Anda di halaman 1dari 9

ANALISI EKONOMI MAKRO INDONESIA

Oleh :

Wiga Dwi Irawan


12030114120057

EKONOMI MAKRO

Ekonomi Makro adalah ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas perekonomian


dalam suatu wilayah secara menyeluruh/ agregatif dengan memperhatikan indikator-indikator
makro ekonomi, sehingga dalam ekomoni makro tersebut terdapat akumulasi dari ekomoni
mikro.
Ekonomi Mikro + Ekonomi Mikro + .. = Ekonomi Makro
Perekonomian sendiri di representasikan dengan perkembangan PDB negara itu
sendiri, sehingga bertumbuhnya PDB = pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka pendek, makro
ekonomi menganalisis mengenai fluktuasi output, kesempatan kerja, finansial, dll., sehingga
dalam jangka panjang akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi.
Perubahan terhadap tatanan ekonomi dunia dengan semakin bertumbuhnya kekuatan
perekonomian dunia memberikan pengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Di samping itu,
tekanan-tekanan yang terjadi terhadap perekonomian dunia seperti naiknya harga komoditaskomoditas dan meningkatnya pertumbuhan industry dalam negeri perlu bagi pemerintah untuk
mengambil kebijakan yang tepat.
INDIKATOR EKONOMI MAKRO
1.

PDB
PDB (Produk Domestik Bruto)/ GNP (Gross National Product) adalah output yang di
hasilkan oleh warga negara dalam suatu wilayah tertentu, baik warga negara itu sendiri
maupun warga negara asing. Dengan perhitungan Y=C+I+G+(X-M). Dimana Y=PDB;
C=Konsumsi Rumah Tangga; I=Investasi Swasta; G=Pengeluaran Pemerntah; dan XM=Ekspor-Impor.
Pertumbuhan PDB mencerminkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Berikut data mengenai PDB Indonesia :

9083
8229
7419
6446
4984
2774
1750

2005

3339

5606

3950
2082

2178

2314

2464

2770

1964

2618

1847

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

PDB Atas Dasar Harga Berlaku

PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000

Sumber : BPS.go.id
Dalam kurun waktu 2005-2013
PDB PERKAPITA
terjadi kecenderungan peningkatan
PDB Indonesia dengan masih di
dominasi
dari
sector
Industri
Pengolahan (migas : pengilangan
2946
minyak bumi dan gas alam; dan non
2178 2272
migas ; makanan, minuman, tekstil,
1871
1601
dll), di ikuti oleh sector perdagangan,
1273
hotel dan restoran kemudian sector
pertanian, peternakan, kehutanan dan
perikanan. Ketiga sector tersebut
2005 2006 2007 2008 2009 2010
menyumbangkan PDB terbesar di
Indonesia.
Sumber : wordbank.org

(US$)
3469 3551 3475

2011 2012 2013

Dengan meningkatnya PDB dan PDB perkapita diharapkan akan mendorong Indonesia
untuk menjadi negara yang lebih sejahtera.
2.

INFLASI
Kecenderungan naiknya harga-harga secara umum sangat berpengaruh terhadap
kondisi perekonomian, baik bagi individu maupun dalam lingkup nasional. Inflasi
sendiri di Indonesia mayoritas terjadi pada saat perayaan hari-hari keagamaan (Idul Fitri,
Natal,dll.) dimana kenaikan harga spontan terjadi dalam masyarakat mengingat pada
hari tersebut tingkat konsumsi masyarakat meningkat melebihhi bulan-bulan biasa,
dalam kasus inilah peran pemerintah sangatlah penting untuk mengendalikan hargaharga komoditas .
Karena dengan meningkatnya harga suatu komoditi akan berdampak pada menurunnya
daya beli masyarakat sehingga menurunkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap
barang tersebut, kecuali untuk barang-barang kebutuhan pokok tentunya.
Berikut data inflasi Indonesia tahun 2005-2014 :

INFLASI
17.11%

11.06%
8.38%
6.60%

6.96%

6.59%

5.75%
2.78%

2005

2006

2007

2008

2009

2010

3.79%

4.30%

2011

2012

2013

2014

Sumber : BPS.go.id
Perkembangan inflasi IHK di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 17,11%, padahal
yang direncanakan adalah sebesar 6%, atau di tahun sebelumnya (2004) sebesar 6,4%.
Hal ini dominan disebabkan oleh adanya kenaikan harga minyak dunia dan
menyebabkan naiknya harga BBM sebesar 126% dari harga normal. Pada tahun 2005
kenaikan harga BBM pertama kali dilakukan pada 1 Maret 2005 dari Rp1.810/liter
menjadi Rp2.400/liter. Tujuh bulan kemudian pada 1 Oktober 2005, pemerintah kembali
menaikkan harga BBM sebesar 87,5%dari Rp2.400/liter menjadi Rp4.500 per liter. Saat
itu pada 30 Desember 2005, crude oil price ditutup diharga USD 61,04/barel. Karena itu
pada tahun 2005 inflasi mencapai level 17,11% dan untuk menahan tingginya inflasi,
maka Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan dari bulan Juli-Desember dari 8,50%
ke level 12,25%
Dengan harga barang yang meningkat dipicu oleh hasil kebijakan harga BBM di tahun
2005 menyebabkan daya beli masyarakat yang lemah pada awal tahun 2006, sehingga
permintaan menurun dan inflasi juga ikut menurun. Inflasi yang menurun cukup
signifikan dari 17,11% menjadi 6,60% pada tahun 2006 tidak luput dari kebijakan
pemerintah untuk menunda kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Meningkatnya harga minyak dunia yang akhirnya memaksa Pemerintah untuk
menaikkan harga BBM. Tepatnya 24 Mei 2008 pemerintah kembali menaikkan harga
BBM dari Rp4.500/liter ke hargaRp6.000/liter karena pada tanggal 23 Mei 2008, crude
oil price mencapai harga maksimumnya di harga USD 132,19/barel sehingga
menyebabkan peningkatan inflasi kembali mencapai double digit ke 11,06% dan
akhirnya kembali Bank Indonesia menggunakan haknya untuk mengintervensi pasar
dengan menaikan suku bunga acuan dari 8% ke 9,25% pada akhir tahun 2008
Pada tahun 2013 inflasi meningkat tinggi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM
bersubsidi dan kenaikan harga pangan. Sementara itu, inflasi inti 2013 masih terkendali
tertolong oleh permintaan domestik yang melambat, dampak lanjutan pelemahan nilai
tukar yang belum terlalu kuat, serta harga komoditas global yang menurun. Inflasi pada
tahun 2013 mencapai hamper
8,4%, lebih tinggi dari inflasi
BI RATE (PER DESEMBER)
2012 sebesar 4,3%, dan jauh di
atas kisaran sasaran inflasi
12.75%
4,5%.
Kenaikan harga BBM pada
9.75%
9.25%
akhir tahun 2014 tidak luput
8.00%
dari ikut meningkatnya harga
7.50% 7.75%
6.50% 6.50% 6.00%
barang. Kebijakan pemerintah
5.75%
untuk menaikkan harga BBM
bersubsidi melonjakkan inflasi
sebesar hamper 3,5%.Namun
kecenderungan naiknya harga
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
masih dapat di kendalikan oleh
pemerintah
sumber : BI.go.id
3.

ANGKATAN KERJA

Indonesia sebagai Negara yang besar tentunya memiliki angkatan kerja yang sangat
besar. Lalu,struktur pasar tenaga kerja di Indonesia pun berubah relatif cepat. Masalah
pengangguran dan tenaga kerja di Indonesia masih menjadi persoalan yang perlu
disikapi secara serius. Kurangnya pemerataan pendidikan dan tuntutan dari buruh untuk
menaikkan Upah Minimum Regional (UMR) juga menjadi permasalahan yang menuntut
kebijakan yang tepat dari pemerintah.

