Anda di halaman 1dari 23

Kompos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk
pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki dari sumber
yang terpercaya.
Tag ini diberikan pada Februari 2014

Kompos dari sampah dedaunan

Kompos dari jerami padi


Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai
macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau
anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan
adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis,
khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai
sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami
tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat
campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi,
dan penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata
persentase bahan organik sampah mencapai 80%, sehingga pengomposan
merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk
dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang

dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan
lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap
harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah
tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana
95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya sampah organik yang
dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik
menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat
(Rohendi, 2005).

Daftar isi

1 Pendahuluan
2 Jenis-jenis kompos
3 Manfaat Kompos
4 Dasar-dasar Pengomposan
o 4.1 Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
o 4.2 Proses Pengomposan
o 4.3 Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan
5 Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
o 5.1 Memanipulasi Kondisi Pengomposan
o 5.2 Menggunakan Aktivator Pengomposan
o 5.3 Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator
Pengomposan
o 5.4 Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan
6 Pengomposan secara aerobik
o 6.1 Peralatan
o 6.2 Tahapan pengomposan
7 Kontrol proses produksi kompos
o 7.1 Proses pengontrolan
8 Mutu kompos
9 Lihat pula
10 Literatur
11 Pranala luar

Pendahuluan
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan
bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang
terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses
pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan.
Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi.
Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses
penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian
dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih
cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya

terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi


masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah
pertanian dan perkebunan.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun
anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan
yang sudah banyak beredar antara lain: PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec,
SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan
SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna
mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan
sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah
untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit.
Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri
dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan
mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan
organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk
kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk
memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman
menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat
digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah
pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup
sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman,
serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material yang mengandung karbon dan
nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan
limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan
bahan baku pengomposan.

Asal

Bahan

1. Pertanian

Limbah dan
residu tanaman

Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung,


semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang dan sabut
kelapa

Limbah & residu Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak,
ternak
cairan biogas

Tanaman air

Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air

2. Industri

Limbah padat

Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah


kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan
hewan

Limbah cair

Alkohol, limbah pengolahan kertas, limbah pengolahan


minyak kelapa sawit

3. Rumah tangga

Sampah

Sampah (padat) rumah tangga dan sampah kota rumah tangga

Limbah padat
dan cair

Limbah rumah tangga: Tinja, urin,

4. Pasar

Sampah

Sampah (padat) pasar tradisional dan modern

Limbah padat
dan cair

Limbah Pasar; Tinja dan urin

Jenis-jenis kompos

Kompos cacing (vermicompost), yaitu kompos yang terbuat dari bahan


organik yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah kotoran
cacing tersebut.
Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa
penggilingan tebu di pabrik gula.
Kompos bokashi.

Manfaat Kompos
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan
organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan
kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan
meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu
tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga d
iketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya
daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, seperti menjadikan hasil
panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas
metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di
tempat pembuangan sampah
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Meningkatkan kesuburan tanah


Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah

Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya merangsang granulasi,
memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran
bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas
mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu
seperti N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah
meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh
tanaman (Gaur, 1980).
Beberapa studi telah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan
pertumbuhan tanaman. Penelitian Abdurohim, 2008, menunjukkan bahwa kompos
memberikan peningkatan kadar Kalium pada tanah lebih tinggi dari pada kalium
yang disediakan pupuk NPK, namun kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata dengan NPK. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang
ditelitinya ketika itu, caisin (Brassica oleracea), menjadi lebih baik dibandingkan
dengan NPK.
Hasil penelitian Handayani, 2009, berdasarkan hasil uji Duncan, pupuk cacing
(vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik pada pertumbuhan
bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. Indikatornya
terdapat pada diameter batang, dan sebagainya. Hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek
apapun pada pertumbuhan bibit, mengingat media tanam subsoil merupakan
media tanam dengan pH yang rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal.
Pemberian kompos akan menambah bahan organik tanah sehingga meningkatkan
kapasitas tukar kation tanah dan memengaruhi serapan hara oleh tanah, walau
tanah dalam keadaan masam.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan Hortikultura,
Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase (kompos yang
dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu (Saccharum
officinarum L) meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan setelah tiga
bulan pengaplikasian dibandingkan degan yang tanpa kompos, namun tidak ada
peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor, kalium, dan sulfur.
Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara bersamaan tidak
meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan diameter dari batang, namun
diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam tebu.

