Anda di halaman 1dari 9

I.

TUJUAN
Agar mahasiswa mampu melakukan evaluasi sediaan gel terutama uji pelepasan
sediaan gel dengan bahan aktif piroksikam secara in vitro menggunakan sel difusi

II. DASAR TEORI


2.1 Uji Pelepasan
Difusi bebas atau traspor pasif suatu zat melalui cairan, zat padat atau melalui
membrane adalah suatu proses yang sangat penting dalam ilmu bidang farmasi. Pokok dari
fenomena transpormasal yang diterapkan dalam bidang farmasi adalah dissolusi obat dari
tablet, serbuk atau granul, liofilisasi, ultrafiltrasi, dan mekanik lainnya, pelepasan obat dari
basis salep atau suppository, lewatnya uap air, gas, obat atau zat tambahan pada sediaan obat
melalui penyalutan pengemasan, dinding wadah plastic, seal dan tutup, serta permeasi dan
distribusi molekul obat pada jaringan hidup.
Konsep kulit sebagai membran pasif dan adanya keyakinan bahwa viabilitas kulit
kurang penting dalam absorpsi perkutan, telah memandu dominasi studi absorpsi perkutan
oleh hukum aksi masa dan difusi secara fisika. Sebuah konsekwensi dari konsep kulit sebagai
membran pasif merupakan tanda-tanda yang jelas dari stratum corneum sebagai barrier
terhadap absorpsi perkutan. Bagian kulit yang hidup akan menentukan metabolisme,
distribusi dan ekskresi dari senyawa melalui kulit dan tubuh.
Absorbsi per kutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi obat melalui
stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada umumnya keratin) dan
40% air dengan lemak berupa trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak.
Stratum komeum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi
permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif, jadi jumlah obat yang
pindah menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat. Bahan-bahan yang
mempunyai sifat larut dalam minyak dan air, merupakan bahan yang baik untuk difusi
melalui stratum korneum seperti juga melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit. Prinsip
absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak
dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti
bergeraknya molekul.
Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi umumnya
obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua
sisi membran sel.

Menurut hukum difusi Fick, molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi
obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah.

Keterangan:
Dq/Dt = Laju difusi
D = Koefisien difusi
K = Koefisien partisi
A = luas permukaan membran
h = tebal membran
Cs-C = perbedaan antara konsentrasi obat dalam pembawa dan medium

Difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat, koefisien difusi, viskositas dan
ketebalan membran. Di samping itu difusi pasif dipengaruhi oleh koefisien partisi, yaitu
semakin besar koefisien partisi maka semakin cepat difusi obat.
Salah satu metode yang digunakan dalam uji difusi adalah metode flow through.
Adapun prinsip kerjanya yaitu pompa peristaltik menghisap cairan reseptor dari gelas kimia
kemudian dipompa ke sel difusi melewati penghilang gelembung sehingga aliran terjadi
secara hidrodinamis, kemudian cairan dialirkan kembali ke reseptor. Cuplikan diambil dari
cairan reseptor dalam gelas kimia dengan rentang waktu tertentu dan diencerkan dengan
pelarut campur. Kemudian diukur absorbannya dan konsentrasinya pada panjang gelombang
maksimum, sehingga laju difusi dapat dihitung berdasarkan hukum Fick di atas.
Disolusi merupakan tahapan yang membatasi atau tahap yang mengontrol laju
biabsorbsi obat- obat yang mempunyai kelrutan rendah, karena tahapan ini sering kali
merupakan tahapan yang paling lambat dari berbagai tahapan yang ada dalam pelepasan obat
dari bentuk sediaanya dan perjalanannya ke dalam sirkulasi sistemik.
Pelepasan dari bentuk sediaan dan kemudian absorbsi dalam tubuh dikontrol oleh sifat
fisika kimia dan fisiologis dari system biologis. Konsentrasi obat, kelarutan dalam air, ukuran
molekul, bentuk kristal, ikatan protein dan pKa adalah factor-faktor fiskim yang harus
dipahami untuk mendesain system pemberian yang menunjukkan karakteristik terkontrol atau
pelepasan terkendali.

