Anda di halaman 1dari 48

II.

SOCIAL INTERACTION

3. HELPING OTHERS
( TL. PROSOSIAL )

T.L Prososial

Suatu tindakan menolong yang


menguntungkan orang lain tanpa harus
menyediakan suatu keuntungan langsung
pada orang yang melakukan tindakan
tersebut,dan mungkin bahkan melibatkan
suatu resiko bagi orang yang menolong

Penelitian Psikologi Sosial


pada t.l Prososial

Untuk mengetahui mengapa kadang-kadang


memberi pertolongan kepada orang asing
dan kadang-kadang diam saja dan tidak
melakukan apapun.

Tindakan prososial tampaknya selalu


melibatkan perpaduan dari :

sedikitnya pengorbanan pribadi untuk


memberikan pertolongan dan
memperoleh sejumlah kepuasan pribadi
karena melakukannya.

Perpaduan dari pengorbanan dan kepuasan


ini terjadi baik pada tindakan yang :
- relatif sederhana dan aman ,
- maupun sesuatu yang sangat berbahaya ,
misalnya :
menyelamatkan orang asing yang sedang
tenggelam.

Altruisme ( altruism )

Istilah altruisme kadang-kadang digunakan


secara bergantian dengan tingkah laku
prososial ,

altruisme :
adalah kepedulian yang tidak
mementingkan diri sendiri melainkan
untuk kebaikan orang lain.

Pemicu

Penelitian mengenai tingkah laku prososial


dipicu oleh sebuah pembunuhan
Kasus :
Pembunuhan pada tanggal 13 Maret 1963
,terhadap seorang wanita yang dibunuh di
New York City. Catherine ( Kitty ) Genovese.
Ia diserang oleh seorang laki-laki
bersenjatakan pisau sampai mati.

Kemudian ditemukan bahwa penyerangan


mengerikan yang terjadi selama 45 menit ini
dilihat dan didengar oleh 39 saksi mata,
tetapi tidak ada satupun yang mengambil
tindakan atau menelpon polisi
( Rosenthal, 1964 )

Mengapa mereka tidak menolong ?

Apakah orang orang yang hidup pada tahun 1960an telah menjadi tidak punya hati nurani , dingin dan
tidak perduli terhadap masalah-masalah orang lain?
Mungkinkah hidup di kota besar telah membuat
orang menjadi tebal muka ?
Mungkinkah kekerasan di televisi dan film-film telah
membuat penonton menjadi kurang sensitif terhadap
kekerasan yang sebenarnya ?

Kurang dari setahun sebelum pembunuhan ini


Presiden Kennedy dibunuh di Dallas, dan drama
tersebut di rekam di film ;
hari minggu berikutnya penembakan terhadap
pembunuh yang dicurigai terekam oleh kamera
video.

Mungkin pengaruh yang terakumulasi dari kejadiankejadian seperti ini membuat orang sulit berempati
kepada orang asing yang berteriak minta tolong.

Apabila orang telah begitu jahat..,


tetapi mengapa seorang individu yang menemukan
sebuah tas yang penuh berisi uang mau mencari
pemiliknya dan mengembalikan .$ 70.000 milik
orang tersebut ?
Mengapa seorang pria mengambil resiko kematian
dengan menyelam 150 kaki dari sebuah jembatan
untuk menyelamatkan seorang wanita yang
mencoba bunuh diri
( Fitzgerald,1966 ) ?

Terjadinya perilaku kontras ini mendorong dua


psikolog sosial, John Darley dan Bibb Latane,
untuk berspekulasi dengan menawarkan penjelasan
yang dapat diuji.

Asumsi dasar pertama adalah :


Kegagalan bystander untuk memberi tanggapan
adalah bukan karena mereka tidak perduli terhadap
sang korban kejahatan, tetapi
bahwa sesuatu dalam situasi tersebut pasti telah
membuat mereka ragu-ragu.

Hipotesis

Hipotesis pertama yang akan diuji adalah ;


bahwa bystander gagal memberi respons pada
keadaan darurat apabila terjadi penyebaran
tanggung jawab ( diffusion of responsibility ).

Dengan kata lain, makin banyak bystander yang


ada, makin kurang rasa tanggung jawab untuk
melibatkan diri pada keadaan darurat tersebut.

Sebuah eksperimen dirancang untuk mengetes


predidiksi ini, yang kemudian dikenal sebagai
efek bystander ( bystander effect ).

Tingkah laku menolong diukur dalam batasan :


persentase partisipan dalam setiap kelompok
eksperimen untuk mencoba menolong, dan
di antara mereka yang menolong, berapa lama jeda
waktu sebelum mulai menolong.