Dasar-dasar Pengomposan
Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya:
limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas,
kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri,
limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Bahan

organik yang sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut.
Bahan yang paling baik menurut ukuran waktu, untuk dibuat menjadi kompos
dinilai dari rasio karbon dan nitrogen di dalam bahan / material organik seperti
limbah pertanian: ampas tebu dan kotoran ternak serta tersebut di atas. Bahan
organik yang telah disusun oleh Sinaga dkk. (2010) dari berbagai campuran
dengan nilai rasio C/N = 35,68 dan kondisi kandungan airnya 50,37%, waktu
dekomposisi diperoleh terpendek 28 hari dibanding lainnya.

Proses Pengomposan
Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah
dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap,
yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen
dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh
mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat.
Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan
meningkat hingga di atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu
tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu
mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian
bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan
menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan
panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsurangsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat
lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan
terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat
mencapai 30 40% dari volume/bobot awal bahan.

Skema Proses Pengomposan Aerobik


Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau
anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses
aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan
organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang
disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama
proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan

menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam


organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.

Gambar profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan


Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
Kelompok
Organisme

Organisme

Mikroflora

Bakteri; Aktinomicetes; Kapang

Mikrofanuna
Makroflora

Protozoa
Jamur tingkat tinggi
Cacing tanah, rayap, semut, kutu,
dll

Makrofauna

Jumlah/gr kompos
109 - 109; 105 108; 104 106
104 - 105

Proses pengomposan tergantung pada :


1. Karakteristik bahan yang dikomposkan
2. Aktivator pengomposan yang dipergunakan
3. Metode pengomposan yang dilakukan

Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan


Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan
dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer
tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila
kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan
dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang
optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses
pengomposan itu sendiri.
Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1
hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan

menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40


mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein.
Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang
tinggi, terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung
kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk
menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya
menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan
menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak
senyawa nitrogen.
Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan
area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan
bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel
juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk
meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil
ukuran partikel bahan tersebut.
Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi
peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang
lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh
porositas dan kandungan air bahan(kelembapan). Apabila aerasi
terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau
yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan
pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Porositas
Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos.
Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan
volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan
mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi
oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan
juga akan terganggu.
Kelembaban (Moisture content)
Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam proses
metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay
oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan
organik tersebut larut di dalam air. Kelembapan 40 - 60 % adalah kisaran
optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembapan di bawah 40%,
aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi
pada kelembapan 15%. Apabila kelembapan lebih besar dari 60%, hara
akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan
menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau
tidak sedap.
Temperatur/suhu

Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara


peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur
akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula
proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada
tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC
menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi
dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba
thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga
akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih
gulma.
pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang
optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH
kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses
pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik
dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara
temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman),
sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung
nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH
kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Kandungan Hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya
terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan
dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
Kandungan Bahan Berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu,
Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logamlogam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
Lama pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang
dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau
tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan
akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga
kompos benar-benar matang.
Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak,
1992)
Kondisi
Kondisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N
20:1 s/d 40:1
25-35:1
Kelembapan
40 65 %
45 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia > 5%
> 10%
Ukuran partikel
1 inchi
bervariasi
Bulk Density
1000 lbs/cu yd
1000 lbs/cu yd

pH
Suhu

5.5 9.0
43 66oC

6.5 8.0
54 -60oC

Strategi Mempercepat Proses Pengomposan


Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi
untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:

1. Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses


pengomposan.
2. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan:
mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
3. Menggabungkan strategi pertama dan kedua.

