Anda di halaman 1dari 9

SOAL :

1. Jelaskan mengapa pasca Reformasi banyak Lembaga-lembaga Negara Baru


bermunculan; dan persyaratan apa saja yang diperlukan untuk membentuk lembaga
tersebut?
2. Jelaskan mengapa sengketa kewenangan antar Lembaga Negara sering terjadi; dan
bagaimana cara penyelesaiannya?
3. Dalam penyusunan Aparatur

Pemerintah

digunakan

asas-asas

pokok

pengorganisasian. Asas pokok pengorganisasian apa saja yang paling dominan


menurut pendapat saudara agar tercapai tujuan secara efektif dan efisien, berikan
argumentasi saudara?
JAWAB:
1. Mengapa

pasca

Reformasi

banyak

Lembaga-lembaga

Negara

Baru

bermunculan:
Karena adanya amandemen UUD 1945 dimana sejak reformasi terjadi tahun 1998
yang mengakibatkan berakhirnya masa pemerintahan orde baru, mulailah terjadi
perubahan (Amandemen) konstitusi Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945

sebanyak empat kali. Perubahan UUD 1945 tersebut

mengakibatkan adanya perubahan kedudukan dan hubungan beberapa lembaga


negara, penghapusan lembaga negara tertentu, dan pembentukan lembaga-lembaga
negara baru. Secara keseluruhan UUD 1945 sebelum perubahan mengenal enam
lembaga tinggi/tertinggi negara, yaitu MPR sebagai lembaga tertinggi negara; DPR,
Presiden, MA, BPK, dan DPA sebagai lembaga tinggi negara. Namun setelah
perubahan, lembaga negara berdasarkan ketentuan UUD adalah MPR, DPR, DPD,
Presiden, BPK, MA, MK, dan KY tanpa mengenal istilah lembaga tinggi atau
tertinggi negara. Perubahan tersebut memang ditujukan untuk menyempurnakan
kedudukan dan kewenangan masing-masing lembaga negara agar lebih demokratis,
seperti disempurnakannya sistem saling mengawasi dan mengimbangi (checks and
balances).
Selain itu banyaknya lembaga baru yang terbentuk karena perubahan sistem
pemerintahan yang pada awalnya sentralistik atau terpusat hanya pada beberapa
lembaga negara menjadi desentralistik dimana tugas dan kewenangan pemerintah
dalam penyelenggaraan negara dibagi kedalam lembaga-lembaga negara tersebut
Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik
Indonesia

sesuai dengan tugas dan wewenangnya masing-masing. Misalnya saja lahirnya


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang merupakan Lembaga negara yang
memiliki tugas dalam penanganan korupsi di pemerintahan. KPK muncul karena
tugas pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dilakukan oleh salah satu lembaga
negara saja seperti MA atau Peradilan, tetapi perlu Lembaga tersendiri yang fokus
dalam menjalankan tugas pemberantasan korupsi. Selanjutnya KPK juga
merupakan

representasi

dari

mekanisme

sistem

saling

mengawasi

dan

mengimbangi (checks and balances). Dan yang tak kalah penting dalam
pembentukan Lembaga Negara harus mempresentasikan aspirasi rakyat. Dimana
saat ini rakyat menginginkan peberantasan korupsi yang benar-benar dijalankan
bukan hanya di gaungkan dalam perkataan saja.
Ada juga beberapa hal yang mempengaruhi dibentuknya lembaga negara baru pasca
reformasi :
a. Tiadanya kredibilitas lembaga yang telah ada akibat suatu asumsi dan bukti
mengenai kasus korupsi yang sistemik dan mengakar yang sulit untuk
diberantas
b. Tidak independennya lembaga-lembaga negara yang ada , karena satu atau
lain hal tunduk di bawah pengaruh satu kekuasaan negara atau kekuasaan
lain
c. Ketidakmampuan lembaga-lembaga negara yang

telah ada untuk

melakukan tugas yang urgen dalam masa transisi demokrasi karena


persoalan birokrasi dan KKN
d. Adanya pengaruh global dengan pembentukan lembaga negara baru di
banyak negara menuju demokrasi
e. Tekanan lembaga-lembaga internasional.
Persyaratan apa saja yang diperlukan untuk membentuk lembaga negara:
a. Penegasan prinsip konstitusionalisme, yaitu gagasan yang menghendaki
agar kekuasaan para pemimpin dan badan-badan pemerintah yang ada
dibatasi. Pembatasan tersebut dapat diperkuat sehingga menjadi suatu
mekanisme atau prosedur yang tetap, sehingga hak-hak dasar warga negara
semakin terjamin dan demokrasi dapat terjaga,

Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik


Indonesia

b. Prinsip checks and balance (mengawasi dan mengimbangi), yang menjadi


roh bagi pembangunan dan pengembangan demokrasi. Untuk itu
pembentukan organ kelembagaan negara harus bertolak dari kerangka dasar
sistem UUD 1945 yang mengarah ke separation of power ( pemisahan
kekuasaan),
c. Prinsip integrasi, dalam arti bahwa pembentukan lembaga negara tidak bisa
dilakukan secara parsial, keberadaannya harus dikaitkan dengan lembaga
lain yang telah ada dan eksis. Pembentukan lembaga negara harus disusun
sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan proses yang saling mengisi
dan memperkuat, serta harus jelas kepada siapa lembaga tersebut harus
bertanggung jawab.
d. Prinsip kemanfaatan bagi masyarakat, yaitu pembentukan lembaga negara
bertujuan untuk memenuhi kesejahteraan warganya dan menjamin hak-hak
dasar yang dijamin konstitusi. Selain itu pembentukan lembaga negara;
merupakan manifestasi dari mekanisme keterwakilan rakyat dalam
menyelenggarakan pemerintahan. Oleh karena itu pembentukan lembaga
negara harus mempresentasikan aspirasi rakyat.
Tiga jalur pembentuk lembaga Negara:
a. Berdasar UUD 1945 terdiri dari : MPR, DPR, DPD, Presiden, KY,MK,
MA,BPK,Kementerian Negara, Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah
Daerah Kabupaten dan Kota, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten dan Kota,
KPU,bank sentral, TNI, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dewan
Pertimbangan Presiden
b. Berdasar UU terdiri dari :Komnas HAM, KPK, KPI, Komisi Pengawas
Persaingan Usaha, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Komnas Anak,
Komisi Kepolisian, Komisi Kejaksaan, Dewan Pers, dan Dewan
Pendidikan.
c. Berdasar Keputusan Presiden terdiri dari :Komisi Ombudsman Nasional,
Komisi Hukum Nasional, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan,Komisi Pengawas Kekayaan Penyelenggara Negara, Dewan
Maritim, Dewan Ekonomi Nasional, Dewan Industri Strategis, Dewan
Pengembangan Usaha Nasional, dan Dewan Buku Nasional.
Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik
Indonesia

2. Mengapa sengketa kewenangan antar Lembaga Negara sering terjadi:


Lembaga-lembaga Negara bersengketa di sebabkan oleh sistem ketatanegaraan
yang diadopsikan dalam ketentuan UUD 1945 sesudah perubahan I, II dan IV,
Mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, tidak lagi vertikal.
Jika sebelumnya kita mengenal adanya lembaga tinggi dan lembaga tertinggi
negara, maka sekarang tidak ada lagi lembaga tertinggi negara. MPR bukan lagi
lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam struktur sistem ketatanegaraan,
melainkan sederajat satu sama lain dengan lembaga-lembaga konstitusional lainnya
seperti Presiden, DPR, DPD, MK, MA dan BPK. Prinsip yang digunakan dalam
Checks and balances merupakan prinsip hubungan antar lembaga, dimana lembagalembaga tersebut diakui sederajat tetapi saling mengendalikan, sehingga dalam
melaksanakan kewenangan UUD terdapat perselisihan dalam menafsirkannya.
Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan,timbulnya sengketa karena:
a. Kurang mamadainya sistem yang mengatur dan mewadahi hubungan antar
organ negara.
b. Perbedaan interpretasi terhadap suatu ketentuan.
Terkait dengan sengketa kewenangan, penafsiran yang dapat digunakan adalah
penafsiran konstitusional. Penafsiran Konstitusional merupakan salah satu metode
yang sering digunakan oleh para ahli, bahwa setiap proses keputusan hukum dan
kebijakan negara harus dibuat sesuai ketentuan konstitusi.
Beberapa pendekatan dalam Penafsiran Konstitusi :
a. Penafsiran secara Tekstual
Setiap keputusan harus berdasar dan melihat pada fakta dari norma hukum
yang tertulis.Dalam penafsiran ini setiap ketentuan diartikan apa adanya,
dengan satu jaminan setiap orang akan memahami ketentuan tersebut tanpa
khawatir adanya interpretasi lain.
b. Penafsiran secara Historis
Penafsiran ini tidak didasarkan pada kenyataan/fakta atau norma tertulis,
namun lebih berdasarkan pada analisa proses perancangan hukum, maupun
latar