115.2

117.5

123.1

125.3

109.6

120.4

107.4

112.3

121.8

109.3

10.2

10.5

10.1

9.1

8.4

8.3

7.7

7.2

7.1

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Angkatan Kerja

Pengangguran Terbuka

Sumber : BpS.go.id
Jumlah angkatan kerja di Indonesia memang selalu meningkat setiap tahunnya dan
jumlah pengangguran terbuka relative menurun, hal ini menunjukkan bahwa telah
meningkatnya lapangan usaha di Indonesia selama satu decade terakhir. Pengangguran
Terbuka disini adalah angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan
usaha, merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan dan yang sudah punya pekerjaan
tetapi belum dimulai. Kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang masuk dalam
usia kerja yaitu 15 tahun ke atas.
Jumlah pengangguran di Indonesia memang menurun. Tapi ironinya, jumlah
pengangguran terdidik di Indonesia semakin banyak. hal itu juga sekaligus
menggambarkan kondisi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia. Mnurut Ketua Komite
Tetap Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja Kadin Sumarna F Abdurrahman,
pengangguran memang menurun, tapi komposisi pengangguran terdidik semakin tinggi.
Ini terbukti masih banyak angkatan kerja terdidik lulusan sarjana yang masih
menganggur.

4.

EKSPOR dan IMPOR


EKSPOR
Kecenderungan peningkatan jumlah ekspor
Indonesia
dapat
menjadi
indicator
meningkatnya
pertumbuhan
ekonomi
Indonesia. Dalam satu decade terakhir nilai
ekspor Indonesia cenderung meningkat.
Peningkatan nilai ekspor Indonesia masih
dominasi oleh sector-sektor non migas dengan
negara tujuan utama ke Cina, Jepang, dan AS
pada 2011 mencapai US$ 162019.6 juta.
Sedangkan nilai ekspor sector migas sendiri
pada tahun 2011 mencapai US$ 41477 juta.

EKSPOR (juta US$)


200000
150000
100000
50000
0

Non-migas

Migas

Sumber : BPS.go.id
Secara umum ekspor Indonesia sejak kurun waktu 2005-2010 adalah :

EKSPOR (MILIAR US$)


203.5
137
85.6

2005

100.7

2006

114.1

2007

2008

190

182.5

157.7
132.7

116.5

2009

2010

2011

2012

2013

2014

EKSPOR (JUTA KG)


700.000
582.219

600.137

478.846
327.172

342.773

355.053

378.999

2006

2007

2008

2009

412.950

258.731

2005

2010

2011

2012

2013

2014

Sumber : BPS.go.id
Meningkatnya alokasi gas untuk pemenuhan konsumsi dalam negeri memberikan
dampak pada berkurangnya volume gas untuk diekspor. Ekspor Indonesia mayoritas
bertumbu pada komoditas tekstil. Selain tekstil, produk lain yang menjadi komoditas utama

ekspor masih diduduki oleh produk elektronik, karet, kakao, kopi, rempah-rempah, medical
equipment, makanan olahan, produk kerajinan, minyak atsiri, dan perhiasan
Pada tahun 2013 penyumbang terbesar adalah ekspor bahan bakar mineral; kemudian
lemak dan minyak hewan/nabati; serta bijih, kerak, dan abu logam.

Sebagian besar ekspor komoditi Indonesia berada di Rep. Rakyat Tiongkok. Ekspor
Indonesia ke Tiongkok antara lain berupa Karet dan produk karet, sawit, Produk hasil
hutan, udang, ikan produk perikanan, dll. Pemerintah memperkirakan bahan tambang
dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih akan mendominasi ekspor
Indonesia ke China. Kebutuhan yang besar terhadap kedua komoditas tersebut
menyebabkan permintaan importir China masih akan tinggi.
IMPOR
Dalam sisi impor Indonesia mayoritas adalah
IMPOR (juta US$)
komoditas non-migas, dari sektor transportasi
semakin meningkat dalam mengkonsumsi 200000
BBM menyebabkan ikut meningkatnya impor
150000
bahan bakar pertahunnya. Konsumsi BBM
sektor transportasi tumbuh seiring dengan terus 100000
50000
tumbuhnya industry kendaraan bermotor di
Indonesia.
0
Pada tahun 2013 saja kenaikan konsumsi gas
yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari
produksi dalam negeri meningkatkan volume
Non-Migas
Migas
impor gas LPG yang meningkat 18% dari tahun
sebelumnya.
Sumber : BPS.go.id
Secara umum nilai impor Indonesia dalam kurun waktu 2005-2014

IMPORT (MILIAR US$)


177.4

57.7

2005

2006

134.3

96.8

74.4

2007

186.6

135.6

129.2
61

191.7

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

IMPOR (JUTA KG)


128.221
83.664

83.808

89.935

2005

2006

2007

98.664

2008

136.373

141.109

110.701

108.061

91.354

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Sumber : BPS.go.id

Garis Pantai Indonesia termasuk yang terpanjang di dunia. Namun, potensi garis pantai
Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal. Indonesia masih hobi impor garam.
Dan salah satu yang terbesar berasal dari Australia.
Sedangkan untuk komoditi lain yang di impor memang disebabkan tidak adanya bahan
atau sumber daya alam untuk komoditi tersebut. Seperti gas LPG. Harga gas LPG yang
belakangan ini naik karena dipengaruhi oleh kurs mata uang. Setengah dari gas LPG
ternyata masih di-impor.
China merupakan negara pemasok barang utama ke Indonesia. Sepanjang tahun 2012,
impor China yang masuk ke tanah air mencapai US$ 28,96 miliar atau sekitar Rp 275
triliun. Kemudian di ikuti oleh Jepang dan Amerika Serikat.
Berbagai komoditas kita impor dari negeri Tiongkok itu di antaranya :
1. Mesin-Mesin/ Pesawat Mekanik
2. Mesin/Peralatan Listrik
3. Besi dan Baja
4. Benda benda dari besi dan baja
5. Bahan Kimia Organik
6. Plastik dan Bahan dari Plastik
7. Kendaraan dan bagiannya
8. Pupuk
9. Bahan Kimia Anorganik
10. Kapas
Dari ke-10 komoditas ekspor utama tersebut, mesin-mesin/ pesawat mekanik memiliki
nilai impor terbesar di bandingkan komoditas lainnya. Bahkan kapas sebagai bahan
utama pembuat kain masih di impor dari Tiongkok. Kementerian Perindustrian
menyampaikan hampir 99,2% kapas sebagai bahan baku kain katun masih diimpor.
Indonesia masih membutuhkan sekurangnya 700 ribu ton kapas per tahun karena
produksi kain katun di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan kain jenis lain.

5.

KURS RUPIAH
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (US$) selama satu decade terakhir
mengalami fluktuasi yang tidak signifikan, namun puncaknya mulai tahun 2013 dimana
nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika (US$) melemah cukup signifikan hingga
mencapai angka Rp. 12.000 per 1.00US$.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang di antaranya :
1. Tingkat inflasi
2. Tingkat suku bunga
3. Neraca perdagangan
4. Hutang
5. Ekspor-Impor
6. Kondisi ekonomi dan politik suatu negara
7. Tingkat pendapatan
8. Ekspektasi

KURS RUPIAH TERHADAP US$


12,250.00

12,965.00

11,005.00
9,879.00

2005

9,065.00 9,466.00

2006

2007

9,447.00

2008

2009

9,036.00 9,113.00

2010

2011

9,718.00

2012

2013

2014

Sumber : BI.go.id
Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa kebijakan pemerintah menaikkan harga
BBM mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia secara signifikan, saat itu inflasi impor
juga meningkat seiring pergerakan kurs Rupiah terhadap US Dollar yang melemah dari
Rp9.090 ke level Rp9.803,92 pada akhir tahun 2005.
Sepanjang tahun 2008 kurs Rupiah melemah dengan drastis terhadap US Dollar dari
Rp9.466,00 (2007) ke level Rp11.005,00 pada akhir tahun 2008. Jika kita ingat, Tahun
2008 adalah saat dimana terjadinya krisis ekonomi global.
Rupiah terus anjlok hingga menembus level Rp12.965 (update Desember 2014;
BI.go.id) per dolar Amerika pada akhir tahun 2014 yang mengindikasikan salah satu laju
terburuk sepanjang masa sejak November 2008, yang mencapai nilai Rp12.000 per dolar
AS.