis-jenis luka


1. Vulnus ekskoriasi (luka lecet)

Luka lecet tanpa infeksi sekunder. Namun, patologi terkait dengan lesi kaki lebih parah.
Perubahan patologis termasuk nekrosis dalam lapisan tanduk.
SUMBER : KilBreidge AL. 2009. A cross sectional study of prevalence, risk factors,
population attributable fractions and pathology for foot and limb lesions in preweaning
piglets
on
commercial
farms
in
England.
Available
from
:
http://openi.nlm.nih.gov/detailedresult.php?img=2743661_1746-6148-5-313&query=null&req=4&npos=-1
2. Vulnus morsum (karena gigitan binatang)

Gigitan hewan golongan arthropoda


SUMBER : Dermpedia. Spongiotic arthropod bites. Available from : http://www.dermpedia.
org/dermpedia-textbook/spongiotic-arthropod-bites

3. Vulnus sclopetorum (luka tembak)

Pemeriksaan histologis lokasi luka masuk pada kulit menunjukkan bekas tembakan yang
berwarna hitam dan nekrosis koagulatif.

SUMBER : Exit gunshot wound, gross. University o Utah. Available from : http://library.med
utah.edu/WebPath/FORHTML/FOR022.html
5. Penatalaksanaan berbagai jenis luka
a. Vulnus ekskoriasi (Luka lecet)
Pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan luka terlebih dahulu menggunakan
NaCl 0,9%. Setelah bersih, berikan desinfektan. Perawatan jenis luka ini adalah perawatan
luka terbuka, namun harus tetap bersih, hindari penggunaan salep iodine pada luka jenis
ini, karena hanya akan menjadi sarang kuman, dan pemberian iodine juga tidak perlu
dilakukan tiap hari, karena akan melukai jaringan yang baru terbentuk.
b. Vulnus scissum (luka iris)
Prinsip dari penangan luka iris adalah menghentikan perdarahan dan meminimalkan
resiko terjadinya infeksi.
1. Hal pertama yang harus dilakukan ketika mendapati luka iris adalah meminimalisasi
terjadinya perdarahan. Jika luka cukup besar dan ada keterlibatan pembuluh darah
tangani terlebih dahulu dengan menekan dan meninggikan bagian yang mengeluarkan
darah agar tidak banyak yang keluar. Bila ada pembuluh nadi yang ikut terpotong, dan
cukup besar, dilakukan pembalutan tourniquet.
2. Kemudian setelah perdarahan berhenti, bersihkan luka dengan air mengalir, untuk
menghilangkan benda asing yang kemungkinan menempel pada luka.
3. Setelah itu, olesi bagian luka dengan obat antiseptic
4. Balut luka dengan plester luka.
SUMBER : Indrawan, T. 2014. Luka Iris Bagaimana Penanganan yang tepat. Available
from : http://websehat.com/luka-iris-bagaimana-penanganan-yang-tepat/
c. Vulnus laseratum (luka robek)
Yang perlu diperhatikan dari luka robek adalah :
1. Luka robek > 1 cm biasanya tidak mudah bertaut sendiri, sehingga untuk kesembuhan
yang baik memerlukan bantuan tindakan medis.
2. Luka robek pada wajah, sebaiknya minta bantuan medis untuk penanggulangan
selanjutnya, karena dikhawatirkan terjadi cacat pascalukanya sembuh.
3. Penyembuhan luka robek, dapat meninggalkan bekas parutan pada kulit
Adapun penatalaksanaan dari luka robek adalah :
1. Bersihkan luka dengan air bersih yang mengalir, dapat dibantu dengan kapas/kain
kasa.
2. Luka robek biasanya disertai perdarahan (merembes) dari pembuluh darah vena
perifer. Bila perdarahannya banyak, hentikan pendarahan dengan balut tekan.
3. Usahakan menghindari luka terkena kotoran agar tidak terjadi infeksi tambahan.
4. Cairan antiseptik yang umum ada di pasaran (seperti Popidone iodine 10%) dapat
dipakai.
5. Bila tampak kesakitan (mengalami nyeri), berikan obat pereda sakit yang pernah
disarankan dokter/biasa dipakai.