Hasil Eksperimen
Perkiraan tersebut benar, efek bystander
memang terjadi, dan penemuan tersebut
konsisten dengan konsep penyebaran
tanggung jawab.
Makin banyak bystander, makin rendah
persentase siswa yang memberi respons
dan makin lama mereka menunggu sebelum
memberi respons.

Penyebaran Tanggung Jawab

Suatu pendapat bahwa jumlah tanggung jawab yang


diasumsikan oleh bystander pada suatu keadaan
darurat dibagi diantara mereka.

Jika hanya ada satu orang bystander dia


menanggung keseluruhan tanggung jawab, jika
hanya ada dua orang bystander masing-masing
menanggung 50 persen.

Efek Bystander

Bahwa kecenderungan untuk berespons prososial


pada keadaan darurat dipengaruhi oleh jumlah
bystander yang ada.

Sejalan dengan meningkatnya jumlah bystander,


probabilitas bahwa seorang bystander akan
menolong menurun dan lamanya waktu sebelum
pertolongan diberikan meningkat.

Lima langkah respon individu dalam


situasi darurat
( Latane dan Darley,1970 1970 )
Langkah langkah :
1 : Menyadari adanya keadaan darurat.
2 : Menginterpretasikan keadaan sebagai
keadaan darurat.
3 : Mengasumsikan bahwa adalah
tanggung jawabnya untuk menolong.
4 : Mengetahui apa yang harus dilakukan
5 : Mengambil keputusan untuk menolong

1. Menyadari adanya keadaan darurat

Definisinya, keadaan darurat tidak terjadi menurut jadwal, jadi


tidak ada cara untuk mengantisipasi kapan atau di mana
masalah yang tidak diharapkan akan terjadi.

Dalam banyak kejadian , orang-orang tidak menyadari,


akibatnya bagi mereka masalah tersebut tidak ada.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengabaikan atau
membatasi banyak penglihatan atau suara karena info-info itu
secara pribadi tidak relevan.

Hasil penelitian Darley dan Batson ( 1973 ),


menyatakan bahwa ketika seseorang dipenuhi oleh
kekhawatiran-khawatiran pribadi, tingkah laku
prososial cenderung tidak terjadi
Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang terlalu
sibuk untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya
gagal untuk menyadari situasi darurat yang nyatanyata terjadi.
Pertolongan tidak diberikan karena tidak adanya
kesadaran bahwa keadaaan gawat darurat itu terjadi

2. Menginterpretasikan keadaan
sebagai darurat

Meskipun kita memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita, kita


hanya memiliki informasi yang tidak lengkap dan terbatas mengenai
apa yang kira-kira sedang dilakukan oleh seorang asing., biasanya
hal tersebut tidak penting bagi kita dan lagi pula bukan urusan kita.

Ketika orang yang potensial menolong tidak yakin sepenuhnya apa


yang terjadi, mereka cenderung untuk menahan diri dan menunggu
informasi lebih lanjut,
- hal ini bukan hanya karena terjadi pembagian tanggung
jawab, tetapi juga
karena merupakan hal yang memalukan untuk
membuat kesimpulan yang salah terhadap suatu situasi dan
bertindak tidak tepat terhadapnya.

Kecenderungan orang yang berada dalam


sekelompok orang asing untuk menahan diri
dan tidak berbuat apapun adalah sesuatu
yang disebut sebagai pengabaian majemuk
( pluralistic ignorance ).

3. Mengasumsikan bahwa adalah


tanggung jawabnya untuk menolong

Pada banyak keadaan ,tanggung jawab jelas posisinya :


Pemadam kebakaran adalah mereka yang harus melakukan
sesuatu terhadap rumah yang terbakar,
polisi adalah mereka yang harus melakukan sesuatu
terhadap kejahatan,
pegawai medis berhubungan dengan luka dan sakit.

Ketika tanggung jawab tidak jelas seperti contoh diatas,


orang cenderung mengasumsikan bahwa siapapun dengan
peran pemimpin seharusnya bertanggung jawab (
Baumeister dkk,1998 )

4. Mengetahui apa yang harus


dilakukan.

Bahkan apabila bystander mencapai langkah 3 dan


mengasumsikan adanya tanggung jawab, tidak ada hal
berarti yang dapat dilakukan kecuali orang tersebut tahu
bagaimana ia dapat menolong.
Beberapa keadaan darurat membutuhkan pengetahuan dan
keterampilan khusus yang tidak dimiliki oleh kebanyakan
bystander.
Misalnya,
Anda dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam
hanya jika anda tahu bagaimana cara berenang dan
bagaimana cara menarik orang tersebut ke tepian.