Memanipulasi Kondisi Pengomposan


Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi
pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum
mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Untuk
membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur
dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran
bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk
proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan
yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan.
Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.

Menggunakan Aktivator Pengomposan


Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat
mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan
misalnya cacing tanah. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan
kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing. Organisme lain yang
banyak dipergunakan adalah mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan
kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator
pengomposan, misalnya :MARROS Bio-Activa,Green Phoskko(GP-1), Promi,
OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.
Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai
Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara MARROS Bio-Activa dikembangkan
oleh para peneliti mikroba tanah yang tergabung dalam sebuah perusahaan swasta.
Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang
memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik,

yaitu: Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum,


Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini bekerja aktif
pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak
memerlukan tambahan bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala.
Namun, kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan
kelembapan agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Pengomposan
dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan
hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan.

Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan


Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah
mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal
mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan.

Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan


Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam
waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk
menentukan strategi pengomposan:
1.
2.
3.
4.

Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.


Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
Tingkat kesulitan pembuatan kompos

Pengomposan secara aerobik


Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari
peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan
kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.
1. Terowongan udara (Saluran Udara)
o Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
o Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
o Dimensi : panjang 2m, lebar - m, tinggi m
o Sudut : 45o
o Dapat dipakai menahan bahan 2 3 ton
2. Sekop
o Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
3. Garpu/cangkrang
o Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan
dan pemilahan sampah

4. Saringan/ayakan
o Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar
diperoleh ukuran yang sesuai
o Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang
diinginkan
o Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau
saringan putar
5. Termometer
o Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
o Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke
bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
o Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar
tidak mencemari kompos jika termometer pecah
6. Timbangan
o Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai
berat yang diinginkan
o Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan
dan pengemasan
7. Sepatu boot
o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar
terhindar dari bahan-bahan berbahaya
8. Sarung tangan
o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama
melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang
memerlukan perlindungan tangan
9. Masker
o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernapasan dari debu
dan gas bahan terbang lainnya

Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan


Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang lebih maju dan modern.
Komposter type Rotary Kiln, misalnya, berfungsi dalam memberi asupan oksigen
( intensitas aerasi), menjaga kelembapan, suhu serta membalik bahan secara
praktis. Komposter type Rotary Klin di pasaran terdapat dengan kapasitas 1 ton
setara 3 m3 hingga 2 ton atau setara 6 m3 bahan sampah, menggunakan proses
pembalikan bahan dan mengontrol aerasi dengan cara mengayuh pedal serta

memutar aerator ( exhaust fan). Penggunaan komposter Biophoskko disertai


aktivator kompos Green Phoskko (GP-1) telah mampu meningkatkan kerja
penguraian bahan organik(dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari
saja.

Tahapan pengomposan
1. Pemilahan Sampah
o Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah
anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus
dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses
dan mutu kompos yang dihasilkan
2. Pengecil Ukuran
o Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah,
sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi
menjadi kompos
3. Penyusunan Tumpukan
o Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil
ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan.
o Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain
memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x
1,75m.
o Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow)
yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan.
4. Pembalikan
o Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan,
memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan
proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian
air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecilkecil.
5. Penyiraman
o Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang
terlalu kering (kelembapan kurang dari 50%).
o Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan
memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan.
o Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air,
maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika
sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah
oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan.
6. Pematangan
o Setelah pengomposan berjalan 30 40 hari, suhu tumpukan akan
semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
o Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau
kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
7. Penyaringan

Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos


sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan
yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di
awal proses.
o Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam
tumpukan yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan
dibuang sebagai residu.
8. Pengemasan dan Penyimpanan
o Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan
kebutuhan pemasaran.
o Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman
dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari
oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak
diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.

Kontrol proses produksi kompos


1. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil
yang baik.
2. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau
habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang
biak dengan optimal.
3. Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan
organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.