belakang

penyusunan

konstitusi.Penafsiran

dilakukan

dengan

menelaah dokumen, panitia atau laporan komisi di legislatif, transkrip dan


berbagai perdebatan yang terjadi.
Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik
Indonesia

c. Penafsiran secara Fungsional


Disebut juga panafsiran struktural, setiap keputusan didasarkan pada analisa
struktur hukum yang termuat dalam konstitusi, dan bagaimana struktur
tersebut diartikan sebagai fungsi yang saling berkaitan antara satu dengan
yang lain secara harmonis.
d. Penafsiran secara Doktrinal
Keputusan didasarkan pada pendapat para ahli hukum, khususnya legislatif,
eksekutif dan ketua pengadilan.
e. Penafsiran secara Prudensial
Keputusan berdasar pada faktor-faktor eksternal dalam hukum atau
kelompok-kelompok yang berkepentingan dalam suatu perkara.
f. Penafsiran secara Etik
Keputusan diambil berdasar pada rasa keadilan, apa yang benar dan salah,
serta apa yang menjadi tujuan utama dari peraturan perundang-undangan
Jika timbul persengketaan diantara Lembaga Negara maka diperlukan organ
tersendiri yang diserahi tugas untuk memutus hal itu. Dalam sistem ketatanegaraan
yang telah diadopsikan dalam UUD 1945, mekanisme penyelesaian sengketa
kewenangan demikian dilakukan melalui proses peradilan tata negara, yaitu melalui
lembaga yang dibentuk tersendiri dengan nama Mahkamah Konstitusi.
Pembentukan Mahkamah Konstitusi dimaksudkan sebagai pengawal konstitusi
untuk menjamin agar proses demokratisasi di Indonesia dapat berjalan lancar dan
sukses. Hal ini dilakukan melalui pelaksanaan tugas konstitusionalnya yang
diarahkan kepada terwujudnya penguatan checks and balances antar cabang
kekuasaan

negara

dan

perlindungan

dan

jaminan

pelaksanaan

hak-hak

konstitusional warga negara sebagaimana telah diatur dalam UUD.


Adapun kewenangan Mahkamah Konstitusi yang diatur dalam Undang-Undang
adalah:

Melakukan pengujian undang-undang terhadap UUD

Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya


diberikan oleh UUD

Memutus pembubaran partai politik

Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik


Indonesia

Memutus perselisihan hasil pemilihan umum

Memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wapres telah melakukan


pelanggaran hukum berupa pengkhianantan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela dan/atau
pendapat bahwa Presiden dan/atau Wapres tidak lagi memenuhi syarat
sebagai Presiden dan/atau Wapres.

Diatas sudah disebutkan bahwa salah satu wewenang Mahkamah Konstitusi adalah
memutus

sengketa

kewenangan

lembaga

yang

merasa

kewenangan

konstitusionalnya diambil, dikurangi, dihalangi, diabaikan, dan/atau dirugikan oleh


lembgaga negara lain. Sifat dari putusan Mahkamah Konstitusional

permanen

dengan satu putusan yang bersifat final dan mengikat dengan dicapainya satu
putusan akhir oleh Mahkamah Konstitusi.

3. Asas-asas pokok pengorganisasian Aparatur Pemerintah:


Dalam

penyusunan

Aparaur

Pemerintah,

dipergunakan

asas-asas

pokok

penggorganisasian dengan tujuan agar dapat dicapai suatu Aparatur Pemerintahan


yang efisien dan efektif. Adapun asas-asas tersebut meliputi:
a. Asas Pembagian tugas
Tugas Pemerintah perlu dibagi habis kedalam tugas Dept./LPND, sehingga
dapat terjamin adanya suatu instansi yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
b. Asas Fungsionalisasi
Adanya satu instansi yang secara fungsional bertanggung jawab atas suatu
bidang substantif pemerintahan dan pembangunan
c. Asas Koordinasi
Tugas umum pemerintahan dan pembangunan harus ditangani secara multi
fungsional agar tercipta keserasian dalam kegiatan, waktu , perumusan
kebijakan , penganggaran, dan pengendalian.
d. Asas Kesinambungan
Tugas umum pemerintahan dan pembangunan harus berjalan terus tanpa
tergantung pada pejabat tertentu

Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik


Indonesia

e. Asas Akordion
Organisasi dapat berkembang atau mengecil disesuaikan dengan tuntutan
tugas dan beban kerja
f. Asas Pendelegasian Wewenang
Setiap pimpinan harus mau melimpahkan sebagian tugas dan wewenangnya
kepada pejabat dibawahnya
g. Asas Keluwesan
Organisasi diharapkan dapat selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan
dan perubahan keadaan
h. Asas Rentang Kendali
Dalam penentuan jumlah satuan organisasi/orang yang dipimpin,harus
diperhitungkan secara rasional
i. Asas Jalur dan Staf
Perlu dibedakan dan ditegaskan

dalam struktur organisasi antara tugas

pelaksana dan tugas pembantuan


j. Asas Kejelasan dalam Pembaganan
Penggambaran susunan organisasi secara tegas

yang mencerminkan

kedudukan dan hubungan antar satuan organisasi


Menurut saya dari 10 asas di atas yang paling dominan agar tercapai tujuan secara
efektif dan efisien ada dua yaitu Asas Pembagian Tugas, Asas Koordinasi, Asas
Pendelegasian dan Asas Keluwesan.
Yang pertama adalah asas pembagian tugas. Artinya bahwa tugas-tugas pemerintah
tidak bisa dijalankan sendiri oleh suatu Lembaga melainkan sangat perlu untuk
dibagi kedalam tugas-tugas Departemen/LPND (Kementerian) dan lembaga lainnya
sehingga tidak terjadi kelebihan beban kerja pada suatu Lembaga. Dengan adanya
pembagian tugas ini maka suatu Departeman telah memiliki tugas tersendiri dan
bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dibebankan tersebut. Sehingga akan
dapat dihindari terjadinya duplikasi, benturan tugas pemerintahan,

dan juga

kekaburan dalam pertanggung jawaban.


Kedua adalah asas Koordinasi dimana setiap Departemen/Lembaga tentu memiliki
tugas maupun kegiatan sendiri-sendiri yang pada dasarnya tugas maupun kegiatan
Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik
Indonesia

tersebut merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi. Dengan adanya


koordinasi maka suatu tugas atau kegiatan yang saling berpengaruh tersebut dapat
terelesaikan dan tak menyebabkan kerugian disalah satu pihak.
Ketiga adalah asas pendelegasiaan. Setiap pemimpin dapat melimpahkan sebagian
tugas dan wewenangnya kepada pejabat dibawahnya. Jadi tidak semua tugas dan
wewenang harus dijalankan oleh pemimpin tetapi bisa di limpahkan kepada
bawahannya. Hal ini akan lebih efektif dan efisien karena setiap tugas seperti rapat
maupun hal-hal yang bersifat pertemuan bisa diwakilkan olel bawahannya dan
pemimpin bisa lebih fokus pada satu tugas yang lebih penting.
Keempat adalah asas keluwesan. Dimana organisasi tumbuh dan berkembang di
lingkungan masyarakat dan jika ingin terus bertahan maka harus bisa beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat tersebut. Sama halnya
dengan organisasi pemerintahan yang dituntut untuk selalu dapat mengikuti dan
menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaan sehingga dapat
dihindari terjadinya kekakuan dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan.
Misalnya jika dahulu orang jika mengurus perijinan usaha harus datang kekantor
perijinan, maka dengan adanya perkembangan teknologi memungkinkan seseorang
yang ingin membuat ijin usaha hanya perlu lewat internet tanpa harus pergi
kekantor perijinan.

Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik


Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Is Hadri Utomo. 2014. Bahan Presentasi : Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD
1945. Universitas Sebelas Maret.
Is Hadri Utomo. 2014. Bahan Presentasi : Asas-asas Pokok Pengorganisasian Aparatur
Pemerintah. Universitas Sebelas Maret
Eddyono, Luthfi Widagdo. 2010. Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga
Negara oleh Mahkamah Konstitusi. Diperoleh pada 19 November 2014, dari
http://www.academia.edu/3359781/Penyelesaian_Sengketa_Kewenangan_Lem
baga_Negara_oleh_Mahkamah_Konstitusi

Uji Kompetensi Dasar III Sistem Administrasi Negara Republik


Indonesia