5. Mengambil keputusan untuk


menolong

Bahkan jika tanggapan bystander pada setiap


empat langkah pertama adalah iya, pertolongan
tidak akan diberikan kecuali mereka membuat
keputusan akhir untuk bertindak.
Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat
oleh rasa takut ( seringkali merupakan rasa takut
yang realistis ) terhadap adanya konsekuensi
negatif yang potensial.

Kemungkinan terburuk, orang yang terlihat memerlukan


pertolongan mungkin adalah seorang penjahat yang hanya
berpura-pura mendapat masalah.
Jenis khusus dari konsekuensi yang tidak menyenangkan
mungkin muncul ketika anda melihat seorang individu diancam
oleh seseorang dari keluarganya sendiri.
Orang asing yang berniat baik yang mencoba menolong
seringkali hanya memancing kemarahan.
Mungkin ini menjelaskan mengapa bystander jarang
menawarkan pertolongan ketika mereka mempercayai bahwa
seorang wanita sedang dianiaya oleh suami atau pacarnya (
Shotland & Strau, 1976 ), atau bahwa seorang anak sedang
disiksa secara fisik oleh orang tuanya ( Christy & Voight, 1994 )

Sehingga untuk beberapa alasan yang


sangat baik, bystander mungkin
memutuskan untuk menahan diri dan
menghindari resiko yang terkait dengan
tingkah laku prososial mereka.

Faktor situasional yang


mendukung/menghambat t.l menolong

Daya Tarik. ( Menolong mereka yang


anda sukai )
Seseorang akan lebih mau menolong
seseorang yang dikenal, disukai, dicintai dan
orang asing tetapi karena terdapat
kesamaan , ketertarikan fisik dan faktorfaktor lain.

Contoh :
seorang suami yang divonis bersalah karena
pembunuhan tidak berencana, karena dia membantu
proses bunuh diri istrinya yang putus asa dari
kelumpuhan dan memburuknya keadaan mental
yang akan dialaminya sebelum ia meninggal.
Dia melakukan sesuai dengan yang diharapkan
istrinya, walaupun harus menghadapi lima belas
tahun di penjara sebagai konsekuensinya.(
Thompson, 1998 ).

Apapun faktor yang dapat meningkatkan


ketertarikan bystander kepada korban akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya
respons prososial, apabila individu tersebut
membutuhkan pertolongan
( Clartk dkk, 1987 )

Homoseksualitas dipandang rendah oleh


banyak orang dalam masyarakat AS.
Diperkirakan orang asing homoseksual yang
membutuhkan pertolongan akan menerima
lebih sedikit pertolongan dibandingkan
dengan orang asing hateroseksual.

Atribusi

Atribusi menyangkut tanggung jawab korban.


Kita akan menjadi kurang termotivasi untuk
menolong, jika kita membuat atribusi bahwa
seseorang secara pribadi bertanggung jawab pada
situasi yang dialaminya,
dibandingkan jika ia kelihatannya adalah korban
yang tidak bersalah dari kecelakaan atau
perampokan.

Pertolongan tidak diberikan secara otomatis


ketika seorang bystander mengasumsikan
bahwa kejadian tersebut akibat kesalahan
si korban sendiri
( Weiner, 1980 ).

Model-model Prososial

Kekuatan dari contoh positif

Jika kita melihat orang lain memberi sumbangan, maka kita


akan cenderung melakukan hal yang sama
( Macauley,1970 )
Dalam situasi darurat, kita mengindikasikan bahwa
keberadaan bystander lainnya yang tidak berespons dapat
menghambat tingkah laku menolong.
Keberadaan bystander yang menolong memberi model
sosial yang kuat, dan hasilnya adalah suatu peningkatan
dalam tingkah laku menolong di antara bystander lainnya.

Motivasi dan Moralitas

Batson dan Thompson ( 2001 ) menyatakan


bahwa masalah motivational harus
dipertimbangkan juga.
Ada 3 motif utama relevan ketika seseorang
dihadapkan pada sebuah dilema moral.

1. Self interest

Self- interest ( kadang-kadang disebut egoisme/ egoism )


Egoisme : pertimbangan eksklusif terhadap kebutuhan serta
kesejahteraan pribadi dan bukan terhadap kebutuhan dan
kesejahteraan orang lain.
Self interest : motivasi untuk terlibat dalam tingkah laku
apapun yang menyediakan kepuasan terbesar.
Orang-orang yang memiliki motif ini sebagai motif utama
tidak dipusingkan oleh pertanyaan benar dan salah atau adil
dan tidak adil- mereka hanya melakukan apa yang terbaik
bagi diri mereka.

2. Moral Integriti ( Integritas Moral )

Motivasi untuk bermoral dan benar-benar terlibat


dalam tingkah laku bermoral.
Bagi mereka yang termotivasi dengan integritas
moral, pertimbangan akan kebajikan dan keadilan
seringkali membutuhkan sejumlah pengorbanan
self- interest untuk melakukan hal yang benar
Bagi orang yang bermoral, konflik antara selfinterest dan integritas moral dapat diselesaikan
dengan membuat pilihan bermoral

3. Moral Hypocrisy

Motivasi untuk terlihat bermoral selagi melakukan apa yang


terbaik untuk menghindari kerugian yang dilibatkan dalam
tindakan bermoral yang sebenarnya.
Individu pada kategori ini didorong oleh self-interest tetapi
juga mempertimbangkan penampilan luar mereka.
Kombinasi ini berarti bahwa mereka penting bagi mereka
untuk terlihat peduli dalam melakukan hal yang benar,
sementara mereka sebenarnya tetap mengutamakan
kepentingan-kepentingan mereka pribadi.

Perbedaan Disposisional dalam


memberikan Respons Prososial

Empati : syarat dasar


Banyak perbedaan minat seseorang untuk menolong
bersumber pada motif altruistik yang berdasarkan pada
empathy ( Clary & Orensenstein,1991;Grusec,1991 )
Empati meliputi komponen afektif maupun kognitif
( Duan,2000).
Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang
orang lain rasakan ( Darley,1993 )
Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang
orang lain rasakan dan mengapa ( Azar,1997 ).

Bagaimana Empati berkembang dan mengapa


orang-orang memiliki kadar empati yang berbeda
Jane Strayer seorang Psikolog( Azar,1997 )
menyatakan bahwa kita semua dilahirkan dengan
kapasitas biologis dan kognitif untuk merasakan
empati, tetapi
pengalaman spesifik kita menentukan apakah
potensi bawaan tersebut dihambat atau menjadi
bagian yang penting dari diri.

Situasi Spesifik

Peran dari sekolah


dalam mengembangkan program pendidikan
karakter ( Lord,2001 ), yaitu mengajarkan
anak-anak jujur,bertingkah laku
baik,menghargai orang lain dan bertanggung
jawab.

Pengaruh Model prososial yang dilihat di televisi

Pengaruh Model yang disediakan oleh orang tua


( observasi )
Kuncinya adalah dengan mengajarkan anak untuk
menjadi baik dan untuk berpikir mengenai orang
lain selain dari diri sendiri.

Rasa empati anak ditingkatkan ketika orang


tua dapat mendiskusikan emosi-emosi, tetapi
penghambat utama perkembangan empati
adalah penggunaan rasa marah oleh orang
tua sebagai cara untuk mengontrol anakanaknya ( Azar,1997 )

Bencana alam yang sangat istimewa


Orang-orang mengekspresikan empati yang
lebih besar jika mereka sendiri telah
mengalami bencana yang sama
( Batson , Sager dkk ,1997 )

Faktor Kepribadian

Faktor kepribadian lain yang berhubungan dengan


perilaku prososial.

Orang-orang yang memiliki kebutuhan akan persetujuan


( neeed for approval ) yang tinggi,ketika mereka diberikan
reward (pujian,penghargaan) , perilaku menolong
meningkat
( Deutsch & Lamberti, 1986 )

Orang orang yang mempunyai kepercayaan interpersonal


( interpersonal trust ) yang tinggi

Machiavellianism
orang yang memiliki karakteristik
ketidakpercayaan,sinisme,egocentris,
kecenderungan untuk memanipulasi orang
lain,
Adalah orang yang paling tidak mungkin
menunjukkan kecenderungan prososial.

Faktor disposisional yang menyusun


kepribadian altruistik
1. Empati
2. Mempercayai dunia yang adil
Percaya bahwa tingkah laku yang baik diberi imbalan dan
tingkah laku diberi hukuman
3. Tanggung jawab sosial
Percaya bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik untuk menolong orang yang
membutuhkan.

4. Locus of control internal


Kepercayaan individual bahwa dia dapat memilih untuk
bertingkah laku dalam cara memaksimalkan hasil akhir yang
baik dan meminimalkan hasil akhir yang buruk
5. Egocentris rendah
Mereka yang menolong tidak bermaksud untuk menjadi
egosentris, self-absorbed, dan kompetitif.