Proses pengontrolan
Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Monitoring Temperatur Tumpukan


Monitoring Kelembapan
Monitoring Oksigen
Monitoring Kecukupan C/N Ratio
Monitoring Volume

Mutu kompos
1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan
sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi
pertumbuhan tanaman.
2. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya
persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah
yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
3. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
o Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,

o
o
o
o
o

Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk


suspensi,
Nisbah C/N sebesar 10 20, tergantung dari bahan baku dan
derajat humifikasinya,
Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
Tidak berbau.

Cara membuat kompos


alamtani.com

Kompos merupakan pupuk yang dibuat dari sisa-sisa mahluk hidup baik hewan
maupun tumbuhan yang dibusukkan oleh organisme pengurai. Organisme
pengurai atau dekomposer bisa berupa mikroorganisme ataupun makroorganisme.
Kompos berfungsi sebagai sumber hara dan media tumbuh bagi tanaman.
Dilihat dari proses pembuatannya terdapat dua macam cara membuat kompos,
yaitu melalui proses aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Kedua
metode ini menghasilkan kompos yang sama baiknya hanya saja bentuk fisiknya
agak sedikit berbeda.

Cara membuat kompos metode aerob


Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dilakukan di tempat terbuka dengan
sirkulasi udara yang baik. Karakter dan jenis bahan baku yang cocok untuk
pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur
karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kadar air 40-50% dan pH
sekitar 6-8. Contohnya adalah hijauan leguminosa, jerami, gedebog pisang dan
kotoran unggas. Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, bisa
ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk.
Cara membuat kompos aerob memakan waktu 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih
untuk membuat kompos dengan metode ini. Kita harus mengontrol dengan
seksama suhu dan kelembaban kompos saat proses pengomposan berlangsung.
Secara berkala, tumpukan kompos harus dibalik untuk menyetabilkan suhu dan
kelembabannya. Berikut ini cara membuat kompos aerob:

Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk tempat pengomposan. Lebih


baik apabila tempat pengomposan diberi peneduh untuk menghindari
hujan.
Buat bak atau kotak persegi empat dari papan kayu dengan lebar 1 meter
dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang memiliki lebar 30-40 cm.
Siapkan material organik dari sisa-sisa tanaman, bisa juga dicampur
dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik tersebut hingga menjadi
potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik semakin
baik. Namun jangan sampai terlalu halus, agar aerasi bisa berlangsung
sempurna saat pengomposan berlangsung.
Masukan bahan organik yang sudah dicacah ke dalam bak kayu,
kemudidan padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh.

Searah jarum jam: (1) Pemilihan lokasi pengomposan, (2) Membuat bak/kotak
kayu, (3) Menyeleksi dan merajang bahan baku, (4) Memasukkan bahan baku
baku kedalm bak kayu

Siram bahan baku kompos yang sudah tersusun dalam kotak kayu untuk
memberikan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa
ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan
kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas kemudian
tambahkan lagi bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian
kompos sekitar 1,5 meter.
Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan
keadaan yang panas ini hingga 2-4 hari. Fungsinya untuk membunuh
bakteri patogen, jamur dan gulma. Perlu diperhatikan, proses pembiaran
jangan sampai lebih dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh
mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer
ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya.
Setelah hari ke-4, turunkan suhu untuk mencegah kematian
mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada
kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara menjaga suhu adalah
dengan membolak-balik kompos, sedangkan untuk menjaga kelembaban
siram kompos dengan air. Pada kondisi ini penguapan relatif tinggi, untuk
mencegahnya kita bisa menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik,
sekaligus juga melindungi kompos dari siraman air hujan.

Cara membalik kompos sebaiknya dilakukan dengan metode berikut.