Lepasnya suatu obat dari system pemberian meliputi factor disolusi dan difusi. Dasar
teori disolusi dan difusi menunjukkan banyak kesamaan. Laju disolusi sebagai salah satu
faktor yang mempengaruhi penglepasan obat, dan dari sini menekankan pada prinsip-prinsip
difusi yang berhubungan dengan transfor obat dari matriks-matriks sediaan, melalui dinding
wadah dan kemasan dan ke dalam badan melalui mukosa gastrointestin (lambung-usus),
lapisan-lapisan kulit, vagina, rongga mulut dan tempat masuk ke dalam badan lainnya.
Obat-obat yang larut dalam pembawa topikal dan matrik. Selain menggunakan
metode Franz diffucion cell dan European Pharmacopoeia diffucion cell digunakan juga
model higuchi model ini tidak menyediakan suatu penyesuaian yang tepat dengan data
eksperimen jika obat tersebut mempunyai kelarutan yang bermakna dalam basis salep. Tetapi
model tersebut dapat diperpanjang ke penglepasan obat dari padatan homogen atau pembawa
semisolid.
Uji dissolusi in vitro dari sediaan semisolida dapat digunakan untuk menentukan
karakteristik pelepasan obat dari sediaan. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk uji
pelepasan in vitro dari sediaan semisolida adalah Franz diffucion cell dan European
Pharmacopoeia diffucion cell.
Di dalam pembahasan untuk memahami mekanisme disolusi, kadang-kadang digunakan
salah satu atau gabungan dari model-model terikat :
a.

Model Lapisan Difusi (Diffusion Layer Model)


Pada permikaan padat terdapat satu lapis tipis cairan dengan ketebalan l yang
merupakan komponen keceopatan negative dengan arah yang berlawanan dengan
permukaan padat. Reaksi pada permukaan padat cair berlangsung cepat. (Banakar,
1992).

b.

Model Barrier antar Muka (Interfacial Barrier Model)


Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaan padat dan dalam hal
ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan. Sebagai hasilnya, tidak dianggap ada
kesetimbangan padatan-larutan, dan hal ini harus dijadikan pegangan dalam
membahas model ini. Proses pada model antar muka padat-cair sekarang menjadi
pembatas kecepatan ditinjau dari proses transport. Transport yang relative cepat
terjadi secara difusi melewati lapisan tipis statis. (Banakar, 1992).

c.

Model Dankwert (Dankwert Model)


Model ini beranggapan bahwa transport solute menjauhi permukaan padat terjadi
melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar muka padat-cair karena
terjadi pusaran difusi secara acak.

Menurut Shargel dan Yu (1999), laju disolusi obat in vitro dipenaruhi oleh beberapa faktor
antara lain :
1. Sifat Fisika Kimia Obat
Sifat kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas permukaan efektif
dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju disolusi akan diperbesar
karena kelarutan terjadi pada permukaan solut. Kelarutan obat dalam air juga
mempengaruhi laju disolusi. Obat berbentuk garam, pada umumnya lebih mudah larut
dari pada obat berbentuk asam maupun basa bebas. Obat dapat membentuk suatu
polimorfi yaitu terdapatnya beberapa kinetika pelarutan yang berbeda meskipun
memiliki struktur kimia yang identik. Obat bentuk kristal secara umum lebih keras,
kaku dan secara termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf, kondisi ini
menyebabkan obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada bentuk kristal
2. Faktor Formulasi
Berbagai bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat mempengaruhi
kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka antara medium tempat
obat melarut dengan bahan obat ataupun bereaksi secara langsung dengan bahan obat.
Penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob seperti magnesium stearat, dapat
menaikkan tegangan antar muka obat dengan medium disolusi. Beberapa bahan
tambahan lain dapat membentuk kompleks dengan bahan obat, misalnya kalsium
karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin.
Hal ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan berpengaruh
pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi
3. Faktor Alat dan Kondisi Lingkungan
Adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji disolusi akan menyebabkan
perbedaan kecepatan pelarutan obat. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi
kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan
semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. Selain itu temperatur,
viskositas dan komposisi dari medium, serta pengambilan sampel juga dapat
mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.

2.2 Uji Penetrasi Secara In Vitro Menggunakan Sel Difusi Franz (Franz diffucion cell)

Dalam studi in vitro pada kulit, permeasi sangat penting untuk mengevaluasi
karakteristik obat yang mengalami penetrasi ke dalam dan melalui kulit. Kulit mayat
manusia, kulit babi atau kulit hewan lainnya adalah kulit yang biasanya digunakan dalam alat
sel difusi Franz. Franz sel adalah metodologi pengujian yang sering digunakan pada uji in
vitro untuk mengevaluasi pelepasan bahan aktif dari formulasi topikal atau penetrasi obat di
kulit. Peralatan Franz sel dapat digunakan untuk uji pelepasan dan permeasi kulit. Hasil yang
diperoleh dapat bervariasi, tergantung dengan ukuran sel yang digunakan.