6. Konsultasikan pada dokter bila ada dampak lanjutan seperti suhu tubuh yang tinggi,
keluhan pusing, mual dan/atau mengalami muntah.
d. Vulnus punctum (luka tusuk)
Hal pertama yang dilakukan dalam menangani luka tusuk adalah tidak asal menarik benda
yang menusuk, karena bisa mengakibatkan perlukaan tempat lain ataupun mengenai
pembuluh darah. Bila benda yang menusuk sudah dicabut, maka yang harus kita lakukan
adalah membersihkan luka dengan cara menggunakan H2O2 (hydrogen peroxide),
kemudian didesinfektan. Lubang luka ditutup menggunakan kasa, namun dibuat
sedemikian rupa sehingga ada aliran udara yang terjadi.
e. Vulnus morsum (luka akibat gigitan hewan)
Penanganan luka gigitan ular
Pemasangan torniket, insisi dan pengisapan tepat dikerjakanan dalam 1 jam pertama
gigitan ular. Ular memasukkan venom ke dalam jaringan subkutan yang akan diabsorbsi
oleh kapiler dan limfatik. Torniket dipasang longgar hanya untuk menghambat aliran vena
dan limfatik. Torniket jangan dilepas selama 30 menit sampai pengisapan bisa ular dapat
dilakukan. Torniket dilepas setelah terapi definitive dilakukan dan pasien tidak dalam
keadaan syok.
Tindakan yang dilakukan adalah:
1. Primary survey (ABCD)
2. Pasang torniquet
3. Insisi silang ditempat gigitan
4. Isap (jangan dihisap dengan mulut, usahakan dengan vacuum, atau suction atau spuit)
5. Cuci luka dengan diguyur NaCl 0,9 % sebanyak-banyaknya, dilanjutkan dengan H2O2
kemudian povidon iodine dan terakhir dengan NaCl 0.9 %
6. Pemberian serum anti bisa ular.
7. Antibiotik profilaksis
8. Anti tetanus (penggunaan tetanus toksoid dan atau anti tetanus serum tergantung
status imunisasinya)
9. Analgetik.
10. Pemeriksaan darah lengkap dan urin.
Insisi dan pengisapan bisa ular selama 30 menit dapat bermanfaat bila dilakukan
30 menit setelah digigit ular. Insisi dilakukan longitudinal dan tidak cruciate. Ketika dua
tanda gigitan ular terlihat, kedalaman injeksi venom kira-kira 2/3 jarak antara tanda
gigitan ular. Gigitan yang berat dapat menyebabkan masuknya venin ke fascia dan
explorasi surgical perlu dilakukan. Insisi yang dibuat proksimal terhadap gigitan
merupakan kontraindikasi.
Rata-rata gigitan ular tidak memerlukan eksisi surgical. Prosedur ini dilakukan
pada envenomasi berat. Terlihat bahwa eksisi luas dari seluruh area di sekitar gigitan ular
dalam 1 jam pertama sejak waktu injeksi dapat menghilangkan seluruh venom. Eksisi
luka gigitan termasuk kulit dan jaringan subkutis, perlu dipertimbangkan pada luka
gigitan berat dan pada pasien yang diketahui alergi terhadap serum kuda yang dapat
dilihat dalam 1 jam setelah gigitan. Kebanyakan fatalitas gigitan ular terjada selama 6 -48
jam setelah gigitan ular. Terapi paling penting untuk gigitan ular adalah antivenin.
Sengatan kalajengking

Pada dewasa, sengatan dapat diterapi baik dengan kompres dingin.Sebaliknya, bayi dan
anak kecil dapat meninggal karena venom kalajengking. Anak kecil dengan tanda
envenomasi harus dirawat di rumah skit dan dimonitor. Tidak ada tes diagnosis spesifik
yang dapat dilakukan. Terapi meliputi penanganan jalan nafas dari sekresi yang
berlebihan, sedasi dan terapi aritmia dan hipertensi bila diperlukan. 100 Calcium
gluconate dapat digunakan untuk terapi spasme otot. Narkotik tidak perlu digunakan
karena dapat memperberat efek neurotoksik dari venom.
Gigitan anjing, kucing, tikus dan kera
Gigitan hewan dappat menjadikan saranan penularan virus rabies. Tidak hanya anjing,
kera, tikus dan kelincipun dapat menjadi penular virus ini. Penyakit yang ditimbulkan
adalah rabies.
Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang terdapat pada air liur hewan yang
terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atau manusia melalui
gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke
medulla spinalis dan otak, yang merupakan tempat mereka berkembangbiak. Selanjutnya
virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering menjadi
sumber dari rabies adalah anjing; hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber
penularan rabies adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, dan rubah. Rabies pada anjing
masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika, dan Asia, karena tidak semua hewan
peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa
mengalami rabies buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena tampak
gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak, sejak awal
telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total.
1. Tindakan terpenting adalah pembersihan luka
2. Jika penderita yang belum pernah mendapatkan imunisasi dengan vaksin rabies
diberikan suntikan immunoglobulin rabies, dimana separuh dari dosisnya disuntikkan
di tempat gigitan.
3. Jika belum pernah mendapatkan imunisasi, maka suntikan vaksin rabies diberikan
pada saat digigit hewan rabies dan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28.
Jika penderita pernah mendapatkan vaksinasi, maka resiko menderita rabies akan
berkurang, tetapi luka gigitan harus tetap dibersihkan dan diberikan 2 dosis vaksin.
SUMBER : Bedah Minor.com. Luka Gigitan. Available from : http://bedahminor.com
/index.php/main/show_page/236
f. Vulnus sclopetorum (luka tembak)
Hal yang harus dilakukan adalah tidak langsung mengeluarkan pelurunya, namun yang
harus dilakukan adalah membersihkan luka dengan H2O2 (hydrogen peroxide), berikan
desinfektan dan tutup luka. Biarkan luka selama setidaknya seminggu baru pasien dibawa
ke ruang operasi untuk dikeluarkan pelurunya. Diharapkan dalam waktu seminggu posisi
peluru sudah mantap dan tak bergeser karena setidaknya sudah terbentuk jaringan
disekitar peluru.
g. Vulnus combutio (luka bakar)
- Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen
pada api yang menyala

- Singkirkan baju, perhiasan dan benda-benda lain yang membuat efek Torniket, karena
jaringan yang terkena luka bakar akan segera menjadi oedem
- Setelah sumber panas dihilangkan rendam daerah luka bakar dalam air atau
menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit.
Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus
setelah a pi dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan
dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada
jam pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil.
- Akan tetapi cara ini tidak dapat dipakai untuk luka bakar yang lebih luas karena
bahaya terjadinya hipotermi. Es tidak seharusnya diberikan langsung pada lukabakar
apapun.
- Evaluasi awal
- Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penanganan pada luka akibat trauma
yang lain, yaitu dengan ABC (Airway Breathing Circulation) yang diikuti dengan
pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey sekunder.
SUMBER : Safriani Yovita. Penanganan Luka Bakar. Available from : http://www1media.acehprov.go.id/uploads/PENANGANAN_LUKA_BAKAR.pdf
6. Komplikasi dari penanganan yang tidak tepat
Komplikasi penyembuhan luka
a. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau setelah
pembedahan. Gejala dari Infeksi sering muncul dalam 2-7 hari setelah
pembedahan.gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainage,
nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan
leukosit
b. Pendarahan
Dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi
atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti darain). Hipovolemia mungkin
tidak cepat tampak, sehingga balutan jika mungkin harus sering di lihat selama 48 jam
pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. Jika terjadi perdarahan yang
berlegihan, penambahan tekanan luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan &
intervensi pembedahan mungkin diperlukan.
c. Dehiscence dan eviscerasi
Dehiscence dan Eviscerasi adalah komplikasi post operasi yang serius. Dehiscence yaitu
terbukanya lapisan luka partial. Eviscerasi yaitu keluarnya pembulu kapiler melalui
daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi ; kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma,
gagal untuk menyatu, bentuk yang berlebihan, muntah dan dehidrasi dapat mempertinggi
resiko klien mengalami dehiscence luka. Ketika dehiscence & eviscerasi terjadi luka,
harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar kompres dengan normal saline. Klien
disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.
SUMBER : Bakkara, CJ. 2012. Tinjauan Pustaka : Konsep Luka. Available from :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter%20II.pdf

Komplikasi akibat pembedahan atau operasi


Wound dehiscence
Wound dehiscence adalah salah satu komplikasi luka operasi yang terinfeksi. Komplikasi lain
penyembuhan luka dipindah yang lambat, morbiditas dan mortalitas yang meningkat, serta
lama rawat yang berkepanjangan. Penyembuhan luka sangat buruk dan luka terbuka kembali.
Malnutrisi sering dihubungkan dengan komplikasi yang terjadi pada tindakan pembedahan.
Meskipun masih sulit menyatakan hubungan penyebabnya, telah diketahui bahwa malnutrisi
dapat menghambat penyembuhan luka operasi, daya tahan tubuh (imunokompetens),
penurunan fungsi otot jantung, dan respiratori. Lebih jauh lagi pasien malnutrisi akan
mempunyai risiko morbiditas lebih tinggi sebanding dengan lama rawat yang lebih panjang,
apabila dibandingkan dengan pasien bergizi baik.
SUMBER : Tinuk Agung M, dkk. 2012. Pengaruh malnutrisi dan factor lainnya terhadap
kejadian wound dehiscence pada pembedahan abdominal anak pada periode perioperative.
Sari Pediatri, Vol. 14, No. 2
Superficial Incision SSI ( ITP Superfisial )
Merupakan infeksi yang terjadi pada kurun waktu 30 hari paska operasi dan infeksi tersebut
hanya melibatkan kulit dan jaringan subkutan pada tempat insisi dengan setidaknya
ditemukan salah satu tanda sebagai berikut :
1. Terdapat cairan purulen.
2. Ditemukan kuman dari cairan atau tanda dari jaringan superfisial.
3. Terdapat minimal satu dari tanda-tanda inflammasi
4. Dinyatakan oleh ahli bedah atau dokter yang merawa
Deep Insicional SSI ( ITP Dalam )
Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak
menggunakan implan atau dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan infeksi
tersebut memang tampak berhubungan dengan operasi dan melibatkan jaringan yang lebih
dalam (contoh, jaringan otot atau fasia) pada tempat insisi dengan setidaknya terdapat salah
satu tanda :
1. Keluar cairan purulen dari tempat insisi.
2. Dehidensi dari fasia atau dibebaskan oleh ahli bedah karena ada tanda inflammasi.
3. Ditemukannya adanya abses pada reoperasi, PA atau radiologis.
4. Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter yang merawat
Organ/ Space SSI (ITP organ dalam)
Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak
menggunakan implan atau dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan infeksi
tersebut memang tampak berhubungan dengan operasi dan melibatkan suatu bagian anotomi
tertentu (contoh, organ atau ruang) pada tempat insisi yang dibuka atau dimanipulasi pada saat
operasi dengan setidaknya terdapat salah satu tanda :
1. Keluar cairan purulen dari drain organ dalam
2. Didapat isolasi bakteri dari organ dalam
3. Ditemukan abses
4. Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter.

SUMBER : Hidayat, Nucki. Pencegahan Infeksi Luka Operasi. FK-UNPAD/Bag. Orthopaedi


& Traumatologi RS. Hasan Sadikin Bandung
7. Pencegahan penanganan yang tidak tepat
Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah infeksi pada luka operasi atau organ/ruang yang
terjadi dalam 30 hari paska operasi atau dalam kurun 1 tahun apabila terdapat implant.
Pencegahan ILO harus dilakukan, karena jika tidak, akan mengakibakan semakin lamanya
rawat inap, peningkatan biaya pengobatan, terdapat resiko kecacatan dan kematian, dan dapat
mengakibatkan tuntutan pasien. Pencegahan itu sendiri harus dilakukan oleh pasien, dokter
dan timnya, perawat kamar operasi, perawat ruangan, dan oleh nosocomial infection control
team
a. Mengurangi resiko infeksi dari pasien.
b. Mencegah transmisi mikroorganisme dari petugas, lingkungan, instrument dan pasien itu
sendiri.
Kedua hal di atas dapat dilakukan pada tahap pra operatif, intra operatif, ataupun
paska operatif. Berdasarkan karakteristik pasien, resiko ILO dapat diturunkan terutama pada
operasi terencana dengan cara memperhatikan karakteristik umur, adanya diabetes, kebiasaan
merokok, obsesitas, adanya infeksi pada bagian tubuh yang lain, adanya kolonisasi bakteri,
penurunan daya tahan tubuh, dan lamanya prosedur operasi.
Pada tahap pra-operasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi kejadian ILO, yaitu :
a. Klasifikasi luka operasi.
- Kelas I (bersih)
- Kelas II (bersih-terkontaminasi)
- Kelas III (terkontaminasi)
- Kelas IV (kotor/terinfeksi)
Pada kejadian fraktur dapat ditentukan dari derajat fraktur itu sendiri apakah grade I, II
atau III
b. Lama operasi
c. Apakah operasi terencana atau emergensi.
Untuk pencegahan ILO pada pasien dilakukan dengan perawatan praoperasi, pencukuran
rambut bila mengganggu operasi, cuci dan bersihkan daerah sekitar tempat insisi dengan
antiseptik pada kulit secara sirkuler ke arah perifer yang harus cukup luas. Antibiotik
profilaksis terbukti mengurangi kejadian ILO dan dianjurkan untuk tindakan dengan resiko
infeksi yang tinggi seperti pada infeksi kelas II dan III. Selain itu, antibiotik profilaksis juga
diberikan jika diperkirakan akan terjadi infeksi dengan resiko yang serius seperti pada
pemasangan implan, penggantian sendi, dan operasi yang lama. Pemberian antibiotik
profilaksis harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya alergi, resistensi bakteri,
superinfeksi, interaksi obat, dan biaya.
Pemberiannya dilakukan 30 menit sebelum insisi, atau pada seksio sesaria diberikan
segera setelah tali pusat diklem, dengan jenis antibiotik disesuaikan dengan jenis kuman yang
paling sering mengakibatkan infeksi pada daerah tersebut. Pada umumnya adalah
sepalosporin generasi I atau II. Selain hal di atas, pada saat praoperatif harus juga
diperhatikan mengenai scrub suits, tindakan antisepsis pada lengan tim bedah, gaun operasi
dan drapping. Pada tahap intra operatif, yang harus diperhatikan adalah bahwa semakin lama

operasi, resiko infeksi semakin tinggi, tindakan yang mengakibatkan terbentuknya jaringan
nekrotik harus dihindarkan, kurangi dead space, pencucian luka operasi harus dilakukan
dengan baik, dan bahan yang digunakan untk jahitan harus sesuai kebutuhan seperti bahan
yang mudah diserap atau monofilamen. Pemasangan drain sebaiknya dilakukan secara
tertutup. Dengan drain terbuka (bersifat lembut dan atraumatik) mengakibatkan open system
bacteria, terjadi kontak pada kulit, sulit untuk dilakukan penilaian, menuntut perawatan luka
yang sangat teliti, hanya untuk luka yang tidak terlalu besar, tidak bersifat menghisap
(suction). Sedangkan pada drain tertutup, closed system-bacteria mengakibatkan adanya
kuman yang dapat diminimalisasi, mudah untuk dilakukan penilaian, perawatan lebih mudah,
bila dipasang untuk luka yang cukup besar, dapat menghisap cairan (suction) karena kaku,
bersifat lebih traumatik.
Paska operasi, hal yang harus diperhatikan adalah perawatan luka insisi dan edukasi
pasien. Perawatan luka insisi berupa penutupan secara primer dan dressing yang steril selama
24-48 jam paska operasi. Dressing luka insisi tidak dianjurkan lebih dari 48 jam pada
penutupan primer. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah penggantian dressing. Jika luka
dibiarkan terbuka pada kulit, maka luka tersebut harus ditutup dengan kassa lembab dengan
dressing yang steril.
SUMBER : Hidayat, Nucki. Pencegahan Infeksi Luka Operasi. FK-UNPAD/Bag. Orthopaedi &
Traumatologi RS. Hasan Sadikin Bandung
8. Nasihat untuk pasien
Dari pemicu, terlihat bahwa pasien merasa gatal, basah dan merah pada luka bekas operasi.
Hasil pemeriksaan daerah kulit abdomen bawah, luka bekas operasi tampak edema, eritem, erosi, dan
tidak terlihat adanya pus.
1. Nasihat atau edukasi yang dikatakan seorang dokter kepada pasien adalah dengan menjelaskan
salah satu efek negatif dari operasi caesar adalah bed rest. Bed rest adalah setidaknya kita

2.

3.

4.

ada

harus istirahat total selama tiga bulan lebih setelah menjalankan Operasi Caesar, sebab
bekas jahitan Operasi Caesar tidak mudah kering dan masih dalam keadaan basah.
Meninggalkan bekas luka. Operasi Caesar akan menimbulkan bekas luka yang sulit untuk
dihilangkan di derah perut, bekas luka operasi ini akan membuat masalah dikemudian
hari ketika mau menjalani operasi lain disekitar bekas luka tersebut.
Selain itu, masalah pasca persalinan yang seringkali dihadapi adalah kulit gatal pasca
operasi. Pada sebuah penelitian yang dilakukan bahwa kulit perut yang gatal pasca
operasi mungkin saja terjadi dan ini dinilai normal. Rasa gatal dapat terjadi dikarenakan
pada saat proses operasi dilakukan proses pemotongan saraf-saraf dan ketika mulai
terhubung kembali maka akan menimbulkan rasa gatal yang dialami di area luka bekas
operasi caesar. Namun, ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa gatal merupakan
salah satu dari gejala infeksi.
Lalu pemberian salep antiseptik sudah cukup baik, tetapi lebih mengingatkan pasien
ketika membersihkan luka bekas operasi tersebut menggunakan salep antiseptik,
sebaiknya menggunakan cotton bud atau kapas. Sebelumnya pastikan juga kedua tangan
tetap bersih. Sebaiknya tidak membungkus luka bekas operasi dengan terlalu ketat, sebab
hal tersebut dapat menyebabkan iritasi.
Secara keseluruhan, pasien dapat disimpulkan hanya memiliki gejala normal walaupun
indikasi bahwa pasien mengalami infeksi pasca melahirkan dengan operasi Caesar, jadi

segera berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut. Bila infeksi memang
serius, dianjurkan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit.
SUMBER : Artikel Kesehatan Web-Herbal. 2013. Available from : http://www.webherbal.com/dampak-negatif-operasi-caesar/