Angkat bak kayu, lepaskan dari tumpukan kompos. Lalu letakan persis
disamping tumpukan kompos. Kemudian pindahkan bagian kompos yang
paling atas kedalam bak kayu tersebut sambil diaduk. Lakukan seperti
mengisi kompos di tahap awal. Lakukan terus hingga seluruh tumpuka
kompos berpindah kesampingnya. Dengan begitu, semua kompos
dipastikan sudah terbalik semua. Proses pembalikan sebaiknya dilakukan
setiap 3 hari sekali sampai proses pengomposan selesai. Atau balik apabila
suhu dan kelembaban melebihi batas yang ditentukan.
Apabila suhu sudah stabil dibawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan
dan volume menyusut hingga 50% hentikan proses pembalikan.
Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari.
Secara teoritis, proses pengomposan selesai setelah 40-50 hari. Namun
kenyataannya bisa lebih cepat atau lebih lambat tergantung dari keadaan
dekomposer dan bahan baku kompos. Pupuk kompos yang telah matang
dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur,
tidak berbau.
Untuk memperbaiki penampilan (apabila pupuk kompos hendak dijual)
dan agar bisa disimpan lama, sebaiknya kompos diayak dan di kemas
dalam karung. Simpan pupuk kompos di tempat kering dan teduh.

Searah jarum jam: (1) Penyiraman dan penambahan dekomposer, (2) Proses
penumpukkan kompos, (3) Merapihkan tumpukan, (4) Pembalikan kompos

Proses pembuatan kompos aerob cocok untuk memproduksi kompos dalam


jumlah besar. Untuk melihat lebih jauh tentang cara membuat kompos dengan
metode aerob, silahkan tonton video tutorial berikut ini:

Cara membuat kompos metode anaerob


Cara membuat kompos dengan metode anaerob biasanya memerlukan inokulan
mikroorganisme (starter) untuk mempercepat proses pengomposannya. Inokulan
terdiri dari mikroorganisme pilihan yang bisa menguraikan bahan organik dengan
cepat, seperti efektif mikroorganime (EM4). Di pasaran terdapat juga jenis
inokulan dari berbagai merek seperti superbio, probio, dll. Apabila tidak tersedia
dana yang cukup, kita juga bisa membuat sendiri inokulan efektif
mikroorganisme.
Bahan baku yang digunakan sebaiknya material organik yang mempunyai
perbandingan C dan N tinggi (lebih dari 30:1). Beberapa diantaranya adalah
serbuk gergaji, sekam padi dan kotoran kambing. Waktu yang diperlukan untuk
membuat kompos dengan metode anaerob bisa 10-80 hari, tergantung pada
efektifitas dekomposer dan bahan baku yang digunakan. Suhu optimal selama
proses pengomposan berkisar 35-45oC dengan tingkat kelembaban 30-40%.
Berikut tahapan cara membuat kompos dengan proses anaerob.

Siapkan bahan organik yang akan dikomposkan. Sebaiknya pilih bahan


yang lunak terdiri dari limbah tanaman atau hewan. Bahan yang bisa
digunakan antara lain, hijauan tanaman, ampas tahu, limbah organik
rumah tangga, kotoran ayam, kotoran kambing, dll. Rajang bahan tersebut
hingga halus, semakin halus semakin baik.
Siapkan dekomposer (EM4) sebagai starter. Caranya, campurkan 1 cc
EM4 dengan 1 liter air dan 1 gram gula. Kemudian diamkan selama 24
jam.
Ambil terpal plastik sebagai alas, simpan bahan organik yang sudah
dirajang halus di atas terpal. Campurkan serbuk gergaji pada bahan
tersebut untuk menambah nilai perbandingan C dan N. Kemudian
semprotkan larutan EM4 yang telah diencerkan tadi. Aduk sampai merata,
jaga kelembaban pada kisaran 30-40%, apabila kurang lembab bisa
disemprotkan air.
Siapkan tong plastik yang kedap udara. Masukan bahan organik yang
sudah dicampur tadi. Kemudian tutup rapat-rapat dan diamkan hingga 3-4
hari untuk menjalani proses fermentasi. Suhu pengomposan pada saat
fermentasi akan berkisar 35-45oC.
Setelah empat hari cek kematangan kompos. Pupuk kompos yang matang
dicirikan dengan baunya yang harum seperti bau tape.