GAMBAR SEL DIFUSI FRANZ

Sel difusi Franz terdiri dari kompartemen donor (A), kompartemen reseptor (B),
Membran (C) dipasang antara sel kompartemen cincin-O (D) yang digunakan untuk posisi

membran. Sel dua kompartemen dihubungkan bersama dengan sebuah penjepit.


Kompartemen reseptor memiliki volume 4.3 ml dan dipenuhi dengan PBS-buffer yang
disimpan pada suhu 37 C dengan sirkulasi air melalui jaket air eksternal (E). Setelah 30
menit dari ekuilibrasi membran dengan solusi reseptor, 200 l larutan obat ditempatkan
dalam kompartemen donor melalui sebuah pipet. Kompartemen donor kemudian ditutup
dengan parafilm untuk mencegah penguapan pelarut. Solusi reseptor terus diaduk dengan
menggunakan sebuah magnet batang berputar (F), di 400 rpm (Multipoint HP 15, Variomag,
Mnchen, Germany). Reseptor solusi sampel, 2.0 Aliquot ml ditarik melalui port sampling
(G) dari kompartemen reseptor pada berbagai interval waktu. Sel yang diisi dengan larutan
reseptor untuk menjaga volume larutan reseptor konstan selama percobaan.

Keterangan:
J

= kecepatan penetrasi zat aktif (g cm-2jam-1)

= jumlah zat yang terpenetrasi (g)

= luas permukaan (cm2)

= waktu (jam)

= koefisein difusi

= koefisien partisi

= tebal membran

(C2-C1)

= gradient konsenrasi

Banyak informasi dapat diperoleh dari dalam studi penyerapan perkutan in vitro.
Parameter utama adalah Flux (tingkat dan waktu penetrasi) dan jumlah yang diserap. Data
fluks juga dapat dikonversi ke hasil penetrasi kumulatif. Ketika studi keseimbangan massa
dilakukan, permukaan dosis residu dan isi didistribusikan di dalam lapisan stratum, epidermis

dan dermis juga dapat ditentukan. Parameter-parameter ini dilaporkan sebagai baik massa /
cm 2 (misalnya mg / cm 2) dan sebagai persen dari dosis yang diterapkan.
Komponen lemak dipandang sebagai faktor utama yang secara langsung bertanggung
jawab terhadap rendahnya penetrasi obat melalui stratum corneum. Sekali molekul obat
melalui stratum corneum kemudian dapat terus melalui selaput epidermis yang lebih dalam
dan masuk ke dermis, apabila obat mencapai lapisan pembuluh kulit maka obat tersebut siap
untuk diabsorpsi ke dalam sirkulasi umum.

Penetrasi perkutan meliputi :


Disolusi suatu obat dalam pembawanya
Difusi obat terlarut dari pembawa ke permukaan kulit
Penetrasi obat melalui lapisan-lapisan kulit terutama lapisan stratum corneum
Tahap yang paling lambat dari proses tersebut biasanya meliputi perjalanan melalui
stratum corneum, oleh karerna itu ini merupakan laju yang membatasi atau mengontrol
permeasi.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi penetrasi dari suatu obat ke dalam kulit adalah :
Konsentrasi obat terlarut karena laju penetrasi sebanding dengan konsentrasi
Koefisien partisi K antara kulit dan pembawa, yang merupakan ukuran afinitas relatif dari
obat tersebut untuk kulit dan pembawa.
Koefisien difusi yang menggambarkan ketahanan pergerakan molekul obat melalui daya
pembawa dan pembatas kulit.
Besaran relatif dari kedua koefisien difusi menentukan apakah penglepasan dari
pembawa atau perjalanan melalui kulit merupakan tahap yang menentukan laju.
Difusi dari obat dalam pembatas kulit dipengaruhi oleh komponen-komponen
pembawa (terutama pelarut dan surfaktan) dan suatu koefisien partisi optimum yang
diperoleh dengan mengubah afinitas dari bahan untuk obat tersebut.
Beberapa petunjuk yang berguna untuk membatu dalam mendesain bentuk sediaan topikal
yang efektif antara lain :
Semua obat harus dalam larutan dalam pembawanya
Campuran pelarut harus mempertahankan koefisien partisi yang diinginkan sehingga obat
larut dalam pembawa dan juga mempunyai afinitas besar untuk penbatas kulit ke dalam
bagian mana ia berpenetrasi

Komponen-komponen pembawa harus mempengaruhi dengan baik permeabilitas dari


stratum corneum.

2. Larutan Penyangga
Larutan penyangga atau larutan buffer merupakan suatu larutan yang dapat
mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari buffer ini seperti
pH buffer hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam atau basa. Buffer yang
bersifat asam memiliki pH kurang dari 7 sedangkan buffer basa memiliki pH lebih dari 7.
Buffer yang bersifat asam biasanya terbuat dari asam lemah dan basa konjugatnya.
Sedangkan buffer yang bersifat basa biasanya terbuat dari basa lemah dan asam konjugatnya.
Buffer fosfat

adalah buffer netral dengan kisaran pH 7. Pada makhluk hidup, buffer fosfat umumnya
terdapat pada sitoplasma sel. Buffer fosfat dapat dibuat dengan menggunakan monosodium
fosfat (NaH2PO4) dan basa konjugatnya yaitu disodium fosfat (Na2HPO4).
Pada pembuatan larutan buffer Fosfat digunakan untuk kisaran pH asam lemah
menuju netral, yaitu pada kisaran nilai pH 5.7 8.0. Oleh karena itu, buffer fosfat sering
digunakan dalam pengerjaan laboratorium yang berkaitan dengan materi biologis.
Untuk membuat larutan buffer fosfat terlebih dahulu harus mempersiapkan 2 larutan stok,
yaitu:

Larutan Stok A: 0.2 M larutan Monobasic Sodium Phosphate atau NaH 2PO4 (27.8
gram NaH2PO4 dilarutkan dalam 1 L Aquades)

Larutan Stok B: 0.1 M larutan Dibasic Sodium Phosphate atau Na2HPO4 (53.65 gram
Na2HPO4. 7H2O atau 71.7 gram Na2HPO4. 12H2O dilarutkan dalam 1 L Aquades)

Misal jika ingin membuat larutan buffer Fosfat pH 6.0, maka yang harus dilakukan adalah:

87.7 mL larutan Stok A dicampur dengan 12.3 larutan Stok B

Campuran larutan Stok A dan B kemudian volumenya dicukupkan hingga 200 mL


dengan Aquades, atau dengan kata lain 100 mL Aquades ditambahkan ke dalam
campuran larutan Stok A dan B.

Bila ditambah sedikit asam, komponen buffer yang bersifat basa akan mengikat ion
H+ sehingga jumlah ion H+ tidak bertambah dan pH tidak menurun. Bila ditambahkan sedikt
basa, komponen buffer yang bersifat asam akan mengikat ion OH- sehingga jumlah ion OHtidak bertambah dan pH tidak meningkat. Buffer umumnya memiliki kapasitas penyangga
dengan rentang 1 nilai pH diatas dan dibawah pH normal buffer tersebut.
Buffer Posphat saline (PBS) adalah larutan buffer yang biasa digunakan dalam
penelitian biologi. Larutan penyangga ini membantu untuk mempertahankan pH konstan.
Osmolaritas Dan konsentrasi ion dari larutan ini, biasanya cocok untuk dengan tubuh
manusia ( isotonik ).
Ada banyak cara untuk mempersiapkan PBS. Beberapa formulasi tidak mengandung
kalium, sementara yang lain mengandung kalsium atau magnesium. Umumnya, PBS
mengandung unsur berikut:
Salah satu komposisi umum dari PBS
Garam

Konsentrasi

Konsentrasi

()

(mmol/L)

(g/L)

NaCl

137

8.01

KCl

2.7

0.20

Na 2HPO4 2H2O

10

1.78

KH2PO4

2.0

0.27

pH

7.4

7.4

Cara paling mudah untuk membuat larutan PBS adalah dengan menggunakan tablet
PBS buffer. Ini diformulasikan untuk menydiakan larutan PBS yang siap untuk digunakan
dengan melarutkankan pada sejumlah tertentu air suling. Voleme air standart yang tersedia
biasanya: 100, 200, 500 dan 1000 mL.
Jika larutan akan digunakan untuk kultur sel, maka larutan dapat didispensikan ke
dalam aliquot dan disterilkan dengan menggunakan autoklaf (20 menit, 121C, siklus cair).
Sterilisasi mungkin tidak diperlukan tergantung pada penggunaannya. PBS dapat disimpan
pada suhu kamar, tetapi mungkin membutuhkan pendinginan untuk mencegah pertumbuhan
bakteri jika larutan tidak steril dan disimpan untuk jangka waktu yang lama. Namun, larutan
stok terkonsentrasi dapat timbul lapisan endapan ketika didinginkan dan bila harus disimpan
pada suhu kamar sampai endapan telah benar-benar hilang sebelum digunakan.