MAKALAH PUPUK KOMPOS


BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sudah kita ketahui, bahwa saat ini sedang terjadi musim kemarau yang
berkepanjangan. Air sedang sulit didapatkan, banyak tumbuhan yang mati karena
tidak mendapatkan air. Hal itu diperparah lagi dengan tanah-tanah yang kering.
Nah, untuk memperbaiki hal ini, agar tanah menjadi subur kita dapat
menyuburkannya dengan memberikan pupuk kompos pada tanah yang akan kita
tanami.

2. PERUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan pupuk kompos ?
2. Unsur apa saja yang terkandung dalam pupuk kompos ?
3. Bagaimana cara membuat pupuk kompos ?
4. Apa manfaat pupuk kompos ?

BAB II
KERANGKA TEORITIS
1 pengertian pupuk kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan
organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau
anaerobik.
Sedangkan proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami
penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan
bahan organik sebagai sumber energi.
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar
kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan
yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan
aktivator pengomposan.
2 unsur yang terkandung dalam pupuk kompos

Kandungan pupuk kompos adalah bahan organik yang mencapai 18 %


bahkan ada yang mencapai 59 %. Unsur lain yang dikandung oleh kompos adalah
nitrogen, fosfor, kalsium, kalium dan magnesium. Manfaat bokhasi pada lahan
pertanian yaitu : mampu menggantikan dan mengefektifkan penggunaan pupuk
kimia (anorganik) sehingga biaya pembelian pupuk dapat ditekan, bebas dari biji
tanaman liar (gulma), tidak berbau dan mudah digunakan dan memperbaiki
derajat keasaman tanah, selain itu sangat berguna untuk menyuburkan tanaman.
3 cara membuat pupuk kompos
Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik
dapat buat menjadi pupuk kompos. Contoh nya adalah Seresah, daun-daunan,
pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. Kotoran ternak,
binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak
lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang
bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang mudah dikomposkan, ada bahan yang
agak mudah, dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik
mudah dikomposkan. Bahan yang agak mudah alias agak sulit dikomposkan
antara lain: kayu keras, batang, dan bambu. Bahan yang sulit dikomposkan antara
lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan bulu
binatang.
Membuat kompos sangat mudah. Secara alami bahan organik akan mengalami
pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama antara setengah sampai satu
tahun tergantung bahan dan kondisinya. Agar proses pengomposan dapat
berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan.
Pembuatan kompos dipercepat dengan menambahkan aktivator atau inokulum
atau biang kompos. Aktivator ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja
mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Bahan organik yang
lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan
pencacahan. Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah
terlebih dahulu. Aktivator kompos harus dicampur merata ke seluruh bahan
organik agar proses pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat.
Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat
dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. Bahan yang
kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak
juga akan menghambat proses pengomposan. Jadi basahnya harus cukup. Bahan
juga harus cukup mengandung udara. Seperti halnya air, udara dibutuhkan untuk
kehidupan jasad renik aktivator kompos.
Untuk melindungi kompos dari lingkungan luar yang buruk, kompos perlu
ditutup. Penutupan ini bertujuan untuk melindungi bahan/jasad renik dari air
hujan, cahaya matahari, penguapan, dan perubahan suhu. Bahan didiamkan
selama beberapa waktu hingga kompos matang. Lama waktu yang dibutuhkan
antara 2 minggu sampai 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan.
Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 3
minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 6 minggu. Ciri
kompos yang sudah matang adalah bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak,

warnanya coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan mudah


dihancurkan/remah.

4 manfaat pupuk kompos

Kompos ibarat multivitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan


kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos memperbaiki
struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan
meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.
Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan
penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap
unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang
pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu
tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya
daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih
tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek :
- Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
- Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
- Aspek bagi tanah/tanaman :
1. Meningkatkan kesuburan tanah
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3. Meningkatkan kapasitas serap air tanah
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah